NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Naze ka S-kyuu Bijotachi no Wadai ni Ore ga Agaru Ken V3 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

Pembukaan Festival Eiga

Di area sekolah, berjajar banyak tenda.


Hari itu cuacanya cerah, dan suasana dipenuhi hiruk-pikuk. Dari sana-sini terdengar riuh suara para siswa. Di atas panggung live, tatapan penuh semangat para siswa tertuju dan berkumpul di satu tempat.


"Pada semangat semuaaa—! Dengan ini, aku nyatakan Festival Eiga tahun ini resmi dibukaaaa!"


Seorang siswa kelas atas berteriak mengumumkan, lalu mengarahkan mikrofon ke arah kerumunan.


"Datanggggggg!"

"Uooooooo!"


Mungkin karena ini tahun terakhir mereka, para siswa kelas tiga terlihat paling bersemangat. Berpusat pada para senior, hiruk-pikuk itu memenuhi area, tak kalah oleh terik matahari.


──Hari pelaksanaan Festival Eiga.


Sejak saat itu pun, pekerjaan tetap sibuk seperti biasa, namun Festival Eiga akhirnya bisa dibuka dengan lancar. Setelah melewati masa persiapan yang panjang…… akhirnya hari ini tiba.


Haruya, bersama para anggota panitia lainnya, memiliki kewajiban untuk menyaksikan pembukaan, sembari melakukan konfirmasi terakhir mengenai jadwal hari ini. Meskipun ia tidak menghafal secara detail bagaimana tiap divisi harus bergerak, peran Haruya sebagai bagian dokumentasi adalah dua hal: berkeliling saat acara berlangsung dan mengabadikan kegiatan dalam bentuk foto.


Yah, bukan sesuatu yang terlalu sulit.


Sambil menata kembali alur keseluruhan di kepalanya, ia menuju ke ruang kelas. Setelah persiapan akhir selesai, barulah mereka menyambut para tamu kehormatan.


"Akhirnya dimulai, ya. Semangat ya, Akasaki-kun."


"Iya. Kita berjuang."


Rin yang berjalan di sampingnya menyapa dengan ceria. Haruya mengiyakan, lalu mereka berdua kembali ke kelas.


Saat menatap sekeliling ruangan, terlihat para siswa sibuk melakukan penyesuaian terakhir menjelang pementasan.


"Ooooo, ini sih pasti menang. Nggak diragukan lagi!"


"Himekawa-san sama Takamori-san… cocok banget sama riasannya, gila!"


Baik laki-laki maupun perempuan, semua pandangan tertuju pada dua tokoh utama itu. Dan memang, pikir Haruya—


(…kostumnya memang luar biasa. Gaun putih bersih Himekawa-san benar-benar cocok, dan Nayu-san dengan seragam militernya terlihat sangat berwibawa—rasanya seperti pangeran.)


Putih dan hitam memang warna yang saling kontras, dan saat mereka berdiri berdampingan, aura mereka benar-benar memancar.


"──Panitia, bisa bantu final adjustment di sini sebentar?"


Saat Haruya masih terpaku menatap mereka, seorang siswi bagian belakang layar memanggilnya. Mungkin karena keberadaannya kurang menonjol, Haruya malah dipanggil “panitia”. Bukannya ia mempermasalahkannya, jadi Haruya pun bergeser ke sudut dan mulai bekerja.


"Mau kubantu juga?"


Rin mengintip sambil berkata pada Haruya.


"Hei—Kohinata-san, bisa sebentar?"


Seorang siswa laki-laki menyela.


"Oke. Aku datang~"


Dengan ritme ringan, Rin pun pergi begitu saja.


Haruya kembali fokus bekerja, namun suasana kelas makin memanas.


"Nih—tatap aku baik-baik."


Saat sang pangeran melontarkan dialog itu, para siswi berteriak dengan suara kuning, "kyaa, kyaa". Tanpa sadar, Haruya melirik ke arah sang pangeran—ternyata ia sedang melakukan aksi “dagu diangkat” pada Sara.


"………"


Sara tersipu merah, tampak kikuk.


Sekilas ini adalah adegan memalukan, tapi karena keduanya sama-sama cantik, justru terlihat pas—itulah yang luar biasa. Padahal adegan ini sudah berulang kali dilatih, namun para siswi tetap berbondong-bondong mengerumuni Sara dan Yuna, mengajukan berbagai permintaan.


"A-ah, kalau boleh… bisakah kamu melakukan angkat dagu ke aku?"


"Ah, curang! Kalau begitu aku mau Himekawa-san yang melakukannya~"


Ramai, ramai.


Mungkin tak tahan melihat itu, sebagian siswa laki-laki ikut bersuara.


"Eh, kenapa cuma perempuan doang. Kami juga mau ikut, dong."


Kazamiya… kau ini. 


Yang bersuara itu adalah siswa laki-laki yang duduk di belakang Haruya.


"Kazamiya, itu sudah masuk pelecehan seksual, kan?"


"Bukan gitu, aku cuma mengusung kesetaraan gender."


"Enggak, tetap out."


Di tengah pertukaran itu, Sara dan Yuna saling menatap lalu tertawa kecil.


"Rasanya benar-benar seperti festival budaya, ya. Suasana seperti ini juga," ujar Sara sambil melirik Yuna.


Namun Yuna menjawab dengan ekspresi seolah berkata “apa sih kamu”.


"…Sara, ini memang hari-H festival budaya. Ayo semangat."


"Iyaaa!"


Sara dan Yuna, yang berdiri di pusat perhatian, benar-benar menjadi penggerak kelas.


"…Agak enak didengar juga, ya." 


Saat Haruya menoleh, tampaknya Rin sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berlari menghampirinya.


"Dulu semua orang menjaga jarak, tapi sekarang mereka biasa saja mendekati Sarachi dan Yunarin."


"Berarti mereka jadi lebih mudah didekati dibanding dulu, kan? Menurutku itu hal yang baik."


"Ya… kalau dibilang begitu, memang sih. Iya juga, ya~"


Saat Haruya menoleh ke samping, Rin memasang ekspresi yang biasa. Namun di balik ekspresi itu, di kedalaman matanya—apa yang sebenarnya bersemayam di sana? Apa yang sedang membelenggunya?


Andai saja Festival Eiga ini bisa berakhir tanpa insiden apa pun……


"Karena kalian berdua sudah bekerja keras di balik layar, dan masih ada tugas panitia juga, kalian boleh meninggalkan tempat ini sekarang."


Saat Haruya sedang memikirkan itu, seorang siswa laki-laki di kelas menyampaikan hal tersebut. Para siswa lain tampaknya juga setuju, mengangguk-angguk tanpa keberatan.


"Panitia-kun. Kamu ternyata orangnya serius dan baik, jadi benar-benar membantu," tambah siswi itu sambil menyapa Haruya.


"Ah, begitu ya."


Bentar, bentar… meski dia mengatakannya dengan senyum senang seperti itu, bukannya ini terdengar seperti sindiran ringan? “Lebih serius dan baik dari yang kukira” itu maksudnya apa? Berarti biasanya aku dianggap nggak serius, gitu?


Ya wajar sih kalau dipikir begitu. Aku sering pura-pura tidur juga. Maaf, deh.


Haruya menanggapi semuanya sendirian di dalam hati—menyela sekaligus minta maaf.


***


Nah, karena menuruti ucapan teman sekelas, dua anggota panitia itu pun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan kelas mereka—

begitu keluar ke koridor, Haruya langsung membuka pembicaraan.


"Aku masih harus ambil dokumentasi sama patroli, jadi bakal keliling-keliling. Kalau Kohinata-san gimana?"


"Hmm. Aku paling cuma tampil di live penutup."


"Kalau cuma final check, itu kan masih sore, berarti masih ada waktu luang. Yah, lumayan dapet waktu bebas."


Sambil berkata begitu, Haruya hendak pergi, tapi—ujung lengan bajunya ditarik pelan. Saat ia berhenti dan menoleh, Rin menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Tunggu dulu! Aku nggak ada kerjaan khusus juga. Lagipula, aku wakil ketua, jadi aku bantu kerjaan Akasaki-kun."


"Itu sih membantu banget, tapi nggak apa-apa?"


"Iya. Soalnya teman-teman dari kelas lain juga pasti lagi sibuk sama urusan kelas mereka. Terus keliling sendirian juga agak, ya~. Maksudnya… kalau sampai dideketin orang, aku juga repot."


"Oh, gitu."


Sebenarnya dia pasti ingin menikmati Festival Eiga sendirian juga. Tapi festival budaya sekolah ini dibuka untuk umum, dan diperkirakan akan ada banyak pengunjung dari luar sekolah. Risiko digoda orang memang tak terelakkan.


"Kalau cuma buat pengusir laki-laki, meski tenagaku pas-pasan…"


"Kamu cepat nangkapnya, jadi aku terbantu."


Trot, trot—Rin mendekat ke sampingnya.


"Yah, meski dibilang kerja, sebenarnya cuma motret doang sih."


"Justru itu, sekalian aja kita keliling lihat-lihat sambil kerja."


"Eh?"


Tanpa sadar Haruya menghentikan langkahnya.


Dari luar, ini bisa kelihatan kayak kencan—bukannya itu malah jadi masalah lain? Namun sambil menunjuk ke lengannya sendiri, Rin berkata dengan percaya diri.


"Kita kan pakai ban lengan panitia. Orang-orang pasti mikir kita lagi kerja, kok. Seratus persen."


Para panitia memang diwajibkan memakai ban lengan pada hari Festival Eiga.


Ban lengan besar berwarna merah.


Waktu masih SD, Haruya pernah mengagumi benda seperti ini—ada kesan istimewa, beda dari yang lain, dan terlihat keren. Tapi sekarang, entah kenapa malah terasa norak.


"Kalau dipikir-pikir, mungkin juga sih."


Rin menatapnya lalu mengedipkan mata.


"…Nah, Akasaki-kun. Jadi begitulah~ tolong pimpin jalannya, ya?"


"Iya, iya."


Sambil mengabaikan akting manis itu seadanya, Haruya menggenggam kamera. Dengan demikian, ia pun menjalani tugas dokumentasi bersama Rin.


Dibandingkan dalam ruangan, suasana di luar jauh lebih ramai. Mungkin karena banyaknya stan makanan, aroma sedap langsung memenuhi hidung.


Mi~n, mi~n. Mi~n, mi~n.


Namun suara jangkrik itu bahkan tak terasa di tengah hiruk-pikuk sekitar.


"Hahaha, ngurus izin stan yang itu susah banget, lho~. Terus lihat dekorasi di sana, bikininnya juga ribet banget~"


"Oh~ jadi begitu."


Daripada membahas mau makan apa, mereka malah saling berbagi cerita tentang hal-hal tersulit selama jadi panitia. Obrolan yang hanya bisa terjadi karena mereka sama-sama panitia.


Aku bahkan merasa bodoh karena sempat khawatir orang-orang bakal mengira ini kencan.


"Ngomong-ngomong, hari ini panas banget, ya. Mau beli es serut nggak?"


Saat Haruya memotret dokumentasi dengan bunyi klik-klik, Rin tiba-tiba bertanya.


"…Iya, ayo beli."


Mereka pun ikut mengantre di barisan yang sudah berisi beberapa orang. Terlihat siswa SMP, siswa SMA dari sekolah lain, bahkan kelompok yang tampaknya mahasiswa.


Saat menyadari itu, tanpa sadar pipi Haruya mengendur. Mengingat hari-hari seperti neraka yang telah mereka lewati demi hari ini, melihat tempat ini ramai terasa cukup membahagiakan.


"Syukurlah pengunjungnya datang lebih banyak dari yang kita kira."


"………… eh, iya, benar."


"Kenapa?"


Karena jawabannya terdengar ragu, Haruya memiringkan kepala. Rin menggeleng kecil lalu bergumam pelan.


"Cuma… aku baru tahu Akasaki-kun bisa pasang ekspresi seperti itu."


"Ekspresi kayak gimana, sih?"


"Biasanya kamu kelihatan lesu, tapi barusan kamu senyum dengan tenang."


"Oh, begitu."


"Iya. Itu aja sih. Kalau es serut, kamu suka rasa apa?"


"Hmm… Blue Hawaii, kayaknya."


Ia sebenarnya tak terlalu peduli soal sirup. Lagipula, katanya rasa semua sirup itu sebenarnya sama.


"Khas Akasaki-kun banget."


Rin mengangguk-angguk dengan wajah puas.


"Kalau esnya, kamu tim yang kasar atau yang halus?"


"Tim halus sih… tapi emangnya ada yang lebih suka es kasar?"


Kalau disuruh milih tanpa mikirin harga, semua orang pasti pilih yang halus.


"Aku sih, kalau boleh jujur, lebih suka yang kasar."


Soalnya… lanjut Rin.


"Kan jarang banget kita makan es serut yang kasar kayak gini, kecuali di acara festival, kan? Makanya aku suka."


Rin menjawab sambil tersenyum, entah kenapa terlihat agak rapuh. Ekspresinya terasa bukan dibuat-buat, dan itu malah membuat Haruya sedikit malu sendiri.


"Ngomong-ngomong, uangnya aman?"


Rin mengangguk.


"Mm. Aman banget."


Setelah keluar dari antrean dan menerima es serut, mereka berdiri di pinggir sambil mulai menyantapnya.


Sebenarnya akan lebih enak kalau ada bangku kosong, tapi sejauh mata memandang semuanya sudah terpakai—tak ada tempat duduk yang tersisa. Sudah lama Haruya tidak makan es serut, tapi memang benar seperti yang dikatakan Rin—mungkin karena suasana festival, rasanya jadi terasa lebih enak.


Sambil menghancurkan es kecil yang kasar dengan bunyi krek-krek, Haruya bertanya.


"Ngomong-ngomong, Kohinata-san pilih rasa itu karena apa?"


"Ahaha, rasa kayak gini justru bikin penasaran, kan?"


"E-eh, begitu ya?"


Es serut di tangan Rin terlihat… agak mengerikan. Warnanya merah menyala, sama sekali tidak terlihat seperti rasa stroberi. Soalnya, beberapa menit sebelumnya—


"Hei, Akasaki-kun. Ada rasa '???' lho."


"Rasa '???' apaan itu?"


Menu dengan tulisan rasa ‘???’, disertai keterangan khusus 30 orang. Padahal baru buka sebentar, tapi jumlahnya sama sekali belum berkurang dari tiga puluh. Pasti menu bercanda yang dibuat demi suasana festival—dan jelas jebakan.


Haruya tanpa ragu memesan Blue Hawaii, tapi Rin berbeda.


"Rasa ‘???’ ini enak nggak?"


Menanggapi pertanyaan itu, si penjaga stan hanya memasang pose jempol sambil tersenyum lebar.


"Akasaki-kun, aku pesan yang rasa ??? aja, ya."


"O-oh…"


Sebagai catatan, penjaga stan sama sekali tidak menjawab apakah rasanya enak atau tidak—hanya mengelak dengan senyum.


Jelas-jelas menu jebakan.


Karena Rin terlihat antusias dengan mata berbinar, Haruya pun memilih diam…tapi dilihat dari mana pun, rasanya tetap tidak tampak menggugah selera.


"Namanya juga festival. Yang kayak gini itu bukan soal rasa, tapi menikmati suasananya."


"Y-ya, begitu ya."


Rin dengan santainya menyuapkan es serut rasa ??? itu ke mulutnya.


"Mm. Justru karena panas, rasanya jadi makin kena~"


"I-itu beneran nggak apa-apa?"


"Hah? Jangan-jangan kamu penasaran sama rasanya?"


"Bukan gitu… cuma kamu kelihatannya santai banget makannya."


"Ahaha. Soalnya rasanya memang bikin pengin terus dimakan."


Sambil berkata begitu, Rin menyodorkan es serutnya.


"Kalau penasaran, coba aja sedikit. Aku juga boleh minta Blue Hawaii kamu, kan?"


Mengikuti Rin, Haruya pun menyodorkan es serutnya.


Dengan tatapan penuh kecurigaan, ia menyendok sedikit es serut Rin menggunakan sendoknya sendiri. Lalu, dengan sekali jalan, ia memasukkannya ke mulut.


"………P-pedaaaasss!"


Saus merah menyala ini—jelas sesuatu yang memakai cabai.


"Ahaha! Nggak nyangka kamu beneran makan. Kena jebak, ya?"


Rin tertawa terbahak-bahak. 


Dalam hati Haruya mengutuknya, tapi sekarang ia tak punya kelonggaran untuk mengeluh. Ia segera memasukkan es serut Blue Hawaii ke mulutnya, lalu menatap Rin dengan pandangan sebal.


Setelah sensasi perih di mulutnya agak mereda, Haruya akhirnya buka suara.


"…B-bukan kena jebak. Aku cuma nurutin aja."


"Fufu. Kalau gitu, berarti kamu baik ya, Akasaki-kun."


"Meski begitu… kamu hebat juga bisa makan itu kelihatan enak…"


"Aku bukannya makan dengan lahap, ya? Aku cuma buru-buru makan karena makin lama makin pedas."


"……Kalau aku tahu itu dari awal, jelas aku nggak bakal nyoba."


"Kena jebak, kan."


Mereka saling menatap lalu tertawa kecil.


…Syukurlah, dengan suasana seperti ini, dia kelihatannya sudah cukup rileks.


***


Saat mereka melanjutkan tugas mengambil foto, Rin menarik Haruya sambil berkata, “Ke sini, ke sini,” seolah mengajaknya.


Di dalam gedung, wahana rumah hantu tampaknya sangat populer—antreannya mengular panjang. Dan sebagian besar yang mengantre adalah pasangan pria–wanita.


Ada juga kelompok laki-laki saja atau perempuan saja yang mengobrol sambil mengantre. Mungkin banyak yang ikut antre hanya karena penasaran dengan kualitas rumah hantunya, atau sekadar iseng. Bagi pasangan, rumah hantu barangkali tak lebih dari “alat” untuk bermesraan dengan alasan “takut~”.


Sambil memikirkan hal itu, mereka naik ke lantai dua, lalu Rin berkata,


"Akasaki-kun. Ini, ini."


Kelas yang ditunjuk Rin adalah kelas milik para senior.


Mengikuti langkah Rin yang cekatan, mereka menerobos tirai, dan di dalamnya ternyata ada area permainan mini.


Dart. Tembak-tembakan. Menangkap bola super. Deretan permainan yang pasti menggoda anak laki-laki kecil.


Sambil diliputi rasa nostalgia, seolah kembali menjadi anak-anak, Haruya menatap sekeliling—tempat itu penuh sesak dan ramai. Rin berlari kecil mendekat dan berkata,


"Tembak-tembakan kelihatannya seru, ya?"


"Iya. Benar."


"Hee~ bukannya itu panitia? Kalian kelas satu?"


Mungkin karena melihat ban lengan merah, seorang senior menyapa mereka.


"Iya."


"Ah, betul."


"Kalian berdua pasti capek, kan, kerja panitia? Gimana, mau coba main sebentar?"


Meski terjaring rayuan penjaja, Rin tampak tertarik dan mengangguk. Haruya pun mengangguk mengikuti.


"Berarti… cukup menjatuhkan hadiah pakai pistol karet ini, ya?"


Rin yang pertama mencoba.


Permainan sederhana—menjatuhkan target dengan pistol buatan tangan. Total ada lima peluru.


Kupikir tingkat kesulitannya dibuat mudah agar anak kecil pun bisa dapat hadiah.…Begitulah dugaanku, sampai—


"Eh? Targetnya kecil banget, kan?"


Setelah dicek ulang sesuai ucapan Rin, memang benar targetnya kecil. Ditambah jaraknya juga cukup jauh—jelas tingkat kesulitannya tinggi.


…Serius, kalau ini buat anak kecil, pasti nangis.


Sesuai dugaan, pengaturan kejam ini membuat Rin meleset di semua tembakan.


"Akasaki-kun, sisanya kuserahkan ke kamu~. Tunjukin sisi kerenmu, ya."


Sambil berkata begitu, pistol karet diserahkan padanya…namun hasilnya sama—Haruya juga meleset di kelima tembakan.


"Sayang banget~ kalian berdua."


Tidak, sama sekali tidak mendekati. Game ini memang tidak berniat memberi hadiah. Kecuali calon sniper, tak mungkin ada yang mengenai target itu.


Haruya menghela napas, lalu karena penasaran, ia bertanya.


"Ngomong-ngomong, karena sesulit ini… hadiahnya lumayan bagus, kan?"


"Hmm… karena soal anggaran, isinya cuma paket camilan."


Eh…Terlalu pelit.


Begitulah pikir Haruya, tapi Rin malah menunduk sambil tersenyum ceria dan berkata, “Seru banget!” pada senior itu.


Haruya pun ikut menyampaikan terima kasih. Setelah itu, Rin mengusulkan, “Lanjut ke tempat lain, yuk.”



──Begitulah, mereka berkeliling ke beberapa stan.


Selain es serut dan tembak-tembakan, ada juga crepe, yakisoba, ramalan, dan lain-lain. Setiap stan punya banyak hal yang bisa dikomentari, tapi pada akhirnya mereka cukup menikmatinya. Mungkin juga karena Rin yang memimpin dan aktif mengajak bicara. Tanpa lupa menjalankan tugas memotret, sekarang mereka berada di salah satu spot foto yang dibuat oleh Rin.


"Uh~ kenapa ya yakisoba festival itu selalu seenak ini."


"Bukannya kamu juga pesan yang versi super pedas tadi?"


"Ya~ begitulah."


Mungkin karena sudah masuk sore, hiruk-pikuk di sekitar perlahan mulai mereda.


Mulai sekarang, area dalam gedung akan lebih sibuk daripada luar—

karena waktu pementasan teater sudah semakin dekat.


Sambil merasakan warna-warni hari perayaan, Haruya mengabadikan siswa-siswa yang tertawa sambil berpose di depan objek dekorasi. Objek berbentuk sayap itu adalah salah satu karya yang Rin buat sebagai bagian dari tugas panitia.


"Karya buatan Kohinata-san ini… memang bagus, ya."


"……………"


Namun, tampaknya suara Haruya tidak sampai padanya. Rin terdiam dengan mata terbuka lebar.


"Hm? Kenapa, Kohinata-san?"


Menyadari kejanggalan itu, Haruya mengikuti arah pandang Rin—dan ia pun ikut membeku.


Perasaan ini… jangan-jangan…Sepertinya pihak di seberang juga menyadari tatapan mereka.


Dua siswi, masing-masing memegang satu kotak takoyaki, mendekat ke arah mereka.


"…Oh, akhirnya ketemu juga, Kohinata-chan."


"Serius, kami datang cuma dengan harapan ‘kalau ketemu ya syukur’, jadi senang banget kamu beneran ada."


Dua siswi yang dulu pernah mereka temui secara tak sengaja di jalan pulang dari supermarket kini berdiri di sana. Mereka mendekat sambil mengepung Rin, membuat Haruya maju ke depan untuk menghalangi.


"A-ada apa… kalian ini siapa?"


Mendengar itu, ekspresi dua siswi itu langsung berubah masam.


"Oh? Jalan bareng di festival budaya berarti kalian pacaran, ya?"


"Yah, kalau sama laki-laki level segini sih cocok-cocok aja, kan~"


Padahal baru pertama kali bertemu, tapi ucapan mereka sungguh tidak sopan. 


Haruya mencoba mengakhiri situasi ini dengan cepat dan menoleh ke Rin.


"Kohinata-san, kamu bisa jalan?"


"……Kenapa… kalian sampai datang ke sini?"


Rin menghela napas kecil, lalu bertanya pada mereka dengan suara yang terdengar ketakutan.


"Ya jelas dong?. Kami dengar kalau perempuan yang dulu suka genit ke para laki-laki itu sekarang pura-pura jadi anak baik dan ada di Festival Eiga. Masa iya nggak mampir~"


Lagipula—. siswi satunya tiba-tiba seperti menyadari sesuatu.


"Kalian pakai ban lengan panitia, berarti~~~"


Ia berhenti sejenak, lalu dengan sengaja menatap pamflet.


"Di akhir festival bakal ada penampilan, kan? Kohinata-chan. Nggak sabar banget, nih~"


"Wah, gila. Itu lucu banget."


Hahaha, hahaha, hahaha.


Tawa menjijikkan itu berulang kali menghantam Haruya dan Rin.


Haruya mengepalkan tangan erat-erat, tapi Rin menarik lengan bajunya.


…Tolong, jangan melakukan apa-apa.


Seolah begitu permintaannya, membuat Haruya tak bisa bertindak gegabah.


"Dia jelas tidak nyaman, dan saya juga tidak suka. Jadi tolong jangan mengajak bicara lagi."


Setidaknya, Haruya melontarkan peringatan dengan suara rendah dan tegas.


"Hah? Kami cuma datang buat menikmati festival, kok."


"Kami juga cuma nyapa, nggak ngapa-ngapain, jadi nggak masalah, kan."


Sambil melontarkan umpatan terakhir, dua siswi itu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Melihat punggung mereka menjauh, Rin seakan kehilangan tenaga dan langsung terduduk di tanah.


"Kamu nggak apa-apa… ya jelas nggak apa-apa, kan."


"……Nggak. Terima kasih."


"Kalau kamu jadi nggak mau tampil di live, nanti aku yang ngomong ke anggota yang lain."


Ini pertama kalinya Haruya melihat Rin setakut itu. Karena itu, ia tak bisa tidak merasa cemas.


"……Terima kasih. Tapi aku tetap tampil. Aku sudah memutuskan… ini pertaruhanku."


Setelah menghela napas dalam, Rin bangkit berdiri dengan kekuatannya sendiri, tanpa meminjam tangan Haruya.


"……Baik. Akasaki-kun, ayo ke kelas buat final check pementasan kelas kita."


Cepat, cepat. Seolah mendesak, Rin bergegas menuju kelas.


Haruya mengejarnya, namun perasaannya tak tenang—Rin terlihat jelas memaksakan diri.


Saat mereka kembali ke kelas, kursi-kursi lipat sudah tersusun di sana-sini. 


Akhirnya, pementasan utama akan dimulai.


Begitu panggung siap, ketegangan langsung memenuhi ruangan. Jika menoleh ke sekeliling, para siswa tampak berusaha menjalankan tugas masing-masing. Inilah yang disebut bersatu sebagai satu kelas, mungkin.


Meski dibandingkan siswa lain, para panitia justru lebih sibuk dengan tugas mereka sendiri, sehingga rasa “satu kesatuan” itu agak sulit dirasakan.


"Oh, kalian sudah kembali. Kalau begitu, panitia-kun, bisa bantu bagian promosi dan penerimaan tamu? Orang di dalam sudah cukup. Kohinata-san juga, ya."


"Baik."


"……I-iya, baik…"


Sambil menjawab, mereka berdua keluar ke koridor dan memegang papan bertuliskan “Pementasan akan segera dimulai!”


Para siswa yang lewat memperhatikan papan itu, berhenti, lalu mulai membentuk antrean. Mungkin karena sudah duduk dan mulai tenang, ekspresi Rin tampak muram. Pikirannya pasti masih tertuju pada dua siswi yang tadi mereka temui.


Haruya ingin bertanya lebih jauh soal latar belakangnya, tapi sekarang sepertinya lebih baik membiarkannya sendiri dulu.


"Himekawa-san dan Takamori-san akan memberi sambutan, jadi kalian berdua bisa masuk sebentar?"


Tiba-tiba, seorang siswa menyembulkan wajah dari pintu kelas dan berkata pelan.


"A-ayo, Kohinata-san, kita masuk."


"……Eh. Ah, iya."


Haruya dan Rin berdiri lalu kembali ke dalam kelas. Ia sempat ingin menyinggung soal kondisi Rin yang terlihat lesu, tapi di dalam kelas sudah dimulai pengarahan.


"Aku harap kita bisa menunjukkan hasil dari semua latihan yang sudah kita jalani. Mari kita lakukan yang terbaik bersama!"


Sara menjadi orang pertama yang bersuara, lalu disusul oleh—


"……Terima kasih semuanya sudah berjuang keras demi hari ini. Ayo tunjukkan apa yang sudah kita latih—bahkan kalau bisa, lebih dari itu. Kita berjuang bersama."


Yuna menyapu pandangan ke seluruh kelas saat mengucapkannya.


“”””””"OOOOOO!"””””””


Sorak sorai besar pun menggema dari para siswa.


Di tengah semua itu, Haruya teringat pesan yang ia terima kemarin.


Nayu: Haru-san. Kelas kami juga akan menampilkan drama. Judulnya “Cinderella Putih Murni dan Pangeran Berbulu Hitam”. Ruang kelasnya tertulis di pamflet, jadi… karena kami sudah berjuang keras, aku ingin kamu datang menontonnya.


Akasaki-san. Aku rasa kamu belum banyak bisa menonton drama karena sibuk dengan tugas panitia. Tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga, jadi tolong saksikan penampilanku.


Yang pertama adalah pesan dari Yuna atau lebih tepatnya, dari Nayu.

Yang kedua adalah pesan yang ia terima dari Sara.


Keduanya mengirim pesan seperti itu kepada Haruya kemarin.


Sebenarnya, Haruya belum pernah menonton pementasan drama mereka dari awal sampai akhir. Begitu pula dengan Rin. Karena sibuk dengan tugas panitia, urusan drama kelas sering kali jadi nomor sekian, dan mereka lebih banyak mengerjakan tugas di balik layar.


Sejujurnya, Haruya cukup menantikannya. Namun, lebih dari itu… yang terus mengganggu pikirannya adalah Rin.


"Drama itu… mari kita saksikan sampai selesai, ya. Kita berdua."


"A-ah, iya."


Ekspresi dan rona wajahnya sudah kembali normal tanpa disadari, tapi mungkin karena masih memikirkan dua siswi tadi, nada suaranya terasa berbeda dari biasanya.


***


“Cinderella Putih Murni dan Pangeran Berbulu Hitam”

Sebuah cerita yang memadukan dongeng Cinderella yang sudah dikenal semua orang dengan elemen orisinal ala manga shoujo. Naskahnya ditulis oleh Yuna.


Mungkin karena kabar bahwa Takamori Yuna dan Himekawa Sara menjadi pemeran utama, saat waktu pementasan tiba, ruang kelas langsung penuh. Akibatnya, pengaturan penonton menjadi cukup merepotkan.


Setelah memasang barikade di depan kelas karena sudah tak bisa menampung orang lagi, Haruya dan Rin pun masuk ke dalam. Di tengah tirai gelap, sorotan lampu tiba-tiba tertuju pada Sara—dan tirai pun terbuka.


Cerita dimulai dari monolog Sara yang berpenampilan lusuh dan malang. Para penonton menahan napas. Banyak yang terpikat oleh kehadiran Sara—itu berarti ia benar-benar terlihat memikat di atas panggung.


Di bagian awal, muncul para perundung yang menindas Sara. Meski semua tahu itu hanya akting, tetap saja pemandangan itu tidak menyenangkan untuk ditonton.


Kualitas akting para pemeran sangat tinggi, hingga tanpa sadar Haruya terpaku menyaksikannya. Di adegan Sara dirundung, Haruya bisa merasakan Rin di sampingnya ikut menahan napas.


Lalu, memasuki pertengahan cerita, tibalah giliran Yuna tampil. Sang pangeran berseragam militer pun muncul.


Pada momen itu, penonton seketika riuh.


『Aku takkan pernah melepaskanmu lagi…』


『Pangeran…』


Akhirnya, keduanya saling jatuh cinta dan hendak berciuman—

namun tepat saat itu, sorotan lampu meredup.


Penonton sempat mengira terjadi masalah, tetapi ketika lampu kembali menyala, seluruh staf berdiri di depan dan mengucapkan terima kasih.


『Terima kasih banyak sudah menonton~~!』


Para penonton pun bangkit dari kursi dan bertepuk tangan.


Tanpa sadar, Haruya ikut bertepuk tangan.


Pementasannya terlalu bagus hingga membuatnya terharu. Padahal ia merasa pernah membaca naskahnya— mungkin selama ini naskah itu terus diperbaiki hingga menjadi semakin baik.


『Keren banget, Himekawa-san!』

『Takamori-san juga benar-benar keren!』

『Eh, ini mah jadi favorit festival, kan!』

『Selama ada mereka berdua, kelas ini aman~』


Pujian demi pujian mengalir, berpusat pada dua pemeran utama itu.

Sara menunduk dengan wajah memerah, seolah akan menghilang, lalu berbisik pelan,


“……Terima kasih.”


Yuna juga sedikit memerah, lalu menimpali dengan tenang,


“Ini berkat kerja keras semua orang.”


Saat itu, Haruya mendengar suara langkah mundur dari samping. Rin tampak terkejut, matanya terbuka lebar, tubuhnya gemetar. Tatapan ketakutannya tertuju pada Sara dan Yuna yang tengah diselimuti pujian.


“……Kamu nggak apa-apa?”


Tepat saat Haruya hendak bertanya, Rin berlari keluar dari kelas.


Karena terkejut, reaksinya terlambat sesaat, namun Haruya segera mengejarnya.


(…Sekarang ini, sepertinya aku tidak boleh meninggalkannya sendirian.)


***


"Sebenarnya kamu nggak perlu ngejar."


"Kamu kelihatan aneh, jadi reflek aja."


Meski hampir kehilangan jejaknya di tengah kerumunan, Haruya akhirnya berhasil menemukan Rin.


Ia masuk ke ruang rapat—ruangan yang selama ini menjadi tempat aktivitas panitia, dan kini terasa begitu akrab. Barangkali ia ingin pergi ke tempat yang tidak mencolok. Memang, ruang rapat ini tertutup bagi orang luar, dan sekarang hanya ada mereka berdua di dalam.


"Aku tetap bakal tampil di live dan nyanyi dengan sungguh-sungguh. Aku datang ke sini kan berarti itu jelas, kan? Akasaki-kun."


"…Iya."


Kalau memang ia tak berniat tampil, ia pasti tak akan bersembunyi di ruang rapat. Jika benar-benar ingin menghilang, ia akan pergi ke tempat yang mustahil ditemukan.


"Jadi sekarang biarin aku sendiri dulu. Aku cuma sedikit kehilangan kendali."


Mungkin, yang benar sekarang adalah mundur dengan tenang. Tak seharusnya ia terlalu jauh mencampuri. Karena suara Rin—sedang bergetar.


Meski begitu, ia tetap harus melangkah masuk lebih jauh. Bagaimanapun juga, Haruya tak bisa membayangkan Rin dalam kondisi sekarang mampu bangkit dalam dua jam ke depan dan menyukseskan live itu.


Tentu saja, selalu ada pilihan untuk tidak tampil. Namun, Rin sendiri yang dengan tegas mengatakan bahwa ia akan tampil.


Kalau begitu—Haruya pun angkat bicara.


"…Maukah kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi?"


"Cerita untuk apa? Lagipula, meski kamu dengar pun, itu nggak bakal jadi cerita yang menyenangkan, jadi nggak perlu."


Ia berusaha terlihat tegar sambil memainkan kukunya sendiri. 

Melihat sikap itu—karena selama ini ia sudah cukup mengenal Rin—Haruya pun melontarkan dugaannya.


"Jangan-jangan kamu merasa rendah diri dibanding dua orang itu?"


"…!"


Sesaat ia menahan napas, lalu segera menggelengkan kepala.


"Nggak. Nggak ada. Sama sekali nggak…"


Namun dari keheningan sesaat itu, dari sorot matanya yang sempat terbelalak, dan dari jari-jarinya yang tiba-tiba berhenti bergerak, Haruya pun yakin—ya, ternyata memang begitu.


"Kalau kamu bilang nggak mau tampil live, aku bakal membiarkanmu. Tapi kalau kamu bilang akan tampil, aku ingin kamu cerita. Tidak—tolong ceritakan."


"Haha. Kamu egois juga, ya, ngomongnya."


"Tapi kalau Kohinata-san yang sekarang naik ke panggung, kamu pasti bakal menyesal. Apalagi mereka berdua bilang akan menonton. Jujur saja, aku khawatir."


Mendengar kata dua orang itu, bahu Rin bergetar kecil.


Seolah ada sesuatu yang putus, sudut bibirnya yang tadinya melengkung kembali datar. Lalu, saat ia menerima tatapan lurus Haruya dan sadar tak bisa menghindar lagi, ia menghela napas panjang di tempat.


"…………Hah. Terus kenapa?"


Tatapannya dingin, seakan ingin berkata, Memangnya menyesal itu salah?


"Seperti kata Akasaki-kun, aku memang merasa rendah diri dibanding mereka. Iya. Tapi terus kenapa? Justru karena itu aku sudah berjuang sejauh ini. Tapi sekarang sudah cukup. Kualitasnya secukupnya saja. Aku cuma butuh waktu sendirian untuk menguatkan tekad itu…"


"Itu nggak benar. Kohinata-san pasti bisa menyelesaikan live ini dengan kualitas terbaik."


Haruya mengatakannya dengan tegas, namun Rin terdiam cukup lama.


Saat menyadari keseriusan di wajahnya, ia menghela napas lagi sebelum berbicara.


"…………Ah, ribet banget, deh. Kalau begini, sekalian aja aku tumpahin semuanya. Nggak apa-apa. Aku bakal nurut sama omonganmu, Akasaki-kun. Aku bakal kasih tahu—betapa jeleknya perempuan bernama Kohinata Rin ini."


Dengan suara dingin, ia mulai bercerita. Bukan ekspresi penuh kepalsuan, bukan pula suara yang dibuat-buat. Mungkin inilah wujud asli Kohinata Rin.


"Kamu nggak kaget, ya? Dengar aku ngomong pakai suara kayak gini."


"…Yah, waktu karaoke pun, aku sudah merasa kalau itu juga bukan dirimu yang sepenuhnya."


"Berarti kamu sudah tahu sejak awal? Ya sudah, nggak apa-apa. Kalau begitu, aku mulai cerita."


Ketegangan langsung memenuhi ruangan. Apa pun yang akan ia ceritakan, Haruya berniat menerimanya. Apa pun yang keluar dari mulut Rin— karena meskipun keceriaannya di kafe itu hanyalah topeng, kenyataan bahwa Haruya pernah diselamatkan oleh keceriaan itu… adalah hal yang nyata.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close