Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 1
Persiapan Festival Eiga
Beberapa waktu telah berlalu sejak keributan basket Yuna mereda. Para siswa SMA Eiga langsung harus menghadapi ujian berkala. Benar-benar seperti pepatah, habis satu masalah datang masalah berikutnya. Setidaknya beri kami waktu untuk istirahat sedikit, dong….
Begitu memasuki minggu ujian, tak mungkin bagi Haruya mendapatkan waktu untuk bersantai. Hari-harinya habis untuk persiapan tes.
Di sela-sela itu, kadang ia diajari Sara belajar di atap sekolah, tapi pada dasarnya Haruya lebih sering berjuang sendirian menghadapi ujian.
(…Belajar bareng teman. Biasanya malah nggak jadi belajar, jadi buatku itu justru menguntungkan. Belajar itu pada dasarnya memang dilakukan sendirian. Dan bukan berarti aku kesepian atau apa. Aku nggak mempermasalahkannya. Serius, nggak.)
Mungkin karena persiapan ujian yang matang, nilainya cukup bagus. Kemungkinan besar ini juga berkat kebiasaannya belajar diam-diam sendirian.
『Nilaiku bener-bener hancur parah—』
『Ujian kali ini mati total.』
『Iya, tamat sudah.』
Mendengar keluhan seperti itu dari teman-teman sekelas yang nilainya anjlok, Haruya dalam hati mendeklarasikan kemenangan.
“Lho? Onii-san. Hari ini kelihatannya lagi mood bagus, ya.”
Saat itu, suara yang sudah dikenalnya masuk ke telinga Haruya. Seragam maid bernuansa monokrom. Tubuh kecil dan ramping. Wajah yang masih menyisakan kesan kekanakan. Ini adalah kafe yang sering Haruya kunjungi sebagai pelanggan tetap. Sebagai hadiah setelah ujian selesai, hari ini Haruya datang ke tempat ini sendirian.
Nama gadis yang berdiri berhadapan dengannya—sementara Haruya menikmati kopinya—adalah Kohinata. Ia adalah pegawai kafe ini dan juga seseorang yang sudah dikenal Haruya. Dari penampilan, jelas mereka seusia pelajar, tapi baik Haruya maupun Kohinata tidak saling tahu “pelajar kelas berapa” satu sama lain. Dengan kesepakatan untuk tidak membuka informasi pribadi, hubungan mereka pun berjalan seperti itu.
“…Nilai ujianku bagus. Di tempat Kohinata-san nggak ada ujian, ya?”
“Eh, Onii-san kok nanya itu sih?”
“Kayaknya nggak ada yang salah buat ditanyain, kan.”
Sambil menyeruput kopi, Haruya bergumam santai.
“E-ehm… ujiannya sih ada, tapi belakangan ini aku kurang tidur, gimana ya….”
(…Nah, keluar juga jurus itu.)
Kohinata mempertemukan kedua telunjuknya sambil terang-terangan mengalihkan pandangan.
Pamer nggak tidur. Ia sudah menyentuh hal terlarang itu.
Intinya: karena nggak tidur, jadi nilainya nggak bagus~
Padahal sama sekali bukan hal yang patut dibanggakan, tapi entah kenapa bisa terdengar membanggakan… kata-kata ajaib.
Haruya menyipitkan mata lalu menghela napas.
(…Dulu waktu SMP ada juga yang kayak gini. Eh, Kazamiya juga sering bilang hal serupa.)
Kazamiya adalah teman sekelas yang duduk di belakang Haruya. Saat ia teringat itu, Kohinata menundukkan kepala dengan ekspresi serius.
“…Yah, singkatnya sih, nilaiku memang nggak bagus.”
Ekspresinya berubah drastis dari yang tadi tampak panik.
Melihat raut wajah yang berat itu, Haruya merasa ragu, tapi tetap meminta maaf.
“…Separah itu? Kalau iya, berarti aku ceroboh. Maaf.”
“Ah, nggak kok… biasa aja. Tapi demi menjaga nama baikku, aku bilang dulu ya—nilaiku di atas rata-rata.”
“Ah, eh, serius…?”
Melihat betapa tertekannya dia, Haruya mengira itu level nilai merah, tapi ternyata masih di atas rata-rata. Tanpa sadar, Haruya mengeluarkan suara keheranan.
“Haa… meski kelihatannya begini, aku ini… sebenarnya cukup pintar, lho.”
Setelah sengaja membusungkan dada, Kohinata menggembungkan pipinya dengan kesal.
“Berarti tipe yang punya motivasi tinggi ya, Kohinata-san.”
Dilihat dari kesehariannya, Haruya mudah membayangkan Kohinata sebagai orang yang santai menghadapi apa pun dan tetap baik-baik saja. Bahkan kalau nilainya jelek pun, seharusnya dia tipe yang bisa berkata, “Nggak apa-apa, nggak apa-apa,” lalu melewatinya begitu saja. Mengetahui sisi tak terduga darinya, Haruya tak kuasa menahan tawa kecil. Mungkin merasa canggung, Kohinata mengalihkan pandangan dan mengganti topik.
“Y-yah… ngomong-ngomong, Onii-san. Sebenarnya hari ini aku punya hal penting untuk dibicarakan.”
“Hah? Apa? Kok tiba-tiba serius begitu?”
Kohinata menelan ludah, lalu meliriknya berulang kali. Napas yang tenang. Ketegangan yang datang tiba-tiba. Kalau dilihat secara objektif, ini seperti alur menuju sebuah pengakuan….
Tidak mungkin, pikir Haruya, tapi sambil memegang cangkir kopi, tubuhnya membeku.
“────Sebenarnya, mulai hari ini aku berencana mengambil libur dari kafe untuk sementara waktu.”
“Eh….”
Begitu memahami maksud kata-katanya, Haruya kembali menatap Kohinata.
“Libur dari kafe untuk sementara… serius?”
“Serius.”
Jawaban cepat. Dan dengan wajah tanpa ekspresi.
“…Boleh aku tanya alasannya?”
“Hmm. Aku menemukan sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan. Jadi sampai itu selesai, aku mau ambil libur dulu.”
“…B-begitu ya.”
Ia ingin bertanya tentang “sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan” itu, tapi sepertinya Kohinata tidak akan menceritakannya.
Bahu Haruya langsung terkulai jelas. Lalu… Kohinata menggodanya dengan wajah senang.
“Lho lho? Jangan-jangan Onii-san merasa kesepian karena dengar aku bakal libur dari kafe untuk sementara~?”
“Yah, sedikit sih… sedikit memang merasa begitu….”
Merasa tertembak tepat di sasaran dan malu, Haruya menyeruput kopi satu teguk. Berkurangnya satu orang yang bisa diajak bicara dengan santai—baik dengan “wajah di balik layar” maupun sebagai diri sendiri apa adanya—adalah pukulan yang cukup terasa. Apalagi di masa seperti sekarang, rasanya makin berat.
Masalah basket Nayu memang berhasil diselesaikan, tapi sejak dia masuk klub basket, waktunya jadi hampir tak ada. Kesempatan untuk kumpul di luar pun ikut hilang.…Dan akibatnya, Haruya justru jadi punya banyak waktu luang.
Ia sempat berpikir bisa mengisinya dengan waktu bersama Kohinata, tapi dunia memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.
“Perasaan merasa kesepian itu sih bikin aku senang… tapi waktu yang harusnya kamu pakai buat aku, bukannya lebih baik dihabiskan dengan ‘dia’ saja?”
“………Benar juga.”
“Ya, begitu.”
“Dia” yang dimaksud tentu saja Sara.
“…Jadi, beneran untuk sementara aku nggak bisa ketemu Kohinata-san, ya?”
“Kurang lebih begitu~. Tapi nanti waktu aku balik kerja, kalau ada perkembangan dengan dia, kabarin ya.”
“Iya iya.”
Seperti biasa, dia memang tak pernah bosan membahas urusan cinta. Haruya menanggapinya asal-asalan.
Setelah menghabiskan kopinya, ia melangkah ke kasir sambil tetap menyimpan rasa sepi kecil di dadanya.
Begitu pembayaran selesai, Kohinata sengaja memasang mode iblis kecil dan memanggilnya.
“…Ah, iya. Ngomong-ngomong, Onii-san. Meski bilang ‘sementara’, sebenarnya cuma sekitar kurang dari sebulan kok.”
“Eh?”
“Soalnya suasananya jadi kayak aku bakal libur lama banget, jadi agak susah bilangnya… maaf ya.”
Seperti anak kecil yang ketahuan berbuat jahil, ia menjulurkan lidahnya sedikit. Haruya sempat mengira liburnya bakal dua sampai tiga bulan, jadi tanpa sadar wajahnya mengernyit.
“Kohinata-san… kamu lagi mancing reaksiku, ya….”
“Onii-san yang kelihatan kesepian itu imut, lho~. Terima kasih banyak hari ini juga~.”
Diberi senyum seperti iblis kecil, Haruya mengacak rambutnya dengan kasar. Suatu hari nanti, ingin rasanya meruntuhkan sikap santainya itu.
Sial… Kohinata-san memang selalu licik seperti biasa.
***
Tirai kelas berkibar diterpa angin musim panas.
Suasana kelas saat LHR ramai; sepertinya waktu untuk bersedih atau bersuka cita atas hasil ujian sudah berakhir.
──SMA Eiga, “Eiga Festival”.Bisa dibilang, inilah hadiah setelah ujian.
Akhir-akhir ini, pengumuman tentang festival budaya itu sering terlihat ditempel di berbagai sudut lorong. Wali kelas mereka, Tokoyami Meika, yang berdiri di podium, sedang menyampaikan informasi terkait festival tersebut.
“…Kerja bagus atas ujian berkala kalian. Sebentar lagi waktunya Eiga Festival. Kita harus menentukan acara kelas, serta memilih satu panitia dari siswa laki-laki dan satu dari siswa perempuan. Kalian akan memakai waktu LHR dan sepulang sekolah untuk persiapannya, jadi tolong siap-siap. …Nikmatilah Eiga Festival sepuasnya, wahai para siswa… ha, haha.”
Dengan tatapan yang entah kenapa terasa iri pada masa muda, bercampur sedikit dendam pribadi, wali kelas itu menutup penjelasannya.
『……Sensei beneran nggak punya keberuntungan soal pertemuan ya.』
『Mudah-mudahan tes berikutnya nggak dipersulit…eh, itu mah kejam.』
『Bahaya, aura negatifnya kelihatan, Sensei.』
Dari berbagai penjuru kelas, suara-suara cemas para siswa terdengar.
(…Ngomong-ngomong, Eiga Festival, ya.)
Meski agak waspada terhadap tatapan wali kelas yang tampak iri pada masa muda, sebagian besar siswa justru bergairah dan larut dalam kabar festival budaya.
Haruya memandang mereka dengan tatapan agak dingin.
(Bukannya waktu festival budaya ini kepagian…?)
Ia menggerutu sendiri dalam hati.
Di banyak sekolah, acara seperti festival budaya atau olahraga biasanya diadakan pada semester dua, setelah libur musim panas.
Bahkan di manga shoujo yang sering ia baca—meski fiksi—festival budaya hampir selalu identik dengan musim gugur. Namun, Eiga Festival di sekolah mereka justru diadakan di akhir semester pertama.
…Ya, kenapa?
(Apa Cuma aku doang yang mikir ini aneh?)
Setelah wali kelas pergi, kelas masih dipenuhi hiruk-pikuk pembicaraan tentang festival. Di tengah itu, ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Sambil mengangkat tubuhnya yang terasa berat dan menoleh, ia mendengar,
“…Kamu mikir kenapa Eiga Festival diadain di waktu ini, kan? Itu karena pendirian SMA Eiga juga di sekitar waktu ini. Singkatnya… ya tradisi. Terus, katanya sih—ini mungkin tambahan belakangan—buat mempertimbangkan siswa kelas tiga juga.”
Penghuni bangku belakang—Kazamiya yang berbicara. Reaksinya seolah-olah dia bisa membaca pikiran Haruya.
(A-apa Kazamiya bisa baca pikiranku…?)
Sambil menahan jantungnya yang hampir melonjak, Haruya berusaha menjawab dengan setenang mungkin.
“Aku nggak nanya apa-apa, lho? …Tapi begitu ya. Jadi disesuaikan dengan hari pendirian sekolah.”
“Iya. Buat anak kelas tiga yang sibuk belajar buat ujian masuk, waktu ini justru pas.”
Memang, liburan musim panas sering disebut sebagai masa penentuan bagi ujian masuk. Dari sudut pandang kelas tiga, setelah musim panas lewat, mereka mungkin tak punya banyak ruang untuk fokus pada acara sekolah.
Begitu ya. Kalau dipikir-pikir, itu memang membantu bagi kelas tiga.
Meski buat Haruya sendiri, sama sekali nggak terasa membantu….
Walaupun sudah tahu latar belakangnya, perasaan “tapi tetap aja kepagian, kan?” di hati Haruya tak berubah.
“Akasaki, kalau soal Eiga Festival, rencanamu gimana?”
“Maksudmu rencana yang gimana?”
“Kalau bicara soal waktu Eiga Festival, itu kan biasanya jadi momen ketika hubungan berubah, ya? Makanya aku mikir… jangan-jangan kamu lagi merencanakan sesuatu.”
Sambil membusungkan dada, Kazamiya menatap Haruya dengan sorot mata penuh harapan. Tatapan itu jelas—ia menginginkan kisah cinta. Haruya sengaja menyipitkan mata sebelum menjawab.
“Dunia kayak gitu rasanya nggak ada hubungannya sama aku sih….”
Eiga Festival.
Perubahan hubungan—atau lebih tepatnya, acara yang cocok untuk mengubah hubungan. Namun itu adalah dunia yang tak ada sangkut pautnya dengan karakter figuran. Sebesar apa pun acaranya, seberapa pun lingkungan sekitar berubah, bagi figuran semua itu tak berarti apa-apa.
“Padahal ngomongnya gitu, tapi Akasaki punya koneksi sama para S-Class Beauty, kan?”
“Sayangnya, nggak.”
Begitu Haruya menjawab datar, Kazamiya langsung menarik lehernya dengan lengan.
(Sakit, sakit… leherku mau copot.)
“Serius deh, kamu pakai cara apa sih, Akasaki? Bukan cuma Himekawa-san, belakangan ini Takamori-san juga kelihatan perhatian ke arah sini.”
“Itu cuma kebetulan, kan sudah kubilang.”
Akhir-akhir ini, Kazamiya katanya sering merasakan tatapan Sara dan Yuna. Dan dia yakin tatapan itu tertuju ke bangku Haruya. Dua bunga puncak kelas—dua S-Class Beauty—memperhatikan seorang figuran.
Melihat pemandangan yang tak masuk akal itu, wajar kalau dia ingin menginterogasi. Mungkin karena itu pula…Haruya hampir setiap hari ditanyai soal ini oleh Kazamiya.
“Kebetulan, katanya sih…”
Kazamiya masih belum puas. Tatapan curiganya terus menempel.
Bukan hanya Sara—sejak Yuna juga menjadi temannya (mereka bertukar kontak), pandangan kedua gadis itu sesekali memang melirik ke arah bangku Haruya. Berpura-pura tenang, Haruya membuka mulut untuk menghilangkan kecurigaan.
“Bukan ke bangkuku, tapi ke bangkumu kali? Tatapannya yang tertuju ke sana….”
“Eh, serius!? Mereka berdua ke aku…?”
Sesaat, mata Kazamiya berbinar dan wajahnya tampak malu-malu.
Memanfaatkan celah itu, Haruya segera menoleh ke depan. Lalu, ia langsung menjatuhkan wajahnya ke atas meja.
“──Mana mungkin begitu!?”
Teriakan protes terdengar dari bangku belakang, tapi Haruya mengabaikannya.
Saat itu, pandangannya tanpa sengaja bergeser ke arah kanan depan. Di sana, tiga gadis cantik sedang asyik mengobrol.
“Eiga Festival bakal datang, ya! Acara yang seru banget!,” kata Kohinata Rin dengan mata berbinar.
“…Padahal aku baru masuk klub. Terus, sampai beberapa hari lalu juga masih ujian… rasanya sibuk banget,” lanjut Takamori Yuna sambil mengibaskan rambut hitamnya.
“Iya! Tapi soal Eiga Festival… jujur saja, aku cukup menantikannya,”
ujar Himekawa Sara dengan ekspresi sedikit lebih dewasa.
Bukan hanya mereka—banyak siswa lain juga terlihat bersemangat membicarakan Eiga Festival. Dan sepertinya, para bunga puncak kelas itu pun tak berbeda.
“Sarachin, Yunarin… aku juga berniat berubah di Eiga Festival kali ini!”
Sambil mengepalkan tangan, Rin menatap langit-langit dengan penuh semangat. Melihat antusiasmenya, Yuna menanggapi dengan nada dingin.
“…Rin. Kamu kelihatannya semangat banget, tapi memangnya mau ngapain?”
“Itu, aku juga penasaran!”
Sara ikut menimpali.
Mendapat tatapan dari keduanya, Rin berpura-pura berpikir.
“…Hmm.”
Lalu ia tersenyum lebar, penuh makna.
“Itu masih rahasia.”
“Kalau gitu, kenapa ngomongnya setengah-setengah sih?”
“Maaf, maaf.”
Meski terus minta maaf pada Yuna, Rin langsung mengalihkan topik.
“Kalau soal aku kita kesampingkan dulu—kalau Sarachin dan Yunarin, ada nggak hal yang ingin kalian lakukan di Eiga Festival?”
Sara berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Aku suka festival dan sudah lama mengidamkannya, jadi seperti Rin-san, aku juga ingin berusaha melakukan sesuatu!”
“Apa itu ‘sesuatu’-nya?”
Yuna menimpali dengan nada bercanda.
“Ya… aku juga pengin berusaha melakukan sesuatu sih.”
“…Hah, ujung-ujungnya Yuna-san sama aja kayak aku, kan.”
Merasa digoda, Sara sedikit condong ke depan.
“Ahaha, maaf ya, Sara.”
“Kalau gitu sebagai permintaan maaf, tolong ajari aku shooting basket dong! Yang three-point itu!”
“…Sara, kamu benar-benar jadi lebih berani menyatakan diri ya. Apa karena sudah punya laki-laki?”
“A–!”
Pipi Sara langsung memerah dengan jelas. Ia pun buru-buru membantah.
“Bukan berarti aku punya pacar kok! Kalau begitu, Yuna-san juga dong!”
“Eh, aku?”
Bahu Yuna tersentak dan matanya bergerak gelisah.
“Soalnya sejak masuk klub basket, kamu jadi lebih peka soal penampilan, kan? Bahkan kemarin sempat nanya rekomendasi kosmetik segala….”
“S–Sara, stop dulu. Anggap saja ini rahasia bersama, ya.”
Yuna yang jelas-jelas panik mengangkat jari telunjuknya. Sedikit keringat dingin muncul di dahinya.
Mendengar obrolan cinta dua gadis itu, para siswa laki-laki serempak membuka mulut.
『──Akhir-akhir ini, Himekawa-san sama Takamori-san makin imut, ya.』
Apa memang pesona seseorang bertambah ketika urusan lawan jenis terlibat?
“Masuk klub basket, terus punya laki-laki yang dia taksir juga ya? Takamori-san jadi makin cantik aja.”
“Himekawa-san juga nggak kalah. Ekspresinya makin hidup.”
Bisik-bisik seperti itu terdengar bahkan dari dekat bangku Haruya.
Akhir-akhir ini, hampir seluruh kelas tampaknya terpikat oleh Sara dan Yuna. Di tengah obrolan meriah mereka berdua, Rin mengepalkan tangannya erat-erat. Dengan tatapan agak jauh, penuh kesepian, seolah menatap sesuatu.
Di ujung pandangannya ada Sara dan Yuna yang sedang bercanda akrab….Mungkin karena merasa dirinya sendirian tertinggal di sana, dengan ragu-ragu Rin pun membuka mulut.
“…Aku juga harus berusaha.”
Namun, di tengah kelas yang dipenuhi pembicaraan tentang Sara dan Yuna, tak ada satu pun yang mendengar gumamannya.
***
Begitu masa persiapan Eiga Festival dimulai, kelas harus segera menentukan: acara kelas, pembagian tugas, dan siapa yang akan menjadi panitia pelaksana.
Jam pelajaran keempat—waktu di mana perut mulai memberontak.
Dengan ucapan wali kelas mereka, Tokoyami Meika, “Hari ini kita akhiri pelajaran lebih cepat dan langsung tentukan panitia pelaksana,” pemilihan panitia pun langsung dimulai. Selain menghadiri rapat rutin tiap angkatan, panitia pelaksana juga bertanggung jawab sebagai penggerak jalannya Eiga Festival di kelas. Ini adalah peran penting yang hanya bisa dipercayakan pada siswa dengan jiwa kepemimpinan.
Haruya mendengarkan sambil berpikir, ini jelas bukan urusanku, ketika wali kelas berdiri di podium.
“──Kalau begitu, kita pakai sistem sukarela. Kita mulai dari siswa laki-laki dulu.”
Sambil berperan sebagai moderator, wali kelas menatap sekeliling kelas. Namun, tak satu pun tangan terangkat.
Biasanya pasti ada satu atau dua siswa yang antusias, tapi sepertinya tidak di kelas Haruya. Kebanyakan anak laki-laki hanya saling melirik dengan ragu.…Sementara Haruya sendiri terus menunduk, berusaha jadi udara.
Ketika ia tanpa sengaja mengangkat wajahnya, pandangannya bertemu dengan wali kelas.
(…Eh, nggak, bukan aku. Aku jelas nggak bakal maju. Panitia bukan gaya aku.)
Sambil cepat-cepat mengalihkan pandangan, ia mengirimkan “telepati” itu. Wali kelas menghela napas sekali.
(Apa barusan pesanku sampai…?)
Jantungnya berdebar dan keringat dingin keluar, tapi wali kelas sengaja berdeham sebelum bicara lagi.
“Kalau begitu, untuk sementara bagian laki-laki kita tunda. Sekarang kita tanya ke siswa perempuan. Ada yang mau jadi panitia pelaksana—”
Sebelum kalimat itu selesai, sebuah tangan terangkat dengan cepat.
“Ya! Saya mau!”
Suara cerah itu membuat seluruh kelas (kecuali Haruya) menoleh ke arahnya.
“O-oh, Kohinata. Kamu mau?”
“Iya! Tolong izinkan saya mencalonkan diri!”
Yang menjadi pusat perhatian adalah Kohinata Rin. Gadis cantik yang selalu bersama dua temannya, dan di antara mereka bertiga, ia berperan sebagai pencair suasana. Ketiga gadis itu bahkan dijuluki “S-Class Beauty” oleh sebagian siswa laki-laki. Dengan kepribadian cerah, Rin juga mendapat penilaian tinggi dari seluruh kelas. Tak mungkin ada yang menentang dirinya menjadi panitia.
“──Kalau ada yang lain mau mencalonkan diri, jangan sungkan ya,”
kata Rin sambil memandang para siswi di kelas.
“Sebenernya itu yang mau aku katakan, Ya, seperti kata Kohinata. Kalau nggak ada yang lain, panitia perempuan kita tetapkan Kohinata. Ada yang keberatan?”
Saat wali kelas berkata demikian, Kohinata kembali mengangkat tangan dengan tenang.
“Hm? Ada apa, Kohinata?”
“Hmm… mungkin ada yang ingin tapi sungkan bicara di depan semua orang. Kalau begitu, bagaimana kalau yang berminat bisa menyampaikan saat jam istirahat nanti—”
“Benar juga.”
Wali kelas mengangguk sambil menyentuh dagunya.
“Baik, kita lakukan itu. Untuk sementara, sebagai panitia (sementara), Kohinata akan memimpin jalannya persiapan. Bisa?”
“Baik, saya mengerti, Sensei.”
Rin berdiri dari bangkunya lalu melangkah ke depan kelas.
“E-ehm… aku agak gugup, tapi mohon kerja samanya ya, semuanya!”
Sambutan cerah itu dibalas tepuk tangan dari teman-teman sekelas.
Setelah kelas kembali tenang, Rin melanjutkan.
“Pertama-tama, kita mau tentukan panitia dari siswa laki-laki. Boleh nggak aku tanya sekali lagi siapa yang mau maju?”
“「「「「「「「──Glek」」」」」」」”
Dengan suara lembut itu, para siswa laki-laki serempak menelan ludah.
──Panitianya Kohinata-san, lho? Ini kesempatan buat jadi dekat dengannya.
Dengan niat-niat tak murni seperti itu tersembunyi di dada, para siswa laki-laki menahan napas. Namun mereka jelas tak pandai menyembunyikannya—raut wajah dan sikap mereka sudah membocorkan segalanya, sampai para siswi menatap mereka dengan ekspresi jijik.
Meski begitu, tugas panitia pelaksana sebenarnya cukup berat. Kalau harus dijalani bersamaan dengan kegiatan klub, hari-hari sibuk jelas tak terhindarkan.
Selain itu, karena perannya juga sebagai wakil dan pengatur kelas, tanggung jawabnya sangat besar.
Mungkin karena mereka sudah memahami hal itu lewat penjelasan wali kelas, meski Rin terpilih sebagai panitia, tetap saja tidak ada satu pun siswa laki-laki yang maju mencalonkan diri. Kebanyakan dari mereka hanya terdiam, melirik-lirik siswa laki-laki lain dengan ragu, tak bisa bergerak.
“Waduh, gawat juga ini….”
Rin yang diberi tugas sebagai pengatur jalannya rapat pun tersenyum kecut melihat reaksi pasif para siswa laki-laki.
Sempat terlintas bahwa situasi ini akan terus buntu, tapi Rin segera mengubah pendekatannya dan bersuara kepada semua orang.
“Kalau memang nggak ada yang mau maju atau ingin jadi panitia, gimana kalau aku yang memilih perwakilan laki-laki? Boleh, kan?”
Tak ada satu pun siswa yang menentang usulan itu.
Seakan memberi dorongan, Yuna—yang sebelumnya diam—membuka mulut dengan hati-hati.
“Bukannya itu ide yang bagus? Kalau dibiarkan begini terus malah buang-buang waktu. Menurut Sensei gimana?”
Mungkin karena dia anggota klub basket dan wali kelas juga pembina basket, hubungan Yuna dan wali kelas tampaknya sudah cukup akrab. Wali kelas yang sejak tadi mengamati dari dekat jendela pun melepaskan tangan yang terlipat. Lalu, dengan nada agak ragu, ia menambahkan,
“Ya, benar juga. Menurutku itu nggak masalah sama sekali.”
Setelah mendapat izin guru, mata Rin pun berbinar.
“Terima kasih, Sensei! Yunarin juga makasih sudah bantu.”
“Kalau begitu…,” Rin turun dari podium dan mulai berkeliling di antara bangku siswa laki-laki untuk menentukan siapa yang akan ia pilih sebagai panitia. Langkahnya ringan dan tanpa ragu, seolah ia sudah tahu siapa yang akan ditunjuk. Menuju bangku dekat jendela, baris belakang. Posisi kedua dari belakang.
──Tap, tap. Tap, tap.
Haruya merasakan suara langkah itu semakin mendekat. Ia masih berpura-pura tidur, tapi apakah panitia sudah diputuskan?
“Akasaki… Akasaki… kamu….”
Suara dari bangku belakang terdengar, dan saat Haruya mengangkat wajahnya dengan pikiran santai, firasat buruk langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga berubah menjadi kepastian.
“Akasaki-kun… boleh aku minta kamu jadi panitia?”
Sesaat, Haruya mengira itu cuma salah dengar. Namun melihat reaksi para siswa di sekitarnya, ia sadar itu bukan kekeliruan.
Tatapan para siswa laki-laki yang berkata ‘Eh, kenapa dia?’
Tatapan para siswi yang berkata ‘Serius?’
Keinginan untuk kabur seketika memenuhi dadanya, tapi Haruya menahannya dan tetap berpura-pura tenang saat bicara.
“Ehm… boleh aku tahu kenapa aku yang dipilih?”
“Hmm~,”
Rin sengaja menempelkan ujung telunjuk ke dagunya sambil memiringkan kepala. Gerakannya yang manis hampir membuat Haruya teralihkan, tapi baginya, hal yang tak disukai tetap harus dikatakan tak disukai—itulah prinsip hidupnya. Lagipula, siswa yang sering sendirian dan cenderung menyendiri seperti dirinya jelas bukan tipe yang pantas diberi peran panitia.
Setiap orang punya kecocokan masing-masing, dan tugas seharusnya dibagi sesuai itu. Karena itulah, Haruya sebenarnya sudah siap mengambil peran kecil saja…namun, seolah pikirannya sudah tertata, Rin pun menjawab,
“Aku ingat Akasaki-kun nggak ikut klub apa pun, kan? Terus tadi kamu kelihatannya tidur, jadi aku pikir mungkin nggak apa-apa kalau kamu jadi panitia.”
Seakan berkata, ‘Masih perlu penjelasan lagi?’ Rin mencondongkan wajahnya. Aroma floral yang lembut menggelitik hidung Haruya… tapi memang, kalau soal ini, dirinya yang salah.
Walau hanya pura-pura tidur, itu tetap saja alasan yang mengada-ada. Ia ingin sekali menolak, tapi sejak tadi, tatapan teman-teman sekelas terasa menusuk.
『Kohinata-san sudah minta langsung, kan? Kamu ngerti situasinya, kan? Baca suasana dong.』
Tekanan tak terucap seperti itu terasa jelas. Jika ia menolak sekarang, reputasinya di kelas pasti langsung anjlok.
“…Begitu ya. Oke, aku mengerti. Tapi aku nggak yakin bisa menjalankannya dengan baik.”
“Nggak kok! Sama sekali nggak! Aku juga bakal bantu, dan Sensei juga setuju, kan?”
Sebagai harapan terakhir, Haruya menatap wali kelas, seperti berdoa pada Tuhan. Mungkin menangkap maksud itu, wali kelas menghela napas ringan sebelum menjawab,
“Yang salah Akasaki karena tidur. Ya sudah, kalian berdua berusaha saja.”
Cling—
Sesuatu runtuh di dalam kepalanya. Benteng terakhir telah hancur. Singkatnya… ia sudah terpojok.
“Iya! Aku dan Akasaki-kun akan berusaha!”
Seiring suara ceria Rin, tepuk tangan kecil terdengar. Lalu, sebuah tangan kanan kecil terulur ke arahnya. Dengan menghela napas dalam hati, Haruya pun menjabat tangan itu dengan ringan.
──Tepat pada saat itu, bel akhir pelajaran berbunyi nyaring.
“Baik, setidaknya panitia sudah ditentukan. Sisanya akan kita bahas di LHR dan setelah pulang sekolah.”
Dengan isyarat wali kelas, pelajaran jam itu pun berakhir.
Saat Haruya melirik ke bangku belakang, ia melihat pose jempol ke atas diarahkan padanya.
“Akasaki… hebat juga ya, bisa menarik perhatian Kohinata-san.”
Lebih mirip ucapan selamat daripada rasa iri—namun bagi Haruya, itu sama sekali bukan hal yang membahagiakan.
(…Kazamiya. Kalau kamu mau gantian, aku beneran rela, sialan.)
***
Seolah ingin membasuh hati yang terasa keruh, ia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar, berulang kali. Panas yang perlahan seperti membakar kulit itu justru terasa sangat nyaman sekarang.
Memang bukan musim festival budaya ya, pikirnya, sampai hampir larut dalam mimpi dan khayalan.
Saat menyadari tenggorokannya kering, ia menenggak botol teh hijau dengan rakus.
“…Wah, hari ini ternyata lebih panas dari yang kupikir.”
Gachari, pintu berkarat itu terbuka, dan seorang gadis cantik berambut indah berkilau berlari kecil menghampiri Haruya. Saat melirik layar ponselnya, ia melihat satu pesan yang masuk beberapa menit lalu.
『...Akasaki-san. Ada sedikit hal yang ingin aku tanyakan, jadi mohon datang ke atap saat jam makan siang.』
Tak perlu diragukan lagi pengirimnya—gadis yang kini berdiri di hadapannya, Himekawa Sara.
Biasanya ia selalu mengirim pesan disertai stiker lucu, tapi dari pesan kali ini terasa jelas keseriusannya.
“Maaf ya. Padahal lagi panas begini, aku malah memanggilmu ke sini….”
“Ah, nggak apa-apa. Malah sekarang panasnya justru terasa enak.”
“Eh~ aneh deh, Akasaki-san. Masa panas begini dibilang enak. Ini cuma pengap aja, kan.”
Sambil mengipas-ngipaskan seragam di depan dadanya, Sara menyipitkan mata. Meski masih ingin menikmati panas ini, Haruya mempertimbangkan perasaannya dan berpindah ke tempat yang teduh. Setelah duduk berdampingan, mereka berdua membuka kotak bekal masing-masing.
“Wah, Akasaki-san. Itu paprika gulung daging, dan… yang ini apa?”
Sara membelalakkan mata saat melihat isi bekal Haruya.
“Oh, ini tsukune ayam pakai daun shiso dan umeboshi. Lumayan enak, dan pas banget buat musim panas.”
“Hee~ ribet juga ya buatannya.”
“Bekal chikuzen-ni milik Himekawa-san juga kelihatan enak banget, kok.”
“Kalau begitu…,”
Sara menyodorkan kotak bekalnya.
Melihat isyarat itu, Haruya pun menirunya dan mengarahkan kotak bekalnya ke arah Sara.
“…Tukar-tukaran, ya. …Ehehe.”
“…!”
Melihat senyum malu-malu itu, Haruya tanpa sadar memalingkan wajah.
Seperti yang Sara katakan, sejak beberapa waktu lalu, setiap makan siang bersama di atap mereka saling menukar lauk yang menarik perhatian masing-masing.
Awalnya, karena mengkhawatirkan kondisi kesehatan Haruya, ia hanya menerima lauk dari bekal Sara sebagai bentuk kebaikannya. Namun lama-kelamaan Haruya merasa sungkan, mulai memasak sendiri, lalu akhirnya mereka pun saling bertukar—begitulah alurnya.
“Kalau begitu, selamat makan.”
Paku, Sara menggigit tsukune ayam yang diambil dari bekal Haruya, lalu wajahnya langsung berbinar.
“Mm~ rasanya ringan dan segar. Enak sekali.”
“…I, iya ya.”
Seperti anak kecil yang polos, namun dengan senyum yang entah kenapa terasa dewasa. Melihatnya menikmati masakan dengan sepenuh hati membuat Haruya merasa senang.
Mungkin, keinginan untuk melihat dan memunculkan senyum itu jugalah yang mendorongnya untuk bersungguh-sungguh memasak. Sebegitu cerahnya, senyum Sara kini tampak bersinar di matanya.
(…Kalau aku yang dulu, sebelum dekat dengan Himekawa-san, melihat diriku yang sekarang, pasti bakal kaget)
Ia teringat masa ketika ia sengaja bersikap agar dibenci olehnya—kenangan yang kini terasa nostalgik. Namun akhir-akhir ini, meski Sara adalah pusat perhatian kelas, Haruya berinteraksi dengannya tanpa sikap defensif, sebagai dirinya yang apa adanya.
Sambil mengenang pertemuannya dengan Sara, Haruya pun mencicipi masakan buatannya.
“Enak…”
Kata itu terlepas begitu saja.
“Syukurlah…!”
Namun setelah tersenyum lebar, Sara sengaja berdehem pelan.
“Ngomong-ngomong, Akasaki-san…”
“Y-ya!”
Nada suara dan atmosfer yang mendadak dingin membuat Haruya refleks menegakkan punggungnya. Ke mana perginya suasana makan siang yang menyenangkan tadi?
Setelah meneguk sedikit air mineral, Sara menghela napas pelan.
“…Ada dua hal yang ingin aku tanyakan.”
Sepertinya inilah inti alasan ia memanggil Haruya hari ini.
(Suasana seberat gini, tapi dua hal? Eh, aku pengin kabur, sih…)
Entah sadar atau tidak akan isi hati Haruya, Sara melanjutkan,
“Soal Festival Eiga… dan soal Yuna-san. Mau mulai dari yang mana dulu?”
Sepertinya ia hanya diberi dua pilihan. Seandainya saja ada pilihan ketiga: tidak menjawab.
Haruya menghela napas ringan lalu menatap Sara.
“Kalau begitu, mulai dari soal Festival Eiga.”
“Baik. Kalau begitu, langsung saja… kenapa kamu mau menerima jadi panitia!?”
Pipinya mengembang kesal. Kelihatannya ia tidak puas—tapi sejujurnya, Haruya justru yang lebih tidak puas.
Ia bukan menerima. Ia dipaksa menerima.
“…Jangan bilang gitu dong. Himekawa-san juga pasti paham, kan? Kita sekelas. Aku nggak sekuat itu mentalnya buat nolak di situasi kayak gitu.”
“Aku paham sih, tapi… kamu menerimanya terlalu gampang…”
Awalnya kupikir…, gumam Sara pelan.
“Hm? Kupikir?”
“Kupikir kamu menerimanya karena sama seperti anak laki-laki lain, karena yang jadi panitia itu Rin-san. Maksudku… buat cari kesempatan supaya jadi dekat dengannya… atau semacam itu.”
“Tidak.”
Haruya langsung mengangkat tangan di depan dada dan menjawab tanpa ragu.
“Seperti yang sudah kukatakan, Himekawa-san. aku sebisa mungkin ingin menghindari hal-hal yang bikin aku menonjol di sekolah.”
“Iya. Aku memang nggak tahu alasan detailnya, tapi aku tahu kamu nggak ingin menonjol.”
“Benar. Aku di sekolah sebisa mungkin bersikap agar tidak menonjol. Justru karena itu, yang terasa aneh di sini bukan aku, tapi—”
Belum sempat Haruya menyelesaikan kalimatnya, Sara sudah menyahut.
“Rin-san, kan.”
“Ya, itu maksudnya. Yah, kalau dipikir-pikir, dia memilihku karena aku ketiduran… jadi pada akhirnya memang salahku sendiri.”
“…B-baiklah. Aku mengerti.”
Meski terlihat belum sepenuhnya menerima, Sara tetap mengangguk.
Melihat reaksinya, Haruya tanpa sadar menimpali,
“Kenapa sih kamu kelihatannya sebal gitu…? Justru yang paling nggak mau jadi panitia itu aku, lho.”
“Panitia itu pasti sibuk, kan…? Kita kan sempat bilang mau jalan-jalan setelah musim hujan selesai, tapi ujung-ujungnya langsung masuk masa ujian jadi tertunda. Lalu habis itu Festival Eiga, terus ditunda lagi dan lagi… rasanya jadi nggak kelihatan kapan bisa pergi, itu yang bikin aku sebal…”
“Kalau gitu, protesnya ke pihak sekolah, bukan ke aku.”
Haruya menghela napas, lalu melanjutkan,
“…Lagipula, musim panas baru saja mulai. Kesempatan itu masih kapan saja kok.”
Sejujurnya, Haruya ingin sebisa mungkin menahan diri untuk tidak terlalu sering pergi dengan Sara.
Pasalnya, saat terakhir kali mereka pergi bersama, tindakannya terlalu dilebih-lebihkan, sampai-sampai ia tanpa sengaja menanamkan gambaran ideal yang sebenarnya tidak ada dalam diri Sara. Ia takut kalau tindakannya kembali didewakan, lalu tersebar di kelas. Tentu saja, Sara tampaknya tidak menyadari pergolakan batin itu, dan ia pun menyentuh topik utama yang satunya lagi.
“Kalau soal Yuna-san… memang benar kamu tidak ada apa-apa dengan Yuna-san, kan?”
“Ah—iya. Kurang lebih begitu.”
“Dan datang menonton pertandingan latihannya karena Akasaki-san memang suka basket, kan?”
“Ya, begitu.”
Sejak kejadian soal basket Yuna, Sara terlihat jadi terlalu curiga soal hal itu. Bahkan Haruya sendiri tidak begitu paham alasannya, tapi ia memang sudah bertukar kontak dengan Yuna. Meski begitu, hal ini jelas tidak bisa ia ceritakan pada Sara, jadi ia hanya bisa mengelak.
“Kalau begitu, syukurlah. Itu saja yang ingin kutanyakan. Terima kasih sudah meluangkan waktu, dan maaf juga karena aku jadi berprasangka aneh. Ayah dan ibuku juga ingin bertemu lagi dengan Akasaki-san, jadi lain kali kita pasti—”
“Maaf. Yang itu aja terasa canggung… tapi kalau bisa, aku akan datang.”
“‘Kalau bisa datang’ itu… jelas-jelas kode nggak bakal datang, kan!”
Mii~n, mii~n, mii~n.
Suara Sara yang meninggi menggema di atap, tak kalah keras dari suara jangkrik yang sedari tadi terdengar.
Begitu pembahasan utama selesai, topik obrolan pun dengan alami beralih ke Festival Eiga.
Mau jadi bagian apa, ingin berkontribusi seperti apa untuk kelas, ingin membuat acara apa—dan sebagainya. Sara dengan wajah ceria terus melempar pertanyaan ke Haruya.
Mulai dari teater, stan makanan, rumah hantu, ramalan, kafe maid, dan lain-lain. Melihat begitu banyak ide keluar hanya dari satu orang, Haruya pun yakin bahwa merangkum dan mengatur semua itu sebagai panitia pasti akan menjadi pekerjaan yang sangat berat.
……Dan ternyata, perkiraannya benar-benar meleset tepat sasaran.
***
Ruang kelas setelah pulang sekolah dipenuhi hiruk-pikuk. Mereka sedang membahas detail tentang Festival Eiga. Apa yang Haruya bicarakan dengan Sara saat jam makan siang kini sedang dibahas dalam skala satu kelas penuh.
Di depan meja guru berdiri dua orang yang terpilih sebagai panitia pelaksana. Yang memimpin jalannya diskusi adalah Kohinata Rin. Bunga tinggi kelas—gadis cantik yang selalu menarik tatapan kagum semua orang.
“Eeehmm—berdasarkan hasil voting… kelas kita diputuskan akan mengadakan ‘drama’~!”
Tepuk, tepuk, suara tepuk tangan pun menggema di kelas.
Tulisan putih bertuliskan “Drama” di papan tulis lalu dilingkari dengan kapur merah.
(…Akhirnya diputuskan juga. Cuma menentukan acara kelas saja sudah menguras tenaga segini.)
Haruya menghela napas panjang dalam hati.
Saat melirik papan tulis, ia menyadari bahwa jumlah kandidat acara saja sudah lebih dari sepuluh. Sebagian besar berupa stan makanan, tapi berkat ucapan wali kelas—
“Di kelas lain juga banyak yang mau buka stan, jadi drama itu justru peluang bagus~”
—pendapat semua orang akhirnya menyatu.
Karena kalau jenis acaranya bentrok dengan kelas lain, panitia harus membahasnya lagi di rapat tingkat sekolah, maka diputuskanlah drama. Setidaknya, untuk saat ini Haruya bisa menghela napas lega.
“Drama sudah diputuskan, tapi siapa yang mau jadi penulis naskah?”
Hanya menentukan genre saja sudah makan waktu lebih lama dari dugaan. Masih ada banyak hal lain yang harus dipikirkan: penulis naskah, pengecekan naskah, pembuatan kostum, dan sebagainya.
Tentu saja, revisi naskah dan pembuatan kostum nantinya akan dibagi ke masing-masing divisi, tapi tetap saja…
“──Eh? Yunarin mau nulis naskah!?”
“…Soalnya Rin bilang mau serius jadi panitia, dan aku juga ingin berusaha di Festival Eiga ini. Kupikir waktunya pas saja…”
Sambil memutar-mutar rambut hitam legamnya dengan jari, Yuna mengajukan diri. Tak ada murid lain yang ikut mengangkat tangan. Sepertinya penulis naskah sudah pasti Yuna.
(…Nayu-san yang pegang naskah. Ini jadi agak nggak sabar ditunggu.)
Mungkin karena perasaan pribadinya ikut campur, Haruya tanpa sadar menuliskan nama “Takomori Yuna” di papan tulis dengan tulisan yang terasa lebih rapi dari biasanya.
Haruya memang berinteraksi dengan Yuna lewat “sisi lain” dirinya. Hal yang sama juga berlaku untuk Yuna—keduanya sama-sama mengenakan topeng.
Haruya sebagai Haru, dan Yuna sebagai Nayu.
Meski memakai topeng, topik yang mereka bicarakan selalu tentang manga shoujo favorit. Karena selera mereka cocok, obrolan mereka selalu hidup dan menyenangkan. Kesukaan pada manga shoujo mereka hampir selalu sama.
Dengan kondisi seperti itu, tak mungkin Haruya tidak bersemangat menantikan karya yang akan ditulisnya.
“…Ah, tapi jangan terlalu berekspektasi tinggi ya, semuanya. Anggap saja ini sebagai pengaman.”
“Ah~ pasti berharap lah, Yuna-sensei.”
“Rin… kalau kamu bilang gitu, aku tarik pencalonanku lho?”
“Maaf! Nggak akan lagi kok, Yuna-sensei~”
“…Nggak berubah sama sekali, kan.”
Percakapan itu membuat seisi kelas tertawa terbahak.
Saat mengecek jam, mereka sadar waktu sudah cukup mepet. Murid yang punya kegiatan klub—terutama klub olahraga—sebaiknya segera bersiap.
“Kalau begitu, penulis naskahnya Yunarin ya—dan sekali lagi, kelas kita akan menampilkan drama!”
Tepuk tangan kembali menggema.
Dengan seruan Rin itu, rapat hari ini pun ditutup. Terus berdiri di depan meja guru sambil menulis di papan memang melelahkan, tapi hanya dengan mengetahui bahwa Nayu-san yang akan menulis naskah, suasana hati Haruya langsung membaik.
(Aku sendiri juga heran, gampang banget terpengaruh… Tapi tetap saja, aku benar-benar menantikan naskah Nayu-san.)
***
Lebih baik rapat panitia dilakukan sedini mungkin. Dengan pemikiran itu, rapat panitia pun langsung dijadwalkan. Karena waktu sudah sore, sepertinya hari ini hanya akan diisi dengan salam dan perkenalan singkat.
Dalam perjalanan menuju ruang rapat, seorang gadis cantik yang berjalan sedikit di depan Haruya berbicara tanpa menoleh.
“…Maaf ya, mendadak sekali. Kamu jadi harus jadi panitia.”
“……………”
Haruya tanpa sadar terdiam.
Jawaban terbaik seharusnya sesuatu seperti ‘nggak apa-apa, ayo sama-sama berjuang’, tapi karena rasa kesalnya menumpuk, kata-kata itu tak keluar. Melihat reaksinya, Rin tertawa kecil dengan ekspresi canggung dan melanjutkan,
“Sebenernya… dari dulu aku sudah tertarik sama Akasaki-kun, tahu~”
“Eh…?”
Pengakuan tak terduga itu membuat Haruya membeku di tempat.
Rin lalu menoleh. Rambut semi-long dan rok yang sedikit lebih pendek bergoyang lembut.
“Kelihatannya kamu benar-benar nggak sadar ya.”
“Bukan begitu… cuma, aku nggak ngerti alasan Rin-san tertarik sama aku.”
“Soalnya Akasaki-kun itu kayak nyimpan sesuatu, kan. Mataku nggak bisa dibohongi~ Lagi pula, Akasaki-kun kelihatan menarik.”
Nada suaranya seakan menembus sampai ke dasar hati. Seperti menutup pandangan dengan poni panjangnya, Haruya juga tak lengah menutup hatinya. Tetap berpura-pura tenang, ia bertanya,
“…Menarik? Menurutku aku sama sekali nggak menarik.”
“Ah~ tapi kamu tiba-tiba manggil aku pakai nama depan, terus pakai nada tanya lagi. Itu sudah cukup menarik sih menurutku.”
“…………”
“Fufu, jangan-jangan kamu bahkan belum benar-benar mengingat nama keluargaku?”
“Bukannya itu keterlaluan?”
“Sama sekali nggak. Malah aku jadi yakin kamu nggak punya niat macam-macam, jadi lega. Rasanya kita bisa membangun hubungan yang profesional. Itu bagus.”
Nada suaranya tetap ceria sambil mengacungkan jempol tanda oke.
“Aku ini kelihatannya begini, tapi lumayan populer lho~ Jadi jangan sampai jatuh cinta ya, Akasaki-kun!”
Pada saat itu—
“………!”
Haruya tersentak dan menahan napas. Bukan karena cara bicaranya yang “genit” itu. Yang membuatnya terkejut adalah caranya bersikap ceria namun tetap membangun dinding dengan orang lain.
—Seolah-olah dia sedang takut akan sesuatu.
—Seolah-olah dia menyembunyikan hatinya.
Karena Haruya merasakan sesuatu yang mirip dengan dirinya sendiri. Dan untuk tipe seperti dia, Haruya punya satu gambaran yang terlintas di benaknya. Seseorang yang dikenalnya di sebuah kafe—hubungan yang ganjil, hanya saling tahu nama keluarga.
Ya, nama keluarganya…
“Aku Kohinata. Kohinata ya. Itu saja cukup diingat, Akasaki-kun.”
Selama ini ia menutup mata dengan poni panjangnya. Menutup hatinya dan menjaga jarak agar tak terlalu terlibat. Namun saat lapisan itu terkelupas, wajahnya terpantul jelas di mata Haruya.
—Ah, Kohinata-san.
Saat keberadaannya benar-benar ia sadari, perasaan yang muncul bukanlah kaget, melainkan lega.
“Senang bertemu denganmu, Kohinata-san.”
Mungkin karena itulah, tanpa ia sadari, Haruya menyebut namanya dengan nada yang sedikit lebih santai.
“…!”
Untuk sesaat, matanya terbelalak. Mungkin ia merasakan déjà vu saat melihat Haruya. Namun itu hanya sesaat. Ia menggelengkan kepala kecil, lalu kembali menghadap ke depan.
Dengan suara manis yang jelas-jelas dibuat-buat.
“Mulai sekarang kita bekerja sama ya, Akasaki-kun.”
“Karaktermu benar-benar unik.”
Seolah-olah dia sendiri yang mengumumkan bahwa dirinya sedang berpura-pura. Haruya pun melangkah menuju ruang rapat mengikuti Rin.
Ruangan yang ditentukan untuk rapat panitia kelas satu ternyata adalah ruang rapat biasa. Kelas dua dan tiga kemungkinan mengadakan rapat panitia di ruangan lain. Ukurannya tak jauh berbeda dengan ruang kelas biasa, membuat Haruya sadar bahwa harapannya tadi benar-benar bodoh.
(…Begini ya. Kalau dengar kata ‘ruang rapat’ kan biasanya kebayang luas dan lega. Tapi kenyataannya nggak sama sekali. Sialan. Ini Cuma ruang kelas biasa yang dikasih nama ruang rapat. Jangan salahkan aku kalau ini kena undang-undang iklan palsu.)
Saat Haruya dan Rin masuk bersama, sudah ada beberapa siswa yang datang lebih dulu. Banyak yang asyik mengobrol, namun begitu mereka menyadari kehadiran Rin, pandangan semua orang langsung tertuju padanya. Entah karena terpukau, atau karena ada semacam daya tarik khusus yang memaksa orang-orang memandangnya, hampir semua mata di ruangan itu terpaku pada Rin.
Beberapa saat kemudian… pandangan itu berpindah ke pasangan di sebelahnya—Haruya. Namun, dalam kasus Haruya, tatapan itu segera dialihkan kembali. Tatapan khas “ah, iya… aku paham”.
(…Hei, aku ingin pulang sekarang juga, tahu nggak… Kohinata-san?)
Saat Haruya melirik Rin dengan perasaan itu—
“Sepertinya sudah cukup banyak yang berkumpul.”
Seorang siswa laki-laki membuka pembicaraan sambil melihat sekeliling.
“Hari ini waktunya terbatas, jadi kita mulai dengan salam dan perkenalan diri. Lalu, kalau ada kelas yang sudah menentukan acara, mohon dibagikan juga. Tidak masalah, kan?”
“Iya, menurutku juga begitu!”
Seorang siswi dari kelas lain menyahut dengan suara lantang, menyatakan persetujuannya.
“…Soal acara panitia, nanti kita bahas di hari lain saja, ya?”
Seorang siswa lain—juga dari kelas berbeda—bertanya sambil menaikkan kacamata.
“Benar. Karena waktunya juga sudah mepet, kita mulai dengan saling mengenal lewat perkenalan diri.”
Siswa laki-laki yang mengambil kendali rapat itu duduk di kursi kosong, dan yang lain pun mengikuti, mengambil tempat duduk masing-masing. Haruya juga duduk di kursi kosong terdekat.
Setelah semua duduk, siswa yang membuka rapat itu menyunggingkan senyum lembut sambil menatap seluruh ruangan.
“Ehm, kalau begitu kita mulai. Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Kogure Yuudai, aku anggota OSIS. Di kelas kami, acaranya sudah diputuskan stan popcorn. Senang bekerja sama dengan kalian semua.”
Dengan senyum segar sebagai penutup, ia mengakhiri salam dan perkenalannya. Seluruh ruangan pun bertepuk tangan.
Tentu saja, dalam situasi seperti ini Haruya tak punya mental untuk pura-pura tidur, jadi ia ikut bertepuk tangan—meski sedikit terlambat.
“Kalau begitu, silakan perkenalan diri satu per satu searah jarum jam.”
“Eh, jangan lupakan aku dong!!”
“Ah—maaf, maaf.”
Sepertinya siswi itu satu kelas dengan Yuudai. Karena perkenalannya terlewat, ia memprotes dengan suara keras.
Sambil menggerutu pelan, siswi itu pun memperkenalkan diri.
“Aku Kawata Sayuki, satu kelas sama anak ini. Kalau kita bisa menikmati semuanya sepenuh hati bareng-bareng, itu bakal jadi yang terbaik. Ayo berjuang, ya.”
Garis keras. Singkatnya, ciri khas Sayuki adalah gyaru berwajah sangar. Bahkan tanpa melihat wajahnya, tekanan dari suaranya saja sudah memancarkan sifat keras kepala.
Kalau anak otaku ketemu yang begini, pasti langsung gemetar dan kabur. Dunia yang ramah pada otaku rupanya memang cuma fantasi.
Saat Haruya memikirkan hal itu—
“Baik, selanjutnya. Silakan perkenalan~”
Saat Sayuki menyilangkan kaki dan duduk kembali, seorang siswa dari kelas lain yang duduk di sebelahnya mulai memberi salam.
Haruya terus mensimulasikan di kepalanya bagaimana ia akan melewati gilirannya, sampai akhirnya tiba saat ia harus berbicara.
Tak lama kemudian, giliran kelas Haruya pun tiba.
“Baik. E-ehm… namaku Kohinata Rin. Acara kelas kami… e, eh, sudah diputuskan akan mengadakan pertunjukan Drama! Mohon kerja samanya.”
Rin bergerak lebih dulu daripada Haruya, namun entah kenapa suaranya terdengar kurang bersemangat. Sikapnya di kelas entah ke mana perginya. Keceriaan serta aura khas yang biasanya bisa menyatukan orang-orang di sekitarnya, kini sama sekali tak terasa darinya.
Kalau dipikir-pikir, sejak masuk ke ruang rapat ini, keberadaan Rin seolah menghilang. Tak berlebihan jika dikatakan ia benar-benar tenggelam oleh suasana sekitar.
Tersadar akan hal itu, Rin sempat membelalakkan mata, lalu menggelengkan kepala dengan kuat.
“M-mari kita berjuang bersama~! Kita ramaikan~! Oo~!”
Ia berusaha menyemangati semua orang. Namun dari seruan itu, hanya Yuudai seorang yang membalas dengan, “Oo~”. Dari senyum segarnya, hampir semua orang mungkin sudah bisa menebak, tapi dia tampaknya benar-benar orang baik.
Setelah memastikan Rin sudah duduk kembali, Haruya dengan ragu berdiri dari kursinya.
“…Akasaki Haruya, satu kelas dengan Kohinata-san. Mohon kerja samanya.”
Meski sudah mensimulasikan berbagai hal di kepalanya, pada akhirnya salam yang keluar hanyalah perkenalan singkat dan sederhana. Yang terdengar hanyalah bunyi tepuk tangan. Terasa hampa.
Meski sebagian besar perkenalan terlewat begitu saja di telinganya, Haruya merasa para anggota panitia ini adalah orang-orang yang unik.
Karakter mereka kuat dan penuh kepribadian.
Para siswi entah kenapa rasanya banyak yang bergaya gyaru, dan para siswa pun kebanyakan tipe yang ceria. Bahkan ada satu siswa laki-laki di ruangan itu—kalau tidak salah namanya Akaiwa.
Karena sama-sama punya huruf “Aka” (merah) di marganya, serta perkenalannya yang begitu mencolok, Haruya justru mengingatnya dengan jelas. Awalnya Haruya sempat berprasangka dari penampilannya bahwa dia tipe yang sama dengan dirinya, tapi ketika orang itu langsung membuka dengan, “Aku lagi cari pacar!”, jelas dia adalah badut kelas yang suka bercanda.
Intinya, yang ingin Haruya katakan adalah—
(Aku benar-benar nggak cocok ada di sini, ya…)
“Di antara kalian, ada yang ingin jadi pemimpin? Kalau ada, jangan sungkan bilang ke aku.”
Setelah semua perkenalan selesai, Yuudai angkat suara.
“Ah, jujur aja, Yuudai sudah paling cocok sih.”
Sayuki si gyaru menjawab sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
“E-ehm…”
Di saat itu, seorang siswi yang duduk di sebelah Haruya berdiri.
“Kohinata-san, kamu mau jadi pemimpin?”
Rin berdiri dan menatap sekeliling. Tatapan para gyaru yang memutar rambut dengan jari, serta tatapan para siswa ceria berkarakter kuat, semuanya tertuju padanya.
“E-eh… kalau begitu, aku ingin jadi wakil pemimpin.”
“Oke, aku mengerti. Terima kasih.”
Setelah menerima senyum segar itu, Rin kembali duduk.
Saat Haruya melirik ke arahnya, ia melihat tangan Rin mengepal kecil di atas roknya. Apa sebenarnya dia ingin jadi pemimpin? Rasanya tidak begitu… tapi—
Sambil merasakan kejanggalan pada diri Rin, posisi pemimpin dan wakil pemimpin pun diputuskan dengan lancar.
“Baik, terakhir, kita rapikan dan konfirmasi secara garis besar soal tugas panitia, lalu kita akhiri untuk hari ini.”
Dengan berkata demikian, Yuudai mengeluarkan dokumen dari map dan membagikannya dari satu orang ke orang lain.
“Daripada penjelasan lisan, kurasa melihat di kertas lebih mudah dipahami. Yang tertulis di situ kurang lebih adalah tugas kita. Kalau ada yang belum jelas, silakan tanya aku kapan saja.”
Pantas saja dia anggota OSIS—rupanya dia sudah menyiapkan materi sebelumnya.
Sesuai instruksi, Haruya membaca lembaran yang dibagikan. Keuangan, publikasi, pembuatan pamflet, manajemen kebersihan, penentuan acara panitia, patroli keamanan di hari H, penentuan slogan, berbagi informasi antar kelas, dan lain-lain.
Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat pusing.
(Ini jauh lebih banyak daripada waktu SMP, kan…)
Namun, bagaimanapun juga ini hanyalah festival budaya. Dan lagi, ini festival budaya SMA. Tidak mungkin kualitas dan beban kerja setinggi itu yang dituntut.
Saat Haruya menyemangati dirinya sendiri dalam hati, Rin di sebelahnya menyentil lengannya pelan.
“Kita harus berusaha ya, Akasaki-kun.”
Kata-kata itu terdengar seperti ia sedang menyemangati dirinya sendiri, namun Haruya hanya mengangguk kecil.
***
Malam itu, setelah menghabiskan makan malam, Haruya mengenakan pakaian santai yang mudah bergerak lalu keluar rumah. Ia berlari menembus malam, merasakan suara serangga musim panas dan angin lembap yang hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Lari seperti ini sudah benar-benar menjadi kebiasaan bagi tubuhnya.
Setelah insiden basket Yuna, semangat Haruya terhadap atletik perlahan kembali. Semua ini, tanpa ragu, berkat Nayu-san, pikirnya sambil menaikkan tempo. Latihan berlari sambil membayangkan seseorang imajiner di depannya ternyata cukup berat. Apalagi hari ini terasa sangat melelahkan. Baru saja ditunjuk jadi panitia, langsung rapat pula.
Meski kelelahan itu menghantam keras, Haruya tetap memaksakan diri berlari—bukan hanya karena ini rutinitasnya.
(Kohinata-san ternyata satu kelas denganku. Serius, ini sebenarnya gimana sih aaaaaa!)
Begitu sampai di rumah dan pikirannya sedikit tenang, ia justru jadi gelisah dan tak bisa diam.
Saat tahu bahwa “Kohinata-san” yang akrab dengannya di kafe ternyata adalah seorang S-Class Beauty, ia sempat merasa dekat dan lega. Namun jika dipikir dengan tenang, wajar kalau dia panik.
Hubungannya dengan Kohinata di kafe—sama seperti dengan Nayu—dibangun dengan kesepakatan tak tertulis untuk tidak saling mencampuri privasi satu sama lain. Singkatnya, jika privasi itu sampai diketahui, hubungan mereka bisa runtuh.
Meski jarak di antara mereka jadi lebih dekat sebagai sesama panitia, Haruya sama sekali tidak boleh sampai diketahui oleh Rin bahwa dirinya adalah “Onii-san langganan kafe”. Dan kalau sampai itu kembali jadi bahan omongan di kelas, perutnya benar-benar tak akan kuat menahannya……
Memikirkan ketakutan tanpa ujung itu, Haruya pun berpikir ingin mengalihkan pikirannya dengan menggerakkan tubuh. Tanpa sempat memedulikan rasa lelah di kakinya, ia terus berlari, hingga akhirnya tiba di sebuah taman yang terbuka.
Seolah dituntun oleh suara serangga dan wahana bermain yang diterangi cahaya bulan, Haruya melangkah masuk ke dalam taman. Ini adalah taman tempat ia dulu menunggu Nayu sendirian.
Saat mengingat kejadian itu, Haruya merasa dirinya benar-benar memalukan, sampai wajahnya memerah karena malu…… namun tiba-tiba terdengar suara bola yang memantul ke telinganya.
──Dan, dan, dan, dan.
────Shoot.
Suara bola yang dipantulkan, lalu suara menyenangkan saat bola menembus jaring. Lampu jalan menerangi ring basket, dan sebuah kuncir panjang bergoyang pelan.
Haruya terpaku sesaat, menatap gerakan tajam gadis itu. Mungkin menyadari tatapan itu, ia menoleh sambil tetap memantulkan bola.
“……Eh, Haru-san?”
Seolah tak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini, Yuna menatap Haruya dengan ekspresi bengong.
“Selamat malam, Nayu-san.”
Sambil mencubit bajunya dan mengibaskannya untuk mengipasi diri, Haruya melanjutkan,
“Aku lagi lari-lari sebentar……”
“Heeh~ jam segini. Kamu lumayan suka latihan lari ya.”
Sambil mengelap keringat dengan handuk, Yuna tersenyum lembut.
“Kalau begitu, Nayu-san juga sama. Kelihatannya basketmu sudah benar-benar balik.”
“……Iya, makasih.”
Sambil memantulkan bola, ia berkata, “Nee.”
“Hm? Kenapa?”
“Itu… Haru-san, mau nemenin aku bentar nggak?”
Haruya tidak bertanya ngapain. Dari caranya menurunkan posisi tubuh dan tersenyum menantang, ia sudah tahu apa yang diinginkan Yuna.
“……Aku ini benar-benar pemula, lho.”
“Aku agak bosan kalau sendirian. Temenin 1-on-1 beberapa kali aja.”
“Jangan protes ya kalau aku payah, Nayu-san.”
Dan begitulah, 1-on-1 pun dimulai—hasilnya sudah bisa ditebak. Dia sama sekali bukan lawan. Benar-benar dihajar habis. Bukan sekadar kalah telak, tapi kekalahan total.
『Haru-san, kalau gini terus kamu bakal dihajar habis. Ayo semangat.』
『Aku sudah dihajar dari tadi, tahu!? Dasar iblis, Nayu-saaaan!』
Sambil saling lempar canda seperti itu, 1-on-1 tersebut terasa menyenangkan—meski sedikit menyisakan rasa kesal.
Karena sama-sama sudah menggerakkan tubuh sepenuh tenaga, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku taman. Sambil mengelus permukaan bola basket, Yuna membuka mulut.
“……Eh, dengarin nih. Kelasku tuh, di Festival Eiga mutusin buat drama. Kalau di tempat Haru-san gimana?”
Sambil memiringkan kepala, ia bertanya. Tanpa sengaja Haruya melirik pergelangan tangannya—di sana terpasang dengan rapi gelang yang dulu ia berikan.
“Ah~ kalau di tempatku……”
……Hm?
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, ia sadar. Ini jebakan. Yuna berbicara dengan asumsi bahwa Haruya bersekolah di sekolah yang sama. Haruya menarik napas dalam sekali, lalu menjawab,
“Belum ada yang diputuskan. Lagian, meski masih waktu segini, sekolah Nayu-san sudah festival ya. Cepat juga.”
Sambil berkeringat dingin dalam hati sambil berpikir, bahaya banget, ia tetap menjawab dengan tenang.
“Oh gitu……”
“Eh, ‘oh gitu’ doang? Dingin banget nggak sih?”
“Coba tanya hati kamu sendiri, kan sebenarnya kamu sudah tahu.”
Sambil memalingkan wajah, ia berkata begitu.
“Aku nggak terlalu paham maksudmu……”
“Ya sudah.”
Ia bergumam ringan, lalu menoleh kembali ke arah Haruya.
“……Festival Eiga. Kita sama-sama berjuang ya.”
“………Makanya aku bilang beda, Nayu-san.”
“Bedanya apa? Kalau ada yang mau kamu bilang, aku mau dengerin kalau kamu bisa dapat satu poin dariku di 1-on-1.”
“Kata-kataku nggak bakal kutarik.”
“Aku bukan laki-laki, tapi aku nggak bohong kok.”
Dan dengan itu, 1-on-1 kembali dimulai. Tapi hasilnya… yah, benar-benar parah. Iya, jangan tanya.
(Dan juga, tolong jangan cari aku……)
Saat kembali istirahat, kali ini Haruya yang lebih dulu membuka suara.
“Panas ya…… aku sudah minum sih, tapi kalau nggak keberatan mau minum?”
Sambil berkata begitu, Haruya menyodorkan botol plastik berisi teh.
Sebenarnya akan lebih baik kalau bisa membelikan dari mesin penjual otomatis, tapi sayangnya ia tidak membawa dompet, jadi terpaksa batal.
“……Kalau begitu aku ambil.”
Dengan sikap yang agak lembut, Yuna mengambil botol itu, lalu tiba-tiba membeku. Dilihat dari ekspresinya, telinganya tampak sedikit memerah.
Setelah membuka tutup botol, ia tetap diam—sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Maaf. Tetap saja nggak bisa."
"Eh, maksudnya apa?"
Tanpa sadar aku balik bertanya. Dia menyipitkan mata rapat-rapat, mengembalikan botol minum itu ke tanganku, lalu menjawab,
"Jangan bikin aku bilang hal kayak gitu dong…… bodoh."
Sambil memeluk bola basket di dadanya, Yuna berlari pergi begitu saja. Menatap punggungnya yang menjauh, Haruya dilanda perasaan kaget—sedikit saja, tapi jelas terasa.
(……Jangan-jangan botol minumku memang sekotor itu?)
***
Haru-san bodoh, bodoh banget.
Aku juga bodoh, sampai kepikiran ciuman tidak langsung segala.
Apa sih yang kupikirkan…… benar-benar deh. Karena sudah lama main basket dan badanku kepanasan, makanya aku jadi mikir aneh-aneh…… pasti itu alasannya. Berusaha mengabaikan detak jantung yang berdetak kencang—duk, duk—Yuna terus berlari sekuat tenaga.
***
Mungkin karena sudah memasuki masa persiapan Festival Eiga, suasana sekolah jadi terasa jauh lebih sibuk.
Tinggal setelah jam pelajaran untuk rapat sudah jadi hal biasa, dan setiap kelas—termasuk kelas Haruya—sibuk menentukan pertunjukan dan pembagian tugas, sampai rasanya seperti pesta. Di tengah persiapan itu, Rin dan Haruya berdiri di depan kelas untuk memimpin jalannya diskusi. Meski begitu, yang benar-benar memimpin tetap Rin, sementara Haruya sepenuhnya berperan sebagai pencatat.
"Pertama soal naskah. Yunarin, garis besar ceritanya sudah kebayang?"
"Sudah. Aku kepikiran mau pakai cerita Cinderella sebagai dasar."
Daripada membuat cerita yang benar-benar orisinal, mengambil karya yang sudah ada lalu menambahkan sentuhan sendiri memang terasa sangat khas festival budaya. Dari berbagai sudut kelas terdengar tepuk tangan tanda setuju. Setelah tepuk tangan itu mereda, Yuna pelan-pelan berdiri dari kursinya.
"Terus, pertama-tama kita tentukan pemeran utama dulu, ya……"
Penentuan pemeran. Bagian paling inti dalam sebuah pementasan.
Para murid saling berbisik, tapi sepertinya mereka semua sudah sepakat—siapa yang paling cocok memerankan Cinderella. Tanpa sadar, pandangan mereka tertuju pada satu siswi. Menyadari tatapan itu, dia menunjuk dirinya sendiri dan bersuara dengan nada bingung.
"……Eh, aku?"
Setelah berkedip beberapa kali, ekspresi polos itu terlihat di wajah Himekawa Sara.
Gaun putih bersih. Sepatu kaca bak sulap. Secara visual, tak diragukan lagi—di kelas ini, yang paling cocok dan paling mencolok adalah Sara.
Yuna tersenyum tipis, lalu kembali membuka mulut.
"───Kalau begitu, Sara, mau nggak kamu yang memerankannya?"
"Ka-kalau semua orang setuju, aku juga mau berusaha sebaik mungkin───"
Belum sempat Sara menyelesaikan kalimatnya, kelas langsung riuh oleh sorak-sorai dan tepuk tangan. Jelas sekali semua orang ingin dia yang memerankannya. Bahkan wali kelas yang berdiri di dekat dinding ikut bertepuk tangan.
"Kalau begitu, aku akan berusaha……!"
"Kalau Sara yang mau memerankannya, aku juga bisa lebih fokus ngerjain naskah. Terima kasih ya, Sara."
Meski detail naskahnya belum ditentukan, dari semangat Yuna, semua orang merasa tenang menyerahkan naskah kepadanya.
『Putri Cinderella-nya Himekawa-san, dan penulis naskahnya Takamori-san! Bisa lihat aksi dua orang yang akhir-akhir ini makin bersinar, ya.』
『Serius, bersyukur banget masuk kelas ini.』
『Takamori-san sama Himekawa-san, akhir-akhir ini memang makin imut, ya.』
Melihat interaksi Sara dan Yuna, teman-teman sekelas saling melontarkan komentar masing-masing.
Rin, yang mendengar itu semua, mengangkat suaranya dengan pelan.
"……Eh, Sarachin, Yunarin. Kalau ada yang bisa kulakukan, bilang ya. Aku juga mau bantu."
"Makasih. Tapi Rin kan panitia inti, jadi nggak usah terlalu khawatir soal sini."
"Iya! Di sini serahkan saja pada aku dan Yuna-san!"
Sara membusungkan dada, tapi Yuna menyela dengan napas kecil bercampur keluhan.
"Bukan begitu…… yang berusaha itu kan seluruh kelas. Jangan bikin seolah ini cuma dunia kita berdua, Sara."
"A-ah…… maaf."
Sara menunduk memberi salam ke seluruh kelas. Mungkin tingkahnya terlihat lucu, karena kelas kembali dipenuhi tawa.
"Oke, kalau begitu Sara—dan semuanya juga. Aku bakal bikin plot dan naskah yang seru, ya."
───Tepuk, tepuk.
Sekilas, semua orang di ruangan itu tampak sangat antusias. Seluruh kelas bersemangat dengan pembagian peran, suasana jadi riuh.
"Jangan ninggalin aku………"
Di tengah itu, seolah terdengar suara kecil.
Saat Rin menoleh, sosok rapuh itu sudah tak terlihat. Mungkin cuma salah dengar. Rin menarik napas dalam, lalu menyapa teman-teman sekelas yang sedang ramai berpusat pada Sara dan Yuna.
"Kalau begitu, kita tentukan juga ya penanggung jawab kostum, publikasi, pembuatan panggung, kerja belakang layar, pengecekan naskah—semuanya!"
"Siap!"
Jawaban pun bermunculan, dan kelas mulai bergerak sebagai satu kesatuan. Masing-masing mulai memikirkan apa yang ingin mereka kerjakan. Untuk menentukan peran, mereka diberi waktu bebas untuk berdiskusi.
Dalam sekejap, kelas kembali dipenuhi kegaduhan.
"Akasaki-kun, kita berdua mau ngerjain apa ya……"
"Eh……"
Karena disapa tiba-tiba, Haruya pun terlambat merespons.
“Karena kamu sudah jadi panitia inti, bukannya lebih baik kamu nggak usah terlalu memaksakan diri? Pasti yang lain juga bakal pengertian.”
“Oh begitu. Soalnya aku tuh punya keinginan kuat buat mencapai sesuatu yang besar di Festival Eiga ini. Kalau Akasaki-kun sendiri, ada nggak keinginan kayak gitu?”
“Nggak. Sama sekali nggak ada.”
“Ahaha. Kamu blak-blakan banget ya! Makin misterius aja jadinya.”
“Misterius… apanya?”
“Nggak, nggak. Ngomong-ngomong, soal pembagian peran, Akasaki-kun mau gimana?”
“Pembagian peran… maksudnya di drama?”
“Iya, iya.”
“Kalau aku sih, mungkin ambil peran sampingan yang tersisa aja.”
“Apa sih itu. Lucu banget.”
Sambil tertawa cekikikan, Rin memandang ke arah murid-murid yang sedang ramai dan bersemangat.
Tatapannya terlihat agak jauh, dingin, seolah terpisah dari keramaian itu—dan melihatnya membuat darah Haruya serasa mengalir mundur. Dia bilang “lucu”, ekspresinya juga tersenyum. Tapi entah kenapa, semuanya mendadak terlihat seperti buatan… seperti topeng.
Setelah pembicaraan selesai, masing-masing bagian akhirnya ditentukan. Mungkin karena terlalu banyak menulis nama di papan tulis, Haruya merasa seolah-olah ia bisa mengingat nama teman-teman sekelasnya… atau mungkin tidak. Sepertinya tetap mustahil. Maaf. Mulai sekarang, tiap bagian akan berkumpul dan mulai bekerja.
Karena panitia inti bertugas mengawasi keseluruhan, mereka tidak punya bagian khusus. Hal yang masih perlu diputuskan bersama oleh seluruh kelas mungkin hanya latihan drama—meskipun itu pun kemungkinan akan dibagi antara yang jago dan yang kurang—dan mungkin juga desain kaus kelas.
Saat Haruya memikirkan hal itu, Rin kebetulan mulai menyinggung topik tersebut.
“Okeee~! Kalau gitu, sekarang kita bahas kaus kelas ya~”
Begitu dia bicara, kelas langsung ikut bersemangat.
(Eh, ini jangan-jangan aku bakal disuruh nulis daftar panjang di papan lagi…)
Saat Haruya meringis, Rin menjulurkan lidahnya sedikit sambil tersenyum ke arahnya.
…Licik.
Meski tahu itu senyum buatan, Rin tetap terlihat imut.
Begitu menoleh kembali ke teman-teman sekelasnya, dia langsung memimpin dan menghidupkan suasana. Ekspresi kesepian yang sempat terlihat tadi sudah benar-benar menghilang.
***
Rapat rutin panitia inti berjalan lancar.
Kogure Yuudai sebagai ketua, dan Kohinata Rin sebagai wakil ketua, memimpin jalannya diskusi. Panitia inti saling berbagi informasi tentang kondisi terkini di kelas masing-masing dan bertukar pendapat. Misalnya, kelas yang membuka stan makanan harus melapor ke pihak sekolah soal kebersihan, jadi mereka mendiskusikan cara meyakinkan pihak sekolah. Atau bernegosiasi supaya jenis pertunjukan antar kelas tidak saling bertabrakan.
Sepertinya hanya murid-murid yang punya motivasi dan ketekunan tinggi yang mau jadi panitia inti. Semua perwakilan kelas aktif bertukar pendapat.
Di tengah suasana itu, seorang siswi bergaya gyaru Kawata Sayuki mengangkat suara.
“Sebentar, maaf ya. Kamu Kohinata-san, kan? Wakil ketua. Aku pengin denger juga pendapatmu. Menurutmu gimana?”
Topik yang sedang dibahas adalah cara menekan anggaran untuk stan crepes dan permen buah, serta solusi soal kebersihan. Mungkin karena Rin hanya diam mendengarkan, Sayuki jadi menanyakannya langsung.
(Ya, sih… aku juga cuma jadi robot yang angguk-angguk doang.Soalnya semua orang kelihatan penuh semangat, rasanya susah buat nyela…)
Saat Haruya merasa kasihan pada Rin, dia pun mulai bicara dengan ragu-ragu.
“E-eto… aku sih setuju sama ide pakai buah kalengan atau ganti krim segar dengan whipped cream. Tapi mungkin pakai buah beku juga bisa jadi pilihan. Kalau beli yang ukuran industri, biayanya bisa ditekan, dan dari sisi kebersihan juga lebih aman…”
“Oh, begitu. Kalau memang sudah dipikirkan dengan matang, ya nggak masalah—”
Sayuki menurunkan sudut matanya dan melepaskan kaki yang tadi disilangkan.
Melihat reaksinya, Rin menghela napas lega tanpa sadar.
Melihat itu, Haruya kembali merasa bahwa Rin di rapat panitia inti terlihat sangat menahan diri.
Rin yang memimpin kelas terasa jauh lebih dominan, seolah mampu mengendalikan suasana—tapi di rapat ini, bayangan itu sama sekali tidak terlihat.
Sambil menyimpan rasa janggal itu, Haruya tetap mendengarkan diskusi yang berlangsung. Lalu, tiba-tiba, dari ketua panitia, Kogure Yuudai, keluar kata-kata yang menarik perhatiannya.
“──Ada yang mau jadi bagian dokumentasi?”
Bagian dokumentasi. Tugas utamanya berkeliling dan mengambil foto saat hari-H… pekerjaan murni di balik layar.
Ini adalah bagian yang sejak awal sudah menarik perhatiannya.
Tanpa ragu, Haruya langsung mengangkat tangan kanannya.
“Akasaki-kun… terima kasih sudah mau mencalonkan diri.”
Dengan senyum cerah itu, keputusannya langsung ditetapkan. Tidak ada satu pun murid lain yang mencalonkan diri.
“Cuma, kalau semangat seperti itu bisa sering kamu tunjukkan juga, aku—dan yang lain—bakal senang.”
Sepertinya itu merujuk pada betapa cepatnya Haruya mengangkat tangan saat mendengar ‘dokumentasi’.
Mendengar itu, para panitia lain terkekeh. Merasa malu, Haruya tanpa sadar memalingkan wajah. Ketua panitia tetap menatapnya dengan senyum cerah, lalu melanjutkan,
“Baik, kita lanjut tentukan bagian yang lain───”
Begitulah, pembagian tugas pun selesai.
Setelah itu, alurnya berlanjut ke penentuan ketua di masing-masing bagian. Semua orang berdiri dan berkumpul sesuai bagian mereka.
Siapa saja yang satu tim dengan Haruya di bagian dokumentasi—dia sama sekali tidak tahu. Jumlah orangnya banyak, dan dia bahkan hampir tidak mengingat wajah atau nama panitia lainnya. Siapa melakukan apa, Haruya nyaris tidak mengenalinya.
Bagian dokumentasi berjumlah empat orang, termasuk Haruya. Mungkin semuanya adalah orang-orang yang tidak lolos ke bagian pilihan mereka, lalu terbawa arus sampai ke sini. Ekspresinya tampak seolah belum sepenuhnya bisa menerima keputusan itu.
“Akasaki-kun… kami sudah berdiskusi bareng, dan hasilnya kami merasa Akasaki-kun paling cocok jadi ketua bagian dokumentasi.”
“…Eh?”
Tanpa sadar Haruya mengeluarkan suara yang terdengar konyol.
“Soalnya, Akasaki-kun kelihatan paling ingin jadi dokumentasi sejak awal, dan kami juga merasakan semangatmu…”
“…………”
Dua orang lainnya mengangguk besar-besaran dari belakang, “iya, iya”.
(Di saat-saat kayak gini justru aku pengin kalian yang lebih aktif. Ketua atau pemimpin itu… serius, ini nyusahin banget.)
Walaupun begitu, suasananya sama sekali tidak memungkinkan untuk menolak.
Haruya menghela napas kecil di dalam hati, lalu dengan enggan menganggukkan kepala. Dengan demikian, Haruya resmi ditunjuk sebagai ketua bagian dokumentasi.
(…Sama sekali nggak senang.)
***
Setelah kegiatan tinggal kelas dan rapat rutin panitia inti selesai, suasana di luar sudah mulai remang-remang.
“Panas banget ya~ Akasaki-kun. Sumpah, ponimu itu mending dipotong deh.”
Di tengah udara yang gerah, saat ia berniat pulang sendirian, seseorang menyapanya dari samping. Tanpa perlu menoleh pun, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.
“Kohinata-san, ya.”
“Tadi aku dengar reaksi yang kayaknya nggak suka banget. Perasaanku doang, kan?”
“Bukan perasaanmu.”
Sepertinya arah pulang mereka sama sampai titik tertentu. Rin berjalan setengah langkah di belakang Haruya sambil terus mengajaknya bicara.
“Ahaha. Yang bisa bereaksi sejelas itu nggak suka waktu aku nyapa, cuma Akasaki-kun doang loh.”
“Kamu lagi ngejek?”
“Iya. Lagi ngejek.”
“Wah, aku senang banget diajak bicara Kohinata-san~”
“Datar banget! Terus jalannya juga cepet banget!”
Demi mencegah terbongkarnya identitas “Onii-san di kafe”, Haruya memang tidak bisa—dan tidak mau—terlalu banyak berhubungan dengannya. Lagipula, meski sudah agak gelap, berjalan berdua dan terlihat orang lain rasanya bakal sangat merepotkan.…Kalau sampai muncul gosip aneh lagi, dia benar-benar nggak sanggup.
Tanpa menyadari perasaan Haruya, Rin dengan polos berlari kecil mendekat sambil melanjutkan.
“Akasaki-kun, jadi panitia inti itu capek, ya?”
Dari nada suaranya yang agak sungkan, Haruya langsung mengerti.
Ah, dia pasti merasa bertanggung jawab.
“Hari ini kamu juga jadi ketua dokumentasi, terus di kelas kamu juga kerja keras sebagai notulis… aku kepikiran, jangan-jangan jadi panitia inti itu berat banget buat kamu.”
Ucapan yang terasa agak terlambat dan perhatian yang aneh itu membuat Haruya refleks tertawa kecil.
“Banget.”
“──Maaf. Kalau kamu benar-benar keberatan, aku bakal sebisa mungkin bantu kok.”
“Tapi justru Kohinata-san yang jauh lebih kerja keras.”
Ucapan mereka bertabrakan.
Mendengar kata-kata Haruya, Rin memperlihatkan ekspresi bingung.
“Eh?”
Dengan nada yang sangat wajar, Haruya melanjutkan,
“Soalnya kamu wakil ketua, dan di kelas juga semua jalannya acara kamu yang ngatur.”
Rin tertawa kecil, lalu langsung menimpali.
“Itu karena aku sendiri yang pengin ngelakuinnya, tau? Akasaki-kun tuh baiknya suka di tempat yang aneh.”
『──Apa dia benar-benar melakukan itu karena ingin?』
Tawa “hehe”, “kuku”, “haha” terdengar seperti biasanya—seperti Kohinata Rin yang selalu ceria. Tapi bagi Haruya, yang sudah melihat sisi Rin di rapat panitia inti, ada rasa janggal yang tak bisa dihilangkan. Namun meski begitu, tak ada hal yang bisa Haruya lakukan sekarang.
“──Kalau ada hal yang bikin kamu kepikiran, jangan sungkan buat manggil aku.”
Paling jauh, cuma itu balasan yang bisa ia berikan.
“…!”
Rin tersentak, seolah menahan napas. Lalu, perlahan dia membuka mulut.
“Eh, kok tiba-tiba ngerayu sih!? Akasaki-kun ini. Ya, barusan itu sih sedikit nyentuh juga, tapi… sisi kamu yang kayak gitu tuh—”
Sambil menarik napas dalam-dalam, Rin mengerucutkan bibir kecilnya dan melanjutkan,
“──bagus banget. Hihi.”
Aku suka kamu, atau mungkin hanya, suka.
Dia sempat mengira akan mendapat salah satu dari jawaban itu, jadi jantungnya jelas tidak baik-baik saja. Meski merasa tidak menunjukkan apa pun di wajah atau sikapnya, Rin dengan sengaja membuat senyum jahil yang lebar.
“Barusan kamu yakin banget aku bakal bilang ‘suka’, kan? Akasaki-kun.”
“……………”
Kalau sampai diucapkan, rasanya dia bakal kalah.
Haruya pun memilih berjalan lebih cepat tanpa berkata apa-apa.
“Eh, jangan kabur gitu dong…”
Mungkin dia kebablasan sedikit, pikir Rin sambil menjulurkan lidah kecilnya. Menghadap ke punggung Haruya, dalam hati dia mengirimkan ucapan terima kasih.
(──Terima kasih. Perasaanmu aja sudah cukup kok, aku terima.)
***
Keesokan paginya, Haruya tiba di kelas lebih awal dari biasanya. Dari jendela kelas terdengar suara jangkrik yang berderik pelan.
Beberapa hari terakhir terasa terlalu sibuk, jadi ia ingin sesekali menikmati suasana kelas yang tenang sendirian—itulah alasan ia berangkat pagi-pagi. Mungkin juga karena semalam ia tidak terlalu bisa tidur.
Apa karena ia sampai segugup itu gara-gara godaan Kohinata-san kemarin? Mungkin… tidak, bahkan bisa dibilang sama sekali bukan.
Yah, kadang-kadang memang ada hari di mana ia datang lebih awal tanpa alasan khusus. Semata-mata untuk menikmati waktu yang singkat namun nyaman dan terasa elegan seorang diri…
“Nee, Akasaki-kun… menurutmu gimana?”
Seharusnya begitu, tapi entah kenapa sekarang ia malah duduk berhadapan sambil diajak bicara.
Hah? Aneh. Kok bisa jadi begini?
Orang yang duduk berhadapan dengan Haruya adalah Takamori Yuna. Salah satu dari tiga “bunga di puncak” kelas, sekaligus gadis cantik yang saat ini bertanggung jawab atas penulisan naskah untuk Festival Eiga. Katanya, Yuna baru saja menyelesaikan latihan basket pagi lalu tenggelam dalam menulis naskah, sampai akhirnya mereka berpapasan begitu saja di kelas.
Mengingat kembali kejadian itu, Haruya tersenyum kecut—saat membuka pintu kelas dan melihat Yuna ada di sana, ia hampir saja refleks menutup pintunya kembali.
Di tengah lamunannya, Yuna melanjutkan,
“...Akasaki-kun kan panitia inti, jadi aku ingin dengar pendapat soal naskah ini dari sudut pandang laki-laki.”
“…………!”
Sebenarnya Haruya tidak termasuk dalam tim pengecekan naskah dan ini jelas di luar bidangnya, tapi begitu mendengar kata “naskah”, matanya langsung berbinar.
(Aku bisa baca naskah Nayu-san paling pertama…!)
Penampilannya sudah persis seperti seorang otaku.
“Oke, coba lihat ya.”
Pertama-tama ia melirik judulnya.
『Cinderella Putih Bersih dan Pangeran Berwarna Sayap Gagak』
Judul yang sangat khas shoujo manga, sampai-sampai membuat Haruya tersenyum. Di saat yang sama, jantungnya pun ikut berdebar.
Isi ceritanya, secara garis besar, memang tak jauh berbeda dari dongeng Cinderella. Namun di sana-sini ditambahkan unsur orisinal dengan nuansa romansa yang jauh lebih kuat. Hanya dengan melihat alur besarnya saja, Haruya sudah bisa merasakan kalau ini bakal jadi naskah yang seru.
“Menurutku ini bagus banget!”
Ia menjawab dengan nada tinggi tanpa bisa menyembunyikan antusiasmenya. Yuna sempat terlihat sedikit bingung, tapi kemudian sudut matanya melengkung, tampak agak senang.
“Kalau dilihat dari sudut pandang laki-laki… dialog pangerannya itu nggak kerasa lebay atau malu-maluin gitu?”
Memang, itu bisa saja terjadi. Bahkan di shoujo manga, sering ada dialog yang bikin pembaca kena “malu empati”. Meski Haruya sendiri suka shoujo manga, jadi hal itu tak pernah terlalu ia pikirkan. Dalam romcom pun, mungkin ada banyak dialog yang bikin perempuan merasakan hal serupa.
“Hmm… entahlah. Tapi menurutku sih oke. Apalagi dialog yang bagian sini.”
Sambil berkata begitu, Haruya menunjuk satu baris dialog di naskah. Yuna langsung membelalakkan mata, lalu mendengus kecil dengan wajah bangga.
“Eh, kamu ngerti ya…? Bagian ini sebenarnya aku cukup pede waktu nulisnya.”
“Iya, iya. Ini kerasa banget gaya Na—”
Di situ Haruya langsung menahan diri dan menegur dirinya sendiri, “bahaya”. Ia hampir saja menjawab, “Ini terasa banget kayak Nayu-san.” Padahal sekarang dirinya bukan “Haru”.
Karena sudah lama tak membahas shoujo manga, ia tanpa sadar sempat tertukar peran. Harus hati-hati, batinnya.
“Na?”
Yuna memiringkan kepalanya sambil bertanya.
“Eh, maksudku… ini kerasa kayak shoujo manga ‘Namikui’ gitu.”
“Gitu ya? Padahal aku nggak menjadikannya referensi sih…”
“Namikui” adalah shoujo manga yang tergolong untuk pembaca hardcore. Kata yang diawali “Na” itu muncul spontan, dan hanya itu yang terlintas di kepalanya saat itu. Yuna masih memiringkan kepala, lalu seolah menyadari kejanggalan lain.
“Eh? Ngomong-ngomong, Akasaki-kun baca shoujo manga juga?”
“Eh, bukan… adikku yang baca.”
Tajam juga pertanyaannya. Haruya langsung berkeringat dingin dalam hati—ia tak boleh sembarangan bicara.
“Adikmu ya… ah, eh, aku juga tahu Namikui soalnya sepupuku suka baca, jadi ya… kurang lebih gitu.”
Melihat Yuna yang sambil menyentuh rambutnya tampak gelisah, jelas ia juga mati-matian ingin menyembunyikan fakta bahwa shoujo manga adalah hobinya.
Perasaan itu sangat Haruya pahami. Dan melihat Yuna yang mati-matian menyembunyikan hobinya terasa begitu “Nayu-san banget”, sampai tanpa sadar ekspresinya jadi sedikit lebih lembut.
“Ngomong-ngomong…”
Setelah pembahasan naskah agak mereda, Yuna mengganti topik.
“Ada nggak hal baru soal dia?”
“Ti-tidak… kayaknya nggak ada.”
Haruya hampir saja tersedak.
“Dia” yang dimaksud adalah “Haru”. Dengan kata lain, dirinya sendiri—versi lain darinya.
“Oh ya… kalau nanti ada yang kamu tahu, kabari aku ya. Terus, kalau ada masalah di panitia inti, jangan cuma ke Rin aja…”
Ia menurunkan sudut matanya dan melanjutkan,
“Kalau kamu mau, kamu juga boleh mengandalkanku.”
“Kelihatannya sih nggak, tapi…” lanjutnya sambil tersenyum lembut,
“Aku berterima kasih sama Akasaki-kun karena sudah bikin aku bisa main basket lagi. Kita juga sudah jadi teman, kan.”
“…………”
Entah kenapa, rasanya agak memalukan… dan juga canggung. Pada saat yang sama, karena diliputi perasaan bersalah, Haruya pun mengganti topik pembicaraan.
“Ngomong-ngomong soal casting naskahnya…”
Melihat Haruya yang terang-terangan mengalihkan pembicaraan, Yuna tampaknya mengira itu hanya cara menutupi rasa malu, sehingga ia mengangguk-angguk dengan senyum hangat sambil berkata, “Iya, iya.” Namun untungnya, ia langsung mengganti mode berpikirnya.
“...Cinderella sudah diputuskan jadi Himekawa-san, tapi untuk peran pangeran, apa sudah ada rencana siapa yang bakal main?”
“Sebetulnya ada satu laki-laki yang terpikir sih,” jawabnya, lalu menatap ke atas sejenak sebelum seolah mendapat pencerahan dan menepukkan kedua tangannya.
“Ah! Jangan-jangan Akasaki-kun mau jadi pangeran!?”
“Enggak, enggak, jelas bukan itu.”
Tak mungkin ia mau memerankan pangeran di depan banyak penonton.
Malu setengah mati—itu sudah pasti.
“Lagipula aku juga nggak cocok jadi pangeran, gimana ya… bukan tipikalnya.”
“Aku rasa sih cocok-cocok aja. Akasaki-kun kan kulitnya putih, wajahnya bersih, badannya tinggi juga… kalau poni panjang itu diangkat, kelihatannya bakal bagus, lho.”
“B-bukan, maksudku bukan soal aku—eh, bukan itu yang mau kubahas!”
Tanpa sadar, arah pembicaraan jadi dikuasai olehnya. Haruya menggelengkan kepala kuat-kuat lalu melanjutkan,
“Aku justru mikir kalau yang paling cocok jadi pangeran itu Takamori-san.”
Ia menyampaikan apa yang sejak awal ingin ia katakan.
Yuna langsung membelalakkan mata, tampak benar-benar terkejut.
“Eh, aku? Jadi pangeran?”
“Iya. Menurutku kamu paling pas.”
“Eh, tapi… aku kan perempuan. Apa nggak aneh aku jadi pangeran?”
Karena ditanya dengan nada ragu, Haruya menjawab dengan tegas,
“Enggak. Justru menurutku cocok.”
“...Eh, serius? Tapi itu cuma karena Akasaki-kun yang seleranya aneh aja, kan… iya, pasti itu.”
Setengahnya seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri, tapi Haruya yakin. Ini jelas peran yang paling pas buat Nayu-san.
***
Sepulang sekolah.
Seperti yang sudah Haruya duga, keputusan akhirnya pun bulat:
『Peran pangeran paling cocok dimainkan oleh Takamori-san.』
Di tengah persiapan menuju Festival Eiga yang terus berjalan, casting ini ditentukan dalam sekejap.
Awalnya Yuna bersikap negatif—“masa aku jadi pangeran sih”—namun setelah melihat seluruh kelas memberikan suara untuknya, ia tak punya pilihan selain menerimanya.
‘Kan benar,’ seolah berkata begitu, Haruya melirik Yuna dari podium. Saat mata mereka bertemu, Yuna langsung memalingkan wajahnya dengan “hmph”. Dilihat dari hasil pengecekan naskah, kualitasnya sudah cukup tinggi dan hanya butuh sedikit revisi detail, sehingga kelas pun mulai fokus ke latihan drama.
Dari bagian kostum terdengar semangat membara,
『Ini kan kostum utama Takamori-san dan Himekawa-san! Jadi tolong negosiasi anggarannya yang serius, ya!』
『Kasih lihat dong nuansa pangeran dan putri itu… kalian berdua.』
『Eh, nggak kerasa kalau dua ini kelihatan super cocok!?』
Sara dan Yuna berada di pusat keramaian kelas, saling bercanda dengan akrab.
Dalam situasi seperti ini, panitia inti memang cenderung tersisih. Soalnya meski disebut panitia, pekerjaan mereka sepenuhnya berada di balik layar. Saat Haruya memikirkan hal itu—
『Pemeran utama — Himekawa Sara, Takamori Yuna』
Tatapan Rin terpaku pada tulisan di papan tulis itu. Tangannya terkepal di depan dada, erat. Di matanya menyala tekad yang kuat.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Apa yang bersemayam di balik tatapannya yang memandang Sara dan Yuna?
Haruya hanya bisa berharap bahwa itu hanyalah kekhawatiran berlebihan.
***
Pada rapat rutin panitia inti berikutnya.
Setelah laporan kondisi masing-masing kelas selesai seperti biasa, sang ketua berkata sambil menebar senyum segarnya,
“Kurasa kita juga sudah mulai akrab, jadi aku pikir sudah waktunya kita memutuskan…”
Baru beberapa hari berlalu—namun juga bisa dibilang sudah beberapa hari. Semua anggota panitia ceria, sampai-sampai sudah ada yang memperlakukan satu sama lain seperti “bestie seumur hidup”. Terutama anak-anak yang bergaya gyaru—mereka cepat sekali akrab.
Rin sendiri tidak masuk ke lingkaran itu, tapi…
Sebagai catatan, “bestie seumur hidup” artinya “teman selamanya”.
(…Aku sama sekali belum akrab. Apa boleh milih opsi ‘nggak ikut mutusin’?)
Karena sudah bisa menebak kelanjutan ucapan sang ketua, Haruya memikirkan itu dalam hati. Namun harapannya pupus ketika sang ketua melanjutkan tanpa ampun,
“Kita putuskan, acara panitia inti mau apa…!”
Detik itu juga—
““““WEEEEEI!””””
Ruang rapat langsung dipenuhi sorakan itu. Mungkin memang gaya mereka, tapi Haruya terkesan—ternyata tipe “weeey~” itu benar-benar ada di dunia nyata.
Di tengah para gyaru yang memimpin teriakan “weeey”, Rin justru melontarkan “weeey” yang paling bersemangat. Bahkan para gyaru pun sampai membelalakkan mata ke arahnya. …Lebih tepatnya, hampir semua orang di ruangan itu memperhatikan Rin.
(W-wow… semangatnya luar biasa, Kohinata-san.)
Aura itu membuat Haruya mau tak mau ikut terfokus.
Setelah suasana sedikit tenang, pembahasan pun berlanjut ke acara apa yang akan dilakukan oleh panitia inti kelas satu.
Pilihan yang realistis ada dua:
・Dance bersama
・Live performance dengan satu orang sebagai pusatnya
Dua opsi itulah yang kini dipertimbangkan.
Konon, setiap tahun acara dari panitia pelaksana biasanya berupa nyanyian atau tarian, dan akan dipentaskan sebagai penutup Festival Eiga. Pada dasarnya, alasan panitia pelaksana mengadakan acara sendiri adalah karena mereka jadi memiliki lebih sedikit waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelas, sehingga acara itu disiapkan sebagai bentuk kompensasi.
Selain itu, karena selama bekerja para panitia jadi saling akrab, ada juga yang mengatakan bahwa acara tersebut ada karena panitia pelaksana dianggap sebagai “kelas kedua”.
“Kalau begitu, pilihannya antara tari atau nyanyi. Kalau nanti diputuskan nyanyi, kita juga akan menentukan siapa yang jadi center. Semua sudah siap?”
Keputusan akan ditentukan lewat voting.
Setelah memastikan persetujuan semua orang, sang ketua mulai mengumpulkan suara. Haruya tentu saja sudah memikirkan dengan matang pilihannya.
Tanpa ragu, ia memilih “live dengan seseorang sebagai pusat”.
Kalau memilih “tari bersama”, berarti dia juga pasti harus ikut menari. Sebaliknya, kalau live dengan seseorang sebagai pusat, dia bisa kebagian tugas belakang layar seperti pemasangan panggung atau pengaturan sound system.
Saat melihat hampir setengah suara terkumpul untuk “tari bersama”, Haruya tak bisa menahan rasa paniknya.
(Eh, ini bahaya, kan? Tolonglah, aku benar-benar nggak mau menari…)
Setelah voting selesai, akhirnya dengan selisih tipis diputuskan “live dengan seseorang sebagai pusat”.
Haruya menghela napas lega—nyawanya terselamatkan.
“Eh, mau nanya dong. Di sini ada yang bisa main alat musik nggak? Soalnya aku bisa,” ucap Kawata Sayuki sambil mengangkat tangan.
Mungkin karena aura intimidatifnya, beberapa siswa terlihat refleks mengangkat bahu kaget.
Selain Sayuki, ada tiga siswa lain yang mengangkat tangan—semuanya perempuan bergaya gyaru. Sepertinya satu golongan dengannya.
Setelah memastikan itu, Sayuki membelalakkan mata lalu berkata pada ketua,
“Kalau gitu, bukannya bakal seru ya kalau kita bikin band?”
“Band, ya… Kalau waktu latihan bisa diamankan, sebenarnya bukan nggak mungkin sih. Kalian nggak keberatan?”
Tak ada seorang pun di sana yang berani membuat Sayuki tidak senang. Sepertinya juga tak ada yang keberatan.
“Oke, berarti band akan kita pertimbangkan secara serius. Sekarang kita mau tentukan vokalnya—”
Sebelum ketua selesai berbicara, hanya satu orang yang dengan penuh semangat mengangkat tangan.
“…Ya! Tolong serahkan itu padaku!”
Yang menyatakan diri dengan lantang di depan semua orang adalah Kohinata Rin.
“Kalau Kohinata-san yang mau, itu benar-benar meyakinkan. Ada yang lain ingin mencalonkan diri?”
“…………”
Sepertinya tidak ada siswa lain yang ingin maju selain Rin.
Terlepas dari bagus atau tidaknya kemampuan bernyanyi, dari segi visual, yang paling cocok jadi center di sini jelas Kohinata. Itu adalah kesan yang dimiliki semua orang di ruangan ini.
Setelah menyadari bahwa tak ada kandidat lain, Rin menghela napas pelan sambil mengepalkan tangannya. Sementara itu, Haruya benar-benar hanya jadi figuran dari awal sampai akhir.
Setelah acara panitia pelaksana diputuskan, semua orang pun masuk ke waktu istirahat. Dan di sinilah masalahnya muncul………
“Ruangan ini panas banget, ya. Di kelas lain ada yang lagi keluar beli-beli, jadi gimana kalau ada yang beliin es krim dan minuman? Aku bayar kok.”
Meski kegiatan dilakukan setelah pulang sekolah, musim panas masih terasa kuat. Kebanyakan siswa mengibas-ngibaskan seragam mereka karena gerah.
Saat rapat, mungkin karena fokus, panas jarang disinggung. Tapi begitu masuk waktu istirahat, keluhan mulai bermunculan. Banyak yang mengangguk setuju dengan usulan Sayuki, dan ketua pun ikut menimpali,
“Kalau gitu, kita pakai sistem antar kelas. Tim yang kalah suit harus beliin es krim dan minuman buat kelas lain.”
Dengan demikian, dimulailah turnamen suit untuk menentukan siapa yang jadi pesuruh beli es krim dan minuman.
***
“Maaf ya… aku benar-benar selalu bikin repot.”
“Ah, nggak apa-apa kok. Aku juga nggak terlalu memikirkannya.”
Sambil berjalan di jalan yang dipenuhi rerumputan hijau khas musim panas, Haruya dan Rin pergi membeli es krim dan minuman.
Rin sebenarnya maju ke suit dengan penuh percaya diri, tapi kalah telak. Rin seorang diri memilih batu, sementara semua yang lain memilih kertas. Dan keputusan itu langsung ditentukan dalam satu ronde—Haruya sampai terkesan dengan peluang sekecil itu. Ngomong-ngomong, Haruya justru merasa senang disuruh keluar belanja. Soalnya, saat mereka kembali nanti, rapat pasti sudah dimulai lagi.
Melihat Rin yang tampak murung, Haruya pun menanyakan sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
“Ngomong-ngomong… kenapa kamu mencalonkan diri jadi center live (band)? Kohinata-san.”
“Karena aku mau, dong? Soalnya kelihatannya keren.”
“Begitu ya.”
“Iya. Aku juga pengin coba jadi idol yang bernyanyi~”
Rin tersenyum sambil bahkan bersenandung kecil. Haruya berharap ini cuma kekhawatiran berlebihan, tapi tetap saja terasa seperti dia sedang memaksakan diri. Membiarkannya begitu saja, atau pura-pura tidak melihat, sebenarnya mudah. Namun kalau dibiarkan, rasanya Rin akan benar-benar terkikis. Karena itu, Haruya memutuskan untuk sedikit melangkah lebih jauh.
“Waktu Himekawa-san dan Takamori-san ditetapkan sebagai Cinderella dan Pangeran, kamu nggak kelihatan senang, Kohinata-san. Ada hubungannya dengan itu?”
“Eh?”
Sepertinya dia sama sekali tak menyangka akan ditanya hal itu.
Sesaat, matanya membelalak dan napasnya tertahan. Namun tak lama kemudian, dia kembali ke dirinya yang ceria seperti biasa.
“…Soalnya sikapmu di kelas dan sikapmu saat jadi panitia terlalu berbeda, jadi kelihatan. Lagipula, aku juga nggak punya siapa pun buat menyebarkan cerita ini, jadi nggak apa-apa kalau kamu cerita.”
“………Haa.”
Setelah beberapa saat terdiam, dia menghela napas lalu membiarkan satu kalimat pendek lolos dari bibirnya.
“Iya. Memang bukan berarti aku ingin melakukan semuanya. Jadi wakil ketua, jadi center, bahkan masuk panitia sekalipun. Tapi soalnya… aku ini kosong.”
Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. Tak ada kesan dibuat-buat atau kelicikan manja yang biasa terlihat padanya. Haruya refleks berhenti melangkah, tubuhnya kaku.
“……………”
“Eh, masa sih. Padahal aku sudah bicara serius, tapi kamu malah diam saja, Akasaki-kun.” kata Rin sambil menyipitkan mata, jelas terkejut.
“Aku nggak mau menghakimi atau memberi pendapat. Aku cuma mau dengar. Tapi kupikir, hanya dengan itu saja, bebanmu bakal sedikit lebih ringan.”
“Begitu ya…”
Rin mengangkat sudut bibirnya sedikit.
“Kayaknya aku jadi agak paham. Dulu sih rasanya misterius, tapi sekarang nggak.”
“Paham soal apa?”
“Alasan kenapa Sarachin dan Yunarin begitu perhatian sama kamu.”
“…Eh?”
“Kamu ini, masih sempat-sempatnya pura-pura bodoh.”
Sambil terkikik kecil, Rin melangkah satu langkah lebih dulu.
“Ayo, cepat beli! Es krim dan minumannya.”
Sambil mendengarkan suaranya, Haruya berpikir,
(Kenapa ketahuan juga sih…? Nggak, aku harus hati-hati biar nggak ketahuan lagi.)
Sambil menggelengkan kepala kecil.
Dengan alasan kalau beli di minimarket biayanya bisa hampir dua kali lipat, mereka pun pergi ke supermarket. Di dalam toko hampir tak terlihat siswa SMA berseragam; sepertinya hanya mereka berdua saja. Sambil membaca kertas catatan yang sudah dibagikan sebelumnya, mereka memasukkan minuman-minuman yang diminta ke dalam keranjang. Isinya kebanyakan pilihan yang terasa “musim panas”, seperti minuman olahraga dan minuman energi—cukup menggemaskan. Ada juga siswa yang meminta kopi hitam, dan itu membuat Haruya merasa sedikit akrab. Ketika keranjang makin berat oleh botol-botol minuman, Rin bertanya,
“Akasaki-kun sukanya minuman apa? Kamu mau minum apa?”
Sambil menatap rak penuh aneka minuman, Haruya menjawab,
“Aku suka kopi hitam. Tapi sekarang lagi nggak pengin, jadi rencananya mau beli teh.”
“Hee, kamu suka kopi hitam? Jangan-jangan sok keren karena lagi sama perempuan?”
Rin menyipitkan mata dengan ekspresi menggoda.
“Bukan gitu. Memang sih, minum kopi hitam kelihatannya lebih dewasa, tapi… aku sukanya kopi hitam panas.”
“Oh begitu. Yang serius, minum di kafe gitu?”
“Ya… sesekali.”
Sambil memalingkan wajah, Haruya memilih kata-katanya dengan hati-hati. Semua itu demi menghindari ketahuan sebagai “Onii-san langganan kafe”.
“Fufu…”
Rin mengembuskan napas kecil, seolah ingin berkata aneh juga ya.
Saat Haruya melirik ke arahnya, Rin melanjutkan,
“Ah, maaf ya. Ini cuma ceritaku saja. Aku punya kenalan, usianya kira-kira sama kayak Akasaki-kun… dia orangnya selalu menikmati kopi. Tapi akhir-akhir ini aku nggak ketemu dia, jadi aku kepikiran, apa dia lagi kesepian ya.”
“Ngomong-ngomong… kenapa kalian nggak ketemu?”
Mungkin tak menyangka Haruya akan tertarik, Rin sempat bersuara kecil, “Eh?” Namun kemudian dia melanjutkan seolah tak terjadi apa-apa,
“Karena Festival Eiga. Demi tampil serius di festival itu, dia memutus semua jalan mundur…”
Sambil berkata begitu, Rin mengambil sebotol minuman dan mendekat ke arahnya.
“…Aku pilih air putih. Rasanya paling cocok sama diriku sekarang.”
Mungkin baginya, air tanpa warna itu melambangkan kekosongan. Setelah memasukkan minuman pilihannya ke keranjang, mereka menuju bagian es krim.
“…Ah, aku nggak perlu es krim,”
“Oh ya? Aku juga sebenarnya nggak terlalu pengin es.”
Mereka sepakat: minuman iya, es krim tidak terlalu.
Sambil tetap memasukkan es krim pesanan orang lain ke dalam keranjang…
“Tapi, karena sudah terlanjur ke sini, gimana kalau kita bagi ini saja?”
“Ah, pilihanmu bagus, Akasaki-kun.”
Yang Haruya pilih adalah Papico.
“Kopi atau White. Bebas sih, tapi Kohinata-san sukanya yang mana?”
“Kalau aku sih lebih suka yang White, jadi itu aja.”
Begitulah pilihan es krim mereka ditentukan.
Setelah membayar di kasir, hanya Papico yang mereka keluarkan dari kantong dan dibawa ke luar. Haruya mematahkannya menjadi dua dan menyerahkan satu pada Rin.
“Nih.”
“Makasih.”
Langit di luar sudah mulai gelap, tapi berjalan pulang ke sekolah sambil makan es krim seperti ini ternyata tidak buruk. Rasanya seperti sedang melakukan sesuatu yang sedikit terlarang, dan itu malah memberi perasaan unggul kecil.
Sambil menyedot Papico, Rin tiba-tiba berkata,
“Berbagi Papico di musim panas gini tuh rasanya kayak lagi masa muda, ya.”
“Bukan cuma kayak—ini memang masa muda, kan. Kita panitia soalnya.”
“Ya, sih. Tapi yang kayak gini tuh aku sedikit mengidamkannya.”
Dari caranya berjalan sambil bersenandung, jelas suasana hatinya sedang bagus. Sepertinya usulan Papico dari Haruya benar-benar membuatnya senang.
Di tengah hembusan angin musim panas yang hangat, dinginnya Papico terasa meresap ke tubuh. Dalam keheningan, hanya terdengar suara langkah kaki dan bunyi es krim yang disedot.
Saat Haruya merasa heran pada dirinya sendiri karena menganggap momen ini tidak buruk, tiba-tiba dua bayangan berhenti tepat di depan mereka. Mungkin juga siswa SMA, tapi karena desain seragamnya berbeda, sepertinya dari sekolah lain. Sepasang siswi itu mendekat, seolah berkata, “Wah, lihat yang menarik.”
…Perasaan tidak enak langsung muncul. Rin tiba-tiba berhenti, tubuhnya kaku, seolah ketakutan.
“Kohinata-chan, lama nggak ketemu~”
“Oh, nemu anak yang nggak disangka-sangka nih.”
Dari mereka tidak terasa adanya permusuhan. Namun sambil tetap waspada, Haruya refleks berdiri di depan Rin.
“Sepertinya dia merasa tidak nyaman, jadi bisa tolong berhenti sampai di sini saja?”
“Eh~, memangnya kenapa harus nggak nyaman? Kami cuma nyapa kok. Sesama alumni SMP, gitu lho.”
Rin memeluk tubuhnya sendiri, dan wajahnya semakin lama semakin pucat. Jelas ada yang tidak beres dengan keadaannya.
“Eh tapi, Kohinata-chan ternyata masuk Eiga ya. Yah, kamu memang pintar sih. Terus sekarang lagi mati-matian berusaha tampil kece, cari pacar, habis pulang sekolah kencan Papico, ya? Cocok banget lho—imut, tapi kesannya suram. Iya kan, Kohinata-chan?”
“Dia bukan pacarku. Dan bisa tolong kalian pulang sekarang?”
Ucapan barusan itu jelas sarat dengan niat buruk, sehingga Haruya tanpa sadar mengeluarkan suara yang sedikit lebih keras dan berat.
“Padahal cuma nyapa doang.”
“Iya, bener tuh~”
Sambil berkata begitu, dua siswi itu akhirnya pergi.
(Sebenarnya apa sih maksud mereka…? Kohinata-san itu suram? Apa mereka satu SMP dulu?)
Banyak hal yang mengganjal, tapi Haruya dengan lembut mengusap punggung Rin yang terlihat kalut.
“Mereka sudah pergi. Nggak apa-apa.”
“…Maaf. Makasih, Akasaki-kun. Hari ini saja kok aku jadi seperti ini. Jadi hari ini aku pulang dulu, ya. Mulai besok aku bakal berubah dengan benar… aku bakal benar-benar berubah.”
Ia berdiri, meninggalkan kata-kata itu, lalu segera pergi dari tempat tersebut. Punggung dan nada suaranya seolah berteriak, “Jangan ikut!”, sehingga Haruya tak bisa berbuat apa-apa selain mengantarnya dengan pandangan.
Papico miliknya yang jatuh ke tanah sudah sepenuhnya mencair.
Lalu, dengan berpikir bahwa pada anggota panitia lainnya ia bisa saja mengatakan Rin pulang lebih dulu dengan alasan apa pun, dan bahwa dirinya harus melakukan apa yang bisa ia lakukan sendiri, Haruya menenangkan hatinya dan kembali ke tempat panitia.
***
Aku harus berubah. Aku harus menjadi istimewa.
Padahal ia sudah berpikir begitu, namun setelah melihat dua gadis tadi, ia menyadari bahwa dirinya sama sekali belum berubah.
Aku harus menaikkan gigi lebih jauh lagi…
Aku harus berusaha lebih keras lagi…
───Agar aku tetap menjadi diriku sendiri.
Kohinata Rin pun menguatkan tekadnya dalam diam.
***
Tanpa terasa, persiapan Festival Eiga sudah memasuki tahap akhir. Hari-hari yang sibuk terus berlanjut, tapi mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan panitia, Haruya merasa hari-hari yang terasa berat pun berkurang.
Seolah-olah kejadian hari itu tak pernah ada, Rin sejak keesokan harinya terlihat jauh lebih ceria, dan di panitia pun ia mulai berbicara dengan tegas serta bekerja lebih giat. Acara panitia akhirnya diputuskan berupa band, dan Rin pun berlatih untuk itu.
Awalnya Kawata Sayuki sempat mengeluh, tapi sekarang mereka sudah benar-benar akrab dan katanya cukup dekat. Sementara itu, Haruya sibuk dengan pembuatan pamflet dan urusan dokumen, sehingga ia sama sekali tidak tahu seperti apa latihan yang dijalani Rin.
Dalam drama kelas, Haruya tetap berada di balik layar dan tidak terpilih menjadi pemeran.
Sara terlihat kecewa, tapi yah… karena aku panitia, kan… panitia.
Alasan yang sangat praktis. Harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Latihan drama sendiri terbilang cukup membosankan, sehingga motivasi seluruh kelas sempat menurun dari hari ke hari. Namun ketika kaus kelas selesai dibuat dan dibagikan, semangat kelas kembali meningkat secara kompak. Dan ketika kostum drama selesai… Itulah mungkin momen ketika motivasi mencapai puncaknya.
Sara mengikat rambutnya dengan gaya ponytail, sementara Yuna mengikat rambutnya menjadi sanggul lalu menutupinya dengan topi. Dan kostum yang mereka kenakan—Gaun putih murni dan seragam militer hitam. Benar-benar seperti putri dan pangeran, hingga kelas pun langsung riuh.
『Aku serasa terlahir demi hari ini───』
『Dengan kostum sekeren ini, kita juga harus tampil sebaik mungkin biar nggak malu──』
Mungkin karena perasaan itulah motivasi terhadap drama kelas melonjak ke titik tertinggi. Kini kesalahan demi kesalahan semakin jarang terjadi, dan akting para pemeran pun semakin terasah.
───Dan begitulah, Festival Eiga tinggal beberapa hari lagi. Di tengah hari-hari sibuk yang terus berlalu, acara itu sudah semakin dekat.
Sambil berendam di bak mandi, Haruya merenungkan semua itu. Rasanya aneh—sekaligus terasa lama, tapi juga singkat—hingga dadanya terasa penuh. Semoga semuanya bisa berjalan lancar tanpa masalah apa pun, pikirnya sambil mengulurkan tangan ke arah langit-langit.
…Seharusnya begitu. Namun keesokan harinya sepulang sekolah, saat panitia sedang melakukan pengecekan terakhir, Kawata Sayuki tiba-tiba menepuk pundaknya pelan.
“Eh, Akasaki-kun. Aku mau minta pendapat… atau lebih tepatnya, ada sesuatu yang mau kuminta. Boleh?”
Ini benar-benar tidak biasa. Ini adalah pertama kalinya dia mengajak Haruya bicara.
Masih tertegun, Haruya diam-diam meminta penjelasan dengan tatapan, dan ternyata yang ingin dibicarakan itu adalah tentang Rin.
“Rin-chan itu, gimana ya… rasanya dia terlalu memaksakan diri. Kayak berusaha terlalu keras. Makanya aku ingin Akasaki-kun yang satu kelas sama dia bisa benar-benar ngejagain, atau ya… kurang lebih begitu lah.”
Kalau dipikir-pikir, memang sejak hari itu semuanya terasa seperti itu. Sejak hari ketika dua siswi—yang sepertinya satu SMP dengan Rin—menekan dirinya…
Sejak saat itu, Rin jadi jauh lebih ceria, dan seolah mengganti cara berpikirnya, dia pun bersikap jauh lebih aktif di kepanitiaan. Itu sendiri sebenarnya hal yang baik, tapi entah kenapa terasa seperti dia sedang memaksakan diri.
Kekhawatiran Kawata Sayuki jelas masuk akal.
“…Aku mengerti. Akan sangat membantu kalau Kawata-san juga terus ngomong ke dia.”
“Aku sudah. Tapi dia selalu bilang ‘nggak apa-apa kok’, terus aja begitu. Jadi ya, sekadar jaga-jaga.”
“….”
Penampilannya memang menyeramkan, tapi isinya justru lembut—Haruya jadi merasa agak geli. Tanpa sadar ia tersenyum kecut, dan Saki langsung menimpali dengan nada datar.
“Akasaki-kun, ketawa itu nggak sopan.”
“Maaf, maaf. Tapi soal Kohinata-san, aku paham.”
Sejak latihan band dimulai, Sayuki selalu berada di sisi Rin. Kalau begitu, kekhawatirannya pasti bukan tanpa alasan.
Sebelum hari H, aku harus bikin ganjalan di hati Rin hilang… pikir Haruya.
Soalnya, dia tipe yang bisa memikul semuanya sendirian. Apalagi setelah tahu kalau bahkan di kafe pun dia tak pernah menunjukkan jati dirinya yang asli……
Setelah pengecekan terakhir selesai, seluruh sekolah pun dihiasi dekorasi yang meriah. Suasana festival budaya benar-benar terasa. Dalam situasi ketika mereka berdua saja di depan loker sepatu, Haruya pun menyapa Rin.
“…Kohinata-san. Umm… aku mau minta tolong sedikit.”
“Hm? Apa, Akasaki-kun?”
“Mau ke karaoke nggak? Aku ingin denger nyanyianmu dulu sebelumnya.”
“Hahaha. Itu alasan doang kan, buat ngajak aku kencan~?”
Seperti biasa, Rin menggoda sambil tertawa cekikikan. Namun Haruya tetap memasang wajah serius sepanjang waktu.
Ia sudah membulatkan tekad. Dan sepertinya itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
Menyadari keseriusannya, Rin pun menghela napas pelan.
“Ya ampun, kamu tuh gampang khawatir. Oke deh, aku bakal buktiin kalau nyanyianku aman kok♪”
“…Terima kasih.”
Fakta bahwa dia mau ikut saja sudah cukup melegakan.
“Lagipula, akhir-akhir ini kita juga jarang ngobrol berdua, kan.”
“Iya.”
Dan begitulah, Rin dan Haruya pun pergi ke karaoke bersama.
Selama perjalanan, mereka berdua sama-sama diam.
Biasanya Rin akan dengan ceria mengangkat topik, tapi melihat keseriusan Haruya, sepertinya dia memilih menahan diri.
Sesampainya di karaoke box, mereka memesan minuman seadanya lalu masuk ke ruangan. Duduk di sofa, Rin meneguk melon soda sekali lalu membuka percakapan.
“──Persiapan Festival Eiga capek juga ya. Makin hari makin sibuk, rasanya lama tapi juga cepat. Aneh.”
“Iya. Aku juga ngerasa gitu.”
“Terus~? Kamu tiba-tiba bilang serius banget kalau nyanyianku bikin kamu khawatir… itu gara-gara Sayucchi?”
…Sayucchi. Panggilan untuk Kawata Sayuki, ya.
Melihat betapa dekatnya hubungan mereka sejak latihan band dimulai, Haruya tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
(…Eh, Sayucchi? Padahal sebelum latihan band, Kohinata-san kelihatan takut banget sama dia yang kesannya gyaru…)
“Jadi benar, ya. Kamu denger dari Sayucchi.”
Mungkin ekspresinya terbaca jelas, karena Rin menghela napas seolah sudah tahu.
“Bukan… aku sendiri yang kepikiran aja…”
Sambil mengalihkan pandangan, Haruya mengambil remote. Meski hanya dari sudut mata, ia bisa merasakan tatapan Rin menusuknya.
Entah kenapa, rasanya tatapan itu seperti berkata, “Kamu nyanyi, kan?”
“Aku nggak sabar denger Akasaki-kun nyanyi.”
“…Kamu nggak lupa tujuan aku ngajak kamu ke sini, kan?”
“Ah~ iya. Aku tinggal nyanyi aja, kan?”
“…Ya, kalau kamu paham.”
Sebenarnya, itu cuma dalih untuk mencairkan suasana. Agar hatinya—topeng besinya—sedikit lebih mudah terkelupas……
Masalahnya, lagu yang bisa ia nyanyikan sangatlah sedikit.
(Aku payah soal nyanyi…)
Karena sama sekali tak berniat menyanyi, Haruya pun panik di saat genting. Akhirnya, sambil berpura-pura tenang dan dengan terpaksa, lagu yang ia pilih adalah……
『~~~~♪』
Begitu melodi mulai mengalun, wajah Rin langsung berkerut. Tanpa menghiraukan ekspresi itu, Haruya mulai bernyanyi dengan wajah yang justru terasa terlalu segar. Setelah selesai dan duduk kembali, Rin langsung buka suara.
“Akasaki-kun. Karena kamu jelek nyanyi terus lari ke lagu bercanda, itu sama sekali nggak lucu.”
Nada suaranya sangat rendah.
Seram banget……Apa wajah asli Rin sedingin ini?
Sampai rasanya begitu, Haruya berkeringat dingin deras.
“…Maaf.”
Ia menciut sambil mengepalkan tangan di atas lutut, lalu Rin menghela napas ringan.
“Ya ampun. Mau jelek juga nggak apa-apa kok, nyanyi sepenuh hati aja aku senang. Jujur aja, aku nggak peduli soal bagus atau nggaknya. Oke, sekarang giliranku~”
Entah ke mana perginya suara dingin tadi, Rin tertawa ceria sambil mengambil remote.
“Kalau gitu, aku buktiin aja ya kalau aku jago nyanyi.”
Ia berdiri, membawa mikrofon ke mulutnya.
Seiring melodi, Rin mulai bernyanyi.
(…Gawat. Jago banget sampai nyanyianku kelihatan makin payah…)
Tak ada celah untuk mengkritik nyanyiannya. Buktinya, skor yang muncul mencapai 95 poin. Melihat Rin yang memberi tanda V dengan penuh kemenangan, satu-satunya hal yang bisa Haruya katakan adalah—
“Hebat. Aku kaget.”
“Hehe, makasih. Satu lagu aja udah cukup buat buktiin kan?”
“Iya. Soalnya Kohinata-san juga habis-habisan ngurus dekorasi sekolah, jadi aku nggak nyangka sampai sejauh ini.”
Memang bukan cuma latihan band saja, Rin juga mencurahkan banyak tenaga untuk dekorasi sekolah.
Jumlah pekerjaannya pasti tidak sedikit.
“Hahaha. Kita sama-sama sibuk sama urusan panitia, jadi jadi nggak terlalu tahu kondisi masing-masing. Tapi kelihatannya Akasaki-kun lancar-lancar aja.”
“Ya, aku mulai terbiasa sama pekerjaannya. Justru Kohinata-san, dibanding waktu pertama masuk panitia, sekarang rasanya jauh lebih ceria.”
“Hahaha. Iya~. Makanya aku bilang kan? Hari itu aku bakal berubah.”
“Hari itu” yang dimaksud pasti saat dia bertemu dengan dua siswi tersebut.
Sebelumnya, keberadaan Rin di antara panitia terasa samar, tapi sejak keesokan harinya, eksistensinya jadi menonjol. Tentu saja, di kelas pun Rin tetap sama—selalu ceria. Namun justru karena itu, Haruya merasa khawatir dengan perubahan tersebut. Karena dia tahu, bahkan Kohinata-san di kafe pun hanyalah peran yang dia mainkan.
“Mungkin ini cuma ikut campur, tapi… kita sama-sama panitia. Kalau kamu lagi maksa diri, bilang aja.”
“Hahaha. Akasaki-kun aneh ya~. Awalnya kelihatan nggak suka, tapi sekarang malah jadi baik banget. Jangan-jangan kamu jadi suka sama aku?”
Sejak tahu bahwa gadis di kafe itu adalah Kohinata Rin, cara Haruya memperlakukannya memang berubah.
Haruya menggeleng pelan.
“Bukan. Aku cuma ngerasa kamu lagi memaksakan diri…”
Mendengar itu, alis Rin sempat berkedut sedikit. Lalu, seolah tak terjadi apa-apa, dia pun berbicara.
“…Aku nggak maksa diri kok. Cuma sedikit berusaha terlihat lebih dewasa aja.”
Padahal justru “berusaha terlalu tinggi” itulah yang termasuk memaksakan diri, dan itulah yang membuat Haruya khawatir……
Melihat ekspresi Haruya, Rin menghela napas panjang.
“‘Berusaha terlihat lebih baik’… ya, aku akui itu. Dan karena itulah Akasaki-kun manggil aku ke sini, kan?”
“Eh……”
“Hahaha. Kamu kira aku nggak sadar? Aku nggak mikir kamu ngajak aku ke sini cuma gara-gara khawatir sama nyanyianku, tahu~”
“…………”
Kalau begitu, kenapa dia tetap datang?
Seakan mengerti kebingungan Haruya, Rin melanjutkan.
“Waktu LHR pun, kadang-kadang kamu ngeliatin aku dengan wajah khawatir. Segitu masih kelihatan kok.”
“O-oh, begitu.”
“Iya. Tatapan dan rasa khawatir itu lama-lama bikin capek. Makanya aku nurutin panggilanmu~”
Wajahnya tetap wajah Kohinata Rin yang ceria. Namun tiap kata menusuk langsung ke dada.
“…Akasaki-kun.”
Dengan wajah yang kini tertutup bayangan, Rin melanjutkan. Udara di ruangan berubah, membuat Haruya tanpa sadar menahan napas.
“Aku baik-baik aja kok. Pekerjaan panitia juga sebentar lagi selesai. Jadi… tolong jangan khawatir lagi.”
“………………”
『Rin-chan kayaknya lagi maksa diri…』
Kata-kata Kawata Sayuki tiba-tiba terlintas di benaknya.
Bagaimanapun juga, Haruya merasa Rin sedang memaksakan diri. Ia bahkan tak mampu mengucapkan “aku mengerti”, apalagi sekadar mengangguk.
Melihat sikap Haruya, Rin mengacak rambutnya dengan kasar sambil berseru, “Ahh~!”
“────Aku bilang aku baik-baik aja! Ini udah keberapa kalinya sih! Kamu tahu nggak rasanya tiap kali ditatap dengan mata sedih begitu? Denger ya, Festival Eiga udah dekat! Tinggal selesaikan sampai selesai! Akasaki-kun, jangan mikir aneh-aneh… bikin aku kesal.”
Sambil menunjuk Haruya dengan tegas, Rin menegaskan ucapannya.
“Dasar…” gumamnya sambil duduk dan memalingkan wajah.
Awalnya Haruya benar-benar bingung dengan perubahan sikap Rin yang mendadak, tapi tak lama kemudian ia justru tertawa kecil.
“…Apa yang lucu? Bukannya ini yang kamu mau?”
“Bukan, aku cuma ngerasa akhirnya bisa lihat sisi asli Kohinata-san.”
“Karena kamu kelewat keras kepala… aku jadi capek sendiri.”
Nada bicara manisnya menghilang, digantikan oleh suara yang agak ketus. Namun tak lama kemudian, dia kembali menjadi Kohinata Rin yang ceria seperti biasa.
“──Daripada yang mulutnya kasar begitu, yang ini lebih baik kan?”
“Benarkah? Aku malah… senang bisa tahu sisi aslimu. Aku jadi lega.”
Di kafe pun, Haruya tak pernah sekalipun melihat Rin berbicara dengan nada seperti ini. Itulah sebabnya dia merasa lega karena setidaknya Rin bisa sedikit meluapkan perasaannya sekarang.
Selama ini dia selalu merasa berutang, sudah sering ditolong di kafe tapi tak pernah bisa membalas apa pun. Mungkin perasaan itu terlihat di wajahnya, karena Rin berkata dengan nada tak senang.
“…Nggak suka.”
Setelah bergumam begitu, Rin melanjutkan.
“Siapa pun pasti hidup sambil berpura-pura dan menghias diri. Kamu pikir diri yang asli bisa diterima? Itu mustahil. Komunitas dan masyarakat terbentuk dari tumpukan kebohongan.”
“──Itu nggak…”
“Kamu juga nggak bisa bilang ‘nggak’, kan? Akasaki-kun juga pasti nggak bisa nunjukin dirimu yang asli. Kalau nggak, memangnya kamu bisa? Memperlihatkan isi hatimu apa adanya?”
Haruya langsung terdiam. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan, tak bisa keluar. Karena itu memang benar.
Haruya juga menyimpan rahasia yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun, jadi dia tak punya dasar untuk membantah.
“──Ya sudah, obrolan gelapnya sampai sini aja. Sisa waktunya kita nyanyi rame-rame, ya.”
Mengambil mikrofon, Rin kembali menjadi dirinya yang biasa.
Sambil menatap monitor, dia pun mulai bernyanyi. Suara indah dan jernih milik Rin kini sama sekali tidak lagi sampai ke telinga Haruya.
…Kalau Festival Eiga berakhir tanpa terjadi apa pun, mungkin semuanya akan terselesaikan dengan damai. Namun, benarkah bisa benar-benar “tanpa kejadian apa pun”…?
Yang terlintas di benak Haruya adalah dua siswi itu. Dua siswi bergaya gyaru yang sempat mengganggu Rin. Ditambah lagi, belum lama ini Yuna juga sempat terlibat masalah dengan murid dari sekolah lain, membuat firasat buruk Haruya tak mau pergi. Karena itulah, dia terus memikirkan Rin, yang terlihat seperti sedang memaksakan diri.
Sambil memandang Rin yang bernyanyi dengan ceria sambil memegang mikrofon, Haruya berpikir.
…Apa benar semuanya baik-baik saja kalau dibiarkan seperti ini?
Hanya melihat sekilas isi hati Kohinata-san, tanpa benar-benar bisa menarik keluar perasaan sebenarnya……
***
Keesokan harinya. Setelah menyelesaikan tugas panitia, Haruya mendatangi ruang guru. AC-nya bekerja sangat baik, membuat ruangan terasa sejuk dan nyaman.
Di luar sudah gelap, dan para siswa yang mengikuti kegiatan klub pasti sudah dalam perjalanan pulang. Persiapan Festival Eiga sudah memasuki tahap akhir, sehingga masih terdengar sedikit suara langkah kaki dan obrolan siswa yang tinggal hingga selepas sekolah.
Haruya sempat berpikir mungkin gurunya sudah tidak ada, tetapi saat ia menuju ke meja… guru yang ia cari ternyata masih di sana.
“…Ada apa, Akasaki?”
Sambil menyilangkan kaki, wali kelasnya menatapnya dengan ekspresi heran.
“Ada sedikit hal yang ingin aku konsultasikan…”
“Oh begitu. Akasaki… apa kamu akhirnya memutuskan masuk klub atletik?”
Sepertinya Meika masih belum menyerah ingin memasukkan Haruya ke klub atletik, sampai-sampai ia menepukkan kedua tangannya dengan penuh harap.
“Bukan soal itu.”
Dengan nada jengah Haruya menjawab, dan dibalas dengan gumaman, “Ah, membosankan.” Tolong jangan asal bicara… sungguh.
“Kalau begitu, soal apa? Dari kelihatannya, tentang panitia?”
“Iya. Aku ingin konsultasi soal panitia.”
“Bukankah sudah agak terlambat? Festival Eiga tinggal beberapa hari lagi, kan?”
Wali kelas mengernyitkan dahi dan memiringkan kepalanya.
“Bukan soal isi pekerjaan… tapi soal Kohinata-san.”
“Oh? Soal Kohinata, kamu mau tanya ke aku?”
“Iya.”
Haruya ingin tahu seperti apa Kohinata Rin sebagai seorang murid. Ia ingin mendengarnya langsung dari wali kelas. Setelah kejadian masalah basket Yuna, Haruya merasa penilaian wali kelas terhadap murid bisa dipercaya.
Sebenarnya ia bisa saja bertanya pada Sara atau Yuna, tapi mereka sedang sibuk dengan drama kelas. Apalagi mereka berdua adalah pemeran utama. Ia juga ingin menghindari disangka membahas soal cinta. Dengan alasan yang sama, ia sengaja tidak bertanya pada Kazamiya yang duduk di belakangnya.
(Kalau aku tanya “Kohinata-san itu murid seperti apa?”, pasti langsung dikira aku naksir.)
Karena itulah, ia memutuskan bertanya pada wali kelas.
“Aku ingin tahu pandangan sensei tentang Kohinata-san sebagai murid.”
“Itu… kenapa?”
“Rasanya dia seperti sedang memaksakan diri.”
“Kamu sudah coba tanya langsung ke orangnya?”
“Sudah. Tapi dia cuma bilang tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin memang baik-baik saja, tapi entah kenapa… aku merasa tidak tenang.”
“Yah, Kohinata itu anak yang kuat.”
Dari percakapan tadi, wali kelas sepertinya sudah menangkap apa yang ingin Haruya ketahui. Ia melepas kaki yang disilangkan dan menatap Haruya dengan senyum agak canggung.
“Justru karena itu. Kalau kamu ingin benar-benar mendekatinya, kalau kamu ingin benar-benar mengenalnya dari hati… maka bukan kata-kata hiasan yang kamu perlukan, tapi menyampaikan perasaanmu yang sebenarnya.”
“…Perasaan yang sebenarnya.”
Haruya bergumam pelan di tempat. Wali kelas mengangguk dalam, lalu menambahkan.
“Iya. Mungkin kewaspadaannya memang setinggi itu. Kalau kamu tidak menyampaikan perasaanmu dengan tulus, Kohinata tidak akan pernah menunjukkan jati dirinya. Cangkang hatinya itu sangat tebal.”
Berarti, bahkan sisi dirinya yang sedikit marah di karaoke pun belum tentu jati dirinya yang sesungguhnya.
Sambil mendengarkan penjelasan wali kelas, Haruya tenggelam dalam berbagai pikiran. Melihat hal itu, wali kelas menghela napas ringan.
“Yah, aku tidak berniat mengatakan lebih dari ini… tapi semangatlah, Akasaki.”
Seolah mengatakan pembicaraan sudah selesai, wali kelas kembali menghadap ke depan.
“Terima kasih.”
“Kalau mau berterima kasih, masuk klub atletik—”
“Ditolak.”
“…Dasar dingin.”
Sampai kapan pun, wali kelas tetap tidak berubah.
Sambil merapikan pikirannya dan berjalan menuju pintu masuk sekolah, Haruya tiba-tiba berpikir.
(…Sebenarnya, Kohinata-san yang asli itu ada di mana? Bahkan di kafe pun aku tak bisa menarik keluar sisi aslinya. Apa aku benar-benar bisa melakukannya…?)
***
Sejak aku menjadi siswi SMA.
Sejak masuk SMA, aku, Kohinata Rin, hidup dengan menghias diri agar tidak diremehkan. Saat SD dan SMP, rasanya aku hidup sebagai diriku yang apa adanya. Mengganti kacamata dengan lensa kontak, memakai lipstik, belajar berdandan, merawat rambut. Setelah mengenal dunia fashion yang sebelumnya asing bagiku, aku masuk ke SMA Eiga.
Saat menjadi siswi SMA… aku sudah memutuskan bagaimana caraku bersikap di kelas.
Nomor satu.
Aku harus menjadi nomor satu.
Aku harus menjadi wajah kelas itu.
Jika semua teman sekelas mendukungku, tak seorang pun akan meremehkanku. Karena tak ingin diremehkan, tak ingin dibully, aku mati-matian berusaha.
Saat perkenalan diri di depan kelas pun, meski bukan gayaku, aku memaksakan diri berbicara dengan suara ceria.
…Tidak apa-apa. Cara membuat ekspresi agar tidak diremehkan, cara berbicara—aku sudah lama melatihnya. Usaha itu membuahkan hasil.
Aku pikir aku sudah dikenal sebagai sosok ceria yang memimpin kelas.
Begitu sekali saja teman sekelas menganggapku seperti itu, aku menang. Karena citra yang sudah melekat, tidak mudah untuk diubah.
Aku pernah belajar entah di mana, bahwa kesan pertama itu sangatlah penting.
Dengan memanfaatkan momentum dari perkenalan diri, aku juga aktif mendekati orang lain untuk berteman. Kalau bersama orang-orang ini, aku pasti bisa tetap berada di kelas atas. Dengan pemikiran yang tidak sepenuhnya murni seperti itu, aku pun mendapatkan dua orang teman. Namun, yang satu berkembang lewat cinta. Yang satu lagi berkembang lewat olahraga. Sementara itu, tempatku kini perlahan-lahan menghilang. Namaku sudah tidak lagi muncul dalam topik pembicaraan di kelas.
Kalau dipikir-pikir, itu memang tak bisa disangkal. Keseimbangan kekuatan antara aku dan dua orang itu mulai runtuh.
Benar. Sejak masuk SMA, aku sudah memilih jalanku sendiri—jalan untuk “menghias diri”. Karena itu, meski harus memaksakan diri, aku tidak punya pilihan selain terus berusaha. Mencalonkan diri sebagai panitia, menjadi wakil ketua, berdiri di tengah sebagai pusat band—semuanya, tanpa terkecuali, demi menjaga keseimbangan itu. Semua itu kulakukan agar aku tetap menjadi diriku sendiri.
Karena itu, tidak ada yang namanya “diri yang asli”. Tidak perlu yang namanya “perasaan yang sebenarnya”.
───Karena aku adalah Kohinata Rin.
Yang tersisa sekarang hanyalah membuktikannya di Festival Eiga.
Di sanalah aku akan menunjukkan pada semua orang bahwa aku setara dengan mereka berdua.








Post a Comment