NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 5

Chapter 5

Hasil yang Diraih……?


"……rs…… Mars……"

Terdengar suara sayup-sayup yang memanggil namaku dengan penuh keputusasaan.

Aku mencoba menjawab suara itu, tetapi tubuhku terasa seberat timah dan sama sekali tidak bisa digerakkan. Meski aku mencoba memaksakan tenggorokan, tidak ada suara yang keluar.

Setiap kali aku berusaha membangkitkan kesadaran untuk bangun, perasaan seperti jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar menyelimuti sekujur tubuhku. Rasanya seolah-olah aku terseret ke dalam ilusi jurang maut yang tak berujung.

Namun, suara itu terus memanggil, berusaha keras untuk menahanku agar tidak jatuh lebih dalam.

"Mars…… kumohon…… jangan pergi……"

Suara gemetar itu bergema di tengah kegelapan. Suara yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan, membawa perasaan tulus yang menyesakkan dada.

Bukan hanya suaranya yang bergetar. Sepertinya tubuh pemilik suara itu pun gemetar hebat. Getaran itu merambat hingga ke tubuhku yang kaku.

Aku tahu siapa pemilik suara ini.

Aku tahu aroma ini.

Aku tahu kehangatan ini.

Dan―aku mengenal orang ini lebih dari siapa pun!

"Clarice!"

Begitu aku meneriakkan nama itu di tengah kegelapan, pandanganku seketika kembali terang. Cahaya yang menyilaukan mata menyebar luas, dan garis dunia menjadi semakin jelas.

Di hadapanku, Clarice sedang mendekapku erat dengan kedua lengannya sambil meneteskan air mata.

"……Syukurlah…… akhirnya, kamu bangun juga……"

Suaranya gemetar, bercampur antara rasa lega dan kepedihan. Rambut peraknya yang indah basah oleh air mata, dan butiran yang mengalir di pipinya tampak berkilau.

Lalu, bibirnya yang gemetar menyentuh bibirku dengan lembut. Dalam sekejap, perasaan Clarice yang mendalam tersampaikan kepadaku.

"Clarice…… maaf sudah membuatmu khawatir…… dan, terima kasih."

Mendengar ucapanku, Clarice membalas dengan senyuman dan mendekapku semakin erat. Pada saat itu, rasanya dunia telah kembali menemukan warnanya.

"Duh, padahal kami datang karena khawatir, tapi……"

"Benar juga, seharusnya kamu beri tahu kami kalau sudah bangun sebelum bermesraan di atas tempat tidur."

Karen dan Misha menunjukkan ekspresi jengah sambil menggoda Clarice yang wajahnya memerah hingga ke telinga.

Aku butuh waktu sejenak untuk memahami situasi, tetapi sepertinya aku telah kehilangan kesadaran selama sehari penuh.

Penyebabnya sudah pasti kelelahan mental. Walaupun dia vampir, dia tetaplah ras Magic Person―seorang manusia.

Seberapa pun kerasnya aku melatih tubuh, mentalku masihlah seorang pemula. Aku pikir aku harus mulai membiasakan diri, meski sulit untuk benar-benar ingin terbiasa dengan hal seperti itu.

"Tapi syukurlah kamu akhirnya sadar."

Karen tersenyum lega, tetapi di baliknya tersirat betapa khawatirnya dia.

Katanya, Karen sempat mencoba melakukan Appraisal dengan mata sihirnya untuk memastikan keadaanku. Dia pikir dia bisa melakukan Appraisal saat aku tertidur, namun ternyata tetap mustahil.

Sambil menegakkan tubuh di tempat tidur, aku bertanya tentang apa yang terjadi setelah aku mengalahkan Upier. Ngomong-ngomong, di sampingku ada Eris yang sedang tertidur lelap dengan napas yang tenang.

Sama seperti Clarice, sepertinya Eris tidak bisa tidur sedikit pun sampai aku terbangun. Begitu tahu aku sudah sadar, dia langsung menyelinap ke sampingku dan tidur dengan sangat lelap seolah ingin membayar waktu tidurnya yang hilang.

Sambil mengelus rambut Eris, aku mendengarkan laporan dari Sasha-sensei.

"Setelah Mars mengalahkan Upier, serangan monster benar-benar berhenti total. Namun, alasan mengapa dia melakukan hal ini masih tetap menjadi misteri. Kami belum menceritakan hal ini kepada siapa pun, dan aku sudah memberlakukan perintah bungkam kepada semuanya. Jika sampai kabar ini tersebar, ada kemungkinan ras Magic Person akan datang untuk menuntut balas."

Sesuai dugaan, Sasha-sensei memang sangat bisa diandalkan.

"Aku berencana melapor kepada Baron Isaac dan ksatria bahwa serangan tiba-tiba berhenti begitu saja. Apa tidak apa-apa, Mars?"

Aku mengangguk tanpa suara menanggapi pertanyaan Sasha-sensei. Daripada berbohong dengan cara yang rumit, berpura-pura tidak tahu adalah pilihan terbaik agar tidak meninggalkan celah.

"Lalu satu hal lagi. Baron Isaac mengkhawatirkan keadaan di sini dan sepertinya beliau akan tiba lebih awal dari jadwal. Diperkirakan beliau akan sampai malam ini. Sebagai pemimpin, apa kamu sudah siap untuk bertemu? Jika tidak memungkinkan, kami bisa bilang kamu masih tidur dan biar kami yang menangani……?"

Kata-kata Sasha-sensei penuh dengan perhatian. Namun, justru inilah saatnya aku harus berusaha keras. Ke depannya saat menjadi Clan Master, hal-hal seperti ini kemungkinan besar akan sering terjadi. Aku harus menghadapinya sendiri dengan benar.

"Tidak, saya tidak apa-apa. Saya juga ingin bertemu dengan Baron Isaac. Jadi, tolong atur ke arah sana."

Setelah menjawab Sasha-sensei, aku mengalihkan pandangan ke arah Clarice.

"Clarice, aku tahu kamu merawatku tanpa tidur. Sampai sekarang pun kehangatanmu masih terasa di tubuhku. Terima kasih banyak. Tapi kumohon, istirahatlah sebentar. Jika kamu sampai tumbang, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

"Iya…… aku mengerti. Aku akan istirahat sebentar. Tapi, ada satu permintaan……"

Mata Clarice bergetar. Di dalam matanya tersimpan rasa cemas, bingung, dan bayangan ketakutan yang tidak kunjung hilang.

"Aku tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa Mars akan pergi lagi…… kumohon. Buatlah aku merasa tenang. Karena itu―"

Suaranya bergetar pelan. Aku tidak bisa menolak permintaan itu. Aku mengangguk pelan dan mengabulkan permintaannya.

Beberapa saat kemudian, aku meninggalkan ruangan. Saat aku menoleh, Clarice yang mengenakan kemeja milikku sedang memeluk Eris sambil bernapas dengan tenang dalam tidurnya.

Melihat ekspresi damai mereka, aku menghela napas lega di dalam hati.

◆◇◆

Malam itu.

Di luar dugaan, Baron Isaac mendatangi penginapan tempat kami menginap.

Saat aku sedang menunggu di ruang publik penginapan, seorang pria yang mengenakan zirah hitam dan membawa sebuah labu air besar di pinggangnya muncul.

Penampilannya yang dihiasi janggut tipis memancarkan aura keberanian yang kuat hanya dengan berdiri di sana. Di belakangnya, para ksatria dengan ekspresi garang tampak bersiaga.

Pria itu berjalan lurus ke arah kami tanpa ragu. Di tengah jalan, tatapan tajamnya tertuju padaku. Dalam pandangannya itu, aku merasakan sebuah keinginan kuat untuk menilai seseorang.

Namun, di detik berikutnya, dia melakukan tindakan yang tak terduga. Tiba-tiba dia berlutut dengan satu kaki di tanah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sudah lama tidak bertemu, Nona Karen. Terima kasih banyak karena telah bersedia melangkahkan kaki hingga ke tempat terpencil seperti ini."

Melihat tindakan yang tak terduga itu, aku sempat kehilangan kata-kata sejenak, namun Karen sama sekali tidak terlihat goyah dan memegang tangan Baron Isaac seolah hal itu adalah sesuatu yang lumrah.

"Sudah lama tidak bertemu, Baron Isaac. Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini. Mari, kita lanjutkan pembicaraan kita."

Demikianlah pembicaraan dengan Baron Isaac dimulai.

Baron Isaac sempat duduk di sofa ruang publik, namun segera berdiri dan menuangkan minuman dari labu air di pinggangnya ke dalam gelas.

"Maaf ya. Aku tidak bisa bekerja tanpa ini."

Baron Isaac tertawa sambil menenggak minumannya dengan gagah. Suasana kaku yang terasa tadi berubah seketika menjadi suasana yang hangat.

Kalau mau mulai bicara, sekaranglah saatnya.

"Perkenalkan, nama saya Mars, tahun pertama Sekolah Nasional Lister."

Aku berdiri dan memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat.

"Ternyata benar kamulah Mars yang dibicarakan itu―"

Mendengar kata-kata itu, refleks aku menegakkan punggung. Sekali lagi, Baron Isaac menatapku seolah sedang menaksir nilaiku, lalu dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saat aku menyambut tangannya, ekspresi Baron Isaac sesaat menjadi muram.

"Wajahmu juga, tanganmu sangat bersih seolah tidak pernah memegang pedang. Tak ada yang akan mengira kalau kamulah peringkat pertama."

Baron Isaac sedikit tersenyum kecut, namun dia menatapku seolah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Setelah itu, topik beralih ke serangan monster. Baron Isaac sempat bertanya sekilas tentang situasinya, namun dia tidak menggali lebih dalam.

"Aku tidak akan mendengar cerita yang terlalu mendetail. Karena melihat dengan mata kepala sendiri adalah yang terbaik."

Sambil berkata begitu, Baron Isaac menyesap minumannya. Hal ini membuatku merasa lega, karena aku tidak perlu berbohong.

Di tengah pembicaraan, Minerva dengan raut wajah tegang berbicara kepada Baron Isaac.

"Perkenalkan, nama saya Minerva dari keluarga Viscount Xavius. Baron Isaac, saya juga pengguna rantai, tetapi terkadang jeratan saya terlepas saat menahan monster. Bisakah Anda memberi tahu cara menjerat yang direkomendasikan?"

Mendengar pertanyaan itu, Baron Isaac sesaat membelalakkan matanya karena terkejut. Namun, di detik berikutnya, dia mencondongkan tubuhnya dengan senyum yang lebar.

"Ooh! Jarang sekali ada pengguna rantai! Kalau begitu, segera tunjukkan padaku bagaimana caramu menjerat!"

Meski sedikit bingung, Minerva menunjukkan teknik rantainya. Selama itu, mata Baron Isaac menunjukkan ketajaman sekaligus kelembutan, jelas sekali bahwa dia benar-benar tertarik pada teknik Minerva.

Pelajaran itu menjadi sangat panas, dan bimbingan Baron Isaac terus berlanjut hingga ksatria datang untuk menjemputnya.

"Minerva, bakatmu bagus juga."

Baron Isaac mengangguk puas sambil merangkai kata.

"Di kota seharusnya ada buku teknik rantai yang aku tulis. Di sana tercantum hal-hal yang belum sempat aku ajarkan hari ini. Asahlah kemampuanmu baik-baik."

Mendengar hal itu, mata Minerva berbinar penuh haru sambil membungkuk dalam.

"Terima kasih banyak! Saya pasti akan membacanya dan mengasah teknik saya lebih dalam lagi!"

Baron Isaac tersenyum puas, membalas lambaian tangan ringan kepada ksatria yang memanggilnya, lalu meninggalkan penginapan.

◆◇◆

Keesokan paginya.

Baron Isaac pergi berpatroli ke area sekitar bersama para ksatria yang dibawanya. Kami sempat ragu untuk ikut, namun mengingat ucapan Baron Isaac kemarin, kami menahan diri untuk tidak menawarkan diri.

Dia sepertinya tipe orang yang hanya percaya pada apa yang dia lihat sendiri. Yah, di dunia ini, mungkin itu adalah pilihan yang tepat.

Demikianlah kami mendapatkan waktu libur pertama kami di Isaac.

Awalnya kami bergerak bersama, namun secara alami kami berpencar saat masing-masing menemukan tempat yang menarik minat mereka.

Baron dan Minerva pergi ke toko buku untuk mencari buku karya Baron Isaac.

Reiner-sensei dan Bram-sensei menghentikan langkah mereka di depan distrik neon yang katanya akan diterangi oleh lampu batu sihir saat malam hari, memandangi deretan bangunan itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Dominic yang sepertinya sangat menyadari kekurangan staminanya, pergi sendirian untuk latihan lari.

Pada akhirnya yang tersisa hanyalah anggota [Dawn] dan Sasha-sensei.

Tujuan yang aku tuju adalah Gerbang Selatan. Tujuannya hanya satu: menyelesaikan jalanan berbatu yang baru selesai setengah itu.

Clarice dan Eris, yang sudah seperti kakak beradik kandung, dengan akrab menyusun batu-batu yang terukir lambang petir dengan hati-hati sambil sesekali bercanda.

Di sisi lain, Karen dan Misha yang sepertinya memikirkan sesuatu dalam pertarungan kali ini, mulai berlatih di tempat yang agak jauh. Sasha-sensei memperhatikan mereka berdua dengan tatapan mata yang lembut.

Saat matahari mulai miring dan langit mulai berubah gelap, kami menyudahi pekerjaan kami dan kembali.

Dalam perjalanan kembali ke penginapan, aku menemukan buku berjudul Buku Panduan Teknik Rantai yang ditulis oleh Baron Isaac. Karena aku sendiri tertarik pada teknik rantai, aku membelinya tanpa ragu. Meskipun ini hanya subjektif, aku merasa kecocokan antara rantai dan sihir petir sangatlah luar biasa.

Saat kembali ke penginapan dan hendak menuju kamarku, tiba-tiba terdengar suara erangan dari kamar Baron. Karena hawa yang tidak biasa itu, bukan hanya aku tetapi Clarice dan yang lainnya juga menghentikan langkah dan secara alami berkumpul di depan kamarnya.

"Apa terjadi sesuatu……?"

Clarice mengerutkan alisnya dengan cemas.

Saat aku menajamkan pendengaran, di antara suara erangan itu terdengar suara Minerva.

"Hmm…… rasanya agak berbeda dengan yang diajarkan……"

Minerva? Kenapa dia ada di kamar Baron? Kami saling pandang dengan bingung.

"A-apa tidak apa-apa? Apa yang sedang kalian lakukan?"

Setelah memantapkan hati, aku mengetuk pintu, dan dari dalam kembali terdengar suara erangan Baron. Lalu, suara riang Minerva membalas untuk menutupi suara itu.

"Iya! Mars-kun, masuklah! Ada perasaan janggal…… aku ingin kamu melihatnya!"

Aku bertukar pandang dengan Clarice, lalu perlahan membuka pintu.

―Dan, pemandangan yang terbentang di hadapanku benar-benar melampaui imajinasi.

Refleks, aku langsung menutup pintu itu kembali.

"Ada apa? Kenapa tidak masuk?"

Clarice memiringkan kepalanya dengan heran. Sepertinya dia tidak bisa melihat situasi di dalam.

"Ka-kalian berdua sepertinya sedang sibuk atau bagaimana ya……"

Hanya kata-kata ambigu yang muncul di kepalaku, dan Karen langsung bertanya dengan tajam.

"Apa-apaan sih. Kalau kamu bilang begitu malah bikin makin penasaran tahu!"

Di belakang Karen yang membuka pintu dengan penuh semangat, Eris, Misha, dan Sasha-sensei juga ikut melongokkan kepala.

Dan―

“““……Eeeh?!”””

Seketika suasana di tempat itu membeku.

Baron hanya mengenakan celana dalam, berbaring di atas tempat tidur dengan sekujur tubuh yang terjerat oleh rantai. Bahkan mulutnya pun tertutup oleh rantai, dan terlihat sangat sulit untuk sekadar bernapas.

Di sisi lain, Minerva memegang sebuah buku dengan ekspresi serius di satu tangannya, sementara tangan lainnya mengendalikan rantai tersebut.

"Aku pikir ini cara menjerat yang benar, tapi sepertinya ada yang salah……"

Sambil berkata begitu, saat dia menarik rantainya sedikit, tubuh Baron semakin terjerat kencang hingga mengeluarkan suara erangan.

Wajah Clarice memerah padam, dia menutupi matanya dengan kedua tangan, namun tetap mengintip dengan jelas dari celah jemarinya.

"I-ini situasi macam apa?"

Saat aku mencoba bertanya sambil berusaha tetap tenang, Minerva menggembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas.

"Di buku Baron Isaac tertulis cara menjerat, jadi aku minta bantuan Baron untuk mempraktikkannya, tapi kok tidak berjalan lancar ya……"

Dari Baron yang terbaring, terdengar erangan kecil yang seolah membawa pesan "aku tidak setuju sampai sejauh ini", namun suaranya benar-benar tenggelam oleh suara Minerva.

"Mi-Minerva……? Buku apa yang kamu pegang itu……?"

Saat aku bertanya dengan ragu, Minerva mengangkat buku di tangannya dengan bangga.

"Iya, aku membelinya di kota."

Aku mencoba memastikan sampul buku itu, dan di sana tertulis dengan huruf besar Buku Panduan Shibar (Seni Ikatan), dan di sampulnya terdapat ilustrasi model yang dipaksa melakukan pose yang sangat mengenaskan……

Pantas saja Baron terikat dengan gaya kura-kura (Kikkou-shibari).

Baron mungkin adalah korban, tapi mereka membeli buku itu bersama-sama. Bagaimana pun, seharusnya dia sadar kalau melihat sampul buku itu ada yang aneh. Ini juga salahnya dia. Sambil berpikir begitu, aku menutup pintu kamar Baron.

Setelah itu, tidak perlu dikatakan lagi bahwa dari kamar Baron terdengar suara Minerva yang berkata "Sedikit lagi, seharusnya sedikit lagi berhasil!", diiringi suara erangan tulus dari Baron.

Saat kembali ke kamar, pikiranku secara alami kembali ke pertarungan melawan Upier.

Dalam pertarungan itu, aku sangat menyadari bahwa aku harus bisa mengendalikan sihir petir dengan lebih baik lagi. Terutama, ketergantungan yang berlebihan pada tangan kanan saat ini adalah masalah besar.

Hanya bisa mewujudkan sihir petir di tangan kanan yang merupakan tangan dominan akan mempersempit variasi dalam pertempuran. Karena tangan yang memegang Pedang Petir Guntur adalah tangan kanan, ditambah lagi Lightning Finger juga diaktifkan di tangan kanan.

Tanpa kusadari, hal ini telah menanamkan kebiasaan bahwa sihir petir adalah sesuatu yang dilepaskan melalui tangan kanan.

Aku harus bisa menggunakannya tanpa mantra seperti sihir angin…… Karena potensiku dalam sihir petir lebih tinggi, aku pasti bisa melakukannya. Sambil meyakinkan diri sendiri, aku memeriksa Status.


[Nama] Mars Bryant

[Title] Thunder God / Wind King / Goblin Slayer

[Level] 33 (+2)

[HP] 227 / 227

[MP] 105 / 10.554

[Strength] 148 (+8)

[Agility] 156 (+8)

[Magic] 213 (+14)

[Dexterity] 182 (+7)

[Durability] 148 (+9)

[Luck] 30

[Innate Abilities]

  • Talent (Lv MAX)
  • Heaven’s Eye (Lv 11) (10→11)
  • Thunder Magic S (Lv 10/20) (8→10)

[Special Abilities]

  • Swordsmanship B (Lv 12/17)
  • Martial Arts G (Lv 3/5)
  • Fire Magic E (Lv 8/11)
  • Water Magic F (Lv 5/8)
  • Earth Magic E (Lv 8/11) (7→8) (F→E)
  • Wind Magic A (Lv 16/19)
  • Holy Magic C (Lv 8/15)

Melihat Status ini, aku kembali menyadari betapa beruntungnya aku bisa menang melawan Upier.

Jika salah satu dari Vision atau Sylphid tidak ada, aku pasti sudah kalah. Aku harus berlatih lebih giat lagi…… Sambil merenungi ketidakhidupanku, aku memikirkan tentang teknik pertempuran dan penerapan sihir. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benakku.

Sylphid—satu sihir yang menyelimuti tubuh dengan kekuatan angin untuk meningkatkan Agility dan daya tahan. Jika itu bisa dilakukan, bukankah petir juga bisa diselimutkan ke tubuh?

Dengan menyelimuti diri dalam petir, bukankah aku bisa mendapatkan kecepatan ledak dan daya hancur yang luar biasa?

Begitu menyadari kemungkinan itu, semangat baru langsung berkobar dalam diriku.

Namun, di saat yang sama, aku juga bisa membayangkan bahayanya. Bahkan jika aku bisa mendapatkan kecepatan ledak, apakah tubuhku sanggup menahannya?

Lalu, bagaimana jika petir itu meledak di luar kendali dan melukai orang yang tidak bersalah?

Untuk menguji semua ini, kerja sama Clarice sangatlah krusial.

Dengan target baru di dalam hati, aku pun tertidur setelah menghabiskan seluruh MP-ku.

◆◇◆

Keesokan harinya.

"Sesuai laporan, sepertinya tidak ada ancaman di Timur. Berdasarkan hal itu, aku ingin meminta kalian melakukan satu kali lagi pengiriman suplai logistik ke Death Forest, apa kalian sanggup?"

Aku diundang ke kediaman Baron Isaac untuk mengonfirmasi ulang quest.

"Tentu saja. Karena itulah kami datang ke sini."

Baron Isaac mengangguk puas mendengar jawabanku. Namun, dia kemudian mencondongkan tubuh dan bertanya padaku.

"Mars, sejak datang ke sini, sepertinya kamu sering pergi ke arah Gerbang Selatan. Kemarin saat aku pergi ke Timur, aku sempat menginspeksi bagian Selatan, dan kondisi jalanan batunya sedikit berubah. Apa kamu tahu sesuatu?"

Aku sudah menduga hal ini akan ketahuan, tapi ternyata lebih cepat dari perkiraanku.

Begitu aku menjelaskan situasinya dengan jujur, Baron Isaac terkejut sekaligus terkesan, lalu ia berdiri.

"Mars, maukah kamu melanjutkan pemasangan jalan itu? Tentu saja aku akan membayar imbalannya!"

Rupanya, karena para ksatria terus dikerahkan ke Death Forest di Utara, mereka tidak sempat memperbaiki jalanan umum. Ia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta bantuan kami.

"Tentu saja. Kami akan mengerjakannya beriringan dengan pengiriman suplai logistik."

Jika aku memberikan kontribusi lebih di luar quest yang diterima, kepercayaan dan reputasi kami akan meningkat pesat setelah clan resmi didirikan nanti.

Begitu kabar ini dibawa kembali, kami langsung membagi tim menjadi Tim Jalanan Batu dan Tim Suplai Logistik.

Tim Suplai diisi oleh Reiner-sensei dan Bram-sensei, ditambah Dominic yang ingin belajar ilmu pedang dari Reiner-sensei, serta Minerva yang menawarkan diri untuk ikut mendampingi Baron Isaac kembali ke Death Forest dengan alasan serupa.

Tim Jalanan Batu terdiri dari kami anggota [Dawn], ditambah Sasha-sensei.

Lalu, saat aku hendak mengajak Baron yang sejak pagi terlihat agak aneh, secara mengejutkan ia sendiri yang mengajukan diri untuk pergi ke Death Forest.

"Baron, apa kamu sudah tidak memikirkan kejadian kemarin?"

Saat aku bertanya pelan untuk menyelidiki, Baron menjawab dengan wajah bingung.

"Entahlah, tapi kalau dipikir-pikir lagi, itu juga bisa jadi latihan yang bagus…… aku sendiri kaget dengan perubahan pola pikirku ini."

"Be-begitu ya…… kalau kamu merasa begitu, ya syukurlah kalau begitu?"

Sejujurnya, aku tidak habis pikir bagaimana kejadian kemarin bisa dianggap sebagai latihan. Dipukul dengan cambuk mungkin memang bisa jadi latihan menahan rasa sakit, tapi kalau diikat…… itu latihan untuk apa sebenarnya?

Bagaimanapun, aku sedikit kagum dengan sikap Baron yang bisa dibilang positif sekaligus aneh ini.

Jika latihan yang lahir secara tidak terduga ini memberikan dampak positif baginya, maka aku tidak perlu ikut campur.

Tim kami mempercepat pengerjaan jalanan batu.

Aku menciptakan batu, lalu Sasha-sensei dan Misha memindahkannya ke lokasi menggunakan sihir angin. Setelah itu, Clarice, Eris, dan Karen menyusunnya dengan rapi.

Jika MP-ku habis, aku akan meringkuk di dalam kantung tidur yang sudah disiapkan untuk tidur siang sejenak. Selama waktu itu, yang lain akan berfokus pada latihan masing-masing.

Orang yang pertama kali meraih hasil nyata sebelum quest selesai adalah Karen.

Saat terbangun dari tidur siang, aku melihat teman-teman membuat lingkaran dan memuji Karen. Begitu menyadari aku sudah bangun, Karen berlari menghampiriku dengan senyum lebar di wajahnya.

"Mars! Akhirnya aku bisa melakukannya! Mengontrol Fireball sambil mengayunkan cambuk!"

Sejak aku memberinya cambuk api, Karen terus mendedikasikan dirinya untuk latihan itu. Itulah sebabnya, dari ekspresinya pun aku bisa mengerti betapa bahagianya dia atas keberhasilan ini.

"Hebat! Dengan ini variasi taktikmu akan semakin luas!"

"Iya! Berikutnya aku akan menantang sihir api tanpa mantra!"

Mata Karen berbinar-binar. Antusiasmenya begitu terasa hingga membuat siapa pun yang melihatnya ikut terbawa semangat.

Dan terinspirasi oleh kesuksesan Karen, moral tim semakin meningkat.

"Ternyata kalau dilakukan memang bisa ya. Mungkin setelah quest ini selesai, aku juga akan mencoba menantang Sylphid."

Mendengar Sasha-sensei berkata begitu sambil tersenyum lembut, Misha yang ada di sampingnya mengangguk semangat.

"Iya! Ibu pasti bisa! Aku akan mengajarimu!"

Misha pun dengan penuh semangat merapalkan sihir yang kemudian lepas kendali. Sambil berteriak, ia terbang ke arah yang tidak jelas.

"Padahal aku bilang setelah quest selesai……"

Sambil tertawa kecut, Sasha-sensei berlari mengejar putri tercintanya yang terhempas tadi.

Saat aku melihat Clarice dan Eris, mereka sedang melakukan tanding latihan. Keduanya tampak sangat serius, namun suasana di antara mereka terasa menyenangkan.

"……Aku, akan menang…… hari ini giliran aku…… yang pakai kemeja itu……"

"Boleh saja! Kalau aku kalah…… kyaa?!"

Sebelum Clarice selesai bicara, telapak tangan Eris sudah mendarat di bagian paling empuk milik Clarice.

"Ma-Mars, kamu lihat? Barusan itu curang, kan?"

Clarice menggembungkan pipinya sambil mengadu padaku.

"Eh? Ah, iya…… aku lihat. Kelihatannya empuk—"

Karena pertanyaan yang mendadak, isi hatiku yang jujur malah keluar begitu saja.

Seketika, wajah Clarice memerah padam dan ia membuang muka. Aku sempat panik melihatnya hendak membuka mulut, namun tepat saat itu suara lantang Sasha-sensei menengahi situasi.

"Ayo! Quest lebih utama! Kita tidak akan sempat ikut Festival Lister kalau begini!"

Satu gertakan dari Sasha-sensei langsung mengubah suasana, dan pekerjaan pun dilanjutkan kembali. Di bawah langit biru, butuh waktu tiga hari bagi kami untuk menyelesaikan jalanan batu itu sambil diselingi tawa.

Secara kebetulan, tim pengirim suplai juga butuh waktu tiga hari untuk kembali. Setelah semuanya siap, kami pun segera berangkat meninggalkan Isaac.

Dalam perjalanan pulang, saat merasakan getaran nyaman dari jalanan batu di atas kereta kuda, kenangan selama di Isaac kembali terlintas dengan jelas.

Di jalanan batu ini, bukan hanya lambang petir yang terukir, tapi juga kenangan dan ikatan kami.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close