Chapter 5
Hasil yang Diraih……?
"……rs……
Mars……"
Terdengar
suara sayup-sayup yang memanggil namaku dengan penuh keputusasaan.
Aku
mencoba menjawab suara itu, tetapi tubuhku terasa seberat timah dan sama sekali
tidak bisa digerakkan. Meski aku mencoba memaksakan tenggorokan, tidak ada
suara yang keluar.
Setiap
kali aku berusaha membangkitkan kesadaran untuk bangun, perasaan seperti jatuh
ke dalam kegelapan tanpa dasar menyelimuti sekujur tubuhku. Rasanya seolah-olah
aku terseret ke dalam ilusi jurang maut yang tak berujung.
Namun,
suara itu terus memanggil, berusaha keras untuk menahanku agar tidak jatuh
lebih dalam.
"Mars……
kumohon…… jangan pergi……"
Suara gemetar itu bergema di tengah kegelapan. Suara
yang dipenuhi kesedihan dan keputusasaan, membawa perasaan tulus yang
menyesakkan dada.
Bukan hanya suaranya yang bergetar. Sepertinya tubuh
pemilik suara itu pun gemetar hebat. Getaran itu merambat hingga ke tubuhku
yang kaku.
Aku tahu siapa pemilik suara ini.
Aku tahu aroma ini.
Aku tahu kehangatan ini.
Dan―aku mengenal orang ini lebih dari siapa pun!
"Clarice!"
Begitu aku meneriakkan nama itu di tengah kegelapan,
pandanganku seketika kembali terang. Cahaya yang menyilaukan mata menyebar
luas, dan garis dunia menjadi semakin jelas.
Di hadapanku, Clarice sedang mendekapku erat dengan kedua
lengannya sambil meneteskan air mata.
"……Syukurlah……
akhirnya, kamu bangun juga……"
Suaranya
gemetar, bercampur antara rasa lega dan kepedihan. Rambut peraknya yang indah
basah oleh air mata, dan butiran yang mengalir di pipinya tampak berkilau.
Lalu,
bibirnya yang gemetar menyentuh bibirku dengan lembut. Dalam sekejap, perasaan
Clarice yang mendalam tersampaikan kepadaku.
"Clarice……
maaf sudah membuatmu khawatir…… dan, terima kasih."
Mendengar
ucapanku, Clarice membalas dengan senyuman dan mendekapku semakin erat. Pada
saat itu, rasanya dunia telah kembali menemukan warnanya.
"Duh, padahal kami datang karena khawatir,
tapi……"
"Benar juga, seharusnya kamu beri tahu kami
kalau sudah bangun sebelum bermesraan di atas tempat tidur."
Karen dan Misha menunjukkan ekspresi jengah sambil
menggoda Clarice yang wajahnya memerah hingga ke telinga.
Aku butuh waktu sejenak untuk memahami situasi,
tetapi sepertinya aku telah kehilangan kesadaran selama sehari penuh.
Penyebabnya sudah pasti kelelahan mental. Walaupun dia
vampir, dia tetaplah ras Magic Person―seorang manusia.
Seberapa pun kerasnya aku melatih tubuh, mentalku
masihlah seorang pemula. Aku pikir aku harus mulai membiasakan diri, meski
sulit untuk benar-benar ingin terbiasa dengan hal seperti itu.
"Tapi syukurlah kamu akhirnya sadar."
Karen tersenyum lega, tetapi di baliknya tersirat
betapa khawatirnya dia.
Katanya, Karen sempat mencoba melakukan Appraisal
dengan mata sihirnya untuk memastikan keadaanku. Dia pikir dia bisa melakukan Appraisal
saat aku tertidur, namun ternyata tetap mustahil.
Sambil menegakkan tubuh di tempat tidur, aku bertanya
tentang apa yang terjadi setelah aku mengalahkan Upier. Ngomong-ngomong, di
sampingku ada Eris yang sedang tertidur lelap dengan napas yang tenang.
Sama seperti Clarice, sepertinya Eris tidak bisa tidur
sedikit pun sampai aku terbangun. Begitu tahu aku sudah sadar, dia langsung
menyelinap ke sampingku dan tidur dengan sangat lelap seolah ingin membayar
waktu tidurnya yang hilang.
Sambil mengelus rambut Eris, aku mendengarkan laporan
dari Sasha-sensei.
"Setelah Mars mengalahkan Upier, serangan
monster benar-benar berhenti total. Namun, alasan mengapa dia melakukan hal
ini masih tetap menjadi misteri. Kami belum menceritakan hal ini kepada siapa
pun, dan aku sudah memberlakukan perintah bungkam kepada semuanya. Jika sampai
kabar ini tersebar, ada kemungkinan ras Magic Person akan datang untuk menuntut
balas."
Sesuai dugaan, Sasha-sensei memang sangat bisa
diandalkan.
"Aku berencana melapor kepada Baron Isaac dan
ksatria bahwa serangan tiba-tiba berhenti begitu saja. Apa tidak apa-apa,
Mars?"
Aku mengangguk tanpa suara menanggapi pertanyaan
Sasha-sensei. Daripada berbohong dengan cara yang rumit, berpura-pura tidak
tahu adalah pilihan terbaik agar tidak meninggalkan celah.
"Lalu satu hal lagi. Baron Isaac mengkhawatirkan
keadaan di sini dan sepertinya beliau akan tiba lebih awal dari jadwal.
Diperkirakan beliau akan sampai malam ini. Sebagai pemimpin, apa kamu sudah
siap untuk bertemu? Jika tidak memungkinkan, kami bisa bilang kamu masih tidur
dan biar kami yang menangani……?"
Kata-kata Sasha-sensei penuh dengan perhatian. Namun,
justru inilah saatnya aku harus berusaha keras. Ke
depannya saat menjadi Clan Master, hal-hal seperti ini kemungkinan besar akan
sering terjadi. Aku harus menghadapinya sendiri dengan benar.
"Tidak, saya tidak apa-apa. Saya juga ingin
bertemu dengan Baron Isaac. Jadi, tolong atur ke arah sana."
Setelah menjawab Sasha-sensei, aku mengalihkan
pandangan ke arah Clarice.
"Clarice, aku tahu kamu merawatku tanpa tidur.
Sampai sekarang pun kehangatanmu masih terasa di tubuhku. Terima kasih banyak.
Tapi kumohon, istirahatlah sebentar. Jika kamu sampai tumbang, aku tidak akan
bisa memaafkan diriku sendiri."
"Iya……
aku mengerti. Aku akan istirahat sebentar. Tapi, ada satu
permintaan……"
Mata Clarice bergetar. Di dalam matanya tersimpan rasa
cemas, bingung, dan bayangan ketakutan yang tidak kunjung hilang.
"Aku tidak bisa menghilangkan pikiran bahwa Mars
akan pergi lagi…… kumohon. Buatlah aku merasa tenang. Karena itu―"
Suaranya bergetar pelan. Aku tidak bisa menolak
permintaan itu. Aku mengangguk pelan dan mengabulkan permintaannya.
Beberapa saat kemudian, aku meninggalkan ruangan. Saat
aku menoleh, Clarice yang mengenakan kemeja milikku sedang memeluk Eris sambil
bernapas dengan tenang dalam tidurnya.
Melihat ekspresi damai mereka, aku menghela napas
lega di dalam hati.
◆◇◆
Malam itu.
Di luar dugaan, Baron Isaac mendatangi penginapan
tempat kami menginap.
Saat aku sedang menunggu di ruang publik penginapan,
seorang pria yang mengenakan zirah hitam dan membawa sebuah labu air besar di
pinggangnya muncul.
Penampilannya yang dihiasi janggut tipis memancarkan
aura keberanian yang kuat hanya dengan berdiri di sana. Di belakangnya, para
ksatria dengan ekspresi garang tampak bersiaga.
Pria itu berjalan lurus ke arah kami tanpa ragu. Di
tengah jalan, tatapan tajamnya tertuju padaku. Dalam pandangannya itu, aku
merasakan sebuah keinginan kuat untuk menilai seseorang.
Namun, di detik berikutnya, dia melakukan tindakan
yang tak terduga. Tiba-tiba dia berlutut dengan satu kaki di tanah dan
menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Sudah lama tidak bertemu, Nona Karen. Terima kasih
banyak karena telah bersedia melangkahkan kaki hingga ke tempat terpencil
seperti ini."
Melihat tindakan yang tak terduga itu, aku sempat
kehilangan kata-kata sejenak, namun Karen sama sekali tidak terlihat goyah dan
memegang tangan Baron Isaac seolah hal itu adalah sesuatu yang lumrah.
"Sudah lama tidak bertemu, Baron Isaac. Terima kasih
sudah jauh-jauh datang ke sini. Mari, kita lanjutkan pembicaraan kita."
Demikianlah pembicaraan dengan Baron Isaac dimulai.
Baron Isaac sempat duduk di sofa ruang publik, namun
segera berdiri dan menuangkan minuman dari labu air di pinggangnya ke dalam
gelas.
"Maaf ya. Aku tidak bisa bekerja tanpa ini."
Baron Isaac tertawa sambil menenggak minumannya
dengan gagah. Suasana kaku yang terasa tadi berubah seketika menjadi
suasana yang hangat.
Kalau mau mulai bicara, sekaranglah saatnya.
"Perkenalkan, nama saya Mars, tahun pertama Sekolah
Nasional Lister."
Aku berdiri dan memperkenalkan diri sambil membungkuk
hormat.
"Ternyata benar kamulah Mars yang dibicarakan
itu―"
Mendengar kata-kata itu, refleks aku menegakkan
punggung. Sekali lagi, Baron Isaac menatapku seolah sedang menaksir nilaiku,
lalu dia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Saat aku menyambut
tangannya, ekspresi Baron Isaac sesaat menjadi muram.
"Wajahmu juga, tanganmu sangat bersih seolah
tidak pernah memegang pedang. Tak ada yang akan mengira kalau kamulah peringkat
pertama."
Baron Isaac sedikit tersenyum kecut, namun dia
menatapku seolah tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Setelah itu, topik beralih ke serangan monster. Baron
Isaac sempat bertanya sekilas tentang situasinya, namun dia tidak menggali
lebih dalam.
"Aku tidak akan mendengar cerita yang terlalu
mendetail. Karena melihat dengan mata kepala sendiri adalah yang terbaik."
Sambil berkata begitu, Baron Isaac menyesap
minumannya. Hal ini membuatku merasa lega, karena aku tidak perlu berbohong.
Di tengah pembicaraan, Minerva dengan raut wajah
tegang berbicara kepada Baron Isaac.
"Perkenalkan, nama saya Minerva dari keluarga
Viscount Xavius. Baron Isaac, saya juga pengguna rantai, tetapi terkadang
jeratan saya terlepas saat menahan monster. Bisakah Anda memberi tahu cara
menjerat yang direkomendasikan?"
Mendengar pertanyaan itu, Baron Isaac sesaat
membelalakkan matanya karena terkejut. Namun, di detik berikutnya, dia
mencondongkan tubuhnya dengan senyum yang lebar.
"Ooh! Jarang sekali ada pengguna rantai! Kalau
begitu, segera tunjukkan padaku bagaimana caramu menjerat!"
Meski sedikit bingung, Minerva menunjukkan teknik
rantainya. Selama itu, mata Baron Isaac menunjukkan ketajaman sekaligus
kelembutan, jelas sekali bahwa dia benar-benar tertarik pada teknik Minerva.
Pelajaran itu menjadi sangat panas, dan bimbingan Baron
Isaac terus berlanjut hingga ksatria datang untuk menjemputnya.
"Minerva, bakatmu bagus juga."
Baron Isaac mengangguk puas sambil merangkai kata.
"Di kota seharusnya ada buku teknik rantai yang aku
tulis. Di sana tercantum hal-hal yang belum sempat aku ajarkan hari ini.
Asahlah kemampuanmu baik-baik."
Mendengar hal itu, mata Minerva berbinar penuh haru
sambil membungkuk dalam.
"Terima kasih banyak! Saya pasti akan membacanya dan
mengasah teknik saya lebih dalam lagi!"
Baron Isaac tersenyum puas, membalas lambaian tangan
ringan kepada ksatria yang memanggilnya, lalu meninggalkan penginapan.
◆◇◆
Keesokan paginya.
Baron Isaac pergi berpatroli ke area sekitar bersama para
ksatria yang dibawanya. Kami sempat ragu untuk ikut, namun mengingat ucapan
Baron Isaac kemarin, kami menahan diri untuk tidak menawarkan diri.
Dia sepertinya tipe orang yang hanya percaya pada apa
yang dia lihat sendiri. Yah, di dunia ini, mungkin itu adalah pilihan yang
tepat.
Demikianlah kami mendapatkan waktu libur pertama kami di
Isaac.
Awalnya kami bergerak bersama, namun secara alami kami
berpencar saat masing-masing menemukan tempat yang menarik minat mereka.
Baron dan Minerva pergi ke toko buku untuk mencari buku
karya Baron Isaac.
Reiner-sensei dan Bram-sensei menghentikan langkah mereka
di depan distrik neon yang katanya akan diterangi oleh lampu batu sihir saat
malam hari, memandangi deretan bangunan itu dengan penuh rasa ingin tahu.
Dominic yang sepertinya sangat menyadari kekurangan
staminanya, pergi sendirian untuk latihan lari.
Pada akhirnya yang tersisa hanyalah anggota [Dawn]
dan Sasha-sensei.
Tujuan yang aku tuju adalah Gerbang Selatan. Tujuannya
hanya satu: menyelesaikan jalanan berbatu yang baru selesai setengah itu.
Clarice dan Eris, yang sudah seperti kakak beradik
kandung, dengan akrab menyusun batu-batu yang terukir lambang petir dengan
hati-hati sambil sesekali bercanda.
Di sisi lain, Karen dan Misha yang sepertinya memikirkan
sesuatu dalam pertarungan kali ini, mulai berlatih di tempat yang agak jauh.
Sasha-sensei memperhatikan mereka berdua dengan tatapan mata yang lembut.
Saat matahari mulai miring dan langit mulai berubah
gelap, kami menyudahi pekerjaan kami dan kembali.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, aku menemukan
buku berjudul Buku Panduan Teknik Rantai yang ditulis oleh Baron Isaac.
Karena aku sendiri tertarik pada teknik rantai, aku membelinya tanpa ragu.
Meskipun ini hanya subjektif, aku merasa kecocokan antara rantai dan sihir
petir sangatlah luar biasa.
Saat kembali ke penginapan dan hendak menuju kamarku,
tiba-tiba terdengar suara erangan dari kamar Baron. Karena hawa yang tidak
biasa itu, bukan hanya aku tetapi Clarice dan yang lainnya juga menghentikan
langkah dan secara alami berkumpul di depan kamarnya.
"Apa terjadi sesuatu……?"
Clarice mengerutkan alisnya dengan cemas.
Saat aku menajamkan pendengaran, di antara suara erangan
itu terdengar suara Minerva.
"Hmm……
rasanya agak berbeda dengan yang diajarkan……"
Minerva? Kenapa dia ada di kamar Baron? Kami saling pandang dengan
bingung.
"A-apa
tidak apa-apa? Apa yang sedang kalian lakukan?"
Setelah
memantapkan hati, aku mengetuk pintu, dan dari dalam kembali terdengar suara
erangan Baron. Lalu, suara riang Minerva membalas untuk menutupi suara
itu.
"Iya! Mars-kun, masuklah! Ada perasaan janggal…… aku
ingin kamu melihatnya!"
Aku bertukar pandang dengan Clarice, lalu perlahan
membuka pintu.
―Dan, pemandangan yang terbentang di hadapanku
benar-benar melampaui imajinasi.
Refleks, aku langsung menutup pintu itu kembali.
"Ada apa? Kenapa tidak masuk?"
Clarice
memiringkan kepalanya dengan heran. Sepertinya dia tidak bisa melihat
situasi di dalam.
"Ka-kalian berdua sepertinya sedang sibuk atau
bagaimana ya……"
Hanya kata-kata ambigu yang muncul di kepalaku, dan
Karen langsung bertanya dengan tajam.
"Apa-apaan sih. Kalau kamu bilang begitu malah bikin
makin penasaran tahu!"
Di belakang Karen yang membuka pintu dengan penuh
semangat, Eris, Misha, dan Sasha-sensei juga ikut melongokkan kepala.
Dan―
“““……Eeeh?!”””
Seketika suasana di tempat itu membeku.
Baron hanya mengenakan celana dalam, berbaring di atas
tempat tidur dengan sekujur tubuh yang terjerat oleh rantai. Bahkan mulutnya
pun tertutup oleh rantai, dan terlihat sangat sulit untuk sekadar bernapas.
Di sisi lain, Minerva memegang sebuah buku dengan
ekspresi serius di satu tangannya, sementara tangan lainnya mengendalikan
rantai tersebut.
"Aku pikir ini cara menjerat yang benar, tapi
sepertinya ada yang salah……"
Sambil berkata begitu, saat dia menarik rantainya
sedikit, tubuh Baron semakin terjerat kencang hingga mengeluarkan suara
erangan.
Wajah Clarice memerah padam, dia menutupi matanya dengan
kedua tangan, namun tetap mengintip dengan jelas dari celah jemarinya.
"I-ini situasi macam apa?"
Saat aku mencoba bertanya sambil berusaha tetap tenang,
Minerva menggembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas.
"Di buku Baron Isaac tertulis cara menjerat, jadi
aku minta bantuan Baron untuk mempraktikkannya, tapi kok tidak berjalan lancar
ya……"
Dari Baron yang terbaring, terdengar erangan kecil yang
seolah membawa pesan "aku tidak setuju sampai sejauh ini", namun
suaranya benar-benar tenggelam oleh suara Minerva.
"Mi-Minerva……? Buku apa yang kamu pegang
itu……?"
Saat aku bertanya dengan ragu, Minerva mengangkat buku di
tangannya dengan bangga.
"Iya, aku membelinya di kota."
Aku mencoba memastikan sampul buku itu, dan di sana
tertulis dengan huruf besar Buku Panduan Shibar (Seni Ikatan), dan di
sampulnya terdapat ilustrasi model yang dipaksa melakukan pose yang sangat
mengenaskan……
Pantas saja Baron terikat dengan gaya kura-kura (Kikkou-shibari).
Baron mungkin adalah korban, tapi mereka membeli buku itu
bersama-sama. Bagaimana pun, seharusnya dia sadar kalau melihat sampul buku itu
ada yang aneh. Ini
juga salahnya dia. Sambil berpikir begitu, aku menutup pintu kamar Baron.
Setelah
itu, tidak perlu dikatakan lagi bahwa dari kamar Baron terdengar suara Minerva
yang berkata "Sedikit lagi, seharusnya sedikit lagi berhasil!",
diiringi suara erangan tulus dari Baron.
Saat kembali ke kamar, pikiranku secara alami kembali ke
pertarungan melawan Upier.
Dalam pertarungan itu, aku sangat menyadari bahwa aku
harus bisa mengendalikan sihir petir dengan lebih baik lagi. Terutama,
ketergantungan yang berlebihan pada tangan kanan saat ini adalah masalah besar.
Hanya bisa mewujudkan sihir petir di tangan kanan yang
merupakan tangan dominan akan mempersempit variasi dalam pertempuran. Karena
tangan yang memegang Pedang Petir Guntur adalah tangan kanan, ditambah lagi Lightning
Finger juga diaktifkan di tangan kanan.
Tanpa kusadari, hal ini telah menanamkan kebiasaan bahwa
sihir petir adalah sesuatu yang dilepaskan melalui tangan kanan.
Aku harus bisa menggunakannya tanpa mantra seperti sihir
angin…… Karena potensiku dalam sihir petir lebih tinggi, aku pasti bisa
melakukannya. Sambil meyakinkan diri sendiri, aku memeriksa Status.
[Nama]
Mars Bryant
[Title]
Thunder God / Wind King / Goblin Slayer
[Level]
33 (+2)
[HP]
227 / 227
[MP]
105 / 10.554
[Strength]
148 (+8)
[Agility]
156 (+8)
[Magic]
213 (+14)
[Dexterity]
182 (+7)
[Durability]
148 (+9)
[Luck]
30
[Innate
Abilities]
- Talent (Lv MAX)
- Heaven’s Eye (Lv 11) (10→11)
- Thunder Magic S (Lv 10/20) (8→10)
[Special
Abilities]
- Swordsmanship B (Lv 12/17)
- Martial Arts G (Lv 3/5)
- Fire Magic E (Lv 8/11)
- Water Magic F (Lv 5/8)
- Earth Magic E (Lv 8/11) (7→8) (F→E)
- Wind Magic A (Lv 16/19)
- Holy Magic C (Lv 8/15)
Melihat
Status ini, aku kembali menyadari betapa beruntungnya aku bisa menang
melawan Upier.
Jika salah satu dari Vision atau Sylphid
tidak ada, aku pasti sudah kalah. Aku harus berlatih lebih giat lagi…… Sambil merenungi
ketidakhidupanku, aku memikirkan tentang teknik pertempuran dan penerapan
sihir. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benakku.
Sylphid—satu sihir yang menyelimuti
tubuh dengan kekuatan angin untuk meningkatkan Agility dan daya tahan. Jika
itu bisa dilakukan, bukankah petir juga bisa diselimutkan ke tubuh?
Dengan menyelimuti diri dalam petir, bukankah aku bisa
mendapatkan kecepatan ledak dan daya hancur yang luar biasa?
Begitu menyadari kemungkinan itu, semangat baru
langsung berkobar dalam diriku.
Namun, di saat yang sama, aku juga bisa membayangkan
bahayanya. Bahkan jika aku bisa mendapatkan kecepatan ledak, apakah
tubuhku sanggup menahannya?
Lalu, bagaimana jika petir itu meledak di luar kendali
dan melukai orang yang tidak bersalah?
Untuk menguji semua ini, kerja sama Clarice sangatlah
krusial.
Dengan target baru di dalam hati, aku pun tertidur
setelah menghabiskan seluruh MP-ku.
◆◇◆
Keesokan harinya.
"Sesuai laporan, sepertinya tidak ada ancaman di
Timur. Berdasarkan hal itu, aku ingin meminta kalian melakukan satu kali lagi
pengiriman suplai logistik ke Death Forest, apa kalian sanggup?"
Aku diundang ke kediaman Baron Isaac untuk mengonfirmasi
ulang quest.
"Tentu saja. Karena itulah kami datang ke
sini."
Baron Isaac mengangguk puas mendengar jawabanku.
Namun, dia kemudian mencondongkan tubuh dan bertanya padaku.
"Mars, sejak datang ke sini, sepertinya kamu
sering pergi ke arah Gerbang Selatan. Kemarin saat aku pergi ke Timur, aku
sempat menginspeksi bagian Selatan, dan kondisi jalanan batunya sedikit
berubah. Apa kamu tahu sesuatu?"
Aku sudah menduga hal ini akan ketahuan, tapi
ternyata lebih cepat dari perkiraanku.
Begitu aku menjelaskan situasinya dengan jujur, Baron
Isaac terkejut sekaligus terkesan, lalu ia berdiri.
"Mars, maukah kamu melanjutkan pemasangan jalan itu?
Tentu saja aku akan membayar imbalannya!"
Rupanya, karena para ksatria terus dikerahkan ke Death
Forest di Utara, mereka tidak sempat memperbaiki jalanan umum. Ia ingin
memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta bantuan kami.
"Tentu saja. Kami akan mengerjakannya beriringan
dengan pengiriman suplai logistik."
Jika aku memberikan kontribusi lebih di luar quest
yang diterima, kepercayaan dan reputasi kami akan meningkat pesat setelah clan
resmi didirikan nanti.
Begitu kabar ini dibawa kembali, kami langsung membagi
tim menjadi Tim Jalanan Batu dan Tim Suplai Logistik.
Tim Suplai diisi oleh Reiner-sensei dan Bram-sensei,
ditambah Dominic yang ingin belajar ilmu pedang dari Reiner-sensei, serta
Minerva yang menawarkan diri untuk ikut mendampingi Baron Isaac kembali ke
Death Forest dengan alasan serupa.
Tim Jalanan Batu terdiri dari kami anggota [Dawn],
ditambah Sasha-sensei.
Lalu, saat aku hendak mengajak Baron yang sejak pagi
terlihat agak aneh, secara mengejutkan ia sendiri yang mengajukan diri untuk
pergi ke Death Forest.
"Baron, apa kamu sudah tidak memikirkan kejadian
kemarin?"
Saat aku bertanya pelan untuk menyelidiki, Baron menjawab
dengan wajah bingung.
"Entahlah, tapi kalau dipikir-pikir lagi, itu juga
bisa jadi latihan yang bagus…… aku
sendiri kaget dengan perubahan pola pikirku ini."
"Be-begitu
ya…… kalau kamu merasa begitu, ya syukurlah kalau begitu?"
Sejujurnya,
aku tidak habis pikir bagaimana kejadian kemarin bisa dianggap sebagai latihan.
Dipukul dengan cambuk mungkin memang bisa jadi latihan menahan rasa sakit,
tapi kalau diikat…… itu latihan untuk apa sebenarnya?
Bagaimanapun, aku sedikit kagum dengan sikap Baron yang
bisa dibilang positif sekaligus aneh ini.
Jika latihan yang lahir secara tidak terduga ini
memberikan dampak positif baginya, maka aku tidak perlu ikut campur.
Tim kami mempercepat pengerjaan jalanan batu.
Aku menciptakan batu, lalu Sasha-sensei dan Misha
memindahkannya ke lokasi menggunakan sihir angin. Setelah itu, Clarice, Eris,
dan Karen menyusunnya dengan rapi.
Jika MP-ku habis, aku akan meringkuk di dalam
kantung tidur yang sudah disiapkan untuk tidur siang sejenak. Selama waktu itu,
yang lain akan berfokus pada latihan masing-masing.
Orang yang pertama kali meraih hasil nyata sebelum quest
selesai adalah Karen.
Saat terbangun dari tidur siang, aku melihat teman-teman
membuat lingkaran dan memuji Karen. Begitu menyadari aku sudah bangun, Karen
berlari menghampiriku dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mars! Akhirnya aku bisa melakukannya! Mengontrol Fireball sambil mengayunkan cambuk!"
Sejak aku memberinya cambuk api, Karen terus
mendedikasikan dirinya untuk latihan itu. Itulah sebabnya, dari ekspresinya pun
aku bisa mengerti betapa bahagianya dia atas keberhasilan ini.
"Hebat! Dengan ini variasi taktikmu akan semakin
luas!"
"Iya! Berikutnya aku akan menantang sihir api tanpa
mantra!"
Mata Karen berbinar-binar. Antusiasmenya begitu terasa
hingga membuat siapa pun yang melihatnya ikut terbawa semangat.
Dan terinspirasi oleh kesuksesan Karen, moral tim semakin
meningkat.
"Ternyata kalau dilakukan memang bisa ya. Mungkin
setelah quest ini selesai, aku juga akan mencoba menantang Sylphid."
Mendengar Sasha-sensei berkata begitu sambil tersenyum
lembut, Misha yang ada di sampingnya mengangguk semangat.
"Iya! Ibu pasti bisa! Aku akan mengajarimu!"
Misha pun dengan penuh semangat merapalkan sihir yang
kemudian lepas kendali. Sambil berteriak, ia terbang ke arah yang tidak jelas.
"Padahal aku bilang setelah quest
selesai……"
Sambil tertawa kecut, Sasha-sensei berlari mengejar putri
tercintanya yang terhempas tadi.
Saat aku melihat Clarice dan Eris, mereka sedang
melakukan tanding latihan. Keduanya tampak sangat serius, namun
suasana di antara mereka terasa menyenangkan.
"……Aku,
akan menang…… hari ini giliran aku…… yang pakai kemeja itu……"
"Boleh saja! Kalau aku kalah…… kyaa?!"
Sebelum Clarice selesai bicara, telapak tangan Eris sudah
mendarat di bagian paling empuk milik Clarice.
"Ma-Mars, kamu lihat? Barusan itu curang, kan?"
Clarice menggembungkan pipinya sambil mengadu padaku.
"Eh?
Ah, iya…… aku lihat. Kelihatannya empuk—"
Karena
pertanyaan yang mendadak, isi hatiku yang jujur malah keluar begitu saja.
Seketika,
wajah Clarice memerah padam dan ia membuang muka. Aku sempat panik melihatnya
hendak membuka mulut, namun tepat saat itu suara lantang Sasha-sensei menengahi
situasi.
"Ayo!
Quest lebih utama! Kita tidak akan sempat ikut Festival Lister kalau
begini!"
Satu
gertakan dari Sasha-sensei langsung mengubah suasana, dan pekerjaan pun
dilanjutkan kembali. Di bawah langit biru, butuh waktu tiga hari bagi kami
untuk menyelesaikan jalanan batu itu sambil diselingi tawa.
Secara
kebetulan, tim pengirim suplai juga butuh waktu tiga hari untuk kembali.
Setelah semuanya siap, kami pun segera berangkat meninggalkan Isaac.
Dalam
perjalanan pulang, saat merasakan getaran nyaman dari jalanan batu di atas
kereta kuda, kenangan selama di Isaac kembali terlintas dengan jelas.
Di jalanan batu ini, bukan hanya lambang petir yang terukir, tapi juga kenangan dan ikatan kami.



Post a Comment