NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 4

Chapter 4

Vampir


"Ba-Baron? Kamu……? Bagaimana bisa jadi seperti ini?"

Setelah meratakan jalanan berbatu di sekitar Gerbang Selatan bersama Clarice, kami kembali ke Gerbang Timur dan langsung disambut oleh pemandangan Baron yang sekujur tubuhnya dipenuhi bilur-bilur merah.

"Ah, bukankah aku sudah memutuskan akan bertarung demi melindungi teman-temanku? Jadi, kupikir ada kalanya aku harus menerima serangan kawan sebagai gantinya. Akan merepotkan kalau aku malah kaku karena rasa sakit yang hebat saat itu. Makanya, aku minta Karen mencambukku."

Baron menjawab dengan tatapan mata serius tanpa keraguan sedikit pun. Karen pun menimpali dari belakang.

"Baron itu gerakannya cepat, jadi dia rekan latihan yang pas untukku. Tapi di tengah jalan aku mulai keasyikan, jadi tenaganya agak berlebih."

"Tidak apa-apa, awalnya memang sakit, tapi lama-lama aku mulai bisa menahannya. Malah di tengah tadi aku sempat berpikir ingin minta yang lebih keras lagi. Selanjutnya mohon bantuannya lagi ya!"

Yah, kalau atas dasar suka sama suka sih tidak masalah. Meski begitu, kupikir justru akulah yang lebih butuh latihan seperti itu. Anggota [Dawn] semuanya perempuan kecuali aku—partai harem, istilahnya. Aku tidak sudi melihat mereka terluka sedikit pun.

"Karen, Baron, aku juga mau latihan itu……"

Tepat saat aku hendak mengajukan diri untuk ikut ditempa, Clarice yang berada di sampingku dengan sigap mencengkeram lenganku dan menghentikanku.

"Tidak boleh! Mars saja yang jangan sampai ikut! Mars mungkin tidak tahu, tapi kamu punya banyak potensi…… termasuk bakat yang aku tidak ingin sampai mekar…… kumohon, jangan?"

Melihat permohonannya yang begitu tulus, aku pun refleks mengangguk. Seketika, ekspresi Clarice melunak dan ia tersenyum lega.

Tapi, sebenarnya apa maksudnya? Bakat yang tidak ingin sampai mekar……?

Saat aku sedang bersedekap mencoba memikirkannya, sebuah suara tajam bergema.

"Hei, kita tidak punya waktu untuk main-main!"

Aku menoleh dan melihat Sasha-sensei dengan wajah tegang. Di kejauhan sana, gerombolan monster sudah menanti. Namun, kami tidak panik. Karena sudah mengulangnya berkali-kali, rekan-rekanku sudah memahami peran masing-masing.

Karen mengayunkan cambuknya, memancing perhatian monster dengan suara lecutan yang tajam.

Di celah itu, Misha menghilangkan hawa keberadaannya dengan tenang dan menyelinap ke arah mangsanya.

Lalu, ia melancarkan tusukan dari titik buta, membuat monster itu tumbang tanpa sempat mengeluarkan erangan kematian.

Di sisi lain, Dominic bertarung dengan gagah berani di garis depan di bawah bimbingan Reiner-sensei.

Namun, yang menunjukkan kombinasi tak terduga adalah duet Baron dan Minerva.

Dulu, saat Baron berpasangan dengan Dominic, ego mereka sering berbenturan sehingga gerakannya tidak sinkron.

Tapi sekarang, tidak ada sedikit pun nada sumbang di antara mereka berdua.

Sambil memantau situasi sekitar, Baron akan merapalkan sihir tanah setiap kali bahaya mendekati Minerva, melindunginya layaknya sebuah perisai. Berkat tindakan dedikasinya itu, Minerva bisa berkonsentrasi penuh pada serangannya.

"Entah kenapa, sosok Baron yang sekarang—terasa mirip dengan Mars yang dulu."

Sambil memperhatikan kerja sama Baron dan Minerva, Clarice bergumam dengan suara yang penuh kerinduan.

"Dulu aku juga bertarung sambil dilindungi oleh Mars, persis seperti Minerva yang sekarang."

Mendengar ucapannya, ingatan tentang Labirin Granzam bangkit kembali. Jika dipikir-pikir, memang ada bagian yang tumpang tindih dengan kami di masa itu.

"Benar juga. Kalau mereka mirip dengan kita yang dulu—berarti kecocokan mereka berdua pasti luar biasa."

Saat aku membalasnya dengan tawa kecil yang bercanda, Clarice pun menyunggingkan senyum lembut dan melanjutkan bicaranya.

"Iya. Mereka harus berhasil, kalau tidak aku yang susah."

Sambil melirik mereka berdua, kami pun mulai bergerak lebih awal. Kali ini bukan sekadar pertarungan untuk meningkatkan kemahiran. Mencari tahu sumber kemunculan monster—itulah tujuan utama kami kali ini.

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, monster-monster itu berhasil dimusnahkan.

Kami memutuskan untuk membiarkan Reiner-sensei dan Bram-sensei tetap di sana, sementara kami maju ke arah timur, tempat monster-monster itu sering menyerang.

Kami meninggalkan mereka berdua demi mempertimbangkan pertahanan Kota Benteng Isaac.

Normalnya, mustahil kota benteng sekuat Isaac bisa jatuh. Meski begitu, tugas kamilah untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Apalagi setelah mendapat permintaan dari Baron Isaac, ini adalah keputusan yang diperlukan.

Aku dan Eris memimpin di depan, berjalan perlahan sambil mewaspadai keadaan sekitar.

Di tengah jalan, monster muncul secara sporadis, dan kami terus maju sambil menghabisi mereka tanpa kesulitan. Namun, Sasha-sensei tiba-tiba mengerutkan alisnya dan memiringkan kepala.

"Aneh…… kalau penyebabnya adalah Dungeon Overflow, seharusnya jumlah monster bertambah seiring kita mendekati sumbernya…… Selain itu, jika gerombolan sebesar itu muncul berkali-kali, sulit dipercaya kalau sumbernya sejauh ini. Padahal, tidak terlihat ada jejak labirin di mana pun……"

Ekspresi Sasha tampak tegang, dan dari nada suaranya pun terasa ada kejanggalan yang tak kasat mata. Kami juga tidak bisa menghapus perasaan yang sama, dan terus melangkah maju sambil membawa keraguan.

Setelah berjalan sekitar dua jam, kami menemukan tempat berteduh dan memutuskan untuk berhenti sejenak untuk beristirahat.

"Semuanya, dengarkan aku."

Saat semua orang memasang telinga, aku mengatur situasi dan memberikan instruksi.

"Aku ingin memastikan sumber monster di sini. Jika monster menyerang dari arah depan, berarti kita lurus saja. Namun, ada kemungkinan kita melewatkannya begitu saja. Tolong waspadai area sekitar dengan seksama!"

Semuanya mengangguk dan memperketat penjagaan. Dan setelah beberapa jam berlalu—akhirnya, sesuatu memecah keheningan dan menampakkan wujudnya.

"……Mars…… sesuatu…… datang……?"

Eris berbisik dengan suara rendah saat sedang berjaga. Merespons ucapannya, kami segera bersembunyi di balik bayangan pepohonan tempat kami beristirahat tadi.

Tiba-tiba, seolah merobek keheningan—sebuah gerbang raksasa yang diselimuti aura mengerikan muncul beberapa ratus meter di depan kami.

Dekorasi merah dan hitam memantulkan cahaya yang menyeramkan, dan keberadaannya terasa sangat mengintimidasi.

"―!"

Aku terkesiap karena terkejut, namun berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara. Bukan hanya aku, semua orang terpaku melihat pemandangan itu dan tidak bisa menyembunyikan keguncangan mereka.

Gerbang raksasa itu terbuka perlahan dengan suara yang berat. Pada saat itu, dari balik gerbang, monster yang tak terhitung jumlahnya melesat keluar dengan kecepatan bagaikan air bah.

Baron refleks hendak berdiri, namun aku menghentikannya dengan tangan.

"Tunggu! Gerbang ini adalah sihir! Pasti ada perapal sihir di dekat sini! Orang itu mampu mewujudkan sihir sebesar ini! Jangan bergerak sembarangan!"

Magic Eye-ku memberitahukan aliran mana yang mengalir ke gerbang tersebut. Di mana? Di mana sebenarnya sihir perapal itu bersembunyi?

Aku mencari di sekeliling dengan gigih, namun tidak menemukannya. Di tengah rasa cemas yang memuncak, Eris menarik pelan ujung baju kiriku.

"……Gerbang…… sesuatu yang kecil…… bergantungan…… kelelawar……?"

Mengikuti arah pandang Eris, aku memang melihat seekor kelelawar bergantung di bagian atas gerbang.

―Aneh. Tidak mungkin kelelawar biasa tidak terbang menjauh setelah melihat gerombolan monster itu.

"……Itu bukan kelelawar biasa."

Aku sulit percaya kalau makhluk sekecil itu memasok mana sebesar ini ke seluruh gerbang. Untuk memastikan, aku memfokuskan Magic Eye pada aliran mana…… dan ternyata dugaanku benar.

"Dengarkan! Kelelawar itulah yang memunculkan gerbangnya. Clarice, setelah aku menyerang, kamu juga harus menembak kelelawar itu dengan Magic Arrow. Sasha-sensei, mari kita jatuhkan dia bersamaku menggunakan Wind Cutter."

Mendengar instruksiku, Clarice mengangguk mantap sambil menarik busurnya. Sasha pun tanpa kata mengangkat kedua tangannya ke depan dan mulai mengolah mana.

Persiapan selesai. Sesaat, aku bertukar pandang dengan mereka berdua untuk memastikan niat masing-masing. Detik berikutnya, aku memusatkan mana ke tangan kanan dan melakukan tebasan tangan.

Bilah angin yang dilepaskan dari tanganku terbang lurus ke arah kelelawar itu. Hampir bersamaan, Magic Arrow Clarice melesat, diikuti oleh Wind Cutter Sasha yang seolah mengejarnya.

Kena―tepat di saat semua orang yakin akan hal itu.

Kelelawar yang seharusnya menerima serangan kami secara telak itu justru terbang dari gerbang. Di saat yang sama, gerbang yang memancarkan aura mengerikan tadi lenyap tanpa suara.

"Padahal seharusnya kena telak…… tapi dia masih bisa terbang?!"

Di depan kami yang terperangah, fenomena yang lebih sulit dipercaya lagi terjadi. Makhluk kecil yang menggeliat di depan mata kami itu mulai menggoyangkan garis luarnya seolah-olah bentuknya sedang mencair, dan ia mulai berubah wujud dengan cepat.

Perubahan itu sangat cepat, dan wujudnya sudah terbentuk sempurna bahkan sebelum aku sempat mencoba melancarkan serangan susulan.

Yang muncul di sana adalah―sosok manusia. Namun, ada sesuatu yang jelas-jelas asing.

Wajahnya pucat pasi yang mengerikan, dengan taring tajam yang menyembul. Di punggungnya terdapat sayap hitam pekat yang membentang seolah merobek kegelapan. Dan yang paling ganjil adalah—meski ia berada di bawah sinar matahari, ia tidak memiliki bayangan.

"Jangan-jangan…… vampir?" gumam Clarice dengan suara lirih sambil bibirnya bergetar.

Aku pun memikirkan hal yang persis sama. Apakah orang ini vampir?

Detik berikutnya, suara dingin yang menusuk tulang bergema di sekitar.

"Kaliankah itu? Yang berani melukaiku? Seragam itu…… Sekolah Nasional Lister, ya."

Pria itu mengarahkan tatapan tajamnya ke arah kami. Luka sayatan tipis terlihat di lengannya, dan darah menetes setetes demi setetes ke tanah. Aku sempat merasa lega sejenak melihatnya terluka, namun aku segera kehilangan kata-kata.

Luka itu―mulai tertutup. Perlahan, namun pasti.

"Kamukah itu?! Yang memanggil para monster ini?!"

Aku mencabut Pedang Petir Guntur dan melangkah maju satu langkah.

Bibir pria itu sedikit melengkung, menyunggingkan senyum dingin yang menantang. Di matanya terpancar ketenangan, seolah-olah ia sedang menertawakan kami. Dia jelas-jelas musuh. Dan ia pun pasti sudah menyadari permusuhan kami. Lebih baik aku melakukan Appraisal sebelum bertarung!


[Nama] Upier Barton

[Status] Baik

[Usia] 174

[Tahun Level] 75

[HP] 330 / 355

[MP] 702 / 980

[Strength] 254

[Agility] 204

[Magic] 224

[Dexterity] 44

[Durability] 204

[Luck] 1

[Special Abilities]

•       Magic Eye

•       Martial Arts C

•       Fire Magic C

•       Gate Magic F

•       HP Auto-Recovery C


Seorang iblis―kah?! Semua statistiknya selain Dexterity berada di atas ku. Ini musuh yang tangguh!

"Hm? Appraisal……? Bukan, ini bukan Appraisal biasa?"

Upier menyadari tindakanku dan menatapku dengan mata yang tajam. Begitu tatapannya menangkapku, aku merasa seperti sedang diintip. Namun, sepertinya statusku tidak terlihat di mata Upier.

"Tidak bisa di-Appraisal?! Apa maksudnya ini?!"

Upier mencoba berkali-kali untuk memeriksaku. Sepertinya dia juga tidak bisa melihat statusku. Karena itu, Upier menjaga jarak dariku. Sepertinya ia salah paham dan mengira aku adalah seorang pendekar pedang karena aku sudah menghunus pedang.

"Semuanya! Habisi monster-monster itu selagi sempat! Biar aku yang mengalahkan orang ini!"

"Mana mungkin kami membiarkan Mars sendirian! Kami juga akan—"

Baron membantah dengan suara keras. Namun, Sasha langsung memotong kata-katanya dengan tegas.

"Baron! Ikuti instruksi Mars! Hanya Clarice yang boleh tetap di sini! Itulah kerja sama tim kita yang sekarang!"

Baron menunjukkan ekspresi tidak puas, namun Sasha dengan paksa menarik lengannya dan menjauh. Di sisi lain, wajah Upier memerah karena marah mendengar kata-kataku yang ia anggap sebagai provokasi.

"Siswa ingusan sepertimu ingin mengalahkanku—akan kubuat kamu menyesali kata-kata itu di neraka! Flare!"

Flare memang memiliki daya hancur yang tinggi, namun butuh waktu untuk mewujudkannya. Mungkin di sela waktu itu, aku bisa mengganggunya dengan sihir angin. Namun, aku sengaja membiarkan Flare itu terwujud dan mengangkat tangan kiriku ke depan.

Itu adalah api yang benar-benar seperti api neraka. Magic Upier memang di atas ku. Namun, aku adalah [Wind King]. Aku yakin serangan itu bisa dibatalkan dengan satu tembakan Wind Impulse—begitulah dugaanku.

"Wind Impulse!"

Tapi, prediksiku terlalu optimis. Vision yang kulihat menunjukkan kenyataan bahwa sihirku memang bisa mengurangi momentum Flare, namun tidak sampai bisa membatalkannya. Kalau begini terus aku akan terdesak……!

Aku segera mengambil keputusan dan merapalkan sihir angin lagi.

"Wind!"

Pada saat itu, sihir yang keluar dari tangan kiriku berbenturan keras dengan Flare milik Upier, membuat area sekeliling bergetar. Berikutnya, giliran Upier yang terkejut.

"Apa?! Pendekar pedang bisa membatalkan Flare-ku?! Siapa sebenarnya kamu?!"

Ternyata benar, dia salah paham mengira aku adalah pendekar pedang. Meski begitu, Upier tidak meragukan keunggulannya yang mutlak.

"Hei, kalau kamu mau jadi bawahanku sekarang, aku akan menjamin nyawa semua orang di sini. Aku juga akan bicara baik-baik pada Nona Camilla."

Nona Camilla? Apakah itu atasannya? Untuk memancing informasi, aku mencoba berpura-pura bimbang.

"Hanya orang-orang di sini saja? Kalau kamu janji tidak akan menyerang Isaac, aku mungkin akan mempertimbangkannya!"

Upier sempat menunjukkan ekspresi bingung sejenak, namun ia segera kembali ke ekspresi dinginnya.

"……Baiklah. Namun, si rambut perak di sana. Hanya dia yang akan menjadi milikku. Setelah aku menghisap darahnya, aku akan memberinya anakku."

Kecantikan Clarice memang diakui secara nasional. Manusia, Beastman, Iblis…… tampaknya suku apa pun akan dibuat bertekuk lutut. Upier pun tidak terkecuali.

Logikaku paham kalau aku harus pura-pura menerima tuntutan itu demi memancing lebih banyak informasi. Namun, instingku tidak mengizinkannya.

"Jangan bercanda!"

Bersamaan dengan teriakan amarah itu, aku menyelimuti diri dengan Sylphid dan menerjang ke arah Upier. Pada saat itu, senyum tenang yang dingin tersungging di wajah Upier.

"Kamu, penyihir yang berpura-pura jadi pendekar pedang ya. Benar-benar trik yang licik……"

Upier mengamati gerakanku dan sepertinya ia langsung menyadarinya dalam sekejap. Hal itu menunjukkan betapa mencoloknya perbedaan Agility di antara kami.

Tapi aku pun paham. Satu-satunya peluang menang hanyalah dalam pertarungan jarak dekat―!

"Flare!"

Kamu mau adu sihir lagi? Aku mengangkat tangan kiri untuk menepisnya dengan sihir angin. Pada saat itu, Vision yang kulihat menunjukkan sosok Upier yang merangsek maju seolah bersembunyi di balik bayangan gumpalan api raksasa itu.

Flare itu hanyalah umpan!

Aku memindahkan tangan kiri yang tadinya di depan ke punggung, lalu menghunus Pedang Roh Api Salamander. Detik berikutnya, aku mengaktifkan sihir angin tanpa mantra.

(Wind Impulse!)

(Wind!)

Tepat saat aku membuang Flare itu ke angkasa, sosok Upier terlihat dalam pandanganku. Kuku panjangnya yang berubah tajam menusuk layaknya peluru, mengincar untuk menembus jantungku.

Meskipun ada Vision, reaksimu tidak bisa mengejar kecepatan ini! Bahkan jika aku melancarkan sihir petir, tidak akan sempat untuk menghentikan kuku itu—tidak, setidaknya jika aku bisa menggeser lintasannya dengan sihir angin!

Namun, Vision yang kulihat justru menunjukkan sosok Upier yang terpental oleh sesuatu. Tidak salah lagi! Ini adalah Barrier milik Clarice!

Kalau begitu, tidak ada alasan untuk takut pada terjangan Upier! Aku menebaskan Pedang Petir Guntur dalam satu gerakan, skill itu mengeluarkan kilatan emas yang sangat menyilaukan.

"Thunder Blade Rupture!"

Dalam sekejap, Upier terpental oleh Barrier, dan kilatan emasku menyerang tubuhnya.

Thunder Blade Rupture adalah skill Pedang Petir Guntur dengan waktu pemulihan satu menit. Meskipun jangkauannya pendek, namun ketajamannya luar biasa.

Ditambah dengan efek sengatan listrik, Upier yang memiliki Durability tinggi sekalipun seharusnya tidak bisa menghindari luka fatal―seharusnya begitu.

Tapi, Upier pun tidak akan kalah begitu saja. Sesaat sebelum Thunder Blade Rupture mengenainya secara telak, sosoknya terpecah menjadi kelelawar yang tak terhitung jumlahnya.

Kilatan emas menjatuhkan beberapa ekor kelelawar, namun sebagian besar mencoba terbang mengepakkan sayapnya ke langit.

Aku tidak akan membiarkannya.

"Fire Blade!"

(Tornado!)

Aku mengayunkan Pedang Roh Api Salamander dan membangkitkan angin puting beliung tanpa mantra. Angin puting beliung itu telah aku campur dengan bilah-bilah angin.




Kelelawar-kelelawar itu terbang kocar-kacir di tengah amukan badai, gerakan mereka perlahan mulai melambat dan tidak beraturan.

Akhirnya, Upier menyerah pada wujud kelelawarnya dan kembali berubah menjadi sosok manusia. Namun, kondisinya sekarang benar-benar mengenaskan.

Sayap hitam pekat di sisi kanannya telah hilang dari pangkalnya, dan lengan kanannya pun tertebas putus. Belum lagi luka besar di kaki kanannya yang membuatnya harus berjalan terseret.

Tampaknya, setiap ekor kelelawar tadi adalah bagian dari diri Upier sendiri. Niat hati ingin menghindari serangan dengan memecah diri, ia justru berakhir mengikis eksistensinya sendiri.

Upier berdiri mematung, dan di matanya tidak ada lagi ketenangan atau kesombongan seperti sebelumnya. Sebagai gantinya, terpancar rona yang bercampur antara rasa sakit dan keputusasaan.

"Masa…… oleh manusia rendahan sepertimu……!"

Suara Upier bergetar karena amarah, penghinaan, dan ketakutan.

Namun, lengan, sayap, dan luka di kakinya mulai beregenerasi sedikit demi sedikit. Aku tidak punya waktu untuk berleha-leha. Harus kuselesaikan sekarang juga!

Aku menepis keraguan dan memperpendek jarak. Upier berbalik dengan gemetar, mencoba untuk melarikan diri sepenuhnya.

Tetapi, kakinya belum pulih total dan masih terseret dengan menyedihkan. Akibatnya, ia tidak bisa lari dengan kecepatan yang diinginkan.

Tanpa kesulitan, aku berhasil memangkas jarak. Aku menyarungkan Pedang Petir Guntur dan memasang kuda-kuda dengan tangan kanan.

Tentu saja, aku menggunakan sihir ini.

"Lightning!"

Mana berwarna emas menyelimuti seluruh tubuhku dan dalam sekejap terkonsentrasi di tangan kanan.

Sebelum Upier yang didera ketakutan sempat melancarkan perlawanan terakhir, kilatan petir emas menembus tubuhnya.

Seketika, suara guntur menggetarkan udara, menjadi lonceng pertanda berakhirnya pertarungan.

Upier dalam kondisi sekarat setelah menerima Lightning secara telak. Efek sengatan listriknya begitu hebat hingga ia bahkan tidak bisa menggerakkan alisnya.

Demi kepastian, aku menempelkan Pedang Petir Guntur ke lehernya, melakukan Enchant sihir petir, dan terus mengalirkan listrik. Dengan bantuan Vision, aku tidak memberinya celah sekecil apa pun untuk membalikkan keadaan.

Aku memanggil anggota tim yang sudah selesai menghabisi monster lainnya.

"Semuanya! Kemari! Eris, tetap waspada. Sasha-sensei, tolong pastikan sekitar dengan Search!"

Saat semua orang berkumpul, aku berucap dengan tekad yang mantap di dalam dada.

"Aku akan memberikan serangan pamungkas padanya!"

Mendengar itu, rekan-rekanku mengangguk kuat secara serempak.

"Aku siap menanggung status kriminal jika membunuhnya. Tapi, jika kalian juga dianggap sebagai kaki tangan, aku ingin kalian berpura-pura tidak tahu apa-apa!"

Aku berseru dengan penuh ketetapan hati. Upier adalah ras Iblis (Magic 'Person'), bukan monster.

Dia adalah 'orang'. Jika dia dianggap setara dengan monster, maka Eris yang merupakan ras Beastman pun akan masuk ke dalam kategori yang sama—logika seperti itu tidak akan pernah aku terima.

Dalam keheningan, yang menjawab pertanyaanku adalah Baron, lalu Karen.

"Tidak, faktanya dia jelas-jelas melakukan tindakan bermusuhan terhadap Federasi Lister! Alih-alih dihukum, kamu justru seharusnya diberi penghargaan!"

"Atas nama keluarga Duke Fleswald, aku menyatakan! Mars ataupun kita tidak akan pernah dituntut atas kejahatan apa pun!"

Dominic maju selangkah dan menekankan suaranya.

"Vampir harus benar-benar dimusnahkan! Kerajaan Suci Deadore hancur oleh mereka…… Jika Mars tidak mau menghabisinya, biar tanganku sendiri yang mengirimnya ke liang lahat!"

Di wajah Dominic, tersirat dendam yang sangat kuat. Sambil berterima kasih dalam hati kepada mereka, aku memperkuat tekadku sendiri.

"Semuanya, terima kasih. Sasha-sensei, bisakah yang lain menjauh sebentar? Aku tidak ingin mereka melihat pemandangan ini…… Maaf, Sensei, tapi Anda harus……"

Memahami niatku, Sasha menyela dengan tenang.

"Baiklah. Aku sudah terbiasa. Kalian semua, menjauhlah."

Sesuai instruksi Sasha, rekan-rekanku meninggalkan tempat itu. Sesaat mataku bertemu dengan Clarice.

Tatapannya seolah meneriakkan sesuatu. "Aku juga ingin tetap di sini!", keinginan kuat itu tersampaikan dengan jelas meski tanpa kata-kata.

Namun, hanya Clarice yang benar-benar tidak ingin kulihat pemandangan ini. Aku menggelengkan kepala pelan dan memberi isyarat mata pada Eris.

Eris segera mengerti; ia memegang tangan Clarice dengan lembut dan membawanya pergi. Bayangan Clarice yang menoleh ke belakang menusuk hatiku, namun tekadku tidak goyah.

Keheningan akhirnya tiba. Di bawah pengawasan Sasha, aku mencengkeram kembali Pedang Petir Guntur, memberikan sedikit tenaga—sesaat kemudian, Level-ku naik, dan dunia seketika berubah menjadi putih bersih―




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close