Chapter 1
Clan
15
September 2032
"Hah……
hah…… aku berhasil…… akhirnya, aku bisa lari sampai finis……"
Di bawah langit yang bahkan belum menyambut fajar, Misha menjatuhkan dirinya ke atas rumput dengan sangat lega seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis. Napasnya terengah-engah, namun rona kepuasan dan kelegaan terpancar jelas di wajahnya.
―Sejauh
ini sudah setengah tahun berlalu sejak upacara penerimaan siswa baru. Inilah
momen di mana tumpukan usaha keras akhirnya membuahkan hasil.
Bagi kami yang terus memperhatikan kegigihan Misha,
kegembiraan ini terasa begitu istimewa.
Terutama Clarice, ia langsung menjatuhkan diri di samping
Misha yang basah oleh keringat. Sambil mendekapnya erat, air mata tampak
menggenang di mata sapphire blue-nya saat mereka berbagi kebahagiaan
itu.
Di sisi lain, aku terus melanjutkan mass-sparring
melawan Eris.
Aku bisa merasakan gerakanku sendiri sudah jauh lebih
baik. Namun, dunia tidaklah semanis itu sampai-sampai aku bisa mengimbangi Eris
hanya dengan modal peningkatan tersebut. Tinju
Eris berkali-kali mendarat di daguku, sementara seranganku ditepis dengan
begitu ringan.
Dan pada akhirnya, seperti biasa, aku dikunci
habis-habisan dengan teknik Kami-Shiho-Gatame.
"Nah,
Eris? Nanti dimarahi Clarice lagi lho. Mars juga, jangan keenakan karena
wajahmu terlalu dekat dengannya, ya?"
Karen
yang tadinya kehabisan napas karena maraton, kini sudah mengatur napasnya
kembali dan menyela kami, mengakhiri latihan pagi berempat hari ini.
Sambil
menghirup udara pagi dalam-dalam, aku melangkah sendirian menuju asrama putra.
Di
sana, aku berpapasan dengan Gon dan Karl yang baru saja keluar dari asrama.
"Gon? Karl? Ada apa, tumben jam segini sudah
rapi?"
Saat aku menyapa dengan santai, Gon menjawab dengan nada
suara yang satu oktaf lebih tinggi dari biasanya, terdengar begitu bersemangat.
"Ouh! Mulai hari ini kami naik tingkat ke Kelas D!
Kami mau latihan mandiri sekarang demi mencapai puncak yang lebih tinggi! Hari
ini juga kami berpisah dengan seragam tanpa warna ini! Suatu saat kami akan
menyusulmu, jadi tunggulah di sana!"
Suara Gon penuh dengan motivasi, dan ekspresinya
memancarkan kepercayaan diri yang kuat serta binar harapan.
Setelah menyelesaikan maraton, aku melatih otot-ototku di
kamar, menyiksa tubuh hingga batas maksimal. Kemudian aku sarapan di asrama dan
berangkat ke sekolah.
Setelah semua murid berkumpul di kelas, Lorenz sang wali
kelas membuka suara dengan seringai tipis di wajahnya.
"Nah—sesuai yang kukatakan sebelumnya, hari ini kita
akan melakukan Pertarungan Peringkat. Sudah lebih dari setengah tahun sejak
kalian masuk, jadi tunjukkan padaku seberapa besar pertumbuhan kalian selama
periode ini."
Ngomong-ngomong, sepertinya Kelas S kami tidak akan
mengadakan pertandingan antar kelas untuk sementara waktu. Alasannya, tidak
mungkin menurunkan kami yang sudah meraih hasil luar biasa di TurNaman Seni
Bela Diri Siswa Baru ke Kelas A.
Tempat yang dituju Lorenz adalah arena pertandingan yang
sama dengan tempat Pertarungan Peringkat setengah tahun lalu.
Begitu menginjakkan kaki di arena, Sasha, Reiner, dan
Bram sudah menunggu di sana. Sepertinya mereka juga akan menonton pertarungan
kami.
"Kalau begitu—pertama, dari Peringkat Delapan,
Minerva! Apakah kamu ingin menantang Misha?"
Misha dan Minerva sering melakukan simulasi tanding saat
pelajaran karena sesama perempuan, namun dalam hal bela diri maupun sihir,
Misha jauh lebih unggul beberapa tingkat.
"Tidak, saya tetap di posisi ini saja."
Minerva menolak tantangan tanpa ragu sedikit pun.
Kemudian pandangan Lorenz beralih kepada Misha.
"Bagaimana dengan Misha? Apa kamu mau menantang
Dominic?"
Mendengar pertanyaan itu, Misha tersenyum lebar sambil
menggenggam tombak kayu di satu tangannya dan menjawab dengan riang.
"Iya! Aku ingin bertarung melawan Dominic!"
Dominic yang menerima tantangan itu pun tampak
senang. Ia mengambil pedang kayu dan memasang kuda-kuda.
"Sudah lama ya, Misha. Kamu adalah lawan yang
sepadan—mari kita lakukan sepuasnya."
Nilai Strength
dan Agility mereka berdua hampir setara. Karena itu, secara umum orang
akan berpikir bahwa Dominic yang memiliki level Swordmanship lebih
tinggi akan menang berkat pengalamannya.
Namun, hasilnya mengkhianati ekspektasi banyak orang.
"—Mulai!"
Begitu aba-aba Lorenz menggema, Misha langsung
menerjang maju secepat angin.
Dominic bereaksi seketika dan menangkis serangan
tombak itu dengan pedang kayunya.
Namun, Misha tidak membiarkan momentumnya hilang
begitu saja; ia memutar tombaknya dan menusuk ke arah atas dengan gerakan
mengeruk. Serangan yang memanfaatkan jarak serta panjang dan kecepatan tombak
itu menjadi ancaman bagi Dominic sejak awal laga.
"Kh……!"
Dominic mundur sambil menghindari ujung tombak dan
mencoba melakukan serangan balik, tapi tombak Misha terus bergerak sambil
menjaga jarak. Setiap kali Dominic mencoba mendekat, ujung tombak itu akan
mengincarnya dengan akurat begitu ia melangkah maju.
"Jarak
serangnya terlalu luas…… kalau begitu—!"
Dominic
memantapkan tekad, mengambil posisi rendah, dan merangsek maju untuk
memperpendek jarak dalam sekali hentakan.
"Kena
kau!"
Pedang
kayu Dominic diayunkan mengincar bahu Misha—tapi pada saat itu, Misha melangkah
lebar dengan satu kaki sambil memutar gagang tombaknya, menangkis pedang kayu
itu dari samping. Begitu pedang Dominic melenceng dari jalurnya, ujung tombak
Misha sudah tertuju tepat di depan tenggorokan Dominic.
"……!?"
Keringat
dingin mengalir di dahi Dominic yang gerakannya kini terkunci total.
"Pertandingan
berakhir!"
Suara
Lorenz menggema di seluruh arena, disusul sorakan pujian dari teman-teman yang
menonton.
Sasha juga tampak melunakkan tatapannya melihat
kemenangan gemilang putri tercintanya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bangga
sebagai seorang ibu dan menunjukkan senyum yang lembut.
Di sisi lain, Reiner segera menghampiri Dominic yang
kalah untuk memberikan umpan balik yang tepat.
Dominic mendengarkan kata-kata Reiner dengan tatapan
serius, mencamkan setiap kalimatnya agar tidak terlewat sebagai bahan pelajaran
untuk hari esok.
"Misha, berikutnya adalah Baron. Apa kamu akan
menantang?"
Mendengar pertanyaan Lorenz, Misha mengangguk mantap
tanpa ragu.
Sementara itu, Baron yang namanya dipanggil juga
sepertinya telah mengakui Misha sebagai rival setelah melihat pertandingan
tadi. Ia memasang kuda-kuda sambil tersenyum menantang.
"Tak kusangka kamu sudah bisa mengalahkan
Dominic…… baiklah. Majulah!"
Baron menggenggam pedang kayu di tangan kanan,
sementara tangan kirinya menjulur ke depan dengan posisi badan menyamping. Ketajaman
tatapan dan sikap berdirinya menunjukkan keseriusannya dalam pertarungan ini.
Tapi—Baron belum mengetahui kekuatan Misha yang
sebenarnya sekarang.
Begitu Lorenz mengayunkan tangan tanda dimulainya
pertandingan, suasana di atas ring berubah drastis dari pertarungan jarak dekat
tadi menjadi pertarungan sihir yang menegangkan.
Baron mungkin berencana menghindari jarak jangkauan
tombak Misha dan menghabisinya dengan sihir andalannya. Namun, rencana itu
hancur berantakan dalam sekejap.
"Apa!? Kekuatan sihir Misha setara denganku!?"
Sihir keduanya berbenturan keras dan menghilang menjadi
kabut.
Mata Baron membelalak terkejut melihat pertumbuhan Misha
yang bisa dibilang tidak normal.
"Baron! Kejutan yang sebenarnya baru akan
dimulai!"
Suara Misha menggema membelah angin. Dan kemudian, ia
merapalkan sihir itu.
"Sylphid!"
Seketika, seluruh tubuh Misha dibalut oleh jubah angin,
dan ia melesat ke arah Baron dengan kecepatan seperti badai.
Karena gerakan yang tak tertangkap mata itu, reaksi Baron
terlambat sekejap—celah yang sudah lebih dari cukup untuk menentukan
kemenangan.
Sebelum ia sadar, ujung tombak Misha sudah tertuju dengan
tenang di leher Baron.
"Cukup!"
Suara Lorenz menggema tinggi di arena.
"Pemenangnya! Misha!"
Semua orang heboh melihat kejutan besar yang tak terduga
ini.
Namun,
di antara semuanya, yang paling terkejut dan menahan napas adalah sang ibu,
Sasha.
"Misha……
mengalahkan sang [Northern Brave] Baron……?"
Ia
terbelalak seolah melihat sesuatu yang mustahil, tanpa sadar menutup mulutnya
dengan tangan yang gemetar.
Sementara
itu, Dominic menghampiri Baron yang masih berdiri terpaku. Reiner dan Bram pun bergabung, sehingga mereka berempat mulai
mengadakan diskusi evaluasi.
Di mata mereka yang sedang meninjau kembali
pertarungan tadi demi kemajuan berikutnya, bersemayam api semangat tempur.
"Nah, Misha. Berikutnya Karen, bagaimana?"
Mendengar pertanyaan Lorenz, Misha kembali menjawab
seketika.
"Saya menyerah saja. Saya tidak mau berubah jadi
arang."
Begitu ia mengatakannya dengan nada bercanda,
pandangan Lorenz beralih ke Karen. Namun Karen sepertinya juga tidak berniat
menantang Eris, dan Eris pun tidak menantang Clarice. Clarice juga tidak
menantangku, sehingga Pertarungan Peringkat berakhir hanya dengan pertandingan
Misha.
Dan akhirnya, peringkat final pun dipastikan seperti
ini:
Peringkat 1: Mars Bryant Peringkat 2: Clarice Lampard
Peringkat 3: Eris Leo Peringkat 4: Karen Lionel Peringkat 5: Misha Febrant
Peringkat 6: Baron Reinhardt Peringkat 7: Dominic Augus Peringkat 8: Minerva
Zebius
Keesokan
harinya. Saat aku sedang menikmati makan siang bersama Clarice dan yang
lainnya, tiba-tiba Baron menyapaku.
"Mars,
bisa bicara sebentar?"
Ekspresinya
sangat serius, kepercayaan diri yang biasanya ia tunjukkan kini seolah
tersembunyi.
Aku
berdiri mengikuti ajakan Baron dan berjalan di belakangnya. Tempat yang kami
tuju adalah aula olahraga yang sepi. Di ruang yang diselimuti keheningan itu,
hanya suara rendah Baron yang terdengar.
"Mars……"
Ia
menatap mataku lekat-lekat sebelum menyambung kata-katanya.
"Kekuatan
[Dawn]—kecepatan pertumbuhan kalian itu tidak normal. Dan semua
anggotanya mengakui bahwa kamulah yang terkuat. Karena
itu……"
Baron mengepalkan tinjunya, melanjutkan kalimatnya seolah
sedang memeras kata-kata.
"Maukah kamu menunjukkan kekuatan aslimu padaku?
Kalau terus begini, aku merasa tidak akan pernah tahu seberapa jauh perbedaan
kita sebenarnya seumur hidupku. Kumohon!"
Di matanya terpancar tekad yang tak tergoyahkan dan
kegelisahan yang tak terbendung.
"……Baiklah. Akan kutunjukkan sejauh yang bisa
kulihatkan."
Wajah Baron tampak sedikit tidak puas. Namun ia tidak menyela, melainkan mengangguk dengan tatapan serius.
Menanggapi tatapan itu, aku memasang kuda-kuda ringan
lalu membuka suara.
"Kalau begitu, aku datang—! Sylphid!"
Mengenakan jubah angin, tubuhku berakselerasi seketika
dalam sekejap.
Mata Baron tidak mampu menangkap sosokku yang berlari
tanpa suara di atas lantai aula. Aku melesat di sekelilingnya bagaikan angin
puyuh, mempermainkannya dengan kecepatan yang bahkan mengguncang indra
penglihatannya.
"Ap—!?
Ini—angin ini…… Wind Magic!? Bukannya Mars itu pengguna sihir api
seperti Ike!?"
Mengabaikan
wajah Baron yang terperangah, aku melepaskan Sylphid dan berdiri di
depannya.
Baron
masih menatapku dengan bingung, tapi tanpa menjawab pertanyaannya, aku
merapalkan sihir lebih lanjut.
"Stone
Wall!"
Begitu
dinding batu berdiri di depanku, aku meluncurkan sihir bertubi-tubi.
"Fireball!"
"Ice Arrow!" "Kamaitachi!"
Tiga
atribut api, air, dan angin menghantam dinding batu itu satu demi satu dengan
dentuman keras. Baron benar-benar terpaku melihat serangan beruntun tersebut.
"Mustahil—!?
Mars yang melampaui Dominic dan kini bahkan disebut sebagai [Sword Saint],
ternyata bisa menggunakan keempat elemen sihir!?"
Suara
Baron dipenuhi keterkejutan dan kebingungan.
"Seperti yang kamu lihat, aku bisa menggunakan
keempat elemen sihir sama sepertimu. Sihir andalanku adalah angin dan aku memiliki gelar Wind
King. Ngomong-ngomong, sihir yang digunakan Misha di akhir Pertarungan
Peringkat juga aku yang mengajarkannya. Sylphid milik Misha masih belum
sempurna karena durasinya sangat singkat."
Mendengar
kata-kataku, Baron menunduk seolah perlahan mulai menerima kenyataan, lalu ia
mendongak kembali. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya setelah itu adalah
sesuatu yang tak terduga.
"Kumohon!
Biarkan faksi kami bergabung ke dalam Klan kalian! Pertumbuhan Misha sejak
masuk [Dawn] itu luar biasa! Aku juga tahu kemampuan Karen sudah
meningkat pesat! Biarkan aku…… biarkan kami juga masuk ke lingkungan itu!"
Sosok Baron saat mengucapkan itu tidak lagi memiliki
sisa-sisa kepercayaan diri yang dulu. Ia tampak memohon dengan tekad untuk
mempertaruhkan segalanya.
"Tentu. Mari berjuang bersama. Tapi aku belum
terlalu paham soal apa itu Klan. Apakah benar jika itu adalah perkumpulan yang
membawahi dua faksi atau lebih?"
Baron mengangguk mantap menanggapi pertanyaanku.
"Lagi pula aku belum pernah mendengar nama faksi
milik Baron. Anggotanya adalah Dominic dan Minerva, benar kan?"
"Benar. Nama faksi kami adalah [Genesis].
Sekarang anggotanya baru aku, Dominic, dan Minerva, tapi mohon
bantuannya!"
Aku menyambut tangan Baron yang membungkuk hormat dan
menjabatnya dengan erat.
"Dimengerti. Mari kita lakukan bersama."
Sambil belajar tentang seluk-beluk Klan dari Baron,
kami kembali ke ruang kelas.
Pelajaran sore hari terasa berbeda dari biasanya. Di
hadapan kami yang mengira ini adalah pelajaran sihir, tidak hanya ada Sasha,
tapi juga Lorenz, Reiner, Bram, dan yang mengejutkan, Duke Regan juga ada di
sana.
Sebelum pelajaran dimulai, Duke Regan memberikan
penjelasan kepada kami.
"Saya menerima laporan dari Lorenz bahwa
pertumbuhan kalian luar biasa cepat. Karena itu, mulai sekarang kami memutuskan
untuk mengajarkan bela diri dan sihir secara bersamaan demi latihan yang lebih
praktis."
Begitu rupanya. Itulah alasan Reiner dan Bram juga
ada di sini. Tapi, apakah ada alasan lain kenapa Duke Regan sendiri
sampai harus menampakkan diri hanya untuk mengatakan hal itu? Sambil menyimpan
keraguan, pelajaran dimulai.
Aku beradu pedang dengan Reiner, sementara Clarice
melakukan pertarungan sihir melawan Sasha.
Eris dan Misha melakukan simulasi tanding sambil bergerak
lincah ke sana kemari, sementara Baron dan Dominic seperti biasa berusaha
meningkatkan kerja sama mereka.
Di saat Minerva meminta bimbingan ilmu pedang dari Bram,
hanya Karen yang menyendiri untuk mengasah konsentrasinya, berlatih mengayunkan
cambuk sambil mempertahankan Fireball yang melayang.
Melakukan tindakan lain sambil mewujudkan sihir itu
sulit, tapi setelah melihatku mengayunkan pedang sambil menggunakan sihir
angin, ia sadar bahwa hal itu bukan tidak mungkin, dan belakangan ini ia terus
berlatih seperti itu.
Duke Regan yang memperhatikan jalannya pelajaran kami
bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. Tolong hentikan aktivitas kalian sejenak."
Mendengar perintah itu, kami segera berhenti dan
menghadap ke arah Duke Regan.
"Kalian memiliki kemampuan yang luar biasa untuk
ukuran siswa tahun pertama. Di antara kalian bahkan ada yang sudah setara
dengan petualang Peringkat B."
Sambil berkata demikian, pandangan Duke Regan tertuju
lurus kepadaku.
"Oleh karena itu, saya ingin meminta faksi [Dawn]
untuk mengambil Nominated Quest (Quest Penunjukan)."
Begitu ya. Alasan Duke Regan bersusah payah datang ke
sini adalah untuk membicarakan hal ini. Aku maju selangkah dan bertanya.
"Saya mengerti. Quest seperti apa itu?"
Merespons pertanyaanku, Duke Regan terus menjelaskan
sambil tersenyum.
"Terima kasih. Saat ini, kami telah mengirimkan dua
faksi dari Kelas A tahun kelima ke wilayah Baron Isaac. Quest mereka adalah
membantu pengiriman logistik untuk Ksatria Fleswald dan Ksatria Isaac yang
sedang berkemah di Hutan Kematian. Normalnya quest ini seharusnya sudah
selesai, namun perkembangannya terhambat karena peningkatan jumlah monster.
Terlebih lagi, siswa tahun kelima harus segera mempersiapkan diri untuk
Festival Dewa Perang yang akan datang. Karena itu, saya ingin [Dawn]
mengambil alih quest ini."
Wilayah Baron Isaac terletak di sebelah utara wilayah
Duke Regan, dan fakta bahwa Hutan Kematian membentang lebih jauh ke utara
adalah materi yang sudah kami pelajari di kelas.
Tapi, aku tidak terlalu paham soal apa itu Festival Dewa
Perang. Sasha yang menyadari hal itu pun memberitahuku dengan lembut.
"Festival Dewa Perang adalah turNaman bela diri yang
diikuti oleh seluruh siswa Sekolah Nasional Lister. Bagi siswa tahun kelima
yang akan lulus tahun ini, ini adalah panggung terakhir mereka. Karena para
bangsawan akan datang menonton, ini adalah kesempatan penting untuk memamerkan
kekuatan mereka demi masa depan."
Dengan kata lain, turNaman ini bukan sekadar ajang adu
kekuatan, melainkan panggung terakhir bagi para siswa tahun kelima untuk
menunjukkan nilai mereka. Hasil di sini akan sangat memengaruhi jalan hidup
mereka ke depannya.
Bagi sekolah, akan lebih ideal jika siswa tahun kelima
yang bersinar daripada tahun pertama. Menghasilkan lulusan yang unggul akan
menjadi reputasi sekolah, yang nantinya akan menarik talenta-talenta baru.
—Namun, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku.
"Apakah hanya kami, faksi [Dawn], yang akan
menjalankan quest ini?"
Ini adalah quest yang membuat dua faksi Kelas A tahun
kelima pun kesulitan. Jika hanya kami yang pergi, itu terlalu berbahaya. Aku
tidak berniat membiarkan Clarice atau Eris dalam bahaya, dan tentu saja aku
bermaksud menjaga keselamatan Karen dan Misha juga.
Menanggapi pertanyaanku, Duke Regan menjawab dengan
senyum tenang.
"Tentu saja tidak. Sasha, Reiner, dan Bram juga
akan ikut mendampingi. Quest ini bukan sekadar pengiriman logistik, tapi tugas
praktis yang juga mencakup pembasmian monster."
Mendengar itu, aku merasa sedikit lega. Kalau
dipikir-pikir, mana mungkin Sasha membiarkan Misha dalam bahaya.
Di tengah pembicaraan itu, Baron maju selangkah dan
bersuara.
"Duke Regan! Bolehkah kami dari [Genesis]
juga ikut serta? Kami telah memutuskan untuk bergabung dalam Klan yang dibentuk
oleh [Dawn]! Jika begini terus, kami bertiga akan tertinggal di Kelas
S!"
Mendengar permintaan Baron, Duke Regan tampak
berpikir sejenak. Beliau melirik Sasha, Reiner, dan Bram, yang kemudian
mengangguk tanpa suara. Terakhir beliau menatapku, dan aku pun memberikan
anggukan.
"……Baiklah. Saya izinkan kalian ikut. Tingkat
ancaman monster yang terkonfirmasi paling tinggi adalah Peringkat D. Saya rasa
kalian sanggup bertarung, tapi jangan lengah. Para guru,
tolong perhatikan keselamatan mereka baik-baik. Siswa adalah harta karun."
Setelah memberi peringatan kepada Sasha dan para guru
lainnya, Duke Regan kembali menatap kami.
"Besok, datanglah ke ruang kepala sekolah. Ada
beberapa prosedur yang harus diurus terkait pendirian Klan."
Setelah meninggalkan pesan itu, Duke Regan pergi dari
arena.
Setelah pelajaran berakhir, dalam perjalanan kembali ke
kelas, Clarice bertanya sambil menatap wajahku.
"Hei? Apa benar kita akan membuat Klan bersama Baron
dan yang lainnya?"
Saat mata kami tak sengaja bertemu, suara detak jantungku
menjadi sangat keras hingga aku bisa mendengarnya sendiri. Aku merasa wajahku
memanas dan hampir saja memalingkan muka, tapi aku berusaha menahannya.
"Eh?
A-ah…… apa kamu tidak suka?"
Aku
berusaha keras menutupi kegugupanku, tapi sudah pasti wajahku memerah padam.
Entah
Clarice menyadari tingkahku atau tidak, ia tersenyum lembut.
"Bukan
begitu. Aku sempat kepikiran karena Minerva adalah satu-satunya perempuan Kelas
S yang tidak masuk [Dawn]. Kalau kita pergi menjalankan quest, dia
akan sendirian di ruangan luas itu, kan? Tapi kalau dalam Klan yang sama,
kesempatan untuk pergi bersama akan meningkat."
Aku tidak terpikirkan sampai ke sana, tapi Clarice benar.
Misha yang ikut mendengarkan langsung menepuk
tangannya dengan mata berbinar.
"Benar banget! Setuju! Pasti seru kalau ada
Minerva, ke depannya bakal makin asyik nih!"
Sepertinya bagi dia, quest kali ini terasa seperti
liburan.
Lalu seolah teringat sesuatu, ia mendongak dan
suaranya makin riang.
"Ah! Ayo kita pikirkan nama Klannya! Sepulang
sekolah nanti kita kumpul di tempat makan dan tentukan bersama!"
Melihat Misha yang terus melaju seolah hal itu sudah
diputuskan, aku dan Clarice hanya bisa saling pandang dan tertawa kecil.
Akhirnya usul Misha disetujui dengan suara bulat. Yah, aku juga tidak benci hal
seperti ini—malah aku termasuk yang suka.
"Baiklah! Kalau begitu sampai saat itu tiba, kalian
semua pikirkan nama Klan seperti apa yang bagus."
Merespons seruanku, semua orang mengangguk senang dan
menjawab dengan riang.
"Nama
Klannya…… [Akatsuki], ya……"
Keesokan harinya, segera setelah bimbingan kelas selesai,
kami menuju ke ruang kepala sekolah. Tujuannya adalah melaporkan nama Klan yang
telah didiskusikan dan diputuskan oleh semua anggota kemarin kepada Duke Regan.
"Benar. Bagaimana menurut Anda……"
Saat aku bertanya dengan sedikit tegang, Duke
tersenyum.
"Saya rasa itu nama Klan yang bagus. Namun,
setelah berdiskusi dengan Guild Master kemarin, kami sampai pada
kesimpulan bahwa pendirian Klan sebaiknya ditunda sedikit lagi."
Mendengar kata-kata yang tak terduga itu, suasana
seketika menjadi tegang. Tak pernah terpikirkan dalam mimpi pun kalau kami akan
ditolak. Baron maju selangkah ingin membantah, tapi Duke mengangkat tangan
menghentikannya.
"Saya tahu apa yang ingin Baron katakan. Tapi,
dengarkan dulu penjelasan saya."
Mendengar itu, Baron pun menutup mulutnya.
"Tidak ada syarat mutlak untuk mendirikan Klan.
Namun, ada sebuah tradisi. Yaitu, faksi induk minimal harus berada di Peringkat
B."
Duke Regan mulai bercerita dengan ekspresi yang
sedikit serius.
"Ini kejadian yang sudah cukup lama, pernah ada
yang mendirikan Klan besar hanya di atas kertas. Mereka mengandalkan jumlah
orang dan dengan nekat mencoba menantang Hutan Kematian. Namun tentu saja
mereka musnah total. Tidak hanya itu, mereka memancing amarah monster di dalam
hutan sehingga menyebabkan kerusakan besar pada ksatria yang sedang berkemah di
dekat sana."
Clarice menutup mulutnya mendengar cerita Duke Regan.
"Saya paham kalau kalian sudah cukup kuat. Namun,
ada tanda tanya mengenai kemampuan penilaian kalian di saat darurat. Pengalaman
kalian sebagai petualang masih sangat dangkal."
Tidak ada nada penghinaan atau celaan dalam kata-kata
tersebut, melainkan murni sebuah kekhawatiran.
"Dalam quest kali ini, tolong tunjukkan bukan hanya
kekuatan, tapi juga kemampuan dalam memimpin faksi. Jika kalian berhasil, saya
berjanji akan menaikkan Mars ke Petualang Peringkat C—dan menaikkan peringkat [Dawn]
menjadi faksi Peringkat B."
Pandangan Duke tertuju lurus padaku hingga akhir. Matanya
menyampaikan beratnya sebuah ekspektasi dan ujian.
—Dengan kata lain, semuanya akan ditentukan oleh hasil
kali ini. Tanggung jawab ada di pundakku.
"Saya mengerti. Kalau begitu, saya akan memimpin [Dawn]
dan [Genesis] dengan baik dalam quest kali ini."
Begitu aku menunjukkan tekadku, Duke Regan mengangguk
puas.
"Iya. Saya menantikannya. Sasha, Reiner, Bram.
Kalian bertiga juga sebisa mungkin jangan ikut campur dan ikutilah instruksi
Mars. Tapi jangan lupa bahwa prioritas utama adalah nyawa kalian."
Sambil membawa tekad di dalam hati, aku meninggalkan
ruang kepala sekolah, diikuti suara langkah kaki di belakangku. Tanpa menoleh
pun, aku tahu semua orang mengikutiku. Sikap mereka menunjukkan kepercayaan dan
ekspektasi yang besar kepadaku.
Sambil memantapkan tekad dengan kuat di dalam diri, aku melangkahkan kakiku maju.



Post a Comment