Chapter
2
Kota
Benteng Isaac
Pagi-pagi buta, kami melewati gerbang utama Sekolah
Nasional Lister yang diselimuti udara segar, diiringi lambaian tangan Duke
Regan dan yang lainnya.
Dua kereta kuda telah disiapkan untuk perjalanan ini.
Masing-masing dihiasi dekorasi mewah; ukiran lambang buku keluarga Duke Regan
dan lambang api keluarga Duke Fleswald—keluarga Karen—terpahat gagah di sana.
Awalnya kukira anggota [Dawn] akan menempati satu
kereta, sementara [Genesis] dan para guru di kereta lainnya. Namun,
terjadi perubahan rencana. Sasha dan Minerva justru masuk ke kereta kami.
Yah, wajar jika Sasha ingin terus mengawasi Misha. Dan
karena Sasha pindah ke sini, Minerva akan menjadi satu-satunya perempuan di
kereta sebelah, jadi pengaturan ini memang terasa lebih masuk akal.
Begitu kereta meninggalkan kota Regan, Clarice yang duduk
di sebelah kananku menarik tangan kananku ke atas pangkuannya, lalu mendekapnya
lembut dengan kedua tangan. Jantungku seketika berdegup kencang tak keruan.
Eris yang melihat itu tidak mau kalah dan menarik tangan
kiriku. Tak cukup sampai di situ, dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan
mulai mengeluarkan deru napas tidur yang menggemaskan.
Di depanku, Karen, Misha, Sasha, dan Minerva duduk
berhadapan sambil mengobrol santai dengan Clarice. Kalau ada yang melihat
situasi ini, aku pasti bakal diejek sebagai Harem King lagi. Rasanya agak
memalukan.
Untuk menuju wilayah Baron Isaac dari wilayah Duke Regan,
kami harus melewati ujung timur wilayah Duke Fleswald.
Keluarga Duke Fleswald adalah bangsawan agung yang
membanggakan kekuatan militer nomor satu di benua ini, dan wilayah mereka
sangat luas. Meski ibu kota Freya terletak di barat laut, rute menuju utara
tetap tidak bisa menghindari wilayah mereka.
Begitu memasuki wilayah Duke Fleswald, kami disambut oleh
pos pemeriksaan yang dijaga ketat.
Para ksatria berbaju zirah merah perak berdiri tegak,
memantau lalu lintas dengan tatapan tajam. Tekanan dari mereka yang tampaknya
berasal dari Ksatria Fleswald sudah cukup untuk membuat pelancong biasa gemetar
ketakutan.
Namun, itu hanya berlaku bagi orang biasa. Begitu
para ksatria itu mengenali kereta kami, mereka bergegas mendekat dengan sikap
yang sangat sopan.
"Mohon maaf, apakah di dalam sini ada anggota
keluarga Duke Fleswald—atau seseorang yang memiliki hubungan dengan
beliau?"
Sepertinya lambang api yang terukir di kereta
langsung mengubah sikap mereka. Menanggapi suara itu, Karen melongokkan
kepalanya dari jendela kereta.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Kami sedang
dalam perjalanan menuju Isaac untuk menjalankan quest. Jadi, bisakah kalian
membiarkan kami lewat tanpa perlu repot-repot?"
Begitu melihat sosok Karen, seluruh ksatria serentak
menegakkan tubuh dan memberi hormat dalam.
"Ternyata Nona Karen! Mohon maaf atas kelancangan
kami! Silakan lewat dan berhati-hatilah di jalan!"
Pemeriksaan terhadap kami hanya sekadar formalitas, cukup
dengan melihat wajah saja. Sementara itu, di sekeliling kami, para pedagang
keliling harus pasrah kereta mereka digeledah habis-habisan dan sibuk
menjelaskan isi muatan mereka.
Kami melewati pos pemeriksaan dan resmi menginjakkan kaki
di wilayah Duke Fleswald. Seketika, aku terkesiap melihat keindahan pemandangan
yang terbentang.
"L-luar biasa... jalan berbatu ini. Rasanya seperti
sedang berada di pusat kota Regan..."
Sejauh mata memandang, jalanan berbatu tersusun rapi
dengan lebar puluhan meter. Dengan jalan seluas ini, empat atau lima kereta
kuda pun bisa berjalan berdampingan dengan leluasa.
"Jalan ini memang dirawat khusus untuk pergerakan
ksatria. Kalau tidak diaspal, kecepatan gerak pasukan akan menurun, kan? Karena
itu, dua unit ksatria selalu berpatroli sekaligus memperbaiki jalan. Jika ada
monster muncul, mereka bisa langsung membasminya, sekali dayung dua pulau
terlampaui."
Penjelasan Karen membuatku paham sekaligus mengerti
kenapa kami tidak melihat satu pun monster di sepanjang jalan. Dengan sistem seperti ini, monster mana pun yang muncul pasti langsung
habis dibabat.
Aku jadi bertanya-tanya, kapan Ksatria Bryant bisa
mengamankan area luar kota sampai sejauh ini? Sambil memikirkan itu, kami terus
melaju ke utara menyusuri jalan berbatu yang luas di wilayah Duke Fleswald.
◆◇◆
Tiga hari sejak memasuki wilayah Duke Fleswald,
kereta melaju lancar ke arah utara. Di sepanjang jalan, aku terpesona oleh
keindahan pemandangan—maksudku, profil samping wajah Clarice—hingga waktu
berlalu tanpa terasa.
Akhirnya kami sampai di pos pemeriksaan paling utara
wilayah Duke Fleswald. Jika melewati ini, barulah kami sampai di wilayah Baron
Isaac.
Saat mendekat, para ksatria kembali menyambut kami.
Berkat Karen, kami diizinkan lewat tanpa prosedur rumit. Namun, saat itu,
seorang ksatria memberi peringatan.
"Berhati-hatilah mulai dari sini."
Suaranya mengandung firasat bahaya yang tidak biasa.
"Sepertinya pembasmian monster sudah tidak
sanggup mengejar jumlah mereka, hingga monster mulai menampakkan diri di
sekitar pos ini. Meski ini wilayah orang lain, kami tetap membasmi monster yang
mendekati pos, tapi kami tidak tahu bagaimana kondisi di sekitar Isaac. Untuk
Nona Karen mungkin tidak akan masalah, tapi saya tetap memperingatkan demi
berjaga-jaga."
"Terima kasih, aku akan berhati-hati,"
jawab Karen sambil tersenyum dan mengangguk kecil. Para ksatria serentak
memberi hormat dan membungkuk dalam melepas keberangkatan kami.
Sekitar sepuluh menit setelahnya, pemandangan di
depan mata kami berbanding terbalik dengan kedamaian wilayah Duke Fleswald.
Jalanan berbatu hancur di sana-sini, tanahnya gersang, dan warna abu-abu yang
mati mendominasi daratan.
Di kejauhan, gerombolan monster seperti Fang Wolf dan
Goul Dog berkeliaran seolah-olah tempat ini adalah wilayah kekuasaan mereka.
"A-apa-apaan ini..." gumam Karen dengan
ekspresi tak percaya menatap pemandangan yang hancur itu.
"Apa dari dulu memang begini?" tanyaku.
Karen menggeleng kuat-kuat.
"Tidak. Isaac punya peran penting sebagai
pemecah ombak dari Hutan Kematian. Seharusnya jalan menuju Isaac diaspal dengan
sangat baik."
Mendengar kata-kata Karen, aku memanjat ke atas kereta
untuk mengawasi sekitar. Di tengah angin kering yang menusuk kulit, kulihat
sosok Baron berdiri di atas kereta sebelah. Dia juga melakukan hal yang sama.
"Baron, apa kamu pernah ke wilayah Baron Isaac
sebelumnya?" teriakku.
Baron menjawab dengan wajah tegang, "Pernah sekali!
Tentu saja suasananya tidak seperti ini... jadi? Bagaimana rencanamu?"
Benar juga. Akulah pemimpin misi kali ini. Aku menarik
napas dalam-dalam dan berseru lantang.
"Untuk saat ini, kita basmi monster sambil menuju
Isaac! Clarice, Karen, Sasha-sensei, kalian bertiga tetap di
kereta untuk menjaga logistik sambil terus bergerak ke utara! Sisanya, menyebar
ke depan kereta dan habisi monster yang ada! Jangan
terlalu maju sampai terisolasi! Aku akan membakar monster yang kalian kalahkan
dari sini!"
Mendengar instruksiku, rekan-rekanku langsung
bergerak cepat tanpa celah. Eris melompat turun dari kereta, menggenggam
belatinya siap menghadapi monster. Aku menahan lengannya sebentar dan berbisik
di telinganya.
"Eris, tolong tetaplah di dekat Misha. Misha
sering lupa memperhatikan sekeliling jika sudah asyik bertarung. Aku ingin kamu
menjaganya."
Eris mengangguk mengerti dan langsung mengejar Misha
yang sudah berlari lurus ke arah monster.
Sasha yang melihat punggung Eris menjauh sepertinya
menyadari niatku; ia menghela napas lega.
Untungnya, kebanyakan monster di sini hanya Peringkat F
ke bawah, paling tinggi Peringkat E. Misha pasti bisa mengatasinya, tapi
kehadiran Eris di sana membuatnya lebih aman.
Awalnya strategi ini terlihat lancar. Namun, segera
ada yang tumbang.
"T-tidak mungkin mempertahankan pertarungan
sambil terus berlari sejauh ini..."
Minerva ambruk di dalam kereta sambil terengah-engah.
Tak lama, Baron dan Dominic juga kembali dengan kondisi lelah luar biasa.
"Kalau para guru sih aku paham, tapi kenapa
mereka masih punya stamina sebanyak itu?" keluh Baron sambil mengusap
keringat, menatap iri ke arah Misha yang masih mengamuk di garis depan.
Gerakan Misha tetap ringan, mungkin ini hasil dari
latihan lari setiap pagi.
"Clarice, Karen, Sasha-sensei! Gantikan Baron
dan yang lainnya untuk mendukung garis depan! Baron dan Minerva, gantikan aku
membakar bangkai monster dengan sihir api kalian!"
Mendengar suaraku, Clarice, Karen, dan Sasha segera
melesat ke depan. Sementara Baron dan Minerva, meski kelelahan, tetap
mengangguk menerima instruksiku.
"Dimengerti! Serahkan
urusan pembersihan monster pada kami!"
Di garis depan, Eris, Misha, Reiner, dan Bram menghabisi
monster satu per satu, lalu Clarice dan Karen menyapu bersih sisa-sisa ancaman.
Bangkai monster dikumpulkan di satu titik oleh Sasha menggunakan sihir angin,
lalu dibakar oleh Baron dan Minerva.
Aku sendiri memantau medan perang dari atas kereta sambil
menyapu bersih monster yang mendekat dari sisi timur menggunakan sihir api.
Satu jam berlalu sejak pertempuran dimulai, akhirnya
samar-samar terlihat sebuah kota yang tampaknya adalah Isaac. Aku tertegun
melihat kemegahan kota itu.
"Itu... benar Isaac, kan? Itu
kota... bukan kastil, kan?"
Aku bertanya pada Baron di kereta sebelah. Dia
mengangguk.
"Iya, benar. Itulah Kota Benteng nomor satu di
Benua Tengah—Isaac."
Kesan pertamaku: Tak Tergoyahkan. Kota itu pasti tidak
akan runtuh hanya karena serangan kecil.
Dinding benteng yang tebal menjulang tinggi, dibangun
dari batu abu-abu yang meski penuh bekas luka tanda usia, tidak menunjukkan
sedikit pun keretakan. Menara pengawas yang ditempatkan secara teratur berdiri
gagah seolah merendahkan siapa pun yang berniat masuk tanpa izin.
Parit yang dalam mengelilingi benteng, memantulkan
bayangan benteng yang bergoyang di permukaan air. Jembatan gantungnya
dilengkapi mekanisme untuk ditarik seketika, dan kawat besi tebal membentang
dari gerbang hingga jembatan.
Melewati jembatan, terdapat pintu gerbang raksasa
yang diperkuat baja. Sebanyak apa pun monster Peringkat E berkumpul, mustahil
mereka bisa menembus gerbang ini.
◆◇◆
Setelah menghabisi monster di sekitar, kami mendongak
menatap Isaac yang berdiri kokoh layaknya benteng raksasa. Tiba-tiba, Eris yang
berdiri di sampingku mulai waspada ke arah timur.
"……Ada
yang bertarung…… manusia dan monster…… di dekat gerbang timur……"
Kami bereaksi seketika dan menuju gerbang timur.
Dinding benteng terlalu tinggi sehingga kami tidak bisa melihat situasi di sisi
timur Isaac dari sini.
Begitu sampai, kami melihat gerombolan monster
menekan dari arah timur, sementara para siswa Sekolah Nasional Lister dengan
garis ungu di seragam mereka sedang berusaha menahan serangan. Garis ungu
itu—bukti bahwa mereka adalah Kelas A. Menjalankan quest sebagai pengganti
mereka adalah tugas kami sekarang.
"Kakak kelas! Kami datang membantu!"
Para siswa Kelas A sempat bingung dengan bantuan yang
tiba-tiba, namun seorang pria berbadan besar yang mengayunkan kapak di garis
depan berseru.
"Terima kasih! Kami benar-benar butuh bantuan
sekarang! Jumlah monsternya terlalu banyak! Ada Peringkat E juga yang
tercampur! Jangan lengah!"
"Dimengerti! Serahkan area ini pada kami!"
Kami maju dan berhadapan langsung dengan
monster-monster itu. Karena sudah melawan mereka sepanjang jalan, kami sudah
tahu titik lemahnya.
"Karen! Monsternya datang lurus dari arah timur!
Tunjukkan kekuatanmu di sini!"
Mendengar teriakanku, Karen langsung mengangguk
paham. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam, lalu mengangkat tongkat roh api
Salamander Rod tinggi-tinggi ke langit.
Seketika, gumpalan api raksasa yang mengerikan muncul
dari ujung tongkatnya. Api yang berkobar itu terus membesar memakan kekuatan
sihir Karen, berdenyut seperti makhluk hidup. Karen menahan aliran kekuatan
yang bergejolak itu dengan sihirnya sendiri, mengendalikan api yang nyaris
lepas kendali.
Dan saat mencapai batasnya—mata merah Karen terbuka. Bersamaan dengan itu, ia mengayunkan tongkatnya ke arah gerombolan
monster.
"Flare!"
Gumpalan api itu melesat dengan panas yang luar
biasa, menelan gerombolan musuh sambil terus menerjang lurus ke timur.
Kekuatannya begitu dahsyat; bahkan sebelum api itu menyentuh mereka, monster
dengan Endurance dan Magic rendah sudah terbakar hanya karena
hawa panasnya.
Setelah Flare lewat, yang tersisa hanyalah
batu ajaib yang berserakan. Tanah yang hangus dan hawa panas yang membubung
menghapus sisa-sisa keberadaan monster yang tadinya ada di sana.
"Ap-!?
Barusan itu... Flare...?" gumam para siswa Kelas A dengan wajah
terperangah.
"Sepertinya sudah cukup bersih. Namaku Mars dari
Kelas S tahun pertama. Kami datang atas perintah Duke Regan untuk mengambil
alih quest Kelas A tahun kelima. Bisa beri tahu kami bagaimana
situasinya?"
Siswa pemegang kapak tadi menjawab, "A-ah... namaku
Dival dari Kelas A tahun kelima. Terima kasih bantuannya. Sampai beberapa hari
lalu monster hanya muncul sesekali, tapi tiba-tiba mereka menyerang dalam
jumlah besar. Katanya ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kami sempat berpikir
untuk bertahan di dalam Isaac, tapi kalau kami mengurung diri, kami tidak akan
bisa keluar. Padahal quest kami adalah mengirim logistik untuk para ksatria
yang berkemah di Hutan Kematian."
Melihat penilaian tenang Dival, Reiner mengangguk
kagum. Pasti kemampuan penilaian seperti Dival inilah yang
diharapkan dariku.
"Saya mengerti. Kalau begitu, kami akan
mengambil alih quest tersebut. Mari kita temui pemberi tugas untuk mengurus
serah terimanya."
Dival mengangguk menyetujui usulku.
"Baiklah. Saat ini pemberi tugas, yaitu Baron
Isaac, sedang tidak ada di tempat. Sebagai gantinya, putri beliau—Nona
Irina—yang menjadi wakilnya. Ayo kita temui dia."
"Clarice, Baron, ikut aku! Yang lain tetap
waspada di sini agar tidak terkepung!"
Sebenarnya aku ingin Clarice tetap di sini, tapi aku
ingin dia mendapat pengalaman lapangan. Dan Baron adalah pemimpin [Genesis],
penting baginya untuk mengalami situasi seperti ini.
Saat yang lain mengangguk dan bersiap siaga di dekat
gerbang, Karen mendekatiku.
"Mars? Bolehkah aku ikut juga? Mungkin aku bisa
membantu."
Membantu dalam hal apa? Aku tidak ingin terlalu
mengurangi kekuatan tempur di sini, tapi yah, ada tiga orang guru, jadi
harusnya cukup... Aku pun mengizinkan Karen ikut.
Setelah anggota ditentukan, Dival memberi kode pada
prajurit di atas dinding benteng. Pintu gerbang yang tertutup rapat pun terbuka
perlahan dengan suara berat.
Begitu melangkah masuk ke dalam kota yang megah,
suasananya berubah drastis; kehidupan sehari-hari yang damai berlangsung seolah
tidak ada kekacauan di luar.
Ketegangan Dival dan timnya seolah luntur, pandangan
mereka kini terpusat pada Clarice, dan decak kagum mulai terdengar.
"Oi... kalau dilihat dari dekat, dia benar-benar
cantik ya."
"Percaya tidak kalau dia baru dua belas
tahun?"
"Apalagi dia Peringkat Dua—bahkan lebih tinggi
dari Nona Karen. Sulit dipercaya."
Reaksi itu tidak hanya datang dari Dival dan
kawan-kawan. Pria-pria yang berlalu-lalang di kota pun matanya tertuju
pada Clarice.
Di tengah perhatian warga, kami sampai di depan sebuah
kediaman yang sangat besar. Sepertinya ini adalah kediaman Baron Isaac. Dival
menyapa penjaga pintu, dan kami segera dipersilakan masuk.
Interior kediamannya terasa jauh lebih "keras"
dari yang kukira. Di dinding tergantung pedang, tombak, bahkan rantai.
Suasananya lebih mirip tempat tinggal petualang daripada kediaman seorang
Baron.
Akhirnya Dival berhenti di depan sebuah ruangan,
mengetuknya, lalu bicara ke balik pintu.
"Nona
Irina. Saya Dival. Saya ingin bicara soal serah terima tugas."
Setelah hening sejenak, suara yang terdengar agak
tidak senang menyahut dari dalam.
"Masuklah."
Begitu Dival membuka pintu, kulihat seorang wanita
mengenakan pakaian dengan belahan tinggi seperti cheongsam, rambutnya
yang berwarna cokelat moka ditata ikal. Ia duduk di kursi sambil menyilangkan
kaki.
Inilah—putri Baron Isaac.
"Nona Irina. Saya ingin melapor. Mereka inilah yang
akan menggantikan tugas kami..."
Selama Dival menjelaskan, Irina tampak tidak tertarik dan
terus memainkan rambutnya sendiri. Namun, saat mata kami bertemu, sikapnya
berubah drastis. Ia tiba-tiba berdiri, memegang tanganku, lalu bertanya:
"Siapa namamu?"
"Maaf atas kelancangan saya. Saya Mars Bryant,
pemimpin klan [Akatsuki] yang mengambil alih quest ini dari Senior
Dival."
"Jadi,
kamulah pengganti Dival. Hmm…… pria yang lumayan juga. Ayo kita bicara soal
kelanjutannya di ruangan dalam."
Irina
mencoba menarik tanganku. Aku yang tidak mengerti situasi hanya bisa mematung,
sementara Dival dan yang lainnya tampak panik.
Pada
saat itulah―
Plakkk!
Suara
cambukan yang garing bergema di dalam ruangan. Begitu aku menoleh ke arah
sumber suara, kulihat Karen yang tadinya berada di belakang Baron sudah
melangkah maju dengan cambuk di tangannya.
"Irina? Sepertinya kamu belum menyapa
perkenalanku?"
Suara dingin Karen seketika membuat atmosfer ruangan
menjadi tegang. Namun, Irina hanya mendengus meremehkan.
"Ara? Aku tidak punya waktu luang untuk bicara
denganmu. Kalau mau, bicara saja sendiri sana."
Kata-kata Irina membuat udara di ruangan itu seolah
membeku. Orang
ini…… apa dia tidak tahu siapa Karen?
Sesaat,
Karen mengerutkan dahi, namun ia segera memperagakan curtsey yang
sempurna dan mulai memperkenalkan diri dengan suara tenang.
"Aku
Karen Lionel, putri kedua dari keluarga Duke Fleswald, peringkat keempat Kelas
S tahun pertama Sekolah Nasional Lister."
Begitu
mendengar perkenalan Karen, wajah Irina seketika berubah pucat pasi. Itu bukan
sekadar kegugupan biasa; seluruh tubuhnya gemetar, keringat dingin bercucuran,
bahkan ia sampai gemetar hebat hingga membasahi lantai di bawah kakinya karena
saking ketakutan.
"M-mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Karen. Anda
sungguh sangat rupawan hingga saya……"
Irina memohon maaf dengan suara bergetar sambil mencoba
bersujud di lantai yang dikotorinya sendiri. Saat itu juga, mata Karen
menangkap sosok Irina dengan tajam.
―Deg.
Dalam posisi yang tidak wajar, tubuh Irina berhenti
bergerak total. Ini adalah efek dari Allure Eye milik Karen yang
mengunci pergerakannya. Karena targetnya sesama perempuan, efeknya berubah
menjadi mata pengikat.
"Sepertinya kamu sudah bisa mengambil keputusan
yang bijak. Dengan permintaan maaf barusan, aku akan menganggap
semuanya selesai."
Karen menarik tanganku, menjauhkannya dari jangkauan
Irina.
"Beruntung sekali ada Mars di sini. Jika tidak, aku
tidak akan bersikap manis dan pasti sudah mengubahmu menjadi arang."
Sambil menebar senyum, Karen mengulurkan tangan seolah
menopang tubuh Irina yang masih mematung.
Tak lama kemudian, Karen melepaskan efek Allure Eye.
Tubuh Irina tiba-tiba mendapatkan kembali kekuatannya dan hampir jatuh
tersungkur karena berat badannya sendiri―namun berkat lengan Karen yang
menahannya, ia tidak sampai terjun bebas ke lantai yang ia kotori.
"Terima kasih sedalam-dalamnya atas kemurahan hati
Anda karena tidak mempermasalahkan hal ini."
Sambil mengatur napas, Irina menyampaikan rasa terima
kasihnya dengan suara gemetar. Ekspresinya menunjukkan campuran antara rasa
takut dan lega yang luar biasa.
Mungkin ini agak kejam bagi Irina, tapi aku merasa
membawa Karen adalah keputusan yang tepat―percakapan setelah itu berlangsung
dengan sangat lancar.
Dival dan timnya diputuskan untuk kembali ke sekolah,
sementara kami mengambil alih quest mereka sepenuhnya. Hal yang paling
membahagiakan adalah kami diberikan izin untuk menginap di sebuah penginapan
yang seluruhnya disewa khusus untuk kami secara gratis.
Bahkan, aku sempat berbicara dengan Wakil Komandan
Ksatria Isaac yang memimpin di lapangan.
Dalam percakapan tersebut, sang Wakil Komandan
menjelaskan situasi saat ini.
Katanya, karena sebagian besar kekuatan utama Ksatria
Isaac dikerahkan ke Hutan Kematian, ksatria yang tersisa di sini kebanyakan
adalah ksatria magang atau tenaga cadangan. Mereka akan membantu sebisa
mungkin, tapi ia meminta kami untuk tidak terlalu berharap banyak.
Jika situasinya begitu, apa boleh buat. Setelah berjanji
untuk bertemu lagi, aku bergegas menemui yang lainnya.
"Nona Karen. Terima kasih bantuannya."
Begitu keluar dari kediaman, Dival dan yang lainnya
membungkuk dalam.
"Tidak apa-apa. Di kalangan bangsawan tinggi, selalu
ada saja orang yang sombong karena merasa punya kekuasaan. Di saat seperti
itulah, keberadaan orang sepertiku atau Eris paling efektif."
Karen tersenyum tipis. Tidak diragukan lagi,
keberadaannya membuat negosiasi berjalan mulus. Aku yakin, untuk urusan
negosiasi dengan bangsawan di masa depan, Karen harus selalu ikut bersamaku.
Sebelum berpisah dengan Dival, aku mengajukan sebuah
permintaan.
"Senior Dival, ada satu hal yang ingin aku minta.
Bolehkah aku melakukan Appraisal padamu?"
Aku murni penasaran seberapa kuat kemampuan Kelas A tahun
kelima. Tak
disangka, Dival menyetujuinya dengan sangat mudah.
"Boleh
saja…… apa Mars punya mata ajaib?"
"Iya. Aku memiliki Magic Eye. Kalau begitu,
permisi."
Aku memeriksa statistik Dival. Strength dan Agility-nya
lebih tinggi dari Gal dari faksi [Guren], namun sepertinya ia tidak
terlalu mahir dalam sihir; Magic-nya rendah dan ia hanya bisa
menggunakan sihir api.
"Bagaimana?
Bagaimana statistikku?" tanya Dival dengan nada percaya diri.
"Luar biasa, tidak ada kata lain selain itu. Apakah
Senior Dival adalah kandidat juara di Festival Dewa Perang?"
"Tidak, tahun ini juaranya pasti adalah Glen. Tahun
lalu, meski masih kelas tiga, Glen berhasil menjadi runner-up. Glen
adalah unggulan pertama, aku kedua. Ketiga adalah Gal, dan keempat adalah
Edin."
Apa―ternyata tahun lalu ada orang yang lebih kuat dari
Ike. Melihat mataku yang terbelalak terkejut, Dival melanjutkan ceritanya.
"Final tahun lalu sungguh tontonan yang hebat. Jika Glen bertarung jarak jauh dengan sihir, dia pasti menang. Tapi
Glen justru memilih pertarungan jarak dekat yang merupakan keahlian lawannya.
Meski begitu, dia mampu bertarung sengit melawan siswa kelas lima, makanya
penggemarnya bertambah banyak."
Tetap saja, ada orang yang lebih kuat dari Ike dalam
pertarungan jarak dekat, dunia ini memang luas.
Setelah berpisah dengan kelompok Dival, kami bergegas
menuju Gerbang Timur. Meskipun ada Sasha-sensei dan yang lainnya, situasi tetap
membuatku cemas…… namun ternyata itu hanya kekhawatiran belaka.
Begitu melewati Gerbang Timur, yang terdengar
bukanlah raungan monster…… melainkan suara riang Misha.
"Hei! Jangan lari!"
Misha sedang mengejar-ngejar monster dengan polosnya.
Melihat Sasha yang berusaha mengejarnya dari belakang dengan panik, aku tidak
bisa menahan senyum.
Saat melirik ke samping, Dominic sedang berhadapan
dengan beberapa monster sekaligus.
Di dekatnya, Reiner berseru lantang, memberikan
instruksi tentang cara bertarung satu lawan banyak sambil menebas
monster-monster itu.
Sementara itu, Minerva juga sedang bertarung dengan
monster, sementara Eris mengawasinya dari kejauhan. Jika Minerva mulai
terkepung, Eris akan bergerak cepat menghabisi monster tersebut agar situasi
tetap terkendali.
Bram bersiap di depan gerbang, menghabisi monster
yang berhasil menyelinap lewat.
Aku berdiri sendirian memperhatikan situasi, menyadari
sekali lagi betapa kuatnya kekuatan sihir. Statistik Dival dan kawan-kawan
lebih tinggi daripada Misha, Dominic, atau Minerva.
Padahal Dival sampai kesulitan hingga butuh bantuan
tambahan, sedangkan kami tidak sampai separah itu.
Di kelompok Dival juga ada penyihir, tapi tidak ada yang
memiliki daya hancur setinggi Karen. Bisa menciptakan situasi yang
menguntungkan seperti ini melawan monster yang menyulitkan siswa kelas lima,
tidak diragukan lagi adalah berkat Flare milik Karen.
Yah, meskipun jika Karen tidak ada pun, Fire Storm
milikku harusnya sudah cukup.
"Semuanya! Setelah menghabisi monster di depan
kalian, tolong berkumpul!"
Begitu aku berseru, semuanya berkumpul dengan cepat.
"Selama beberapa hari ke depan, kita harus menahan
monster di sini! Namun, kita juga harus segera mengirimkan pasokan logistik
kepada para ksatria yang berkemah di Hutan Kematian! Oleh karena itu, aku
meminta Reiner-sensei dan Bram-sensei untuk bergerak secara terpisah guna
mengantarkan logistik tersebut!"
Aku tahu para guru bertugas sebagai pendukung, tapi saat
ini bukan waktunya untuk terpaku pada aturan itu.
"Beberapa orang dari Ksatria Isaac juga akan
membantu proses pengiriman logistik. Sebagai gantinya, kitalah yang akan
bertanggung jawab menghalau monster di sini. Bram-sensei, bisakah Anda
menggunakan Space Magic untuk membawa logistik sebanyak mungkin dalam
sekali jalan?"
Jika pengiriman logistik dilakukan dalam skala besar,
maka akan membutuhkan personel yang banyak pula. Namun, karena saat ini tidak
ada tenaga cadangan, tugas ini harus dilakukan dengan cara bolak-balik beberapa
kali. Itulah sebabnya aku meminta bantuan Bram yang bisa menyimpan banyak
barang di ruang dimensinya.
Bram mengangguk menyetujui usulku.
Saat itu, Karen dan Minerva masing-masing menyerahkan
sebuah tas kepada Bram. Penasaran dengan isinya, aku bertanya dan mendapatkan
jawaban yang mengejutkan.
"Ini minuman keras. Tolong antarkan tas ini bersama
logistik kepada Baron Isaac. Baron Isaac terkenal sangat suka minum, bahkan
saat bertempur pun kinerjanya tidak akan maksimal jika tidak ada alkohol di
tubuhnya."
Sudah seperti petualang saja. Sekarang aku paham kenapa
kediaman Baron Isaac begitu berkesan武骨
(kaku/militeristik).
"Mulai besok, Reiner-sensei dan Bram-sensei akan
berangkat ke Hutan Kematian. Karena Wakil Komandan dan timnya akan
mengambil alih penjagaan di malam hari, mari kita istirahatkan tubuh kita untuk
hari esok."
Atas komandoku, semuanya mengangguk dan menuju
penginapan.
"Hei, Mars? Apakah quest ini akan berakhir setelah
kita selesai mengirim logistik? Atau kita harus terus membasmi monster sampai
mereka berhenti muncul?"
Saat sedang makan di penginapan, Clarice mengutarakan
keraguannya.
"Jika memungkinkan, aku berniat terus membasmi
monster selama mereka masih muncul, tapi menyelesaikan quest pengiriman
logistik yang diminta adalah prioritas utama. Bagaimana menurut Anda,
Sensei?"
Saat aku melemparkan pertanyaan kepada para guru, Sasha
menjawab.
"Sebenarnya aku tidak boleh terlalu banyak ikut
campur, tapi…… ya, jika aku di posisi Mars, aku akan melakukan hal yang sama.
Logistik adalah prioritas, pembasmian monster setelahnya. Namun, aku yakin Duke
Regan ingin kalian segera kembali. Selain karena khawatir, akan ada
Festival Lister di bulan November nanti."
"Festival Lister? Apa itu?" tanyaku.
Mendengar pertanyaanku, semua orang kecuali Clarice dan
Eris tampak terkejut. Sepertinya, ini adalah acara yang wajib diketahui semua
orang di dunia ini. Dan yang pertama menjelaskannya adalah Baron.
"Festival Lister adalah festival skala besar yang
diselenggarakan oleh Sekolah Nasional Lister setiap tanggal 3 sampai 9
November. Pengunjungnya setiap tahun dengan mudah menembus angka seratus ribu
orang. Kita akan mengadakan pertunjukan atau stan untuk menghibur para
pengunjung."
Semacam festival budaya di Jepang, ya. Karen kemudian
menambahkan penjelasan.
"Terutama pada tahun dibentuknya Kelas S, sekolah
pasti akan mengadakan sesi jabat tangan di Festival Lister. Bintang utamanya
tahun ini pastilah kita. Lagipula, pasti banyak orang yang ingin bertemu dengan
Mars dan Clarice. Kalian berdua pasti sudah menjadi buah bibir di Federasi
Lister."
Begitu ya. Sekarang aku mengerti kenapa Duke Regan ingin
kami cepat kembali. Jika begitu, agar bisa pulang lebih cepat, aku harus
menghancurkan sumber kemunculan monster-monster itu.
Dari mana monster-monster itu berasal―sambil memikirkan berbagai kemungkinan, aku pun merebahkan diri di tempat tidur.



Post a Comment