NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 5 Chapter 16

Chapter 16

Pertarungan Sampai Mati


Lantai lima Labirin Almeria—kami tiba di sana sekitar dua jam setelah meninggalkan Safety Zone. Namun, langkah kami terhenti begitu melihat pemandangan yang membentang di depan mata.

"Ka-kamar Bos……!? Apa lantai lima hanya berisi kamar Bos!?"

Yang tertangkap oleh mataku adalah sebuah pintu mengerikan yang seolah dilumuri darah.

"Bagaimana……? Kalau hanya lantai empat, kurasa tidak ada alasan bagi kita untuk kalah, tapi……?"

Apa yang dikatakan Clarice benar. Namun, urusannya berbeda jika ini adalah kamar Bos.

Aku berulang kali bertanya pada diri sendiri di dalam hati. Apakah aku harus membuka pintu ini, atau sebaiknya berbalik arah?

Jawaban yang muncul adalah "aku bisa melakukannya". Tentu saja, itu adalah kesimpulan setelah menempatkan keselamatan Clarice dan Eris sebagai prioritas utama. Kesimpulan ini lahir karena aku memercayai kekuatan mereka.

"Baiklah! Ayo pergi! Kalau kita bisa menyelesaikannya, Ayah pasti senang, dan kita juga bisa mengukur tingkat kesulitan labirin ini dengan akurat."

Clarice dan Eris mengangguk mantap mendengar perkataanku. Tak ada keraguan di mata mereka, melainkan pancaran tekad yang kuat.

Di depan pintu menyeramkan itu, aku menarik napas dalam sejenak.

Lalu, dengan tekad bulat, aku mendorong pintu itu perlahan. Suara derit nyaring bergema di seluruh labirin, membuat atmosfer terasa semakin berat.

Aku melangkah masuk lebih dulu, disusul oleh Clarice, lalu Eris.

Sambil tetap waspada menggunakan Divine Eye, aku menyapu pandangan ke sekeliling ruangan dan menemukan sepuluh Ogre. Selain itu, aku mendeteksi keberadaan enam sosok lainnya.

Lima di antaranya adalah Ogre berkulit biru yang berada di barisan belakang. Masing-masing memegang tongkat panjang.

Dari gerak-geriknya, jelas sekali kalau mereka adalah individu yang memanipulasi sihir.

Terlebih lagi, di tengah ruangan terdapat satu Ogre merah raksasa. Gada batu raksasa di kedua tangannya memancarkan intimidasi yang luar biasa, sementara ia menatap kami dengan senyum meremehkan sambil menggoyangkan tubuhnya.

Namun, tidak berhenti di situ. Saat aku mengedarkan pandangan, aku melihat enam belas gumpalan mana yang tersebar di berbagai sudut ruangan. Itu menandakan ancaman terbesar dalam pertempuran ini.

"……Artinya kalau tidak dimusnahkan dalam tiga puluh menit, mereka akan terus muncul ya."

Aku bergumam seolah sedang meyakinkan diriku sendiri.

"Kalian siap?"

Clarice dan Eris saling mengangguk singkat, mereka sudah dalam posisi siap tempur.

"Ayo berangkat…… Kita hancurkan mereka dengan kekuatan penuh!"

Tidak perlu kata-kata lain. Karena lawannya adalah Ogre, mereka bisa memahami ucapan kami.

Aku mengangkat tangan kiri ke depan, sementara tangan kanan menggenggam Roaring Thunder Sword. Aku bisa merasakan gagang pedangku sedikit basah oleh keringat.

Namun, para Ogre itu tidak bergerak, seolah sedang mengamati situasi kami. Bahkan terasa atmosfer seakan mereka ingin menikmati pertarungan ini. Kalau begitu, siapa cepat dia dapat!

Aku mengangkat tangan kiri dan melepaskan Tornado, menciptakan putaran angin yang seolah membelah ruang.

Namun, tiga Ogre biru yang bersiaga di barisan paling belakang mengangkat tangan mereka dan melakukan Resist terhadap sihirku.

Bisa ditebak, sih. Tapi, hanya dengan tiga ekor saja mereka bisa melakukan Resist? Padahal jika Ogre biasa, butuh lima ekor untuk melakukannya.

Begitu aku bergerak, para Ogre pun mulai beraksi. Ogre merah bersiap dengan gada batu raksasanya, memimpin para Ogre lainnya untuk menerjang maju.


[Race] Ogre Butler

[Threat] —

[Condition] Good

[Age] 45 Tahun

[Level] 15

[HP] 302302

[MP] 224245

[Strength] 162

[Agility] 150

[Magic Power] 111

[Dexterity] 61

[Stamina] 152

[Luck] 1

[Special Ability]

•       Clubmanship C (Lv 715)

•       Earth Magic D (Lv 613)

[Details] Memiliki kecerdasan tinggi. Memahami bahasa manusia.


Ternyata tidak sekuat dugaanku?

 Semua statistiknya berada di bawahku. Aku ingin melakukan Appraisal pada Ogre biru juga, tapi aku tidak punya kelonggaran sebanyak itu.

Aku mengayunkan Roaring Thunder Sword yang telah dialiri mana ke arah Ogre Butler yang mendekat.

"Lightning Blade Burst!"

Tebasan emas membelah dada Ogre Butler dengan dalam. Meski tidak langsung tewas dalam satu serangan, kekuatan petir yang terkandung dalam tebasan itu menghentikan gerakan sang Ogre Butler.

Sekarang kesempatannya—tepat saat aku hendak melakukan serangan susulan dengan Kamaitachi, giliran kami berakhir.

Para Ogre serentak melepaskan Earth Bullet. Bahkan dari arah Ogre biru, Stone Bullet juga ikut melesat terbang!

Namun, serangan ini sudah masuk dalam perkiraan. Kami menggunakan tubuh besar para Ogre sebagai pelindung untuk memutus jalur tembakan.

Dengan terhalangnya serangan sihir dari belakang, seharusnya muncul sedikit celah—atau begitulah pikirku. Namun, Vision memperlihatkan bayangan ancaman baru tepat di depan mataku.

"Bawah! Stone Spear datang dari tanah!"

Bersamaan dengan peringatanku, suara tombak batu tajam yang mencuat dari tanah bergema. Ogre biru itu ternyata menggunakan Stone Spear juga—serangan yang sangat merepotkan karena mengancam keamanan pijakan kaki kami.

Kami bergerak seketika, membaca lintasan tombak batu dan menghindarinya.

Setelah berhasil menghindar tanpa terjatuh, di saat berikutnya Eris langsung beralih menyerang.

Eris berlari dengan langkah ringan di sela-sela kerumunan Ogre. Gerakannya sangat halus layaknya angin.

Senjata para Ogre—gada batu—memang memiliki daya hancur yang luar biasa, namun karena ukurannya, mereka tidak bisa bergerak bebas.

Dalam situasi yang terlalu padat, mereka mungkin bisa mengayunkannya ke bawah, tapi gerakan menebas ke samping sangat terbatas demi menghindari melukai kawan sendiri.

Eris memanfaatkan titik buta itu dengan gemilang, mengacaukan barisan musuh dengan langkah-langkah tajamnya.

Namun, Eris tidak bisa menekan mereka sendirian. Di sinilah Clarice menunjukkan nilai aslinya.

Clarice menggenggam Defender di tangan kanan, menghindar dengan lihai sambil membaca gerakan Stone Spear yang kembali dilancarkan Ogre biru. Lalu, ia mengangkat tangan kiri ke depan dan berteriak lantang.

"Holy!"

Lingkaran sihir cahaya putih yang menyilaukan muncul di bawah kaki Ogre biru yang sedang melakukan Resist terhadap Tornado-ku.

Ogre lain mencoba melakukan Resist terhadap Holy tersebut. Namun, itu sia-sia.

Berdasarkan hasil pengujian berkali-kali dalam pertarungan sebelumnya, Holy akan selalu aktif tanpa memedulikan perlawanan siapa pun.

Bahkan jika aku mencoba menahannya dengan sekuat tenaga, lingkaran sihir itu pasti akan muncul dan menegakkan pilar cahaya.

Tak ada yang bisa menghentikan kekuatan cinta!

Akan tetapi, Holy memiliki kelemahan yang jelas, yaitu membutuhkan waktu sampai sihir itu aktif. Dalam pertarungan biasa, ini bisa menjadi celah.

Namun, dalam pertarungan melawan Ogre, jeda waktu ini justru menjadi senjata.

Begitu lingkaran sihir muncul, para Ogre terpaksa berkonsentrasi untuk menghindar. Saat melihat pertanda serangan, mereka akan segera melompat mundur—itulah target kami.

Karena itulah, Clarice sengaja mengeraskan suaranya. Suara jernihnya bagi para Ogre adalah lonceng peringatan di medan perang. Mereka tidak punya pilihan selain mengikuti suara itu dan bergerak dari tempatnya.

Alhasil, saat para Ogre bergerak, Resist terhadap Tornado-ku terlepas, dan badai itu pun mengamuk dengan bebas.

Ya, inilah perbedaan krusial antara Clarice dan Ogre. Clarice bisa merapalkan Holy sambil menghindari Stone Spear.

Namun, Ogre tidak bisa melakukan itu.

Ogre lain mencoba melakukan Resist terhadap Tornado, tapi lingkaran sihir kembali muncul di bawah kaki mereka. Inilah taktik yang kami asah selama tujuh hari terakhir.

Tentu saja, lawan kami bukan sekadar monster bodoh. Mereka mati-matian membidik sumber sihir kami demi menghentikannya.

Namun, mereka tidak bisa mengejar pergerakan kami yang merapalkan sihir sambil terus melarikan diri.

 Sambil menghindari serangan gencar mereka, kami memastikan alur pertempuran berjalan sesuai keunggulan kami.

Dalam waktu sekitar tiga puluh menit, kami berhasil membasmi seluruh Ogre. Kemudian, dua peti harta karun muncul di tengah ruangan sebagai hadiah untuk kami.

"Clarice, Eris, kalian keluar dari ruangan dulu! Aku akan segera menyusul setelah mengambil barang-barang itu!"

Keduanya mengikuti ucapanku dan segera keluar ruangan. Saat itu, mereka membiarkan pintu tetap terbuka.

Begitu aku melakukan Appraisal pada kedua peti harta karun, ternyata ada jebakan panah beracun. Setelah menghindari jebakan dengan mantap, aku memeriksa isinya.

Sebuah belati dan sebuah jubah, keduanya tampak seperti barang berharga. Aku segera mengamankannya dan berlari menuju pintu.

Ini adalah kamar Bos, sekaligus tempat monster muncul kembali. Aku tahu waktu kami hampir habis. Aku mengaktifkan Sylphid dan melesat secepat kilat.

Berhasil—tepat saat aku merasa yakin, pintu merah yang menyeramkan dan penuh aura jahat itu tertutup dengan suara dentuman keras, seolah memiliki kehendak sendiri. Seakan-akan pintu itu berkata, "Tunggu dulu."

Sesaat sebelum pintu tertutup, yang tertangkap di mataku adalah Clarice dan Eris. Di mata mereka terpancar keputusasaan yang nyata—lalu, teriakan pilu mereka menusuk telingaku.

""Mars!!!""

Ekspresi membeku mereka yang terlihat dari balik celah pintu terpahat di dalam hatiku.

Saat aku berbalik, para Ogre sudah muncul kembali dengan senyum menjijikkan, seolah baru saja kembali dari neraka.

Kalau mereka muncul satu per satu, aku tidak akan terlalu kesulitan. Mereka jadi merepotkan hanya karena muncul secara berkelompok—begitulah aku mencoba mengarahkan pikiranku untuk menenangkan diri.

Aku meletakkan belati dan jubah yang baru kudapatkan di depan pintu, lalu kembali berlari menerjang ke arah Ogre yang mendekat.

Namun, rasa cemas mulai menumpuk di sudut hatiku. Sisa MP-ku hanya sekitar 6000-an. Aku sudah berusaha meminimalkan penggunaan Vision, dan menggunakan Sylphid hanya untuk menghindar saat musuh mendekat. Meski begitu, aku sudah menghabiskan lebih dari 4000 MP.

Aku menyemangati diriku sendiri dan mengayunkan pedang. Satu tebasan tajam membelah dada Ogre hingga darah menyembur. Tanpa membiarkannya menderita, aku menghabisinya dengan serangan berikutnya.

Namun, di sela-sela itu, mereka terus muncul kembali dengan cepat. Kalau begini, pembersihan akan memakan waktu lama.

Berikutnya tiga ekor sekaligus—dan ketiganya muncul dari tempat yang berjauhan.

Jika aku menggunakan Ogre yang menyerang sebagai pelindung dan menghabisi mereka satu per satu, aku pasti bisa mengurangi jumlahnya. Namun, masalahnya adalah waktu. Batas waktunya tiga puluh menit.

Dalam waktu yang terbatas ini, cara seperti ini tidak akan ada habisnya. Meskipun aku membunuh mereka satu per satu, jika aku tidak bisa memenuhi syarat untuk membuka pintu, aku tidak akan bisa kembali ke sisi Clarice dan Eris.

Bahkan jika aku mengeluarkan Tornado untuk menghentikan tiga Ogre biru, tanpa Clarice semuanya akan sia-sia.

Apakah aku harus terus membunuh mereka satu per satu dan berharap pada kenaikan level dari akumulasi pengalaman?

Tidak, itu tidak realistis. Sekuat apa pun aku melatih diri, tidak mungkin untuk terus bertarung melawan musuh yang muncul tanpa henti. Pasti ada batasnya.

Kalau begitu, pilihan yang tersisa hanya satu—pertempuran super singkat dengan mengerahkan seluruh tenagaku.

Di tengah upaya menyemangati diri sambil terus menghindar, sebuah ide tiba-tiba terlintas di kepala.

Bukan, tepatnya ini adalah sihir yang sudah lama kupikirkan—sihir yang pernah kucoba minta Clarice untuk menemani latihannya.

Saat merapalkan Tornado, sihir itu akan aktif selama beberapa detik. Namun setelah itu, sihirnya akan ditekan oleh mana musuh dan terkena Resist.

Kalau begitu, bukankah aku tinggal mengalahkan mereka atau membuat mereka tidak berdaya tepat di saat sihir itu aktif?

Yang terlintas adalah sihir petir. Sebenarnya, aku sudah memverifikasi apakah Lightning bisa terkena Resist atau tidak. Hasilnya, serangan mendarat sebelum sempat di-Resist. Wajar saja, sih.

Hanya saja, konsumsi MP untuk Lightning adalah 1000. Ditambah lagi, efeknya hanya untuk satu target.

……Kalau begitu, aku tinggal melepaskan sihir yang bisa melahap semuanya.

Aku punya pengalaman sukses saat menciptakan Fire Storm dengan menggabungkan api dan angin.

Maka, tidak mungkin aku tidak bisa menciptakan sihir baru yang menggabungkan petir dan angin. Terlebih lagi, aku lebih mahir dalam sihir petir dibandingkan sihir api.

Hal itu dibuktikan oleh dua gelar yang kumiliki—[Wind King] dan [God of Thunder].

Tekadku sudah bulat—sisanya tinggal menunggu sampai semua Ogre muncul sepenuhnya.

Sesosok Ogre Butler berdiri menjulang di depanku. Dia adalah pelindung yang sangat pas untuk dimanfaatkan tubuh besarnya.

Aku menggunakannya untuk memutus semua sudut tembakan selain Stone Spear.

Vision sangat dilarang. Kalaupun pakai, hanya untuk Sylphid. Alasannya satu: sayang MP.

Satu demi satu Ogre bermunculan. Sepuluh, sebelas, jumlahnya terus bertambah. Karena sihir mereka tidak mengenaku, hampir semua Ogre kini mengejarku ke sana kemari.

Dikejar-kejar seperti ini membuatku kesulitan bahkan hanya untuk sekadar mencari waktu merapalkan sihir.

Dan akhirnya, aku mengonfirmasi kemunculan Ogre ke-15. Karena tadi aku sudah membunuh satu, berarti ini yang terakhir.

Aku membidik Ogre Butler yang ada di depanku. Aku menghujamkan Roaring Thunder Sword ke pangkal tenggorokannya dan melakukan Enchant sihir petir.

Mata si Butler terbelalak, tubuhnya tersentak hebat, lalu ia kehilangan kesadaran.

Sekarang saatnya! Sihir petir di tangan kanan, sihir angin di tangan kiri—aku memusatkan mana masing-masing ke telapak tangan.

Melihatku merentangkan kedua tangan dan menengadah ke langit, para Ogre serentak mulai bergerak.

Peluru sihir tanah menghujani bagaikan badai.

Berkat Narukami's Vestment, serangan itu tidak menjadi luka fatal. Namun tetap saja, guncangannya tidak bisa diredam sepenuhnya, dan rasa darah yang menyebar di dalam mulut menceritakan kerusakan yang nyata.

Tapi aku tidak peduli—aku terus mengolah mana tanpa memutuskan alirannya. Kekuatan petir dan angin membengkak di kedua tangan yang kuangkat ke langit.

Itu bagaikan badai itu sendiri—serangan yang mempertaruhkan seluruh mana milikku.

"Lightning Storm!"

Seketika—tornado emas lahir seolah menyobek kegelapan labirin, berpusar diiringi suara gemuruh. Udara di sekitar bergetar hebat, dan tekanan berat melanda.

Para Ogre membelalak terkejut, mereka mati-matian mengangkat tangan untuk memasang posisi Resist, namun gerakan itu terlalu lambat.

Guntur emas yang memercik dari tornado meraung bagaikan naga yang mengamuk, menerjang para Ogre. Kilatan cahaya membelah ruang, menembus tubuh besar para Ogre satu per satu.

Dipandu oleh tornado yang bergejolak, kilatan petir yang dilepaskan bertubi-tubi mewarnai labirin dengan kemilau emas.

Saat aku tersadar, di depanku sudah ada dua peti harta karun emas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Itu adalah pertanda berakhirnya pertempuran.

Tepat saat aku mengambil isinya dan hendak bergegas menuju pintu dengan menyelimuti diri dalam Sylphid... Seluruh tenagaku hilang, dan pandanganku mulai mengabur.

Di tengah kesadaran yang menjauh, hal terakhir yang kulihat adalah—sosok dua malaikat yang pipinya basah oleh air mata sambil meneriakkan namaku.

◆◇◆

Pintu tertutup tepat di depan mataku. Suaranya bergema dingin seolah memutus segalanya.

—Padahal tinggal sedikit lagi…… Padahal sedikit lagi Mars bisa kembali—

Karena tidak sanggup menerima kenyataan, aku berdiri mematung saat sebuah suara pilu menusuk telingaku.

"Mars! Mars! Mars—!"

Eris, dengan wajah yang basah oleh air mata, terus memukul pintu dengan putus asa dan berteriak tanpa henti. Setiap kali tinjunya menghantam pintu, suara benturan tumpul terdengar berkali-kali.

"Eris, hentikan! Percuma, meskipun kamu melakukan itu!"

Namun, dia tidak berhenti. Tinjunya membengkak, dan akhirnya terdengar suara tulang yang patah. Meski begitu, Eris tidak peduli dan terus memukuli pintu.

Darah menetes, mewarnai pintu merah yang mengerikan itu dengan warna merah yang murni.

Aku tidak tahan lagi dan segera memeluk Eris dari belakang. Sambil merapalkan Heal untuk mengobati tinjunya yang terluka, aku mendekapnya lebih erat lagi.

Namun, Eris mencoba melepaskan diri dan hendak memukuli pintu itu lagi.

"Mars! Mars! Mars—!"

Entah sudah berapa lama waktu berlalu—.

Eris yang terus menjerit dan memukuli pintu itu akhirnya mulai sedikit diam. Aku bisa merasakan bahunya yang naik-turun dengan napas berat melalui pelukanku.

"……Kalau…… Mars…… tidak kembali……"

Eris bergumam dengan suara yang seolah tercekik.

"Clarice…… setelah membawamu kembali…… aku akan ke sini sendirian…… Clarice berharga…… tapi, dunia tanpa Mars…… aku tidak butuh……"

Kata-kata itu menyayat hatiku. Di tengah pandangan yang kabur karena air mata, aku mencengkeram bahunya kuat-kuat.

"Kalau saat itu tiba, aku juga akan bersamamu. Jadi…… jadi, mari kita percaya dan menunggu Mars. Dia pasti akan kembali……"

Sambil memeluk tubuh Eris yang gemetar, suaraku pun ikut tertahan.

Selama dua puluh menit lebih yang terasa seperti selamanya, kami saling bersandar dan meneteskan air mata sambil menunggu saat itu tiba—.

Tak lama kemudian, suara gemuruh dan getaran hebat bergema dari dalam kamar Bos.

Ini sihir petir Mars! Seberkas cahaya harapan menyinari hatiku yang hampir putus asa.

Eris pun menyadarinya. Dia menangkupkan kedua tangannya yang gemetar dan mulai memanjatkan doa dengan khusyuk.

Namun, biasanya suara gemuruh itu akan segera reda. Tapi hari ini berbeda…… suara ledakan seperti guntur terus berlanjut, dan sensasi tanah yang bergetar bertahan sangat lama. Seolah-olah itu adalah kerlipan nyawa terakhir—.

Setelah beberapa saat, semuanya tiba-tiba berhenti.

Rasa cemas menjalar di dadaku. Tanpa sadar, aku memeluk Eris lebih erat.

Eris pasti merasakan hal yang sama. Tubuhnya yang gemetar berpegangan padaku, mendekapku dengan kencang.

Air mata terus mengalir, dan di saat kami terus berdoa dengan perasaan yang campur aduk antara ketakutan dan harapan, tiba-tiba terdengar suara "klik" kecil dari arah pintu.

Aku menahan napas, dan Eris pun mendongak. Secercah cahaya kembali ke matanya. Kami saling pandang, lalu serentak menoleh ke arah pintu.

Dengan tangan gemetar, aku menyentuh pintu itu. Begitu aku memberikan sedikit dorongan—pintu itu terbuka dengan mudahnya, seolah-olah semua kengerian tadi adalah bohong.

Aku sempat meragukan penglihatanku saat melihat pemandangan di depan mata.

"Mars—!"

Di balik pintu, aku melihat sosoknya yang tergeletak tertelungkup. Pada saat itu, imajinasi terburuk melintas di kepalaku.

Namun, hanya ada satu hal yang harus dilakukan sekarang. Memindahkan Mars dari ruangan ini secepat mungkin.

"Eris! Bantu aku membawa Mars!"

Tiba-tiba, suara Mars terdengar.

"……Terima kasih…… Clarice…… aku tidak apa-apa…… cuma sedikit lelah……"

Mars yang tadinya tertelungkup perlahan berbalik telentang, lalu tersenyum dengan suara yang dipaksakan ceria. Senyum itu tampak lemah, namun sarat akan keinginan untuk menenangkan kami.

Begitu melihat wajahnya, aku tidak bisa membendung air mata yang membuncah. Eris pun kembali menangis, mungkin karena merasa lega mendengar suara Mars.

Meski begitu, dengan tangan yang masih gemetar, dia mulai membantu menyokong Mars untuk membawanya keluar.

"Eris, tidak apa-apa. Tenanglah…… ayo kita bawa Mars bersama-sama."

Sambil menenangkan Eris, aku menjulurkan tangan untuk memberikan Heal kepada Mars.

Kemudian, Mars bergumam pelan dengan sisa tenaganya.

"……Clarice, Eris…… syukurlah kalian…… selamat."

Sambil tersenyum simpul, kelopak mata Mars perlahan tertutup, dan seluruh tenaga hilang dari tubuhnya—.

◆◇◆

Saat tersadar, sepertinya aku sedang dibaringkan di suatu tempat.

Dalam kesadaran yang masih samar, aroma harum yang semerbak menggelitik hidungku. Wangi ini…… milik Clarice. Dan ada juga aroma lemon yang segar bercampur di sana. Eris pasti ada di dekat sini juga.

Bibirku merasakan kehangatan yang nyaman, dan di leherku terasa sentuhan lembut yang menggelitik. Namun, yang lebih membuatku penasaran adalah sesuatu yang menyentuh kedua tanganku.

Sensasi yang empuk, lembut, namun terasa sangat kenyal seperti sedang tertekan sesuatu…….

Ini, mungkinkah situasi di mana aku akan langsung dicap cabul dan mendapat bekas tamparan merah di pipi jika aku meremasnya?

Jika ini benar-benar apa yang kubayangkan, kalau sampai Cain melihat situasi ini, nyawaku akan diburu sampai ke ujung neraka.

Pilihan terbaik adalah tidak melakukan apa-apa.

Untuk memastikan situasi, aku membuka mata perlahan. Seketika, wajah Clarice memenuhi pandanganku, dan mataku langsung beradu dengan matanya dalam jarak yang sangat dekat.

Kulitnya yang putih bersih langsung merona merah seperti bunga mawar saat melihatku.

Biasanya dia akan memalingkan wajah karena malu, tapi hari ini berbeda. Clarice malah langsung memelukku erat-erat.

"Mars!"

Suaranya yang berkaca-kaca mengandung nada kelegaan yang luar biasa. Hanya dengan itu, aku menyadari betapa besarnya kekhawatiran yang kuberikan padanya.

Eris yang menyadari aku sudah bangun pun ikut menindih tubuhku dengan mata yang berkaca-kaca.

Jadi, situasinya begini. Aku dibaringkan, dan Clarice serta Eris ada di kedua sisiku. Itu pasti. Berarti, mungkinkah mereka berdua sedang menempel padaku di atas tempat tidur dengan posisi aku di tengah-tengah mereka?

"Ah, anu…… intinya, maaf ya…… sudah membuat kalian khawatir?"

Saat aku berhasil mengeluarkan kata-kata, Clarice dan Eris mendongak. Bekas air mata di pipi mereka menusuk hatiku.

"……Benar-benar, syukurlah……"

"……Mars…… selamat……"

Sambil bersuara gemetar, mereka kembali menyandarkan berat tubuh mereka padaku.

Rasa sayang meluap di dadaku, hingga aku berpikir alangkah baiknya jika momen ini abadi selamanya.

Aku memutuskan untuk menikmati kehangatan ini dalam diam sampai mereka tenang—.

Sekitar sepuluh menit berlalu, Clarice tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan berdiri. Pipinya memerah, dan terlihat jelas dia merasa salah tingkah.

"Ma-maaf ya…… aku sangat khawatir…… rasanya kalau aku melepasmu, kamu akan pergi jauh……"

Suaranya sedikit meninggi. Mungkin dia tiba-tiba merasa malu dengan posisi intim tadi. Dia tidak berani menatap mataku dan malah mengedarkan pandangannya ke sana kemari.

Di sisi lain, Eris ternyata sudah tertidur sambil mendengkur halus. Dia pasti sudah merasa tenang. Melihat wajah tidurnya yang damai, aku merasa sedikit bersalah.

Lalu, Clarice menatap mataku seolah telah membulatkan tekad.

"Mars? Bagaimana cara kamu lolos? Tadinya kupikir bahkan Mars sekalipun tidak akan berhasil……"

Kalimat terakhirnya hampir terdengar seperti tangisan.

"……Ah, aku melakukan sedikit kesalahan, tapi sebenarnya gampang kok."

Aku menjawab dengan nada seringan mungkin.

Padahal kenyataannya, itu adalah pertarungan paling berbahaya yang pernah kualami.

Ini kedua kalinya aku menyadari kematian setelah kejadian Burns.

Tapi, aku tidak perlu memberitahunya. Itu hanya akan membuatnya khawatir secara berlebihan.

Untuk mengalihkan topik, aku menanyakan hal yang baru kuingat.

"Ngomong-ngomong…… apa harta karun kemarin sudah dibawa?"

"Iya, tunggu sebentar ya."

Clarice mengangguk, lalu mengambil empat item yang terletak di meja kecil dan duduk perlahan di pinggir tempat tidur tempatku berbaring.

"Bisa beritahu aku apa saja kegunaannya?"

Atas pertanyaan Clarice, aku mulai menjelaskan hasil Appraisal dari belati dan jubah yang didapat pertama kali.


[Nama] Carnwennan

[Attack] 30

[Special] Agility +4, Dexterity +4

[Value] A

[Details] Salah satu pedang sihir. Bisa bersembunyi di dalam bayangan dengan mengonsumsi MP.

 

[Nama] Valkyrie’s Vestment

[Defense] 40

[Special] Agility +4, Magic Power +4

[Value] A

[Details] Auto-repair. Meningkatkan Resistance terhadap Status Ailment. Meningkatkan Resistance terhadap Fire Magic.


Item yang didapat dari kamar Bos di lantai ini memang barang kelas atas.

Aku bisa dengan mudah membayangkan Eris memegang Carnwennan. Jubah satunya juga perlengkapan yang sangat cocok untuk Eris. Itu akan memaksimalkan gerakannya yang lincah.

Selanjutnya, aku beralih ke dua item yang didapat dari peti harta karun emas. Pertama, pedang yang memancarkan cahaya redup. Saat memegangnya, aku merasakan kekuatan misterius. Aku melakukan Appraisal dengan hati-hati.


[Nama] Sword of Oracle

[Special]

[Value]

[Details] Hanya bisa digunakan oleh orang pilihan. Dapat mengabulkan satu permintaan.


Begitu memeriksa pedang tersebut, aku memiringkan kepala. Meskipun ini sebuah pedang, Attack-nya nol, dan tertulis tidak bisa digunakan.

Aku sama sekali tidak tahu cara memakainya. Sambil bingung, aku menjelaskan tentang pedang misterius ini kepada Clarice, dan dia pun hanya bisa ikut bingung.

Lalu, aku beralih ke item terakhir. Berbeda dengan pedang tadi, benda ini memancarkan keberadaan yang luar biasa.

Benda itu adalah bongkahan logam kecil dengan kilau yang bahkan melampaui Sword of Oracle.

Ukurannya hanya seukuran telapak tangan dengan berat sekitar sepuluh gram. Namun, cahaya dan auranya menunjukkan bahwa ini bukan logam biasa.


[Nama] Orichalcum

[Special]

[Value]

[Details] Logam yang diberkati Dewa. Bisa berubah menjadi bentuk apa pun, namun perlengkapan yang dibuat dari Orichalcum hanya bisa dipakai oleh pemilik pertamanya. Benda yang dibuat dari Orichalcum bersifat abadi.


Dilihat dari deskripsinya, Orichalcum sepertinya sangat berharga. Tapi…… apa yang bisa dibuat dengan hanya sepuluh gram? Aku termenung. Namun, jawaban segera muncul.

"Orichalcum memang hebat…… tapi dengan jumlah segini, sulit bahkan untuk membuat satu perlengkapan saja ya," ucap Clarice sambil mengintip potongan logam itu.

"Benar juga. Tapi, apa boleh Orichalcum ini untukku saja?"

"Tentu saja boleh."

Clarice mengangguk sambil tersenyum. Sisa-sisa kecemasan di wajahnya sudah hilang sepenuhnya, dan keceriaannya yang biasa telah kembali.

"Nah, sekarang ayo bersiap pulang. Kurasa semuanya sudah sangat khawatir."

Saat aku mengatakannya, Clarice mengangguk kecil sambil berdiri.

Barang bawaan kami saat pulang jauh lebih banyak daripada saat datang. Terutama karena Magic Stone, dan jumlahnya benar-benar tidak masuk akal.

Ditambah lagi Eris masih tertidur lelap. Aku tidak tega membangunkannya.

Aku menggendongnya perlahan di punggung, lalu bersama Clarice, kami menuju pintu keluar.

"Barang-barang ini bisa kubuat melayang dengan sihir angin, jadi tidak masalah. Clarice, maaf aku akan sering merepotkanmu, tapi mohon bantuannya ya."

"Tentu, serahkan padaku. Ayo cepat pulang dan buat semua orang tenang."

Kami mulai berjalan sambil bekerja sama. Merasakan kehangatan Eris di punggungku, kami melangkah menuju pintu keluar labirin.

Saat kembali ke lantai dua, di sana sudah ada Ike, Kakak Ipar, Sieg, dan kelompok [Black Three Wolves].

Sepertinya mereka khawatir karena kami tidak kunjung mengantarkan Magic Stone sementara kami masih berada di lantai tiga, dan mereka baru saja hendak menerobos masuk ke lantai tiga.

Pada saat itu, Eris terbangun. Namun, aku tidak menurunkannya dari punggungku.

Eris pun sepertinya tidak ada niat untuk turun, malah dia memeluk punggungku lebih erat lagi.

"Mohon maaf, Ayah. Monster di lantai empat sangat tangguh, sampai-sampai saya lupa menaruh Magic Stone di lantai dua. Namun, semua Magic Stone monster lantai empat sudah kami kumpulkan. Hanya saja, Magic Stone dari kamar Bos tidak bisa kami bawa pulang……"

Mendengar penjelasanku, Sieg menarik napas dalam dan merasa lega.

"Kami benar-benar khawatir, tahu…… Nanti minta maaflah juga pada Maria. Bukan cuma Mars. Clarice, Eris, kalian berdua juga. Kalian sudah seperti keluarga sendiri…… bukan, kalian adalah keluarga kami."

Mendengar kata-kata hangat Sieg, Clarice dan Eris menunduk bersamaan.

Melihat hal itu, Kakak Ipar berbicara dengan senyum lembut.

"Syukurlah kalian benar-benar selamat. Kalau terjadi sesuatu pada kalian bertiga, aku tidak akan punya kesempatan untuk membalas budi, kan?"

"Ini bukan bahan bercanda, lho. Di pesta pernikahan nanti, aku berencana meminta kalian bertiga memberikan pidato selamat secara serentak," ucap Ike dengan nada bercanda yang mulai mencairkan suasana tegang.

Di tengah perjalanan pulang, Ike bertanya dengan penuh minat tentang situasi di lantai empat.

Di sisi lain, Kakak Ipar menggoda Clarice dan Eris dengan berkata, "Menginap di luar ya, berani sekali."

Clarice memerah dan membantahnya dengan panik, tapi Eris malah membantu Kakak Ipar dari balik punggungku untuk menyudutkan Clarice.

Clarice yang terjepit di antara mereka berdua pun gelagapan, namun akhirnya dia terseret ke dalam obrolan perempuan yang penuh dengan tawa.

"Tapi kalau ada kalian, lantai dua Labirin Almeria yang ganas ini malah terasa seperti padang rumput biasa saja ya."

Mendengar kekaguman Sieg, Ike pun mengangguk sambil tersenyum.

"Benar sekali. Aku ingin mendengar detail tentang cerita kamar Bos yang membuat Mars kesulitan itu."

Para pria pun secara alami asyik dengan topik pertempuran, dan [Black Three Wolves] pun ikut bergabung dalam percakapan.

Waktu yang menyenangkan membuat kami lupa akan rasa lelah, dan tanpa beristirahat, kami sudah kembali sampai ke permukaan.

Udara permukaan yang kuhirup setelah beberapa hari memberikan kesegaran sekaligus rasa aman.

Begitu sampai di depan rumah, Maria sedang menunggu kepulangan kami sambil menggendong Cain di samping penjaga gerbang.

Di mana Lina—tepat saat aku memikirkannya, dia langsung menubrukku dengan kencang. Merasakan firasat itu, Eris akhirnya turun dari punggungku untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Mata Lina basah oleh air mata. Setiap tetesnya menceritakan betapa dia telah mengkhawatirkan kami.

Cain menatapku tajam dan mencucu dengan wajah yang sepertinya tidak senang.

Namun, saat tatapannya beralih dari wajah Eris ke bagian sedikit di bawahnya, dia memajukan tangannya seolah ingin meremas sesuatu, lalu menyeringai lebar…… Kau benar-benar mengalirkan darah yang sama denganku ya.

Kami melewati gerbang dan melangkah masuk ke kediaman. Begitu di dalam, Clarice dengan tenang mendekat ke sisiku. Tangannya menyentuh lengan bajuku dengan lembut.

"Selamat datang kembali, Mars."

"Iya, aku pulang, Clarice."

Suara Clarice bercampur antara kelegaan dan kebahagiaan. Saat aku menjawab, dia tersenyum dan memberikan ciuman lembut di pipiku.

Melihat pemandangan itu, Eris berputar ke sisi satunya dan melakukan hal yang sama, mencium pipiku dengan ringan.

Rasa hangat yang berbeda tertinggal di kedua pipiku, namun keduanya meresap dalam ke lubuk hati.

Dan dari belakang, terdengar suara tangisan yang penuh keputusasaan.

Aku tidak peduli dan merangkul bahu mereka berdua, menutup mata, dan membiarkan suhu tubuh, sensasi, serta kasih sayang dari pipiku meresap ke dalam jiwa dan raga.

Lalu, dalam hati aku kembali bersumpah.

Aku pasti akan melindungi mereka berdua. Siapa pun lawannya, bahkan meski harus mempertaruhkan nyawa.






Previous Chapter | ToC | End Vol 5

1 comment

1 comment

  • Agus Dedi Prasetya
    Agus Dedi Prasetya
    11/3/26 00:00
    Jejak vol 5 ch 16
    Reply
close