Chapter 15
Kepulangan
Dua
puluh Desember, pukul 00.00—lima hari setelah pembasmian Unclean King.
Malam ini, akhirnya kami meninggalkan Rimulgard
Barat. Seharusnya, kami wajib menetap di tempat ini sampai akhir Desember.
Namun, sekarang ancaman terbesar bernama Unclean King
telah ditumpas, Sieg menjadikan kepulangan sebagai prioritas utama. Ia
mengerahkan berbagai cara demi mendapatkan dalih untuk meninggalkan wilayah
tersebut.
Tujuan pertama kami adalah kota tetangga, Bismarck. Di
sana, Sieg menyampaikan bahwa ancaman para Death Knight telah sepenuhnya sirna.
Tentu saja, tidak ada yang tahu soal keberadaan Unclean
King. Bahkan kami yang berada di garis depan saja baru mengetahuinya dari
Suzaku. Karena itulah, bagian tersebut sengaja kami abaikan.
Demi mendapatkan kepercayaan, kami mengantar Penguasa
Bismarck sampai ke dekat kota bawah Kastel Rimulgard.
Di tengah perjalanan, Sieg menunjukkan keberaniannya
dengan menyatakan akan menghibahkan seluruh bahan pangan dan logistik yang kami
bawa.
Bahkan, Sieg menuliskan surat di atas lembaran perkamen
yang ditujukan kepada Raja Barcus, lengkap dengan tanda tangan sang Penguasa
Bismarck.
Di sana tertulis
kalimat tegas: "Ini adalah keputusan pribadi Sieg, dan ia akan bertanggung
jawab sepenuhnya."
Namun, langkah ini sebenarnya mengandung perhitungan yang
licin. Pada bagian akhir perkamen itu, ditambahkan sebuah catatan: "Demi
menyampaikan situasi secara langsung, kami perlu segera meninggalkan Rimulgard
Barat."
Dengan begini, alasan untuk segera melaporkan situasi
kepada keluarga kerajaan menjadi sah.
Jika Ayah melapor secara langsung, kerajaan tidak perlu
lagi repot-repot mengirim penguasa sementara selanjutnya secara bergilir.
Keputusan Sieg sekilas tampak nekat, namun kenyataannya
ini bukan berita buruk bagi Rimulgard Barat, Bismarck, maupun Kerajaan Barcus
sendiri.
Aku, Ike, dan Sieg meninggalkan Rimulgard Barat
menuju Almeria. Meski hari sudah larut, banyak penduduk berkumpul untuk melepas
keberangkatan kami.
Melihat banyaknya tepuk tangan dan ucapan terima
kasih, sesuatu yang hangat menjalar di lubuk hatiku. Sepertinya, talenta Sieg
dalam memerintah wilayah memang jauh lebih menonjol dibandingkan bakat
bertarungnya.
Tapi sekarang bukan saatnya terhanyut dalam
nostalgia. Mulai sekarang, kami akan terus memacu kuda ke arah barat siang dan
malam. Demi pulang ke Almeria, tempat orang-orang tercinta menunggu—
Agar kuda-kuda kami bertahan lebih lama, aku rutin
merapalkan Heal. Jika efek Heal mulai memudar, kami akan menukar
kuda di kota-kota yang kami lalui, lalu kembali memacu kencang.
Kami tidak menginap di penginapan. Kami tidur
bergantian di dalam kereta kuda dan mengganjal perut dengan ransum sederhana.
Makan dan istirahat dilakukan seminimal mungkin. Aku dan Ike bergantian menjadi kusir, memegang tali kekang dengan penuh
tekad.
Di hadapan kami hanya ada daratan yang membentang dan
udara dingin yang jernih. Serta jalan menuju kampung halaman.
Meski begitu, kami tidak berhenti. Terus melaju ke arah barat.
Dan akhirnya—
Deretan bangunan Almeria muncul di depan mata pada
tanggal tiga puluh Desember, saat matahari baru saja terbenam. Kota yang
terlihat di kejauhan itu terang benderang seolah menyambut kami, dengan cahaya
lembut lampu batu sihir yang mengambang di langit malam yang dingin.
"Rasanya kota ini jadi lebih berkembang dibanding
saat kita masih tinggal di sini ya. Jumlah bangunan dan tokonya sepertinya
bertambah..."
Aku bertanya pada Sieg yang berada di sampingku. Ia pun menjawab dengan bangga.
"Tepat sekali. Seperti yang kau tahu, para
petualang yang lulus dari Labirin Ilgusia banyak yang pindah ke sini. Rumor
bahwa kota ini menjadi tempat berkumpulnya petualang masa depan juga menyebar,
membuat wanita-wanita cantik juga ikut bertambah. Pasti dalam
beberapa tahun lagi, petualang kelas B akan lahir dari kota ini."
Bayangan masa depan yang diceritakan Sieg terlintas di
benakku, membuatku tak sadar menyunggingkan senyum. Pemandangan dari kereta
kuda tampak penuh vitalitas. Meski malam sudah larut, banyak toko yang masih
beroperasi.
Di depan toko, terlihat para wanita yang sedang tertawa
riang bersama.
Sambil mengamati kota, aku mempercepat kereta hingga tiba
di depan kediaman, dan pemandangan di sana sedikit mengejutkanku.
Lampu di dalam rumah sudah padam, tapi area sekeliling
diterangi dengan terang oleh lampu batu sihir, dan para penjaga kediaman tampak
berjaga dengan sigap.
Sebelum kami meninggalkan Almeria, rumah ini tidak
memiliki penjaga. Sekarang, sistem keamanannya begitu ketat, persis
seperti kediaman bangsawan tingkat tinggi yang asli.
Begitu Sieg turun dari kereta, para penjaga serentak
memberi hormat dan berseru kompak, "Selamat datang kembali, Tuan
Sieg!"
Lalu saat melihatku dan Ike, dengan raut wajah
sedikit tegang mereka kembali memberi hormat, "Tuan Ike, Tuan Mars,
selamat datang kembali!"
Sambil menerima penghormatan itu, aku melangkah masuk
ke dalam rumah. Tiba-tiba, suasana hangat dan aroma yang familier menyapa indra
penciumanku. Detik berikutnya—
""Selamat datang kembali, Mars!""
Dua bayangan hitam menerjang ke arahku dengan
kencang. Itu Clarice dan Eris. Tanpa memedulikan Sieg maupun Ike, mereka
langsung melakukan dive ke arahku.
Meski panik, aku menangkap mereka berdua dengan
mantap dan memeluk tubuh mungil mereka. Kehangatan keduanya menjalar ke seluruh
tubuhku, membuatku tak kuasa menahan senyum.
"Aku pulang. Aku... benar-benar ingin bertemu
kalian—"
Saat kata-kata itu terucap, suaraku bergetar karena emosi
yang meluap. Betapa berartinya kehadiran mereka berdua bagiku—aku merasakannya
sekali lagi.
Wajah mereka terbenam di dadaku, enggan melepaskannya
untuk sementara waktu. Rambut perak Clarice dan rambut emas Eris menyentuh
bahuku, menyebarkan aroma lembut yang menggelitik hidung.
"Aku juga selalu menunggumu, Mars...!"
"……Sudah……
takkan kulepaskan……"
Mereka benar-benar sangat menggemaskan. Saat aku
berniat memeluk mereka lebih erat sambil berharap momen ini abadi, suara Ike
terdengar dari belakang.
"Clarice? Mana Ede?"
Clarice sempat memasang wajah bingung sesaat, tapi
wajahnya langsung memerah padam saat menyadari keberadaan Sieg dan Ike. Ia pun
buru-buru membungkukkan kepala.
"Ma-maaf. Ayah mertua, Kakak Ipar... saya tidak
menyadari kalian... Saya rasa Kakak Ipar sudah tidur. Sebenarnya saya juga
sedang tidur, tapi tiba-tiba Eris membangunkan saya dengan paksa sambil
berteriak, 'Mars sudah pulang!'... Saya akan bangunkan dia, jadi mohon tunggu
sebentar."
Clarice menarik paksa Eris yang masih tak mau lepas
dariku, lalu pergi membangunkan Kakak Ipar.
Saat aku kembali memperhatikan mereka berdua, pakaian
mereka cukup... berbahaya.
Atasan mereka menggunakan kemejaku, sementara bawahannya
hanya celana pendek. Kemejaku terlalu besar untuk mereka, sehingga lengan
bajunya harus dilipat berkali-kali.
Setiap kali mereka bergerak, kulit putih mereka terlihat
mengintip dari celah baju, membuat mataku hampir saja tercuri.
...Tergantung sudutnya, apa isinya bisa kelihatan...?
Pikiran itu melintas, membuatku buru-buru memalingkan muka. Aku ini pria
budiman, pria budiman. Aku terus meyakinkan diriku sendiri.
Di tengah peperangan melawan nafsu itu, Sieg memberi
usul.
"Sementara itu, sebaiknya kita mandi dulu."
Mendengar itu, kami mengangguk setuju. Sieg, Ike, dan
aku menuju kamar mandi. Saat berendam, rasa lelah dari perjalanan panjang seolah
meleleh perlahan.
Setelah mandi, di ruang tengah sudah ada Maria dan Kakak
Ipar yang menunggu bersama Clarice dan Eris. Masing-masing mengelilingi meja,
menciptakan suasana yang damai.
Kami duduk di samping pasangan masing-masing sambil minum
alkohol ringan. Para pria bertanya dengan antusias tentang kejadian di Almeria,
dan para wanita pun menanyakan detail tentang kami.
Namun di tengah semua itu, Eris tetaplah Eris. Ia
tiba-tiba menempelkan bibirnya di leher kiri aku, lalu begitu saja kehilangan
tenaga dan mulai mendengkur halus. Meski terkejut, aku tertawa melihat
alirannya yang terlalu natural.
Namun, saat melihat wajah tidur Eris, ketiga wanita
lainnya tampak memasang wajah lega.
"Ternyata memang penyebabnya adalah Mars ya,"
gumam Maria dengan tatapan keibuan sambil mengelus lembut rambut Eris.
"Apa maksudnya?"
Saat aku bertanya dengan heran, Clarice menjawab sambil
menatap wajah tidur Eris yang damai.
"Sebenarnya, sejak berangkat dari Rimulgard Barat,
Eris sama sekali tidak bisa tidur. Meski sudah sangat capek dan mengantuk,
entah kenapa dia mengeluh tidak bisa tidur nyenyak. Karena kurang tidur, dia
jadi sangat agresif jika ada petualang yang sedikit saja mengganggu
kami..."
Tanpa sadar, ternyata dia sudah sangat bergantung padaku
ya. Terlebih lagi, sejak dulu Eris selalu tidur tanpa menguras MP,
alasannya karena jika terjadi sesuatu, ada kemungkinan dia tidak bisa bangun
tepat waktu.
"……Sudah larut malam. Kita lanjutkan besok
saja."
Mendengar perkataan Sieg, semua orang mengangguk dan
bubar dengan sendirinya.
Aku pun meletakkan kepala di atas bantal rumah yang sudah
lama kurindukan, lalu memejamkan mata dalam balutan rasa aman. Rasa lelah
perjalanan meresap ke seluruh tubuh, dan kesadaranku menjauh bahkan sebelum
sempat menguras MP—
◆◇◆
Keesokan harinya—1 Januari 2033, pagi hari.
Karena rasa aman dan lelah perjalanan, saat aku
terbangun, matahari sudah tinggi. Setelah bersiap-siap dan keluar kamar—Clarice
sudah berdiri di sana.
"Selamat pagi. Ada apa, Clarice?"
"Ehm... soalnya aku ingin Mars menjadi orang pertama
yang aku temui..."
Mata Clarice bergetar ragu sejenak, lalu ia menatap lurus
ke arahku.
"Selamat ulang tahun."
Clarice sedikit berjinjit, lalu mengecup bibirku. Dadaku
terasa panas karena terkejut dan bahagia—ini hadiah ulang tahun terbaik yang
pernah ada.
"Te-terima kasih... tapi, maaf. Aku belum menyiapkan
apa pun..."
Melihatku yang terbata-bata, Clarice menggelengkan kepala
sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Dengan ini saja, aku juga sudah
menerima hadiah ulang tahun... Ayo berangkat, semuanya sudah menunggu."
Ia berbalik seolah ingin menyembunyikan wajahnya yang
malu, lalu berjalan di depanku. Sambil mengekor di belakangnya, senyumku
merekah alami. Tahun ini pun dimulai dengan awal yang luar biasa.
Di ruang makan, semua orang sudah berkumpul menikmati
sarapan.
"Selamat pagi."
Aku menyapa singkat dan duduk di samping Eris, sementara
Clarice secara alami duduk di sebelah kananku. Posisi seperti biasanya. Tapi,
hari ini ada satu tamu istimewa lainnya.
"Kakak! Selamat pagi! Aku kangen!"
Bersamaan dengan suara itu, Lina melompat ke
pangkuanku dan memeluk erat.
"Ah, Lina. Selamat
pagi. Apa kamu sudah jadi anak baik dan menuruti kata Ibu?"
Saat aku bertanya dengan lembut, Lina tersenyum lebar
sambil mengangguk sekuat tenaga.
Namun pada saat itu juga—suara tangisan yang memekakkan
telinga bergema di ruang makan. Karena terkejut, aku mencari sumber suara, dan
ternyata seorang bayi di pelukan Maria sedang menatapku tajam dengan mata
besarnya.
Anak itu adik laki-lakiku—Cain ya.
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa bayi yang baru bisa
menegakkan leher itu menunjukkan permusuhan yang begitu kuat padaku.
Saat aku kebingungan, Clarice yang duduk di sampingku
mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan.
"Anu, aku tidak tahu apa boleh mengatakannya, tapi
sepertinya Cain sangat suka wanita meski masih bayi. Terutama dia suka Eris—dan
sepertinya lebih suka payudara yang besar..."
Begitu ya, sepertinya tidak salah lagi dia memang
adikku. Ada rasa kedekatan yang aneh, tapi Clarice dan Eris adalah wanita yang
lebih berharga dari nyawaku sendiri. Aku tidak akan menyerahkan mereka.
Sambil berpikir begitu, aku merangkul bahu Clarice
dan Eris seolah ingin pamer.
Seketika, Cain memasang wajah seolah dunia akan kiamat,
lalu menangis semakin kencang. Ga-gawat... anak ini asli. Sebaiknya aku
berhenti menggodanya.
Yang menyelamatkan suasana adalah Sieg. Ia membuka suara dengan tenang.
"Semuanya,
tolong dengarkan sebentar... Pertama, Ike dan Edin—maafkan aku selama ini. Jika
ada waktu, aku berniat menemui Count Messalius. Saat itu, Ike harus ikut
denganku."
"Baik.
Saya mengerti, Ayah."
Ike dan
Kakak Ipar saling tersenyum, memancarkan suasana bahagia. Melihatnya,
aku pun merasa sedikit lega.
Berikutnya, tatapan Sieg tertuju pada kami bertiga.
"Aku ingin kalian bertiga membantu menipiskan jumlah
monster di Labirin Almeria. Batu sihirnya akan diambil oleh [Three Wolf Stars].
Letakkan saja di dekat tangga lantai dua. Jika kalian bisa mengalahkan Unclean
King, mungkin kalian bisa menaklukkannya. Aku mengandalkan kalian. Soal Ike dan
Edin, biar urusanku. Jika kalian jarang punya waktu berdua, bersantailah di
sini."
Eksplorasi labirin sangat menguntungkan bagiku. Jika
keluar ke kota, tatapan orang-orang ke arah Clarice dan Eris sangat mengganggu.
Lagipula, aku juga bisa kabur dari tatapan Cain.
Sieg melanjutkan.
"Terakhir—aku akan pergi ke ibu kota. Berkat Mars,
aku punya kelonggaran waktu, jadi aku akan bersantai sedikit, tapi aku harus
melaporkan pembasmian Unclean King."
Benar juga, kalau tidak dilakukan, paling buruk bisa
dianggap pengkhianatan. Itu prioritas utama.
Kami bertiga menyampirkan tas besar di bahu dan
segera meninggalkan kediaman. Seolah sedang dikejar oleh Cain.
Labirin terasa jauh lebih ramai dibandingkan saat aku
mengunjunginya setahun lalu. Di lantai satu, para petualang bertarung melawan
monster di setiap ruangan, dan koridor-koridor dipenuhi oleh mereka yang sedang
beristirahat.
Di tengah semua itu, anggota Ksatria Bryant melakukan
patroli, membuat seluruh labirin diselimuti suasana hidup sekaligus tegang.
Namun saat memasuki lantai dua, hiruk-pikuk itu lenyap
seketika. Yang terlihat hanya [Blue Fang] dan [Three Wolf Stars].
Kabarnya, Sieg merevisi peraturan Labirin Almeria, di
mana mereka yang tidak memiliki kemampuan di atas standar dilarang memasuki
lantai dua. Namun, monster-monster lantai dua pun sudah tidak terasa
tantangannya bagi kami yang sekarang.
Dalam waktu singkat, kami menguasai seluruh ruangan di
lantai dua dan mulai menuruni tangga ke lantai tiga.
Begitu menginjakkan kaki di lantai tiga, monster kelas Threat
C mulai bermunculan. Monster bertubuh besar dengan pusat Grizzly Bear
berkeliaran, jelas jauh lebih merepotkan dibanding lantai dua.
Tetap saja, mereka bukan ancaman bagi kami yang sekarang.
Kami maju sambil membereskan monster-monster itu
dengan mantap.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul ruang yang
bercahaya putih—Safety Zone.
"Berhasil! Ternyata labirin ini juga punya Safety
Zone!"
Sambil merasa antusias di ruangan luas itu, aku mulai
menyiapkan peralatan menginap dengan gerakan terampil.
Pertama, aku membuat bak mandi dengan sihir tanah,
lalu menutup sekelilingnya dengan dinding batu yang kokoh.
Setelah selesai, aku mengisi air panas dan meminta
Clarice serta Eris masuk lebih dulu. Sementara itu, aku menyekat ruangan dan
membuat tempat tidur untuk pria dan wanita.
Malam itu sebelum tidur, aku memutuskan mengajari Clarice
sihir Holy. Awalnya aku membiarkannya mencoba tanpa memberi tahu
tipsnya.
Namun, berkali-kali dicoba, pilar cahaya tak kunjung
muncul. Meski begitu, ia terus mencoba berkali-kali. Karena belum berhasil juga
setelah satu jam, aku memberinya satu saran.
"Clarice, coba rapalkan sambil memikirkanku? Jangan
pikirkan hal lain, cukup pikirkan aku saja—"
Clarice mengangguk, mengangkat kedua tangannya ke
depan, dan memejamkan mata. Sesaat kemudian pipi putihnya merona
merah, lalu ia berseru dengan kuat.
"Holy!"
Setelah keheningan beberapa detik, lingkaran sihir
terlukis di tanah, dan pilar cahaya menjulang hingga ke langit-langit.
Melihat wajah samping Clarice yang kegirangan, lubuk
hatiku terasa hangat. Ia merapalkannya sambil memikirkanku, dan berhasil
mengeluarkan Holy dengan gemilang. Apa artinya itu—aku yang paling
memahaminya, karena aku pun bisa mengeluarkannya saat membayangkan perasaan
kepadanya.
"Selamat, Clarice. Benar-benar hebat... lagipula,
aku merasa sangat senang."
"Ehm. Aku juga... Mars juga merapalkannya sambil
memikirkanku, kan? Cinta itu kekuatan ya."
Mendengar kata-kata yang keluar secara alami itu, Clarice
tertawa malu-malu. Di Safety Zone malam itu, bukan hanya lampu ruangan
yang menyala, tapi hati kami pun diterangi oleh cahaya yang hangat.
◆◇◆
Keesokan harinya—
Kami berkeliling di lantai tiga. Jenis monsternya tidak
berubah, semuanya individu Threat C. Kami menyelesaikan eksplorasi
lantai tiga dengan lancar, lalu keesokan harinya—kami menginjakkan kaki di
lantai empat.
Di tempat kami mendarat, sosok monster yang baru
pertama kali kulihat langsung tertangkap mata. Ada sepuluh monster humanoid
berwarna hijau. Mereka memiliki kuku tajam, menggenggam gada batu di tangan,
dan mengenakan tanduk besar di kepala mereka.
Wujudnya jauh lebih besar dari Goblin yang kukenal,
dengan otot-otot yang menonjol. Mereka bertingkah seolah sedang berbincang,
namun aura tekanan yang ada membuat suasana menjadi sangat tegang.
"Apa itu... lebih besar dari Goblin...
sepertinya tangguh."
"Ya, berbeda dari Goblin biasa... kita akan
melancarkan serangan kejutan. Aku akan melakukan Appraisal sambil
bertarung. Jika hasilnya keluar akan kuberitahu, jadi bersiaplah untuk kabur
kapan saja."
Sambil mencari waktu yang tepat untuk menyerang, kami
mengintai monster-monster hijau itu. Kami menahan napas, berkonsentrasi agar
tidak melewatkan celah sekecil apa pun.
Dan—saat semua monster membelakangi kami secara
bersamaan, kami berlari sekencang angin.
Aku mengambil serangan pertama. Diselimuti angin, aku
mendekati monster pertama, dan satu tebasan Pedang Petir memenggal kepalanya.
Di tengah gema petir yang menyisip di kegelapan, aku
segera melepaskan Kamaitachi, menghujamkan puluhan bilah angin tajam ke
leher monster kedua.
Eris
dan Clarice merespons gerakanku dan mulai menyerang. Clarice melepaskan Magic
Arrow, menusuk dalam ke bahu monster ketiga.
Tak
menyia-nyiakan kesempatan itu, Eris merangsek maju dengan Sylph Dagger,
memberikan satu serangan telak ke lehernya.
"Yang
ketiga... selesai!"
Suara
Eris bergema, tapi tidak ada waktu untuk lega.
Monster
keempat—saat aku berpikir begitu, monster-monster yang tersisa menyadari
serangan kejutan kami dan mengeluarkan raungan rendah.
Mereka
memasang kuda-kuda dengan gada batu, mengangkat tangan kiri ke depan, dan
menatap kami tajam secara serentak.
Permusuhan dan kemarahan di mata merah mereka sangat
jelas, mengumumkan serangan balasan.
Situasi berubah drastis, dari serangan kejutan menjadi
pertarungan terbuka.
Aku ingin mengurangi jumlah mereka lebih banyak lagi,
tapi apa boleh buat. Aku
segera melakukan Appraisal.
[Ras] Ogre
[Threat] B
[Status] Good
[Age] 3 Tahun
[Level] 12
[HP] 242/242
[MP] 210/210
[Strength] 130
[Agility] 120
[Magic Power] 101
[Dexterity] 51
[Stamina] 132
[Luck] 1
[Special Ability] Clubmanship D (Lv5/13)
[Special Ability] Earth Magic D (Lv5/13)
[Details] Memiliki
kecerdasan tinggi. Memahami bahasa manusia.
Kua-kuat...
Aku berteriak sambil mengeratkan pegangan pada pedang.
"Mereka kuat! Threat B! Mereka pengguna sihir
tanah! Aku akan maju di depan, kalian berdua tolong berikan bantuan!"
Berdiri di garis depan, aku berniat mencicil mereka
dengan sihir angin.
Namun, para Ogre bereaksi dengan cepat. Sesaat
setelah suara gumaman seperti mantra terdengar, beberapa Earth Wall
tercipta satu demi satu.
Bilah-bilah angin terhalang oleh dinding itu, membuat
kekuatannya berkurang drastis. Terlebih lagi, dinding tanah itu menutupi
pandangan kami, membuat pergerakan musuh sulit diikuti.
Aku segera mengaktifkan Search untuk memastikan
lokasi musuh. Namun, hasilnya membuat kudukku merinding.
Para Ogre itu mengincar Clarice, bukan aku—secara pasti.
"Clarice, hati-hati! Mereka mengincarmu!"
Sambil berteriak, aku memperpendek jarak dengan para
Ogre. Jika monster biasa, perhatian mereka pasti akan tertuju
padaku yang berada di depan.
Tapi mereka berbeda. Aku merasa seolah sedang bertarung
melawan party petualang yang berpengalaman. Tiga Ogre menahanku,
sementara sisanya mulai bergerak menjadikan Clarice sebagai target utama.
"Ice
Wall!"
Bersamaan
dengan suara jernih itu, hawa dingin membelah udara, dan dinding es tebal
menjulang di depan Clarice. Namun, lawan kami pun bukan monster sembarangan.
Dengan
suara geraman rendah, beberapa Ogre menembakkan Earth Bullet secara
beruntun ke arah dinding es. Diiringi suara benturan keras, dinding es itu
perlahan mulai retak.
Kekuatan
sihir Clarice memang melampaui para Ogre, tapi sulit untuk melawan kekerasan
dalam jumlah banyak. Berkali-kali ia memasang kembali Ice Wall, namun
serangan yang datang mulai tak terkejar.
Saat
itulah, Eris mulai bergerak dalam diam. Gadis itu menggenggam belati, berlari
lincah di sela-sela para Ogre. Namun pergerakannya bukan untuk menghabisi
mereka.
Eris
berkonsentrasi untuk mengacaukan kesadaran lawan dan memutus alur serangan ke
arah Clarice. Ia memberikan luka sayatan tipis pada para Ogre, menarik
perhatian mereka satu demi satu.
Hasilnya, sebagian Ogre mengubah target mereka ke arah
Eris. Aku tidak melewatkan kesempatan itu, menghabisi mereka satu per satu
dengan pasti. Setiap kali perhatian monster terpecah, aku melancarkan serangan
dan perlahan mengurangi jumlah mereka.
Butuh waktu lebih dari sepuluh menit sampai kesepuluh
Ogre itu tumbang. Saat kami saling melihat satu sama lain, kami bertiga pun
tidak tanpa luka. Ada luka gores, darah yang merembes, dan memar di
beberapa bagian.
Aku menjulurkan tangan, mengarahkan cahaya sihir yang
berpijar kepada Clarice dan Eris.
"Tadi itu... kuat sekali ya."
"Iya... selain masing-masing individunya kuat, kerja
sama mereka juga luar biasa."
"……Ehm……
serangannya kena……"
Kami langsung mengadakan evaluasi di tempat.
Memikirkan bagaimana cara menghadapi pertarungan serupa di masa depan adalah
hal yang sangat penting bagi pertumbuhan kami.
Jawaban yang kami temukan adalah pertarungan sihir.
Namun, dengan asumsi pertarungan jangka panjang untuk menguras MP lawan.
Aku akan maju sedikit ke depan, berkonsentrasi untuk
menangkis sihir tanah. Menggunakan Pedang Petir dan Salamander Sword
secara bergantian, aku akan menebas Earth Bullet yang terbang maupun Earth
Wall yang menutupi pandangan dengan Wind Cutter.
Clarice juga akan memprioritaskan pertahanan sambil
mencari celah untuk menembak peluru tanah yang meluncur dengan Magic Arrow.
Tugas Eris adalah memberitahu posisi Ogre saat pandangan tertutup dinding
tanah. Sementara itu, untuk lawan yang mencoba pertarungan jarak dekat, aku
memintanya untuk melakukan gerakan mengulur waktu.
Strategi yang kami susun ini memang memakan waktu, namun
sebagai gantinya, kami bisa menekan kerusakan seminimal mungkin.
Ogre memiliki tingkat bahaya Threat B. Mereka
musuh yang tangguh, tapi dengan mengalahkan mereka, pengalaman kami
terakumulasi dengan pasti, dan kemampuan tempur kami meningkat secara bertahap.
Hasilnya terlihat jelas pada status kami. Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil.
Inilah hasil dari perjuangan kami selama tujuh hari.
[Nama] Mars Bryant
[Title] God of Thunder / Wind King /
Saint / Goblin Slayer
[Status] Putra Kedua Keluarga Count
Bryant
[Condition] Good
[Age] 13 Tahun
[Level] 38 (+5)
[HP] 258/258
[MP] 24/10662
[Strength] 166 (+5)
[Agility] 174 (+18)
[Magic Power] 233 (+21)
[Dexterity] 200 (+18)
[Stamina] 166 (+18)
[Luck] 30
[Innate Ability]
• Talent
(Lv MAX)
• Divine
Eye (Lv 11)
• Thunder
Magic S (Lv 11/20) (10→11)
[Special Ability] Swordmanship B (Lv 12/17)
•
Taijutsu G (Lv 3/5)
•
Fire Magic E (Lv 8/11)
•
Water Magic F (Lv 5/8)
•
Earth Magic E (Lv 8/11)
•
Wind Magic A (Lv 17/19) (16→17)
•
Holy Magic C (Lv 9/15) (8→9)
[Equipment]
• Roaring
Thunder Sword
•
Salamander Sword
•
Narukami's Vestment
[Nama] Clarice Lampard
[Title] Saintess
[Status] Putri Sulung Keluarga Baron
Lampard
[Condition] Good
[Age] 13 Tahun
[Level] 43 (+5)
[HP] 217/217
[MP] 10/2242
[Strength] 110 (+13)
[Agility] 112 (+12)
[Magic Power] 153 (+16)
[Dexterity] 160 (+14)
[Stamina] 96 (+13)
[Luck] 20
[Innate Ability]
• Barrier
Magic G (Lv 2/5)
[Special Ability]
•
Swordmanship C (Lv 9/15)
•
Archery B (Lv 11/17)
•
Water Magic C (Lv 8/15) (7→8)
•
Wind Magic G (Lv 3/5)
•
Holy Magic A (Lv 13/19) (12→13)
[Nama] Eris Leo
[Title] -
[Status] Kepala Keluarga Baronet Leo
(Beastman)
[Condition] Good
[Age] 12 Tahun
[Level] 38 (+5)
[HP] 250/250
[MP] 62/84
[Strength] 123 (+13)
[Agility] 151 (+17)
[Magic Power] 31 (+3)
[Dexterity] 85 (+8)
[Stamina] 96 (+10)
[Luck] 10
[Innate Ability]
• Sound
Magic G (Lv 1/5)
[Special Ability]
• Dagger
Technique C (Lv 9/15) (8→9)
• Taijutsu
A (Lv 12/19) (11→12)
• Wind
Magic F (Lv 2/8)
Karena
aku telah mengalahkan Unclean King dan para kerangka, levelku naik sebanyak 5,
dan hanya di lantai empat ini saja levelku sudah naik 3 tingkat.
Status
kami bertiga sepertinya sudah mencapai level petualang Kelas B.
Khusus
untuk diriku, aku bahkan sudah mengalahkan Unclean King yang punya Threat A,
serta Arvank. Ditambah lagi, Upial juga sangat kuat, hampir setara dengan
mereka. Meski statusku mungkin belum cukup, bisa jadi kekuatanku sudah berada
di level petualang Kelas A.
Meski
begitu, aku masih merasa kurang dalam hal pengalaman tempur yang nyata dan
pengetahuan tentang berbagai macam monster.
Sambil
memikirkan hal itu, aku mengalihkan pandanganku ke sebuah rapiere yang
tersimpan rapi di dekat tempat tidur. Ini adalah senjata istimewa yang
kudapatkan saat mengeksplorasi lantai empat.
[Nama] Holy Silver Rapier
[Attack] 40
[Special] Agility +3, Magic Power +3
[Value] S
[Details] Rapier dengan atribut suci. Memberikan pemulihan MP kepada pengguna saat berhasil
melukai musuh.
Pedang itu tampak seperti sebuah karya seni; bilahnya
ramping dan memancarkan kilau suci. Gagangnya dihiasi ukiran yang sangat
detail, dan hanya dengan memegangnya saja, aku bisa merasakan kekuatan suci
yang mengalir keluar.
Tergantung cara pemakaiannya, senjata ini menyimpan
potensi bagi Alice untuk bertarung di garis depan tanpa batas.
Hanya saja, Alice direncanakan untuk bergabung dengan [Reimei]
sebagai seorang Holy Mage.
Menariknya ke garis depan mungkin dianggap tindakan yang
melenceng dari akal sehat dunia ini.
Holy Mage adalah seorang penyembuh, bukan seseorang
yang terjun langsung ke medan tempur. Itulah norma di dunia ini.
Aku harus menyesuaikan persepsi itu dengan baik
bersama teman-teman yang lain.
Sambil menyimpan pemikiran itu, aku membuka suara
dengan tenang.
"Kita sudah mulai terbiasa bertarung melawan
para Ogre, ya."
Setelah melalui berbagai percobaan, sekarang kami
tidak lagi mengincar habisnya MP lawan, melainkan bertarung dengan
strategi baru. Strategi ini terbukti sangat ampuh dan membuat kemenangan kami
menjadi tak tergoyahkan.
"Besok kita akan masuk ke lantai lima. Setelah
melihat situasinya sebentar, kita akan kembali ke Almeria. Aku sudah mengirim
pesan lewat kurir kalau kita akan sedikit terlambat, tapi mungkin saja Adipati
Reagan mulai khawatir."
Mereka berdua mengangguk dan memberikan jawaban singkat,
lalu kami bertukar pelukan yang sudah menjadi ritual sebelum tidur.
"Selamat malam, Mars."
"……Selamat malam……"
Suara imut mereka berdua yang tertinggal di telingaku
bergema dengan nyaman di lubuk hati. Sambil terus memutar kembali suara itu,
aku pun menyelinap ke dalam selimut.
Bahkan saat kantuk mulai menjemput, suara itu tetap meninggalkan sisa-sisa kehangatan yang mendalam.



Post a Comment