Chapter
10
Pertarungan
Sengit! Festival Lister
Mars tiba-tiba berdiri dan mulai bicara. Detik
berikutnya, kata-kata yang sulit dipercayai meluncur dari mulutnya. Sebuah
provokasi yang seolah-olah sedang menabuh genderang perang terhadap Pangeran
Kerajaan Zalkam.
Apa dia bodoh? Campuran antara rasa takjub dan
khawatir membuatku ingin memegangi kepala karena kenekatannya yang kelewat
batas.
Wajah pria di sebelahnya yang tampak seperti
petualang itu, singkatnya, buas. Tipe orang yang terlihat jelas tidak boleh
didekati. Namun, Mars sepertinya sama sekali tidak ambil pusing.
Sambil meragukan pendengaranku sendiri, aku mencoba
mencuri dengar percakapan mereka. Doaho—bukan, si tolol yang status pangerannya
saja meragukan itu—mengajukan syarat satu lawan lima sebagai tawaran yang gila.
Satu lawan lima? Dia serius?
Kalau dipikir dengan tenang, tidak ada alasan sama sekali
untuk menerima syarat semacam itu. Mars... kamu itu kan pria pirang super
tampan yang cuma punya modal tampang, tahu? Tidak mungkin kamu bisa menang.
Bagaimana kalau wajah cantik itu sampai terluka!
Bicara soal luka di wajah cantik, aku teringat luka
sayatan di wajah dewi—kecantikan bak dewi milik Clarice... tapi, luka itu pun
terlihat indah... buktinya, meski terluka, dia tetap peringkat S.
Selagi aku sibuk melamunkan hal itu, Mars mengucapkan
kata-kata yang lebih tak masuk akal lagi.
Dia akan menghadapi dua party Rank B sekaligus.
Hah? Satu lawan sepuluh? Apa dia sudah bosan hidup?
Apa dia pikir dia bisa terlihat keren di depan semua
orang?
Apa dia pikir aku bakal jatuh cinta dengan aksi sok
jagoan begitu?
Biar setampan apa pun dia... asal tampan saja sih...
malah aku saja yang jadi lawannya kalau begitu...
Ike yang menerima permintaan Mars segera meninggalkan
tempat itu untuk mengurus administrasi arena gladiator.
Setelah itu, pria berwibawa dengan gaya gentleman
yang menghunuskan pedang ke arah si bodoh tadi, pergi keluar toko bersama orang
yang dipanggil Pak Bram, sambil menggiring si pangeran bodoh dan petualang
berwajah penjahat itu.
Selanjutnya, Mars membawa Clarice dan Eris menghilang
ke ruang belakang.
Tunggu dulu... apa yang mereka bertiga lakukan di
sana... jangan-jangan... hal begini atau hal begitu...?
Imajinasi liar sempat melintas di kepalaku, tapi Mars
segera muncul kembali dari ruang belakang.
Wajah tampannya tidak menunjukkan rasa tertekan maupun
keangkuhan, melainkan tekad yang tenang. Kemudian, dia membungkuk dalam dan
mulai meminta maaf kepada para tamu di dalam toko.
Melihat itu, hatiku terasa sesak. Meski begitu, sikap
tulusnya berhasil memikat hati para pelanggan pria di sekitar. Mereka membantu
memunguti pecahan gelas dengan cekatan sambil melontarkan pujian kepada Mars
dengan nada kagum.
Sesaat setelah Mars keluar dari kelas, Clarice dan Eris
muncul dari ruang belakang.
Keduanya sudah mendapatkan pertolongan pertama, dengan
perban dan plester yang membalut bagian yang terluka. Hatiku perih
melihatnya... tapi, mataku tidak bisa berhenti melirik.
Perban yang melilit paha itu, kenapa terlihat sangat
menggoda sekali... meskipun tidak luka pun sebaiknya dililit saja.
Lalu, Clarice membungkuk seperti yang Mars lakukan, dan
suara seindah burung Kalavinka bergema dari mulutnya.
"Semuanya, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya
memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami akan memberikan kesempatan lain
agar Anda semua bisa kembali menikmati suasana. Jika berkenan, maukah Anda
sekalian makan siang bersama kami di hari terakhir? Meski biaya masuk sekolah
tetap berlaku, biaya makan dan minum akan kami tanggung sepenuhnya. Mohon
dipertimbangkan."
Mendengar tawaran itu, para pria di dalam ruangan
bersorak sorai, dan tentu saja semua orang sangat gembira. Kami berdua pun
jelas tidak punya keberatan sedikit pun.
Dengan begitu, keributan yang hanya berlangsung sekitar
lima menit itu mereda seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dan Maid Cafe
kembali tenang—namun, aku merasakan kejanggalan yang tidak bisa kuhilangkan di
lubuk hatiku.
Kenapa para murid Kelas S bisa bersikap setenang ini?
Sikap mereka yang bahkan tidak menunjukkan sedikit pun
kegoyahan atas keributan yang baru saja terjadi di depan mata.
Padahal, di saat ini pun, nyawa Mars mungkin sedang
terancam.
Memang, di bawah pengawasan orang banyak—apalagi di arena
gladiator sekolah—nyawa seseorang tidak akan melayang semudah itu... ya, secara
logika aku paham. Tetap saja, reaksi mereka terasa terlalu dingin.
"Dominic—boleh aku tanya sesuatu?"
Aku memberanikan diri menyapa Dominic yang duduk di
sebelahku. Dia mengangguk pelan, mempersilakanku bicara.
"Kalian semua, apa berniat membiarkan Mars
mati?"
Mendengar pertanyaanku, wajah Alice tampak tegang.
Mungkin adikku juga merasakan keraguan yang sama. Tapi, seolah ingin menepis
hal itu, Dominic justru menyunggingkan senyum tipis.
"Sophia, apa kamu pikir Mars akan kalah? Dia itu
pria terkuat di Kelas S, tidak, bahkan di Sekolah Nasional Lister, tahu? Tidak
ada alasan baginya untuk kalah. Malah, aku lebih penasaran apakah Mars akan
bertarung dengan serius atau tidak."
Kata-kata yang diucapkan Dominic dengan nada datar itu
mengandung kepercayaan diri yang mutlak.
Lalu Baron ikut menyambar pembicaraan.
"Kalau kalian penasaran, mau pergi melihatnya
bersama Alice? Kebetulan Senior Edin ada di sini, mungkin kalian bisa
dimasukkan ke ruang ofisial. Kalau kami sih, sayangnya tidak bisa ikut
pergi."
"……Eh? Edin, Miss Lister tahun lalu itu...?"
Tanpa sadar aku bertanya balik, dan Baron mengangguk
sambil mengarahkan pandangannya. Di sana, berdiri seorang wanita cantik yang
mengenakan kacamata berbingkai merah.
Ka-kawaiii...! Kacamata merah itu semakin menonjolkan
pesona intelektualnya. Saat aku terpaku mengaguminya, Alice di sebelahku
langsung berseru penuh semangat.
"Aku sangat ingin pergi melihatnya!"
Baron menghampiri Clarice dan Edin untuk menjelaskan
situasinya.
Hasilnya, Edin berganti pakaian ke seragam sekolah dan
mendatangi kami. Dia mengenakan seragam putih dengan sulaman merah.
Penampilannya terlihat anggun dan bahkan memancarkan wibawa.
"Jadi
kalian yang bernama Sophia dan Alice. Aku Edin Alaitas. Salam kenal ya."
Sambil menebar senyum lembut, Edin mengulurkan
tangannya. Tangannya lentik dan cantik, terlihat sekali kalau dia berasal dari
keluarga terhormat.
"A-aku Sophia Carroll. Mohon bantuannya!"
Sambil gugup, aku menjabat tangan yang diulurkan itu.
Begitu aku menyebutkan namaku, Alice di sampingku segera menyusul.
"Aku
Alice Carroll! Mohon bantuannya!"
Alice
juga membungkuk dengan sopan.
Edin
tetap tersenyum dan dengan gerakan anggun menuntun tangan kami.
Kami mengikuti Edin menuju arena gladiator.
Setibanya di sana, dia langsung mengarahkan kami ke
ruangan khusus ofisial. Di sana sudah ada banyak orang berkumpul.
Si bodoh dari Kerajaan Zalkam dan petualang berwajah
penjahat itu tidak ada di sana. Sepertinya mereka menunggu di ruangan lain.
Saat aku melirik ke sudut ruangan, Mars sedang dihujani
pertanyaan oleh dua orang dewasa. Dia tetap terlihat tenang seperti biasa, tapi
melihat pemandangan itu, aku merasa sedikit cemas.
Seorang wanita cantik bangsa elf berambut biru, dan satu
lagi—seorang pria beastman dengan fisik yang sangat luar biasa berdiri di depan
Mars. Terutama si beastman itu, dia memancarkan aura intimidasi yang begitu
kuat sampai-sampai petualang berwajah penjahat tadi terasa tidak ada
apa-apanya.
Aku mencoba mempertajam pendengaran, sepertinya
mereka berdua sedang menginterogasi Mars.
"……Jadi? Kamu sudah memberinya pelajaran yang
setimpal, kan?"
Dengan suara rendah yang menggeram, si beastman itu
mendesak Mars. Nada bicara dan ekspresinya memancarkan kemarahan.
Eh, apa-apaan ini... kenapa Mars malah disalahkan seperti
ini?
"Tidak... baru akan dimulai. Tapi, tujuan saya
hanyalah membuat Pangeran Doaho meminta maaf, jadi saya tidak punya niat khusus
terhadap dua party [Moonlight Darkness] dan [Abyss]
tersebut."
Mars menjawab dengan nada tenang, tapi jawaban itu justru
membuat si pria beastman semakin meninggikan suaranya.
"Oi! Kalau kamu selemah itu, kamu bakal diremehkan
oleh negara sekelas Kerajaan Zalkam, tahu! Kamu paham tidak?! Kalau kamu tidak
mau melakukannya, biar aku saja yang maju!"
Si beastman itu berteriak mengikuti amarahnya. Kekuatan
yang terpancar dari tubuh raksasanya membuatku tanpa sadar menahan napas.
Lalu si elf berambut biru di sebelahnya angkat bicara
dengan suara tenang seolah sedang menenangkan si beastman.
"Adipati
Serance... tolong tenanglah sedikit. Mars. Kamu harus menang mutlak.
Kalau perlu, haruskah aku membantumu dari luar dengan sihir angin?"
Eh? Beastman menakutkan itu adalah salah satu dari
Dua Belas Adipati, Adipati Serance? Kalau begitu, elf berambut biru yang bicara
setara dengan Adipati Serance itu adalah Adipati Reagan?
"Adipati
Serance, Adipati Reagan, mohon tenanglah."
Tetap dengan ekspresi tenang, Mars mulai berbicara
kepada mereka berdua.
"Mereka adalah lawan yang sudah pernah kulawan
saat aku berumur delapan tahun. Anggota mereka sudah banyak berubah, dan
sepertinya party itu sendiri sudah menjadi lebih lemah dari yang dulu.
Lagipula, fakta bahwa [Abyss] adalah party Rank B itu sangat
mencurigakan, dan sepertinya sang pemimpin pun tidak berkembang."
Melihat Mars bicara dengan begitu percaya diri, aku
sampai dibuat melongo.
Selagi aku asyik menguping, Ike datang menghampiri
kami dan menyapa dengan nada santai.
"Jangan-jangan, kalian datang untuk menyemangati
Mars? Kalian bisa berharap lebih, karena pasti akan ada
tontonan yang menarik nanti."
Kamu santai sekali mengatakannya... padahal adikmu akan
melakukan satu lawan sepuluh, lho?
Apa tidak bisa lebih tegang sedikit? Saat aku sedang
menelan pertanyaan itu dalam hati, seorang beastman menyapa Ike.
"Hei, setelah Mars selesai melawan orang-orang
Zalkam itu, bolehkah aku bertarung dengannya? Kali ini aku akan membuktikan
kalau aku bisa membuatnya mencabut pedang."
Aku membelalak mendengar perkataan beastman itu.
Dia bicara seolah-olah kemenangan sudah pasti di
tangan... lagipula, apa maksudnya dengan 'membuat mencabut pedang'?
Mars itu Sword Saint, kan? Bagaimana
cara dia mengalahkan lawan tanpa menggunakan pedang? Berbagai pertanyaan
berputar-putar di kepalaku.
Seolah memutus aliran pikiranku, suara komentator arena
bergema dari luar.
"Hadirin sekalian! Mohon tenang! Saat ini kita akan
memulai pertandingan eksibisi! Pertandingan ini akan menggunakan aturan khusus!
Luar biasa, atas permintaan kedua belah pihak, pertarungan ini akan menjadi
satu lawan sepuluh orang!"
Di tengah keriuhan penonton, komentator itu melanjutkan
pengumumannya.
"Pertama-tama, mari kita perkenalkan para pengecut
yang berencana mengeroyok satu orang dengan sepuluh orang... mohon maaf salah,
mari kita perkenalkan para si bodoh! Party pengawal Pangeran Ketiga Kerajaan
Zalkam, Pangeran Doaho Zalkam! Sepuluh orang dari [Moonlight Darkness]
dan [Abyss]!"
Eh...!? Pengumuman macam apa ini...?
Padahal lawannya adalah pangeran ketiga Kerajaan Zalkam,
tapi komentatornya tanpa ampun menyebut mereka si bodoh... Memang sih di dalam
hati aku memanggil mereka begitu, tapi tidak menyangka akan dikatakan secara
langsung di acara resmi!
Murid-murid sekolah ini benar-benar luar biasa...!
Begitu sepuluh petualang dan si bodoh—maksudku
Pangeran Ketiga Kerajaan Zalkam, Doaho beserta rombongannya masuk, arena
langsung dipenuhi badai ejekan booing.
Di tengah keriuhan itu, terdengar suara yang sangat
memekakkan telinga.
"Kubunuh kalian!"
"Aku akan menginvasi Kerajaan Zalkam, jadi siapkan
leher kalian!"
Mendengar raungan buas dari Adipati Serance dan beastman
yang dipanggil Bladd itu, si bodoh dan para petualang tampak benar-benar
ketakutan.
"Selanjutnya... mari kita perkenalkan peserta yang
akan menghukum sepuluh orang bodoh ini!"
Penonton menahan napas.
"Meski dipanggil Sword Saint, yang sering dia
genggam bukanlah gagang pedang melainkan tangan wanita... Pria yang menguasai Sekolah Nasional Lister sebagai Harem King! Inilah
dia! Marssssss Bryanttttt!"
Harem King?
Di dalam kepalaku, kata-kata aneh itu terasa
mengganjal. Namun, saat Mars muncul di arena, sorak-sorai yang luar biasa
dahsyat meledak seketika.
Tanah terasa bergetar, sebuah antusiasme yang sampai
membuat mual...
Seolah ingin menepis sorakan di sekitar, Alice di
sampingku bertanya dengan heran.
"Hei, Harem King itu apa?"
Melihat adikku memiringkan kepalanya, aku baru saja
mau membuka mulut untuk menjelaskan.
Namun saat itu, Ike menyela dari samping dan menjelaskan.
"Mars itu sangat keren, kan? Makanya semua anak
perempuan jadi suka padanya. Nah, orang yang disukai oleh banyak anak perempuan
itu disebut Harem King."
Alice tampak puas dengan penjelasan Ike dan mengangguk
berkali-kali.
Lalu, suara komentator kembali terdengar dari pengeras
suara.
"Ehem, detail mengenai sepuluh orang bodoh ini sudah
diketahui! Sepertinya mereka aktif di Kerajaan Zalkam... eh...? Party Rank B...? ...Eh? Serius
nih...?"
Mendengar
hal ini, seluruh arena mulai gaduh.
Peringkat
petualang atau party sudah diketahui luas. Rank B bukanlah tingkat yang lemah.
Justru mereka adalah objek kekaguman para petualang dan orang awam—lawan yang
jelas terlalu nekat untuk dihadapi satu lawan sepuluh.
"Gak mungkinlah menang..."
"Satu lawan satu saja belum tentu menang..."
"Jangan-jangan, mereka sudah tahu bakal kalah dan
sengaja merancang pertandingan ini...?"
Suara-suara seperti itu terdengar dari tribun penonton.
Di atas ring pun, mereka yang bersangkutan tampak sedang membicarakan sesuatu.
Aku memanfaatkan telinga tajam kebanggaanku untuk mencuri dengar percakapan di
atas ring.
"Lama tidak jumpa, Pak Olygo. Apa Anda masih ingat
saya?"
Mars menyapa dengan tenang.
Lalu, pria berwajah penjahat yang dipanggil Olygo itu
mengerutkan dahi.
"Hah!? Aku tidak kenal bocah sepertimu. Daripada
itu, ayo cepat selesaikan ini! Aku tidak mau berurusan lama-lama dengan Adipati
Serance."
Mendengar jawaban Olygo, Mars tersenyum sedikit. Ada
sedikit hawa dingin yang tercampur dalam senyuman itu.
"Begitu ya... kalau begitu bersiaplah. Anda
mungkin tidak bersalah secara langsung, tapi dalam situasi tadi, satu-satunya
orang yang bisa menghentikan Pangeran hanyalah Anda."
Dalam suaranya terselip amarah dan kesedihan yang tak
tertahankan.
Aba-aba mulai belum juga diberikan.
Komentator arena tampak benar-benar terguncang
mengetahui bahwa lawan Mars adalah party Rank B. Mungkin dia tidak menyangka
akan menghadapi lawan sekuat itu.
Namun, Adipati Reagan memberikan isyarat untuk segera
memulai.
"……Mulai!"
Bersamaan dengan teriakan komentator, sebuah
pemandangan yang sulit dipercaya mulai terbentang.
◆◇◆
Setelah menunggu beberapa saat, aba-aba dimulainya
pertandingan bergema.
Seketika itu juga, arena menjadi sunyi senyap sebelum
sedetik kemudian sorak-sorai pecah kembali.
Di tengah kebisingan itu, aku mulai melangkah
perlahan. Targetku hanya satu—Olygo.
Ada dua alasan kenapa aku menetapkan dia sebagai target.
Pertama, murni karena dendam pada Olygo. Dalam situasi tadi, hanya Olygo yang bisa menghentikan Doaho.
Dan yang kedua adalah alasan strategis. Jika aku bisa
menumbangkan Olygo yang paling kuat di antara dua party ini, mental anggota
yang lain pasti akan hancur seketika.
Saat aku memperpendek jarak dengan tenang, Olygo
menatapku dengan waspada.
Lalu, secara mengejutkan, dia membanting pedang
tumpul pemberian pihak sekolah ke tanah, lalu menghunuskan pedang miliknya
sendiri dari pinggang.
Pedang itu, sekali lirik saja sudah tahu kalau itu
barang berkualitas tinggi. Cahaya redup yang dipancarkan pedang itu memantulkan
sedikit cahaya di arena.
[Nama] Wind Sprite Sword - Undine Sword
[Attack] 33
[Special] Magic +2
[Value] B
[Detail] Pedang sihir yang terbuat dari
perak mithril. Attack akan meningkat jika pedang diberikan Enchant sihir angin.
Dia sudah siap menanggung risiko menghunuskan pedang
tajam di tempat ini... begitu, kan?
Aku bergumam dalam hati, namun tidak menunjukkannya
di ekspresi wajah, dan maju selangkah lagi.
Menghadapi tindakanku, Olygo dan kawan-kawannya mulai
bergerak untuk mengepungku.
Melihat mereka bergerak dengan hati-hati, memang
benar kalau mereka adalah kumpulan orang-orang berpengalaman. Tapi, aku sengaja
membiarkan diri terkepung tanpa berusaha mematahkan formasi mereka.
Delapan orang mengepungku, sementara dua orang
sisanya memberikan dukungan sihir dari belakang—taktik klasik, namun efektif.
Begitu pengepungan sempurna, suara rapalan sihir
terdengar dari belakang.
"Fire Arrow!"
Seketika itu juga, aku merasakan hawa serangan
serentak dari sekeliling. Panah api membelah udara, dan delapan orang yang
mengepungku merangsek maju bersamaan.
Begitu ya, setidaknya kerja sama mereka cukup teratur...
Aku bergumam dalam hati, tapi ekspresiku tetap datar.
Meski begitu—aku bisa melihat kegelisahan mereka.
Seharusnya mereka mempersempit kepungan dulu sebelum
melancarkan serangan serentak.
Tapi kenyataannya, masih ada jarak sekitar sepuluh meter
antara mereka dan aku. Dengan jarak sejauh itu, aku bisa dengan mudah
menciptakan situasi satu lawan satu.
Mungkin penyihir di belakang merasa cemas sehingga
mempercepat rapalan sihirnya. Datangnya panah api lebih cepat dari perkiraan,
menyebabkan sedikit kekacauan pada gerakan barisan depan.
Namun, targetku tetaplah Olygo. Aku tidak punya waktu
untuk meladeni yang lain—untuk menunjukkan hal itu, aku menangkap dan
meremukkan semua panah api yang terbang ke arahku dengan tangan kosong.
"Apa...!? Dia menghentikan sihir dengan tangan
kosong?"
"Dia Sword Saint... kan?"
Tribun penonton gaduh, dan udara di atas ring
seketika membeku.
Sebenarnya aku hanya menyelimuti diriku dengan Sylphid
dan menetralkannya dengan kekuatan angin. Tapi bagi mereka yang tidak tahu, aku
terlihat seperti sedang meremukkan sihir itu sendiri.
Melihatku yang terus berjalan ke arah Olygo dengan
langkah yang tak berubah, suaranya terdengar histeris bergema di arena.
"Kalian! Apa yang kalian lakukan! Cepat bunuh
dia!"
Mendengar perintah itu, tujuh orang barisan depan selain
Olygo menyerangku secara bersamaan. Pengepungan hancur, dan semua serangan
terpusat padaku.
Mengaktifkan Vision—
Aku yang bisa melihat gerakan mereka seolah-olah sudah
tahu apa yang akan terjadi, dengan mudah menghindari pedang yang diayunkan,
lalu memanfaatkan celah itu untuk menghantamkan tinju ke perut mereka.
"Guakh!"
Satu per satu mereka tumbang ke tanah diiringi rintihan.
Tapi sebenarnya, pukulan ke perut ini meski terdengar
bunyi 'dus' yang mantap, aku tidak memasukkan banyak tenaga ke dalamnya.
Hampir tidak ada kerusakan fisik yang berarti.
Meski begitu, alasan mereka tetap terkapar di tanah
karena mereka sadar. Meski mereka menang dariku di sini, mereka tidak punya
masa depan lagi.
Kalau begitu, lebih bijak untuk menghindari pertarungan
sia-sia dan pura-pura kalah. Bisa dibilang, itu adalah keputusan yang tepat
sebagai petualang.
Seandainya saja mereka tidak salah memilih orang untuk
diikuti, mungkin mereka bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik...
memikirkan itu membuatku merasa sedikit kasihan.
Melihat kawan-kawannya tumbang satu per satu di depan
mata, wajah Olygo dipenuhi ketakutan seolah sedang melihat mimpi buruk.
Setelah aku menumbangkan semua barisan depan ke atas
ring, akhirnya Olygo merangsek maju sambil meneriakkan amarah yang terdengar
seperti jeritan.
"K-kuaaaaangg!!!"
Cara dia mengayunkan pedang sangat kasar, seolah hanya
melampiaskan emosi tanpa teknik. Gerakan yang dipenuhi kecemasan dan ketakutan
itu terlihat seperti anak kecil yang sedang mengamuk.
Melihat hal itu, aku mengembuskan napas pendek, dengan
ringan menghindari pedang Olygo yang menerjang, lalu memutar tubuh dengan
lincah. Dan di saat berikutnya, aku mendaratkan tamparan keras di pipinya.
PLAK!
Bersamaan dengan suara yang menggema itu, keseimbangan
Olygo runtuh dan dia jatuh tersungkur dengan memalukan.
Aku mencengkeram kerah bajunya yang sedang berlutut itu
dengan tangan kiri, lalu mengangkatnya dengan paksa.
PLAK!
PLAK!
PLAK!
Suara tamparan kering terus bergema di seluruh arena.
Meski begitu, aku tidak memasukkan tenaga besar dalam
serangan itu. Paling hanya membuat pipinya sedikit bengkak.
Namun bagi Olygo yang hanya bisa pasrah, setiap
tamparan itu mengukir kehinaan yang mendalam.
Olygo berusaha keras melepaskan cengkeraman tangan
kiriku, tapi tanganku tidak bergeming sedikit pun.
Kamu yang selama ini hanya mengandalkan keangkuhan
dan kekuasaan tidak akan mungkin bisa melepaskan tangan yang telah ditempa
dengan usaha keras ini.
"K-kalian! Apa yang kalian lihat! Cepat tolong
aku!"
Olygo meneriakkan perintah putus asa kepada para
petualang yang masih terkapar di tanah.
Namun, mental mereka sudah benar-benar hancur. Tidak ada
satu pun yang bergerak, mereka hanya diam membisu menyaksikan pipi Olygo yang
semakin merah dan membengkak.
Dari tribun penonton, keriuhan dan sorak-sorai semakin
meluas. Olygo kini hanya bisa bergantungan lemas sambil merintih dengan suara
yang hampir menyerupai tangisan.
Aku menolehkan pandangan perlahan ke arah wasit.
Menerima tatapan itu, wasit seolah tersadar dan buru-buru
memulai pengumuman.
"Pemenang! Mars Bryant!"
Begitu panggilan itu bergema, aku melemparkan Olygo yang
sedang kucengkeram ke lantai ring.
Olygo yang sudah sangat terguncang bahkan tidak sempat
melakukan teknik jatuh (ukemi), ia hanya jatuh terkapar dengan memalukan
di lantai.
Di tengah sorak-sorai yang memenuhi arena, aku membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu. Dengan keyakinan penuh bahwa Olygo tidak akan sanggup bangkit lagi—



Post a Comment