NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

TS Tensei Bishoujo Netora Reiko wa Netoraretai Volume 2 Prolog

Prolog

Korban Baru! Si Berengsek yang Tidak Tahu Diri!


Tidak ada alasan khusus mengapa perilakuku menjadi seburuk ini.

Aku lahir di keluarga yang tergolong kaya, hampir semua yang kuinginkan selalu terpenuhi, dan aku tidak punya ingatan pernah hidup susah. Aku sadar masa kecilku sangat bergelimang harta.

Namun, sejak kapan aku mulai curiga? Apakah semua itu karena orang tuaku mencintaiku, atau hanya karena mereka malas mengajarkan moral dan kedisiplinan kepada anak kecil, sehingga mereka memilih jalan pintas untuk membungkamku?

Aku tidak akan menyebutnya penelantaran, tapi orang tuaku memang tidak punya minat pada putra mereka sendiri.

Awalnya, mungkin aku memiliki semacam perasaan memberontak terhadap mereka.

"……Tapi, sekarang perasaan itu pun sudah sirna."

Tanpa sadar, aku mulai membolos sekolah "begitu saja".

Nilai ujian mediokerku selalu di atas rata-rata, dan aku tidak pernah membuat masalah yang fatal.

Meski sesekali dipanggil guru untuk diberi peringatan, aku hanya berlagak menjadi outlaw dalam batasan yang tidak akan merusak masa depanku.

Karena aku sadar bahwa jauh di lubuk hatiku aku ini pengecut, aku tidak pernah melakukan tindakan kriminal seperti mengutil atau pemerasan yang bisa meninggalkan noda permanen dalam hidup. Aku juga tidak sudi bergaul dengan orang-orang bodoh yang melakukan hal semacam itu.

Rasa jemu dan tidak berdaya khas remaja ini, aku bumbui sedikit dengan berpura-pura menjadi berandalan agar terasa lebih menantang. Singkatnya, aku hanyalah seorang fashion yankee.

Bahkan setelah naik ke kelas dua SMP, gaya hidupku tidak banyak berubah.

Karena kurasa akan buruk jika aku sampai tidak tahu di mana kelasku sendiri, aku memutuskan untuk menghadiri upacara pembukaan sekolah.

Dengan seragam yang kupakai sembarangan, aku menatap papan pengumuman pembagian kelas di dekat gerbang sekolah.

"Yey! Yuri-chan, kita sekelas lagi!"

"I-iya. Mohon bantuannya setahun lagi ya, Rei-chan."

Di sampingku, para siswi yang juga sedang melihat pengumuman itu saling berpelukan dan berteriak kegirangan. Sambil melirik mereka, aku memastikan kelasku sendiri.

Kelasku adalah... 2-B, ya. Apa ada orang yang kukenal di kelas yang sama?

"Oh, Koichi. Ternyata orang sepertimu tetap datang di hari pembukaan, ya."

"Nn... Fuyuki, ya. Yah, setidaknya aku harus tahu kelasku di mana."

Saat aku berbalik, di sana berdiri Kurushima Fuyuki, seorang kenalanku yang selalu memasang senyum ramah.

Dia adalah atlet klub sepak bola sekaligus pria yang sangat sosial. Dia juga orang yang cukup unik karena mau berbicara akrab denganku, padahal orang-orang di sekitar biasanya menjauhiku.

"Ooh, Koichi juga di 2-B? Kita sekelas, nih. Mohon bantuannya ya untuk setahun ke depan!"

"Ya... tapi kurasa aku tidak akan terlalu sering datang ke sekolah."

"Oi, oi, baru hari pertama sekolah sudah bicara begitu? Yah, kau kan tipe orang yang lihai, kau pasti bisa mengaturnya dengan baik."

Setelah percakapan singkat itu, Fuyuki menemukan kenalannya yang lain dan pergi meninggalkanku.

"Hebat juga. Aku, Yuki, dan Rei sekelas lagi. Ini sudah berapa tahun berturut-turut, ya?"

"Fufun, karena kamu sekelas dengan gadis secantik aku, harusnya kamu lebih senang, tahu!"

"Ahaha, aku senang, kok. Bisa sekelas lagi dengan kalian semua..."

……Setidaknya, aku merasa sedikit lega karena ada orang yang kukenal di kelas.

Aku pun meninggalkan gerbang sekolah yang penuh sesak oleh murid-murid dan melangkah menuju ruang kelas yang baru.

◆◆◆

Setelah mendengarkan pidato membosankan di aula, aku kembali ke kelas bersama murid-murid lainnya.

Tempat dudukku di kelas ini berada di barisan paling belakang di samping jendela. Tidak buruk juga.

Sinar matahari bulan April yang lembut terasa hangat di tubuhku.

"Huaaa……"

Karena semalam aku begadang, rasa kantuk yang tenang menyerangku dan membuatku menguap lebar tanpa sadar.

"Ufufu."

"……!"

Sepertinya ada yang melihatku saat aku membuka mulut lebar-lebar seperti orang bodoh. Gadis di kursi sebelah tertawa kecil dengan suara semerdu denting lonceng.

"Uapan yang besar sekali. Duduk di dekat jendela memang bikin mengantuk, ya?"

Gadis itu berbicara tanpa rasa bersalah sambil menggoyangkan rambut hitamnya yang seindah benang sutra. Parasnya jelas satu... tidak, dua tingkat lebih cantik dibandingkan gadis-gadis seumurannya.

Melihat sosok bodohku disaksikan oleh gadis secantik itu, aku spontan mengerutkan kening.

"……Jangan melihat ke sini."

Aku menjawab dengan suara yang sedikit diberatkan, mencoba menutupi rasa malu.

Namun, gadis di sebelahku sama sekali tidak terlihat takut; dia malah tersenyum.

"Fufu, maaf, ya? Dan juga... mohon bantuannya setahun ke depan, Kanda Koichi-kun?"

"Hah? Kenapa kau tahu namaku—"

Saat aku merasa heran kenapa ada gadis yang tidak kukenal tiba-tiba tahu namaku, dia menunjuk ke arah papan tulis.

"Eh? Habisnya, namamu tertulis di denah tempat duduk, kan?"

"……Oh, benar juga."

Mendengar kesimpulan yang sangat masuk akal itu, aku merasa telingaku memanas karena malu. Aku merasa benar-benar terlalu percaya diri.

"……Tapi, sebenarnya aku sudah tahu tentangmu sejak lama, sih."

"Apa maksudmu... ah, begitu ya."

Seragam pelaut yang dikenakannya dengan rapi, serta sikapnya yang teratur.

Hanya ada sedikit alasan mengapa seorang siswi teladan sepertinya sudah mengenalku sebelumnya.

"Apa kau dengar sesuatu dari guru atau kenalanmu? Bahwa ada orang tidak berguna yang sebaiknya tidak usah kau dekati?"

Karena aku tahu reputasiku sendiri, aku memasang senyum licik untuk menggertaknya.

Namun, gadis itu sempat menunjukkan ekspresi bingung sejenak sebelum kembali tersenyum.

"Ahaha, bukan itu, kok. Kanda-kun, apa kamu ini tipe yang terlalu percaya diri?"

"……Cih, lalu apa alasannya?"

Aku merasa sedikit kesal pada gadis yang dengan berani membantah harga diriku—padahal biasanya aku cukup ditakuti oleh murid laki-laki maupun perempuan.

"Hmm... Sejak kelas satu, aku sedikit tertarik padamu."

"……"

"Entah kenapa, aku merasa... ada seorang anak laki-laki yang selalu terlihat kesepian."

"……!"

Kata-kata itu seolah menusuk tepat ke dalam hatiku yang selama ini kusembunyikan, bahkan dari diriku sendiri. Aku pun berdiri dengan sentakan keras.

"Kyaa!?"

Kursiku terjatuh ke belakang, membuat gadis itu memekik kecil.

Aku tidak bermaksud begitu, tapi suara keras itu membuat pandangan seluruh kelas tertuju padaku.

"……Cih."

"Ah, Kanda-kun!"

Merasa tidak tahan dengan atmosfer yang tidak nyaman itu, aku menyampirkan tas di bahu dan langsung keluar dari kelas.

...Aku berusaha menutupi fakta bahwa sebenarnya aku hanya ingin melarikan diri dari tatapan jernih gadis itu, yang seolah bisa menembus segala rahasia di dalam diriku.

◆◆◆

"……Apa yang sedang kulakukan, sih?"

Di sudut atap sekolah, aku merunduk sendirian.

Kata-kata gadis di kursi sebelah tadi—yang bahkan namanya pun aku tidak tahu—terus terngiang-ngiang di kepalaku.

‘...Entah kenapa, aku merasa... ada seorang anak laki-laki yang selalu terlihat kesepian.’

Seandainya itu hanya omong kosong yang meleset... hatiku tidak akan segelisah ini.

Diabaikan oleh orang tua, lalu merajuk, bertingkah, dan berpura-pura menjadi nakal.

……Apa-apaan. Ternyata benar kata gadis itu, aku hanyalah bocah manja yang menyedihkan.

"Sial... setelah rahasianya terbongkar, aku malah melarikan diri seperti pecundang yang melampiaskan kekesalan pada perempuan... aku benar-benar tidak keren."

Sambil terbakar rasa benci pada diri sendiri, aku mengingat kembali suasana kelas tadi.

‘Ah, si anak bermasalah itu berulah lagi,’ begitulah suasana yang tidak nyaman itu.

Aku memang tidak memukul atau berteriak.

Tapi dari sudut pandang orang lain, aku pasti terlihat seperti sedang mengamuk kepada seorang gadis yang mencoba mengakrabkan diri dengan teman sekelas barunya.

……Yah, salahku sendiri karena selama ini aku memang bertingkah begitu. Ini benar-benar akibat perbuatanku sendiri.

Rasa menyesal. Rasa bersalah. Kasihan pada diri sendiri. Amarah. Malu. Kepasrahan.

Berbagai emosi negatif bergejolak di dada, mencari jalan keluar dari hatiku yang sesak hingga menjalar ke seluruh tubuh.

"……Ah, omong-omong—"

Aku mencoba menggali ingatan beberapa bulan lalu dan menggeledah dasar tasku.

Di sana, ada bungkusan rokok dan korek api yang sudah penyok, pemberian dari teman-teman berandalan yang dipaksakan kepadaku.

Waktu itu aku menerimanya hanya karena terbawa suasana, tapi karena aku tidak tertarik merokok, aku berniat membuangnya nanti dan akhirnya malah lupa total.

"……Mungkin ini bisa sedikit menenangkan pikiran."

Dalam keadaan setengah putus asa, aku membuka bungkus rokok yang sudah hancur itu, mengambil sebatang, menyelipkannya di mulut, lalu menyalakannya.

"Sluuurp……!? Uhuk! Uhukk! Geho! Goho!"

Begitu asapnya terhisap ke paru-paru, tubuhku langsung menunjukkan reaksi penolakan terhadap sensasi asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sebagai bayaran atas tindakan melukai diri sendiri yang bodoh ini—tidak, aku memang bodoh—aku berlutut sambil terbatuk-batuk hingga air mata menggenang di sudut mataku.

Apa sih yang menyenangkan dari merokok barang pahit dan menyengat seperti ini?

Setidaknya, aku memutuskan tidak akan pernah menyentuhnya lagi.

Sambil memantapkan hati, aku terus tersedak seolah ingin memuntahkan benda asing yang masuk ke paru-paruku.

"—Ka, Kanda-kun. Kamu tidak apa-apa?"

"Uhuk, goho... hah?"

Tiba-tiba, aku menyadari ada seseorang yang mengelus punggungku dengan lembut untuk menenangkanku.

Sambil menyeka air mata di sudut mata, aku mendongak. Di sana, gadis tanpa nama itu sedang menyentuh punggungku dengan wajah penuh kekhawatiran.

Apa aku terlalu sibuk batuk sampai tidak menyadarinya... Tidak, lagipula kenapa gadis ini ada di sini?

"Ka-kau... kenapa... uhuk!"

"Aduh, sudah. Jangan dipaksa bicara dulu. Kamu tidak apa-apa? Bisa minum air?"

Sambil berkata begitu, gadis itu menyodorkan botol air mineral kepadaku.

...Meski banyak hal yang ingin kukatakan, aku yang sudah kehabisan napas akhirnya menerima botol itu dengan enggan. Aku meminumnya untuk membasuh sisa rasa pahit yang menjijikkan di mulutku.

"Uhuk... haa, haa..."

"Sudah tenang?"

"……Ya, itu, anu. Teri—!"

Saat aku baru saja akan mengucapkan terima kasih dengan santai, pandanganku dan gadis itu tertuju pada satu titik. Di sana tergeletak puntung rokok yang kujatuhkan saat aku terbatuk tadi.

"……"

"Ah, tidak, ini..."

'Ini'... apa?

Bukankah semuanya sudah jelas terlihat? Seorang anak bermasalah yang sedang merokok diam-diam, hanya itu.

Apa gunanya membuat alasan konyol seperti 'ini yang pertama kali' atau 'aku tidak berniat melakukannya lagi'?




"……Kanda-kun."

"……!"

Apa yang akan dia katakan? Aku menegangkan tubuh saat namaku dipanggil.

Seorang murid bermasalah yang kabur karena emosi setelah rahasianya terbongkar, lalu bersembunyi sambil merokok dengan wajah masam.

Apa yang dipikirkan gadis teladan seperti dia tentang orang sepertiku?

Apakah dia akan merasa muak pada si bodoh yang tidak tertolong ini? Atau memandang rendah diriku karena kami berasal dari dunia yang berbeda?

Ataukah dia merasa takut, menganggapku orang berbahaya yang tidak bisa diajak bicara?

"Buka mulutmu."

"Hah……? Mngh!?"

Aku mengeluarkan suara bodoh karena tidak mengerti maksud perkataannya.

Gadis itu mengabaikan kebingunganku dan menjejalkan sesuatu yang keras ke dalam mulutku.

Rangsangan pedas-manis yang berbeda dari asap rokok memenuhi rongga mulut.

Beberapa detik kemudian, aku baru menyadari kalau itu adalah rasa tajam dari permen min yang sangat kuat.

"Nah, sekarang tundukkan kepalamu sedikit dan pejamkan mata. Cepat!"

"Mngh, a-apa yang…… Wapu!?"

Aku mengikuti instruksinya yang datang bertubi-tubi tanpa sempat berpikir.

Entah bagaimana, kata-katanya seolah menyerang "celah kesadaranku".

Bisa dibilang, dia berhasil mengambil inisiatif. Dia dengan sempurna mematikan momen saat aku hendak melakukan sesuatu.

Seolah sedang dicuci otak, aku menuruti perkataannya begitu saja.

Lalu, bersamaan dengan suara desis udara 'Syuuu', gas beraroma sitrus disemprotkan ke kepalaku.

"……Ufufu, begini sepertinya sudah cukup. Meski cuma hair spray biasa, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali."

Gadis itu mendekat dan mengendus aromaku. Karena merasa malu, aku buru-buru mengambil jarak darinya.

"T-tadi itu kamu ngapain, sih!?"

"Menghilangkan bau. Sebenarnya lebih baik sikat gigi atau sekalian mandi, sih…… tapi untuk sekarang ini tindakan darurat."

"Kurasa ini cukup untuk menipu orang lain. Tapi sebaiknya kamu cepat pulang sebelum ditegur guru, ya?" lanjutnya.

"Bukan itu maksudku……"

"……Dan juga, aku minta maaf."

Dia membungkukkan kepala dalam-dalam, memotong kalimatku yang baru saja ingin membalas dengan nada tinggi.

"……Hah? Apa-apaan ini?"

"……Tadi di kelas, aku mengatakan hal yang sangat tidak sopan. Aku asal bicara tanpa tahu apa pun tentang Kanda-kun. Itu membuatmu marah, kan……"

Mendengar suaranya yang terdengar sangat menyesal, aku hanya bisa menghela napas panjang tanpa mampu membalas apa pun.

……Benar-benar gadis yang membuat ritmeku berantakan.

"……Lagipula, aku tidak marah karena kata-katamu, kok. ……Aku juga minta maaf karena bersikap yang bisa memicu kesalahpahaman."

"……Ehm, terima kasih. Ternyata kamu memang baik ya, Kanda-kun."

Gadis itu tersenyum lega mendengar perkataanku. Aku sudah merasakannya sejak di kelas tadi, tapi saat wajah cantik bak idola itu melemparkan senyuman padaku, jantungku berdegup kencang.

Untuk menutupi rasa malu itu, aku sengaja menjawab dengan nada sok jagoan.

"Cih, baik dari mananya? Seperti yang kamu lihat, aku ini berandalan yang merokok di sekolah, tahu."

"Fufu. Tapi ini pertama kalinya kamu merokok, kan?"

"……Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Soalnya tadi kamu sampai tersedak parah begitu. Orang yang sudah terbiasa tidak akan jadi seperti itu, kan?"

"Selain itu, gigi Kanda-kun putih bersih. Orang yang sering merokok biasanya baunya lebih menempel di rambut dan baju," tambahnya dengan nada sok detektif.

"……Tsk."

Menyadari kalau posisiku sudah kalah telak karena dia telah melihat segalanya, aku pun menyerah.

Aku memungut puntung rokok itu, lalu berbalik pergi meninggalkan atap seolah-olah sedang melarikan diri.

Tiba-tiba, suara gadis itu memanggil punggungku.

"Tapi, jangan merokok lagi, ya? Aku tidak mau kalau kursi di sebelahku bau rokok."

"……Iya, aku mengerti. Aku sudah kapok. Sampai jumpa…… ah~……"

Lalu, aku baru tersadar kalau sampai sekarang aku belum tahu nama gadis itu.

"……Hei, namamu siapa?"

"Muuu, kamu bahkan tidak tahu nama teman sebangkumu sendiri?"

"……Sudahlah, beri tahu saja. Aku akan mengingatnya."

Melihatku yang menggaruk pipi dengan canggung, gadis itu tersenyum seolah berkata 'apa boleh buat'.

Dia berdehem kecil dengan gaya teatrikal sebelum membuka mulutnya.

"Namaku adalah——"

◆◆◆

"Netora Reiko. Ingat baik-baik, ya?"

Itu aku lho~~.

Gadis yang memamerkan senyum lebar hingga memperlihatkan gusinya—senyum yang bersinar tajam layaknya matahari—ke arah punggung Kanda-kun yang menjauh.

Ya, itu adalah aku.

Benci menjerumuskan orang, tidak peka terhadap niat jahat, dan selalu menghadapi siapa pun dengan kebaikan serta niat tulus.

Ditambah lagi dengan penampilan cantik standar papan atas di sekolah, aku sanggup membuat lawan jenis maupun sesama jenis jatuh hati tanpa pandang bulu.

Seorang pahlawan wanita dengan atribut cahaya yang mirip protagonis harem tipe tidak peka.

Itulah diriku——Netora Reiko.

Entah kenapa aku merasa sudah lama tidak banyak bicara seperti ini, jadi aku mencoba melakukan sedikit manipulasi kesan.

Mari kita kembali ke topik utama.

Nah, mulai hari ini aku juga resmi menjadi murid kelas dua SMP.

Aku berhasil mendapatkan kelas yang sama dengan Yuu-kun dan kawan-kawan, dan beruntungnya, aku juga berhasil duduk sebangku dengan anak nakal yang sudah kuincar sejak lama.

Memang benar kalau aku ini dicintai oleh Tuhan. Sudah jelas sekali, kan?

Artinya, segala perbuatanku direstui oleh Tuhan, dan semua tanggung jawab yang timbul karenanya akan kembali kepada Tuhan. Jadi, aku tidak salah.

——Kanda Koichi-kun.

Meskipun lahir di keluarga yang berkecukupan secara ekonomi, dia menjadi sedikit pemberontak karena kurangnya perhatian dari orang tuanya.

Singkatnya, dia tipe berandalan ringan.

Melakukan aksi-aksi outlaw selama tidak melanggar hukum—seperti bolos atau keluyuran malam—dia adalah laki-laki dengan hati seimut anak anjing Chihuahua yang sedang mencari perhatian orang tuanya.

Mungkin karena dia berada di fase pubertas yang menjunjung tinggi kebersihan moral atau sedang menderita penyakit sekolah menengah tingkat dua (chuunibyou), meski bersikap sok nakal, dia sangat membenci tindakan licik.

Dan walau sulit terlihat, dia sebenarnya cukup sopan terhadap perempuan.

Dia adalah tipe laki-laki yang akan mengantar anak hilang ke pos polisi sambil menangis, atau enggan namun tetap mengulurkan tangan saat dimintai tolong oleh lansia di jalan.

Benar-benar tipe laki-laki yang biasa muncul di komik shoujo.

Rasanya sedikit terlalu mudah untuk menjadikannya sebagai target 'pria idaman lain' (netori)…… tapi jika ternyata dia laki-laki yang membosankan, aku tinggal membuangnya kapan saja.

Mengenai cara melepaskan target tanpa meninggalkan masalah, itu hal mudah bagiku yang sudah mendapatkan ilmunya dari para berandalan purwarupa sebelumnya (silakan baca volume 1).

Akan aku kuasai dirimu~~, Kanda-kuuun.

Luka yang ada di hatimu yang lugu itu, biar aku yang menyembuhkannya ya.

Oleh si baik hati Netora Reiko-san ini~~. Khukhukhu…… Fuhahaha! Ah-hahahahaha!

Menyambut awal tahun kedua yang sangat menjanjikan ini, aku tertawa terbahak-bahak di dalam hati dengan perasaan yang sangat puas.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close