Cerita Sampingan 1
Guncangan di Benteng Hazama
Pada hari itu,
tajuk utama dari sebuah majalah informasi memberikan guncangan hebat bagi ibu
kota kekaisaran.
『Hari
ini, perundingan antara keluarga Baldia dan keluarga Grandoke berakhir buntu.
Di hari yang sama, suku Foxman memulai invasi.』
Banyak bangsawan
yang sebelumnya memandang masalah kedua keluarga ini dengan perasaan
dengki—karena Baldia berkembang pesat sendirian—dan hanya menganggapnya sebagai
gangguan kecil.
Namun, hampir
tidak ada yang menyangka bahwa keluarga Grandoke benar-benar akan melakukan
invasi.
Informasi ini
membuat para bangsawan kebingungan dan memperlambat reaksi awal kekaisaran. Hal
ini dikarenakan jarak yang cukup jauh antara wilayah Baldia dan ibu kota.
Secara logika,
bahkan jika keluarga Grandoke menyerang, seharusnya butuh waktu lama bagi
informasi tersebut untuk sampai ke ibu kota.
Bahwa kejadian di
Baldia bisa dilaporkan begitu cepat adalah hal yang mustahil menurut standar
kewajaran saat itu.
Jika tidak, maka
pasti ada pihak yang sengaja menyebarkan informasi palsu.
Prajurit ibu kota
segera menyelidiki persekutuan dagang yang menerbitkan majalah tersebut untuk
memverifikasi informasi.
Namun,
sang jurnalis telah menghilang—mungkin karena takut ditangkap—dan sumber
informasi tetap menjadi misteri.
Kaisar
Irwin segera memanggil para bangsawan untuk rapat darurat dan menyatakan akan
segera mengirim pasukan kekaisaran sekaligus memverifikasi kebenaran informasi.
Namun, pihak
Konservatif mengajukan keberatan.
Mereka
berpendapat bahwa mengirim 'Pasukan Kekaisaran' dalam jumlah besar akan
memprovokasi Zubera.
Skenario
terburuknya, hal ini bisa berkembang menjadi perang skala penuh antar kedua
negara.
Tidak
peduli seberapa penting menyelamatkan Baldia, perang total akan menjadi
tindakan yang kontraproduktif. Mereka menyarankan untuk mengirim unit pengintai terlebih dahulu guna
mengonfirmasi fakta.
Di sisi lain,
pihak Inovator menyatakan dukungan penuh terhadap pendapat Kaisar.
Menurut mereka,
jika harus menunggu unit pengintai baru kemudian menyiapkan dan mengirim
pasukan besar, maka semuanya sudah terlambat dan Baldia akan jatuh ke tangan
suku Foxman.
Jika itu terjadi,
melemahnya solidaritas dan wibawa bangsawan kekaisaran tidak dapat dihindari,
dan diplomasi dengan negara luar tidak akan lagi menguntungkan. Pendapat mereka
adalah kekaisaran harus menunjukkan kesiapan untuk berperang total.
Karena perbedaan
pendapat antara kedua kubu, rapat menjadi sangat kacau, dan waktu yang berharga
terus terbuang.
Di tengah situasi
tersebut, Marquis Berlutty mengajukan jalan tengah.
"Kekhawatiran
akan perang total dengan Zubera, dan keinginan untuk memikirkan kekaisaran
serta Baldia; keduanya berasal dari rasa cinta yang sama terhadap kekaisaran.
Bagaimana jika kita mengakomodasi perasaan semua orang dengan mengirimkan
pasukan dalam waktu yang sedikit bertahap?"
Rencananya adalah
mengirim unit pelopor kecil dengan mobilitas tinggi terlebih dahulu. Setelah
itu, setiap beberapa hari, dikirimkan kompi-kompi yang juga mengutamakan
mobilitas.
Unit pelopor akan
memverifikasi informasi; jika ternyata laporan palsu, mereka akan memberitahu
unit pengikut untuk mundur.
Jika benar, maka
unit pelopor dan pasukan kekaisaran yang menyusul akan berkumpul tepat sebelum
perbatasan Baldia untuk menghadapi keluarga Grandoke.
Dengan begitu,
provokasi terhadap Zubera tetap minimal namun pasukan besar tetap dapat
dikirim.
"Bagaimana
menurut Anda, Yang Mulia? Dengan rencana ini, martabat kekaisaran tetap terjaga
sementara kita tetap bisa mengirim pasukan besar untuk menyelamatkan Baldia."
"Hmm..."
Setelah berbagai
pendapat lain bermunculan, Kaisar akhirnya mengadopsi usulan Marquis Berlutty.
Keputusan untuk mengirim pasukan ke wilayah Baldia pun ditetapkan.
Namun, meski
informasi sampai di pagi hari, matahari sudah terbenam saat rapat berakhir.
Esok malamnya,
saat ibu kota sedang sibuk mempersiapkan pengiriman pasukan, guncangan hebat
kembali melanda.
Persekutuan
Dagang Christy, yang memiliki hubungan mendalam dengan Baldia, menyebarkan
edisi luar biasa ke seluruh penjuru ibu kota dengan tajuk utama: 『Pertempuran Benteng Hazama: Kemenangan
Telak Keluarga Baldia』.
『Kepala
Suku Foxman, Gareth Grandoke, menyerang Benteng Hazama dengan 60.000 pasukan.
Di saat yang sama, putranya, Amon Grandoke, bangkit untuk menyelamatkan rakyat
yang menderita di bawah tirani rezim saat ini. Kepala Keluarga Baldia, Reiner Baldia,
bersama putra sulungnya, Reed Baldia, bekerja sama dengan Amon dan menumbangkan
Gareth Grandoke hanya dengan sekitar 9.000 prajurit. Putra sulung, Elba Grandoke, dan
putra kedua, Malbus Grandoke, melarikan diri. Mayoritas suku Foxman, dipimpin
oleh putri sulung Rapha Grandoke, menyatakan dukungan bagi Amon Grandoke
sebagai Kepala Suku berikutnya. Pertempuran Benteng Hazama berakhir dengan
kemenangan dramatis yang bersejarah bagi Baldia dan Amon Grandoke.』
Kabar ini
segera sampai ke telinga Kaisar, Permaisuri, dan para bangsawan. Emma,
yang berada di ibu kota untuk mewakili Persekutuan Dagang Christy guna
memverifikasi informasi, segera dipanggil ke istana.
Di tengah
kepungan para bangsawan, Emma menghadap Kaisar dan Permaisuri, menegaskan bahwa
isi berita tersebut adalah fakta, lalu menjelaskan kronologinya.
Emma
menjelaskan bahwa ia segera berangkat dari wilayah Baldia menggunakan mobil
arang tepat setelah pertempuran usai.
Dengan
melakukan perjalanan tanpa henti, ia berhasil sampai di ibu kota di hari yang
sama untuk menerbitkan berita tersebut.
Semua
orang yang ada di sana terpana melihat kegigihan Emma dan kecepatan penyampaian
informasi yang meruntuhkan standar kewajaran selama ini.
Namun,
yang paling membuat mereka terperangah adalah fakta bahwa 60.000 pasukan suku Foxman
pimpinan Gareth Grandoke berhasil dikalahkan oleh keluarga Baldia dan Amon
Grandoke yang hanya berjumlah sekitar 9.000 orang.
Dalam
perang, lazim bagi pemenang untuk melebih-lebihkan hasil guna menakut-nakuti
negara lain, namun dikatakan bahwa hasil kali ini sama sekali tidak
dilebih-lebihkan.
Terlebih
lagi, sosok Elba Grandoke yang melarikan diri adalah orang yang dikenal luas
sebagai kandidat terkuat Beast King berikutnya.
Bahkan di
beberapa kalangan, Elba lebih terkenal dibanding ayahnya sendiri.
Selain
kekuatan militer, ia juga memiliki kemampuan politik yang luar biasa dan
dikabarkan memiliki koneksi dengan para bangsawan serta petinggi berbagai
negara melalui rumor-rumor gelap.
Setelah
mendengar seluruh penjelasan, Kaisar dan Permaisuri tampak sangat gembira, dan
para bangsawan kekaisaran pun bersorak atas hasil perang luar biasa yang
mengangkat martabat kekaisaran.
Berita
luar biasa yang disebarkan Emma di ibu kota serta laporannya di hadapan Yang
Mulia dan para bangsawan, tanpa bisa dibantah lagi, memberikan pengaruh besar
terhadap reputasi keluarga Baldia dan Reed Baldia.
Mereka
yang berada di wilayah Baldia belum mengetahui keributan ini, dan baru akan
merasakannya beberapa waktu kemudian.
◇
Beberapa
hari setelah Pertempuran Benteng Hazama berakhir.
Di sebuah
ruangan di mana cahaya lilin bergoyang di sebuah kediaman tertentu,
berkumpullah orang-orang yang menutupi seluruh tubuh dengan jubah hitam
bertudung serta menyembunyikan wajah di balik topeng.
Mereka
mengelilingi meja bundar, menciptakan atmosfer yang berat.
"...Tak
kusangka Gareth akan ditumbangkan, dan Elba Grandoke akan melarikan diri.
Benar-benar di luar dugaan," ucap sosok dengan topeng putih polos dengan
nada pahit.
Sosok
yang duduk di kursi paling ujung ruangan menyahut, "Ya, kau benar."
Topeng orang ini terbagi menjadi warna hitam dan putih.
"Rencana
awal kita adalah membiarkan wilayah Baldia diinjak-injak oleh Gareth dan Elba
guna menyadarkan para bangsawan yang sudah terlalu nyaman dalam kedamaian
hingga pola pikir mereka menjadi tumpul. Rencana itu hancur."
Sosok
bertopeng hitam-putih itu mengangkat bahu, namun suaranya kemudian memberat.
"Namun...
hal ini tetap bisa kita arahkan ke tujuan yang menguntungkan bagi kita."
Semua orang di
ruangan itu memiringkan kepala dengan skeptis.
"Apa maksud
Anda?" tanya sosok bertopeng putih mewakili yang lain.
"Maafkan
aku, detailnya akan kujelaskan setelah rencana ini dimatangkan lebih lanjut.
Kasarnya, 'mereka' memiliki nilai guna. Aku berniat membuat mereka mengerahkan
kekuatannya demi kita."
"Demi
kita...? Saya rasa 'mereka' tidak akan setuju dengan ideologi kita," ujar
si topeng putih, yang disetujui oleh anggota lainnya. Namun, si topeng
hitam-putih menggeleng.
"Aku juga
tidak berpikir mereka akan memiliki visi yang sama. Tapi, kita harus melihat
segalanya dari perspektif yang lebih luas. Meski mereka tidak bermaksud
demikian, selama hasilnya sesuai dengan keinginan kita, itu sudah cukup."
"Ah, begitu
ya. Berarti kedepannya kita akan lebih banyak bergantung pada kekuatan
mereka."
Melihat si topeng
putih yang seolah menyadari sesuatu, si topeng hitam-putih mengangguk pelan.
"Begitulah.
Yah, aku sudah menyebar banyak benih. Mari kita nikmati masa panennya
bersama-sama."
Si topeng
hitam-putih merentangkan tangannya, dan orang-orang di ruangan itu mengangguk
dengan suasana yang misterius.
Setelah
pertemuan usai dan si topeng hitam-putih tinggal sendirian di ruangan, pintu
diketuk dengan sopan.
"Tuan,
bolehkah saya masuk?"
"Ah,
Robe. Masuklah."
"Permisi."
Robe
memasuki ruangan, mendekati si topeng hitam-putih, lalu berlutut dan
menundukkan kepala.
"Mohon
maaf. Jalannya Pertempuran Benteng Hazama memang tepat seperti yang dilaporkan
oleh Persekutuan Dagang Christy."
"Begitu
ya. Tapi hal ini akan membawa opini publik ke arah yang menguntungkan bagi
kita. Kerja bagus."
"Sama-sama,
Tuan."
Robe menjawab dengan takzim, namun ia
menggumamkan sesuatu dengan nada kesal yang jarang ia tunjukkan.
"Saya sangat
menyesalkan kejadian Meldy Baldia. Itu adalah kesempatan emas untuk
menangkapnya ke tangan kita, namun Elba melanggar janji dengan dalih 'hanya
akan menyerahkannya setelah menang melawan Baldia', dan upaya perebutan paksa
dihalangi oleh Rapha."
"Hmm.
Kejadian Meldy memang disayangkan, tapi kita harus menerimanya sebagai
ketidaberuntungan kali ini. Sebagai gantinya, bukankah kita mendapatkan 'bidak'
yang sulit dikendalikan namun sangat berguna di pihak kita?"
Si topeng
hitam-putih menjawab sambil tertawa, namun Robe menggeleng.
"...Saya
tidak setuju. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak yakin dia akan
menuruti perkataan Tuan dengan patuh. Faktanya, 'kejadian serupa' sudah pernah
terjadi."
"Bahkan
dengan risiko itu, dia tetap akan menjadi kekuatan tempur yang luar biasa. Yah,
meski sepertinya dia butuh istirahat untuk sementara waktu."
Setelah
berkata demikian, si topeng hitam-putih tiba-tiba terbatuk-batuk.
"Tuan,
Anda baik-baik saja?"
"Ah, maaf. Sepertinya belakangan ini aku
terkena flu yang buruk, kesehatanku sedikit menurun. Tapi sekarang sudah tidak
apa-apa."
Si topeng
hitam-putih bangkit berdiri, lalu bergumam dengan penuh perasaan.
"Meski
begitu... tak kusangka mereka berhasil membuka 'Jalan Baru' yang kupikir
kemungkinannya paling rendah. Fufu, sepertinya mereka akan terus menghiburku di
masa depan."
Kedua
orang itu meninggalkan ruang pertemuan dan menghilang ke dalam kegelapan lorong
yang sunyi.



Post a Comment