NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yarikonda Otome Gēmu no Akuyaku Mobu desu ga ⁓ Danzai wa Iya na no de Mattō ni Ikimasu Volume 10 Chapter 3

Chapter 3

Pertempuran Benteng Hazama: Perang Dimulai


Dini hari setelah pertemuan dengan Lafa Grandork.

Terjadi pergerakan pada suku Foxman yang telah bersiaga di depan Benteng Hazama.

Pasukan musuh yang tadinya terdiri dari tiga divisi berkekuatan masing-masing lima ribu orang yang berbaris sejajar, kini berubah menjadi empat divisi berkekuatan masing-masing sepuluh ribu orang.

Di belakang mereka, tampak dua divisi berbaris vertikal dengan kekuatan masing-masing sepuluh ribu orang, serta dua divisi berkekuatan seribu orang yang bersiaga jauh di lini belakang.

Pasukan berkekuatan enam puluh ribu orang yang berbaris di depan benteng itu tampaknya dipimpin oleh pasukan "Marbas Grandork" yang bersiaga di posisi belakang.

Di belakang Marbas, pasukan di bawah komando Lafa mengambil posisi seolah-olah sebagai pasukan cadangan. Dan di posisi paling belakang, berdiri markas Gareth dan Elba yang berbaris vertikal dengan kekuatan seribu orang.

Demi meruntuhkan Benteng Hazama, keluarga Grandork akhirnya mengerahkan kekuatan tempur Gareth dan Elba yang selama ini disimpan. Sepertinya mereka berniat menyelesaikan semuanya hari ini.

Saat informasi ini disampaikan melalui pengintaian udara Aria dan kawan-kawan, aku dan Ayah menghela napas lega.

Sebab, pergerakan dan formasi musuh saat ini persis seperti "Permintaan" yang kuajukan pada Lafa saat pertemuan kemarin, sekaligus memang menjadi target kami.

Begitu mengonfirmasi posisi musuh, kami segera melancarkan langkah selanjutnya.

Di hadapan sekitar enam puluh ribu pasukan musuh yang berbaris di depan Benteng Hazama, aku, Ayah, dan Amon berdiri sejajar di posisi yang mudah terlihat oleh mereka.

Di tengah kegaduhan para prajurit Foxman yang bertanya-tanya ada apa, Amon melangkah maju.

"Aku adalah putra dari Kepala Suku Foxman saat ini, Gareth Grandork. Namaku Amon Grandork!"

Begitu dia memperkenalkan diri, raut kebingungan mulai terpancar di wajah para prajurit.

"Semuanya, tolong dengarkan aku! Yang mencoba membunuhku bukanlah keluarga Baldia, melainkan ayahku, Gareth, dan kakakku, Elba!"

Amon kemudian menjelaskan dengan suara lantang alasan pecahnya perang antara suku Foxman dan keluarga Baldia. Dia menyatakan bahwa tirani dan penindasan keluarga Grandork tidak boleh dimaafkan.

"……Oleh karena itu, aku, Amon Grandork, memutuskan untuk bangkit! Dengan meminjam kekuatan keluarga Baldia, demi masa depan suku Foxman, aku akan mengalahkan Gareth Grandork dan menjadi Kepala Suku yang baru! Jika ada di antara kalian yang setuju denganku, letakkan senjata kalian dan pergilah dari tempat ini!"

"Seperti yang kalian dengar. Kami, keluarga Baldia, mendukung kebangkitan Tuan Amon Grandork yang menjunjung keadilan. Bagi yang tidak ingin berperang, mundurlah!"

Menyusul ucapan Amon, suara Ayah menggema di lini depan musuh. Para prajurit Foxman mulai tampak goyah, tidak tahu harus berbuat apa.

"Jangan panik!"

Sebuah teriakan lantang bergema dari kedalaman barisan musuh.

"Apa kalian sudah lupa dengan apa yang dikatakan Ayahanda Gareth dan Kakakda Elba? Adikku, Amon, sudah mati! Orang yang berdiri di sana tidak lain adalah replika rendah yang disiapkan oleh keluarga Baldia! Saudara-saudaraku, sekaranglah saatnya membalaskan dendam Amon dan membebaskan kaum kita dari perbudakan!"

Para prajurit yang tadinya bingung kembali sadar, lalu melemparkan tatapan penuh kebencian ke arah kami.

Namun, kami tidak memedulikannya. Tujuan kami sudah tercapai.

"Yang berteriak tadi adalah kakakku, Marbas."

"Begitu ya. Terima kasih sudah memberitahuku."

Sesaat setelah Amon berbisik padaku, aku melihat "asap sinyal" membubung dari markas musuh yang jauh. Para prajurit Foxman satu per satu meneriakkan sorak perang dan mulai bergerak maju menuju benteng.

Detik ini juga, tirai Pertempuran Benteng Hazama resmi dibuka. Namun, jika mereka berpikir benteng ini masih sama seperti kemarin, mereka salah besar. Kami telah menyiapkan mekanisme di malam hari yang membuat pasukan sebesar apa pun tidak akan mudah meruntuhkannya.

Sambil bergerak bersama Ayah dan yang lain untuk bersiap menghadapi langkah berikutnya, aku mengaktifkan sihir komunikasi.

(Aria, beritahu aku situasi perang yang terlihat dari langit.)

(Siaaap! Anu... musuh sedang berusaha keras mendaki tanjakan yang dibuat Kalua dan kawan-kawan. Tapi mereka sepertinya panik karena panah dan sihir yang ditembakkan dari benteng.)

(Dimengerti. Sepertinya semua berjalan sesuai rencana tanpa masalah.)

(Iya. Tapi, Kakak benar-benar jahat ya kalau dipikir-pikir.)

Mendengar suara Aria yang terdengar masygul, aku memiringkan kepala.

(Eh, kenapa?)

(Habisnya, Kakak membiarkan mereka berjalan di tanjakan yang sudah diatur sudut tembak dan garis serangnya, lalu menembaki mereka dari benteng. Terus, meski mereka sudah susah payah mendaki, tiba-tiba di depan mereka terbentang 'parit kering' dan 'jembatan'. Kakak pasti punya kepribadian yang buruk.)

(Sekarang kan situasi darurat. Anggap saja itu sebagai pujian.)

(Eeeh, aneh deh. Ah, musuhnya banyak yang jatuh ke parit kering. Wah, kelihatannya sakiit~)

Aria hanya melihat dari langit tinggi, dan aku pun bicara sambil bergerak sehingga tidak melihat langsung kejadian di lapangan.

Pasti lini depan benteng saat ini sudah menjadi gambaran neraka.

Dari kejauhan, bagian depan benteng tampak tidak berubah dari hari sebelumnya. Namun, berkat pengerjaan Divisi Ksatria Kedua, jalan datar telah berubah menjadi tanjakan, membuat orang yang berjalan sulit melihat ke depan.

Selain itu, garis serang panah dan sihir dari benteng telah dikalkulasi agar bisa mengenai sasaran dengan tepat.

Bahkan jika mereka berhasil melewati tanjakan dengan susah payah, mereka akan dihadapkan pada "parit kering" dan "jembatan" yang mematikan bagi siapa pun yang baru pertama kali melihatnya.

Dengan mekanisme ini, benteng akan menjadi lebih kokoh. Dan kami seharusnya bisa mengulur waktu.

(Kak, seluruh pasukan musuh terus merangsek maju. Rasanya mereka mau menekan kita dengan jumlah personel.)

(Dimengerti. Aku akan segera memberi instruksi selanjutnya pada yang lain, jadi aku putus komunikasinya ya.)

(Siaaap!)

Setelah mengakhiri komunikasi dengan Aria, aku menyampaikan instruksi melalui Salvia kepada anggota Divisi Ksatria Kedua yang bisa menggunakan "sihir atribut air".

Tak lama kemudian, suara gemuruh air yang dahsyat mulai terdengar dari arah depan benteng.

(Aria, operasi dimulai.)

(Dimengerti, Kak. Kalau begitu, kami semua akan melakukannya bersamaan!)

Ada jeda singkat setelah jawaban itu, lalu suaranya kembali menggema di benakku.

(Sentinel. Long Range Attack!)

Dari balik awan putih yang melayang di langit, kilatan cahaya melesat dan jatuh ke tanah bersama suara gemuruh. Itu benar-benar terlihat seperti "Sambaran Petir".

Sambaran petir itu tidak berakhir sekali, melainkan jatuh berkali-kali secara beruntun ke tanah. Terlebih lagi, petir itu mengincar "Jenderal" suku Foxman dengan akurasi yang tepat.

"……Pemandangan yang mengerikan. Hanya melihatnya saja sudah membuat kudukku merinding."

"Jika Ayah menilainya seperti itu, berarti 'Strategi Melawan Pasukan Besar' ini sukses."

Bahkan pasukan raksasa dengan jumlah prajurit yang melimpah pun memiliki kelemahan dalam rantai komando dan penyampaian informasi.

Umumnya, jumlah ideal orang yang bisa dikelola secara efektif oleh satu komandan adalah lima sampai delapan orang. Jika satu orang mengelola terlalu banyak orang, instruksi tidak akan tersampaikan dengan baik dan akan menghambat komando maupun operasional.

Lalu, bagaimana pengelolaan pasukan besar dilakukan?

Jawabannya sebenarnya sederhana.

Pertama, tentukan orang yang mengelola lima sampai delapan prajurit di tingkat paling bawah.

Kemudian, tentukan jenderal yang mengelola orang tersebut... dengan cara inilah "organisasi berbentuk piramida" dibuat untuk mengefisiensikan pengelolaan.

Namun, apa yang terjadi jika para pengelola itu tidak bisa menjalankan fungsinya? Jawabannya juga mudah.

Rantai komando akan hancur, informasi tidak tersampaikan, dan karena jumlah pasukannya yang besar, mereka malah tidak bisa berfungsi dengan baik. Justru semakin besar jumlah pasukannya, kekacauan rantai komando bisa menjadi luka yang fatal.

Di medan perang depan Benteng Hazama, para jenderal musuh yang memimpin di lapangan satu per satu menjadi mangsa Magic Spear Bow Sentinel yang ditembakkan Aria dan kawan-kawan dari langit.

Bahkan dari kejauhan, terlihat pasukan musuh yang kehilangan jenderalnya jatuh ke dalam kekacauan hebat dan formasi mereka hancur berantakan.

Sebentar lagi, rantai komando keluarga Grandork akan lumpuh total, dan pasukan besar itu akan berubah menjadi "gerombolan tidak teratur" yang kehilangan kekuatan organisasi.

"Memang benar segalanya berjalan lancar, tapi kita tidak boleh lengah. Kita juga harus bergegas."

"Dimengerti. Kalau begitu, aku akan segera menginstruksikan langkah selanjutnya kepada 'mereka'."

Aku berkata demikian lalu mengaktifkan sihir komunikasi.

(Salvia. Transisi ke operasi berikutnya. Biarkan 'kami' berangkat dari benteng.)

(Dimengerti. Akan segera saya sampaikan kepada anggota Badan Intelijen Khusus yang siaga di Benteng Hazama.)

Tak lama setelah komunikasi berakhir, terjadi pergerakan baru di Benteng Hazama.

Saat aku memastikannya dengan teropong di tangan, gerbang benteng mulai terbuka. Kemudian, Komandan Ksatria Dinas berdiri di barisan terdepan dengan memegang gada berduri di satu tangan.

Pasukan gabungan Divisi Ksatria Pertama dan Kedua Baldia mulai merangsek maju dengan dipimpin oleh "aku", "Ayah", dan "Amon" untuk menyerang markas Marbas.

Para prajurit Foxman yang kehilangan jenderal dan sedang panik terpecah menjadi mereka yang kabur karena melihat sosok Amon dan pasukan ksatria yang menyerang, serta mereka yang menyerang secara membabi buta.

Mereka kehilangan koordinasi dan jatuh ke dalam kekacauan yang semakin parah.

Dinas dan pasukan ksatria yang keluar dari benteng adalah yang asli.

Namun, "kami bertiga" yang ada di sana tidak lain adalah pemeran pengganti, yaitu Dan, Zab, dan Lou dari ras Tanukiman anggota Badan Intelijen Khusus Divisi Ksatria Kedua, yang mengubah wujud mereka dengan "sihir penyamaran".

Tentu saja, pertahanan benteng setelah Dinas dan yang lainnya berangkat juga sudah dipastikan keamanannya. Curtis yang berpengalaman memegang komando lini depan, sementara asistennya, Stein dan Raymond, bertugas menjaga benteng.

Jika ada jenderal musuh yang tenang dengan kemampuan koordinasi tinggi dan mampu melihat medan perang secara objektif, dia pasti akan merasa ada yang aneh dengan pasukan yang dipimpin Dinas.

Dan jika dia mengoordinasikan pasukan besar kebanggaan suku Foxman untuk menghadapinya, maka hampir mustahil bagi ksatria Baldia untuk menembus barisan musuh.

Namun, "jenderal musuh" yang kompeten itu sudah tidak tersisa lagi di barisan musuh. Alasan utamanya tidak lain karena kilatan cahaya yang terus melesat dari langit, menyebabkan asap ledakan akibat sambaran petir terjadi terus-menerus di medan perang.

Aria dan kawan-kawan di udara selalu memantau medan perang dengan benda yang sama dengan teropong yang kugunakan sekarang.

Selain itu, di Benteng Hazama juga ada anggota ksatria yang memantau markas musuh dengan teropong, dan mereka berbagi informasi dengan Aria melalui sihir komunikasi.

Jika ada tentara musuh yang mencoba mengoordinasikan pasukan sedikit saja, aku memberikan instruksi agar mereka ditembak tanpa ampun dari langit menggunakan Magic Spear Bow Sentinel.

Tentara musuh di medan perang pasti sudah menyadarinya. Bahwa "Jenderal" yang memimpin pasukan sedang diincar oleh sambaran petir.

Para tentara musuh yang melihat langsung kenyataan bahwa "jika mencoba mengoordinasikan pasukan, maka akan tertembak petir" menjadi ketakutan dan membeku.

Jika sudah begini, pasukan Foxman bukan lagi disebut pasukan besar. Mereka hanyalah gerombolan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki koordinasi.

Saat aku mengarahkan teropong ke markas Marbas yang diserahi tanggung jawab komando lini depan, aku melihat seorang perwira Foxman bergegas kembali ke markas.

Sesaat kemudian, guntur menggelegar, cahaya dari Magic Spear Bow berkilat menimbulkan asap ledakan, dan perwira itu jatuh tersungkur dalam kondisi hangus.

Marbas muncul dari dalam markas yang dibuat agar tidak terlihat dari luar. Dia menunjuk ke langit sambil meneriakkan kemarahan, lalu sejumlah besar sihir atribut api dan panah dilepaskan ke arah langit.

Dengan tembakan antipesawat setingkat itu, tidak mungkin bisa mengenai Aria dan kawan-kawan. Rasanya seperti "daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali".

Saat terus memantau keadaan Marbas, dia kembali meneriakkan kemarahan sambil menunjuk ke arah belakang.

Sepertinya dia sedang meminta bantuan kepada Lafa yang bersiaga di belakang.

Aku pun mengarahkan teropong ke markas Lafa, namun di sana sunyi senyap, sangat kontras dengan kekacauan di lini depan.

"……Sepertinya, dia benar-benar menuruti semua permintaan kita ya."

"Tampaknya begitu."

Ayah, yang juga sedang menatap markas musuh dengan teropong sepertiku, mengangguk.

Ada tiga hal yang kuminta pada Lafa saat pertemuan kemarin.

Pertama, memusatkan pasukan di depan Benteng Hazama.

Kedua, membiarkan Marbas memegang komando lini depan.

Ketiga, Lafa tetap menjadi penonton sampai situasi pertempuran kedua keluarga menjadi jelas.

Karena tentara musuh terpusat di lini depan, serangan penembakan yang dilakukan Aria dan kawan-kawan memberikan efek yang luar biasa.

Kami sukses membuat musuh jatuh ke dalam kekacauan hebat. Dan fakta bahwa Marbas yang memegang komando lini depan juga menjadi penyebab markas musuh selalu terlambat bertindak.

Dari informasi yang didapat dari Amon, kami tahu bahwa Marbas minim pengalaman perang dan sangat menginginkan "prestasi militer".

Seseorang yang haus prestasi kemungkinan besar akan mengambil langkah gegabah meskipun harus menanggung sedikit kerugian. Kami memasang perangkap di sana.

Dengan taktik pengepungan melalui renovasi benteng, kami membuat pasukan musuh tertahan di depan benteng.

Lalu melalui penembakan jenderal musuh oleh Aria dan kawan-kawan, kami melumpuhkan kekuatan organisasi dan koordinasi mereka.

Sebagai penyelesaian, kami mengacaukan lini depan dengan pemeran pengganti.

Bagi Marbas yang minim pengalaman tempur, mustahil baginya untuk memulihkan lini depan. Begitu menyadari lini depan tidak bisa dikendalikan, dia pasti akan meminta bantuan.

Namun, Lafa yang berada tepat di belakangnya telah memutuskan untuk menjadi "penonton" sampai situasi perang dipastikan berkat pertemuan kami. Itulah gaya Lafa. Saat ini, dia pasti sedang menikmati pemandangan pertempuran ini dari markasnya sendiri.

"Reed. Mari kita juga bergerak."

"Baik. Dimengerti."

Saat aku mengangguk, Ayah mengalihkan pandangannya pada Kros, Diana, Capella, dan yang lainnya yang ada di dekat kami.

"Kalian semua. Aku titipkan Reed pada kalian."

"Dimengerti. Kami akan melindunginya meski harus mempertaruhkan nyawa."

Kros menjawab mewakili yang lain, sementara Diana dan Capella membungkuk dalam.

"Hmm. Kalau begitu, waktu dimulainya operasi adalah sepuluh menit dari sekarang. Semuanya, ambil posisi masing-masing!"

Setelah berkata demikian, Ayah kembali menatapku.

"Jangan berbuat nekat. Dalam perang ini, jika aku dan Tuan Amon berhasil mengambil kepala Gareth, maka kitalah pemenangnya. Peran pasukanmu hanyalah untuk menahan lawan. Kau mengerti, kan?"

Dari ucapan Ayah, aku bisa merasakan betapa dia sangat mengkhawatirkanku.

Dalam skenario terburuk, ini mungkin menjadi perpisahan terakhir kami di dunia ini. Memikirkan hal itu, dadaku rasanya seperti sesak. Namun, aku menunjukkan deretan gigi putihku dan tersenyum.

"Iya, aku tidak akan nekat. Tapi, jangan khawatir, apa pun yang terjadi aku tidak akan membiarkan 'Elba' pergi ke tempat Ayah dan Tuan Amon."

"Tuan Reed. Kakak... tidak, Elba itu kuat."

Amon yang berdiri di samping Ayah angkat bicara dengan raut wajah cemas.

"Jika menahan lawan terasa sulit, mundurlah sejenak dan atur kembali formasi. Hadapilah secara fleksibel. Orang itu benar-benar tidak bisa diremehkan."

"Iya, aku mengerti. Tapi, aku punya 'semuanya' yang bisa diandalkan. Aku pasti akan mengatasinya."

Di belakangku berdiri Capella dan Diana, lalu para anggota Divisi Ksatria Pertama yang dipimpin Kros, serta para pemimpin regu pilihan dari Divisi Ksatria Kedua.

"Ah, satu lagi. Tidak perlu pakai 'Tuan'. Panggil saja Reed dengan santai."

"Begitu ya. Kalau begitu, panggil aku 'Amon' juga."

"Oke, Amon. Kalau begitu, sampai jumpa nanti."

"Ya, Reed. Aku pasti akan menghabisi Gareth."

"Sip. Oh iya, titip Noir dan Lagard juga ya. Mereka berdua juga sering nekat soalnya."

"Siap. Serahkan padaku."

Setelah mengangguk dan menjawab begitu, Amon menatap dua orang yang berada dalam pasukan yang sama dengannya.

Dalam perang kali ini, hanya Noir dan Lagard yang akan mendampingi Amon untuk ikut serta dalam misi penumpasan Gareth.

Sebenarnya, Noir adalah satu-satunya penyintas yang mewarisi darah "Greas Grandork". Ibunya, wanita bernama "Marichel", kabarnya sudah meninggal karena sakit.

Noir dan Lagard kabarnya hidup bersembunyi di wilayah suku Foxman dengan menyembunyikan asal-usul mereka. Sambil berharap suatu saat nanti bisa membalaskan dendam orang tua dan klan mereka yang dihukum.

Namun, kenyataan begitu pahit. Mereka tertangkap oleh pedagang budak dan dijual ke Balust, hingga secara tidak sengaja sampai ke keluarga Baldia.

Aku baru diberitahu soal ini baru-baru ini, dan aku benar-benar terkejut. Aku juga sudah menyampaikan latar belakang mereka pada Amon.

Dia pun terkejut sekaligus terharu mengetahui anak dari pamannya, Greas, ternyata masih hidup.

Mereka bertiga, sebagai orang-orang yang memiliki ambisi yang sama untuk menumpas Gareth, langsung merasa cocok satu sama lain.

Tekad dan semangat tempur mereka luar biasa, sehingga diputuskan bahwa Noir dan kawan-kawan akan mendampingi Amon.

Tentu saja, tujuannya bukan hanya untuk meningkatkan semangat tempur. Keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai hal untuk masa depan.

"Tuan Reed. Terima kasih telah mendengarkan keegoisan kami. Kami pasti akan membalaskan 'penyesalan' ini."

"Noir. Aku mengerti perasaanmu, tapi jangan dipaksakan ya. Lagard, kau harus melindunginya dengan benar."

"Baik. Saya pasti akan melindunginya."

Setelah pembicaraan dengan mereka berdua selesai, aku mengalihkan pandangan pada "dia" yang sejak pagi tadi terus berada dalam atmosfer canggung dengan Diana.

"Rubens. Titip Ayah ya."

"Baik. Saya juga akan melindunginya meski harus mempertaruhkan nyawa."

Saat dia membungkuk hormat, Ayah menggelengkan kepala.

"Aku belum setua itu sampai harus dilindungi. Kau sendiri, pikirkanlah keselamatan dirimu sendiri sebagai prioritas utama. Mengerti?"

"Ba-baik. Dimengerti."

Setelah Rubens disemprot begitu, tawa pecah di antara para anggota ksatria.

Di tengah suasana itu, aku mendekat ke sampingnya dan berbisik.

"Hei, Rubens. Soal tadi malam, apa terjadi sesuatu dengan Diana?"

"Eeh!? A-Anda melihatnya?"

"Nggak kok, bukan gitu. Pas aku lihat ke luar jendela, kebetulan saja aku lihat kalian berdua sedang canggung. Terus, hari ini sejak pagi suasana kalian berdua juga aneh……"

"Ugh……!? Aku melamarnya karena terbawa suasana setelah naik jabatan jadi Wakil Komandan, tapi……"

Dia melirik Diana sekilas dan melanjutkan dengan raut wajah serba salah.

"Dia malah memarahiku sambil bilang, 'Melamar tepat sebelum perang penentuan, apa Anda berniat mati agar tidak punya penyesalan? Itu pertanda buruk. Lagipula, melamar di saat seperti ini adalah perbuatan pengecut. Sejujurnya, saya kecewa. Dasar pria lembek'."

"Ah, jadi begitu ya."

"Haa... Padahal Kros-san juga sudah bilang 'sampaikanlah perasaanmu dengan benar'. Tak disangka bakal jadi begitu……"

Rubens pun tertunduk lesu dengan bahu merosot.

Aku juga bisa memahami perasaan Diana. Jika melamar tepat sebelum perang penentuan lalu berkata "kalau perang ini selesai, aku akan menikah", itu adalah death flag jika dalam sebuah cerita.

Pasti kata-katanya itu dimaksudkan untuk memberinya semangat dengan caranya sendiri. Tapi, ya begitulah Rubens. Sepertinya dia tidak menyadari niat tersebut.

"Diana juga repot ya seperti biasanya."

"Eh, maksudnya?"

Kepada Rubens yang memiringkan kepala kebingungan, aku melanjutkan bisikanku.

"Dengar ya. Mana mungkin Diana tidak mau menikah denganmu. Dia hanya ingin kau tetap hidup melewati perang ini. Makanya dia membalas dengan kata-kata yang tajam."

"Ah……!?"

Rubens tersentak dan membelalakkan matanya.

"Lagi pula, dia menolak dengan alasan 'melamar di saat seperti ini adalah perbuatan pengecut', kan? Berarti, kalau di waktu normal dia bakal 'menerima lamaran itu', bukan? Seperti yang pernah kukatakan, cobalah pikirkan niat asli Diana."

"……!? Be-benar juga. Saya mengerti. Sekarang, saya hanya akan memikirkan cara untuk tetap hidup dalam pertempuran ini. Tuan Reed, terima kasih banyak!"

Tepat saat dia kembali bersemangat dan mengangkat wajahnya, suara Ayah terdengar pelan, "Rubens, gerakkan pasukan!"

"Dimengerti! Kalau begitu, Tuan Reed, saya permisi. Diana, sampai jumpa nanti ya!"

Setelah memberi hormat, dia diam-diam mengikuti Ayah dan memberikan instruksi pada pasukannya. Diana menundukkan kepala dan bergumam pelan seolah melepas kepergian Rubens, "Semoga keberuntungan menyertai Anda."

"……Padahal bilang saja supaya dia dengar."

Meski aku yang berada di dekatnya bisa mendengar, tapi suaranya pasti tidak sampai ke telinga Rubens yang sudah berlari pergi. Omong-omong, pakaiannya saat ini adalah kostum ksatria, bukan pelayan.

Diana mengangkat wajahnya lalu menggelengkan kepala pelan.

"Tidak apa-apa. Prioritas utama kami saat ini bukan urusan pribadi. Lagi pula, kalau dia diperlakukan seperti itu, dia justru akan berusaha lebih keras."

"Begitu ya. Kalau gitu, dia pasti bakal mencetak prestasi militer yang hebat."

"Iya. Saya yakin dia bisa melakukannya."

Diana bergumam kesepian dengan ekspresi wajah seperti biasanya, sambil terus mengikuti sosok Rubens dengan matanya.

Saat aku ikut melihat, di samping Rubens berdiri Nels, teman masa kecilnya, yang mendampingi sebagai asisten.

Sesuai instruksi mereka berdua, pasukan mereka mulai bergerak menuju lokasi yang sedikit menjauh.

"Kalau begitu, aku juga harus segera berangkat. Reed, aku doakan keberuntungan menyertaimu."

"Iya. Ayah juga, semoga beruntung."

"Hmm."

Ayah mengangguk sambil tersenyum, lalu berdiri di barisan terdepan pasukan yang terdiri dari Amon, Noir, Lagard, dan Rubens, kemudian mulai bergerak menembus hutan.

Tak lama kemudian, sosok Ayah dan yang lainnya sudah tidak terlihat lagi.

"Tuan Reed. Waktu kita tidak banyak. Mari kita juga bergerak."

"……Ya, kau benar."

Mengangguk pada ucapan Kros, Diana dan Capella yang berpusat padanya mulai memberikan instruksi kepada seluruh anggota pasukan.

Setelah berpindah ke lokasi di mana markas Elba bisa terlihat, kami mengatur barisan di dalam hutan dan menunggu saat dimulainya operasi.

Tiga menit lagi.

Aku mengecek jam saku di pinggang, lalu menatap seluruh anggota pasukan yang bersiaga di belakangku.

Para ksatria yang mengenakan zirah memakai jubah agar keberadaan mereka tidak ketahuan musuh.

Meski mereka menahan napas, namun aura penuh hawa membunuh dan semangat tempur yang memancar terasa sangat perkasa.

Tentu saja, aku juga mengenakan zirah. Hanya saja, bukan zirah berat yang membuat pergerakan menjadi kaku.

Ini adalah baju zirah spesial yang ringan namun kokoh, buatan Ellen, Alex, dan kawan-kawan.

Kabarnya zirah ini dibuat dari paduan logam dan kain khusus yang mereka kembangkan, yaitu Shape-Shifting Magic Alloy dan Shape-Shifting Magic Synthetic Fabric.

Katanya ini adalah inovasi agar zirah ini bisa terus dipakai meskipun aku bertambah usia dan tubuhku tumbuh besar. Menurut mereka, logam dan kain ajaib itu akan menyerap atau melepaskan kekuatan sihir penggunanya untuk mengubah ukurannya.

Aku menerima "produk jadi" yang kupakai sekarang ini tepat sebelum berangkat dari kediaman utama.

Kabarnya Ellen dan Alex menerima pesanan rahasia dari Ayah, dan mereka menyelesaikannya tepat waktu.

Meski fitur "perubahan bentuk" itu terdengar meragukan, tapi karena tidak ada waktu untuk mencobanya, aku hanya manggut-manggut setuju.

"Tuan Reed. Sisa satu menit. Sebentar lagi."

"Ya. Aku mengerti."

Mengangguk pada bisikan Kros, aku menarik napas dalam-dalam.

Kekuatan militer yang ada di sini sekitar dua ribu orang, termasuk anak-anak pemimpin regu Divisi Ksatria Kedua.

Kekuatan militer Ayah di pasukan terpisah juga sekitar dua ribu orang.

Kekuatan militer yang ditinggalkan di Benteng Hazama sekitar lima ribu orang.

Karena Baldia telah mengerahkan seluruh kekuatan tempur yang bisa disiapkan untuk pertahanan Benteng Hazama, maka tidak ada kesempatan kedua bagi kami.

Renovasi benteng, penembakan jenderal musuh oleh Aria dan kawan-kawan, pengacauan dengan pemeran pengganti, serta negosiasi dengan Lafa.

Semua pergerakan sejauh ini adalah persiapan untuk operasi yang akan dilakukan sekarang.

Sampai sejauh ini, segalanya berjalan lancar. Dengan satu serangan berikutnya, seluruh hasil akhir perang ini akan ditentukan.

"Tuan Reed, waktunya tiba. Mari kita berangkat."

Mendengar ucapan Kros, aku berdiri lalu menoleh ke arah semuanya.

"Segalanya telah berjalan sesuai rencana. Sisanya, tinggal kita yang akan memberikan titik akhir pada pertempuran ini!"

"Ooh!"

Para ksatria menanggalkan jubah mereka, memperlihatkan sosok berzirah merah menyala, lalu mengangkat tinggi panji yang bergambar lambang keluarga Baldia dan gambar Lipan.

"Ayo semuanya! Terjang sampai ke markas utama musuh, dan fokuslah hanya untuk mengalahkan Elba Grandork! Jika kalah di sini, tidak akan ada hari esok bagi Baldia!"

Tepat saat aku berseru lantang, seekor anak kucing menghampiri kakiku dari sela-selah kaki para ksatria.

"Cookie?"

Kapan dia ikut? Saat aku memiringkan kepala heran, dia membesarkan tubuhnya seperti singa dan membiarkanku naik ke punggungnya.

"……!? Kau mau ikut bertarung bersamaku?"

Dia mengangguk lalu mengaum kencang.

"Baiklah. Semuanya, serbuuu!"

Sambil meneriakkan sorak perang, kami keluar dari hutan dan berlari kencang di medan perang menuju markas musuh di mana Elba berada.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close