NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 8 Chapter 4

Chapter 4

Kebangkitan Kembali


Setelah membebaskan Oliver dan rekan-rekannya di Tsutrail, kami berlima berpindah ke Ibu Kota Kerajaan Nohitant. Dari sana, kami menggunakan fasilitas Long-Distance Teleportation milik Downing Trading Company untuk kembali ke Kadipaten Hitia.

"Serius, kita sudah sampai di Kadipaten Hitia?"

Bukan hanya Derrick yang bergumam tak percaya; Luna dan Annerie pun menunjukkan ekspresi yang seolah berkata bahwa ini mustahil.

Oliver sendiri tidak tampak terkejut, sepertinya dia sudah mengetahui keberadaan Long-Distance Teleportation.

Wajar saja mereka bereaksi begitu. Beberapa jam lalu kami masih berada di Tsutrail, tapi sekarang kami sudah berpindah ke lokasi yang jika ditempuh dengan kereta kuda pun akan memakan waktu hampir satu bulan.

"Ini benar-benar revolusi dalam dunia logistik ya……"

"Sekarang memang kita gunakan tanpa ragu, tapi jika mempertimbangkan biayanya, ini bukan sesuatu yang bisa dipakai sembarangan. Masih butuh banyak penelitian agar Long-Distance Teleportation bisa digunakan secara luas untuk logistik. ……Pokoknya, terima kasih atas kerja kerasnya. Maaf karena aku memaksakan perjalanan cepat ini. Chris—maksudku ketua asosiasi—sudah mengatur kamar tamu untuk kalian, jadi untuk hari ini beristirahatlah dengan tenang."

"Marquis Forgas pasti akan menjadikan Orn buronan resmi, kan? Kami juga statusnya narapidana yang kabur, jadi kami paham kalau kami tidak bisa lama-lama di Kerajaan Nohitant. Tidak masalah," ujar Annerie.

"Benar. Kami juga tidak secapek itu. Jadi, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

Melihat mereka berdua bicara begitu, sepertinya itu bukan sekadar gertakan; mereka benar-benar tampak bugar.

Aku sempat khawatir stamina mereka menurun karena mendekam di penjara selama setahun, tapi sepertinya itu kekhawatiran yang tak perlu.

"Untuk saat ini belum ada tugas mendesak. Namun, aku memperkirakan dalam waktu dekat labirin di seluruh dunia akan mengalami luapan atau Labyrinth Stampede. Aku ingin kalian pergi memburu monster di berbagai tempat bersama unit operasional Amunzerath."

"Bekerja sama dengan Amunzerath, ya. Rasanya sedikit rumit," gumam Luna sambil tersenyum pahit.

Bagi Luna, Amunzerath adalah organisasi yang sampai beberapa jam lalu dianggap sebagai musuh. Memintanya untuk langsung mengubah perasaan tentu saja hal yang berat.

"Memang benar Amunzerath selama ini telah membunuh banyak penjelajah. Masa lalu itu tidak akan hilang. Tapi, organisasi yang sekarang tidak lagi membenarkan pembunuhan dan bergerak untuk menyelamatkan sebanyak mungkin orang. ……Meski begitu, Luna, aku mengerti perasaanmu. Sampai hatimu merasa tenang, kau tidak perlu memaksakan diri—"

"—Tidak, saya tidak apa-apa. Maaf saya sempat mengeluh. Saya sudah memantapkan tekad sebelum datang ke sini."

Aku hendak menyuruhnya jangan memaksakan diri, tapi Luna memotong perkataanku. Sorot matanya menunjukkan tekad yang kuat, menyampaikan bahwa ucapannya bukanlah sekadar penghibur diri.

"……Baiklah. Annerie, Derrick, kalian juga tidak keberatan?"

"Ya. Kami sudah mendengar dari Oliver sebelumnya tentang kemungkinan besar akan bekerja sama dengan Amunzerath, jadi perasaan kami sudah lama tenang soal itu."

"Aku juga sama."

"Begitu ya. Terima kasih kalian bertiga—"

"—Orn, selamat datang kembali!"

Tepat saat kami sedang berbicara di ruang berukir lingkaran teleportasi, pintu terbuka dengan keras dan Shion masuk. Matanya langsung beralih ke sampingku, dan begitu melihat Oliver, dia memasang senyum jahil.

"Oliver, lama tidak jumpa ya—. Kudengar kau hampir membunuh Orn di Festival Syukur tahun lalu?"

"Lama tidak jumpa, Shion. Bukannya kau sendiri juga hampir membunuh Orn sebelum festival itu?" balas Oliver tak mau kalah.

Bagi aku yang tahu hubungan mereka, aku paham mereka hanya bercanda, tapi isi pembicaraannya terlalu berbahaya.

"Kalian ini, apa benar kata-kata pertama untuk teman yang bertemu lagi setelah sepuluh tahun harus seperti itu……?"

"Hal-hal yang pernah dilakukan di masa lalu harus dicamkan baik-baik, kan?" ujar Shion.

"……Benar. Sebagai pengingat agar tidak melakukan kebodohan yang sama lagi," timpal Oliver.

Selagi Shion dan Oliver saling memahami satu sama lain, Luna membelalakkan matanya dengan terkejut.

"Baru pertama kali saya melihatnya…… Roh es berkumpul sebanyak ini di satu tempat."

Mendengar gumaman Luna, Shion menoleh ke arahnya. Shion menatap Luna lekat-lekat sejenak sebelum akhirnya berbicara.

"…………Jangan-jangan kau adalah pemilik Special Ability: Spirit Command?"

"Eh, iya. Kemampuan saya adalah Spirit Command."

"Heh—, jadi itu kau."

Shion menatap Luna dengan pandangan penuh arti sejenak, namun tiba-tiba dia tersenyum ceria dan mengulurkan tangannya.

"Namaku Shion Nasturtium. Salam kenal ya."

Luna tampak bingung namun tetap menyambut tangan Shion.

"Anu, saya Luna Flockhart. Mohon bantuannya."

Luna adalah rekan pertama yang bergabung denganku dan Oliver saat kami membentuk Golden Dawn.

Apakah hasil ini merupakan campur tangan kehendak seseorang, murni kebetulan, ataukah takdir, aku pun tidak tahu.

Namun, satu hal yang bisa kupastikan. Fakta bahwa aku membawa Luna bersamaku adalah sebuah keuntungan yang sangat besar.

Kemampuan Spirit Command milik Luna memungkinkannya untuk mempersepsikan roh dan peri. Aku yang memiliki kemampuan Omniscience juga secara tidak sadar telah memperoleh Spirit Command.

Alasan aku bisa menyadari keberadaan Titania dan berkomunikasi dengannya adalah karena ada kemampuan Spirit Command di dalam diriku.

Aku tidak tahu kata-kata mana yang menyentuh hati Titania saat kami berbicara di wilayah Reglif, tapi karena pertemuan itulah dia bersedia membantuku memutar balik waktu dunia.

Bahkan sampai memberikan sebagian besar kekuatan sihir yang membentuk dirinya sebagai bayarannya.

Nyawa Kakek bagiku tidak ternilai harganya, tapi itu saja tidak cukup untuk membayar biaya memutar balik waktu dunia. Kita bisa berada di sini sekarang karena bantuan Titania.

Dan peri, yang terkadang disebut sebagai makhluk hidup dari energi sihir—eksistensi energi sihir yang memiliki kehendak—akan menjadi sosok yang sangat penting dalam pertarungan kami melawan Ordo ke depannya.

"Lalu? Apa hubungan Luna dan dua orang lainnya dengan Orn?" tanya Shion setelah bersalaman dengan Luna.

"Mereka yang ada di sini adalah anggota Golden Dawn. Semuanya akan bekerja sama dengan kita."

"Golden Dawn…… Kelompok Pahlawan ya. Heh—, jadi mereka orangnya……"

Shion menatap kami dengan ekspresi heran.

"Ah, aku belum menyapa kalian berdua ya. Namaku Shion Nasturtium. Kalau kalian bersedia bekerja sama, berarti mulai sekarang kalian adalah temanku. Salam kenal ya, kalian berdua!"

Sama seperti pada Luna, Shion memperkenalkan diri kepada Annerie dan Derrick.

"Aku Annerie Wilds."

"Derrick Moseley."

Annerie dan yang lainnya menyahut dengan memperkenalkan diri mereka masing-masing. Begitu perkenalan mendadak itu selesai, aku pun angkat bicara.

"Seperti yang kukatakan tadi, dalam waktu dekat kalian akan bertarung melawan monster. Paling cepat besok kalian akan dikirim ke berbagai wilayah, jadi untuk hari ini, kumpulkanlah tenaga kalian."

Setelah masing-masing menyahut perkataanku, pertemuan hari ini pun berakhir.

Waktu untuk serangan balik kian mendekat dari detik ke detik.

◆◇◆

Beberapa hari telah berlalu sejak aku kembali ke Kadipaten Hitia bersama Oliver dan yang lainnya.

Hari ini adalah tanggal 21 April tahun 630 Kalender Suci.

Di dunia sebelumnya, ini adalah hari di mana Tsutrail diluluhlantakkan oleh Ordo.

Aku dan Fuuka berdiri di atap Downing Trading Company, menatap pemandangan kota Selest sambil menenangkan hati menunggu saat itu tiba.

Dalam beberapa hari terakhir, unit operasional Amunzerath telah ditempatkan di berbagai penjuru benua untuk bersiap menghadapi Labyrinth Stampede.

Prediksi kami adalah labirin di seluruh dunia akan meluap secara serentak.

Di kota-kota yang dihuni banyak penjelajah, mereka bisa langsung melakukan serangan balik saat monster menyerang. Namun sebaliknya, wilayah yang minim penjelajah berisiko tinggi akan diluluhlantakkan tanpa perlawanan.

Bahkan di tempat-tempat seperti itu, kami berniat melawan ancaman ini menggunakan seluruh kekuatan Amunzerath untuk meminimalisir korban jiwa.

Semua persiapan yang bisa dilakukan sudah tuntas. Kini tinggal melaksanakan apa yang harus dilakukan.

Setelah beberapa saat, Telshe-san dan Chris datang ke atap.

"—Tuan Orn, barusan kami menerima laporan dari Haruto dan Luna yang bertugas sebagai pengintai. Mereka mengonfirmasi bahwa Rakshasa dan War Ogre telah tiba di pulau tak berpenghuni tersebut."

Di pulau tak berpenghuni yang diawasi oleh Luna dan Haruto-san, terdapat labirin yang mirip dengan lokasi yang disebut Ordo sebagai Farm yang diserang Shion awal tahun ini.

Cyclops raksasa yang muncul saat Ordo menyerang Tsutrail di dunia sebelumnya adalah monster dengan mekanisme yang berbeda dari biasanya. Aku yakin mereka adalah monster-monster yang telah dimodifikasi di pulau ini.

"Apa Luna dan Haruto-san sudah meninggalkan pulau?"

"Ya. Keduanya sudah meninggalkan lokasi dan sekarang menuju pos mereka masing-masing."

"Baiklah. Terima kasih laporannya. Telshe-san, tolong bagikan informasi ini ke semua komandan unit melalui Messenger."

"Dimengerti."

Telshe-san segera meninggalkan tempat setelah menerima instruksiku.

"—Fuuka, sudah siap?"

Setelah melepas kepergian Telshe-san, aku bertanya pada Fuuka yang berdiri di sampingku. Fuuka mengangguk kecil.

"Kapan pun siap," jawabnya datar tanpa tanda-tanda tegang.

"Akhirnya datang juga ya, hari ini," gumam Chris penuh perasaan.

"Ya. Mulai dari sini, dunia akan bergerak dengan cepat. Ada kemungkinan luapan akan terjadi dalam kurang dari setengah hari, jadi Chris, tolong koordinasinya dengan pihak Kadipaten."

"Ah, aku mengerti. Aku akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa lebih banyak daripada yang pernah kurebut sebelumnya. Aku tidak berpikir hal seperti ini bisa menjadi penebusan dosa, tapi tetap saja, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. —Jangan mati ya, Orn."

Chris, yang sebenarnya mungkin ingin menghentikanku, tidak mengucapkan hal semacam itu sama sekali dan justru mendukungku.

"Tentu saja! Karena tujuanku adalah 'Masa depan di mana aku bisa tersenyum'!"

Sambil aku menyatakan itu, lingkaran teleportasi darurat telah selesai. Begitu diaktifkan, pandanganku mulai terdistorsi.

◆◇◆

Angin hangat menyapu pipiku.

Pemandangan di depanku berubah dari barisan bangunan kota menjadi pintu masuk labirin yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan.

"Orn, di sini?" tanya Fuuka sambil memastikan pintu masuk labirin di hadapan kami.

"Ya. Mereka berniat membawa monster di sini dan berteleportasi ke Guild Penjelajah di Tsutrail."

Sama seperti Amunzerath yang bisa berpindah ke berbagai tempat menggunakan lingkaran teleportasi di setiap cabang Downing Trading Company, Ordo Cyclamen juga memiliki titik tujuan teleportasi selain Guild Penjelajah. Peran itu dijalankan oleh Labyrinth Core yang berada di bagian terdalam labirin.

Sepertinya tidak semua labirin bisa melakukannya, tapi Ordo mampu melakukan teleportasi dari satu labirin ke labirin lainnya.

Lingkaran teleportasi menuju Tsutrail sudah aku retas sebelumnya, jadi mereka tidak akan bisa berpindah ke sana dari sini. Namun, mereka yang tidak tahu soal itu akan mencoba berteleportasi dari sini seperti sebelumnya.

Di dunia sebelumnya, mereka berteleportasi ke labirin yang letaknya agak jauh dari Tsutrail, lalu masuk ke kota dengan berjalan kaki. Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka berteleportasi ke mana pun.

Di sinilah aku akan menghabisi mereka—Rakshasa dan War Ogre.

Aku membentangkan penghalang untuk mencegah teleportasi yang menutupi seluruh pulau.

"……Aku tidak akan membiarkan mereka meluluhlantakkan Tsutrail. —Ayo mulai, Fuuka."

"Ehm."

Sambil melepaskan amarah yang selama ini kupendam di lubuk hati terdalam, aku menggambar lingkaran sihir di angkasa.

Ini bukan lingkaran sihir gertakan sambal seperti saat aku menghancurkan fasilitas penahanan Tsutrail dulu. Ini adalah lingkaran sihir yang sesungguhnya.

Sihir berskala besar yang dibatasi oleh hukum sihir karena berpotensi merusak kestabilan dunia. Aku menggunakannya secara paksa di dunia ini melalui lingkaran sihir.

Energi sihir hitam pekat terkumpul di satu titik. Ruang di sekitarnya mulai terdistorsi.

"—Erebos!"

Begitu sihir dilepaskan, energi sihir hitam pekat menghujam dari langit menembus permukaan tanah.

Seharusnya, bagian dalam labirin adalah ruang yang terpisah dari dunia luar. Karena itu, seberapa dalam pun kau menggali tanah, kau tidak akan pernah sampai ke dalam labirin.

Namun sihir ini menghubungkan ruang-ruang yang berbeda dan secara paksa menyinkronkannya dengan dunia ini.

Energi sihir hitam pekat menyerang kelompok berjubah merah yang berada di lantai terbawah labirin.

◇◇◇

"……Aneh ya," gumam Rakshasa Stieg Strem yang sedang mengulurkan tangan ke arah Labyrinth Core.

"Woi, apa yang kau lakukan? Cepat kirim kami!" teriak War Ogre Dimon Ogul dengan suara menggelegar.

"Aku juga ingin melakukannya. ……Tapi aku tidak bisa menetapkan Tsutrail sebagai tujuan teleportasi."

"Hah? Apa maksudmu? Mana mungkin begitu!"

Dimon mengulurkan tangan ke Labyrinth Core dengan kesal, tapi tidak terjadi apa-apa.

"……Cih! Apa-apaan ini!"

"……Melihat tidak ada kerusakan pada Labyrinth Core ini, wajar jika menganggap lingkaran sihir di titik tujuan telah dimanipulasi."

"Bicara yang jelas! Apa maksudnya?"

"Artinya Leon Conti, Kepala Guild wilayah Selatan, telah berkhianat."

"Berkhianat!? Jangan bercanda!"

"Yah, dia memang sejak awal tidak setuju dengan ideologi kita. Kami menjadikannya Kepala Guild Selatan agar tidak memicu kecurigaan Orn Doula atau Oliver Cardiff, tapi sepertinya itu malah berbalik menyerang kita."

"Persetan soal itu! Intinya kita hanya perlu membunuh semua orang termasuk Kepala Guild itu, kan?"

"Kau memang sederhana ya. ……Apa boleh buat. Untuk sementara kita berteleportasi ke labirin terdekat dengan Tsutrail, lalu dari sana jalan ka—!?"

Stieg tiba-tiba mendongak. Dia yang biasanya selalu tenang kini kehilangan ketenangannya.

Energi sihir hitam pekat menjebol langit-langit lantai terbawah dan merangsek ke arah Stieg dan kawan-kawan. Ukurannya sangat besar hingga menutupi seluruh lantai terbawah.

"Apa-apaan!?" Dimon pun menyadarinya dan berteriak terkejut.

"……!"

Stieg membentangkan pelindung energi sihir di sekelilingnya. Meskipun berhasil mengurangi kerusakan dengan pelindung itu, Stieg tidak bisa menahan semuanya dan jatuh berlutut di tanah.

"Ini adalah……"

"Woi, Rakshasa! Apa-apaan ini……!?"

Dimon, meski tubuhnya penuh luka, belum kehilangan kesadaran.

"Bertahan dari serangan tadi tanpa pelindung, ketangguhanmu masih seperti biasa ya—! Tuan War Ogre! Di atas!"

Mendengar suara Stieg yang penuh kecemasan, Dimon mendongak. Di sana, dia melihat langit biru dan matahari yang terik—sesuatu yang seharusnya tidak bisa dilihat dari dasar terdalam labirin.

Seolah menyatu dengan sinar matahari, Fuuka melesat ke arah Dimon.

"—Serangan pertama, bagian kedua."

Fuuka bergumam tanpa emosi sambil mengayunkan katananya ke bawah. Tebasan Fuuka yang memanfaatkan momentum jatuh memiliki daya rusak yang luar biasa.

"Guh!?"

Meski menerima dampak yang membuat tanah di sekitarnya amblas, Dimon berhasil menahan pedang Fuuka dengan pedang besarnya.

"Rambut panjang sehitam sayap gagak dengan pakaian tradisional bermotif fajar. Jangan-jangan—"

Melihat sosok Fuuka yang menyerang Dimon, Stieg yang menyadari identitas aslinya menggumam terkejut, saat itu pula—

"—Bukankah perhatianmu terlalu teralihkan?"

Suara Orn terdengar dari belakang Stieg.

Di saat yang sama, Stieg merasakan ada yang aneh pada dadanya. Saat ia menunduk, di dadanya terlihat bilah pedang hitam pekat yang menembus dari arah punggung.

"Bernostalgia ya. Saat pertama kali kita bertemu, kau menusuk Gary yang seharusnya rekanmu sendiri dari belakang dengan pedang. Bagaimana? Apa rasanya menjadi orang yang berada di posisi itu?"

Stieg menolehkan lehernya saja, dan matanya bertemu dengan Orn yang menatapnya dengan tatapan dingin.

"Orn Doula……! ……Cih!"

Saat Stieg memasang ekspresi tegang, tiba-tiba air memancar dari bawah kakinya. Air itu mulai berputar secara spiral menyelimuti Stieg.

Orn tidak tampak terkejut. Ia menarik keluar Schwarzhase sambil melompat mundur untuk menjaga jarak. Fuuka bergerak mendekat ke samping Orn.

Orn, apa sudah sesuai pesanan? tanya Fuuka lewat pesan mental (Telepathy).

Ya, sempurna. Berkat itu jadi lebih mudah melakukannya.

Jika Fuuka bertarung dengan gaya aslinya, ia bisa saja menggunakan Future Sight untuk melancarkan tebasan yang tak bisa ditahan Dimon.

Namun, perintah Orn adalah untuk menekan Dimon dan menarik perhatian mereka berdua kepada Fuuka. Karena itulah dia melakukan kemunculan yang mencolok, yang tidak sesuai dengan gaya bertarungnya.

Dengan begini, kemenangan kita sudah hampir pasti.

Selagi mereka berdua berkomunikasi lewat Telepathy, kekuatan pusaran air di sekeliling Stieg perlahan melemah. Begitu pusaran air itu menghilang, sosok Stieg yang seharusnya ada di sana sudah tidak terlihat di mana pun.

"Masih saja cepat menghilang dari hadapanku. Fuuka, aku akan mengejar Rakshasa. Sesuai rencana, aku serahkan si War Ogre padamu."

"Dimengerti. Serahkan padaku."

Mendengar jawaban Fuuka, Orn langsung mengaktifkan Transfer Shift dan mengejar Stieg.

◆◇◆

Di dasar lubang besar tempat Orn dan Stieg menghilang, Fuuka dan Dimon kini saling berhadapan.

"Berani-beraninya main serangan mendadak. Akan kubunuh kalian! Jangan harap ada ampun meski kalian merengek, bersiaplah!"

Dimon, yang telah pulih dari luka akibat serangan Orn, mengarahkan matanya yang memerah karena marah ke arah Fuuka.

"……Simpan saja omong kosongmu. Cepat serang aku."

Sebaliknya, Fuuka memasang kuda-kuda dengan katananya, menyelimuti dirinya dengan niat membunuh yang dingin dan tajam.

"Gadis kecil keparat!!"

Tersinggung oleh ucapan Fuuka, Dimon yang urat-uratnya menonjol memperpendek jarak dengan Ground Shrink. Ia mengayunkan pedang besarnya dengan penuh tenaga.

Rangkaian gerakan Dimon ini sangat cepat hingga orang biasa tidak akan bisa merespons, dan biasanya pertarungan akan langsung berakhir dengan serangan ini.

Namun, lawan yang dihadapi Dimon adalah Fuuka Shinonome—tuan putri dari Kyokuto sekaligus pendekar pedang yang telah menyentuh puncak bela diri.

Sesaat sebelum pedang besar Dimon mencapai Fuuka, sosok gadis itu menjadi kabur. Detik berikutnya, Fuuka sudah tidak ada di sana.

"Gaaaah!?"

Jeritan Dimon bergema di sekitarnya. Di belakangnya, Fuuka sedang melakukan gerakan membersihkan darah dari katananya yang kini berwarna tembaga kemerahan.

Dimon berlutut sambil menekan pinggangnya yang terus mengucurkan darah. Fuuka berbalik, menatap Dimon dengan pandangan dingin.

"I-itu, pedang iblis (Cursed Sword)? Kalau begitu kau adalah……!?"

Melihat katana Fuuka, ekspresi Dimon perlahan berubah menjadi kegirangan.

"—Jadi kau adalah sang Sword Princess! Tak kusangka kau datang sendiri menemuiku! Hahaha! Sempurna sekali!"

Mata Dimon berbinar seolah melupakan rasa sakit di lukanya. Saat ia menggenggam pedang besarnya dengan kuat, bilah pedangnya berubah warna menjadi tembaga kemerahan, sama seperti katana Fuuka.

"Akhirnya. Akhirnya hari ini tiba! Ayo, mari kita lakukan duel maut yang melampaui akal sehat manusia!"

Sambil berseru kegirangan, Dimon memasang kuda-kuda dengan pedang besarnya untuk meluncurkan tebasan jarak jauh.

Pada saat itu juga, Fuuka menggunakan Ground Shrink untuk masuk ke dalam jangkauan serangnya sendiri.

"……Maaf, tapi untuk berduel maut denganku, kemampuanmu masih belum cukup."

Sambil berbicara datar, Fuuka menebaskan katananya ke pedang besar Dimon yang bahkan belum sempat mengeluarkan tenaga.

Melanjutkan gerakannya, ia menebas Dimon yang kehilangan keseimbangan akibat pedang besarnya dihantam.

"Guh……! Belum selesai!!"

Darah yang menyembur dari luka Dimon mulai bergerak seolah memiliki kehendak sendiri. Gumpalan darah dengan ujung yang tajam menyerang Fuuka.

Fuuka menjaga jarak sambil menghalau serangan itu dengan kelincahan tubuh dan kemahiran pedangnya. Dimon segera mendekati Fuuka seolah mengikuti gerakannya.

Begitu masuk dalam jangkauan, Dimon mengayunkan pedang besarnya secara horizontal.

Fuuka bahkan tidak melirik bilah pedang raksasa yang mengarah padanya; ia menghindarinya dengan gerakan minimal yang diperlukan.

Pedang raksasa itu hanya menyambar udara dengan selisih setipis kertas, dan katana berwarna tembaga menyerang Dimon yang penuh celah. Katana Fuuka yang tampak hanya diayunkan sekali saja, ternyata telah menorehkan luka tebas yang tak terhitung jumlahnya di tubuh Dimon.

"Gaaaah!?"

Serangan Fuuka tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang mengalir indah, ia merangsek ke dalam jangkauan Dimon dan menempelkan tangannya di dada pria yang bersimbah darah itu.

Ia melancarkan teknik Hakkei yang membawa gelombang kejut dari pelepasan energi Ki yang kuat dari dalam tubuhnya.

"Agah!?"

Sambil memuntahkan darah, Dimon terpental ke belakang, memantul dua-tiga kali sebelum akhirnya terguling di tanah.

"Cih……! Tidak m-mungkin……. Aku, tidak bisa berkutik sedikit pun……? Ini, tidak masuk akal……"

Dimon yang terkapar di tanah bergumam meracau di depan perbedaan kekuatan yang telak antara dirinya dan Fuuka.

"Hanya segini saja? Kekuatan 'Ogre' dari Barat."

Fuuka perlahan mendekati Dimon sambil mengucurkan kata-kata dengan nada bosan.

"Keparat……! Jangan meremehkanku……!"

"Batasanmu sudah terlihat, jadi cukup sampai di sini. Walau Ogre Barat bukan spesialisasiku, aku akan menyucikanmu dengan benar, jadi tenanglah."

Di katana berwarna tembaga yang digenggam Fuuka, energi sihir berwarna merah muda sakura yang nyaris putih mulai menyelimuti bilahnya seperti aura.

Eksistensi yang telah diceritakan dalam legenda sejak zaman dahulu kala—Vampir.

Ordo Cyclamen telah melakukan eksperimen manusia untuk menciptakan sosok itu. Dan setelah bertahun-tahun penelitian dan eksperimen, terciptalah manusia iblis yang mencerminkan karakteristik vampir. Itulah sang War Ogre, Dimon Ogul.

"Menyucikanku? Jangan bercanda!! Jangan mengigau kau!!"

Dimon bangkit berdiri meski dengan langkah terhuyung. Dengan kemampuan pemulihan yang luar biasa, seharusnya luka-luka akibat serangan Fuuka tadi bisa segera menghilang.

Namun, katana berwarna tembaga milik Fuuka yang melepaskan kekuatan Demonic Power adalah pusaka istimewa yang terdaftar sebagai harta nasional Kyokuto.

Pedang iblis memberikan berbagai efek bagi penggunanya, tanpa peduli baik atau buruknya.

Dan pedang iblis ini memiliki performa khusus terhadap eksistensi non-manusia seperti siluman atau makhluk gaib lainnya.

Manusia iblis seperti Dimon pun tidak terkecuali.

Fuuka yang dalam kondisi prima melawan Dimon yang babak belur. Kemenangan dan kekalahan sepertinya sudah ditentukan.

Saat Fuuka menyarungkan katananya yang masih berselimut energi sihir merah muda,

"—'Jangan Bergerak'!"

Dimon meneriakkan suara yang mengandung Special Ability ke arahnya.

"……!"

Mendengar suara itu, gerakan Fuuka terhenti. Sepertinya ini di luar perkiraan Fuuka, ia tersentak dan membelalakkan matanya.

"Ahahahaha! Ceroboh sekali ya menyentuh darahku!"

Selagi Dimon tertawa keras, kabut merah kehitaman mulai muncul dari tubuhnya. Perlahan tubuhnya menghilang seolah meleleh ke dalam kabut tersebut.

Dimon yang telah menjadi kabut mendekati Fuuka.

Fuuka telah menunggu. —Momen saat pria itu mendekat karena lengah.

Saat Dimon melangkah masuk ke dalam jangkauan serangnya, Fuuka membuka kunci sarung pedangnya (Koiguchi).

Serangan biasa tidak akan bisa menyentuh Dimon yang telah berubah menjadi kabut. Namun, pedang di genggamannya adalah pedang iblis.

"—Kobore Zakura (Bunga Sakura yang Berguguran)."




Fuuka menarik katananya dengan kecepatan yang tak tertangkap mata.

Pedang tembaga kemerahan yang telah diselimuti energi sihir yang diperkuat di dalam sarungnya itu menebas Dimon sekaligus ruang di sekitarnya.

Saat kabut perlahan memadat kembali di satu titik, Dimon muncul dengan luka tebas yang sangat dalam di sekujur tubuhnya.

"Ke-kenapa……"

Dimon tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya karena telah ditebas oleh Fuuka, yang seharusnya tidak bisa bergerak.

Fuuka menjulurkan tangan kirinya ke arah pria itu, dan perlahan udara di sekitar tangan kirinya mulai bergetar hebat seperti fatamorgana.

"Aku hanya membungkus tanganku dengan Ki seperti sarung tangan, jadi aku sama sekali tidak menyentuh darahmu."

"Sial…… Jadi itu cuma gertakan, ya……"

"Sekalipun kejadiannya dibuat seolah tidak pernah ada, faktanya tetap tercatat dalam hukum dunia."

"Hukum dunia……? Jangan-jangan, sang King of Specials telah mendapatkan kembali kekuatannya……? Ah, sial! Kalau begitu pesta yang sebenarnya baru saja akan dimulai, kan……"

Dimon bergumam dengan nada penuh penyesalan.

"Hei, tidak bisakah kau membiarkanku pergi? Setelah mendengar festival seperti itu akan dimulai, aku jadi tidak rela untuk mati."

"Permintaan yang mustahil. Saat kau menyebutnya sebagai 'pesta' atau 'kesenangan', tidak ada lagi alasan bagiku untuk membiarkanmu tetap hidup."

"…………Ah. Sial……! Jadi berakhir di sini, ya. Hei, katakan padaku, apa aku tadi kuat?"

Dimon, yang telah menyadari ajalnya, melontarkan pertanyaan terakhir pada Fuuka.

"……Cukup lumayan. Tapi, masih jauh dari kata cukup."

"Ah, begitu ya."

Mendengar jawaban Fuuka, Dimon menunjukkan ekspresi rumit—tampak menyesal, namun di saat yang sama terlihat puas. Di hadapan pria itu, Fuuka menjatuhkan tebasan terakhirnya—.

◇◇◇

Mengejar Rakshasa Stieg Strem, aku berpindah ke permukaan tanah yang sedikit jauh dari lubang raksasa tadi.

"……Hujan?"

Langit yang sesaat lalu cerah kini tertutup awan, menjatuhkan butiran-butiran air ke bumi.

"Membentangkan penghalang yang menghalangi teleportasi ke luar pulau, kau benar-benar niat sekali ya."

Suara yang bercampur dengan nada ketidaksenangan terdengar.

Saat aku menoleh ke arah suara itu, Stieg berdiri di sana dengan senyum tanpa dosa seperti biasanya.

"Karena kau selalu saja lari dari hadapanku. Kali ini, tidak akan kubiarkan kau lolos."

"Ya ampun. Apa boleh buat. Aku tidak terlalu bersemangat, tapi baiklah, aku akan melayanimu bermain sebentar sesuai keinginanmu."

Stieg mengayunkan tangannya dengan santai seperti pedang.

Sepanjang lintasan tangannya, air yang terkompresi secara ekstrem meluncur sebagai tebasan yang siap membelahku.

 Itu adalah serangan merepotkan yang sulit dilihat dan mampu memotong bangunan dengan mudah, tapi jika rahasianya sudah terbongkar, itu bukan lagi ancaman.

Bilah air itu lenyap sebelum mencapai tubuhku.

Melihat hal itu, ekspresi Stieg sedikit berubah.

"Sadar jugalah, saat aku mampu memasang penghalang penghambat teleportasi, serangan sederhana seperti itu tidak akan mempan padaku yang sekarang."

"……Aku sempat ragu, tapi sepertinya aku harus mengakuinya. ……Namun, padahal sampai tempo hari kau belum bisa menggunakan kekuatanmu dengan benar, apa yang terjadi padamu dalam waktu sesingkat ini?"

Stieg mengutarakan keheranannya.

Dari sudut pandangnya, belum genap sebulan sejak kontak terakhir kami di Dal'uane, saat dia membunuh The Doctor Oswell atas nama eksekusi.

 Saat itu, aku sama sekali bukan tandingannya. Wajar jika dia heran melihat perubahanku yang drastis.

"Aku hanya baru saja melewati pengalaman yang membuatku ingin mati."

"…………Hm. Masih banyak tanda tanya, tapi sepertinya aku harus sedikit serius!"

Stieg mengambil kuda-kuda tempur.

Di saat yang sama, lubang terbuka di langit, dan beberapa naga air muncul.

Apa naga air ini adalah yang ada di labirin tadi?

"Maaf karena harus mematikan semangatmu, tapi ini sudah terlambat. Kemenangan sudah ditentukan sejak awal."

Aku menggunakan Special Ability: Gravity Manipulation milik pahlawan kekaisaran, Felix, untuk memperkuat gravitasi di sekitarku.

Naga-naga air yang terbang di langit tidak mampu beradaptasi dengan perubahan gravitasi mendadak dan ditarik jatuh ke tanah.

Memanfaatkan bayangan yang tercipta saat mereka mendekati tanah, aku menggunakan Special Ability: Shadow Manipulation untuk memunculkan tombak bayangan yang tak terhitung jumlahnya.

Tombak-tombak itu menusuk tubuh naga air yang jatuh ke bumi.

"Menggunakan beberapa Special Ability sekaligus ya. Kalau begitu, izinkan aku memanfaatkan hal itu!"

Berbeda dengan naga air, Stieg tetap bertahan berdiri menahan gravitasi yang meningkat tanpa berlutut.

Ia mempercepat tetesan hujan yang jatuh dari langit dan menembakkannya ke arahku seperti peluru.

Aku menahan peluru-peluru hujan itu dengan Special Ability: Telekinesis sambil menyiapkan Schwarzhase.

Aku menyelimuti bilahnya dengan Ki, lalu mengayunkannya sekuat tenaga seolah menebas langit.

Tebasanku membelah awan, menampakkan kembali birunya langit.

"……!"

Melihat itu, Stieg menunjukkan raut terkejut.

"Akhirnya aku bisa melihatnya, ekspresi lain selain senyum menjijikkanmu itu."

"Dasar makhluk rendah……!"

Stieg gemetar karena marah, menatapku dengan penuh kebencian.

"Terserah kau mau mengarahkan emosi apa padaku, tapi hanya ada satu jalan bagimu untuk selamat, yaitu memenuhi permintaanku."

"Permintaan?" tanya Stieg heran.

"Benar. Aku tidak berniat memusnahkan kalian. Jika memungkinkan, aku ingin kita bisa hidup berdampingan. Bahkan dengan kalian para iblis."

Stieg bukan manusia. Fakta bahwa dia tetap bisa bergerak normal setelah dadanya kutembus tadi adalah bukti paling nyata.

"Jangan membual hal yang tidak kau pikirkan, manusia. Kau yang menyebut kami 'iblis' jangan bicara soal hidup berdampingan! Kami adalah peri yang telah berkontribusi bagi perkembangan umat manusia!"

Dalam dongeng yang beredar di masyarakat, diceritakan bahwa August-san sang pahlawan beserta rekan-rekannya dan para peri bekerja sama untuk membasmi Dewa Jahat.

Namun kenyataannya, peri terbagi menjadi dua kelompok: mereka yang memihak manusia dan mereka yang memihak Dewa Jahat.

Manusia saat itu membedakan keduanya dengan menyebut yang memihak sebagai 'Peri', dan yang memusuhi sebagai 'Iblis'. Jadi, pada dasarnya iblis dan peri adalah eksistensi yang sama.

"Tidak, kalian adalah iblis. Selama kalian masih berniat memusnahkan umat manusia, aku belum bisa memanggil kalian peri."

Begitu aku menegaskan hal itu, senyum di wajah Stieg lenyap sepenuhnya.

Sosok Stieg yang selalu tersenyum tanpa rasa kemanusiaan kini sudah tidak ada lagi.

Manusia dan Iblis—Peri, secara biologis memang spesies yang berbeda, tapi keduanya sama-sama memiliki rasio dan emosi. Kurasa pada dasarnya kami adalah spesies yang sangat mirip.

Aku merasakannya dengan kuat saat berhadapan dengan Stieg seperti ini.

"……Benar-benar makhluk bernama manusia ini tidak bisa diselamatkan ya."

"Memangnya kalian begitu mulia?"

"Setidaknya, kami pasti jauh lebih baik daripada spesies rendah yang hanya bisa membuat dunia membusuk."

Kata-kata Stieg barusan terasa mengandung emosi yang jauh lebih kuat daripada kata-kata yang pernah ia ucapkan selama ini.

"Begitu ya. Baguslah aku bisa mendengar isi hatimu yang sebenarnya. Kau juga pasti bergerak berdasarkan keyakinanmu sendiri. Jadi, negosiasi gagal?"

"Tak perlu ditanya lagi. Tapi, mungkin aku harus berterima kasih padamu. Karena kau membuatku sadar kembali bahwa manusia memang spesies yang harus dimusnahkan!"

Saat Stieg berseru, laut yang mengelilingi pulau mulai bergejolak merespons kemarahannya. Gelombang tinggi yang seolah mencapai langit mulai mendekat.

"—Aku sudah memutuskan untuk bertarung demi meraih masa depan di mana manusia bisa tersenyum. Kau yang berniat memusnahkan manusia adalah musuhku."

Di hadapan ombak yang hendak menelan pulau, aku memutuskan untuk mengeliminasi Stieg.

Sesaat kemudian, ombak itu kehilangan bentuknya.

"Sejak... kapan...!?"

Stieg bergumam lemah sambil mengucurkan darah dari sudut mulutnya. Tubuhnya dipenuhi luka tebas yang sangat banyak seolah baru saja menerima serangan beruntun.

Stieg yang sebelumnya hampir tidak menerima kerusakan meski terkena Erebos atau dadanya tertembus pedang, sepertinya tidak mampu menahan serangan ini dan jatuh tersungkur.

"Sudah kubilang, kan? 'Kemenangan sudah ditentukan sejak awal' dan 'Hanya ada satu jalan bagimu untuk selamat adalah memenuhi permintaanku'."

Bilah Schwarzhase yang kutusukkan tadi telah kuselimuti dengan Ki milikku.

Saat pedang itu menembus tubuh Stieg, aku menanamkan Ki yang ada pada bilah pedang ke dalam tubuhnya. Aku mengendalikan Ki itu seperti teknik penghancuran internal yang dikuasai Haruto-san, mencabik-cabik tubuhnya dari dalam.

"Kau terlalu meremehkan manusia. Benar bahwa dalam hal sihir kalian jauh lebih unggul. Tapi untuk urusan Ki, kamilah yang menang. Walau kau merasuki tubuh manusia, mayat tidak memiliki sirkulasi Ki, jadi kau bahkan tidak bisa merasakannya, kan?"

Peri dan iblis biasanya tidak bisa mengintervensi dunia ini secara langsung.

Untuk melakukannya, mereka butuh perantara manusia. Karena itulah Stieg menggunakan mayat sebagai wadah agar bisa beraktivitas di dunia ini.

Meski kekuatannya lebih rendah dibanding manifestasi asli, tubuh itu tidak akan mati meski fisiknya hancur.

Tapi, ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan Stieg sendirian. Agar mayat tidak membusuk, pasti digunakan Special Ability: Eternal Invariance milik Belia. Dan untuk merasuki mayat, dibutuhkan Special Ability lainnya.

Ordo memicu perang saudara di Kyokuto beberapa tahun lalu dan menguasai negara itu dari balik bayangan.

Kupikir alasannya adalah untuk menguasai "Kuil Phoenix" yang merupakan bagian inti dari dunia ini, tapi sepertinya ada alasan lain juga.

"Ki, ya. Benar-benar kekuatan yang memuakkan seperti biasanya. ……Baiklah. Kali ini aku akui kekalahanku. Tapi sayang sekali, tubuhku bukan hanya ini. Mari bertemu lagi di tempat lain. Saat itu, aku akan menjatuhkanmu ke dasar keputusasaan."

Stieg kembali ke pembawaannya yang santai dengan senyum yang tak pernah hilang, lalu mengucapkan salam perpisahan padaku.

Stieg adalah iblis, dan tubuh yang kucabik-cabik ini hanyalah "pakaian". Dia pasti berencana pindah ke mayat lain.

Energi sihir yang merupakan inti tubuh aslinya keluar dari mayat tersebut. Energi itu mulai membumbung ke langit seperti asap, bersiap untuk pergi ke suatu tempat.

"Kau benar-benar tidak mendengarkan perkataanku ya. Sudah kubilang, kan? 'Kali ini, tidak akan kubiarkan kau lolos'."

Ya, tidak akan kulepaskan. Akan kutebas dia di sini tanpa sisa.

"—Alteration: Magic Sword Fusion, Final Form: Mont Ende."

Aku mengubah Schwarzhase menjadi pedang sihir lalu menyatukannya ke dalam tubuhku. Kemudian, aku mencampurkannya dengan Ki yang mengalir di dalam tubuh.

"Kekuatan" yang meluap dari tubuhku mengubah pakaian yang kukenakan menjadi jubah sihir (Magic Raiment).

Listrik berwarna biru gelap menyambar-nyambar di sekitarku. Aku menciptakan pedang sihir baru dan menggenggamnya.

Di saat yang sama, aku menggunakan Magic Convergence dan Spirit Command.

Energi sihir yang melayang di dekat mayat yang sebelumnya digunakan Stieg mulai berwarna seperti langit biru. Energi itu perlahan membentuk wujud manusia, dan seorang pemuda berwarna biru langit muncul.

"Apa!?"

Stieg telah bermanifestasi sepenuhnya di dunia ini. Sepertinya ini di luar dugaannya, Stieg menunjukkan ekspresi sangat bingung.

"Dengan begini, akhirnya aku bisa melenyapkanmu."

Aku memasang kuda-kuda dengan pedang sihir, memusatkan "kekuatan" pada bilahnya.

"……! Orn Doula!"

Stieg berseru sambil menerjang ke arahku. Tapi, sudah terlamba.

"—Hamatensen (Heavenly Flash of Demon Destruction)!"

Aku melepaskan kekuatan untuk melenyapkan iblis kepada Stieg dengan prinsip serangan kilat. Tebasan hitam pekat yang mengenai Stieg berubah menjadi gelombang kejut yang eksplosif.

Saat gelombang kejut itu menghilang, segala sesuatu yang ada di sana telah musnah.

"……Guh!? Uhuk, uhuk!"

Saat aku memastikan apakah Stieg benar-benar sudah lenyap, rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Aku tidak bisa menahannya dan langsung berlutut di tempat. Aku memuntahkan darah bersama dengan batukku.

(Ternyata memang tidak bisa semudah saat berada di dunia baka ya……!)

Aku segera membatalkan Alteration: Magic Sword Fusion, tapi jaringan tubuhku mulai hancur seolah-olah racun telah menyebar ke seluruh tubuh.

"Aku tidak boleh mati di tempat seperti ini……!"

Aku menggunakan Time Regression untuk memutar balik waktu tubuhku ke kondisi sebelum menggunakan Final Form: Mont Ende.

"……! Hah…… hah…… hah……"

Setelah mencegah kehancuran tubuh, rasa sakit perlahan memudar. Final Form: Mont Ende adalah kekuatan yang luar biasa.

Mungkin tidak ada yang bisa menandingiku dalam kondisi itu. Tapi, kekuatan ini adalah pedang bermata dua.

Karena bisa menghancurkan tubuh sendiri, aku harus sangat selektif dalam menggunakannya.

Meski begitu, aku berniat menggunakannya tanpa ragu jika keadaan mendesak.

Kehilangan sesuatu yang berharga karena ragu adalah sebuah kesalahan fatal. Selagi aku mengatur napas sambil membungkuk, suara langkah kaki mendekat.

"Sudah selesai?" tanya Fuuka yang sudah sampai di dekatku.

"Ya, sudah selesai. Bagaimana denganmu?"

"Di sini juga selesai tanpa masalah. Seperti dugaan Orn, sang War Ogre adalah manusia iblis yang meniru vampir. Karena aku hanya menebas kekuatan ogre-nya saja, dia tidak mati, tapi sekarang dia sudah menjadi orang biasa yang tidak berdaya."

"……Begitu ya. Terima kasih karena telah memegang teguh prinsip tidak membunuh, Fuuka."

Aku bangkit berdiri sambil memberikan kata-kata pujian pada Fuuka.

"Ehm. Apa kau membunuh Rakshasa?"

"Tidak, aku tidak membunuhnya. Peri atau iblis adalah kumpulan energi sihir dengan inti energi sihir unik yang memiliki kepribadian. Aku hanya memutus hubungan antara energi sihir unik itu dengan energi sihir lainnya. Jadi dia masih sadar, tapi dia tidak akan bisa melakukan intervensi apa pun ke dunia luar, seperti merapalkan sihir misalnya."

"Artinya dia hanya bisa sadar tanpa bisa melakukan apa pun?"

"Kira-kira begitu. Dia telah merebut sesuatu yang berharga dariku. Aku ingin dia terus merasakan penderitaan yang lebih hebat daripada kematian."

"Begitu. Jika itu adalah akhir yang kau inginkan untuknya, aku tidak akan protes. ……Lalu, apa langkah selanjutnya?"

"Tergantung pergerakan Ordo. Tapi soal Stieg yang menghilang, Nagisa Asagiri yang memiliki Special Ability: Soul Interference pasti akan segera menyadarinya. Dengan begitu, Ordo akan tahu kalau aku sudah mendapatkan kembali kekuatanku. Jika itu terjadi, Labyrinth Stampede akan dimulai di berbagai tempat, dan target berikutnya adalah mengeliminasi Belia Sans."

Nagisa Asagiri adalah kepala keluarga Asagiri yang saat ini menguasai Kyokuto.

Awalnya mereka adalah keluarga cabang dari keluarga Shinonome yang mengurusi masalah ritual keagamaan.

Beberapa tahun lalu, keluarga Asagiri memicu perang saudara yang mereka sebut kudeta. Dalam perang itu, semua anggota keluarga Shinonome kecuali Fuuka telah tewas.

Menurut Fuuka, di balik kudeta ini, Philly Carpenter terlibat sangat dalam.

Yah, dengan Special Ability-nya, memicu perpecahan internal adalah hal yang mudah.

"Maaf karena kerabatku sudah merepotkanmu."

"Ini bukan salahmu, Fuuka, bukan salah dia juga. Mengingat situasinya, kemungkinan besar dia dipaksa untuk patuh. Dia bukan anak yang akan melakukan hal seperti ini atas kemauannya sendiri, kan?"

"Iya. Aku bersumpah dia bukan anak yang suka melakukan hal seperti ini."

"Kalau begitu, kita harus membebaskannya."

"Ehm. Aku pasti akan merebut kembali Kyokuto."

Wajah Fuuka saat mengatakan itu bukanlah wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, melainkan wajah yang memancarkan tekad yang sangat kuat.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close