Interlude 1
Catatan Para Imigran
Beberapa waktu yang lalu, kami masih tinggal di desa oasis di Torshen.
Namun suatu ketika, salah satu desa musnah ditelan oleh Sandworm.
Terlebih lagi, monster itu menduduki oasis tersebut. Karena oasis adalah
satu-satunya sumber air kami, tidak ada jalan lain selain meninggalkan negara
tersebut.
Dari lima ratus orang pengungsi, jumlah kami berkurang seperlima saat
melewati perbatasan, dan kini tersisa tiga ratus delapan puluh delapan orang.
Meski berhasil mencapai kota besar di Kerajaan Homouros dengan sisa-sisa
nyawa yang ada, sepertinya sulit bagi kota pusat wilayah Baronet Tycoon untuk
menampung kami semua.
Pasalnya, bukan hanya kami yang mengungsi; orang-orang lain yang oasisnya
juga diduduki oleh Sandworm terus berdatangan silih berganti.
Untuk sementara, kami hanya diberi roti keras dan sup encer di depan
gerbang, tapi entah sampai kapan bantuan itu akan bertahan.
"Ayah, barusan ada pengumuman dari petugas. Sepertinya tempat
penampungan kita sudah diputuskan!"
Putriku datang menghampiriku membawa informasi yang menggembirakan.
"Apakah itu benar?"
"Iya! Katanya ada kota baru yang dibangun di antara kota pusat ini dan
kota Valha di utara. Kita diperbolehkan tinggal di sana."
"Kota baru—begitu ya, kota rintisan. Jangan-jangan itu di
Wilayah Monster?"
"Bukan, katanya lokasinya ada di sepanjang jalan raya kok."
Jika bukan di Wilayah Monster, syukurlah.
Sejak memutuskan pindah ke negara ini sebagai
imigran, aku sudah bersiap untuk tidak bisa menjalani kehidupan yang layak.
Sejauh yang kudengar dari kenalanku yang
seorang pedagang keliling, di antara kota perbatasan yang sekarang bernama
Valha dan kota pusat wilayah ini, seharusnya tidak ada pemukiman sama sekali,
bahkan desa kecil pun tidak.
Pasti tempat itu hanya menyandang nama 'kota' padahal isinya tidak ada
apa-apa. Kami pasti akan kesulitan selama beberapa tahun pertama, tidak,
belasan tahun awal, tapi ini bukan tawaran yang buruk.
Sebab, di kota rintisan, tanah yang kami garap sendiri akan diakui sebagai
milik pribadi.
Bagi kami imigran yang tidak punya apa-apa, itu adalah syarat yang patut
disyukuri.
"Apakah semuanya akan ditampung di kota rintisan itu?"
"Sepertinya tidak. Hanya setengah yang masuk ke kota rintisan, sisanya
akan ditampung di kota-kota lain di wilayah Baronet ini."
"Kenapa? Bukankah selama ini dibilang semua kota sudah penuh dan tidak
bisa menampung siapa pun?"
"Itu karena katanya cukup banyak penduduk yang tinggal di kota pusat
wilayah ini yang menyatakan keinginan untuk pindah ke kota baru tersebut."
Apa maksudnya ini?
Banyak orang yang tinggal di kota pusat wilayah sudah memiliki kehidupan
yang stabil.
Namun, kenapa mereka malah berharap untuk pindah ke kota rintisan yang
keras?
"Ayah, bagaimana? Pendaftaran untuk orang yang ingin pindah ke kota
baru akan segera dimulai."
Normalnya, daripada pindah ke kota rintisan, lebih baik pindah ke kota yang
sudah ada. Seharusnya begitu.
Namun, instingku mendesakku untuk pindah ke kota rintisan tersebut.
"Baiklah, kita pergi ke kota rintisan. Kamu, panggil ibumu
kemari."
Begitulah, aku memutuskan untuk pindah ke kota rintisan.
Saat itu, aku tidak tahu apakah pilihanku benar atau salah.
Namun anehnya, jumlah pengungsi yang ingin pindah ke kota rintisan sangat
banyak. Hanya tiga jam sejak pendaftaran dibuka, kuota sudah terpenuhi dan
pendaftaran ditutup.
Seandainya aku ragu dalam memilih, aku pasti akan dipindahkan ke kota lain
di dalam wilayah ini, bukannya ke kota rintisan.
Keesokan harinya, kami berangkat menuju kota yang baru dibangun itu dengan
berjalan kaki.
Karena bukan hanya kami penduduk padang pasir, tapi juga penduduk asli
wilayah Baronet yang ikut pindah, banyak kereta kuda yang memuat perabotan
rumah tangga.
Di sana terlihat kepala suku dari suku lain yang berbeda dengan kami.
Seingatku, dia pernah mengunjungi desaku beberapa kali sebelum kekacauan
monster terjadi.
Jika dia punya kereta kuda semewah itu, harusnya dia tidak perlu
susah-susah pindah ke kota rintisan.
Di tengah perjalanan, seorang pedagang mengajak kami sekeluarga menumpang
karena keretanya masih luang, dan kami pun menerima tawaran itu.
"Terima kasih banyak."
"Tidak apa-apa, jangan sungkan. Lagipula kita akan tinggal di kota
yang sama nanti. Tapi, rasanya mendebarkan ya."
Mendengar perkataan tuan pedagang, aku memiringkan kepala.
"Mendebarkan…… maksud
Anda?"
"Iya, kabarnya kota yang
akan kita tuju nanti dipimpin oleh Yang Mulia Famil sebagai penguasa
kota."
"Yang Mulia Famil?"
"Anda tidak tahu? Beliau adalah putri
dari Baronet Tycoon. Kabarnya Baronet Tycoon sangat memanjakan Yang Mulia Famil.
Karena beliau yang menjadi
penguasa, rumornya kota itu akan menjadi sangat luar biasa."
"Kota yang luar biasa ya. Tapi, bukankah kota itu baru saja jadi
beberapa hari yang lalu? Aku ragu ada fasilitas atau bahkan tempat tinggal yang
layak di sana."
Namun, tuan pedagang itu menggelengkan kepala mendengar perkataanku.
"Soal itu, tidak perlu
khawatir. Karena bagaimanapun juga, yang membangun kota itu adalah Tuan Rikuto
yang terhormat."
Muncul lagi nama yang tidak kukenal.
Saat aku bertanya siapa dia, sepertinya dia
adalah pemuda yang menjadi anak angkat Baronet Tycoon.
"Apakah orang itu sebegitu
terkenalnya?"
"Tentu saja. Beliau adalah Atelier
Meister di negara ini. Dialah orang yang hanya dalam satu hari berhasil
mendorong kota pusat wilayah menjadi kota wisata yang didatangi orang dari
seluruh negeri."
Katanya, Tuan Rikuto yang terhormat itu
memiliki teknologi unik dan berhasil memompa air sihir yang disebut Onsen dari
bawah tanah yang dalam.
Terlebih lagi, Onsen itu berkhasiat
menyembuhkan segala penyakit, membuat awet muda, dan mempercantik diri.
Karena itulah sekarang orang-orang dari
seluruh negeri datang berkumpul. Mendengarnya saja sudah terasa seperti dongeng
yang luar biasa.
Aku berpikir seandainya ada Onsen seperti itu
aku ingin mencobanya, tapi katanya antreannya sangat panjang. Untuk masuk
selama sepuluh menit saja, orang harus mengantre lebih dari sepuluh jam.
Jika ingin masuk tanpa mengantre, seseorang
harus melakukan reservasi, namun saat ini waktu tunggunya mencapai tujuh tahun.
Tidak peduli berapa banyak uang yang
dibayarkan, antrean tidak bisa disela.
Bahkan Baronet Tycoon dan Yang Mulia Famil pun
kabarnya masih menunggu giliran reservasi sehingga belum bisa masuk ke Onsen.
Sungguh mengejutkan.
"Ah, Ayah, aku sudah memesan tempat untuk
kita semua, lho. Tapi waktu aku pesan, jadwalnya baru ada sepuluh tahun
lagi."
Putriku menyela.
"Sepuluh tahun lagi, semoga kita bertiga
bisa pergi bersama ya," kata putriku. Tapi sebagai orang tua, aku akan
cemas jika sepuluh tahun lagi dia belum menikah.
Seharusnya kami sudah hampir sampai di kota
yang dituju…… tapi, ada hal yang ganjil.
"Apakah di sekitar sini ada desa?"
"Ti-tidak, seharusnya tidak ada.
Jangankan desa, rumah penduduk pun harusnya tidak ada."
Jawab tuan pedagang.
"Kalau begitu, apa maksud dari semua ini?"
Tuan pedagang hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi pertanyaanku.
Habisnya, ini aneh sekali.
Jika tidak ada desa di sekitar sini dan kota baru itu baru saja jadi
beberapa hari lalu, kenapa di kiri dan kanan jalan raya ada ladang gandum yang
begitu luar biasa?
Ladang gandum yang sepertinya bisa dipanen dalam beberapa hari lagi ini
tidak mungkin muncul secara alami tanpa ada yang mengurusnya.
Setelah pemandangan ladang gandum itu berlanjut selama tiga puluh menit,
akhirnya kami pun sampai.
Di sebuah kota dengan dinding kokoh yang
terbuat dari batu.
Padahal desaku dulu hanya punya pagar kayu
yang rasanya bakal tumbang jika ditiup angin.
Melihat ini saja aku sudah tahu ini kota yang hebat. Di atas dinding, terlihat
sosok-sosok yang menyerupai para ksatria. Mungkinkah para ksatria ditempatkan di kota
rintisan seperti ini?
Namun, aku malah jadi cemas.
Katanya sebelumnya tidak ada kota atau desa di sini. Tapi sekarang, dinding sekokoh ini
sudah berdiri.
Tuan Rikuto yang membangun kota ini mungkin
adalah orang yang terlalu peduli pada penampilan luar, sementara bagian dalam
kotanya belum dibenahi sama sekali.
Namun, kecemasanku itu berakhir dengan
sia-sia.
Begitu memasuki gerbang yang terbuka lebar,
yang kulihat adalah kota yang blok-bloknya tertata rapi—tidak, ini lebih
seperti kota besar.
Apa lagi yang perlu dirintis dari tempat ini? Kota ini sudah terlalu luar
biasa.
"Wah, ini benar-benar mengejutkan…… Kalau
begitu, saya akan pergi ke area pedagang dulu ya. Toko saya bernama Persekutuan
Dagang Genic, jadi silakan datang jika kehidupan baru kalian sudah tenang. Itu
toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari."
"Iya, kami pasti akan datang."
Setelah berterima kasih karena sudah
diperbolehkan menumpang kereta, kami sekeluarga menuju lokasi yang digambarkan
pada peta yang kami terima saat melewati gerbang.
Saat melewati jalan kecil menjauhi jalan raya utama, kami melihat parit di
pinggir jalan.
Di dalam parit yang tidak terlalu dalam itu,
air jernih mengalir dan ikan-ikan kecil berenang di sana. Sebagai bukti belum
ada yang tinggal, tidak ada kotoran sama sekali yang mengalir.
Air jernih ini pun pasti akan kotor besok. Dengan debit air sekecil ini, kotoran pasti
tidak akan terhanyut dan akan menimbulkan bau busuk.
Mungkin akan ada jadwal piket pembersihan parit, tapi kalau bisa aku tidak
mau melakukannya.
"Sayang, sepertinya rumah kita di sini."
Istriku berkata sambil membandingkan peta
dengan sebuah rumah batu.
Bangunannya besar, tapi pintu masuknya ada
banyak.
Mungkin kami hanya diberi kamar tidur seukuran
liang lahat, sementara sisanya adalah ruang bersama.
Dengan pemikiran itu, aku melangkah masuk.
Namun secara mengejutkan, di dalamnya bukan
kamar tidur yang sempit, melainkan ruangan yang luas. Terlebih lagi, yang
pertama membuatku terkejut adalah—
"Ada perabotannya?"
Benar, di dalam ruangan itu sudah tersedia
perabotan. Ada tungku masak dan lemari piring, dan di dalam lemari piring itu
sudah ada piring dan mangkuk.
Tapi kejutan tidak berhenti di situ.
Bahkan ada karpetnya.
"Ini bukan kulit binatang…… apakah karpet dari tumbuh-tumbuhan?"
"Ayah, ini nyaman sekali! Aku ingin bergulingan di sini."
"Jangan bodoh! Barang mewah seperti karpet tidak mungkin diberikan
untuk rumah imigran seperti kita. Adanya perabotan juga aneh. Benar, ini bukan
kamar kita. Ini pasti kesalahan—"
"Sayang…… ini, ada sesuatu yang tertulis
di papirus ini."
Apa?
Istriku mengangkat tumpukan kertas.
Bukan papirus. Ini kertas putih.
Aku pernah dengar di Kerajaan Homouros ini kertas putih mulai umum
digunakan menggantikan perkamen atau papirus, tapi ternyata itu benar.
Karena istriku tidak bisa membaca, aku yang membacanya.
Namun, aku terpaksa meragukan kemampuan literasiku sendiri.
"Yang tertulis di sini adalah nama kita, dan daftar inventaris di
ruangan ini. Karpet, peralatan makan, kendi air, tempat tidur, semuanya
dipastikan milik kita."
"Eh!? Ada tempat tidurnya!? Aku mau lihat!"
Putriku berkata begitu dan berlari menuju
ruangan lain dengan senyum lebar.
Mendengar suaranya yang kegirangan, itu pasti
tempat tidur yang bagus.
"Sayang, hanya itu yang tertulis?"
"Tunggu, jangan terburu-buru. Eh, katanya
sumur ada di belakang pintu belakang ruangan ini, jadi kita bebas
menggunakannya. Bukan untuk pribadi, tapi digunakan bersama untuk seluruh blok
ini."
Padahal aku sudah bersiap-siap harus mengambil
air ke sungai di luar kota.
"Wah, mengambil air jadi jauh lebih mudah
ya. Meski dulu tinggal di oasis, tempat mengambil air yang layak minum itu
jumlahnya sedikit sekali."
"Bukan itu saja. Ladang gandum yang kita
lewati tadi—sekitar lima puluh hektar adalah tanah milik kita. Gandum yang
sekarang sudah tumbuh pun boleh kita panen."
"Eh? Apakah itu benar?"
"Benar-benar sulit
dipercaya…… tapi, satu hal yang
pasti."
Sejak datang ke negara ini, aku mengira kami
akan dianggap mengganggu di mana pun kami berada. Kenyataannya, di kota pusat
wilayah memang begitu.
Tapi, bagaimana dengan kota ini?
Kami disambut dengan perlakuan istimewa yang
sulit dipercaya.
Tuan Rikuto yang membangun kota ini telah
melakukan persiapan yang jauh melampaui batas maksimal demi menerima kami.
Jika demikian, tidak mungkin kami tidak
membalasnya.
"Demi membalas budi kepada Tuan Rikuto,
mari kita bersumpah setia kepada negara ini."
"Iya, benar sekali."
Kami berdua saling mengangguk dan tersenyum.
Rahasia-rahasia kota ini, seperti jalan raya
yang bergerak otomatis, Golem sewaan yang membantu pekerjaan, hingga keberadaan
saluran bawah tanah untuk membuang kotoran, akan terus mengejutkan keluarga
kami, tapi itu adalah cerita untuk hari yang lain.



Post a Comment