NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 3 Interlude I

Interlude 1

Catatan Para Imigran


Beberapa waktu yang lalu, kami masih tinggal di desa oasis di Torshen.

Namun suatu ketika, salah satu desa musnah ditelan oleh Sandworm.

Terlebih lagi, monster itu menduduki oasis tersebut. Karena oasis adalah satu-satunya sumber air kami, tidak ada jalan lain selain meninggalkan negara tersebut.

Dari lima ratus orang pengungsi, jumlah kami berkurang seperlima saat melewati perbatasan, dan kini tersisa tiga ratus delapan puluh delapan orang.

Meski berhasil mencapai kota besar di Kerajaan Homouros dengan sisa-sisa nyawa yang ada, sepertinya sulit bagi kota pusat wilayah Baronet Tycoon untuk menampung kami semua.

Pasalnya, bukan hanya kami yang mengungsi; orang-orang lain yang oasisnya juga diduduki oleh Sandworm terus berdatangan silih berganti.

Untuk sementara, kami hanya diberi roti keras dan sup encer di depan gerbang, tapi entah sampai kapan bantuan itu akan bertahan.

"Ayah, barusan ada pengumuman dari petugas. Sepertinya tempat penampungan kita sudah diputuskan!"

Putriku datang menghampiriku membawa informasi yang menggembirakan.

"Apakah itu benar?"

"Iya! Katanya ada kota baru yang dibangun di antara kota pusat ini dan kota Valha di utara. Kita diperbolehkan tinggal di sana."

"Kota baru—begitu ya, kota rintisan. Jangan-jangan itu di Wilayah Monster?"

"Bukan, katanya lokasinya ada di sepanjang jalan raya kok."

Jika bukan di Wilayah Monster, syukurlah.

Sejak memutuskan pindah ke negara ini sebagai imigran, aku sudah bersiap untuk tidak bisa menjalani kehidupan yang layak.

Sejauh yang kudengar dari kenalanku yang seorang pedagang keliling, di antara kota perbatasan yang sekarang bernama Valha dan kota pusat wilayah ini, seharusnya tidak ada pemukiman sama sekali, bahkan desa kecil pun tidak.

Pasti tempat itu hanya menyandang nama 'kota' padahal isinya tidak ada apa-apa. Kami pasti akan kesulitan selama beberapa tahun pertama, tidak, belasan tahun awal, tapi ini bukan tawaran yang buruk.

Sebab, di kota rintisan, tanah yang kami garap sendiri akan diakui sebagai milik pribadi.

Bagi kami imigran yang tidak punya apa-apa, itu adalah syarat yang patut disyukuri.

"Apakah semuanya akan ditampung di kota rintisan itu?"

"Sepertinya tidak. Hanya setengah yang masuk ke kota rintisan, sisanya akan ditampung di kota-kota lain di wilayah Baronet ini."

"Kenapa? Bukankah selama ini dibilang semua kota sudah penuh dan tidak bisa menampung siapa pun?"

"Itu karena katanya cukup banyak penduduk yang tinggal di kota pusat wilayah ini yang menyatakan keinginan untuk pindah ke kota baru tersebut."

Apa maksudnya ini?

Banyak orang yang tinggal di kota pusat wilayah sudah memiliki kehidupan yang stabil.

Namun, kenapa mereka malah berharap untuk pindah ke kota rintisan yang keras?

"Ayah, bagaimana? Pendaftaran untuk orang yang ingin pindah ke kota baru akan segera dimulai."

Normalnya, daripada pindah ke kota rintisan, lebih baik pindah ke kota yang sudah ada. Seharusnya begitu.

Namun, instingku mendesakku untuk pindah ke kota rintisan tersebut.

"Baiklah, kita pergi ke kota rintisan. Kamu, panggil ibumu kemari."

Begitulah, aku memutuskan untuk pindah ke kota rintisan.

Saat itu, aku tidak tahu apakah pilihanku benar atau salah.

Namun anehnya, jumlah pengungsi yang ingin pindah ke kota rintisan sangat banyak. Hanya tiga jam sejak pendaftaran dibuka, kuota sudah terpenuhi dan pendaftaran ditutup.

Seandainya aku ragu dalam memilih, aku pasti akan dipindahkan ke kota lain di dalam wilayah ini, bukannya ke kota rintisan.

Keesokan harinya, kami berangkat menuju kota yang baru dibangun itu dengan berjalan kaki.

Karena bukan hanya kami penduduk padang pasir, tapi juga penduduk asli wilayah Baronet yang ikut pindah, banyak kereta kuda yang memuat perabotan rumah tangga.

Di sana terlihat kepala suku dari suku lain yang berbeda dengan kami. Seingatku, dia pernah mengunjungi desaku beberapa kali sebelum kekacauan monster terjadi.

Jika dia punya kereta kuda semewah itu, harusnya dia tidak perlu susah-susah pindah ke kota rintisan.

Di tengah perjalanan, seorang pedagang mengajak kami sekeluarga menumpang karena keretanya masih luang, dan kami pun menerima tawaran itu.

"Terima kasih banyak."

"Tidak apa-apa, jangan sungkan. Lagipula kita akan tinggal di kota yang sama nanti. Tapi, rasanya mendebarkan ya."

Mendengar perkataan tuan pedagang, aku memiringkan kepala.

"Mendebarkan…… maksud Anda?"

"Iya, kabarnya kota yang akan kita tuju nanti dipimpin oleh Yang Mulia Famil sebagai penguasa kota."

"Yang Mulia Famil?"

"Anda tidak tahu? Beliau adalah putri dari Baronet Tycoon. Kabarnya Baronet Tycoon sangat memanjakan Yang Mulia Famil. Karena beliau yang menjadi penguasa, rumornya kota itu akan menjadi sangat luar biasa."

"Kota yang luar biasa ya. Tapi, bukankah kota itu baru saja jadi beberapa hari yang lalu? Aku ragu ada fasilitas atau bahkan tempat tinggal yang layak di sana."

Namun, tuan pedagang itu menggelengkan kepala mendengar perkataanku.

"Soal itu, tidak perlu khawatir. Karena bagaimanapun juga, yang membangun kota itu adalah Tuan Rikuto yang terhormat."

Muncul lagi nama yang tidak kukenal.

Saat aku bertanya siapa dia, sepertinya dia adalah pemuda yang menjadi anak angkat Baronet Tycoon.

"Apakah orang itu sebegitu terkenalnya?"

"Tentu saja. Beliau adalah Atelier Meister di negara ini. Dialah orang yang hanya dalam satu hari berhasil mendorong kota pusat wilayah menjadi kota wisata yang didatangi orang dari seluruh negeri."

Katanya, Tuan Rikuto yang terhormat itu memiliki teknologi unik dan berhasil memompa air sihir yang disebut Onsen dari bawah tanah yang dalam.

Terlebih lagi, Onsen itu berkhasiat menyembuhkan segala penyakit, membuat awet muda, dan mempercantik diri.

Karena itulah sekarang orang-orang dari seluruh negeri datang berkumpul. Mendengarnya saja sudah terasa seperti dongeng yang luar biasa.

Aku berpikir seandainya ada Onsen seperti itu aku ingin mencobanya, tapi katanya antreannya sangat panjang. Untuk masuk selama sepuluh menit saja, orang harus mengantre lebih dari sepuluh jam.

Jika ingin masuk tanpa mengantre, seseorang harus melakukan reservasi, namun saat ini waktu tunggunya mencapai tujuh tahun.

Tidak peduli berapa banyak uang yang dibayarkan, antrean tidak bisa disela.

Bahkan Baronet Tycoon dan Yang Mulia Famil pun kabarnya masih menunggu giliran reservasi sehingga belum bisa masuk ke Onsen. Sungguh mengejutkan.

"Ah, Ayah, aku sudah memesan tempat untuk kita semua, lho. Tapi waktu aku pesan, jadwalnya baru ada sepuluh tahun lagi."

Putriku menyela.

"Sepuluh tahun lagi, semoga kita bertiga bisa pergi bersama ya," kata putriku. Tapi sebagai orang tua, aku akan cemas jika sepuluh tahun lagi dia belum menikah.

Seharusnya kami sudah hampir sampai di kota yang dituju…… tapi, ada hal yang ganjil.

"Apakah di sekitar sini ada desa?"

"Ti-tidak, seharusnya tidak ada. Jangankan desa, rumah penduduk pun harusnya tidak ada."

Jawab tuan pedagang.

"Kalau begitu, apa maksud dari semua ini?"

Tuan pedagang hanya bisa menggelengkan kepala menanggapi pertanyaanku.

Habisnya, ini aneh sekali.

Jika tidak ada desa di sekitar sini dan kota baru itu baru saja jadi beberapa hari lalu, kenapa di kiri dan kanan jalan raya ada ladang gandum yang begitu luar biasa?

Ladang gandum yang sepertinya bisa dipanen dalam beberapa hari lagi ini tidak mungkin muncul secara alami tanpa ada yang mengurusnya.

Setelah pemandangan ladang gandum itu berlanjut selama tiga puluh menit, akhirnya kami pun sampai.

Di sebuah kota dengan dinding kokoh yang terbuat dari batu.

Padahal desaku dulu hanya punya pagar kayu yang rasanya bakal tumbang jika ditiup angin.

Melihat ini saja aku sudah tahu ini kota yang hebat. Di atas dinding, terlihat sosok-sosok yang menyerupai para ksatria. Mungkinkah para ksatria ditempatkan di kota rintisan seperti ini?

Namun, aku malah jadi cemas.

Katanya sebelumnya tidak ada kota atau desa di sini. Tapi sekarang, dinding sekokoh ini sudah berdiri.

Tuan Rikuto yang membangun kota ini mungkin adalah orang yang terlalu peduli pada penampilan luar, sementara bagian dalam kotanya belum dibenahi sama sekali.

Namun, kecemasanku itu berakhir dengan sia-sia.

Begitu memasuki gerbang yang terbuka lebar, yang kulihat adalah kota yang blok-bloknya tertata rapi—tidak, ini lebih seperti kota besar.

Apa lagi yang perlu dirintis dari tempat ini? Kota ini sudah terlalu luar biasa.

"Wah, ini benar-benar mengejutkan…… Kalau begitu, saya akan pergi ke area pedagang dulu ya. Toko saya bernama Persekutuan Dagang Genic, jadi silakan datang jika kehidupan baru kalian sudah tenang. Itu toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari."

"Iya, kami pasti akan datang."

Setelah berterima kasih karena sudah diperbolehkan menumpang kereta, kami sekeluarga menuju lokasi yang digambarkan pada peta yang kami terima saat melewati gerbang.

Saat melewati jalan kecil menjauhi jalan raya utama, kami melihat parit di pinggir jalan.

Di dalam parit yang tidak terlalu dalam itu, air jernih mengalir dan ikan-ikan kecil berenang di sana. Sebagai bukti belum ada yang tinggal, tidak ada kotoran sama sekali yang mengalir.

Air jernih ini pun pasti akan kotor besok. Dengan debit air sekecil ini, kotoran pasti tidak akan terhanyut dan akan menimbulkan bau busuk.

Mungkin akan ada jadwal piket pembersihan parit, tapi kalau bisa aku tidak mau melakukannya.

"Sayang, sepertinya rumah kita di sini."

Istriku berkata sambil membandingkan peta dengan sebuah rumah batu.

Bangunannya besar, tapi pintu masuknya ada banyak.

Mungkin kami hanya diberi kamar tidur seukuran liang lahat, sementara sisanya adalah ruang bersama.

Dengan pemikiran itu, aku melangkah masuk.

Namun secara mengejutkan, di dalamnya bukan kamar tidur yang sempit, melainkan ruangan yang luas. Terlebih lagi, yang pertama membuatku terkejut adalah—

"Ada perabotannya?"

Benar, di dalam ruangan itu sudah tersedia perabotan. Ada tungku masak dan lemari piring, dan di dalam lemari piring itu sudah ada piring dan mangkuk.

Tapi kejutan tidak berhenti di situ.

Bahkan ada karpetnya.

"Ini bukan kulit binatang…… apakah karpet dari tumbuh-tumbuhan?"

"Ayah, ini nyaman sekali! Aku ingin bergulingan di sini."

"Jangan bodoh! Barang mewah seperti karpet tidak mungkin diberikan untuk rumah imigran seperti kita. Adanya perabotan juga aneh. Benar, ini bukan kamar kita. Ini pasti kesalahan—"

"Sayang…… ini, ada sesuatu yang tertulis di papirus ini."

Apa?

Istriku mengangkat tumpukan kertas.

Bukan papirus. Ini kertas putih.

Aku pernah dengar di Kerajaan Homouros ini kertas putih mulai umum digunakan menggantikan perkamen atau papirus, tapi ternyata itu benar.

Karena istriku tidak bisa membaca, aku yang membacanya.

Namun, aku terpaksa meragukan kemampuan literasiku sendiri.

"Yang tertulis di sini adalah nama kita, dan daftar inventaris di ruangan ini. Karpet, peralatan makan, kendi air, tempat tidur, semuanya dipastikan milik kita."

"Eh!? Ada tempat tidurnya!? Aku mau lihat!"

Putriku berkata begitu dan berlari menuju ruangan lain dengan senyum lebar.

Mendengar suaranya yang kegirangan, itu pasti tempat tidur yang bagus.

"Sayang, hanya itu yang tertulis?"

"Tunggu, jangan terburu-buru. Eh, katanya sumur ada di belakang pintu belakang ruangan ini, jadi kita bebas menggunakannya. Bukan untuk pribadi, tapi digunakan bersama untuk seluruh blok ini."

Padahal aku sudah bersiap-siap harus mengambil air ke sungai di luar kota.

"Wah, mengambil air jadi jauh lebih mudah ya. Meski dulu tinggal di oasis, tempat mengambil air yang layak minum itu jumlahnya sedikit sekali."

"Bukan itu saja. Ladang gandum yang kita lewati tadi—sekitar lima puluh hektar adalah tanah milik kita. Gandum yang sekarang sudah tumbuh pun boleh kita panen."

"Eh? Apakah itu benar?"

"Benar-benar sulit dipercaya…… tapi, satu hal yang pasti."

Sejak datang ke negara ini, aku mengira kami akan dianggap mengganggu di mana pun kami berada. Kenyataannya, di kota pusat wilayah memang begitu.

Tapi, bagaimana dengan kota ini?

Kami disambut dengan perlakuan istimewa yang sulit dipercaya.

Tuan Rikuto yang membangun kota ini telah melakukan persiapan yang jauh melampaui batas maksimal demi menerima kami.

Jika demikian, tidak mungkin kami tidak membalasnya.

"Demi membalas budi kepada Tuan Rikuto, mari kita bersumpah setia kepada negara ini."

"Iya, benar sekali."

Kami berdua saling mengangguk dan tersenyum.

Rahasia-rahasia kota ini, seperti jalan raya yang bergerak otomatis, Golem sewaan yang membantu pekerjaan, hingga keberadaan saluran bawah tanah untuk membuang kotoran, akan terus mengejutkan keluarga kami, tapi itu adalah cerita untuk hari yang lain.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close