NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Parade Besar Golem dan Pembangunan Kota Gaya Kuruto


Dungeon Core telah hancur, dan Dungeon Master pun telah mati.

Untuk saat ini, bahaya yang mengancam sudah sirna.

Kuruto memunguti kepingan Dungeon Core yang hancur berkeping-keping. Setelah selesai mengumpulkan bahkan hingga serpihan terkecil yang menyerupai butiran pasir, tiba-tiba dia memberikan usul.

"Kalau begitu, Yuri-san, ayo kita lari sedikit."

"Lari? Kenapa?"

"Karena Dungeon Core sudah hancur. Saat ini cahaya masih bertahan berkat sisa-sisa energinya, tapi itu pun akan segera hilang. Butuh waktu bagi lumut cahaya untuk merambat kemari, jadi berada di tempat gelap itu berbahaya."

"Itu gawat!"

Setelah itu kami berlari, pindah menuju ruangan Dummy Core tempat lumut cahaya tumbuh. Sampai di sini, setidaknya kami sudah aman.

Lalu aku menatap Kuruto dan dibuat tercengang olehnya.

"……Kuruto, kamu benar-benar hebat ya."

"Ehehe, sebenarnya aku memang suka teka-teki puzel. Dungeon Core itu akan menyatu dengan mudah jika kita mengalirkan kekuatan sihir ke dalamnya."

Ya, hanya dalam waktu belasan menit sambil berlari, Kuruto telah memulihkan sepenuhnya Dungeon Core yang tadi hancur menjadi lebih dari seratus keping. Kurasa ini sudah bukan lagi di level 'suka puzel'.

Kenapa dia bisa melakukan pekerjaan sedetail itu sambil berlari? Padahal kalau aku, mungkin butuh waktu seminggu bahkan dengan bantuan pinset.

"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan Dungeon Core itu?"

"Dungeon Core memiliki kekuatan untuk menyerap mana di udara guna menciptakan dinding Dungeon, atau melahirkan monster dari air dan rumput. Fungsi itu tetap hidup meski dia sudah 'mati'. Dan lagi, mana bisa digantikan dengan kekuatan sihir."

Setelah berkata begitu, Kuruto menjulurkan tangannya ke arah Dungeon Core. Dia pasti sedang menyalurkan kekuatan sihirnya.

Eh? Tapi, bukankah berbahaya kalau monster muncul saat kekuatan sihir disalurkan?

Sepertinya dia menyalurkan kekuatan sihir dalam jumlah yang cukup besar……

"Hei, Kur—"

"Dungeon Core itu menarik lho. Kalau kita mengalirkan sihir berelemen, monster yang sesuai dengan elemen tersebut akan muncul. Tapi kalau mengalirkan sihir tanpa elemen sepertiku, dia akan menyalin monster yang ada di sekitar."

"Menyalin monster yang ada di sekitar…… itu artinya—"

Tengkukku seketika merinding. Sejak memasuki Dungeon hingga sampai ke ruangan ini, kami tidak bertemu monster sama sekali.

Jika bicara soal monster pertama yang kami temui di Dungeon ini…… Purple Bat?

Bukan, bukan itu. Bukankah ada satu lagi, tepat di ruangan ini.

Stone Golem yang menyamar di dinding.

Tanpa kusadari, di dalam ruangan itu telah muncul lebih dari dua puluh Stone Golem dengan tinggi sekitar tiga meter.

Terlebih lagi, mereka tidak sedang menyamar di dinding, melainkan tampak siap menyerang kami kapan saja.

Normalnya, Stone Golem sangat kuat terhadap serangan fisik, namun di hadapan pedangku, "Sekka", mereka tak lebih dari kroco. Tapi dengan jumlah sebanyak ini, bertarung sambil melindungi Kuruto itu—

"Pertama dua puluh lima ekor ya. Mari kita bagi penambangannya menjadi empat tahap."

Sambil berkata begitu, Kuruto justru berlari ke arah kerumunan Golem.

Benar, aku sampai lupa—Kuruto memang lemah dalam hal pertarungan dasar, tapi dia menunjukkan kekuatan yang tak tertandingi jika lawannya adalah Golem.

Bagi Kuruto, membasmi Golem adalah 'penambangan'.

Tanpa memberiku kesempatan untuk bertarung, Kuruto telah menghabisi dua puluh lima Golem dan mengumpulkan Golem Core yang besarnya seukuran buah Papamomo.

Rasanya seperti sedang melihat lini produksi pabrik.

Kuruto mengulangi hal yang sama tiga kali lagi, dan total seratus buah Golem Core berhasil dikumpulkan.

"Anu, Kuruto. Mau diapakan Golem Core ini?"

"Aku akan membangun kota menggunakan ini. Aku berniat membuat Kota Golem di mana dinding, rumah, hingga fasilitas kotanya semua terbuat dari Golem."

"……Hei, Kuruto. Kamu punya sesuatu yang manis tidak?"

"Ada kok."

Kuruto memberiku beberapa keping kukis.

Kukis itu berisi potongan buah, dan rasa manisnya yang lembut memulihkan sel-sel otakku yang kelelahan.

Ya, sel-sel otakku sudah berjuang keras. Sekarang boleh istirahat, ya.

◆◇◆

Tempat penggalian batu yang sudah tidak digunakan lagi di dekat desa Dungeon. Aku, Kuruto, datang ke sini berdua saja dengan Yuri-san.

Pertama-tama, aku menggunakan beliung untuk menghancurkan batu. Lalu, aku menempelkan bongkahan batu besar ke Golem Core dan mengalirkan kekuatan sihir.

Sebenarnya, ada sedikit trik yang dibutuhkan di sini. Hanya mengalirkan sihir ke Core tidak akan membuat serpihan batu menjadi bagian dari Golem.

Namun, jika saat mengalirkan sihir kita membayangkan energi itu merambat seperti dahan dan daun dari inti ke batu-batu di sekitarnya, mereka akan menjadi bagian Golem dengan mudah.

Awalnya aku kesulitan karena tidak tahu cara ini. Hasilnya, sebuah Golem berukuran sedang dengan tinggi dua puluh meter selesai dibuat dalam tiga menit.

"Kuruto, ini apa?"

"Golem, lho."

"……Besar sekali ya."

"Tapi pengrajin Golem terbaik di desaku bisa membuat Golem tiga kali lipat lebih besar dari ini, lho?"

"Heh…… hebat sekali ya."

Yuri-san sepertinya sedang lelah, dia terlihat kurang bersemangat sejak kami keluar dari Dungeon.

Mungkin dia merasa bersalah karena wujud Dungeon Master tadi adalah seorang gadis kecil dan aku membunuhnya. Padahal itu tidak bisa dihindari.

Lagi pula, Dungeon Master itu sepertinya mengincar Yuri-san sebagai target pertama. Mungkin dia berniat menyemburkan lendir beracun saat Yuri-san membelakanginya.

Racun yang dimiliki Slime itu bisa membunuh dalam lima menit, tapi tidak masalah selama ada penawar racun dariku.

Hanya saja, bajunya bisa meleleh dan Yuri-san akan merasa malu—aku mengkhawatirkan hal itu.

Saat aku sedang berpikir begitu, Yuri-san yang sedang menengadah menatap Golem itu bertanya.

"Apa makhluk ini akan menuruti semua perkataanmu, Kuruto?"

"Tidak, dia tidak menerima perintah. Aku hanya memprogram bagaimana dia harus bergerak saat membuatnya, jadi dia bertindak sesuai program itu."

Setelah berkata begitu, aku membuat seratus Golem dengan tinggi dua puluh meter yang serupa.

Gunung batu itu terkikis sekitar sepertiganya, tapi karena Liese-san sudah mendapat izin dari Baronet Tycoon untuk menggunakan tempat penggalian ini sesuka hati, aku menggunakannya dengan rasa syukur.

Terakhir, aku membuat Golem tipe kereta angkut menggunakan Golem Core yang kurampas dari Stone Golem yang kami kalahkan saat baru tiba di Dungeon.

"Yuri-san, ayo naik."

"Eh? Siapa yang akan menariknya?"

"Kereta ini adalah Golem, jadi dia bergerak sendiri. Rutenya sudah kurekam saat pembuatannya, jadi ini kemudi otomatis. Ah, aku sudah mengatur agar kita bisa menghentikannya dari sini."

"Lalu Golem raksasanya?"

"Iya, aku sudah memerintahkan mereka untuk mengikuti Golem kereta ini."

"……Kalau ada Kuruto, sepertinya pasukan militer pun tidak akan dibutuhkan lagi."

"Hahaha, tidak mungkin begitu. Golem itu rapuh, lho. Bagi profesional dalam bertarung, Golem yang hanya bermodal badan besar begini bisa dihancurkan dengan mudah."

"Begitu ya—"

Yuri-san menanggapi suaraku sambil menatap ke arah antah berantah. Nah, mari kita berangkat.

Kita harus selesai pindah sebelum pagi, karena kalau benda sebesar ini berjalan di siang hari pasti akan sangat mengganggu.

"Semuanya, berjalan seret ya supaya tidak berisik."

Sebenarnya tidak perlu diucapkan, bahkan tidak ada gunanya, tapi aku mengatakannya hanya untuk membangun suasana.

——Dan, setelah berjalan selama enam jam.

Kami akhirnya tiba di tujuan sesaat sebelum matahari benar-benar terbit.

Baiklah, mari kita mulai pembangunan kota yang sesungguhnya!

◆◇◆

Pagi itu, aku, Baronet Tycoon, menerima kabar darurat. Apalagi bukan hanya satu atau dua laporan, melainkan belasan orang secara bersamaan melaporkan hal yang sama.

Kabarnya, sesosok Golem raksasa sebesar gunung mendadak muncul dan berjalan di sepanjang jalan raya.

Terlebih lagi, di depan Golem itu ada kereta yang berjalan sendiri tanpa kuda, dan seseorang tampak menaikinya.

Di tengah masyarakat, mulai muncul suara-suara cemas bahwa ini adalah invasi kaum iblis.

"Tuan Baronet, ini benar-benar sulit dipercaya. Golem sebesar gunung itu pasti hanya omong kosong belaka. Sebaiknya kita segera mengirim tim penyelidik untuk menenangkan warga."

"Tidak perlu."

Aku menampik usulan komandan prajurit itu mentah-mentah. Namun komandan prajurit tetap bersikeras.

"Saya paham Anda merasa enggan mengerahkan pasukan untuk hal seperti itu. Namun demi menjaga ketenangan hidup warga—"

"Bukan begitu. Kamu bilang Golem sebesar gunung, kan? Itu adalah urusan yang melibatkan diriku."

"—!?"

Komandan prajurit tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, namun aku mengeluarkan sebilah belati. Begitu aku memusatkan pikiran pada belati itu, sesosok Golem raksasa muncul di tempat itu…… meski tidak sebesar gunung.

"A-apa, ini—"

"Ini adalah ilusi. Sebuah pedang sihir yang menciptakan ilusi buatan putraku, Rikuto…… aku sedang melakukan eksperimen untuk itu."

"Apa, jadi Golem itu hanya ilusi?"

Komandan prajurit membelalakkan mata mendengar perkataanku.

"Begitulah. Katakan pada para saksi mata bahwa Golem itu adalah rahasia negara yang sangat penting, jadi perintahkan mereka untuk tutup mulut."

"Siap! Dimengerti!"

Setelah aku berkata demikian, komandan prajurit itu tampaknya yakin dan meninggalkan ruang audiensi. Aku tidak merasa ini sudah cukup untuk menipu mereka……

Namun sebenarnya, kemarin seorang utusan dari Yang Mulia Lieselotte telah datang kemari.

"Malam ini, apa pun yang terjadi janganlah terkejut dan tolong sembunyikan faktanya. Sepertinya Tuan Kuruto akan melakukan sesuatu. Besok pagi sebuah kota akan berdiri di antara Valha dan kota pusat wilayah, jadi mohon bantuannya untuk mengarahkan para pengungsi ke sana."

Saat menerima surat yang tidak ada basa-basinya sama sekali beserta pedang "Kocho" ini, aku sempat membayangkan berbagai hal, tapi…… golem raksasa dalam jumlah banyak ya.

"Seperti biasa, Tuan Baronet Rockhans memang luar biasa ya."

Putriku, Famil, yang ikut mendengarkan pembicaraan di sampingku, tertawa geli. Benar sekali. Kami mungkin telah menjadikan orang yang luar biasa sebagai pahlawan penyelamat kami.

Untuk saat ini, aku harus memikirkan bagaimana cara memindahkan para pengungsi ke kota yang baru jadi itu.

Selain itu, mari kirimkan Onsen Manju khas kota ini kepada Baronet Muda Yurishia yang sedang bersama Baronet Rockhans. Dia pasti butuh asupan manis.

Bagaimana tidak, tanganku sendiri pun sedari tadi tidak bisa berhenti memakan Onsen Manju.

Berjuanglah, sel-sel otakku.

◆◇◆

Pagi hari, dua hari setelah aku membicarakan rencana pembangunan kota kepada Tuan Kuruto. Yuri-san mengunjungi kamarku.

"Liese, kotanya sudah selesai."

"Begitu ya."

"Kamu tidak terkejut?"

"Aku sudah lelah terkejut kemarin."

Kemarin pagi, aku menerima laporan dari para ksatria. Laporan tentang seratus Golem raksasa setinggi dua puluh meter yang bergerak menuju selatan.

Sepertinya mereka bergerak di bawah perlindungan kegelapan malam, tapi benda raksasa sebanyak itu tidak akan bisa disembunyikan sepenuhnya.

Untuk sementara, aku memberitahu bahwa Golem-golem itu adalah Golem eksperimen buatan Tuan Rikuto.

Sebelum tengah hari, Baronet Tycoon sudah memerintahkan semua saksi mata untuk tutup mulut. Untung saja aku sudah menjelaskan padanya lebih awal.

Padahal normalnya, meskipun memiliki Golem Core, seseorang tidak akan bisa membuat dan mengendalikan Golem semudah itu…… tapi ini Tuan Kuruto, jadi wajar saja.

"Kalau begitu, mari kita pergi meninjau."

"Langsung pergi sekarang?"

"Iya, tentu saja. Ah, benar juga. Kemarin ada kurir kilat datang, katanya aku harus menyerahkan Onsen Manju ini pada Yuri-san."

Yuri-san menerima kotak Onsen Manju dariku lalu bertanya.

"Ah, terima kasih. Hei, Liese, aku sempat memikirkan sesuatu, boleh?"

"Apa itu?"

"Jika identitas Kuruto diketahui publik, bagaimana kalau kita membuat proyek 'Diet ala Kuruto'? Berada di dekat Kuruto akan membuat otak mengonsumsi banyak gula, jadi kurasa itu bisa jadi cara diet."

"Ditolak, karena itu justru akan membuat kita gemuk gara-gara terlalu banyak makan yang manis-manis."

Sepertinya Yuri-san benar-benar kelelahan. Setelah urusan ini selesai, aku akan menyarankannya untuk pergi berlibur selama seminggu.

Kami pun berpindah dan naik ke kereta kuda untuk menuju kota yang dibuat Tuan Kuruto. Kali ini, putri kami, Akli, juga ikut serta.

"Horeee, jalan-jalaaan!"

Akli menggoyangkan kakinya yang menjuntai dari bak kereta kuda. Dia terlihat sangat senang.

"Akli, kita akan berangkat. Berbahaya, jadi masuklah sedikit ke dalam."

"Baeeek!"

Saat ditegur oleh Yuri-san yang mulai menjalankan kereta, Akli tiba-tiba berteleportasi ke samping Yuri-san yang duduk di kursi kusir, lalu menatap wajah Yuri-san dari samping dengan gembira.

Sepertinya dia merasa kesepian karena tidak bisa bertemu Yuri-san seharian kemarin.

Dan alasan utama Akli begitu senang adalah karena dia akan segera bertemu dengan Tuan Kuruto. Kemarin Akli selalu tersenyum seperti biasa di depanku, namun begini-begini aku adalah Putri Ketiga yang sudah sering melihat wajah asli orang-orang di dunia sosial.

Aku menyadari bahwa sebenarnya Akli merasa kesepian tanpa Tuan Kuruto dan Yuri-san.

"Meski begitu, guncangan kereta ini terasa lebih sedikit dari biasanya ya—Eh? Ngomong-ngomong, apa dulu ada jalan raya seperti ini di sini?"

Seharusnya tidak ada jalan selebar dan sebagus ini di sini.

"Yah, kalau seratus Golem berjalan dengan kaki menyeret, jadinya akan seperti ini. Tenang saja, jalannya tidak amblas kok."

"……Begitu ya, benar juga."

Normalnya, butuh berapa banyak tenaga kerja dan biaya untuk membangun jalan raya sebagus ini?

Sungguh, ini mengerikan. Aku sudah dibuat terkejut bahkan sebelum sampai ke kota.

"Ah, Liese. Kalau kamu terkejut karena hal sekecil ini, stok Onsen Manju sebanyak apa pun tidak akan cukup untuk menambal kekurangan gulamu."

"T-tenang saja. Aku membawa gula batu sebotol penuh."

"Baguslah. Nanti bagi aku juga ya."

Yuri-san tertawa seolah bercanda, tapi aku tahu itu bukan sekadar candaan. Meski begitu, untuk saat ini aku memakan satu Onsen Manju.

Setelah berjalan lebih jauh, ada sebuah sungai, dan di sana terbentang jembatan batu yang kokoh. Seharusnya tidak ada jembatan di tempat seperti ini, tapi pasti Tuan Kuruto yang membuatnya.

Lalu setelah melewati jembatan itu dan maju beberapa saat, benda itu muncul. Pertama, dinding yang mengelilingi kota. Tingginya dua puluh meter. Luasnya tidak berbeda dengan Valha.

Yuri-san pun pasti tidak lupa, dinding Valha saja hanya bisa diperbaiki satu sisinya oleh Tuan Kuruto dalam waktu satu setengah hari. Tapi ini, dia membangunnya dari nol, bagaimana caranya?

Kepada diriku yang merasa heran, Yuri-san berkata dengan wajah lelah.

"Mau kujelaskan bagaimana dia membuatnya?"

"Tolong jelaskan."

"Golem-golem yang dibawa ke sini dicabut Core-nya sehingga hancur berantakan. Setelah itu, dia membuat Golem berbentuk dinding dan membiarkannya dalam posisi siaga. Selesai."

"Selesai bagaimana? Eh? Jadi, semuanya itu Golem?"

"Iya. Seluruh dinding itu terbuat dari dua belas Golem. Gerbangnya pun sama. Ngomong-ngomong, jembatan batu yang kita lewati tadi awalnya juga seekor Golem."

"……Yuri-san, aku akan makan satu Onsen Manju lagi ya."

Aku memakan satu Onsen Manju, membaginya menjadi dua dengan Akli.

Aku memang terkejut karena kota ini terbuat dari Golem…… tapi penampilannya terlihat normal ya.

Saat aku berpikir begitu dan mendekati gerbang, sesosok orang yang tak terduga menyambut kami.

"Sudah lama tidak bertemu, Yang Mulia Lieselotte."

"Iya, sudah lama tidak bertemu, Famil-san."




Dari Yuri-san, aku sudah mendengar bahwa bawahan Baronet Tycoon telah dikirim lebih dulu.

Namun, aku benar-benar terkejut mendeteksi bahwa Famil-san, putri sang Baronet sendiri, yang datang menyambut kami.

Bukan fakta bahwa Famil-san datang ke sini yang membuatku kaget, melainkan keputusan Baronet Tycoon yang mengizinkan putrinya pergi jauh dari jangkauannya.

"Padahal Baronet Tycoon sangat memanjakan Famil-san hingga terkesan terlalu protektif, ya. Hebat juga beliau memberikan izin."

"Iya. Saat aku bertanya pada Ayah, 'Apakah Ayah berniat mengurungku selama setahun dan memaksaku hidup tidak bebas lebih lama lagi?', beliau langsung mengangguk setuju dengan senang hati."

"Begitu ya……"

Malang benar nasibmu, Baronet Tycoon.

Tapi yah, kelihatannya ada unit Phantom yang berjaga di sekitar Famil-san untuk mengawal kota ini, jadi mungkin di sini malah lebih aman daripada di kastil Baronet.

Tentu saja, itu tidak berlaku jika muncul pengecualian seperti iblis tingkat tinggi atau kaum mazoku. Yah, kalau makhluk seperti itu muncul, mau di dalam kastil atau di tengah padang pasir pun sama saja bahayanya.

"Akuri-chan, sudah lama tidak bertemu."

"Sudah lama tidak bertemu, nano!"

Akuri mengangkat tangannya membalas sapaan itu.

Anak ini benar-benar tidak takut pada orang asing, sampai aku sendiri jadi cemas.

Kalau dipikir-pikir bagaimana jika dia diculik—ah, kalau Akuri sih bisa kabur dengan sihir teleportasi.

"Ngomong-ngomong, di mana Tuan Kuruto?"

"Kalau Kuruto-kun, dia sedang merapikan bagian dalam gedung kantor pemerintahan. Mari kuantar."

Famil-san berkata demikian lalu mengeluarkan selembar kartu dan menempelkannya ke gerbang masuk.

Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi gerbang batu itu terbuka sendiri.

"Eh?"

Gerbangnya terbuka, tapi, lho?

Tidak terlihat ada orang yang membukanya. Bagaimana bisa?

"Katanya gerbang ini terbuat dari kaki Golem. Sudah diatur agar kakinya terbuka secara otomatis saat ditempeli kartu yang memiliki gelombang sihir tertentu."

"Gerbang yang terbuka otomatis? Eh? Apa tidak ada palang pintunya?"

"Iya, katanya tidak perlu. Pintu ini tidak akan bisa dibuka tanpa kartu ini, dan dengan Master Card, kita bisa mengaktifkan atau menonaktifkan kartu-kartunya. Pintu sekokoh ini tidak akan bisa dijebol dengan senjata pengepung biasa."

Iya…… oke, tidak apa-apa.

Hal semacam ini masih dalam batas perkiraanku.

"Kalau begitu, mari kita masuk."

"Benar juga."

Omong-omong, kami memang belum masuk ke dalam kota.

Bagian dalamnya sudah ditata per blok dan pemandangannya terjaga sangat indah.

Di ujung jalan raya itu pastilah gedung kantor pemerintahan. Ada juga bangunan yang kelihatannya bisa digunakan sebagai toko, meski belum ada barang yang dipajang satu pun.

Saat aku melihat rumah-rumah warga di sana, aku menyadari sesuatu yang aneh.

"Rumah-rumahnya kenapa besar sekali ya, lalu pintunya juga ada banyak."

"Kata Kuruto-kun, itu namanya Nagaya. Satu bangunan didesain agar bisa ditinggali oleh beberapa keluarga sekaligus. Oh iya, bangunan-bangunan itu terhubung di bawah tanah, dan katanya tiga blok Nagaya itu setara dengan satu unit Golem."

"Begitu rupanya……"

Lalu, yang aneh adalah jalan rayanya. Ada satu pagar pembatas yang diletakkan di tengah jalan, lalu di sisi kiri dan kanannya dengan jarak masing-masing dua meter, ada pagar pembatas lain yang berjejer.

Panjang satu pagar sekitar sepuluh meter, dan setelah pagar itu terputus, beberapa meter di depannya ada tiga pagar lagi yang berjejer sama persis.

Apa maksudnya ini? Saat aku melangkah masuk ke ruang di antara pagar tengah dan pagar sebelah kanan, aku memekik kaget karena fenomena aneh.

"Eh? Jalannya bergerak!?"

"Iya—Tuan Kuruto menyebutnya jalan raya berjalan. Karena ini jalur sebelah kanan, tolong jangan sampai salah. Kalau salah berjalan di sebelah kiri, nanti Anda akan lebih capek dari biasanya."

Meski Famil-san sudah menjelaskan, Akuri justru sengaja lari-lari di sebelah kiri untuk bermain.

Walaupun dia sudah berlari sekuat tenaga dengan kaki kecilnya, dia sama sekali tidak maju ke depan.

"Yang bergerak hanya bagian di dalam pagar saja, bagian luarnya tidak bergerak. Yah, karena ada juga orang yang ingin berjalan santai, kan?"

"Begitu ya."

Pintu yang terbuka otomatis dan jalan raya yang bergerak otomatis.

Apakah ini kota sihir?

Kalau sudah sampai tahap ini, aku sudah tidak tahu harus bilang apa lagi—

Sambil berpikir begitu, aku menanyakan hal yang mengganjal pada Yuri-san.

"……Yuri-san, apakah bahan bakar untuk menggerakkan Golem-golem ini adalah kekuatan sihir?"

"Iya, tepat sekali."

"Bagaimana cara menyuplai kekuatan sihirnya?"

Menurut peneliti Golem, Golem liar bergerak dengan mengambil mana dari udara sebagai bahan bakar. Namun, di kota yang bukan Dungeon ini, kurasa jumlah mana di udara tidaklah seberapa.

"Coba lihat itu."

Begitu diberitahu, aku melihat kincir angin yang ada di dalam kota.

Kincir angin yang tampaknya sudah diperhitungkan hambatan udaranya itu berputar dengan sangat cepat dibanding kecepatan angin yang ada.

Di bawah kincir angin pasti ada alat penggiling, jadi jika gandum bisa ditanam di luar kota ini, pasti tepung gandum berkualitas tinggi akan beredar luas.

"Ada apa dengan itu?"

"Jadi begini, kata Kuruto, dia mengubah tenaga dari kincir angin itu menjadi kekuatan sihir untuk dijadikan energi bagi kota ini."

Mengubah tenaga kincir angin menjadi kekuatan sihir?

"Eh?"

"Katanya kekuatan sihirnya bisa disimpan, jadi selama tidak ada kondisi tanpa angin selama satu bulan penuh, kekuatan sihirnya tidak akan habis."

Fakta bahwa tenaga angin bisa diubah menjadi kekuatan sihir saja sudah mengejutkan, tapi efisiensi energinya pun sangat luar biasa.

Aku merogoh kotak yang kupegang—lho?

Tanpa kusadari, Onsen Manju-nya sudah habis.

"Sebenarnya siapa yang makan?"

"Mama Liese tadi makan terus, kok!"

Begitu ditunjuk oleh Akuri, aku menyadari ada sisa remah-remah Onsen Manju di sudut bibirku.

Sepertinya karena melihat kota buatan Tuan Kuruto, secara tidak sadar aku terus mengonsumsi gula.

"……Liese-san, mau gula batu?"

Famil-san bertanya padaku.

Sepertinya dia sudah menduga hal ini akan terjadi—tidak, mungkin dia sendiri sudah mengalaminya. Kalau dipikir-pikir, gula batu di dalam botolnya pun tinggal sedikit.

Aku mengulurkan tangan hendak mengambil gula batu, tapi Yuri-san menahannya.

"Lebih baik simpan dulu untuk nanti. Kita kan akan ke gedung kantor tempat Kuruto berada sekarang."

……Eh?

Apa masih ada hal yang lebih mengejutkan lagi?

Lagipula kalau sudah sampai di sini, seharusnya tidak ada lagi hal yang bisa membuatku kaget.

Misalnya, di dalam kota menuju gedung kantor pun ada ladang, dan Golem-golem sedang membajak ladang tersebut, tapi aku tidak akan terkejut hanya karena hal itu.

Meski sepertinya kaki Golem itu berputar-putar untuk membajak, itu benar-benar bukan masalah.

Sama sekali bukan masalah.

Kami berjalan di atas jalan raya otomatis menuju gedung kantor yang terlihat di ujung.

Tiba-tiba saat melihat ke arah kota, di samping bangunan yang mirip gereja, ada bangunan besar yang ukurannya setara atau bahkan lebih besar dari gedung kantor. Bangunan itu memakan lahan yang cukup luas, apakah itu fasilitas penting?

"Famil-san, bangunan apa itu? Kelihatannya sangat besar."

"Katanya itu sekolah. Lalu, ada juga tempat bermain air yang disebut kolam renang, dan saat hari musim panas tanpa pelajaran, tempat itu akan dibuka untuk warga. Selain itu, seragam juga sudah disiapkan."

"Seragam sekolah ya…… aku ingin melihatnya sekali-sekali."

Di dalam kepalaku, aku membayangkan Tuan Kuruto mengenakan seragam sekolah (untuk wanita).

Tuan Kuruto yang memakai rok, manis sekali!

"Wajahmu terlihat seperti sedang membayangkan hal yang aneh-aneh ya."

"Bukan hal aneh, ini adalah hal yang mulia."

"……Mungkin Kuruto membangun gereja di samping sekolah supaya orang-orang sepertimu tidak muncul, ya? Sebagai peringatan kalau berbuat aneh-aneh akan kena azab."

Yuri-san mengatakan hal yang tidak sopan.

Aku tidak bersalah. Pasti Tuhan pun akan berkata begitu.

Berkat naik di jalan raya bergerak, kami sampai di depan gedung kantor dalam sekejap tanpa rasa lelah.

"Pintu kantor tidak dibuka dengan kartu, ya?"

Aku membuka pintu dengan tangan dan bertanya pada Famil-san.

"Gedung kantor kan dikunjungi banyak orang. Katanya kalau dibuka dengan kartu malah jadi merepotkan. Tuan Kuruto bilang dia bisa saja membuat pintunya terbuka otomatis jika ada orang berdiri di depannya, tapi karena orang yang tidak tahu pasti akan kaget, aku memintanya untuk menjadikannya pintu dorong biasa untuk sementara waktu."

Begitu ya…… tapi tetap saja.

Pintu ini—aku bahkan belum pernah melihat pintu kaca satu lembar sebesar ini di ibu kota sekalipun.

Terlebih setelah kusentuh, kacanya terasa sangat kokoh.

"Kenapa harus kaca? Kalau cuma ingin kokoh, bukannya lebih baik pakai besi dan tidak merepotkan?"

Pertanyaan Yuri-san sangat masuk akal.

Kaca memang bagus untuk jendela agar cahaya masuk, tapi bukan untuk digunakan sebagai pintu. Karena pintu akan sering dibuka-tutup, material yang kuat seharusnya lebih baik.

"Aku juga bilang begitu, tapi Tuan Kuruto berkata, 'Kebanyakan penduduk kota ini adalah imigran. Tentu mereka merasa cemas dengan kehidupan di kota baru. Tanah berbeda, adat pun berbeda. Mereka pasti ragu apakah boleh bertanya pada pejabat kantor. Karena itu, kalau pintunya transparan dan keadaan di dalam terlihat, mereka pasti akan lebih berani membukanya'. Mendengarnya, telingaku sampai terasa panas. Habisnya, kastil Baronet kan tempat yang paling sulit dikunjungi oleh warga biasa."

Mendengar itu, telingaku pun terasa lebih panas lagi.

Apalagi kalau di istana kerajaan, warga biasa yang tidak punya izin dilarang masuk.

Aku menenangkan diri dan masuk ke dalam gedung kantor.

Lantai satu sepertinya berfungsi sebagai lobi. Bangunan ini pun kelihatannya terbuat dari Golem, jadi imejnya agak kaku untuk ukuran gedung kantor.

Yah, soal itu bisa diurus belakangan.

Di dalam gedung kantor sangat sepi, tidak ada orang sama sekali.

"Di mana Tuan Kuruto?"

"Iya, dia ada di tempat bernama 'Ruang Monitor'. Sepertinya dia sedang menyesuaikan sesuatu yang disebut monitor."

"Ruang monitor? Apa itu monitor?"

"Anu, kalau aku yang menjelaskan sepertinya Anda tidak akan percaya, jadi lebih baik langsung melihatnya saja."

Famil-san tersenyum kecut sambil menggaruk pipinya.

Firasatku tidak enak.

Firasat bahwa gula batuku tidak akan cukup.

Eei, tidak perlu takut.

Selama ini, apa yang sudah kulihat dari Tuan Kuruto!

Tenang saja, tidak mungkin ada hal yang lebih mengejutkan lagi dari ini.

Ayo berangkat ke ruang monitor!

Ruangan itu ada di lantai bawah tanah.

Sepertinya terkunci dan tidak bisa dibuka tanpa kartu.

"Di sini butuh kartu, ya."

"Iya, sepertinya ini ruangan yang cukup istimewa di gedung kantor ini."

Famil-san berkata demikian, lalu saat dia mendekatkan kartu ke pintu, pintu itu terbuka ke kiri dan kanan.

Dan begitu masuk ke dalam, aku langsung dibuat terkejut.

"Jadi ruang monitor itu adalah tempat pameran lukisan, ya."

Di dinding ruangan itu, tergantung enam belas buah lukisan.

Sepertinya itu lukisan pemandangan kota ini, dan benar-benar tidak bisa dibedakan dengan aslinya.

Hanya saja, ada apa dengan lukisan di paling kanan bawah? Entah kenapa warnanya hitam pekat.

Lalu, di bawah meja dekat lukisan itu, aku melihat bokong mungil Tuan Kuruto yang menggemaskan. Tentu saja, dia memakai celana.

"Hmm, ini dia!"

"Apanya yang 'ini dia', Tuan Kuruto?"

"Uwaa, aduh! Ma-maaf. Liese-san, Yuri-san."

Karena aku menyapanya tiba-tiba, Tuan Kuruto tersentak kaget dan kepalanya terbentur meja. Lalu, dia merangkak keluar sambil meminta maaf.

"Ah, maaf, masih ada sedikit pekerjaan terakhir yang tersisa."

"Begitu ya. Omong-omong, lukisannya indah sekali ya. Apakah Tuan Kuruto yang melukis semua ini?"

"Eh? Ah, ini bukan lukisan. Ini Monitor."

"'Monitor'? Bukan 'montar'? Bukan lukisan?"

"Iya…… eh lho? Akuri tidak bersama kalian?"

Akuri?

Mendengar itu, aku baru menyadari.

Akuri yang seharusnya bersama kami sudah tidak ada di mana-mana.

Sejak kapan? Lho? Saat masuk ke gedung kantor tadi apakah dia…… ikut bersama kami?

"Maaf, aku juga tidak menyadarinya."

Yuri-san berkata dengan nada penuh sesal. Aku pun sama—aku gagal sebagai seorang ibu.

Mungkin salah satu anggota Phantom ada yang mengikutinya jadi tidak perlu cemas, tapi tetap saja.

"Gawat! Ayo cepat kita cari!"

Saat Tuan Kuruto berkata begitu, kupikir kami semua akan mencari Akuri, tapi Tuan Kuruto justru terpaku menatap 'lukisan' itu tanpa bergerak.

"Tuan Kuruto, ada apa?"

"Kita bisa tahu keadaan kota dari sini, mari kita periksa lewat ini."

Setelah berkata begitu, Tuan Kuruto menekan sebuah tombol. Saat itulah terjadi.

Dalam sekejap, lukisan itu berubah menjadi pemandangan yang lain.

Apa-apaan ini……?

"Ini adalah sistem yang menggunakan kemampuan transmisi informasi visual Golem untuk memproyeksikan keadaan tempat yang jauh ke atas papan kristal. Ah, itu dia!"

Yang ditemukan Tuan Kuruto adalah gambar Akuri yang sedang menatap lekat-lekat Golem yang membajak ladang. Di dekatnya, ada seorang anggota Phantom yang sedang berjaga.

Jadi bukan berarti Akuri berteleportasi ke dalam lukisan…… kan?

Alat sihir yang bisa melihat keadaan di tempat yang jauh—memikirkan dia bisa membuat benda seperti ini dari Golem.

"Itu di ladang ya! Aku akan ke sana sebentar!"

"Iya, tolong ya."

Yuri-san keluar ruangan dan berlari menuju ladang.

Sementara itu, Tuan Kuruto mengoperasikan tombol yang lain.

Lalu, dia memegang sebuah tongkat yang memiliki banyak lubang.

"Akuri, Yuri-mama akan ke sana sekarang, jadi jangan pergi ke mana-mana ya."

……Eh?

Tuan Kuruto, tidak mungkin suaramu bisa sampai ke tempat Akuri dari sini—

Ah, itu suara Papa! Papa, di mana?

Suara Akuri terdengar!

"Papa ada di tempat yang jauh, jadi nanti ke sini bersama Yuri-mama ya."

Percakapannya tersambung.

"Tuan Kuruto, apakah Akuri benar-benar ada di dalam lukisan itu?"

Aku hanya bisa berpikir begitu. Karena Tuan Kuruto sedang mengobrol dengan Akuri yang ada di dalam lukisan.

"Ah, bukan. Ini hanya gabungan dari alat sihir yang mengirimkan suara ke tempat jauh dan alat sihir yang mengirimkan suara dari tempat jauh kemari. Aku menggunakan fungsi telinga dan mulut Golem."

"Memangnya Golem punya mulut?"

"Ada kok. Karena sudah mengalami degradasi, biasanya mereka tidak bersuara, tapi saat musim kawin, hanya yang jantan yang akan mengeluarkan suara."

"Musim kawin Golem…… aku bahkan tidak tahu kalau ada Golem jantan dan betina."

Aku berkata demikian lalu kembali menatap benda yang disebut monitor itu.

Burung kecil yang terpantul di monitor lain tampak terbang menjauh.

Benda ini benar-benar bergerak secara real-time.

Jika menggunakan alat sihir ini, mengumpulkan informasi akan menjadi sangat mudah. Jika dipasang di ruangan orang penting—ah, tidak boleh. Aku sudah memutuskan tidak akan menggunakan alat sihir Tuan Kuruto untuk hal semacam itu.

"Ngomong-ngomong, Liese-san. Kenapa dari tadi Anda makan gula batu terus?"

"……Ini salah Tuan Kuruto. Kalau aku jadi gemuk, Anda harus tanggung jawab ya."

Aku berkata begitu sambil merogoh wadah gula batuku, tapi tanganku hanya menyentuh udara kosong.

"……Eh? Maaf. Tapi tenang saja, Liese-san sama sekali tidak gemuk kok."

Mendengar Tuan Kuruto berkata begitu, aku merasa sedikit tenang.

Tapi aku tidak boleh manja dengan kata-katanya, mulai besok aku akan lari pagi setiap hari.

Untuk saat ini, ruangan monitor—atau monitor?—ini harus kularang bagi siapa pun selain kami.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close