Chapter
2
Kuruto
dan Galangan Kapal
"Selamat datang. Saya sudah mendengar ceritanya dari Lord Tycoon. Liese-sama,
Kuruto-sama, dan juga para pengiring."
Setelah
keluar dari Guild, aku, Liese-san, dan Cicci-san segera berpindah ke Pulau
Makka, tempat bengkel kerja yang rencananya akan kami kunjungi berada.
Sosok
yang menyambut kami di kediaman semegah istana itu adalah seorang paman
bertubuh subur berusia sekitar lima puluh tahun. Sepertinya lebih baik aku
tidak mengomentari gaya rambutnya yang terlihat sangat tidak alami itu.
Apa orang ini adalah Atelier Meister dari bengkel
kerja di Pulau Makka?
"Salam kenal. Nama saya Liese, menjabat sebagai
Wakil Gubernur di Valha, wilayah kekuasaan Marquess Tycoon dari Kerajaan Homuros."
"A-aku juga, dari Valha, wilayah Marquess Tycoon...
menjabat sebagai wakil Atelier Meister dari Bengkel Rikuto... Nama saya Kuruto
Rockhans."
Aku membungkuk mengikuti contoh Liese-san. Sang paman pun
membalas dengan senyuman ramah sambil menundukkan kepala.
"Aduh, sopan sekali. Saya adalah Atelier Meister, Bonball Shipseven. Saya
adalah teknisi kapal kelas satu di negeri ini. Saya sangat berharap Anda berdua
sudi melihat galangan kapal kebanggaan saya."
"Galangan
kapal!? Wah, saya belum pernah melihatnya. Apa benar boleh berkunjung ke
sana?"
"Tentu
saja. Ah, untuk kapal militer memang rahasia jadi tidak bisa saya tunjukkan,
tapi silakan lihat kapal eksplorasi atau kapal dagang sepuasnya. Kapal yang
digerakkan dengan Magic Motor sangat layak untuk ditonton, lho."
Uwah, aku jadi tidak sabar. Desa Hust, baik sebelum
maupun sesudah pindah, selalu berada di tengah gunung, jadi aku tidak pernah
punya kesempatan membuat kapal.
Magic Motor, ya...
pasti hebat sekali.
Setelah itu, kami dijamu dengan hidangan yang mewah.
Cicci-san benar-benar luar biasa; padahal setelah
menyantap masakan Gerhark-san dia sudah menghabiskan satu panci penuh sup
buatanku, tapi dia masih saja makan.
Katanya, sebagai petualang, kita harus makan sebanyak
mungkin selagi ada kesempatan.
Begitu semua hidangan habis (termasuk porsi yang tidak
sanggup kuhabiskan), dia malah tidak bisa bergerak karena kekenyangan, lalu
langsung kembali ke kamar yang sudah disiapkan.
Liese-san tampak agak marah dan bergumam, "Itu bukan
sikap yang pantas ditunjukkan seorang pengawal." Namun bagiku, sikapnya
yang tanpa basa-basi itu entah bagaimana mengingatkanku pada teman-teman di
"Flame Dragon Fang" dan membuatku merasa rindu.
Selain itu, aku bisa mendengar banyak cerita tentang
kapal dari Tuan Bonball, membuat perjamuan makan ini terasa sangat bermanfaat.
Setelah makan malam usai dan kami hendak kembali ke
kamar, Tuan Bonball bertepuk tangan dua kali.
Lalu dari balik ruangan, muncullah dua gadis remaja yang
wajahnya bak pinang dibelah dua, sepertinya mereka kembar. Umur mereka mungkin
sebaya denganku.
Apa mereka putri Tuan Bonball? Bukan, ya. Keduanya sama
sekali tidak terlihat mewarisi ciri fisik pria itu.
"Liese-sama, Kuruto-sama, jika butuh sesuatu silakan
perintahkan kedua orang ini."
"Saya Hail. Saya yang akan melayani kebutuhan Kuruto-sama."
"Saya Mail. Saya yang akan melayani kebutuhan Liese-sama."
Kualitas suara mereka hampir identik. Mungkin suara
Hail-san sedikit lebih tinggi?
Tapi, pengasuh untuk orang sepertiku... padahal akulah
yang biasanya jadi pesuruh.
"Anu, Tuan Bonball, Anda tidak perlu sampai
melakukan hal seperti ini."
"Jangan sungkan. Lord Tycoon sudah berpesan agar
saya memberikan pelayanan terbaik bagi Anda berdua."
Marquess Tycoon, ternyata dia berkata begitu.
Saat pertama kali bertemu, aku sempat mengira dia
paman mesum jahat yang mengurung teman masa kecilku, Hildegard-chan, tapi
sekarang aku jadi merasa tidak enak hati padanya.
"Master Kuruto, boleh bicara sebentar?"
Liese-san memanggilku dan berbisik tepat di
telingaku.
"Ah, aroma rambut Master Kuruto yang harum sampai
tercium ke sini... mengingatkanku pada saat kita pertama kali bertemu."
Liese-san, apa dia pikir aku tidak dengar karena dia
berbisik? Padahal karena jaraknya sangat dekat, suaranya terdengar sangat
jelas... apa dia sesuka itu dengan aroma sabun yang kupakai?
Ini kan sabun yang disediakan di kamar mandi bengkel,
jadi Liese-san seharusnya punya aroma yang sama...
...!? Begitu menyadarinya, aku malah jadi gugup. Mungkin
ini pertama kalinya aku mencium aroma rambut wanita dari jarak sedekat ini.
Saat aku sedang melamunkan hal itu, aku merasakan tatapan
tajam. Hail-san dan Mail-san sedang memperhatikan kami lekat-lekat.
"Li-Liese-san, ada apa?"
"Ah, maaf. Saya sempat melamun sedikit. Mengenai
Hail dan Mail itu, memang benar mereka akan mengurus keperluan kita, tapi di
saat yang sama mereka pasti ditugaskan untuk mengawasi. Tolong tahan diri dari tindakan yang mencolok di depan mereka."
Tindakan mencolok? Pengawasan?
Ah, apa mereka menjagaku agar aku tidak mencuri
barang pajangan di sini? Memang sih, perabotan di sini semuanya kelihatan mahal.
"Kalau begitu, Master Kuruto, mari kita pergi."
"Iya. Liese-san, selamat malam."
Kami pun diantar ke kamar masing-masing. Kamar itu sangat
luas, sampai-sampai rasanya tidak pantas untuk orang sepertiku.
"Terima kasih, Hail-san."
"Sama-sama. Kalau begitu Kuruto-sama... mohon
bantuannya."
"Iya, mohon bantuannya juga."
Aku mengangguk, namun tepat saat itu juga...
Hail-san tiba-tiba mulai menanggalkan pakaiannya.
"Eh? Eh?"
Maksud dari 'mohon bantuannya' itu jangan-jangan... eh?
Kalau dipikir-pikir, belakangan ini aku sering sekali
melihat tubuh telanjang wanita secara tidak sengaja... padahal dulu tidak
pernah begini.
Apa aku sedang dikutuk? Orang lain mungkin menyebutnya
berkah, tapi bagiku ini musibah.
Dalam situasi seperti ini, aku benar-benar tidak tahu
harus berbuat apa sampai memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Karena merasa tidak boleh melihat, aku buru-buru
menundukkan pandangan ke arah kaki Hail-san.
Loh? Apa itu yang ada di pergelangan kaki Hail-san...?
Tepat saat aku menyadarinya, Hail-san berkata dengan
suara datar tanpa intonasi.
"Kuruto-sama, silakan berbaring."
Anu,
maksudnya... 'cepatlah tidur untuk persiapan besok', kan? Bukan maksud yang
lain, kan?
"Atau
Anda lebih suka melakukannya sambil berdiri?"
"Tu-tunggu
sebentar! Hail-san, tolong pakai bajumu!"
Aku
melambaikan tangan menolak, tapi Hail-san yang entah sejak kapan sudah mendekat
langsung mencengkeram pergelangan tanganku dan mendorongku hingga jatuh ke
tempat tidur.
Gawat,
kalau soal bela diri aku pasti kalah telak.
Eh?
Serius? Eh?
"Tenanglah,
Kuruto-sama. Meski ini yang pertama bagi saya, saya sudah banyak
berlatih."
Pertama!? Kalau begini terus... benar, aku harus
teriak—tapi jangan.
Kalau aku teriak dan orang lain masuk, Hail-san malah
akan terlihat telanjang oleh orang asing.
Bagaimana ini... sebelum pikiranku sempat jernih, wajah
Hail-san sudah berada tepat di depanku, bibirnya hampir bersentuhan—
"Oke,
cukup sampai di situ."
Bersamaan
dengan suara yang tiba-tiba terdengar itu, Hail-san dikunci dari belakang dan
ditarik menjauh dari tubuhku.
"Tuan Knight, kamu tidak apa-apa? Kalau aku
mengganggu, aku akan pergi sekarang."
"Cicci-san, terima kasih sudah menolong..."
Benar,
yang menarik Hail-san adalah Cicci-san.
"Yah, aku kan dibayar untuk jadi pengawal.
Sepertinya kelompok 'itu' tidak bisa masuk sampai ke dalam kediaman, jadi ya
sekalian saja."
Tapi
Cicci-san, darimana dia datang...!?
Pintu
dan jendela tidak menunjukkan tanda-tanda dibuka—begitu ya, Cicci-san sudah ada
di kamar ini sejak awal untuk melindungiku.
Aku
tidak tahu siapa kelompok 'itu' yang dia maksud, tapi aku benar-benar
tertolong. Kalau dibiarkan, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba, Hail-san meninggikan suaranya.
"Lepaskan saya! Saya harus melayani Kuruto-sama!"
"Iya, kamu memang diperintah begitu, kan? Tapi
ini malah memberikan efek sebaliknya. Tuan Knight ini seorang Lolicon,
dia tidak tertarik pada gadis di atas usia tiga belas tahun."
Eh!? Tunggu dulu, bicara apa kamu, Cicci-san!?
Lolicon... apa-apaan?
"...Apa itu benar?"
"Iya. Sampaikan saja begitu pada Atelier
Meister Bonball."
"...Saya tidak tahu. Mohon maaf
sebesar-besarnya."
Setelah Cicci-san bicara dengan tegas, Hail-san
memakai kembali pakaiannya dan keluar dari ruangan.
Aku memang tertolong, tapi... eh, kalau begini aku
bakal dianggap Lolicon sungguhan.
"Habis mau bagaimana lagi? Kalau tidak dibilang
begitu, Hail tidak akan menyerah."
"Sebenarnya ini ada apa?"
"Tujuan pertamanya adalah layanan servis. Marquess
Tycoon adalah pejabat penting dari negara tetangga, jadi Tuan Bonball pikir
jika dia bisa membuat kesan baik pada Tuan Knight yang merupakan bawahan
langsungnya, dia bisa punya koneksi yang bagus."
Padahal aku jadi Knight hanya karena ketularan
Rikuto-sama dan Yurishia-san saja.
Lalu, tunggu? Tadi Cicci-san bilang 'tujuan pertama'?
"Apa ada tujuan lain?"
"Ya, kalau Tuan Knight ternyata gampang
digoda, dia mungkin berniat menjadikanmu milik mereka setelah semuanya selesai,
mungkin sebagai selir. Dengan begitu koneksi mereka akan semakin kuat. Walau
sepertinya mereka tidak sampai mengincar posisi istri sah."
"Apa itu atas keinginan Hail-san sendiri?"
"Tidak, itu semua pasti instruksi Bonball. Di negara
ini perbudakan memang sudah dilarang total sejak tiga tahun lalu, tapi butuh
waktu lama sampai sistemnya benar-benar hilang dari akar. Mereka itu bisa
dibilang 'budak tanpa sistem'."
—Begitu rupanya.
Di pergelangan kaki Hail-san, meski sudah hampir pudar,
masih ada bekas luka seperti memar.
Bekas luka lama. Mungkin dulunya dia dipasangi belenggu
dalam waktu yang lama.
Jika cerita Cicci-san benar, maka Hail-san melakukan itu
bukan atas kemauannya sendiri, melainkan atas perintah Tuan Bonball. Budak
tanpa sistem... hal seperti itu ternyata ada di negeri ini.
"Tuan Knight, aku beri tahu satu hal, jangan
menghina Bonball. Bahkan tanpa sistem budak pun, banyak wanita yang terpaksa
jadi pelacur karena terlilit hutang. Dibandingkan mereka, perlakuan terhadap
gadis-gadis itu jauh lebih baik. Mereka
diberi makan dan pendidikan yang layak... Tuan Knight, kamu akan pergi
ke turnamen bela diri, kan?"
"Iya,
benar."
"Kalau
begitu siapkan mentalmu. Kalau kamu sudah merasa simpati pada Hail di sini,
kamu tidak akan sanggup bertahan di turnamen bela diri nanti."
"Eh?
Apa maksudnya—"
Aku
hendak bertanya, tapi dalam sekejap sosok Cicci-san sudah menghilang.
Keesokan
harinya, aku, Liese-san, Cicci-san, serta Hail-san dan Mail-san pergi
mengunjungi galangan kapal sesuai rencana.
Tuan
Bonball tidak bisa ikut karena ada urusan mendesak yang sudah dijadwalkan
sebelumnya, jadi hanya kami berlima.
Galangan kapal berjarak sekitar dua puluh menit
perjalanan kereta kuda dari rumah Tuan Bonball. Hail-san yang mengendalikan
kuda sebagai kusir, sementara Mail-san mengurus kebutuhan kami di dalam kereta.
Kereta kudanya sangat luas; dengan tinggi badanku, aku
bahkan bisa berdiri tanpa kepala membentur atap.
Di kursi bagian belakang, Liese-san, aku, dan
Cicci-san duduk berderet.
Meski begitu, aku tidak menyangka bisa minum teh di
dalam kereta kuda.
Berbeda dengan Liese-san yang minum dengan anggun,
Cicci-san sepertinya merasa tehnya terlalu panas; karena diminum sekaligus,
lidahnya jadi tersiram.
Saat aku memberikan obat minum yang juga ampuh untuk
luka bakar, Cicci-san menerimanya dengan senang, tapi dia tidak segera
meminumnya.
"Obat ini kuterima dengan senang hati, tapi
sayang sekali kalau obat sihir dipakai cuma untuk lidah melepuh. Lebih baik nanti kujual
saja."
Mendengar
ucapan Cicci-san, sudut alis Liese-san langsung naik.
"Cicci-san,
obat itu bukan hadiah, melainkan jatah logistik untuk pengobatan pengawal. Baik di militer maupun tentara bayaran, barang logistik yang tidak
terpakai harus dikembalikan, lho."
Karena Cicci-san hanya tertawa, suasananya jadi agak
rumit; tidak bisa dibilang tegang, tapi tidak bisa dibilang santai juga.
Bagiku sebenarnya tidak masalah jika itu dianggap
hadiah, tapi suasananya tidak memungkinkan untuk bicara begitu.
Lagipula, apa yang dikatakan Liese-san memang benar
secara aturan.
Tapi, aku tidak bisa meminta kembali barang yang
sudah kuberikan.
"Lagi pula Cicci-san, sampai kapan kamu mau memakai
sorban itu? Di dalam kereta kuda begini harusnya dilepas saja, kan?"
"Kamu tidak mengerti kerennya sorban ini ya? Lihat,
gaya kan?"
Liese-san mulai merembet ke hal yang tidak ada
hubungannya dengan topik awal. Merasa harus menengahi, aku berdiri di dalam
kereta.
"Cicci-san, tolong pakai obatnya sekarang. Jika kamu
melakukan tugas pengawalan dengan baik, aku akan memberikan obat yang sama
sebagai bonus tambahan nanti."
Mendengar
perkataanku, Cicci-san dan Liese-san saling pandang, kemudian Liese-san sedikit
memundurkan tubuhnya. Sepertinya dia setuju.
"Kuruto-sama, silakan duduk kembali. Jalan di
sekitar sini agak bergelombang."
Tepat saat Mail-san memperingatiku dan aku hendak duduk
kembali...
Roda kereta kuda sepertinya melindas batu kecil, sehingga
terjadi guncangan besar. Aku pun kehilangan keseimbangan dan—
"Ups. Kamu tidak apa-apa, Tuan Knight? Lihat,
aku langsung menjalankan tugas pengawalanku, kan?"
Karena aku jatuh tepat ke arah Cicci-san, aku tidak
terluka.
Namun masalahnya, wajahku malah terbenam di dada
Cicci-san.
Aku buru-buru mencoba bangkit, tapi kali ini tanganku
malah tidak sengaja meremas dada Cicci-san.
"────!?"
Aku langsung bangkit dengan wajah merah padam, lalu
segera duduk kembali di tempat semula.
"Hei, Nona Muda. Padahal dadaku yang disentuh, tapi
kenapa malah Tuan Knight yang kelihatan seperti pihak yang dilecehkan,
ya?"
"Mana kutahu!"
"Kenapa kamu malah marah—ah, begitu ya. Memang sih,
dada Nona Muda yang tipis itu mana bisa dipakai untuk melindungi Tuan Knight."
"Aku ini masih dalam masa pertumbuhan!"
Keduanya berdiri dan saling adu mulut dengan aku yang
terjepit di tengah-tengah.
Aah, padahal kupikir mereka sudah bisa akur, tapi
malah bertengkar lagi.
"Liese-sama, berbahaya kalau berdiri sekarang."
Tepat saat Mail-san memperingatkan, roda kereta kuda
sepertinya melindas batu lagi. Guncangannya kali ini jauh lebih besar dari yang
tadi.
"Uwah!"
““Kyaa!””
Cicci-san dan Liese-san sama-sama kehilangan
keseimbangan.
Dan hasilnya, wajahku yang duduk di antara mereka
berakhir terjepit di antara dada keduanya.
"A-ah,
maaf, Tuan Knight."
"Mo-mohon maaf, Master Kuruto."
"Tidak apa-apa, saya tidak apa-apa—cepat—"
Tolong cepat lepaskan.
Setelah itu, roda kereta sempat melindas batu dua-tiga
kali lagi, tapi aku lebih baik tidak menceritakan kejadian apa saja yang
menimpa kami setiap kali itu terjadi.
Kami tiba di galangan kapal milik Tuan Bonball.
Hal pertama yang membuatku terkejut adalah kenyataan
bahwa tempat ini berada di tengah pegunungan, bukannya di dekat laut seperti
galangan kapal pada umumnya.
Aku memang merasa aneh karena kereta terus menanjak,
tapi... di dekat sini pun tidak ada danau. Apa mereka benar-benar membangun
kapal di tempat seperti ini?
"Silakan lewat sini."
Dipandu oleh Hail-san, kami masuk ke dalam galangan
kapal.
Di lobi utama, hal yang langsung menyambut kami adalah
jajaran miniatur kapal.
Mungkin ada sekitar tiga puluh jenis; mulai dari kapal
nelayan, kapal penumpang, sampai miniatur kapal bajak laut yang mengibarkan
bendera tengkorak.
Menurut penjelasan yang tertulis di depan miniatur,
sebelum Uni Kota Kepulauan Koskiet terbentuk, penduduk pulau ini tidak memiliki
konsep negara. Mereka hidup sebagai bajak laut yang menyerang kapal dagang
Kerajaan Homuros atau pulau-pulau lainnya.
Hingga dua ratus tahun yang lalu, aliansi tiga pulau yang
menjadi cikal bakal Koskiet terbentuk dan menantang para bajak laut di pulau
ini.
Hasilnya, para bajak laut kalah dan akhirnya diserap ke
dalam aliansi. Miniatur kapal bajak laut ini dibuat untuk
mereproduksi kapal-kapal dari masa tersebut.
"Kapal ini menarik ya."
"Menarik di bagian mana? Kelihatannya seperti kapal
biasa."
"Kapal biasa umumnya punya dua jenis layar, layar
membujur dan layar melintang. Layar melintang dipakai saat searah angin, dan
layar membujur saat melawan angin. Tapi kapal ini punya tiga layar melintang
yang disusun vertikal. Biasanya tidak ada kapal dengan struktur begini, karena
kalau layar paling belakang menerima angin, dua layar di depannya tidak akan
mendapat tiupan angin kecuali dari arah samping."
"Kalau dipikir-pikir, benar juga. Kenapa dibuat
seperti itu, ya?"
"Memang tidak tertulis di penjelasan, tapi
kemungkinan besar kapal ini digerakkan oleh sihir angin dari seorang
penyihir."
Penyihir yang menggerakkan kapal dengan sihir angin
memang ada, bahkan di kapal militer sekalipun. Namun, aku belum pernah melihat
kapal yang khusus dibuat untuk digerakkan dengan sihir angin.
Sebab, menciptakan angin yang cukup kuat untuk
mendorong kapal akan sangat menguras tenaga penyihir, sehingga kapal tidak bisa
bergerak dalam waktu lama.
Namun bagi bajak laut, mereka tidak butuh kapal yang
bergerak cepat dalam waktu lama.
Kecepatan hanya dibutuhkan saat mereka mendekati
kapal dagang yang menjadi target, atau saat melarikan diri dari kapal militer
musuh. Itulah alasan di balik desain kapal ini.
"Hmm, hanya dengan melihat miniatur saja sudah
bisa paham sejauh itu. Kudengar Anda adalah seorang Tuan Knight, tapi
apakah Anda juga memiliki pemahaman tentang pembuatan kapal?"
Suara itu datang dari seorang pria berambut abu-abu
yang mengenakan monokel (kacamata sebelah). Di dadanya
tersemat papan nama.
[Kepala Institut Riset Perkapalan - Sieprad Hupp]
Sepertinya dia adalah kepala institut di sini.
"Salam kenal, Kepala Sieprad. Nama saya Kuruto
Rockhans. Saya tidak punya pemahaman khusus tentang pembuatan kapal."
"Menyadari hal itu dalam sekejap meski tanpa
pemahaman khusus... Begitu ya, sepertinya saya mulai mengerti kenapa Atelier
Meister Rikuto memilihmu sebagai wakilnya. Mari, biarkan saya memandu
kalian ke dalam."
Dari sana, Kepala Sieprad memandu kami berkeliling. Kami
melewati bangunan yang pintunya terkunci rapat.
Di dalam bangunan itu... tidak ada satu pun kapal
raksasa.
Yang ada hanyalah tumpukan cetak biru dan alat sihir
berukuran besar.
"Inilah kebanggaan Departemen Riset Perkapalan
Bengkel Kerja Bonball—Magic Engine."
Menurut penjelasan Kepala Sieprad, Magic Engine
adalah alat sihir yang menghasilkan energi putar dengan memasukkan kristal
sihir api.
Fungsi putaran itu digunakan untuk memutar bongkahan
besi seperti kincir angin yang menjadi penggerak kapal.
"Dengan kombinasi Magic Engine dan
kristal sihir, kapal akan bisa melaju meski tanpa angin sedikit pun."
"Luar biasa."
"Benar. Namun, daya keluaran Magic Engine
ini masih jauh dari kata sempurna. Efisiensi energi dari kristal sihir saat ini
hanya tujuh persen. Untuk mencapai tingkat penggunaan praktis, kita harus
menaikkan efisiensinya sampai tiga puluh persen."
Melihat wajah Kepala Sieprad yang tampak menyesal,
aku berpikir apakah ada yang bisa kubantu.
"Begitu ya—anu, bolehkah saya melihat cetak
birunya?"
"Tentu saja. Sebenarnya ini tidak lazim, tapi
saya sudah mendapat izin dari Tuan Bonball. Silakan
lewat sini."
"Terima kasih. Ah, benar juga, kecepatan putaran di
bagian perangkat ini memang kurang maksimal."
"Anda menyadarinya dalam sekejap!? Tapi jika bagian
itu berputar terlalu cepat, panas gesekan akan mempengaruhi perangkat di
sekitarnya, jadi putarannya tidak bisa dinaikkan lagi."
"Panas gesekan, ya? Ah, ada masalah pada bentuk
komponen yang ini. Kalau bentuknya dibuat sedikit lebih bulat, hambatannya akan
hilang sehingga panas gesekan tidak akan mempengaruhi sekitarnya, dan energi
sihir yang dibutuhkan pun jadi lebih sedikit."
"Tapi jika bentuk komponen itu diubah, perangkat
yang sebelah sini akan terpengaruh—"
"Kalau soal itu—"
Aku dan Kepala Sieprad benar-benar melupakan empat orang
lainnya yang ikut bersama kami, lalu asyik mengobrol lebih dari satu jam
lamanya.
◆◇◆
Tiga hari telah berlalu sejak kunjungan ke galangan kapal
itu.
Masa studi banding aku—Liselotte—dan Master Kuruto di
Bengkel Kerja Bonball akan segera berakhir.
Setelah ini, kami akhirnya bisa berkonsentrasi pada
tujuan utama kami, yaitu mencari Yurishia-san.
Berdasarkan informasi yang terkumpul, lokasi
keberadaannya sudah bisa diperkirakan sampai batas tertentu.
Jadi alih-alih mencari, kami lebih perlu menyiapkan diri
untuk audiensi dan negosiasi dengan Penguasa Pulau Loretta Element.
Selama tiga hari ini, aku memikirkan apa saja yang
diperlukan untuk hal tersebut.
"Kosmetik? Eh? Tapi bukannya Liese-san biasanya
tidak memakai riasan?"
Saat aku menyampaikan salah satu kebutuhan itu—yaitu
kosmetik berkualitas tinggi—Master Kuruto langsung menanyakannya.
"Benar. Ibuku berpesan bahwa selagi muda, kita tidak
boleh hanya berusaha menjadi cantik, tapi harus berusaha mempertahankan
kecantikan itu. Riasan yang tidak perlu justru akan menghambat hal tersebut.
Karena itu saya lebih fokus pada perawatan."
"Ibu yang luar biasa, ya."
"Tidak juga. Saya bisa mematuhi ajaran itu
karena produk perawatan yang Master Kuruto sediakan di kamar mandi sangat
berkualitas. Selain itu, orang-orang penting yang saya temui selama
ini hampir semuanya laki-laki."
"Eh? Karena bertemu laki-laki makanya Anda tidak
berdandan?"
Wajah beliau seolah ingin bertanya, bukankah biasanya
wanita berdandan justru saat bertemu laki-laki?
"Di usiaku sekarang, riasan yang berlebihan justru
tidak disukai oleh laki-laki. Malahan, berdandan itu lebih sering dilakukan
sebagai ajang gengsi antar sesama wanita. Sebenarnya aku tidak ingin
memusingkan hal remeh seperti itu, tapi lawan negosiasi kita kali ini adalah
seorang wanita."
"Begitu ya. Padahal Liese-san sudah sangat manis
meski tanpa dandan."
"……!? A-apa... dibilang manis begitu, aku jadi
malu."
Wajahku terasa panas karena perpaduan rasa senang dan
malu yang luar biasa.
"Anu, apakah ada yang bisa kubantu?"
Beliau bahkan menawarkan bantuan yang sangat membuatku
senang. Namun, apa yang harus kuminta?
Meski aku bilang kosmetik, sebenarnya bengkel kerja ini
punya hampir segalanya. Aku hanya berniat membeli beberapa bahan yang kurang
saja.
Jadi aku tidak butuh bantuan untuk membawakan barang
belanjaan... yah, meski kencan belanja berdua kedengarannya menyenangkan sih.
Ah, benar juga.
"Apakah Master Kuruto bisa membuat kosmetik?"
"Kosmetik? Bukan spesialisasiku sih, tapi kalau cara
dasarnya aku bisa. Aku belajar saat membuatnya bersama orang-orang di
desa dulu."
"Kalau begitu, saya mohon Master Kuruto membuatkan
kosmetik untuk saya."
Memakai sesuatu yang dibuat oleh Master Kuruto di
wajahku.
Itu berarti, buatan Master Kuruto akan menjadi bagian
dari diriku—tidak, Master Kuruto akan menjadi 'wajahku'. Tidak ada kehormatan
yang lebih besar dari itu.
Benar, kosmetik yang dibuat di sini akan kusimpan di
brankas negara, dan saat aku mati nanti, biarlah itu menjadi riasan terakhirku.
Agar meski maut memisahkan kami, tubuhku tetap menjadi milik Master Kuruto
selamanya. Itu adalah bentuk pernyataan cintaku.
"Ehehe... ehehehe."
"A-anu, Liese-san?"
"Iya! Kalau begitu Master Kuruto, di mana kita harus
membeli bahan kosmetik itu!?"
"Mari kita lihat—kalau begitu..."
Master Kuruto
pun memberikan sebuah usul kepadaku.
"Maaf
ya Mail-san, Cicci-san. Padahal kalian sedang istirahat tapi malah harus
membantu."
"Saya sudah diperintahkan untuk melayani Liese-sama,
jadi tidak ada masalah."
"Aku juga pengawal kalian, ini memang sudah jadi
pekerjaanku."
"…………"
Padahal kupikir kami bisa kencan belanja berdua, tapi
Master Kuruto malah bilang ingin pergi ke hutan untuk mencari bahan kosmetik.
Awalnya kupikir berduaan saja di tengah hutan lebat
tidaklah buruk. Namun—
"Kalau di dalam hutan, saya sudah beberapa kali
diperintah Tuan Bonball untuk mengumpulkan bahan, jadi saya rasa saya bisa
memandu kalian."
"Karena mungkin ada monster, aku juga ikut."
Begitulah Mail dan Cicci menawarkan diri. Tentu saja
Master Kuruto yang merasa tidak enak hati merepotkan mereka pun langsung
setuju.
Padahal Cicci pasti tahu ada Phantom yang menjaga kami,
jadi bantuannya tidak benar-benar diperlukan.
"Ngomong-ngomong Tuan Knight, bahan kosmetik
seperti apa yang harus kita kumpulkan?"
"Hampir semuanya tanaman. Karena aku akan membuat
sekitar tujuh puluh jenis kosmetik, jadi kita harus mengumpulkan banyak
macam."
"Tujuh puluh jenis!? Apa memang butuh sebanyak
itu?"
"Iya. Sekalian saja, aku ingin membuatkan kosmetik
yang bisa dipakai oleh Cicci-san, Mail-san, dan Hail-san juga."
Tetap saja menurutku itu terlalu banyak.
"Saya juga boleh mendapatkannya?"
"Rasanya aku tidak butuh hal-hal seperti kosmetik
sih."
Mail tampak terkejut, sementara Cicci menunjukkan wajah
yang sedikit enggan.
Cicci... apa kamu tidak tahu betapa berharganya niat baik
Master Kuruto? Aku benar-benar tidak suka padanya.
"...Ah!"
Tiba-tiba Master Kuruto bersuara keras dan menghentikan
langkahnya.
"Master Kuruto, ada apa?"
"Ah, ini gawat."
Sebelum Master Kuruto sempat menjelaskan, Cicci sudah
mengerutkan dahi lebih dulu.
Ada apa memangnya? Hanya ada sebuah pohon besar yang
sedikit tergores...
"Goresan
ini dibuat oleh taring Orc."
"Aa,
Orc ya."
Orc
adalah monster dengan wajah menyerupai babi hutan. Mereka punya sifat agresif,
tenaga yang kuat, dan dianggap lebih berbahaya daripada Goblin.
Meski
begitu, tingkat kesulitan pembasmiannya hanyalah Rank D.
Biasanya
petualang pemula yang sudah lulus masa pelatihan akan membentuk partai untuk
mengalahkannya. Aku sendiri pun merasa sanggup menghadapinya.
Yah,
bagi Master Kuruto yang kalah dari Goblin atau Slime, monster seperti itu tentu
merupakan musuh kuat—wajar jika beliau merasa gentar.
Tapi
sungguh memalukan melihat Cicci yang seorang pengawal sampai bersuara begitu.
Harusnya dia sudah tahu dari informasi kalau di hutan ini sering terlihat
Goblin dan Orc.
...Eh?
"Cicci-san, tadi kamu bilang goresan itu karena
taring Orc, kan? Apa Orc pandai memanjat pohon?"
"Seingatku tidak."
"Lalu, kenapa bekas lukanya ada di posisi setinggi
itu?"
Bekas goresan taring yang disebut milik Orc itu
berada di ketinggian sekitar empat meter.
Jika taringnya berada di posisi setinggi itu, berarti
tinggi total Orc tersebut mencapai lebih dari lima meter.
"Orc punya banyak sub-spesies. Dengan ukuran
sebesar itu... apakah High Orc?"
Cicci bergumam sambil memperhatikan goresan tersebut.
High Orc, tingkat kesulitan pembasmian Rank B.
Jika individu tersebut ditemukan di sekitar
pemukiman, maka ia akan menjadi target buruan prioritas tinggi yang sangat
diwaspadai.
"Tidak, mungkin lebih tinggi dari itu...
bukankah itu monster kelas Orc Lord?"
Orc Lord yang dimaksud Master Kuruto adalah pemimpin
yang membawahi lebih dari seratus ekor Orc, dengan tingkat kesulitan pembasmian
Rank A. Itu adalah monster tingkat bencana yang biasanya harus ditangani
oleh ksatria negara.
Kenapa monster seperti itu bisa ada di dalam hutan
ini?
"Mari segera kembali dan melapor ke Guild
Petualang!"
Tepat saat aku mengusulkan itu...
Gasagasa.
Terdengar suara dari semak-semak di belakang kami.
Aku punya firasat buruk. Tanpa kusadari, Cicci sudah
menghunus pedangnya.
"Master Kuruto, tolong mundur."
Aku berkata demikian dan mulai merapal mantra.
Melawan Orc Lord, sihirku mungkin hanya akan menjadi pengalih perhatian, tapi
itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
Dan tepat saat aku selesai merapal mantra, sosok itu
muncul.
—Seekor
Goblin.
"Hanya
Goblin, ya."
Melihat sosok yang lebih kecil dari manusia itu, aku
merasa lega.
Bagi orang tanpa bakat tempur seperti Mail atau Master Kuruto,
Goblin memang musuh alami, tapi kalau hanya seekor, Cicci pasti bisa
menanganinya sendiri.
"Jangan lengah!"
Namun Cicci malah berteriak tajam. Berlebihan sekali,
padahal cuma Goblin.
"Gi—?"
Goblin itu melihat ke arah kami, lalu berlari—alih-alih
menyerang, dia tampak sedang melarikan diri dari sesuatu.
"Giiiiiiiiii!"
Sesaat kemudian, sebuah tangan raksasa muncul dari balik
Goblin itu dan mencengkeram kepalanya.
Lalu muncullah sang pemilik tangan—monster berwajah babi
raksasa yang seluruh tubuhnya tertutup bulu, sang Orc Lord.
Orc Lord itu tidak peduli meski Goblin meronta-ronta di
tangannya; ia membawa Goblin itu ke mulutnya dan—
"…………!?"
Ia memakannya hidup-hidup.
Tangan kanan si Goblin jatuh dari mulut Orc Lord,
jari-jarinya masih bergerak sedikit.
Aku ingin menggunakan sihir, tapi mantra yang sudah
kusiapkan tadi malah kubatalkan karena aku lengah mengira itu hanya Goblin.
Jika aku mulai merapal sekarang, kemungkinan besar dia
akan menyadarinya.
"Kalian tidak apa-apa!?"
"Semuanya, tolong mundur."
Dua ksatria wanita berpakaian petualang muncul entah dari
mana di depan kami.
Kedua orang ini kemungkinan besar adalah Phantom yang
tadinya bersiaga di atas pohon.
Mereka punya kemampuan setara Rank A, jadi jika
bekerja sama, mereka seharusnya tidak kalah melawan Orc Lord.
Segera, salah satu dari mereka menerjang Orc Lord.
Orc Lord itu sepertinya sedang lengah karena asyik
memakan Goblin.
Pedang pun tertancap dengan mudah ke dadanya, namun yang
muncrat keluar bukanlah darah, melainkan cairan putih.
Sang Phantom mencoba menghujamkan pedangnya lebih dalam,
namun Cicci berteriak.
"Jangan!"
"Apa—"
Pedang sang Phantom terhenti di tengah jalan. Meski sudah
mengerahkan tenaga, ia tidak bisa menusuk lebih dalam maupun mencabut pedangnya
kembali.
Orc Lord itu tidak peduli dengan pedang di dadanya.
Setelah selesai memakan si Goblin, ia mengeraskan otot dadanya.
Seketika itu juga, pedang sang Phantom patah dengan
mudahnya.
Padahal pedang yang dipakai Phantom terbuat dari besi
yang diperkuat melalui alkimia.
Tapi
pedang itu patah hanya dengan otot dada...
Saat
pedang yang patah itu jatuh ke tanah dan sang Phantom menunjukkan wajah putus
asa, Orc Lord mencengkeram kepalanya.
Ja-jangan bilang—
"Aku percayakan pada kalian."
Ucap sang Phantom yang kepalanya dicengkeram. Sesaat
kemudian, Phantom satunya lagi menyarungkan pedang dan berlari ke arah kami.
"Ugh."
Dan tanpa ragu, ia memukul ulu hati Master Kuruto dengan
gagang pedang yang masih bersarung, membuat beliau pingsan.
"Apa yang Anda lakukan!?"
"Mohon maaf."
"Eh?"
Tepat setelah itu, aku pun dipukul dengan cara yang sama
seperti Master Kuruto, dan kesadaranku langsung hilang dalam sekejap.
Suara air adalah hal pertama yang menyapa telingaku.
Perlahan kesadaranku pulih. Saat membuka mata, aku berada
di dalam sebuah gua.
Di mana ini...? Seingatku, aku sedang bersama Master Kuruto
di hutan—
"Ah!"
Benar,
kami diserang oleh Orc Lord.
"Bagaimana
dengan Master Kuruto!? ……Syukurlah, sepertinya beliau baik-baik saja."
Master Kuruto tertidur lelap di sampingku. Kami
tidur dalam satu selimut yang sama. Satu selimut—
"—Satu selimut yang sama!?"
"Tuan Putri, tolong tunda dulu rasa senangnya.
Situasinya tidak memungkinkan untuk itu."
Ditegur oleh Cicci yang ada di sana, aku langsung menutup
mulut dengan tanganku. Setelah mengatur napas, aku
bertanya dengan suara berbisik.
"Tolong jelaskan situasinya."
"Ya. Kamu ingat kan saat diserang Orc Lord tadi?
Phantom itu... satu orang sepertinya sudah dibunuh oleh si Orc. Satunya lagi
membuatmu dan Tuan Knight pingsan... itu keputusan yang tepat. Karena
Tuan Putri pasti akan mencoba menolong Phantom yang hampir terbunuh itu,
kan?"
"…………"
Perkataan Cicci benar adanya, sehingga aku tidak bisa
membantah.
"Aku tidak tahu rencana apa yang kalian punya,
tapi bagaimanapun juga Phantom itu tidak akan selamat. Jika si Orc
mengerahkan sedikit tenaga saja, kepalanya pasti akan remuk."
"Benar
juga... Ngomong-ngomong, di mana Mail-san dan Yurail-san?"
"Yurail?"
"Nama
orang yang membuatku pingsan... dia adalah adik dari Kakaroa-san yang
terbunuh."
"……Kamu
mengingat nama pengawalmu dengan baik, ya."
"Tentu
saja. Padahal aslinya kami dilarang memanggil dengan nama asli..."
Kalimat
"Aku percayakan pada kalian" yang diucapkan Kakaroa-san di akhir
hayatnya. Dia memilih mati demi memerintahkan Yurail-san untuk melindungi aku
dan Master Kuruto, dan Yurail-san mematuhi perintah itu.
"Yurail sedang mengintai sekitar. Mail kuminta turun
gunung sendirian."
"Sendirian!? Kenapa kamu membiarkan dia melakukan
hal berbahaya seperti itu!?"
"Dia terbiasa dengan medan gunung. Lagipula
dia tidak punya kekuatan tempur. Terakhir, dia bukan tanggung jawab
pengawalanku maupun Yurail. Kurasa alasannya cukup, kan? Kalau Mail bisa sampai
ke Guild Petualang dengan selamat, peluang kita bertahan hidup akan
meningkat."
"Apa kamu tidak punya perasaan terhadap nyawa orang
lain—"
"Kamu berani bilang begitu? Kakaroa memilih mati
untuk menyelamatkanmu. Apa kamu masih mau bilang kalau semua nyawa itu
setara?"
"Itu..."
Cicci benar. Tak peduli bagaimana pun aku mencari alasan,
Kakaroa-san mati karena kesalahanku.
"……Kakaroa-san belum mati, kok."
"Master Kuruto! Anda sudah sadar?"
Aku senang beliau sadar, tapi apa beliau tahu soal
Phantom juga...?
"Baru saja sadar. Jadi petualang yang menolong
kita itu namanya Kakaroa-san, ya."
Sepertinya beliau tidak tahu yang sebenarnya. Beliau
pasti baru saja bangun dan mengetahui namanya dari perkataan Cicci.
Master Kuruto duduk dan menyingsingkan bajunya. Di bawah bajunya terdapat memar
biru. Karena tubuhku tidak memar sedikit pun, sepertinya
Yurail-san menahan diri saat memukulku.
Begitu Master Kuruto meminum obat yang selalu dibawanya,
memar itu hilang seketika. Melihat itu, Cicci bertanya dengan penuh minat.
"Obat Tuan Knight hebat sekali ya. Pasti
mahal?"
"Tidak juga. Aku membuatnya sendiri—"
"Aaaaaa!"
Tolong Master Kuruto, jangan terlalu banyak membicarakan
obat buatanmu. Lagipula, daripada itu—
"Apa maksud Anda Kakaroa-san masih hidup!?"
"Orc Lord tadi sepertinya sedang mencari mangsa
untuk latihan berburu anak-anaknya."
"Orc tadi itu betina?"
"Iya, dadanya besar. Dari kondisi kelenjar susunya,
sepertinya dia baru melahirkan sebulan yang lalu. Di desaku dulu semua orang
takut pada monster, jadi kami belajar banyak hal untuk mengatasinya."
Cicci bertanya dengan terkejut, sementara Master Kuruto
menjawab dengan malu-malu. Padahal menurutku itu adalah kemampuan yang patut
dibanggakan.
Cairan putih yang muncrat saat Kakaroa-san menusukkan
pedangnya tadi sepertinya adalah air susu induk.
"Apa maksudnya latihan untuk anak-anak?"
"Sebelum anak-anak Orc mandiri, induknya akan
menangkap mangsa yang sepadan untuk dilatih bertarung. Tentu saja mangsa yang
pasti bisa dikalahkan oleh anak-anaknya. Tadi dia berniat menangkap Goblin,
tapi setelah melihat kita, dia pikir manusia akan jadi target yang lebih baik. Makanya dia berganti target, dan si Goblin yang sudah tidak berguna
langsung dimakan."
"Berarti, Kakaroa-san sekarang—"
Berarti ada kemungkinan dia sedang disiksa sampai
mati oleh anak-anak Orc.
"Sekali melahirkan, Orc rata-rata punya enam
sampai delapan ekor anak, dan mangsanya tidak akan dibunuh sampai anak-anak itu
selesai bertarung dengannya. Jika kita cepat, kita bisa tepat
waktu."
Master Kuruto berdiri dan berkata demikian.
"Master Kuruto, tapi lawan kita adalah Orc Lord.
Kita bertiga—termasuk Yurail-san yang sedang mengintai—rasanya empat orang pun
tidak akan cukup untuk menang."
"Tenang saja, aku punya rencana."
Master Kuruto mengangguk dengan mantap. Beliau
sangat bisa diandalkan, namun aku punya sedikit firasat aneh.
Setelah Yurail-san kembali, aku memperkenalkan dia kepada
Master Kuruto dengan identitas palsu sebagai petualang yang kebetulan menolong
kami bersama Kakaroa-san.
Lalu kami mulai bergerak sesuai rencana Master Kuruto.
Saat aku memberitahu Yurail-san bahwa Kakaroa-san masih hidup, dia berbisik
kepadaku.
"Tuan Putri, saya senang mendengar kakak saya
masih hidup, tapi saya tidak bisa membiarkan Tuan Putri dalam bahaya demi kami.
Saya sudah memastikan jalan yang aman, mari kita segera kembali."
"Apa kamu tidak percaya pada Master Kuruto? Rencana Master Kuruto tidak mungkin gagal."
"Tapi—"
"Ini perintah."
Aku mengakhiri pembicaraan dengan tegas. Setelah itu kami
mengumpulkan bahan sesuai instruksi Master Kuruto, dan Master Kuruto membuat
peralatan dari bahan-bahan tersebut.
Selanjutnya, aku menggunakan sihir Sense Enhancement
untuk mencari lokasi sarang para Orc.
Petunjuk utamanya adalah aroma darah Kakaroa-san. Rasanya
campur aduk, tapi karena di lokasi kejadian hanya ada sedikit aroma darahnya,
sepertinya benar kata Master Kuruto bahwa dia tidak dibunuh di sana.
Aroma darah itu mengarah ke bagian dalam gunung. Karena
Orc Lord sebesar itu melewatinya, tidak mungkin kami tidak bisa lewat. Bekas
perjalanannya ada di mana-mana meski tanpa bantuan sihir Sense Enhancement.
And
akhirnya—
"Aromanya
mengarah ke sana."
Di
depan sebuah gua di tengah gunung, berdiri dua ekor Orc yang memegang tombak
batu. Meski dibilang tombak batu, itu hanya ranting pohon dengan batu tajam
yang diikatkan, lebih mirip kapak batu.
"Kita jalankan rencananya—Cicci-san, Yurail-san,
mohon bantuannya."
Aku mencabut pedang Kochou. Seketika itu juga, sosok
Cicci dan Yurail-san menghilang.
"Luar biasa—benar-benar tidak terlihat."
"Benar, ya."
Tentu saja. Bagiku yang terbiasa menggunakan Kochou,
sekadar menghilangkan keberadaan orang lain adalah hal sepele.
"Suara langkah kaki mungkin tidak masalah, tapi
mendekatlah dengan hati-hati tanpa membuat suara gaduh. Dan juga, kalian akan
ketahuan jika tersentuh. Jangan terlalu jauh dariku atau ilusi ini akan sirna,
jadi jangan masuk ke dalam gua."
"Ya, aku mengerti."
"Baik."
Setelah peringatanku, keduanya bergerak menuju para
Orc... kurasa begitu, karena mereka tidak terlihat jadi aku tidak tahu pasti.
"Apa mereka akan baik-baik saja?" gumam
Master Kuruto cemas.
"Tenang saja. Kalau lawannya cuma Orc biasa, aku
tidak tahu soal Cicci-san, tapi Yurail-san tidak mungkin kalah."
"……?
Liese-san, apa kamu kenal Yurail-san?"
"A-ah,
maksudku... bukan begitu. Lihat, mereka kan orang-orang yang sudah
mempertaruhkan nyawa untuk menolong kita, jadi mana mungkin mereka lemah."
Gawat,
aku hampir lupa kalau identitas Yurail-san sebagai Phantom dan pengawalku
adalah rahasia bagi Master Kuruto. Dalam skenario ini, harusnya aku baru
pertama kali bertemu dengannya, jadi aneh kalau aku tahu kekuatannya.
Jika
hal kecil seperti itu membuat Master Kuruto menyadari identitas asliku atau
kekuatan beliau yang sebenarnya, bisa-bisa beliau pingsan di tempat seperti
ini.
"Sudah
saatnya... ya."
Tepat
saat aku berkata begitu, darah segar muncrat dari leher Orc di sebelah kanan.
Orc di sebelah kiri pun mengalami hal yang sama; lehernya tergorok sebelum
sempat menyadari apa yang terjadi. Mereka bahkan tidak punya waktu untuk
berteriak.
"Ayo
pergi."
"Iya."
Aku dan Master Kuruto bergegas menuju mulut gua.
Karena tidak ada teriakan kematian, seharusnya posisi kami tidak ketahuan dari
suara, tapi aroma darah tidak bisa dihilangkan.
Meski aku bisa mengelabui indra dengan Kochou, aroma
darah itu tidak benar-benar hilang secara fisik.
"Master Kuruto, silakan."
"Baik, aku mengerti."
Master Kuruto meletakkan ramuan yang terbuat dari
campuran tanaman yang kami kumpulkan tadi, lalu menyulutnya dengan batu api.
Sesaat kemudian, asap putih yang sangat
banyak—melebihi jumlah tanaman yang dibakar—mulai keluar.
"Anu, aku tidak mendengarkan bagian rencana yang
tidak melibatkan diriku, tapi apa kita akan mengasapi para Orc ini supaya
mereka keluar?"
"Cicci-san,
mana mungkin begitu. Lihat saja. Jangan sampai menghirup asapnya, ya."
Asapnya semakin tebal. Saat itu, beberapa Orc keluar dari
gua karena menyadari ada keanehan, namun begitu menghirup asap itu, mereka
langsung tumbang seketika.
"Jangan-jangan—racun!?"
"Kamu benar-benar tidak mendengarkan, ya? Kalau
pakai racun, Kakaroa-san yang ada di dalam bisa mati juga. Ini adalah obat
tidur."
Luar biasa, benar-benar obat tidur buatan Master Kuruto;
bisa membuat Orc tertidur dalam sekejap.
"Semuanya, persiapannya sudah selesai. Cicci-san,
tolng lakukan sentuhan akhirnya."
Master Kuruto meletakkan batu hijau di mulut gua lalu
berlari mundur. Kami pun mengikuti beliau. Cicci yang berlari paling belakang
kemudian berujar.
"Ah, bagian ini aku dengar. Aku tinggal
melemparkan belati ini ke arah batu itu, kan?"
Cicci melemparkan belatinya dan mengenai batu hijau
itu.
"Tolong berpegangan pada sesuatu!"
Mendengar instruksi Master Kuruto, kami langsung
berpegangan pada pohon terdekat.
Tiba-tiba, angin kencang menerjang—begitu kuat
sampai-sampai kami hampir terbang jika tidak berpegangan.
Saking kencangnya, daun-daun muda di ranting pohon
sekitarnya tercabut dan beterbangan.
Batu hijau itu adalah kristal sihir yang diproses
oleh Master Kuruto dari bongkahan zamrud mentah yang beliau temukan dalam
perjalanan tadi.
Dengan menghancurkan batu itu, angin yang tercipta
akan mendorong asap obat tidur sampai ke bagian terdalam gua.
Kekuatan yang luar biasa—benar-benar kristal sihir
buatan Master Kuruto. Aku hanya bisa terpana melihat kemampuannya memproses
zamrud mentah dalam sekejap.
"Kekuatannya memang hebat, tapi fakta bahwa dia
bisa menemukan bongkahan zamrud berharga hanya dengan berjalan beberapa menit
di hutan pun sudah sangat tidak masuk akal."
Aku mengangguk tanpa kata menanggapi komentar Cicci
itu.
Kami kembali ke mulut gua dan menerangi bagian
dalamnya menggunakan lumut cahaya.
Suasana di dalam gua yang sudah dipenuhi obat tidur
itu sangat sunyi... ah, tidak juga. Suara dengkuran para Orc justru menggema di
mana-mana.
"Biasanya obat tidur bereaksi cepat itu obat
yang bikin pingsan, tapi obat buatan Kuruto ini benar-benar bikin mereka tidur
dengan wajah bahagia ya."
Cicci berkomentar melihat para Orc yang tertidur
sambil tersenyum dan mengeluarkan air liur.
"Efek analgesiknya memang kuat, lagipula ini kan
obat tidur nyenyak. Ah, tapi dosisnya kubuat enam belas kali lebih kuat dari
biasanya, jadi mereka tidak akan bangun apa pun yang kalian lakukan."
"Hoo, benarkah?"
Mendengar penjelasan Master Kuruto, Cicci menendang
wajah salah satu Orc yang tertidur.
Apa yang—!? Aku segera menghunus Kochou dan
memperhatikan si Orc. ...Syukurlah, dia tidak bangun.
"Cicci-san, tidak perlu menendangnya juga,
kan?"
"Cuma eksperimen, lagi pula mereka bakal dibunuh
juga, kan?"
Setelah berkata begitu, Cicci menggorok leher si Orc.
Orc itu mati tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
"Berkat efek analgesiknya, dia pasti mati tanpa
merasakan sakit sedikit pun."
Aku tidak akan bilang 'kenapa harus dibunuh'.
Orc dalam jumlah sebanyak ini jika dibiarkan pasti akan
menyerang kota suatu saat nanti.
Justru aku merasa malu pada diri sendiri karena tidak
bisa membunuh mereka secara langsung dan harus memberi perintah pada orang
lain.
"……Aku juga—"
Sepertinya Master Kuruto merasakan hal yang sama. Beliau
mengayunkan belati kesayangannya ke arah Orc yang tertidur dan—
"Aduh!"
Beliau malah menusuk tulang keringnya sendiri.
"Master Kuruto, apa yang Anda lakukan!? Healing!"
Aku buru-buru merapal sihir penyembuh pada kaki
beliau dan menyeka darahnya dengan saputangan.
Benar-benar... ke mana perginya kehebatan beliau tadi?
Ada batasnya juga untuk orang yang tidak bakat
tempur.
Kalau dipikir-pikir, Sina-san pernah cerita kalau
beliau juga pernah melakukan hal serupa saat mencoba mengalahkan Slime yang
menempel di kakinya.
"Kuruto-san,
Liese-san, serahkan bagian ini padaku dan Cicci-san."
"Benar,
cuma menghabisi musuh yang tidur itu tugas kami sebagai pengawal."
Sepertinya
lebih baik menyerahkan ini pada Yurail-san dan Cicci, agar Master Kuruto tidak
mendapat luka konyol lagi.
Setelah
itu, jumlah Orc yang kami habisi mencapai dua puluh ekor.
Jika
itu Goblin, jumlah segitu sudah biasa, tapi untuk Orc, jumlah ini tergolong
banyak. Namun di antara semuanya, belum ada sosok Orc Lord.
Guanya
memang cukup luas. Di beberapa sudut, kami menemukan tulang-belulang yang
sepertinya milik Goblin. Karena jumlahnya tidak banyak, sepertinya koloni Orc
ini baru saja terbentuk.
Di
tengah perjalanan, terdapat sebuah danau bawah tanah yang besar. Sepertinya
para Orc biasa minum di sini.
"Bagaimana
kalau aku mencari keberadaan Orc Lord dengan sihir Sense Enhancement?"
"Liese-san,
jangan. Gas tidur tadi juga punya efek relaksasi yang kuat. Meski
hanya sisa-sisa aromanya, jika Anda merasakannya terlalu kuat, Anda bisa ikut
tertidur."
"Ugh..."
Karena itu obat buatan Master Kuruto, kemungkinannya
sangat besar.
Kami pun memutuskan untuk maju dengan hati-hati.
Ada banyak jalan bercabang, kami mengeceknya satu per
satu hingga akhirnya sampai di bagian terdalam gua.
Di sana—
"Kakak!"
Yurail-san berlari menuju tempat Kakaroa-san berada di
tengah beberapa Orc yang tertidur.
Namun, kedua lengan Kakaroa-san tampak bengkok ke arah
yang tidak wajar—sepertinya patah. Dalam kondisi seperti itu, dia pasti terus
dipaksa bertarung.
Tubuhnya babak belur, namun dia bertahan—demi tetap
hidup. Aku harus bersyukur Master Kuruto menggunakan obat tidur dengan efek
analgesik yang kuat, karena rasa sakit yang dialaminya pasti tak tertahankan.
"Yurail-san, berikan obat ini pada
Kakaroa-san."
"Terima kasih banyak."
Yurail-san menerima obat dari Master Kuruto dan
meminumkannya pada Kakaroa-san.
Sementara itu, Cicci menghabisi para Orc yang tertidur,
yang kemungkinan besar adalah para pelaku penyiksaan Kakaroa-san.
Setelah semuanya dihabisi—
"Tidak ada! Orc Lord tidak ada di mana pun!"
"Mana mungkin. Semua jalan cabang sudah kita
periksa. Tidak ada jalan lain maupun jalan keluar—"
Tepat saat aku berkata begitu...
[GUAAAAAAAAAAAAAA!]
Raungan kemarahan terdengar dari jalan yang baru saja
kami lalui.
Suaranya berasal dari sekitar danau bawah tanah tadi. Itu
bukan suara Orc biasa, pasti Orc Lord.
"Jangan-jangan...
Orc Lord bukannya berada di ruangan lain."
Master Kuruto
menyadari sesuatu.
"Dia
masuk ke dalam danau bawah tanah untuk menghindari asap obat tidur—"
Dugaan
Master Kuruto sepertinya benar. Raungan Orc Lord itu terdengar semakin mendekat
ke arah kami.
Aku
berpikir untuk menggunakan Kochou agar kami bisa melarikan diri dengan tidak
terlihat—tapi tepat saat itu...
"Anu... Master Kuruto, apa yang sedang Anda
lakukan?"
Master Kuruto sedang menguliti bulu Orc menggunakan
pisaunya.
Padahal ukuran Orc jauh lebih besar dari kami, tapi
dalam sekejap beliau sudah mengulitinya sampai bersih saat aku sedikit lengah.
"Bulu Orc memang kuat, tapi tidak akan laku mahal
karena sangat tidak nyaman dipakai."
Meski Cicci berkata begitu, Master Kuruto malah
menggunakan tombak kayu milik Orc sebagai rangka dan memasang bulu Orc di sana
untuk membuat sebuah pintu darurat dalam sekejap.
Beliau
juga memasang bulu Orc lainnya di dinding lorong—eh?
Orc
yang lain?
Saat
aku menoleh, ternyata semua Orc sudah telanjang bulat tanpa bulu.
Beliau
memang tidak bisa menggorok leher Orc hidup, tapi menguliti Orc mati ternyata
bisa secepat kilat. Benar-benar Master Kuruto.
Beliau
membangun dinding dari bulu Orc dan memasang pintunya.
Di saat
yang sama, raungan yang dipastikan milik Orc Lord semakin mendekat dari detik
ke detik.
"Master
Kuruto, apakah dinding itu sanggup menahan serangan Orc Lord?"
"Yang
kutahan bukan serangan Orc Lord."
Master Kuruto
mengeluarkan sisa obat tidur dan kristal sihir yang beliau siapkan sebelum
masuk tadi—ternyata beliau menyiapkan satu set cadangan.
Master Kuruto
membakar obat tidur di balik pintu darurat itu, lalu—
"Cicci-san,
mohon bantuannya."
"Oke."
Cicci
melempar pisaunya untuk memicu ledakan kristal sihir, dan di saat yang sama
Master Kuruto menutup pintunya.
Dinding
bulu itu bergetar hebat terkena gelombang ledakan, tapi asapnya tidak masuk ke
tempat kami berada.
Lima menit kemudian...
"Luar biasa, Tuan Knight."
Di balik pintu itu, terlihat sosok Orc Lord yang sudah
tergeletak tertidur sambil mendengkur keras.



Post a Comment