NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to, Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

Kencan Belanja

"──Sudah kuduga, kemampuanku benar-benar sudah tumpul."


Malam itu. Aku memainkan sedikit teknik trill di piano ruang tamu dan langsung mengernyitkan dahi. Meskipun aku masih sesekali menyentuh tutsnya, jika dibandingkan dengan masa SMP saat aku masih belajar secara formal, penurunan kemampuanku tidak bisa dibantah.


Festival budaya tinggal sebulan lagi. Kalau cuma lagu dengan tingkat kesulitan rendah, mungkin aku masih bisa memainkannya dengan lumayan, tapi...


"......"


Apa itu sudah cukup?


Menghadapi kontes dengan lagu yang "pasti bisa" aku kuasai tepat waktu mungkin tidak salah. Tapi sekarang, aku merasa itu saja tidak akan cukup.


(Duh, Manajer sih pakai ngomong yang aneh-aneh segala) 


Keluhku dalam hati pada si bapak-bapak necis yang seolah sedang mengacungkan jempol di dalam kepalaku.


"──Nggak main lagi?"


Terdengar suara dari samping. Saat menoleh, aku melihat Mizuki sedang memeluk bantal di sofa. Entah kenapa dia terlihat sedang dalam suasana hati yang baik, matanya seolah mendesakku untuk segera bermain lagi.


"Kamu nggak perlu menemaniku begini, lho."


"?"

"Nggak usah pasang wajah bingung gitu."


Baca buku, belajar. Harusnya dia melakukan apa pun yang dia suka. Lagipula, aku jadi sulit konsentrasi kalau terus ditatap begitu.


"Kamu pasti sudah bosan, kan, dengar permainan pianoku?"


"Nggak juga."


Coba hitung sudah berapa kali aku main di depanmu, pikirku, tapi Mizuki tetap menggelengkan kepala.


"Aku nggak akan mengganggu. Main saja terus."


Ucapnya dengan posisi duduk yang menandakan dia tidak akan beranjak sedikit pun. Aku pun menyerah dan kembali menghadap piano.


Sambil melakukan pemanasan jari dengan memainkan 'Für Elise' secara ringan, aku berpikir.


(Tapi, lagu apa yang harus kumainkan ya?)


Aku punya cukup banyak stok lagu yang bisa kumainkan. Tapi kalau mencari lagu yang terlihat memukau untuk Kontes Mister, tidak ada yang langsung terlintas di kepala.


"Bagaimana kalau 'Pavane pour une infante défunte'...?"


Mungkin kurang cocok. Temponya santai, jadi mungkin kurang memberikan kesan klimaks.


Tepat saat aku hendak memberi tanda silang pada lagu itu dalam hati...


"Sepertinya lagu itu kurang pas untuk nanti, bukan?"


Mizuki bergumam pelan.


Saat aku menoleh, Mizuki sudah bangkit dari sofa dan berjalan menghampiriku.


"Iya juga ya, menurutmu begitu?"


"Iya. Lagipula, lagu itu kan spesial."


Dia menumpukan tangannya di atas piano, menatap tajam langsung ke mataku. Aku bertatapan dengan matanya yang cantik dan memikat itu. Di saat aku terkesiap menahan napas, Mizuki berkata...


"Jangan mainkan lagu itu untuk orang lain selain aku. Ya?"


Bisiknya, seolah sedang memberi perintah yang tak terbantahkan.


"......!"


Ditatap sedekat itu oleh wajah cantiknya membuat napasku seolah terhenti. Aura kedewasaan yang tidak tampak seperti anak SMA. Tatapan mata yang seolah sanggup meluluhkan akal sehat. Namun...


(Mata itu...)


Di balik matanya, di bagian yang lebih dalam lagi, aku melihat secercah warna yang berbeda. Tatapan yang membangkitkan kecemasan tak terjelaskan, seperti dasar laut yang gelap.


──Itu adalah tatapan yang sama dengan yang kulihat hari itu.


"Iori?"


Mizuki memiringkan kepalanya melihat gelagatku.


"Ah, nggak apa-apa."


Aku menggelengkan kepala dan kembali meletakkan jari di atas tuts, saat tiba-tiba...


Ting!


Suara notifikasi ponsel.


"......?"


Siapa sih jam segini? Renji? Pikirku sambil mengetuk layar ponsel.


(......Kashiwagi-san?)


Nama yang muncul ternyata di luar dugaan.


【Gimana kalau kita pergi belanja untuk festival besok sepulang sekolah?】


"......"


Belanja, ya. 


Benar juga, batinku teringat. Masa persiapan singkat, jadi memang lebih baik pergi lebih awal. Besok aku juga tidak ada jadwal kerja sambilan. Rasanya lebih baik daripada pergi saat hari libur yang penuh sesak.


Jemariku mengetuk layar dengan cepat.


【Boleh. Di mal depan stasiun saja?】


【Oke! Aku nggak sabar!】


Balasan masuk beserta stiker kucing yang sedang kegirangan.


'Nggak sabar,' katanya. Padahal cuma belanja barang. Tapi kalau dilihat secara objektif, ini bisa disebut kencan, ya? Pergi belanja berdua dengan gadis yang bilang kalau dia menyukaiku.


Suara Renji terngiang di kepalaku: 'Kalau itu bukan kencan, terus apaan lagi dong namanya!'


"Ada apa?"


Aku menoleh mendengar suara penasaran Mizuki.


Ah, benar. Aku harus memberitahu Mizuki juga. Bisa jadi aku tidak sempat pulang untuk makan malam tepat waktu.


"......"


Tapi entah kenapa, lidahku terasa kelu. Padahal tidak ada alasan bagiku untuk ragu.


"Besok aku mau pergi belanja barang festival bareng Kashiwagi-san."


Setelah terdiam sejenak, aku akhirnya berhasil mengucapkannya dengan susah payah. Aku tidak berani melihat wajah Mizuki. Aku merasa ekspresi apa pun yang dia tunjukkan nanti pasti akan membuat perasaanku jadi rumit.


Setelah aku memberitahunya, terjadi keheningan yang sangat singkat, lalu...


"Baiklah."


Hanya satu kata itu yang diucapkan Mizuki.



── Sore hari berikutnya, sepulang sekolah.


"── Yah, gimana ya, akhirnya kerasa juga ya hawa-hawa festival budayanya."


Renji berucap riang melihat kerumunan murid yang masih bertahan di sekolah meski jam pelajaran sudah usai, sibuk mengerjakan persiapan masing-masing.


"Tapi pertanyaannya, apa bakal keburu dalam sebulan? Liat aja tuh."


"Bener juga sih. Harusnya kita mulai gerak lebih awal ya."


Beberapa kelas lain memang sudah mulai bergerak jauh-jauh hari. Para panitia pelaksana bahkan kabarnya sudah menyusun rencana sejak dua bulan lalu. Festival Shirayanagi ini skalanya memang luar biasa besar, dengan acara mentereng seperti Kontes Miss & Mister. Jumlah tahapan yang harus dilalui jauh lebih banyak dibanding sekolah lain.


"Tapi ya sudahlah, semua orang kelihatan semangat. Pasti beres kok."


Renji mengangguk-angguk sok bijak layaknya seorang mandor. Kalau melihat ke dalam kelas, memang benar apa yang dikatakan Renji; semangat teman-teman sekelas sangat tinggi. 


Yah, meskipun sebagian besar itu berkat dorongan "jiwa mesum" para siswa laki-laki... tapi para siswi pun tampaknya cukup menikmati prosesnya. Bagaimanapun, mereka adalah bintang utamanya, jadi motivasi para siswi sangatlah krusial.


Saat aku sendiri sedang asyik mengerjakan bagianku dengan tekun...


"── Amano-kun."


Namaku dipanggil, aku pun menoleh.


"Kashiwagi-san?"


"Iya. Bisa kita berangkat sekarang?"


"Ah, benar juga."


Melihat jam, sekarang sudah pukul empat sore. Mohon maaf untuk teman-teman yang lain, tapi hari ini aku harus izin pamit lebih cepat.


"Kalau gitu Renji, Aku duluan ya."


"Sip! Hihi, selamat bersenang-senang ya kencannya~?"


"Berisik."


"Ahahaha."


Diiringi godaan Renji (dan beberapa tatapan dengki dari murid laki-laki lainnya), kami pun keluar dari kelas bersama-sama.



──Begitulah, akhirnya aku sampai di pusat perbelanjaan besar di depan stasiun bersama Kashiwagi-san... Tapi...


"Eh, Amano-kun. Yang ini kayaknya cocok juga deh buat kamu."


"Anu... Kashiwagi-san?"


Entah kenapa, sekarang kami berada di bagian pakaian pria yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan festival budaya. Aku hanya bisa tersenyum kecut melihat Kashiwagi-san yang dengan wajah berseri-seri menyodorkan berbagai pakaian padaku.


"Belanjanya gimana?"


"Boleh dong sebentar aja? Kan jarang-jarang kita bisa kencan begini."


"Bukan kencan, tapi belanja barang festival..."


Dia tertawa jahil. Aku bersikeras bahwa tempat yang harus kami tuju adalah bagian perlengkapan umum, bukan toko baju. Namun, melihat betapa senangnya dia saat mencocokkan baju baru ke tubuhku lewat pantulan cermin, aku jadi tidak tega untuk menolaknya mentah-mentah.


"Amano-kun, padahal kamu punya wajah tampan tapi kok nggak peduli banget sih sama fashion. Sayang banget lho."


"Begitukah?"


"Iya dong. Nah, yang ini nih, pas banget sama image kamu."


Kashiwagi-san menyodorkan sebuah sweter berwarna merah bata. Karena disuruh, aku pun masuk ke ruang ganti. Saat aku keluar dengan baju baru itu, Kashiwagi-san bertepuk tangan kegirangan.


"Wah, ternyata beneran cocok banget!"


"Tapi ini... apa nggak kelihatan terlalu 'manis'?"


"Justru itu yang bagus! Ternyata Amano-kun emang lebih cocok gaya yang agak netral ya. Eh, mau coba pake baju perempuan juga?"


"Kenapa, nggak mau lah!"


Satu per satu baju terus disodorkan padaku. Tanpa sadar, aku sudah sepenuhnya berubah menjadi boneka bongkar-pasang baginya. 


Sebenarnya aku ingin segera kembali ke urusan belanja utama... tapi karena sudah kehilangan momen untuk bicara, aku terpaksa menunggu sampai dia puas.


"Fufu, sebentar saja ya. Ini tuh salah satu impianku, lho. Mendandani pacar sendiri."


Dia menatapku dari bawah dengan tatapan manja. Kata-katanya membuatku tanpa sadar membayangkan sesuatu. Jalan-jalan berdua di akhir pekan, saling memilihkan baju, dan tertawa bersama.


Rutinitas pasangan kekasih yang sangat lumrah ditemukan di mana saja. Tapi...


"Dijadiin boneka begini agak berat sih buatku."


"Iih, kamu mulai kabur lagi deh jawabnya~"


Tetap saja, rasa bersalahku jauh lebih besar. 


Aku hanya bisa tersenyum kecut untuk mengalihkan pembicaraan saat Kashiwagi-san menggembungkan pipinya dengan kesal.



──Akhirnya, saat urusan belanja benar-benar selesai, kedua tanganku sudah penuh dengan kantong belanjaan.


Melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat.


"Lama juga ya kita di sini tadi."

"Iya."


Jujur saja, aku merasa sangat lelah. Apa semua laki-laki di dunia ini melakukan hal seperti ini secara rutin? Hebat sekali mereka. Aku pribadi merasa tidak akan sanggup. 


Sambil membenahi pegangan barang bawaanku, aku menghela napas panjang. Tiba-tiba, Kashiwagi-san menatapku lagi dengan pandangan dari bawah.


"A-anu. Kalau kamu nggak keberatan, mau makan malam dulu nggak? Kebetulan sudah jam segini juga."


Ajakan itu membuatku menghentikan langkah.


Makan malam, ya? Memang sudah waktunya sih. Apalagi dia sudah menemaniku seharian, aku juga ingin berterima kasih.


(Kemarin dia juga sudah mentraktirku di kafe, jadi kurasa hari ini giliranku yang bayar.)


Tepat saat aku hendak membuka mulut untuk menyetujui, tiba-tiba...


"──!?"


Langkahku terhenti total saat sebuah sosok tertangkap oleh pandangan mataku. Rambut hitam yang indah. Seragam sekolah yang membalut tubuh dengan proporsi layaknya seorang model. Setiap kali dia melangkah, aku bisa melihat orang-orang di sekitar—tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan—menoleh ke arahnya.


Melihatku yang mematung, Kashiwagi-san pun ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang kutatap. Lalu, dia memekik pelan.


"Eh, itu!? Yu-Yukimura-san?"

Suara Kashiwagi-san membuat orang-orang di sekitar ikut menoleh. Kashiwagi-san tampak menciut malu karena menjadi pusat perhatian, namun gadis yang sedang berjalan mendekat itu tidak mengubah ekspresinya sedikit pun.


Gadis cantik yang menjadi pusat perhatian itu──Yukimura Mizuki ──menghentikan langkahnya tepat di samping kami.


"Kerja bagus."


Hanya itu. Dia membuka suara dengan nada yang tenang dan datar, seperti biasanya.


(......Kenapa?)


Belanja? Sengaja datang ke mal ini?


Padahal dia bukan tipe orang yang terlalu peduli pada pakaian atau barang pernak-pernik. Namun, rasa janggal itu langsung terpotong oleh suara Kashiwagi-san.


"Yukimura-san datang ke sini juga? Ah, apa jangan-jangan persiapan hari ini sudah selesai?"


"Iya. Belum banyak yang bisa kukerjakan di sana."


Mendengar itu, aku dan Kashiwagi-san tersentak. 


Gawat, sekolah pasti sudah dikunci sekarang. Meskipun tidak diminta selesai hari ini, harusnya barang-barang ini sudah dibawa ke sekolah tadi.


"A-ah...! Ma-maaf ya!? Apa mungkin peralatan ini sebenarnya dibutuhkan hari ini...?"


"Nggak kok. Gotou-kun juga bilang nggak perlu buru-buru. Kurasa nggak apa-apa."


Kashiwagi-san menghela napas lega. Lalu, Mizuki mengalihkan pandangannya tepat ke arahku.


"Amano-kun juga, kerja bagus."


"......Ah, iya."


"Barang bawaannya kelihatan berat ya."


"Yah, begitulah."


Aku melirik barang-barang di kedua tanganku. Demi harga diri laki-laki, aku memang membawanya sendirian, tapi jujur saja sejak tadi kedua lenganku sudah mulai terasa pegal yang cukup serius.


"──Sini, biar aku bantu bawa satu."


Sambil berkata begitu, Mizuki mengambil salah satu kantong belanjaan dari tanganku. Beban di lengan kiriku pun terasa sedikit lebih ringan.


"Eh......?"


"Sampai jumpa besok."


Tanpa menunggu jawaban, Mizuki berbalik dan melangkah pergi.


(......Apa-apaan sih dia?)


Aku hanya bisa terpaku menatap punggungnya yang menjauh. Aku tidak tahu kenapa dia ada di sini, atau apa tujuannya datang ke sini. Tapi...

"......"


Entah kenapa, aku merasa seolah dia baru saja melihat sesuatu yang tidak ingin kuperlihatkan. Padahal aku hanya sedang belanja barang festival dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh.


"──Dia beneran keren banget, ya."


Di sampingku, Kashiwagi-san bergumam lirih. Suaranya mengandung kekaguman, rasa iri, sekaligus rasa rendah diri yang tak tertahankan. Sepertinya dia memang belum sepenuhnya bisa merelakan perasaannya.


"Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak membanding-bandingkan lagi?"


Mendengar ucapanku sambil tetap menatap ke arah perginya Mizuki, Kashiwagi-san tersenyum kecut.


"Iya sih. Tapi kalau sudah melihatnya langsung begitu, mau gimana lagi."


Pasti akan membandingkan, begitulah arti raut wajahnya. Aku paham betul perasaan itu. Akulah orang yang paling bisa berempati soal ini.


Melihat kilauan cahaya seperti itu, mau tidak mau kita pasti akan membandingkannya dengan diri sendiri yang redup.


"......Anu, Amano-kun. Boleh aku tanya hal yang aneh?"


"......?"


Ditanya secara tiba-tiba, aku memiringkan kepala. Dari sudut mataku, aku melihat ekspresi Kashiwagi-san tampak seperti seseorang yang sudah membulatkan tekad. 

Tepat saat aku mulai berjaga-jaga akan apa yang bakal dia tanyakan...


"──Di kontes Miss nanti, menurutmu apa ada kemungkinan aku bisa menang melawan Yukimura-san?"


Pertanyaan yang sama sekali tidak terduga itu terlontar padaku.


"Hah?"


Aku terpaku. Sesaat, aku tidak mengerti arti dari kata-katanya. Bukan karena tidak paham, tapi karena hal itu terdengar sangat tidak realistis sehingga otakku menolak untuk menerimanya.


"Me-menang... melawan Yukimura-san?"


"Iya."


Gadis tercantik di sekolah, Mizuki Yukimura. Popularitas dan pengaruhnya sudah berada di level yang tidak masuk akal. Kashiwagi-san seharusnya sudah sangat paham soal itu.


"......Kamu serius?"


Tanpa sadar kejujuranku keluar begitu saja. Mungkin itu terdengar sangat tidak sopan. Tapi hanya itu yang bisa kuucapkan. Apakah dia benar-benar berniat menantang "monster" yang berada di luar standar itu?


"Iya, aku serius."


Namun, Kashiwagi-san mengangguk mantap tanpa keraguan. Tekadnya membuatku terkesiap.


"Tentu saja aku tahu kalau secara normal itu mustahil. Tapi, aku berpikir apa mungkin lewat unjuk bakat nanti aku bisa sedikit 

memperkecil jaraknya."


"......"


Memang benar, di kontes Miss tahun lalu Mizuki hampir tidak melakukan unjuk bakat apa pun. Dia hanya berdiri di atas panggung. Tapi meski hanya begitu, dia menang telak di posisi pertama. Jadi memang hanya di bagian unjuk bakatlah satu-satunya celah untuk mengejar. Mungkin suaranya tidak akan terserap habis oleh Mizuki seperti tahun lalu.


──Tapi, kurasa hanya sebatas itu. Aku sama sekali tidak melihat adanya peluang untuk menang.


"Kenapa kamu sampai berpikir begitu?"


Aku terpaksa menanyakannya. Terus terang saja, ini sangat tidak terlihat seperti Kashiwagi-san yang biasanya. 


Urutan peringkat. Kemenangan atau kekalahan. Dia seharusnya bukan tipe orang yang terpaku pada hal-hal seperti itu. Atau mungkinkah, label sebagai "nomor 2" selama ini terasa begitu menyesakkan baginya?


"Bukannya aku ingin jadi nomor satu, atau ingin dipuja-puja orang lain, bukan begitu kok." 


Ucap Kashiwagi-san dengan senyum yang tampak rapuh. 


"Aku hanya berpikir kalau aku lari tanpa melakukan apa pun, aku pasti akan menyesal. Aku cuma ingin mencoba berbenturan dengan sungguh-sungguh, setidaknya sekali seumur hidup."


"......!"


Kata-katanya membuatku teringat ucapan Manajer kafe.


──Setidaknya sekali, lakukan dengan serius.


Itu adalah kalimat yang sama persis dengan yang dikatakan Manajer kepadaku.


"Lagipula, ya..."


"....?"


"Kalau sampai aku berhasil menang melawan Yukimura-san, kurasa setidaknya Amano-kun bakal mau melirikku juga, kan?"


Dia mengatakannya dengan nada bercanda.


(Jadi, begitu ya......)


Memang benar, jika hal mustahil itu sampai terjadi, itu bukan sekadar prestasi lagi. Penilaian orang terhadap Kashiwagi-san, baik di dalam maupun di luar sekolah, pasti akan melonjak drastis. Tapi... jika ditanya apakah hal itu akan mengubah perasaanku.


(......Pasti, tidak akan berubah.)


Aku tidak sanggup mengucapkannya. Melihatku yang terdiam, Kashiwagi-san sesaat menurunkan pandangannya dengan sedih.


"Ahaha. Bercanda kok!" 


Ucapnya sambil tertawa riang. Tapi aku tahu betul kalau itu bukan sekadar bercanda. Setidaknya, niatnya untuk menantang Mizuki adalah sungguhan.


Sesaat aku bimbang apakah harus menghentikannya. 

Karena bagaimanapun aku membayangkannya, yang muncul hanya gambaran hasil yang tragis. 


Namun.


"Karena itu, Amano-kun."


Kashiwagi-san menatapku dengan lurus. Sorot matanya membuatku tidak bisa berkata-apa lagi.


"──Jawaban untuk pernyataanku kemarin. Bisakah kamu memikirkannya sekali lagi setelah melihatku di kontes Miss nanti?"


"......!"


(Ah...... gawat. Ini benar-benar gawat.)


Gadis ini sudah paham semuanya. Dia tahu kalau dia tidak punya peluang menang. Dia mungkin juga tahu kalau hasilnya nanti akan sangat menyakitkan untuk dilihat. Dia memahami itu semua.


"Aku tidak bisa terus-terusan menggantung begini. Kalau cara ini tetap tidak berhasil, aku akan menyerah sepenuhnya."


Dia akan menjadikan kontes Miss ini sebagai penutup. Begitulah ucapannya. Dia ingin mengakhiri ini tanpa memperpanjangnya lagi, dan mencari jawabannya di sana.


......Mungkin, dia melakukan ini agar aku tidak perlu terus-menerus merasa terbebani dan kepikiran. Bahkan di saat seperti ini pun, anak ini masih memikirkan perasaan orang lain?


"......Baiklah."


"Terima kasih. Tolong perhatikan aku baik-baik, ya?"

"Tentu saja."


Aku mengangguk sambil memikul rasa bersalah. Kashiwagi-san pun tersenyum lega. Kemudian, dia bergumam "ah" kecil dan mendongak, melirik ke arahku.


"E-etto...... jadi, soal itu. Gimana kalau kita makan malam?"


"Ah──"


Baru ingat kalau tadi kami sedang membicarakan itu.


"Maaf. Hari ini aku pulang saja."


"Ah...... b-begitu ya."


Melihat Kashiwagi-san yang tampak lesu, aku merasa sedikit bersalah.


"Kalau begitu, sampai jumpa besok."


"......Iya. Sampai besok ya."


Aku memunggungi Kashiwagi-san yang melambai sedih, lalu melangkah menuju jalan pulang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close