NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to, Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken V1 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Bagaimanapun Caranya, ini Bukan Panggung yang Layak untuk Introvert

──Lalu.


"......E-eh, kalau begitu, kegiatan kelas kita sudah diputuskan untuk membuat... M-Maid Cafe."


"UOOOOOHH!!"


"FOOOO!!"


Sepulang sekolah. Di bawah arahan ketua kelas kami, Gotou-kun, kami mendiskusikan kegiatan untuk festival budaya Akademi Shirayanagi, atau yang biasa disebut 'Shirayanagi-sai'.


Awalnya muncul ide-ide standar seperti kedai crepes atau takoyaki. Namun, berkat paksaan Renji yang bersikeras, "Maid Cafe! Pokoknya harus Maid Cafe, nggak ada tawar-menawar!", keputusan itu diambil secara sepihak.


Tentu saja para siswi melayangkan protes... tapi semangat membara para siswa yang memihak Renji, ditambah dengan satu kalimat sakti dari Mizuki:"──Boleh kok, aku mau memakainya." ...membuat keputusan itu langsung mutlak.


Ngomong-ngomong, Kashiwagi-san langsung memasang tatapan kosong yang jauh seolah telah merelakan segalanya begitu Maid Cafe diputuskan. Kasihan sekali dia.


"Hei, tenang semuanya!"


Gotou-kun berusaha menyatukan kelas dengan wajah yang memerah. Dia sepertinya punya bakat alami sebagai anak sulung; melihatnya saja aku sudah bisa merasakan betapa berat bebannya.

"Masih ada yang harus diputuskan! Perwakilan untuk kontes Miss dan Mister!"


Dia menggebrak meja guru.


Kontes Miss & Mister. Mendengar acara utama yang menjadi puncak Shirayanagi-sai ini, semua orang akhirnya kembali sadar.


"Yah, kalau itu sih..."


"Dah ketahuan siapa orangnya."


Setiap kelas boleh mengirim maksimal dua perwakilan laki-laki dan perempuan. Pandangan semua orang secara otomatis tertuju pada perwakilan nomor 1 dan nomor 2 kebanggaan kelas kami.


──Yukimura Mizuki dan Kashiwagi Kotoha.


Melihat itu, Gotou-kun hanya bisa tersenyum kecut, seolah berkata 'memang sudah seharusnya'.


"Biasanya kita pakai sistem sukarela atau rekomendasi... tapi karena hasilnya sudah jelas, bagaimana menurut kalian, Yukimura-san, Kashiwagi-san?"


Gotou-kun bertanya dengan nada formal sekadar untuk memastikan. Dan mereka berdua...


"Hm."


"Iya... aku akan ikut."


Mizuki mengangguk tanpa terlihat tertarik sedikit pun. Sementara Kashiwagi-san melirik Mizuki sesaat, lalu menunduk lesu seolah-olah sudah menyerah pada nasib. 

Melihat itu, Gotou-kun menghela napas lega.


"Begitu ya. Terima kasih. Kalau untuk perwakilan perempuan sudah diputuskan. Sekarang, untuk laki-laki..."


"Fuh."


Satu makhluk berambut cokelat berdiri dari kursinya sambil menyisir rambut ke belakang. Melihat itu, seluruh kelas melemparkan tatapan dingin nan datar.


"Nggak usah dilanjutin, Ketua. Kau butuh aku, kan?"


Renji mengangkat bahu dengan lagak sok keren. Tatapan seisi kelas yang tadinya hanya lelah, kini berubah menjadi tatapan ingin membunuh.


"A-ah, iya, Miyama ya. Oke, menurutku nggak masalah, tapi yang lain gimana?"


Gotou-kun bertanya dengan ekspresi terpaksa. Para siswa laki-laki pun memasang wajah serupa, bibir mereka melengkung tanda tak puas.


"Yaudahlah, biarin aja."


"Iya. Nyebelin sih, tapi mukanya emang lumayan."


"Asli, nyebelin banget, tapi mau gimana lagi."


Meskipun menggerutu penuh rasa iri, mereka tetap setuju dengan enggan. 


Aku sangat paham perasaan mereka. Rasanya ingin sekali melakukan bantingan seoi-nage pada si bodoh di sebelahku ini yang sedang bergumam, "Jadi laki-laki tampan emang berat ya,". Pasti lega sekali rasanya.


"Baik, satu orang sudah pasti Miyama. Masih kurang satu lagi. Ada yang mau mencalonkan diri?"


......Mendengar itu, kelas mendadak hening. Tidak ada satu pun yang mengangkat tangan. 


Tentu saja. Mencalonkan diri untuk kontes Mister itu sama saja dengan mengumumkan secara publik bahwa "Aku ini tampan". Kecuali untuk karakter spesial tak tahu malu seperti Renji, tidak akan ada orang bodoh yang mau melakukan itu.


Gotou-kun mengangguk paham.


"Hmm, sudah kuduga. Kalau saja aku bisa mencalonkan diri...sayangnya aku nggak percaya diri sama muka sendiri! Jadi, acara mentereng kayak gini mending kuserahkan ke orang lain!"


"......"


Cara dia mengatakannya dengan begitu lantang bahkan terasa mengerikan. Bahkan Renji di sebelahku sampai memasang wajah, "O-oh, oke...". Suasana jadi sedikit canggung. 


Ya, memang matanya sipit dan wajahnya bulat, tapi dia punya daya tarik tersendiri, tidak perlu sampai merendah begitu juga kali. Menyadari suasana yang janggal, Gotou-kun tertawa kecil.


"Apa boleh buat. Kita pakai sistem rekomendasi secara adil. Teman-teman perempuan! Bagaimana menurut kalian?"


Mendengar itu, suara jeritan tertahan (terutama dari para siswa laki-laki) langsung meledak. 

Kau ngomong apa sih!? teriak suara hati kami... termasuk aku.


Bagi siswa laki-laki, tidak ada yang lebih menakutkan daripada penilaian siswi sekelas. Kalau sampai dikritik pedas di sini, reputasi kami tamat selamanya. Ini benar-benar vonis mati secara tidak langsung. Tapi dia mengatakannya dengan begitu santai. 


Karena Gotou-kun sudah menyatakan dirinya "tidak layak", dia otomatis terbebas dari penilaian. Licik sekali. Yah, mungkin dia tidak sengaja melakukannya sih.


"Eeh, gimana yaaa?"


"Di kelas kita ada nggak ya?"


Para siswi mulai mengedarkan pandangan ke arah para siswa dengan senyum jahil yang dibuat-buat. Kami para siswa hanya bisa terdiam sambil berkeringat dingin. Rasanya persis seperti narapidana yang menunggu vonis terakhir. Satu-satunya yang santai cuma Renji, yang sibuk merapikan rambut sambil melihat cermin saku. Sok asik banget.


"Hei, gimana menurut Kashiwagi-san?"


"Eh!? A-aku?"


Kashiwagi-san yang tadinya cuma tersenyum miris melihat nasib kami, tiba-tiba tersentak karena namanya dipanggil.


"Iya! Ada nggak menurutmu yang... mendingan di kelas kita?"


"Me-mendingan ya..."


Kasar banget cara ngomongnya, pikirku sambil merasa bersyukur itu bukan urusanku.


Lalu Kashiwagi-san, yang sedari tadi matanya melirik ke sana kemari dengan gelisah, akhirnya menatapku sejenak dengan ragu-ragu.


(Tunggu, sebentar.)


Kenapa dia melihatku?


Keringat dingin mulai bercucuran deras. Renji menatapku dengan seringai jahil yang membuatku ingin memukulnya.


Tidak, ini salah. Kashiwagi-san, apa yang sedang kamu pikirkan? Tenang, Iori, ini pasti salah paham.


Apa jadinya kalau aku yang maju? Aku hanya bisa melihat masa depan di mana aku akan mempermalukan diri sendiri. Kumohon, apa pun kecuali itu...!


"A-aku, anu, pilih Amano-kun."


──Serius, nih?


Begitu namaku disebut, seluruh tubuhku terasa lemas tak bertenaga. Namun, entah kenapa siswi-siswi lain malah tertawa.


"Tuh kan, bener."


"Sudah kuduga."


Eh, apa-apaan? Maksudnya apa?


Semua orang menatap Kashiwagi-san dan aku secara bergantian sambil senyum-senyum sendiri. 


Melihat Kashiwagi-san yang menunduk dengan wajah merah sampai ke leher, serta para siswi yang menggodanya, aku hanya bisa terpaku 

bingung karena reaksinya sangat berbeda dari bayanganku.


"Amano!?"


"Woi, apa-apaan nih maksudnya!?"


Para siswa laki-laki serentak berdiri hingga kursi-kursi mereka berderit keras. Rasanya mereka siap menerjangku, tapi Gotou-kun langsung bertepuk tangan sekali dengan keras—PANG!


"Tenang! Kita sedang rapat!"


Mendengar itu, semua orang kembali duduk dengan enggan. Tapi setelah itu pun, mereka tetap menatapku dengan mata tajam. 


Hei, memangnya aku salah apa? 


Namun, Renji tiba-tiba menepuk pundakku.


"Wih, selamat ya, Tuan Pesona?" 


Ucapnya dengan nada yang sangat menikmati situasi ini.


"Jangan bercanda," balasku sambil menepis tangannya.


Tapi tunggu. Meskipun ini rekomendasi, keputusan tidak bisa diambil hanya berdasarkan keinginan Kashiwagi-san saja. Kalau siswi lain keberatan, maka...


"Yah, sebenarnya kalau di kelas ini memang cuma Amano-kun sih pilihannya."


"Iya, iya! Ibunya mantan aktris, kan? Wajahnya cakep begitu, pasti masuk kriteria banget!"


......Mendengar percakapan itu, aku membatu.


Kenapa mereka sampai tahu soal ibuku? Renji? Pasti ulah Renji, kan?


Aku menoleh ke samping dan melihat Renji sedang bersiul pura-pura tidak tahu dengan sangat payah. Begitu aku menendang kakinya, dia mengerang pelan.


"Cih, si kutu buku itu. Beraninya dia mengambil Kashiwagi-san kita...!"


"Miyama emang nyebelin, tapi Amano lebih bikin emosi karena dia nggak sadar diri."


Tatapan penuh dendam dari para siswa laki-laki membuat keringat dinginku tidak mau berhenti.


......Eh, apa benar-benar akan diputuskan begini saja? Rasanya suasananya sudah tidak memungkinkan bagiku untuk mengundurkan diri.


"Penilaian subjektif dan objektif itu memang beda ya, baik atau buruknya.” 


"......Renji."


"Sudahlah, terima saja nasibmu, Iori. Ayo kita buktikan kalau kombo aku dan kau adalah yang terkuat di Shirayanagi."


Padahal tadi baru saja mengerang kesakitan, sekarang Renji tertawa lebar seperti bocah nakal. 


Dari kejauhan, Kashiwagi-san menangkupkan kedua tangannya seolah memohon maaf dengan tulus. Para siswi menatap dengan pandangan hangat, sementara para siswa menatap dengan penuh benci. Dan teman masa kecilku, seperti biasa, menatap ke arah sini dengan mata 

yang sulit dibaca emosinya.


Terakhir, Gotou-kun menatapku sambil tersenyum kecut.


"Begitulah situasinya. Gimana, Amano? Mau coba maju?"


Sepertinya, aku sudah tidak punya jalan untuk kabur lagi.


"......Kalau memang tidak apa-apa jika itu aku."


Aku menyerah. Terserahlah apa yang akan terjadi nanti.



"Haaah."


──Sepulang sekolah. Sambil mencuci piring, aku menghela napas panjang.


"Oya, jarang-jarang kamu menghela napas begitu. Ada apa?"


"Manajer."


Manajer toko yang baru saja selesai menghitung kas di mesin kasir berjalan menghampiriku. Gawat. Tidak boleh menghela napas saat bekerja. Aku harus fokus.


"Maaf. Saya agak melamun tadi."


Aku menyesal dan berniat fokus kembali mencuci piring, tapi Manajer hanya tersenyum tipis.


"Bukan bermaksud menegur, kok. Hanya saja, kamu terlihat lebih murung dari biasanya, jadi aku sedikit penasaran."


"Tidak sampai murung juga, sih..."


"Begitukah? Yah, mumpung sedang tidak ada pelanggan, bagaimana kalau istirahat sebentar?"


"Eh, tapi cucian piringnya..."


"Sudah, tidak apa-apa, duduk saja."


Aku dipaksa berhenti mencuci piring dan digiring duduk di kursi bar.


"Hmm, teh Darjeeling saja, ya?"


"Ah, iya."


Lho. Kok rasanya aku malah jadi dipaksa sesi curhat begini? Padahal aku belum bilang apa-apa. Manajer ini terkadang memang suka memaksa dengan caranya sendiri.


Sambil aku merenung, Manajer dengan cekatan menyiapkan teh. Menghangatkan cangkir dan teko dengan air panas, membuang airnya, lalu memasukkan daun teh sesuai takaran. Menuangkan air panas lagi, menutupnya, dan membiarkannya meresap selama satu atau dua menit. Terakhir, dia menyaringnya ke dalam cangkir yang sudah hangat.


Itu adalah cara menyeduh gaya Inggris yang sangat standar. Tapi jika Manajer yang melakukannya, setiap gerakannya terlihat sangat luwes dan indah. Aku pun pernah diajarkan, tapi tidak bisa seanggun itu.


"Ini, silakan."


"Terima kasih."


Aku menerima cangkir teh yang disodorkan. Aroma teh langsung menyebar bersama uap panasnya. Daun teh ini adalah koleksi pribadi Manajer, barang mewah yang diimpor langsung dari luar negeri. Namun, karena dia tidak menggunakan jasa distributor, dia bisa mendapatkannya dengan harga yang lebih murah dari biasanya.


Aku menyesap satu tegukan, lalu tanpa sadar mendesah pelan merasakan aroma dan cita rasanya yang kaya.


"Bagaimana?"


"Enak. Seperti biasanya."


"Begitu ya. Kalau begitu, bisa kita mulai ceritanya?"


Apa maksudnya dengan "kalau begitu"?


Melihat Manajer yang tersenyum lebar, aku menengadah ke langit-langit. Jadi maksudnya karena sudah minum teh, aku harus cerita? Sudah kuduga bakal begini, tapi apa boleh buat. Ini namanya pelecehan teh. Tea Harassment. Te-hara. Istilah baru nih.


Tapi kalau sudah begini, dia tidak akan membiarkanku pulang sebelum bicara. Akhirnya aku menyerah dan dengan enggan membuka mulut.



"──Kira-kira begitu kejadiannya."


Aku meringkas prosesnya dan langsung pada intinya bahwa aku terpilih ikut kontes Mister. Manajer mengelus dagunya dengan wajah tertarik.


"Kontes Mister, ya. Hmm, kedengarannya bagus."


"Bagus dari mananya? Jelas-jelas aku salah tempat di sana."

"Tidak juga, bukankah kamu punya peluang besar? Di kafe ini saja, banyak nyonya-nyonya yang jadi penggemarmu, lho."


"Penggemar......?"


Bukankah itu lebih seperti nenek yang menyayangi cucunya?


Pikirku begitu, tapi tidak kuucapkan. Meskipun orangnya tidak ada di sini, menyinggung soal usia wanita adalah hal terlarang.


"Lagi pula, orang yang merekomendasikanmu itu tadi namanya Kashiwagi-san, kan? Itu nama yang belum pernah kudengar sebelumnya. Berbeda dengan teman masa kecilmu yang sering kamu ceritakan atau temanmu Renji-kun. Wah, sepertinya ada karakter baru ya?"


"Apaan 'karakter baru'."


"Dan tebakanku, dia pasti gadis yang sangat cantik!"


"Bagaimana Manajer bisa tahu hal semacam itu?"


Padahal aku cuma bilang 'teman perempuan'. Aku menatap datar Manajer yang sedang memasang wajah sok tahu. Sebenarnya orang ini siapa sih? Apa dia semacam pembaca pikiran tipe baru?


"Kalau kulihat-lihat, sepertinya gadis itu menaruh hati padamu... tapi apakah kamu punya kesadaran soal itu?"


"......Ya, begitulah, sedikit."


"Hoho? Ho-hooo?"


Manajer mencondongkan wajahnya ke arahku dengan ekspresi penuh arti.

Aduh, ini orang beneran nyeb... ah, ternyata memang nyebelin.


Mulai dari Renji sampai Manajer, kenapa orang-orang di sekitarku semuanya menyebalkan? Apa masalahnya ada di aku? Aku ingat dulu Mizuki pernah bilang, 'Iori itu soalnya agak gampang dipancing sih'. Aku tidak paham maksudnya.


"Sesuai dugaan, kamu memang 'pajangan' andalan kafe ini. Kontes Mister itu ya... aku pasti akan datang menonton."


"Jangan, tolong. Aku mohon dengan sangat memohon."


Harusnya aku tidak cerita. Aku menyesal hanya dalam waktu lima menit setelah bicara. Orang ini sama saja dengan Renji. Dia tertawa puas melihat wajahku yang terdesak.


Tiba-tiba, Manajer menghilangkan senyum jahilnya dan meletakkan cangkir tehnya perlahan ke atas lepek. Bunyi ting yang jernih bergema.


"......Tapi, benar juga. Mungkin ini bisa menjadi kesempatan bagus bagimu."


"Kesempatan, maksudnya?"


"Ini hal yang sudah kupikirkan sejak lama. Kamu ini tipe yang terlalu cepat menyerah pada dirimu sendiri."


Sambil meminum tehnya, Manajer berucap dengan senyum miris. Aku bingung kenapa dia tiba-tiba bicara begitu, tapi Manajer memberi isyarat tangan menyuruhku mendengarkan saja.


"Hidup sesuai porsi, kalau tidak salah itu filosofi hidupmu. Aku tidak bilang itu salah, dan aku setuju di beberapa bagian. Tapi kamu sendiri sebenarnya belum tahu porsimu yang sebenarnya dengan benar."

"......Maksudnya bagaimana?"


"Meskipun hasilnya nanti gagal, setidaknya pengalaman mencoba sesuatu dengan sungguh-sungguh. Aku merasa, kamu belum pernah memilikinya, bukan?"


Ditembak begitu, aku tidak bisa langsung menjawab.......Karena itu benar.


Yah, sebenarnya secara teknis aku pernah sekali. Tapi, sejak "kompetisi itu", aku berhenti mencoba melakukan sesuatu dengan serius. Aku memang berusaha. Tapi itu hanya untuk target yang terasa bisa kucapai. Membedakan mana yang bisa dan mana yang tidak bisa, lalu fokus pada apa yang bisa kulakukan. Tanpa sadar, cara hidup seperti itu sudah mendarah daging.


"Kalau sudah jadi orang dewasa, mau tidak mau kita akan melihat batas kemampuan kita. Tapi, kamu kan masih muda."


Manajer menatapku yang terdiam, lalu melanjutkan bicaranya dengan nada nostalgia.


"──Sesekali mencoba dengan serius, kurasa itu bukan hal yang buruk."


Dia menutup pembicaraan dengan kalimat itu, lalu tertawa sambil berkata, "Cukup sekian campur tangan orang tua ini."


(......Sesekali, dengan serius, ya.)


Apakah aku yang sekarang masih bisa melakukan hal seperti itu? Padahal sudah sekian lama aku tidak pernah berharap apa-apa lagi pada diriku sendiri.


Saat itu, bel kafe berbunyi, dan beberapa pelanggan tetap masuk.

"Selamat datang."


"......Selamat datang."


Melihat itu, aku buru-buru mengubah fokus pikiranku dan kembali bekerja.



"Selamat datang di rumah."


"Ya...... aku pulang."


Setelah selesai kerja sambilan dan sampai di rumah, Mizuki yang mengenakan kamisol dan celana pendek sedang bersantai di sofa ruang tamu. Lengan dan kaki putihnya yang terekspos benar-benar tidak baik untuk kesehatan mataku. Dan anehnya, dia sedang mengemil keripik kentang.


Padahal biasanya dia sama sekali tidak makan makanan seperti itu, entah ada perubahan suasana hati apa. Dan kalau dia yang makan, keripik kentang biasa pun terlihat seperti kudapan mewah kelas atas. Ini sih penipuan publik namanya. Aku sampai heran tidak bisa berkata-kata.


(Jangan makan keripik kentang seolah-olah itu kue financier. Kasihan keripik kentangnya, dia jadi minder.)


Aku melontarkan sindiran aneh itu dalam hati. Mungkin dia pikir aku ingin, jadi dia menyodorkan bungkus keripiknya padaku.


"Nggak mau. Tumben kamu makan itu?"


"Tadi dibagikan di pertokoan, jadi aku ambil saja."


Mizuki sepertinya sudah merasa cukup, lalu melipat bungkusnya jadi dua dan mengikatnya dengan karet gelang yang ada di dekatnya.


"Aku segera masak makan malam ya. Aku sudah beli roast beef tadi."


Saat Mizuki berdiri, aku memiringkan kepala heran.


"Roast beef? Kenapa?"


"Untuk perayaan."


"Perayaan apa?"


Mendengar pertanyaanku, Mizuki tersenyum jahil.


"Partisipasi di kontes Mister?"


"......"


Mendengar itu, aku langsung terkapar lemas di sofa.


(Sial, hidup ini benar-benar tidak bisa dikendalikan, ya.)


Kenapa hidup tidak pernah berjalan sesuai keinginan? Padahal aku hanya ingin hidup tenang dan tahu diri. 


Sambil merasakan kehadiran teman masa kecilku yang terkekeh kecil menuju dapur, aku meratapi ketidakadilan dunia.


──Begitulah, akhirnya aku melahap habis roast beef yang dibeli Mizuki dengan harga yang pasti tidak murah itu. Sambil memegangi perut yang terasa berat, aku terduduk di sofa.


"Kontes Mister, ya."


Aku melamun memikirkannya. Benar-benar harus bagaimana, nih?


Aku sudah membaca sekilas peraturan Kontes Miss-Mister Festival Shirayanagi. Secara teknis, aturannya hanya mengharuskan peserta naik ke panggung dan memberi salam. Tapi... setiap tahun, terutama peserta laki-laki, biasanya melakukan unjuk bakat yang sangat niat.


Waktu unjuk bakat tidak ditentukan secara ketat, tapi disarankan sekitar lima menit. Belakangan ini, para siswi juga mulai ambisius dalam unjuk bakat, dan banyak penonton yang menantikannya. Kalau aku jadi satu-satunya orang yang tidak melakukan apa-apa, aku malah akan terlihat aneh dalam artian yang buruk.


(Sekali lagi, ini hukuman mati buat orang ansos. Apa mereka mau membunuhku?)


Acara seperti ini harusnya dilakukan oleh orang-orang seperti Renji atau gerombolan ekstrovert yang suka keramaian saja. Aku benar-benar berharap tidak dilibatkan. Tapi karena sudah diputuskan, aku tidak punya pilihan lain.


"Memangnya seburuk itu?"


Saat aku terkapar di sofa, Mizuki mengintipku dari atas. Rambut hitamnya yang lembut terjuntai ke sofa dan menyentuh pipiku. 


Aku berusaha menahan detak jantungku yang melonjak karena jarak wajah kami yang terlalu dekat, sambil tetap memasang wajah datar.


"Ya, tentu saja."


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?"


Sudah jelas, kan? 


Aku memalingkan wajah. Hal ini adalah sesuatu yang kupikir tidak akan pernah bersinggungan dengan hidupku. Siapa sangka aku malah harus berpartisipasi dengan cara seperti ini.


"Menurutku, itu bagus kok."


"Apanya?"


"Kontes Mister itu."


Ucap Mizuki sambil tersenyum. Sebelum sempat aku melayangkan protes, gadis cantik di depanku ini menatap mataku lekat-lekat.


"Karena Iori itu keren," bisiknya sambil mengelus pipiku.


Aku merasa seolah tersedot ke dalam matanya yang indah bak karya seni itu. Karena panik, aku mencoba menjauh dan malah terjatuh dari sofa.


"Aduh..."


Mizuki menatapku yang jatuh terduduk dengan wajah heran. Dalam posisi yang memalukan itu, aku menengadah menatap teman masa kecilku.


"Aku... keren?"


"Iya."


"......"


Baru dengar tuh. Sudah belasan tahun jadi teman masa kecil, tapi aku tidak pernah ingat pernah dipuji seperti itu. 

Aku pun menatapnya dengan curiga. Mizuki tertawa kecil, menjauh dari sofa, lalu berjalan menuju sudut ruang tamu.


Di sana ada sebuah benda besar yang keberadaannya sangat mencolok. Mizuki mengelus benda itu dengan penuh kasih sayang.


──Melihat pemandangan itu, aku tiba-tiba teringat.


Ah, benar juga. Dulu sekali, dia pernah mengatakannya padaku.


"Iori, menurutku kamu bukan laki-laki yang payah seperti yang kamu pikirkan."


Sambil berkata begitu, Mizuki menarik kain hitam yang menutupi benda itu. Dengan suara gesekan kain yang kering, benda di dalamnya pun terlihat.


Benda itu adalah──sebuah grand piano yang memancarkan kilau hitam pekat. Sesuatu yang sangat istimewa bagi kami berdua.


(......Ah, begitu ya.)


Aku tertawa getir menyadari alasannya.


"Nee, Iori."


"......Ya."


"Mainkanlah. Sudah lama, kan?"


Sesuai dugaan, dia meminta hal itu. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Mizuki menatapku dengan tatapan penuh harap. 


Sejak kecil, dia selalu merengek dengan tatapan seperti itu. Dan aku tidak pernah sekalipun bisa menolak permintaannya.

"Harus main ya?"


"Iya, harus."


Dia menegaskannya. 'Oh, begitu ya, nggak bisa ditolak,' batinku sambil menyerah dan berdiri.


"......Baiklah."


"Hm."


Dengan enggan aku berjalan menuju grand piano tersebut. Berkat Mizuki yang rajin merawatnya, tidak ada sebutir debu pun di sana. 


Aku membuka penutup tutsnya dan menyentuh kontras antara warna hitam dan putih itu dengan jari.


──Sudah agak lama ya. Terakhir kali aku memainkannya kalau tidak salah dua bulan lalu. 


Aku duduk di kursi piano dan menghela napas pendek. Saat aku menoleh ke ruang tamu, Mizuki sudah duduk manis di kursi sambil tersenyum menatapku. Penontonnya cuma satu. Tapi itu hal yang biasa sejak dulu. Aku tidak punya bakat luar biasa, dan kemampuanku tidak cukup hebat untuk ikut kompetisi. Karena itulah, penontonku selalu hanya satu orang. Tapi, itu sudah cukup bagiku. Lagipula, alasanku bermain piano, pada akhirnya hanya demi teman masa kecilku ini.


Aku meletakkan jari-jariku di atas tuts dengan lembut dan diam, memastikan sensasinya.


(Ya.)


Aku tidak lupa.


Aku membayangkan lembaran musik di dalam kepala, dan merasa lega. Sudah agak lama sejak terakhir kali aku memainkannya, jadi aku sedikit cemas. Tapi sepertinya ini akan baik-baik saja.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memetik nada pertama dengan tenang.


──Lagu yang kupilih adalah, 'Pavane pour une infante défunte' (Pavane untuk Sang Putri yang Telah Tiada).


Karya agung dari musikus kebanggaan Prancis, Ravel.


Bagiku... tidak, bagi kami berdua, ini adalah lagu yang istimewa. Saat SD dulu, aku yang kemampuannya rata-rata dalam belajar maupun olahraga, mati-matian berlatih piano karena ingin menarik perhatian Mizuki. Karena aku bukan tipe yang cepat tangkap, aku gagal berkali-kali. Hingga akhirnya guruku memberikan pengakuan, dan lagu pertama yang kumainkan untuk Mizuki adalah lagu ini.


『──Iori, hebat. Kamu keren sekali.』


Rasa puas dan haru saat pertama kali dia mengatakannya padaku masih tak terlupakan sampai sekarang. Kalau dipikir-pikir lagi, itulah pengalaman sukses pertamaku. Diakui meski hanya sedikit oleh "bunga di puncak gunung" yang tak tergapai. 


Aku masih ingat betul perasaan haru itu. Saking senangnya, aku memainkannya berkali-kali. Dan setiap kali itu pula, Mizuki selalu terlihat gembira.


Sejak saat itu, sesulit apa pun lagu yang sanggup kumainkan, Mizuki pasti selalu ingin mendengar lagu ini. Entah sudah berapa ratus kali aku memainkannya. Sekarang, jari-jariku sudah menghafalnya bahkan tanpa perlu melihat tuts.


Lagu kenangan bagi kami berdua.


"──"


Sambil membiarkan pikiranku melayang ke masa lalu, aku hanya menggerakkan jemariku dengan santai. Hingga akhirnya, aku selesai memainkan nada terakhir. Gema suara merambat di ruang tamu. 


Aku melepaskan kaki dari pedal agar sisa nadanya tidak hilang begitu saja, lalu menghela napas pendek.


Kesalahan... kurasa tidak ada. Meski sudah dua bulan tidak menyentuhnya, ternyata apa yang sudah mendarah daging tidak akan hilang. Suara menghilang dari ruang tamu. Tak lama, terdengar bunyi tepuk tangan kecil... pachi pachi.


Saat menoleh, di sana masih ada dia, satu-satunya penontonku.


"──Suara yang indah."


Mizuki bergumam seperti sedang bicara pada diri sendiri. Padahal dia pasti sudah bosan mendengar permainan pianoku. Tapi setiap kali itu pula, Mizuki selalu memujiku.


Bingung harus bereaksi bagaimana, aku menggaruk pipiku. Mizuki pun tersenyum jahil.


"Tuh kan, beneran keren kok, Iori," ucapnya menggoda.


"Ya... terima kasih."


Aku berdiri karena merasa semakin salah tingkah. Mizuki menatapku dengan wajah heran.


"Lho, sudah selesai?"


"Gantian. Sekarang Mizuki yang main."


"......Aku cuma bisa main lagu yang gampang, lho."


"Nggak apa-apa."


Mizuki sempat tertegun sejenak mendengar ucapanku, lalu mengangguk sambil tersenyum kecut. Aku memberikan kursi padanya dan kali ini giliranku yang menjadi penonton.


Mizuki duduk di depan piano dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang. Rambut hitam panjangnya terurai indah, dan jemarinya yang lentik serta putih diletakkan di atas tuts. Wajahnya yang luar biasa mungil dan cantik itu menatap piano dengan sunyi. Sosoknya benar-benar seperti sebuah lukisan.


......Tapi, lagu yang dimainkannya adalah 'Neko Funjatta' (Kucing Terinjak) yang terdengar kaku. Kontras yang terlalu jauh itu membuatku tak tahan untuk tertawa, dan Mizuki langsung mendelik kesal ke arahku.


"......Jahat banget sih? Kamu sendiri yang nyuruh main."


"Iya, iya, maaf."


Tiba-tiba, aku merasa seolah terlempar kembali ke masa kecil. Mizuki adalah tipe orang yang cepat menangkap segala hal. Kalau dia berlatih serius, dia pasti akan segera melampaui kemampuanku. Namun, gadis ini selalu saja ingin aku yang bermain untuknya. Dan kalaupun dia sesekali bermain, dia akan merajuk karena merasa suaranya tidak sebagus suaraku. Tapi interaksi seperti itu terasa sangat nyaman. Bagi aku yang dulu, itu adalah waktu yang seindah permata.


"...? Ada apa?"


"Enggak."


──Ah, benar juga.


Satu-satunya pengalaman sukses bagi diriku yang kecil. Kalau ada satu hal yang bisa kubanggakan dari diriku...


"Kontes Mister... mungkin aku akan mencoba memainkan sesuatu."


"......Hm."


Karena mungkin hanya piano inilah satu-satunya hal yang pernah dipuji oleh teman masa kecilku ini.



"Baiklah, Saudara-saudara! Pengajuan Maid Cafe kita sudah lolos... lolos... yah, akhirnya beneran lolos juga ya... P-pokoknya, garis besar strategi kita sudah diputuskan! Dengan Yukimura-san dan Kashiwagi-san sebagai ujung tombak, kita akan menarik pelanggan lewat Maid Cafe dan Kontes Miss! Kita semua bertugas mendukung mereka! Mengerti!?"


Sepulang sekolah. Di tengah pengarahan Gotou-kun dalam rapat pleno, sorakan berat khas laki-laki menggema, "UUOOOOOHH!!".


"Ini sih sudah pasti menang!"


"Nggak ada celah buat kalah!!"


"Wahoi, wahoi!" 


Para siswa laki-laki sudah seperti sedang merayakan festival.


Para siswi menatap mereka dengan pandangan dingin, namun mereka menerima dengan enggan sambil bergumam, "Yah, kalau Yukimura-san nggak keberatan sih...".


"Oi! Terus yang paling penting, gimana soal pengadaan baju maid-nya?"


Mendengar pertanyaan salah satu teman sekelas, Renji langsung berdiri tegak.


"Serahkan itu padaku! Aku akan menggunakan semua koneksiku untuk menyediakan baju maid kualitas terbaik! ......Ah, omong-omong, para gadis sekalian? Kalau tidak keberatan, boleh minta ukuran tubuh kalian?"


"Hah?"


"Apa kau bilang?"


"A-ah, lupakan, bukan apa-apa."


Usulan mesum Renji langsung ditumpas habis. 


Urusan baju maid akhirnya diserahkan kepada salah satu siswi yang 

orang tuanya bekerja di industri pakaian.


(Baju maid, ya.)


Tiba-tiba aku teringat percakapan tadi malam.


──Apa kamu tidak keberatan memakai baju maid?


Saat aku bertanya begitu, Mizuki sedikit memiringkan kepalanya.


『Nggak juga. Lagipula Iori bakal senang, kan?』


『Tunggu sebentar. Kenapa jadi aku yang senang?』


『...? Memangnya kamu nggak mau lihat?』


『......Mau sih.』


『Iya, kan.』


Begitulah percakapannya. 


Eh, bukan "iya kan". Apa-apaan ekspresi sok tahu itu.


Setelah itu, ide dekorasi interior dan barang-barang yang perlu dibeli mulai ditetapkan, dan kerangka Maid Cafe perlahan-lahan terbentuk. 


Biasanya kegiatan kelas seperti ini hanya dikerjakan oleh segelintir murid yang ambisius, tapi karena ada "hak istimewa" yang dipertaruhkan ditambah kekuatan kata "Maid Cafe", motivasi para siswa laki-laki melonjak drastis. 


Tak terasa, dalam waktu kurang dari satu jam, sebagian besar hal sudah diputuskan.


"Hmm, tapi sepertinya kita butuh banyak belanja barang. Kita harus bagi tugas beberapa orang untuk pergi..."


Saat pembicaraan sampai di sana, aku langsung mengangkat tangan.


"Gotou-kun."


"Hm? Amano. Ada apa?"


"Boleh aku yang pergi belanja? Sebagai gantinya, aku minta izin untuk pulang lebih awal saat persiapan sepulang sekolah nanti..."


"Fumu?"


Gotou-kun menatapku dengan heran, mungkin karena tidak menyangka aku akan menawarkan diri. Kalau didengar orang biasa, aku mungkin cuma terlihat seperti murid malas yang ingin menghindari tugas persiapan. Tapi sepertinya Gotou-kun menangkap maksud terselubungku.


"Begitu ya. Oke! Kalau begitu, urusan belanja kuserahkan pada Amano."


"A-ah, a-aku juga ikut!"


Tiba-tiba Kashiwagi-san berdiri dan mengangkat tangan.


"Boleh aku bantu juga? Anu, aku juga butuh sedikit waktu luang nanti."


Ucapnya dengan wajah malu-malu dan nada penuh permohonan maaf. Dan alasannya... yah, pasti sama denganku.


Gotou-kun mengangguk maklum atas usul Kashiwagi-san.


"Tentu saja. Tapi, Kashiwagi-san adalah tenaga inti di Maid Cafe. Aku ingin kamu tetap ikut latihan pelayanan setelah dekorasi interior selesai..."


"Ah, iya. Itu nggak apa-apa! Kurasa sebelum itu aku sudah bisa menyelesaikannya."


"Baiklah. Kalau begitu kuserahkan pada kalian berdua."


Aku dan Kashiwagi-san menghela napas lega melihat Gotou-kun yang mengangguk setuju. Ada beberapa orang di kelas yang tampak bingung, tapi sebagian besar sepertinya sudah paham situasinya. 


Tentu saja, termasuk orang ini.


"Apaan nih, Iori. Ternyata kau semangat juga ya," ucap Renji sambil merangkul pundakku dengan seringai jahil.


"Aku sama sekali nggak semangat. Kalau bisa sih nggak usah ikut."


"Heh-heh. Kalau gitu aku juga nggak boleh kalah niat, nih? Sebagai pencetus Maid Cafe, aku harus kerja keras buat persiapannya!"


Dengerin dong kalau orang ngomong, keluhku dalam hati. Tapi Renji hanya terus menyeringai.


Enak ya jadi dia, kelihatan senang terus, batinku sambil menatap jauh ke depan.


"Yah, aku bakal lakuin sebisaku."


Mendengar itu, Renji hanya tersenyum kecut sambil mengangkat bahu.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close