Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 8
Keseharian Tanpa Teman Masa Kecil, dan Melodi Piano
──Setelah berpisah dengan Kashiwagi-san. Tujuan yang kutuju bukanlah rumah. Dua stasiun dari stasiun terdekat rumahku, sebuah kursus piano tempat tinggal Sensei.
Aku merasa bangunan ini begitu akrab. Sebuah rumah tapak dua lantai yang direnovasi, dengan ruang kursus kecil di lantai satu.
Sambil merasakan sedikit nostalgia, aku menekan bel.
“──Iori-kun!”
Pintu segera terbuka, dan aku disambut oleh Tokiko-sensei dengan senyum lebar di wajahnya. Hanya dari wajahnya saja aku sudah tahu. Aku sangat disambut. Rasanya konyol sendiri mengingat betapa aku sempat merasa bimbang.
“Aduh, akhirnya kamu datang juga! Kupikir kamu tidak akan pernah mau datang lagi.”
“Ma, maafkan saya.”
Kepalaku diusap-usap.
Sedikit sakit, sih. Tapi, aku menerimanya dengan pasrah. Ini hukuman...meski bukan juga. Jika ini bisa menjadi permintaan maaf karena telah membuatnya sedih, biarpun sedikit.
“Ayo, masuk, masuk! Ruang kursusnya sudah kubuka.”
Sambil ditarik tangannya, aku mengikuti Sensei masuk ke dalam. Namun──saat melangkah masuk, aku kehilangan kata-kata. Bagian dalam dadaku terasa sesak. Ingatanku berputar kembali ke satu setengah tahun yang lalu.
──Segalanya masih sama seperti saat itu.
Buku cerita bergambar untuk anak-anak. Sofa bermotif zebra yang entah apa maksudnya, dan deretan boneka di rak. Dan juga...
“Ah...”
Tanpa sadar, langkahku terhenti.
Dua buah lukisan yang ditempel di dinding. Keduanya menggambarkan wanita yang sama. Dilukis dengan pensil warna, yang satu tampak amatir, sementara yang satunya lagi luar biasa bagus hingga terasa menyebalkan.
Aku mengingatnya dengan sangat baik.
“Sensei masih menyimpannya ya?”
Mendengar pertanyaanku, Tokiko-sensei memasang wajah merengut.
“Tentu saja. Ini kan harta karun pemberian Iori-kun dan Mizuki-chan saat masih kecil.”
Mendengar kata-katanya, aku menggaruk kepala. Orang ini memang tipe yang bisa mengatakan hal memalukan seperti itu tanpa beban.
“Ayo, silakan masuk.”
Lalu, aku diantar ke sebuah ruangan di bagian dalam. Ruangan tempatku belajar piano selama 10 tahun sejak usia 5 tahun.
“......Permisi.”
“Heh.”
“Eh?”
“Seharusnya, 'Aku pulang', kan?”
“......”
Yah, bagaimana ya. Ini kan bukan rumahku.
Begitu pikirku... tapi, aku tidak bisa mengucapkannya. Rumah kedua. Tempat ini memang sesering itu aku kunjungi hingga bisa disebut demikian. Bahkan di hari tidak ada les, aku dan Mizuki sering datang bermain, lalu disuguhi kue kering buatan tangannya. Kapan pun kami datang, beliau tidak pernah merasa terganggu dan selalu menyambut kami dengan senyuman. Benar-benar seperti anaknya sendiri.
Aku sadar betul bahwa aku dicintai sampai tahap itu. Karena itu, ya.
“......Aku pulang.”
“Iya, selamat datang kembali.”
Pasti, ini adalah jawaban yang benar.
Sensei menatapku dengan mata yang lembut saat aku menggaruk kepala untuk menutupi rasa malu.
......Setelah masuk ke ruang kursus, aku duduk di depan piano. Ruangan ini pun masih sama seperti saat itu. Wallpaper, gorden, furnitur, tidak ada yang berubah. Ditambah lagi...
“Kursi itu juga masih diletakkan di sana ya.”
Di sudut ruangan, sebuah kursi kecil diletakkan sendirian. Tidak perlu ditanya itu kursi siapa.
“Iya. Fufu, Mizuki-chan waktu itu sangat imut ya. Dia selalu duduk diam di sana sambil terus memperhatikan Iori-kun yang sedang bermain piano.”
“......Yah, hal itu sudah tidak ada lagi sejak kami masuk SMP.”
“Lho, tapi saat SMP pun dia sering mampir ke sini, tahu? Terutama di hari-hari saat Iori-kun tidak datang.”
“Eh, benarkah?”
“Iya. Yah, meskipun topik pembicaraannya selalu tentang Iori-kun. Seperti menanyakan kabarmu, dan sebagainya. Kamu benar-benar dicintai ya, Iori-kun.”
“......Bukan seperti itu kok.”
Karena tidak tahu harus menjawab apa, aku mengangkat penutup piano dengan hati-hati.
Aku mengambil kain merah anti debu di dalamnya, melipatnya, lalu meletakkannya di atas meja samping di sudut ruangan. Aku mengusap tuts piano dengan jari seolah ingin memastikannya, lalu bersiap untuk bermain. Tapi sebelum itu, ada hal yang harus kukatakan.
“──Sensei.”
“Iya. Ada apa?”
“Bisakah... mengajari saya piano lagi?”
Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Ruang kursus yang kutinggalkan begitu saja demi keegoisanku sendiri. Guru yang telah kubuat sedih. Tapi orang yang bisa kuandalkan soal piano, tetap saja hanya orang ini.
“......”
Tokiko-sensei tidak mengatakan apa-apa.
Sejujurnya, aku merasa beliau akan langsung mengangguk setuju. Karena itu, keheningan ini membuatku merasa cemas tanpa sadar.
“......Iori-kun. Sebelum aku menjawab, boleh aku bertanya satu hal?”
“Ya?”
“Kenapa kamu berpikir ingin bermain piano lagi?”
Mendengar kata-katanya, aku mengangkat wajahku. Pandanganku bertemu dengan tatapan serius dari Sensei.
(Ah... begitu ya.)
Aku langsung memahami maksud Sensei hanya dengan melihat matanya. Beliau khawatir. Beliau takut aku akan terluka lagi, sama seperti saat kompetisi itu. Namun, tekadku sudah bulat. Karena ini pun, pasti merupakan sesuatu yang harus kulakukan.
“Aku ingin mencoba sekali lagi.”
“Mencoba apa?”
“Mencoba diriku sendiri. Karena kalau bukan sekarang, aku merasa tidak akan pernah bisa mencapainya lagi.”
Mendengar itu, Tokiko-sensei memiringkan kepalanya. Mungkin kata-kataku sedikit terlalu berbelit. Tapi, memang begitulah adanya. Manajer bilang aku terlalu cepat menyerah. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Karena itulah, aku ingin membuktikannya.
“Apakah Sensei masih ingat? Saat aku gagal di kompetisi dulu.”
“......Iya, aku selalu mengingatnya.”
Sensei menundukkan pandangan. Beliau pasti merasa lebih bertanggung jawab atas kegagalan itu dibanding siapa pun. Itulah sebabnya saat aku bilang ingin berhenti piano, meski beliau mencoba menahan, beliau tidak pernah memaksaku. Beliau hanya tersenyum sedih sambil berkata, "Datanglah lagi kapan saja."
“Di festival budaya nanti, aku ingin memainkan 'Moonlight'.”
Mata Sensei membelalak seketika.
“Jika aku bisa menebus kegagalan itu... kurasa, aku bisa mulai berharap lagi pada diriku sendiri.”
Aku tidak pernah berharap pada diriku sendiri. Tidak mengejar sesuatu yang terlalu tinggi. Aku hanya memilih hidup dengan menetapkan target yang sekiranya sanggup kuraih. Aku memilih jalan hidup seperti itu. Tapi kalau terus begitu... hal yang paling kuinginkan tidak akan pernah bisa kugapai.
Seberapa pun aku mencoba berbohong pada diri sendiri, aku sadar bahwa aku tidak bisa menahan perasaan ini.
“Aku butuh sebuah pemicu. Satu saja tidak apa-apa. Aku butuh bukti agar bisa memercayai diriku sendiri.”
Cara hidup yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun tidak akan berubah begitu saja. Untuk menghancurkannya, aku butuh sebuah dorongan besar.
“Jika, di festival budaya ini, aku berhasil memainkan 'Moonlight' sampai tuntas......”
Aku menghentikan kata-kataku di sana. Kalimat selanjutnya masih belum sanggup kuucapkan. Toh, semuanya masih berupa pengandaian. Tapi yang pasti, ini adalah kesempatan terakhirku.
“......Begitu ya.”
Setelah selesai mendengarkan, Sensei bergumam pelan seolah menyadari sesuatu.
“Duh. Kalau kamu bicara begitu, aku jadi tidak tega untuk menolak, kan?”
Berbanding terbalik dengan kata-katanya, Sensei tersenyum dengan wajah yang tampak sangat bahagia.
“Jadi?”
“Iya, tentu saja. Dengan senang hati aku akan membantumu, jika itu aku orangnya.”
Mendengar itu, aku menghela napas lega.
“Terima kasih banyak. Ah, soal biaya lesnya...”
“Tidak usah. Tidak perlu.”
Aku sebenarnya sudah membawa uang tabungan yang kukumpulkan sedikit demi sedikit. Tapi Sensei menggelengkan kepala.
“Nanti saja kalau Iori-kun sudah dewasa dan sukses, kamu bisa membayarku kalau sudah kaya.”
“......Haha.”
Sepertinya gertakan anak kecil sepertiku sudah terbaca olehnya. Aku menggaruk kepala.
“Bagiku pun, kompetisi waktu itu adalah sesuatu yang tidak memuaskan. Jadi, supaya hal itu tidak terulang lagi, aku akan mengajarmu lebih keras dari sebelumnya, oke?”
“Eh?”
Lho, tunggu sebentar, Sensei. Beneran serius?
Kelembutan yang biasanya ada mendadak hilang, digantikan dengan tatapan tajam yang membuat wajahku refleks menegang. Tapi ya sudahlah, memang itu yang kuinginkan. Mengharapkan didikan keras adalah tujuanku ke sini. Begitulah aku meyakinkan diri sendiri.
“Mari kita lihat. Minimal kamu harus berlatih 7 jam sehari. Selain untuk makan, mandi, buang air, dan sikat gigi, jangan harap bisa istirahat ya?”
“Eh.”
......Sepertinya selama 3 minggu ke depan, aku harus membuang kehidupan normal sebagai manusia.
"Mari kita mulai dengan menutupi kekosongan latihanmu selama seminggu ini ya."
Ucap Sensei dengan riang sambil mulai membalik halaman buku musik. Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah yang kaku.
◇
“......Aku pulang.”
Setelah itu, aku menerima gemblengan dari Sensei yang begitu bersemangat seolah-olah sedang melatihku untuk masuk ke turnamen Koshien. Aku baru dibebaskan saat waktu sudah melewati pukul sembilan malam.
(Ca-capek banget......)
Beliau benar-benar tidak kenal ampun, keluhku sambil mendesah. Memang aku bersyukur, tapi membayangkan akan terus seperti itu sampai hari festival nanti, aku jadi khawatir apa aku bisa bertahan sampai akhir.
Sambil meremas-remas jemariku yang gemetaran dan berkedut, aku membuka kunci pintu rumah. Yang menyambutku hanyalah keheningan tanpa orang dan udara yang dingin. Sosok teman masa kecilku yang biasanya selalu ada di sana, kini telah tiada.
(......Aku harus mulai terbiasa dengan ini.)
Suara pisau yang memotong sayuran, aroma sup miso yang hangat, semuanya sudah tidak ada. Seolah-olah semuanya hanyalah mimpi di siang bolong. Warna dari gadis itu telah menghilang dari dalam rumah.
“......”
Dosari. Aku melemparkan tas ke sembarang tempat dan duduk di sofa. Tidak ada suara. Tidak ada sapaan. Perutku lapar, tapi tentu saja tidak ada masakan yang tersedia. Karena aku sudah tahu tidak akan punya tenaga untuk memasak, makan malamku hari ini hanyalah bento yang kubeli seadanya.
Aku tertawa kecut, merasa seperti karyawan kantoran yang diperbudak perusahaan.
(Teh dan salad...... sudahlah, nggak usah.)
Memotong atau menyobek sayuran saja rasanya sangat melelahkan.
"Hup," aku mencoba mengangkat tubuhku yang terasa berat dan bangkit dari sofa. Aku menuju kulkas, mengambil teh gandum dingin, lalu menuangkannya ke gelas.
“Selamat makan.”
Aku membuka bento yang sudah kuhangatkan di microwave, lalu menangkupkan tangan sebagai formalitas. Setelah suapan pertama... aku refleks mengerutkan dahi. Rasa bumbu yang tajam dan tidak elegan. Penuh dengan penyedap rasa, garam, dan gula yang sama sekali tidak memikirkan kesehatan orang yang memakannya. Tidak ada kasih sayang, tidak ada kehangatan. Masakan yang hanya terasa panas, tapi dingin di dalam.
"Tidak enak......"
Tanpa sadar kata-kata itu terucap. Tapi mau bagaimana lagi. Makan malamku hari ini hanya ini.
Aku memasukkannya ke mulut hampir seperti sebuah tugas mekanis. Mengunyah, lalu menelannya begitu sudah bisa ditelan. Aku mengguyur minyak dan sausnya dengan teh gandum, bahkan berharap agar ini cepat selesai.
......Apakah makan itu memang hal yang sehambar ini?
『──Enak, Iori?』
Sosok yang menanyakan hal itu dengan wajah bahagia kini tidak ada di mana pun. Di meja makan tanpa suara dan tanpa kehangatan ini, aku sendirian, hanya memasukkan benda ke mulut demi bertahan hidup. Itu hal yang wajar. Siapa pun yang hidup sendiri pasti merasakan hal yang sama.
Ya...... selama ini saja aku yang terlalu dimanjakan.
"......Terima kasih atas makanannya."
Setelah perut terisi dan asupan nutrisi seadanya terpenuhi, aku berdiri. Sekarang jam 10. Setelah mandi, aku masih bisa berlatih piano sekitar dua jam lagi sebelum tidur.
──Kontes Mister. 'Moonlight'.
Simbol kegagalanku, dan tantangan satu-satunya dalam hidupku.
(Sekarang, pikirkan itu saja.)
Sambil menatap kursi kosong di hadapanku, aku meyakinkan diri sendiri.
◇
"──Hmm. Jadi kamu ingin libur kerja paruh waktu untuk sementara, ya?"
"Iya. Maaf karena mendadak."
Keesokan harinya. Sabtu. Aku mampir ke 'Nocturne' dan membungkuk kepada Manajer. Aku meminta izin untuk libur selama 3 minggu tersisa demi persiapan Kontes Mister di festival budaya.
Awalnya ini adalah kedai yang dikelola Manajer sendirian. Kurasa meskipun aku tidak ada, kedai ini tetap bisa berjalan. Namun tetap saja, aku merasa bersalah karena menambah beban Manajer. Tapi Manajer tersenyum lebar dan mengangguk.
"Tidak apa-apa. Aku tahu situasinya, dan yang terpenting, akhirnya kamu memutuskan untuk bergerak juga."
"Ugh."
Manajer menatapku dengan mata yang lembut, seolah bisa melihat tembus ke dalam hatiku. Itu adalah tatapan orang dewasa yang sarat pengalaman. Sama seperti Sensei, aku kurang mahir menghadapi tatapan seperti itu. Melihatku yang salah tingkah, Manajer bertanya dengan nada menggoda.
"Apakah ini demi gadis itu?"
"......Iya."
Aku sudah tidak punya niat untuk menyembunyikannya lagi. Saat dia datang ke kedai tempo hari, sepertinya Manajer sudah bisa menebak semuanya.
Manajer mengangguk-angguk, entah kenapa tampak senang.
"Begitu ya. Memang butuh keberanian besar untuk mendekati gadis itu. Dengan aura keberadaannya yang seperti itu, siapa pun pasti akan merasa minder, bukan cuma kamu."
Aku hampir saja mengangguk setuju dengan mantap. Benar sekali. Kenapa juga orang seperti itu harus jadi teman masa kecilku.
"Meskipun begitu, kamu memilih untuk menantang diri. Bagus, begitu dong! Memang harus begitu mumpung masih muda! Dulu waktu aku mahasiswa, aku juga pernah menyatakan cinta pada senior tercantik di kampus dan berakhir ditolak mentah-mentah."
"......"
'Lah, ditolak toh,' celetukku dalam hati. Cerita yang sama sekali tidak memotivasi. Tapi, mungkinkah realitanya memang seperti itu?
"Saya juga cuma modal nekat, kok."
Aku tidak punya peluang menang. Meskipun seandainya aku bisa memainkan 'Moonlight' dengan sempurna, kurasa tidak akan ada yang berubah secara drastis.
Jadi, ini lebih ke arah penyelesaian masalah pribadiku. Apa pun hasilnya nanti, ini adalah hal yang perlu kulakukan agar aku bisa melangkah maju. Namun mendengar kata-kataku, Manajer terdiam dan melipat tangan.
"Yah, siapa tahu...... kurasa taruhan ini tidak seburuk itu, lho."
"Eh?"
"Bukan apa-apa. Jadi, apa yang akan kamu lakukan di Kontes Mister nanti?"
Ditanya begitu, aku ragu sejenak. Sejujurnya aku tidak terlalu ingin mengatakannya. Tapi karena aku sudah minta libur, kurasa sudah sewajarnya aku memberitahu alasannya.
"Saya berencana... main piano."
"Piano?"
Mata Manajer membelalak. Sepertinya dia benar-benar terkejut.
"Kamu bisa main?"
"Ya, setara orang kebanyakan lah."
"Wah, aku tidak tahu itu. Harusnya bilang dari awal dong."
Manajer terkekeh, tampak semakin menantikan festival itu.
Sial. Dia enak cuma jadi penonton. Padahal perasaanku saat ini sudah seperti mau berangkat perang.
Manajer tersenyum semakin lebar melihatku yang merengut, seolah ingin bertanya 'apa kamu paham perasaan anak kuper yang harus naik ke panggung utama?'.
"Tapi begitu ya. Tentu saja aku mendukungmu. Jangan cemaskan soal pekerjaan di sini."
"Iya. Terima kasih banyak."
Aku membungkuk. Ada rasa bersalah, tapi untuk sekarang aku akan menerima kebaikannya. Percakapan sempat terhenti. Tadinya aku ingin langsung pamit karena sudah menyampaikan tujuanku datang ke sini. Tapi Manajer tiba-tiba mengerutkan dahi, memasang wajah yang tampak serius.
"Manajer?"
"Ah, maaf. Hanya saja, kalau begitu...... aku jadi mengkhawatirkan hal lain."
"Khawatir?"
"Tentang teman masa kecilmu itu."
Teman masa kecil? Mizuki?
Manajer tampak ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Aku hanya melihatnya sekali, tapi...... bagaimana ya, ada sesuatu yang terasa janggal."
"Janggal?"
Saat aku memiringkan kepala, Manajer mengelus dagunya.
"Mungkin bisa dibilang dia terlalu sempurna. Biasanya gadis seusianya pasti punya sisi yang agak labil atau kekanak-kanakan...... tapi pada dirinya, aku sama sekali tidak merasakan hal itu."
"......Itu, memang sih."
Benar juga. Dia memang punya pembawaan yang dewasa.
Apa maksudnya?
Di tengah rasa heranku, Manajer justru membuang muka dan berkata:
"Sejujurnya, menurutku dia bukan seperti siswi sekolah pada umumnya.....Kalau boleh bicara kasar, dia bahkan terasa...mengerikan."
Manajer mendadak memasang wajah serius dan mengucapkannya dengan nada yang sangat tajam.
"Saya tidak begitu mengerti maksudnya."
"Yah, kurasa begitu. Ah, maaf. Aku bicara yang aneh-aneh. Jangan dipikirkan."
Melihatku yang memiringkan kepala kebingungan, Manajer langsung memutus pembicaraan itu. Setelah itu, Manajer tidak menjelaskan lebih lanjut. Akhirnya aku meninggalkan kedai tanpa benar-benar paham apa yang ingin dia sampaikan.
(Mengerikan, ya?)
Dalam perjalanan pulang setelah meninggalkan tempat kerja paruh waktu, aku terus merenungkan kata-kata Manajer di dalam kepala.
Mizuki itu menakutkan. Sejujurnya aku juga merasa sulit memahaminya, tapi kalau diingat-ingat, sebelumnya pun...
『──Setiap kali mataku bertemu dengannya... aku selalu merasa takut.』
Kashiwagi-san juga pernah mengatakan hal yang serupa. Kecantikan yang seolah bukan manusia, atau karisma yang dipuja teman-teman seangkatan—itu memang bisa dibilang menakutkan, atau lebih tepatnya tidak normal. Tapi, kurasa bukan itu maksudnya.
Apakah ada sesuatu dalam diri Mizuki yang tidak bisa kupahami?
(Tidak......)
Lagipula, sebenarnya apa yang kutahu tentang teman masa kecilku itu? Meski kami selalu bersama, sosoknya terasa samar seperti bulan yang terus berubah fase. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Dan...... kesempatan untuk memahaminya pun akan segera hilang.
(Benar-benar teman masa kecil yang merepotkan.)
Andai saja dia orang yang lebih sederhana. Tapi percuma saja mengeluh sekarang. Apa yang harus kulakukan tidak berubah.
Kontes Mister. Moonlight.
Sekarang, aku akan mengerahkan seluruh tenagaku di sana. Soal apa yang terjadi setelahnya...... biarlah kupikirkan setelah semuanya selesai. Aku memutus aliran pikiranku, lalu hari ini pun aku kembali menuju tempat Sensei yang kini telah berubah menjadi guru dari neraka.
◇
──Lalu, 1 minggu berlalu.
"O-oi Iori...... kau nggak apa-apa?"
"Nggak...... aku nggak apa-apa."
Sambil terkapar di atas meja kelas, aku mengeluh pada Renji tanpa punya tenaga lagi untuk berlagak kuat.
Sekarang, hanya sekolah yang menjadi satu-satunya tempatku beristirahat. Ah, siapa sangka suatu hari nanti aku akan merasa sekolah adalah tempat penyembuhan. Kata-kata guruku yang tersenyum lembut terngiang di benak.
『──Dengar, Iori-kun? Sensei ini tipe orang yang hanya menerima akhir bahagia dalam cerita cinta, tahu?』
『Eh?』
『Karena itu, bagaimanapun caranya, Ibu ingin Iori-kun bersatu dengan Mizuki-chan. Demi hal itu, Ibu tidak keberatan mendorong murid kesayangan Ibu ini ke dasar jurang sekalipun.』
『A-anu, kok kedengarannya mengerikan ya?』
『Pokoknya, dalam seminggu ini, ayo kita kembalikan kemampuanmu sampai ke level kompetisi yang dulu.』
『......』
Singkat cerita, aku melihat neraka.
Tokiko-sensei yang telah menghapus kata "ampun" dari kepalanya memberiku latihan gila-gilaan. Dengan lingkungan latihan yang luar biasa kejam di mana aku baru pulang saat kereta terakhir hampir berangkat, jemariku benar-benar berhasil mendapatkan kembali sensasi masa lalu hanya dalam satu minggu.
Ini sih namanya sudah seperti menggunakan doping.
Sebagai ganti dari percepatan waktu itu, stamina dan mentalku sudah mendekati batas. Dan ini masih akan berlanjut dua minggu lagi.
"Heh...... kau sebenarnya lagi ngapain sih?"
"......Rahasia."
Aku menjawab Renji yang menatapku dengan rasa heran bercampur ngeri itu dengan sedikit keras kepala.
Kalau sudah begini, pokoknya aku harus membuat kejutan di hari-H nanti. Kalau tidak begitu, semua perjuangan ini tidak akan sebanding.
Aku nggak boleh gagal setelah melakukan sejauh ini. Perasaan itu mulai tumbuh dalam diriku.......Atau mungkin, itulah yang memang direncanakan oleh Sensei. Dan ada satu orang lagi yang memiliki sorot mata tertekan sepertiku.
"Ka-Kashiwagi-san? Matamu kok ada kantung matanya begitu......? Kamu nggak apa-apa?"
"Eh, ah...... iya. Aku nggak apa-apa kok."
Kashiwagi-san menjawab teman-teman perempuannya dengan tatapan kosong dan suara tanpa nada. Suasana lembut dan tenang yang biasanya ada padanya telah hilang, digantikan dengan raut wajah yang suram hingga membuat siswi di sekitarnya merasa ciut.
(Ternyata di sana juga ya.)
Tepat saat aku memikirkan itu, Kashiwagi-san menoleh.
Mata kami yang sudah kelelahan bertemu. Seolah saling mengerti, kami bertukar senyum kecut.
Setidaknya semoga kita bisa bertahan sampai festival budaya nanti.
Mungkin kami berdua memikirkan hal yang sama. Dan saat itulah.
──Grak. Suara pintu terbuka.
Secara alami aku menoleh ke arah sana.
"Ah, Yukimura-san!"
Mizuki masuk ke dalam kelas. Begitu dia terlihat, para siswi langsung mengerumuninya. Pemandangan yang biasa. Namun tiba-tiba, mataku bertemu dengan Mizuki yang sedang melihat ke arah sini.
"......"
Tatapan mata kami hanya bersinggungan sekejap. Mizuki segera membuang muka dan kembali mengobrol dengan teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa. Itu adalah jarak yang seharusnya ada di sekolah. Tanggapan yang sewajarnya.
Melihat jarak yang dekat namun terasa jauh itu, aku tanpa sadar tertawa getir.
──Seandainya saja kita bukan teman masa kecil.
Pasti aku tidak akan pernah merasa janggal dengan jarak seperti ini.
◇
“──Ya, syukurlah akhirnya selesai tepat waktu.”
2 minggu kemudian. Hari terakhir sebelum festival budaya.
Setelah aku memainkan nada terakhir, Tokiko-sensei mengangguk dengan puas. Bermain tanpa kesalahan itu sudah biasa.
Pertanyaannya, apakah aku punya cukup ruang untuk memasukkan intonasi dan ekspresi di dalamnya?
Hanya dalam 3 minggu. Dalam waktu sesingkat itu, 'Moonlight' milikku sudah terbentuk dengan sempurna.
Hari-hari yang kulewati terasa seperti neraka, tapi sepertinya membuahkan hasil.
“Terima kasih banyak, Sensei.”
Aku melepaskan jemari dari tuts piano dan membungkuk dengan tulus. Namun, Sensei justru menegurku dengan tegas.
“Ini belum selesai, tahu? Jangan lengah sampai kamu benar-benar memainkannya di festival nanti.”
“Baik.”
“Bagus. Kalau begitu, les hari ini sampai di sini. Sekarang pulanglah dan istirahat yang cukup.......Jangan coba-coba latihan membabi buta hanya karena merasa cemas, itu malah akan jadi bumerang, mengerti?”
Beliau memberiku peringatan keras.
Ah, aku memang tipe yang bakal melakukan itu, pikirku sambil mengangguk. Melihat itu, Sensei pun tersenyum dan mengangguk balik.
“Kamu sudah berjuang keras sampai hari ini. Pasti berat, kan?”
“Ya, begitulah.”
Hanya tawa kering yang keluar dari mulutku.
Ah, benar-benar berat. Sampai-sampai aku merasa sangat menghormati orang-orang yang menekuni piano secara profesional. Memang aku tidak akan pernah bisa menjadi seorang profesional. Aku menyadari hal itu sekali lagi.
“Iori-kun.”
“Ya?”
“Semoga... perasaanmu bisa tersampaikan dengan baik ya.”
“......Iya.”
Aku tersenyum kecut melihat Sensei yang masih saja suka ikut campur sampai akhir, lalu aku membungkuk dan meninggalkan ruang kursus.
Setelah semuanya selesai, aku akan datang ke sini lagi. Apa pun hasilnya nanti.
(Besok, ya.)
Dalam perjalanan pulang, aku merasakan perasaan yang aneh—tenang dan datar, seperti laut tanpa ombak. Aku sudah melakukan semua yang kubisa. Sisanya tinggal kutumpahkan di hari-H nanti.
Jika gagal...... ya sudahlah.
Aku merasa sudah berjuang cukup keras hingga bisa bersikap pasrah
seperti itu. Tubuhku memang sangat lelah, tapi rasanya hidupku terasa sangat bermakna.
Lalu, saat rumahku mulai terlihat.
“......?”
Di sebelah rumahku. Di depan rumah Mizuki, aku melihat sebuah mobil mewah terparkir.
(......Mobil itu.)
Merasa pernah melihatnya, aku menghentikan langkah. Kemudian, 2 orang wanita keluar dari rumah Mizuki.
Salah satunya adalah Mizuki. Dan yang satunya lagi...
(Ternyata benar, orang itu...... dia sudah pulang ya.)
Seorang wanita cantik bertubuh tinggi yang memberikan kesan dingin. Ibunya Mizuki.
“──Kalau ada apa-apa, hubungi saja.”
“Iya.”
Percakapan singkat itu terdengar olehku. Dan tepat sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil...
“......?”
“...!”
Mungkin karena menyadari ada yang memperhatikan, dia menoleh ke arahku.
Sepasang mata tajam tanpa kehangatan itu menangkap sosokku.
“......”
Namun, dia segera membuang muka seolah tidak tertarik, lalu masuk ke mobil dan pergi begitu saja.
Setelah melihat mobil itu menghilang, aku mengembuskan napas pelan.
(Masih sama seperti dulu, ya.)
Aku mengenalnya sejak kecil, tapi sepertinya dia memang tidak tertarik padaku.
Tidak, kalau cuma padaku sih masih mending. Sejak dulu, orang itu...... bahkan bersikap dingin kepada Mizuki, putri kandungnya sendiri.
“Iori?”
“...!”
Tiba-tiba dipanggil membuatku refleks tersentak kaget. Tahu-tahu Mizuki sudah berada sangat dekat denganku....... sudah lama sekali aku tidak melihat sosoknya di luar sekolah. Padahal belum lama ini, tidak ada satu hari pun terlewati tanpa melihat wajahnya.
“......Shizuka-san sudah pulang ya.”
“Iya.”
Yukimura Shizuka.
Meski aku menyebut nama ibunya, jawaban Mizuki terasa sangat datar. Mizuki pun sepertinya tidak memiliki ketertarikan pada ibunya sendiri. Begitulah kelihatannya.
“Iori baru pulang?”
“Iya.”
“Begitu ya.”
Dia tidak bertanya apa yang kulakukan selama ini. Mungkin dia sudah tahu,atau kalaupun tidak tahu, dia merasa tidak perlu menanyakannya.
“Kalau begitu...”
Sekarang kami tidak lagi pulang bersama. Jadi, saat aku hendak meninggalkan satu kata untuk masuk ke rumah.
“──Kamu sedang berjuang keras latihan piano ya.”
Suara gumaman pelan itu terdengar. Nada suaranya entah kenapa terasa dingin dan hambar.
Ternyata ketahuan juga. Tapi ya, wajar sih. Kalau rumahnya di sebelah, suaranya pasti terdengar.
Aku berbalik dan menatap mata Mizuki.
“Sudah telanjur, aku nggak bisa mundur sekarang.”
Gotou-kun dan teman-teman sekelas sudah memberiku banyak kemudahan. Aku sudah libur kerja paruh waktu, dan sudah dibimbing oleh Tokiko-sensei. Tidak mungkin aku mundur setelah sejauh ini.
Mendengar perkataanku, Mizuki menggelengkan kepala dengan tenang.
“Bukan itu.”
“......?”
“Kalau Iori mau berhenti, biar aku yang bilang ke mereka,” ucapnya dengan suara yang tenang.
Tanpa keraguan sedikit pun, begitu datar.
──Jika dia yang bicara, semua orang pasti akan setuju.
Dia meyakini hal itu tanpa ragu.......dan itu adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Jika seorang "Yukimura Mizuki" berkata tidak, maka hitam pun bisa berubah menjadi putih.
Begitulah besarnya pengaruh yang ia miliki. Tapi...
(Berhenti dari Kontes Mister, ya.)
Begitu dia mengatakannya, aku baru menyadarinya. Padahal selama ini aku sangat membencinya. Tapi sekarang, aku bahkan tidak terpikir untuk berhenti.
......Yah, aku masih merasa tidak pantas, dan masih bertanya-tanya kenapa harus aku. Meski begitu, aku tidak berniat untuk menyerah.
“Aku akan tetap ikut.”
Mendengar kata-kataku, ekspresi Mizuki tidak berubah. Dia hanya menatapku dengan mata yang tenang layaknya permukaan air yang teduh.
“Begitu ya.”
Sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa membaca apa pun dari nada suara Mizuki.
Apakah dia merasa heran? Atau malah marah? Aku sendiri sadar kalau ini memang tidak seperti diriku biasanya. Tapi, ini pasti karena...
『──Kurasa tidak ada salahnya mencoba dengan sungguh-sungguh, setidaknya sekali.』
Sepertinya salahku sendiri karena terlalu memasukkan kata-kata itu ke dalam hati.
“Mizuki.”
Saat aku memanggil namanya, Mizuki sedikit memiringkan kepalanya. Bahkan gerakan sekecil itu pun terlihat begitu indah sampai membuatku kesal.
“Soal piano di Kontes Mister nanti. Aku ingin Mizuki mendengarkannya.”
Begitu aku mengatakannya, Mizuki menatapku dalam diam dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu dia sedikit membuka mulutnya... seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkannya.
“Iya, aku mengerti.”
Setelah terdiam sejenak, dia mengangguk dan berbalik arah.
Aku terus memperhatikan punggungnya sampai dia menghilang di balik pintu rumah sebelah.
(Begini sudah benar, kan?)
Sudah terlambat untuk mundur. Aku akan melakukan apa yang aku bisa.
Setelah itu berakhir, maka selanjutnya...
Aku membuka kunci dan memutar gagang pintu rumahku.......kembali ke rumah yang berbeda satu sama sama lain. Aku masih belum bisa terbiasa dengan kejanggalan ini.



Post a Comment