NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to, Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken V1 Chapter 7

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 7

Seragam Maid

"──Jadi, gimana progresnya?"


Poko-poko. Terdengar suara air mendidih yang menenangkan.


Keesokan harinya di sekolah. Sepulang sekolah. Persiapan memang masih setengah jalan, tapi karena kami memutuskan untuk melakukan simulasi, aku sekarang sedang menyeduh teh di laboratorium yang rencananya akan disulap menjadi dapur.


"Progres?"


"Ya apalagi kalau bukan Kontes Mister-mu itu?"


"Oh, itu."


Aku mengabaikan Renji yang datang hanya untuk menggoda, membuang air panas yang tadinya dipakai untuk menghangatkan cangkir, lalu menuangkan tehnya.


Sebenarnya tidak perlu mengikuti prosedur serumit ini. Toh, tidak akan ada yang peduli dengan rasa tehnya. Fokus utama mereka adalah para pelayan maid, teh hanyalah pelengkap yang bahkan nilainya di bawah pajangan. Meskipun tahu begitu, aku tetap tidak bisa mengerjakannya asal-asalan... mungkin ini harga diri sebagai pelayan kedai kopi.


"Masih dalam tahap berjuang, kurasa."


"Yah, gitu doang? Lagian, kasih tahu dong kau mau nampilin apa. Kalau aku penasaran terus sampai kurang tidur gimana? Itu musuh besar kecantikan, tahu."


"Kau perempuan kah?"


Kecantikan. 

Kalau dipikir-pikir, Mizuki juga pernah bilang kalau dia selalu tidur tepat jam 12 malam. Mungkin itu rahasia di balik kecantikannya yang luar biasa itu.


"Bukan sesuatu yang hebat kok."


Aku menyerahkan teh yang sudah jadi kepada siswi yang datang mengambilnya. Jarak dari sini ke kelas agak jauh. Aku harus memperhitungkan agar tehnya tidak keburu dingin saat dibawa ke sana.


"Heh~. Tapi ya, aku pribadi sih seneng. Akhirnya kau mau berdiri di panggung utama. Rasanya kayak... mengharukan gitu."


"Mengharukan?"


Sambil mengisi air lagi ke teko lain, aku meladeni ocehan Renji. Melihatku yang hanya mendengarkan setengah hati, Renji mengangguk-angguk sok dramatis.


"Sahabatku yang biasanya galau terus, akhirnya mantap juga buat bertindak. Ini mah namanya perayaan besar!"


"Apaan sih."


"Tapi dengan begini, akhirnya lo berada di posisi yang sama kayak aku. Duo laki-laki tampan Shirayanagi, ayo kita berjuang!"


"Berhenti deh. Kalau kau ngomong gitu di tempat lain, aku tendang."


Nama duo yang terlalu percaya diri. 


Memalukan sekali. Kok dia bisa ya ngomong begitu tanpa beban? 


Tapi anehnya, kali ini aku tidak bisa menepis gurauan Renji dengan 

kata-kata "jangan ikut campur" seperti biasanya.


Ya, tentu saja dia memang ikut campur. Dan tentu saja dia tetap menyebalkan.


(Tapi mungkin... dia beneran khawatir sama aku dengan caranya sendiri. Entahlah.)


Aku memeriksa teko berisi air panas, meletakkannya kembali ke meja, lalu menghela napas panjang. 


Setidaknya, garis besar alur dan masalahnya sudah kupahami. Sisanya tinggal konsultasi dengan Gotou-kun.


Saat aku sedang menyusun laporan di dalam kepala, tiba-tiba Renji berdiri dari kursinya dengan hentakan keras!


"Eh iya, bener! Nggak ada waktu buat ngobrol gini! Aku kan ke sini buat jemput kau, Iori! Ayo cepetan ikut!"


"Hah? Jemput?"


Lenganku ditarik paksa, dan aku diseret keluar dari laboratorium IPA. Aku ditarik oleh si bodoh yang lari kencang di koridor ini, membuatku dipelototi oleh guru-guru yang berpapasan. Benar-benar nggak adil.


"──Ah, Amano-kun datang!"


"Tuh liat, Kashiwagi-san!"


──Begitu masuk ke dalam kelas, aku merasa seolah-olah tersesat di dunia lain. Bagaimana ya bilangnya... serba merah muda. Hanya itu kata yang tepat.


Suasana sekolah swasta yang biasanya kental dengan kesan cerdas dan formal telah sirna. Digantikan dengan berbagai dekorasi imut namun agak "nyeleneh" yang rasanya bisa menurunkan IQ kalau dilihat terlalu lama. Tapi itu tidak masalah. Aku juga ikut membantu memasangnya, jadi sudah tidak kaget lagi. Yang jadi masalah adalah...


"A-Amano-kun..."


Di depanku, Kashiwagi-san sedang memainkan jari-jarinya dengan malu-malu... sambil mengenakan baju maid. 


Baju dengan renda-renda putih dan merah muda. Gerakan jemari yang canggung. Pipi yang sedikit memerah. Sangat imut. Terlalu imut malah. Tapi karena pemakainya memang dasarnya cantik, tingkat kesempurnaannya jadi luar biasa tinggi.


Tanpa sadar aku menahan napas. Melihat teman sekelas dengan penampilan seperti ini... rasanya ada semacam sensasi yang sulit dijelaskan.


"Hei, Amano-kun!"


"Eh?"


"Jangan cuma 'eh' doang! Gimana baju maid Kotoha-chan!? Kasih komentar dong!"


Siswi di sampingnya... kalau tidak salah teman dekat Kashiwagi-san, memelototiku dengan tatapan tajam.


Aku melirik Renji sejenak, dan si brengsek itu sedang menyeringai lebar, kelihatan sangat menikmati situasi ini. Aku sadar kenapa aku dibawa ke sini. 


Aku dijebak.

"......"


Kashiwagi-san melirikku berkali-kali dengan tatapan yang seolah penuh harapan. Aku bisa merasakan seluruh pandangan di kelas tertuju padaku.


Ah, bener-bener deh.


"......Kurasa, itu sangat cocok untukmu."


"......!"


Mendengar kejujuran yang kupaksakan keluar itu, wajah Kashiwagi-san langsung merah padam. Seketika itu juga, seisi kelas langsung heboh.


"Denger nggak tuh!? Syukurlah ya, Kotoha-chan!"


"I-ih, berisik ah! Jangan godain terus!"


"......Hei Amano-kun? Nanti kita perlu bicara sebentar."


"Bener banget. Sepertinya banyak hal yang perlu kita interogasi, ya?"


Para siswi bersorak menggoda, sementara para siswa tersenyum tapi matanya tidak tertawa. Tatapan mereka seolah bicara: "Apa yang kau lakuin ke Kashiwagi-san kami, hah?"


Nggak ngelakuin apa-apa juga sih...walau nggak bisa dibilang gitu juga.


Melihat para siswi yang menyeringai dan para siswa yang matanya sudah kehilangan cahaya kehidupan, aku mendaratkan satu tendangan ke kaki Renji yang masih tertawa menonton, lalu aku segera berbalik pergi.


"Kalau begitu, aku harus membereskan peralatan teh dulu."


Aku beralasan begitu dan memutuskan untuk melakukan retreat strategis.


"Ah, dia kabur!"


"Woi! Jelasin dulu nggak!"


"Apa hubunganmu sama Kashiwagi-san, hah!?"


Di tengah suara kutukan yang menggema dari belakang, aku menutup pintu kelas dengan bunyi klik.


(Aduh, ampun deh...)


Aku menghela napas panjang sembari menjauh dari suara-suara penuh dendam itu.


Aku sudah lama curiga... tapi Kashiwagi-san, apa dia sudah tidak berniat menyembunyikannya lagi? Ini benar-benar ancaman bagi kedamaian kehidupan sekolahku. Tapi kalau aku disuruh menerima konsekuensi itu demi dia, aku tidak bisa membantah.


(Tapi, dia cocok sekali ya.)


Baju maid Kashiwagi-san.


Sejujurnya itu di luar dugaan. Aku tahu dia bakal cocok, tapi tidak menyangka bakal se-efektif itu. Dipadukan dengan auranya yang lembut dan ramah, mungkinkah itu sebenarnya pekerjaan impiannya? ...Meskipun kalau ada pelayan dengan tingkat keimutan seperti itu, kafenya bakal berubah jadi klab malam saking banyaknya peminat.


"......Hmm?"

Sambil berjalan dan membayangkan hal itu, tiba-tiba sebuah ruangan menarik perhatianku.


Di ujung lantai dua. Ruangan yang saat ini digunakan sebagai gudang penyimpanan material. Meski fungsinya cuma jadi gudang, denahnya sama dengan ruang kelas. Jaraknya lebih dekat daripada laboratorium, dan kalau cuma untuk menyeduh teh, mungkin di sini lebih praktis. Karena iseng, aku memutar gagang pintu tersebut. Dan saat aku membukanya perlahan──


"──"


Seketika, napasku tertahan. Melihat seorang gadis yang berdiri di dalam sana.


"──Iori?"


Di sana, ada seorang dewi.


Baju maid yang didominasi warna hitam dan putih, terlihat sangat elegan dan anggun. Itu bahkan tidak terasa seperti kostum cosplay lagi. Ada aura kemuliaan layaknya putri dari keluarga kerajaan entah di mana.


Melihatnya menoleh dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah, aku hanya bisa terpesona, kehilangan kata-kata.


"......Mizuki."


Padahal ini di sekolah, tapi aku refleks memanggil namanya. Aku tersentak saat kembali sadar. Melihatku yang panik sembari celingukan memeriksa sekitar, Mizuki tertawa kecil, kusuri.


"Tenang saja. Sekarang tidak ada siapa-siapa."


Ucapnya tenang sembari duduk di kursi terdekat. Bahkan gerakan sederhana seperti duduk saja terlihat sangat estetik seperti lukisan.


"Lagi apa... di tempat seperti ini?"


"Mencoba kostum. Ruang ganti tadi penuh, jadi aku di sini."


"......Lalu yang lain?"


"Mereka pergi mengambil kostum masing-masing. Sebentar lagi juga datang."


Percakapan kami terasa kaku. Aku tidak bisa bicara dengan lancar. Mungkin karena baju maid yang dia kenakan, tapi lebih dari itu...


(Baru tidak bicara sebentar saja, rasanya jadi begini ya.)


Hanya karena sedikit menjaga jarak, dia terasa seperti orang asing. Padahal baru sebentar, tapi aku merasa seolah sudah berpisah selama bertahun-tahun.


"Itu baju maid-nya?"


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menatap pakaian Mizuki. Desainnya yang berkualitas tinggi dan tenang, apa benar itu bisa disebut baju maid? Lebih terlihat seperti gaun bangsawan.


Mendengar pertanyaanku, Mizuki tersenyum kecut seolah merasa sedikit kesulitan.


"Iya. Sepertinya harganya cukup mahal."


"Ah... pasti."


Aku membayangkan anak-anak "Pasukan Pengawal" di kelas. Mereka yang begitu memuja Mizuki pasti tidak akan membiarkannya memakai kostum sembarangan. Ngomong-ngomong, tadi Renji dikerumuni mereka sampai wajahnya pucat... apa akhirnya dia yang dipaksa bayar tagihannya?


"Iori."


"Ya?"


"Bagaimana?"


Mizuki berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


Fuwari, rok dengan renda-renda halus itu bergoyang, dan pemandangan seindah karya seni terpampang tepat di depanku.


"......Iya. Kurasa, kamu cantik sekali."


Tanpa diduga, kata-kata itu keluar begitu alami. Karena memang, itulah yang kurasakan dari lubuk hatiku yang terdalam.


"Terima kasih."


Mizuki tersenyum senang. Padahal aku sudah mengatakannya berkali-kali sejak dulu. Orang lain pun pasti sudah mengatakannya sampai bosan. Tapi interaksi seperti ini pun terasa sangat kurindukan sekarang.


"Ah, apa aku harus memanggilmu Goshujin-sama?"


"Nggak usah. Nggak cocok."


"Fufu."


Waktu untuk bisa mengobrol seperti ini pasti tidak akan abadi. Sejak menjaga jarak dari Mizuki, aku jadi sangat memahaminya.


"Mizuki."


"Apa?"


Seberapa kali pun aku melihatnya, dia benar-benar gadis yang sangat cantik. Kesempatan emas mungkin tidak akan datang berkali-kali.


"Nanti, kalau festival budaya sudah selesai. Ada yang ingin kubicarakan."


"......Iya."


Setidaknya, selagi aku masih bisa bicara padanya.


"──Aku akan selalu menunggumu."


Demi hal itu, sekarang aku akan melakukan apa pun yang kubisa. Begitulah tekadku.



"──Ah, Amano-kun, tunggu!"


"......?"


Setelah selesai membereskan barang-barang, aku sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Kecuali untuk gladi resih terakhir nanti, ini adalah terakhir kalinya aku membantu persiapan festival. Setelah ini, aku berniat untuk fokus sepenuhnya pada piano. Namun tiba-tiba, seseorang memanggilku dari belakang.


"Kashiwagi-san?"

"U-un. Syukurlah. Kamu masih ada di sini."


Kashiwagi-san yang terengah-engah berhenti di depanku, memegang lututnya sambil mengatur napas.


"Bisa pulang... bareng?"


"Eh, oh. Tentu saja."


Apa dia sengaja lari sekuat tenaga hanya untuk ini? pikirku sambil mengangguk. Setelah menunggu napas Kashiwagi-san kembali teratur, kami mulai berjalan berdampingan.


"Persiapan festival sepertinya bakal selesai tepat waktu ya."


"Iya. Yah, meski aku sendiri tidak terlalu banyak membantu."


"Itu juga berlaku buatku kok~. Rasanya jadi merasa bersalah ya."


Isi pembicaraan kami tentu saja seputar festival budaya. Kashiwagi-san yang serius sepertinya merasa lebih terbebani daripada dugaanku karena tidak bisa ikut berpartisipasi penuh dalam persiapan kelas.


"Bukankah tidak apa-apa bagi Kashiwagi-san? Kamu kan tenaga inti untuk Maid Cafe."


"Ugh......"


Begitu aku bermaksud menghiburnya, Kashiwagi-san mendadak mematung.


Ah, gawat. Topik baju maid sepertinya adalah area terlarang. Setelah dipelototi dengan tajam, aku segera meminta maaf.


"Maaf, maaf. Anu, lalu, ada apa?"

"Eh?"


"Bukannya tadi ada yang ingin kamu bicarakan?"


Mendengar pertanyaanku, Kashiwagi-san entah kenapa malah memasang wajah merengut. Dia tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mengintip mataku, membuatku refleks menarik diri ke belakang.


"......Memangnya tidak boleh kalau aku hanya ingin pulang bareng orang yang kusukai?"


Sebuah serangan langsung terlontar. 


Sekali lagi aku berpikir, sepertinya dia sudah mulai kehilangan rasa sungkan. Atau mungkin istilahnya, dia sudah membulatkan tekad. Pendekatan langsung seperti ini jadi semakin sering.


"Bukannya tidak boleh, tapi..."


"Kurasa Amano-kun harus belajar lebih banyak lagi soal perasaan wanita."


"......Aku akan berusaha lebih keras."


Saat aku menundukkan kepala meminta maaf, Kashiwagi-san tertawa kecil dan memaafkanku. Namun tak lama kemudian, dia mengalihkan pandangannya dan menyipitkan mata dengan sayu.


"Tapi, ya. Kamu benar kalau aku memang ingin bicara sesuatu... aku ingin kamu mendengarkan keluh kesahku."


"Keluh kesah?"


Kashiwagi-san mengangguk pelan.


"Iya. Karena festival sudah semakin dekat, aku tiba-tiba merasa cemas."


Dengan suara lemah yang jarang dia tunjukkan, dia mulai bergumam pelan. Aku diam, memberinya ruang untuk melanjutkan. Sejak kapan ya aku terakhir kali melihatnya dengan ekspresi dan suara seperti ini?


『Aku... apakah selamanya akan terus dibandingkan dengan Yukimura-san ya......』


Hari di mana aku mengetahui akar dari rasa rendah dirinya. Dengan suara yang tampak rapuh, persis seperti saat itu.


"Meskipun aku sudah menyiapkan segalanya untuk Kontes Miss, tahu tidak? Aku selalu berpikir... jangan-jangan tidak akan ada satu orang pun yang mau melirik ke arahku."


"......"


"Jangan-jangan semua orang tidak akan melihat siapa pun selain dia."


Aku tidak bisa memberikan jawaban apa-apa. Mengucapkan kata-kata penghibur yang dangkal itu mudah, tapi pasti tidak ada gunanya. Jika aku berada di posisi Kashiwagi-san, aku pun akan merasakan hal yang sama. 


Benarkah aku bisa bertarung melawan seseorang yang "di luar nalar" seperti itu? 


Tapi──jika ada satu hal yang bisa kukatakan.


"......Setidaknya, aku akan melihatmu."


"Eh?"

"Karena aku sudah janji. Aku akan memperhatikanmu dengan benar."


Benar. Hanya itu yang bisa kujanjikan. Meski aku menyukai gadis lain, Kashiwagi-san tetaplah teman yang berharga bagiku. Aku sendiri merasa ini adalah kemunafikan yang kejam. Tapi, aku ingin memberinya sedikit semangat. 


Mendengar kata-kataku, Kashiwagi-san sempat tercengang sejenak sebelum akhirnya...


"......Begitu ya. Iya, benar juga."


Dia mengangguk berkali-kali, dan akhirnya, sebuah senyuman muncul di wajahnya.


"Kalau Amano-kun yang melihat, aku harus berjuang keras."


"......"


Aku berusaha keras agar rasa perih di dadaku tidak terlihat di wajah. Sambil berusaha tidak menatap Kashiwagi-san yang tampak senang, aku terus berjalan di sampingnya. Perjalanan yang terasa sangat lama ini akhirnya sampai di stasiun.


"Terima kasih ya. Setelah kamu dengarkan ceritaku, rasanya jadi sedikit lebih ringan."


"Begitu ya. Syukurlah."


"Iya! Amano-kun juga semangat ya! Jangan sampai mengundurkan diri pas hari-H, lho? Aku pasti akan memberikan suaraku buat Amano-kun!"


"Ugh......"


Setelah memberikan serangan terakhir yang menancap telak itu, dia melangkah menuju peron keretanya. Sambil menatap punggungnya yang menjauh, aku mencengkeram dada seragamku dan menatap langit.


(Rasa bersalah, ya?)


Dia adalah target tujuan sekaligus sumber rasa rendah diri bagi Kashiwagi-san. Dan aku, yang dipercayai olehnya sebagai sekutu... sebenarnya memendam cinta sepihak pada lawan tandingnya itu. Dan demi orang itulah, aku akan memainkan piano.


(......Aku benar-benar yang terburuk.)


Tapi, meskipun dia tahu hal itu, gadis ini pasti akan tersenyum dan memaafkanku. Aku bisa membayangkan dengan mudah bagaimana dia akan menutup luka hatinya sendiri demi memikirkan perasaan orang lain....Rasanya akan jauh lebih mudah bagiku seandainya dia malah menyalahkanku saja.


Aku menunggu sampai punggungnya tidak terlihat lagi, baru kemudian aku berbalik arah untuk pulang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close