NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kao no Yosugiru Osananajimi to, Kidzuitara Asa Chun Shiteta Ken V1 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Boneka

──Dan kemudian, sepulang sekolah.


"Ioriii. Kau hari ini gimana?"


"Kerja sambilan."


"Yah, elah. Akhir-akhir ini kau susah diajak nongkrong ya...? ......Jadi selama ini hubungan kita cuma main-main buat kau!?"


"Berisik, ah."


Geli banget. Bisa-bisa semangat kerjaku hilang gara-gara dia.


Aku melepaskan diri dari Renji yang terus merengek menyebalkan, lalu meninggalkan sekolah. Sambil berjalan ke stasiun dan naik ke dalam kereta, aku menatap ke luar jendela sambil berpikir.


(Seram, ya?)


Kata-kata Kashiwagi-san siang tadi.


Apa sebenarnya maksud dari ucapannya itu? Apa karena Mizuki terlalu cantik jadi terasa seram? Atau karena dia terlalu sempurna sehingga tidak terasa seperti manusia? Entahlah.


Aku menggelengkan kepala karena tidak kunjung menemukan jawaban, dan tanpa terasa, aku sudah sampai di tempat kerjaku.


"──Maaf, saya terlambat."


"Ah, Iori-kun. Tidak apa-apa, masih lima menit sebelum mulai kok. Sana ganti baju dulu."

Begitu membuka pintu toko, aku disambut oleh manajer toko, seorang pria paruh baya yang tampak necis.


──Kafe "Nocturne".


Tempat kerja sambilanku adalah sebuah kafe pribadi yang berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki dari rumah. Suara denting bel setiap kali pintu dibuka. Aroma kayu tua yang bercampur dengan harum biji kopi yang baru dipanggang.


Kafe ini elegan, dan sebagian besar pelanggannya adalah orang lanjut usia. Di sini, waktu terasa mengalir berbeda dengan di sekolah maupun di rumah; bagi kaku, ini adalah tempat perlindungan yang menenangkan.


"Maaf menunggu lama."


"Ya. Kalau begitu, tolong antarkan sandwich ini ke meja nomor dua."


"Baik."


Aku mengangguk mengikuti instruksi, lalu menyeimbangkan piring sandwich di atas satu tangan. Urusan mengantar makanan ini sudah sangat biasa bagiku.


Dulu di awal-awal, aku sering tersandung meja atau kursi sampai makanan tumpah berantakan—Gubrak!—tapi sekarang, aku bisa menghindarinya bahkan tanpa melihat.


Aku sudah berkembang juga ya, batinku merasa haru.


"──Ini pesanan sandwich-nya, silakan dinikmati."


Aku menyapa seorang wanita paruh baya yang anggun yang duduk di meja nomor dua. Dia membalas dengan senyuman ramah.

"Terima kasih seperti biasanya ya, Iori-kun."


"Sama-sama."


Hampir semua orang yang datang ke sini adalah pelanggan tetap. Jadi, sebagian besar dari mereka sudah saling kenal denganku.


"Bagaimana kabarmu belakangan ini? Kamu kan anak SMA, apa sudah punya pacar?"


"A-ah... entahlah ya..."


Wajahku refleks menegang.


Pacar. Mendengar kata itu, dua wajah langsung terlintas di benakku. Keduanya adalah gadis yang sangat cantik, tapi sayangnya, aku tidak punya rencana ke arah sana. Melihatku yang tersenyum kecut untuk mengalihkan pembicaraan, wanita itu tersenyum lembut.


"Aduh, tidak boleh begitu lho. Kamu harus bergerak sendiri. Iori-kun kan punya wajah yang manis, pasti ada gadis yang memperhatikanmu."


"Haha... akan saya usahakan."


Begitulah, hari ini pun aku kembali melayani para tuan dan nyonya lansia, namun...


──Kling-klang.


"Ah, selamat datan—"


Tepat saat aku hendak menyapa pelanggan baru, aku mematung. Yang masuk adalah seorang siswi. Sangat jarang ada pelajar yang datang ke kafe ini. Tapi...


(Kenapa bisa ada dia?)


Seragam yang sangat kukenal. Rambut hitam panjang yang sangat kukenal. Gadis tinggi semampai nan cantik yang sangat amat kukenal.


"Ara... gadis yang sangat cantik ya?" 


Wanita tua tadi bergumam spontan. 


Aku tidak punya pilihan selain setuju.


Ah, andai saja aku bisa mengakhirinya dengan sekadar berpikir 'dia gadis yang cantik'.


".....? Iori-kun? Ada pelanggan, lho?"


Wanita itu memanggilku dengan heran karena aku terus diam membatu. Aku tersentak dan buru-buru menghampirinya.


"Se-selamat datang. Untuk satu orang?"


"Iya."


Dia mengangguk pelan.


Harusnya jawab 'baik', bukan 'iya'. 


Bisa ketahuan kalau kita saling kenal...tapi ya sudahlah kalau ketahuan pun. Kalau di sini tidak apa-apa.


"......Kalau begitu, silakan duduk di sebelah sini."


"Hm."


"Satu orang" itu──Yukimura Mizuki──duduk di kursi yang 

kupersilakan dengan gerakan yang sangat anggun.


"Jadi, ada apa?" tanyaku dengan suara berbisik.


Seumur-umur, dia tidak pernah sekalipun datang ke tempat kerja sambilanku.


"Iori. Sudah cek LINE?"


"LINE?"


Mendengar ucapannya, aku mengeluarkan ponsel. Sebenarnya tidak boleh bermain ponsel saat sedang bekerja, sih.


"Ah."


Ternyata ada tiga pesan LINE.


【Mizuki: Hari ini kerja sambilan?】

【Mizuki: Kira-kira pulang jam berapa?】

【Mizuki: Kalau sudah baca, tolong hubungi aku.】


"Maaf, aku tidak sadar. Ada masalah?"


"Enggak. Tidak apa-apa."


Mizuki menggelengkan kepala dengan tenang. Aku memiringkan kepala heran melihatnya bilang tidak ada apa-apa.


"Lagipula, aku memang ingin coba datang sekali-kali. Syukurlah aku bisa datang."


Dia tersenyum tipis, lalu mencolek dadaku dengan ujung jarinya.


"Celemeknya cocok untukmu."

Dia menatapku yang sedang bekerja dengan raut wajah senang, lalu berkata:


"......Terima kasih pujiannya. Mau pesan apa?"


"Iced coffee."


"Oke, dimengerti."


Aku menghela napas melihat tingkah teman masa kecilku yang sedang dalam suasana hati yang baik ini. Lalu, saat aku hendak menyampaikan pesanan ke manajer...


"──Iori-kun."


Di tengah jalan, aku dihentikan oleh wanita paruh baya yang tadi.


"Ah, iya?"


"Gadis itu, jangan-jangan pacarmu?"


"Eh, tidak."


Pertanyaan mendadak itu membuatku terpaku sesaat.


"......Bukan, kok."


Tapi aku segera menjawab sambil berusaha bersikap setenang mungkin. Namun, wanita itu tersenyum lebar seolah bisa melihat menembus segalanya.


"Huum, begitu ya. Jadi dia itu cinta bertepuk sebelah tanganmu, ya?"


"......!"


Aku mendadak kehilangan kata-kata. Namun, diamnya aku justru menjadi bumerang. Benar saja, mata wanita itu berbinar dan dia mengangguk-angguk paham.


"Bagus ya. Terasa sekali aura masa mudanya. Yah, jujur saja, gadis itu memang terlihat seperti bunga di puncak gunung. Tapi aku mendukungmu. Semangat, ya."


"......Iya."


Ujung-ujungnya aku dikerjai juga. 


Sambil menggaruk kepala, aku meninggalkan mejanya. Aku berusaha sebisa mungkin agar sosok Mizuki yang sedang memainkan ponselnya tidak masuk ke jarak pandangku.


"Manajer. Minta satu iced coffee."


"Siap. Iori-kun."


"Ya?"


"Jangan-jangan itu yang namanya 'teman masa kecil yang terlalu cantik' itu?"


"......Yahhh."


Dulu aku pernah keceplosan menceritakan soal Mizuki. Teman masa kecil yang tinggal di sebelah rumah dan punya wajah yang terlalu cantik. Aku ingat saat menceritakannya dulu, Manajer sangat antusias dan bilang ingin sekali melihatnya.


"Begitu ya. Wah, aku terkejut. Tidak kusangka dia secantik itu."


"Iya, begitulah."

Orang yang pertama kali melihatnya rata-rata memberikan reaksi yang sama. Wajahnya yang mungil, proporsi tubuhnya yang bagus, dan matanya yang seindah permata. Skor ketampanan di atas 80 (menurut Renji) itu memang bukan isapan jempol semata.


"Tapi, melihat dia sampai sengaja datang ke tempat kerja sambilannmu... hmmm, begitu ya."


"A-apa maksudnya?"


"Ah, bukan apa-apa. Aku cuma iri. Semoga kalian bahagia."


Manajer tersenyum penuh arti sambil mulai menyiapkan kopi.


......Orang ini salah paham apa sih.



"──Jadi, kenapa kamu datang?"


Setelah jam kerja selesai, aku bertanya dengan wajah cemberut saat kami berjalan pulang berdua. Namun, Mizuki bersikap seolah tidak ada yang salah.


"Cuma pengen saja?"


"Hah, cuma pengen?"


Setidaknya bilang dulu kek sebelumnya, keluhku dalam hati. Kafe itu adalah oasis bagiku. Satu-satunya tempat suci yang belum terjamah oleh teman masa kecilku ini.


"Aku ingin tahu. Iori bekerja dengan orang seperti apa dan di tempat yang seperti apa."


"Kenapa harus tahu soal itu?"

Mendengar pertanyaanku, Mizuki sedikit menyipitkan matanya.


"Karena kurasa itu perlu." 


Gumamnya dengan kalimat yang sulit kupahami. Kalaupun aku bertanya balik, dia pasti tidak akan menjawab. 


Sambil menghela napas, aku menggaruk kepala.


"......Setidaknya beri tahu kalau mau datang."


"Hm."


Mizuki hanya tersenyum menanggapi helaan napasku. Dia berjalan di sampingku dengan sangat alami. Melihat teman masa kecilku yang bersikap seperti biasa, aku pun terpaksa berhenti mengejarnya dengan pertanyaan.


Setelah itu, kami mengobrol santai soal sekolah, makan malam, dan hal-hal lainnya. Kami pulang melalui rute yang biasa kami lalui. Jalan yang sudah ribuan kali kami lewati bersama. Sejak kecil, jalan ini tidak pernah berubah.


......Ah, tapi.


(Dulu, kita selalu bergandengan tangan, ya.)


Mizuki yang merengek minta gandeng, dan aku yang malu-malu akhirnya selalu mengalah. Sejak kapan hal itu berhenti dilakukan?


Saat kami berjalan dalam keheningan sesaat, tiba-tiba Mizuki mulai berjalan ke arah yang berbeda dari arah rumah kami.


"Mizuki? Mau ke mana?"


Rumah bukan lewat sana, lho, ucapku bingung. 


Mizuki menoleh; rambut hitamnya yang berkilau bergoyang, dan profil wajahnya yang cantik terpantul cahaya bulan.


"Mampir sebentar, ya?"


Dia tersenyum, lalu mulai berjalan tanpa menunggu jawabanku. Aku menghela napas dan terpaksa mengikutinya. Tanpa tahu tujuannya, aku hanya berjalan di belakangnya.



──Lalu, tempat dia membawaku adalah...


"......Di sini."


"Bernostalgia, ya. Sepertinya sudah agak lama kita tidak ke sini."


Taman di dekat rumah. Tempat di mana aku dan Mizuki sering bermain saat masih kecil.


"Kenapa ke sini?"


Tanpa menjawab, Mizuki masuk ke dalam taman. Aku mengikutinya, hingga akhirnya kami sampai di...


"──Masih ingat?"


Di depan ayunan. Mizuki menyipitkan matanya dengan penuh nostalgia.


"Iya."


Aku mengangguk. Mustahil aku melupakannya. Bagi kami berdua, ini adalah tempat yang berharga.


──Tempat di mana aku dan Mizuki pertama kali bertemu.


"Begitu ya. Syukurlah."


Melihat Mizuki yang duduk di ayunan sambil mendongak menatapku, kesadaranku melayang terbang ke masa lalu.



『Nah, Iori? Sampai Ibu datang menjemput, jangan pergi ke mana-mana ya?』


──Saat itu aku berumur 5 tahun.


Iori kecil sering dibawa ibunya ke taman terdekat untuk bermain dengan anak-anak sebayanya. Main sepak bola, bola bekel, atau dodgeball. Kegiatannya berbeda-beda setiap hari.


Hari itu pun, aku sedang bermain di taman.


『......Semuanya... sudah pulang......』


Kebetulan hari itu anak-anak lain pulang lebih awal. Ditinggal sendirian, aku tertunduk lesu dengan bahu merosot. Taman yang luas. Saat sendirian, mendadak rasanya jadi sangat menciut dan kesepian. Ibu sedang pergi membeli minum di tengah jalan dan belum kembali.


Kalau aku bergerak sembarangan, aku bisa tersesat. Setidaknya aku mengerti hal itu. Jadi dengan enggan, aku menunggu Ibu sambil menendang-nendang bola.


『......?』


Tiba-tiba, di area ayunan, aku melihat bayangan kecil seseorang.


Di tengah guguran daun yang tertiup angin, hanya di titik itulah waktu 

seolah berhenti; sosok itu tidak bergerak sedikit pun. Dilihat dari jauh, sepertinya itu anak perempuan yang tidak kukenal. 


Aku tidak tahu sudah sejak kapan dia ada di sana. Tapi, karena ada anak lain yang juga sendirian, aku merasa senang. Mungkin dia mau jadi teman mainku. Berpikir begitu, aku berlari kecil menghampirinya. Lalu, saat aku melihat anak perempuan itu dari dekat──


『......!?』


──Aku mematung, bahkan sampai lupa caranya bernapas.


Kulit putih seputih salju. Rambut hitam yang berkilau. Dan mata indah berbentuk almond yang dihiasi bulu mata lentik, tampak seperti permata. Dibandingkan apa pun yang pernah kulihat sampai saat itu, anak perempuan ini adalah yang tercantik.


──Ternyata ada anak secantik ini.


Itu adalah guncangan yang belum pernah kurasakan. Meski kepekaanku masih mentah, instingku memahaminya. Anak ini pasti ──adalah anak yang spesial.


『......Siapa?』


Saat itu, terdengar suara yang bening dan transparan.


Aku tersentak sadar, dan melihat sepasang mata besar sedang menatapku lekat-lekat. Mata indah bak permata itu memantulkan sosokku yang sedang melongo bodoh.


『......A-ah.』


Ditatap seperti itu, aku jadi panik.


Gawat, aku diajak bicara. Aku belum memikirkan mau bicara apa. Aku cuma terpesona melihatnya tadi. Tapi aku harus segera bilang sesuatu...


Setelah berpikir keras ke sana kemari, kata-kata yang akhirnya keluar dari mulutku adalah:


『......A-Ayo... main bersama?』


Cuma itu.


Sekalian, aku menyodorkan bola sepak yang kupegang. Namun, anak perempuan itu hanya menatap bola yang kusodorkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


(L-lho?)


Melihat tidak adanya reaksi, keringat dingin mulai mengalir.


Bagaimana ini? Apa dia benci sepak bola? Apa lebih baik main boneka saja ya? Tapi, aku tidak bawa sekarang... Aku terus memikirkan berbagai alasan, tapi sudah telat untuk menyesal.


Tepat saat aku hampir menangis karena tidak tahan dengan keheningan itu, anak itu...


『......Kenapa?』


Dia sedikit memiringkan kepalanya.


『Eh?』


『Kenapa... ingin main denganku?』


Ditanya begitu, aku mendadak kaku.


Kenapa? Maksudnya kenapa...


"Ugh," aku mengerang dalam hati.


Karena cantik? Karena manis? 


Ya, tentu saja itu salah satunya. Mataku berputar-putar mencoba mencari alasan.


Saat aku menatapnya untuk mencoba menjawab...


(......Ah......)


Melihat matanya...


(Rasanya......)


Kata yang tiba-tiba terlintas adalah:


『......Soalnya... kamu kelihatan kesepian?』


Tanpa sadar, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Tepat setelah mengucapkannya, aku kembali memegangi kepalaku, merasa bodoh karena bicara sembarangan. Tapi, anak itu...


『......』


Dia menatapku dengan wajah terpana. Wajah yang menunjukkan emosi yang nyata, berbeda dari ekspresi dinginnya yang tadi.


──Wajah yang seolah berkata, "Baru kali ini ada yang bicara begitu padaku."


『A-anu, eto...』


Apa aku membuatnya marah? Aku jadi sedikit cemas.


『K-kamu... nggak suka ya......?』


Aku bertanya dengan ragu-ragu. Namun anak itu tidak menjawab apa-apa.


(......Ibu, cepatlah datang menjemput.)


Di saat aku mulai mencoba melarikan diri dari kenyataan, anak itu 

berkata...


『......Boleh.』


『Eh?』


『Ayo... main bersama.』


Sambil berkata begitu, dia menggenggam tanganku.


Aku terpaku. Aku tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Namun, tangan anak perempuan yang kugenggam untuk pertama kalinya itu terasa sangat lembut. Terasa sedikit dingin, namun halus.


Bagiku yang saat itu masih kecil, itu adalah sensasi yang sama sekali asing. Dan akhirnya... aku menyadari bahwa anak perempuan di depanku ini telah mengangguk setuju.


『I-iya!』


Saking senangnya, aku langsung menggenggam erat tangannya dan mulai berlari. Aku tidak tahu kenapa dia mau mengangguk. Aku tidak tahu, tapi yang jelas aku merasa sangat bahagia.


......Itu adalah sebuah perasaan yang saat itu belum kusadari sepenuhnya.

──Itulah cinta pertamaku, yang sering disebut sebagai "cinta pandangan pertama".



"......Fufu."


"Apaan sih."


Saat sedang membicarakan masa lalu, tiba-tiba Mizuki tertawa kecil. Aku membalasnya dengan ketus sambil bersandar pada tiang ayunan.


"Sampai sekarang aku masih berpikir... mengajak anak perempuan yang baru pertama kali ditemui untuk main sepak bola itu agak aneh, bukan?"


"......Mau bagaimana lagi. Namanya juga masih anak-anak."


Ujung-ujungnya, setelah itu kami benar-benar main sepak bola berdua. Tapi seingatku dia jauh lebih jago dariku, sampai-sampai aku tidak bisa merebut bola sama sekali. Namun, lewat hal itulah kami menjadi akrab. Setelah tahu kalau kami tinggal bersebelahan, sejak hari berikutnya kami selalu bermain bersama. Dalam hati, aku benar-benar bersyukur telah mengajaknya saat itu.


"Padahal kamu sendiri waktu itu benar-benar mirip seperti boneka."


Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Mizuki di hari pertama kami bertemu. Begitu cantik, namun tidak menunjukkan emosi apa pun, sampai-sampai sesaat aku ragu apakah dia benar-benar manusia atau boneka. Tidak menangis, tidak juga tertawa. Sosoknya yang tidak seperti anak-anak pada umumnya terkadang membuatku merasa sedikit ngeri. Namun, mendengar kata-kataku itu, Mizuki tersenyum tipis.


"Boneka, ya...... Begitukah aku di matamu, Iori?"


"Ah, bukan begitu maksudku."


Aku mencoba meralat perkataanku karena merasa cara bicaraku kurang sopan. Namun, Mizuki menyipitkan matanya dengan tatapan penuh nostalgia.


"Tapi, mungkin memang benar."


"......?"


"Saat itu, aku pasti adalah sebuah boneka."


Tepat saat dia mengucapkannya, atmosfer di sekitar Mizuki berubah dalam sekejap. Pandanganku beradu dengan matanya, dan aku terkesiap. Mata yang terasa hampa dan tanpa nyawa.


──Sama seperti saat itu.


"Kosong dan tidak ada apa-apa. Boneka hidup."


Sambil berkata begitu, Mizuki bangkit dari ayunan. Dia memandang sekeliling taman dengan tatapan penuh kasih.


"Kalau tidak ada Iori, mungkin sampai sekarang pun..."


Dia tetap memandang taman itu dengan rindu, lalu menatapku yang sedang kebingungan.


"Karena itu... terima kasih ya, Iori."


"Terima kasih untuk apa?"


Mizuki menatapku yang sedang mengernyitkan dahi dengan pandangan 

yang lembut.


"──Karena ada Iori, aku bisa menjadi manusia."


Dia mengucapkannya sambil tersenyum tipis. Dengan ekspresi yang benar-benar menunjukkan emosi "bahagia". Namun, melihat ekspresi itu... entah kenapa aku justru merasa cemas.


(Maksudnya apa?)


Bisa menjadi manusia? Aku memang bilang dia mirip boneka, tapi itu kan cuma kiasan. Mizuki ya Mizuki. Dia jelas-jelas manusia. Tapi, dia tidak terlihat seperti sedang bercanda. "Boneka hidup"—kata-kata itu terasa membawa firasat yang tidak enak.


"Ngomong apa sih kamu, Mizuki."


Aku tidak ingin membicarakan ini lebih jauh. Berpikir demikian, aku mengulurkan tanganku.


"Ayo pulang. Sudah cukup, kan?"


Aku hanya ingin segera meninggalkan tempat ini. Itulah satu-satunya pikiranku. Namun, Mizuki tidak menyambut tanganku. Dia hanya terus menatapku tanpa beranjak dari tempatnya.


"Hei, Iori?"


"Aku bilang, ada apa sih."


Aku berusaha sekuat tenaga menahan nada kesal dalam suaraku. Wajah cantik yang sangat kukenal. Namun sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa dibanding dulu.......Dan entah kenapa, dia terlihat seperti orang asing yang tidak kukenal.


"──Aku akan menunggu. Selamanya."


Mizuki hanya tersenyum dan mengucapkan hal itu.



"──Hei Iori. Aku pikir ya..."


"Apaan."


Keesokan harinya di sekolah, saat pelajaran olahraga. Dua laki-laki sedang duduk bersila di sudut aula olahraga.


Laki-laki genit di sebelahku──Miyama Renji──menyipitkan matanya seolah sedang menatap sesuatu yang sangat berkilau.


"Kenapa manusia terus berperang? Mungkin itu karena mereka belum tahu apa artinya keindahan yang sesungguhnya."


"Oke, aku nggak paham maksudmu."


"......Kalau pemandangan di depan mata kita ini diperlihatkan ke seluruh dunia, apa peperangan bakal lenyap dari muka bumi, ya?"


Bam! bam!


Suara bola yang memantul dengan penuh semangat. Setiap kali bola jatuh ke lantai, bunyi peluit melengking terdengar.


"Yukimura-san! Nice spike!"


"Hm, kamu juga. Toss-nya pas banget."


"Wah, senangnya dipuji! Aku sayang banget sama Yukimura-san! Masuk klub voli dong!!"

"Maaf ya. Aku nggak minat ikut klub."


"Jangan bilang begitu donggg!"


Pemandangan para gadis cantik yang saling melakukan high-five dengan senyum ceria. Benar-benar pemandangan yang indah. Namun, alasan Renji dan para murid laki-laki lainnya terpaku adalah...


"Hup."


Bam.


Meloncat. Memukul. Bergoyang.


......Bergoyang. Aku tidak akan bilang bagian mana, tapi ya, bergoyang.


"......"


"Indah sekali. Rasanya jiwaku tersucikan."


Aku melihat sekelompok murid laki-laki yang duduk agak jauh tiba-tiba mulai merapal doa. Terpujilah. Terpujilah. Rasanya suara seperti itu hampir terdengar dari arah mereka.


Di sisi lain, terdengar percakapan dari murid laki-laki yang berbeda.


"Yukimura-san beneran cantik banget, ya."


"Asli. Parah sih. Pertama kali liat, aku kira dia bukan manusia."


"Bentuk tubuhnya juga sempurna banget. Ah, sehari aja deh, aku pengen pacaran sama dia."


"Nggak mungkin, nggak mungkin."


"......"


Mendengar percakapan itu, entah kenapa aku memalingkan muka dan berdiri.


"Hm? Kenapa, Iori?"


"......Mau minum air sebentar."


Aku keluar dari aula olahraga dan menuju tempat keran air. Mungkin karena semua orang sedang asyik bermain voli, di sini sepi sekali.


Byur, byur.


"Fuuuh."


Sambil minum, aku juga mencuci wajahku yang berkeringat.


(Ah, lupa bawa handuk.)


Ya sudahlah, nanti juga kering sendiri. 


Tepat saat aku berpikir begitu...


"──Amano-kun."


Sebuah suara kecil terdengar dari belakang.


"...!"


......Aku sedikit ragu untuk menoleh mendengar suara itu.


Aku menghela napas, lalu perlahan berbalik.


(Ternyata benar.)

Di sana berdiri gadis dari kelas sebelah, orang yang menyatakan perasaannya padaku tepat satu minggu yang lalu.


Oalah, jadi kelas dia juga ikut pelajaran olahraga gabungan hari ini ya, batinku baru menyadari.


"Maaf, ya? Tiba-tiba memanggilmu."


"Eh... nggak apa-apa."


Atmosfer menjadi canggung. Aku tidak tahu harus bicara apa.


『Aku menyukai Amano-kun......!』


Pernyataan cintanya saat itu masih bisa kuingat dengan jelas. Aku benar-benar terkejut, sekaligus senang. Namun karena itulah, rasanya sesak di dada karena aku tidak bisa membalas perasaannya.


"......"

"......"


Aku bingung mau bicara apa. Kukira kami tidak akan bicara lagi. 


Di tengah keheningan yang tidak nyaman ini, tiba-tiba percakapanku dengan Kashiwagi-san terlintas di benak.


──Ah, benar. Setidaknya aku harus memastikan hal ini.


"......Anu, akhir-akhir ini, apa terjadi sesuatu?"


"Eh?"


Sepertinya dia tidak menyangka aku akan melanjutkan pembicaraan, karena wajahnya tampak sedikit terkejut.


"Sepertinya ada rumor tentang kejadian kemarin. Aku cuma khawatir kalau kamu merasa terganggu atau semacamnya."


Benar. Hal itu terus mengganjal di pikiranku. Kashiwagi-san tahu soal itu. Artinya, orang lain pun mungkin tahu. 


Aku terus merasa khawatir jika hal itu membuat gadis ini mengalami hal yang tidak menyenangkan.


"N-nggak kok. Aku nggak apa-apa."


"O-oh, syukurlah."


Melihatnya menggelengkan kepala dengan terburu-buru, aku menghela napas lega. Syukurlah. Jika sampai gadis ini menderita karena hal itu, rasa tanggung jawabku pasti akan sangat berat.


(Mungkin aku saja yang terlalu percaya diri, ya?)


Kalau Renji mungkin jadi rumor besar, tapi kalau cuma aku, sepertinya tidak akan jadi bahan gosip yang berarti.


Aku mulai merasa malu sendiri dan menggaruk kepala. 'Ayo balik ke aula,' pikirku hendak mengajaknya, tapi aku menyadari gadis di depanku ini sedang menatapku lekat-lekat.


"....? Ada apa?"


"Ah, i-itu..."


"......?"


"Boleh aku juga bertanya satu hal?"


"Eh? Iya, boleh."

Ada apa ya? pikirku sambil mengangguk. Namun, gadis itu mendadak memasang wajah yang sangat tegang.


"Amano-kun...... apa kamu akrab dengan Yukimura-san?"


"......Hah?"


Mizuki? Kenapa tiba-tiba nama Mizuki muncul sekarang?


Aku terpaku sesaat, namun berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang.


"Cuma... teman sekelas, kok."


Aku mengucapkannya dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar tidak alami.


"I-iya, iya... benr juga ya."


Gadis itu menunduk, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba tanya soal Yukimura-san?"


"E-eh, enggak. Maaf. Bukan apa-apa kok."


Dia menggelengkan kepala dengan terburu-buru, matanya tampak gelisah. Dari sisi mana pun, dia jelas terlihat seperti baru saja mengalami sesuatu... tapi tepat saat aku hendak mendesaknya.


"──Amano-kun."


Dari samping, terdengar suara indah yang sudah sangat akrab di telingaku. Aku tersentak kaget, dan saat menoleh, sosok teman masa kecilku sudah berdiri di sana.


"Yukimura... san?"


Hampir saja aku memanggilnya "Mizuki". Aku buru-buru meralat ucapanku. Mizuki menatapku dengan wajah datar seperti biasanya.


"Guru memanggilmu. Katanya sudah waktunya berkumpul."


"A-ah, iya. Oke. Aku segera ke sana."


Aku menjawabnya, lalu berniat pamit pada gadis di depanku. Tapi...


"......A......"


Gadis itu entah kenapa hanya mematung sambil menatap Mizuki, seolah-olah dia tidak bisa bergerak.


"......?"


Namun, sebelum aku sempat mengeluarkan suara...


"A-aku... pergi duluan ya."


Sambil berkata begitu, gadis itu berlari kecil kembali ke aula olahraga. Aku sempat mengulurkan tangan ingin menahannya, tapi tidak ada kata yang keluar. Aku dan Mizuki hanya diam melihat punggungnya yang menjauh.


"......Maaf ya. Apa aku mengganggu?"


"Enggak kok."


Aku menggeleng menanggapi ucapan Mizuki.


"Mizuki."


"......?"


"Apa kamu sering mengobrol dengan gadis tadi?"


Mendengar pertanyaanku, Mizuki tidak menjawab apa-apa. Apa itu artinya dia tidak merasa kenal?


"Begitu ya. Iya juga sih."


Lagipula, untuk bisa bicara dengan Mizuki di sekolah, seseorang harus menembus barisan "pasukan pelindung" yang menyeramkan itu. Murid laki-laki saja gemetar ketakutan, apalagi gadis sependiam dia, rasanya mustahil. Kecuali jika Mizuki sendiri yang menghampirinya...


"Ayo pergi?"


"Hm, iya."


Atas ajakan Mizuki, aku melangkah kembali ke aula. 


Pada akhirnya, aku tetap tidak mengerti apa yang ingin gadis itu katakan. Kenapa nama Mizuki bisa muncul? Rasa janggal itu terus tertinggal di sudut pikiranku.



"Oit? Iori. Lama amat kau. Pertandingan mau mulai nih."


"Maaf."


Aku kembali ke aula secara terpisah dengan Mizuki (jujur saja, aku tidak punya keberanian untuk masuk bareng dia) dan disambut oleh teguran Renji. Aku membalasnya sekenanya sambil mencoba menghentikan pikiranku.


"Ayo masuk."

"Hm."


Aku mengangguk pelan pada Renji. Suara gesekan sepatu olahraga berdecit saat aku memasuki lapangan. Aku tidak benci olahraga bola, tapi gara-gara percakapan tadi, aku jadi kurang bersemangat.


"Ah, omong-omong Iori. Sepulang sekolah hari ini, jangan kabur ya!"


"Eh?"


Di sela-sela pertandingan, Renji mengingatkanku dengan nada serius.


"Emang ada apa hari ini?"


"Apaan 'ada apa'! Rapat perencanaan festival budaya! Kita harus menangin konsep Maid Cafe bagaimanapun caranya!"


......Ah.


Aku baru ingat kalau jadwalnya memang hari ini.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close