Chapter 3
Dunia yang Indah
Aku, Yurishia,
telah tiba di gunung tempat persemayaman para Wyvern.
Wyvern
sering disebut sebagai sub-spesies naga, secara teknis mereka bukanlah monster,
dan mereka memiliki daya tahan terhadap Miasma.
Biasanya
mereka memang menjadikan monster sebagai makanan utama, tapi terkadang mereka
juga menyerang manusia.
Menurut
cerita dari Diner, sang kepala distrik, sejak dulu ada seekor Wyvern ganas yang
tinggal sendirian di gunung ini.
Pernah
sekali pasukan pembasmi dibentuk untuk mengalahkannya, tapi makhluk itu
berhasil kabur ke langit sehingga gagal ditumbangkan.
Yah,
kalau di hadapan kami, lawan seperti itu sangatlah mudah karena bisa dikalahkan
dengan bantuan Teleport Akuri begitu sosoknya terlihat, tanpa memberinya
waktu untuk kabur.
Akhirnya,
Wyvern yang menculik Kuruto pun segera ditemukan.
Namun,
sosok Kuruto yang paling penting malah tidak ada di mana-mana.
Entah
kenapa, justru panci milik Kuruto yang tergeletak di sana.
"——Kamu,
jangan-jangan kamu sudah merebus Kuruto-sama di dalam panci ini lalu
memakannya?"
Lise menodongkan
Kochou, belati kesayangannya, ke arah Wyvern yang sudah sekarat akibat
gempuranku sambil melontarkan pertanyaan.
Sepasang matanya sama sekali tidak memancarkan cahaya kehidupan.
"Mohon maaf
atas kelancangan saya. Begitu
ya, Anda tidak mengerti bahasa kami. Kalau tidak salah, dalam bahasa Naga—"
Lise berkata
demikian, lalu mulai merapalkan kata-kata yang asing di telinga.
Seketika,
Wyvern itu mengangguk-angguk mantap.
"Lise, kamu
mengerti bahasa Naga?"
"Iya, aku
diajari oleh Raja Naga Iblis."
Raja Naga
Iblis—salah satu dari Empat Raja Iblis Agung—ah, sekarang tinggal Tiga Raja
Iblis Agung, ya.
Entah mengapa,
seminggu sekali dia mampir ke Desa Haste hanya untuk meminta jatah pakan ternak
untuk dimakan. Katanya, itu adalah rasa penuh kenangan karena dia sudah sering
mampir ke desa sejak masih menjadi bayi naga.
Yah, meski itu
pakan babi, masakan buatan Desa Haste adalah hidangan istimewa yang bahkan
melampaui makanan restoran mewah, jadi wajar saja dia ketagihan.
Aku tahu Lise
sering mengobrol dengan Raja Naga Iblis saat beliau berkunjung, tapi tak
kusangka dia sampai diajari bahasa Naga.
Padahal
seingatku, meski penelitian bahasa Naga terus dilakukan, ada teori yang
menyebutkan bahwa manusia tidak akan bisa melafalkannya.
Bagaimana
caranya—pikirku, namun rahasianya segera terungkap.
Itu
berkat Kochou, pedang sihir milik Lise.
Dengan Kochou, Lise
bisa menciptakan ilusi apa pun dan membuat ilusi itu bicara sesuka hati.
Bahkan untuk
kata-kata yang mustahil dilafalkan oleh manusia sekalipun.
Saat ini, Lise
melapisi dirinya sendiri dengan ilusinya, lalu membiarkan ilusi tersebut yang
bicara dalam bahasa Naga.
"Di
desa itu naga memang sering mampir. Aku sempat berjudi apakah bahasa ini akan
dimengerti oleh Wyvern, tapi sepertinya tidak ada masalah."
"Menurut
Wyvern ini, dia terpaksa melepaskan Kuruto-sama karena kakinya ditusuk belati
saat sedang terbang."
Sepertinya
Lise benar-benar mengerti ucapan Wyvern itu.
Memang
benar, di kaki Wyvern itu terdapat luka baru yang tampak seperti bekas tusukan
senjata tajam.
"Jatuh!?
Lalu, apa Papa baik-baik saja!?"
"Iya,
katanya kemarin dia mencium bau enak dan memungut panci ini. Dia bilang manusia
yang sedang memasak itu berhasil kabur. Kuruto-sama selamat."
"Namun, ada
satu hal yang mengganjal."
"Apa
itu?"
"Katanya, Kuruto-sama
sedang pergi berdua dengan seorang wanita."
……Itu baru
mengkhawatirkan.
Aku tidak yakin Kuruto
akan berselingkuh, tapi besar kemungkinan pihak lawanlah yang akan jatuh hati
padanya.
Namun, di dunia
yang penuh dengan Miasma dan monster ini, aku lebih tenang mengetahui Kuruto
tidak sendirian.
"Mama Yuri,
apa kita kembali ke tempat Nietzsche-san dulu?"
"Tidak, mari
kita pergi ke tempat Kuruto ditemukan."
"Benar juga.
Mari kita naik ke punggung Wyvern ini. Yuri-san, tolong obat lukanya."
"Apa tidak
apa-apa?"
"Iya.
Walaupun tingkat kecerdasan Wyvern rendah, mereka adalah monster yang penurut
jika hierarki kekuasaan sudah jelas. Tidak akan ada masalah."
Bukan itu
maksudku. Yang kutanyakan adalah, apakah Wyvern ini sanggup terbang membawa
tiga orang, meski salah satunya anak-anak.
Si Wyvern itu
menggeleng-gelengkan kepala tanda menolak, namun setelah dibisiki sesuatu oleh Lise,
dia mengangguk pasrah.
Setelah meminum
obat luka buatan Kuruto, luka-lukanya pun pulih.
"Kalau mau
jatuh, aku akan gunakan Teleport untuk kabur, jadi tenang saja, Mama
Yuri."
"Benar
juga."
Aku menanggapi
ucapan Akuri.
Ngomong-ngomong,
bagaimana cara Kuruto yang terjatuh bisa selamat, ya?
"Jika itu
Yuri-san, bagaimana cara Anda selamat?"
"Kalau aku,
mungkin akan menggunakan Setsuka untuk meredam dampaknya…… tapi itu pun
ada batasnya. Mungkin dengan menebas sesuatu sebagai penahan, aku bisa
mengurangi kecepatan saat mendarat."
"Tenang
saja. Kalau Mama Yuri jatuh, aku akan menolong dengan Teleport."
"Terima
kasih, ya. Tapi, bagaimana dengan Kuruto?"
Dia kan
sudah tidak punya permen sihir untuk terbang.
Tidak,
memikirkannya pun percuma.
Karena ini Kuruto,
dia pasti menggunakan cara yang tidak masuk akal.
Kami menunggangi
Wyvern dan tiba di lokasi tempat Kuruto ditemukan.
Benar, ada bekas
perkemahan di sini.
Kayu bakarnya
sudah habis terbakar.
"Cara
menyusun kayu bakar yang sangat efisien ini. Tidak salah lagi, ini pasti Kuruto-sama."
"Setuju."
Normalnya, orang
akan bingung bagaimana bisa tahu hanya dari susunan kayu bakar, tapi aku setuju
bahwa jika itu Kuruto, hal ini bisa langsung dikenali.
Lalu, ada
dua pasang alat makan yang tergeletak.
Berarti
benar dia sedang bersama seseorang.
Nah, ke mana Kuruto
dan temannya pergi dari sini? Reruntuhan distrik yang terlihat di kejauhan itu
mencurigakan, tapi jika tujuannya pulang, ada kemungkinan dia menuju Distrik
ke-536 yang terlihat dari langit tadi.
Haruskah aku
menggunakan sihir Long Sense milik Lise untuk melacak baunya?
Bagi Lise,
melacak bau Kuruto dari sehari yang lalu seharusnya perkara mudah.
Tepat
saat aku berpikir begitu.
Pilar
cahaya raksasa melesat ke angkasa, melubangi kabut tebal yang menyelimuti
dunia.
Pilar
cahaya itu—tidak salah lagi.
"Cepat, Lise,
Akuri. Itu adalah—"
"Tidak perlu
dikatakan lagi. Itu pasti Magic Gun milik Kuruto-sama."
Lise
menggendong Akuri dan melompat naik ke punggung Wyvern.
Aku pun
segera menyusul.
"Cepat!
Menuju ke arah cahaya itu!"
"Lise,
beri perintah dengan bahasa Naga!"
"Ah,
benar juga. ××××!"
Mendengar
perintah Lise, Wyvern itu memasang wajah tidak suka.
Mungkin
dia sudah lelah terbang sejauh ini.
Namun,
begitu Lise memperlihatkan Kochou, Wyvern itu buru-buru membentangkan sayapnya
dan melesat menuju arah pilar cahaya.
Di lokasi
pilar cahaya itu berpijak, lautan zombi meluap tak terkendali.
Aku jadi teringat
saat Valha diserang oleh kawanan Undead.
Di tengah
kepungan zombi itu, ada Kuruto, Nietzsche, dan seorang wanita berambut hitam
yang belum pernah kulihat.
Sepertinya
mereka dalam situasi yang sangat terdesak.
"Semuanya,
di sini!"
Suara Kuruto
terdengar.
"Akuri,
pindahkan aku ke tengah-tengah itu."
"Mama Yuri
sendirian tidak apa-apa?"
"Iya, tidak
masalah."
"Kalau
begitu, ayo."
Seketika, dunia
berpindah.
Di hadapanku
adalah lautan zombi. Dan
di belakangku adalah Kuruto.
"Maaf
membuatmu menunggu! Biar kubayar kegagalanku membiarkan Wyvern itu menculikmu
di sini!"
Aku
mencabut Setsuka.
Sejak
pertempuran di Pegunungan Scene hingga hari ini, aku tidak hanya berdiam diri.
Aku telah
mempelajari metode pelatihan dari Kakak Loretta dan menguasai sebuah teknik.
"Magic
Manifestation!"
Setsuka memancarkan cahaya putih yang
menyilaukan.
Aku
menebas pinggang zombi dengan pedang itu.
"Jangan!
Zombi tidak akan mati kecuali kepalanya—"
Wanita di
belakangku berteriak, namun—
"Jangan
khawatir. Ini sudah lebih dari cukup."
Tepat
setelah aku mengatakannya, zombi yang tertebas itu lenyap tak berbekas.
Selama ini, aku
selalu menyerap sihir yang dilepaskan musuh.
Namun, aku hanya
bisa melapisi pedangku dengan sihir tersebut tepat setelah menyerapnya, dan
setelah itu, meskipun mananya tersisa, aku tidak bisa menguasai kekuatannya.
Akan tetapi,
melalui metode yang diajarkan Kakak Loretta, kini aku bisa menyematkan sihir
yang telah kuserap ke dalam pedang kapan saja.
Yang kusematkan
sekarang adalah sihir pemurnian cahaya.
Memang tidak
sia-sia aku meminta mana dari Mimiko, kekuatannya bahkan lebih dahsyat daripada
sihir cahaya milik Lise.
"Ayo!"
Aku menerjang
masuk ke dalam kerumunan zombi.
Hanya dengan
menumbangkan beberapa dari mereka, para zombi itu seolah menyadari perbedaan
kekuatan kami dan mulai mundur.
Aku belum pernah
bertemu zombi yang tahu kapan harus mundur seperti ini.
Kekuatan mereka
tidak berbeda dari zombi biasa, tapi rasanya aneh.
Apakah zombi di
Dunia Lama memang seperti ini?
"Nietzsche,
terima kasih sudah melindungi Kuruto. Kuruto, apa kamu terluka?"
"Iya, aku
baik-baik saja, terima kasih. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Wyvern
itu?"
Kuruto bertanya sambil menatap si Wyvern yang mendarat
perlahan di area yang kini sudah bersih dari zombi.
"Sudah kami
kalahkan dan jinakkan. Katanya si Lise belajar bahasa Naga dari Raja Naga
Iblis."
"Belajar
bahasa Naga!? Hebat sekali. Padahal aku saja meski mengerti artinya tapi tidak
bisa mengucapkannya, jadi selalu pakai bahasa isyarat kalau
berkomunikasi."
Menurutku, bisa
berkomunikasi lewat bahasa isyarat saja sudah hebat.
Nah, yang lebih
penting dari itu adalah—
Aku menatap
wanita yang ada di samping Kuruto.
"Anda sudah
menolong kami. Terima kasih banyak."
Dia menundukkan
kepala dengan sopan.
"Tidak
perlu, aku hanya ingin menyelamatkan Kuruto. Lebih dari itu, apa yang kalian
lakukan di tempat seperti ini?"
"Investigasi
reruntuhan. Karena Kuruto ahli dalam Mining dan punya pengalaman
investigasi, aku membawanya ke sini sebagai bagian dari pekerjaan Hunter."
"Apa kamu
tidak dengar kalau Kuruto tidak pandai bertarung? Beraninya membawa dia
ke tempat yang penuh monster begini."
"Maaf, itu adalah kelalaianku. Biasanya tidak ada
monster sebanyak ini di sini—"
Dia menundukkan
kepala meminta maaf.
"Yurishia-san,
tunggu dulu. Ini bukan salah Mire-san. Malah, akulah yang merepotkan
beliau."
Kuruto membela wanita yang dipanggil Mire itu.
Ah, sudahlah. Kalau begini kan aku jadi terlihat seperti
pihak yang jahat.
"Maaf.
Terima kasih sudah menjaga Kuruto."
"Tidak
apa-apa. Wajar saja jika seorang tunangan marah kalau pasangannya dalam
bahaya."
Ternyata si Kuruto
sudah cerita kalau aku ini tunangannya, ya.
"Kuruto-sama!
Saya sangat bahagia bisa bertemu kembali. Selama bertahun-tahun terpisah dari
Anda, saya selalu menantikan saat ini tiba."
Lise yang
baru turun dari punggung Wyvern langsung memeluk Kuruto erat.
Bertahun-tahun
apanya, kita kan baru terpisah dua hari—yah, aku pun sangat khawatir sampai
rasanya dua hari ini seperti ratusan hari, sih.
"Lise-san, maaf sudah membuatmu khawatir."
"Papa,
syukurlah Papa selamat."
"Akuri,
maafkan aku juga, ya."
Kuruto meminta
maaf pada Lise dan Akuri.
Di
belakang mereka, Mire tampak kebingungan setengah mati.
"Eh? Tunggu
sebentar. Itu tunanganmu? Eh? Anak? Kuruto, kamu punya anak sebesar ini?"
"Iya. Mari
aku perkenalkan. Mereka berdua adalah tunanganku, Yurishia-san dan Lise-san.
Dan anak ini adalah Akuri, putri kami bertiga."
"………………"
Setelah Kuruto
memperkenalkan kami, Mire memegangi kepalanya sambil berpikir keras, lalu
berkata seolah-olah telah menyadari sesuatu.
"Oke,
aku mengerti. Sekarang Kuruto akan bilang begini, kan: 'Di distrik permukiman
asalku, ini hal yang biasa'."
"Mana ada
hal biasa seperti ini?"
"Ternyata
bukan, ya!?"
Mire yang
berusaha meyakinkan dirinya sendiri justru semakin terkejut saat Kuruto
membantahnya.
Begitu ya,
rupanya dia sudah "terbaptis" oleh keanehan Kuruto.
Sekali lagi, kami
mendengarkan kronologi perjalanan Kuruto setelah diculik Wyvern.
Berhasil
meloloskan diri dari cengkeraman Wyvern, lalu mendarat dengan aman menggunakan
kain yang dijahit menjadi parasut untuk menciptakan hambatan udara saat jatuh.
Yah, untuk ukuran
Kuruto, itu keputusan yang cukup masuk akal.
Lalu dia pergi ke
distrik permukiman, dibantu oleh Hunter Guild, datang untuk menginvestigasi
distrik ini, dan diserang oleh zombi yang entah dari mana asalnya.
"Kuruto
punya dua tunangan. Ditambah lagi anak sebesar ini…… anu, Akuri-chan, kan? Berapa usiamu? Sekitar tiga tahun?"
"Anu……"
Akuri dengan
malu-malu menunjukkan lima jari tangannya.
"Begitu ya,
lima tahun."
Namun sesaat
kemudian, ekspresi Akuri kembali datar dan dia melanjutkan dengan tenang.
"Bukan.
Begitu melewati usia lima ribu tahun, aku jadi malas menghitungnya."
"Eh?"
Mire semakin
kehilangan akal sehatnya.
"Apa tidak
apa-apa, Akuri?"
"Iya. Karena
Nietzsche-san juga sudah terlihat, menurutku lebih baik diceritakan semuanya
sekarang, Mama Yuri. Lagipula, kita tidak tahu kapan zombi-zombi itu akan
kembali, jadi sebaiknya hari ini kita pulang dan istirahat di bengkel."
"Benar juga.
Aku khawatir debu sudah menumpuk karena bengkel sudah lama tidak dibersihkan,
cucian juga mungkin menumpuk. Selain itu, apa Kance-san dan yang lain makan
dengan benar, ya?"
Kuruto berkata
dengan wajah yang tampak lega.
Mungkin dia
merasa tenang karena kami sudah datang, tapi apa yang dia katakan benar-benar
seperti seorang ibu rumah tangga.
"Tunggu?
Anu, pulang ke mana? Kalau mau kembali ke distrik pun hari sudah sangat malam,
dan kalau mau berkemah di luar distrik—"
"Kami tidak
akan berkemah. Nietzsche, apa Teleport bisa dilakukan?"
"Nadi bumi
sudah terhubung sejak kemarin. Kita bisa berpindah kapan saja."
"Bagaimana
dengan makhluk ini?"
Lise
bertanya sambil menatap si Wyvern.
Karena
tidak mungkin membawanya ikut, aku menyuruh Lise untuk melepaskannya saja.
Setelah Lise menerjemahkannya, Wyvern itu pun bergegas terbang menjauh.
Dan
kemudian, kami——
◆◇◆
Aku,
kehidupan Mire, dimulai lima belas tahun yang lalu—saat aku berusia tiga tahun.
Katanya
aku memberi tahu Tuan Harrel, Guild Master yang menemukanku, bahwa namaku
adalah Mire, namun aku sendiri tidak mengingatnya.
Aku tidak
tahu siapa diriku, atau mengapa hanya aku satu-satunya yang selamat.
Kehidupanku
dimulai dari titik di mana semuanya serbaputih. Itulah sebabnya, aku mengutuk
dunia ini.
Seandainya dunia
ini tidak dipenuhi energi jahat, seandainya monster tidak muncul secara
tiba-tiba, aku tidak perlu kehilangan ingatan maupun keluargaku.
Aku membenci
dunia suram yang tertutup kabut tebal ini—bahkan aku membenci kabut itu
sendiri.
Lalu aku bertemu Kuruto,
dikepung zombi, dan hampir menyerah karena mengira ajalku sudah dekat....
Saat itulah, Kuruto
melepaskan sesuatu yang menyerupai cahaya ke langit.
Seketika, cahaya
itu melubangi kabut yang menyelimuti dunia, dan aku melihat langit yang
sebenarnya membentang di sana.
Meski dalam
situasi yang sangat berbahaya, aku malah terpana melihat langit itu.
Di tengah
kebingunganku mendengarkan penjelasan mereka, rekan-rekan Kuruto muncul,
mengalahkan para zombi, dan segalanya berlalu dengan cepat——
"Eh?"
Tiba-tiba, dunia
dibanjiri oleh cahaya.
Kabut yang
menutupi angkasa telah lenyap, dan langit biru cerah menyambar pandanganku.
Langit yang
sangat indah.
Lalu, di sisi
kanan langit, sesuatu yang memancarkan cahaya menyilaukan tampak melayang.
"Ini di
mana?"
"Ini di atas
menara. Dunia yang berbeda dengan tempat Mire-san berada, tempat umat manusia
pindah ribuan tahun lalu."
Akuri-chan
menjelaskan hal itu padaku.
Kemudian, dia
mulai bercerita. Mengenai kejadian di masa lalu yang sangat jauh.
Cerita yang dia
sampaikan hampir sama dengan apa yang kuketahui.
Tentang dunia
yang ditinggalkan karena penuh Miasma hingga manusia tak bisa lagi
tinggal di sana, lalu mereka berangkat menuju dunia baru.
Satu-satunya yang
berbeda adalah kenyataan bahwa yang tertinggal bukanlah orang-orang yang
mengajukan diri secara sukarela. Melainkan para tahanan yang sedang menjalani
hukuman berat.
Malah, jumlah
kriminal di sana jauh lebih banyak.
Alasan mengapa
Akuri-chan tahu semua itu karena dialah sosok yang mengelola Menara Sage dan
membimbing orang-orang ke dunia baru.
Kedengarannya
mustahil untuk dipercaya, tapi kenyataannya aku berada di sini sekarang. Dan yang terpenting, aku bisa
menerimanya.
"Begitu
ya, jadi begitu ceritanya. Alasan Kuruto punya kekuatan luar biasa karena dia
adalah manusia dari dunia yang berbeda dengan kami."
Saat Kuruto
bilang "itu hal biasa di distrikku", ternyata maksudnya adalah hal
biasa di dunia ini.
"""Itu
salah!"""
"Benar. Aku
ini cuma orang biasa yang bisa ditemukan di mana saja, kok."
Tiga wanita,
termasuk Akuri-chan, membantah serentak, sementara Kuruto tertawa dan menyebut
dirinya orang biasa.
Eh? Apa
maksudnya?
Di tengah
kebingunganku, tiba-tiba empat sosok misterius bertopeng muncul di sekitar
kami.
——Aku bisa
merasakannya. Keempat orang ini sangat kuat.
Aku mengeluarkan
busur silang, bersiap menarik pelatuk kapan saja, tapi——
"Ah, tenang
saja, Mire. Mereka bukan musuh."
Yurishia-san menatap Lise-san dengan wajah gusar.
"Sepertinya
Mimiko juga ada di sini."
"Iya, kita
pergi tanpa pamit padanya, dia pasti khawatir."
"Eh? Aku kan
sudah menulis surat. 'Kami berempat pergi ke Dunia Lama untuk mencari
Golnova-san dan yang lain. Kami akan kembali sebentar lagi,' begitu
tulisku."
"Itu malah
bikin makin khawatir, tahu."
Khawatir
bagaimana maksudnya? Lagipula, siapa sebenarnya orang-orang ini?
Aku benar-benar
tidak bisa mengikuti pembicaraan mereka, sampai akhirnya seorang gadis muncul.
Gadis berambut
ungu yang tampak lebih muda dariku maupun Kuruto.
"Lise-sama, Yurishia-chan, Kuruto-chan, Akuri-chan.
Selamat datang kembali. Kalian akan menceritakan semuanya padaku secara
per-la-han, kan?"
Gadis itu memancarkan aura tekanan yang luar biasa hingga
aku pun gemetar ketakutan.
Dia lalu
menatapku.
"Yah,
sepertinya ada hasilnya. Ceritakan juga padaku soal dia secara mendetail
nanti."
◆◇◆
Selagi Mimiko-san
bicara dengan Mire-san dan Yurishia-san, aku——Kuruto——menyelesaikan pembersihan
bengkel dan memasak.
Karena mungkin
aku akan pergi ke Dunia Lama lagi dalam waktu dekat, aku harus menyiapkan
masakan yang awet.
Mengingat hari
sudah sore, aku berencana mencuci baju besok pagi dan meminta tolong seseorang
untuk menjemurnya.
Sambil
menyajikan makan malam, Sina-san, petualang yang bernaung di bengkel ini,
datang menghampiri.
"Kuruto!"
"Sina-san,
aku pulang."
"Apanya yang
'aku pulang'! Kenapa kamu pergi ke Dunia Lama tanpa izin? Aku memang sudah
dengar semuanya dari Nietzsche-san, tapi tetap saja aku khawatir!"
"Apalagi
saat dengar Kuruto diculik Wyvern, rasanya jantungku mau copot!"
Ah, Nietzsche-san
bisa muncul di mana saja asalkan ada dahan pohonnya yang tertanam, jadi tentu
saja semua kegiatan kami ketahuan olehnya.
Alasan kenapa
semua orang dan Mimiko-san langsung datang saat kami kembali pasti karena
Nietzsche-san sudah memberitahu mereka.
"Ooh, Kuruto,
kau sudah kembali."
"Syukurlah
kau selamat."
Kance-san, kakak Sina-san,
dan Danzo-san yang memimpin mereka berdua sebagai ketua party juga
datang.
Namun, pandangan
Kance-san lebih tertuju pada masakanku daripada padaku.
"Ah, ini
sudah siap, akan kubawa ke ruang makan."
"Penyelamat!
Sejak Kuruto pergi, aku tidak bisa makan makanan yang layak."
"Kakak, apa
maksudmu masakan buatanku tidak layak?"
"Bu-bukan
begitu. Bukan cuma masakan Sina, tapi makanan di kedai juga——aduuh!"
Lengan
Kance-san ditarik ke arah yang tidak seharusnya, dan dia diseret pergi sambil
berteriak kesakitan.
Sepertinya
tidak sampai dislokasi, dan Kance-san kan kuat, jadi dia pasti baik-baik saja.
Danzo-san
tidak terlalu mempedulikan mereka berdua dan bertanya padaku.
"Ngomong-ngomong,
seperti apa tempat yang disebut Dunia Lama itu? Ah, biarkan saya bantu
membawakan makanannya."
"Terima
kasih. Begitulah, hampir tidak ada tanaman yang tumbuh di sana. Ada kota-kota
yang lebih besar dari Valha yang disebut Distrik Permukiman tersebar di sana,
dan dihuni ratusan orang."
"Oh, di
dunia itu mereka menggunakan uang kertas."
Sambil membawakan
makanan, aku menceritakan apa yang kulihat di dunia sana kepada Danzo-san.
Tentang
orang-orangnya, juga tentang Wyvern. Agar lebih mudah dimengerti, aku
memberikan peta padanya.
"Jadi ini
peta Dunia Lama.... Saya sudah menduganya, tapi tempat ini benar-benar berbeda
dengan dunia kita.... Hmm."
"Iya. Tapi
orang-orang yang tinggal di sana hampir sama dengan kita, lho. Walaupun
tulisannya berbeda, bahasanya nyambung."
"Hm? Karena
sama-sama manusia, bukankah wajar kalau bahasanya nyambung?"
"Memang
sih. Tapi Danzo-san, bahasa Anda kan sedikit berbeda dengan kami. Dialek,
ya?"
"Bandana-san
juga, meskipun itu akting, aslinya dia pakai dialek. Padahal setelah ribuan
tahun, tidak aneh jika bahasa berubah secara unik menjadi bahasa yang
benar-benar berbeda."
"Faktanya,
sistem tulisannya saja sudah berubah drastis. Aku bisa mengerti kenapa Wyvern
yang berumur panjang paham bahasa Naga, tapi aku kaget bisa nyambung bicara
dengan manusia di sana."
"Hmm, begitu
ya.... Kuruto-dono benar-benar pemikir, ya. Pasti ada alasan kenapa bahasanya
masih sama."
"Benar kan?
Kira-kira kenapa, ya?"
Sambil menata
makanan di meja dan memikirkan alasannya, Mire-san menemukanku dan melambaikan
tangan.
"Kuruto,
ketemu."
"Mire-san!
Apa urusan dengan Mimiko-san sudah selesai?"
"Iya. Itu
makanan?"
"Iya. Sudah
siap untuk semuanya, ayo makan."
Lalu aku sadar
Danzo-san sedang menatap Mire-san dengan tajam. Aku harus memperkenalkannya.
"Ini
Danzo-san, petualang yang bekerja di bengkel ini—atau disebut Hunter di dunia
Mire-san. Dan ini Mire-san, penyelamat nyawaku dari Dunia Lama."
"Salam
kenal, aku Mire."
"Saya Danzo. Ngomong-ngomong——"
Tepat saat Danzo-san hendak mengatakan sesuatu——
"Kuruto,
maaf membuatmu menunggu. Mimiko lama sekali melepaskan kami."
"Yurishia-chan,
interogasinya memang sudah selesai, tapi sesi ceramahnya belum, lho."
"Papa, ayo
makan."
"Kuruto-sama,
biarkan saya membantu menata meja!"
Yurishia-san dan yang lainnya kembali. Kance-san dan Sina-san
juga sudah berkumpul di ruang makan.
"Maaf. Tadi... Danzo-san? Ada apa?"
Saat Mire-san
bertanya, Danzo-san menggelengkan kepala.
"Bukan
apa-apa. Mari kita makan. Masakan Kuruto-dono adalah yang terbaik."
Aku percaya diri
dengan masakanku, tapi dipuji sampai seperti itu membuatku senang.
Setelah makan,
Mire-san mengajakku jalan-jalan.
Beberapa anggota
Phantom mengawal dan mengawasinya, tapi sepertinya dia diizinkan bergerak bebas
di dalam kota.
Jadi, aku
memutuskan untuk memandunya.
Sama seperti
perasaanku saat melihat distrik di Dunia Lama, Mire-san juga tampak terkesan
dengan kota di dunia ini.
"Bangunan
sebanyak ini, tapi tidak ada ladang di dalam distrik?"
"Ada
ladang kecil, tapi ladang yang besar ada di balik tembok."
"Di
luar tembok? Ah, benar juga. Kalian tidak perlu khawatir nutrisinya dicuri, dan
tidak ada Miasma, jadi ladang bisa dibuat di luar."
Mire-san
berkata dengan kagum.
Karena
dia ingin melihat ladang, aku menjelaskan situasinya kepada penjaga dan kami
diizinkan naik ke atas tembok benteng.
Di sisi
timur bengkel, ladang gandum hijau membentang luas.
Bayangan
tembok benteng yang memanjang akibat matahari terbenam menyelimuti ladang itu
dengan tipis.
"Luar
biasa——aku belum pernah melihat ladang seluas ini."
"Valha ini
aslinya benteng pertahanan, jadi populasinya sedikit. Ladang ini termasuk yang
berukuran kecil."
"Eh!? Ini
kecil!? Aku tidak bisa membayangkan ladang yang lebih besar dari ini."
Mire-san terpana
melihat pemandangan itu dengan senyuman di wajahnya.
Melihatnya
begitu, aku merasa penasaran.
"Mire-san, Anda tidak marah?"
"Marah soal apa?"
"Dunia kami
ini terbentuk dengan mencuri nutrisi dari tanah di Dunia Lama—dunia Mire-san.
Jadi, aku merasa wajar jika Mire-san membenci kami."
"Ini bukan
salah Kuruto, kan."
Mire-san lalu
berputar dan menatap ke arah kota.
Tampak seorang
anak kecil dijemput ibunya untuk pulang ke rumah.
"Dulu aku
membenci dunia. Seandainya dunia ini lebih baik, orang tuaku tidak akan mati,
kan? Aku tidak akan
hilang ingatan, kan?"
"Aku
bisa hidup damai, kan? Karena itu, aku membenci dunia kami, dan juga membenci
dunia ini."
Ibu dan anak dalam pandangan Mire-san membuka pintu
bangunan.
Saat itu, si anak
menyadari keberadaan kami dan melambaikan tangan. Mungkin dia mengira kami
penjaga. Mire-san melambai balik.
"Tapi,
setelah diperlihatkan pemandangan seindah ini, rasa benciku hilang. Ternyata dunia ini begitu indah,
ya."
Mire-san
berbaring di sana dan menatap langit.
"Di
dunia kami, saat sore kabut akan berubah warna jadi jingga, tapi sore di dunia
ini ternyata seperti ini ya. Cantik sekali."
"Hei,
Kuruto. Itu apa?"
Mire-san
menunjuk ke langit, jadi aku menjawab, "Itu bintang pertama."
"Bintang
pertama?"
"Iya.
Di langit malam ada benda yang bersinar bernama bintang, dan yang bersinar
pertama kali disebut bintang pertama."
"Langit
akan dipenuhi butiran cahaya bintang. Kata Paman, aslinya itu seperti matahari yang letaknya sangat jauh."
"Dipenuhi
butiran cahaya.... Hebat, aku ingin melihatnya."
"Kalau
begitu, ayo kita di sini sebentar lagi. Mire-san, aku akan siapkan minuman
hangat. Apa Anda suka alkohol? Aku bisa membuatkan hot wine."
"Tidak
terlalu suka, tapi aku ingin coba hot wine."
"Baik,
aku buatkan sekarang."
Aku
mengeluarkan anggur dari tas.
"Eh?
Buat dari buahnya langsung!?"
Mire-san
membelalakkan mata, lalu menggelengkan kepala.
"(Aku tidak
boleh kaget. Mimiko-san sudah berkali-kali memperingatku. Kalau dipikirkan, aku
kalah.).... Iya, tolong ya."
"Siap!"
Aku tidak terlalu
mendengar bagian awalnya, tapi karena diminta, aku mulai membuatnya dengan
penuh semangat.
Aku menghancurkan
anggur di dalam tong kecil untuk difermentasi, lalu menggunakan alat sihir
ultrasonik untuk proses penuaan kilat.
Setelah itu
kupanaskan dan diberi sedikit madu.
"Nah, sudah
jadi.... Mire-san?"
"Cantik....
Apa boleh satu saja jatuh untukku?"
Mire-san
tidak menyadari suaraku, dia menengadah ke langit sambil mengulurkan tangan.
Selagi
aku membuat hot wine, matahari telah tenggelam dan langit berbintang
membentang luas.
Karena
hari ini bulan belum muncul, bintang-bintang terlihat sangat jelas.
"Silakan.
Malam masih dingin, minumlah ini untuk menghangatkan diri."
"Terima
kasih.... Benar-benar jadi wine. Enak pula."
"Apa di
dunia Mire-san juga ada wine? Sepertinya di sana tidak ada kebun
anggur."
"Ada.
Orang dari karavan pedagang sering menjualnya. Harganya sangat mahal, jadi
hanya diminum saat hari spesial. Tapi, yang ini jauh lebih enak."
Mire-san
memegang gelas kayu dengan kedua tangan seolah menghangatkannya, lalu
meminumnya lagi.
"Anda
berlebihan. Sebenarnya aku ingin membiarkannya lebih lama lagi. Yah, meskipun kemarin membiarkannya sampai
1.200 tahun sepertinya terlalu berlebihan."
".... (Kalau
dipikirkan aku kalah, kalau dipikirkan aku kalah, kalau dipikirkan aku
kalah)."
"Ada
apa?"
"Tidak,
bukan apa-apa."
Mire-san
menggeleng. Lalu, aku mengeluarkan camilan yang sudah kusiapkan.
"Aku juga
bawa kue kering. Sesuai keinginan Mire-san, aku membuatnya agak keras."
"Kamu ingat?
Terima kasih.... Eh, ini enak sekali. Belum pernah aku makan yang seperti ini."
"Gula
adalah barang berharga di dunia sana, ya."
"Kurasa
masalahnya bukan di situ."
Mire-san memakan
satu lagi, lalu kembali menatap langit.
"Hei, Kuruto.
Apa tiap titik cahaya itu sama dengan matahari yang kulihat tadi siang?"
"Iya,
benar. Dan di sekitar bintang-bintang itu ada planet seperti dunia kita....
Paman Urano bilang planet-planet itu ada."
"Begitu
ya. Berarti, di dekat salah satu bintang itu, ada dunia kami juga."
"Eh?"
"Dunia
kami kan berada di dimensi yang berbeda dengan dunia ini, kan? Berarti dunia kami pasti ada di suatu
tempat di sana."
Ujar
Mire-san.
Meskipun
makna dimensi dan planet itu berbeda, aku tidak bisa menjelaskan perbedaan
dimensi dengan benar.
Secara
teknis dunia ini dibangun di atas Dunia Lama, tapi karena ada sekat dimensi,
posisi fisiknya mungkin tidak saling berhubungan.
"Saat
Magic Gun milik Kuruto menembus langit, langit biru terlihat dari celah
kabut, kan? Mungkinkah di balik kabut itu juga ada langit berbintang?"
"Entahlah."
Langit
yang kulihat dari bagian atas Menara Sage penuh dengan miasma Monster Tabu dan
tertutup kegelapan.
Namun,
alasan mengapa langit terlihat biru dari bawah mungkin karena ada matahari di
balik kegelapan itu.
Cahayanya
yang menembus miasma terhambur oleh partikel atmosfer sehingga terlihat biru.
Jika
begitu, seandainya Monster Tabu dikalahkan, kegelapan langit akan sirna dan
matahari serta bintang akan terlihat.
Tapi jika
itu terjadi, manusia di Dunia Lama tidak akan bisa memakan monster lagi, dan
banyak orang akan mati kelaparan.
"Uuh...."
"Ada
apa?"
"Aku sedang
dilema...."
Lagipula aku
belum tahu cara mengalahkan Monster Tabu, jadi memikirkannya pun percuma.
"Ayo, Kuruto,
lihat bersamaku."
"Uwah."
Mire-san
menarikku, dan aku berbaring telentang di sampingnya sambil menatap langit.
Langit berbintang
yang kulihat dengan saksama setelah sekian lama ini terasa lebih bersinar dari
biasanya.
"Ah,
ada bintang jatuh!"
"Itu
namanya meteor, berbeda dengan bintang yang melayang di langit."
"Itu
fenomena saat sampah kecil yang melayang di angkasa jatuh dan terbakar
habis."
"Begitu
ya. Padahal tadinya kupikir kalau jatuh mau kubawa pulang satu sebagai
oleh-oleh."
Mire-san
tampak kecewa karena dia tidak tahu ukuran asli sebuah bintang.
Membawa
pulang meteor atau bintang mungkin mustahil, tapi kalau sekadar batu meteorit
mungkin bisa.
Tapi dia pasti
kecewa kalau melihat batu meteorit aslinya tidak bersinar seperti bintang.
Aku menatap
Mire-san di sampingku.
Melihat wajahnya
yang menatap bintang seperti anak kecil, aku jadi ingin memperlihatkan langit
berbintang ini kepada orang-orang di Dunia Lama suatu saat nanti.
Ah, tidak sopan
kalau aku menatap wajahnya terus, aku pun berbalik ke arah lain——
"Waa!?"
Lise-san
sedang tidur di sampingku.
Sontak
aku berteriak kaget dan langsung duduk. Mire-san juga tampak terkejut.
"Ada apa, Kuruto-sama?"
"Maaf,
aku tidak sadar Lise-san ada di sini, jadi aku kaget."
"Tidak
apa-apa. Karena aku menghilangkan keberadaanku dengan Kochou, wajar jika Anda
tidak sadar. Ngomong-ngomong, Yuri-san juga ada di sana."
Begitu Lise-san
bicara, Yurishia-san muncul dari ruang kosong dengan wajah canggung.
"Bukan
begitu, Kuruto. Bukannya aku meragukanmu dan Mire. Hanya saja, hari sudah malam dan aku sedikit
khawatir...."
"Jujur saja
kalau Anda takut Kuruto-sama didekati lalat pengganggu, Yuri-san."
"Jangan
samakan aku denganmu! Aku percaya pada Kuruto."
"Aku juga
percaya padanya! Tapi meski niat Kuruto-sama lurus, manusia yang mendekatinya
belum tentu begitu. Tidak
semua orang tahu batas seperti Hildegarde-san."
Keduanya
mulai berdebat.
Anu,
kurasa bicara soal selingkuh itu tidak sopan pada Mire-san. Apa dia marah?
Saat aku
menoleh——
"Pfft. Kuruto,
kamu benar-benar dicintai ya. Tenang saja, aku tidak berniat merebut Kuruto. Aku lebih suka tipe
orang yang kuat."
Ahaha,
kalau syaratnya itu, aku pasti tidak masuk kriteria.
Aku
sendiri sadar kalau aku tidak memenuhi syarat itu.
Keesokan
paginya, saatnya kembali ke Dunia Lama.
Mire-san
harus segera pulang agar tidak dimarahi Hunter Guild.
Saat
persiapan kereta kuda selesai, terjadi satu masalah. Mimiko-san melarang Lise-san pergi ke Dunia Lama.
"Kenapa
tidak boleh! Aku ini sudah bukan anggota keluarga kerajaan lagi!"
"Tetap tidak
boleh. Jika terjadi apa-apa pada Lise-sama, aku tidak akan bisa berhadapan
dengan Françoise-sama."
Setelah aku tahu Lise-san
adalah Putri Ketiga Liselotte, aku diberitahu bahwa dulu Mimiko-san sangat
berutang budi pada Ratu Françoise.
Itulah sebabnya
dia melindungi Lise-san.
Alasan dia sering
mampir ke bengkel pun bukan sekadar pemberi rekomendasi Tuan Rikuto, tapi untuk
mengawasi keadaan Lise-san.
Wajar saja jika
dia melarang Lise-san pergi ke Dunia Lama yang berbahaya.
"Akuri, Kuruto-sama,
dan Yuri-san pergi bertiga, masa cuma aku yang tidak boleh ikut!"
"Tanpa
Akuri, sihir Teleport tidak bisa dipakai, dan yang mengurus dahan serta
pupuk Nietzsche adalah Kuruto. Tentu saja sebagai pengawal mereka berdua, aku
harus ikut."
"Tapi,
kurasa Lise memang tidak perlu ikut, kan?"
"Yurishia-san,
kau pun jadi musuhku!? Tidak mungkin! Di kejadian kemarin pun bahasa Nagaku
sangat berguna, kan!"
"Itu cuma kebetulan."
Yurishia-san menjawab dengan tegas. Rasanya situasi yang membutuhkan bahasa Naga tidak
akan terjadi berkali-kali.
"Yurishia-san
juga orang penting, kan? Kalau cuma pengawal, orang lain juga bisa!"
"Jangan
bawa-bawa aku. Mana bisa aku menyerahkan tugas mengawal Kuruto dan Akuri pada
orang lain."
"Lise-sama.
Begitulah kenyataannya. Jika terpaksa, aku akan menghentikan Anda dengan
kekerasan."
Mimiko-san bicara
dengan tatapan serius.
"Ugh,
baiklah. Yuri-san, kutitipkan pengawalan Kuruto-sama dan Akuri padamu. Lindungi
mereka meski harus mempertaruhkan nyawa."
"Iya, aku
tidak akan membiarkan Kuruto diculik Wyvern lagi."
"Nah, Akuri.
Pergilah sebelum aku berubah pikiran. Kuruto-sama, mohon berhati-hatilah."
"Iya, kami
berangkat!"
Aku naik ke atas
bak kereta yang penuh barang bersama Mire-san yang sudah memakai masker
pengisap miasma.
Di kursi kusir
ada Yurishia-san dan Akuri.
"Ayo
berangkat!"
Seketika, kami
sudah berada di atas kereta yang ditarik Deku, di dalam distrik permukiman
tempat kami berada kemarin.
Zombi-zombi sudah
tidak ada. Aku sedikit lega——
BRAK!
Tiba-tiba
terdengar suara benturan yang membuatku tersentak.
"Eh?"
Suara itu berasal
dari dalam peti kayu di depanku.
Saat aku mengetuk
peti itu dengan ragu, ada ketukan balasan dari dalam.
"Kuruto,
bukakan. Sepertinya dia sudah mulai sesak napas."
"Eh?"
Sambil
kebingungan aku mengikuti kata Yurishia-san dan membuka peti itu. Lise-san pun
muncul dari dalam.
"Eh!? Lise-san,
bukannya tadi Anda ada di luar?"
"Iya,
aku pun melihatnya begitu. Anda kan mengantarkan kami pergi tadi."
Tidak ada
waktu untuk Akuri memindahkan Lise ke dalam peti dengan sihirnya. Lagipula
Akuri tidak bisa menggunakan Teleport berturut-turut.
"Kamu
tidak mengerti ya, Kuruto. Mana
mungkin Lise menyerah semudah itu? Yang tadi itu cuma ilusi buatan Lise. Dia
sudah tahu bakal dilarang Mimiko, jadi dia masuk ke dalam peti ini sejak
awal."
"Ya, aku
sudah menggunakan sihir Sense Enhancement: Long Sense untuk mempertajam
pendengaranku, jadi aku bisa ikut memantau percakapan kalian dengan baik,"
ucap Lise-san dengan nada bangga.
"Yurishia-san,
apa dari awal kamu sudah tahu?"
Pantas saja aku
merasa ada yang ganjil saat Yurishia-san bersikeras ingin meninggalkan Lise-san
tadi.
Kalau
dipikir-pikir, saat Yurishia-san berpura-pura memihak Mimiko-san, dia
sebenarnya sedang menciptakan situasi agar Lise-san bisa mundur dengan cara
yang terlihat alami.
Sebab jika Lise-san
mengamuk di sana, Mimiko-san pasti akan menghentikannya dengan kekerasan, dan
penyamaran Lise yang asli sebagai ilusi akan terbongkar.
"Kami sudah
merencanakannya sejak tadi malam.... Ah, kalau ini ketahuan, aku bakal
disemprot lagi oleh Mimiko."
Yurishia-san
memegangi kepalanya sambil mengeluh.
Meski tahu
risikonya, dia tetap membantu Lise-san. Mereka berdua benar-benar sahabat yang kompak,
ya.
"Kuruto-sama,
silakan ambil ini."
"Nietzsche-san,
ini apa?"
Benda yang dibawa
Nietzsche-san adalah potongan kain, pisau, hingga perhiasan berkarat.
"Aku
mengumpulkan barang-barang yang dijatuhkan para zombi kemarin. Kupikir ini akan
berguna sebagai bukti saat melapor ke Hunter Guild nanti."
"Terima
kasih banyak."
Benar juga,
dengan benda-bener ini, kesaksian kami soal kemunculan zombi akan jadi jauh
lebih meyakinkan.
"Hei, apa Lise-san
itu orang yang sehebat itu? Aku tidak paham soal konsep 'Bangsa' atau 'Keluarga
Kerajaan', tapi apa dia semacam putri dari kepala distrik Valha?"
Mire-san, yang
tidak memiliki konsep tentang sebuah negara, mengajukan pertanyaan yang sudah
agak terlambat.
Sambil berjalan
kembali menuju Hunter Guild, kami menjelaskan kepadanya apa itu keluarga
kerajaan.
"Eeehhh!? Lise-san itu orang sehebat itu!?"
Dia baru benar-benar paham setelah dijelaskan bahwa Lise-san
adalah putri dari pemimpin yang menyatukan lebih dari seratus distrik.
"Apa aku
harus memanggilmu Lise-sama?"
"Tidak
perlu. Seperti yang kukatakan tadi, aku sudah berhenti jadi anggota kerajaan
dan sekarang menjadi istri Kuruto-sama—"
"Tunangan,
tahu."
"—Begitulah.
Jadi, panggil saja seperti biasa, Lise-san, atau panggil nama saja juga
boleh."
Lise-san tetap
melanjutkan kalimatnya tanpa gentar sedikit pun meski baru saja disela oleh Yurishia-san.
"I-iya,
syukurlah kalau begitu."
Mire-san
menerimanya, meski suaranya masih terdengar agak kaku.
Tapi aku
bisa memahami perasaannya.
Jika aku
masih diriku yang dulu—yang tidak punya kepercayaan diri—aku pasti akan
langsung merasa ciut dan tidak berani bicara normal setelah tahu Lise-san
adalah seorang putri.
Fakta
bahwa aku bisa bersikap biasa saja sekarang adalah berkat tanggung jawab yang
diberikan Tuan Rikuto sebagai perwakilan Atelier Meister, yang membuatku
akhirnya memiliki kepercayaan diri.
"Oh
iya, masih ada waktu sampai kita tiba di distrik, kan? Aku akan melakukan proses pengawetan pada ikannya
supaya tidak busuk. Yah, cuma mengoleskan cairan pengawet saja, sih."
"Ugh, Kuruto-sama,
sebenarnya aku sangat ingin membantu, tapi... bolehkah aku izin tidak ikut kali
ini?"
"Kalau
begitu biar aku saja yang bantu. Lise-mama, ayo tukaran."
Seketika, posisi
Akuri dan Lise bertukar.
Akuri kemudian
berubah ke wujud dewasa karena merasa sulit bekerja dengan tubuh anak-anak.
"Wah, kamu
jadi besar.... Ah, benar juga. Akuri-chan—maksudku Akuri-san—adalah roh, jadi
tentu saja bisa mengubah ukuran tubuh."
"Roh biasa
umumnya tidak bisa mengubah ukuran tubuh semudah itu, lho. Tapi aku adalah roh
yang mengendalikan ruang dan waktu," ucap Akuri dengan wajah sedikit
merona.
Nietzsche-san
juga bisa membesar dan mengecil, tapi itu karena dia menyesuaikan dengan
pertumbuhan pohonnya, jadi tidak dihitung.
Berkat kerja keras kuda kami, Deku, kami tiba kembali di
distrik lewat tengah hari.
Penjaga
gerbang yang sama menyambut kami.
"Mire! Kamu selamat! ...Lalu, kereta kuda itu?"
"Mereka
teman-teman Kuruto. Kami akhirnya bertemu. Katanya mereka pengembara yang juga berdagang.
Ngomong-ngomong, aku kembali tepat waktu, kan?"
"Iya,
tapi sempat ada kehebohan karena muncul pilar cahaya misterius dari arah
kepergianmu. Orang-orang khawatir terjadi sesuatu padamu."
Itu pasti
Magic Gun yang kutembakkan.
Mungkin
karena konsep sihir tidak ada di dunia ini, hal itu dianggap sangat langka.
"Pilar
cahaya? Aku tidak menyadarinya. Di sana kami hampir mati dikepung ribuan zombi.
Kalau bukan karena Yurishia-san
di sini, nyawaku pasti sudah melayang."
"Ribuan
zombi? Monster seperti itu bukannya tidak ada di sekitar sini?"
"Beneran,
tahu. Kuruto, keluarkan itu."
Atas permintaan
Mire-san, aku mengeluarkan potongan kain yang dijatuhkan zombi.
Setelah aku
menjelaskan bahwa ini adalah barang peninggalan zombi, sang penjaga tampak
berpikir keras.
"Mungkin ada
hubungannya dengan pilar cahaya tadi. Lalu, Yurishia-san, ya? Terima kasih
sudah menyelamatkan Mire. Tadi katanya kalian pedagang keliling, apa kalian
akan berjualan di distrik ini?"
"Ya,
rencananya begitu. Kami membawa minuman keras, ikan, gandum, manisan buah,
kain, sampai obat-obatan."
Selain barang
yang sudah disiapkan, kami juga membawa produk yang paling populer di karavan
pedagang berdasarkan saran Mire-san.
Terutama manisan
buah dan minuman keras yang katanya sangat laku.
"Ooh,
orang-orang distrik pasti akan senang.... Ah, berapa harga manisan buahnya? Kalau bisa, aku
ingin beli satu sekarang. Barang seperti itu pasti langsung ludes. Besok ulang tahun
anakku."
"Kalau
begitu anggap saja ini hadiah ulang tahun. Ambillah satu."
"Ooh,
benarkah? Terima kasih banyak! Aku akan pastikan izin tinggal kalian aman
sampai satu bulan. Selama itu, silakan tinggal di distrik ini sesuka
kalian."
Penjaga itu
menerima botol berisi buah Papamomo dengan sirup melimpah itu sambil
bersenandung senang. Tentu saja, sebelum masuk distrik, status kami tetap
diperiksa dengan Appraisal untuk memastikan tidak ada catatan kriminal.
Setelah diizinkan
masuk, kami mulai berjualan di area alun-alun.
Penentuan harga
sudah selesai sejak kemarin dengan bantuan saran dari Mire-san.
Sambil menunggu Yurishia-san
dan yang lain menyiapkan barang, aku dan Mire-san pergi ke Hunter Guild untuk
melaporkan penemuan kami.
Di tengah jalan,
aku menyadari ada wajah yang kukenal di sebuah gang sempit.
"Bukankah
itu Haarel-san?"
Haarel-san, sang
Guild Master, tampak sedang membicarakan sesuatu di gang dengan seorang pria
yang mengenakan jubah bertudung.
"Dia itu...
kalau tidak salah pria yang datang bersama karavan pedagang."
"Dia orang
karavan?"
"Bukan, dia
pria yang datang bersama karavan tiga minggu lalu, tapi menetap di penginapan
Hunter Guild untuk sementara. Namanya Octal, kalau tidak salah. Tampangnya
seperti campuran Goblin dan manusia. Orangnya licin dan pandai bergaul, tapi
tipe yang tidak aku sukai."
"Apa yang
mereka lakukan berdua? Apa sedang negosiasi perpanjangan masa tinggal?"
"Di
gang sempit seperti itu? Yah,
sudahlah. Ayo jalan."
"Lho,
bukannya kita harus minta izin dulu untuk berdagang di alun-alun?"
"Kalau cuma
minta izin, ke resepsionis saja cukup. Guild Master mungkin sedang membicarakan hal
penting, jangan mengganggunya."
Mire-san
berkata begitu sambil terus melangkah menuju Hunter Guild.
Suasana
di dalam gedung tampak lebih sepi dibanding sebelumnya.
"Mire-san,
selamat datang kembali. Bagaimana hasil penyelidikannya?"
"Bisa
dibilang sukses. Nih, brankas logam dari reruntuhan rumah kepala distrik. Di
dalamnya ada banyak uang kertas Port. Aku sudah menghitungnya, sepertinya ada
sekitar tujuh puluh juta Port."
Saat
Mire-san membuka brankas yang sudah tidak terkunci itu, tumpukan uang kertas
jatuh berhamburan seperti longsoran salju.
Sepertinya
tumpukan yang rapi itu jadi berantakan karena guncangan kereta kuda.
Melihat
hal itu, para Hunter yang ada di sana langsung riuh.
Mata
petugas resepsionis membelalak saat dia berteriak, "Luar biasa! Karena
jumlahnya melebihi sepuluh juta Port, maka biaya administrasinya satu juta
Port, dan sisanya akan dikenakan pajak dua puluh persen untuk Guild."
"Oke.
Setelah dipotong pajak, berikan empat puluh persen untukku, empat puluh persen
untuk Kuruto, dan sisanya dua puluh persen pakai saja buat traktir minum semua
orang."
Rupanya
sudah jadi tradisi untuk membagikan sebagian uang ketika mendapatkan rejeki
nomplok.
""""Ooh! Hidup Mire! Hidup Kuruto!""""
Para
Hunter yang tersisa mengangkat gelas mereka dengan sorak-sorai gembira.
Kami kemudian
menceritakan apa yang kami lihat di reruntuhan.
"Penemuan
alat pemelihara penghalang, dan... ribuan zombi? Apa zombi-zombi itu ulah
monster yang muncul tempo hari?"
Resepsionis itu
tampak bingung, tapi saat aku melihat Monster Tabu melahirkan monster-monster
lain, tidak ada zombi di sana.
Kurasa itu
berbeda.
Namun, karena
mengatakannya sekarang pun tidak ada gunanya, aku memilih diam.
"Ah, lalu
saat penyelidikan reruntuhan itu, aku bertemu dengan teman-teman Kuruto. Aku
diselamatkan oleh pendekar pedang dari kelompok mereka. Kalau tidak ada dia,
nyawaku benar-benar dalam bahaya."
"Begitu ya!
Syukurlah, Kuruto-san."
"Iya, terima
kasih banyak," jawabku tulus.
"Lalu,
teman-temanku ingin berjualan di alun-alun, apa diperbolehkan?"
"Apa
barang yang dijual termasuk bahan makanan dan barang habis pakai?"
"Iya. Ada
ikan kering, manisan buah, minuman keras, juga obat-obatan."
Mendengar
kata-kataku, para Hunter langsung bersorak.
"Minuman
keras!"
"Ikan
kering cocok banget buat teman minum!"
"Manisan
buah... boleh juga."
Dalam
lingkungan yang terisolasi seperti ini, pilihan makanan sangat terbatas, jadi
makanan langka dan alkohol adalah hiburan terbaik bagi mereka.
"Obat-obatan
selalu kurang di sini, jadi itu sangat membantu. Kami akan melakukan
pemeriksaan kualitas terlebih dahulu atas nama Hunter Guild. Anu, staf yang
sedang luang sekarang adalah—"
"Biar aku
saja yang periksa."
Hail, putra Haarel-san, mengangkat tangannya.
"Hail-san! Boleh
kami minta tolong?"
"Tentu.
Mereka adalah pemberani yang mampu melintasi dunia kejam ini. Aku ingin sekali
mendengar cerita mereka."
Hail tersenyum
sambil membawa dokumen yang diperlukan dan melangkah keluar.
Para Hunter lain
mengikuti di belakangnya. Sepertinya mereka ingin segera belanja begitu izin
turun.
"Tonka-san!
Tolong belikan manisan buah untukku! Iya, beli tiga. Eh tunggu, empat
saja!"
Petugas
resepsionis yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terpaksa memohon bantuan
kepada salah satu Hunter.
"Bagaimanapun
juga, aku akan melaporkan kedua hal ini kepada Guild Master untuk meminta
keputusannya. Artefak yang ditemukan juga akan diperiksa, dan hadiah tambahan
akan dibayarkan sekitar sebulan lagi—"
Resepsionis itu
menatapku.
Sebulan lagi, aku
sudah tidak akan ada di distrik ini.
"Kalau begitu bagianku—"
"Titipkan saja bagian Kuruto di Guild," potong
Mire-san.
"Tapi, aku
tidak tahu apakah aku akan kembali lagi ke sini."
"Tenang
saja. Kalau dalam dua tahun Kuruto tidak kembali, uang itu akan jadi milikku
sebagai rekan satu party."
Mire-san
mengedipkan matanya.
Akhirnya aku
menerima usulannya. Tepat saat itu, Haarel-san kembali.
"Guild
Master, tepat sekali."
"Ada
apa?"
"Sebenarnya
Mire-san menemukan sesuatu di reruntuhan—"
◆◇◆
"Appraisal—Bahan
makanan, minuman keras, semuanya kualitas kelas satu. Tidak ada masalah."
Seorang pria
bernama Hail, yang mengaku sebagai sekretaris sekaligus staf Guild, datang ke
tempatku—Yurishia—saat aku sedang menyiapkan barang di alun-alun.
Dia memeriksa
kualitas makanan, alkohol, obat-obatan, hingga benih tanaman menggunakan Appraisal.
Skill memang sangat praktis, ya.
Tergantung pada
kecocokannya, katanya dia bahkan bisa mendeteksi racun.
"Ngomong-ngomong,
Yurishia-san. Saya dengar Anda telah menyelamatkan nyawa Hunter kami. Izinkan
saya mewakili Hunter Guild mengucapkan terima kasih. Terima kasih banyak."
"Jangan
dipikirkan. Aku cuma sekalian membantu Kuruto. Justru kami yang berterima kasih
karena Kuruto sudah banyak dibantu di sini."
Hail menundukkan
kepala tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Dia terlihat
seperti pria yang serius, tapi sulit menebak apa yang ada di pikirannya. Tipe
yang merepotkan karena susah ditentukan apakah dia kawan atau lawan.
"Lalu, ada
perlu apa lagi denganku?"
"Pemeriksaan
kualitas sudah selesai. Obat-obatannya juga kualitas tinggi. Namun, Appraisal
milikku hanya bisa memastikan kalau ini tidak beracun, tapi tidak bisa
mengetahui khasiatnya secara detail. Jadi aku butuh penjelasan Anda."
"Begitu ya.
Nih, ini daftar khasiat obat-obatannya. Syukurlah aku mengikuti saran Mire
untuk hanya membawa obat-obatan yang sama sekali tidak punya efek samping. Jadi
lebih mudah menatanya."
Sebenarnya semua
obat buatan Kuruto memang tidak punya efek samping, sih.
Tapi pria ini,
sejak tadi dia terus mengamatiku.
Kalau kau sudah
jadi petualang wanita sejak lama, kau akan jadi sensitif terhadap tatapan
seperti itu.
Dia pasti sedang
menilai apakah aku benar-benar sekuat yang dikatakan Mire.
Melihat Hail yang
terus menulis dokumen dengan tenang, aku hanya bisa membatin seperti itu.
"Jika
memungkinkan, saya juga ingin membeli masker pengisap miasma yang kalian
gunakan."
"Maaf, yang
itu tidak dijual. Kami juga tidak punya cadangan."
Aku berkata
sambil mengelus bola permata di leher Deku.
Sangat berbahaya
jika barang-barang buatan Kuruto beredar luas di dunia ini.
Barang yang kami
pajang sebagai dagangan pun, hanya obat-obatan yang asli buatan Kuruto (meski
sudah diencerkan ratusan kali), sementara bahan makanannya adalah barang yang
dibeli normal di Valha.
"Sayang
sekali kalau begitu."
Caranya bicara
sama sekali tidak terdengar menyesal, tahu.
Mungkin karena
dari awal dia sudah menduga bakal ditolak, jadi dia tidak benar-benar merasa
kecewa.
"—Baiklah.
Semuanya tidak ada masalah. Penjualan diizinkan. Gunakan surat izin pinjaman
ini selama berjualan. Jika Anda ingin menjual barang yang tidak diperiksa hari
ini, harap lapor ke Hunter Guild. Tidak ada aturan untuk pemberian secara
cuma-cuma, tapi untuk makanan, kami tetap menyarankan pemeriksaan kualitas.
Kami akan melakukannya gratis."
Apa dia baru saja
menyindir manisan buah yang kuberikan pada penjaga gerbang tadi?
Aku penasaran
apakah dia marah, tapi ekspresinya tetap datar dan sulit dibaca.
"Paham. Aku
juga tidak berniat cari masalah dengan Hunter Guild. Aku akan bekerja sama
sebisa mungkin."
"Terima
kasih.... Dan, secara pribadi, ada sebuah permintaan yang ingin saya sampaikan
kepada Yurishia-san. Bisakah kita bicara di tempat yang agak sepi?"
Akhirnya sampai
ke poin utama.
Paling-paling soal membasmi monster atau semacamnya.
Seperti yang kubilang tadi, tidak ada ruginya membuat Hunter
Guild berutang budi demi mengumpulkan informasi.
"Lise,
aku pergi sebentar. Titip Akuri, ya."
"Baik,
serahkan padaku."
Aku
bergerak bersama Hail dan masuk ke sebuah rumah yang letaknya agak jauh.
Tampaknya
itu rumah kosong yang dulunya dihuni seseorang, tapi sekarang digunakan sebagai
gudang oleh Hunter Guild.
Bicara di
sini dan bukan di kantor Guild... apa ini pekerjaan yang tidak ada hubungannya
dengan Hunter Guild?
Jangan-jangan,
dia berniat menyerangku?
Kalau iya, akan
kujadikan dia tumbal pedang Sekka-ku—meski Sekka buatan Kuruto tidak akan
pernah berkarat, sih.
"Maaf kalau
agak berdebu, tempat ini rutin dibersihkan tapi tetap saja kotor. Silakan
duduk."
Hail
membentangkan sapu tangannya di atas kursi dan mempersilakanku duduk.
Aku jarang
diperlakukan secara sopan seperti ini, jadi rasanya agak canggung.
Dulu saat masih
jadi petualang di bawah naungan kerajaan, aku pernah diberi kue oleh ksatria
pengawal, tapi aku memakannya sambil duduk di pinggiran batu taman.
Aku bukan tipe
wanita yang anggun, tapi karena dia sudah berbaik hati, aku duduk di atas sapu
tangannya.
"Saya akan
siapkan minuman."
"Tidak
perlu, langsung ke intinya saja."
"Baiklah.
Kalau begitu, soal permintaannya—"
Maaf ya sudah
mengira kamu bakal menyerangku.
Kalau cuma
membasmi monster kecil, aku bisa mendiskusikannya dengan Lise dan...
"Saya ingin
Anda membunuh Haarel, Guild Master Hunter Guild sekaligus kepala distrik
ini."
...Waduh, kalau
yang ini jelas tidak boleh.
"Kalau
permintaan pembunuhan, minta saja pada pembunuh bayaran. Aku ini cuma
Hunter."
Itu sih
pekerjaannya Mimiko. Tidak ada pembunuh yang lebih hebat darinya.
Lagipula,
bukannya Hail ini anak dari Haarel itu?
Berantem sama
orang tua sampai minta jasa pembunuhan itu gila sekali. Apa ini perebutan
kekuasaan? Tidak, posisi kepala distrik dan Guild Master di sini dipilih
melalui pemungutan suara, bukan warisan, jadi kalaupun Haarel mati, belum tentu
dia yang dapat kursinya.
"Jika Anda
tidak mau menerima permintaan pembunuhan, saya mohon lakukan penyelidikan atas
perilaku Haarel."
"Penyelidikan
perilaku? Bukannya itu tugas mata-mata?"
Itu juga tugas
Mimiko.
Aku sering dengar
ceritanya saat menyusup ke Kekaisaran Gurumaku selama bertahun-tahun.
...Mimiko memang
luar biasa ya. Menjadi pembunuh sekaligus mata-mata kelas satu.
Bahkan sampai
sekarang dia masih mengoordinasikan anggota Phantom yang merupakan mata-mata
elit.
Kupikir sebaiknya
dia berhenti mengaku sebagai penyihir istana dan fokus di sana saja.
"Saya tidak
punya banyak orang yang bisa dipercaya. Orang-orang di distrik ini, sedikit banyak,
bekerja di bawah pengaruh Haarel. Tidak ada yang berani menentangnya. Tapi bagi
Anda yang bukan orang distrik, risikonya jauh lebih rendah."
"Tunggu
dulu, kami sedang mencari orang dan kalau bisa kami butuh bantuan Hunter Guild.
Kami tidak ingin jadi musuh Guild Master. Lagipula aku malas melakukan
penyelidikan yang dasarnya adalah niat membunuh. Memangnya kenapa kamu sebegitu
ingin membunuhnya? Dia ayahmu, kan?"
"Kami
tidak punya hubungan darah. Orang tua kandung saya adalah Hunter yang tewas
saat bertugas. Mereka dibunuh monster saat menyelidiki reruntuhan tempat Anda
mengalahkan zombi—Distrik 121. Haarel mengadopsi saya yang telah kehilangan
orang tua. Selama ini saya sangat bersyukur. Saya berusaha keras agar suatu hari bisa menjadi
seperti dia."
"Kalau
begitu—"
"Sampai saya
tahu bahwa Haarel-lah orang yang menghancurkan penghalang di Distrik 121."
"...Apa itu
benar?"
Kalau itu fakta,
ini masalah besar.
"Informasi
ini saya dapat dari seorang informan. Saya sudah memeriksanya sendiri. Lima
belas tahun lalu, ada catatan bahwa Haarel berkali-kali pergi ke Distrik 121
sebelum penghalangnya hancur, tapi kolom tujuannya kosong."
"Cuma
itu tidak bisa—"
"Ya,
itu saja memang bukan bukti. Tapi, saya telah melihatnya sendiri. Bukti bahwa
Haarel bukanlah manusia, melainkan iblis yang menyamar."
"Iblis
yang menyamar jadi manusia?"
"Ya.
Saya melihat momen ketika sebagian penyamaran Ayah terlepas dan dia berubah
menjadi iblis. Persis seperti kata informan itu."
Untuk pertama
kalinya, wajah Hail tampak berkerut.
Dia terlihat
sangat sakit hati. Pasti dia sangat ingin mempercayai Haarel.
Memang benar,
banyak iblis tingkat menengah ke atas yang punya kemampuan menyamar jadi
manusia. Itu bukan hal yang mustahil.
Aku sendiri sudah
berkali-kali dibuat repot oleh iblis.
Tapi begitu ya,
kalau situasinya seperti ini, sekali-kali aku ingin menghancurkan rencana
mereka.
"Hanya
penyelidikan perilaku. Cuma itu yang kuterima."
Dengan Kochou
milik Lise, mendekati target tanpa ketahuan akan jadi perkara mudah.
Kuruto juga sudah
melaporkan penemuan artefak pemelihara penghalang kepada Hunter Guild.
Jika Haarel
adalah pelakunya, pasti ada bukti di sana.
"Yah, kalau
dia memang benar-benar iblis, aku tahu beberapa cara menghadapinya.
Gampanglah."
Apa aku harus
minta Kuruto membuat kristal sihir dari batu kuarsa?
Tanpa itu pun,
jika dia adalah iblis tingkat tinggi yang berupa entitas spiritual, ada
kemungkinan dia akan lenyap hanya dengan melihat kekuatan aneh Kuruto.
Atau kalau bola
sihir pembunuh iblis dari warga Desa Haste masih ada, pakai itu juga bisa.
Eh, bukannya
lebih praktis pakai kristal sihir buatan Kuruto yang berasal dari kuarsa yang
dibawa dari bengkel untuk melawan zombi?
Katanya itu tidak
berefek pada selain mayat hidup dan iblis, jadi bisa langsung dipakai. Tapi
kalau benar Haarel itu iblis, aku ingin tahu apa tujuannya.
Mungkin
saja ada seseorang yang menjalin kontrak dengan iblis itu.
Yah,
tetap ada kemungkinan Hail berbohong atau hanya salah paham. Harus diselidiki
dengan hati-hati.
Lalu,
tentu saja, soal bayaran.
Karena
ini bukan lewat Hunter Guild, aku tidak lupa minta uang muka.
Selain
uang, aku juga minta dia membantu mencari Golnova dan Malefis.
Aku harus
memberitahu Kuruto dan yang lain soal permintaan ini.
Tapi,
bagaimana dengan Mire?
Dia
adalah orang distrik ini. Terlebih lagi, ada kemungkinan besar dia adalah
mantan penduduk Distrik 121 yang diklaim Hail telah dihancurkan oleh Haarel.
Tidak
baik melibatkannya saat belum ada informasi pasti.
Lebih
baik tutup mulut dulu padanya soal masalah ini.
Aku sudah
menyampaikan hal itu pada Hail.
Kalau aku
langsung bergerak setelah bertemu Hail, itu akan mencurigakan. Mungkin aku baru
akan mulai bergerak setelah beberapa saat.
Saat aku
kembali ke alun-alun, ternyata dagangan sudah dimulai dan suasana sangat ramai.
Bukan cuma Lise
dan Akuri, Kuruto dan Mire juga ikut membantu.
Terutama manisan
buah dan alkohol sangat laku keras. Ikan juga lumayan banyak terjual.
Obat-obatan tidak
laku—eh, ternyata dari lima peti kayu obat, tiga di antaranya sudah terjual.
Pembelinya adalah
Hail.
Katanya untuk
stok Hunter Guild sebagai persediaan darurat.
Obat buatan Kuruto
bisa bertahan ratusan tahun, jadi tidak masalah meski beli banyak.
Tapi uang yang
masuk ternyata lebih banyak dari dugaanku. Uang muka yang kuterima dari Hail
jadi terlihat kecil dibanding hasil jualan ini.
Setelah itu, aku
pun ikut membantu sebagai pelayan toko.
Karena saking
ramainya, para pelanggan harus menunggu cukup lama, tapi tak ada satu pun dari
mereka yang mengeluh.
Malah, semuanya
mengucapkan terima kasih kepada kami.
Di dunia ini,
berdagang keliling dengan membawa barang dari tempat jauh adalah pekerjaan yang
jauh lebih berbahaya dibanding di dunia kami.
"Pelanggan
adalah dewa"—meskipun itu ungkapan yang sering diucapkan pedagang, bagi
orang-orang di dunia ini, justru pedaganglah yang dianggap dewa.
Itulah sebabnya
uang kertas yang diterbitkan karavan pedagang bisa begitu merakyat.
Dipuji-puji
begini membuatku jadi ingin semangat bekerja sedikit lagi.
Yah, populasi
distrik ini cuma beberapa ratus orang.
Kalau laku terus
secepat ini, stok pasti akan habis dan keramaian ini cuma sebentar.
"—Kenapa
pelanggannya tidak habis-habis, sih!"
Beberapa jam
kemudian, aku berteriak seperti itu.
Aneh, pelanggan
yang kulayani sudah melebihi jumlah total populasi distrik ini.
Rasa semangatku
tadi sudah terbang entah ke mana.
Malah, jumlah
belanjaan mereka semakin banyak.
Sebagai pelayan
toko, fisik kami memang tidak lelah berkat suplemen nutrisi buatan Kuruto, tapi
itu tidak berefek pada kelelahan mental.
Aku mulai muak
melihat pelanggan yang tidak berkurang sama sekali.
Saat kuamati
dengan saksama, pelanggan yang tadi siang sudah beli, datang lagi untuk kedua
kalinya.
Setelah kutanya,
begini ceritanya:
Pelanggan A yang
beli manisan buah dan kain. Tadi dia mencoba sedikit potongan buah Papamomo
manisannya. Dia hampir pingsan karena saking enaknya. Karena mengira pasti
sudah ludes, dia kembali ke alun-alun dengan pasrah, tapi ternyata masih ada. Tanpa pikir panjang, dia ikut
antre lagi dan borong sebanyak yang dia bisa.
Hunter B
yang tadi siang beli alkohol dan ikan kering. Setelah membakar ikan dan minum
alkohol, dia datang lagi. Dia ingin beli lagi tapi tidak punya uang. Saat
sedang bingung, Hunter Guild membagikan uang. Ternyata itu uang hasil pembagian
dari tumpukan uang yang ditemukan Mire. Dengan uang itu, dia pun ikut antre
kembali.
Pelanggan
C yang punya Appraisal. Setelah melihat performa obat-obatannya, dia
menduga kalau memborong semua ini lalu menjualnya kembali, dia bisa kaya
mendadak. Dia mengambil tabungan bahkan sampai berutang untuk memborong semua
obat. Tapi, karena stoknya entah kenapa tidak pernah habis meski sudah diborong
terus, dia mulai merasa krisis—jangan-jangan kalau stoknya terlalu banyak,
nilainya justru akan anjlok karena banjir barang.
Meminta Kuruto
membuat manisan buah ternyata jadi bumerang. Kualitasnya terlalu bagus.
Ditambah lagi,
pembagian hadiah Mire kepada para Hunter menjadi pemicu membludaknya pelanggan.
Para
Hunter terus-menerus membelanjakan uang kaget itu sampai habis.
Namun,
yang membuatku penasaran adalah kesaksian aneh soal "stok yang tidak
habis-habis".
Apa itu
maksudnya—
"Ya,
barang selanjutnya sudah datang!"
Kuruto membawa
barang menuju meja kasir.
Ngomong-ngomong,
sejak tadi stoknya memang seolah tidak berkurang.
Padahal
sudah laku sebanyak itu?
Saat kulihat ke
atas kereta kuda, masih banyak peti kayu yang bertumpuk.
Bagaimana bisa?
Ternyata, Kuruto
mengambil barang dari dalam peti di atas kereta, lalu diam-diam dia mengambil
barang lagi dari dalam Magic Bag miliknya untuk mengisi kembali peti
kayu tersebut.
"Cuma mau
bilang... dasar kau ini, Kurutoooooo!"
"Eh!? Ada
apa, Yurishia-san?"
"Kamu ini
sebenarnya bawa barang dagangan seberapa banyak, sih?"
"Anu, karena
Mire-san bilang semua orang sudah sangat menantikannya, jadi aku buat yang
banyak. Spesifiknya—"
"Tidak,
jangan sebutkan jumlah spesifiknya."
Kata
"banyak" versi Kuruto tidak mungkin cuma sekadar "banyak"
dalam kamus orang normal. Sudah bisa kupastikan jumlahnya tak terbatas.
Ah, uangnya terus
terkumpul. Apa bocah ini berniat mendirikan bank juga di dunia ini?
"………………"
Membayangkannya
saja sudah ngeri karena terasa akan jadi kenyataan. Cabang Dunia Lama, ya?
Sepertinya kami
harus mengirim Kirschel ke sini nanti. Hanya saja, karena yang terkumpul cuma
uang kertas, sensasi kalau uangnya benar-benar menumpuk itu terasa kurang
nyata.
"Dengar,
Kuruto. Menjadi pedagang keliling itu cuma kedok. Jangan terlalu memaksakan
diri."
"Iya.
Tapi kalau ada orang yang senang, aku ingin berjuang lanjut terus. Kalau hal
yang kubuat bisa membuat orang bahagia, aku harus bekerja keras sebagai
perwakilan Atelier Meister!"
"Aku yakin,
Tuan Rikuto pasti akan melakukan hal yang sama."
Begitulah Kuruto,
berusaha memenuhi misinya sebagai perwakilan Atelier Meister.
"Yurishia-san
istirahat saja, ya."
"Tidak
apa-apa. Berkat suplemen nutrisi buatanmu, aku tidak merasa lelah sedikit pun.
Aku akan berjuang sebentar lagi."
Keberadaan Kuruto
sendiri adalah suplemen bagi jiwaku. Duh, bisa-bisanya aku memikirkan hal
puitis yang tidak cocok dengan sifatku begini.
"Yuri-san,
jangan melamun, ayo bantu. Pelanggannya masih banyak, lho."
"Benar,
Yuri-mama. Kalau tidak cepat, hari keburu malam."
"Kurasa
sebentar lagi kerumunannya akan berkurang, ayo semangat."
"Aku malas
kalau harus bekerja sampai malam."
Lise, Akuri, dan
Mire menegurku, jadi aku kembali melayani pelanggan yang tersisa.
Setelah itu,
petugas resepsionis Hunter Guild datang membantu setelah jam kerjanya selesai.
Akhirnya kami bisa menutup toko sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam.
"Kita sudah
bekerja keras, ya."
"Ya, kerja
keras yang luar biasa. Astaga, saking banyaknya yang terjual, aku sampai sangsi
apa besok masih ada orang yang datang kalau kita buka toko lagi."
Padahal rencana
awal kami adalah tinggal di sini maksimal selama satu bulan.
"Ah, Yurishia-san.
Besok aku tidak berniat membuka toko."
"Tidak buka
toko? Apa maksudnya? Apa kita akan langsung berangkat ke Distrik 38?"
Wajar saja kalau
dia berpikir begitu, karena aku belum memberitahu mereka soal penyelidikan
perilaku Haarel. Bagi Kuruto, memastikan keselamatan Golnova dan yang lainnya
adalah prioritas utama setiap detiknya.
Aku harus segera
mengatakannya—tapi karena ada Mire di sini, aku berniat memberitahunya di
tempat sepi. Namun, Kuruto justru mengambil langkah yang tak terduga.
"Aku
menerima permintaan pekerjaan dari Haarel-san, jadi aku terpikir untuk
memprioritaskan itu dulu."
Eh? Permintaan
pekerjaan? Apalagi langsung dari Haarel?
"Setelah aku
melapor soal reruntuhan itu, dia memintaku untuk mendampinginya melakukan
penyelidikan ulang."
"Penyelidikan
ulang reruntuhan!?"
"Iya,
katanya penemuan kali ini sangat penting, jadi Haarel-san sendiri yang akan
turun tangan. Selain itu, hampir seluruh Hunter di distrik ini—sekitar tiga
puluh orang—juga akan ikut pergi."
Jangan-jangan,
dia berniat melenyapkan bukti? Rasanya kami langsung kecolongan langkah.
....Tidak,
bukankah ini malah kesempatan bagus? Kalau dia menunjukkan gerak-gerik
mencurigakan di sana, penyelidikan akan jadi lebih mudah.
Haarel
sendiri yang bergerak, tidak mungkin dia tidak merencanakan sesuatu. Untuk
sementara, aku harus bicara dengan Lise dan Akuri dulu.
"Lise,
bisa bicara sebentar?"
"Tunggu
dulu. Saat ini aku sedang sibuk mengobservasi sosok Kuruto-sama yang sedang
mengepak barang untuk persiapan buka toko di hari lain."
"Berarti
kamu sedang senggang, kan. Ikut
aku sebentar."
"Apa-apaan!?
Jangan tarik-tarik! Kuruto-sama di momen ini hanya ada di momen ini saja,
tahu!"
Iya, iya—aku
mencengkeram kerah baju Lise dan menyeretnya pergi. Kemudian, aku menjelaskan
situasinya.
"Begitu ya,
jadi Yuri-san menerima permintaan itu tanpa mendengarkan pendapatku dulu."
"Ya.
Sejujurnya, membiarkan keberadaan iblis berkeliaran itu jauh lebih merepotkan
daripada penundaan pencarian Golnova. Lise, kamu juga punya dendam pada iblis,
kan?"
Lise pernah
menjadi target pembunuhan oleh iblis, jadi wajar kalau dia benci.
"Yah, aku memang pernah membenci mereka. Tapi jika
kupikir iblis tingkat tinggi itu telah membuat hubunganku dengan Kuruto-sama
semakin dalam, dendam itu pun berubah jadi rasa syukur."
"Dulu gara-gara iblis tingkat tinggi dipanggil, bakpao
onsen buatan Kuruto jadi banyak yang terbuang sia-sia, lho. Padahal itu bakpao
yang disiapkan Baron Tycoon untuk Putri Liselotte—artinya itu bakpao yang
disiapkan Kuruto khusus untukmu."
"Pernah ada
kejadian seperti itu juga ya.... Fufu.... Fufufufu.... Takkan kumaafkan, iblis.
Aku harus melenyapkan mereka semua dari muka bumi ini."
Bagus, Lise sudah
dipastikan ada di pihakku.
"Sisanya
tinggal menjelaskan pada Kuruto dan Akuri—"
"Biar aku
yang menjelaskan pada Akuri, tapi sebaiknya jangan beritahu Kuruto-sama."
"Kenapa?"
"Berbeda
dengan Yuri-san, Kuruto-sama itu orangnya polos. Kalau dia mencoba
bersandiwara, dia pasti bakal keceplosan."
"Selain itu,
fakta bahwa Haarel meminta bantuan Kuruto-sama artinya dia mengakui kemampuan Kuruto-sama
dalam mengeksplorasi reruntuhan, yang berarti dia sedang mengawasinya."
Lise melanjutkan
penjelasannya dengan serius.
"Jika sikap Kuruto-sama
berubah dari biasanya, Haarel pasti akan curiga. Bukannya menunjukkan jati
dirinya, dia malah bisa saja langsung memutuskan untuk membunuh Kuruto-sama."
"Selama kita
diam, setidaknya dia tidak akan menyentuh Kuruto-sama sampai dia diantar ke
lokasi fasilitas yang ditemukan itu."
Masuk
akal juga, sih, tapi....
"Rahasia Kuruto
jadi bertambah lagi, ya.... Rasanya aku tidak enak hati seperti sedang mengucilkannya."
"Aku pun
merasa perih. Tapi, demi melindungi keselamatan Kuruto-sama, inilah jalan
terbaik."
Lise sepertinya
sudah memantapkan tekad dengan ekspresi wajah yang seolah siap meneteskan air
mata darah. Kalau dia sudah bicara sampai sejauh ini, aku tidak punya pilihan
selain ikut diam.
Haaah, hatiku jadi berat sekali.



Post a Comment