Prolog
Aku—Marlefiss.
Aku tidak tahu banyak soal asal-usul kelahiranku.
Seingatku, aku sudah tumbuh besar di sebuah panti asuhan.
Kebetulan aku memiliki bakat dalam sihir pemulihan, jadi
aku diizinkan bekerja sebagai biarawati. Sayangnya, biara itu sangat miskin.
Hampir tidak ada uang yang jatuh ke tanganku.
Aku merasa diriku bukan orang yang akan berakhir di
tempat seperti ini. Sihir pemulihan ini adalah kekuatan yang dianugerahkan
Tuhan, artinya aku adalah sosok yang terpilih.
Berbekal keyakinan kuat itu, aku pun segera meninggalkan
biara.
—Beberapa tahun kemudian.
"Terima kasih banyak, Marlefiss-san."
Kuruto—atau Kur—si pesuruh di faksi tempatku bernaung, Dragon
Fang of Flame, berterima kasih sambil menundukkan kepala.
"Kalau lukamu sudah sembuh, cepat angkut monster
itu. Benar-benar, deh—"
Sambil memaki ketus, aku menyuruh Kur mengangkut buruan
kami, seekor monster beruang raksasa bernama Armored Bear.
Beratnya mungkin mencapai lima ratus kilogram, termasuk
spesimen yang sangat besar bahkan untuk jenisnya, tapi Kur mengangkatnya tanpa
kesulitan.
Meski tidak punya kemampuan tempur sama sekali, entah
kenapa dia punya kekuatan luar biasa kalau hanya untuk urusan angkut-mengangkut
barang.
Normalnya, bahkan seorang porter profesional pun akan
menggunakan kereta atau alat khusus saat mengangkut monster seperti ini,
tapi...
"Karena aku ini porter, hal semacam ini sudah biasa,
kok."
Saat Bandana mengatakan itu, aku sempat berpikir kalau
hal ini memang normal.
Kalau dipikir-pikir sekarang, mana mungkin hal itu
normal.
—Dipikir-pikir sekarang?
Ah, ternyata ini mimpi tentang masa lalu.
Diriku yang beberapa waktu lalu.
Diriku saat masih bertarung sebagai anggota Dragon
Fang of Flame.
Seandainya saat itu aku bersikap lebih baik pada
Kur—ah, tidak, itu mustahil bagiku.
Golnova selalu terluka karena melindungi Kur, dan
Bandana pun menciptakan suasana yang seolah memojokkan Kur untuk diusir.
Terlebih lagi, aku juga merasa risi pada Kur yang
selalu menjadi penyebab luka-luka itu muncul.
Aku pasti tidak akan bisa mengubah alur
pengusirannya.
Adegan dalam mimpiku berubah.
Kali ini, Uskup Tristan sedang menuangkan anggur
untukku.
"Itu mengandung racun kutukan! Jangan
diminum!"
Saat itu, aku dimanfaatkan sebagai sumber pasokan
mana untuk memanggil iblis. Atasanku saat itu, Uskup Tristan, menggunakan
anggur untuk mengutukku.
Aku berteriak memperingatkan, tapi versiku yang ada
di dalam mimpi sama sekali tidak meragukan sang Uskup maupun pengangkatanku
sebagai pendeta wanita. Aku meminum anggur itu.
Setelah itu, semuanya terasa seperti neraka.
Tubuhku digerogoti racun kutukan, penderitaan karena
tidak bisa menelan makanan apa pun, dan keputusasaan karena dikhianati oleh
Gereja yang selama ini kupercayai.
"Tunggu, apa-apaan ini? Kalau ini mimpi,
tunjukkanlah mimpi yang lebih menyenangkan!"
Aku meninggikan suara, tapi tidak ada jawaban.
Omong-omong, aku pernah dengar kalau sesaat sebelum ajal
menjemput, manusia akan melihat mimpi yang merangkum seluruh kilas balik
kehidupannya.
Apa aku... akan mati sekarang?
Kalau dipikir-pikir, rasanya seluruh tubuhku sakit
sekali.
Aku tidak mau. Aku tidak mau mati.
—Siapa pun! Siapa pun, tolong selamatkan aku! Golnova! Bandana!
Namun,
tetap tidak ada jawaban.
—Cepat,
seseorang harus menolongku!
Di
tengah kepanikanku, bayangan seorang pemuda terlintas di dalam benakku.
"Kur—!"
"Uwah!?"
Begitu
aku meneriakkan namanya, suara terkejut dari seorang pria yang tidak kukenal
masuk ke telingaku.
Saat kubuka mata, tempat ini adalah—di dalam kereta kuda?
Begitu aku menoleh ke arah sumber suara, di sana memang
ada seorang pria asing.
"Syukurlah. Kakak sudah sadar, ya."
"Ya... Di mana ini?"
"Di mana katamu... Tentu saja di dalam kereta naga
milikku. Kita sedang menuju ke Distrik Pemukiman ke-77."
Kereta naga?
Distrik Pemukiman ke-77?
Perlahan-lahan kesadaranku mulai jernih.
Benar juga! Aku dan Golnova menjadi murid Sage Agung,
lalu datang ke Dunia Lama bersama-sama untuk mencari orang-orang yang selamat.
Kupikir kami tidak akan menemukan siapa pun, tapi siapa
sangka bisa ketemu semudah ini.
Apalagi, sepertinya bahasa kami nyambung.
"Anu, apa di tempat yang Anda sebut Distrik
Pemukiman ke-77 itu ada orangnya?"
"Ya, sekitar lima ribu orang mungkin? Di antara
pemukiman di sekitar sini, jumlahnya termasuk yang paling banyak."
"Li...!? Sebanyak itu?"
Kalau ada yang ke-77, berarti mungkin masih ada distrik
pemukiman lainnya.
Jika ada orang sebanyak itu, sepertinya lebih baik aku
kembali ke tempat Bandana untuk melapor.
...?
"Omong-omong, kenapa aku bisa ada di sini?"
"Kakak tidak ingat? Kamu pingsan di tengah jalan
tanpa memakai masker. Aku benar-benar mengira kamu sudah mati karena terpapar Miasma."
"Miasma?"
"Ah, kalau di dalam kereta naga ini aman, kok.
Walaupun ini barang bekas kafilah dagang, kereta naga ini punya mekanisme agar Miasma
tidak masuk. Terpalnya menyedot Miasma dan berfungsi sebagai pengganti
masker."
Mungkin yang dia maksud dengan Miasma adalah uap
beracun.
Sebagai seorang biarawati, aku punya sedikit ketahanan
terhadap uap beracun. Aku juga membawa obat dan alat sihir dari Bandana untuk
menangkalnya, jadi aku akan baik-baik saja, tapi manusia biasa pasti tidak
begitu.
Namun, kenapa aku bisa tertidur di tengah jalan?
Aku tidak bisa mengingatnya.
"Golnova—di mana teman perjalananku? Seorang
pendekar pedang berambut merah yang tampangnya seperti buronan dan sifatnya
jauh lebih buruk lagi."
"Pendekar pedang rambut merah? Tidak, cuma Kakak
sendiri yang tergeletak di jalan."
Golnova tidak ada?
Jangan-jangan, dia melarikan diri dan meninggalkanku?
Kalau dia, hal itu bukan tidak mungkin terjadi.
Memang dia sedikit tobat belakangan ini, tapi sifat
dasarnya tetaplah pendekar pedang yang biadab dan kasar.
Meskipun aku sudah meninggalkan imanku, secara
mendasar kami tetap berbeda.
Daripada itu, aku harus kembali ke tempat Bandana—
"Omong-omong, aku belum mengucapkan terima
kasih. Namaku Marlefiss. Kalau Anda?"
"Aku seorang penjual buku. Namaku Bookman."
"...Itu nama asli Anda?"
"Yah, sudah seperti nama asli. Semua orang memanggilku begitu, lagipula gampang diingat, kan?"
"Lalu, apa semua muatan ini adalah buku?"
Aku menanyakan itu sambil melihat kotak-kotak kayu yang
memenuhi sebagian besar ruang di kereta.
Di dunia kami buku adalah barang berharga, tapi apakah di
Dunia Lama tidak begitu?
Kalau iya, bukankah aku bisa kaya raya jika membawa
buku-buku yang dibeli dari dunia ini?
Aku memang tidak punya uang yang berlaku di dunia ini,
tapi kalau koin emas, pasti bisa dipakai di mana saja.
"Bukan, yang ada di sini sebagian besar adalah
kertas."
"Kertas? Jangan-jangan, Anda menyalinnya sendiri
lalu menjualnya?"
"Tepat sekali."
Bookman mengangguk menanggapi pertanyaanku.
Entah butuh berapa hari untuk menyelesaikan satu buku.
Sepertinya sulit untuk meraup untung besar dari jual-beli
ini.
Ngomong-ngomong, aku baru diberitahu Bandana tempo hari
kalau Kur bisa menyalin buku rata-rata kurang dari satu menit.
Andai aku tahu itu, aku bisa memanfaatkan Kur untuk
mencari banyak uang.
Benar-benar, deh, gara-gara Bandana merahasiakannya, aku
jadi kehilangan kesempatan cari cuan.
"Akan kutunjukkan padamu."
Bookman berkata begitu sambil mengeluarkan tumpukan
kertas dari dalam kotak kayu.
Apa dia mau mulai menyalin sekarang? Sepertinya akan
memakan waktu lama.
"Tidak perlu diperlihatkan juga tidak apa-apa."
"Jangan begitu, dong. Ini kan satu-satunya
keahlianku."
Sambil berkata begitu, Bookman menempelkan tangannya pada
buku dan bergumam lirih, "Trace."
Seketika itu juga, tulisan muncul di atas kertas.
Apa-apaan ini!?
"Bagaimana? Hebat, kan?"
"Apa ini sihir?"
"Kakak, apa jangan-jangan kamu tidak tahu soal Skill?"
Bukan sihir tapi Skill? Apa di dunia ini ada
sistem kemampuan yang berbeda dari sihir?
Tepat saat aku hendak bertanya lebih detail.
"Lho? Anda, kaki kanan itu—"
Kaki kanan Bookman terlihat agak tidak alami.
Sepertinya uratnya putus.
"Ah, ini. Beberapa waktu lalu aku melakukan
kesalahan dan jadi sulit bergerak. Yah, berkat ini aku jadi punya alasan untuk
tidak perlu jalan kaki di luar kereta naga."
Wajahnya tidak terlihat seperti sedang merasa
bersyukur, tuh.
Yah, apa boleh buat.
Dia sudah menolongku, dan aku tidak tahu apa yang
akan dia tuntut nanti kalau aku terus-menerus berutang budi padanya.
"Biar aku yang mengobatinya."
Untungnya, tongkat tanduk Unicorn yang selalu
kugunakan sepertinya ikut dipungut dan diletakkan di sampingku.
"Kamu seorang apoteker? Maaf saja, tapi meski sudah
diperiksa apoteker kelas satu pun, kakiku tetap—"
"Heal!"
Begitu aku mengucapkannya sambil memegang tongkat tanduk Unicorn,
cahaya redup menyelimuti kaki Bookman.
Bagi aku ini pemandangan biasa, tapi—
"Uwahaaaaaaaa!??"
Sepertinya bagi Bookman tidak begitu, karena dia
berteriak sangat kencang.
Kereta barang itu pun berhenti.
"Ada apa!?"
"Terjadi sesuatu!?"
"Kenapa, Bookman?"
Tirai depan dan belakang kereta terbuka, dan sekitar
sepuluh orang berkumpul melihat ke arah sini.
Aku tahu ada kusir di depan, tapi ternyata rombongannya
cukup besar, ya.
Di depan sang kusir—naga darat? Ada naga seukuran
kuda yang berjalan dengan dua kaki.
Jadi itu alasan dia menyebutnya kereta naga.
Selagi aku mengamati dengan tenang, Bookman berdiri
di dalam kereta yang sempit itu.
"Sembuh!? Kakiku, kakiku sudah sembuh!?"
"Apa yang terjadi!?"
Kepada semua orang yang bertanya, Bookman menjawab,
"Nona ini menyembuhkan kakiku dengan kekuatan misterius!"
Sepertinya Skill yang ada di dunia ini tidak
memiliki kekuatan penyembuhan semacam ini.
"Syukurlah kalau begitu. Apa ini sudah cukup sebagai
imbalan karena telah menolongku? Kalau Anda ingin memberi imbalan lebih, aku
ingin anggur—"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Bookman
menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai dan berkata:
"Mohon maafkan kelancangan saya, karena tidak tahu
kalau Anda adalah seorang Saint."
"Ya?"
Aku, yang sudah mencampakkan gereja dan membuang imanku,
disebut... Saint?



Post a Comment