Chapter 5
Pertarungan Maut Melawan Spirit
Eater
"Semuanya,
makanannya sudah siap. Silakan dinikmati."
Kuruto berkata demikian sembari membagikan masakan yang
baru saja matang.
Karena Pohon Wajah Manusia sudah ditanam, para Hunter
pun bisa makan tanpa perlu mengenakan masker.
"Ini
untuk Anda juga, Marlefiss-san."
"Ya."
Aku—Marlefiss—menyahut
singkat sembari menerima sup dengan aroma yang menggugah selera. Isinya
melimpah dengan berbagai macam sayuran dan daging.
Begitu
kucicipi dengan sendok, dagingnya terasa sangat lembut, sulit dipercaya masakan
ini dibuat dalam waktu sesingkat itu. Kaldu supnya pun terasa sangat meresap.
Aku
memang sudah terbiasa dengan masakan Kuruto, tapi tetap saja, masakan yang baru
matang rasanya luar biasa.
Dulu
saat masih di Dragon Fang, aku sempat salah mengira kalau masakan ini adalah
hidangan biasa.
Baru
setelah mengusir Kuruto, aku menyadari bahwa kelezatan masakannya benar-benar
tidak wajar.
Para Hunter yang ikut bersama kami bahkan
tidak sempat berkomentar; mereka langsung menandaskan sup itu dengan lahap.
—Lalu, sebelum sempat memberikan kesan rasa, mereka semua
jatuh tumbang.
"Hah? Apa mereka pingsan saking enaknya?"
"Biasanya mereka cuma pingsan tanpa sampai terjatuh,
jadi ini pemandangan yang langka. Untungnya mereka semua makan sambil duduk,
tapi... eh?"
Mantan Tuan Putri Lise, yang sedang menjawab pertanyaan Yurishia,
menyadari sesuatu.
"Ada apa?"
"Ini bukan pingsan. Mereka tertidur."
"Sama saja, kan."
"Jelas berbeda. Orang yang pingsan karena masakan Kuruto-sama
biasanya menunjukkan ekspresi ekstasi seolah baru saja melihat malaikat. Tapi
mereka ini, ekspresinya hanya menunjukkan kenikmatan seolah sedang terbuai oleh
rasa makanan yang baru saja mereka santap."
"Wajahnya terlihat sama saja bagiku."
"Yuli-san benar-benar tidak paham!"
Yurishia dan Mantan Tuan Putri Lise mulai beradu mulut. Dalam hal ini, sepertinya Lise-lah yang benar.
Di saat itulah, Kuruto angkat bicara.
"Maaf,
Lise-san, Yurishia-san. Aku mencampurkan obat tidur ke dalam makanannya. Marlefiss-san
yang menyarankan kalau sebaiknya dilakukan begitu."
"Apa maksudnya ini?"
Yurishia menatapku dengan tajam. Yah, wajar saja dia
bereaksi begitu.
Aku memberikan isyarat mata pada Kuruto.
Sepertinya Yurishia menangkap sesuatu dari gelagatku.
Dia memintaku pindah ke tempat yang agak jauh agar tidak
terdengar oleh Kuruto. Begitu sampai, dia langsung mencecar.
"Jadi, apa alasannya?"
"Bukan alasan yang besar, kok. Jika mereka memakan
masakan Kuruto, rasa lelah dari pertarungan tadi dan luka-luka kecil yang
tersisa akan sembuh total, bukan? Tapi kita tidak ingin mereka menyadari
keanehan kemampuan Kuruto, kan? Dalam situasi ini, jika hanya kamu yang
menangani bumbu masakannya, mereka pasti akan curiga. Jadi, daripada mereka
bingung kenapa lelahnya hilang setelah makan, lebih baik mereka mengira kalau
mereka tertidur tanpa sengaja, dan saat bangun, rasa lelahnya sudah
hilang—alasan itu pasti lebih masuk akal bagi mereka."
"…………Benar juga."
Yurishia mengangguk meski wajahnya tampak kesal.
Dia memang tipe orang yang lebih suka bertarung
daripada berpikir, tapi dia bukan orang bodoh.
"Sungguh merepotkan. Kenapa kita tidak boleh
membiarkan Kuruto menyadari kemampuannya sendiri, sih?"
Awalnya, si Bandana memberitahuku kalau Kuruto akan
pingsan jika terlalu banyak dipuji—tapi kenyataannya, Kuruto akan kehilangan
kesadaran jika menyadari kemampuannya sendiri.
Ditambah lagi, ada efek samping di mana dia akan
kehilangan ingatan tentang pemicu kesadarannya itu.
Seolah-olah dunia sendiri menolak pemuda itu menyadari
betapa hebat dirinya.
"Apa tidak ada yang bisa dilakukan?"
"……Yah, kalau kita pergi ke Perpustakaan Agung yang
ada di dunia ini, mungkin kita bisa menemukan informasinya. Kuruto sendiri
sebenarnya pasti merasa cemas di dalam lubuk hatinya."
"Kuruto cemas?"
"Iya. Sepertinya dia mengira penyebab hilangnya
kesadaran mereka itu adalah sejenis penyakit endemik. Ditambah lagi, semua
penduduk Desa Haste sepertinya punya kondisi fisik yang sulit memiliki
keturunan. Faktanya, di desa itu memang sedikit anak-anak, dan situasi saat Kuruto
lahir pun kabarnya sangat sulit. Karena itu, dia pasti sedang memikirkan banyak
hal untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut."
"Begitu ya. Tapi, jika penduduk Desa Haste yang bisa
menyembuhkan kutukan atau penyakit apa pun saja tidak bisa menyelesaikannya,
bukankah mustahil untuk melakukan sesuatu?"
"Kamu ini... yah, mungkin memang begitu."
Yurishia tampak ingin mengatakan sesuatu, namun pada
akhirnya dia setuju begitu saja. Mungkin di dalam hati, dia juga
menganggap hal itu sulit.
"Yah, kalau soal anak, bagi kami sudah ada Akuri.
Jadi itu tidak terlalu menjadi beban seperti yang dipikirkan Kuruto."
"Apakah Mantan Tuan Putri Lise juga berpikir
begitu?"
"Entahlah? Dengan sifatnya yang seperti itu,
mungkin dia akan bilang ingin melahirkan anak Kuruto meski harus bertaruh nyawa
sekalipun."
'Bukankah kamu juga sama saja'—pikirku, tapi tidak ada
gunanya mengatakannya sekarang. Mari kita beristirahat sebentar. Untungnya,
monster di sekitar sini juga sedang sedikit.
Sesuai permintaan kepada Kuruto, efek obat tidurnya habis
setelah dua jam. Aku sempat beristirahat sebentar, begitu pula dengan Yurishia
dan Lise.
Para Hunter yang datang untuk melindungiku mulai
terbangun satu per satu.
Biasanya, meski efek obat tidur sudah habis, orang butuh
waktu untuk benar-benar sadar... tapi mereka ini bangun secara serentak.
"Wah, tidurnya nyenyak sekali. Eh? Kenapa aku tadi
tidur, ya?"
"Apa ini? Kondisi tubuhku terasa sangat prima. Apa
ini berkat mukjizat Saint-sama!?"
"Rasanya aku bermimpi makan sesuatu yang sangat enak
dengan lahap."
Sesuai dugaanku, mereka berada dalam kondisi tidak bisa
membedakan apakah masakan Kuruto itu mimpi atau kenyataan.
Dengan begini, Kuruto tidak akan menonjol secara
aneh.
Yurishia dan Lise mungkin tidak suka karena merasa sedang
dipermainkan olehku, tapi mereka pasti setuju—
"Selamat pagi, semuanya. Aku sudah menyiapkan kopi
agar pikiran kalian segar kembali."
“““Hah?”””
Satu menit setelah semuanya meminum kopi.
Saking enaknya kopi yang diseduh Kuruto, mereka semua
meneteskan air mata dan menundukkan kepala dengan hormat.
"Dewi... aku melihat sosok Dewi."
"Begitu ya, alasan Saint-sama berhubungan akrab
denganmu adalah karena—"
"Aku telah memahami kebenaran. Kalau
dipikir-pikir, Dewi yang tadi kulihat mirip dengan pemuda itu—"
Apa yang sebenarnya orang-orang ini bicarakan? Kuruto
itu Dewi? Dia itu laki-laki!
Haruskah kurapalkan sihir penyembuh status
abnormal—tidak, mungkin sambaran kilat lebih efektif untuk mengembalikan
kesadaran mereka?
"Ini
bukan waktunya bermain-main. Demi membebaskan wilayah pemukiman, kita harus
mengalahkan Spirit Eater yang tadi."
Aku memperingatkan para Hunter agar mereka kembali
fokus.
Benar-benar deh, gara-gara Kuruto, semua persiapanku jadi
berantakan.
Akhirnya kehebatan Kuruto tersampaikan juga pada mereka.
Yah, tapi kopinya memang enak, sih.
Nah, sekarang saatnya menghadapi pertarungan ulang
melawan Spirit Eater.
Para Hunter tampak tegang, tapi itu wajar saja. Pertarungan tadi
berakhir dengan kekalahan telak.
Meski ada strategi baru, bukan berarti musuh jadi
lebih lemah. Salah sedikit, nyawa taruhannya.
Meski begitu, alasan mereka tetap melangkah maju,
apakah karena merasa itu adalah misi mereka, ataukah karena iman mereka
kepadaku?
Tapi ini gawat. Dalam kondisi setegang ini, mereka
tidak akan bisa mengeluarkan kekuatan aslinya.
"Kalau begitu, aku gunakan pewanginya sekarang,
ya."
Kuruto berkata demikian sembari mengaktifkan alat sihir
pewanginya.
Seketika itu juga, aroma manis menyebar ke sekeliling.
"Aroma apa ini? Manis sekali."
"Iya, tapi manisnya sama sekali tidak menusuk."
"Lho? Bau manis memuakkan dari Spirit Eater
tadi mendadak hilang?"
Kalau dipikir-pikir, benar juga. Aroma dari pewangi Kuruto
memang sangat harum, tapi tidak sampai menyengat.
Anehnya, bau manis yang lengket dari Spirit Eater
itu benar-benar lenyap.
"Pewangi ini juga punya efek deodoran, jadi dia
menyerap bau di sekitar. Habisnya, tujuan awalnya memang untuk toilet,
sih."
...Rasanya sayang sekali benda sehebat itu cuma
dipakai untuk toilet, tapi bagi Kuruto, hal semacam itu pasti dianggap biasa.
Yah, jika bau Spirit Eater bisa hilang, ini
malah menguntungkan.
Namun, seberapa besar itu akan meningkatkan peluang
kemenangan kami?
"Aroma ini membuat perasaan jadi tenang, ya."
"Iya, entah kenapa rasanya jadi rileks."
"Tapi di saat bersamaan, konsentrasiku rasanya malah
meningkat."
"Dengan kondisiku sekarang, rasanya aku tidak akan
kalah dari siapa pun!"
Ketegangan para Hunter tadi menghilang tanpa
bekas.
Dalam pertarungan, ketegangan memang dibutuhkan
sampai batas tertentu, jadi agak merepotkan kalau hilang sama sekali.
Tapi jika konsentrasi mereka meningkat lebih dari itu,
hasilnya tetaplah positif.
Benar-benar deh, Kuruto ini.
Dia selalu melenyapkan kekhawatiranku tanpa perlu
berpikir panjang.
"Kita punya Saint-sama di pihak kita! Kita tidak
akan kalah dalam pertarungan ini!"
"Tentu saja! Ini pasti menang. Kita bisa menang! Spirit
Eater sialan, akan kuhabisi kau!"
"Bodoh! Tujuan kita bukan cuma untuk menang. Tujuan
utama kita adalah melindungi Saint-sama, tahu!"
“““Oh, benar juga!”””
...Orang-orang ini. Benar-benar sederhana sekali cara
berpikirnya.
Padahal meski konsentrasi mereka naik, bukan berarti Spirit
Eater-nya jadi melemah. Dasar bodoh.
"Marlefiss-san—Anda tidak perlu ikut maju sampai ke
depan, lho. Anda cukup memberikan serangan terakhir setelah kami
melemahkannya."
Mantan Tuan Putri Lise memberikan saran yang baik. Benar-benar tawaran yang menggiurkan. Tanpa ada
bahaya sedikit pun, aku bisa mengambil semua prestasinya. Namun—
"Tidak bisa begitu, kan? Ada orang-orang bodoh
yang bertarung demi melindungiku. Kalau begitu, dibutuhkan seseorang yang bisa
menggunakan sihir penyembuh di dekat mereka."
"Apa Anda akan baik-baik saja?"
"Aku ini mantan Healer dari party peringkat
S, tahu. Aku tidak akan gentar hanya karena hal seperti ini.
Dibandingkan saat menghadapi Fenrir dulu, ini bukan apa-apa."
Spirit Eater memang
sulit dikalahkan dan punya banyak variasi serangan yang merepotkan, tapi jika
bicara soal ancaman serangan satu lawan satu, dia masih kalah dibandingkan
monster-monster yang pernah kuhadapi sebelumnya.
Lagipula, Kuruto yang tidak bisa bertarung saja ikut
pergi. Masa aku malah diam saja?
"Semuanya, mari kita berangkat."
Ucapku tegas.
"Sudah kubilang jangan sok mengatur!"
Yurishia kembali menggerutu, tapi karena aku adalah Saint,
wajar saja jika aku yang memimpin.
Menggunakan cahaya dari sihir cahaya Mantan Tuan
Putri Lise sebagai penerang, kami kembali menyusuri lorong tam—eh?
““““……………Eh?””””
Lorong
tambangnya sudah menjadi bersih. Benar-benar berbeda dari lorong yang sulit
dilewati tadi.
"Apa kita salah jalan?"
"Mana mungkin—"
"Apa maksudnya ini?"
Tempat ini sekarang lebih terlihat seperti koridor kuil
daripada lorong tambang.
"Selagi kalian tidur tadi, karena ada waktu luang,
aku merapikan jalannya agar lebih mudah dilewati. Ya, buat jaga-jaga seandainya
kita harus melarikan diri."
““““Eeeeeeeeehhhhh!?””””
Aku menatap tajam
ke arah Yurishia dan Lise.
Keduanya menggelengkan kepala sekuat tenaga.
"Lise, apa kamu tidak mengawasinya?"
"Kemarin dan kemarin lusa aku begadang, jadi aku
tidak sengaja tertidur. Yuli-san sendiri kenapa tidak mengawasinya?"
"Aku pun tadi tidur sejenak sebelum pertarungan.
Kalau monster yang bergerak aku pasti sadar lewat hawa keberadaannya, tapi Kuruto
sama sekali tidak punya kemampuan bertarung jadi hawanya sulit dibaca."
Sepertinya, selagi mereka berdua tidur siang
sebentar, Kuruto diam-diam melakukan pekerjaannya... tapi ini bukan jumlah
pekerjaan yang bisa dilakukan secara diam-diam, tahu!?
Aku sampai melakukan tsukkomi di dalam hati.
"Kuruto, sampai mana kamu merapikannya?"
"Iya, aku sudah merapikan ruangan tempat Spirit
Eater berada agar lebih mudah dipakai bertarung. Selama kita tidak
menyerang duluan, dia tidak akan melakukan apa pun, kok."
"Tidak melakukan apa pun katamu──kamu ini, ya.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kumohon, jangan bertindak nekat."
Apa yang dikatakan Yurishia benar.
Meski Spirit Eater tidak bergerak dari tempatnya
dan tidak akan menyerang kecuali dipicu, tetap saja itu tindakan yang sangat
nekat.
"Maaf. Karena aku tidak berguna dalam pertempuran,
aku ingin melakukan apa yang aku bisa dengan sekuat tenaga. Lain kali aku akan
minta izin dulu sebelum melakukannya."
"Bukannya begitu, maksudku──"
"Sudah, jangan malah asyik mengobrol. Ayo
berangkat."
"Ah, sudahlah. Ceramahnya nanti saja setelah ini
selesai."
Setelah aku memperingatkannya, Yurishia menggaruk
kepalanya dengan gusar dan melangkah masuk ke dalam.
Di bagian dalam, seperti kata Kuruto, area pertempuran
sudah tertata rapi kecuali di sekeliling Spirit Eater.
Terutama keberadaan dinding-dinding setinggi dua
meter yang dipasang di empat titik itu sangat bagus.
Karena Kuruto yang membuatnya, kekuatan dindingnya pasti
bisa diandalkan.
Saat Spirit Eater menyerang dengan tentakel atau
sihir, kita bisa meminimalkan kerusakan dengan menjadikan dinding itu sebagai
tameng.
Kelompok pendukung seperti aku, Mantan Tuan Putri Lise,
dan Kuruto juga akan aman jika berada di balik dinding.
Meski begitu, para Hunter tampak tidak percaya
kalau medan tempur ini bisa disiapkan hanya dalam waktu dua jam selagi mereka
tidur.
"Hei, ini aneh, kan? Sebenarnya berapa lama kita
tidur tadi?"
"Jangan-jangan, kita sudah tidur selama
sebulan?"
Wajar saja jika mereka berpikir begitu.
"Ayo, segera ambil posisi! Pertarungan akan
dimulai!"
Atas aba-abaku, semuanya menempati posisi masing-masing.
Baris depan diisi oleh Yurishia dan pendukungnya.
Baris belakang memegang bubuk kue buatan Kuruto.
"Vision Boost."
Lise merapal sihir untuk meningkatkan ketajaman
penglihatan dinamis dan memperkuat Yurishia. Persiapan sudah selesai.
Awalnya, salah satu Hunter mendekati Spirit
Eater. Monster itu tidak menyerang.
Melihat itu, aku pun mencoba melangkah maju satu langkah,
namun saat itulah...
Tentakel menjulur dari tubuh Spirit Eater.
Sepertinya dia benar-benar mewaspadai seranganku.
"Cih!"
Yurishia
memotong tentakel itu dengan pedangnya.
"Sekarang!"
Hunter di baris belakang yang berada di
dekatnya segera menaburkan bubuk kue ke arah tentakel yang terpotong.
Seketika, tentakel itu meledak.
Aku bisa merasakan hawa keberadaan para Roh yang
keluar dari dalamnya terbang kocar-kacir menuju pintu keluar lorong──mungkin
menuju ke arah pewangi buatan Kuruto.
"Para Roh menuju ke pintu keluar!"
"Bagus, teruskan──"
Para Hunter dan Yurishia terus memotong
tentakel-tentakel itu.
Perlahan tapi pasti, aku merasa Spirit Eater mulai
mengecil.
Melihat hal itu, kali ini Spirit Eater mulai
melepaskan sihir.
"Mundur!"
Tanpa membuang waktu, kami segera berlindung di balik
dinding.
Benar-benar dinding buatan Kuruto, sihir pun berhasil
ditahan dengan sempurna.
"Aku akan mengobati kalian."
Seorang Hunter yang datang ke dinding tempatku
berada tampak mengalami pendarahan hebat karena lengannya tertusuk tentakel.
Luka sebesar ini bisa segera kusembuhkan dengan sihir
pemulihan.
Selagi aku melakukan pengobatan, serangan pun mereda.
Sepertinya dia tidak bisa menyerang tanpa henti.
Namun──
Saat Yurishia mencoba keluar dari balik dinding,
serangan langsung datang menyergapnya.
"Semuanya,
serang serentak!"
"
" " "Ouh!" " " "
Semuanya melompat keluar secara bersamaan.
Spirit Eater melepaskan sihir ke segala arah, namun
karena itu juga, serangannya menjadi terbagi-bagi.
Yurishia kemudian menebas tubuh Spirit Eater
seolah ingin mencungkilnya.
"Sekarang!"
Begitu bubuk kue ditaburkan, bagian tubuh Spirit Eater
yang terpisah kembali meledak dan para Roh pun beterbangan keluar.
Kerusakan kali ini cukup besar.
Jika terus begini, sepertinya giliranku tidak akan
dibutuhkan, bukan?
Begitu pikirku, namun Spirit Eater tidaklah bodoh.
Dia sepertinya menyadari bahwa selain serangan Yurishia,
kebebasan para Roh tidak akan terancam.
Dia mulai memusatkan serangan sihirnya hanya kepada Yurishia.
Hunter lainnya diabaikan.
Saat ini, musuh yang dia waspadai hanyalah Yurishia dan
aku.
Yurishia mundur ke balik dinding, dan seketika itu juga Hunter
lain melompat keluar.
Namun, karena Spirit Eater terfokus pada Yurishia,
dia tidak bereaksi. Hunter itu pun menebas tubuh Spirit Eater.
"Sekarang!"
Dari mulut Hunter pria yang kekar itu, terdengar
suara Yurishia.
Dan saat bubuk kue ditaburkan──sekali lagi tubuh yang
terpisah meledak dan para Roh pun keluar.
Benar-benar kemampuan yang merepotkan jika menjadi
musuh──kekuatan ilusi milik Lise itu.
Saat masuk ke balik dinding, Yurishia berubah wujud
menjadi Hunter berkat kupu-kupu milik Lise.
Sebenarnya dia bisa menjadi transparan, tapi itu
berbahaya karena dia tidak bisa berkoordinasi dengan Hunter lain dan
berisiko terkena serangan kawan sendiri.
Sejak saat itu, para Hunter berubah menjadi Yurishia,
dan Yurishia berubah menjadi Hunter lain.
Mereka berkali-kali bertukar wujud lewat ilusi, menyerang
sambil mempermainkan Spirit Eater.
"Kalau begini kita bisa menang!"
Seorang Hunter berseru melihat ukuran Spirit
Eater yang sudah mengecil menjadi sekitar seperempat dari ukuran aslinya.
Apakah akan berakhir begitu saja? Saat
aku berpikir demikian...
"Apa itu?"
Wujud Spirit
Eater tiba-tiba mulai berubah. Dia berubah menjadi bola hitam.
Tak
hanya itu, serangan sihir dan tentakel yang tadi gencar dilakukan pun berhenti
total.
"Apa dia mati?"
"Terserah lah. Kita belah jadi dua sekalian."
Yurishia mencoba membelah Spirit Eater menjadi dua
dengan pedangnya──namun saat itulah...
Terdengar suara dentuman keras yang sangat padat,
seperti logam beradu logam.
Tepat setelahnya, duri-duri mencuat dari bola hitam
itu dan menembus bahu Yurishia.
"Guh."
Meski menderita luka parah yang seharusnya membuat
orang biasa berteriak kesakitan, dia berhasil melompat mundur.
Spirit Eater itu
tidak tergores sedikit pun.
"Yurishia-san, ini obatnya!"
"Terima kasih, Kuruto. Maaf, tapi lenganku tidak
bisa digerakkan karena efek hentakannya. Tolong minumkan."
"Baik."
Sepertinya kerusakan akibat benturan saat gagal
menebas Spirit Eater jauh lebih besar daripada luka di bahunya.
Rasanya pasti seperti memukul bongkahan besi sekuat
tenaga dengan batang besi.
Yurishia meminum obat itu langsung dari tangan Kuruto.
"Tak kusangka, bahkan pedang Snowflower dari
paduan Adamantite pun tidak bisa memberikan kerusakan. Terlebih lagi, kondisi
ini sepertinya adalah tipe Counter. Dia akan langsung membalas jika kita
menyerang. Apalagi durinya sekeras Adamantite. Baju zirah atau perisai pasti
tidak akan berguna."
Saat Yurishia mengatakannya dengan wajah meringis,
salah satu Hunter memberikan usul.
"Bagaimana kalau kita gali lubang saja dan
menguburnya? Lihat, awalnya dia memang terkurung di sini, kan?"
"Tidak, benda ini bukan makhluk hidup biasa, jadi
dia tidak akan mati lemas hanya karena dikubur. Aroma yang dia keluarkan akan
meresap ke dalam tanah, bocor ke luar, dan terus memakan para Roh.
Lama-kelamaan seluruh area ini akan menjadi tanah mati di mana tanaman tidak
akan bisa tumbuh."
Apa yang dia katakan benar. Benar-benar
monster yang sangat merepotkan.
"………………"
"………………"
A-ada apa? Yurishia dan Mantan Tuan Putri Lise menatapku
lekat-lekat.
"Jika dalam kondisi ini kamu menggunakan kekuatan
pemurnianmu, apa yang akan terjadi?"
"Tunggu dulu! Yurishia! Bukankah tadi kamu sendiri
yang baru saja mengalaminya? Jika aku memukulnya dengan tongkat, duri itu akan
menembus tubuhku. Tadi mungkin masih untung hanya di bahu, tapi kalau menembus
jantung, aku bisa mati seketika!"
"Tenang saja! Meski terpaksa, aku akan melindungimu.
Sebisa mungkin──"
"Aku tidak bisa tenang!"
Selagi aku dan Yurishia berdebat, Mantan Tuan Putri Lise
menengahi.
"Marlefiss-san, kalau begitu aku akan
menghilangkan wujudmu dan menciptakan ilusimu di tempat lain. Dengan begitu,
Anda tidak akan apa-apa meski tertusuk, kan?"
"……Kalau begitu."
Mungkin ini cara yang hanya bisa berhasil sekali,
tapi kami harus mencobanya. Aku menggenggam tongkatku dengan kuat.
Kemudian, Lise mengangkat kupu-kupunya untuk
menciptakan ilusi. Di depan mataku muncul ilusi yang sangat mirip denganku──hm?
Rasanya bentuk wajahnya agak berbeda──maksudku...
"Lise, ada apa dengan wajah ilusi itu?"
Wujud ilusinya memang terlihat seperti aku, tapi wajahnya
sangat buruk rupa. Aku hanya bisa merasakan kebencian dari sana.
"Kalau mengingat Anda adalah wanita jahat yang
mengusir Kuruto-sama, mau bagaimana lagi. Yah, anggap saja ini menangkap esensi
aslinya."
"Ini bukan waktunya mengatakan hal seperti itu!
Lihat aku baik-baik dan buatlah ilusi yang benar!"
"Apa boleh buat."
Lise memperbaiki wajah ilusiku.
"Masih belum benar. Sama sekali tidak mirip."
"Bagaimana kalau ini?"
"Kenapa malah ada taringnya!"
"Apa boleh buat. Kalau ini──"
"Aku tidak memakai eyeshadow seperti
itu!"
"Haah……"
Sama sekali tidak menjadi benar, kan.
"Lise-san, mungkin sulit membuat ilusi orang yang
tidak terlalu akrab, tapi tolong berusahalah."
"Baik, Kuruto-sama ♥"
Seketika itu juga, wujud ilusi yang dibuat Mantan Tuan
Putri Lise berubah menjadi persis seperti bayangan cermin dariku, alias sangat
mirip dengan aslinya. Benar-benar deh, wanita ini.
Lalu Mantan Tuan Putri Lise menghilangkan wujudku
sepenuhnya. ...Senjata itu, tergantung cara pakainya, bisa digunakan untuk
berbagai kejahatan sempurna, ya.
"Baiklah, aku pergi."
Aku keluar dari balik dinding.
Spirit Eater yang
tadinya bereaksi hanya dengan pendekatanku, kini tidak bereaksi sama sekali.
Sepertinya dia benar-benar fokus pada pertahanan dan counter.
Artinya, aku aman sampai aku memukulnya dengan
tongkat.
Namun, jika tidak bisa mengalahkannya dalam satu
serangan, serangan balasan akan datang.
Meski aku transparan jadi seharusnya tidak apa-apa,
tapi karena aku transparan, Yurishia dan para Hunter tidak bisa mengawal
diriku.
Jika Spirit Eater berhasil melihat menembus
ilusi itu──
Ada perasaan ingin melarikan diri, tapi aku harus
menyerang sesuai dengan gerakan ilusi tersebut.
Merepotkan sekali. Aku bahkan tidak diberi waktu
untuk menyiapkan mental.
Sudahlah, apa pun yang terjadi, terjadilah.
Sesuai dengan gerakan ilusi yang mengayunkan tongkat,
aku pun mengayunkan tongkatku ke arah Spirit Eater.
Ke-keras! Tapi, aku merasakan sensasi mantap bahwa
seranganku memberikan kerusakan.
Retakan muncul di kulit luar Spirit Eater.
Terus begini──
Dalam sekejap──duri-duri muncul. Bukan mengincar ilusi,
melainkan mengincarku.
"Cih!"
Yurishia
mendecit dan menahan duri itu dengan pedangnya.
"Marlefiss,
lari!"
"Tidak
perlu diberitahu juga!"
Aku lari tunggang langgang ke arah belakang.
"Lindungi Saint-sama!"
"Jangan biarkan dia tergores!"
Duri-duri muncul semakin banyak, namun para Hunter
menjadi tameng untuk melindungiku.
Selama waktu itu, aku berhasil mengungsi ke balik
dinding. Selamat.
Tepat saat aku berpikir demikian...
Salah satu duri menembus dinding dan mengarah kepadaku.
Aku yang sedang lengah sudah bersiap menghadapi kematian, namun──
"Kuruto!?"
Kuruto melangkah maju seolah-olah ingin melindungiku.
Duri Spirit Eater pun tepat menghantam dada Kuruto. Tubuhnya terpental,
dan duri itu langsung menarik diri kembali.
"Kuruto-sama! Kuruto-sama!"
"A-aku tidak apa-apa. Karena aku sudah menyelipkan
bongkahan bijih Adamantite di dada. Aku mencoba meniru Hildegard-chan, tapi
sepertinya tidak berjalan mulus, ya."
Saat Mantan Tuan Putri Lise berlari mendekat, bongkahan
bijih jatuh dari pakaian Kuruto yang robek.
Adamantite──ternyata dia membawa barang seperti itu, ya.
Kalau tidak salah, Hildegard adalah salah satu dari Empat
Raja Iblis yang disebut Kaisar Tua.
"Minumlah obatnya dan pulihkan dirimu sebelum
bicara. Meski kamu melindunginya dengan Adamantite, mungkin tulang rusukmu ada
yang patah."
"Heal."
Sebelum Kuruto yang didorong oleh Mantan Tuan Putri Lise
meminum obatnya, aku sudah merapalkan sihir pemulihan. Luka sebesar ini tidak
perlu sampai menggunakan obat.
Selagi aku merapalkan sihir pemulihan, para Hunter
juga kembali. Untungnya, sepertinya tidak ada yang mati.
"Terima kasih, Marlefiss-san."
"Benar-benar deh, jangan membuat repot begitu."
"Marlefiss-san! Kuruto-sama sudah
melindungimu!"
"Sudah
tidak apa-apa. Daripada itu, Marlefiss-san. Tolong pinjamkan tongkatnya."
Kuruto
berdiri dengan wajah yang tampak agak kesakitan.
"Mau
Anda apakan?"
"Aku
akan memodifikasi tongkatnya agar bisa menghancurkan cangkang luar Spirit
Eater."
"Apa itu bisa mengalahkan Spirit Eater?"
"Iya, pasti. Percayalah padaku."
Kuruto... kamu──
"Apa yang kamu katakan! Saint-sama tadi hampir saja
mati, tahu!"
"Aku berterima kasih karena kamu melindungi Saint-sama,
tapi jangan ikut campur──"
"Yang bicaranya berlebihan itu kalian!"
Aku membungkam para Hunter.
Kuruto yang biasanya selalu kurang percaya diri ini,
meminta untuk dipercayai... ini adalah hal yang mustahil terjadi saat dia masih
di Dragon Fang.
Anak ini masih saja tidak menyadari kemampuannya sendiri.
Meski begitu, aku tahu penyebab dia berubah.
Itu pasti karena lingkungannya sudah berubah.
Masa-masa di Dragon Fang adalah lima tahun di mana dia
tidak dipercaya oleh anggota party mana pun dan selalu dihina sebagai orang
yang tidak berguna.
Tidak mungkin dia bisa memiliki kepercayaan diri.
Pasti dia sudah dipercaya dan diandalkan oleh Yurishia
dan Mantan Tuan Putri Lise... tidak, bukan hanya mereka berdua, tapi lebih
banyak orang lagi, dan itulah yang menjadi pemicu perubahannya.
Kalau begitu──
"Mari kita percayai Kuruto. Lakukanlah."
Aku pun harus berubah juga, ya.
Kuruto mengeluarkan peralatan dari tasnya dan mulai
memodifikasi tongkatku.
Aku sudah yakin kalau modifikasi anak ini pasti akan
menghasilkan sesuatu yang aneh. Aku meminta para Hunter untuk waspada
dan mengawasi Spirit Eater dari jarak yang agak jauh.
"Bagaimana kamu akan memodifikasinya?"
"Bukan modifikasi besar, kok. Aku cuma melepas
tanduk Unicorn di ujungnya, lalu menggantinya dengan paduan logam Adamantite
dan tanduk Unicorn."
"Begitu
ya, jadi tanduk Unicorn dan Adamantite dijadikan paduan logam...……… apa?"
"A-ah,
tenang saja. Konduktivitas mananya tidak akan berubah, dan tongkatnya akan jadi
lebih keras dan kokoh. Cuma akan jadi sedikit lebih berat, sih."
"Bukan, bukan itu maksudku──eh?"
Tunggu dulu. Tanduk dan logam dijadikan paduan logam?
Apa hal semacam itu benar-benar mungkin?
"Yah, kalau Kuruto sih hal begitu pasti
gampang," komentar Yurishia santai.
"Memang
sudah sewajarnya bagi Kuruto-sama," timpal Lise.
Apa
yang dibicarakan kedua orang ini? Apa mereka menerima begitu saja fakta kalau
tanduk dan logam bisa dijadikan paduan logam!?
Yah,
maksudku, jika dibandingkan dengan tindakan Kuruto selama ini──eh, tapi
tongkatku. Tongkat berhargaku.
"Nah,
sudah selesai!"
Ah,
sudah jadi ternyata.
Syukurlah
tampilannya tidak berubah. Apa ini benar-benar bisa dipakai?
Maksudku, tadi anak ini tidak sedang mencairkan tanduk
dan Adamantite di panci kecil lalu menjadikannya paduan logam, kan?
"Seperti biasa, kamu sudah terbiasa mencairkan
Adamantite, ya."
"Memang sudah sewajarnya bagi Kuruto-sama."
Melihat reaksi mereka berdua, sepertinya ini memang hal
yang biasa terjadi.
Lagipula, Mantan Tuan Putri Lise, sejak tadi kamu hanya
bilang "memang sudah sewajarnya bagi Kuruto-sama", tahu?
Apa kamu tidak apa-apa dengan itu?
Sudahlah, aku menggenggam tongkatku.
Aku merasa
ujungnya sedikit lebih berat, tapi hanya sebatas itu.
Malah rasanya jadi lebih mudah diayunkan, dan kalaupun
dibilang itu hanya perasaanku saja, aku mungkin akan setuju.
Seperti kata Kuruto, aliran mananya juga tidak berubah.
Jika aku tidak melihatnya dibuat tepat di depan mataku,
aku tidak akan percaya kalau ini adalah paduan Adamantite.
Ya, meski aku juga merasa sulit percaya karena melihatnya
dibuat di depan mataku.
...Baiklah, ayo kita berangkat.
Aku melangkah maju. Kalau dipikir-pikir, ada banyak hal
yang terjadi dengan Kuruto sampai sekarang.
Saat masih di Dragon Fang pun, karena penghasilannya
tidak sebanyak yang dikira, aku sempat berpikir untuk keluar dari party.
Dan yang pertama kali menghentikanku adalah Kuruto.
"Eh!?
Marlefiss-san, Anda mau keluar dari party!? Kumohon, tetaplah di sini."
"Aku
tidak merasa akrab denganmu sampai-sampai kamu bisa bersikap begitu, tahu. Menyingkirlah."
"Aku akan melakukan apa pun yang Anda katakan!"
"Menyebalkan... baiklah. Jika kamu bisa mendapatkan
tanduk Unicorn yang katanya legendaris itu, aku mungkin akan mendengarkan
kata-katamu."
Tak kusangka, dia benar-benar bisa mendapatkan tanduk
Unicorn.
Terlebih lagi, Unicorn itu yang katanya hanya mau
mendekati gadis yang suci malah menendangku, dan entah kenapa malah sangat
akrab dengan Kuruto yang seorang pria.
Bahkan sekarang saat mengingatnya saja, Unicorn itu masih
membuatku kesal.
Namun, pada akhirnya karena tongkat inilah aku tetap
tinggal di Dragon Fang.
Aku mengangkat tongkatku tinggi-tinggi.



Post a Comment