NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 12 Chapter 4

Chapter 4

Monster yang Menggeliat di Bawah Tanah


Setelah menyelesaikan urusan, aku—Kuruto—kembali dari Desa Haste ke bengkel Valha.

Karena Yurishia-san, Lise-san, dan Akuri belum kembali, aku pun membuat masakan di bengkel sambil menunggu mereka.

Stok makanan yang ada sudah kuberikan kepada para pengungsi, jadi kami kehabisan bahan pangan dan aku pun belum sempat makan siang.

Masih ada waktu sekitar satu jam sampai mereka kembali, jadi dalam waktu itu aku berhasil menyiapkan makan malam sekaligus persediaan makanan untuk satu bulan.

Kecuali bahan-bahan yang harus didiamkan dulu agar rasanya lebih nikmat, aku memasukkan semuanya ke dalam Magic Bag, lalu menyambut mereka di pintu depan masih dengan mengenakan celemek.

"Selamat datang kembali, Yurishia-san, Lise-san, Akuri. Kebetulan sekali, makan malam sudah siap."

"Kuruto-sama, saya baru saja kembali."

"Aku pulang, Kuruto."

"Papa, aku pulang."

Lho? Entah kenapa mereka bertiga tampak sangat senang.

Apa mereka menemukan informasi yang bagus?

Kalau begitu, semoga makan malam kali ini terasa jauh lebih nikmat dari biasanya.

 

Setelah mengantarkan makan malam untuk para Phantom yang ada di balik loteng, aku menyajikan hidangan di ruang makan.

Anggota Sakura yang lain sedang keluar untuk bekerja, jadi hanya ada kami berempat.

Sambil makan, kami mulai meninjau informasi yang telah dikumpulkan masing-masing.

Namun pada akhirnya, kami tetap tidak bisa memastikan penyebab hilangnya para Roh di tanah tersebut. Meski begitu, ada beberapa dugaan yang muncul.

"Enak sekali, daging bebek ini. Biasanya memang sudah enak, tapi kali ini rasanya jauh lebih luar biasa."

"Rotinya juga lezat."

"Daging bebek dan roti ini, apa Papa yang membuatnya?"

"Itu daging asap buatan Ayah, kalau rotinya Ibu yang panggang. Aku memang merasa cukup mahir memasak, tapi tetap saja belum bisa menandingi masakan orang tuaku. Oh ya, sausnya menggunakan wasabi, apa rasanya terlalu pedas?"

"Begitu ya, jadi ini daging asap buatan Ayah Mertua. Sausnya sangat cocok dengan dagingnya, enak sekali."

"Iya. Dicocol ke rotinya pun tetap enak."

"Ehm, ini sangat lezat."

Aku senang mereka menyukainya.

Tapi, sepertinya aku harus lebih giat berlatih lagi.

Tepat saat aku berpikir begitu, selembar surat jatuh dari langit-langit.

Ini adalah isyarat dari para Phantom bahwa Mimiko-san telah kembali.

Saat aku pergi menyambut di pintu depan, Mimiko-san tidak sendirian.

Beliau datang bersama Michelle-san sang Elf, dan juga Nyonya Ophelia selaku Atelier Meister.

Karena momennya pas, aku mengundang mereka bertiga untuk ikut makan. Kebetulan roti dan daging bebeknya masih tersisa.

"──Enak banget, daging bebek ini!"

"Iya, lezat sekali."

"Roti buatan Kuruto memang hebat, tapi roti ini juga tidak kalah nikmat."

Mimiko-san, Michelle-san, dan Nyonya Ophelia memuji dengan antusias.

"Ophelia-chan. Jangan dimakan sendirian sampai habis seperti waktu diberi roti oleh Kuruto-chan dulu, ya."

"Jangan bicara yang tidak-tidak, Mimiko."

Nyonya Ophelia suka roti, ya?

Memang beliau terlihat sangat sibuk, dan jika harus makan sambil bekerja, hidangan yang bisa dimakan dengan satu tangan memang pilihan terbaik.

Nanti aku siapkan roti yang baru dipanggang sebagai oleh-oleh.

"Jadi begini. Untuk investigasi di Dunia Lama nanti, aku ingin Michelle-chan ikut mendampingi. Kalau Michelle-chan, dia pasti paham soal Roh."

"Itu ide bagus, tapi kalau begitu kita tidak bisa pindah sekaligus dalam satu kali teleportasi. Beban Akuri akan jadi terlalu berat."

Wajah Yurishia-san tampak serius.

Kapasitas maksimal sekali teleportasi hanyalah empat orang.

Andai ada perangkat teleportasi, kita bisa memindahkan banyak orang sekaligus.

Namun Ayah pernah bilang, perangkat itu tidak mudah dibuat bahkan olehnya sekalipun.

Kabarnya ada batasan lokasi pemasangan juga, jadi akan sulit berpindah ke Dunia Lama menggunakan alat itu.

"Soal itu, kali ini aku ingin Lise-sama tetap di sini menjaga bengkel. Dengan begitu jumlahnya pas empat orang, kan?"

"Kenapa cuma aku yang ditinggal!?"

"Sebab Lise-sama adalah orang yang memiliki kedudukan penting."

"Aku kan sudah bukan putri raja lagi—"

"Bicara apa Kamu? Meski bukan putri, Lise-sama adalah Pelaksana Tugas Penguasa Kota ini, kan?"

Mimiko-san memiringkan kepalanya. Ah, benar juga.

Saat Rikuto-sama diangkat menjadi anak angkat Baron Tycoon, beliau sekaligus diperintahkan menjadi Penguasa Kota di wilayah ini.

Namun karena Rikuto-sama sangat sibuk dan hampir selalu berada di ibu kota, Lise-san-lah yang ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas Penguasa.

Lise-san pun mencoba membela diri dengan ekspresi putus asa.

"Mimiko-san. Apa tugas Pelaksana Tugas Penguasa tidak bisa diserahkan pada Rikuto-sama saja?"

"Rikuto-sama sibuk, jadi akan sulit. Aku juga akan membantumu, kok. Kalau Kamu berjuang sehari penuh, pekerjaannya pasti selesai."

"Mana mungkin.... Yuri-san, tolong katakan sesuatu!"

"Hmm? Begitu ya, semangat ya."

"Kh, Yuri-san memang orangnya seperti itu, ya. Kalau begitu, Kuruto-sama!"

"Lise-san. Menurutku pekerjaan memang harus diselesaikan dengan baik."

"Tega sekali, bahkan Kuruto-sama juga begitu."

"Mama Lise, semangat ya."

Mendengar ucapan Akuri, Lise-san akhirnya menyerah dan duduk kembali di kursinya.

Aku akan menyiapkan makanan kesukaan Lise-san selain roti untuk Nyonya Ophelia nanti.

Tapi, Lise-san biasanya melahap apa saja yang kubuat dengan lahap. Hidangan apa yang pernah dia minta secara khusus, ya?

……Bubur? Hmm, itu kan makanan saat sedang sakit atau kurang enak badan, sepertinya tidak cocok untuk saat ini.

"Jadi Michelle ikut, ya. Kalau Michelle sih sepertinya tidak akan ada masalah."

Yurishia-san bergumam sambil mengangguk.

"Michelle-san, mohon bantuannya."

"Mohon bantuannya, dan maaf jika nanti merepotkan."

"Tidak, justru akulah yang merasa merepotkan—"

"Jangan begitu. Saya selalu merasa berutang budi pada Tuan Kuruto."

"Aku juga benar-benar sudah dibantu oleh Nyonya Ophelia dan Michelle-san—"

"Kuruto, Michelle, sudah hentikan!"

Saat aku dan Michelle-san sedang saling membungkukkan kepala, Yurishia-san memarahi kami. Malam ini, mari kita istirahat dengan tenang.

"Mimiko-san! Ayo segera kita selesaikan urusan penguasa kota ini! Benar, kalau aku bisa menyelesaikannya sebelum pagi, aku bisa ikut pergi!"

"Tolong tunggu sebentar, Lise-sama. Mengingat tumpukannya, mustahil menyelesaikannya sebelum pagi."

"Justru karena bisa mewujudkan kemustahilanlah, maka itu disebut cinta!"

Lise-san, aku harap Kamu tidak terlalu memaksakan diri. Tapi kalau sudah begini, beliau pasti tidak akan mendengarkan. Aku akan siapkan camilan untuk malam ini saja.

 

Pada akhirnya, hingga pagi tiba pun pekerjaan Lise-san belum selesai. Ternyata tugas Pelaksana Tugas Penguasa jauh lebih berat dari yang kubayangkan.

Di bawah mata Lise-san yang datang mengantar kami, terlihat lingkaran hitam yang cukup besar.

Setelah memintaku tidur sebentar, sepertinya beliau terus berjuang sepanjang malam.

"Mama Lise, semuanya, kami berangkat dulu."

"Selesaikan tugasmu sebagai Pelaksana Tugas Penguasa dengan baik, ya."

"Kami berangkat. Kalau semuanya sudah beres, aku akan bawakan oleh-oleh."

Karena di Pemukiman ke-77 ada beberapa toko, aku berencana membeli sesuatu di sana.

"Tunggu sebentar! Kuruto-sama!"

Lise-san menggenggam tanganku dan menatapku lekat-lekat. Apa ada yang tertinggal?

"Kuruto-sama, cium keberangkatan, dong."

Lise-san memejamkan mata sambil memajukan bibirnya. Sebenarnya agak malu melakukan ciuman di depan Mimiko-san dan yang lainnya.

Tapi, Lise-san sudah berjuang keras sebagai Pelaksana Tugas Penguasa. Aku pun merangkulkan tangan ke pinggang Lise-san, lalu menyatukan bibir kami.

Hanya beberapa detik. Bibir lembut Lise-san dan embusan napas hangatnya merasuk ke dalam diriku.

Wajah Lise-san langsung memerah padam, bahkan seolah ada uap yang keluar dari kepalanya.

Karena gejalanya sama seperti biasanya dan bukan karena sakit, sepertinya beliau tidak butuh obat penurun panas.

"Kami berangkat, Lise-san."

"Sa-selamat dhalan, Khurt-shama."

Mungkin karena kurang tidur. Lise-san melepas keberangkatan kami sambil limbung ke sana kemari.

"Hanya karena ciuman saja sudah seperti itu, sepertinya hubungan kalian masih sangat suci ya, Mimiko."

"Benar, Ophelia-chan. Padahal aku ingin Lise-sama segera hamil agar aku bisa membantu merawat adik Akuri-chan."

"Apa itu perasaan seorang ibu yang mendambakan cucu?"

"……Nanti aku marah, lho?"

Tepat sebelum teleportasi, aku masih sempat mendengar suara Mimiko-san dan Nyonya Ophelia.

Anak…… ya. Aku pun mulai berpikir. Aku merasa intuisiku mungkin agak tumpul.

Soalnya, aku sama sekali tidak menyadari perasaan Yurishia-san dan Lise-san sampai mereka mengatakannya langsung padaku.

Tapi meski begitu, aku tahu kalau perasaan mereka berdua bukanlah bohong.

Aku pun sangat mencintai mereka berdua. Kalau tidak, mana mungkin aku menjanjikan pernikahan.

Namun, masalahnya adalah setelah itu──masalah anak.

Sepertinya kami para penduduk Desa Haste memiliki konstitusi tubuh yang sulit memiliki keturunan, dan aku selalu khawatir apakah aku benar-benar bisa punya anak.

Selain itu, aku juga dengar kalau orang luar desa yang mengandung anak dari penduduk Desa Haste akan mengalami proses persalinan yang sulit.

Mengingat keselamatan mereka berdua, mungkin sebaiknya kami tidak punya anak.

Yurishia-san dan Lise-san pasti akan bilang kalau punya Akuri saja sudah cukup.

Namun aku tahu sifat Lise-san, jika hamil, beliau pasti akan tetap berusaha melahirkannya apa pun yang terjadi pada dirinya sendiri. Begitu juga dengan Yurishia-san.

……Ngomong-ngomong, aku dengar saat Yurishia-san melintasi waktu ke masa lalu, dia mendapatkan obat dari Akuri yang bisa membuat proses kehamilan menjadi aman. Apa obat itu masih ada?

Setelah urusan ini selesai, aku berencana menanyakannya pada Akuri. Tapi kemungkinan besar Akuri tidak memilikinya, dan itu bukan sesuatu yang bisa disiapkan dengan mudah. Kalau memang mudah didapat, pasti sudah beliau berikan ke desa sejak lama.

 

Dalam sekejap, kami sudah berteleportasi ke depan Pemukiman ke-169.

"Selamat datang kembali, Nyonya Akuri dan semuanya."

Nietzsche-san membungkuk dalam ke arah Akuri.

"Nietzsche-sama, terima kasih atas bantuannya. Saya Michelle."

"Iya, sayalah yang berterima kasih karena Anda selalu menyiram saya."

Michelle-san membungkuk sangat dalam. Saking semangatnya, aku sempat mengira beliau akan melakukan dogeza ala Negeri Yamato.

Michelle-san memang sering berada di kota ReKuruto. Karena di depan kota itu juga ada cabang pohon Nietzsche-san, sepertinya mereka sudah saling kenal. Bagi Elf, Roh Agung Pepohonan adalah keberadaan yang sangat istimewa.

Meskipun Nietzsche-san sudah mengucapkan terima kasih, sepertinya Michelle-san tetap merasa sangat rendah diri di hadapannya.

"Michelle-san, Anda datang untuk menginvestigasi penyebab sedikitnya jumlah Roh di pemukiman ini, kan? Saya sendiri tidak tahu penyebabnya, tapi memikirkan adanya bahaya bagi sesama Roh, saya tidak bisa membiarkannya. Tolong, saya percayakan pengungkapan penyebabnya pada Anda."

"……Ba-ba-ba-ba-baiklah, saya laksanakan!"

Michelle-san menjawab dengan suara gemetar. Semangatnya seolah-olah beliau siap mempertaruhkan nyawa jika gagal. Di bawah tatapan Nietzsche-san, kami mulai mendekati pemukiman.

"Jadi ini Dunia Lama. Dan itu adalah penghalangnya. Penghalang yang konon sanggup menahan serangan dari monster tabu itu."

Michelle-san mengamati penghalang pemukiman tersebut. Memang benar, aku pun merasa penghalang ini luar biasa. Kira-kira siapa yang membuatnya, ya?

"Saya merasakan hawa Roh meski hanya sedikit. Tapi benar kata kalian, saya sama sekali tidak merasakan kehadiran Roh dari dalam pemukiman."

Kami membuka gerbang dan masuk ke dalam. Diku juga tampak sehat-sehat saja. Makanan dan air yang kusiapkan sudah habis sekitar setengahnya.

Sepertinya dia bisa tidur dengan nyenyak. Rasanya bulunya juga jadi lebih indah. Yurishia-san kemudian bertanya pada Michelle-san.

"Bagaimana, Michelle?"

"Benar-benar tidak ada Roh. Rasanya sedikit mual. Jika begini, tanaman pun tidak akan bisa tumbuh."

"Apa penyebabnya karena penghalangnya sempat rusak?"

Aku mengangguk setuju.

"Benar. Berdasarkan dokumen dari Marlefiss-san, tidak ada informasi tentang gagal panen sampai penghalangnya rusak. Sebaliknya, ada kabar kalau Pemukiman ke-77 akhir-akhir ini sering gagal panen—"

"Artinya di Pemukiman ke-77 juga bukannya tidak ada Roh sama sekali, tapi jumlahnya sedang berkurang?"

"Waktu itu aku tidak menyadarinya, tapi bisa jadi memang begitu."

Karena sedikit Roh, tanaman jadi tidak tumbuh.

Berkat bantuan Marlefiss-san, hasil panen sempat membaik untuk sementara, tapi jika jumlah Rohnya sedikit, suatu saat nanti pasti akan gagal panen lagi.

Kita harus benar-benar menyelidiki penyebab hilangnya para Roh ini.

"Mari kita minta bantuan pada Roh yang ada di luar."

Michelle-san berucap seolah baru saja mendapatkan ide.

"Maksudmu Nietzsche-san?"

"Bu-bukan. Itu sangat tidak sopan. Bukan Nietzsche-sama, melainkan para Roh Mikro."

Roh Mikro adalah roh yang ukurannya sangat kecil.

Mereka hampir tidak memiliki kehendak sendiri dan kekuatannya pun nyaris nol.

Karena itulah, mereka ada di mana-mana.

Michelle-san melangkah keluar gerbang, lalu mengeluarkan tongkat kecil yang menyerupai dahan pohon.

Saat beliau mengerahkan tenaga, ujung tongkat itu bersinar redup.

Aku merasakan kekuatan misterius yang berbeda dari sihir. Cahaya itu, mungkin itulah para Roh Mikro.

"Saya sudah mengumpulkan para Roh Mikro. Kita akan masuk seperti ini. Jika penyebab hilangnya Roh ada di dalam pemukiman, mereka pasti akan memberikan reaksi."

Sambil berkata begitu, Michelle-san masuk kembali ke dalam pemukiman, lalu menurunkan tongkatnya.

Roh-roh Mikro itu tetap berada di posisi tongkat tadi berada dan tidak bergerak.

Kami menunggu beberapa saat. Ternyata mereka tetap diam.

"Hei, Michelle. Apa ini artinya gagal?"

Yurishia-san bertanya karena mulai tidak sabar.

"Tidak, mereka bergerak. Tapi karena Roh Mikro tidak punya kekuatan, kecepatan geraknya memang lambat."

"Lambat juga ada batasnya, kan."

"Kalau begini terus, bisa butuh waktu berbulan-bulan."

Hmm, seperti kata Akuri, kalau butuh waktu berbulan-bulan, kita tidak bisa memanggil para pengungsi ke pemukiman ini.

Memang ada cara dengan memulihkan ladang tanpa Roh lalu baru menyelidiki, tapi tetap saja rasanya tidak tenang jika penyebabnya belum diketahui.

──Ah, benar juga.

"Cretis-san pernah memberitahuku kalau para Roh itu suka makanan manis. Apa mereka tidak akan jadi lebih bersemangat kalau makan ini?"

Aku mengeluarkan kue kering (cookie) lalu menyodorkannya ke arah kerumunan Roh Mikro.

"Ah, kalau ukurannya sebesar itu mereka tidak bisa memakannya. Sini, pinjam sebentar."

Michelle-san mengambil kue tersebut, meremukkannya sampai hancur, lalu menaburkannya.

Semoga saja ini bisa menambah semangat mereka──

Tiba-tiba saja gumpalan Roh Mikro itu mulai bergerak dengan cepat.

"Ternyata manusia maupun Roh, kalau makan yang manis-manis langsung jadi bersemangat, ya."

"Ini bukan waktunya kagum! Ayo kejar!"

"Nanti kita kehilangan jejak!"

Kami semua berlari mengejar. Saat tiba di area yang agak jauh dari pusat kota, para Roh Mikro itu menyelam ke dalam tanah.

"Kalau begini kita tidak bisa mengejar mereka."

"Tidak masalah! Kuruto!"

"Siap!"

Aku mengeluarkan sekop. Karena belakangan ini aku sering menggali tanah, aku selalu membawanya di dalam Magic Bag setiap hari.

"Michelle-san, tolong pegang ini. Ini adalah Magic Tool yang bisa mendeteksi arah pergerakan Roh. Yurishia-san, tolong pegang lenteranya."

Aku menyerahkan Magic Tool pemberian Paman Urano kepada Michelle-san, dan lentera kepada Yurishia-san. Aku pun mulai menggali tanah untuk menuju ke bawah.

"Tuan Kuruto, sedikit lagi ke kanan—bukan, ke kiri, ah, lurus saja."

"Baik!"

"Papa, di depan ada sesuatu."

"Iya, sepertinya ada sebuah ruangan."

Setelah terus menggali, aku membentur sesuatu yang keras. Apa ini benda buatan manusia? Jangan-jangan ini atap dari sebuah reruntuhan?

Pokoknya aku menghancurkannya, membuat lubang masuk ke ruangan tersebut, lalu turun ke bawah.

Tempat itu adalah sebuah rongga yang menyerupai saluran air bawah tanah.

Karena aku tidak menyiapkan lumut cahaya, kami hanya mengandalkan cahaya lentera untuk memeriksa sekitar.

"Michelle-san, apa bisa melakukan ventilasi dengan sihir angin?"

"Bisa!"

Rongga ini sepertinya sudah lama tidak digunakan, jadi udaranya terasa sangat pengap.

Namun dengan sihir Michelle-san, udara di dalam berhasil ditukar dengan udara luar. Lalu aku mengambil kembali lentera dari Yurishia-san.

"Apakah ini saluran air bawah tanah dari zaman kuno?"

Michelle-san berucap sambil memperhatikan sekeliling. Di sini ada dua batang besi. Jangan-jangan, ini rel kereta api?

"Sepertinya dulu di sini ada kereta bawah tanah."

"Kereta bawah tanah? Mereka menjalankan kereta di bawah tanah?"

"Iya. Mungkin terhubung sampai ke kota besar terdekat—Pemukiman ke-77."

Akuri menatap ke ujung rel. Jalannya sudah runtuh.

Tapi arahnya memang menuju ke Pemukiman ke-77 seperti kata Akuri.

Melihat kondisi keruntuhannya, sepertinya jalan ini sengaja dihancurkan.

Apa mungkin orang-orang zaman dulu sudah berhasil menciptakan "Kereta Transportasi Tabung Vakum Anti-Gravitasi (Nama Sementara)" yang selama ini kupikirkan?

Tapi kereta itu harusnya tidak butuh rel, dan dinding ini tidak akan sanggup menahan kondisi vakum.

"Dulu daerah sini mungkin bagian dari kota besar yang mencakup Pemukiman ke-77 juga. Dan karena di kota besar tidak ada lahan untuk membuat kereta di atas tanah, mereka membangunnya di bawah tanah."

"Kurang lahan, ya. Mengingat Mimiko juga pernah bilang kalau membuat kereta itu sangat sulit."

Sambil berkata begitu, Yurishia-san melirik ke arah Magic Tool yang dipegang Michelle-san.

Sepertinya para Roh bergerak dari sini menuju ke sana. Kami pun menaiki tangga stasiun bawah tanah tersebut.

"Reruntuhan bawah tanah yang tidak terawat selama lebih dari lima ribu tahun tapi tetap tidak runtuh, ya.... Para pecinta reruntuhan pasti akan kegirangan mendengar ini."

Kalau cuma lima ribu tahun sih, menurutku bangunan yang tidak runtuh masih bisa dibuat jika kita berusaha keras.... Apa Yurishia-san salah paham karena beliau bukan ahli bangunan, ya?

Di lorong tersebut terdapat papan penunjuk jalan ke pintu keluar atau peron, bahkan ada toilet juga.

Kami berjalan menyusuri lorong menuju arah bertuliskan Pintu Keluar 1.

Namun langkah kami terhenti di sana.

Bukan karena jalannya runtuh.

Melainkan karena ada sebuah penghalang di sana.

Sepertinya para Roh pun tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan dari sini.

"Tercium bau manis yang samar, ya."

Apa para Roh terpancing datang ke sini karena bau ini?

"Sumber baunya ada di balik penghalang itu. Bagaimana, apa kita hentikan penghalangnya dulu?"

"Ayo gunakan teleportasiku untuk pindah ke sisi sebelah sana."

Dengan teleportasi Akuri, kita bisa menembus penghalang dan keluar seperti saat masuk ke Pemukiman ke-77 dulu.

"Akuri, bisa tolong keluarkan Magic Tool ini dulu ke luar?"

Aku mengeluarkan Magic Tool berbentuk bola kaca berwarna biru.

"Apakah ini... permata?"

"Ini adalah Magic Tool untuk mendeteksi kelembapan dan kebersihan udara. Bahaya kalau ternyata di balik penghalang itu ada racun."

"Baiklah."

Akuri menggunakan teleportasi untuk mengeluarkan alat itu.

Warna bola kacanya tetap biru, tidak berubah.

Kalau warnanya jadi kuning atau merah, berarti berbahaya.

"Sepertinya tidak ada racun."

Setelah menunggu sampai kemampuan teleportasi Akuri bisa digunakan kembali, kami berempat pun berpindah ke balik penghalang.

Para Roh Mikro tidak ikut bersama kami.

Meskipun ukuran mereka cukup kecil untuk ikut dibawa, tapi aku memutuskan bantuan mereka sebagai penunjuk jalan sudah cukup sampai di sini.

Jika penyebab hilangnya Roh ada di depan sana, lebih baik mereka tidak ikut serta.

Setelah berjalan sedikit, pintu keluar—tangga menuju permukaan—ternyata sudah runtuh.

Namun sebagai gantinya, ada lorong lain. Lorong yang cukup sempit.

"Mirip lorong tambang, ya."

"Ini batu granit kualitas tinggi. Ada bijih mineral juga. Bijih besi, dan... ah, meski sedikit ada bongkahan Adamantite mentah. Jarang sekali menemukan yang seperti ini di tempat yang dangkal."

Saat aku mencongkel dinding batu sedikit dengan beliung, aku menemukan bijih Adamantite kecil. Mungkin bisa dibuat menjadi pisau?

"Mungkin setelah melakukan penambangan terbuka sampai ke kedalaman tanah, mereka memperluas lorong tambangnya ke samping. Dan akhirnya sampai ke sini."

"Berarti penyebabnya ada di tempat penggalian batu ini, ya.... Kalau penyebabnya karena mereka menemukan batu Sesshoseki raksasa yang membunuh Roh sih akan mudah dimengerti, tapi kalau begitu para Roh tidak mungkin mau mendekat. Terlebih lagi—"

"Iya, sejak tadi bau manisnya semakin kuat."

Kami melangkah menuju asal bau manis itu. Bagaikan serangga yang terpancing nektar bunga.

"Ugh, dadaku tersangkut."

Yurishia-san yang berjalan paling depan tampak kesulitan saat mencoba melewati lubang kecil.

Tepat di depanku ada bokong Yurishia-san yang sedang berjuang, aku jadi bingung harus melihat ke mana.

Setelah berhasil melewati bagian sempit lubang tersebut, kami masuk lebih dalam.

"Saya merasakan kehadiran banyak sekali Roh di depan sana. Jumlah yang luar biasa.... Saya belum pernah merasakan hawa Roh sebanyak ini bahkan di Hutan Besar sekalipun."

Ucap Michelle-san. Hawa Roh?

"Apa para Roh ada di depan sana?"

"Iya. Tapi, rasanya ada yang aneh."

Michelle-san mengangguk menjawab pertanyaan Akuri sambil menangkupkan tangan di depan dada dengan gelisah.

Lorong tambang itu perlahan semakin luas, hingga akhirnya kami sampai di sebuah area yang lapang.

Dan di tengah-tengah area itu, terdapat sebuah lubang besar.

"Apakah lubang ini adalah lubang penelan Roh yang dikatakan Paman Urano? Apa jangan-jangan ini terhubung ke dunia lain?"

Aku mencoba mendekat untuk menyelidikinya, tapi—

"Tunggu dulu, Kuruto. Itu adalah Spirit Eater. Ciri-cirinya sama persis dengan yang dikatakan Kak Loreta."

"Spirit Eater?"

"Iya. Sering juga disebut sebagai Pemakan Roh. Sepertinya dia adalah sejenis roh jahat yang memancing para Roh lalu memakannya. Selama kita tidak mengganggunya, dia tidak akan menyerang manusia, jadi tidak perlu terlalu waspada. Biasanya monster ini hanya seukuran genangan air kecil, tapi—"

"Genangan... air?"

"Ini bukan lagi sekadar genangan, tapi sudah jadi kolam. Besar pula."

Tampaknya, Spirit Eater yang satu ini memiliki ukuran yang sangat tidak wajar.

Meski di seberang sana ada lorong tambang, kemungkinan besar ujungnya sudah runtuh. Monster itu pasti sudah terjebak di sana selama bertahun-tahun—tidak, mungkin berpuluh-puluh tahun.

Saat penghalang lenyap, aroma manisnya mengalir melewati bekas lokasi penghalang hingga mencapai jalur kereta bawah tanah, lalu bocor ke luar melalui ventilasi kecil. Aroma itulah yang membuat para roh di dalam area pemukiman bergerak serentak menuju kereta bawah tanah.

Lalu, Spirit Eater ini memangsa mereka dan tumbuh menjadi raksasa.

Ini baru sebatas dugaanku, tapi jika benar, maka roh-roh di sekitar sini pun suatu saat nanti akan habis dimakan.

Mendengar itu, Akuri mengangguk.

"Aku juga tahu soal Spirit Eater. Apa dia diciptakan oleh monster tabu?"

"Kalau dia roh jahat, apa tidak bisa dimurnikan dengan menghancurkan kristal sihir cahaya?"

"Aku juga sempat berpikir begitu. Kalau roh jahat biasa, sekali hancurkan kristal sihir mungkin langsung murni, tapi—sihir tidak mempan pada Spirit Eater, jadi kita tidak bisa mengalahkannya dengan kristal sihir."

Begitulah penjelasan Yurishia-san. Karena ini adalah Spirit Eater, memurnikannya dengan kekuatan roh pun tampaknya akan sulit.

"Yurishia-san. Kalau Anda punya informasi tentangnya, apa Anda tahu cara mengalahkannya?"

"Katanya, dia bisa dikalahkan dengan kekuatan suci selain sihir dan roh."

Kekuatan suci selain roh dan sihir. Namun, benda yang disebut air suci pun biasanya adalah air yang diberkati sihir suci, jadi itu pun mustahil.

"Dulu saat dia muncul, kabarnya mereka membasminya menggunakan Pedang Suci."

"Pedang Suci itu... apa seperti Excalibur?" tanya Michelle-san.

Excalibur itu 'kan gunting pemangkas dahan tinggi yang kubuat di Desa Haste, jadi itu bukan pedang suci atau semacamnya.

"Bukan, sepertinya itu pedang pusaka yang diwariskan di Isisema. Tapi kalau harus menggunakan itu, rasanya sulit jika hanya mengandalkan keputusan Kak Loreta sendirian. Butuh berminggu-minggu sampai izinnya keluar, itu pun belum tentu dipinjamkan."

Butuh waktu berminggu-minggu, ya? Michelle-san melirik sekilas ke arah Spirit Eater.

"Aku bisa merasakan hawa keberadaan para roh dari dalam tubuhnya."

"Ya. Namanya memang Pemakan Roh, tapi dia tidak benar-benar mencerna mereka. Dia memasukkan para roh ke dalam tubuhnya dan mengubah kekuatan yang mereka hasilkan menjadi kekuatannya sendiri. Semakin besar kekuatannya, semakin kuat aroma yang dikeluarkan untuk memancing roh dari jangkauan yang lebih luas."

Saat ini dia hanya memangsa roh di sekitar sini, tapi jika terus dibiarkan menguat, dia akan melahap roh dari area yang lebih luas, bahkan mungkin sampai ke Pemukiman ke-77 dan sekitarnya.

Kita harus melakukan sesuatu. Aku berpikir keras.

Pedang Suci tidak bisa didapatkan dalam waktu dekat.

—Tapi, kalau senjata dengan kekuatan suci, bukankah ada pilihan lain?

"Bagaimana dengan Tongkat Tanduk Unicorn?"

"Kekuatan Unicorn, ya? Itu memang kekuatan suci yang berbeda dari sihir, tapi... aku ragu Marlefiss mau meminjamkan tongkatnya kepada kita begitu saja."

"Tidak, sebenarnya—Tongkat Tanduk Unicorn itu sudah memiliki registrasi pemilik, jadi tidak bisa digunakan oleh siapa pun selain Marlefiss-san."

"Apa!? Kalau begitu bukannya malah semakin mustahil? Mana mungkin Marlefiss mau datang sampai ke tempat seperti ini!"

"Tidak juga, kok. Aku yakin Marlefiss-san pasti mau datang. Karena, dia 'kan seorang Saint!"

Aku yakin Marlefiss-san pasti akan datang!

 

"Mana mungkin aku mau pergi ke tempat berbahaya seperti itu."

Setelah kembali dan memohon pada Marlefiss-san, aku langsung ditolak mentah-mentah.

"Apa yang dikatakan Saint-sama benar. Apa jadinya kalau nyawa Saint-sama terancam karena pergi ke tempat seperti itu?" tambah Johan-san.

Tapi memang benar, apa yang mereka katakan ada benarnya.

Jika Spirit Eater tidak akan menyerang selama kita tidak memulainya, itu berarti ada kemungkinan besar dia akan menyerang balik jika Marlefiss-san menyerang. Aku malah memberikan peran yang paling berbahaya padanya.

"Namun, kami berterima kasih atas perbaikan penghalang dan informasinya. Khusus mengenai monster pemakan roh itu, ada catatan yang menyebutkan bahwa dulu monster itu masuk ke lorong tambang, sehingga lorong tersebut sengaja diruntuhkan untuk mengurungnya. Karena itu catatan yang sangat lama, kami mengira dia sudah mati, makanya tidak kami sampaikan. Ini adalah kelalaian saya."

Johan-san menyampaikan permintaan maafnya. Namun, keputusan untuk tidak membiarkan Marlefiss-san pergi tampaknya sudah bulat.

Tentu saja, Akuri mencoba mendesak.

"Apa Anda yakin? Kekuatan Spirit Eater itu sudah mulai memengaruhi roh di sekitar sini. Hanya dengan membuka-tutup gerbang saja, beberapa roh mikro sudah keluar. Dalam beberapa ratus tahun ke depan, tanaman pun tidak akan bisa tumbuh lagi di tanah ini."

"Tidak masalah. Kami lebih takut kehilangan Saint-sama besok daripada mencemaskan krisis ratusan tahun ke depan. Kita akan merahasiakan soal roh ini dari para pengungsi dan meminta mereka pindah ke Pemukiman ke-169. Itu jauh lebih membahagiakan daripada mati di depan gerbang ini. Nah, silakan kalian beristirahat hari ini. Saya akan siapkan kamar. Setelah itu, bolehkah saya meminta bantuan kalian untuk memperbaiki penghalang di pemukiman lainnya?"

"Maaf, tapi bolehkah kami mengadakan dapur umum lagi hari ini?"

"Begitu ya. Kalau begitu, silakan gunakan sebagian gandum dan sayuran dari gudang pangan. Saya dengar kalian sudah menyumbangkan semua stok makanan yang kalian bawa kemarin."

Ah, benar juga. Kemarin aku sudah memasukkan banyak bahan makanan dari permukaan ke dalam Magic Bag, tapi kalau kami mengeluarkannya sekarang, kami akan ketahuan berbohong.

Aku pun memutuskan untuk menerima tawaran Johan-san.

"Ah, benar juga. Saya membuat pewangi ruangan. Tolong gunakan ini untuk toilet."

Aku menyerahkan sebagian pewangi yang sudah kubuat kepada Johan-san.

 

Saat keluar dari gerbang sambil membawa bahan makanan, para pria yang kemarin menyerang kami tampak membungkuk sangat dalam.

"Terima kasih banyak atas makanannya kemarin."

"Baru saja penjaga memberi tahu kalau kami diperbolehkan tinggal di pemukiman lain."

"Kami benar-benar tidak tahu kalau ternyata kalian sedang dalam perjalanan untuk memperbaiki penghalang demi kami."

"Ini uang yang kami kumpulkan dari semua orang. Kami tahu ini tidak mungkin cukup untuk menebus kesalahan kami, tapi mohon terimalah."

Sambil berkata begitu, dia menyodorkan uang dunia ini—lembaran Port—di dalam topinya. Lembaran itu hampir semuanya compang-camping, bahkan ada yang ternoda darah.

Pasti mereka membawanya dengan mempertaruhkan nyawa dan menggenggamnya erat-erat. Jumlahnya yang terasa sedikit mungkin karena sebagian sudah digunakan untuk bertransaksi dengan orang di dalam pemukiman.

"Aku tidak bisa menerima benda sepenting itu."

"Tapi—"

"Tidak apa-apa. Lagipula, apa kalian lapar? Johan-san memberikan kami bahan makanan. Aku akan membuat dapur umum lagi untuk kalian."

Aku mulai menyiapkan masakan.

Semuanya berkali-kali mengucapkan terima kasih sambil meneteskan air mata.

Karena besok mereka harus banyak berjalan, kurasa aku akan menambahkan sejumput garam lebih banyak ke masakannya.

◆◇◆

"Konyol sekali."

Aku—Marlefiss—memperhatikan Kuruto yang sedang mengadakan dapur umum dari atas tembok benteng.

Kenapa anak itu bisa sekeras itu berusaha demi orang lain?

Padahal kudengar, pria-pria yang bicara dengannya tadi adalah orang yang mencoba merampas makanannya secara paksa.

...Kalau dipikir-pikir, sejak pertama kali bertemu pun dia memang sudah seperti itu.

Aku pun teringat masa-masa sebelum aku bergabung dengan Dragon Fang, tepatnya sebelum aku bertemu dengan Kuruto.

Setelah keluar dari biara, aku berpindah-pindah dari satu kelompok petualang ke kelompok lain.

Petualang yang bisa menggunakan sihir pemulihan itu sedikit, jadi keberadaanku sangat berharga.

Namun, jarang ada kelompok petualang yang kemampuannya sepadan denganku, jadi aku sering keluar tak lama setelah bergabung. Di saat itulah, si Bandana memanggilku.

Awalnya dia tampak seperti wanita sok akrab yang mencurigakan, tapi karena dia menawarkanku makan, aku pun mendengarkan ceritanya.

Ternyata dia adalah seorang Ranger dari Dragon Fang dan ingin merekrutku.

Waktu itu, Dragon Fang adalah kelompok peringkat B yang sedang naik daun. Meskipun reputasi ketuanya agak buruk, ada rumor kalau mereka akan segera naik ke peringkat A.

Kelompok peringkat A adalah segelintir elit di antara para petualang.

Dan jika bisa mencapai peringkat S di atasnya, konon hidup akan terjamin selamanya.

Saat itu aku berpikir bahwa itulah kelompok yang layak untukku. Tanpa sadar, rasa curigaku pada si Bandana pun hilang.

Atas arahan si Bandana, aku pergi menuju penginapan mewah di ibu kota yang menjadi markas Dragon Fang—Hotel Coco Noir.

Di sanalah aku bertemu dengan pemimpin mereka, Golnova.

Dia menghentikan makannya dan menatapku.

"Ketua, aku bawa dia. Ini Healer yang bisa sihir pemulihan sesuai permintaanmu."

"Lama sekali, Bandana."

Sambil berkata begitu, dia menatapku seolah sedang menilai harga barang.

"Heh, tampangnya tidak buruk, tapi kelihatannya dia tipe wanita yang sifatnya menjengkelkan. Wajahnya seolah bilang kalau dia adalah yang paling benar. Bukan seleraku."

"Apa!?"

Saat itu, aku sampai kehilangan kata-kata karena marah.

Berani-beraninya dia berkata seperti itu pada seorang biarawati saat pertemuan pertama, sungguh tindakan bodoh yang tidak takut pada Tuhan.

"Bukannya itu karena kalian sesama jenis? Ketua 'kan sifatnya juga mirip begitu."

"Hah!?"

"Ooh, seramnya. Bercanda, kok, bercanda."

Si Bandana sama sekali tidak terlihat takut, dia malah duduk di kursi dan mulai menyantap makanan.

Kelompok macam apa ini?




Tadinya aku sempat merasa bersemangat, tapi kata-kata barusan benar-benar tidak bisa kubiarkan begitu saja.

Aku berniat menolaknya, tapi──

"Kenapa kamu tidak ikut makan juga, Marlefiss? Enak, lho," si Bandana menawariku.

Restoran di penginapan ini memang terkenal. Terutama karena kepala koki di sini, Gerhark, adalah koki nomor satu di negeri ini yang telah meraih tujuh bintang di buku panduan Misholun.

Kalaupun mau menolak, sebaiknya setelah mencicipi hidangan ini dulu.

Lebih tepatnya, saat itu aku tidak sanggup melarikan diri dari aroma harum yang menguar dari meja makan.

Dan setelah suapan pertama──aku kehilangan kesadaran saking lezatnya.

 

"Hah, di mana ini!?"

Saat tersadar, aku sudah terbaring di kamar penginapan.

"Hmm, sudah bangun? Kamu pasti kelelahan, ya. Sampai tertidur saat sedang makan."

"Lelah? Tidak mungkin. Aku kehilangan kesadaran karena masakan itu terlalu lezat dan──"

"Hahaha, kamu pintar bercanda. Mana ada cerita orang pingsan hanya karena masakan terlalu enak."

"Tapi──"

"Tidak ada cerita seperti itu. Marlefiss, kamu itu cuma kelelahan. Mengerti?"

"Kelelahan... benarkah begitu? Ya, mungkin saja, sih."

Waktu itu aku berpikir; masakannya memang lezat, tapi aku merasa malu sendiri karena telah mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti pingsan hanya karena makan.

Aku menyimpulkan bahwa pikiran seperti itu muncul karena aku lelah, dan kalau memang lelah, tidak aneh jika aku pingsan.

……Kalau dipikirkan sekarang, aneh sekali aku bisa semudah itu diyakinkan. Mungkin si Bandana memiliki kekuatan semacam hipnotis.

"Jadi, bagaimana? Mau bergabung dengan Dragon Fang?"

"Baiklah. Aku memang tidak suka pria itu, tapi jika bergabung dengan party ini, apa aku bisa memakan hidangan itu kapan saja?"

"Tentu saja. Sebagai ganti menyewakan petugas serabutan kami sesekali, biaya penginapan dan makan kami digratiskan."

Si Bandana mengatakannya dengan nada santai.

Namun, mengingat biaya menginap di sini termasuk makan, biaya semalam saja bisa menghabiskan gaji satu bulan seorang prajurit.

Aku tidak yakin hanya dengan menyewakan petugas serabutan bisa menutup biaya itu.

Mungkin pihak hotel melihat potensi masa depan Dragon Fang.

Hanya dengan fakta bahwa party peringkat A menginap di sini saja sudah memberikan efek promosi yang besar.

Saat itu, itulah yang kupikirkan.

"Tapi, aku tidak suka sikap kasar pria bernama Golnova itu."

"Kalau sudah terbiasa, dia punya sisi imut juga, kok."

"Aku tidak melihatnya sama sekali... haah, baiklah. Untuk sementara, aku bergabung sebagai anggota sementara dulu."

"Bagus kalau begitu! Biar sementara atau apa pun, kalau ada Healer yang bergabung, kita bisa naik ke level yang lebih tinggi. Party peringkat A sudah pasti di tangan, jadi peringkat S hanya masalah waktu! Kalau sudah begitu, kita akan jadi party pahlawan!"

Si Bandana terus membual dengan manis.

Yah, kenyataannya kami memang akhirnya disebut sebagai party peringkat S seperti yang dia katakan, tapi itu pun sekarang sudah menjadi kenangan masa lalu yang jauh.

"Ini perayaan bergabungnya anggota baru! Mari kita minum alkohol enak untuk merayakannya! Kuruto, masuklah!"

"Permisi."

Atas panggilan si Bandana, Kuruto pun masuk ke ruangan.

Awalnya dia adalah pemuda manis yang sampai membuatku salah sangka mengiranya perempuan.

"Perkenalkan, nama saya Kuruto Rockhans."

"Anda memiliki nama keluarga?"

"Iya. Ah, tapi bukan bangsawan, ini cuma semacam adat di desa. Tadinya aku bahkan tidak tahu kalau biasanya orang tidak punya nama keluarga."

"Aku tidak bertanya."

Bagi rakyat jelata, memiliki nama keluarga bukanlah hal yang terlalu langka.

Seseorang bebas memiliki nama keluarga atau tidak, dan seperti katanya, di daerah tertentu terkadang seluruh penduduk desa memilikinya.

"Kuruto, siapkan makanan. Terus bawakan anggur dan keju juga. Itu kesukaan Marlefiss."

Aku tidak ingat pernah memberitahunya makanan kesukaanku, tapi dari mana dia tahu informasi itu?

"Baik!"

Kuruto mengangguk sambil tersenyum dan keluar ruangan. Wajahnya tampak sangat senang.

"Anak itu anggota kami. Dia yang paling lama di Dragon Fang, tapi dalam pertempuran dia tidak berguna sama sekali... Habisnya, semua bakat tempurnya peringkat G. Yah, karena dia punya tenaga, dia berguna sebagai pengangkut barang. Terus karena dia serbabisa, dia cukup mumpuni sebagai petugas serabutan."

"Petugas serabutan pengangkut barang, ya."

Dalam party petualang yang masuk ke dungeon atau membasmi monster, memasukkan pengangkut barang khusus ke dalam party bukanlah hal aneh.

Namun, biasanya mereka setidaknya punya cara minimal untuk membela diri.

Mendengar semua bakat tempurnya peringkat G, aku merasakan firasat buruk.

Dan firasat itu terbukti benar.

 

Suatu hari, kami menerima permintaan untuk membasmi sekawanan monster tingkat ancaman peringkat C yang disebut Bind Dog.

Meski monster peringkat C, jika mereka menyerang dalam kawanan, itu akan merepotkan.

Namun, kekuatan pedang api Golnova sungguh luar biasa, dia menebas kepala monster hanya dengan satu tebasan.

Kemampuan si Bandana sebagai Ranger juga terbukti nyata.

Berkat jebakan yang dia siapkan, kawanan Bind Dog berhasil dihentikan.

Selama itu, aku bisa mengumpulkan konsentrasi untuk merapal mantra. Rasanya memuaskan saat sihir petirku memberikan kerusakan pada seluruh kawanan Bind Dog. Party petualang biasa tidak akan bisa melakukan ini.

──Saat itulah kejadiannya.

Seekor Bind Dog menyerang dari belakang. Sepertinya ada individu yang bergerak terpisah.

Seharusnya bagi aku yang seorang Healer, musuh dari belakang adalah ancaman terbesar. Tapi saat itu aku merasa sedikit tenang. Karena yang berada paling belakang adalah si petugas serabutan, Kuruto.

Jika ada yang diserang, pastilah dia. Selagi dia diserang, aku akan menghabisi monster itu dengan sihir. Kalau dia masih hidup, aku tidak keberatan memberinya sihir pemulihan. Begitu pikirku.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.

"Cih."

Golnova berdecit, dia sengaja kembali dan berdiri di depan Kuruto untuk melindunginya. Pemandangan yang sulit dipercaya. Dan dia menebas Bind Dog yang menerjang itu dengan pedangnya sendiri.

"Golnova-san, terima kasih──"

Sebelum Kuruto selesai bicara, Golnova sudah menendangnya hingga terpental.

"Marlefiss, pemulihan!"

Dia mengatakannya dengan suasana hati yang buruk lalu kembali ke baris depan.

"Kepada siapa?"

Luka di lengan Golnova tampaknya tidak seberapa, mungkin karena dia memakai pelindung lengan, tapi wajah Kuruto yang ditendang tampak merah dan bengkak.

"Tentu saja padaku, bodoh!"

"Baiklah."

Meskipun aku mencemaskan Kuruto di belakang, aku tetap merapalkan sihir pemulihan pada Golnova.

 

Tak lama kemudian, pembasmian Bind Dog selesai.

Total ada tiga puluh ekor. Dagingnya tidak cocok untuk dimakan, tapi bulunya laku dijual mahal.

Kuruto tidak mengeluh soal wajahnya yang bengkak merah, dia malah mulai menguliti bulu monster itu sendirian menggunakan pisau. A

ku pernah melihat anggota party petualang sebelumnya melakukan pengulitan, tapi gerakan Kuruto berkali-kali—bukan, berpuluh-puluh kali lebih cepat.

"Teknik yang luar biasa, ya."

Saat aku menggumamkan itu, si Bandana langsung menyahut.

"Itu biasa saja, kok."

"Benarkah? Tapi──"

"Bandana juga bilang begitu. Berarti itu biasa saja."

"Biasa... ya?"

Saat itu aku tidak bisa membantah kalau itu memang tidak biasa. Dan setelah selesai menguliti, Kuruto mengangkut bulu-bulu itu sendirian.

Beratnya lebih dari seratus kilogram, tapi dia tidak mengeluh sedikit pun.

Lalu di perjalanan pulang, dia malah berterima kasih padaku.

"Marlefiss-san, terima kasih ya."

"Untuk apa? Aku tidak merasa berbuat sesuatu yang pantas mendapatkan ucapan terima kasih darimu."

"Tadi kamu sudah mengobati Golnova-san, kan?"

"Kamu sendiri tadi ditendang olehnya, bukan? Apa kamu tidak ingin mengeluh soal itu?"

"Karena aku dia jadi terluka, jadi wajar kalau Golnova-san marah."

Bukan sinisme atau apa pun, dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang lumrah.

 

Hadiah pembasmian Bind Dog dan harga jual bulunya total tiga keping emas dan dua puluh keping perak.

Bagianku satu keping emas, si Bandana juga sama, sisanya menjadi bagian Golnova. Bagian untuk Kuruto adalah nol.

Soal itu, Kuruto tidak mengeluh sepatah kata pun.

"Karena aku petugas serabutan, diberi makan saja sudah cukup. Lagi pula, hadiah ini didapat karena kalian semua sudah mengalahkan monsternya," begitu katanya.

Dia seolah mengabaikan fakta bahwa dialah yang melakukan pengulitan dan mengangkutnya sampai ke sini.

Kesan aku saat itu adalah; "kasihan".

Dia lebih senang luka orang lain sembuh daripada mengkhawatirkan lukanya sendiri. Dia merasa bahagia jika rekannya diakui meski jasanya sendiri tidak dianggap.

Aku tidak bisa benar-benar mengakui orang seperti dia dari lubuk hatiku.

Itu karena dia seperti perwujudan ajaran biara tentang "memuliakan kemiskinan dan kesederhanaan"—ajaran yang kubenci dan sudah kubuang.

Kalau dipikirkan sekarang, alasan aku tidak menentang saat dia diusir dari party mungkin bukan hanya karena dipandu oleh si Bandana.

Aku tidak bisa menampik kemungkinan bahwa jauh di lubuk hatiku, ada perasaan dari masa lalu saat aku ingin membuang kehidupan biara dan menjadi bebas.

Namun, bahkan setelah diusir dari party pun, Kuruto tidak pernah menaruh dendam pada kami. Malah sebaliknya──

"Marlefiss-san, ini bekal makan siangku, kalau mau silakan dimakan."

Kepada aku yang saat itu sedang menderita akibat kutukan dari jebakan Uskup Tristan, Kuruto mengatakannya sambil tersenyum dan menyodorkan bola nasi (onigiri).

Dan kemudian, aku pun diselamatkan olehnya.

 

"……Haah."

Aku menghela napas panjang.

Sampai sekarang pun, Kuruto masih seperti ini, membagikan masakan dapur umum kepada semua orang.

Tanpa diminta siapa pun, secara sukarela melakukannya demi orang lain.

Semua orang yang menderita kelaparan seperti aku yang dulu, kini terselamatkan.

"Saint-sama?"

"Bukan apa-apa, Johan. Malam ini dingin, ya."

"Benar. Saya akan bawakan hot wine, tolong minum itu lalu beristirahatlah."

"Terima kasih. Dan ada satu permohonan yang ingin kusampaikan──"

Aku menyampaikan sesuatu kepada Johan.

◆◇◆

"Kuruto, aku juga akan ikut pergi."

Marlefiss-san tiba-tiba mengatakannya padaku.

"""Eh?"""

Sekarang adalah pagi hari setelah kami kembali ke Pemukiman ke-77.

Tadi malam setelah mengantarkan Michelle-san kembali ke bengkel, kami bertemu dengan Lise-san yang sudah menyelesaikan tugas Pelaksana Tugas Penguasa, lalu kami memutuskan untuk pergi memperbaiki penghalang di pemukiman lain.

Itu terjadi saat kami datang untuk memberitahukan hal ini pada Marlefiss-san. Awalnya aku tidak mengerti apa yang dia katakan.

"Untuk mengalahkan Spirit Eater, bukankah kekuatanku dibutuhkan?"

"Anda mau ikut bersama kami!? Terima kasih banyak!"

"Ini bukan demi kamu, jadi aku tidak butuh ucapan terima kasih."

"Tumben sekali Anda berubah pikiran?" Lise-san bertanya sambil menatap tajam.

"Jika aku membuahkan hasil di sini, namaku sebagai Saint akan semakin harum. Hanya itu saja."

Apa pun alasannya, aku senang Marlefiss-san mau ikut bersama kami.

"Ayo berangkat!!"

 

Sebenarnya dengan teleportasi Akuri, kami bisa berpindah dalam sekejap.

Karena ada Marlefiss-san, meski dibagi menjadi dua kali teleportasi pun tidak akan memakan waktu satu jam, tapi entah kenapa perjalanan kali ini melibatkan banyak orang.

Sepertinya ini rombongan pengawal Marlefiss-san.

Mereka semua menaiki kereta naga, semacam kereta kuda yang ditarik oleh naga darat. Ada orang-orang dari kantor pemerintahan, ditambah sepuluh orang Hunter yang katanya sangat hebat.

Kereta yang kami tumpangi juga dikemudikan oleh orang lain.

"Wah, kebetulan sekali aku sedang mengantarkan buku ke Pemukiman ke-77, malah bisa mengantar Saint-sama lagi di keretaku."

Dia adalah Bookman, si penjual buku yang pernah membantu Marlefiss-san dulu.

Dia menawarkan diri menjadi kusir.

Berkat itu, Yurishia-san yang kemarin membantuku di dapur umum sampai larut malam bisa sedikit beristirahat.

"Kuruto, air."

"Baik, Marlefiss-san."

Aku menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Marlefiss-san. Dia menerimanya tanpa melihat wajahku, meminumnya setengah, lalu menoleh ke arahku.

"Ini, silakan Canape-nya."

"…………"

Marlefiss-san tidak mengatakan apa-apa, dia mengambil Canape berupa biskuit kraker dengan daging ham dan keju di atasnya lalu memakannya. Meski diam, sepertinya dia puas dengan rasanya.

"Lise-san juga silakan. Ini pakai alpukat dan keju. Kalau untuk Akuri pakai kesemek dan keju."

"Ah, terima kasih banyak."

"Papa, terima kasih."

Yurishia-san sedang tidur, jadi nanti saja kalau beliau sudah bangun.

"Ngomong-ngomong Lise-san, tugas Pelaksana Tugas Penguasa sudah selesai, kan?"

"Iya, syukurlah selesai tadi malam. Untuk sementara ini sudah aman. Kuruto-sama juga sepertinya sibuk sekali, ya."

"Tidak juga, mengidentifikasi penyebabnya memang sulit, tapi tidak ada serangan monster jadi tidak ada yang berbahaya."

"Syukurlah kalau begitu. Aku ini, saat sedang bekerja pun tidak sedetik pun berhenti memikirkan Kuruto-sa──"

"Kuruto."

"Iya, Marlefiss-san. Mau tambah air?"

Aku menuangkan air ke gelas Marlefiss-san yang sudah kosong.

Lalu, karena dia baru saja bicara, aku mengelap sisa remah kraker di sekitar mulutnya dengan saputangan.

Sudah lama juga ya aku tidak melayani Marlefiss-san seperti ini.

Berikutnya mungkin Canape alpukat keju yang dimakan Lise-san tadi?

Soalnya dari tadi dia melirik apa yang dimakan Lise-san.

Saat aku menyodorkannya, dia mengambilnya tanpa kata dan langsung memakannya.

Ah, sepertinya dia suka.

"………… (Kesal)"

"Mama Lise."

"Iya, aku tahu, Akuri. Aku cuma sedikit kesal karena obrolanku dipotong. Aku ini tunangan Kuruto-sama, jadi aku tidak akan cemburu hanya karena hal sepele ini. Cuma sedikit merajuk saja."

"Iya, benar begitu."

"Ah, Lise-san, maaf ya."

Aku terburu-buru meminta maaf sambil menuangkan air untuk Lise-san.

Waktu masih di Dragon Fang pun, kalau aku hanya melayani Marlefiss-san, Golnova-san akan marah.

Kalau aku hanya melayani Golnova-san, Marlefiss-san yang marah.

Bandana-san sih tidak pernah marah dan selalu tertawa.

"Kuruto."

"Iya! Airnya──"

"Kamu itu sudah punya dua tunangan, jadi jagalah hubungan antarmanusia dengan baik."

"…………!? Baik! Terima kasih banyak!"

"Bukan hal yang pantas untuk disyukuri. Aku mau istirahat sebentar. Bangunkan kalau sudah sampai."

Setelah berkata begitu, Marlefiss-san memejamkan mata.

Lise-san menatap Marlefiss-san dengan pandangan curiga.

 

Sama seperti kemarin, kami sampai di Pemukiman ke-169 lewat tengah hari.

Melihat penghalang yang berfungsi tanpa masalah, orang-orang yang ikut bersama kami bersorak gembira.

Mungkin di antara mereka ada yang berasal dari pemukiman ini.

"Wah, berada di luar pemukiman tanpa masker itu terasa sangat nyaman, ya. Ini semua berkat Saint-sama dan Pohon Suci."

Bookman-san turun dari kursi kusir, berbalik, dan tersenyum lebar.

Di sepanjang jalan menuju ke sini, sudah ada Pohon Wajah Manusia yang berderet dalam jarak tertentu, menyerap dan memurnikan energi jahat di sekitarnya.

"Lalu, apa rencana selanjutnya?"

Untuk melewati penghalang dari lokasi kereta bawah tanah, dibutuhkan teleportasi Akuri, tapi memindahkan orang sebanyak ini akan sangat berat. Lagipula──

"Lawan kita adalah Spirit Eater. Akuri, kamu tunggu di sini saja."

Yurishia-san yang sudah bangun berkata pada Akuri.

Lawannya adalah Spirit Eater. Kalau terjadi pertempuran, bahaya jika Akuri diserang.

Bukan hanya Akuri, beberapa orang termasuk Bookman-san juga tetap tinggal untuk memeriksa situasi Pemukiman ke-169.

Akhirnya, yang ikut masuk hanya sekitar sepuluh orang.

"Baiklah. Kalau begitu pintu masuknya lewat tambang batu, ya."

"Lewat tambang? Maksudmu jalur yang sudah diruntuhkan itu? Kalau harus menggali ulang, akan memakan waktu lama."

"Tenang saja, jangan khawatir."

Yurishia-san berkata sambil tertawa.

 

"Maaf membuat kalian menunggu. Pekerjaan perbaikan lorong tambang yang runtuh sudah selesai."

"""""Eeeeeeeeeeehhh!?"""""

Di dasar tambang yang digali secara spiral, semua orang yang menunggu sambil mengenakan masker penyerap energi jahat terkejut bukan main.

"Oi, oi, apa-apaan ini! Baru juga tiga puluh detik perbaikan dimulai!"

"Apa jangan-jangan sebenarnya tidak runtuh?"

"Tidak, mereka yang pergi mengintai sebelum kita pasti bilang jalannya runtuh kok."

Lho? Kenapa semuanya kaget sekali?

"Itu karena──"

"Kalian ini profesional dalam bertarung, bukan profesional dalam menambang. Bagi penambang profesional, hal seperti ini sudah sewajarnya bisa dilakukan."

Yurishia-san hendak mengatakan sesuatu, tapi Marlefiss-san melangkah maju dan memotong perkataannya.

Mendengar itu, semua orang yang ikut terbelalak.

"Benarkah begitu?"

"Entahlah. Tapi kalau Saint-sama yang bilang, berarti itu hal yang biasa saja."

"Benar juga. Kalau dipikir-pikir aku cuma pernah gali lubang waktu kecil, aku tidak pernah lihat lokasi pertambangan sungguhan."

"Oalah, ternyata hal biasa ya."

Begitu ya, ternyata mereka semua belum pernah melihat lokasi pertambangan.

Aku sendiri sejak kecil sudah melihat warga desa menambang, jadi aku tahu ini hal biasa.

Tapi bagi orang-orang dari Dunia Lama, bekerja di luar area pemukiman memang hal yang langka, ya.

"Tercium aroma manis, ya."

"Iya, benar. Baunya enak sekali. Bahkan lewat masker pun tercium jelas."

Aroma yang mengalir dari dalam lorong mulai memenuhi area ini. Itu adalah aroma yang dikeluarkan Spirit Eater untuk memancing roh.

"Semuanya, mari kita pergi dengan waspada!"

"""""Ooooooo!"""""

Mendengar ucapan Marlefiss-san, semua orang bersorak.

"Jangan sok mengatur, ya," gerutu Yurishia-san.

Tapi kurasa wajar kalau Marlefiss-san yang memimpin. Karena orang-orang di sini ikut memang untuk melindungi Marlefiss-san.

"Kuruto, kamu tunggu di sini saja."

"Tunggu dulu. Tongkat Tanduk Unicorn memang jadi lebih mudah digunakan berkat penyesuaian dari Kuruto, tapi jika digunakan terus-menerus, kondisinya akan memburuk untuk sementara. Kali ini cara penggunaannya juga berbeda dari biasanya, jadi dibutuhkan orang yang bisa langsung menyesuaikannya. Kuruto, ikutlah."

"Baik! Saya akan mendampingi dan bersiap agar bisa menyesuaikan tongkatnya kapan saja."

Yurishia-san dan Lise-san sempat khawatir dan tidak tenang jika aku ikut, tapi ini satu-satunya cara bagiku yang tidak berguna dalam pertempuran untuk bisa berkontribusi. Aku tidak mungkin tidak ikut, 'kan?

 

"Light Ball."

Lise-san menciptakan bola cahaya dengan sihirnya.

Karena ini sudah memberikan sumber cahaya yang cukup, kami tidak perlu membawa lentera lagi.

"Apa itu──"

"Beliau adalah utusan Saint-sama."

"Berarti, ini adalah cahaya keajaiban?"

"Rasanya kekuatanku seperti bangkit kembali."

Di dunia di mana sihir telah dilupakan, sihir Lise-san pun dianggap sebagai sesuatu yang langka.

Padahal Light Ball tidak punya kekuatan khusus seperti penguat tubuh, tapi aku tidak akan mengatakannya.

Siapa tahu ada efek plasebo.

"Rasanya tidak nyaman ya," kata Lise-san dengan nada jengah.

Memang rasanya aneh jika hal yang sewajarnya dilakukan malah dipuji secara berlebihan.

Misalnya, membuka lahan satu hektar dalam satu menit, atau menempa pisau dapur yang bisa memotong baja dengan mudah, atau meracik obat mujarab untuk orang sakit... itu 'kan hal biasa yang bisa dilakukan siapa saja, tapi kalau dipuji berlebihan karena melakukan itu, aku pun pasti akan merasa aneh.

Yah, aku sendiri tidak punya pengalaman seperti itu, sih... eh?

Masa tidak ada?

Rasanya aku pernah dipuji hanya karena melakukan hal-hal seperti itu, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Kami semua bergerak bersama menuju bagian dalam lorong. Spirit Eater masih berada di sana, tidak berubah.

"Itu dia Spirit Eater-nya... kelihatannya hanya seperti genangan air hitam biasa, tapi entah kenapa mirip dengan 'benda itu' yang kita lihat di bawah tanah wilayah Baron Tycoon."

"Ah, 'benda itu' ya."

Benda yang dimaksud Lise-san dan Yurishia-san mungkin adalah gumpalan hitam yang muncul untuk menagih bayaran pemanggilan iblis setelah iblis tingkat tinggi menghilang.

Kalau tidak salah, benda itu pergi dengan puas setelah diberi bakpao onsen.

Tapi karena itu bukan monster, mungkin cuma mirip saja.

"Tinggal memurnikan ini saja, 'kan?"

"Iya, tolong ya."

"Baiklah."

Marlefiss-san mengambil napas dalam-dalam.

Lalu, dia mengayunkan Tongkat Tanduk Unicorn ke arah Spirit Eater. Begitu ujung tongkat itu bersentuhan, kekuatan suci merambat layaknya riak air di permukaan tubuh Spirit Eater yang menyerupai genangan itu.

Keheningan sesaat menguasai tempat itu.

Tepat setelahnya, tak terhitung banyaknya tentakel menjulur dari tubuh Spirit Eater dan menyerang Marlefiss-san.

"Saint-sama, mohon mundur!"

"Lindungi Saint-sama!"

"Jangan sampai dia terluka sedikit pun!"

Marlefiss-san segera mundur, sementara para Hunter yang datang bersama kami menebas tentakel-tentakel itu dengan pedang dan menusuknya dengan tombak.

Namun, tidak peduli berapa kali mereka menebas atau menusuk, tidak terlihat ada kerusakan berarti yang dialami tentakel tersebut. Ternyata benar, hanya tongkat milik Marlefiss-san yang bisa memberikan damage pada monster itu.

"Protect!"

Sihir Lise-san menciptakan sebuah penghalang magis yang melindungi kami dari amukan Spirit Eater.

"Rasanya menjengkelkan harus bertarung demi melindungi Marlefiss, tapi──"

Gumam Yurishia-san sembari menebas tentakel yang menyerang. Tentakel yang terpotong itu melayang di udara—tapi, tentakel lain menjulur dan segera menyerap kembali bagian yang terputus tersebut.

Ujung-ujungnya, ukurannya kembali seperti semula. Eh? Tunggu dulu. Ada satu hal yang membuatku penasaran sesaat tadi.

Setelah beberapa saat, serangan Spirit Eater mulai melambat.

"Marlefiss, sekarang!"

"Tidak perlu diberitahu juga aku sudah tahu!"

Memanfaatkan celah tersebut, serangan Marlefiss-san menghantam tubuh Spirit Eater. Sosok raksasa itu sedikit mengecil.

Setelah itu, polanya kembali sama; para Hunter dan Yurishia-san menjadi tameng untuk melindungi Marlefiss-san. Strategi hit and away dilakukan berulang kali.

Perlahan tapi pasti, mereka mulai mengikis tubuh Spirit Eater. Kerja sama yang awalnya kaku pun mulai terasa luwes seiring berjalannya pertempuran. Tempo pertarungan pun menjadi lebih cepat.

"Kuruto, aku merasa ada yang aneh dengan tongkatnya. Cepat sesuaikan──"

"Baik!"

Aku menerima tongkat Marlefiss-san. Mungkin karena cara penggunaannya berbeda dari biasanya, aku merasakan semacam fluktuasi dalam kekuatan sucinya, tapi masalah sekecil ini bisa segera kuperbaiki.

"Marlefiss-san, sudah selesai."

"……Sepertinya sudah tidak ada masalah."

Marlefiss-san kembali memasang kuda-kuda dan melancarkan serangan lagi. Ukuran Spirit Eater kini semakin mengecil.

"Kita bisa menang! Kita pasti bisa!"

Seseorang berseru dengan penuh semangat—namun di saat itulah segalanya berubah.

Tiba-tiba, panah api meluncur dari dalam tubuh Spirit Eater dan mengenai salah satu Hunter.

Bukan hanya panah api, tapi bilah angin hingga bongkahan es menyerang kami secara bertubi-tubi.

Terlebih lagi, kekuatannya semakin lama semakin besar tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.

Dan sekarang, serangan itu mulai mengincar Marlefiss-san secara khusus.

"Mundur! Kita mundur dulu dan atur ulang formasi! Kalau terus begini, Saint-sama dalam bahaya!"

 

Kami berhasil keluar dari lorong tambang. Banyak yang terluka, tapi untungnya tidak ada korban jiwa.

Marlefiss-san segera memulihkan luka semua orang dengan sihirnya.

"Terima kasih banyak. Jadi ini adalah kekuatan Sang Saint..."

"Kalau sudah sampai sini, kita akan aman untuk sementara."

"Tapi, kekuatan apa itu tadi? Di pertengahan tadi rasanya benar-benar tidak masuk akal."

Benar kata mereka, kekuatan tadi sangatlah aneh.

Itu memang sihir yang kuat, tapi entah kenapa berbeda dari sihir biasa.

"Menurut dugaanku, api dan air tadi adalah kekuatan para Roh."

"Maksudmu, Spirit Eater itu mengendalikan kekuatan Roh yang dia telan menjadi miliknya sendiri? Aku belum pernah dengar hal seperti itu!"

Yurishia-san membelalakkan mata mendengar penjelasanku.

"Spirit Eater yang Yurishia-san tahu biasanya dibasmi sebelum ukurannya membesar, 'kan? Menurutku, karena dia sudah tumbuh sebesar itu, dia jadi bisa memanipulasi kekuatan Roh."

"Sumber kekuatan Spirit Eater adalah Roh. Kalau begitu, bukankah kita bisa melemahkannya dengan memaksanya mengeluarkan sihir-sihir itu berkali-kali?" Lise-san mengusulkan.

Itu strategi yang mirip seperti menunggu penyihir kehabisan mana. Memang ada kemungkinan lawan akan melemah, tapi...

"Jangan bercanda! Kali ini kita hanya kebetulan selamat. Kalau kita mengulanginya dan terjadi sesuatu pada Saint-sama, bagaimana tanggung jawabnya!"

Para pria itu mengamuk karena marah.

Memang benar, jika strategi itu dijalankan, Marlefiss-san adalah orang yang paling terancam bahaya.

Namun, Marlefiss-san hanya diam. Padahal kukira dialah yang akan marah pertama kali.

Dibanding itu, ada satu hal yang mengganjal di benakku, jadi aku bertanya pada Yurishia-san.

"Anu, Yurishia-san. Saat Anda memotong tentakel tadi, apa Anda melakukan sesuatu yang spesial?"

"Apa maksudmu?"

Marlefiss-san juga ikut mengangguk.

"Ternyata Kuruto juga merasakannya. Yurishia-san──saat Anda menebas tentakel Spirit Eater, saya merasakan hawa keberadaan Roh. Roh itu segera tertangkap oleh tentakel dari tubuh utama dan terserap kembali... tapi saat orang lain yang menebasnya, tidak ada reaksi apa pun. Apa Anda melakukan sesuatu?"

"Marlefiss!? Kamu bisa merasakan kehadiran Roh?" tanya Yurishia-san.

"Hanya sedikit, tapi aku tahu. Jadi, bagaimana?"

Menjawab pertanyaan Marlefiss-san, Yurishia-san tampak berpikir keras sebelum bicara.

"Itu adalah teknik Spirit Blade—teknik untuk menebas sihir dan menyerap kekuatannya. Aku pikir aku bisa mencuri kekuatan Roh dari lawan."

"Meskipun tidak bisa mencuri kekuatannya, Anda berhasil memutuskan koneksi antara Roh itu dengan Spirit Eater. Begitukah?"

"Mungkin saja. Meski begitu, tidak ada gunanya kalau mereka langsung terserap kembali."

Benar juga.

"Kami tidak bisa melihat para Roh itu, tapi apakah mereka tidak bisa melarikan diri sendiri?" tanya seorang Hunter yang memiliki luka di pipinya.

"Roh Mikro hampir tidak memiliki kehendak sendiri dan gerakan mereka sangat lambat. Lagipula, meski bisa bergerak, mereka akan tetap tertarik menuju aroma manis dari Spirit Eater."

"Apa kita tidak bisa menyerok atau menangkap Roh yang sudah diselamatkan itu dengan jaring?"

Menanggapi pertanyaan selanjutnya, Lise-san menggelengkan kepalanya.

"Kami tidak bisa melihat Roh secara langsung. Hanya Marlefiss-san dan Kuruto-sama yang bisa merasakan hawa keberadaan mereka. Sulit untuk menangkap mereka dalam kondisi seperti itu. Terlebih lagi, jumlah Roh Mikro sangatlah banyak."

Apa yang dikatakan Lise-san benar.

Saat ini Michelle-san yang bisa melihat Roh tidak ada di sini.

Aku rasa Akuri juga bisa melihatnya, tapi karena jumlah Roh Mikro terlalu banyak, mustahil untuk melarikan mereka semua dengan teleportasi.

"Kita bisa membuat gerakan para Roh jadi lebih cepat, 'kan? Bukankah kita tinggal menghancurkan kue buatan Kuruto dan menyebarkannya?"

Para Roh yang menyukai makanan manis akan menjadi bersemangat setelah memakannya. Setelah aku menjelaskan hal itu, Lise-san mengangguk.

"Ternyata ada cara seperti itu. Aku memang belum melihatnya secara langsung, tapi mereka bisa bergerak secepat orang berlari, 'kan? Ah, tapi kalaupun begitu, bukankah mereka akhirnya hanya akan kembali karena terpancing aroma Spirit Eater?"

"Benar juga. Kalau saja ada sesuatu yang bisa membuat para Roh menjauh secara sukarela──"

Kalau begitu──

"Kita pancing saja para Roh dengan aroma yang lebih manis daripada Spirit Eater!"

Aku pun mengeluarkan benda 'itu' dari dalam Magic Bag.

"Ku, Kuruto. Jangan-jangan itu──"

"Benar! Ini adalah pewangi toilet!"

Aku meletakkan cadangan pewangi toilet yang sebelumnya kuberikan pada Johan-san.

““Sudah kuduga!”“

“““““Pewangi toileeeeet!?”””””

Para Hunter berteriak serempak seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

"Oi, oi, apa benar kita bisa memancing Roh hanya dengan pewangi toilet?"

"Kemungkinannya sangat tinggi. Pewangi toilet ini punya kekuatan untuk melenyapkan bau di sekitar dan mengisinya dengan aroma yang harum. Pewangi ini berbahan dasar aroma manis dari buah Pohon Wajah Manusia—Pohon Suci—jadi baunya sangat manis. Tingkat aromanya bisa diatur hingga sepuluh level, jadi kalau kita set ke yang paling kuat, para Roh pasti akan berkumpul."

Ucapku dengan penuh percaya diri.

"Buah dari pohon suci──kalau itu, memang ada kemungkinannya."

Marlefiss-san mengangguk dengan wajah sok tahu.

"Ya. Kalau itu buah dari pohon suci yang bahkan bisa memurnikan energi jahat, maka ini bisa berhasil."

"Apalagi ini kekuatan dari Saint-sama! Malah aneh kalau sampai tidak ada efeknya!"

"Kalau begitu, kue yang kalian bicarakan tadi juga bukan kue sembarangan, 'kan!?"

"Benar, pasti begitu! Mana mungkin kue biasa bisa memberi kekuatan pada Roh."

"Operasi ini pasti berhasil!"

Berkat Marlefiss-san, semua orang jadi bersemangat kembali. Sepertinya ini bisa dilakukan.

"……Kuruto, kamu sudah berubah ya."

"Eh? Berubah? Aku?"

"Ya. Sejak dulu kamu memang sering memberikan usul yang tidak terduga, tapi tidak pernah sepercaya diri tadi──maksudku, tidak sampai seperti itu."

Marlefiss-san menatap mataku lekat-lekat saat mengatakannya.

"Begitukah?"

"Benar. Pasti kamu sudah bertemu dengan orang-orang baik setelah meninggalkan Dragon Fang."

Marlefiss-san mengatakannya dengan suara pelan. Suara itu terdengar jauh lebih lembut dari yang pernah kudengar sebelumnya. Alih-alih seorang Saint, dia tampak seperti Ibu Suci yang penuh dengan kasih sayang.

Lalu, dia melangkah maju dan berseru.

"Semuanya, dengarkan instruksinya. Baris depan akan dipimpin oleh Yurishia-san dengan dukungan kalian semua. Baris belakang bertugas melindungiku sambil menyebarkan kue buatan Kuruto untuk memberi kekuatan pada para Roh!"

“““““Siap!”””””

"Sudah kubilang jangan sok mengatur!"

"Sudah, sudah."

Sambil menenangkan Yurishia-san yang terus menggerutu, aku merasa kalau operasi kali ini pasti akan membuahkan hasil.

 

Kami memutuskan untuk memulai pertarungan kembali setelah tengah hari, sembari menunggu pemulihan mana Marlefiss-san. Kami beristirahat sekitar dua jam.

Aku pun mulai menyiapkan makanan untuk semua orang, tapi──

"Kuruto, ada satu hal yang ingin kuminta darimu."

Marlefiss-san menghampiriku dan berkata demikian.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close