Interlude 1
Orang-orang yang Tak Cocok dengan Atmosfer
Sekitar
Sebuah
asrama sementara didirikan di Desa Master Pedang. Di halaman depannya, tersedia meja dan kursi yang
tertata rapi.
Di tengah
persiapan perang yang berjalan kian intens, aku—Sina—duduk di salah satu kursi
itu sambil menghela napas panjang.
Tiba-tiba, Kak
Kans yang sedang melatih ayunan pedangnya di sampingku menoleh. Pemimpin
kelompok "Sakura" itu pun angkat bicara.
"Ada apa, Sina?
Katanya setiap kali kau menghela napas, sebanyak itu pula... eh, apa ya
istilahnya?"
"Kebahagiaan
akan kabur—begitu, kan? Tapi
mau bagaimana lagi, aku jadi ingin menghela napas. Rasanya aku bingung kenapa
kita ada di sini."
Orang-orang yang
datang bersama kami ke Desa Master Pedang ini adalah Kuruto, Yulisia-san, Liselotte-sama,
Akuri-chan, Malefis, serta penyihir istana Mimiko-sama dan sang Atelier
Meister Ophirya-sama.
Belum lagi para
ksatria yang menjaga kota perbatasan, serta unit intelijen bernama Phantom yang
dipimpin oleh Mimiko-sama.
"Kalau
Akuri-chan dan Malefis sih tidak masalah. Tapi kita ini jelas-jelas terasa
asing di sini. Terutama
para Phantom itu, mereka bisa dibilang profesional dalam bidang Ranger,
kan?"
"Meski
sama-sama Ranger, aku yang cuma petualang pemula ini hampir tidak ada
bedanya dengan beban... tidak, aku ini cuma batu di pinggir jalan. Benar-benar
batu di pinggir jalan."
"Kau
berlebihan kalau bilang batu. Lagi pula, apa maksudmu dengan 'kita'? Aku juga berniat bertarung kalau
musuh datang, tahu!"
"Yah, karena
ada senjata buatan Kuruto, kurasa kau tidak akan terlalu mengganggu—tapi kau
memang terlihat asing."
Anggota
"Sakura" yang satu lagi, Danzou, sih tidak masalah. Meski yang dia
pegang adalah katana, benda itu mirip dengan pedang, dan kemampuannya setingkat
di atas kami.
Dia tidak
akan kalah memalukan jika disandingkan dengan orang-orang di Desa Master Pedang
ini. Dibandingkan dia, Kakak—
"Ugh,
benar juga. Para ksatria maupun penduduk desa ini semuanya bertarung dengan
pedang atau tombak. Kurasa cuma aku yang bertarung dengan tangan kosong."
Kakak
bergumam dengan nada kesal. Sebenarnya dulu dia pengguna pedang, tapi sekarang
dia lebih suka gaya bertarung memukul lawan dengan Gauntlet.
Sepertinya
itu memang lebih cocok dengan kepribadiannya. Saat ini pun dia memang sedang
berlatih ayunan, tapi katanya itu bukan untuk mengasah teknik pedang, melainkan
bagian dari latihan otot.
Faktanya,
di ujung pedang itu terpasang pemberat yang bahkan sulit untuk kuangkat.
"Yah, begitulah! Biar cuma hiasan, yang penting
ramai!"
"Kau sendiri
malah mengakui kalau kau cuma hiasan!"
Aku berteriak
membalasnya, lalu kembali menghela napas. Kenapa jadi begini, ya?
Padahal sampai
beberapa bulan lalu, aku hanyalah petualang biasa yang mengerjakan tugas-tugas
kecil dengan tekun.
—Di dunia ini,
pasti ada sesuatu yang tidak kuketahui. Jika aku menemukannya, perasaan seperti
apa yang akan kurasakan?
Dulu aku menjadi
petualang karena pemikiran seperti itu. Namun akhir-akhir ini, aku malah
berpikir begini:
—Dunia ini
penuh dengan hal yang tidak kuketahui. Saat menemukannya, aku hanya akan
berakhir dengan menyadari betapa bodohnya diriku.
Mengetahui
kebodohan diri sendiri sering dibilang hal yang baik, tapi menghadapi
ketidaktahuan setiap hari itu benar-benar melelahkan. Tolonglah, cukup sampai
di sini saja.
"Kenapa ya
aku bisa sampai datang ke tempat seperti ini."
"Benar
sekali. Benar-benar merepotkan ya."
Sosok
yang menaruh teko dan cangkir teh di atas meja itu adalah Malefis.
"Tidak ada
bagian untukmu, lho."
"Memangnya
aku bilang minta?"
Biarawati
gadungan yang selalu memancing emosi ini menuangkan teh ke cangkirnya dan
meminumnya dengan anggun.
"Perang
sudah dekat, beraninya kau masih santai-santai minum teh."
"Lho,
bukannya kau juga sama saja, tidak melakukan apa pun? Lagi pula, tugasku adalah
saat pertempuran sesungguhnya dimulai dan sesudahnya."
"Biar
bagaimanapun, aku ini seorang Saint. Spesialisasiku adalah mengobati
luka. Katanya di desa ini tidak ada satu pun Saint, jadi Rugol-sama sang
kepala suku bilang beliau sangat mengandalkanku."
...Eh?
Apa-apaan? Apa
posisiku bahkan lebih rendah dari biarawati gadungan ini?
Tidak, tidak
mungkin. Aku juga punya pekerjaan—
"Ketemu.
Sedang apa kau di tempat seperti ini?"
Tiba-tiba
Ophirya-sama datang dan memanggil Malefis.
"Ugh,
Ophirya-sama."
"Kita akan
mengangkut obat. Bantu aku."
"Tunggu
sebentar, saya sedang minum teh. Nanti setelah istirahatnya selesai."
"Kalau
menunggu, hari akan gelap. Michelle sudah mengangkut bahan baku obatnya sampai
ke depan reruntuhan, kau tinggal membawanya saja."
Pekerjaan kasar
mengangkut obat? Kalau cuma segitu sih—
"Anu,
Ophirya-sama. Kalau begitu, bagaimana jika saya saja yang membantu?"
Aku menawarkan
diri, tapi entah kenapa Ophirya-sama menunjukkan wajah tidak enak hati.
"Bahan baku
obat yang dibuat Michelle sulit ditangani, hanya orang yang sudah mendapat
pelatihan khusus yang bisa membawanya."
"Kalau
Malefis, dia sudah terbiasa karena pernah kujadikan asisten di Kota Ricurto.
Maaf ya, Sina. Aku sangat menghargai niat baikmu."
Setelah berkata
begitu, Ophirya-sama menyeret Malefis menuju lapangan tempat Batu Transmisi
berada.
Gawat, nilaiku
benar-benar kalah telak dari Malefis.
"Aku harus
menemukannya! Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku!"
Sambil berpikir
begitu, aku berjalan menuju aula pertemuan di mana orang-orang berkumpul, dan
di sana aku menemukan Mimiko-sama.
"Mimiko-sama!
Apa ada yang bisa kubantu?"
"Sina!
Kebetulan sekali, aku memang sedang mencarimu!"
Eh? Beliau
mencariku?
"Ada
pekerjaan yang hanya bisa kupinta darimu. Kau mau?"
Pekerjaan yang
hanya bisa dipinta dariku?!
"Tentu saja.
Tolong katakan apa saja."
"Iya,
Akuri-chan ada di kamar Kuruto, bisakah kau menemaninya dan menjaganya
sebentar?"
"Baik, saya
me—eh?"
Menjaga
Akuri-chan? Itu kan—
"Habisnya,
Yulisia-chan dan Liselotte-sama belum kembali, dan Kuruto juga sedang sibuk,
kan? Aku khawatir membiarkan Akuri-chan sendirian. Syukurlah ada Sina di
sini."
"Ba...
baik."
"Kalau
begitu, semangat ya. Aku mengandalkanmu."
Mimiko-sama
menepuk punggungku dengan keras dan melepasku pergi.
Apa-apaan ya, aku
ini kan seorang Ranger?
Rasanya
akhir-akhir ini—tidak, dari dulu sepertinya aku selalu berakhir jadi pengasuh
bayi.
Aku pun berjalan
gontai menuju kamar Kuruto.



Post a Comment