NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 7 Interlude I

Interlude 1

Orang-orang yang Tak Cocok dengan Atmosfer Sekitar


Sebuah asrama sementara didirikan di Desa Master Pedang. Di halaman depannya, tersedia meja dan kursi yang tertata rapi.

Di tengah persiapan perang yang berjalan kian intens, aku—Sina—duduk di salah satu kursi itu sambil menghela napas panjang.

Tiba-tiba, Kak Kans yang sedang melatih ayunan pedangnya di sampingku menoleh. Pemimpin kelompok "Sakura" itu pun angkat bicara.

"Ada apa, Sina? Katanya setiap kali kau menghela napas, sebanyak itu pula... eh, apa ya istilahnya?"

"Kebahagiaan akan kabur—begitu, kan? Tapi mau bagaimana lagi, aku jadi ingin menghela napas. Rasanya aku bingung kenapa kita ada di sini."

Orang-orang yang datang bersama kami ke Desa Master Pedang ini adalah Kuruto, Yulisia-san, Liselotte-sama, Akuri-chan, Malefis, serta penyihir istana Mimiko-sama dan sang Atelier Meister Ophirya-sama.

Belum lagi para ksatria yang menjaga kota perbatasan, serta unit intelijen bernama Phantom yang dipimpin oleh Mimiko-sama.

"Kalau Akuri-chan dan Malefis sih tidak masalah. Tapi kita ini jelas-jelas terasa asing di sini. Terutama para Phantom itu, mereka bisa dibilang profesional dalam bidang Ranger, kan?"

"Meski sama-sama Ranger, aku yang cuma petualang pemula ini hampir tidak ada bedanya dengan beban... tidak, aku ini cuma batu di pinggir jalan. Benar-benar batu di pinggir jalan."

"Kau berlebihan kalau bilang batu. Lagi pula, apa maksudmu dengan 'kita'? Aku juga berniat bertarung kalau musuh datang, tahu!"

"Yah, karena ada senjata buatan Kuruto, kurasa kau tidak akan terlalu mengganggu—tapi kau memang terlihat asing."

Anggota "Sakura" yang satu lagi, Danzou, sih tidak masalah. Meski yang dia pegang adalah katana, benda itu mirip dengan pedang, dan kemampuannya setingkat di atas kami.

Dia tidak akan kalah memalukan jika disandingkan dengan orang-orang di Desa Master Pedang ini. Dibandingkan dia, Kakak—

"Ugh, benar juga. Para ksatria maupun penduduk desa ini semuanya bertarung dengan pedang atau tombak. Kurasa cuma aku yang bertarung dengan tangan kosong."

Kakak bergumam dengan nada kesal. Sebenarnya dulu dia pengguna pedang, tapi sekarang dia lebih suka gaya bertarung memukul lawan dengan Gauntlet.

Sepertinya itu memang lebih cocok dengan kepribadiannya. Saat ini pun dia memang sedang berlatih ayunan, tapi katanya itu bukan untuk mengasah teknik pedang, melainkan bagian dari latihan otot.

Faktanya, di ujung pedang itu terpasang pemberat yang bahkan sulit untuk kuangkat.

"Yah, begitulah! Biar cuma hiasan, yang penting ramai!"

"Kau sendiri malah mengakui kalau kau cuma hiasan!"

Aku berteriak membalasnya, lalu kembali menghela napas. Kenapa jadi begini, ya?

Padahal sampai beberapa bulan lalu, aku hanyalah petualang biasa yang mengerjakan tugas-tugas kecil dengan tekun.

Di dunia ini, pasti ada sesuatu yang tidak kuketahui. Jika aku menemukannya, perasaan seperti apa yang akan kurasakan?

Dulu aku menjadi petualang karena pemikiran seperti itu. Namun akhir-akhir ini, aku malah berpikir begini:

Dunia ini penuh dengan hal yang tidak kuketahui. Saat menemukannya, aku hanya akan berakhir dengan menyadari betapa bodohnya diriku.

Mengetahui kebodohan diri sendiri sering dibilang hal yang baik, tapi menghadapi ketidaktahuan setiap hari itu benar-benar melelahkan. Tolonglah, cukup sampai di sini saja.

"Kenapa ya aku bisa sampai datang ke tempat seperti ini."

"Benar sekali. Benar-benar merepotkan ya."

Sosok yang menaruh teko dan cangkir teh di atas meja itu adalah Malefis.

"Tidak ada bagian untukmu, lho."

"Memangnya aku bilang minta?"

Biarawati gadungan yang selalu memancing emosi ini menuangkan teh ke cangkirnya dan meminumnya dengan anggun.

"Perang sudah dekat, beraninya kau masih santai-santai minum teh."

"Lho, bukannya kau juga sama saja, tidak melakukan apa pun? Lagi pula, tugasku adalah saat pertempuran sesungguhnya dimulai dan sesudahnya."

"Biar bagaimanapun, aku ini seorang Saint. Spesialisasiku adalah mengobati luka. Katanya di desa ini tidak ada satu pun Saint, jadi Rugol-sama sang kepala suku bilang beliau sangat mengandalkanku."

...Eh?

Apa-apaan? Apa posisiku bahkan lebih rendah dari biarawati gadungan ini?

Tidak, tidak mungkin. Aku juga punya pekerjaan—

"Ketemu. Sedang apa kau di tempat seperti ini?"

Tiba-tiba Ophirya-sama datang dan memanggil Malefis.

"Ugh, Ophirya-sama."

"Kita akan mengangkut obat. Bantu aku."

"Tunggu sebentar, saya sedang minum teh. Nanti setelah istirahatnya selesai."

"Kalau menunggu, hari akan gelap. Michelle sudah mengangkut bahan baku obatnya sampai ke depan reruntuhan, kau tinggal membawanya saja."

Pekerjaan kasar mengangkut obat? Kalau cuma segitu sih—

"Anu, Ophirya-sama. Kalau begitu, bagaimana jika saya saja yang membantu?"

Aku menawarkan diri, tapi entah kenapa Ophirya-sama menunjukkan wajah tidak enak hati.

"Bahan baku obat yang dibuat Michelle sulit ditangani, hanya orang yang sudah mendapat pelatihan khusus yang bisa membawanya."

"Kalau Malefis, dia sudah terbiasa karena pernah kujadikan asisten di Kota Ricurto. Maaf ya, Sina. Aku sangat menghargai niat baikmu."

Setelah berkata begitu, Ophirya-sama menyeret Malefis menuju lapangan tempat Batu Transmisi berada.

Gawat, nilaiku benar-benar kalah telak dari Malefis.

"Aku harus menemukannya! Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku!"

Sambil berpikir begitu, aku berjalan menuju aula pertemuan di mana orang-orang berkumpul, dan di sana aku menemukan Mimiko-sama.

"Mimiko-sama! Apa ada yang bisa kubantu?"

"Sina! Kebetulan sekali, aku memang sedang mencarimu!"

Eh? Beliau mencariku?

"Ada pekerjaan yang hanya bisa kupinta darimu. Kau mau?"

Pekerjaan yang hanya bisa dipinta dariku?!

"Tentu saja. Tolong katakan apa saja."

"Iya, Akuri-chan ada di kamar Kuruto, bisakah kau menemaninya dan menjaganya sebentar?"

"Baik, saya me—eh?"

Menjaga Akuri-chan? Itu kan—

"Habisnya, Yulisia-chan dan Liselotte-sama belum kembali, dan Kuruto juga sedang sibuk, kan? Aku khawatir membiarkan Akuri-chan sendirian. Syukurlah ada Sina di sini."

"Ba... baik."

"Kalau begitu, semangat ya. Aku mengandalkanmu."

Mimiko-sama menepuk punggungku dengan keras dan melepasku pergi.

Apa-apaan ya, aku ini kan seorang Ranger?

Rasanya akhir-akhir ini—tidak, dari dulu sepertinya aku selalu berakhir jadi pengasuh bayi.

Aku pun berjalan gontai menuju kamar Kuruto.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close