NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 7 Chapter 1

Chapter 1

Persiapan Perang dan Desa Haste di Masa Lalu


Aku—Kuruto Rockhans—sedang berjalan menyusuri Desa Master Pedang bersama teman masa kecilku yang merupakan seorang iblis, Hildegard-chan.

Akuri, putriku yang tertidur pulas karena kelelahan setelah melakukan perjalanan waktu, kutitipkan pada Nietzsche-san sang Dryad.

Aku lahir dan dibesarkan di tempat ini.

Jika dibandingkan dengan ingatan masa laluku tentang Desa Haste, memang ada beberapa pemandangan yang terasa familier.

Namun, sebagian besar bangunan—termasuk rumah tempatku tumbuh besar—sudah tidak terlihat di mana pun.

Dalam ingatanku, waktu yang kuhabiskan di sini baru berlalu sekitar belasan tahun yang lalu...

Tapi kenyataannya, sepertinya peristiwa itu sudah berlalu seribu dua ratus tahun yang lalu, jadi mau bagaimana lagi.

"Kuruto, bagaimana? Apa kamu merasa sedikit rindu?"

"Hmm, alih-alih rindu, rasanya lebih ke arah aneh. Aku jadi benar-benar tersadar kalau seribu dua ratus tahun memang sudah berlalu."

"Kamu akan lebih merasakannya kalau benar-benar menjalani hidup selama itu," sahut Hildegard-chan sambil tersenyum sinis.

Aku pun langsung meminta maaf dengan tulus. "Maafkan aku."

Ya, bukti bahwa waktu seribu dua ratus tahun telah mengalir bukan hanya dari pemandangan yang berubah.

Dia—Hildegard-chan yang bagiku baru bertemu belasan tahun lalu di desa dan baru saja berjumpa kembali—sebenarnya sudah berusia lebih dari seribu dua ratus tahun.

Dulu saat masih di desa bersamaku, dia terluka parah akibat kesalahanku.

Saat itu, dia berhasil selamat berkat obat pemulih yang kubuat dari tanaman liar di sekitar sana. Namun, karena aku melakukan kesalahan dalam peracikan, obat itu justru membuat tubuhnya menjadi abadi.

Obat pemulih sederhana seharusnya hanya meningkatkan kemampuan alami manusia untuk menyembuhkan luka.

Namun, jika efeknya terlalu kuat, alih-alih sekadar menyembuhkan, obat itu akan memaksa sel-sel tubuh mempertahankan kondisi optimal saat itu dan menghambat perubahan fisik lainnya.

Misalnya saja "penuaan", sesuatu yang seharusnya diterima oleh setiap manusia.

Yah, normalnya orang tidak akan salah membuat obat yang mengandung kekuatan keabadian seperti itu, tapi sepertinya saat kecil dulu aku memang belum menguasai dasar-dasarnya dengan benar.

"Ngomong-ngomong, sejak tahu kalau Hildegard-chan itu abadi, ada sesuatu yang ingin kutanyakan."

Aku bertanya pada Hildegard-chan sambil terus berjalan.

"Apa itu?"

"Kenapa Hildegard-chan terus membiarkan diri dalam kondisi abadi?"

"……Apa maksudmu?"

Hildegard-chan mendadak berhenti dan melotot ke arahku.

"Ah, maaf. Jangan marah. Tapi, meski untuk membuat obat penawar keabadian dibutuhkan bunga yang sangat langka, itu adalah obat yang bahkan aku pun bisa membuatnya."

"Selama seribu dua ratus tahun, bukankah seharusnya ada kesempatan untuk mendapatkan bahannya?" tambahku lagi.

Kalau aku yang mencari bahan obat itu, kurasa dalam sebulan pasti sudah ketemu.

Begitu aku bertanya, Hildegard-chan menundukkan kepalanya dan menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan.

"(Mana mungkin bisa ketemu semudah itu, Kuruto bodoh. Malah sejak kecil aku terus diincar oleh orang-orang tolol yang menginginkan kekuatan keabadian sampai hidupku jadi susah, tahu.)"

"Eh? Apa?"

Karena tidak terdengar jelas, aku bertanya balik. Hildegard-chan mendongak dan menatapku dengan tajam.

"Itu karena aku sudah memutuskan untuk terus begini sampai aku bisa menemukanmu dan memarahimu habis-habisan!"

"Uwaa, maafkan aku."

"Sudahlah, aku tidak marah lagi, jadi jangan dibahas terus."

"Kamu marah, kan?"

"Tidak marah!"

Hildegard-chan membentakku dengan keras.

Meskipun dimarahi, aku merasa sedikit lega karena Hildegard-chan tetaplah Hildegard-chan yang kukenal meski seribu dua ratus tahun telah berlalu.

Bukan hanya Hildegard-chan yang tidak berubah.

Batu besar di halaman belakang atau garis pegunungan yang terlihat di kejauhan tetap memberikan rasa tenang karena aku masih mengenalinya.

Namun, kenapa aku bisa berada di masa depan yang terpaut seribu dua ratus tahun ini?

Lalu, ke mana perginya orang-orang Desa Haste yang lain? Siapa sebenarnya sang Sage Agung itu?

Dan bagaimana Akuri—sang Roh Agung Waktu yang juga merupakan Roh Buatan—bisa terlahir?

Untuk menyelidiki hal itu, kami berencana menggunakan lingkaran sihir buatan Hildegard-chan dan kekuatan Akuri untuk mengirim kesadaran kami ke Desa Haste seribu dua ratus tahun yang lalu.

Tapi entah kenapa, aku dan Hildegard-chan tidak bisa pergi ke masa lalu. Sebaliknya, rekan bengkel kami, Yurishia-san dan Lise-san, justru terlempar ke masa lalu bukan hanya kesadarannya, melainkan seluruh tubuh mereka.

Apakah mereka berdua bisa pulang dengan selamat? Apa mereka benar-benar sampai di Desa Haste masa lalu?

Rasa cemas terus menghantuiku.

Namun, ada situasi yang membuatku tidak bisa hanya diam merenung di sini.

Pasukan Raja Dewa Iblis—iblis yang memusuhi Hildegard-chan—sedang mendekati Desa Master Pedang ini. Diperkirakan mereka akan sampai dalam tiga minggu.

Terlebih lagi, jika desa ini jatuh ke tangan pasukan Raja Dewa Iblis, mereka bisa menggunakan Batu Transmisi di desa ini untuk menyerang Kerajaan Homuros tempat kami tinggal.

Beruntung Mimiko-san, sang Penyihir Istana Kursi Ketiga, segera menghubungi Baron Tycoon sehingga bala bantuan telah tiba di desa ini.

Meski begitu, jumlah musuh konon mencapai tiga ratus ribu orang, jadi sudah jelas posisi kami sangat tidak menguntungkan.

Apa benar-benar akan baik-baik saja?

Rasa cemas itu masih belum hilang. Saat aku berjalan sambil melamun—

"Kuruto, bahaya!"

"Eh?"

Bersamaan dengan suara Hildegard-chan, aku menabrak sesuatu.

Tapi, tidak ada apa-apa di depanku.

Ah... benar juga, aku benar-benar lupa.

"Ternyata tembok kota di sini transparan, ya."

Desa ini dikelilingi oleh tembok kota, tapi tembok itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Mereka menggunakan bahan bangunan yang tidak membiaskan cahaya dan benar-benar tembus pandang untuk menciptakan tembok yang tidak terlihat.

Permukaannya pun halus sehingga debu tidak menempel. Jika tidak berhati-hati, kau akan menabraknya seperti aku tadi.

Hanya saja, saat hari hujan, aliran air yang melewati tembok itu akan terlihat sangat indah.

"Kamu melupakan hal itu meski ini desamu sendiri?"

"Habisnya, itu kan kejadian saat aku masih kecil," jawabku sambil memegang hidung.

"Kamu tidak apa-apa? Hidungmu berdarah, lho. Ini, pakai saputanganku."

"Tidak apa-apa. Aku punya sendiri."

Aku mengatakan itu sambil meminum obat untuk menghentikan pendarahan dan menyeka hidungku dengan saputangan.

"Kalian berdua benar-benar akrab, ya."

Melihat kami, beberapa penduduk desa yang berada di dekat sana menghampiri.

Katanya, leluhur mereka berhutang budi pada penduduk Desa Haste.

Leluhur yang dimaksud adalah seorang petualang bernama Arthur yang sedang melakukan perjalanan latihan bela diri saat Desa Haste masih berada di tanah ini dulu.

Dia adalah sosok kakak yang dihormati karena sering mengunjungi desa dan membantu membasmi serangan Goblin.

Aku memang menjalin hubungan baik dengan Arthur-san, jadi mungkin dia menganggap hal itu sebagai hutang budi?

Keturunannya tidak melupakan hutang budi itu meski seribu dua ratus tahun telah berlalu, dan mereka menyambutku yang merupakan bagian dari Desa Haste sebagai tamu kehormatan.

"Meski begitu, aku benar-benar terkejut. Ternyata Arthur-san itu adalah Kaisar Pertama Kekaisaran Gulmac dan leluhur kalian semua."

"Aku juga terkejut mendengar cerita kalau Tuan benar-benar pernah bertemu langsung dengan sang Leluhur," sahut pria desa itu sambil mengangguk.

"Konon sang Leluhur pernah berkata; Desa Haste tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan tidak ada yang tahu keberadaannya. Namun, Desa Haste akan berpindah tempat setiap sepuluh tahun sekali dan kembali ke tempat asalnya dalam siklus tertentu."

"Demi mereka yang telah membantunya, dia harus menjaga tempat mereka kembali. Katanya, itulah tugasnya sebagai murid sang Sage Agung."

"Murid Sage Agung!?"

Hildegard-chan yang mendengarkan cerita pria itu tersentak dan berteriak.

"Apa maksudnya!? Apa kamu tahu sesuatu tentang Sage Agung?"

"Sage Agung adalah keberadaan yang mengelola dunia ini, dan dikatakan sebagai penyintas dari Penduduk Daratan yang Hilang. Tapi aku sendiri tidak tahu detailnya."

"Lalu, murid Sage Agung adalah mereka yang diakui oleh sang Sage Agung dan pernah bertemu dengannya," lanjut pria itu.

Hildegard-chan menatap pria itu dengan tidak puas.

"Kenapa baru bicara sekarang? Aku sudah mengunjungi desa ini sejak lebih dari seribu tahun lalu, tapi kalian tidak pernah menceritakan hal itu sekali pun."

"Syarat untuk membicarakan hal ini adalah keberangkatan Yurishia-sama dan Lise-sama ke masa lalu. Sebelum itu terjadi, kami tidak diizinkan untuk mengatakannya."

"Artinya, kalian sudah tahu kalau mereka berdua akan terlempar ke masa lalu dengan seluruh tubuh mereka!?"

Hildegard-chan membentak pria itu dengan amarah yang meluap.

Aku pun mencoba menenangkannya.

"Hildegard-chan, tenanglah. Dia bilang 'tidak diizinkan', bukan 'tidak mau memberitahu'. Kamu pasti paham bedanya, kan?"

"……Aku tahu. Tapi tetap saja."

"Lagi pula, menyimpan rahasia dari orang lain itu berat, tapi tidak diizinkan untuk mengungkapkannya juga pasti terasa sulit. Aku pun punya rahasia yang tidak kukatakan pada Hildegard-chan atau yang lain..."

"Rahasia Kuruto? Ah... kurasa memang banyak yang kamu sembunyikan," sahut Hildegard-chan.

Ia sempat terlihat terkejut sesaat, namun segera mengangguk seolah mengerti.

"Eh!? Apa aku terlihat seperti punya banyak rahasia!?"

"Bukan Kuruto yang sengaja merahasiakannya, tapi lebih ke rahasia yang ada pada diri Kuruto..."

Entah kenapa, Hildegard-chan bergumam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.




Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi instingku mengatakan lebih baik tidak memikirkannya lebih jauh.

"Aku mencari-cari kamu lho, Kuruto. Sedang asyik kencan apa bagaimana, sih?"

Di saat itulah, Marlefiss-san—salah satu anggota party 'Dragon's Fang' yang dulu pernah membantuku—mendekat sambil mengomel.

Ini bukan kencan, tapi aku merenung karena memang benar aku sedang bersantai tadi.

"Maaf. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Ya. Kita akan mengadakan rapat strategi pertahanan sekarang. Seharusnya kamu dan gadis itu tidak ikut karena rencana awal kalian akan dikirim ke masa lalu. Tapi, karena kalian gagal pergi ke sana, Mimiko-sama memerintahkan agar kalian berdua dibawa ke ruang rapat."

"Dari Mimiko-san? Baik, aku akan segera ke sana. Ah, tapi Akuri..."

"Kuruto, kalau Akuri 'kan dia sedang bersama tubuh cadangan Dryad itu. Jadi jangan khawatir."

Benar juga, apa yang dikatakan Hildegard-chan ada benarnya. Malah lebih tenang begini daripada hanya berdua bersamaku.

Lagi pula, meskipun Akuri bangun, aku tidak mungkin membawanya ke ruang rapat.

"Aku mengerti. Kalau begitu, ayo pergi."

Aku mengangguk, lalu mengikuti Marlefiss-san.

 

"Jadi, apa yang sebenarnya dilakukan Kuruto-chan?"

"Eh? Aku sedang menyajikan teh."

Aku menjawab pertanyaan Mimiko-san sambil menuangkan teh ke dalam cangkir, lalu menyajikannya di depan semua orang yang duduk mengelilingi meja bundar.

Kupikir aku dipanggil ke rapat ini karena mereka butuh orang untuk menyajikan teh, makanya aku langsung menuju dapur... apa aku salah, ya?

"Kuruto-chan, kalau sudah selesai membagikan teh, duduklah di kursi yang kosong."

Mimiko-san berkata begitu dan memintaku untuk duduk.

Meski diminta begitu... aku merasa ragu dan memandangi para peserta rapat di sini.

Pertama yang terlihat adalah Mimiko-san.

Sebagai Penyihir Istana Urutan Ketiga, dia adalah orang dengan posisi tertinggi di Kerajaan Homuros sekaligus perwakilan dari delegasi kami.

Lalu di sebelahnya duduk Arreid-sama, Kapten yang memimpin pasukan ksatria di Valha.

Di sampingnya ada Generik-sama yang saat ini memimpin pasukan pertahanan Rikurt.

Mereka berdua adalah perwakilan dari pasukan ksatria.

Di sisi lain, ada Pemilik Lokakarya (Atelier Meister) Ophilia-sama.

Seharusnya, majikan kami yang merupakan Atelier Meister Lict-sama juga ada di sini, tapi dia tidak hadir karena ada tugas penting lainnya.

Dari Desa Master Pedang, ada Ketua Rugol dan putranya, Golandos, yang menjabat sebagai asisten ketua.

Golandos-san sedikit lebih tua dariku, dan selain aku, dia adalah pria berambut merah termuda di ruangan ini.

Dan terakhir, Hildegard-chan.

Anggota party 'Sakura' yang datang bersamaku dari lokakarya yang sama, para ksatria lain, dan Marlefiss-san tidak ada di sini.

Apakah boleh orang sepertiku duduk di tempat seperti ini?

Saat aku berpikir begitu, Rugol-san mempersilakan.

"Silakan, Kuruto-sama. Bagaimanapun, Anda adalah perwakilan dari Desa Haste."

"...Baiklah."

Aku mengangguk dan duduk di kursi yang kosong—di antara Golandos-san dan Hildegard-chan.

"Nah, mumpung sudah ada, mari kita nikmati teh yang diseduh Kuruto-chan."

"Apa Anda sedang bercanda dalam situasi genting begini, Mimiko-sama!"

Arreid-sama berdiri dan membentak dengan suara keras.

"Tidak apa-apa santai sedikit, 'kan? Masih ada waktu tiga minggu sampai desa ini diserang."

"Hanya tiga minggu!"

"Tenanglah, Kapten. Kita belum menjelaskan situasinya kepada Kuruto dan Hildegard-sama. Benar kata Mimiko-sama, mari kita jelaskan sambil minum teh."

Generik-sama menenangkan Arreid-sama dengan nada santai seperti biasanya, namun tetap ada kesan tegang yang terpancar. Sepertinya sebelum aku datang, suasana rapat ini sangat panas.

Arreid-sama mendelik ke arah Generik-sama namun tetap duduk diam, lalu menenggak tehnya hingga hampir separuh dalam sekali teguk.

Apa tehnya terlalu panas?

Dia sempat membelalakkan mata sejenak—sebelum akhirnya meminumnya kembali dengan perlahan.

Yang lain juga tampak terkejut saat pertama kali meminum tehnya, tapi kemudian mereka mulai menikmatinya dengan tenang.

Mimiko-san tersenyum ke arahku.

"Enak sekali, Kuruto-chan. Rasanya hatiku jadi tenang."

"Iya. Aku memilih daun teh yang memiliki efek relaksasi. Kupikir kalian semua pasti lelah karena rapat ini."

Tapi tetap saja, Mimiko-san memang hebat.

Atmosfer haus darah yang ada tadi langsung lenyap seketika.

Jika Mimiko-san tidak menyarankan minum teh tadi, mungkin diskusi yang tenang tidak akan bisa dilakukan.

"Jadi, apa yang kalian debatkan?"

Saat Hildegard-chan bertanya, Arreid-sama menjawab.

"Tentang pertahanan. Mengingat adanya perbedaan jumlah pasukan, alih-alih perang pengepungan, aku ingin memusatkan kekuatan tempur kita di lembah ini."

"Aku keberatan. Tugas kami adalah melindungi tanah ini. Karena kita tidak tahu dari mana musuh akan datang, kami tidak bisa mengabaikan tempat ini."

Sepertinya Rugol-san menginginkan perang pengepungan.

"Perang pengepungan seharusnya dilakukan jika kita bisa mengharapkan bantuan pasukan kawan. Jika dilakukan sendirian, itu akan merugikan."

Namun Arreid-sama menggelengkan kepalanya sambil berkata dengan tenang.

Dalam perang ini, yang bisa disebut sebagai pasukan kawan bagi Desa Master Pedang adalah bawahan Hildegard-chan.

Hanya saja, kabarnya pasukan Raja Iblis juga sedang menyerang Rapserad, sebuah kota benteng di sebelah barat desa ini yang diperintah oleh Hildegard-chan, bersamaan dengan serangan ke desa ini.

Jika pertahanan di sana diabaikan, bukan hanya wilayah Hildegard-chan yang terancam, tapi Desa Master Pedang juga akan diserang dari dua arah, utara dan barat.

Karena itu, banyak pasukan yang dikerahkan ke sana, termasuk tim yang dipimpin Solfrea-san yang kukenal, sehingga pasukan yang bisa dikirim ke Desa Master Pedang sangat terbatas.

Di wilayah iblis, ada empat faksi besar yang dipimpin oleh Hildegard-chan si Kaisar Tua, Raja Iblis yang menyerang kali ini, serta Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis.

Namun, Raja Binatang dan Kaisar Naga Iblis tidak bisa mengirim bantuan karena adanya perjanjian, sehingga bantuan selain dari bawahan Hildegard-chan tidak bisa diharapkan.

Terlebih lagi, Arreid-sama melanjutkan.

"Lagi pula, tembok desa ini tidak cocok untuk perang pengepungan!"

Sekeliling desa ini dikelilingi oleh tembok yang tidak terlihat.

Aku tidak tahu kenapa tembok itu transparan, tapi tembok itu sudah ada sejak aku masih kecil.

Jika bagian dalam tembok terlihat jelas, memang bisa mengecoh lawan, tapi di sisi lain, penempatan personil dan senjata seperti Ballista juga akan terlihat jelas, sehingga sulit untuk bertempur.

"Mungkin saja di antara musuh ada kaum iblis yang membawa monster terbang. Jika begitu, apakah pencegatan di lembah akan tetap efektif? Lagipula, kita belum tahu tujuan sebenarnya dari musuh, 'kan?"

Ophilia-sama menyipitkan matanya saat berbicara.

"Benar kata Ophilia-chan. Kita tidak tahu apakah target Raja Iblis adalah Kerajaan Homuros atau bukan."

"Apa maksudnya? Bukankah tujuan Raja Iblis adalah merebut Batu Transmisi, lalu melancarkan serangan kejutan ke Kerajaan Homuros?"

Arreid-sama bertanya.

Sepertinya bawahan Raja Iblis telah melakukan kontak dengan Count Tycoon untuk melemahkan pertahanan di sisi barat yang dekat dengan wilayah iblis.

"Ya. Karena itulah aku diserahkan kepada Count itu."

Benar juga, bawahan itu menangkap Hildegard-chan dan menyerahkannya kepada Count Tycoon.

Sungguh, kesukaan Count Tycoon pada gadis kecil benar-benar merepotkan.

Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan majikanku, tapi tidak kusangka dia sampai membahayakan Kerajaan Homuros hanya demi memiliki Hildegard-chan yang tidak bisa tumbuh besar.

Meskipun sekarang berkat putrinya, Famil-san, dia sudah bisa mengawasi pertumbuhan anak dengan benar.

Sedikit melenceng dari topik, tapi jika Raja Iblis memang telah merencanakan ini di balik layar untuk mendapatkan Kerajaan Homuros, maka kali ini pun harus dianggap sebagai bagian dari rencana tersebut.

"Jika itu Batu Transmisi biasa, aku akan setuju. Tapi Batu Transmisi itu bukan yang seperti itu, 'kan?"

Ophilia-sama berkata begitu sambil menatapku.

Sebagai Atelier Meister yang asli dan bukan pengganti sepertiku, dia seharusnya bisa menjelaskan semuanya sendiri... tapi aku mengerti dia bertanya padaku karena peduli padaku yang sedari tadi diam saja.

"Benar. Batu Transmisi itu bukanlah Batu Transmisi biasa. Pertama-tama, Batu Transmisi normal bekerja dengan memanfaatkan aliran mana dan kekuatannya yang mengalir di bawah tanah—"

"Tunggu, tunggu sebentar. Kuruto, apa kamu mengerti mekanisme Batu Transmisi?"

"Eh? Iya."

"Kuruto-chan. Mengenai mekanisme Batu Transmisi, bahkan Atelier Meister Witukind pun tidak memahaminya secara sempurna. Karena apa yang dia buat hanyalah replika."

Ophilia-sama dan Mimiko-san berkata begitu, tapi apakah mekanisme Batu Transmisi sesulit itu?

Jangan-jangan, aku yang tahu detail tentang mekanisme Batu Transmisi ini sebenarnya...

"Mimiko, jangan bicara lebih dari itu."

"Ah... iya. Mungkin karena Atelier Meister Witukind memonopoli teknologi Batu Transmisi, jadi orang lain tidak sempat menelitinya saja."

Mimiko-san meralat ucapannya setelah dibisiki oleh Hildegard-chan.

Oalah, begitu ya, jadi selama ini tidak ada yang mencoba menyelidiki tentang Batu Transmisi.

Hampir saja aku salah sangka dan mengira kalau diriku ini hebat.

"Baiklah, aku lanjutkan penjelasannya. Batu Transmisi di Desa Master Pedang ini, seperti yang pernah kubicarakan dengan Mimiko-san, adalah Batu Transmisi untuk berpindah ke ruang dimensi yang lebih tinggi. Mekanismenya bukan menumpang pada aliran mana, tapi Batu Transmisi itu sendiri menyerap mana dan menciptakan aliran mananya sendiri."

"Apa bedanya kegunaannya dengan Batu Transmisi lain?"

"Begini. Selain bisa berpindah ke sub-ruang, jika kita mau, kita juga bisa berpindah ke tempat yang tidak memiliki Batu Transmisi."

Mendengar penjelasanku, mata Ophilia-sama membelalak.

"Berpindah ke tempat tanpa Batu Transmisi!? Artinya, jika digunakan, seseorang bisa mengirimkan tentara langsung ke ruang singgasana!?"

"Iya. Tapi itu hanya secara teori. Jika aliran mana tidak diukur secara sempurna, kita bisa saja berpindah ke dalam tanah atau ke ketinggian ribuan meter di udara. Kecuali jika ada semacam penanda."

"Penanda itu maksudnya Batu Transmisi lain!?"

Arreid-sama bertanya dengan suara lantang.

"Bukan. Batu Transmisi buatan Witukind-san dibangun di tempat dengan konsentrasi mana urat bumi yang tinggi, sehingga sangat sulit bagi aliran mana baru untuk menyusup ke sana."

"Begitu... syukurlah. Jika itu mungkin, kaum iblis pasti sudah menyerbu ibu kota."

"Benar juga. Selama tidak ada pemanggilan iblis di ibu kota dalam setahun terakhir, seharusnya tidak ada masalah."

Saat aku mengatakannya sambil tertawa, entah kenapa Mimiko-san dan Ophilia-sama mendadak kaku.

"Kuruto-chan... apakah kita bisa berpindah ke tempat di mana pemanggilan iblis dilakukan?"

"Eh? Iya. Itu mungkin. Karena iblis pada dasarnya memiliki mana yang sangat kuat. Saat menarik iblis tersebut ke dimensi ini, akan tercipta aliran mana yang sangat kuat. Butuh waktu sekitar satu tahun sampai aliran itu benar-benar hilang, jadi jika itu tempat pemanggilan iblis dalam kurun waktu satu tahun, kita bisa berpindah ke sana dengan sedikit penyesuaian."

Iblis tingkat tinggi dan sejenisnya biasanya sering muncul jika diselidiki. Lagi pula karena mereka cepat mati, kurasa tidak akan ada orang yang sengaja memanggilnya.

Meski belakangan ini jumlahnya berkurang, aku masih sempat melihatnya beberapa kali.

"(Bicara soal tempat pemanggilan iblis, ada reruntuhan peradaban Lapital, bawah tanah kediaman Count Tycoon, dan—)"

"(Katedral di ibu kota juga. Di sana juga ada bekas pemanggilan iblis. Keponakan Marquis Gastle yang sering keluar masuk gereja itu membuat kontrak dengan iblis dan tewas sebagai bayarannya.)"

"(Uskup Tristan benar-benar meninggalkan warisan yang merepotkan, ya.)"

Mimiko-san dan Ophilia-sama mulai berbisik-bisik.

Biasanya melakukan percakapan rahasia di tengah rapat akan ditegur oleh orang sekitar, tapi tidak ada yang tampak keberatan.

Malah, orang lain juga tampak berbisik-bisik agar suaranya tidak terdengar olehku.

Setelah bisik-bisik itu selesai, Mimiko-san berdiri dan berkata kepada Arreid-sama.

"Jenderal Arreid. Saya, Penyihir Istana Urutan Ketiga, atas nama Yang Mulia Raja, memerintahkan: Mempertahankan Batu Transmisi adalah harga mati. Jangan sampai jatuh ke tangan musuh."

"Awalnya saya berencana menempatkan pasukan di sekitar reruntuhan sebagai antisipasi terburuk jika kaum iblis berhasil berpindah."

"Tetap jalankan rencana itu. Seperti yang kukatakan tadi, kita tidak tahu apa tujuan Raja Iblis yang sebenarnya."

Mimiko-san mengeluarkan perintah kepada Arreid-sama dengan sikap yang berwibawa.

Sama sekali tidak ada jejak tingkah konyolnya yang biasa.

Melihat pemandangan itu, alih-alih terkesan, aku malah merasa tegang. Itu menunjukkan betapa gentingnya situasi saat ini.

Tadi Mimiko-san bilang masih ada tiga minggu lebih, tapi sepertinya memang lebih baik menganggap hanya punya waktu tiga minggu seperti kata Arreid-sama.

"Namun, di sekeliling desa ini banyak terdapat bukit dan gunung kecil. Jika kita bertahan di dalam, akan sulit untuk memantau pergerakan musuh setelah mereka melewati lembah. Untuk menempatkan pasukan pengintai di berbagai tempat pun, jumlah personil kita terlalu sedikit."

Memang benar, dari desa ini, bahkan jika naik ke atas tembok kota, jarak pandangnya terbatas.

Tempat tertingginya kalau tidak salah hanya sekitar dua puluh meter?

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengintai dari langit?"

"Dari langit?"

Saat Arreid-sama memiringkan kepalanya mendengar perkataanku, Mimiko-san seolah mengingat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari Yulisia-chan kalau Kuruto-chan punya teman naga, 'kan? Benar juga, kalau naik di punggung naga itu—"

Teman naga?

Apa maksudnya naga yang nyawanya diincar oleh Solfrea-san waktu itu?

Aku baru saja hendak membuka mulut untuk membantahnya...

"Tidak bisa. Sebagian besar naga di dunia ini adalah bawahan Kaisar Naga Iblis. Walaupun bukan bawahan, mereka tetaplah kerabat Kaisar Naga Iblis. Karena Kaisar Naga Iblis sudah memutuskan untuk mengambil posisi netral, meski itu teman Kuruto sekalipun, kita tidak bisa menggunakan naga dalam perang ini."

Hildegard-chan berkata dengan mata menyipit.

Tapi—

"Meski bukan naga, ada banyak cara lain, seperti menerbangkan balon udara, 'kan?"

"Balon udara? Maaf Kuruto-chan, bisakah kamu beri tahu kami apa itu balon udara?"

Karena ditanya, aku menjelaskan mekanisme sederhana dari balon udara.

Intinya adalah memanaskan udara menggunakan batu kristal sihir agar udara menjadi ringan, lalu mengumpulkan udara tersebut ke dalam kain besar agar bisa terbang ke atas.

Mendengar itu, entah kenapa mata Mimiko-san dan Ophilia-sama membelalak dan mereka kembali berbisik-bisik.

"(Bagaimana menurutmu?)"

"(Mau bagaimana lagi, apakah benar-benar mungkin penerbangan yang dianggap mustahil oleh umat manusia bisa dilakukan dengan prinsip sesederhana itu?)"

"(Prinsipnya mudah dimengerti, dan jika Kuruto-chan bilang bisa, aku yakin itu benar-benar bisa dilakukan.)"

"(Ah, soal itu aku pun percaya padanya... Astaga, untung saja aku sudah mengumumkan kepada yang lain sebelum Kuruto datang. 'Jangan hiraukan jika kami berbisik-bisik setelah Kuruto bicara'...)"

Setelah bicara dengan Mimiko-san, entah kenapa Ophilia-sama memegangi kepalanya.

Jangan-jangan, karena aku memberikan ide yang sangat amatir, dia jadi menyesal telah memanggilku ke rapat ini?

Bukan hanya Mimiko-san dan yang lainnya, peserta lain pun saling berbisik dengan orang di sebelah mereka.

"Anu... maaf. Saya sudah mengatakan hal yang aneh."

"Tidak, Kuruto-sama. Balon udara sepertinya memang sangat diperlukan."

Rugol-san yang mengatakannya.

Tapi, ada satu hal lagi yang mengganjal.

"Ah... kita juga butuh alat komunikasi, ya."

"Alat komunikasi?"

"Alat untuk berbicara dengan orang yang berada jauh."

"Apakah benda seperti itu mudah dibuat?"

"Iya, mudah. Kalau tidak membangun stasiun transmisi, kita bisa berbicara dalam jarak sepuluh kilometer."

Yah, kalau cuma alat komunikasi, penyihir hebat seperti Mimiko-san pasti bisa menyediakannya dengan mudah... atau mungkin mereka bisa bicara tanpa perlu alat sihir. Soalnya, mereka tampak bingung saat aku menyebut kata alat komunikasi.

"(...Ophilia-chan, ada yang ingin kamu katakan?)"

"(...Tidak. Aku sudah melihat metode mengirimkan suara ke tempat jauh di kota Rikurt. Tapi, dia bilang jaraknya sepuluh kilometer tanpa stasiun transmisi?)"

"(Dari cerita Kuruto-chan, sepertinya jika kita membangun stasiun transmisi itu, kita bisa bicara dengan orang yang lebih jauh lagi... Sepertinya zaman merpati pos kesayanganku sudah berakhir.)"

Sepertinya perkataanku memang aneh, karena Mimiko-san sampai menghela napas.

"Kuruto-chan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu alat komunikasi?"

"Asalkan bahannya ada. Tergantung jumlah salurannya, tapi kalau diproduksi massal pun tidak sampai sehari."

"Saluran...? Baiklah, kami akan siapkan bahannya, jadi bisakah kamu tuliskan apa saja yang dibutuhkan? Lalu, jika ada hal lain yang sekiranya diperlukan untuk perang kali ini, tolong tuliskan juga cara pakai dan bahannya, ya. Di ruangan sebelah sana. Kalau butuh bahan seperti Mithril, sepertinya kami harus minta tolong padamu."

"Benar juga. Aku belum pernah melihat Mithril dijual. Padahal itu bahan yang bisa ditemukan di mana saja, jadi wajar saja sih."

"Iya, tentu saja."

Mimiko-san mengangguk sambil menatap ke arah antah berantah.

Apa ada serangga di sana, ya?

Sambil memikirkan hal itu, aku menuju ke ruangan sebelah untuk membuat daftar barang pecah belah yang bisa berguna dalam pertempuran kali ini.

◆◇◆

Aku—Mimiko—menghela napas sekali lagi tepat setelah Kuruto-chan menutup pintu ruangan sebelah.

Bukan hanya aku, semua orang di sini juga menghela napas.

"Tadi saat bicara dengannya aku menyadarinya lagi, si bodoh Kuruto itu tetap saja tidak sadar diri, ya. Yah, kalau dia mendadak sadar lalu pingsan selama dua puluh empat jam itu malah merepotkan, jadi lebih baik dia tetap tidak sadar saja."

Kaisar Tua Hildegard menghela napas.

Kuruto-chan, jika dia menyadari kemampuannya sendiri, dia akan jatuh koma selama sehari penuh, dan setelah bangun dia akan kehilangan ingatan yang menjadi penyebabnya.

Hal itu sudah dijelaskan sebelumnya, dan merupakan pemahaman bersama bagi semua orang di ruangan ini.

"Tapi tetap saja, tidak kusangka Kuruto itu orang yang se-nekat ini."

Wakil Jenderal Generik berkata sambil tertawa getir.

Katanya dia terkadang mengobrol dengan Kuruto, tapi dia hanya memahami sebagian kecil dari keabnormalan Kuruto.

Sebaliknya, Jenderal Arreid yang jarang berinteraksi langsung justru lebih tahu banyak tentang Kuruto.

Di antara orang-orang di sini, selain Hildegard, dialah yang pertama kali bertemu dengan Kuruto.

"Pokoknya, soal masalah tidak bisa membaca pergerakan musuh saat pengepungan sudah bisa diatasi dengan ide cemerlang Kuruto-chan... Tapi kalau kita benar-benar dikepung oleh tiga ratus ribu musuh, itu tetap akan sulit. Menempatkan pasukan tersembunyi itu wajib, ya? Aku juga ingin melancarkan serangan di lembah."

Aku melihat peta dan berdiskusi dengan Jenderal Arreid mengenai penempatan prajurit.

"Karena sudah diputuskan untuk bertahan, mari kita manfaatkan tembok di sekeliling desa ini. Sejujurnya, fakta bahwa tembok itu dibuat oleh orang-orang dari desa Kuruto saja sudah sangat membesarkan hati. Hanya saja, warna tembok yang transparan itu agak... Aku harus bertanya pada Kuruto apakah warna temboknya bisa dikembalikan."

Jenderal Arreid berkata begitu sambil meminum tehnya.

Padahal tadi dia bersikeras bahwa pengepungan itu mustahil, tapi berkat teh ini, dia jadi bisa memberikan pendapat tentang pengepungan dengan tenang.

Kalau bisa, aku ingin teh ini disajikan di rapat Senat Kerajaan juga.

Rasanya aku ingin mengajak Kuruto-chan dinas luar ke sana.

"Tadi aku mendengar tentang Sang Sage Agung dari penduduk desa... Rugol, apakah ada hal baru yang bisa kamu ceritakan padaku?"

Hildegard bertanya demikian.

Tentang Sang Sage Agung?

Sepertinya selama Kuruto-chan berjalan-jalan dengannya, ada perkembangan dalam pembicaraan mereka.

"Apa yang bisa kami ceritakan saat ini sangat terbatas. Kami hanyalah suku yang mematuhi perintah Sang Sage Agung untuk menjaga tanah ini demi mengembalikannya kepada penduduk Desa Haste yang suatu hari nanti akan kembali. Sisanya... benar, dua orang yang telah berangkat ke masa lalu—Yulisia-dono dan Liselotte-dono—mungkin mereka lebih mengetahui kebenaran tentang dunia ini."

Rugol menengadah ke langit-langit sambil berkata demikian.

◆◇◆

Aku, Yulisia, bersama Lise sedang berjalan menyusuri desa dipandu oleh seorang paman petani.

Sebelum kami sadar, kami berdua sudah berdiri di tanah yang asing, dan saat ini paman ini sedang mengantarkan kami berkeliling desa.

Desa ini sangat tenang.

Saat angin berhembus, bulu-bulu halus bunga Tsubawugi terbang tertiup, dan di aliran sungai kecil, udang galah tampak bersiap menunggu ikan yang lewat.

Mungkin itu peternakan babi, di dalam pagar kayu ada seekor babi yang terus menggali tanah seolah mencari sesuatu, dan di samping tempat makannya, ada kucing dan naga yang berkumpul untuk mencuri makanan.

Sepertinya ada anak-anak juga di desa ini, mereka sedang bermain boneka. Itu... apakah itu boneka tanah liat berbentuk Goblin dan pendekar pedang? Ukurannya seukuran manusia, berwarna, dan sepertinya sendi-sendinya pun bisa digerakkan.

Di depan rumah yang kami lewati, ada sepasang suami istri dan anak mereka yang berdiri berjajar. Di depan mereka ada seorang pria yang tampak seperti pelukis. Sepertinya mereka sedang mengabadikan kenangan keluarga dalam sebuah lukisan.

"Senyum, ayo senyum, oke saya lukis sekarang, ya, cheese!"

Bersamaan dengan kata-kata pelukis itu, hanya dalam hitungan detik, sebuah lukisan—lukisan realis yang seolah-olah memotong kenyataan—selesai dibuat dan diserahkan kepada pasangan suami istri tersebut.

"Aduh, desa ini tidak ada apa-apanya, pasti membosankan ya?"

""Sama sekali tidak.""

Karena paman petani itu mengatakannya tanpa bermaksud merendah, melainkan terdengar tulus, aku dan Lise menggelengkan kepala bersamaan.

"Hahaha, aku senang kalau kalian bisa bilang begitu meski hanya basa-basi."

""Ini bukan basa-basi.""

Lagi-lagi suara kami berbarengan.

Sejak tadi keringatku tidak mau berhenti mengalir.

Aku dan Lise sudah sering melihat Kuruto selama ini, dan kami pikir kami tidak akan terkejut lagi dengan apa pun yang terjadi.

Tapi, tetap saja.

"Anu, benda yang terbang di atas sana itu apa?"

Lise menunjuk ke arah benda seperti bola yang melayang di langit.

"Itu adalah perangkat sensor udara untuk memantau Goblin. Sebenarnya desa ini sudah dipasangi tembok transparan untuk mencegah penyusup dari luar, tapi tetap saja Goblin itu menakutkan."

"Tembok transparan?"

"Iya, dulu desa ini ditutupi tembok Orichalcum, tapi ada kakek yang mengeluh: 'Rumahku jadi gelap! Aku ingin menjemur pakaian pakai sinar matahari, bukan pakai alat sihir!'. Makanya temboknya dibuat memantulkan cahaya matahari agar tidak gelap, tapi kemudian dia marah lagi: 'Matahari masuk terus tidak kenal waktu! Sore-sore matahari masuk ke ruang tamu itu merepotkan! Kamu pikir butuh berapa jam untuk memutar posisi rumah! Jangan main-main ya!'. Akhirnya kakek itu sendiri yang mengganti temboknya dengan bahan bangunan transparan. Merepotkan, kan?"

"Jangan menceritakan hal itu seolah-olah cuma masalah sepele dengan tetangga dong."

Paman petani itu tertawa "hahaha", tapi aku sudah tidak tahu lagi harus terkejut di bagian mana.

"Paman Palc. Halo. Siapa mereka?"

Orang yang menyapa adalah seorang pria berambut hitam berusia sekitar dua puluh tahun.

"Orang dari luar desa. Sepertinya mereka tersesat. Kupikir aku akan mengajak mereka minum teh di rumahku sampai pedagang keliling datang."

"Eh? Rumah Paman Palc? Rasanya kurang pantas membawa wanita muda ke rumah pria yang tinggal sendirian... Kalian, mau ke rumahku saja? Ada istriku juga, jadi pasti lebih aman."

"Ah... maaf, aku tidak terpikir sampai ke sana. Nona, mau menunggu di rumah anak ini? Nanti kalau pedagangnya datang akan kuberitahu."

Aku dan Lise saling bertukar pandang, lalu memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.

"Mohon bantuannya."

"Baguslah. Istriku juga sepertinya sedang butuh teman bicara, jadi ini waktu yang tepat."

Pria itu mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya.

"Oya, namaku Nicholas. Nama kalian siapa?"

"……Nama saya Liselotte."

Lise sempat ragu sejenak, lalu menyebutkan nama aslinya tanpa menyertakan nama keluarga.

Sepertinya dia merasa tidak enak jika harus menggunakan nama samaran kepada orang yang telah berbaik hati menolongnya.

"Aku Yulisia."

"Begitu ya…… Hmm, nama yang bagus untuk kalian berdua. Ya, nama anak perempuan memang selalu terasa indah."

Nicholas sempat menunjukkan gelagat seperti sedang berpikir sejenak setelah mendengar nama kami. Apa ada yang terasa janggal dengan nama kami?

"Rumahku sudah dekat, kok."

Pria itu menunjuk ke sebuah rumah bata yang terlihat sangat manis, persis seperti dalam buku cerita.

Di halamannya, pohon Panamomo yang berbuah kuning ranum tampak tumbuh subur.

"Aku pulang, Sophie! Aku membawa tamu, lho!"

Nicholas berseru memanggil istrinya—Sophie—sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Tak lama, seorang wanita berwajah mungil dengan rambut abu-abu dan pakaian berukuran longgar menyambut kami di depan pintu.

Entah Nicholas atau Sophie ini, perasaanku terus saja terusik oleh sesuatu yang aneh. Mereka tidak tampak seperti orang jahat, tapi ada rasa ganjal yang menyelimuti atmosfer di sini.

"Aduh, selamat datang. Silakan masuk, maaf ya rumahnya agak sempit."

"Terima kasih atas tumpangannya."

"Permisi."

Aku dan Lise menyahut, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Ternyata rumah ini sangat biasa, tidak ada jebakan atau mekanisme aneh yang tersembunyi di dalamnya.

Saat Sophie hendak mengambil kursi dari ruangan sebelah, Nicholas langsung mencegahnya. "Biar aku saja, Sophie tolong siapkan kue saja, ya."

Sophie mengangguk sambil tersenyum, lalu mulai mengeluarkan tepung terigu.

Jika itu manusia normal, mereka pasti akan terkejut dan bertanya, "Hah? Dari tepung? Bikin kuenya mulai dari situ?", tapi aku dan Lise sudah terlatih menghadapi Kuruto.

Kami menerima tanpa terkejut saat kue itu sudah matang hanya dalam waktu tiga menit.

Seperti biasa, proses memasaknya tetap menjadi misteri yang tidak bisa dipahami meski dilihat langsung.

"Maaf ya, kalau tahu kalian mau datang, aku bisa membuatkan camilan yang lebih niat. Silakan dinikmati."

Kami duduk di kursi yang disiapkan Nicholas, lalu masing-masing memasukkan dua kotak gula ke dalam teh. Sepertinya mereka menganggap kami sangat suka manis.

"Kalau begitu, kami tidak sungkan."

"Selamat makan."

Aku dan Lise mengambil kue dengan bentuk berbeda dan memasukkannya ke mulut. Ah, lezat sekali.

Rasa asam dari buah sitrus meresap ke tubuh yang lelah, sementara kadar gulanya memulihkan sel-sel otak yang terkuras habis akibat pemandangan tidak masuk akal tadi.

Memang, makanan manis adalah obat terbaik saat menghadapi fenomena yang melampaui logika.

Ah, hampir lupa.

"Anu, aku ingin bertanya, apakah benar ini Desa Haste?"

"Iya, benar. Desa yang tenang dan tidak punya apa-apa, kan?"

Sophie mengangguk dengan senyum ramah. Mengenai bagian "tidak punya apa-apa", aku tidak bisa setuju, tapi aku tetap mengangguk saja.

"Apa kalian punya peta daerah sekitar sini?"

"Oh, benar juga. Petanya ada di—"

"Sophie, biar aku saja yang ambil."

Nicholas menahan Sophie yang hendak berdiri, lalu dia sendiri yang naik ke lantai dua. Sophie hanya bisa tertawa getir melihat tingkah suaminya itu.

Tak lama Nicholas kembali dan menunjukkan peta wilayah sekitar. Seperti dugaan, tidak ada peta yang menggambarkan hingga negara-negara tetangga.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Lise dengan suara pelan sambil meminta pendapatku.

"Kita sampai di Desa Master Pedang lewat transmisi, jadi aku tidak terlalu tahu geografi sekitarnya... tapi di selatan ada gurun besar, di timur ada hutan raksasa—berarti itu Wilayah Iblis."

"Sepertinya memang begitu. Setidaknya, ini bukan Pegunungan Scene yang disebut oleh Kuruto-sama sebagai lokasi Desa Haste."

"Ya. Tadinya aku sempat berpikir kita terlempar ke Desa Haste di masa sekarang, tapi sepertinya bukan."

Sophie menatap kami dengan cemas karena kami terus berbisik-bisik. "Kalian tidak apa-apa?"

"Eh... i-iya, tidak apa-apa. Sepertinya kami terlempar sedikit lebih jauh dari perkiraan," jawabku sambil tertawa getir lalu meminum teh.

Menurut Hildegard, kami akan kembali ke zaman asal seiring berjalannya waktu, jadi sebaiknya aku selesaikan tugas sesuai rencana. Ada tiga hal yang harus kami selidiki.

Kenapa Desa Haste di Pegunungan Scene bisa lenyap? Siapa sebenarnya Sang Sage Agung? Dan kenapa Akuri—Roh Agung Waktu—bisa lahir?

Masalahnya, aku tidak mungkin mengajukan pertanyaan bodoh seperti, "Desa kalian sepertinya akan lenyap nanti, tahu tidak kenapa?". Lalu, bagaimana cara bertanya yang benar?

"Anu, ada yang ingin saya tanyakan, boleh?"

Saat aku masih ragu, Lise sudah membuka suara duluan. Biar bagaimanapun, dia tetaplah putri ketiga sebuah kerajaan besar. Dia pasti jauh lebih terbiasa dalam urusan diplomasi dan mengajukan pertanyaan tepat daripada aku—

"Di desa ini, apakah ada anak laki-laki bernama Kuruto?"

"Pertanyaan bodoh macam apa itu!"

Aku refleks menjitak kepala Lise. Gadis itu menatapku dengan penuh dendam sambil memprotes pelan.

"Apa yang Anda lakukan, Yuri-san!"

"Harusnya itu kalimatku!"

"Habisnya, kalau ini Desa Haste di masa lalu, mungkin saja ada Kuruto-sama versi kecil, kan? Di usia lima belas tahun saja dia semanis itu, Kuruto-sama versi balita pasti imutnya bukan main!"

"Aku tidak membantah itu, tapi perhatikan cara bertanyamu!"

Sejujurnya, aku pun penasaran. Kuruto versi kecil pasti terlihat seperti malaikat. Aku sangat ingin melihatnya. Tapi—

"Kuruto? Tidak, tidak ada anak laki-laki bernama itu di desa ini."

Jawaban Nicholas sangat mengecewakan. Kuruto tidak ada... berarti ini zaman sebelum Kuruto lahir.

"Jangan-jangan, kalian sedang dalam perjalanan mencari anak itu?"

"Ah, tidak, Kuruto itu nama pahlawan yang ada di legenda negaraku. Kami cuma dengar selentingan kalau orang yang menjadi model pahlawan itu tinggal di daerah sini."

"Ooh, begitu? Tapi kalau ada orang hebat seperti itu, aku juga ingin sekali bertemu dengannya."

Sophie mengangguk dengan senyum tulus. Fuih, untung bisa dialihkan. Bagus, mumpung topiknya masih nyambung—

"Apakah di desa ini ada orang yang tahu banyak tentang legenda atau sejarah? Mungkin seseorang yang dipanggil Sage?"

Aku memutuskan untuk menanyakan soal Sang Sage Agung.

"Sage, ya? Tapi di sini 'kan desa yang tidak punya apa-apa. Kalau orang yang melakukan penelitian unik sih ada."

"Penelitian unik? Penelitian macam apa itu?"

"Penelitian tentang dunia itu sendiri—begini saja, kalau sudah selesai minum tehnya, akan kuantarkan kalian ke sana."

Nicholas tertawa sambil memasukkan satu kotak gula ke tehnya yang sudah dingin. Penelitian tentang dunia, ya?

Aku pernah bertemu sekali dengan Sang Sage Agung. Jawaban itu terdengar sangat cocok untuk sosok seperti dirinya yang mengaku sebagai Sage.

 

"Ngomong-ngomong, orang itu wanita seperti apa?"

Aku mencoba bertanya di tengah jalan saat kami sedang diantar setelah menghabiskan teh.

"Eh? Dia itu laki-laki, lho."

Namun, jawaban Nicholas sangat di luar dugaan. Itu artinya, orang yang akan kutemui bukan wanita yang pernah kutemui waktu itu.

Meski dalam hati kecewa, aku tidak bisa mundur sekarang. Lagipula, secara teknis aku "belum" pernah bertemu Sang Sage Agung.

Setidaknya, aku belum mau menceritakan pada Lise tentang pertemuanku dan isi pembicaraanku dengan Sang Sage Agung sebelumnya.

"Haaa..."

Aku menghela napas saat teringat percakapan itu.

"Ada apa, Yuri-san? Apa Anda gugup?" tanya Lise yang salah paham mengartikan helaan napasku.

"……Yah, begitulah."

"Wajar saja. Mengingat Sang Sage Agung sepertinya punya hubungan dengan Ibunda saya dan nenek Yuri-san. Secara logika sulit membayangkan dia masih hidup di zaman kita, tapi Sang Sage Agung belum tentu manusia. Apalagi ada contoh Atelier Meister Witukind yang mewariskan ingatan secara turun-temurun, jadi kita tidak bisa langsung membantahnya."

"Benar juga."

Aku mengangguk sambil berpikir. Sang Sage Agung pernah berkata padaku bahwa aku, Yulisia, sudah menjadi muridnya sejak lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu.

Waktu itu aku hanya tertawa dan menganggapnya seperti teori takdir belaka, tapi setelah benar-benar datang ke masa lalu, aku sempat berpikir mungkin saja aku akan menjadi muridnya sekarang... tapi sepertinya prediksi itu meleset.

Jika dia sedang meneliti dunia ini, meskipun bukan Sang Sage Agung yang kukenal, mungkin dia tahu sesuatu yang tidak kami ketahui.

Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di pinggiran desa yang bahkan tidak terlihat ada bangunan apa pun.

"Apakah rumah peneliti itu masih jauh?" tanya Lise dengan nada sedikit cemas.

Nicholas memang tidak terlihat seperti orang jahat, tapi dia tetaplah penduduk Desa Haste. Mengingat standar mereka yang tidak normal, aku khawatir dia akan menjawab, "Cuma sepuluh jam jalan kaki dari sini, kok."

"Tidak, sudah sampai di sini."

Di sini? Tapi di depan mata kami hanya ada batu besar.

"Batu ini adalah pintu masuk laboratoriumnya. Lihat, ada tiga tonjolan di sini, kan? Kalau ditekan berurutan—"

Setelah Nicholas menekan tiga tonjolan itu sebanyak tujuh kali, muncul celah di sisi batu yang kemudian terbuka seperti pintu.

"Nah, terbuka kan. Kalian terkejut?"

Kami berdua mengangguk kompak.

"Iya, benar juga. Karena ini desa terpencil dan semua orang saling kenal, jadi semua orang tahu nomor kode untuk masuk ke bangunan."

Nicholas tertawa. Apa yang dia anggap mengejutkan justru bukan soal mekanisme kuncinya, tapi soal fakta semua orang tahu kodenya?

Caranya bicara seolah berkata, "Karena ini desa kecil, tidak ada yang punya kebiasaan mengunci pintu." Benar-benar satu frekuensi dengan Kuruto.

"Anu, Nicholas-san. Aku ingin bertanya, apakah ada penduduk desa yang tiba-tiba kehilangan kesadaran? Seperti pingsan seharian, lalu besoknya bangun seolah tidak terjadi apa-apa, tapi lupa ingatan tentang hari saat dia pingsan?"

Mendengar pertanyaanku, Nicholas mengangguk ceria.

"Kamu tahu soal itu? Apa itu semacam penyakit musiman di sini? Paling sering terjadi dua atau tiga kali dalam setahun. Kami sendiri tidak tahu apa penyebabnya."

Jadi begitu. Kupikir hanya Kuruto yang punya kondisi unik seperti itu saat menyadari kemampuannya, tapi ternyata seluruh penduduk desa mengalami hal yang sama.

Yah, melihat Nicholas dan yang lainnya, hal itu jadi masuk akal.

"Jangan-jangan, Yulisia-san tahu penyebabnya?"

"Tidak, aku cuma merasa itu penyakit yang sesekali muncul di daerah ini. Aku bertanya karena ingin tahu apakah ada obatnya."

Aku menjawab dengan ambigu.

"Begitu ya... sayang sekali. Kami sendiri juga tidak tahu obatnya. Tidak ada obat yang mempan."

Pria itu melangkah masuk ke dalam pintu batu. Di dalamnya terdapat tangga yang menuju ke bawah tanah.

Meski agak remang-remang, tidak ada rasa takut seperti akan menuju dasar neraka, melainkan sebuah sensasi aneh seolah menuju dunia yang belum pernah terjamah.

Langkah kakiku terasa ringan. Bukan hanya langkah kaki, dadaku juga terasa ringan... eh?

"Kenapa dadaku jadi ringan begini?"

Aku menunduk melihat dadaku. Bukannya menyusut, sih.

"Benar, saya juga merasa dada saya jadi ringan. Apa ini?"

Ini bukan waktunya mengejek kalau dada Lise memang ringan dari awal. Bukan cuma dada, tapi seluruh tubuh terasa ringan.

"Ah, di area ini kadar G-nya memang mengecil—lebih tepatnya, ada efek Anti-Gravity yang bekerja. Sebentar lagi akan menjadi kondisi Zero Gravity sepenuhnya, jadi pegangan pada pegangan tangan yang ada, ya."

"Tanpa gravitasi?"

"Mudahnya, rasanya mirip seperti saat berada di dalam air. Secara teknis berbeda dan kalian tetap bisa bernapas, tapi itu perumpamaan yang paling mendekati. Rasanya sangat praktis kalau mau membawa barang berat, tapi tetap saja merepotkan karena kita harus mengisi mana secara rutin ke Magic Crystal-nya."

Tidak, tidak, tidak! Ini bukan soal praktis atau merepotkan lagi! Aku tidak terlalu paham arti kata tanpa gravitasi, tapi ini artinya ada alat sihir yang bisa membuat benda terbang, kan?

Banyak peneliti dan Atelier Meister yang mencoba membuat alat sihir terbang tapi selalu berakhir gagal. Dan benda itu sudah selesai dibuat sejak seribu dua ratus tahun yang lalu?

Saat aku menatap Nicholas untuk bertanya lebih lanjut, dia tampak menyadari sesuatu.

"Maaf, aku tidak peka. Berada di area tanpa gravitasi pasti sulit bagi wanita yang memakai rok."

Kepekaanmu salah sasaran! Tapi perhatiannya itu memang agak mirip dengan Kuruto.

"Tunggu sebentar."

Nicholas mengeluarkan alat jahit dan gumpalan benang dari tasnya. Sesaat kemudian, dia sudah membuatkan legging pendek untuk dipakai di dalam rok. Gerakan tangannya sangat cepat hingga tidak terlihat sama sekali.

Normalnya, membuat pakaian itu dari benang ditenun jadi kain, lalu dipotong sesuai pola, baru dijahit. Bukan dibuat langsung dari benang seperti itu.

"Maaf ya kalau buatannya laki-laki begini, tapi silakan dipakai. Aku akan berbalik badan."

Dia memberikan legging itu kepada kami. Karena dibuat langsung dari benang, tidak ada bekas jahitan sama sekali pada kainnya.

Tentu saja, kenyamanan pakainya tidak perlu diragukan lagi. Walaupun agak malu karena dia tahu ukuran kami hanya dengan sekali lihat.

"Terima kasih banyak. Tapi... kami tidak punya uang untuk membayarnya..." ucap Lise merasa tidak enak.

Bukannya kami tidak punya uang, tapi yang kami bawa adalah mata uang dari seribu dua ratus tahun di masa depan. Tidak mungkin bisa dipakai di sini.

"Hahaha, aku tidak mungkin meminta uang untuk barang yang kubuat asal-asalan begitu. Lagipula, di desa ini kami jarang menggunakan uang."

Nicholas tertawa tanpa berbalik badan. Katanya asal-asalan, tapi aku berani jamin kualitasnya tidak akan rusak meski dipakai seratus tahun. Daripada dicurigai jika terus memaksa, lebih baik kami terima saja.

Setelah memakai legging, kami lanjut berjalan hingga konsep "berat" benar-benar hilang dari tubuh kami.

Jika di dalam air kita masih punya rasa atas bawah, sekarang arah kiri, kanan, atas, dan bawah semuanya jadi samar.

Kalau kami menutup mata dan bergerak, mungkin kami tidak akan sadar kalau sedang berjalan di dinding.

Tidak, apakah kata "berjalan" masih tepat digunakan di sini?

Kami mengandalkan pegangan tangan untuk masuk lebih dalam.

Lalu dari kejauhan, terlihat cahaya yang benderang.

Cahayanya bukan redup seperti lilin atau lampu minyak.

Bukan juga seperti penerangan dari Magic Crystal.

Cahayanya mirip sinar matahari—tapi di bawah tanah begini?

Yah, ini Desa Haste, tidak heran kalau ada ruang bawah tanah yang bisa dimasuki sinar matahari.

Tapi seperti biasa, prediksiku meleset total.

Sebab di ruangan besar yang terbentang di depan kami, terdapat matahari kecil yang sesungguhnya.

Aku terpaku melihat pemandangan itu.

"Apa-apaan ini...?"

Di tengah ruang gelap, sebuah bola api raksasa melayang.

Meski hanya bola api, kepalaku secara otomatis memahaminya sebagai matahari.

Lalu apa benda-benda bulat kecil yang melayang di sekitarnya?

Apa itu model bintang-bintang di langit malam?

Alat sihir di bawah matahari itu juga mencurigakan. Apa itu yang menghasilkan kondisi tanpa gravitasi ini?

Nicholas kemudian memberikan jawabannya.

"Bola kecil ini adalah dunia ini."

"Hah? Bola kecil ini!?"

"Ini dunia kita!?"

Aku dan Lise refleks berseru. Dalam logika umum, dunia ini dianggap datar.

Memang sepanjang sejarah ada beberapa cendekiawan yang berteori kalau dunia itu bulat dan punya beberapa bukti, tapi paham dunia datar tetap mengakar karena sensor informasi dari Gereja Polan.

Namun, kami berdua sudah tahu dari Mimiko bahwa paham itu mungkin salah.

Jadi, kalau bola api itu adalah matahari, aku bisa paham kalau bola seukuran kacang itu adalah model dunia ini. Tapi tetap saja, butuh waktu bagi otakku untuk menerima kenyataan ini.

"Ini adalah simulasi alam semesta yang dibuat untuk meneliti pergerakan matahari dan bintang-bintang. Anggap saja ini matahari buatan."

Nicholas tertawa. Meneliti pergerakan bintang... jadi ini maksudnya penelitian tentang dunia.

"Urano-kun, ada di sana? Aku membawa tamu!"

"Hm? Nicholas-san? Di sini. Kemarilah."

Terdengar suara dari ruangan di ujung, dan aku menggunakan pegangan tangan untuk maju lebih jauh.

"Ah, gravitasi akan kembali perlahan dari sini, jadi hati-hati ya."

Benar kata Nicholas, berat tubuhku perlahan kembali.

Rasanya lesu seperti baru kembali ke daratan setelah berenang lama di laut.

Pengalaman tanpa gravitasi tadi menyenangkan, tapi sepertinya akan melelahkan kalau harus terbiasa dengan itu.

Di ruangan ujung, cahaya dari Magic Crystal tampak berpendar.

Aku menghela napas lega karena setidaknya di sini bukan lagi matahari buatan yang gila itu, lalu aku tertawa sendiri.

Penerangan Magic Crystal adalah barang mewah yang bahkan orang kaya pun jarang pakai, tapi di sini dianggap biasa.

Sepertinya aku juga sudah mulai tertular ketidakwajaran penduduk desa ini.

Setelah berat tubuh kembali normal sepenuhnya, kami bertemu dengan pria yang dipanggil Urano-kun tadi.

Seperti dugaan sejak mendengar suaranya, Urano-kun terlihat seperti anak kecil.

Rambutnya campuran warna hitam dan perak, dan dia memakai jas putih laboratorium.

Mungkin dia mirip Hildegard yang usia aslinya berbeda dengan penampilannya, tapi kalau dilihat sekilas, dia tampak seperti bocah tujuh tahun.

"Selamat datang, Nicholas-san. Selamat datang juga bagi para tamu."

"Salam kenal, aku Yulisia."

"Nama saya Liselotte. Kami dengar Urano-kun sedang meneliti tentang dunia ini, kami sangat ingin melihatnya."

"Eh? Dengar dari siapa? Itu 'kan cerita lama. Sekarang aku cuma sedang mengembangkan prototipe Maid Golem tipe mandiri sepenuhnya."

Urano-kun menunjukkan golem yang setengah jadi kepada kami. Komponennya sangat banyak dan rumit, sangat berbeda dengan golem yang kukenal. Lise pun tampak membelalakkan matanya.

"Ini golem? Ukurannya tidak jauh beda dengan manusia."

"Iya, sangat berbeda dengan golem biasa. Teorinya sudah jadi, tapi akhirnya nanti aku ingin membuat Combat Maid yang bisa mengalahkan Goblin. Mungkin butuh sepuluh tahun untuk membangun algoritmanya. Sekarang sih baru bisa menebang Trent... apa lebih baik aku fokus bikin senjatanya saja dan urusan golem kuserahkan pada orang lain ya..."

Golem yang bisa menebang Trent tapi belum bisa mengalahkan Goblin... benar-benar standar golem Desa Haste.

Tiba-tiba, aku teringat pada sebuah golem. Golem yang dulu pernah bertarung melawanku dan menyulitkanku di turnamen bela diri Pulau Paos: Si Pelayan Bertopeng.

Setelah turnamen selesai, aku pernah bertanya pada Kuruto soal golem itu.

Katanya itu prototipe golem buatannya yang aslinya dipasangi penyembur api untuk membersihkan rumput liar, tapi paman yang tinggal di belakang rumahnya malah menamainya 'Penyembur Api Pembersih Najis Anti-Goblin' dan memasang 'Sinar Penghancur Anti-Goblin' tanpa izin.

Kalau tidak salah, nama golem itu—

"Ah, namanya Elena, kan?"

"—!?"

Begitu aku bergumam, Urano-kun terkejut dan langsung menatap Nicholas.

"Nicholas-san, aku akan bicara dengan mereka, jadi kamu boleh pulang duluan."

"Eh? Tapi—"

"Tidak apa-apa. Lagipula, ada orang tersayang yang menunggumu di rumah, kan?"

Mendengar itu, Nicholas langsung tampak gelisah. Dia memang sangat menyayangi Sophie. Sepertinya Urano-kun ingin menjauhkan Nicholas agar bisa bicara bertiga saja dengan kami.

Sadar akan hal itu, aku tersenyum pada Nicholas.

"Tidak apa-apa kok. Kami akan segera kembali setelah urusan selesai."

"……E-eh, baiklah kalau begitu. Oh iya Urano-kun, makan malamlah di rumahku nanti. Aku akan siapkan porsi untuk lima orang."

"Baiklah, Nicholas-san. Aku akan datang."

Setelah Urano-kun mengangguk, Nicholas pun segera bergegas pulang. Begitu sosoknya benar-benar hilang, Urano-kun menatapku tajam.

"Siapa kalian sebenarnya? Aku belum pernah memberi tahu nama golem ini kepada siapa pun."

Urano-kun bertanya sambil menyampaikan dugaannya sendiri.

"Ada beberapa kemungkinan. Kalian adalah pengguna Mind Read. Atau kalian telah menyelidiki tentangku dan menebak nama golem ini dari pola penamaanku. Tapi keduanya hampir mustahil... kalau begitu tinggal satu. Meski kemungkinannya tidak sampai satu persen, tapi karena hanya itu yang tersisa, maka itulah faktanya—kalian datang dari masa depan, kan?"

Aku terperangah melihat Urano-kun yang bicara dengan begitu menggebu-gebu. Karena dia penduduk desa Kuruto, aku sempat meremehkan ketajamannya. Tidak sangka gara-gara satu ucapanku tadi, identitas kami sebagai orang masa depan langsung terbongkar.

"Anda sangat ceroboh, Yuri-san," bisik Lise dengan tatapan tajam yang menyakitkan.

"Ah... maaf."

Harusnya aku sadar lebih cepat. Paman yang tinggal di belakang rumah... itu pasti si Paman Urano ini. Meski sekarang dia tampak seperti anak kecil, saat Kuruto tumbuh besar nanti, dia pasti sudah berada di usia untuk dipanggil "Paman". Berarti kelahiran Kuruto masih sangat lama.

Saat aku bingung harus menjawab apa, Urano-kun berkata dengan enteng.

"Tenang saja. Aku juga takut dengan Time Paradox. Kalau urusan kalian sudah selesai, aku akan minum obat penghapus ingatan."

"Time Paradox? Apa itu sejenis monster?" tanya Lise. Aku pun belum pernah mendengar istilah itu.

"Time Paradox itu... contohnya begini, Nona di sana—Liselotte-san, kan? Jika Liselotte-san kembali ke masa lalu dan membunuh ibumu sebelum kamu lahir, apa yang akan terjadi?"

"Itu... saya tidak akan pernah lahir. Eksistensi saya akan terhapus."

"Benar. Tapi, jika Liselotte-san tidak pernah lahir, maka kamu tidak akan bisa kembali ke masa lalu untuk membunuh ibumu. Kalau ibumu tidak terbunuh, kamu akan lahir. Tapi kalau kamu lahir, kamu akan membunuh ibumu lagi. Terjadi kontradiksi, kan? Ini yang disebut Grandfather Paradox atau paradoks membunuh orang tua."

"Paradoks membunuh orang tua... ya. Hm? Kalau ada istilah seperti itu, apa artinya perjalanan waktu itu mungkin di desa ini?"

Yah, kalau Desa Haste, pindah waktu mungkin hal sepele bagi mereka.

"Secara teori mungkin. Tapi karena alasan tadi, pergi ke masa lalu itu dilarang. Ah, ini cuma aturan desa, bukan hukum negara, jadi kalian tidak akan dihukum. Lagipula desa ini tidak tunduk pada negara mana pun."

Urano-kun melanjutkan penjelasannya.

"Tentang apa yang terjadi saat paradoks muncul, aku pun tidak tahu. Mungkin akan lahir dunia paralel, atau dunia ini akan hancur. Atau mungkin dunia akan mengintervensi agar kontradiksi itu tidak pernah terjadi... aku ini penakut, jadi lebih baik aku menghapus ingatanku setelah kalian kembali ke masa asal."

Aku tidak terlalu paham teori rumitnya, tapi sepertinya Urano-kun akan membereskan masalah perjalanan waktu ini sendirian.

"Jadi, tidak masalah kalau kami bicara soal masa depan?"

"Iya. Contohnya jika kalian bilang aku akan mati besok, aku tetap akan menghapus ingatanku. Selama ada kemungkinan satu persen saja dunia akan hancur, aku tidak akan melakukan kebodohan dengan mengubah masa depan demi menyelamatkan nyawaku sendiri."

Meski masih kecil, dia sangat bijaksana. Aku dan Lise saling bertukar pandang dan memutuskan untuk memercayainya.

Kami mulai menjelaskan bahwa kami adalah orang dari seribu dua ratus tahun di masa depan dan apa tujuan kami di sini.

"Desa Haste akan lenyap, ya... tadi aku bilang tidak akan menukar dunia dengan nyawaku, tapi kalau soal satu desa, hatiku agak goyah juga."

"Oi, jangan dong."

"Bercanda kok, aku akan tetap hapus ingatan. Lalu, soal roh buatan waktu, tidak ada di desa ini. Aku bisa menjamin itu."

"Apa mungkin ada yang menelitinya diam-diam?" tanya Lise. Aku pun setuju kalau mungkin ada yang menelitinya tanpa sepengetahuan Urano-kun.

"Meneliti...? Roh itu 'kan kalau mau bikin ya tinggal bikin saja, untuk apa diteliti?"

Urano-kun menatapku dengan tatapan seolah bertanya, "Kenapa kalian tanya hal sejelas itu?". Aku lupa kalau meski dia cerdas, dia tetap penduduk Desa Haste. Jadi, roh itu bisa dibuat siapa saja, ya...

Kami hanya bisa terdiam karena kaget, lalu Urano-kun melanjutkan.

"Aku tidak tahu kenapa Desa Haste bisa lenyap. Tapi, aku tahu soal Sang Sage Agung."

"Benarkah!?"

"Iya, tunggu sebentar."

Urano-kun mengoperasikan mesin di sudut ruangan. Tak lama kemudian, terdengar suara dari ruangan tanpa gravitasi di sebelah.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Cuma mengubah sedikit pengaturan. Tadi kalian lihat simulasi pergerakan planet di tata surya, kan? Sekarang aku mengubahnya menjadi fasilitas untuk mengetahui asal-usul dunia ini."

Asal-usul dunia? Kami bingung, tapi Urano-kun hanya bilang "lebih baik lihat langsung" dan tidak menjelaskan lebih jauh. Setelah suara mesin berhenti, kami kembali ke ruangan sebelah.

Di ruang tanpa gravitasi yang hanya diterangi cahaya remang itu, ada satu hal yang berbeda.

Mataharinya sudah hilang, digantikan oleh sebuah bola lain.

"Jangan-jangan, ini dunia ini?"

"Tapi petanya sangat berbeda dengan yang kami tahu."

Lise bergerak mengelilingi bola itu dan berkomentar. Urano-kun mengangguk santai.

"Iya, ini adalah rupa planet ini sekitar tiga ribu tahun yang lalu."

"Tiga ribu tahun? Oh, jadi dalam tiga ribu tahun benua dan pulau-pulau ini sudah bergeser ya..."

Aku pernah dengar dari Mimiko kalau benua itu bergerak sedikit demi sedikit, dan jika pergerakannya terhambat, akan terjadi gempa bumi. Aku mencoba sok tahu, tapi Urano-kun malah tertawa geli.

"Ahahaha, Nona lucu sekali ya. Kecepatan pergeseran benua itu paling cepat cuma puluhan sentimeter per tahun. Dunia tidak akan berubah sebanyak ini hanya dalam tiga ribu tahun."

Wajahku terasa sangat panas karena malu. Lise menatapku dengan tatapan kasihan.

Aku tahu aku salah, tapi jangan melihatku begitu! Aku 'kan bukan ahli geografi!

"Lihat ini, hal luar biasa akan segera terjadi."

Sesuai instruksi Urano-kun, kami menatap permukaan bola itu.

Tiba-tiba, muncul kabut hitam kecil di salah satu bagian daratan yang kemudian berubah bentuk seperti binatang dan menyebar ke seluruh dunia.

"Apa-apaan itu!?"

"Kabarnya orang zaman dulu membangun peradaban maju menggunakan Magic Crystal. Tapi karena terlalu bergantung pada peradaban itu, mana yang dimiliki individu perlahan melemah. Lalu mereka mencoba menciptakan makhluk hidup dengan mana raksasa secara buatan, tapi gagal mengendalikannya. Makhluk itu berubah menjadi monster yang disebut monster tabu, mengambil nama monster pembawa kiamat dalam mitologi. Namanya adalah Rakuga Kinki."

"Monster tabu... Rakuga Kinki?"

"Bukankah itu yang pernah dikatakan Kuruto-sama..."

Ternyata Lise belum tahu kalau Rakuga Kinki itu nyata.

"Kalian tahu soal itu?"

"Iya... sedikit. Maaf, tolong lanjutkan."

"Oke, lihat ini."

Saat kami menatap bola itu, tiba-tiba muncul benda-benda seperti kawat halus dari tanah dalam jumlah tak terhitung.

 Dari ujung kawat itu, daratan mulai menyebar dan menutupi bola yang asli, hingga terciptalah dunia baru lengkap dengan daratan dan laut yang membungkus bola lama.

Dan aku sangat mengenal rupa dunia itu. Itu adalah dunia tempat kami tinggal sekarang. Urano-kun memberikan penjelasan kepada kami yang terpana.

"Menurut penelitianku, dunia ini diciptakan khusus untuk menyegel monster tabu tersebut. Terkadang bagian tubuh monster itu muncul ke permukaan lewat celah-celah di tanah... tapi entah kenapa, kisah monster tabu maupun asal-usul dunia ini hampir tidak diketahui masyarakat luas. Hanya tersisa beberapa poin di reruntuhan peradaban Lapital—orang kuno."

"Luar biasa. Selain soal penciptaan dunia, ternyata orang Lapital kuno adalah penduduk bawah tanah... atau justru kita yang harus disebut penduduk langit?" ucap Lise sambil berkeringat dingin.

Aku pun setuju, tapi ada satu hal yang mengusikku.

"Apakah penduduk desa yang lain tahu soal ini?"

"Hm, kupikir lebih baik tidak usah bilang-bilang. Rasanya agak seram, kan? Ternyata tempat yang biasa kita gunakan untuk menambang Orichalcum itu sebenarnya adalah lempeng segel yang dibuat orang kuno."




—!?

Mimiko pernah mengatakannya. Bahwa lima kilometer di bawah tanah dunia ini, terdapat lapisan batuan yang sangat keras.

Kuruto juga pernah mengatakannya. Bahwa di balik lapisan batuan itu, Mithril dapat ditambang hingga dianggap seperti batu rongsokan, dan bijih langka seperti Orichalcum menumpuk setinggi gunung.

Astaga, ternyata lapisan batuan keras serta bijih Mithril dan Orichalcum itu adalah dinding untuk menyegel Rakuga Kinki.

"Anu, saya sangat mengerti penjelasannya—tidak, sebenarnya masih banyak yang tidak saya pahami, tapi jadi di mana keberadaan Sang Sage Agung?"

Lise bertanya, tapi aku sudah bisa membayangkan di mana keberadaan Sang Sage Agung.

"Berdasarkan teks yang tersisa di reruntuhan peradaban Lapital, di antara dunia asli dan dunia kita, tidak hanya terdapat lapisan batuan yang sangat keras, tapi juga ruang yang terputus dari dunia ini."

"Identitas pipa-pipa tipis seperti benang yang tumbuh dari bola tadi adalah menara, yang menghubungkan permukaan tanah asli dengan ruang tersebut, lalu dengan dunia ini."

"Menara itu tampaknya memiliki peran untuk menyalurkan sumber daya, air laut, hingga magma ke dunia ini—dan nama sistem itu adalah Sistem Sage Agung."

Sudah kuduga.

Menara tempat aku bertemu dengan Sang Sage Agung—aku tidak pernah mendengar ada menara seperti itu di mana pun di dunia ini.

Berarti ruang itu memanglah ruang yang terputus tersebut.

Lalu, apa sebenarnya yang kulihat saat mendongak dari menara dan mengiranya sebagai langit malam?

Itu pasti adalah bagian yang menjadi dasar dari dunia ini.

Mendengar penjelasan itu, Lise bergumam sambil mengangguk.

"Artinya karena terputus secara ruang, kita tidak bisa sampai ke menara hanya dengan menggali tanah—begitu, kan?"

"Sepertinya begitu. Kalau hanya dengan itu saja bisa sampai, pasti sudah ada yang menemukannya."

Terutama para penduduk Desa Haste.

"Lalu, bagaimana cara agar bisa bertemu Sang Sage Agung?"

"Ya, kalau punya sarana untuk melintasi ruang, pasti bisa sampai ke sana."

Secara spesifik, itu adalah Batu Transmisi yang ada di reruntuhan peradaban Lapital.

Aku akhirnya paham bagaimana Batu Transmisi itu digunakan.

Tadi Urano-kun bilang begini: Sumber daya dikirim ke permukaan tanah saat ini—yang bagi dunia masa lalu adalah langit—menggunakan pipa yang ada di menara.

Lalu, bagaimana cara manusia atau makhluk hidup berpindah?

Bahkan orang kuno pun sepertinya tidak punya alat untuk terbang di langit, jadi mereka pasti berpindah menggunakan Batu Transmisi.

Menggunakan Batu Transmisi yang bahkan mampu melintasi ruang.

Batu Transmisi di reruntuhan itu mungkin adalah sarana transportasi yang ditinggalkan agar suatu saat nanti, ketika dunia asli telah terbebas dari Rakuga Kinki, mereka bisa kembali.

"Aku juga ingin bertemu Sang Sage Agung sekali saja. Aku khawatir apakah sistem menaranya masih berjalan normal sampai sekarang. Tapi, bagaimana cara pindah ke sana, ya?"

Karena ada Lise, aku tidak bisa bilang kalau seribu dua ratus tahun kemudian sistem itu masih berjalan dengan aman.

Tapi, kalau aku minta tolong pada Urano-kun, bukankah dia bisa menyesuaikan Batu Transmisi itu agar kami bisa pindah ke tempat Sang Sage Agung?

Saat aku berpikir begitu, Lise menyadari sesuatu.

"Akuri—bukankah kita bisa pergi ke menara itu jika menggunakan kekuatan transmisi milik Roh Agung Waktu?"

Itu sarana yang sama sekali berbeda dari yang kupikirkan.

Namun, mendengar kata-kata itu, mata Urano-kun membelalak.

"Tunggu, Liselotte-san. Roh Agung Waktu yang kamu ceritakan tadi, apa dia juga punya kekuatan transmisi ruang?"

"Iya, benar."

Ada apa?

Tiba-tiba saja Urano-kun tenggelam dalam pikirannya.

"……Begitu ya…… Jadi begitu rupanya."

Urano-kun bergumam seperti itu, lalu menatap mata kami.

Aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang luar biasa.

Kumohon, jangan sampai dia mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti Kuruto.

Aku hanya ingin segalanya berakhir dengan selamat.

Paling buruk, meski tidak memahami apa pun, asalkan bisa kembali ke zaman asal—

"Kalau dugaanku benar, kalian tidak akan bisa kembali lagi ke zaman asal."

Kata-kata Urano-kun itu dengan mudahnya menghancurkan harapan kecilku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close