NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 6 Chapter 2

Chapter 2

Infiltrasi, Bengkel Vitukind


"Kenapa harus aku yang kenaaaa!"

Di hadapanku, Yurishia, seorang gadis berteriak dengan suara serak. Saking derasnya air mata yang mengucur, aku sampai tidak bisa menangkap apa yang dia katakan.

Kuruto yang berdiri di sampingnya tampak merasa bersalah. Aku jadi berharap dia berhenti menangis.

Jika bicara soal siapa yang pantas dipekerjakan sebagai tenaga serabutan di bengkel bersama Kuruto, jawabannya adalah seseorang yang juga punya pengalaman membantu di bengkel.

Karena alasan itulah, kami meminta bantuan Atelier Meister Ophilia-san agar Michelle—elf yang saat ini bekerja di Mimiko Cafe—bisa mendampingi Kuruto.

Permintaan itu langsung disetujui tanpa pikir panjang—tentu saja, tanpa persetujuan orangnya langsung. Begitu hal ini disampaikan kepada yang bersangkutan, jadilah dia menangis bombay seperti ini.

Aku tahu betul ini permintaan yang keterlaluan. Meminta seorang gadis (yang katanya jauh lebih tua dariku) yang biasanya cuma membantu pekerjaan ringan untuk tiba-tiba melakukan misi infiltrasi.

Namun, tidak ada kandidat lain yang lebih cocok selain dia.

"Tenanglah. Michelle, anggap saja kamu di-PHK dari bengkelku dan pergi ke tempat Vitukind.... Mari kita buat alasannya begini: kamu didepak karena membuat dapur Mimiko Cafe tempatmu diperbantukan berubah menjadi gudang sampah hanya dalam hitungan minggu."

"Deg!"

Michelle tersentak. Sambil berkeringat dingin menggantikan air matanya, dia melangkah mundur.

Sepertinya, dia memang benar-benar payah dalam urusan berbenah.

"...Anda tidak benar-benar memecatku kan, Ophilia-sama?"

"Tidak akan. Asalkan kamu mau mendengarkan instruksiku dengan patuh."

"Aku mau! Aku akan berusaha sekuat tenaga!"

Mungkin dia saking tidak mau di-PHK oleh Ophilia-san, Michelle akhirnya mengiyakan tugas ini.

"Lalu, setelah semua selesai, bereskan dapur itu."

"...Beres-beres... Kuruto-san! Tolong, bantu aku kalau pekerjaannya sudah selesai!"

"Iya. Karena ini juga merepotkanmu gara-gara aku, setidaknya aku akan membantu membereskan ruanganmu."

"Terima kasih, Kuruto-san!"

 

Begitulah awal mula aku—Kuruto—dan Michelle-san memulai persiapan untuk menyusup ke Bengkel Vitukind.

Pertama-tama, Mimiko-san melakukan investigasi menyeluruh terhadap Bengkel Vitukind.

Secara resmi, ini hanyalah percepatan jadwal audit rutin dari kerajaan untuk memastikan operasional bengkel berjalan benar, jadi seharusnya tidak akan menimbulkan kecurigaan khusus.

Satu bulan kemudian, aku dan Michelle-san mendapatkan jadwal wawancara untuk posisi tenaga serabutan di Bengkel Vitukind melalui referensi dari Halo-Halo Workstation.

Walaupun hanya pekerjaan serabutan, katanya butuh kualifikasi yang lumayan untuk bekerja di sebuah bengkel besar.

Beruntung, berkat pengalaman kami bekerja di bengkel Tuan Rikuto dan Ophilia-sama, kami memenuhi syarat untuk direkomendasikan.

Bengkel Vitukind di dalam wilayah Kerajaan Homuros terletak di pinggiran Etna, sebuah daerah pemandian air panas yang dikelola langsung oleh keluarga kerajaan. Tempat itu populer dikunjungi banyak orang untuk berlibur.

Rombongan yang pergi ke Etna kali ini terdiri dari enam orang: aku, Michelle-san, Lise-san, Yurishia-san, Mimiko-san, dan Akuri.

Kami menyewa sebuah penginapan pemandian air panas. Aku dan Michelle-san akan bekerja di bengkel pada siang hari, lalu kembali ke penginapan saat malam.

Katanya penginapan ini sebenarnya hanya boleh ditempati keluarga kerajaan atau orang-orang yang memiliki koneksi khusus.

Mungkin kami bisa menginap di sini karena ada Mimiko-san yang merupakan Penyihir Istana.

Meninggalkan penginapan tersebut, aku dan Michelle-san berjalan menyusuri area pemandian air panas.

"Padahal aku juga ingin berendam di air panas."

"Maafkan aku, Michelle-san. Gara-gara aku, jadi begini."

"Ah, maaf, Kuruto-san sama sekali tidak salah, kok."

"Tidak, ini salahku. Maafkan aku."

Sambil saling meminta maaf berkali-kali seperti saat pertama kali bertemu, kami pun tiba di depan Bengkel Vitukind.

"Rumah yang megah ya."

Ukurannya mungkin dua kali lipat dari bengkel Tuan Rikuto.

Memang masih lebih kecil dibanding kediaman Master Tycoon, tapi tetap saja sangat besar.

"Benar sekali. Jauh lebih besar daripada bengkel Ophilia-sama."

"Bengkel Ophilia-sama memang tampak luar seperti rumah biasa, sih."

Ada papan nama bertuliskan Atelier Vitukind di sana, jadi tidak salah lagi inilah tempatnya.

"Kalian ada keperluan apa? Dilarang masuk selain bagi yang berkepentingan."

Seorang pria penjaga gerbang menyapa kami.

"Mohon maaf. Kami datang untuk wawancara kerja atas rekomendasi Halo-Halo Workstation."

"Saya juga."

"Maafkan kekurangajaran saya. Boleh saya tahu nama kalian? Tolong tunjukkan juga kartu identitasnya."

"Kuruto Rockhans."

"Michelle Lalakatta."

Setelah menyebutkan nama, aku menyerahkan bros gelar ksatria rendahku, sementara Michelle-san memberikan kartu registrasi dari Guild Apoteker.

Penjaga itu memeriksanya, lalu membukakan pintu gerbang.

"Saya sudah dengar laporannya. Silakan masuk."

Melewati gerbang, akhirnya kami melangkah masuk ke dalam bengkel. Jantungku berdegup kencang sampai kakiku gemetaran.

Rasanya tidak enak berpikiran begini, tapi aku bersyukur Michelle-san ada bersamaku.

Meski terlihat begitu, dia katanya sudah berumur delapan puluh tahun dan sudah pergi ke berbagai tempat, jadi dia pasti sudah terbiasa—

Begitu aku menoleh ke samping, Michelle-san ternyata sedang gemetaran hebat di sekujur tubuhnya.

"...Aku harus bisa diandalkan."

Aku bergumam pelan. Tanggung jawab ini sangat besar.

 

Begitu pintu dibuka, tiba-tiba terdengar suara brak-brak-brak seperti ada sesuatu yang runtuh, disusul suara laki-laki berteriak, "Tolong, siapa pun!"

Kami segera berlari ke arah sumber suara.

Ternyata itu adalah sebuah ruangan yang dipenuhi tumpukan buku yang luar biasa banyak.

Tempat itu terlihat seperti perpustakaan, tapi tidak ada rak buku.

Semuanya ditumpuk menggunung, bahkan ada yang lebih tinggi dari kepalaku.

Dan sepertinya, sebagian dari tumpukan itu runtuh dan menciptakan gundukan besar.

"Apa ada orang di sana?!"

"Di sini, tolong aku."

Bersamaan dengan suara itu, sebuah tangan muncul dari balik tumpukan buku.

Aku dan Michelle-san bergegas menggali tumpukan itu.

Yang muncul dari balik buku adalah seorang pria berkulit pucat dengan rambut berwarna hijau.

"Yah, aku selamat."

Pria itu memungut kacamata yang terjatuh, lalu saat dia menatap wajah kami, matanya langsung membelalak.

"Uwah, siapa kalian?! Perampok?! Kalau uang—"

Dia merogoh kantong jas putihnya, tapi sepertinya tidak ada apa-apa, lalu dia merogoh kantong celananya...

"Maaf, saat ini aku cuma punya ini."

Dia mengeluarkan tiga koin tembaga. Kalau kami benar-benar perampok, jumlah segitu mungkin malah akan membuat kami emosi dan menghajarnya.

"Bukan, kami bukan perampok. Kami datang ke sini untuk wawancara."

"Eh? Ah, benar juga. Hari ini jadwal wawancara untuk orang yang direkomendasikan Halo-Halo Workstation, ya. Aku benar-benar lupa. Jadi, kalian akan bekerja denganku?"

"Iya. Yah, kalau kami lulus wawancara, sih."

Kalau tidak lulus, mana bisa bekerja bersama.

"Tidak apa-apa, kok. Untuk sementara, hari ini kuanggap kalian diterima sebagai karyawan percobaan. Kuruto-kun dan Michelle-chan, kan?"

"Eh?"

"Aku lupa memperkenalkan diri. Aku adalah Vitukind Ark-Mama."

"Eeehhhhh?!"

Orang yang terkubur buku ini adalah sang Atelier Meister Vitukind-sama? Benar-benar berbeda dari bayanganku.

Padahal karena dia dituduh menjarah reruntuhan, kupikir dia adalah orang yang terlihat lebih licik atau jahat.

"Ja-jangan-jangan, tadi itu adalah tes untuk melihat bagaimana cara kami menolong Vitukind-sama yang terkubur buku?" tanya Michelle-san dengan ragu.

Apakah kecelakaan tadi hanyalah sandiwara untuk melihat bagaimana seseorang bertindak dalam keadaan darurat?

Jika dipikir begitu, masuk akal kenapa kecelakaan ini terjadi tepat saat kami datang, dan kenapa sampai sekarang tidak ada karyawan lain yang datang menolong.

Begitu rupanya, jadi itu tadi wawancaranya.

"Nggak, kok. Itu tadi murni kecelakaan."

Begitu aku merasa kagum dan paham, dia langsung membantahnya.

"Kalau begitu, ayo kuantar melihat-lihat tempat kerja kalian."

Vitukind-sama kemudian mengajak kami berkeliling bengkel.

Lantai satu berisi ruang tamu, perpustakaan, ruang makan, dapur, dan pos penjaga. Lantai bawah tanah adalah gudang.

Lantai dua disebut departemen produksi.

Lebih dari dua puluh orang bekerja di sana, ada yang sedang membuat komponen alat sihir dengan penuh konsentrasi, ada juga yang sedang merakitnya.

Lantai tiga adalah asrama. Karena kami tidak tinggal di sini, kami tidak akan tidur di sana.

Lantai empat adalah laboratorium penelitian, tapi katanya area itu dilarang masuk.

Setelah berkeliling, kami kembali ke ruangan penuh buku di lantai satu tadi.

"Nah, untuk pekerjaan hari ini... ini adalah pekerjaan yang berbahaya. Mungkin saja bisa mengancam nyawa kalian."

"Eh?!"

Wajah Michelle-san menegang dan dia langsung melangkah mundur. Wajar saja dia bereaksi begitu setelah tiba-tiba ditakut-takuti.

Namun, sebenarnya apa yang dia ingin kami lakukan?

"Aku ingin kalian mencari buku-buku tentang farmasi di perpustakaan ini."




"Eh? Cuma itu saja?"

"Iya, cuma itu."

"Jangan-jangan, ada buku kutukan yang terselip, dan kalau aku membukanya aku akan kerasukan atau semacamnya?"

"Nggak ada, kok."

"Tapi, tadi Anda bilang ada bahaya yang mengancam nyawa."

"Soalnya, tadi aku sendiri hampir mati tertimbun."

Vitukind-san mengatakan itu sambil tertawa.

Merapikan perpustakaan, ya. Yah, tidak mungkin aku langsung diberi tugas yang menyentuh inti kecurigaan.

Meski begitu, dengan melihat buku-bukunya, mungkin aku bisa tahu penelitian apa yang sedang dilakukan Vitukind-san.

"Baiklah. Aku cukup mencari buku-buku tentang farmasi, kan? Kalau begitu, aku akan segera mulai."

"Iya, aku titip ya. Aku ada di lantai empat, jadi kalau pekerjaan sudah selesai, kalian boleh santai-santai. Oh iya, status kalian masih karyawan percobaan. Kalau tidak bisa bekerja dengan benar, maaf saja, aku tidak bisa mempekerjakan kalian. Ah, kalaupun itu terjadi, gaji hari ini tetap akan kubayar, jadi tenang saja."

Vitukind-san keluar dari ruangan setelah berkata begitu.

Kalau tidak bisa memberikan hasil, aku akan dipecat, ya? Kalau sampai itu terjadi hanya dalam satu hari, aku tidak akan punya muka untuk bertemu teman-teman yang lain.

Oke, aku harus berusaha.

Tepat saat itu, terdengar suara buku-buku yang runtuh dari arah belakang.

"Kuruto-san, tolong aku!"

Itu suara tangisan Michelle-san.

……Aku benar-benar harus berusaha.

 

Dua jam kemudian.

"Bagaimana? Kuruto-kun, Michelle-chan—tunggu, apa-apaan ini!? Bagaimana bisa jadi begini!?"

Vitukind-san yang baru masuk ke ruangan berteriak kaget.

Apa ini sesuatu yang sebegitunya mengejutkan? Buku-buku itu akan rusak kalau terus ditumpuk, dan kita akan bingung sudah sampai mana merapikannya, jadi aku memutuskan untuk membuat rak buku.

Karena bukunya terlalu banyak, aku memasang rak buku yang tingginya hampir menyentuh langit-langit dan memperkuat posisinya agar tidak goyang.

Memprediksi jumlah buku yang akan bertambah, aku membuat sebagian raknya menjadi tipe geser untuk memastikan kapasitas penyimpanan tetap maksimal.

"Kenapa ada rak buku di sini? Lagipula, rak sebesar ini tidak mungkin bisa melewati pintu. Bagaimana caramu memasukkannya?"

"Saya membawa bahan-bahannya, lalu merakitnya di dalam sini."

"Bukannya beli barang jadi, tapi kamu merakitnya sendiri!? Benar-benar kalian yang melakukan ini?"

"Iya. Ah, buku-buku tentang farmasi ada di bagian ini sampai ke sebelah sana."

"Lalu ini daftar inventarisnya. Buku-buku yang bukan buku teknis farmasi namun memiliki catatan tentang farmasi sudah saya beri tanda centang."

"Eh!? Ah, buku-buku ini berjejer sesuai genre. Maksudmu, dalam waktu sesingkat ini, kalian merakit rak, memasangnya, dan merapikan semuanya sesuai genre!?"

"Iya. Anu, apa ada yang salah?"

Aku mengangguk ragu saat ditanya dengan nada yang begitu bersemangat oleh Vitukind-san.

Apa membuat rak buku tanpa izin itu ide yang buruk? Atau seharusnya aku mengikat buku-bukunya dengan rantai untuk mencegah pencurian? Tapi aku tidak punya waktu untuk melakukan itu.

Ah, jangan-jangan dia orang yang sangat fanatik dengan metode menumpuk buku di lantai. Kalau begitu, perbuatanku ini benar-benar lancang dan akan mengurangi poin penilaianku secara drastis.

Paling buruk, aku akan mengaku ini semua tanggung jawabku agar setidaknya Michelle-san tidak dipecat.

"Salah... atau lebih tepatnya, bagaimana ya mengatakannya. Kalian berdua yang melakukan ini?"

"Hieee, ini semua dikerjakan Kuruto-san sendirian, aku tidak melakukan apa-apa!"

Michelle-san menjawab dengan tubuh gemetaran.

"Bahkan dibilang kalian berdua yang melakukan saja aku hampir tidak percaya, apalagi kalau sendirian. Tidak mungkin ada orang yang bisa melakukan hal segila ini."

Gawat, padahal aku ingin melindungi Michelle-san, tapi malah jadi seperti bersekongkol.

Saat aku sedang memutar otak untuk mencari alasan, Vitukind-san yang sempat terdiam sambil berpikir akhirnya mengangguk.

"……Baiklah, kalian berdua resmi kuterima sebagai karyawan tetap. Sejujurnya, aku kesulitan karena tidak ada orang yang bisa dimintai tolong untuk pekerjaan semacam ini."

Diterima! Aku diterima!?

Kalau diingat-ingat, aku dipecat dari proyek konstruksi dalam tiga hari, dan pekerjaan di bengkel Ophilia-sama habis dalam satu hari.

Di bengkel Tuan Rikuto pun aku hanya membantu pekerjaan serabutan, itu pun lebih karena koneksi Yurishia-san dan Lise-san, bukan karena kemampuanku sendiri.

Ini pertama kalinya kemampuanku diakui dan aku diterima bekerja seperti ini.

"Kita berhasil, Michelle-san!"

"I-iya…… Padahal aku tidak perlu diterima juga tidak apa-apa sih."

Michelle-san sangat rendah hati ya, pikirku sambil membungkuk kepada Vitukind-san.

"Terima kasih banyak, Vitukind-sama!"

"Jangan pakai 'Sama'. Aku tidak sehebat itu sampai harus dipanggil begitu. Memanggil nama saja mungkin berat bagimu, jadi panggil saja Vitukind-san."

Vitukind-sama—maksudku Vitukind-san, berkata begitu. Sepertinya dia benar-benar merasa dirinya bukan orang hebat.

Setelah itu, aku dan Michelle-san menerima upah harian kami dan meninggalkan bengkel.

"Syukurlah ya, Michelle-san. Kita diterima bekerja."

"Meski ini hampir semuanya berkat kekuatan Kuruto-san…… Aku tidak melakukan apa-apa."

"Michelle-san kan memang kurang pandai beres-beres. Tapi aku yakin, mulai besok aku pasti akan sangat bergantung padamu."

Hal yang bisa kulakukan hanya sebatas membantu pekerjaan rumah tangga.

Soal obat-obatan pun, aku cuma bisa membuat obat tradisional yang diwariskan di Desa Haste.

Sebaliknya, Michelle-san adalah orang yang dipercaya oleh Ophilia-sama yang hebat itu.

"Oh iya, Michelle-san. Karena masih ada waktu sampai makan malam, bagaimana kalau kita jalan-jalan di area pemandian air panas?"

"Eh? Boleh kah?"

"Iya. Katanya ada pemandian kaki, ayo kita coba."

"Pemandian kaki!? Iya, aku mau!"

Karena Michelle-san setuju, kami menuju ke sana.

Di ujung jalan yang biasa, ada sebuah kedai teh bernama Kedai Teh Ashiyu di mana pengunjung bisa meminum teh sambil menghangatkan kaki. Kami pun masuk ke sana.

Sepertinya kedai ini sangat populer, karena begitu kami masuk, kursinya langsung penuh.

Kami memesan dua cangkir teh, lalu merendam kaki hingga batas betis ke dalam kolam di bawah meja.

Suhu airnya agak suam-suam kuku, tapi mungkin karena itu kita bisa merendamnya dalam waktu lama.

Seiring hangatnya kaki, aku merasa seluruh tubuhku ikut menghangat mengikuti aliran darah yang bersirkulasi.

"Rasanya aneh ya, bertelanjang kaki di tempat selain rumah sendiri."

Michelle-san melepas kaus kakinya, melipatnya dengan rapi di atas sepatu, lalu memasukkan kakinya ke dalam air.

"Ngomong-ngomong, Kuruto-san tahu tentang pemandian air panas yang ada di kota pusat wilayah Baron Tycoon? Itu pemandian yang sangat populer sampai antrean reservasinya mencapai sepuluh tahun. Ada rumor kalau berendam di sana bisa membuat seseorang jadi cantik atau menyembuhkan berbagai penyakit, makanya disebut Pemandian Ajaib."

"Ada tempat seperti itu!? Aku baru tahu."

Bicara soal kota pusat, aku juga pernah membuat pemandian air panas di sana sebelumnya, tapi kurasa itu bukan pemandian yang sebegitu populernya. Cuma pemandian biasa yang bisa ditemukan di kota mana pun.

Oh iya, selain pemandian, ada satu hal lagi yang kubuat. Tepat saat aku teringat hal itu—

"Suara ini…… Kuruto-san!? Bukankah ini Kuruto-san!"

Seorang wanita muncul dari bagian dalam kedai.

"Ah, Luna-san! Kenapa ada di sini?"

Dia adalah Luna-san yang kutemui di kota pusat wilayah tersebut.

"Ini adalah cabang dari Toko Bakpao Mangetsu. Toko di kota pusat kuserahkan pada Ayah, dan sekarang aku menjalankan tempat ini bersama dua karyawan."

"Eh? Jadi ini toko milik Luna-san!?"

Hebat, dia sudah punya toko semegah ini sekarang. Michelle-san bertanya padaku sambil membelalakkan mata.

"Kenalan Kuruto-san?"

"Iya. Beliau adalah orang yang membantuku saat aku pergi ke wilayah Baron Tycoon."

"Bukan. Justru aku dan Ayah yang berutang budi padamu. Berkat Kuruto-san, kami bisa menang di festival memasak."

Bilang itu semua berkat aku itu terlalu berlebihan.

Yang kulakukan kan cuma menggali mata air, memasang pompa, memberikan resep, dan membangun ulang tokonya.

"Hari ini Akuri-chan tidak ikut?"

"Akuri sedang menunggu di penginapan bersama Yurishia-san. Aku baru saja pulang kerja."

"Kerja?"

"Mulai hari ini aku bekerja di bengkel Vitukind-san."

"Begitu ya. Kalau begitu, gadis di sebelah ini adalah rekan kerjamu?"

"Iya, namaku Michelle."

"Salam kenal. Ah, ini ada sampel gratis dari toko. Silakan dinikmati."

Luna-san berkata begitu sambil memberiku dua bakpao pemandian air panas (onsen manju). Bakpao ini adalah barang kedua yang kubuat selain pemandian itu sendiri.

Sepertinya baru selesai dikukus, rasanya sangat hangat.

Dan lagi, ini sangat cocok dimakan bersama teh.

Rasanya menenangkan.

"Kebetulan aku juga sedang jam istirahat, bolehkah aku duduk di sampingmu, Kuruto-san?"

"Tentu saja. Aku juga ingin mendengar banyak cerita dari Luna-san."

Begitulah, aku bersama Michelle-san dan Luna-san menikmati waktu santai di pemandian kaki sambil menyantap bakpao. Maaf ya, Yurishia-san, Lise-san.

◆◇◆

"Mumumu! Ini firasat buruk!"

Indra keenamku—Liselotte—bereaksi seketika.

Saat ini kami berempat para wanita sedang masuk ke dalam pemandian kebanggaan penginapan ini…… tapi ini bukan waktunya untuk itu. Ini adalah situasi genting bagi Kuruto-sama.

"Ada apa, Lise? Jarang-jarang ada pemandian air panas, santailah sedikit. Tapi, meski katanya ini pemandian langganan keluarga kerajaan, suhunya agak suam-suam kuku ya. Aku lebih suka yang lebih panas…… yah, tapi karena ada Akuri, suhu segini mungkin pas."

"Aku tidak bisa tenang! Aku merasakan kehadiran Kuruto-sama sedang bersama wanita lain!"

"Yah, itu kan bengkel besar. Pasti ada satu atau dua peneliti atau karyawan wanita. Michelle juga bersamanya, kan?"

"Tapi firasat ini, aku merasa beliau sedang masuk ke pemandian bersama seorang gadis!"

"Itu tidak mungkin—Akuri, jangan berenang di dalam kolam ya."

Yuri-san tampak begitu santai…… Mungkinkah karena dada? Perbedaan ukuran dada? Apa kamu mau bilang karena dadamu besar, maka hatimu juga seluas samudra?

"Lise, apa yang kamu lakukan! Jangan meremas tanpa suara begitu!"

Memang benar, sudah bertambah besar ya. Sangat tidak termaafkan. Padahal aku sendiri sama sekali tidak tumbuh.

"Dasar, kamu benar-benar tidak berubah sejak saat itu ya."

Saat itu…… ah, kejadian waktu itu ya. Aku teringat kembali masa-masa awal mulai tinggal di bengkel.

 

Itu terjadi beberapa hari setelah aku menetap di bengkel, saat aku dan Yuri-san sedang mandi bersama.

"……Zzzzzzzzt (menatap tajam)."

"Lise, apa yang sedang kamu lihat?"

"……Bukan apa-apa."

Mengabaikan Yuri-san yang kebingungan, aku menatap tajam ke arah dua gunung yang mengapung di permukaan air itu.

Lalu aku menangkupkan tangan, memercikkan air ke arah gunung tersebut.

"Uwah! Kan sudah kubilang, apa yang kamu lakukan!"

"Harusnya itu kalimatku!"

"Kenapa malah kamu yang marah!"

Yuri-san marah—air sampai menggenang di belahan dadanya.

Berbeda denganku…… seberapa banyak pun air yang kusiramkan, air itu akan mengalir begitu saja seolah-olah menyiram papan yang rata.

Benar-benar deh, kenapa dunia ini begitu tidak adil.

"Kamu selalu marah-marah setiap kali mandi ya, Lise. Jangan-jangan kamu benci mandi?"

"Tidak, aku sangat suka mandi."

Aku punya satu kelemahan. Sebenarnya, aku menderita pundak kaku yang parah. Pasalnya, sejak di lingkungan istana sampai sekarang di bengkel, pekerjaanku selalu berhubungan dengan dokumen. Setiap hari duduk di meja hanya untuk merapikan berkas. Tentu saja melakukan hal itu terus-menerus membuat pundakku kaku.

Karena itu, mandi yang bisa melancarkan sirkulasi darah dan ampuh menyembuhkan pundak kaku adalah hal favoritku kedua setelah berinteraksi dengan Kuruto-sama.

"Ah, Lise juga pundaknya kaku ya?"

"Aku juga…… berarti Yuri-san juga?"

……Pasti alasannya berbeda denganku. Aku berpikir begitu sambil melihat kedua gunung milik Yuri-san.

"Iya, tapi setelah konsultasi dengan Kuruto, langsung sembuh dengan mudah."

"Dengan Kuruto-sama……?"

Menyembuhkan pundak kaku lewat Kuruto-sama? Berarti pundakmu dipijat oleh Kuruto-sama!? Begitulah pikiranku saat itu.

"Iya, waktu itu pinggangku keseleo ke arah yang aneh saat bertempur—terus sekalian saja pundakku juga."

Bahkan sampai pinggang—jangan-jangan, kalau begitu.

'Kuruto, bisa tolong pijat pinggangku sebentar?'

'Boleh saja, Yurishia-san. Di sebelah sini?'

'Tidak, tolong agak ke bawah lagi.'

'Agak ke bawah itu, di sekitar sini?'

'Lebih bawah lagi.'

'Lebih bawah lagi itu, anu—Yurishia-san.'

'Tenang saja, Kuruto. Di sini cuma ada kita berdua. Ayo, pijat lagi.'

Apa-apaan, apa yang sudah dilakukan orang ini! Memikirkan itu, aku jadi kesal setengah mati.

"Ti-tidak tahu malu! Yuri-san keterlaluan!"

"Kenapa jadi begitu!"

"Tolong tanyakan itu pada dadamu sendiri! Tanyakan setelah kamu mengecilkan dadamu itu!"

Setelah aku berteriak begitu dan pergi ke ruang ganti, aku berpapasan dengan Sina-san yang baru mau masuk mandi.

"Ah, Lise-san, sudah selesai mandinya?"

Sina-san menyapa dengan senyuman. Aku melihat dada Sina-san, lalu menepuk pundaknya.

"Sina-san, tolong tetaplah menjadi dirimu yang sekarang untuk selamanya ya."

"Hah?"

Setelah mengatakan itu, aku berganti pakaian dan keluar dari ruang ganti. Aku sempat mendengar suara Sina-san yang bergumam, "Rasanya aku baru saja dihina," tapi aku memilih untuk tidak peduli.

 

"Lalu, kenapa aku ada di sini sekarang?"

"Eh? Anu, kenapa ya?"

Kuruto-sama yang sedang merapikan obat-obatan di gudang farmasi pun sepertinya tidak tahu jawaban atas pertanyaanku. Gara-gara mandinya terlalu sebentar, pundak kakuku belum sembuh. Berpikir alangkah bahagianya jika dipijat oleh Kuruto-sama, aku mengikuti aroma beliau, dan tanpa sadar sudah sampai di gudang farmasi.

"Jangan-jangan, ada bagian yang terluka?"

"Ah, tidak, lukanya—cuma sedikit pundak... pinggangku kaku."

"Begitu ya—boleh aku periksa sebentar?"

"Iya, mohon bantuannya."

"Kalau begitu, mari kita ke ruang pemeriksaan."

Atas ajakan Kuruto-sama, kami pergi ke ruang pemeriksaan di sebelah gudang farmasi—tentu saja, aku tidak lupa mengunci pintunya dari dalam. Lalu, aku berbaring telungkup di atas ranjang.

"Silakan, Kuruto-sama. Lakukanlah."

"Baik, Lise-san. Permisi ya."

Tangan Kuruto-sama masuk ke balik pakaianku. Sekarang, waktu pijatan magis itu dimulai, waktunya—

"Dingin!"

Eh?

"Ah, dingin ya? Tapi ini sudah selesai kutempel, kok."

"A-anu, ini apa?"

"Koyo buatanku. Ini kuberi cadangannya juga ya."

"Ko... Koyo?"

"Iya. Katanya ini sangat ampuh, Yurishia-san juga sering pakai."

Tega sekali…… pijatannya mana?

 

Mengingat kejadian itu, aku pun memelototi Yuri-san.

"……Ini semua gara-gara Yuri-san mengatakan hal yang ambigu, aku jadi salah paham kan!"

"Aku baru dengar ceritanya belakangan, tapi itu kan salahmu sendiri. Tapi berkat itu pundak kakumu sembuh, kan?"

"Iya, sembuh total tanpa sisa!"

"Baguslah kalau begitu. Aku sendiri masih sering kaku pundak, repot rasanya."

"Mukiyiiii!"

Aku berteriak, lalu menyiramkan air ke arah Yuri-san dan menyerangnya.

"Lise-sama, tolong jangan gaduh di dalam pemandian. Nanti ditiru Akuri-chan, lho."

Mendengar teguran Mimiko-sama, aku menghentikan tanganku yang sedang meremas dada Yuri-san. Benar juga, ini tidak baik untuk pendidikan Akuri.

"Hah, hah…… Hei kamu. Jangan bilang kamu melakukan hal semacam ini kepada Kuruto."

"Memangnya boleh?"

"Jangan, pokoknya jangan! Kamu bakal dianggap mesum nanti."

"Kalau Kuruto-sama yang menganggapku mesum, aku siap menghadapinya dengan kepala tegak."

"Memangnya apa yang mau kamu suruh dia lakukan! Kamu mau dianggap mesum terus disuruh ngapain, hah!?"

Apa maksudnya 'ngapain', hal seperti itu mana mungkin bisa kukatakan di depan Akuri! Siang bolong begini apa yang Yuri-san bicarakan, sih.

"Mama Lise, mesum itu apa?"

"Dengarkan ya, Akuri. Manusia itu sedikit banyak pasti punya sisi mesum."

"Jangan ajarkan hal aneh pada Akuri! Setidaknya aku bukan orang mesum."

"Oh ya? Lalu ilustrasi Kurumi-sama yang kamu sembunyikan di kamarmu itu apa? Sampai bela-belain menyalin potongan koran segala. Kalau tidak salah, buletin klub penggemar Kuruto-sama juga datang secara rutin ke kamarmu, kan?"

"I-itu…… entah apa yang kamu bicarakan."

Wajah Yuri-san memerah padam. Itu pasti bukan karena pengaruh air hangat.

Yah, kecantikan Kurumi-sama—sosok Kuruto-sama saat berpakaian wanita—memang membuatku yang sesama wanita pun berdebar, jadi mengoleksi ilustrasinya bukan hal yang aneh.

Yuri-san pun bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.

"Tapi Lise, apa tidak apa-apa kita menginap di sini? Penginapan koneksi bangsawan sih aku senang-senang saja, tapi kalau teledor, identitasmu bisa ketahuan Kuruto, lho."

"Mau bagaimana lagi. Kuruto-sama sedang berjuang sendirian menyusup ke bengkel jahat itu."

"Nggak sendirian. Jangan lupakan Michelle."

"Beliau sedang berjuang di bengkel jahat. Setidaknya aku ingin menyediakan tempat menginap yang bisa membuat beliau rileks, kan?"

"Lalu, alasan jujurnya?"

"Karena ini penginapan eksklusif untuk satu kelompok saja, pemandiannya tidak perlu dipisah laki-laki dan perempuan. Alias bisa mandi bareng."

Begitu aku mengutarakan niat jujurku, Yuri-san langsung menjitak kepalaku. Kejam sekali, padahal niat ingin Kuruto-sama beristirahat juga tulus dari hati.

Tapi, Kuruto-sama dan pemandian air panas. Menarik juga. Entah kenapa, suhu airnya jadi jauh lebih sejuk dibanding saat aku datang dulu, jadi kami bisa berendam bersama selama berjam-jam.

"Ah, benar juga. Karena hanya ada kita di sini, bagaimana kalau kita buat ilusi Kurumi-sama?"

Aku mengeluarkan Kochou yang selalu kubawa bahkan ke pemandian, lalu mencoba menciptakan ilusi Kuruto-sama dalam mode pakaian wanita. Yuri-san protes, "Ngapain bawa belati sampai ke tempat mandi," tapi ini kan untuk jaga diri. Kalau sampai dicuri kan gawat.

Karena ini belati buatan Kuruto-sama, fungsi tahan airnya sempurna, jadi tidak masalah dibawa masuk ke air. Sosok Kurumi-sama yang kuciptakan memakai handuk mandi untuk menutupi bagian-bagian penting. Kan ada Mimiko-sama juga.

"Mama Lise, ini Papa?"

"Benar sekali. Cantik, kan?"

"Papa lucu banget!"

Sosok Kurumi-sama juga disukai oleh Akuri.

"Jadi ini Kuruto-chan versi perempuan ya. Benar-benar manis. Meski pakai riasan, jarang ada laki-laki yang terlihat begitu alami berada di pemandian wanita tanpa rasa janggal sedikit pun."

"Aduh-aduh, meski ini sewa privat…… buatannya rapi sekali ya."

Yuri-san pun matanya sampai terpaku pada Kurumi-sama.

"Tentu saja. Sudah terekam jelas di mataku sejak turnamen bela diri."

"Lise, soal gaya rambutnya, apa bisa rambutnya digerai?"

"Akan kucoba ya."

Aku mengendalikan ilusi itu, lalu melepas ikatan rambut kuncir duanya. Ujung rambut yang berkilau itu pun mengapung di permukaan air.

"Jangan terlalu sering menatapku, Yura-san."

"——!? Maaf, Kurumi…… eh, apa yang kamu suruh dia lakukan sih, Lise!"

Yuri-san marah karena secara refleks meminta maaf pada ilusi yang berlagak malu-malu itu.

"Fufufu, habisnya mata Yuri-san terlihat begitu mesum, jadi aku iseng menggoda sedikit."

"Muuu, nggak bisa disentuh."

Akuri mencoba menyentuh ilusi Kurumi-sama, tapi sayangnya tangan tidak bisa menyentuhnya secara langsung. Itu satu-satunya kelemahan Kochou.

Karena tidak enak kalau terus-menerus memunculkan ilusi Kurumi-sama, aku pun menghapusnya.

Benar-benar deh, penyamaran wanita Kuruto-sama itu sempurna sekali. Penyamaran pria Yuri-san juga lumayan sih.

"Ah, benar juga! Yuri-san, bagaimana kalau kamu menyamar jadi pria lagi untuk bekerja sebagai penjaga keamanan?"

"Tolak. Aku sudah kapok menyamar jadi pria. Rasanya sesak sekali di bagian dada."

"Yah, kalau dadaku sih bisa menyamar jadi pria tanpa perlu pakai bebat kain segala kok!"

"A-aku tidak bilang begitu, kan! Berhenti, jangan remas dadaku!"

"Lise-sama, kalau bercanda di pemandian, nanti ditiru Akuri-chan, lho."

"Basah-basahan!"

Begitulah waktu di pemandian berlalu dengan sangat ramai. ……Kira-kira apa yang sedang dilakukan Kuruto-sama sekarang ya?

◆◇◆

"Jadi, Luna-san juga pernah bertemu Vitukind-san?"

"Iya. Aku bertemu beliau tepat saat aku baru sampai di sini, sekitar sebulan yang lalu."

Sebulan yang lalu itu waktu kami mulai melakukan penyelidikan terhadap bengkel Vitukind-san. Ternyata Luna-san sudah ada di sini sejak saat itu.

"Orangnya sangat baik, kan?"

"Orang baik…… ya? Aku tidak merasa begitu. Beliau terlihat sangat penuh percaya diri. Waktu memakan bakpao buatanku, beliau memakai hak istimewa Atelier Meister untuk membelinya tanpa mengantre. Beliau bilang, 'Enak juga. Wajar kalau sampai antre, tapi kalau begini sih aku juga bisa buat,' sambil tertawa. Ah, sekarang tokonya sudah tenang dan tidak ada antrean lagi sih, tapi hari pertama buka itu ramenya luar biasa. Resep Kuruto-san memang hebat ya."

Luna-san tertawa sambil berkata begitu.

Dia selalu saja memujiku, padahal aku yakin itu semua berkat kerja keras Luna-san sendiri.

Meski begitu, aku merasa ada yang aneh.

Sosok Vitukind-san yang diceritakan Luna-san terasa sangat berbeda dengan Vitukind-san yang kutemui.

Pria yang aku kenal sebagai Vitukind-san adalah seorang Atelier Meister, namun dia tampak tidak merasa dirinya hebat.

Dia tidak terlihat seperti tipe orang yang akan menyalahgunakan hak istimewanya sebagai Atelier Meister untuk menyerobot antrean.

Apakah dia penipu yang menggunakan nama Vitukind?

Tidak, rasanya mustahil ada penipu yang berkeliaran begitu dekat dengan bengkel aslinya.

"Luar biasa ya, bisa membuat kue seenak ini hanya dengan sekali cicip. Vitukind-san pasti jago masak," gumam Michelle-san setelah menghabiskan sampel gratis onsen manju dan memesan porsi tambahan.

"Membuatnya tidak semudah itu, lho. Meski ada resepnya, aku harus berjuang mati-matian agar rasanya bisa mendekati buatan Kuruto-san. Kalau bisa ditiru dengan mudah, bisnisku bisa bangkrut. Lagipula, tanpa mata air panas, onsen manju tidak akan bisa dibuat!" ujar Luna-san dengan penuh percaya diri.

Tak lama kemudian, seorang staf memanggil Luna-san, sehingga dia harus pamit dari meja kami.

Karena antrean di toko juga mulai mengular, kami memutuskan untuk segera kembali ke penginapan.

 

"Hanya Kuruto-sama dan Michelle-san saja? Tidak ada wanita lain yang bersama kalian?"

Begitu kami tiba di penginapan, Lise-san langsung menanyakan hal itu.

"Kok tahu? Iya, tadi kami ke kedai teh pemandian kaki, dan ternyata itu toko milik Luna-san. Lise-san sudah pernah bertemu belum, ya? Itu lho, toko yang membuat onsen manju di kota pusat wilayah Baron Tycoon."

"Onsen manjuuu!?" Akuri merespons dengan riang.

Waktu itu Akuri memang ikut bersama kami, sepertinya dia masih ingat.

"Iya, aku beli oleh-oleh untuk semuanya, kok."

"Horeee nano!"

"Luna-san, ya... Benar-benar di luar pengamatanku. Tapi kalau sampai terlibat dua kali begini, dia harus masuk ke dalam daftar orang yang patut diwaspadai."

"Satu-satunya orang yang paling patut diwaspadai itu cuma kamu," cetus Yurishia-san sambil memberikan serangan tangan pisau ke kepala Lise-san yang sedang mencatat sesuatu dengan tatapan serius.

Dua orang ini benar-benar akrab.

Aku, Yurishia-san, dan Lise-san memutuskan untuk berdiskusi bertiga. Sementara itu, Michelle-san dan Akuri kami minta menikmati onsen manju di kamar sebelah.

"Jadi, Kuruto. Bagaimana wawancaranya?"

"Lancar. Hari ini setelah diterima sebagai karyawan percobaan, kami merapikan perpustakaan. Akhirnya kami berdua resmi diterima sebagai karyawan tetap."

"Merapikan perpustakaan? Pekerjaan yang terlalu ringan untuk kemampuanmu. Gampang, kan?"

Memang benar kata Yuri-san, pekerjaannya mudah karena aku hanya perlu membuat rak buku. Tapi—

"Tidak, sebenarnya ada yang agak aneh."

"Aneh?"

"Alat sihir yang katanya dibuat Vitukind-san itu kan sangat beragam, mulai dari obat-obatan sampai perkakas sihir. Di perpustakaan juga ada banyak sekali jenis buku."

"....? Bukannya itu hal yang wajar?" Yurishia-san memiringkan kepalanya.

"Iya, banyaknya jenis buku itu sendiri memang tidak aneh. Yang menurutku janggal adalah di antaranya ada buku panduan pemula yang tidak bisa disebut buku teknis, bahkan ada buku yang isinya penuh kesalahan karena terlalu kuno. Bagaimana ya bilangnya... rasanya seperti dia hanya asal mengoleksi jenis buku tanpa memedulikan isinya. Terasa tidak sinkron dan terlalu payah untuk ukuran buku yang dibaca seorang Atelier Meister."

Yah, mungkin saja dia membelinya tanpa mengecek isinya, lalu baru menyadari kegagalannya belakangan tapi tidak tega membuangnya.

Meski begitu, buku yang isinya penuh kesalahan justru akan menjadi nilai minus jika dibaca oleh orang yang tidak tahu apa-apa.

Jika itu buku bernilai sejarah, kesalahan mungkin dibiarkan untuk memahami kebiasaan zaman dulu. Namun, untuk buku referensi di bengkel, buku seperti itu tidak seharusnya ada di sana.

Tiba-tiba, Lise-san bertanya.

"Tunggu sebentar. Berapa lama waktu yang Kuruto-sama habiskan untuk merapikan buku?"

"Dua jam."

"Dalam dua jam itu, Anda merapikan buku sekaligus memeriksa isinya?"

"Ah, tidak. Puluhan menit pertama aku gunakan untuk membeli kayu di dekat bengkel, lalu membakarnya sedikit untuk memperkuat kayu dan merakit raknya. Aku baru mulai merapikan buku setelah itu."

Karena aku memeriksa isi buku sembari merapikannya, aku tidak merasa membuang waktu khusus. Tidak ada yang aneh, kan?

"Membuat rak dan merapikan buku dalam dua jam..."

"Pantas saja langsung diterima. Untung ada Michelle yang menemani."

"Benar. Setidaknya dia tidak akan mengira Kuruto-sama melakukan semuanya sendirian. Meski begitu, aku yakin dia pasti menyadari keanehan Kuruto-sama."

Eh? Apa aku melakukan kesalahan?

Melihatku yang merasa cemas, Yurishia-san mengangguk sekali.

"Yah, masih dalam batas perkiraan. Malah, itu hasil yang bagus. Nanti aku akan tanya Michelle juga, tapi sepertinya tidak ada masalah. Kuruto, mulai besok bekerjalah seperti biasa, jangan memaksakan diri, dan semangatlah menjalani infiltrasinya."

Dia memujiku begitu. Syukurlah, sepertinya aku tidak melakukan kesalahan fatal.

"Ah, satu lagi. Ada cerita dari Luna-san yang membuatku penasaran."

Aku menceritakan perbedaan antara cerita Luna-san dengan kesan yang kutangkap sendiri.

"……Memang aneh, tapi manusia pasti punya sisi lain. Ada orang yang terlihat serius tapi menyimpan ilustrasi orang yang disukainya di bawah bantal."

"Ada juga gadis bangsawan yang terlihat anggun tapi isinya cuma fantasi mesum," timpal Yurishia-san.

Aku merasa ada percikan api yang menyambar di antara Yurishia-san dan Lise-san sesaat.

"Terlepas dari itu, tidak heran jika dia bersikap baik di depan Kuruto-sama namun bersikap angkuh sebagai Atelier Meister di luar. Faktanya, berdasarkan penyelidikan Mimiko-sama, Vitukind dikenal sebagai orang yang sangat percaya diri."

"Begitu ya... Ngomong-ngomong, Mimiko-san di mana? Kok tidak bersama kalian?"

"Mimiko-sama sedang dipijat, jadi sekarang tidak ada di sini. Katanya mumpung ada kesempatan, dia ingin mencoba pijat langganan keluarga kerajaan."

"Eh? Bukannya kita menginap di sini berkat bantuan Mimiko-san?"

"Prinsipnya adalah gunakan fasilitas negara mumpung bisa diklaim sebagai biaya dinas. Kalau mau menginap dan dipijat pakai uang pribadi, harganya selangit," jelas Yurishia-san.

Aku pun mengangguk paham. Benar juga, ini kan tugas negara.

Berarti biaya penginapan dan makan di sini semuanya ditanggung oleh pajak.

Memikirkan itu, aku jadi merasa tidak enak kepada seluruh rakyat negeri ini.

Yuri-san berkata padaku dengan nada heran.

"Kuruto, kamu merasa bersalah ya karena bermewah-mewah pakai uang pajak?"

"Kenapa bisa tahu!?"

"Kelihatan jelas di wajahmu. Duh, kamu ini terlalu sungkan. Kalau kamu memasang wajah tidak tenang begitu, kami yang cuma menunggu di sini malah jadi merasa lebih bersalah lagi."

"Maafkan aku."

Saat aku refleks meminta maaf, Lise-san menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu minta maaf. Benar, Kuruto-sama. Air panasnya sangat nyaman, lho. Nanti mari kita mandi bersa—"

"Jangan mandi bareng. Pokoknya kamu pasti lelah, kan? Kuruto, istirahatlah yang tenang di kamar."

"Baik, terima kasih banyak."

Aku berterima kasih kepada Yurishia-san lalu menuju kamar. Tempat tidurnya sudah dirapikan dengan sempurna. Pekerjaan yang teliti.

Aku menyentuh pinggiran tempat tidur yang sudah disiapkan untukku, tadinya ingin langsung duduk, tapi aku menarik kursi di depan meja samping tempat tidur dan duduk di sana.

Detik berikutnya, Akuri muncul di atas pangkuanku.

"Papa!"

"Akuri, kamu masuk pakai sihir pemindahan?"

"Iya, bawa bakpao!"

Akuri berkata begitu sambil memberikan bakpao oleh-oleh kepadaku.

"Terima kasih. Aku terima ya."

Aku menerima onsen manju dari Akuri. Akuri menatap lekat-lekat bakpao yang dia berikan tadi.

Aku mengerti maksudnya, lalu membelah bakpao itu menjadi dua.

"Rahasia dari para Mama, ya."

"Makasih nano!"

Akuri mengambil separuh bagian. Bakpao yang berada di tangan mungil Akuri itu terlihat sangat besar meskipun hanya setengah.

Menurut cerita Hildegard-chan, Akuri adalah roh buatan.

Aku tahu dari awal dia bukan anak biasa, tapi kalau dilihat-lihat begini, dia tampak seperti anak kecil normal pada umumnya.

Yah, meski dia bisa pakai sihir pemindahan dan berubah jadi orang dewasa.

Tapi, kalau Akuri dibuat oleh seseorang, berarti orang yang membuatnya adalah orang tua aslinya?

Rasanya aku tidak suka pemikiran itu.

Harusnya aku bertanya lebih detail pada Hildegard-chan waktu itu.

Tapi karena dia bilang harus segera kembali, aku membiarkannya pulang begitu saja.

"Papa, nggak dimakan?"

"Ah, aku makan kok."

Aku membelah lagi separuh bakpao itu, lalu memakannya dalam dua suapan. Akuri memakannya dalam lima suapan kecil.

Karena katanya pemandiannya adalah pemandian campur, aku masuk diam-diam saat tengah malam.

 

Keesokan paginya, tepat setelah fajar, aku berniat mandi sebelum semua orang bangun, tapi ternyata sedang ada pembersihan darurat.

Padahal kemarin saat aku mandi aku sempat membersihkannya sedikit, tapi kalau memang sudah ada jadwal pembersihan darurat, mungkin tindakanku tidak perlu ya?

Setelah sarapan bersama, Lise-san dan yang lain bilang mau pergi belanja.

Setelah mereka pergi, aku segera membersihkan kamar sebentar, lalu aku dan Michelle-san menuju bengkel.

Penjaga gerbang yang melihat wajah kami langsung membukakan gerbang tanpa bicara sepatah kata pun.

Begitu masuk, Vitukind-san segera menghampiri dan mengantar kami ke ruang makan. Kenapa ke ruang makan?

"Aku senang kalian datang. Kuruto-kun, Michelle-chan. Setelah kalian pulang kemarin, aku merasa cemas terus. Apa uang yang kuberikan terlalu sedikit? Apa kalian tidak mau datang lagi karena kuberi tugas serabutan seperti merapikan perpustakaan? Yah, syukurlah kalian datang. Ah, mau minum teh? Kemarin aku belum sempat menjamu kalian."

"Biar saya saja yang buatkan tehnya."

"Jangan, jangan. Ada camilan dan teh khas kota ini. Aku ingin kalian mencicipinya."

"Camilan khas kota ini?"

Yang terlintas di benakku adalah cerita Luna-san kemarin. Jangan-jangan—

Sambil melihat Vitukind-san yang pergi ke ruangan dalam, aku membuat sebuah dugaan. Dan dugaanku tepat.

Vitukind-san segera kembali membawa onsen manju.

"Ini onsen manju?" tanya Michelle-san.

"Lho? Kamu tahu?"

"Iya, kemarin kami memakannya di Kedai Teh Ashiyu."

"Walah, begitu ya? Sayang sekali."

"Tidak apa-apa, rasanya sangat enak jadi aku memang ingin memakannya lagi."

Michelle-san berkata begitu lalu mulai memakannya, jadi aku pun ikut mencicipi satu suapan.

……Ini kan!?

"Gimana? Enak?"

"Iya, enak sekali."

"Menurutku juga enak. Rasanya malah lebih enak dari yang kemarin—"

"Rasanya persis sama dengan yang kumakan kemarin."

Aku memotong kalimat Michelle-san dan mengatakannya begitu saja.

"Oh, Kuruto-kun, kamu merasakannya? Iya, aku berhasil mereplikasi rasa yang persis sama. Wah, aku senang kamu menyadarinya."

Sambil mendengarkan kata-kata Vitukind-san yang kegirangan seperti anak kecil, aku meminum tehnya. Teh ini pun memiliki rasa yang persis sama dengan teh yang kuminum kemarin.

Hebat sekali bisa mereplikasi rasa sampai sejauh ini.

"Ah, tunggu sebentar. Aku ambilkan tambahan tehnya."

Melihat cangkir Michelle-san kosong, Vitukind-san beranjak dari kursi untuk menyeduh teh.

"Vitukind-san hebat ya."

"Tapi, kalau cuma segini bukankah Kuruto-san bisa membuat bakpao yang lebih enak? Kan Kuruto-san yang memberikan resepnya."

"Iya. Aku memang memberikan resepnya, dan kalau cuma meningkatkan rasa aku bisa melakukan banyak modifikasi. Tapi—"

Onsen manju di toko itu bukan sekadar dibuat mengikuti resep dariku, tapi Luna-san telah memasukkan sentuhan uniknya sendiri.

Mulai dari takaran selai kacang, kekentalan sirup, hingga suhu pengukusan. Vitukind-san mereplikasinya hanya dengan sekali makan.

"Aku pun tidak akan bisa mereplikasi rasa yang benar-benar identik hanya dengan sekali makan. Sekalipun aku melihat cara pembuatannya atau berlatih berhari-hari, pada akhirnya akan ada sedikit karakteristik pribadiku yang muncul. Begitu juga dengan rasa tehnya."

Namun, ini benar-benar onsen manju buatan Luna-san, dan teh dari kedai itu. Ini sudah bukan lagi sekadar memasak, melainkan bisa dibilang teknik khusus.

Meskipun aku bilang persis sama, bukan berarti 100% identik. Sejujurnya, onsen manju yang kuterima dari Luna-san kemarin terasa lebih enak.

Bukan karena bakpao Vitukind-san adalah produk tiruan, melainkan karena dalam sebulan terakhir, kemampuan Luna-san dalam membuat bakpao sudah berkembang.

Onsen manju yang kumakan sekarang adalah bakpao versi Luna-san sebulan yang lalu.

"Rasanya seperti kue dari dunia di mana waktu berhenti bergerak."

Aku bergumam sambil menatap sisa bakpao di tanganku.

 

Setelah Vitukind-san kembali dan kami selesai minum teh, dia kembali menjelaskan pekerjaan kami.

"Michelle-chan adalah elf dan murid dari Atelier Meister Ophilia-sama, kan? Berarti kamu jago membuat obat?"

"Iya, saya sudah diajarkan dasar-dasarnya."

"Kalau Kuruto-kun?"

"Saya juga membuat obat di bengkel Tuan Rikuto dan menyetorkannya ke Halo-Halo Workstation atau Guild Petualang."

Mendengar jawaban kami, Vitukind-san mengangguk puas.

"Kebetulan sekali. Kalau begitu, aku ingin kalian membuat obat sebanyak yang kalian bisa dalam hari ini. Seharusnya peralatan lengkap sudah ada di dapur, dan untuk bahan-bahan yang diperlukan, silakan pakai apa saja yang ada di gudang bawah tanah."

"Eh? Di dapur? Apa tidak akan mengganggu orang-orang yang mau memasak?"

"Tidak apa-apa, yang lain menyiapkan makanan mereka sendiri, jadi dapur ini jarang sekali dipakai."

"Eh? Semuanya membawa bekal?"

"Iya. Ah, kalau kalian tidak bawa makan siang, silakan pakai bahan-bahan di dapur untuk memasak."

"Benarkah? Terima kasih banyak."

Aku berpikir Vitukind-san memang orang baik. Jadi, hari ini aku dan Michelle-san akan membuat obat berdua.

Karena di gudang ada banyak bahan seperti herbal kering, kami memutuskan untuk membuat obat menggunakan bahan-bahan tersebut.

"Michelle-san mau membuat obat apa?"

"……Aku berencana membuat obat tradisional kaum elf."

"Obat tradisional elf…… jangan-jangan itu obat yang luar biasa?"

Kalau begitu apa sebaiknya aku tidak melihat proses pembuatannya ya? Michelle-san buru-buru melambaikan tangan saat aku bertanya.

"Bukan, bukan, ini cuma obat tenggorokan tradisional kaum elf. Ini obat dengan reputasi terbaik yang pernah kubuat."

"Obat tenggorokan, ya? Hebat sekali."

"Hebat?" Michelle-san tampak bingung dengan pujianku.

"Iya. Karena itu obat tenggorokan, berarti tipe obat yang diisap atau diminum, kan? Tapi fakta bahwa efeknya bisa fokus hanya di tenggorokan itu sulit bagiku. Kalau aku yang buat, pasti malah jadi obat yang menyembuhkan seluruh tubuh. Aku sendiri akan membuat obat luka seperti biasa."

"Ah, Mimiko-sama berpesan, jika Kuruto-san membuat obat, tolong encerkan dengan air sepuluh kali lipat."

"Dari Mimiko-san?"

Kalau diencerkan dengan air kan efeknya jadi lemah, apa tidak apa-apa ya? Yah, karena Mimiko-san yang bilang, pasti ada alasan khusus.

"Baiklah. Aku akan mengencerkannya dengan air di tahap akhir."

Begitulah, Michelle-san membuat obat tenggorokan, dan aku membuat ramuan pemulih seperti biasa.

 

Setelah beberapa lama membuat obat, Michelle-san memanggilku.

"Kuruto-san…… sebenarnya Anda mau buat berapa botol?"

"Untuk sementara aku sudah buat sekitar lima ratus botol, apa perlu ditambah lagi?"

"Ini masih sebelum diencerkan, lho…… wadahnya tidak akan cukup."

……Ah, gawat. Aku membuat takaran segitu karena ada lima ratus wadah, tapi aku lupa kalau harus diencerkan.

Ramuan sihir seperti ramuan pemulih harus disimpan dalam wadah khusus untuk mencegah penurunan kekuatan sihir, kecuali jika langsung digunakan.

"Aku akan segera membuat wadahnya!"

Aku mengambil kayu bakar, lalu mulai melubangi bagian tengahnya untuk dijadikan wadah.

Sebenarnya aku ingin menyiapkan wadah keramik atau kaca, tapi butuh waktu terlalu lama untuk membakarnya di oven, dan aku tidak tahu boleh tidaknya membangun tungku pembakaran sendiri di halaman.

Karena itu, aku memutuskan membuat wadah kayu. Untungnya kayu bakar di sini sangat kering dan cocok untuk dijadikan wadah.

Aku mengoleskan cat anti bocor di bagian dalam, dan setelah kering, aku memasukkan ramuan pemulih yang sudah diencerkan.

Sepertinya ini bisa selesai tepat waktu. Michelle-san yang sudah selesai meracik obat tenggorokan juga membantuku mengisi wadah-wadah itu, tapi tiba-tiba terdengar suara dari pintu masuk.

"Wah, banyak sekali obatnya. Kalian berdua yang membuat ini?"

"Ah, Vitukind-san. Maaf, kami belum selesai."

"Tapi kalau sudah dimasukkan ke situ berarti sudah selesai, kan?"

"Tidak, ini masih harus diencerkan sepuluh kali lipat."

Gara-gara itu, wadahnya masih kurang banyak.

"Sepuluh kali lipat? Kenapa?" tanya Vitukind-san.

Aku sendiri pun tidak tahu alasannya.

"……I-itu, karena kalau begini saja kekuatannya terlalu besar sebagai ramuan pemulih, konsumsi stamina penggunanya akan sangat drastis……"

Saat aku bingung harus menjawab apa, Michelle-san memberikan alasan itu. Eh? Padahal ramuan ini juga mengandung komponen pemulih stamina, jadi seharusnya stamina tidak akan terkuras.

"Heh, jadi kemampuan pemulihannya sangat tinggi ya. Coba aku tes sedikit."

Vitukind-san berkata begitu lalu melepas baju atasan.

"Kenapa dilepas?"

"Baju ini mahal, aku tidak mau mengotorinya."

"Mengotori?" Aku tidak mengerti maksudnya.

Tiba-tiba, Vitukind-san mengambil pisau dapur yang ada di sana, lalu menusukkannya ke perutnya sendiri.

"——!? Vitukind-san!?"

"Kuruto-san, cepat ramuan pemulihnya!"

"Benar, obatnya!"

Aku segera membaringkan Vitukind-san dan mencabut pisaunya. Darah muncrat mengenai wajahku. Lukanya sampai mengenai organ dalam.

Aku segera menyiramkan ramuan pemulih, dan lukanya langsung menutup seketika. Sejujurnya, tadi itu sangat berbahaya.

Jika meleset beberapa sentimeter saja, dia bisa mengalami syok karena kehilangan banyak darah dan jantungnya bisa berhenti.

Memang dia bisa diselamatkan dengan Cardiopulmonary Resuscitation setelah disiram ramuan pemulih, tapi tetap saja aku tidak percaya dia melakukan hal segila ini.

Sambil berpikir begitu, Vitukind-san bangun sambil tertawa kecut.

"Aduh-duh, ternyata meski lukanya menutup, rasa sakitnya masih ada ya."

"Karena rasa sakit diproses oleh otak. Ini juga ada efek pereda nyerinya, jadi sakitnya akan segera hilang. Terlebih lagi, apa yang Anda pikirkan sih!?"

"Eh? Habisnya kalau mau mencoba ramuan pemulih berkekuatan besar, harus luka parah dulu kan? Wah, tapi hebat ya. Lukanya hilang tanpa bekas, dan stamina yang terkuras seperti yang dikhawatirkan Michelle-chan juga terasa sedikit. Menurutku lebih baik begini saja tanpa diencerkan."

"Tidak boleh! Aku membuat obat bukan untuk membiarkan Anda melakukan hal gila seperti itu!"

"Eh? Kamu marah? Kenapa?"

"Kenapa, tanya Anda—"

Vitukind-san benar-benar memasang wajah bingung. Seolah-olah menganggap wajar jika dirinya terluka—lebih tepatnya, dia sepertinya tidak menghargai nyawanya sendiri.

Benar-benar aneh.

Sangat jauh berbeda dengan cerita dari Luna-san maupun informasi yang dikumpulkan Mimiko-san.

Aku mulai benar-benar tidak mengerti manusia macam apa Vitukind ini sebenarnya.

 

Karena baju kami kotor terkena darah, aku dan Michelle-san meminjam baju ganti. Baju yang kotor segera kami cuci dan jemur.

Pada akhirnya, aku belum berhasil melakukan penyelidikan apa pun.

Setidaknya kalau aku bisa pergi ke departemen produksi di lantai dua, aku bisa bertanya pada seseorang.

Tapi mengingat betapa fokusnya mereka bekerja kemarin, sepertinya mustahil untuk mengobrol santai.

Di sisi lain, Vitukind-san selalu ada di laboratorium lantai empat, jadi aku tidak bisa memeriksanya. Apa tidak ada petunjuk lain ya?

Saat aku kembali ke ruangan awal, Vitukind-san sedang bersama seorang pria asing. Apakah dia tamu?

"Ah, Michelle-chan, bisa tolong buatkan teh untuk dua orang dan antar ke laboratorium? Maaf ya menyuruhmu melakukan pekerjaan serabutan, tapi tidak ada orang lain."

Dia meminta tolong pada Michelle-san, lalu mereka berdua naik ke tangga. Ini adalah kesempatan untuk masuk ke laboratorium.

"Michelle-san, ini kesempatan bagus. Berusahalah!"

"Mumu, tidak mungkin. Membawa teh saja aku sudah gugup—Kuruto-san, tolong gantikan aku!"

"……Baiklah."

Aku mengangguk mantap. Aku menyiapkan teh lalu naik ke lantai empat.

"Jadi, apa sulit untuk mendapatkan benda itu?"

"Iya. Kupikir akan mudah, tapi penjagaannya lebih ketat dari perkiraan. Bahkan tidak ada satu pun bagian yang terjatuh."

Pintu ruangan sedikit terbuka, sehingga percakapan di dalam terdengar sampai luar.

"Begitu ya…… Oh, sepertinya tehnya sudah datang."

Ketahuan. Aku tidak bisa menguping lebih lama lagi.

"Permisi."

Aku melangkah masuk ke laboratorium. Vitukind-san dan pria itu sedang duduk berhadapan. Di antara mereka ada sebuah bak kayu, kah? Di dalamnya berisi air panas.

"Ah, Kuruto-kun yang mengantarkannya ya."

Vitukind-san tersenyum melihatku.

"Iya."

Sambil meletakkan teh di atas meja, aku mengamati sekeliling. Kecuali pintu yang menuju ke ruangan lebih dalam, ini hanya ruangan biasa dengan kursi dan meja. Laboratorium yang sebenarnya pasti ada di balik pintu itu.

Setidaknya, isi pembicaraan mereka…… pikirku. Tapi jika aku terus berdiri di sini hanya setelah mengantar teh, Vitukind-san dan pria ini pasti akan curiga.

Tepat saat itu, pria tersebut memutar bahunya seolah sedang mencoba melemaskan otot yang kaku.

"Oya, Anda sedang sakit pundak?"

Vitukind-san bertanya.

"Iya, memalukan sekali. Mengingat profesi saya, sakit pundak bisa memengaruhi kepercayaan pelanggan."

"Belakangan ini rasa lelah saya sudah menumpuk," lanjutnya lagi.

Kalau hanya untuk menghilangkan rasa sakit di pundak, aku bisa saja memberikan koyo yang punya reputasi bagus di mata Yurishia-san dan Lise-san. Sayangnya semua stoknya tertinggal di bengkel.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada cara lain.

"Kalau Anda tidak keberatan, maukah saya bantu sembuhkan?"

"Sembuhkan sakit pundak... maksud Anda? Tidak, sepertinya fisik saya ini tipe yang sulit dipengaruhi pijatan."

"Mau diremas sekuat apa pun tidak kunjung sembuh," keluhnya.

"Tentu saja begitu. Sebagian besar sakit pundak justru akan berdampak buruk jika diremas dengan paksa, itu malah akan merusak tubuh."

Jika pundak dipijat, memang hari itu akan terasa enak. Namun, keesokan harinya pasti akan sakit lagi.

Penyebab sakit pundak itu bermacam-macam, bahkan ada yang berasal dari gigi berlubang. Namun, sebagian besar disebabkan oleh postur tubuh yang buruk, yang membuat otot-otot menegang dalam bentuk yang tidak wajar.

Bisa dikatakan, sakit pundak itu seperti otot yang menegang kencang layaknya seutas benang.

Jika dipaksakan ditekan dalam kondisi seperti itu, otot bisa robek seperti benang yang putus.

"Anda cukup duduk saja, boleh saya pinjam tubuhnya sebentar?"

Setelah mengatakan itu, aku menyentuh tubuh pria tersebut.

Sepertinya benar, postur tubuhnya sudah buruk selama bertahun-tahun. Tulang-tulangnya cukup banyak yang bergeser.

Aku memberikan sedikit tenaga dan perlahan merapikan tulang yang bergeser. Aku juga membelai pundaknya untuk mengendurkan otot-otot yang tegang.

"Anda tidak mengerahkan tenaga ke pundak?"

"Iya, sepertinya penyebab sakit pundak Anda adalah punggung bungkuk. Dibandingkan pundak, pengaturan seluruh tubuh jauh lebih penting."

"Saya angkat sedikit pundaknya, ya," kataku sambil melanjutkan prosedur Seitai.

Waktunya hanya sekitar lima menit.

"Ini... padahal tidak menggunakan obat atau apa pun, tapi tubuhku terasa ringan seolah terlahir kembali."

"Saya senang jika bisa membantu."

Aku menjawab ucapan terima kasih dari pria yang kini berwajah segar itu. Namun, tiba-tiba aku tersadar akan sesuatu.

Aku belum sempat menanyakan informasi apa pun. Kegagalan ini pasti akan membuat yang lain memarahiku.

Saat aku sedang bingung harus bagaimana, pria itu membuka mulutnya.

"Namamu Kuruto-san, kan? Sebenarnya ada permohonan mendesak yang ingin kusampaikan."

"Eh? Ah, iya, apa itu?"

Permohonan yang keluar dari mulut pria itu benar-benar luar biasa.

 

"Aku pulang. Semuanya sedang di pemandian?"

Begitu sampai di penginapan, di dalam kamar kulihat Yurishia-san sedang mengelap Sekka seorang diri.

"Tidak, hari ini katanya ada pembersihan darurat sampai malam. Jadi yang lain pergi ke toko Luna untuk makan bakpao pemandian."

"Aku di sini menjaga kamar karena berpikir mungkin kamu akan pulang," tambahnya.

Apakah Akuri merasa bosan? Semoga dia tidak merepotkan Mimiko-san.

"Michelle tidak bersamamu?"

Yurishia-san juga merasa aneh melihatku pulang sendirian.

"Michelle-san pergi ke Valha menggunakan Transfer Crystal. Katanya dia mau mengirim laporan kepada Ophilia-sama."

"Oh, kalau tidak salah tadi pagi dia memang bilang begitu ya."

"Terlepas dari itu, Yurishia-san. Sesuatu yang gawat telah terjadi."

"……Kamu berulah lagi?"

Yurishia-san bertanya seperti itu. Aku ini sepertinya benar-benar kurang dipercaya, ya.

Tapi, kalau aku ada di posisi Yurishia-san, aku pun akan berpikir hal yang sama.

"Bukan, sebenarnya hari ini ada pelanggan yang datang ke bengkel, lalu aku melakukan Seitai padanya."

"Kamu pergi ke sana sebagai tenaga serabutan, kenapa malah jadi tukang urut begitu sih?"

"Habisnya, refleks... lalu, ternyata pria itu adalah pemilik penginapan ini."

"Sepertinya dia sangat menyukai Seitai buatanku, dan dia ingin aku melakukan hal yang sama kepada orang yang menginap di sini," jelasku.

Saat pria itu berbicara dengan Vitukind-san dan berkata 'memalukan sekali', maksudnya adalah sang pemilik penginapan sendiri malah menderita sakit pundak parah. Padahal penginapannya memiliki khasiat air panas dan layanan pijat.

"Pffft, itu memang lucu sih. Pemilik penginapan itu pasti tidak menyangka kalau Kuruto adalah tamunya sendiri."

"Tunggu, Kuruto. Siapa orang yang dia minta untuk kamu urut?" tanya Yurishia-san tiba-tiba.

"Itu... Tuan Putri Liselotte!"

"Apa katamu!?"

"Yurishia-san juga terkejut, kan? Siapa sangka Tuan Putri Liselotte sedang menginap di tempat ini."

"A... ah……"

Yurishia-san mengernyitkan dahi sambil bergumam pelan.

"Sial, padahal sudah kuwanti-wanti agar tidak membocorkannya kepada siapa pun selain pihak terkait."

"Tapi kalau tukang urut yang disewa mendadak, apa masih bisa dianggap pihak terkait?" lanjutnya hampir tidak terdengar.

"——Lalu, apa kamu menolaknya?"

"Tentu saja, aku menolaknya."

"Baguslah kalau begi—"

"Aku menolaknya, tapi Vitukind-san bilang ini adalah perintah kerja, jadi aku harus menerimanya."

"Selain itu, ada permohonan aneh dari Vitukind-san," tambahku.

"Permohonan aneh?"

Aku pun menceritakan semuanya kepada Yurishia-san.

◆◇◆

"Jadi hal seperti itu terjadi saat aku sedang pergi…… Lalu, kapan waktunya?"

Kapan Kuruto-sama akan melakukan Seitai kepadaku—Lise!?

Saat aku mendesak Yuri-san, dia malah menekan pipiku dan menjauhkanku.

Begitu aku pulang, Akuri segera dititipkan kepada Kuruto-sama. Aku pun dibawa ke ruangan belakang bersama Mimiko-sama.

Aku tahu ada sesuatu yang terjadi. Kalau Seitai, itu berarti mirip seperti pijat, kan?

Hari itu, saat itu, akhirnya aku bisa mendapatkan pijatan setelah mandi yang dulu tidak sempat kulakukan. Rasanya seperti mimpi!

Kejadian menyenangkan seperti ini benar-benar di luar jangkauan prediksiku. Tidak, bukan sekadar di luar prediksi, ini adalah takdir!

Hubungan aku dan Kuruto-sama benar-benar dicintai oleh Dewi Takdir!

"Tunggu, tenanglah. Karena akan gawat kalau sampai terdengar Kuruto, makanya kita pindah ke ruangan ini."

"Dengar baik-baik, yang akan dilakukan Seitai oleh Kuruto itu bukan Lise, tapi Tuan Putri Liselotte."

"Kamu akan repot kan kalau sampai Kuruto tahu identitasmu sebagai tuan putri?" tanya Yuri-san.

Mendengar itu, aku kehilangan kata-kata.

Dulu aku pernah memberitahu Kuruto-sama bahwa aku adalah seorang tuan putri. Namun, sekarang Kuruto-sama sudah benar-benar melupakan hal itu.

"Eh? Lagipula, kenapa dulu Lise merahasiakan identitasnya sebagai tuan putri?"

"Itu karena kalau beliau tahu aku adalah tuan putri, nanti Kuruto-sama akan menyadari kalau kemampuannya itu spesial—"

"Tidak, kalau soal itu kan bisa cari alasan? Bilang saja kalau kamu sedang berguru di bengkel Rikuto, tapi karena nyawamu diincar, kamu menyembunyikan identitas."

"Kuruto pasti akan percaya kalau alasannya begitu," cetus Yuri-san.

"Yuri-san, jahat sekali! Kenapa kamu malah menyadari hal-hal yang seharusnya tidak perlu disadari!"

"Di dunia ini ada yang namanya etika untuk berpura-pura tidak tahu pada hal yang memang harus diabaikan, lho!" seruku.

"Kalau hal yang harus disadari ya harus disadari."

Yuri-san balas membentakku. Kalau begini aku jadi terlihat seperti pihak yang bersalah.

Cinta itu lebih mulia dari apa pun. Artinya sedikit kebohongan adalah kejadian sepele di depan cinta.

"Sudahlah, Yurishia-chan. Jangan terlalu menggoda Tuan Putri."

"Bagaimana kalau kita pasang pemeran pengganti untuk Tuan Putri?" usul Mimiko-sama.

"Kita bisa memilih anggota Phantom yang penampilannya mirip," tambahnya.

"Bukankah kali ini Phantom tidak bisa digunakan?"

"Untuk penyelidikan bengkel memang tidak bisa. Tapi kalau untuk pengawalan Tuan Putri, kami masih menggunakannya sekarang."

"Yah, pengawalan dari luar penginapan sih," jelas Mimiko-sama.

"Hmm, mungkin itu lebih baik. Lagipula ada hal yang diminta kepada Kuruto, jadi aku tidak ingin dia muncul di depan Lise."

"Hal yang diminta kepada Kuruto-sama?"

Saat aku memiringkan kepala, Yuri-san menceritakan permintaan Vitukind yang dia dengar dari Kuruto-sama.

"……Apa tujuannya?"

"Entahlah. Untuk saat ini kita tidak tahu, tapi tidak ada salahnya waspada dan menganggap ada rencana tersembunyi."

Mimiko-sama pun mengangguk setuju.

"Sudah diputuskan, ya. Kali ini, anggota Phantom yang akan menggantikan Tuan Putri—"

"Tunggu sebentar! Aku tidak mau! Aku ingin Kuruto-sama yang melakukan Seitai padaku!"

"Paket lengkap durasi delapan jam penuh!" seruku mantap.

"Lama amat! Kalau Kuruto yang melakukannya, lima menit juga sudah selesai."

Ini adalah kesempatan langka di mana tubuhku akan disentuh oleh Kuruto-sama. Aku akan berusaha melewatinya entah bagaimana caranya.

"Benar juga, kalau aku menyamar menggunakan Kochou—"

Jika disentuh memang akan ketahuan. Namun, jika hanya wajah dan suara yang diubah dengan Kochou, aku tidak akan ketahuan.

"Untuk menggunakan Kochou bukankah kamu harus berkonsentrasi?"

"Memangnya kamu bisa menjaga konsentrasi saat sedang dilakukan Seitai oleh Kuruto?" tanya Yuri-san ragu.

Itu mustahil. Ilusinya akan hancur dalam nol koma sekian detik.

"Kalau begitu aku pakai topeng saja untuk menutupi wajah, lalu tetap diam tanpa bicara."

"Memang kalau Kuruto sih mungkin tidak akan sadar, tapi kamu, apa bisa tetap diam tanpa mengeluarkan suara aneh saat disentuh Kuruto?"

"Ugh…… benar juga, itu tadi sebuah celah yang terlewatkan."

Jika punggungku disentuh oleh Kuruto-sama, aku pasti akan mengeluarkan suara tanpa ragu. Apalagi tidak cuma sekali atau dua kali, pasti berkali-kali.

Kuruto-sama sepertinya tipe yang bisa mengenaliku hanya dari suaranya.

"Kalau begitu, pakai alat sihir pengubah suara yang dulu Yuri-san gunakan—"

"Mendapatkan Seitai sebagai tuan putri tapi suaranya jadi suara laki-laki? Malah makin mencurigakan."

"Lagipula, kalau kamu mengeluarkan suara aneh dengan suara laki-laki, Kuruto pasti akan merasa jijik," timpal Yuri-san.

"Kamu, seberapa pun identitasmu tidak ketahuan, apa sanggup kalau sampai merasa dijijiki oleh Kuruto?"

Dijijiki oleh Kuruto-sama? Aku tidak akan sanggup.

Itu adalah luka yang kerusakannya setara dengan ditusuk pedang.

"Hei, Yurishia-chan. Tuan Putri kan biasanya memang sering bertingkah aneh di depan Kuruto-chan, apa dia tidak merasa jijik?"

"Kuruto menganggap tingkah aneh Lise itu sebagai sejenis lelucon, jadi dia tidak terlalu mempermasalahkannya."

"Itu sebuah keberuntungan, atau malah menyedihkan ya," gumam Mimiko-sama.

Yuri-san dan Mimiko-sama sedang membicarakan sesuatu, tapi aku sedang mengaktifkan sel otak kelabuku secara maksimal untuk berpikir.

Bagaimana caranya agar aku bisa menerima Seitai dari Kuruto-sama.

Yuri-san ini benar-benar ya, dia menolak semua usulanku dan berniat menghalangiku. Tidak dimaafkan.

"Haa, mau bagaimana lagi. Karena aku sudah tahu akan jadi seperti ini, aku sudah bicara dengan Kuruto."

"Aku memintanya menggunakan Lise sebagai model latihan Seitai-nya," ujar Yuri-san.

"Yuri-san! Aku tadi sudah salah paham padamu!"

Kalau dipikir-pikir, dibandingkan Seitai dengan batasan waktu, bukankah latihan Seitai tanpa batasan waktu jauh lebih baik!?

"Jangan menatapku dengan mata berbinar sambil memegang tanganku begitu!"

"Jadi, untuk pengganti Tuan Putri, pakai Phantom saja tidak apa-apa, kan?" tanya Yuri-san.

"Itu akan merepotkan. Aku tidak ingin ada lagi personel Phantom yang jatuh cinta karena menerima Seitai dari Kuruto-sama."

"Benar juga. Yuri-san, silakan Anda yang menerima Seitai Kuruto-sama. Aku yang akan membuat ilusi dengan Kochou," usulku.




"Eh? Aku?"

"Iya. Kalau Yurishia-san, ini sudah bukan hal baru lagi. Lagipula, pundakmu pasti kaku, kan?"

Aku mengatakannya sambil melirik ke satu titik tertentu pada tubuh Yurishia-san.

Kalau membawa 'beban' seberat itu, sudah pasti pundaknya akan terasa kaku.

"Tapi, kalau aku sampai mengeluarkan suara..."

"Tenang saja! Semua akan aku serahkan pada ilusi untuk berbicara."

"Lalu mulut Yurishia-san akan aku sumbat dengan Gag agar tidak bisa bicara," lanjutku mantap.

"Sampai harus begitu demi Seitai—"

"Kamu tidak mau menerimanya?"

"Kalau Yurishia-chan tidak mau, biar aku saja yang menggantikan, bagaimana?" timpal Mimiko-sama ikut menyerang.

"…………Aku sedikit ingin merasakannya," aku Yurishia-san akhirnya dengan jujur.

Yah, meski Mimiko-sama menawarkan diri, begitu disentuh pasti akan langsung ketahuan kalau dia terlalu mungil, jadi itu mustahil. Tentu saja, aku tidak akan mengatakannya langsung padanya.

Pilihan paling aman adalah membiarkan Yurishia-san yang menerima Seitai itu.

Bukannya aku merasa Yurishia-san adalah sosok yang paling pantas untuk Kuruto-sama.

Namun, mengingat bagaimana keadaan Kuruto-sama dan Akuri saat Yurishia-san tidak ada, aku jadi ingin mencari jalan agar kami berempat bisa terus berjalan bersama.

...Jika suatu saat nanti tiba waktunya bagiku untuk pergi dari sisi kalian, apakah Kuruto-sama dan Akuri akan merasa sedih yang sama?

Ah, tidak ada gunanya memikirkan hal yang masih jauh di depan sana.

 

Malam harinya.

Mimiko-sama pergi menemui pemilik penginapan untuk mencari informasi, sementara Yurishia-san pergi ke pemandian air panas bersama Akuri.

Yurishia-san membawa Akuri keluar dan membiarkannya berenang sepuasnya hari ini, karena Akuri memang sangat suka berenang di sana.

Berkat itu, aku berhasil mendapatkan waktu berdua saja dengan Kuruto-sama.

"……Anu, Lise-san. Kamu tidak perlu melepas pakaianmu, kok."

Di depan kamar khusus pijat yang akan digunakan besok, Kuruto-sama memunggungi aku dan mengatakan hal itu.

"Aduh, kebiasaanku saat akan menerima pijat minyak muncul. Lagipula, bukankah Kuruto-sama sudah pernah melihat segalanya beberapa kali, jadi tidak masalah, kan?"

Saat pertama kali bertemu Kuruto-sama, aku sedang bertelanjang dada, dan kami bahkan pernah masuk ke ruang bilas yang sama di kota pusat wilayah Borderlord.

"Masalah, tahu. Aku mohon, pakailah baju Anda."

Sebenarnya akan lebih baik jika begini saja agar aku bisa merasakan suhu tubuh Kuruto-sama secara langsung, tapi kalau aku terlalu memaksa, nanti beliau bisa membenciku.

Dengan terpaksa, aku mengenakan pakaian tipis.

"Kuruto-sama, sudah boleh, kok."

"……Duh, aku kaget, tahu. Biar begini aku ini juga laki-laki, jadi Lise-san harus lebih berhati-hati, ya……"

"Kemarin aku sempat melihat buletin klub penggemarku, dan di sana aku terlalu banyak dipuji imut, sampai aku sedikit kehilangan rasa percaya diri sebagai pria," gumam Kuruto-sama.

Ternyata buletin klub penggemar Kuruto-sama sampai juga ke tangan beliau sendiri, ya. Yurishia-san juga sepertinya punya, dan menurutku kualitas buletin itu memang luar biasa.

Tidak sia-sia aku terus memberikan bantuan dana secara anonim.

"Tentu saja, aku lebih tahu dibandingkan siapa pun kalau Kuruto-sama adalah seorang pria sejati."

"Lise-san…… aku senang kamu bicara begitu…… Lebih dari siapa pun?"

"Iya, lebih dari siapa pun."

Demi meningkatkan kesempurnaan ilusi Kuruto-sama, aku telah mengobservasi beliau puluhan hingga ratusan kali lebih banyak dibanding orang lain.

Aku punya kebanggaan bahwa aku memahaminya lebih dari siapa pun.

"Jadi, Kuruto-sama. Apa yang harus kulakukan pertama kali?"

"Begitu ya. Pertama-tama, bolehkah aku melakukan palpasi untuk memeriksa bagian mana yang kaku?"

"Iya, tentu saja. Silakan sentuh bagian mana pun yang Anda suka."

Aku mengatakannya sambil menatap Kuruto-sama tepat dari depan.

"……Anu, tolong balikkan badanmu."

"Baiklah."

Padahal aku ingin terus menatap Kuruto-sama, tapi mau bagaimana lagi. Aku pun memunggungi beliau.

Sesaat kemudian, sebuah sensasi basah merembes melalui kemeja ke punggungku.

Keringat? Bukan, apakah beliau menggunakan cairan obat khusus?

Terasa sentuhan tangan yang lebih kecil dari perkiraan, lalu sensasi seperti memelukku dengan erat seolah sangat menginginkanku—eh, tunggu sebentar?

"Lho, eh!? Akuri!?" teriak Kuruto-sama.

Sudah kuduga. Aku merogoh ke belakang dan mengangkat Akuri ke depan.

Seluruh tubuhnya basah kuyup, dan dia tidak memakai baju.

"Akuri? Ada apa? Kamu basah begini. Kuruto-sama, tolong handuknya."

Kuruto-sama menyiapkan dua lembar handuk. Beliau mengeringkan rambut Akuri, sementara aku menyeka tubuhnya.

Wajah Akuri terlihat seperti hampir menangis.

"Akuri, ada apa? Apa jangan-jangan Yurishia-san melakukan sesuatu padamu?"

Akuri menggelengkan kepalanya sambil menahan air mata.

"Onsen-nya panas nano."

Sepertinya, saat dia berniat berenang, airnya terasa lebih panas dari kemarin, sampai pada suhu yang tidak memungkinkan untuk berenang.

Dia tetap mencoba berenang, tapi di tengah kolam dia tidak kuat menahan panasnya, lalu secara refleks melakukan Teleport ke luar pemandian—tepat ke tempat kami berada.

"Akuri!? Syukurlah. Ternyata benar di sini. Aku khawatir sekali karena kamu tiba-tiba menghilang di dalam air."

Sambil mendengarkan cerita Akuri, Yurishia-san masuk ke ruangan dengan terburu-buru sambil membawa pakaian Akuri.

Karena terlalu mengkhawatirkan Akuri, dia sepertinya tidak sempat memikirkan pakaiannya sendiri.

Dia hanya mengenakan selembar handuk mandi yang melilit tubuhnya.

"Yurishia-san!? Cepat pakai baju!"

"Ngg—aaaaaaaah!?"

Wajah Yurishia-san memerah padam, dia langsung meletakkan baju Akuri dan lari terbirit-birit kembali ke arah pemandian.

"Pffft."

Aku tidak tahan untuk tidak tertawa melihat kejadian konyol itu.

"Akuri sudah keluar dari pemandian, sepertinya suasananya sudah tidak cocok untuk lanjut Seitai, ya."

Aku memakaikan baju yang ditinggalkan Yurishia-san ke tubuh Akuri.

"Eh? Padahal besok adalah hari pembuktiannya."

"Tidak apa-apa. Kalau Kuruto-sama, aku yakin Anda pasti bisa melakukannya. Aku yang paling mengenal Anda bicara begini, jadi tidak mungkin salah."

Aku mengatakan itu sambil mendekap Akuri yang masih tampak ingin menangis, lalu menyandarkan bahuku pada Kuruto-sama yang duduk di sampingku untuk ikut menenangkan Akuri.

Sayang sekali aku melewatkan kesempatan Seitai yang berharga, tapi aku juga sangat menyukai keseharian seperti ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close