NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 6 Chapter 3

Chapter 3

Tangan yang Tak Mencapai Tuhan


Keesokan paginya.

Aku—Kuruto, memutuskan untuk berangkat menuju bengkel Vitukind-san.

Rencananya aku akan bertemu dengan pemilik penginapan di dalam bengkel. Karena aku tidak akan melakukan pekerjaan bengkel yang sebenarnya, Michelle-san pun diputuskan untuk libur.

Sebenarnya kami tidak bekerja dalam satu paket tim, tapi mungkin Vitukind-san ingin bersikap tenggang rasa. Michelle-san dianggap mengambil cuti berbayar dan sudah menerima upah untuk dua hari kemarin.

Dia benar-benar orang yang sangat baik.

Tepat saat aku melewati Kedai Teh Ashiyu, Luna-san memanggilku.

"Kuruto-san, selamat pagi."

"Selamat pagi, Luna-san. Apa hari ini Anda libur?"

"Iya. Kemarin adalah hari pemeriksaan sumber air, jadi pemandian kaki tidak bisa digunakan. Akhir-akhir ini suhu airnya memang menurun."

"Tapi sekarang airnya malah jadi terlalu panas dan tidak bisa dinikmati dengan santai. Makanya aku berpikir untuk memasang peralatan pendingin suhu air," lanjut Luna-san menjelaskan.

Saat aku datang sebelumnya, aku memang merasa airnya agak suam-suam kuku, ternyata itu alasannya.

Kalau tidak salah ingat, Akuri juga sempat bilang kalau airnya panas.

"Ngomong-ngomong Kuruto-san, hari ini Anda memakai pakaian yang unik, ya."

"Iya, ini pakaian yang disebut Yukata. Ada sedikit alasan di baliknya."

Benar, yang kupakai hari ini adalah pakaian tradisional dari negara asal Danzo-san.

Karena suatu alasan, hari ini aku harus pergi ke bengkel dengan pakaian ini.

"Pakaian yang aneh... tapi kelihatannya mudah dilepas dan sangat cocok untuk merendam kaki. Desainnya simpel jadi sepertinya mudah dijahit juga..."

"Kuruto-san, bisakah Anda mengajariku cara membuat pakaian itu?" tanya Luna-san antusias.

"Tentu saja boleh. Ah, kalau mau, mumpung masih ada waktu, bagaimana kalau kita coba membuatnya sekarang?"

"Mau banget!"

Kami membeli kain di penjahit yang sudah buka sejak pagi, dan aku segera mengajari Luna-san cara membuat Yukata di tokonya.

Sekalian saja aku menjahit beberapa jenis Yukata.

 

Setelah lewat beberapa lama dan waktunya sudah tepat, aku pun menuju ke bengkel.

Pada akhirnya, kemarin aku tidak sempat latihan Seitai sama sekali. Apa benar tidak apa-apa?

Saat hampir sampai di bengkel, aku mulai merasa sedikit cemas.

Tak lama kemudian aku tiba di depan bengkel, namun sosok penjaga gerbang yang biasanya berdiri di sana tidak terlihat.

Apa hari ini dia libur? Pikirku sambil melangkah masuk ke dalam.

Kemarin saat aku masuk, Vitukind-san langsung datang menyambut, tapi hari ini dia tidak menampakkan diri.

Apa dia sedang sibuk bekerja di suatu tempat?

Setelah menunggu beberapa saat dan dia tak kunjung datang, aku mulai mencari ke perpustakaan lantai satu, ruang makan, dapur, hingga gudang bawah tanah. Namun, Vitukind-san tetap tidak ada.

"Tanya di lantai dua saja, deh."

Aku bergumam sendiri lalu menaiki tangga.

Di departemen produksi lantai dua, para pekerja seharusnya sedang merakit alat sihir—atau begitulah seharusnya.

Namun, meski kemarin dulu ada begitu banyak orang, sekarang tak ada satu pun jiwa di sana.

Di atas meja tergeletak komponen alat sihir yang pengerjaannya baru setengah jalan.

Ngomong-ngomong, ini alat apa, ya?

Aku mencoba memeriksa alat sihir tersebut.

Semua alat sihirnya sangat sederhana.

Hampir semuanya bertipe tongkat pendek dengan Magic Crystal yang tertanam di ujungnya.

Ada alat yang mengeluarkan air, api, menghasilkan petir kecil, pengeras suara, hingga alat sihir untuk membekukan benda.

Semuanya adalah barang yang umum digunakan, tapi entah kenapa hanya alat sihir pembeku yang memiliki performa lebih tinggi dibanding yang lain.

Alat pengeras suara ini, sepertinya sama dengan yang digunakan oleh kakak wasit merangkap komentator di turnamen bela diri, atau yang digunakan Lise-san waktu itu.

"Ini kalau cara merakitnya diubah sedikit, sepertinya bisa jadi buzzer peringatan. Sekalian saja—"

Aku mengambil alat sihir pengeras suara yang belum selesai dirakit itu dan mencoba memodifikasinya.

Sip, sesuai bayanganku.

"Eh, bukan waktunya melakukan ini. Kalau tidak cepat, pemilik penginapan akan segera datang."

Aku bergegas menuju lantai tiga, namun di sana pun tidak ada siapa-siapa.

Ada bekas tanda seseorang tidur di sana sampai kemarin, tapi semua ruangan tertata rapi tanpa barang yang berantakan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Rasanya seperti cerita horor saat mereka semua menghilang dalam satu malam. Tepat saat itu...

Terdengar suara sesuatu yang jatuh dari lantai atas.

"Apa ada orang di sana!?"

Aku bergegas naik ke lantai empat.

Pintu yang menuju laboratorium terbuka, dan di dalamnya aku melihat sesosok bayangan yang terkapar.

"Vitukind-san!?"

Orang yang jatuh pingsan itu adalah Vitukind-san. Kenapa bisa begini!?

"Anda tidak apa-apa? Bertahanlah. Akan segera kuberikan obat—"

"A... ah, Kuruto-kun. Syukurlah kamu datang. Maaf, tadinya aku ingin menjemputmu di gerbang, tapi tubuhku lemas sekali."

"Jangan bicara dulu. Cepat, obatnya—"

"Tidak, obat tidak akan berguna... Ini adalah umurku. Sesuatu yang tidak bisa diatasi dengan obat."

"Umur? Tapi..."

"Penjaga gerbang, pekerja di bawah, mereka tumbang satu per satu. Kupikir sebentar lagi giliranku... uhuk."

Di tengah kalimatnya, Vitukind-san memuntahkan darah.

Penyakit yang disertai muntah darah dan membuat tubuh lemas.

Berbagai kemungkinan penyakit terlintas di kepalaku, namun aku tidak bisa menentukan jenisnya.

Tidak, penyakit ini tidak cocok dengan satu pun pilihan dari sekian banyak referensi yang kupunya.

"Permintaanku... apa sudah kamu penuhi?"

"...Iya. Walau saya tidak mengerti maksudnya, pakaian ini disebut Yukata. Saya bisa menyimpan banyak hal di dalam lengan bajunya."

Kemarin, hal yang diminta Vitukind-san padaku adalah menyiapkan pakaian yang bisa menyembunyikan banyak benda di dalamnya untuk hari ini.

Meski aneh, aku memutuskan memakai Yukata yang diajarkan Danzo-san.

Yukata memiliki bagian menggelembung di lengan bajunya, sehingga benda seukuran dompet bisa dimasukkan dengan mudah ke sana.

"Begitu ya, pantas saja tekstur kainnya terasa asing bagiku."

Dia menilai berdasarkan sentuhan... ternyata benar, dia sudah kehilangan penglihatannya.

Kenapa bisa secepat ini—

"Kuruto-kun, terakhir, biarkan aku mengatakan satu hal... Aku benar-benar minta maaf."

Sesaat kemudian, gelombang kejut menjalar ke seluruh tubuhku.

Gawat, ini pasti dari mesin penghasil petir yang dibuat di lantai bawah.

Kesadaranku terasa seperti akan terenggut dalam sekejap.

Saat itu, pintu di bagian dalam terbuka dan sesosok bayangan muncul dari sana.

"Kenapa..."

Aku hanya bisa bergumam saat melihat sosok yang muncul dari dalam tersebut.

◆◇◆

"Haa... kenapa aku harus pakai baju begini—"

Melihat cermin, aku—Yurishia, bergumam dengan nada muak.

Yang kukenakan sekarang adalah gaun.

Mimiko memesan gaun mewah yang mirip dengan pakaian Lise melalui pesanan kilat. Sebenarnya Kuruto bisa menyiapkannya lebih cepat, tapi kali ini kami tidak boleh membiarkannya tahu.

Karena Kochou tidak bisa menipu indra peraba, aku harus memakai pakaian yang cukup bagus agar tidak dicurigai.

"Lho, bukankah Yurishia-san juga calon dari klan Ishisema? Posisi yang dekat dengan keluarga kerajaan di negeri ini. Seharusnya Anda pernah memakai gaun, kan?"

"Baru-baru ini aku dipaksa memakainya. Itu benar-benar menyebalkan," jawabku sambil mengingat saat aku berada dalam status tahanan rumah.

Aku menjadi petualang karena membenci kehidupan seperti itu, tapi kenapa sekarang aku malah harus berakhir memakai baju begini lagi?

Rasanya aku ingin menghancurkan pepatah yang bilang kalau nasib itu berputar.

"Anggap saja ini ujian yang diperlukan agar Kuruto-sama bisa memberikan Seitai padamu. Pada akhirnya, aku pun tidak bisa mendapatkannya, kan?"

Liselotte berkata begitu sambil menggunakan Kochou padaku.

Melalui cermin, wajahku berubah menjadi perpaduan antara wajah Lise dan wajahku. Lalu, rambutku berubah menjadi warna emas.

Bentuk tubuhku tetap seperti aslinya, dengan kulit putih.

Dengan begini, Kuruto pun pasti tidak akan sadar kalau ini aku.

Anak itu memang tajam di hal-hal aneh, tapi soal beginian dia sangat peka.

Yah, aku yang tidak menyadari penyamaran Kuruto sebagai perempuan selama ini juga tidak punya hak untuk berkomentar sih.

"Lalu, aku dan Akuri akan mengawasi dari celah di sana. Jangan berbuat macam-macam, ya."

"Tunggu, kalau Lise sih terserah, tapi kamu mau memperlihatkannya pada Akuri juga!?"

"Iya. Dengan begitu aku rasa pengendalian dirimu akan bekerja."

"Aku bukan mesum yang bakal hilang kendali sepertimu!" seruku kesal.

Tapi dia malah membalas, "Kalau begitu tidak ada masalah jika Akuri melihatnya, kan? Lagipula aku ingin memperlihatkan sosok Papa yang sedang bekerja padanya."

Memang tidak ada masalah, tapi rasanya menjengkelkan karena seolah aku tidak dipercaya.

 

"Tapi, ini sudah telat. Harusnya sudah waktunya, kan?"

Sudah sepuluh menit kami menunggu kedatangan Kuruto dan yang lain.

Sampai sekarang Kuruto belum juga datang.

Padahal dia bukan tipe orang yang akan membiarkan keluarga kerajaan menunggu.

Pemilik penginapan sudah memberitahu kami sejak kemarin bahwa mereka memutuskan untuk menyewa tukang urut baru.

Mimiko sudah menyampaikan bahwa "Meskipun pendatang baru, jika dia berbakat maka tidak masalah untuk melayani Tuan Putri. Namun, untuk berjaga-jaga, kali ini Kagemusha (pemeran pengganti) Tuan Putri yang akan menerima pengobatannya."

Karena dia tahu yang dihadapi bukan sang putri langsung, apa dia pikir tidak apa-apa untuk terlambat?

Tepat saat aku berpikir begitu, terdengar suara pemilik penginapan dari balik pintu.

"Tuan Putri, maaf membuat Anda menunggu. Saya telah membawa tukang urutnya."

Sepertinya dia berlari ke sini, terdengar dari suaranya yang terengah-engah.

"Silakan masuk."

Suara terdengar dari mulutku.

Itu adalah suara yang diciptakan oleh Kochou, suaranya terdengar sedikit lebih dewasa dibanding Lise.

Karena ini suara perpaduan antara aku dan Lise, mari kusebut saja suara Leeli.

Aku sempat berpikir saat menggunakan alat sihir pengubah suara dulu, tapi mendengar suara orang lain keluar dari mulutku sendiri rasanya benar-benar aneh.

Pemilik penginapan membuka pintu, dan Kuruto masuk bersama dengannya.

Tadi saat pergi dia memakai Yukata, tapi sekarang dia memakai baju lain.

Apa dia meminjam baju di bengkel?

"Nama saya Kuruto, yang akan bertanggung jawab atas prosedur kali ini. Mohon bantuannya."

Entah ke mana perginya rasa cemasnya sampai tadi pagi, Kuruto menyapaku dengan wajah yang sangat segar.

"Mohon bantuannya juga."

Bersamaan dengan suara Leeli, aku membungkukkan badan.

Lalu, aku memunggungi Kuruto.

"Kalau begitu, silakan sentuh bagian mana pun yang Anda suka."

Mendengar kalimat bodoh dari Leeli itu, aku hampir saja menyemburkan tawa.

Kalau pemeriksaan fisik ya biasanya punggung atau pundak, dong!

Ini malah membuatku terdengar seperti orang mesum!

Namun, Kuruto tidak bergeming dan berkata, "Kalau begitu, saya permisi," lalu menempelkan tangannya di punggungku.

Sentuhan jari Kuruto terasa di punggung.

"Pundak Anda sepertinya sangat kaku, ya."

"Iya, karena dadaku besar jadi pundakku kaku dan aku merasa kesulitan."

Itu adalah dialog yang penuh prasangka Lise terhadapku.

Lagipula, kalau bicara begitu Kuruto pasti bakal bingung, kan?

"Begitu ya. Ah, Tuan Putri mahir dalam ilmu pedang, ya?"

"Anda bisa tahu?"

"Iya. Dari kondisi ototnya, saya bisa tahu kira-kira bela diri apa yang Anda kuasai."

Kuruto membalas dengan alami.

Hebat juga, dia sama sekali tidak goyah oleh pelecehan seksual dari Lise.

Kuruto hari ini benar-benar tampak seperti pria yang kompeten.

Sampai-sampai aku berpikir jangan-jangan ini adalah ilusi buatan Lise.

Eh, tapi kalau ilusi kan tidak bisa disentuh, jadi ini pasti dia yang asli.

"Kalau begitu, saya akan segera memulai prosedurnya. Saya akan merapikan dari tulang punggung, ya."

"Mohon bantuannya."

Begitulah, Seitai dari Kuruto pun dimulai... dimulai... Aduh, Sakit!

Sakit sakitsakitsakitsakit!

Apa-apaan rasa sakit yang luar biasa ini!?

Rasa sakit yang tidak wajar menyerang seluruh tubuhku.

"Bagaimana? Apa tidak sakit?"

"Iya, rasanya sangat nyaman."

Nyaman mata lu peyang!

Ini benar-benar sakit.

Aku ingin berteriak. Aku tahu tidak boleh berteriak, tapi air mataku sampai keluar.

Apa-apaan ini, apa aku akan mati hari ini?

Apa aku akan dibunuh oleh Seitai-nya Kuruto?

"Saya merasa terhormat jika Anda berkata begitu. Kalau begitu, sekarang bagian pinggang—"

Kuruto mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa masuk ke kepalaku.

Eh? Apa Kuruto sepayah ini dalam melakukan Seitai!?

Atau, apakah Seitai dari orang yang benar-benar ahli itu memang sesakit ini!?

Aku sudah tidak tahu lagi mana yang benar.

Pokoknya, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku hanya agar tidak berteriak.

Rasanya tadi seperti ada rasa sakit yang menjalar di kepalaku, tapi aku tidak yakin.

Tepat pada saat itulah...

"Cukup sampai di situ!"

Sebuah suara terdengar.

Bukan suara Leeli, ini benar-benar suara Lise yang asli.

"Lho? Kenapa Lise-san ada di sini? Bersama Akuri juga."

Lise menyerobot masuk ke dalam ruangan bersama Akuri.

"Tolong berdiri, Yurishia-san."

"Eh!?" seru kami berdua bersamaan.

Sesaat kemudian, Lise membatalkan ilusiku.

"Yurishia-san!? Eh? Jadi sosok asli Tuan Putri Liselotte itu Yurishia-san!?"

Kuruto terkejut dan berseru keras.

Apa-apaan ini, rencananya jadi kacau balau.

"Lise, apa yang kamu pikirkan sampai berbuat begini?"

"Yurishia-san, tolong diamlah."

Lise berkata begitu, lalu dia malah mengarahkan ujung pedang Kochou miliknya kepada Kuruto.

"Kamu, barusan kamu mencabut sehelai rambut Yurishia-san, kan?"

"Eh?"

Mencabut rambut?

Kalau diingat-ingat, tadi memang rasanya ada rasa sakit yang menjalar di kepalaku.

Jadi itu rasa sakit saat rambutku dicabut.

"Kuruto, sebenarnya untuk apa kamu melakukan hal itu?"

"Yurishia-san, apa yang Anda bicarakan?"

Lise menatapku dengan tajam saat mengatakannya.

"Eh?"

Kenapa malah aku yang dimarahi?

Aku benar-benar tidak paham. Namun, Lise kembali menatap Kuruto dengan tajam.

"Jawab pertanyaanku."

"Maaf, rambut Tuan Putri Liselotte sangat indah... Terlepas dari itu, kenapa kalian berdua ada di sini?"

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu. Aku akan memberikan satu pertanyaan lagi."

"Lise-san, tunggu sebentar. Jawab juga pertanyaanku."

Kuruto tampak panik dan gelagapan.

Memang tindakan Kuruto itu aneh, tapi yang paling aneh adalah Lise.

Lise tidak pernah sekalipun menunjukkan permusuhan sebesar ini kepada Kuruto.

Bukan karena dia marah karena aku merasa kesakitan, kan?

Lalu, kenapa?

"Lise, coba jelaskan padaku agar aku mengerti—"

"Di mana Kuruto-sama yang asli?"

...Apa katamu?

◆◇◆

Aku—Lise, sedang menunggu dengan tidak sabar saat Kuruto-sama seharusnya masuk.

Tepat setelah melewati waktu yang dijadwalkan, terdengar suara pemilik penginapan ini.

"Silakan masuk."

Begitu aku memberikan halusinasi pendengaran dengan kekuatan Kochou, Kuruto-sama yang mengenakan pakaian yang belum pernah kulihat masuk mengikuti pemilik penginapan.

"Nama saya Kuruto, yang akan bertanggung jawab atas prosedur kali ini. Mohon bantuannya."

"Mohon bantuannya juga."

Yurishia-san membungkuk mengikuti suaraku, tapi aku merasa ada yang aneh.

Jika itu Kuruto-sama yang asli, beliau seharusnya meminta maaf terlebih dahulu karena telah membuat kami menunggu.

Apa beliau sedang sangat tegang?

Kuruto-sama mulai bersiap untuk palpasi.

"Kalau begitu, silakan sentuh bagian mana pun yang Anda suka."

Seperti biasa aku mengatakan hal itu, Kuruto-sama mengangguk sambil tersenyum, "Kalau begitu, saya permisi," lalu menyentuh punggung Yurishia-san.

"Pundak Anda sepertinya sangat kaku, ya."

"Iya, karena dadaku besar jadi pundakku kaku dan aku merasa kesulitan."

Aku memprediksi Yurishia-san akan menjawab seperti itu, lalu aku menciptakan suaranya... tapi, perasaan janggal apa ini yang kurasakan sejak tadi?

Benar, ini adalah perasaan janggal yang sama seperti saat aku berlatih menciptakan Kuruto-sama halusinasi beberapa hari setelah menerima Kochou.

Penampilan dan gaya bicaranya benar-benar Kuruto-sama, tapi ada sesuatu yang berbeda dari yang asli. Rasa janggal itu.

"...Lise Mama."

"Akuri... apakah itu benar-benar Kuruto-sama?"

"Bukan, itu bukan Papa."

Akuri mengatakannya.

Ternyata benar... sudah kuduga.

"Long Sense."

Aku memperkuat indra penciumanku dengan sihir pendukung.

Hasilnya, keraguanku berubah menjadi keyakinan.

Memang tercium aroma Kuruto-sama, tapi aroma sabun yang biasanya selalu dipakai Kuruto-sama sama sekali tidak tercium.

Kuruto-sama itu—bukan, sesuatu yang tidak pantas dipanggil Kuruto-sama itu adalah peniru.

Namun, apa sebenarnya yang terjadi?

Aku ingin segera keluar dan menanyakan keberadaan Kuruto-sama yang asli, tapi jika itu adalah bidak sekali pakai, pertanyaanku hanya akan dijawab dengan berbelit-belit.

Setidaknya aku harus tahu apa tujuannya.

"Kalau begitu, saya akan segera memulai prosedurnya. Saya akan merapikan dari tulang punggung, ya."

Si peniru itu bicara dengan suara Kuruto-sama.

"Mohon bantuannya."

Aku memutuskan untuk mengamati Seitai si peniru itu.

"Yuri Mama, kelihatannya sakit."

"Sakit?"

Dilihat dari luar, dia tampak sedang menerima prosedur dengan wajah tersenyum biasa.

...Ah, aku salah.

Senyum itu hanyalah ilusi belaka.

Karena wajah Yurishia-san berada dalam titik buta si peniru, aku membatalkan ilusi hanya di bagian wajahnya saja.

Yurishia-san menunjukkan ekspresi menderita yang pahit, yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tidak mungkin itu adalah ekspresi menahan kegembiraan karena dirawat oleh Kuruto-sama meski dia peniru. Seperti kata Akuri, dia pasti sedang menahan rasa sakit.

Jika itu Kuruto-sama yang asli, mustahil prosedur Seitai-nya akan disertai rasa sakit seperti itu.

"Bagaimana? Apa tidak sakit?" tanya si peniru.

Aku akan membiarkannya lanjut untuk melihat pergerakan lawan.

"Iya, rasanya sangat nyaman."

"Saya merasa terhormat jika Anda berkata begitu. Kalau begitu, sekarang saya akan merapikan bagian pinggang, ya."

Si peniru berkata begitu sambil menekan pinggang Yurishia-san dengan ibu jarinya—tepat pada saat itulah.

Aku menyaksikan kejadian yang menentukan.

Ini sudah cukup.

"Akuri, mari kita muncul di depan mereka."

"Oke nano!"

Aku pun melakukan Teleport bersama Akuri.

"Cukup sampai di situ!"

◆◇◆

"Begitulah kejadiannya."

Lise menjelaskan hal itu kepadaku—Yurishia, tapi sampai sekarang aku masih tidak percaya.

Mendengar penjelasan Lise sambil melihat Kuruto yang digulung seperti sushi dan tergeletak di lantai ini adalah seorang peniru.

Kami meminta Akuri kembali ke kamar sebentar, lalu kami berdua melakukan interogasi.

Lise sangat bersemangat untuk "Menginterogasi Kuruto palsu dan mencari tahu apa yang terjadi pada Kuruto asli," tapi aku benar-benar tidak bisa menganggap ini adalah peniru.

Mari kucoba sedikit.

"Kuruto, siapa petualang yang paling kamu hormati?"

Aku memulai dengan pertanyaan simpel. Jika dia asli, jawabannya tentu saja adalah aku.

Menanggapi pertanyaanku, Kuruto ini menjawab tanpa jeda sedetik pun.

"Golnova-san."

"…………Sepertinya dia memang peniru."

"Eeeeh!? Kenapa begitu!?"

Sial, pertanyaan tadi memberikan serangan mental padaku.

Mari kuatkan hati dan coba pertanyaan lain.

"Kuruto, saat pertama kali kita bertemu, apa permata yang kutemukan?"

"Topaz."

Benar. Tidak banyak orang yang tahu soal ini. Jadi dia memang yang asli?

"Yurishia-san, saya mohon. Tolong lepaskan tali ini."

Dengan mata berkaca-kaca, Kuruto ini memohon padaku. Jangan menatapku begitu, aku jadi ingin segera melepaskannya.

"Yuri-san, tetaplah sadar. Ini adalah peniru!"

"Bisa saja itu cuma delusimu, kan?"

"Akuri juga bilang kalau dia bukan Kuruto-sama."

Ugh, kalau cuma Lise mungkin masih bisa kuedit, tapi kalau Akuri yang menegaskan itu bukan Papa, itu berarti gawat.

Sekarang giliran Lise yang bertanya pada Kuruto di depan kami.

"Apakah Anda adalah kaki tangan Atelier Meister Vitukind?"

"Sekarang memang saya dipekerjakan, tapi saya bukan kaki tangannya."

"Lalu kenapa Anda mencabut rambutnya? Jika punya rambutnya, Anda bisa mengutuk Tuan Putri Ketiga Liselotte. Dengan begitu Isabella—keponakan Vitukind—akan diakui sebagai keluarga kerajaan, kan?"

"Bukan! Percayalah padaku, Lise-san!"

"Aku tidak sudi dipanggil Lise-san olehmu!"

Kalau Lise sampai bicara sejauh itu, sepertinya dia memang peniru.

"Kuruto... bukan, kamu bukan Kuruto ya. Seitai tadi sangat sakit, tahu. Apa maksudnya itu? Apa untuk mencabut rambut? Kalau kamu punya teknik yang sama dengan Kuruto, harusnya kamu bisa melakukan Seitai tanpa rasa sakit sambil mencabut rambut, kan?"

"Eh? Sakit? Bukan nyaman?"

"Jujur, sakitnya luar biasa sampai kupikir kesadaranku bakal hilang. Yah, pundakku memang terasa ringan jadi ada efeknya sih, tapi aku tidak mau merasakan rasa sakit itu lagi. Kamu bilang kemarin di bengkel kamu melakukan Seitai pada pemilik penginapan, kan? Apa kamu melakukan hal yang sama padanya?"

"Tidak mungkin. Saya kemarin... kemarin? Lho, kemarin?"

Sikap Kuruto mulai menjadi aneh.

"Apa itu benar-benar kemarin? Memaksa meremas pundak hanya akan menambah rasa sakit... Ngomong-ngomong, di mana Yukata-ku? Aku membuatkan Yukata untuk Luna-san, lalu eh? Ngomong-ngomong aku, hari ini pergi ke bengkel lalu apa yang terjadi di sana... kemarin, hari ini, kemarin—"

Tiba-tiba, Kuruto jatuh pingsan.

"Kuruto!"

Aku menarik tubuh Kuruto agar terduduk... dan saat itulah aku menyadarinya.

"Apa-apaan ini?"

Aku menyentuh wajah Kuruto, tapi teksturnya terasa keras seperti kayu. Ini bukan kaku mayat.

Sosok ini benar-benar sebuah boneka. Padahal saat dia menyentuhku tadi, aku jelas merasakan sensasi jari manusia, tapi sekarang jari-jari itu pun mengeras bagaikan kayu.

"Kalau tidak salah ingat, dalam daftar benda yang ditemukan di reruntuhan—pada bagian alat sihir yang belum berhasil diciptakan—ada material yang bisa berubah bentuk sesuai jumlah Mana, serta alat yang bisa membaca informasi jiwa dari helai rambut. Mungkinkah boneka ini dibuat menggunakan teknologi itu?"

"Maksudmu, ini boneka buatan Vitukind!? Padahal ingatan dan cara bicaranya benar-benar mirip Kuruto."

"Meski ada sedikit perbedaan detail, sih—"

Jika informasi jiwa yang dibaca adalah sejenis Mana, maka informasi jiwa Kuruto telah digandakan dari helai rambutnya, lalu dimasukkan ke dalam boneka ini.

Bukankah itu berarti boneka ini tercipta dari proses tersebut?

Hanya saja, meski jiwanya digandakan, kemampuan Kuruto yang luar biasa tidak bisa ikut tersalin.

Itulah sebabnya prosedur Seitai tadi terasa sangat menyakitkan.

Saat aku dan Lise sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing, Mimiko masuk ke dalam kamar.

"Tuan Putri! Yurishia-chan! Identitas asli Vitukind sudah ketahuan. Begitu aku bilang kalau Kuruto yang tadi itu palsu sambil mengancamnya dengan pasal pengkhianatan negara, pemilik penginapan itu akhirnya buka mulut... Eh, boneka apa ini? Kuruto-chan?"

"Iya, nanti kujelaskan. Lalu, bagaimana hasilnya?"

"Aku mengerti. Pemilik penginapan itu sepertinya meminta Vitukind untuk memalsukan sumber air panas."

"Memalsukan air panas?"

Mimiko menjelaskan bahwa belakangan ini sumber air panas di penginapan ini mulai mengering, dan suhu airnya pun semakin mendingin.

Khawatir tidak bisa melanjutkan bisnis penginapannya, sang pemilik pergi berkonsultasi kepada Vitukind.

Di sanalah Vitukind meminta imbalan berupa rambut milik Lise.

Meski merasa cemas karena tidak tahu rambut itu akan digunakan untuk apa, sang pemilik tidak punya pilihan selain bergantung pada Vitukind.

Rambut seharusnya bisa didapat dengan mudah di ruang ganti atau kamar tidur.

Begitulah pikir sang pemilik penginapan.

Namun, di sini terjadi hal yang tidak terduga. Penyebabnya adalah Kuruto.

Kuruto yang memiliki kemampuan bersih-bersih tingkat SSS telah menyapu bersih ruang ganti dan kamar-kamar.

Tentu saja, jangankan sehelai rambut, sebutir pasir atau debu pun tidak tersisa, sehingga sang pemilik gagal mendapatkan rambut tersebut.

"Tunggu, aku paham soal itu. Tapi air panasnya tadi pagi masih bisa digunakan seperti biasa, kan?"

"Itulah kekuatan Vitukind. Dia menyiapkan ramuan khusus. Katanya, jika bubuk ramuan itu dimasukkan ke dalam air, akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan panas, membuat suhu air meningkat dan memiliki kandungan mineral yang persis sama dengan air panas alami."

Bukankah itu namanya garam mandi?

Tapi ya, karena tidak perlu repot-repot memanaskan air, itu jauh lebih praktis daripada garam mandi biasa.

Memang benar suhu air kemarin dulu terasa dingin, dan kemarin meski Akuri mengeluh kepanasan, bagiku yang sudah dewasa suhu itu terasa pas.

"Tapi, apa pelanggan tidak akan menyadarinya?"

Atas pertanyaanku, Mimiko menggelengkan kepala.

"Masalahnya, kandungan airnya benar-benar identik dengan sumber air panas yang lama. Bukan cuma kandungannya, tapi bau, warna, sampai teksturnya pun sama persis. Suhu airnya juga dibuat sama dengan saat debit airnya masih lancar. Vitukind bilang itu bukan cuma mirip, tapi memang 'sama'."

"Sama persis? Apa hal semacam itu mungkin dilakukan?"

Mimiko mengangguk menanggapi pertanyaan itu.

"Iya. Ini hanya dugaanku saja, tapi—Vitukind adalah seorang Copyist."

◆◇◆

Saat aku tersadar, aku, Kuruto, sudah dalam keadaan terduduk di kursi dengan tubuh terikat.

Talinya sepertinya sangat kokoh, tidak ada tanda-tanda akan putus.

Jika aku berusaha sedikit, mungkin hanya lenganku yang bisa digerakkan, tapi aku tidak tahu di mana letak simpul talinya.

"Oya, kamu sudah bangun ya, Kuruto-kun."

"……Vitukind-san."

Di depanku berdiri Vitukind-san. Namun, sosoknya berbeda dengan yang kukenal selama ini.

Vitukind-san yang kukenal terasa rapuh, sering merendahkan diri sendiri, dan aku merasa ada kemiripan antara dia denganku.

Namun, Vitukind-san di hadapanku sekarang tampak sangat percaya diri hanya dengan melihatnya saja.

Inilah sosok Vitukind-san yang ditemui oleh Luna-san.

"Vitukind-san? Panggil aku dengan imbuhan '-sama'. Kamu itu kan bawahanku."

"Apakah ini benar-benar Anda? Tapi, tadi—"

Aku melihat ke sekeliling—dan di sana ada wajah-wajah yang kukenal.

Penjaga gerbang, para peneliti yang bekerja, bahkan ada sosok Vitukind-san yang lain... tapi, eh?

Mereka tidak mati. Jika diperhatikan baik-baik, mereka semua adalah... boneka?

"Ah, kamu menyadarinya ya. Buatannya bagus, kan? Luar biasa memang warisan peradaban Lapital ini. Hanya dengan mengalirkan Mana, kulit manusia bisa direproduksi dengan sempurna. Lalu jika aku menggandakan jiwa manusia dan memasukkannya, maka jadilah boneka duplikat. Mereka akan mematuhi perintahku sepenuhnya, bahkan ingatan dan kemampuannya pun bisa ditiru. Hebat, kan?"

"Jadi, semua orang di bengkel ini adalah boneka!?"

"Iya. Wajar kalau kamu terkejut. Meski disebut boneka, selama Mana dialirkan, bukan cuma permukaan kulit, tapi organ dalam dan pembuluh darahnya pun benar-benar seperti manusia. Boneka tipe wanita bahkan bisa hamil, lho. Walaupun aku tidak tahu apa bayinya bisa lahir atau tidak, karena tubuh boneka itu tidak bisa bertahan cukup lama sampai waktu persalinan. Yah, aku pernah menghamili wanita asli menggunakan boneka pria, tapi begitu boneka itu berhenti beroperasi, janin di dalam rahim wanita itu pun ikut mati. Sepertinya punya anak itu mustahil."

"Sampai melakukan eksperimen seperti itu..."

Boneka-boneka yang mirip aslinya ini, bengkel yang kosong, dan kepribadian Vitukind-san yang sangat berbeda.

Semuanya membuktikan bahwa perkataannya adalah kebenaran.

"Apa yang akan Anda lakukan padaku?"

"Tentu saja, hanya ada satu hal yang dilakukan orang sepertiku saat mengungkapkan segalanya. Kamu harus mati. Wahai mata-mata dari Anggota Ketiga Penyihir Istana, Mimiko."

"——!?"

Sudah ketahuan?

"Jangan kaget begitu. Sudah kubilang kan kalau boneka juga menggandakan ingatan? Begitu aku membuat boneka duplikatmu, semua rahasiamu terbongkar. Berasal dari Desa Haste di Pegunungan Scene, sebuah desa pedesaan biasa. Memiliki Combat Aptitude peringkat G. Benar-benar tidak berguna dalam pertarungan, tapi di sisi lain, kecocokan lainnya berada di peringkat C dan B. Tidak punya keahlian khusus yang menonjol, tapi sebagai tenaga serabutan, kamu adalah seorang all-rounder... begitu, kan? Itu semua adalah informasi yang diberikan oleh boneka duplikatmu."

"Rekanmu Lise, Yurishia, Mimiko si Anggota Ketiga Penyihir Istana, serta putrimu Akuri sedang menunggu di penginapan," lanjutnya.

Semua informasi yang kuketahui telah bocor sepenuhnya. Kalau begini, semuanya dalam bahaya.

"Yah, tadinya aku mau membunuhmu... tapi aku berubah pikiran. Karena Combat Aptitude-mu G, meskipun kamu melawanku, kamu bukan tandinganku. Dan meski tidak punya kemampuan menonjol, jika kamu bisa mengerjakan segala hal di luar pertarungan sesempurna ini, kamu adalah pilihan terbaik sebagai tenaga serabutan. Untuk membuat boneka duplikat, aku butuh helai rambut yang diambil dari manusia hidup dalam waktu kurang dari satu hari. Ditambah lagi, umur boneka itu paling lama hanya tiga bulan. Semakin tinggi kemampuannya, semakin pendek umurnya. Boneka duplikatku saja akan rusak dalam lima hari. Boneka di sana itu sudah yang kesepuluh. Saking jeniusnya aku, memang merepotkan ya. Yah, wajar saja, karena hanya aku yang bisa membuat boneka duplikat."

"……Anda salah. Teknologi untuk menciptakan boneka duplikat ini dibuat oleh orang-orang peradaban Lapital. Ini bukan kekuatan Vitukind-san—"

Suara tamparan keras bergema. Vitukind-san menampar pipiku.

"Sudah kubilang panggil aku '-sama', bangsat! Akulah yang membangkitkan warisan peradaban Lapital ke dunia ini. Aku ini hebat. Alat Transfer, tanah penyerap Mana, dan boneka duplikat ini, semuanya dibuat olehku, sang Copyist!"

"Copyist?"

Mendengar istilah yang asing bagiku, aku memiringkan kepala.

"Kamu belum pernah mendengarnya? Copyist itu adalah—"

◆◇◆

"Copyist itu adalah profesi yang disandang oleh ayah Vitukind. Ngomong-ngomong, nama ayahnya juga Vitukind. Di keluarganya, putra sulung secara turun-temurun akan mewarisi nama Vitukind."

Aku—Yurishia dan yang lain sedang mendengarkan penjelasan Mimiko sambil berlari menuju bengkel Vitukind.

"Keahliannya adalah membuat replika dari apa pun yang dilihat atau disentuh. Sepertinya dia tidak sampai membuat replika manusia, tapi selain itu, dia bisa membuat apa saja. Pedang buatan empu ternama, hidangan ajaib koki kelas satu, bahkan anggur yang telah difermentasi puluhan tahun, Vitukind bisa menciptakan replika yang sama persis. Benar-benar seperti sihir."

"Bukankah itu kemampuan yang luar biasa?"

"Iya. Karena dia sangat terkenal sebagai Copyist di Kekaisaran, saat aku menyelidiki tentang Vitukind, informasi tentang ayahnya pun segera kudapatkan. Beserta akhir hidupnya yang tragis."

Mimiko berbicara sambil menatap ke arah langit.

"Apa yang terjadi pada ayahnya?" tanya Lise.

"Dunia tidak mengakuinya, sama seperti Yurishia-chan barusan. Yah, itu wajar saja. Siapa pun pasti akan marah jika karya terbaik yang mereka buat dengan susah payah ditiru begitu saja dengan mudah. Jangankan gunjingan di belakang, ada juga orang-orang yang terang-terangan menghinanya. Lalu, ayahnya—"

◆◇◆

"Dia bunuh diri. Tepat pada hari ulang tahunku yang kelima belas. Sampai akhir hayatnya, Ayah menyimpan dendam pada dunia. Melihat cara kematian Ayah, aku bersumpah di hadapan mendiang Ayah. Bahwa aku akan menunjukkan kekuatan seorang Copyist kepada dunia. Lalu aku berpikir, aku dihina karena aku menduplikasi sesuatu yang sudah diketahui orang lain. Tapi jika aku menduplikasi warisan kuno yang tidak diketahui siapa pun, maka itu akan menjadi penemuanku sendiri. Dan Kuruto-kun, aku telah menyelidiki reruntuhan peradaban Lapital dan menemukan ruangan kecil yang kamu temukan itu."

Vitukind-san—bukan, Vitukind bercerita seperti itu.

"Teknologi orang kuno memang luar biasa. Butuh tujuh tahun lagi untuk menciptakan alat pembaca data jiwa dari rambut, tiga tahun untuk mereproduksi alat Transfer, dan butuh waktu sepuluh tahun lebih untuk menciptakan material yang bisa berubah bentuk yang tadinya kupikir paling mudah."

"Itu memang hebat—tapi kalau begitu, bukankah Anda bisa melaporkan penemuan warisan di reruntuhan itu sebelum mulai membuatnya—"

"Kalau begitu kalian pasti akan menghinaku lagi! Bilang kalau aku hanyalah keluarga pembuat barang tiruan!"

Vitukind berteriak dan menampar pipiku yang sebelah lagi.

"Hah, tidak ada gunanya menyiksamu lebih dari ini. Kamu akan kusekap di lantai atas bersama yang lainnya."

"Yang lainnya?"

"Iya, orang-orang yang menjadi sumber dari boneka-boneka di sini."

Syukurlah, semuanya masih hidup.

"Menyerahlah. Begitu Mimiko-san dan yang lain menyadari aku disekap di sini, mereka pasti akan datang. Jika itu terjadi—"

"Mereka tidak akan sadar. Sudah kubilang kan? Aku sudah membuat boneka duplikatmu. Saat ini dia pasti sedang melakukan Seitai pada Putri Liselotte. Aku akan menyuruhnya mengambil rambut sang putri, lalu aku akan menyerahkannya pada Kakak. Lalu boneka duplikatmu akan melapor bahwa tidak ada masalah denganku. Kalian akan kembali ke bengkel begitu saja, jadi aku hanya perlu menyuruh boneka itu datang ke bengkel ini sesekali untuk melapor... Yah, melihat kemampuanmu, sepertinya umur boneka itu akan bertahan sekitar satu bulan. Tidak akan ada yang sadar kalau kamu telah tertukar. Teman-temanmu, putrimu, tidak ada satu pun yang tahu—"

Tepat saat Vitukind tertawa, kejadian itu terjadi.

"Kuruto, kamu di dalam!?"

"Kuruto-sama, kalau Anda di sana, tolong jawab!"

Suara Yurishia-san dan Lise-san terdengar dari arah lantai satu.

"Mustahil! Apa yang dilakukan boneka duplikat itu!?"

Vitukind berseru dengan wajah penuh kepanikan. Syukurlah, mereka berdua berhasil menyadari kalau boneka duplikatku itu palsu.

"Di si—"

Aku menarik napas dalam-dalam untuk berteriak, tapi Vitukind segera membungkam mulutku.

"Oups, gawat kalau kamu berteriak. Untungnya, ini adalah ruang rahasia yang letaknya jauh di dalam laboratorium. Sebelum mereka menyadari tempat ini, aku akan keluar lewat jalan pintas. Setelah itu, biarlah rumah ini terbakar habis bersama kalian."

Vitukind berkata demikian sambil mengambil alat sihir pengeluar api dan botol berisi cairan, lalu menyusunnya di atas meja.

Kemungkinan isinya adalah cairan yang mudah terbakar.

Jika tutupnya dibuka, cairan itu akan menguap dan memenuhi ruangan.

Jika alat sihir api digunakan dalam kondisi seperti itu, akibatnya akan sangat fatal.

Benar—

Aku meronta, dan saat ikatannya sedikit melonggar, aku memasukkan tanganku ke dalam lengan baju.

Sesaat kemudian, suara bising yang memekakkan telinga bergema di seluruh ruangan, bahkan ke seluruh penjuru bengkel.

"Apa-apaan ini!? Suara apa ini sebenarnya!?"

Itu adalah alat sihir alarm pengaman yang kubuat tadi.

"Hentikan! Sekarang juga!"

Vitukind berteriak sambil memukul wajahku.

"Di sini, ya!"

Sesaat setelah suara Yurishia-san terdengar, dinding di depanku terbelah dan roboh.

Dari balik dinding itu, muncul Yurishia-san dan Lise-san.

"Jangan bergerak! Kalian tidak peduli apa yang terjadi pada orang ini!?"

Vitukind menodongkan pisau ke wajahku.

"Lho? Kalau Kuruto-sama yang asli, beliau sudah kami amankan, kok."

Bersamaan dengan kata-kata Lise-san itu, sosokku muncul di depan Lise-san. Ini adalah—begitu ya, jadi begitu caranya.

Sepertinya dia tidak bisa melihat sosokku yang ada di sampingnya, sehingga Vitukind mundur selangkah menuju lorong rahasia.

"Yurishia-san, sekarang!"

"Dimengerti!"

Sesaat setelah Yurishia-san melompat, Lise-san membatalkan ilusi dari Kochou.

Sosok palsuku yang berada di samping Lise-san menghilang, dan Yurishia-san menebas tali pengikatku yang asli.

Lise-san pun berbicara dengan nada yang sedikit bangga.

"Bagaimana? Inilah kekuatan dari sebuah kepalsuan yang sejati!"

"Kepalsuan mana ada yang sejati. Tapi, kerja bagus."

Akhirnya aku bebas.

"Terima kasih, Yurishia-san, Lise-san."

"Sama-sama."

"Syukurlah Anda selamat."

Aku benar-benar senang. Aku senang mereka menolongku, tapi yang membuatku paling bahagia adalah mereka berhasil menyadari kalau boneka itu palsu dan datang menjemputku.

"Mustahil! Aku jelas mendengar dari boneka duplikat Kuruto tentang kekuatan khusus yang dimiliki wanita bernama Lise itu! Aku dengar dia bisa sihir pendukung dan sihir cahaya, serta mahir memanah. Tapi apa-apaan alat sihir itu!? Aku tidak pernah dengar ada benda luar biasa semacam itu—"

"Eh? Apa alat sihir ini langka? Ini padahal produk gagal buatanku."

"Apa... katamu!? Itu... produk gagal...?"

Suara Vitukind mengecil karena syok. Sepertinya bagi seorang Atelier Meister, meluncurkan produk gagal ke dunia adalah hal yang dianggap aneh, ya?

Yurishia-san dan Lise-san menatap tajam ke arah Vitukind yang sedang kalut.

"Nah, bersiaplah! Beraninya kamu membuatku merasakan pengalaman menyakitkan seperti tadi."

"Benar sekali. Membuat tiruan Kuruto-sama adalah hal yang sama sekali tidak bisa dimaafkan! Sepertinya tidak ada boneka Kuruto lain di sini, ya."

Lise-san berkata sambil mewaspadai sekeliling. Sepertinya beliau takut diserang oleh peniruku yang lain.

Benar, aku harus segera memberitahu mereka soal itu.

"Katanya di atas langit-langit ini ada orang-orang yang sedang disekap."

Karena aku mengatakan hal itu, perhatian Yurishia-san dan Lise-san teralihkan ke arah langit-langit. Vitukind tidak melewatkan kesempatan itu dan segera berlari menuju dinding yang memiliki lorong rahasia, tapi—

"Sayang sekali, ya."

Mimiko-sama muncul dari sana.

"Mimiko, aku pikir kamu tiba-tiba menghilang tadi, ternyata kamu masuk dari mana?"

"Begitu aku yakin bisa menangkap Vitukind, aku segera menyuruh orang mencari lorong rahasia. Aku sudah menduga dia pasti akan menggunakannya jika keadaan terdesak. Meski aku tidak menyangka jalannya akan tembus sampai ke sini."

Mimiko-san hebat sekali. Dalam waktu singkat sejak aku ditangkap, dia bahkan berhasil menemukan lorong rahasianya.

Seolah sudah menyerah, Vitukind terduduk lemas di tempatnya.

"Sial, kenapa bisa jadi begini? Padahal aku seharusnya benar! Semuanya seharusnya benar!" teriak Vitukind.

Tapi, tidak ada manusia yang selalu benar dalam segala hal.

"Menyerahlah dan bersikaplah manis. Yah, paling tidak kamu akan dijatuhi hukuman mati karena mencoba mencelakai keluarga kerajaan."

"Keluarga kerajaan!? Benar juga, Yurishia-san, apakah Tuan Putri Liselotte baik-baik saja?"

"Ah... soal itu, itu hanya bohong. Itu bohong buatan Mimiko untuk memancing pergerakan Vitukind. Sebenarnya Tuan Putri Liselotte tidak datang ke sini."

"Eh? Jadi begitu!? Harusnya kalian beritahu aku dari awal."

"Ada pepatah bilang, untuk menipu musuh, kita harus menipu teman sendiri dulu, kan?"

Mungkin itu benar. Faktanya, jika aku diberitahu, semua rahasia itu pasti akan terbongkar saat boneka duplikatku diciptakan.

"Sepertinya banyak yang harus kita tanyakan sebelum hukuman mati dilaksanakan. Tapi yang utama adalah menyelamatkan orang-orang yang disekap di gedung ini, kan?"

Tepat saat Mimiko mengatakannya...

"Aku tidak akan mati sendirian. Meledaklah kalian semua!"

Vitukind berteriak sambil menekan kuat tombol yang disembunyikannya.

Bersamaan dengan itu, api menyembur keluar dari alat sihir di atas meja.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close