Chapter 3
Tangan yang Tak Mencapai Tuhan
Keesokan
paginya.
Aku—Kuruto,
memutuskan untuk berangkat menuju bengkel Vitukind-san.
Rencananya
aku akan bertemu dengan pemilik penginapan di dalam bengkel. Karena aku tidak
akan melakukan pekerjaan bengkel yang sebenarnya, Michelle-san pun diputuskan
untuk libur.
Sebenarnya
kami tidak bekerja dalam satu paket tim, tapi mungkin Vitukind-san ingin
bersikap tenggang rasa. Michelle-san dianggap mengambil cuti berbayar dan sudah
menerima upah untuk dua hari kemarin.
Dia
benar-benar orang yang sangat baik.
Tepat saat aku
melewati Kedai Teh Ashiyu, Luna-san memanggilku.
"Kuruto-san,
selamat pagi."
"Selamat
pagi, Luna-san. Apa hari ini Anda libur?"
"Iya.
Kemarin adalah hari pemeriksaan sumber air, jadi pemandian kaki tidak bisa
digunakan. Akhir-akhir ini suhu airnya memang menurun."
"Tapi
sekarang airnya malah jadi terlalu panas dan tidak bisa dinikmati dengan
santai. Makanya aku berpikir untuk memasang peralatan pendingin suhu air,"
lanjut Luna-san menjelaskan.
Saat aku datang
sebelumnya, aku memang merasa airnya agak suam-suam kuku, ternyata itu
alasannya.
Kalau tidak salah
ingat, Akuri juga sempat bilang kalau airnya panas.
"Ngomong-ngomong
Kuruto-san, hari ini Anda memakai pakaian yang unik, ya."
"Iya, ini
pakaian yang disebut Yukata. Ada sedikit alasan di baliknya."
Benar, yang
kupakai hari ini adalah pakaian tradisional dari negara asal Danzo-san.
Karena suatu
alasan, hari ini aku harus pergi ke bengkel dengan pakaian ini.
"Pakaian
yang aneh... tapi kelihatannya mudah dilepas dan sangat cocok untuk merendam
kaki. Desainnya simpel jadi sepertinya mudah dijahit juga..."
"Kuruto-san,
bisakah Anda mengajariku cara membuat pakaian itu?" tanya Luna-san
antusias.
"Tentu saja
boleh. Ah, kalau mau, mumpung masih ada waktu, bagaimana kalau kita coba
membuatnya sekarang?"
"Mau
banget!"
Kami membeli kain
di penjahit yang sudah buka sejak pagi, dan aku segera mengajari Luna-san cara
membuat Yukata di tokonya.
Sekalian saja aku
menjahit beberapa jenis Yukata.
Setelah lewat
beberapa lama dan waktunya sudah tepat, aku pun menuju ke bengkel.
Pada akhirnya,
kemarin aku tidak sempat latihan Seitai sama sekali. Apa benar tidak
apa-apa?
Saat hampir
sampai di bengkel, aku mulai merasa sedikit cemas.
Tak lama kemudian
aku tiba di depan bengkel, namun sosok penjaga gerbang yang biasanya berdiri di
sana tidak terlihat.
Apa hari ini dia
libur? Pikirku sambil
melangkah masuk ke dalam.
Kemarin
saat aku masuk, Vitukind-san langsung datang menyambut, tapi hari ini dia tidak
menampakkan diri.
Apa dia
sedang sibuk bekerja di suatu tempat?
Setelah
menunggu beberapa saat dan dia tak kunjung datang, aku mulai mencari ke
perpustakaan lantai satu, ruang makan, dapur, hingga gudang bawah tanah. Namun, Vitukind-san tetap tidak ada.
"Tanya di
lantai dua saja, deh."
Aku
bergumam sendiri lalu menaiki tangga.
Di
departemen produksi lantai dua, para pekerja seharusnya sedang merakit alat
sihir—atau begitulah seharusnya.
Namun, meski
kemarin dulu ada begitu banyak orang, sekarang tak ada satu pun jiwa di sana.
Di atas meja
tergeletak komponen alat sihir yang pengerjaannya baru setengah jalan.
Ngomong-ngomong, ini alat apa, ya?
Aku mencoba
memeriksa alat sihir tersebut.
Semua alat
sihirnya sangat sederhana.
Hampir semuanya
bertipe tongkat pendek dengan Magic Crystal yang tertanam di ujungnya.
Ada alat yang
mengeluarkan air, api, menghasilkan petir kecil, pengeras suara, hingga alat
sihir untuk membekukan benda.
Semuanya adalah
barang yang umum digunakan, tapi entah kenapa hanya alat sihir pembeku yang
memiliki performa lebih tinggi dibanding yang lain.
Alat pengeras
suara ini, sepertinya sama dengan yang digunakan oleh kakak wasit merangkap
komentator di turnamen bela diri, atau yang digunakan Lise-san waktu itu.
"Ini kalau
cara merakitnya diubah sedikit, sepertinya bisa jadi buzzer peringatan.
Sekalian saja—"
Aku mengambil
alat sihir pengeras suara yang belum selesai dirakit itu dan mencoba
memodifikasinya.
Sip, sesuai
bayanganku.
"Eh, bukan
waktunya melakukan ini. Kalau tidak cepat, pemilik penginapan akan segera
datang."
Aku bergegas
menuju lantai tiga, namun di sana pun tidak ada siapa-siapa.
Ada bekas tanda
seseorang tidur di sana sampai kemarin, tapi semua ruangan tertata rapi tanpa
barang yang berantakan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Rasanya seperti
cerita horor saat mereka semua menghilang dalam satu malam. Tepat saat itu...
Terdengar suara
sesuatu yang jatuh dari lantai atas.
"Apa ada
orang di sana!?"
Aku bergegas naik
ke lantai empat.
Pintu yang menuju
laboratorium terbuka, dan di dalamnya aku melihat sesosok bayangan yang
terkapar.
"Vitukind-san!?"
Orang yang jatuh pingsan itu adalah Vitukind-san. Kenapa bisa begini!?
"Anda tidak
apa-apa? Bertahanlah. Akan segera kuberikan obat—"
"A... ah, Kuruto-kun. Syukurlah kamu datang. Maaf,
tadinya aku ingin menjemputmu di gerbang, tapi tubuhku lemas sekali."
"Jangan bicara dulu. Cepat, obatnya—"
"Tidak, obat tidak akan berguna... Ini adalah umurku. Sesuatu yang tidak bisa diatasi
dengan obat."
"Umur?
Tapi..."
"Penjaga
gerbang, pekerja di bawah, mereka tumbang satu per satu. Kupikir sebentar lagi
giliranku... uhuk."
Di tengah
kalimatnya, Vitukind-san memuntahkan darah.
Penyakit
yang disertai muntah darah dan membuat tubuh lemas.
Berbagai
kemungkinan penyakit terlintas di kepalaku, namun aku tidak bisa menentukan
jenisnya.
Tidak, penyakit
ini tidak cocok dengan satu pun pilihan dari sekian banyak referensi yang
kupunya.
"Permintaanku...
apa sudah kamu penuhi?"
"...Iya.
Walau saya tidak mengerti maksudnya, pakaian ini disebut Yukata. Saya bisa
menyimpan banyak hal di dalam lengan bajunya."
Kemarin, hal yang
diminta Vitukind-san padaku adalah menyiapkan pakaian yang bisa menyembunyikan
banyak benda di dalamnya untuk hari ini.
Meski aneh, aku
memutuskan memakai Yukata yang diajarkan Danzo-san.
Yukata memiliki
bagian menggelembung di lengan bajunya, sehingga benda seukuran dompet bisa
dimasukkan dengan mudah ke sana.
"Begitu ya,
pantas saja tekstur kainnya terasa asing bagiku."
Dia menilai
berdasarkan sentuhan... ternyata benar, dia sudah kehilangan penglihatannya.
Kenapa bisa
secepat ini—
"Kuruto-kun,
terakhir, biarkan aku mengatakan satu hal... Aku benar-benar minta maaf."
Sesaat kemudian,
gelombang kejut menjalar ke seluruh tubuhku.
Gawat, ini pasti
dari mesin penghasil petir yang dibuat di lantai bawah.
Kesadaranku
terasa seperti akan terenggut dalam sekejap.
Saat itu, pintu
di bagian dalam terbuka dan sesosok bayangan muncul dari sana.
"Kenapa..."
Aku hanya bisa
bergumam saat melihat sosok yang muncul dari dalam tersebut.
◆◇◆
"Haa...
kenapa aku harus pakai baju begini—"
Melihat cermin,
aku—Yurishia, bergumam dengan nada muak.
Yang kukenakan
sekarang adalah gaun.
Mimiko memesan
gaun mewah yang mirip dengan pakaian Lise melalui pesanan kilat. Sebenarnya Kuruto
bisa menyiapkannya lebih cepat, tapi kali ini kami tidak boleh membiarkannya
tahu.
Karena Kochou
tidak bisa menipu indra peraba, aku harus memakai pakaian yang cukup bagus agar
tidak dicurigai.
"Lho,
bukankah Yurishia-san juga calon dari klan Ishisema? Posisi yang dekat dengan
keluarga kerajaan di negeri ini. Seharusnya Anda pernah memakai gaun,
kan?"
"Baru-baru
ini aku dipaksa memakainya. Itu benar-benar menyebalkan," jawabku sambil
mengingat saat aku berada dalam status tahanan rumah.
Aku menjadi
petualang karena membenci kehidupan seperti itu, tapi kenapa sekarang aku malah
harus berakhir memakai baju begini lagi?
Rasanya aku ingin
menghancurkan pepatah yang bilang kalau nasib itu berputar.
"Anggap saja
ini ujian yang diperlukan agar Kuruto-sama bisa memberikan Seitai
padamu. Pada akhirnya, aku pun tidak bisa mendapatkannya, kan?"
Liselotte berkata
begitu sambil menggunakan Kochou padaku.
Melalui cermin,
wajahku berubah menjadi perpaduan antara wajah Lise dan wajahku. Lalu, rambutku
berubah menjadi warna emas.
Bentuk tubuhku
tetap seperti aslinya, dengan kulit putih.
Dengan begini, Kuruto
pun pasti tidak akan sadar kalau ini aku.
Anak itu memang
tajam di hal-hal aneh, tapi soal beginian dia sangat peka.
Yah, aku yang
tidak menyadari penyamaran Kuruto sebagai perempuan selama ini juga tidak punya
hak untuk berkomentar sih.
"Lalu, aku
dan Akuri akan mengawasi dari celah di sana. Jangan berbuat macam-macam,
ya."
"Tunggu,
kalau Lise sih terserah, tapi kamu mau memperlihatkannya pada Akuri
juga!?"
"Iya.
Dengan begitu aku rasa pengendalian dirimu akan bekerja."
"Aku
bukan mesum yang bakal hilang kendali sepertimu!" seruku kesal.
Tapi dia
malah membalas, "Kalau begitu tidak ada masalah jika Akuri melihatnya,
kan? Lagipula aku ingin memperlihatkan sosok Papa yang sedang bekerja
padanya."
Memang
tidak ada masalah, tapi rasanya menjengkelkan karena seolah aku tidak
dipercaya.
"Tapi,
ini sudah telat. Harusnya sudah waktunya, kan?"
Sudah sepuluh
menit kami menunggu kedatangan Kuruto dan yang lain.
Sampai
sekarang Kuruto belum juga datang.
Padahal dia bukan
tipe orang yang akan membiarkan keluarga kerajaan menunggu.
Pemilik
penginapan sudah memberitahu kami sejak kemarin bahwa mereka memutuskan untuk
menyewa tukang urut baru.
Mimiko sudah
menyampaikan bahwa "Meskipun pendatang baru, jika dia berbakat maka tidak
masalah untuk melayani Tuan Putri. Namun, untuk berjaga-jaga, kali ini Kagemusha
(pemeran pengganti) Tuan Putri yang akan menerima pengobatannya."
Karena dia tahu
yang dihadapi bukan sang putri langsung, apa dia pikir tidak apa-apa untuk
terlambat?
Tepat saat aku
berpikir begitu, terdengar suara pemilik penginapan dari balik pintu.
"Tuan Putri,
maaf membuat Anda menunggu. Saya telah membawa tukang urutnya."
Sepertinya
dia berlari ke sini, terdengar dari suaranya yang terengah-engah.
"Silakan
masuk."
Suara terdengar
dari mulutku.
Itu adalah suara
yang diciptakan oleh Kochou, suaranya terdengar sedikit lebih dewasa
dibanding Lise.
Karena ini suara
perpaduan antara aku dan Lise, mari kusebut saja suara Leeli.
Aku sempat
berpikir saat menggunakan alat sihir pengubah suara dulu, tapi mendengar suara
orang lain keluar dari mulutku sendiri rasanya benar-benar aneh.
Pemilik
penginapan membuka pintu, dan Kuruto masuk bersama dengannya.
Tadi saat pergi
dia memakai Yukata, tapi sekarang dia memakai baju lain.
Apa dia meminjam
baju di bengkel?
"Nama saya Kuruto,
yang akan bertanggung jawab atas prosedur kali ini. Mohon bantuannya."
Entah ke mana
perginya rasa cemasnya sampai tadi pagi, Kuruto menyapaku dengan wajah yang
sangat segar.
"Mohon
bantuannya juga."
Bersamaan dengan
suara Leeli, aku membungkukkan badan.
Lalu, aku
memunggungi Kuruto.
"Kalau
begitu, silakan sentuh bagian mana pun yang Anda suka."
Mendengar kalimat
bodoh dari Leeli itu, aku hampir saja menyemburkan tawa.
Kalau pemeriksaan
fisik ya biasanya punggung atau pundak, dong!
Ini malah
membuatku terdengar seperti orang mesum!
Namun, Kuruto
tidak bergeming dan berkata, "Kalau begitu, saya permisi," lalu
menempelkan tangannya di punggungku.
Sentuhan jari Kuruto
terasa di punggung.
"Pundak Anda
sepertinya sangat kaku, ya."
"Iya, karena
dadaku besar jadi pundakku kaku dan aku merasa kesulitan."
Itu adalah dialog
yang penuh prasangka Lise terhadapku.
Lagipula,
kalau bicara begitu Kuruto pasti bakal bingung, kan?
"Begitu
ya. Ah, Tuan Putri mahir dalam ilmu pedang, ya?"
"Anda bisa
tahu?"
"Iya. Dari
kondisi ototnya, saya bisa tahu kira-kira bela diri apa yang Anda kuasai."
Kuruto membalas
dengan alami.
Hebat juga, dia
sama sekali tidak goyah oleh pelecehan seksual dari Lise.
Kuruto
hari ini benar-benar tampak seperti pria yang kompeten.
Sampai-sampai aku
berpikir jangan-jangan ini adalah ilusi buatan Lise.
Eh, tapi kalau
ilusi kan tidak bisa disentuh, jadi ini pasti dia yang asli.
"Kalau
begitu, saya akan segera memulai prosedurnya. Saya akan merapikan dari tulang
punggung, ya."
"Mohon
bantuannya."
Begitulah, Seitai
dari Kuruto pun dimulai... dimulai... Aduh, Sakit!
Sakit
sakitsakitsakitsakit!
Apa-apaan rasa
sakit yang luar biasa ini!?
Rasa sakit yang
tidak wajar menyerang seluruh tubuhku.
"Bagaimana?
Apa tidak sakit?"
"Iya,
rasanya sangat nyaman."
Nyaman mata lu
peyang!
Ini benar-benar
sakit.
Aku ingin
berteriak. Aku tahu tidak boleh berteriak, tapi air mataku sampai keluar.
Apa-apaan ini,
apa aku akan mati hari ini?
Apa aku akan
dibunuh oleh Seitai-nya Kuruto?
"Saya merasa
terhormat jika Anda berkata begitu. Kalau begitu, sekarang bagian
pinggang—"
Kuruto mengatakan
sesuatu, tapi tidak bisa masuk ke kepalaku.
Eh? Apa Kuruto
sepayah ini dalam melakukan Seitai!?
Atau, apakah Seitai
dari orang yang benar-benar ahli itu memang sesakit ini!?
Aku sudah tidak
tahu lagi mana yang benar.
Pokoknya, aku
sudah mengerahkan seluruh tenagaku hanya agar tidak berteriak.
Rasanya tadi
seperti ada rasa sakit yang menjalar di kepalaku, tapi aku tidak yakin.
Tepat pada saat
itulah...
"Cukup
sampai di situ!"
Sebuah suara
terdengar.
Bukan suara
Leeli, ini benar-benar suara Lise yang asli.
"Lho? Kenapa
Lise-san ada di sini? Bersama Akuri juga."
Lise menyerobot
masuk ke dalam ruangan bersama Akuri.
"Tolong berdiri, Yurishia-san."
"Eh!?" seru kami berdua bersamaan.
Sesaat kemudian, Lise
membatalkan ilusiku.
"Yurishia-san!?
Eh? Jadi sosok asli Tuan Putri Liselotte itu Yurishia-san!?"
Kuruto
terkejut dan berseru keras.
Apa-apaan ini,
rencananya jadi kacau balau.
"Lise, apa
yang kamu pikirkan sampai berbuat begini?"
"Yurishia-san,
tolong diamlah."
Lise berkata
begitu, lalu dia malah mengarahkan ujung pedang Kochou miliknya kepada Kuruto.
"Kamu,
barusan kamu mencabut sehelai rambut Yurishia-san, kan?"
"Eh?"
Mencabut rambut?
Kalau
diingat-ingat, tadi memang rasanya ada rasa sakit yang menjalar di kepalaku.
Jadi itu rasa
sakit saat rambutku dicabut.
"Kuruto,
sebenarnya untuk apa kamu melakukan hal itu?"
"Yurishia-san,
apa yang Anda bicarakan?"
Lise menatapku
dengan tajam saat mengatakannya.
"Eh?"
Kenapa malah aku
yang dimarahi?
Aku
benar-benar tidak paham. Namun,
Lise kembali menatap Kuruto dengan tajam.
"Jawab
pertanyaanku."
"Maaf,
rambut Tuan Putri Liselotte sangat indah... Terlepas dari itu, kenapa kalian
berdua ada di sini?"
"Aku tidak
punya kewajiban untuk menjawabmu. Aku akan memberikan satu pertanyaan
lagi."
"Lise-san,
tunggu sebentar. Jawab juga pertanyaanku."
Kuruto tampak
panik dan gelagapan.
Memang tindakan Kuruto
itu aneh, tapi yang paling aneh adalah Lise.
Lise tidak pernah
sekalipun menunjukkan permusuhan sebesar ini kepada Kuruto.
Bukan karena dia
marah karena aku merasa kesakitan, kan?
Lalu, kenapa?
"Lise, coba
jelaskan padaku agar aku mengerti—"
"Di mana Kuruto-sama
yang asli?"
...Apa katamu?
◆◇◆
Aku—Lise, sedang
menunggu dengan tidak sabar saat Kuruto-sama seharusnya masuk.
Tepat setelah
melewati waktu yang dijadwalkan, terdengar suara pemilik penginapan ini.
"Silakan
masuk."
Begitu aku
memberikan halusinasi pendengaran dengan kekuatan Kochou, Kuruto-sama
yang mengenakan pakaian yang belum pernah kulihat masuk mengikuti pemilik
penginapan.
"Nama saya Kuruto,
yang akan bertanggung jawab atas prosedur kali ini. Mohon bantuannya."
"Mohon
bantuannya juga."
Yurishia-san
membungkuk mengikuti suaraku, tapi aku merasa ada yang aneh.
Jika itu Kuruto-sama
yang asli, beliau seharusnya meminta maaf terlebih dahulu karena telah membuat
kami menunggu.
Apa
beliau sedang sangat tegang?
Kuruto-sama mulai
bersiap untuk palpasi.
"Kalau
begitu, silakan sentuh bagian mana pun yang Anda suka."
Seperti biasa aku
mengatakan hal itu, Kuruto-sama mengangguk sambil tersenyum, "Kalau
begitu, saya permisi," lalu menyentuh punggung Yurishia-san.
"Pundak Anda
sepertinya sangat kaku, ya."
"Iya, karena
dadaku besar jadi pundakku kaku dan aku merasa kesulitan."
Aku memprediksi Yurishia-san
akan menjawab seperti itu, lalu aku menciptakan suaranya... tapi, perasaan
janggal apa ini yang kurasakan sejak tadi?
Benar, ini adalah
perasaan janggal yang sama seperti saat aku berlatih menciptakan Kuruto-sama
halusinasi beberapa hari setelah menerima Kochou.
Penampilan dan
gaya bicaranya benar-benar Kuruto-sama, tapi ada sesuatu yang berbeda dari yang
asli. Rasa janggal itu.
"...Lise
Mama."
"Akuri...
apakah itu benar-benar Kuruto-sama?"
"Bukan, itu
bukan Papa."
Akuri
mengatakannya.
Ternyata benar... sudah kuduga.
"Long Sense."
Aku memperkuat indra penciumanku dengan sihir pendukung.
Hasilnya, keraguanku berubah menjadi keyakinan.
Memang tercium
aroma Kuruto-sama, tapi aroma sabun yang biasanya selalu dipakai Kuruto-sama
sama sekali tidak tercium.
Kuruto-sama
itu—bukan, sesuatu yang tidak pantas dipanggil Kuruto-sama itu adalah peniru.
Namun, apa
sebenarnya yang terjadi?
Aku ingin segera
keluar dan menanyakan keberadaan Kuruto-sama yang asli, tapi jika itu adalah
bidak sekali pakai, pertanyaanku hanya akan dijawab dengan berbelit-belit.
Setidaknya aku
harus tahu apa tujuannya.
"Kalau
begitu, saya akan segera memulai prosedurnya. Saya akan merapikan dari tulang
punggung, ya."
Si peniru itu
bicara dengan suara Kuruto-sama.
"Mohon
bantuannya."
Aku memutuskan
untuk mengamati Seitai si peniru itu.
"Yuri Mama,
kelihatannya sakit."
"Sakit?"
Dilihat dari
luar, dia tampak sedang menerima prosedur dengan wajah tersenyum biasa.
...Ah, aku salah.
Senyum itu
hanyalah ilusi belaka.
Karena wajah Yurishia-san
berada dalam titik buta si peniru, aku membatalkan ilusi hanya di bagian
wajahnya saja.
Yurishia-san
menunjukkan ekspresi menderita yang pahit, yang belum pernah kulihat
sebelumnya.
Tidak mungkin itu
adalah ekspresi menahan kegembiraan karena dirawat oleh Kuruto-sama meski dia
peniru. Seperti kata Akuri, dia pasti sedang menahan rasa sakit.
Jika itu Kuruto-sama
yang asli, mustahil prosedur Seitai-nya akan disertai rasa sakit seperti
itu.
"Bagaimana?
Apa tidak sakit?" tanya si peniru.
Aku akan
membiarkannya lanjut untuk melihat pergerakan lawan.
"Iya,
rasanya sangat nyaman."
"Saya merasa
terhormat jika Anda berkata begitu. Kalau begitu, sekarang saya akan merapikan
bagian pinggang, ya."
Si peniru berkata
begitu sambil menekan pinggang Yurishia-san dengan ibu jarinya—tepat pada saat
itulah.
Aku menyaksikan
kejadian yang menentukan.
Ini sudah cukup.
"Akuri, mari
kita muncul di depan mereka."
"Oke
nano!"
Aku pun melakukan
Teleport bersama Akuri.
"Cukup
sampai di situ!"
◆◇◆
"Begitulah
kejadiannya."
Lise menjelaskan
hal itu kepadaku—Yurishia, tapi sampai sekarang aku masih tidak percaya.
Mendengar
penjelasan Lise sambil melihat Kuruto yang digulung seperti sushi dan
tergeletak di lantai ini adalah seorang peniru.
Kami meminta
Akuri kembali ke kamar sebentar, lalu kami berdua melakukan interogasi.
Lise sangat
bersemangat untuk "Menginterogasi Kuruto palsu dan mencari tahu apa yang
terjadi pada Kuruto asli," tapi aku benar-benar tidak bisa menganggap ini
adalah peniru.
Mari kucoba
sedikit.
"Kuruto,
siapa petualang yang paling kamu hormati?"
Aku memulai
dengan pertanyaan simpel. Jika dia asli, jawabannya tentu saja adalah aku.
Menanggapi
pertanyaanku, Kuruto ini menjawab tanpa jeda sedetik pun.
"Golnova-san."
"…………Sepertinya
dia memang peniru."
"Eeeeh!?
Kenapa begitu!?"
Sial, pertanyaan
tadi memberikan serangan mental padaku.
Mari kuatkan hati
dan coba pertanyaan lain.
"Kuruto,
saat pertama kali kita bertemu, apa permata yang kutemukan?"
"Topaz."
Benar.
Tidak banyak orang yang tahu soal ini. Jadi dia memang yang asli?
"Yurishia-san,
saya mohon. Tolong lepaskan tali ini."
Dengan mata
berkaca-kaca, Kuruto ini memohon padaku. Jangan menatapku begitu, aku jadi
ingin segera melepaskannya.
"Yuri-san,
tetaplah sadar. Ini adalah peniru!"
"Bisa saja
itu cuma delusimu, kan?"
"Akuri juga
bilang kalau dia bukan Kuruto-sama."
Ugh, kalau cuma Lise
mungkin masih bisa kuedit, tapi kalau Akuri yang menegaskan itu bukan Papa, itu
berarti gawat.
Sekarang giliran Lise
yang bertanya pada Kuruto di depan kami.
"Apakah Anda
adalah kaki tangan Atelier Meister Vitukind?"
"Sekarang
memang saya dipekerjakan, tapi saya bukan kaki tangannya."
"Lalu kenapa
Anda mencabut rambutnya? Jika punya rambutnya, Anda bisa mengutuk Tuan Putri
Ketiga Liselotte. Dengan begitu Isabella—keponakan Vitukind—akan diakui sebagai
keluarga kerajaan, kan?"
"Bukan!
Percayalah padaku, Lise-san!"
"Aku tidak
sudi dipanggil Lise-san olehmu!"
Kalau Lise sampai
bicara sejauh itu, sepertinya dia memang peniru.
"Kuruto...
bukan, kamu bukan Kuruto ya. Seitai tadi sangat sakit, tahu. Apa
maksudnya itu? Apa untuk mencabut rambut? Kalau kamu punya teknik yang sama
dengan Kuruto, harusnya kamu bisa melakukan Seitai tanpa rasa sakit
sambil mencabut rambut, kan?"
"Eh? Sakit?
Bukan nyaman?"
"Jujur,
sakitnya luar biasa sampai kupikir kesadaranku bakal hilang. Yah, pundakku
memang terasa ringan jadi ada efeknya sih, tapi aku tidak mau merasakan rasa
sakit itu lagi. Kamu bilang kemarin di bengkel kamu melakukan Seitai
pada pemilik penginapan, kan? Apa kamu melakukan hal yang sama padanya?"
"Tidak
mungkin. Saya kemarin... kemarin? Lho, kemarin?"
Sikap Kuruto
mulai menjadi aneh.
"Apa itu
benar-benar kemarin? Memaksa meremas pundak hanya akan menambah rasa sakit...
Ngomong-ngomong, di mana Yukata-ku? Aku membuatkan Yukata untuk Luna-san, lalu
eh? Ngomong-ngomong aku, hari ini pergi ke bengkel lalu apa yang terjadi di
sana... kemarin, hari ini, kemarin—"
Tiba-tiba, Kuruto
jatuh pingsan.
"Kuruto!"
Aku menarik tubuh
Kuruto agar terduduk... dan saat itulah aku menyadarinya.
"Apa-apaan
ini?"
Aku menyentuh
wajah Kuruto, tapi teksturnya terasa keras seperti kayu. Ini bukan kaku mayat.
Sosok ini
benar-benar sebuah boneka. Padahal saat dia menyentuhku tadi, aku jelas
merasakan sensasi jari manusia, tapi sekarang jari-jari itu pun mengeras
bagaikan kayu.
"Kalau tidak
salah ingat, dalam daftar benda yang ditemukan di reruntuhan—pada bagian alat
sihir yang belum berhasil diciptakan—ada material yang bisa berubah bentuk
sesuai jumlah Mana, serta alat yang bisa membaca informasi jiwa dari helai
rambut. Mungkinkah boneka ini dibuat menggunakan teknologi itu?"
"Maksudmu,
ini boneka buatan Vitukind!? Padahal ingatan dan cara bicaranya benar-benar
mirip Kuruto."
"Meski ada
sedikit perbedaan detail, sih—"
Jika informasi
jiwa yang dibaca adalah sejenis Mana, maka informasi jiwa Kuruto telah
digandakan dari helai rambutnya, lalu dimasukkan ke dalam boneka ini.
Bukankah itu
berarti boneka ini tercipta dari proses tersebut?
Hanya saja, meski
jiwanya digandakan, kemampuan Kuruto yang luar biasa tidak bisa ikut tersalin.
Itulah sebabnya
prosedur Seitai tadi terasa sangat menyakitkan.
Saat aku
dan Lise sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing, Mimiko masuk ke dalam
kamar.
"Tuan Putri!
Yurishia-chan! Identitas asli Vitukind sudah ketahuan. Begitu aku bilang kalau Kuruto
yang tadi itu palsu sambil mengancamnya dengan pasal pengkhianatan negara,
pemilik penginapan itu akhirnya buka mulut... Eh, boneka apa ini? Kuruto-chan?"
"Iya, nanti
kujelaskan. Lalu, bagaimana hasilnya?"
"Aku
mengerti. Pemilik penginapan itu sepertinya meminta Vitukind untuk memalsukan
sumber air panas."
"Memalsukan
air panas?"
Mimiko
menjelaskan bahwa belakangan ini sumber air panas di penginapan ini mulai
mengering, dan suhu airnya pun semakin mendingin.
Khawatir tidak
bisa melanjutkan bisnis penginapannya, sang pemilik pergi berkonsultasi kepada
Vitukind.
Di sanalah
Vitukind meminta imbalan berupa rambut milik Lise.
Meski merasa
cemas karena tidak tahu rambut itu akan digunakan untuk apa, sang pemilik tidak
punya pilihan selain bergantung pada Vitukind.
Rambut seharusnya
bisa didapat dengan mudah di ruang ganti atau kamar tidur.
Begitulah pikir
sang pemilik penginapan.
Namun, di sini
terjadi hal yang tidak terduga. Penyebabnya adalah Kuruto.
Kuruto yang
memiliki kemampuan bersih-bersih tingkat SSS telah menyapu bersih ruang
ganti dan kamar-kamar.
Tentu saja,
jangankan sehelai rambut, sebutir pasir atau debu pun tidak tersisa, sehingga
sang pemilik gagal mendapatkan rambut tersebut.
"Tunggu, aku
paham soal itu. Tapi air panasnya tadi pagi masih bisa digunakan seperti biasa,
kan?"
"Itulah
kekuatan Vitukind. Dia menyiapkan ramuan khusus. Katanya, jika bubuk ramuan itu
dimasukkan ke dalam air, akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan panas,
membuat suhu air meningkat dan memiliki kandungan mineral yang persis sama
dengan air panas alami."
Bukankah itu namanya garam mandi?
Tapi ya, karena tidak perlu repot-repot memanaskan air, itu
jauh lebih praktis daripada garam mandi biasa.
Memang benar suhu air kemarin dulu terasa dingin, dan
kemarin meski Akuri mengeluh kepanasan, bagiku yang sudah dewasa suhu itu
terasa pas.
"Tapi, apa
pelanggan tidak akan menyadarinya?"
Atas
pertanyaanku, Mimiko menggelengkan kepala.
"Masalahnya,
kandungan airnya benar-benar identik dengan sumber air panas yang lama. Bukan
cuma kandungannya, tapi bau, warna, sampai teksturnya pun sama persis. Suhu
airnya juga dibuat sama dengan saat debit airnya masih lancar. Vitukind bilang
itu bukan cuma mirip, tapi memang 'sama'."
"Sama
persis? Apa hal semacam itu mungkin dilakukan?"
Mimiko mengangguk
menanggapi pertanyaan itu.
"Iya. Ini
hanya dugaanku saja, tapi—Vitukind adalah seorang Copyist."
◆◇◆
Saat aku
tersadar, aku, Kuruto, sudah dalam keadaan terduduk di kursi dengan tubuh
terikat.
Talinya
sepertinya sangat kokoh, tidak ada tanda-tanda akan putus.
Jika aku berusaha
sedikit, mungkin hanya lenganku yang bisa digerakkan, tapi aku tidak tahu di
mana letak simpul talinya.
"Oya, kamu
sudah bangun ya, Kuruto-kun."
"……Vitukind-san."
Di depanku berdiri Vitukind-san. Namun, sosoknya berbeda dengan yang kukenal
selama ini.
Vitukind-san
yang kukenal terasa rapuh, sering merendahkan diri sendiri, dan aku merasa ada
kemiripan antara dia denganku.
Namun,
Vitukind-san di hadapanku sekarang tampak sangat percaya diri hanya dengan
melihatnya saja.
Inilah
sosok Vitukind-san yang ditemui oleh Luna-san.
"Vitukind-san?
Panggil aku dengan imbuhan '-sama'. Kamu itu kan bawahanku."
"Apakah
ini benar-benar Anda? Tapi, tadi—"
Aku
melihat ke sekeliling—dan di sana ada wajah-wajah yang kukenal.
Penjaga
gerbang, para peneliti yang bekerja, bahkan ada sosok Vitukind-san yang lain...
tapi, eh?
Mereka
tidak mati. Jika diperhatikan baik-baik, mereka semua adalah... boneka?
"Ah,
kamu menyadarinya ya. Buatannya bagus, kan? Luar biasa memang warisan peradaban
Lapital ini. Hanya dengan mengalirkan Mana, kulit manusia bisa direproduksi
dengan sempurna. Lalu jika
aku menggandakan jiwa manusia dan memasukkannya, maka jadilah boneka duplikat.
Mereka akan mematuhi perintahku sepenuhnya, bahkan ingatan dan kemampuannya pun
bisa ditiru. Hebat,
kan?"
"Jadi,
semua orang di bengkel ini adalah boneka!?"
"Iya. Wajar
kalau kamu terkejut. Meski disebut boneka, selama Mana dialirkan, bukan cuma
permukaan kulit, tapi organ dalam dan pembuluh darahnya pun benar-benar seperti
manusia. Boneka tipe wanita bahkan bisa hamil, lho. Walaupun aku tidak tahu apa
bayinya bisa lahir atau tidak, karena tubuh boneka itu tidak bisa bertahan
cukup lama sampai waktu persalinan. Yah, aku pernah menghamili wanita asli
menggunakan boneka pria, tapi begitu boneka itu berhenti beroperasi, janin di
dalam rahim wanita itu pun ikut mati. Sepertinya punya anak itu mustahil."
"Sampai
melakukan eksperimen seperti itu..."
Boneka-boneka
yang mirip aslinya ini, bengkel yang kosong, dan kepribadian Vitukind-san yang
sangat berbeda.
Semuanya
membuktikan bahwa perkataannya adalah kebenaran.
"Apa yang
akan Anda lakukan padaku?"
"Tentu saja,
hanya ada satu hal yang dilakukan orang sepertiku saat mengungkapkan segalanya.
Kamu harus mati. Wahai mata-mata dari Anggota Ketiga Penyihir Istana,
Mimiko."
"——!?"
Sudah ketahuan?
"Jangan
kaget begitu. Sudah kubilang kan kalau boneka juga menggandakan ingatan? Begitu
aku membuat boneka duplikatmu, semua rahasiamu terbongkar. Berasal dari Desa Haste
di Pegunungan Scene, sebuah desa pedesaan biasa. Memiliki Combat Aptitude
peringkat G. Benar-benar tidak berguna dalam pertarungan, tapi di sisi
lain, kecocokan lainnya berada di peringkat C dan B. Tidak punya
keahlian khusus yang menonjol, tapi sebagai tenaga serabutan, kamu adalah
seorang all-rounder... begitu, kan? Itu semua adalah informasi yang
diberikan oleh boneka duplikatmu."
"Rekanmu Lise,
Yurishia, Mimiko si Anggota Ketiga Penyihir Istana, serta putrimu Akuri sedang
menunggu di penginapan," lanjutnya.
Semua informasi
yang kuketahui telah bocor sepenuhnya. Kalau begini, semuanya dalam bahaya.
"Yah,
tadinya aku mau membunuhmu... tapi aku berubah pikiran. Karena Combat
Aptitude-mu G, meskipun kamu melawanku, kamu bukan tandinganku. Dan
meski tidak punya kemampuan menonjol, jika kamu bisa mengerjakan segala hal di
luar pertarungan sesempurna ini, kamu adalah pilihan terbaik sebagai tenaga
serabutan. Untuk membuat boneka duplikat, aku butuh helai rambut yang diambil
dari manusia hidup dalam waktu kurang dari satu hari. Ditambah lagi, umur
boneka itu paling lama hanya tiga bulan. Semakin tinggi kemampuannya, semakin
pendek umurnya. Boneka duplikatku saja akan rusak dalam lima hari. Boneka di
sana itu sudah yang kesepuluh. Saking jeniusnya aku, memang merepotkan ya. Yah,
wajar saja, karena hanya aku yang bisa membuat boneka duplikat."
"……Anda
salah. Teknologi untuk menciptakan boneka duplikat ini dibuat oleh orang-orang
peradaban Lapital. Ini bukan kekuatan Vitukind-san—"
Suara tamparan
keras bergema. Vitukind-san menampar pipiku.
"Sudah
kubilang panggil aku '-sama', bangsat! Akulah yang membangkitkan warisan
peradaban Lapital ke dunia ini. Aku ini hebat. Alat Transfer, tanah
penyerap Mana, dan boneka duplikat ini, semuanya dibuat olehku, sang Copyist!"
"Copyist?"
Mendengar istilah yang asing bagiku, aku memiringkan kepala.
"Kamu belum pernah mendengarnya? Copyist itu
adalah—"
◆◇◆
"Copyist itu adalah profesi yang disandang oleh
ayah Vitukind. Ngomong-ngomong, nama ayahnya juga Vitukind. Di keluarganya, putra sulung secara turun-temurun
akan mewarisi nama Vitukind."
Aku—Yurishia dan
yang lain sedang mendengarkan penjelasan Mimiko sambil berlari menuju bengkel
Vitukind.
"Keahliannya
adalah membuat replika dari apa pun yang dilihat atau disentuh. Sepertinya dia
tidak sampai membuat replika manusia, tapi selain itu, dia bisa membuat apa
saja. Pedang buatan empu ternama, hidangan ajaib koki kelas satu, bahkan anggur
yang telah difermentasi puluhan tahun, Vitukind bisa menciptakan replika yang
sama persis. Benar-benar seperti sihir."
"Bukankah
itu kemampuan yang luar biasa?"
"Iya. Karena
dia sangat terkenal sebagai Copyist di Kekaisaran, saat aku menyelidiki
tentang Vitukind, informasi tentang ayahnya pun segera kudapatkan. Beserta akhir hidupnya yang
tragis."
Mimiko
berbicara sambil menatap ke arah langit.
"Apa yang
terjadi pada ayahnya?" tanya Lise.
"Dunia tidak
mengakuinya, sama seperti Yurishia-chan barusan. Yah, itu wajar saja. Siapa pun
pasti akan marah jika karya terbaik yang mereka buat dengan susah payah ditiru
begitu saja dengan mudah. Jangankan gunjingan di belakang, ada juga orang-orang yang
terang-terangan menghinanya. Lalu, ayahnya—"
◆◇◆
"Dia
bunuh diri. Tepat pada hari ulang tahunku yang kelima belas. Sampai akhir
hayatnya, Ayah menyimpan dendam pada dunia. Melihat cara kematian Ayah, aku
bersumpah di hadapan mendiang Ayah. Bahwa aku akan menunjukkan kekuatan seorang
Copyist kepada dunia. Lalu aku berpikir, aku dihina karena aku
menduplikasi sesuatu yang sudah diketahui orang lain. Tapi jika aku
menduplikasi warisan kuno yang tidak diketahui siapa pun, maka itu akan menjadi
penemuanku sendiri. Dan Kuruto-kun,
aku telah menyelidiki reruntuhan peradaban Lapital dan menemukan ruangan kecil
yang kamu temukan itu."
Vitukind-san—bukan,
Vitukind bercerita seperti itu.
"Teknologi
orang kuno memang luar biasa. Butuh tujuh tahun lagi untuk menciptakan alat
pembaca data jiwa dari rambut, tiga tahun untuk mereproduksi alat Transfer,
dan butuh waktu sepuluh tahun lebih untuk menciptakan material yang bisa
berubah bentuk yang tadinya kupikir paling mudah."
"Itu memang
hebat—tapi kalau begitu, bukankah Anda bisa melaporkan penemuan warisan di
reruntuhan itu sebelum mulai membuatnya—"
"Kalau
begitu kalian pasti akan menghinaku lagi! Bilang kalau aku hanyalah keluarga
pembuat barang tiruan!"
Vitukind
berteriak dan menampar pipiku yang sebelah lagi.
"Hah,
tidak ada gunanya menyiksamu lebih dari ini. Kamu akan kusekap di lantai atas
bersama yang lainnya."
"Yang
lainnya?"
"Iya,
orang-orang yang menjadi sumber dari boneka-boneka di sini."
Syukurlah,
semuanya masih hidup.
"Menyerahlah.
Begitu Mimiko-san dan yang
lain menyadari aku disekap di sini, mereka pasti akan datang. Jika itu
terjadi—"
"Mereka
tidak akan sadar. Sudah kubilang kan? Aku sudah membuat boneka duplikatmu. Saat ini dia pasti sedang melakukan Seitai
pada Putri Liselotte. Aku akan menyuruhnya mengambil rambut sang putri, lalu
aku akan menyerahkannya pada Kakak. Lalu boneka duplikatmu akan melapor bahwa
tidak ada masalah denganku. Kalian akan kembali ke bengkel begitu saja, jadi
aku hanya perlu menyuruh boneka itu datang ke bengkel ini sesekali untuk
melapor... Yah, melihat kemampuanmu, sepertinya umur boneka itu akan bertahan
sekitar satu bulan. Tidak akan ada yang sadar kalau kamu telah tertukar.
Teman-temanmu, putrimu, tidak ada satu pun yang tahu—"
Tepat saat
Vitukind tertawa, kejadian itu terjadi.
"Kuruto,
kamu di dalam!?"
"Kuruto-sama,
kalau Anda di sana, tolong jawab!"
Suara Yurishia-san
dan Lise-san terdengar dari arah lantai satu.
"Mustahil!
Apa yang dilakukan boneka duplikat itu!?"
Vitukind berseru dengan wajah penuh kepanikan. Syukurlah,
mereka berdua berhasil menyadari kalau boneka duplikatku itu palsu.
"Di si—"
Aku menarik napas dalam-dalam untuk berteriak, tapi Vitukind
segera membungkam mulutku.
"Oups, gawat kalau kamu berteriak. Untungnya, ini
adalah ruang rahasia yang letaknya jauh di dalam laboratorium. Sebelum mereka menyadari tempat ini, aku akan
keluar lewat jalan pintas. Setelah itu, biarlah rumah ini terbakar habis
bersama kalian."
Vitukind berkata
demikian sambil mengambil alat sihir pengeluar api dan botol berisi cairan,
lalu menyusunnya di atas meja.
Kemungkinan
isinya adalah cairan yang mudah terbakar.
Jika tutupnya
dibuka, cairan itu akan menguap dan memenuhi ruangan.
Jika alat sihir
api digunakan dalam kondisi seperti itu, akibatnya akan sangat fatal.
Benar—
Aku meronta, dan
saat ikatannya sedikit melonggar, aku memasukkan tanganku ke dalam lengan baju.
Sesaat kemudian,
suara bising yang memekakkan telinga bergema di seluruh ruangan, bahkan ke
seluruh penjuru bengkel.
"Apa-apaan
ini!? Suara apa ini sebenarnya!?"
Itu adalah alat
sihir alarm pengaman yang kubuat tadi.
"Hentikan!
Sekarang juga!"
Vitukind
berteriak sambil memukul wajahku.
"Di sini,
ya!"
Sesaat setelah
suara Yurishia-san terdengar, dinding di depanku terbelah dan roboh.
Dari balik dinding itu, muncul Yurishia-san dan Lise-san.
"Jangan
bergerak! Kalian tidak peduli apa yang terjadi pada orang ini!?"
Vitukind
menodongkan pisau ke wajahku.
"Lho? Kalau Kuruto-sama
yang asli, beliau sudah kami amankan, kok."
Bersamaan dengan
kata-kata Lise-san itu, sosokku muncul di depan Lise-san. Ini adalah—begitu ya,
jadi begitu caranya.
Sepertinya dia
tidak bisa melihat sosokku yang ada di sampingnya, sehingga Vitukind mundur
selangkah menuju lorong rahasia.
"Yurishia-san,
sekarang!"
"Dimengerti!"
Sesaat setelah Yurishia-san
melompat, Lise-san membatalkan ilusi dari Kochou.
Sosok palsuku
yang berada di samping Lise-san menghilang, dan Yurishia-san menebas tali
pengikatku yang asli.
Lise-san
pun berbicara dengan nada yang sedikit bangga.
"Bagaimana?
Inilah kekuatan dari sebuah kepalsuan yang sejati!"
"Kepalsuan
mana ada yang sejati. Tapi, kerja bagus."
Akhirnya aku
bebas.
"Terima
kasih, Yurishia-san, Lise-san."
"Sama-sama."
"Syukurlah
Anda selamat."
Aku
benar-benar senang. Aku senang mereka menolongku, tapi yang membuatku paling
bahagia adalah mereka berhasil menyadari kalau boneka itu palsu dan datang
menjemputku.
"Mustahil!
Aku jelas mendengar dari boneka duplikat Kuruto tentang kekuatan khusus yang
dimiliki wanita bernama Lise itu! Aku dengar dia bisa sihir pendukung dan sihir
cahaya, serta mahir memanah. Tapi apa-apaan alat sihir itu!? Aku tidak pernah
dengar ada benda luar biasa semacam itu—"
"Eh? Apa
alat sihir ini langka? Ini
padahal produk gagal buatanku."
"Apa...
katamu!? Itu... produk gagal...?"
Suara Vitukind
mengecil karena syok. Sepertinya bagi seorang Atelier Meister,
meluncurkan produk gagal ke dunia adalah hal yang dianggap aneh, ya?
Yurishia-san dan Lise-san
menatap tajam ke arah Vitukind yang sedang kalut.
"Nah,
bersiaplah! Beraninya kamu membuatku merasakan pengalaman menyakitkan seperti
tadi."
"Benar
sekali. Membuat tiruan Kuruto-sama adalah hal yang sama sekali tidak bisa
dimaafkan! Sepertinya tidak ada boneka Kuruto lain di sini, ya."
Lise-san berkata
sambil mewaspadai sekeliling. Sepertinya beliau takut diserang oleh
peniruku yang lain.
Benar, aku harus segera memberitahu mereka soal itu.
"Katanya di atas langit-langit ini ada orang-orang yang
sedang disekap."
Karena aku
mengatakan hal itu, perhatian Yurishia-san dan Lise-san teralihkan ke arah
langit-langit. Vitukind tidak melewatkan kesempatan itu dan segera berlari
menuju dinding yang memiliki lorong rahasia, tapi—
"Sayang
sekali, ya."
Mimiko-sama
muncul dari sana.
"Mimiko, aku
pikir kamu tiba-tiba menghilang tadi, ternyata kamu masuk dari mana?"
"Begitu aku
yakin bisa menangkap Vitukind, aku segera menyuruh orang mencari lorong
rahasia. Aku sudah menduga dia pasti akan menggunakannya jika keadaan terdesak.
Meski aku tidak menyangka jalannya akan tembus sampai ke sini."
Mimiko-san hebat
sekali. Dalam waktu singkat sejak aku ditangkap, dia bahkan berhasil menemukan
lorong rahasianya.
Seolah sudah
menyerah, Vitukind terduduk lemas di tempatnya.
"Sial,
kenapa bisa jadi begini? Padahal aku seharusnya benar! Semuanya seharusnya
benar!" teriak Vitukind.
Tapi,
tidak ada manusia yang selalu benar dalam segala hal.
"Menyerahlah
dan bersikaplah manis. Yah, paling tidak kamu akan dijatuhi hukuman mati karena
mencoba mencelakai keluarga kerajaan."
"Keluarga
kerajaan!? Benar juga, Yurishia-san, apakah Tuan Putri Liselotte baik-baik
saja?"
"Ah... soal itu, itu hanya bohong. Itu bohong buatan
Mimiko untuk memancing pergerakan Vitukind. Sebenarnya Tuan Putri Liselotte
tidak datang ke sini."
"Eh? Jadi begitu!? Harusnya kalian beritahu aku dari
awal."
"Ada pepatah
bilang, untuk menipu musuh, kita harus menipu teman sendiri dulu, kan?"
Mungkin itu
benar. Faktanya, jika aku diberitahu, semua rahasia itu pasti akan terbongkar
saat boneka duplikatku diciptakan.
"Sepertinya
banyak yang harus kita tanyakan sebelum hukuman mati dilaksanakan. Tapi yang utama adalah
menyelamatkan orang-orang yang disekap di gedung ini, kan?"
Tepat saat Mimiko
mengatakannya...
"Aku tidak
akan mati sendirian. Meledaklah kalian semua!"
Vitukind
berteriak sambil menekan kuat tombol yang disembunyikannya.
Bersamaan dengan itu, api menyembur keluar dari alat sihir di atas meja.



Post a Comment