NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 9 Chapter 2

Chapter 2

Penandatanganan Perdamaian dan Gunting Galah


Aku—Kuruto—kembali lagi ke ibu kota Kerajaan Homuros.

Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku datang ke Adventurer Land, tapi kurasa bau tak sedap di ibu kota sudah jauh berkurang.

Sepertinya itu karena Mimiko-san telah mengoperasikan fasilitas pengolahan limbah bawah tanah.

Menurut surat kabar Kerajaan Homuros, pemerintah menerbitkan obligasi negara darurat.

Bank menggunakan dana tersebut untuk merekrut tenaga kerja besar-besaran, sehingga proyek itu bisa selesai tepat waktu sebelum penandatanganan perdamaian kali ini.

Fasilitas pengolahan limbah yang kuusulkan seharusnya tidak membutuhkan tenaga kerja sebanyak itu.

Jadi mereka pasti telah memodifikasi desainnya menjadi bentuk yang benar-benar baru.

"He-hei, Kuruto. Di ibu kota ini, kira-kira ada berapa banyak orang?"

Sosok yang bertanya dengan cemas di sampingku adalah paman pemilik toko kelontong di Desa Haste, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-50 minggu lalu.

Saat pembukaan pra-resmi Adventurer Land dulu, seluruh penduduk desa datang sebagai staf.

Namun dia tetap tinggal di desa karena harus menjaga tokonya, jadi ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi ibu kota.

Bahkan paman bilang, selama puluhan tahun sejak lahir, dia tidak pernah keluar dari desa kecuali saat pindah rumah (walau dia pernah ke permukaan bulan, sih).

Bisa dibilang ini kunjungan pertamanya ke kota selain Desa Haste.

Karena itulah, dia merasa gugup melihat banyaknya orang di ibu kota.

Apalagi kedatangannya adalah untuk menghadiri upacara penandatanganan, tingkat kegugupannya pasti berlipat ganda.

"Entahlah, tapi katanya belakangan ini populasinya bertambah sekitar sepuluh ribu orang..."

"Bertambah sepuluh ribu orang!? Berarti, setidaknya ada sepuluh ribu orang di sini?"

"Kira-kira populasinya mencapai seratus ribu orang, bukan?"

"Seratus ribu orang!? Pantas saja bangunannya banyak sekali... Apa mungkin setengah dari populasi dunia berkumpul di sini?"

"Danzou-san bilang, Ade, ibu kota negeri asalnya, punya populasi lebih dari satu juta orang lho."

"Sa-satu juta orang!?"

Teriakan keras paman toko kelontong membuat orang-orang di sekitar menoleh karena penasaran.

Tapi, aku bisa memahami perasaannya.

Selama di Desa Haste, dunia kami hanyalah puluhan penduduk desa, pedagang keliling seperti ayah Hildegard-chan, dan petualang seperti Arthur-san.

Tentu saja secara logika kami paham ada banyak orang di luar desa yang menjalani hidup berbeda, tapi saat melihatnya langsung, rasanya tetap luar biasa.

Pertama-tama, fakta bahwa ada begitu banyak orang asing saja sudah cukup membuat kami ternganga.

Sebab di desa, hampir mustahil kami bertemu dengan orang yang tidak dikenal.

"Kuruto, bagaimana kalau kita pulang saja? Sebagai orang yang bangga menjadi penghobi nomor satu di desa, aku senang saat dengar pedang buatanku diakui oleh raja negeri lain, tapi ini pasti salah arah."

"Tidak begitu, kok. Kaisar tampak sangat menghargai pedang buatan Paman. Beliau bilang itu adalah pedang yang sangat disayangi oleh Arthur-san."

Benar, Arthur-san yang mengunjungi Desa Haste seribu dua ratus tahun lalu kemudian mendirikan Kerajaan Gurumaku.

Dan pedang buatan paman untuk Arthur-san telah diwariskan turun-temurun.

"Aku juga terkejut Arthur sampai mendirikan negaranya sendiri... Yah, cara bertarungnya melawan Goblin memang sudah setingkat orang yang mampu mendirikan negara, sih..."

Paman mengatakannya seolah mengenang masa lalu.

"Ngomong-ngomong, Yurishia-san dan Lise-san juga anggota keluarga kerajaan, kan? Apa keluarga kerajaan memang ahli membasmi Goblin?"

"Entahlah? Kurasa itu tidak ada hubungannya."

Paman toko kelontong kabarnya pernah bertemu Yurishia-san dan Lise-san lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu.

Itu terjadi sebelum aku lahir, dan saat itu mereka menolong paman dari serangan Goblin, sama seperti Arthur-san.

Aku sering mendengar cerita dari penduduk desa tentang pendekar pedang wanita dan pemanah yang menyelamatkan desa sebelum aku lahir.

Tapi aku terkejut saat tahu bahwa itu adalah mereka berdua.

Kubilang seribu dua ratus tahun yang lalu, tapi bagi penduduk Desa Haste itu adalah kejadian belasan tahun yang lalu.

Jadi, semua orang di atas usia tertentu masih mengingat mereka berdua, kecuali Paman Urano.

Paman Urano sepertinya meminum obat penghapus ingatan sehingga dia lupa.

Yah, mau bagaimana lagi karena dia sempat mendengar banyak hal tentang masa depan—maksudku masa sekarang—dari Yurishia-san dan yang lainnya.

"Begitu ya, bocah itu ternyata sangat menjaga pedangku... Baiklah, Kuruto.

Karena kau sudah bicara sampai sejauh ini, aku sebagai manajer toko kelontong 'Bannoya' yang sudah menangani mulai dari obat serbaguna, pisau dapur serbaguna, sampai daun bawang serbaguna selama tiga puluh lima tahun, akan memantapkan tekad!"

Ternyata nama tokonya 'Bannoya' ya. Semua orang di desa hanya memanggilnya 'Toko Kelontong' jadi aku tidak tahu.

"Tapi Kuruto, bukankah kau tumbuh lebih besar? Entah bagaimana, aku merasa kau jadi lebih percaya diri."

Karena paman juga mengatakannya, aku mengangguk meski merasa sedikit malu.

 

Tepat sebelum memasuki area bangsawan, kami naik kereta kuda yang sudah dipesan sebelumnya menuju istana.

Dari jendela kecil di bagian depan kereta, kastil besar itu tampak semakin mendekat—

"……Paman, bagaimana ini. Aku jadi gugup."

Manusia memang tidak mudah berubah. Aku mengatakannya sambil merasa payah pada diriku sendiri.

"Kau ini, jangan sekarang dong! Lagipula kau bilang sudah pernah ke istana kerajaan, kan!"

Paman juga ikut panik.

"Iya, tapi waktu itu kan bersama Lise-san dan Yurishia-san—ah, kalau dipikir-pikir, waktu itu pun aku segugup sekarang……"

"Sial, ayo turun dari kereta ini."

"Jangan, Paman. Ini area bangsawan, kalau rakyat jelata seperti Paman jalan kaki…… anu, nanti dimarahi!"

"Gawat kalau begitu—benar, Kuruto, ayo kita buat obat sekarang juga!"

"Masih ada waktu sampai masuk istana, tapi obat apa?"

Saat aku bertanya, paman memberi tahu khasiat dari obat tersebut.

"——Eh? Memangnya ada obat seperti itu?"

"Secara teori itu mungkin! Ayo buat sekarang! Kuruto, bahan apa saja yang kau punya?"

"Eh? Anu, bahan yang sepertinya bisa jadi obat adalah——"

Aku mengeluarkan bahan-bahan dari dalam tas yang sekiranya bisa digunakan.

Isi tasku sebagian besar adalah peralatan tukang, dan yang bisa jadi bahan obat hanyalah jenis herbal untuk teh.

Tas paman sama sepertiku, sebuah Item Bag dengan penyimpanan tak terbatas.

Karena isinya adalah barang dagangan toko kelontong, tentu saja bahan obat miliknya jauh lebih lengkap.

Paman melihat herbal milikku dan bahan-bahannya sendiri, lalu mengangguk.

"Oke, dengan ini harusnya bisa——selesai! Ayo, Kuruto, kau juga coba buat."

"Baiklah——selesai, tapi aku memang masih belum bisa menandingi Paman."

Memang paman toko kelontong luar biasa.

Peracikan obat yang biasanya memakan waktu lima detik bagiku, dia selesaikan hanya dalam dua detik saja.

"Sambil membuat obat yang kita cari, aku sekalian membuat ramuan awet muda, ramuan disukai kucing, ramuan peninggi badan, obat penumbuh rambut, ramuan bicara dengan hewan, dan ramuan tumbuh telinga kucing. Kuruto, mau coba peninggi badannya?"

"Kalau tinggi badan, aku akan berusaha sendiri saja. Tapi Paman hebat ya.

Aku juga mengikuti cara Paman dengan membuat sesuatu dari sisa bahan, tapi hanya jadi permen obat terbang."

Meskipun aku menjabat sebagai wakil Atelier Master, ternyata aku masih sangat tidak berpengalaman.

Bagaimanapun, selain obat penenang saraf ini, ramuan lainnya tidak ada gunanya dan kurasa tidak akan laku dijual.

Jadi hanya akan menjadi penghuni gudang—maksudku Item Bag.

◆◇◆

"Meskipun tidak ada orang yang bisa menghentikan tingkah kalian, tapi ada batasnya tahu!"

Tanpa sadar aku—Yurishia—berteriak ke arah langit.

Mimiko yang bersamaku bertanya dengan cemas, "Ada apa, Yurishia-chan? Apa kau kena penyakit aneh?".

Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa aku berteriak begitu.

Namun, aku yakin Kuruto pasti sedang berbuat sesuatu yang gila lagi.

"Ah, sudah kelihatan. Luar biasa ya, kendaraan bernama Kapal Terbang itu. Dari ibu kota Gurumaku ke sini cuma butuh empat jam."

Melihat Kapal Terbang di kejauhan, Mimiko berkata dengan penuh kagum.

Jarak yang jika ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu setengah bulan lebih, kini bisa ditempuh hanya dalam empat jam.

Teknologi Kapal Terbang sudah dipublikasikan, dan setiap negara termasuk Kerajaan Homuros dan Kekaisaran Gurumaku mulai membangun milik mereka sendiri.

Namun itu baru tahap awal eksperimen. Saat ini, hanya kapal satu itulah yang bebas melintasi angkasa.

"Tapi, kalau teleportasi antarnegara sudah resmi diizinkan, Kapal Terbang itu pun tidak akan digunakan lagi sebagai sarana transportasi biasa."

Mimiko menunjukkan wajah yang sedikit menyayangkan.

Yah, meski tidak bisa digunakan sebagai transportasi reguler, kapal itu awalnya adalah kapal pesiar mewah yang dimodifikasi.

Jadi masih bisa digunakan sebagai kapal wisata bagi kalangan kaya.

Perjalanan yang menawarkan pemandangan dari ketinggian ribuan meter pasti memiliki nilai tersendiri.

"Teleportasi antarnegara dilarang oleh hukum internasional, kan? Tapi bukankah itu akan sedikit dilonggarkan dalam negosiasi damai kali ini?"

"Hanya sebagian saja. Sekarang, orang-orang Desa Haste sedang diminta membuat versi modifikasi dari perangkat teleportasi."

Batu Teleportasi yang ada sekarang hanyalah sebagian kecil dari sistem perangkat teleportasi buatan penduduk Desa Haste kuno—Kaum First.

Sistem itu berhasil dipecahkan oleh Witukind dan direproduksi dalam kondisi tidak sempurna.

Karena itu, dibutuhkan item bernama Kristal Teleportasi, dan hanya bisa memindahkan maksimal empat anggota party.

Pengiriman massal pun tidak mungkin dilakukan, dan hanya bisa berpindah ke tempat yang sudah pernah dikunjungi.

Namun, berkat modifikasi oleh penduduk Desa Haste, teleportasi skala besar akan menjadi mungkin.

Selain itu, Kristal Teleportasi tidak lagi diperlukan, dan pemindahan ke tempat yang belum pernah dikunjungi pun bisa dilakukan.

Meskipun begitu, jika teknologi semacam itu langsung dioperasikan, para pedagang keliling bisa bangkrut dan bisa memicu api peperangan baru.

Oleh karena itu, rencananya pertama-tama akan dibangun kota transit khusus teleportasi antarnegara.

Terdengar berbelit-belit, tapi memang benar bahwa langkah pengaman seperti itu sangat diperlukan.

"Kalau modifikasi Batu Teleportasi selesai, katanya mereka akan menaruhnya juga di desa Elf di dalam hutan besar."

"Hee, apa suku yang tertutup itu mau menerimanya?"

"Soal itu serahkan saja pada kursi kedua."

"Kursi kedua apa?"

"Penyihir Istana."

Mimiko menatapku dengan wajah seolah bilang, "Sudah jelas, kan?", tapi aku tidak bisa mempercayainya.

"Memangnya ada Penyihir Istana selain kau?"

Aku bertanya secara spontan.

Aku sudah berkali-kali ke istana dan mendengar banyak rumor di kota, tapi aku tidak pernah dengar ada Penyihir Istana selain Mimiko.

"Tentu saja ada, karena ada kursi ketiga, pasti ada kursi kedua. Secara kemampuan sihir saja, dia lebih hebat dariku.

Dia ahli sihir es, dan kemampuannya menjaga penampilan awet muda juga di atas levelku. Lagipula, dia jauh lebih bebas dariku."

Apakah menjaga penampilan awet muda itu syarat wajib bagi Penyihir Istana?

Lagipula, disebut Penyihir Istana tapi tidak ada di istana, bukankah itu namanya penipuan nama?

Ah, tapi kalau dipikir-pikir, Mimiko juga hampir tidak pernah berada di istana.

"Kursi pertama Penyihir Istana sudah meninggal dan nomornya dipensiunkan secara permanen.

Walau permanen, kurasa itu hanya sampai Raja yang sekarang turun takhta."

"Ternyata ada sistem nomor permanen untuk Penyihir Istana ya... Tapi kenapa? Orang sehebat itu harusnya jadi buah bibir."

"Penyihir Istana kursi pertama disebut sebagai Raja Arwah Haldes.

Dia adalah pencuri budiman yang beraksi di dalam istana untuk mengungkap berbagai kecurangan anggota kerajaan dan bangsawan."

Semua yang terbukti bersalah telah dihukum, tapi jumlahnya terlalu banyak sehingga tidak bisa diumumkan ke publik.

Itulah sebabnya nama Raja Arwah Haldes tidak menyebar.

Orangnya sendiri sepertinya kurang puas—dia selalu bilang ingin jadi terkenal dan menjadi model puisi para penyair.

"Arwah yang ingin cari perhatian itu aneh juga, tapi kau tahu detail sekali ya, Mimiko. Apa kalian kenal?"

"Bukan sekadar kenal, aku berkali-kali dipaksa membantu pekerjaannya. Lagipula, identitas asli Haldes adalah Yang Mulia Françoise."

"Hee, Yang Mulia Françoise... Tunggu, APA!? Jadi Ratu adalah seorang Penyihir Istana!?"

"Yah, beliau menerima pendidikan elit di kekaisaran asalnya, jadi kemampuan sihirnya lebih tinggi dariku.

Terlebih, aku baru saja diberi tahu oleh Akuri-chan bahwa kejahatan para bangsawan itu tidak semuanya diselidiki sendiri oleh Françoise-sama."

Beliau menggunakan jaringan informasi Akuri-chan untuk mengumpulkan informasi rahasia, lalu mengendalikan guild bawah tanah untuk mencari bukti.

Tentu saja, kemampuan intelijennya sendiri juga luar biasa. Beliau bahkan sempat aktif di Phantom dan disebut sebagai pemimpin.

Gila juga ibunya Lise.

Aku sempat curiga kalau Lise yang setiap hari mengasah kemampuan menguntitnya itu sudah menjadi penghuni dunia kegelapan, ternyata ibunya pun memang penghuni dunia kegelapan.

Sementara itu, Kapal Terbang dijadwalkan tiba di landasan pacu khusus dekat ibu kota dalam tiga puluh menit.

Berita itu sudah sampai ke telinga warga. Persiapan penyambutan oleh warga dan penjagaan oleh penjaga kota sudah dimulai.

Lebih dari setengah anggota Phantom dan Grim Ripper juga sedang berkeliling di kota untuk memastikan tidak ada orang mencurigakan.

Tiba-tiba, seorang anggota Phantom yang bergerak terpisah muncul dari bawah lantai.

Eh? Biasanya muncul dari langit-langit, kenapa sekarang dari bawah lantai?

Yah, kalaupun aku bertanya pada Mimiko, dia pasti akan menjawab, "Ini kan di atas menara pengawas, tidak ada langit-langitnya, kan?".

Padahal menurutku muncul lewat tangga biasa saja sudah cukup.

Lagi pula, bukankah jalan rahasia khusus Phantom terlalu banyak?

Kalau dipikir-pikir, di loteng bengkel pun tahu-tahu sudah ada tempat istirahat khusus Phantom.

Katanya itu dibuat oleh Kuruto setelah dia tahu kalau para Phantom berjaga di atas loteng.

Awalnya mereka sangat berterima kasih... tapi belakangan ini mereka justru mengeluh kalau setelah merasakan loteng bengkel, mereka tidak bisa kembali lagi ke loteng rumah lain.

Hanya saja, saat membangun istana mana mungkin mereka memikirkan fasilitas loteng.

Berbeda dengan bengkel, loteng istana dipenuhi jalur rahasia untuk evakuasi darurat keluarga kerajaan, sehingga renovasi tidak mungkin dilakukan.

Mimiko sempat minta saran padaku, tapi reaksiku hanya satu—

"Bukan urusanku."

Kembali ke topik utama.

Menurut informasi dari Phantom, kereta kuda yang membawa Kuruto dan yang lainnya akan segera tiba.

Dia pergi menjemput paman toko kelontong dari Desa Haste, dan mereka hanya berdua mengunjungi istana.

Kuruto sepertinya ingin menunjukkan dirinya yang sudah tumbuh dewasa kepada paman dari kampung halamannya.

Tapi mengingat sifatnya, dia pasti akan gemetaran berdua dengan paman toko kelontong.

Melihat Kuruto yang gemetar ketakutan memang lucu, tapi aku tidak bisa membiarkannya kesulitan begitu saja.

Karena Lise pasti sibuk dengan persiapan upacara, biarlah aku yang menjemputnya.

Aku berusaha menahan perasaan senang yang meluap-luap.

"Aku jemput Kuruto sebentar ya! ♪"

Aku berpamitan pada Mimiko, turun dari menara pengawas, dan menuju gerbang istana.

Tepat saat itu, kereta kuda berhenti di depan istana, lalu Kuruto dan paman toko kelontong turun.

Di sana berdirilah Kuruto dengan pembawaan yang gagah namun memiliki ekspresi yang sangat santai.

"……Eh?"

Aku bergumam tanpa sadar.

Kupikir aku sedang bermimpi.

Aku tidak pernah melihat ekspresi Kuruto yang serileks itu bahkan di dalam bengkel sekalipun.

Meskipun dia datang ke istana kerajaan, rasanya seolah dia baru saja pulang ke rumahnya sendiri.

Tentu saja bukan berarti dia mengabaikan sopan santun.

Sebaliknya, karena dia tidak gugup, tata krama yang dia pelajari dari Lise terlihat sangat sempurna.

Aku refleks bersembunyi di balik pilar.

Gawat, dia tampan sekali……

Berbeda dengan Kuruto yang biasanya selalu memicu insting perlindungan, Kuruto yang sekarang tampak sangat keren sebagai seorang pria.

Bukan imut, tapi tampan.

Tentu saja bukannya aku belum pernah melihat sisi keren Kuruto sebelumnya.

Jika diperhatikan baik-baik, sekeliling Kuruto tampak sedikit bercahaya.

Aku melihat ke arahnya sekali lagi.

Kuruto tersenyum.

Gigi putihnya tampak berkilau.

Sumpah, dia keren banget.

"…………"

Wajahku terasa panas.

Mungkin kepalaku akan mengeluarkan asap.

"Hmm, memang benar dia terlihat tampan, tapi ini sedikit tidak alami ya."

"Uwah, Lise! Sejak kapan kau di sini!?"

"Saya dengar Kuruto-sama sudah tiba, jadi saya memotong pembicaraan dengan Perdana Menteri."

Perdana Menteri diputus begitu saja ya pembicaraannya.

Yah, kalau Lise memang mungkin saja mengambil keputusan seperti itu.

"Meskipun begitu, saya merasakan aura kepercayaan diri yang meluap-luap dari Kuruto-sama."

"Iya, sepertinya bukan sekadar pura-pura berani karena ada orang sedesanya di sana."

Sikap itu bukan sekadar perubahan suasana hati yang sepele.

Rasanya seolah dia baru saja mati dan terlahir kembali.

"Bukannya dia itu palsu, kan?"

"Tentu saja bukan. Statistik tubuhnya berada dalam batas toleransi pertumbuhan, dan pakaiannya juga sama persis dengan yang dia pakai tadi pagi."

"Kau bisa melihat jahitan baju dari jarak sejauh ini!? Walau kau memperkuat penglihatan atau penciuman dengan sihir, ini tetap tidak masuk akal!"

"Eh? Saya tidak memakai penguatan sihir, kok?"

"Malah makin tidak masuk akal!"

Aku tahu sedikit data tubuh Lise untuk kepentingan pengawalan.

Penglihatannya normal, tapi harusnya bukan jenis penglihatan yang bisa melihat jahitan baju.

Namun, dia tidak sedang berbohong.

Gadis ini tidak akan pernah berbohong soal Kuruto.

Aku mencoba memicingkan mata, tapi……

"Sial, aku tidak bisa melihat jahitan bajunya."

Padahal penglihatanku harusnya lebih baik dari Lise.

"Cih, aku cuma bisa melihat rambut bercabangnya saja."

"Fufu, itu karena cinta Anda kepada Kuruto-sama masih kurang, Yuri-san."

Wajah sombong Lise membuatku kesal.

"……Dua-duanya bukan manusia."

Sepertinya aku mendengar suara Phantom dari bawah lantai.

Tidak, kalau cuma rambut bercabang harusnya kelihatan, kan?

Rambut manusia itu tiga puluh kali lebih tebal daripada benang sutra baju Kuruto, tahu.

Yah, sejak awal aku juga tidak berpikir kalau Kuruto itu palsu.

"Lagipula, saya juga penasaran dengan paman toko kelontong itu."

Lise bergumam.

"Sepertinya dia tidak terlalu kuat menghadapi otoritas, tapi sekarang dia tampak berwibawa."

"Ah, aku juga dapat reaksi yang sama saat bilang aku sepupu dari pemilik pulau di negara lain. Apa ini gara-gara obat?"

"Kemungkinan besar ini sejenis obat penumbuh rasa percaya diri, ramuan relaksasi, atau sejenisnya."

Aku setuju dengan pendapat Lise.

Sebenarnya obat semacam itu ada yang beredar di toko obat ibu kota, namun semuanya hanyalah obat palsu.

Tapi, obat yang kemungkinan diminum Kuruto pastilah barang asli.

Apalagi efeknya sangat kuat.

Kuruto dulu bilang dia tidak percaya diri bisa membuat obat seperti itu, tapi ternyata paman toko kelontong bisa membuatnya.

Baik Kuruto maupun paman toko kelontong, keduanya memiliki bakat peracikan obat peringkat SSS, alias tingkat di luar nalar manusia.

Pasti paman toko kelontong bisa membuat obat yang Kuruto bilang tidak bisa dia buat dengan mudah.

"Paman toko kelontong dulu bilang tidak percaya diri membuat obat sakit lambung, sementara Kuruto-sama sudah menguasai cara membuatnya."

Jangan bahas soal itu, deh.

Dengar-dengar dia hanya bisa membuat obat serbaguna yang kalau diminum untuk mengobati lambung, sekalian menyembuhkan semua penyakit lainnya.

Bagaimanapun, kesimpulan yang masuk akal adalah mereka berdua meminum obat peningkat rasa percaya diri.

Begitu ya, ternyata ada obat sehebat itu.

Efeknya mungkin tidak abadi, tapi itu artinya kapan pun aku minta, aku bisa melihat Kuruto yang keren itu.

Saat aku sedang berpikir begitu, paman toko kelontong dipandu masuk ke dalam istana oleh petugas.

Kuruto yang ditinggal sendirian rencananya akan menunggu di bank, dan aku berniat menyapanya—tapi saat itulah.

Seorang pria berpakaian koki keluar dari istana dan berlari ke arah Kuruto.

Aku sempat waspada dan memegang senjata, tapi melihat para Phantom tidak melerai, sepertinya dia bukan musuh.

"Aduh, orang itu—rasanya saya pernah melihatnya di suatu tempat."

Lise memiringkan kepalanya.

"Kalau dia koki istana, kau pasti pernah bertemu dengannya di dalam istana, kan?"

"Bukan, dia bukan koki istana…… Ah, saya ingat! Dia Tuan Gerhark dari restoran masakan aneh!"

"Restoran masakan aneh? Kau punya hobi makan seperti itu?"

"Bukan begitu. Beliau adalah koki yang menjadi murid memasak Kuruto-sama. Dulunya beliau adalah kepala koki di Hotel Coconoir."

Aku tahu nama Hotel Coconoir, tapi kenapa mantan kepala koki hotel sehebat itu sekarang malah jadi pemilik restoran masakan aneh?

……Ah, maksudnya dia tipe orang yang hidupnya berubah drastis setelah terlibat dengan Kuruto ya. Paham, deh.

Gerhark menghampiri Kuruto.

"Guru! Saya sudah menunggu Anda!"

"Eh? Tuan Gerhark, kan? Sudah lama tidak bertemu. Kenapa Anda ada di sini?"

"Hari ini Kaisar Gurumaku dan Ratu kaum iblis akan datang, jadi kepala koki istana ini memanggil saya."

Gerhark memberi penjelasan, namun suaranya langsung berubah panik.

"Tapi bukan itu masalahnya! Guru, tolong pinjamkan kekuatan Anda!"

"Ada apa sebenarnya?"

"Sebenarnya, kepala koki jatuh pingsan karena encok pinggang dan sudah dilarikan ke klinik pengobatan."

"Gawat—kalau begitu cepat beri obat——"

"Tidak, soal obat tidak masalah, tapi dia tidak dalam kondisi bisa langsung kembali bekerja…… Padahal, hidangan utama perjamuan kali ini adalah masakan daging kebanggaan kepala koki."

"Tolong, pinjamkan kekuatan Guru!"

Sebenarnya meski Kuruto tidak turun tangan pun, kalau dikasih koyo buatan Kuruto, encok pinggangnya pasti langsung sembuh total.

Kalau Kuruto yang biasanya, dia pasti akan menolak sambil bilang mana mungkin dia bisa menggantikan kepala koki istana.

Tapi, Kuruto yang hari ini berbeda.

"Baiklah, serahkan padaku."

Ucapnya dengan penuh percaya diri sambil mengikuti Gerhark.

"Hebat ya, Kuruto yang sekarang. Kalau dia selalu seperti itu, meskipun tidak menyadari kemampuannya sendiri, kurasa dia bisa berjuang dengan baik sebagai Atelier Master yang resmi."

Yah, sebenarnya aku ingin dia berubah karena kekuatannya sendiri, bukan karena bantuan obat.

Tapi, Kuruto yang seperti itu boleh juga, sih.

——Hm?

"Lise, bukankah dari tadi kamu agak aneh? Biasanya kamu bakal bilang, 'Aah, Kuruto-sama yang penuh percaya diri juga sangat mempesona,' lalu mimisan. Apa ada yang kamu khawatirkan?"

"Belakangan ini pembuluh darah di rongga hidungku sudah lebih kuat, jadi aku jarang mimisan. Tapi, memang benar ada sedikit hal yang kupikirkan."

Begitukah?

Yah, aku memang berpikir kalau hidangan utama yang dibuat Kuruto dengan sungguh-sungguh disajikan, beberapa tamu undangan mungkin akan pingsan saking lezatnya.

Namun beruntung, tamu utama dalam penandatanganan damai hari ini adalah Kaisar Kekaisaran Gurumaku dan Hildegard.

Sudah tidak perlu dikatakan lagi kalau Hildegard tidak akan jadi masalah, dan Kaisar pun pernah meminum teh buatan Kuruto sekali.

Jadi, beliau sudah punya sedikit kekebalan terhadap Kuruto. Beliau pasti tidak akan pingsan.

Selama mereka berdua aman, sisanya pasti bisa diatasi.

Hanya saja, rencanaku untuk pergi ke bank bersama Kuruto batal karena aku sendiri tidak punya urusan khusus.

"Lise, setelah ini apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku memang bukan keluarga kerajaan, tapi secara posisi, aku adalah sosok kunci dalam penandatanganan damai kali ini. Tentu saja aku terpaksa harus ikut serta dalam upacara penandatanganan."

"Bagaimana kalau Yuri-san ikut juga? Aku bisa menyiapkan gaun dan tempat duduknya. Tentu saja, termasuk pesta perjamuannya."

"Uhee... aku ogah."

Meskipun masakan serius Kuruto digantungkan sebagai umpan, dia kan bisa membuatnya kapan saja kalau aku minta.

Itu bayaran yang terlalu murah untuk ditukar dengan memakai gaun.

Lagi pula, aku juga akan dipaksa berpartisipasi dalam Perjanjian Kelautan Utara antara Federasi Kota Kepulauan Koskiet—kampung halamanku—dengan Kerajaan Homuros dan kaum iblis yang akan diadakan beberapa hari lagi.

Karena itu, Kak Loretta yang merupakan penguasa pulau berpesan agar aku tidak melakukan tindakan yang terlalu mencolok pada penandatanganan kali ini.

"Kalau begitu, bagaimana kalau menjadi lawan tanding pedang kakak tertuaku? Kakakku itu bodoh ilmu pedang, dia pasti senang kalau Yuri-san yang mantan petualang langsung di bawah keluarga kerajaan mau melayaninya. Toh, dia bilang tidak tertarik dengan upacara penandatanganan dan tidak akan ikut."

"Walaupun dia Putra Mahkota, bisa-bisanya tidak ikut upacara penandatanganan. Sebebas apa sih keluargamu itu? Aku benar-benar tidak mau."

"Kalau begitu, jadilah penurut dan masuklah ke bawah komando Mimiko-san."

"Itu yang paling aman, ya..."

Akhirnya, aku kembali ke tempat Mimiko, meminjam seragam penjaga istana, dan ditugaskan menjaga bagian dalam kastil di bawah komandonya.

Meskipun ada penambahan personel keamanan secara mendadak, karena penjaga dari seluruh negeri berkumpul untuk penandatanganan damai ini, aku langsung dimasukkan ke dalam barisan begitu menunjukkan surat instruksi dari Mimiko.

Tempat yang dialokasikan padaku adalah lorong yang agak jauh dari lobi pintu masuk kastil.

Aku tidak akan berinteraksi langsung dengan tamu terhormat, tapi jaraknya masih dalam jangkauan pandangan.

Beberapa saat kemudian, Kaisar Gurumaku muncul bersama pengikutnya dan seorang wanita cantik berambut abu-abu yang tampak berusia sekitar dua puluh tahun.

Karena wanita yang muncul bersamanya itu memiliki raut wajah yang mirip dengan Lise, gosip langsung menyebar di antara para penjaga sekitar. Mereka menduga apa dia anak atau cucu rahasia Kaisar Gurumaku?

Namun sayangnya, kedua dugaan itu salah.

Yang benar adalah cicit rahasia.

Ya, sebenarnya itu adalah Akuri.

Karena Lise tidak bisa meninggalkan tugasnya, aku meminta Akuri untuk menjemput Kaisar Gurumaku di landasan Kapal Terbang.

Mereka sudah saling kenal di Pegunungan Scene, dan Kaisar pun sangat menyayangi Akuri yang merupakan cicitnya, jadi itu pilihan yang tepat.

Di tempat itu, identitas Akuri sebagai Sang Sage sudah diketahui oleh Kaisar. Malah, beliau bercerita dengan senang kalau Akuri sedikit mirip dengan mendiang istrinya saat masih muda.

Seharusnya tugas Akuri selesai setelah mengantar sampai depan gerbang kastil, seperti saat Kuruto mengantar paman toko kelontong... tapi mungkin Kaisar mengajaknya untuk ikut sampai akhir.

Untuk sementara, Kaisar dan rombongannya dipandu menuju ruang tamu agung.

Sesaat mataku bertemu dengan Akuri, dan dia tersenyum padaku.

Penjaga yang berdiri di sampingku sepertinya salah paham dan mengira senyuman itu ditujukan padanya, hingga dia tampak terpesona.

Dibandingkan aku atau Lise, dia jauh lebih cocok menjadi seorang putri.

Saat aku memikirkan hal itu, ketegangan merayap di tempat tersebut.

Ada laporan bahwa Kaisar Tua Hildegard beserta pengikutnya telah tiba.

Sebagian besar orang yang bertugas menjaga istana adalah mereka yang belum pernah ke Desa Master Pedang maupun ke Pegunungan Scene.

Artinya, mayoritas dari mereka baru pertama kali berhadapan langsung dengan kaum iblis.

Dan karena mereka semua diajarkan sejak kecil bahwa kaum iblis adalah monster yang mengerikan, mustahil meminta mereka untuk tidak gugup.

"Oi, lepaskan tanganmu dari gagang pedang. Mereka itu tamu terhormat."

Aku memperhatikan pria di sampingku yang tanpa sadar mengulurkan tangan ke gagang pedangnya, lalu memberinya peringatan.

"Hah... Ma-maaf."

Astaga, kalau begini mungkin lebih baik membiarkan para ksatria Valha yang berjaga.

Yah, ketakutan yang sudah tertanam sejak kecil memang tidak mudah dihapus begitu saja.

Malah, mungkin para ksatria Valha-lah yang tidak normal.

Mungkin karena sering diserang kawanan monster dan bertarung dengan pasukan iblis, sekrup ketakutan mereka ada yang copot.

Soal tidak normal, aku pun tidak bisa mengomentari orang lain, sih.

Kemudian, dengan dipandu oleh para penjaga, kaum iblis masuk ke dalam kastil.

Sosok Chichi tidak terlihat... tapi dia memang jenis iblis yang posisinya seperti Phantom atau Grim Reaper yang ahli dalam spionase, jadi dia tidak akan menampakkan diri di panggung depan.

Dan yang berada di tengah adalah Hildegard.

"——Anak kecil?"

Penjaga di sampingku bergumam tanpa sadar.

Sepertinya pendidikannya sama sekali tidak meresap, ya?

"Jangan berbisik——itu adalah Kaisar Tua Hildegard. Dia sudah hidup lima puluh kali lebih lama darimu."

Aku tetap menghadap ke depan dan menjelaskan dengan mulut yang sebisa mungkin tetap tertutup.

"Na, kamu bohong, kan?"

Penjaga di sampingku kembali menghadap ke depan sambil bertanya dengan keringat dingin, tapi aku tidak mengatakan apa-apa lagi.

Setelah rombongan iblis itu pergi dari lobi menuju bagian dalam, terdengar suara helaan napas dari sampingku.

"Fuu, lelah sekali. Setidaknya sekarang sudah lega."

"Jangan bodoh, tugas kita sebagai penjaga justru baru dimulai setelah tamu masuk ke dalam kastil."

"Kamu serius sekali, ya. Mana mungkin ada penyusup yang datang ke tempat berbahaya seperti ini?"

"……"

"Maaf, deh. Jangan pasang wajah seperti itu."

Padahal aku hanya merasa heran, tapi sepertinya dia mengira aku marah.

"Nih, ini minuman penambah nutrisi yang terkenal di pasaran. Minumlah, lalu ayo kita berjuang di tugas yang sesungguhnya sesuai katamu."

Sambil berkata begitu, dia menyerahkan botol cokelat. Aku membuka tutupnya dan——

"——Kena kau."

Begitu mengucapkannya, aku mendaratkan tendangan ke perut pria itu.

"Gubo."

Mengeluarkan suara yang tidak jelas, pria itu langsung jatuh pingsan di tempat.

Penjaga lain yang melihat itu berlari mendekat sambil berteriak, "Apa yang kamu lakukan!", tapi sebelum itu, sesosok pria turun dari langit-langit.

Dia adalah Grim Reaper.

"Nih, barang buktinya."

Saat aku menyerahkan botol obat itu, dia memanggul si penjaga——bukan, pria yang menyamar jadi penjaga itu——lalu menghilang ke balik langit-langit.

Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada penjaga palsu itu.

Yah, paling-paling dia bakal diseret ke penjara setelah semua informasi tentang dalangnya diperas habis.

Kemudian, salah satu penjaga yang berlari mendekat bertanya padaku.

"Hei, tadi itu apa?"

"Hm? Cuma pemandu teror. Mungkin dia disewa oleh organisasi yang tidak menginginkan perdamaian dengan kaum iblis. Pasti setelah membuatku tertidur dengan obat, dia berniat membuka kunci jendela di sana untuk memandu penyusup masuk. Yah, karena orang-orang mencurigakan seperti itu tidak mungkin dibiarkan, makanya orang sepertiku disewa untuk berjaga di sini."

Kalau dia memang penjaga resmi, tingkat kemampuannya terlalu rendah.

 

Setelah itu, menurut cerita yang kudengar dari Mimiko, puluhan orang termasuk tim penyusup berhasil ditangkap.

Hampir semuanya adalah pion yang bisa dibuang sehingga tidak banyak informasi yang didapat, namun bukti situasional mulai terkumpul bahwa ini adalah ulah para bangsawan dari faksi gereja.

Yah, aku bisa paham kenapa orang-orang yang terlibat dengan gereja mengamuk.

Identitas asli Paus ternyata adalah Raja Iblis, dan ada fakta bahwa amukan Kardinal telah membahayakan para pemimpin negara.

Terlebih lagi, karena Linoa alias

Bandana yang merupakan Kardinal bayangan telah sepenuhnya keluar dari Gereja Poran, skala organisasi tersebut terpaksa menyusut drastis.

Meski begitu, karena banyaknya pengikut, mereka masih punya pengaruh kuat yang merepotkan.

Akan bagus jika dalang dari percobaan teror ini menjadi jelas, apakah ini instruksi dari gereja ataukah amukan para bangsawan yang mencoba mengikuti ajaran gereja...

Omong-omong, ada kekhawatiran bahwa pihak militer yang akan kesulitan jika perang hilang juga bergerak di balik layar, tapi kabarnya mereka sama sekali tidak bergerak.

Bagaimanapun, dengan demikian——

Raja Kerajaan Homuros, Carlos Homuros.

Kaisar Tua, Hildegard.

Dan Kaisar Kekaisaran Gurumaku, Hedevia von Gurumaku.

Upacara penandatanganan tiga orang, sekaligus tiga negara, dilaksanakan dengan khidmat.

Pada sore hari itu, Kerajaan Homuros secara resmi berada dalam status gencatan senjata untuk pertama kalinya sejak negara itu didirikan.

 

Lalu tibalah perjamuan makan malam——

"Ini sungguh……"

"Kamu benar-benar melakukannya ya, Kuruto."

"Yah, kurasa tidak masalah."

Di depan ketiga raja, terlihat pemandangan para pengikut yang jatuh pingsan dengan ekspresi ekstasi saking lezatnya hidangan utama yang disajikan.

Mendengar cerita itu dari Mimiko, aku hanya bisa merasa heran sambil berpikir bahwa akhirnya jadi begitu juga.

Yah, karena penyebabnya adalah makanan yang terlalu lezat, tidak ada komplain sama sekali dari negara mana pun.

Hanya saja, ada satu masalah besar——

"Apakah Kuruto-sama baik-baik saja!?"

Lise yang datang menyusul setelah perjamuan selesai bertanya dengan cemas.

"Ah, sekarang dia sedang tidur——walaupun statusnya koma selama dua puluh empat jam."

Aku berkata begitu sambil memandang Kuruto yang berbaring di tempat tidur kamar tamu.

Menurut cerita paman toko kelontong, sesuai dugaan kami, Kuruto meminum obat peningkat rasa percaya diri.

Hasilnya, Kuruto menyajikan masakan dengan penuh percaya diri.

Lalu, melihat reaksi para tamu yang memakan masakannya, sepertinya dia menyadari bahwa kemampuan memasaknya itu tidak normal.

Orang-orang Desa Haste, jika mereka menyadari bahwa kemampuan mereka jauh lebih unggul dari orang lain, kesadaran dan ingatan mereka hari itu akan hilang, dan mereka akan jatuh ke dalam kondisi koma selama dua puluh empat jam.

Laporan dari Mimiko bahwa Kuruto tumbang terjadi sesaat sebelum perjamuan berakhir.

"Tapi bagaimana ini, Lise! Jadwal untuk memandu Kaisar adalah besok, kan!?"

Ya, alasan kenapa upacara penandatanganan kali ini diadakan di Kerajaan Homuros bukan hanya karena alasan geografis di mana kerajaan itu berada di antara Kekaisaran Gurumaku dan wilayah iblis.

Observasi terhadap Bank, lembaga keuangan yang belum pernah ada presedennya di dunia, juga menjadi salah satu tujuan utama.

Karena itu, banyak pejabat sipil yang menangani keuangan ikut mendampingi Kaisar Gurumaku.

Tapi kenyataannya, tujuan Kaisar hanyalah alasan pribadi yang sangat sederhana: ingin bermain di Adventurer Land buatan Kuruto yang sedang viral, serta ingin melihat wajah cucu dan cicitnya.

Kuruto adalah pemandu untuk observasi tersebut, jadi akan sangat merepotkan jika dia tidak bangun selama dua puluh empat jam.

"Iya, ini merepotkan ya…… Padahal aku sudah merasa cemas hal seperti ini akan terjadi."

"Kalau sudah merasa begitu harusnya bilang dong! Ah, sial, kita sudah bilang ke Kaisar kalau Kuruto yang akan memandu, kan? Sepertinya beliau sangat menyukai Kuruto…… Apa kita bisa mencari pengganti sekarang?"

"Kalau hanya sekadar memandu aku bisa menggantikannya, tapi aku tidak bisa menjelaskan bagaimana wahana di Adventurer Land bergerak atau masalah keamanannya, lho?"

"Hal seperti itu jelas tidak akan dipahami oleh siapa pun selain mereka yang membuatnya!"

Informasi tentang fasilitas Adventurer Land memang sudah dipublikasikan, tapi apakah bisa memahaminya atau tidak adalah masalah lain.

"Aku tahu! Paman toko kelontong pasti bisa! Kita kan akan bertemu dengannya besok, jadi sekalian saja minta tolong padanya."

"Sayangnya, sepertinya beliau tidak ikut serta dalam pembangunan Adventurer Land. Kalau dijelaskan beliau mungkin paham, tapi paman itu juga meminum obat peningkat rasa percaya diri. Kalau dia salah langkah dan ikut tumbang seperti Kuruto, itu malah makin gawat. Beliau itu sosok yang benar-benar tidak ada penggantinya."




"Yuri-Mama! Aku dengar dari Mimiko-san kalau Papa pingsan—ah, ada Lise-Mama juga."

Akuri masuk ke dalam ruangan, atau lebih tepatnya, muncul melalui sihir teleportasi.

Dia menggunakan wujud anak-anak seperti biasanya karena katanya lebih mudah untuk melakukan teleportasi dibandingkan dalam wujud dewasa.

"Akuri, begitulah keadaannya. Apa kamu bisa meminta Kakek untuk menunda kunjungan ke Adventurer Land sampai lusa?"

"Kakek Buyut mungkin akan setuju, tapi para pejabat sipil di sekitarnya sepertinya sangat sibuk, jadi kalau alasannya tidak sangat mendesak, mungkin tidak akan dikabulkan..."

Benar juga, mereka adalah orang-orang yang menjadi pusat penggerak negara.

Satu hari saja waktu mereka terbuang, entah berapa besar kerugian yang akan dialami kekaisaran.

"Hmm, baiklah. Aku akan mencoba membangunkan Papa."

"Apa kamu bisa melakukan hal seperti itu?"

"Dulu di Menara Sage, aku pernah mencoba membuat ruangan yang aliran waktunya berjalan sangat lambat."

Akuri bercerita bahwa dulu dia merasa depresi jika harus menunggu selama ribuan tahun.

Namun, jika dia disegel di dalam Kristal Sihir yang menghentikan waktu sepenuhnya seperti Bandana, Yuna tidak akan bisa menanganinya sendirian jika terjadi sesuatu.

Lagipula, tanpa kekuatan Akuri, mustahil untuk keluar dari Kristal Sihir tersebut.

Karena itulah, dia bersama Yuna membuat ruangan yang tidak menghentikan waktu sepenuhnya, melainkan bisa menyesuaikan kecepatannya.

Saat dua puluh empat jam berlalu di dunia luar, di dalam ruangan itu waktu bisa berlalu maksimal empat puluh delapan jam atau minimal dua belas jam.

Dengan kata lain, kecepatan waktu bisa diubah dari dua kali lipat hingga setengahnya.

Namun, karena hal itu mengonsumsi Mana Akuri sebagai Roh dalam jumlah besar, akhirnya ruangan itu tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Tapi kali ini, jika Kuruto dibawa ke sana dan waktu dipercepat dua kali lipat dari biasanya, dia akan terbangun dalam dua belas jam.

"Tapi, apa Mana-mu akan baik-baik saja? Lagipula, bukankah hanya murid Sang Sage yang boleh masuk ke Menara Sage—"

Lise bertanya dengan nada khawatir.

Benar, Akuri adalah seorang Roh, dan Mana baginya setara dengan energi kehidupan bagi manusia.

Mengonsumsinya dalam jumlah besar bukanlah hal yang baik.

"Kalau cuma setengah hari tidak apa-apa. Tapi besok aku harus tidur seharian. Mempercepat waktu terus-menerus itu mustahil, jadi kurasa setidaknya akan memakan waktu dua belas jam. Memang benar hanya murid yang boleh masuk, tapi... umm, kalau Papa pasti tidak apa-apa."

Dua belas jam lebih, ya.

Jadwal pagi adalah observasi bank, jadi mungkin dia akan sempat sampai saat kunjungan itu berakhir.

Tapi, kalau Kuruto juga bisa masuk ke Menara Sage, kenapa selama ini Akuri diam saja?

Yah, sudahlah, itu tidak penting sekarang.

"……Kalau begitu, bisakah kami menyerahkannya padamu?"

"Iya, serahkan saja padaku."

Setelah berkata begitu, Akuri meletakkan tangannya pada Kuruto yang sedang tertidur, lalu mereka melakukan teleportasi.

Sisanya hanya bisa kuserahkan pada Akuri.

Di sana juga ada Bandana. Dia pasti tidak akan membiarkan Akuri melakukan hal yang nekat.

 

Keesokan harinya, Hildegard kembali ke Valha bersama pasukan ksatria Valha yang dipimpin Jenderal Alraid sebagai pengawal pihak kerajaan, serta jajaran pengikutnya.

Sementara itu, Kaisar dan para bawahannya memulai observasi bank sesuai jadwal.

Karena Akuri tidak ada, Lise-lah yang mendampingi Kaisar sebagai penggantinya.

Begitu Akuri menghilang, para bawahan dan orang-orang di sekitar kabarnya langsung heboh bertanya-tanya, "Ke mana perginya wanita cantik misterius tadi?".

Lalu, yang memandu di bank adalah sang direktur, Kirschel.

Omong-omong, saat aku memberitahukan tugas ini kemarin—

"Eh? Bukannya aku cuma direktur formalitas saja? Kenapa aku harus memandu Kaisar dari negara lain di dalam fasilitas bank?"

Wajahnya tampak seolah ingin memprotes begitu, tapi setelah menyampaikan pesannya, aku langsung lari sekuat tenaga.

Aku tidak mau direpotkan oleh keluh kesahnya.

Hanya saja, karena Kirschel mengira dia akan dihukum mati (setidaknya begitulah yang dia bayangkan) jika terjadi sesuatu pada raja negara lain di sini, dia pasti sudah berlatih sangat keras.

Pemanduan bank berjalan tanpa kendala sedikit pun.

Pertanyaan-pertanyaan teknis dari para pejabat sipil setelah pemanduan juga bisa dijawab dengan lancar, sepertinya karena Mimiko sudah menyiapkan materinya terlebih dahulu.

"Direktur Kirschel, dari mana sebenarnya dana yang digunakan untuk mendirikan bank ini berasal? Karena bank membeli obligasi negara, berarti ini bukan berasal dari bantuan pemerintah, kan?"

Akhirnya datang juga pertanyaan ini.

Di sini dia tidak bisa bilang kalau itu adalah aset pribadi Kuruto, tapi dia juga tidak boleh berbohong.

Kirschel menjelaskan dengan sangat tenang, seolah-olah dia baru saja meminum obat penenang dari Kuruto.

"Berasal dari pihak-pihak yang menyetujui potensi bank ini. Terutama, bantuan dari Tuan Atelier Master sangatlah besar."

"Kalau begitu, berarti bank harus menghormati keinginan Atelier Master. Jika beliau bilang sesuatu itu putih, bukankah Anda terpaksa bilang putih meski Anda menganggapnya hitam? Dengan begitu, apakah pemberian pinjaman yang adil bisa dilakukan?"

"Kekhawatiran itu tidak perlu. Atelier Master yang memberikan bantuan modal tidak berniat mencampuri urusan manajemen bank sedikit pun. Buktinya, di dokumen yang dibagikan tadi maupun di papan nama bank, nama beliau sama sekali tidak tertulis."

"Maksud Anda, beliau memberikan bantuan dana tanpa meminta imbalan apa pun? Lalu, siapakah sosok Atelier Master tersebut?"

"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu."

Mendengar ucapan Kirschel, dahi pejabat yang bertanya itu sedikit berkerut.

Namun, Kirschel langsung menyambung sebelum pejabat itu sempat membuka mulut lagi.

"Beliau bukanlah tipe orang yang ingin menjual nama di depan Anda sekalian dari kekaisaran demi ketenaran duniawi... Justru karena itulah, beliau membantu bank demi masa depan negara, bahkan masa depan dunia, tanpa meminta imbalan apa pun. Mohon Anda memahaminya seperti itu. Selain itu, atas keinginan beliau, pinjaman bank akan dilakukan tanpa memandang batas dalam negeri maupun luar negeri."

Mendengar itu, sang pejabat sepertinya merasa sulit untuk memaksa menanyakan identitas asli Atelier Master, sehingga tidak ada pertanyaan lebih lanjut.

Dengan demikian, observasi bank berakhir dengan lancar.

Bahkan, terlalu lancar.

"Hei, Kirschel! Seharusnya aku sudah menyuruhmu untuk mengulur waktu di tengah jalan! Kenapa kamu tidak melakukan apa-apa!"

Setelah Kaisar meninggalkan bank, aku tetap tinggal dan membentak Kirschel.

"Ma-mana mungkin aku bisa mengulur waktu. Semuanya menakutkan, tahu! Aku merasa seolah akan mati karena ditatap tajam. Apakah mereka itu benar-benar pejabat sipil!? Bukankah mereka semua pendekar sakti yang punya nama besar?"

"Bukan, mereka murni pejabat sipil, kok. Kalau pendekar sungguhan, mereka tidak akan mengeluarkan hawa keberadaan yang setransparan itu. Aku sempat melihat tangan mereka, sepertinya mereka tidak pernah memegang pedang sekali pun. Hanya saja, katanya mereka melakukan angkat beban untuk menghilangkan stres. Julukan mereka dari rakyat kekaisaran adalah 'Pejabat Sipil Berotot'."

Katanya itu bukan berarti otak mereka isinya cuma otot, melainkan pejabat yang memiliki otak sekaligus otot.

Aku juga terkadang ingin menggerakkan tubuh kalau sudah terlalu banyak mengerjakan tugas administratif, jadi aku paham perasaan mereka.

"Bukan itu masalahnya! Ah, sial, padahal Kuruto belum datang juga."

"Apakah terjadi sesuatu pada Kuruto-kun?"

"Yah, dia cuma bangun kesiangan sedikit."

"Kuruto-kun juga bisa bangun kesiangan, ya. Agak mengejutkan. Ah, kemarin aku juga bangun kesiangan tiga puluh menit, lalu diceramahi oleh Rob-san selama satu jam. Tidakkah menurutmu ceramah satu jam untuk keterlambatan tiga puluh menit itu tidak sebanding?"

"……Kamu jadi banyak bicara ya hari ini."

"Tentu saja, karena aku sudah menyelesaikan tugas besar menghadapi Kaisar. Saat ini aku berada dalam mode tak terkalahkan!"

"Ooh, begitu ya. Kalau begitu, sekalian saja aku minta tolong padamu untuk memandu di Adventurer Land nanti? Kalau tidak salah, kemarin kamu mengambil cuti tahunan untuk bermain di sana, kan? Bahkan katanya sampai beli tiket tahunan segala? Ngomong-ngomong, sejak kapan jabatan eksekutif punya sistem cuti tahunan?"

"Maafkan saya! Ampuni saya! Mohon kasihani saya! Saya tidak tak terkalahkan sama sekali! Saya cuma serangga sampah yang paling lemah! Maafkan kelancangan saya tadi! Ini, ini oleh-oleh dari Adventurer Land, mohon diterima!"

Kirschel langsung bersujud di tempat dan menyodorkan boneka Kenshi-kun, salah satu maskot Adventurer Land yang berbentuk anjing.

Melihat semangatnya yang seolah-olah mau menjilat sepatuku jika diperintahkan, aku jadi merenung kalau aku mungkin sudah terlalu berlebihan melampiaskan kekesalan padanya.

Lagipula, kalau memang aku mau menyuruh Kirschel memandu, lebih baik sejak awal aku menyuruh orang lain saja.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku juga salah karena memaksakan banyak hal padamu."

"Yuri-san, kalau begitu——"

"Iya, ke depannya mungkin pejabat penting dari berbagai negara akan datang untuk observasi bank, saat itu aku mengandalkanmu, ya."

"Eh……"

Kirschel membeku dengan senyum yang masih tertempel di wajahnya.

Ya, berjuanglah sekuat tenaga untuk bertahan hidup.

 

Aku pergi mendahului rombongan Kaisar ke Adventurer Land selagi beliau sedang makan siang di restoran ibu kota.

Benar saja, Kuruto masih belum datang.

"Ah, Yuri-san, Kuruto tidak ada? Kami punya janji untuk bertemu di sini."

Paman pemilik toko kelontong dari Desa Haste menemukanku dan bertanya.

"Ah, maaf, sepertinya dia akan terlambat karena ada sedikit urusan pribadi. Ngomong-ngomong, apa Paman hari ini juga meminum obat peningkat rasa percaya diri?"

"Iya, awalnya kupikir tidak butuh, tapi kuminum juga untuk berjaga-jaga."

Dia bilang tidak butuh itu mungkin karena sekarang sedang penuh percaya diri. Aku yakin sebelum meminumnya dia pasti merasa sangat membutuhkannya.

"Kalau Paman yang sekarang sih tidak masalah. Sekitar satu jam lagi Kaisar akan tiba di sini."

"Ooh, Kaisar atau Dewa pun, suruh saja datang ke sini!"

Dewa ya—kalau memang ada sosok seperti itu, tolong, buatlah Kuruto sempat sampai di sini tepat waktu.

Harapanku itu sia-sia saja, karena kereta kuda yang membawa Kaisar, Lise, dan yang lainnya sudah mulai terlihat menuju ke sini.

"Ada apa, Yuri-san? Wajahmu pucat sekali?"

"Ah, ini soal Kuruto. Tadi kubilang urusan pribadi, tapi sebenarnya dia terkena penyakit endemik yang hanya diderita oleh orang Desa Haste."

"Oh, yang itu ya…… Memang benar sih, kemarin saja ada tamu undangan yang ketularan penyakit itu dan pingsan saat sedang makan."

Paman toko kelontong juga ikut dalam perjamuan kemarin.

Tentu saja baginya kelezatan masakan Kuruto itu sudah seperti makanan sehari-hari, jadi dia tidak mungkin pingsan.

Dia pasti mengira para tamu lain yang pingsan karena saking lezatnya makanan itu sebagai korban penyakit endemik—pasti Mimiko atau siapa yang menjelaskannya begitu.

"Seharusnya tugas Kuruto adalah memandu Kaisar di Adventurer Land dan memperkenalkan Paman. Harusnya dia sudah sampai sekarang, tapi——"

"Hm? Apa Kuruto akan sempat? Kami ini kalau sudah tumbang tidak akan bangun selama seharian penuh lho."

"Itu…… Karena dia dibawa ke ruang pengobatan istana, mereka bisa mempercepat pengobatannya."

"Begitu ya, pantas saja itu ruang pengobatan yang mengurus pusat negara."

Karena aku bingung harus menjawab jujur atau tidak, akhirnya aku berbohong seadanya.

Meskipun alasanku agak dipaksakan, paman toko kelontong sepertinya merasa itu masuk akal.

"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu biar aku yang mengulur waktu. Lagipula Kaisar ingin tahu soal Arthur, kan? Dia sering datang ke tokoku dulu. Aku akan menceritakan berbagai hal menarik. Misalnya, saat pertama kali dia datang ke desa dan tersandung bongkahan Mithril yang sepertinya dibuang oleh orang bodoh. Waktu itu dia marah-marah pada Mithril-nya sambil bilang, 'Kenapa barang seperti ini jatuh di tengah desa!'"

Paman, kurasa itu bukan cerita tentang pria yang marah pada batu karena tersandung, tapi dia sedang melontarkan protes kenapa ada Mithril tergeletak sembarangan di tengah desa.

Tapi bagaimana ya?

Apakah aman menyerahkan tugas mengulur waktu pada paman ini?

Dia adalah orang yang menempa pedang suci Excalibur, sosok yang bisa dibilang sebagai pahlawan bagi kekaisaran.

Namun, fakta itu hanya diketahui oleh Kaisar dan kami saja. Para bawahan beliau tidak tahu apa-apa.

Jika dia mengatakan sesuatu yang tidak sopan, meski mungkin tidak akan menjadi masalah internasional, perasaan para bawahan terhadap negara ini bisa memburuk.

Tapi sebagai pengisi waktu sampai Kuruto datang, dia adalah pilihan terbaik.

Toh, sejak awal Kaisar memang memanggilnya karena ingin berbincang.

"Baiklah. Aku mohon bantuannya."

"Ooh, serahkan saja padaku! Anggap saja kau sedang berada di kapal besar!"

Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri, tapi aku tidak boleh lengah karena 'kapal besar' menurut orang Desa Haste itu sering kali tiba-tiba bisa terbang ke langit.

 

Aku bergerak hingga ke luar gerbang Adventurer Land dan menghentikan kereta kuda yang tiba.

Salah satu pengawal langsung menginterogasiku.

"Apa maksudnya menghentikan kereta di depan gerbang!? Jangan bilang kami semua harus turun untuk pemeriksaan?"

"Mohon maaf sebesar-besarnya. Adventurer Land ini adalah dunia impian. Kami telah merancang sedemikian rupa agar Anda bisa menikmatinya sejak detik pertama melewati gerbang. Karena itu, jika Anda melewati gerbang tetap berada di dalam kereta, kesenangannya akan berkurang setengahnya. Silakan turun dari kereta dan masuklah dengan kaki Anda sendiri."

Setelah aku berkata begitu, pintu terbuka dan Kaisar bersama Lise muncul dari dalam.

"Jika dibilang setengah kesenangan akan hilang, maka tidak ada pilihan lain selain turun."

Lalu, beliau menatapku dan tersenyum.

"Sudah lama ya, Putri Koskiet. Hari ini kamu tidak memakai seragam penjaga?"

"Sudah lama tidak bertemu, Kaisar Hedevia. Ternyata Anda menyadarinya?"

"Tentu saja. Kudengar kamu baru saja menggagalkan penyusupan musuh, ya? Aku dengar dari Lise."

"Benar, prestasi sahabat baikku ini tidak mungkin tidak aku beritahukan."

Saat aku dan Kaisar berbincang, wajah pengawal yang tadi membentakku langsung memucat begitu mendengar kata 'Putri Koskiet' dan 'Sahabat Lise'.

Tapi, rasanya jarang-jarang Lise membelaku seperti ini.

Aku merasa ada yang aneh, jadi aku berbisik pada Lise untuk bertanya ada apa.

Eh? Ternyata pengawal itu tidak ikut dalam perjamuan dan tidak mencicipi masakan Kuruto kemarin?

Lalu, saat dia dengar semua orang pingsan setelah makan, dia mendesak atasannya untuk menyelidiki apakah koki tersebut mencampurkan obat halusinasi?

Begitu ya, karena dia menaruh kecurigaan yang tidak-tidak pada Kuruto, Lise melakukan balas dendam kecil ini.

Yah, itu reaksi yang wajar sih, jadi meski kasihan... biarkan saja lah.

Selagi aku memahami situasinya, Kaisar bertanya.

"Lalu, di mana Baron Rockhans? Seharusnya hari ini dia yang memanduku."

"Begitulah, Kakek, mari kita bicara di dalam dulu. Orang yang Kakek ingin temui juga sudah datang."

"Umu, kalau begitu mari kita masuk."

Aku dan Lise membawa Kaisar beserta para pengawal dan pejabat sipil melewati gerbang Adventurer Land.

Pada saat itu juga——

Musik yang mengalir di dalam Adventurer Land tiba-tiba menggema di telinga.

Di saat yang sama, berbagai bangunan dengan atmosfer negeri asing tertangkap oleh mata, dan para staf yang memakai kostum boneka menyambut kami.

"Inilah alasan kenapa harus masuk lewat gerbang dengan berjalan kaki. Bangunan warna-warni yang tidak bisa dilihat dari luar, serta musik yang meriah, benar-benar berbeda dari ibu kota. Benar, jika masuk dengan kereta tadi, aku pasti rugi setengahnya."

Kaisar tampak sangat puas, tapi para pengawal terlihat gelisah.

Pasalnya, musik terdengar dari mana-mana, tapi tidak ada satu pun musisi yang terlihat. Bagi pengawal, keberadaan orang yang tidak bisa mereka pantau di dekat mereka adalah sebuah masalah.

Namun, wajar saja kalau musisi tidak ditemukan.

Karena memang sebenarnya tidak ada siapa-siapa.

Alasan kenapa musik mengalir adalah karena alat sihir bernama gramofon buatan Kuruto telah dipasang di gerbang masuk dan banyak tempat lainnya.

Terlebih lagi, musik di gerbang ini sudah diperhitungkan gelombang suaranya agar tidak bocor ke luar dinding. Sulit dipercayai kalau suara itu ternyata memiliki gelombang.

Kemudian, paman toko kelontong yang sudah menunggu di balik gerbang maju satu langkah.

"Kaisar Hedevia, senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Nama saya Banno, pemilik toko kelontong di Desa Haste."

Ternyata nama paman toko kelontong itu Banno ya.

Semua orang cuma memanggilnya paman toko kelontong atau pak tua toko kelontong, jadi aku tidak tahu namanya.

"Ooh, jadi kamu——Semuanya, aku ingin bicara berdua saja dengan orang ini."

"Baginda, tapi jika hanya berdua, fungsi kami sebagai pengawal akan——"

"Kalau begitu, jadikan Yuri-san di sana sebagai pengawal. Dia dulunya petualang utama di negara ini, kemampuannya tidak perlu diragukan. Lagipula, sepertinya penjagaan sudah disebar di mana-mana, kan?"

Kaisar mengelus janggutnya sambil memberikan isyarat tentang keberadaan para Phantom dan Grim Reaper yang sudah disiagakan di berbagai titik.

"Kalau begitu, silakan lewat sini."

Aku memandu Kaisar dan Paman Banno ke toko terdekat.

Begitu masuk ke toko, aku merasa telah salah memilih tempat.

Bukannya aku tidak melakukan riset.

Aku sudah memastikan keamanan toko ini dan menyiapkan rencana jika ada penyusup.

Hanya saja, tempat ini terlalu imut.

Ya, suasananya persis seperti kafe milik Mimiko.

Tadi aku memilihnya karena berpikir suasana ini cocok dengan Kuruto, tapi bagi dua orang kakek—meskipun tidak sopan menyebut Kaisar begitu—tempat ini sedikit terlalu imut untuk mereka duduk berdua.

Meskipun begitu, keduanya sepertinya tidak keberatan dan langsung duduk.

Ini adalah toko yang menyajikan panekuk dan krep yang lezat, tapi karena tidak ada pengawal pencicip racun, aku tidak bisa menyajikan makanan atau minuman begitu saja.

"Tuan Banno, bisakah Anda melihat barang ini?"

Kaisar melepas sabuk di pinggangnya dan meletakkan sebilah pedang beserta sarungnya di atas meja.

"Permisi."

Paman Banno mengambil pedang itu, membawanya sedikit menjauh, lalu mencabutnya.

Dia menatap bilah pedang itu dengan saksama, lalu memasukkannya kembali ke sarungnya dan menyerahkannya kembali.

"Iya, ini benar-benar Excalibur yang ditempa di tokoku."

"Begitu ya. Ternyata kamulah orang tua dari pedang suci negaraku. Tanpa pedang ini, leluhurku, Arthur, tidak akan bisa membangun fondasi kekaisaran. Aku berterima kasih mewakili leluhur dan seluruh Kaisar dari generasi ke generasi."

"Begitu ya——ternyata kekaisaran itu berada di tempat yang hutannya sangat lebat ya. Syukurlah kalau Excalibur yang kuberikan itu bermanfaat."

"……………………… Ah, begitu ya, Gunting Galah ya."

Setelah terdiam beberapa saat untuk mencerna kata-kata itu, Kaisar akhirnya mengucapkannya seolah-olah menghembuskannya ke luar.

Sebenarnya, selain sebagai pedang biasa, Excalibur memiliki fungsi sebagai gunting pemotong dahan tinggi—atau gunting galah—begitulah yang kudengar dari Kuruto.

Katanya pedang itu dibuat dengan konsep bisa mengeluarkan cahaya jika dialiri Mana, sehingga dahan di tempat tinggi pun bisa dipotong dengan mudah.

Sepertinya Paman Banno salah paham setelah mendengar cerita Kaisar; dia mengira Kaisar pertama, Arthur, membangun kekaisaran dengan menebang pohon-pohon di hutan menggunakan fungsi gunting galah dari Excalibur tersebut.

Wah, benar-benar ciri khas orang Desa Haste, ya.

"Benar sekali, Kaisar. Mohon terima barang ini."

Sambil berkata begitu, Paman Banno mengeluarkan sebilah pedang dari dalam tasnya.

Tas itu ukurannya tidak muat untuk pedang... ah, ternyata itu tas penyimpanan tak terbatas yang sama seperti punya Kuruto.

Kaisar tidak berkomentar apa pun saat melihat pedang keluar dari tas tersebut.

Fakta bahwa orang Desa Haste itu abnormal sudah diketahui oleh para pemimpin negara, termasuk Raja Homuros dan Kak Loretta.

Seharusnya membawa senjata di depan Kaisar adalah masalah besar, tapi karena tidak ada orang cerewet di sekitar sini, kurasa tidak apa-apa.

"Pedang ini?"

"Namanya Caletvwlch. Ini adalah pedang yang dulu digunakan oleh Arthur-dono. Selama ini disimpan di toko. Mari, aku kembalikan kepada Anda."

"Apa, pedang milik leluhur——"

Begitu Kaisar menerima pedang itu dan mencabutnya dari sarungnya, tiba-tiba bilah pedangnya diselimuti oleh api putih.

Di balik kobaran api itu, pada badan pedangnya terukir gambar ular.

"Betapa indahnya…… ini adalah pedang leluhur."

"Iya, setelah memberikan Excalibur kepada Arthur-dono, kami sempat berbincang banyak saat sedang minum-minum. Dia bilang akan keren kalau pedangnya bisa mengeluarkan api putih, lalu dia minta diukirkan gambar ular karena ular dianggap pembawa keberuntungan di negaranya. Karena kedengarannya menarik, aku menerima pedang itu sebagai ganti Excalibur untuk dimodifikasi. Aku berniat mengembalikannya setelah selesai, tapi aku tidak sengaja terlempar dalam waktu seribu dua ratus tahun, jadi aku tidak bisa mengembalikannya langsung... Meskipun bukan kepada beliau, aku senang bisa mengembalikannya kepada keturunannya, yaitu Anda."

"Begitu rupanya. Tapi, apa benar aku boleh menerimanya?"

"Tentu saja. Ah, tenang saja, pedang ini juga sudah didaftarkan registrasi pemiliknya, jadi pemiliknya tidak akan terbakar meski menyentuh apinya."

"Begitu ya. Aku berterima kasih."

Setelah berkata begitu, Kaisar menerima Caletvwlch.

Sebagai gantinya, beliau mengeluarkan sekeping medali berwarna hitam.

Tunggu, itu kan——

"Baginda, medali itu?"

"Umu, ini adalah medali dengan lambang Kekaisaran Gurumaku. Siapa pun yang memusuhi pemegang medali ini, berarti dia memusuhi kekaisaranku. Yah, mungkin hanya kalangan bangsawan yang tahu benda ini——"

"Barang sepenting itu, apa boleh saya terima?"

Hm? Biasanya orang Desa Haste akan bilang mereka tidak bisa menerima barang sepenting itu, tapi karena dia meminum obat peningkat rasa percaya diri, reaksinya berbeda.

"Tentu saja. Medali ini bisa saja disalahgunakan, tapi aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Jika kamu berbisnis, mungkin saja kamu akan terlibat dalam kesewenang-wenangan bangsawan. Gunakanlah saat itu terjadi."

"Saya terima dengan rasa syukur."

Ngomong-ngomong, medali itu benar-benar barang luar biasa.

Di Kerajaan Homuros juga ada benda serupa yang dipinjamkan kepada apoteker kerajaan atau beberapa serikat dagang tertentu—serikat dagang dan bank milik Kuruto juga meminjamnya—tapi itu bukan sesuatu yang diberikan kepada individu.

Hal yang sama berlaku di kekaisaran.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pemegang medali tersebut diberikan kekuasaan yang setara dengan keluarga kekaisaran.

Paman toko kelontong, apakah kamu menerimanya dengan sadar?

Yah, medali itu hanya berefek pada orang yang menerimanya langsung.

Malah, jika digunakan oleh orang lain, akan dikenakan pasal pengkhianatan negara dan penghinaan keluarga kekaisaran.

Medali itu sendiri terbuat dari Mithril sehingga nilainya sangat tinggi, mungkin ada orang yang mencoba mencurinya... tapi karena Desa Haste dilindungi secara kolektif oleh Homuros, Gurumaku, Torshen, Koskiet, dan kaum iblis, serta hanya orang yang memiliki izin khusus yang boleh masuk, maka tempat itu aman.

Paman Banno juga seperti kata Kaisar, dia bukan orang yang akan menyalahgunakan medali itu, jadi kurasa tidak masalah.

"Benar juga, masih ada hal lain yang ingin saya tunjukkan kepada Kaisar. Mohon terima ini sebagai balasan atas medali tadi."

Hm? Aliran pembicaraan ini tidak ada dalam rencana sebelumnya.

Balasan atas medali——ah, mungkin ini bagian dari permintaan mengulur waktu dariku.

Luar biasa, Paman Banno benar-benar berbeda dari Kirschel.

"Pertama, ini——Gunting Galah. Dulu aku menjualnya dengan jargon beli Excalibur dapat satu gunting ini, tapi Arthur-dono bilang dia tidak butuh dan tidak menerimanya."

Benda itu benar-benar berbentuk gunting galah, bukan pedang.

Tapi, kurasa Kaisar pun tidak butuh gunting galah biasa.

"Output maksimalnya adalah seratus kali lipat dari Excalibur. Anda bisa memotong dahan pohon mana pun yang tertangkap oleh mata. Tapi jika diatur ke output maksimal, area sekitarnya bisa hangus menjadi padang abu, jadi mohon gunakan itu hanya saat ingin melakukan pertanian tebang bakar saja."

““Apa!?””

Aku dan Kaisar berseru bersamaan.

Setelah kembali sadar, aku langsung berteriak——

"Keseimbangan militer bisa hancur, tahu!"

Bisa menghanguskan seluruh area yang tertangkap mata menjadi padang abu, itu kan senjata pemusnah massal yang mengerikan.

Benda semacam ini jika dipegang oleh satu orang saja sih tidak masalah, tapi jika orang yang punya ambisi besar menjadi Kaisar, dia bisa menaklukkan dunia dengan kekuatan tempur dan ketakutan itu.

Aku tidak mau.

Aku benar-benar tidak mau melihat dunia yang dikuasai oleh Gunting Galah.

Aku sekarang paham alasan Arthur-san menolaknya.

Dengan alasan yang sama, Kaisar juga menolak pemberian gunting galah tersebut.

"Kalau begitu, karena Lise-chan dan pengikut lainnya sudah menunggu lama, mari kita mulai me—mengobservasi Adventurer Land."

Ah, gawat, dia sama sekali tidak berhasil mengulur waktu.

Tadinya aku berniat menyuruh Mimiko untuk memandu jika keadaan darurat, tapi sejak pagi dia tidak terlihat. Lise kali ini berada di pihak yang dipandu, dan Akuri terus menemani Kuruto.

Kalau begini terus, hanya aku yang bisa memandu.

Aku benar-benar menyesal tidak membawa Kirschel tadi.

Kaisar mulai berjalan keluar dari toko.

Ah, sudah berakhir——padahal aku sudah kehabisan obat sakit lambung buatan Kuruto.

Saat aku melangkah keluar toko dengan perasaan pasrah——

"——!?"

Kuruto ada di depan toko.

Syukurlah, dia sempat!

Tapi tunggu, eh?

Kenapa dia bukan Kuruto yang biasanya, melainkan versi Kurumi-chan yang sedang menyamar jadi perempuan?

Terlebih lagi, Lise juga berdiri di sampingnya.

……Jangan-jangan, pemandunya adalah Kurumi-chan?

"——Oleh karena itu, Kurumi-chan adalah gadis cantik yang paling luar biasa dan terbaik. Ini hanyalah ilusi dari Kupu-kupu, tapi Kurumi-chan yang asli jauh lebih imut daripada ilusi ini lho. Bagi kalian yang ingin masuk ke Klub Penggemar Kurumi-chan yang akan menerima buku kumpulan ilustrasinya setiap bulan, silakan isi kertas ini——"

"Itu malah jadi kegiatan menyebarkan sekte, tahu! Lagipula Kuruto itu cuma ilusi——eh, Kaisar, jangan ikut tanda tangan juga!"

"Habisnya, ini direkomendasikan oleh cucuku."

Seberapa besar sih kamu mau mengembangkan skala Klub Penggemar Kurumi-chan ini?

"Jadi, Lise-chan. Di mana Baron Rockhans yang asli?"

"Ah…… itu……"

Apakah semuanya sudah berakhir?

"Mohon maaf sudah menungguuu!"

Terdengar suara Kuruto.

Namun, suaranya terdengar tapi sosoknya tidak terlihat.

Sama seperti musik di gerbang Adventurer Land tadi.

Jangan bilang ini juga rekaman suara dari gramofon?

"Yuri-san, di atas!"

"Atas!?"

Saat aku mendongak, Kuruto tampak jatuh dari langit.

"Bahaya——kenapa dari langit!? Eh, tunggu?"

Kuruto itu... bukankah dia turun dengan perlahan?

"Malaikat."

"Kurumi-chan adalah seorang malaikat."

"Bukan, dia adalah bidadari! Bidadari yang turun ke bumi!"

Para bawahan dan pengawal kekaisaran yang baru saja mendaftar ke Klub Penggemar Kurumi-chan tampak sangat heboh melihat Kuruto.

Fakta bahwa Kuruto itu malaikat memang benar, tapi bagaimana bisa dia terbang di langit——

Selagi aku berpikir begitu, Kuruto mendarat di depan Kaisar.

"Kalau begitu semuanya, mari saya pandu di dalam Adventurer Land."

Lalu dia benar-benar mulai memandu seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Kaisar dan yang lainnya pun mengikuti Kuruto tanpa tampak curiga sedikit pun.

Aku yang ditinggalkan sendirian langsung terduduk lemas karena merasa sangat lega.

Tak lama kemudian, Akuri dalam wujud dewasa berlari mendekat.

"Hah, hah, Papa, apa sempat tepat waktu?"

"Sempat, sih. Tapi Akuri, apa kamu berlari ke sini?"

"Dari gerbang. Adventurer Land ini dipasang penghalang sihir yang memutus Mana dari luar, jadi aku tidak bisa melakukan teleportasi langsung ke tempat Yuri-Mama. Tapi secara kapasitas Mana, aku cuma bisa melakukan teleportasi satu kali lagi, jadi terpaksa aku menteleportasi Papa ke atas langit Adventurer Land di mana penghalangnya tidak ada."

"Lalu soal Kuruto yang terbang?"

"Aku kurang tahu, tapi Papa bilang ada ramuan terbang di dalam tasnya. Mungkin ramuan itu tidak sengaja tercampur ke dalam camilan yang Papa dapat di ruang tamu saat pergi ke bank kemarin."

Mana mungkin ramuan terbang ada di dalam kotak camilan yang biasa tersedia di ruang tamu begitu saja.

Haa, lelahnya.

Yah, bagi Kuruto hal semacam itu pasti cuma hal yang tidak perlu dipikirkan.

Setelah berpikir begitu, aku memutuskan masuk ke toko tadi dan meminta satu kubus gula dari dapur.

 

Dengan demikian, observasi panjang dari kekaisaran pun berakhir, dan Kaisar telah kembali ke negaranya.

Kaisar sepertinya sangat menikmati Adventurer Land secara murni, namun para pejabat sipil terus bergumam, "Inilah teknologi Kerajaan Homuros...", "Memiliki teknologi seperti ini tapi malah menggunakannya untuk hiburan dan bukannya militer...", "Keputusan Kaisar untuk berdamai dengan kerajaan memang benar."

Sepertinya, perdamaian ini tidak akan dibatalkan dalam waktu dekat.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close