NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 9 Chapter 3

Chapter 3

Kebangkitan Kuruto-sensei dan Rencana Pembunuhan


Bengkel Valha yang kubuat—meski agak aneh mengatakannya sendiri—terasa sangat luas dibandingkan jumlah orang yang tinggal di sini.

Awalnya, karena Nona Liselotte akan menginap, aku menyiapkan kamar yang cukup dengan perkiraan bahwa pelayan dan pengawal pribadinya juga akan tinggal.

Aku sama sekali tidak menyangka kalau Nona Liselotte ternyata adalah jati diri asli Lise-san.

Para penjaga yang dipekerjakan oleh Mimiko-san juga tinggal di bengkel, tapi entah kenapa mereka memilih hidup di dalam langit-langit.

Padahal aku berpikir mereka bisa menggunakan kamar yang ada, tapi katanya itu adalah kebijakan pendidikan Mimiko-san.

Karena itu, ketika aku membuatkan beberapa tempat istirahat di ruang langit-langit, mereka merasa sangat senang.

Berkat keadaan itu, kamar di sini selalu banyak yang tersisa.

Jika itu Akuri yang dulu, dia pasti akan bersemangat lari ke sana kemari karena banyak tempat strategis untuk bermain petak umpet.

Namun, aku belum pernah sekalipun bermain dengannya sejak dia tumbuh dewasa.

Di bawah tanah pun ada banyak ruang penyimpanan, jadi tidak perlu menjadikan kamar kosong sebagai gudang. Ruangan-ruangan itu benar-benar menjadi ruang yang mubazir.

Namun, hari ini aku bersyukur karena telah menyiapkan kamar tamu yang memadai.

Sebab, ada tiga orang tamu yang datang berkunjung.

“……………………”

“……………………”

“……………………”

Tiga orang yang duduk mengelilingi meja makan dalam keheningan itu adalah tamu bengkel kami.

Pertama adalah Hildegard-chan. Meski penandatanganan perdamaian sudah selesai, dia diputuskan untuk tinggal di bengkel ini selama beberapa waktu.

Lalu ada Yang Mulia Raja Homuros. Sepertinya beliau datang untuk menemui Lise-san dan Akuri setelah bisa bernapas lega pasca upacara penandatanganan.

Ngomong-ngomong, Akuri sedang pergi ke Menara Sage bersama Yurishia-san jadi dia sedang tidak ada di rumah.

Dan satu lagi adalah Yang Mulia Kaisar Gulmack. Tampaknya beliau menyukai Adventurer Land dan berniat menikmati masa liburannya dengan menjadikan tempat ini sebagai basis kegiatannya.

Tentu saja, tidak mungkin para pemimpin negara itu berada di sini tanpa pengawal, sehingga area di sekitar meja makan dipenuhi oleh para penjaga.

Aku sudah mencoba mengajak mereka untuk duduk dan ikut makan, tapi sepertinya ada aturan kalau mereka dilarang makan selama bertugas.

Asupan air pun harus dijaga seminimal mungkin, dan agar bisa bergerak seketika di saat darurat, mereka tidak diizinkan untuk menunggu sambil duduk.

Awalnya aku juga merasa tegang saat Raja dan Kaisar berkunjung, tapi begitu diberitahu bahwa mereka adalah ayah dan kakek dari Lise-san, keteganganku sedikit mereda.

Tadinya aku bilang kalau mereka bertiga ingin makan, kami akan makan di tempat lain.

Tapi karena Raja dan Kaisar berkata bahwa merekalah yang datang tiba-tiba sehingga tidak keberatan makan di tempat yang sama, akhirnya kami berakhir makan di satu meja.

Hanya satu orang, yaitu Cicci-san, yang memilih makan di kamar tamu karena katanya dia benci suasana makan yang kaku.

Lho? Bukankah Cicci-san juga seharusnya seorang pengawal?

Karena itulah, urusan menyajikan makanan pun bukan dilakukan olehku, melainkan digantikan oleh orang-orang yang biasanya menjaga di langit-langit.

Secara politis, katanya tidak baik jika aku yang menyandang gelar bangsawan menyajikan makanan sendiri.

Yang merasa kesulitan adalah Kance-san dan Sina-san, anggota party petualang "Sakura" yang bernaung di bawah bengkel ini.

Mungkin karena terlalu tegang, sejak tadi makanan mereka tidak berkurang sama sekali.

Apakah Danzou-san punya nyali baja? Dia terlihat tenang saat makan seperti biasanya.

Atau begitulah pikirku, tapi hawa keberadaannya sangat tipis.

Setelah melihat keadaan Kance-san dan Sina-san, aku baru menyadari keberadaannya sampai-sampai pelayan lupa menyajikan sup untuknya.

Aku berniat meminta agar sup diletakkan di depan Danzou-san, tapi sambil memakan roti di tengah meja, mata Danzou-san seolah berkata, "Biarkan saja begini."

"...Enak sekali ya. Rasanya aku jadi tidak bisa meminum sup lain."

"Benar kata Kaisar Tua, masakan Sang Knight memang lezat. Kemampuannya mendekati koki istana... padahal sejujurnya, ini jauh lebih enak sampai tak bisa dibandingkan."

"Bagaimana? Knight, tidakkah kau ingin mencoba membuka restoran di Kekaisaran? Aku akan memberikan bantuan dana."

"Meskipun jika itu terjadi, tempat makan lain mungkin akan terpaksa gulung tikar."

Bagian akhir kalimat Raja dan Kaisar diucapkan dengan suara pelan sehingga sulit didengar, tapi mereka bertiga memuji masakanku secara berlebihan.

Aku tahu tawaran membuka restoran di Kekaisaran itu hanya basa-basi, jadi aku menolaknya dengan sopan.

"Ngomong-ngomong, Ayahanda dan Kakek akan berada di sini sampai kapan?"

"Sebenarnya aku ingin lama di sini, tapi tidak bisa begitu. Sejujurnya ada permintaan tugas, aku harus segera pulang setelah menyampaikannya."

"Kalau aku, rencananya akan merepotkan kalian untuk sementara waktu."

Saat Raja berkata akan segera pulang dan Kaisar berkata akan tinggal lama, ekspresi wajah Sina-san dan Kance-san adalah tipe ekspresi yang sebaiknya tidak diperlihatkan kepada tamu.

Mata Lise-san berkilat tajam, sepertinya mereka akan ditegur nanti. Atau justru dikasihani?

"Ayahanda, apa permintaan tugas itu? Apakah itu tugas untuk bengkel?"

"Bengkel—atau lebih tepatnya, permintaan untuk Knight Rockhans."

"Eh? Saya?"

"Ya, aku pernah mendengar kalau Sang Knight pernah mengajar di bagian khusus di sekolah kota Recourt."

Bagian khusus? Lho? Apa ada jurusan seperti itu?

Saat aku sedang berpikir, Lise-san membisikkan sesuatu ke telinga Raja.

Seketika, ekspresi Raja berubah seolah baru saja melakukan kesalahan, lalu beliau tertawa canggung untuk menutupinya.

"Salah, maksudku sekolah dasar."

"Iya, kalau sekolah dasar, saya memang punya pengalaman."

"Sebenarnya, besok akan diadakan kunjungan kelas di sekolah dasar itu, tapi Mimiko yang seharusnya mengajar mendapatkan tugas khusus."

"Aku ingin kau menggantikannya mengajar di kelas. Bisa kau terima?"

"Baik, saya terima."

Karena ini tugas dari Raja, aku sempat mengira akan ada permintaan yang sulit.

Namun bagi aku ini justru pekerjaan yang membangkitkan nostalgia dan ingin kulakukan.

"Lalu, Ayahanda. Kenapa Ayahanda sendiri yang membawa permintaan seperti itu? Bukankah itu bukan urusan Ayahanda?"

Saat Lise-san bertanya, Raja membuang muka.

"Dia pasti sengaja mencari-cari pekerjaan demi bisa bertemu putri dan cucunya."

Kaisar berkata seolah bisa melihat menembus pikiran Raja, membuat Raja semakin membuang muka.

Pada saat itulah, Yurishia-san dan yang lainnya muncul setelah melakukan teleportasi ke dalam ruang makan.

Kemunculan tiba-tiba mereka berdua membuat para pengawal yang tidak terbiasa dengan Teleport bereaksi terkejut sesaat.

Melakukan teleportasi tepat di dekat target pengawalan memang pasti buruk bagi kesehatan jantung mereka.

"Kami pulang—lho, Raja!? Bahkan ada Kaisar juga, kenapa ada di sini?"

"Kakek, Kakek Buyut, selamat datang."

Yurishia-san sangat terkejut, tapi Akuri memberikan salam dengan sopan tanpa terlihat kaget sedikit pun.

""Oh, Akuri, kau sudah kembali ya.""

Mendengar kata-kata itu—

'Bukannya kalian yang datang ke sini ya,' wajah Yurishia-san seolah berkata begitu dengan gamblang.

Tapi, besok aku ada pekerjaan... padahal aku belum memberikan jawaban pada Hildegard-chan.

Berpikir begitu, aku menoleh ke arahnya. Dia berdiri dan berjalan ke sampingku.

"Nanti datanglah ke taman."

Dia berbisik seperti itu lalu berlalu begitu saja, keluar ruangan bersama para pengawal dari ras iblis.

Salah satu pengawal Hildegard-chan ikut keluar, tapi dia sempat berkata padaku.

"Bolehkah saya minta tolong siapkan makanan ringan nanti? Kalau bisa sandwich atau sejenisnya, makanan yang bisa dimakan dengan satu tangan akan sangat membantu."

Sebab tadi mereka tidak bisa ikut makan malam. Bahkan tanpa diminta pun aku berniat membawakannya.

"Baik, saya mengerti, akan saya siapkan."

Begitu aku menjawab, dia melanjutkan dengan ekspresi yang terlihat sedikit malu.

"...Saat membawakan makanan nanti, pakailah seragam pelayan... ah, tidak, lupakan saja."

Dia meninggalkan kata-kata itu lalu mengejar pengawal lainnya.

Ya, aku juga akan melupakannya.

Aku ingin para pengawal itu juga melupakan apa pun yang pernah mereka lihat.

Jika diminta dengan sangat aku memang sulit menolak, tapi aku tidak terlalu suka mengenakan pakaian seperti itu.

Aku berniat menyiapkan makanan ringan untuk dibagikan kepada para pengawal dari tiga negara, tapi aku dihentikan lagi oleh petugas keamanan.

Sama seperti saat menyajikan makanan, katanya tidak baik bagi citraku jika aku yang berkeliling membagikan makanan ringan.

Aku berpesan pada mereka untuk meletakkan piring kotor jika sudah selesai agar nanti aku cuci, lalu aku beranjak menuju taman tengah.

Hildegard-chan belum ada di sana. Mungkin dia punya banyak urusan sebagai Kaisar Tua.

Aku berdiri di depan bangku dekat air mancur, menengadah menatap langit malam yang sedikit mendung.

Aku teringat pertemuan awal dengannya.

Awalnya dia sama sekali tidak menghiraukanku meski aku mengajaknya bicara, tapi setelah berkali-kali mencoba, akhirnya dia mau menanggapi.

Aku sering dimarahi, tapi dia tetap mau bermain bersamaku.

Saat dia harus pindah rumah pun kejadiannya sangat mendadak, sampai aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan.

Aku sangat terkejut saat mendengar kalau majikan Solflea-san yang sempat salah mengira aku sebagai Dragon Buster ternyata adalah Hildegard-chan.

Terlebih lagi, aku jauh lebih terkejut saat tahu kalau gara-gara obat buatanku, dia telah hidup selama lebih dari seribu dua ratus tahun.

Aku bahkan tidak percaya saat diberitahu bahwa dia adalah salah satu Raja Iblis.

Namun, meski usianya sudah melampaui seribu dua ratus tahun, bukan hanya penampilannya, sifatnya pun tetap sama seperti dulu.

Walaupun dia sudah menjadi orang yang jauh di atasku seperti Raja Iblis, dia tetap memperlakukanku seperti dulu. Aku merasa senang.

Sampai sekarang aku masih berpikir, aku benar-benar bersyukur karena teman pertama yang kupunya adalah Hildegard-chan.

"Maaf membuatmu menunggu."

Hildegard-chan memanggilku.

Dan kemudian—

◆◇◆

Aku adalah seorang pembunuh. Aku tidak punya nama.

Memiliki nama berarti meninggalkan jejak yang bisa dilacak.

Bagi orang yang hidup dalam kegelapan, hal itu hanya akan menjadi penghalang.

"Apa-apaan ini—bukankah tingkat keberhasilan pembunuhanmu itu seratus persen?"

Orang yang berteriak itu adalah Marquis Gastor—pemimpin dari faksi yang disebut faksi Gereja di kalangan bangsawan.

Meski disebut faksi Gereja, mereka bukanlah penganut taat melainkan faksi dalam artian orang-orang yang berkolusi dengan Gereja demi memperkaya diri sendiri.

Namun, faksi Gereja pun kini berada di ujung tanduk akibat percobaan pembunuhan Putri Liselotte oleh Uskup Tristan tahun lalu.

Ditambah pecahnya konflik internal di Kekaisaran Polan menyusul kematian Paus dan Kardinal baru-baru ini.

Terlebih lagi, terciptanya perdamaian dunia antara ras iblis dengan ras manusia merupakan kejadian yang meramalkan kehancuran Gereja.

Karena itu, beberapa hari lalu aku disewa olehnya untuk membunuh Kaisar Tua Hildegard guna menggagalkan perdamaian dengan ras iblis.

—Namun, hal itu tidak terlaksana.

"Itu karena syarat kontraknya berbeda. Seharusnya orang-orang Marquis mengamankan rute penyusupan."

"Lalu gerombolan perusuh yang disewa menyerbu istana raja, dan aku akan memanfaatkan kekacauan itu untuk membunuh Kaisar Tua."

"Tapi kenyataannya, alih-alih serbuan perusuh, mengamankan rute penyusupan saja kalian tidak becus."

Saat aku berkata begitu, Marquis Gastor mengeluarkan suara geraman dari balik tenggorokannya.

Namun menurutku itu hal yang wajar.

Istana raja dijaga oleh unit pembunuh langsung di bawah perintah raja, Grim Reaper.

Serta unit intelijen Phantom yang didirikan oleh sosok yang dijuluki "Hantu Kilat Ungu", mantan pemimpin pembunuh Grim Reaper.

Meski mereka hanya anjing negara yang kemampuannya di bawahku, mereka bukanlah lawan yang bisa diatasi oleh preman-preman tanpa identitas.

Semua preman yang tertangkap telah dikirim untuk kerja paksa di tambang.

Pejabat yang menerima uang besar untuk menyisipkan preman ke dalam penjagaan pasti sudah disiksa sekarang.

Walaupun pejabat itu tidak tahu apa-apa tentang Marquis Gastor sehingga penyelidikan mungkin tidak akan sampai ke sini.

Sebagai pemimpin faksi Gereja, dia pasti sudah dicurigai.

Bagiku, karena aku sudah menerima uang muka yang cukup, aku tidak keberatan pergi begitu saja sekarang, tapi aku akan memberikan satu usul.

"Bagaimana? Apa kau mau lanjut membunuh Kaisar Tua? Kudengar sekarang dia sedang tinggal di sebuah bengkel di kota bernama Valha."

Tentu saja akan ada penjagaan di sana, tapi tingkat kesulitannya jauh lebih rendah daripada membunuh di dalam istana.

"Jangan Valha... kota itu jangan."

Marquis Gastor menceritakan alasannya dengan suara gemetar.

Katanya, Marquis Gastor pernah bersekongkol dengan Uskup Tristan untuk membunuh sang Putri dengan menyerahkan nyawa keponakannya sendiri.

Benda itu kemudian digunakan sebagai tumbal untuk memanggil Iblis Tingkat Tinggi.

Namun, tampaknya Valha memiliki senjata yang mengerikan.

Ribuan iblis dan prajurit tengkorak yang dipanggil oleh Iblis Tingkat Tinggi musnah dalam sekejap, bahkan Iblis Tingkat Tinggi yang menjadi tumpuan pun berhasil dikalahkan.

"Kalau begitu, bagaimana? Mau menyerah?"

"...Bunuh bangsawan utama faksi Kerajaan! Baron Tycoon, dan juga Marquis Triad! Bunuh mereka berdua."

"Dengan begitu, faksi Gereja pasti akan bangkit kembali!"

Melihatnya berbicara dengan suara gemetar, aku berpikir kalau majikan yang satu ini sudah tidak tertolong.

Lagi pula, membeberkan fakta bahwa dirinya adalah salah satu pelaku rencana pembunuhan kepada seorang pembunuh sepertiku adalah bukti dia sudah tidak bisa berpikir jernih.

Tapi selama aku disewa, aku akan menuntaskan pekerjaan.

Membunuh Baron Tycoon dan Marquis Triad—yang posisinya di dalam Kerajaan hanya kalah dari keluarga Duke—seharusnya adalah tugas yang mustahil.

Namun tampaknya, selain kemampuan membunuh, aku juga beruntung.

Sebab, aku segera mendapatkan informasi bahwa kedua bangsawan tersebut akan muncul di sebuah kota bernama Recourt.

Mereka akan datang demi sebuah acara yang sangat damai bernama kunjungan kelas.

◆◇◆

Keesokan harinya setelah aku berbicara dengan Hildegard-chan.

Aku—Kuruto—berangkat meninggalkan Valha sebelum fajar menyingsing menuju arah selatan.

"Sudah lama ya tidak ke Recourt."

Selama sekitar setengah tahun sejak desa rintisan itu berdiri, aku sering berkunjung ke sana untuk menjelaskan cara penggunaan berbagai fasilitas.

Namun, setelah panduan manualnya selesai, aku hanya datang sesekali, dan dalam beberapa bulan terakhir ini aku bahkan tidak pernah mendatangi kota itu.

Sebenarnya aku bisa sampai dalam sekejap menggunakan Batu Teleportasi.

Tapi kudengar jembatan di jalan raya antara Valha dan Recourt rusak sehingga hari ini aku pergi menggunakan kereta kuda.

Ngomong-ngomong, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menggunakan kereta kuda setelah adanya Batu Teleportasi di Valha.

"Mohon bantuannya ya, Deku."

Aku menyapa Deku, kuda peliharaan bengkel.

Deku tidak terlalu memikirkannya dan melangkah santai dengan kecepatan yang mungkin lebih cepat jika aku berjalan kaki saja.

Kali ini, Yurishia-san dan Lise-san ikut menemaniku.

Apa tidak apa-apa meninggalkan Kaisar dan Hildegard-chan hanya berdua dengan Akuri?

Yah, Akuri juga sudah bukan anak kecil lagi dan dia sangat bisa diandalkan, jadi kurasa akan baik-baik saja.

"Ngomong-ngomong, setelah pekerjaan di Recourt selesai, Yuri-san kabur dari rumah, kan?"

"Jangan ingatkan aku pada hal yang menyebalkan... Kau sendiri seharusnya melakukan studi banding singkat di sekolah, kan? Apa kau dikeluarkan?"

"Bukankah itu karena Yuri-san mengganggu! Padahal aku seharusnya menjadi murid Kuruto-sama."

"Lagipula statusku cuma cuti, jadi aku tidak dikeluarkan."

Seingatku, Yurishia-san memang menghilang saat aku sedang kehilangan kesadaran.

Tapi aku baru tahu kalau Lise-san ingin menjadi murid di kelasku.

...Karena dia bilang menyukaiku, apa itu alasannya ingin jadi muridku? Ah, tidak, mungkin itu cuma perasaanku saja yang terlalu percaya diri.

"Jembatannya sudah kelihatan."

Itu adalah jembatan batu yang terletak di antara Recourt dan Valha. Bagian tengah jembatan itu runtuh dengan mengenaskan.

"Sepertinya sengaja dihancurkan seseorang."

"Kau bisa tahu?"

"Iya. Jembatan batu ini aslinya adalah Stone Golem, jadi tidak akan mudah hancur."

"Dilihat dari serpihan di bagian yang rusak, sepertinya ini dihancurkan dengan palu besar... Apa mungkin ada orang yang khawatir jembatannya akan runtuh, lalu dia memukulnya dengan palu sambil menyeberang?"

Waktu aku membuat jembatan ini dulu, karena desa rintisan harus segera diselesaikan, aku hanya membuatnya dengan kekuatan yang sekadar sulit dihancurkan.

Jadi jika memang berniat menghancurkannya, itu sangat mungkin dilakukan. Aku merenung, seharusnya aku meningkatkan kekuatannya lebih lagi.

"Kurasa tidak mungkin ada orang seperti itu."

Yurishia-san berkata dengan nada agak jengah, tapi aku pun cuma bercanda.

"Kalau begitu, aku perbaiki dulu ya."

"Ah, benar juga, Kuruto-sama. Jika ingin memperbaikinya—"

Lise-san memberikan sebuah usul kepadaku sambil mengeluarkan dan menyerahkan sesuatu. Sepertinya dia sudah menyiapkan ini sebelumnya.

Dengan ini, perbaikan jembatan bisa selesai lebih cepat dari jadwal.

"Lise, kenapa kau seenaknya membawa barang seperti itu—"

"Aduh? Aku membawanya hanya karena merasa ini akan dibutuhkan."

"...Apa yang kau rencanakan?"

"Aku hanya membantu agar pekerjaan Kuruto-sama cepat selesai."

Seperti biasa, Lise-san dan Yurishia-san mulai berbisik-bisik rahasia.

Karena ini pemandangan yang biasa, aku memutuskan untuk menggunakan benda yang kuterima—Dungeon Core—untuk menyelesaikan perbaikan jembatan.

"Nah, sudah selesai."

""Cepat banget!? ""

"Jangan begitu, ini berkat Lise-san. Tanpa ini, mungkin butuh waktu sedikit lebih lama."

Aku berkata begitu sambil mengembalikan Dungeon Core.

Jika mengalirkan Mana ke dalam Dungeon Core, kita bisa membuat golem dari batu, dan menggunakan golem itu sebagai jembatan.

"Tapi, Kuruto, fungsi yang dikatakan Lise tadi juga—"

"Iya, sudah kupasang. Bisa digunakan kapan saja."

"Begitu ya..."

Entah kenapa Yurishia-san berkata begitu dengan tatapan jengah padaku.

Mengingat Deku masih terlihat lelah meskipun jembatan sudah selesai diperbaiki, kami beristirahat sejenak.

Karena tempat ini terasa pas, aku menaburkan pupuk yang dibuat dari kotoran naga, lalu menancapkan ranting pohon ke tanah.

Seketika, ranting itu tumbuh dengan pesat hingga menjadi pohon besar. Dari pohon besar itu, muncullah Nietzsche-san.

Tubuh aslinya adalah Dryad, Roh Agung Pohon yang berada di Pulau Paos.

"Nietzsche-san, bagaimana?"

"Saya merasakan hubungan yang kuat. Akuri-sama juga bilang kalau ini memungkinkan."

Nietzsche-san dan Akuri sama-sama merupakan Roh Agung, dan terlebih lagi, mereka adalah keberadaan buatan yang diciptakan oleh manusia.

Meski begitu, saat pertama kali bertemu dengannya, kekuatan Akuri sebagai Roh Agung belum matang.

Sementara Nietzsche-san, meskipun dia adalah Dryad, dia bukanlah tubuh asli melainkan klona, sehingga keseimbangan kekuatan mereka terasa samar.

Namun, karena Akuri telah mengumpulkan kekuatan selama ribuan tahun perjalanannya di masa lalu, kini dia menjadi keberadaan yang jauh lebih tinggi daripada Nietzsche-san.

Bahkan sudah melampaui tubuh asli Dryad tersebut.

Katanya, hubungan kekuatan itu bahkan memungkinkan Akuri untuk mengendalikan pihak lawan.

"Dia datang."

Kata Nietzsche-san.

Tepat setelah aku merasakan aliran Mana dari tanah, pohon besar di belakang Nietzsche-san bersinar.

Lalu—

"Papa, eksperimennya sukses besar!"

Ucap Akuri yang muncul dari sana.

"Akuri, berhasil ya?"

"Bagaimana kondisi tubuhmu?"

Lise-san dan Yurishia-san bertanya pada Akuri.

"Iya, tidak ada Mana-ku yang terkuras. Bagaimana dengan Nietzsche-san?"

"Konsumsi kekuatannya tidak seberapa. Jika diibaratkan manusia, mungkin seperti lari sprint sejauh sepuluh meter?"

"Bisa pulih secara alami dalam beberapa menit, dan bisa digunakan terus-menerus."

Ya, sesuai dugaanku. Kekuatan Akuri bisa mengendalikan kekuatan Nietzsche-san.

Dan Nietzsche-san bisa menggunakan kekuatan bumi untuk memindahkan tubuh klonanya ke tempat mana pun yang dia suka.

Aku berpikir jika memanfaatkan kekuatan itu, Akuri mungkin bisa melakukan teleportasi jarak jauh.

Pada dasarnya, teleportasi Akuri memang bisa dilakukan ke mana saja, tapi sebagai gantinya, konsumsi Mana akan menjadi sangat besar seiring bertambahnya jarak.

Tapi dengan cara ini, meski ada batasan berupa harus ada tubuh klona Nietzsche-san, dia bisa berteleportasi ke mana saja.

Pohon klona yang menjadi tubuh Nietzsche-san sudah ditanam di berbagai tempat seperti Desa Ahli Pedang, Adventurer Land, dan Desa Haste yang sekarang.

Jadi sebenarnya kami bisa bereksperimen dengan teleportasi ke sana, tapi ada alasan kenapa aku memilih tempat ini sebagai lokasi eksperimen.

Jika dugaanku meleset dan ternyata tetap butuh Mana Akuri dalam jumlah banyak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia kekurangan Mana di tempat yang terlalu jauh.

Namun melihat hasilnya, sepertinya kami bisa berteleportasi ke mana pun tanpa masalah.

"Tapi, Kuruto. Kenapa tiba-masing kau memulai eksperimen seperti ini?"

"Ah, itu—"

Tepat saat aku hendak menjelaskan.

"Kuruto, sedang apa kau di tempat seperti ini."

Melihat sosok yang menyapaku itu, aku sontak berteriak kaget.

"Golnova-san!? Marlefiss-san juga!? Lho? Bukankah kalian seharusnya ada di Wilayah Iblis!?"

Orang yang menyapaku adalah Golnova-san, pemimpin party "Taring Naga Api" tempatku dulu bernaung. Marlefiss-san juga ada bersamanya.

Seharusnya mereka berdua sedang menjalankan tugas di Wilayah Iblis atas perintah Mimiko-san.

"Dah, berisik. Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."

"Begitulah, tapi kami dipanggil oleh Bandana. Dia bilang ada urusan yang sangat penting."

"Eh? Tapi tempat Bandana-san berada adalah..."

"Menara Sage, kan? Aku tahu. Karena aku dititipkan benda ini."

Golnova-san berkata begitu sambil memperlihatkan Lonceng Sage kepadaku.

Itu adalah salah satu dari tiga Lonceng Sage yang tersisa. Dan Marlefiss-san pun memperlihatkan satu buah lagi.

Saat aku menoleh ke arah Akuri, dia menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia tidak diberitahu apa-apa.

"Sebenarnya urusan apa?"

"Entahlah. Tapi sepertinya ini pekerjaan yang sangat berbahaya, bahkan bisa mempertaruhkan nyawa."

"Sebagai imbalannya, dia bilang akan memberikan seluruh harta yang dia kumpulkan sebanyak ribuan koin emas."

"Tapi melihat gelagatnya, ini memang tampak seperti pekerjaan yang gawat. Sejujurnya aku tidak ingin terlibat."

"Katanya hanya kami yang bisa diandalkan. Kalau dia sampai menundukkan kepala sedalam itu padahal biasanya tidak pernah melakukannya—"

Golnova-san berkata begitu sambil menggaruk kepalanya.

"Apalagi katanya ini pekerjaan yang kalau sial tidak bisa pulang selama puluhan tahun. Makanya aku berpikir ingin memakan masakanmu dulu sebelum berangkat."

"Ini salah Pemimpin, lho. Makanan awetan yang dibuatkan Kuruto hampir semuanya habis dimakan sendiri."

"Kau juga setiap hari menghabiskan satu botol wine yang disiapkan Kuruto, kan!"

Ah, jadi mereka berdua datang menemuiku untuk mengambil perbekalan makanan, ya.

Karena Kristal Teleportasi masih dibawa Bandana-san, sepertinya mereka berjalan kaki menuju Valha.

Syukurlah kami tidak berpapasan di jalan.

"Saya mengerti. Makanan awetan dan wine, ya. Akan segera saya siapkan."

Setelah berkata begitu, aku meminta bantuan Akuri untuk melompat bersama bukan ke bengkel, melainkan ke Desa Haste.

Karena di sana juga ada pohon klona Nietzsche-san, kami bisa berpindah dalam sekejap. Lalu kami segera kembali.

"Maaf membuat menunggu, Golnova-san, Marlefiss-san. Silakan, ini."

"Apa ini, bukannya ini tas yang selalu kau bawa, Kuruto?"

"Iya, ini tas yang biasa digunakan di desa. Di dalamnya sudah ada makanan awetan Desa Haste dan wine."

"Isinya cukup bahkan jika digunakan oleh seluruh penduduk desa selama satu tahun, jadi kurasa ini memadai."

"Ah, saat aku bilang ingin memberikan ini pada penolongku, semua penduduk desa dengan senang hati memberikannya. Katanya karena mereka bisa membuatnya lagi dalam waktu satu jam."

"Hah!? Satu tahun untuk seluruh penduduk desa? Kau bercanda ya, mana mungkin tas seperti ini bisa—"

Saat Golnova-san memasukkan tangan dan menariknya keluar, muncul sebongkah daging asap seberat sepuluh kilogram.

Dengan ekspresi seolah tidak percaya, Marlefiss-san mengeluarkan sebotol wine dari dalam tas tersebut.




Dan kemudian, mereka berdua saling mendekatkan wajah dan mulai berbisik-bisik.

"Oi, apa-apaan ini!? Jelas-desas daging itu lebih besar dari tasnya, kan!? Lagipula aku sama sekali tidak merasakan beratnya sampai aku mengeluarkannya."

"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Tidak, aku tahu ini perbuatan Kuruto, tapi bagaimana bisa Bandana menyembunyikan kemampuan seperti ini dari kita semua?"

Yah, sepertinya mereka berdua juga suka berbisik-bisik, ya.

"Golnova. Kalau urusanmu sudah selesai, bisakah kalian segera pergi?"

"Eeeh, kami punya pekerjaan setelah ini. Rencana Kehidupan Akademi tahap kedua sudah menunggu kami."

"Nggak ada yang nunggu, tahu."

Yurishia-san dan Lise-san entah kenapa sepertinya membenci mereka berdua.

Memang benar mereka harus menuju Recourt untuk bekerja, tapi karena kondisi Deku belum pulih benar, kami harus beristirahat beberapa puluh menit lagi.

Lagipula, di kota Recourt juga ada pohon klona Nietzsche-san, jadi kami bisa langsung ke sana dengan Teleport milik Akuri.

Jadi, ini bukan saatnya untuk panik.

"Tanpa kau beri tahu pun, urusanku sudah selesai. Aku berangkat sekarang."

Golnova-san berkata begitu, lalu membalikkan badan dan hendak kembali ke jalan asalnya.

Lalu, sambil tetap membelakangiku, dia berkata.

"Kalau aku kembali nanti, aku ingin membasmi goblin untuk melepas stres, jadi kau harus ikut menemaniku sebentar."

Mendengar kata-kata itu, mataku membelalak—

"—Siap!"

Aku menjawab dengan suara lantang.

Tepat saat Golnova-san dan Marlefiss-san menghilang dari pandangan, waktu istirahat Deku pun berakhir.

Karena masih ada cukup waktu hingga jadwal yang ditentukan, kami menuju Recourt pelan-pelan tanpa menggunakan teleportasi.

Akuri menggunakan Teleport untuk kembali ke bengkel sebentar. Sepertinya dia ada sedikit urusan.

Dua jam kemudian, kota Recourt mulai terlihat.

Ada penjaga gerbang yang berdiri di sana, dan saat aku berpikir sepertinya aku pernah melihat orang itu, ternyata dia adalah Generic-san.

"Generic-san, selamat pagi."

"Yo, aku sudah menunggu karena katanya Kuruto akan datang. Yurishia-chan dan Lise-chan juga, selamat datang."

"...Generic-sama, sikapmu tidak berubah bahkan setelah mengetahui jati diriku yang sebenarnya, ya?"

"Ah, mantan Tuan Putri, ya. Yah, ada banyak hal yang kupikirkan, tapi bukankah kau akan menikah dengan Kuruto? Rasanya aneh memanggil istri teman sendiri dengan sebutan '-sama', jadi begini saja sudah cukup, kan? Lagipula katanya kau sudah bukan anggota keluarga kerajaan lagi."

Ternyata Generic-san menyadari jati diri Lise-san lebih lambat dariku.

Katanya Jenderal Alraid berusaha setengah mati untuk menyembunyikannya.

Meski begitu, dengan status sebagai perwakilan penguasa wilayah dan auranya, sepertinya dia sudah menduga kalau Lise-san adalah putri bangsawan.

"Istri Kuruto-sama... yah, kalau alasannya begitu, aku tidak keberatan."

Lise-san berkata dengan wajah senang.

"Kalau begitu, letakkan kartu identitas kalian di papan ini—ah, kau yang membuat kota ini, jadi tanpa diberi tahu pun kau pasti sudah paham, ya."

"Iya."

Aku mengangguk dan mendekatkan kartu identitasku ke papan autentikasi.

Saat masuk melalui gerbang, kartu identitas harus didekatkan ke sini, dan jika sistem pengenalan wajah golem cocok dengan informasi kartu identitas, bagian atas papan akan menyala hijau.

Jika belum terdaftar, papan akan menyala putih dan harus mendaftar terlebih dahulu.

Lalu, jika tidak cocok, papan akan menyala merah dan suara peringatan akan berbunyi.

Selain itu, jika melewati gerbang tanpa memeriksa kartu identitas, suara peringatan juga akan berbunyi.

Meski mekanismenya agak merepotkan, bagi orang yang datang lebih dari dua kali, waktu pemeriksaan akan berkurang drastis sehingga mereka bisa masuk ke kota dengan mudah. Karena itu, kabarnya para pedagang keliling meminta agar sistem yang sama dipasang di kota-kota lain.

Ngomong-ngomong, perangkat ini juga dipasang di tempat pemeriksaan dekat Batu Teleportasi, jadi keamanannya juga berlaku bagi orang yang datang melalui teleportasi.

Setelah aku, Lise-san dan Yurishia-san juga mendekatkan kartu identitas masing-masing, dan semuanya menyala hijau.

"Bagus, tidak ada masalah. Silakan masuk. Apa kalian menginap di asrama guru? Atau di wisma tamu?"

"Di asrama guru. Eh? Memangnya ada wisma tamu?"

Aku membuat banyak fasilitas, tapi seingatku aku tidak membuat wisma tamu.

"Kau membangun rumah yang megah sebagai rumah Famil-sama, kan? Tempat itu digunakan sebagai wisma tamu. Famil-sama sendiri sepertinya menginap di kamar untuk ketua yayasan di asrama guru."

"Ah, begitu rupanya."

"Tapi untunglah. Saat ini di wisma tamu ada Baron Tycoon dan Marquis Triad. Kalau Kuruto bilang mau menginap di sana, kami harus mengubah pembagian kamarnya... Hei, antara mantan keluarga kerajaan dan Baron, mana yang lebih tinggi?"

Kalau ditanya begitu, aku pun tidak tahu jawabannya.

"Generic-sama, silakan gunakan ini. Saya membuatnya atas permintaan Kuruto-sama."

"Oh, bingkisan makanan... eh, rasanya suasananya bukan seperti itu, ya."

Generic-san menerima alat sihir yang kubuat dan berkata, "Akan kugunakan dengan efektif."

Syukurlah, aku sempat berpikir bagaimana kalau dia bilang tidak butuh.

Tapi, lho?

Aku paham kalau Marquis Triad ada di sini demi kunjungan kelas karena ada Vittel-kun, tapi kenapa Baron Tycoon juga ikut?

Ah, begitu ya, mumpung Marquis Triad datang, mungkin ada hal yang ingin dibicarakan sesama bangsawan?

Ya, pasti begitu—aku pun merasa yakin sendiri.

Aku baru menyadari kalau pemikiran itu salah saat aku bertemu Famil-san di ruang ketua yayasan.

"Maaf, ayahku bilang dia juga ingin melihat kunjungan kelas."

Hanya aku sendiri yang datang ke ruang ketua yayasan.

Lise-san pergi menemui Ophiria-sama yang kebetulan sedang berkunjung, dan Yurishia-san pergi menemui Bandana-san untuk menanyakan urusan apa yang dia minta pada Golnova-san.

Karena itulah saat aku menuju ruang ketua yayasan sendirian, Famil-san meminta maaf sambil mengatakan hal itu.

"Eh? Baron Tycoon? Kenapa?"

"Untuk pelajaran kali ini, aku akan masuk sebagai asistenmu, Kuruto-kun. Tapi beliau bilang tidak ada peraturan yang melarang orang tua guru untuk ikut kunjungan kelas."

"Begitu ya. Beliau pasti mengkhawatirkanmu, Famil-san."

Meski begitu, Baron Tycoon akan menonton, ya.

Hmm, mungkin mengajarnya jadi agak sedikit kaku?

Sambil berpikir begitu, aku berangkat menuju kelas bersama Famil-san.

Pelajaran pertama hanya diikuti siswa, dan wali murid baru akan datang pada pelajaran berikutnya.

Sudah lama aku tidak mengajar, jadi aku merasa tegang.

Saat aku memegang kelas dulu, sekolah dasar hanya punya satu kelas, tapi sekarang sepertinya ada kelas Nol, Satu, dan Dua. Entah kenapa, kelas yang dulu kupegang bukan menjadi kelas Satu, melainkan kelas Nol.

Ngomong-ngomong, Randall-kun yang dulu muridku sekarang berada di kelas Satu. Katanya itu pertimbangan agar dia lebih mudah mencari teman jika memulai pelajaran dari awal di kelas baru.

Mendengar dia baik-baik saja membuatku lega.

Nah, bagaimana dengan yang lainnya, meski kami baru bertemu kemarin, apa mereka sehat-sehat saja ya.

Sambil berpikir begitu aku membuka pintu kelas—

"................Eh?"

Di kursi tempat para siswa duduk, Lise-san dan Akuri juga ikut duduk di sana.

—Kenapa?

Saat aku menoleh dengan bingung, Famil-san berucap pelan.

"Maaf, aku tidak bisa menghentikan mereka."

Dia berbisik dengan nada merasa bersalah.

Lise-san sempat bilang soal tahap kedua kehidupan akademi, jadi ini maksudnya.

Karena dia keluarga kerajaan, apa dia ingin merasakan pelajaran seperti ini? Atau mungkin ingin bermain dengan teman seusia?

Aku pun sedikit paham perasaannya karena di Desa Haste aku tidak punya teman sebaya selain Hildegard-chan, tapi kalau mau ikut kenapa tidak masuk sekolah menengah saja.

Atau mungkin, dia datang karena mencemaskanku?

◆◇◆

"—Nah, dengan begini beres."

Aku memastikan penampilanku di cermin.

Meski simetris, aku harus mengakui kalau penyamaran ini sangat sempurna hingga terlihat seperti pinang dibelah dua dengan pedagang keliling yang pingsan di depanku.

Aku adalah seorang pembunuh, tapi menurutku pembunuh adalah profesi yang baru bisa dicapai jika seseorang memiliki semua keahlian.

Teknik penyamaran ini adalah salah satu keahlian spesialku.

"A... a... aaah... bagus, dengan ini cukup."

Targetku, Baron Tycoon dan Marquis Triad, berada di kota bernama Recourt.

Awalnya itu hanya desa rintisan, tapi katanya kota itu mengalami perkembangan yang luar biasa.

Seharusnya aku masuk ke kota lebih awal dan melakukan penyelidikan mendalam, tapi target hanya akan berada di sana hari ini, dan katanya mereka akan mengunjungi fasilitas pendidikan yang penjagaannya longgar.

Agar tidak melewatkan kesempatan langka ini, aku memutuskan untuk menyusup ke kota dengan merebut kartu identitas, barang bawaan, bahkan suara dan sosok pedagang keliling yang sering keluar masuk Recourt.

"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu. Membunuh selain target bertentangan dengan estetikaku."

Aku berkata begitu, lalu membaringkan pria yang sudah kutelanjangi dan kubuat pingsan itu di balik bayangan batu.

Tentu saja, aku tidak berniat bertanggung jawab jika dia dibunuh monster.

Saat aku terus melaju dengan kereta kuda, gerbang pun mulai terlihat.

Ini pertama kalinya aku mengunjungi kota itu, tapi aku sudah mendapatkan informasi sebelumnya.

Di kota itu, kartu identitas harus didekatkan ke sebuah papan bernama papan autentikasi, dan jika terkonfirmasi sebagai pemilik asli, barulah boleh masuk.

Jika mencoba masuk paksa atau ada orang lain yang menyamar, suara peringatan akan berbunyi.

Aku tidak terlalu paham bagaimana mereka mengonfirmasi identitas aslinya, tapi kemungkinan besar seseorang mengintip dari jendela kecil di bangunan terdekat dan memeriksa apakah ciri wajah cocok dengan foto yang terdaftar di kartu identitas.

Yang menjaga gerbang utama adalah Jenderal Generic, ya.

Awalnya dia adalah ksatria keturunan bangsawan yang menjabat sebagai wakil jenderal di kota Valha, dan kemampuan pedangnya kelas satu.

Kemampuan itu diakui, sehingga saat kota Recourt dibangun, dia mendapat gelar Jenderal dan dikirim ke sini.

Seharusnya, seorang Jenderal tidak akan ditugaskan di kota baru yang bukan desa rintisan atau titik strategis, tapi konon itu terjadi karena paksaan dari Penyihir Istana Mimiko.

Kudengar sifatnya biasanya kasar dan ceroboh, tapi dia menjalankan tugasnya dengan baik.

Aku mengendalikan kereta kuda dan menuju gerbang utama dengan penuh percaya diri.

"Yo, Paman. Hari ini kau lebih lambat dari biasanya, ya?"

Sepertinya penyamaranku memakan waktu lebih lama dari yang kukira.

"Ah, jembatan di utara rusak. Aku harus memilih tempat yang dangkal untuk menyeberang dan itu sulit sekali."

Yah, sebenarnya akulah yang merusaknya tadi. Agar bantuan dari Valha tidak bisa segera datang di saat darurat.

"Begitu ya, kerja bagus. Kalau begitu, dekatkan kartu identitasmu ke papan."

Tanpa terlihat curiga dengan alasanku, Generic menyuruhku menunjukkan kartu identitas.

Aku mendekatkan kartu identitas ke papan yang tertanam di dinding.

Pada saat itu—

Suara bising yang berbeda dari lonceng peringatan menggema di sekitar.

Tidak mungkin, penyamaranku seharusnya sempurna.

Kenapa bisa ketahuan?

Menyadari suaranya, penjaga lain mulai berkumpul.

Apa aku harus kabur—tapi jika begitu, misiku tidak akan selesai.

Saat aku sedang panik...

"Oi, kalian semua, kembali ke pos masing-masing. Ini kerusakan alat sihir. Ini Paman pedagang yang biasa datang, jadi tidak ada masalah."

Begitu Generic berkata begitu, penjaga lainnya merasa yakin dan kembali ke pos masing-masing.

"Maaf, ya. Alat sihir seperti ini memang sering rusak."

"Tidak apa-apa, saya sempat terkejut tapi tidak masalah. Justru ini jadi pengalaman yang menarik."

Aku berkata begitu lalu melewati gerbang.

Aku tidak tahu bagaimana mekanisme alat sihir itu, tapi aku menyeringai puas karena penjaganya bodoh, lalu aku masuk ke dalam kota.

Begitu di dalam, aku terkejut.

Pertama, hampir tidak ada bau tidak sedap.

Biasanya, jika masuk ke kota seperti ini pasti ada bau menyengat.

Belakangan ini, setelah fasilitas pengolahan limbah dibangun di ibu kota, bau di sana sudah jauh lebih mendingan.

Di ibu kota, negara mendorong renovasi toilet agar kompatibel dengan fasilitas pengolahan limbah.

Biaya pemasangan dibantu setengahnya, dan saat ini ada pajak bernama pajak pembersihan sungai, tapi katanya rumah yang sudah direnovasi akan dibebaskan dari pajak tersebut.

Sebagian besar warga kelas atas dan menengah sudah merenovasi toilet mereka, dan di kalangan warga kelas bawah, bank menyediakan pinjaman bunga rendah bernama pinjaman toilet sehingga renovasi pun mulai menyebar.

Katanya itu tawaran yang bagus karena cicilannya lunas hanya dengan membayar sejumlah pajak pembersihan sungai setiap bulannya.

Namun melihat keadaan kota ini, aku mengerti, ternyata ini adalah kota eksperimen.

Fasilitas pengolahan limbah kemungkinan sudah diterapkan secara eksperimental di sini sebelum diterapkan di ibu kota.

Mungkin alasan perkembangan pesatnya juga ada di sekitar situ.

Lalu berikutnya, aku menyadari ada trotoar bergerak yang tertata di dalam kota.

Ada yang namanya tangga bergerak di Adventurer Land yang baru buka belakangan ini, tapi itu pun kemungkinan dibuat secara eksperimental di kota ini.

Begitu rupanya, pengetahuan tentang alat sihir yang menjadi kunci perkembangan pesat—itu bisa didapatkan di fasilitas pendidikan kota ini.

Pantas saja para bangsawan tingkat tinggi menyekolahkan anak-anak mereka di kota terpencil seperti ini.

Agar tidak dicurigai, pertama-tama aku pergi ke tempat perdagangan dan menjual barang dagangan.

Lalu, aku menitipkan kereta kuda di kandang dan berkeliling kota.

Aman, tidak ada tanda-tanda aku sedang dibuntuti.

Geografi kota sudah ada di dalam kepalaku.

—Sekolahnya di sana, ya.

Fasilitas tujuanku sudah terlihat.

Mungkin karena hari ini ada kunjungan kelas, pria bergaya pedagang sepertiku atau pria petani pun ikut masuk ke dalam.

Memang aneh melihat anak petani bisa mendapatkan pelajaran yang layak di fasilitas pendidikan, tapi itu bukan hal yang buruk.

Aku pergi ke sekolah dan melihat papan petunjuk.

Anak Marquis Triad seharusnya ada di kelas Nol Sekolah Dasar. Aku tinggal menunggu di sana.

"Apa Anda sedang mencari sesuatu?"

"Iya, saya sedang mencari di mana kelas anak saya—"

Aku menoleh ke samping dan melihat orang yang bertanya.

Sang Knight Rockhans, ya.

Orang yang banyak dirumorkan.

Perwakilan Atelier Meister, petualang mantan anggota "Taring Naga Api", dan entah kenapa dikatakan akan menikah dengan tokoh penting yaitu mantan Tuan Putri Lise dan Baronet Wanita Yurishia.

Pernikahan antara Putri dan Knight seharusnya tidak mungkin terjadi, apalagi dia adalah cucu dari Kaisar Kekaisaran Gulmack, sehingga membiarkan pernikahan seperti ini bisa memicu masalah internasional.

Namun entah kenapa, baik Raja maupun Kaisar dikatakan setuju dengan pernikahan ini.

Ngomong-ngomong, informasi ini adalah rumor yang disebarkan secara aktif oleh mantan Tuan Putri Lise, jadi kebenarannya belum jelas.

Selain itu, dia juga akrab dengan Kaisar Tua, dan aku secara pribadi menganggap dialah salah satu tokoh kunci di balik perdamaian.

...Tidak, tidak mungkin. Semakin kulihat, dia hanyalah remaja biasa.

"Anu, apa ada masalah?"

"Ah, tidak, karena saya dengar bisa melihat pelajaran anak kerabat, saya pikir ingin mengintip diam-diam. Di mana kelas Nol Sekolah Dasar?"

"Ah, kalau itu kelas yang saya pegang. Mari saya antar."

Ternyata Sang Knight Rockhans adalah gurunya. Tapi ini adalah keberuntungan yang tak terduga.

Jika aku masuk ke kelas bersama sang guru, kemungkinan dicurigai akan berkurang drastis.

Sang Knight pasti tidak akan menyangka kalau orang yang dia antar adalah seorang pembunuh.

"...Tapi, penampilanmu agak aneh, ya. Apa Anda seorang pedagang keliling?"

"Eh? Begitukah?"

Kurasa ini penampilan pedagang keliling biasa.

"Ah, maaf, maksudku bukan hal yang buruk. Hanya saja, biasanya orang menyesuaikan warna baju atau memakai riasan agar terlihat sedikit lebih kurus, tapi aku merasa aneh karena Anda memasukkan kapas di sekitar perut dan pipi agar terlihat gemuk. Apa menurut Anda orang gemuk terlihat lebih ramah?"

—!?

Apa-apaan, apa bocah ini berhasil melihat menembus penyamaranku?

Tidak, tapi dia terlihat sangat tenang.

Apa dia benar-benar mengira aku memasukkan kapas ke tubuh hanya dengan tujuan agar terlihat ramah? Tanpa menyadari kalau itu penyamaran?

"Ah, sudah sampai. Untuk wali murid silakan masuk lewat sini."

Sepertinya kami sudah sampai saat aku sedang kebingungan, dan Sang Knight Rockhans tanpa mengubah raut wajahnya, tetap tersenyum saat mengantarku masuk melalui pintu belakang kelas.

Dari dalam ruangan terdengar suara bisik-bisik anak-anak.

Sepertinya ini benar-benar ruang kelas.

"Ah, Kuruto-san!"

Yang memanggil itu adalah gadis elf.

Kalau tidak salah dia adalah murid dari Atelier Meister Ophiria, namanya Michelle.

Sekarang selain bekerja sebagai murid Atelier Meister, katanya dia juga menjadi guru sementara di sekolah.

Penampilannya terlihat kekanak-kanakan, tapi katanya usianya jauh lebih tua dariku.

"Ada apa?"

"Ada sedikit masalah, tolong ke sini sebentar."

"Eh? Baik. Maaf, tolong tunggu di dalam ya."

Sang Knight Rockhans ditarik pergi oleh Michelle.

Gadis itu tidak akan menjadi penghalang pekerjaanku—sambil berpikir begitu aku masuk ke kelas, dan kali ini aku benar-benar kehilangan kata-kata karena terlalu terkejut.

Di bagian belakang kelas, banyak wali murid yang hadir untuk kunjungan kelas.

Baron Tycoon dan Marquis Triad yang menjadi targetku juga ada di sana.

Ini sesuai rencana.

Namun, ada tiga sosok yang lebih menonjol, atau lebih tepatnya bisa disebut benda asing.

Raja Homuros, Kaisar Gulmack, dan Kaisar Tua Hildegard semuanya berkumpul di sana.

Apa-apaan ini!?

Mungkinkah ini jebakan?

"Raja, Kaisar, bahkan Hildegard-chan juga!? Kenapa ada di sini!?"

Bukan hanya aku yang terkejut.

Sang Knight Rockhans yang kembali ke kelas belakangan juga berteriak kaget.

Sepertinya dia juga tidak diberi tahu soal hal ini.

"Yah, putri dan cucu perempuanku yang manis akan ikut pelajaran. Tidak mungkin aku tidak ikut kunjungan kelas."

"Aku juga ikut karena cucu dan cicitku ada di sini."

"Aku sedang inspeksi. Lagipula aku sedang senggang."

Bohong, kan!?

Para pemimpin negara berkumpul hanya karena alasan seperti itu?

Tapi aku tidak merasakan hawa keberadaan pengawal.

Jangan-jangan mereka berkumpul tanpa pengawal.

Bukankah ini kesempatan langka?

Jika Kaisar Tua Hildegard yang gagal dibunuh Marquis Gastor berhasil dibunuh di depan Raja Kerajaan Homuros dan Kaisar Kekaisaran Gulmack, perdamaian tentu akan batal.

Dan tanggung jawabnya juga akan berimbas pada Baron Tycoon dan Marquis Triad yang ada di sebelahnya.

Benar-benar sesuai keinginan Marquis Gastor.

Tidak, tapi aku adalah seorang pembunuh.

Pembunuh tidak boleh serakah.

Targetku hanyalah Marquis Triad dan Baron Tycoon, dua orang itu saja.

Pertama-tama, tenanglah.

Lalu, atur napas.

Kehadiran wali murid lain sudah masuk dalam perkiraan—meski dengan adanya tiga orang itu, wali murid lain terlihat sangat ciut.

"Kalau begitu pelajaran kita mulai. Hari ini kita akan melanjutkan pelajaran tadi pagi, kita selesaikan Cleaning Golem-nya ya."

Meskipun dalam situasi luar biasa ini, Sang Knight segera menenangkan diri dan memulai pelajaran.

Tunggu, apa itu Cleaning Golem?

"Untuk para wali murid, saya jelaskan soal robot pembersih ini, ini adalah golem yang secara otomatis membuang benda yang dianggap sampah. Dan dia akan mengejarnya meskipun sampahnya kabur."

Yang diperlihatkan Sang Knight Rockhans adalah golem kecil.

Lebih kecil dari golem biasa. Mungkin seukuran anjing kecil?

Sang Knight memperlihatkan kertas yang diremas bulat kepada golem itu lalu melemparkannya.

Seketika golem itu mengejarnya dan menyedotnya dari tangan. Sosoknya yang mengejar sampah benar-benar terlihat seperti anjing.

"Sebagai fitur tambahan, ada monitor untuk memastikan lokasi golem, dan remote control untuk mengendalikannya dari jauh... tapi karena itu sudah selesai dibuat di pelajaran pagi tadi, pelajaran kali ini adalah pembuatan tubuh golemnya. Ah, aku juga memasang fitur Silence dan Invisibility, jadi cocok untuk interior rumah mana pun dan tidak perlu khawatir soal kebisingan."

Saat Sang Knight Rockhans menekan tombol pada golem, golem itu menghilang dalam sekejap.

Sepertinya dia menjadi transparan.

Aku tidak pernah mendengar alat sihir seperti itu.

Padahal itu bukan sesuatu yang layak dibuat dalam pelajaran sekolah, tapi tanpa terlihat ragu sedikit pun para siswa mulai bekerja dengan tekun.

"Para wali murid juga silakan jangan di belakang saja, silakan lihat dari dekat siswa-siswanya. Famil-san, tolong bantu beri tahu jika ada siswa yang kesulitan."

"Baik, Kuruto-sensei... meski aku sendiri belum paham lebih dari setengah prinsipnya, sih."

"Tidak apa-apa, karena golem yang dicoba dibuat Famil-san sebelum pelajaran tadi bergerak dengan sempurna."

Gara-gara perkataan Sang Knight Rockhans yang tidak perlu itu, para wali murid mulai bergerak.

Apa yang harus kulakukan? Jika aku tidak bergerak di sini aku akan dicurigai.

Meski begitu, jika aku mendekati siswa tertentu, jelas siswa itu akan menatapku dengan pandangan, "Siapa?".

Kalau begitu, tidak ada waktu lagi selain sekarang.

Berpikir begitu, aku bergerak.

Marquis Triad dan Baron Tycoon saat ini berada tepat di dekatku.

Aku mengeluarkan pisau yang kusembunyikan di dalam lengan baju, lalu melemparkan dua bilah sekaligus.

Pisau itu berhasil menembus kepala kedua target dengan sempurna.

—Berhasil!

Pemikiran itu hanya bertahan sesaat.

Tepat saat aku hendak melarikan diri—

"Jadi, informasi yang dilihat mata golem ini akan diubah menjadi informasi Mana."

Sang Knight Rockhans melanjutkan pelajaran dengan tenang.

Bukan hanya dia, siswa lain, wali murid, bahkan Marquis Triad dan Baron Tycoon yang seharusnya sudah tertusuk pisau pun masih ada di sana, menonton pelajaran anak mereka dengan tenang.

"A-apa-apaan ini."

"Maaf, semuanya hanya ilusi... kok."

Tiba-tiba terdengar suara, dan semua orang yang ada di kelas menghilang. Lalu muncullah gadis elf yang seharusnya tidak ada di kelas—Michelle.

"Ilusi!?"

"Iya, anu, aku tidak bisa menjelaskan detailnya, tapi ini jebakan untuk menangkapmu, Pembunuh-sa—"

Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan kata-katanya sampai habis.

Aku melemparkan pisau yang kupegang ke arahnya dan hendak kabur, tapi—

"Maaf, aku diminta oleh Guru untuk menahanmu."

Pisau yang kulempar terhalang oleh dinding es yang muncul dari lantai.

Bahkan jendela dan pintu yang hendak kugunakan untuk kabur pun tertutup es sepenuhnya.

Tidak ada tanda-tanda dia merapal sihir.

Siapa sebenarnya bocah ini?

Tidak, tunggu, aku pernah mendengarnya.

Ada Penyihir Istana kursi kedua yang ahli sihir es.

"Jangan-jangan, Penyihir Istana kursi kedua yang misterius itu adalah—"

"Anda benar-benar orang yang hebat ya. Bisa menebak jati diriku dari informasi terbatas... Aku tidak bermaksud menyembunyikannya, hanya saja aku memang tidak menonjol. Aku juga hampir tidak pernah di istana... karena aku lebih suka membuat obat daripada sihir."

Berkata begitu, Michelle menembakkan panah es ke arahku.

Tapi kecepatannya bukan sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Sepertinya pihak lawan bertujuan untuk mengulur waktu.

Kalau begitu, aku akan mengajaknya bicara untuk membuatnya lengah.

"Sial, seharusnya aku sadar saat melihat ada Raja dan Kaisar, bahwa itu kemungkinan palsu. Karena tidak mungkin mereka berdua ada di sini."

Aku berkata begitu sambil mengeluarkan kapas dari dalam mulut dan membuangnya ke arah jendela.

"Tidak, mereka berdua benar-benar datang untuk kunjungan kelas, kok. Pemandangan pelajaran tadi adalah reproduksi ilusi dari kejadian nyata yang sedang berlangsung di kelas sebelah... Ah, maaf, aku bicara berlebihan. Maafkan aku, maafkan aku."

Michelle meminta maaf kepada seseorang.

Mungkinkah masih ada musuh yang tidak terlihat.

Sambil waspada, aku membuang kapas di balik bajuku ke arah jendela.

Dengan begini aku bisa bergerak lebih leluasa.

"Akan sangat membantu jika Anda mau menyerah. Anu, katanya kalau Anda mau membocorkan informasi penyewa sekarang, nyawa Anda akan diampuni, lho?"

"Sayang sekali, aku adalah seorang pembunuh. Selama penyewa tidak mengkhianatiku, aku pun tidak akan mengkhianati. Itulah harga diriku."

Aku berkata begitu lalu menggunakan sihir ke arah jendela.

"Fire!"

Sihir api tingkat rendah.

Kemampuan fisikku kelas satu, tapi aku tidak diberkati bakat sihir dan hanya bisa menggunakan sihir selevel ini.

"Sia-sia saja, esku tidak akan—"

Seperti kata Michelle, mustahil menghancurkan dinding es dengan sihir seperti ini.

Tapi itu jika kapas yang kubuang tadi hanyalah kapas biasa.

Tepat saat api sihir menyambar kapas itu, ledakan tiba-tiba terjadi.

Kapas itu mengandung bubuk kristal sihir api untuk mengakhiri hidup sendiri di saat darurat.

Zat itu disebut pasir kristal sihir yang baru-baru ini ditemukan, dan jenis api akan meledak jika bereaksi dengan api.

Aku melompat keluar dari lubang yang tercipta akibat ledakan dan melarikan diri ke luar.

◆◇◆

Suara ledakan itu terdengar sampai ke kelas tempat aku—Lise—mengikuti pelajaran.

Tentu saja, para siswa menjadi gempar.

Aku berbicara dengan Michelle-san melalui alat komunikasi yang terpasang di telingaku.

"Michelle-san, Anda sedikit berlebihan."

"Maaf, maafkan aku."

"Yah, sudahlah."

Aku sudah tahu bahwa ada pembunuh yang menyusup ke kota.

Sebab, saat Kuruto-sama memperbaiki jembatan, beliau memasang alat komunikasi di sana sehingga situasi di jembatan bisa dipantau dari pos penjagaan kota Recourt.

Tujuannya adalah agar kami tahu jika ada sosok mencurigakan yang menyeberang.

Dan baru saja, seorang pedagang keliling dengan kartu identitas yang tidak cocok mendatangi gerbang.

Generic-sama yang sedang berjaga telah memastikan saat pedagang itu melewati jembatan melalui monitor yang baru saja dipasang. Terlebih lagi, pedagang itu mengaku tidak melewati jembatan, jadi kecurigaannya semakin kuat.

Seharusnya orang mencurigakan seperti itu tidak boleh masuk ke kota, tapi atas perintahku, aku sengaja membiarkannya bebas agar kami bisa melihat pergerakannya.

"Lise-san, kamu terus melihat ke dalam laci, apa kamu mendengarkan penjelasanku?"

"Tentu saja! Mana mungkin aku melewatkan sepatah kata pun dari Kuruto-sama! Karena bel darurat berbunyi akibat ledakan, kita semua harus evakuasi ke lapangan sekolah, kan?"

"Kalau sudah dengar, cepatlah evakuasi! Semuanya sudah mulai bergerak dari tadi!"

Ara? Kalau dipikir-pikir, di kelas ini hanya ada aku dan Kuruto-sama berduaan.

...Di kelas, di ruang kelas yang kosong, hanya berdua dengan Kuruto-sama.

Gawat, imajinasiku jadi liar.

"Lise-san, ayo pergi! Ikuti aku!"

Tanganku digenggam oleh Kuruto-sama dan ditarik.

"Baik, aku akan mengikutimu! Sampai ke ujung dunia sekalipun!"

"Cuma sampai lapangan sekolah, kok."

 

Evakuasi ke lapangan sekolah akhirnya selesai.

Mengenai pembunuh itu, Ayahanda, Kakek, Kaisar Tua, Baron Tycoon, hingga Marquis Triad sudah diberi tahu sebelumnya, jadi mereka tidak tampak terkejut.

Hanya saja, Famil-san yang tidak tahu apa-apa terlihat sangat terguncang.

Yah, kejadian seperti ini di saat keluarga kerajaan sedang berkunjung—itu adalah masalah tanggung jawab ketua yayasan.

Tentu saja, tidak ada yang berniat melimpahkan tanggung jawab padanya.

Ah, Kuruto-sama terlihat murung.

Apa beliau merasa bertanggung jawab karena tidak bisa menyelesaikan pelajarannya sampai akhir? Padahal yang salah kan Michelle-san.

Sebagai istri, aku harus menghiburnya.

"Kuruto-sensei, semangat ya! Pelajarannya sendiri tadi sukses besar, kok!"

"Benar, Kuruto-sensei. Aku berhasil membuat Cleaning Golem-nya dengan benar, lho."

"Fakta yang sulit diterima, tapi aku setuju dengan kakakku."

Aria-san, Alcopa-kun, dan Tsuki-san mengucapkan kata-kata penghibur.

"Lagipula ledakan tadi bukan tanggung jawab Sensei, kan."

"...Sensei tadi mengajar dengan sangat baik."

"Begitulah. Ayahku juga bilang kalau itu pelajaran yang luar biasa."

Sword-kun, Kritis-san, dan Vittel-sama ikut menyemangati Kuruto-sama.

Seorang guru yang dihibur oleh muridnya biasanya tidak terlihat keren, tapi bagi Kuruto-sama, itu pengecualian.

Melihat itu, Akuri mengulas senyum.

"Papa benar-benar guru yang baik, ya."

"Tentu saja, Akuri. Karena beliau adalah Kuruto-sama."

Mari kita simpan kesempatan menghibur Kuruto-sama untuk lain waktu.

Nah, sekarang mari kita lihat akhir dari si bodoh itu.

Aku mengoperasikan sebuah mesin untuk melihat nasib sang pembunuh.

◆◇◆

Aku memutuskan untuk mundur sejenak demi menuntaskan peran terakhirku sebagai pembunuh yang gagal dalam tugas.

Tidak apa-apa, warga kota pasti sedang panik karena ledakan. Para penjaga juga pasti menuju ke sekolah. Aku akan memanfaatkan celah itu—

"Cih."

Aku mendecak tanpa sadar.

Hawa keberadaan mulai mendekat.

Ini bukan aura orang yang hidup di dunia terang.

Phantom, Grim Reaper, atau keduanya.

Tapi, jaraknya masih jauh.

Agar bisa lolos, aku naik ke trotoar bergerak untuk menambah kecepatan—namun tepat setelah itu.

"Apa!?"

Tiba-tiba, trotoar bergerak itu mulai berjalan ke arah berlawanan.

Seolah-olah memang berniat menghalangi pergerakanku.

Di saat itulah, pengejar melemparkan rantai dengan pemberat ke arahku. Sepertinya mereka berniat menangkapku hidup-hidup.

Aku memutuskan untuk melarikan diri ke arah horizontal.

Dari sinilah hal yang mustahil terjadi, sesuatu yang benar-benar melampaui pemahamanku.

Akan kuceritakan apa adanya yang terjadi pada tubuhku.

Aku berniat melompat ke atas atap, tapi tiba-tiba atap itu berdiri tegak dan seolah hendak menindihku.

Kau tidak mengerti apa yang kukatakan, kan?

Aku pun tidak mengerti apa yang sedang dilakukan padaku.

Bertolak belakang dengan logikaku yang berhenti bergerak karena bingung, instingku menggerakkan tubuhku.

Pokoknya, lari.

Aku berhasil lolos dari atap dan sampai di gerbang kota.

Aku melewati penjaga gerbang, lari ke luar kota, dan kemudian aku merasa sangat ketakutan.

Tiba-tiba, tembok benteng berdiri tegak dan mulai mengejarku.

"U-uwa, uwaaaaaaaaaaaa!?"

Apa-apaan, kupikir aku diserang atap, sekarang giliran tembok benteng!?

Tidak, itu bukan tembok benteng, itu adalah Stone Golem yang super raksasa!

Kupikir aku masuk ke dalam kota, tapi tanpa sadar aku malah masuk ke dalam perut Stone Golem?

...Bukan, kota itu sendirilah yang merupakan Stone Golem.

Aku berlari. Berlari sekencang mungkin, berlari tanpa menoleh, terus berlari meski kaki menjerit minta istirahat.

Hingga tanpa sadar kekuatanku habis, dan aku jatuh tersungkur.

Saat aku sadar, tanpa sengaja aku berada di tempat aku mengikat dan membiarkan pedagang keliling yang kupakai penyamarannya tergeletak.

Sepertinya pedagang itu tidak mati, karena tidak ada tanda-tanda dia dimakan monster atau diserang perampok.

Aku langsung menuju kediaman Marquis Gastor.

Melanjutkan pembunuhan sudah tidak mungkin lagi.

Tapi aku harus melaporkan kegagalan tugas ini.

"—Gagal, katamu!? Lalu kau berani-beraninya pulang dengan muka tebal begini!"

Marquis Gastor berteriak sambil melempar asbak kaca ke arahku.

Tentu saja, jika aku ingin menghindar, aku bisa melakukannya dengan mudah, tapi aku memilih untuk menerimanya.

Benturan keras terasa di bahuku.

"Aku tidak akan berdalih. Uang muka akan kukembalikan."

Aku berkata begitu dan meletakkan kantong berisi koin emas uang muka ke atas meja.

Kesalahan kali ini sangat fatal bagiku.

Setelah melakukan tindakan yang begitu mencolok, aku tidak akan bisa kembali ke negara ini untuk sementara waktu.

"Marquis Gastor, ini peringatan. Berhentilah melakukan hal seperti ini. Lawanmu terlalu tangguh. Aku tidak sanggup menanganinya."

"Apa kau pikir setelah mendengar itu aku akan bilang 'oh, begitu ya' lalu berhenti begitu saja!? Belum, ini belum berakhir!"

Saat Marquis Gastor sedang berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya—hawa keberadaan mendekat.

"Padahal kalau Anda berhenti begitu saja, aku tidak perlu melakukan pekerjaan tambahan."

Terdengar suara wanita.

Di saat yang sama, hawa keberadaan mengepung sekeliling.

Ini—

"Hantu Kilat Ungu, ya."

"Nama yang bernostalgia—tapi sekarang namaku Mimiko, jadi jangan panggil dengan nama itu."

Kupikir yang muncul adalah Penyihir Istana kursi kedua, ternyata sekarang kursi ketiga.

Tapi, kenapa bisa di sini?

"Pembunuh, jangan-jangan kamu dibuntuti!?"

"Mana mungkin. Aku tidak pernah sekalipun dibuntuti sampai sekarang."

"Ya, benar sekali. Cara pembunuh ini membaca hawa keberadaan adalah kelas satu. Aku pun akan kesulitan membuntutinya. Tapi—"

Mimiko menekan tombol pada alat yang pernah kulihat.

Seketika, sebuah golem kecil muncul di belakangku.

"Cleaning Golem milik Kuruto-chan benar-benar berguna, ya. Bukan cuma sampah kertas, sampah yang merajalela di ibu kota pun ikut dibersihkan."

Jangan-jangan, sejak dari kota Recourt, aku terus-menerus dibuntuti oleh golem ini?

Tidak mungkin, karena dia golem, tidak ada hawa keberadaan, tidak ada suara, dan tidak terlihat. Jika dibuntuti golem seperti itu, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ngomong-ngomong, percakapan kalian berdua juga terdengar jelas. Menyerahlah, Marquis Gastor."

"Berani-beraninya—Oi, ada penyusup!"

Sia-sia saja.

Tidak akan ada yang datang meski dipanggil.

Hawa keberadaan yang muncul tadi sudah membuat seluruh penjaga di sekitar pingsan.

Sekeliling sudah dipenuhi oleh anggota Phantom.

"Belum, aku belum menyerah!"

Marquis Gastor yang melakukan perlawanan sia-sia menyerang Mimiko dengan belati yang disembunyikan, tapi petir ungu yang dilepaskan dari tubuh wanita itu menelan sang Marquis hingga pingsan.

"Jadi, Tuan Pembunuh. Apa Anda juga mau melawan?"

Aku menggeleng, lalu menelan obat racun yang kusembunyikan di dalam mulut.

Aku tidak boleh membocorkan informasi tentang para penyewaku selama ini.

Inilah harga diri seorang pembunuh—

"...Ke-kenapa aku masih hidup! Itu racun yang mematikan seketika, seharusnya tidak ada waktu untuk penawar!"

"Eh? Begitu kamu minum racun, aku langsung memasukkan penawar buatan Kuruto-chan ke mulutmu, lalu memaksa jantungmu bergerak dengan listrikku, kok."

Mustahil... tidak mungkin.

Di bagian mana aku salah memilih langkah?

Jawaban itu pun tidak pernah kutemukan.

◆◇◆

Meski sempat ada kegaduhan ledakan di ruang kelas cadangan, pada akhirnya semuanya berakhir dengan anggapan tidak ada masalah serius. Katanya ada beberapa kaca jendela yang pecah, tapi tidak ada korban luka.

Hanya saja, pelajaran yang aku pegang harus berakhir di tengah jalan. Padahal selain Cleaning Golem, aku ingin membuat banyak hal lainnya.

Selain itu, aku sempat mengira para wali murid akan protes karena tidak mau menyekolahkan anak mereka di sekolah yang ada ledakannya... tapi setelah Marquis Triad dan Baron Tycoon memberikan penjelasan, entah kenapa semuanya setuju dan bilang akan tetap menyekolahkan anak mereka seperti biasa.

Lalu, saat para siswa kembali ke rumah atau asrama bersama wali murid mereka, Hildegard-chan menyapaku.

"Kuruto, meski cuma sampai tengah jalan, kamu tadi terlihat seperti guru yang hebat, lho. Sebenarnya aku sempat khawatir kamu tidak bisa fokus mengajar gara-gara kejadian kemarin, tapi aku lega ternyata tidak begitu."

"Jangan-jangan, Hildegard-chan mengkhawatirkanku?"

"Bukan, ini inspeksi. Murni inspeksi fasilitas pendidikan ras manusia. Jangan membuatku mengatakannya dua kali."

Hildegard-chan marah padaku.

Sama seperti saat dia memarahiku berkali-kali kemarin.

 

Kemarin malam—

"Maaf membuatmu menunggu."

Hildegard-chan mendatangi taman tengah dan menyapaku.

Tidak ada pengawal yang bersamanya.

Apa dia datang sendirian, atau sedang diawasi dari tempat tersembunyi, aku pun tidak tahu.

"Tidak apa-apa, aku justru punya waktu untuk menenangkan pikiran."

"Dalam situasi begini, seharusnya kamu bilang 'aku juga baru sampai', tahu. Dasar Kuruto ini..."

"Maaf, aku juga baru sampai."

Begitu aku berkata begitu, Hildegard-chan menghela napas panjang.

Waktu berlalu tanpa ada kata-kata dari kami berdua.

Hanya suara air mancur dan suara serangga di sekitar yang menggema di taman tengah.

Sebagai laki-laki, aku harus mengatakannya—berpikir begitu, aku membuka mulut.

"Anu—"

"Itu karena terbawa suasana saat itu."

Hildegard-chan memotong kata-kataku.

"Sebenarnya, aku tidak berniat menyatakan perasaan di tempat itu."

Lalu, dia menatap wajahku lekat-lekat dan berkata.

"Tapi itu bukan bohong. Aku menyukai Kuruto. Setelah berpisah denganmu, bertahun-tahun berlalu, berpuluh tahun, beratus tahun, bahkan saat aku berpikir kamu pasti sudah meninggal aku tetap menyukaimu. Setelah seribu tahun berlalu dan aku mencoba melupakanmu pun aku tetap tidak bisa, dan saat bertemu lagi setelah seribu dua ratus tahun aku tetap menyukaimu—karena itu, bersamaku juga..."

"Aku juga menyukai Hildegard-chan. Kamu teman pertama yang kutemui, dan anu... orang pertama yang kucium..."

"Itu tindakan medis, lupakan... ah, tidak usah dilupakan juga tidak apa-apa, tapi jangan dihitung."

Hildegard-chan berkata dengan wajah merah padam.

Aku pun ikut merasa malu, tapi tetap melanjutkan.

"Tapi, maaf. Aku tidak bisa menikah dengan Hildegard-chan."

Aku mengatakannya dengan tegas.

"Apa kamu membenciku?"

"Tidak, aku menyukaimu."

"Kalau begitu, apa karena penampilanku seperti anak kecil? Kamu tidak bisa melihatku sebagai lawan jenis?"

"Bukan begitu."

"Lalu kalau begitu..."

"Karena aku tidak bisa hanya menyukai Hildegard-chan saja."

"............"

Dia tidak menjawab kata-kataku.

Tapi, kurasa dia sudah paham.

Lise-san telah membuang status kerajaannya demi aku.

Tapi Hildegard-chan tidak bisa melakukan itu.

Meskipun aku dan Hildegard-chan menikah, dia harus tetap memimpin negaranya sebagai Kaisar Tua.

Jika dia yang merupakan tokoh kunci perdamaian antara ras iblis dan manusia membuang negaranya, perdamaian itu sendiri bisa hancur berantakan.

Jika begitu, dalam kasus pernikahan, aku harus masuk ke negara Hildegard-chan sebagai suami. Tapi jika itu terjadi, aku harus berhenti dari pekerjaanku sekarang, dan aku tidak bisa menikah dengan Lise-san atau Yurishia-san.

Rasanya mustahil suami dari seorang ratu diizinkan menikah dengan wanita lain.

"Hildegard-chan juga mengerti, kan? Karena mengerti, makanya kamu memberiku waktu? Waktu untuk memilih apakah aku akan membuang segalanya untuk menikah atau tidak—"

"Tepat sekali. Sebenarnya aku sempat sedikit berharap kamu akan benar-benar membuang segalanya dan datang kepadaku, lho? Aku bahkan sempat berpikir kalau aku bilang sudah menyukaimu selama seribu dua ratus tahun, mungkin kamu akan menikahiku karena rasa bersalah."

"Maaf..."

"Jangan minta maaf... itu lebih baik daripada dinikahi karena rasa kasihan."

Hildegard-chan berkata begitu sambil menempelkan tinjunya di dadaku.

"...Bodoh."

Mendengar kata itu, sekali lagi aku meminta maaf.

"Apa kamu sebegitu menyukai mereka berdua?"

"Iya, aku suka."

"Apa kamu juga menyukaiku?"

"Iya, aku juga menyukai Hildegard-chan. Ini bukan bohong."

"Aku nomor berapa?"

"Anu... kalau tidak menghitung Akuri, nomor tiga."

Begitu aku mengatakannya, kepalan tangan yang menempel di dadaku semakin bertenaga dan menekan-nekan dadaku dengan gemas.

"Di saat begini setidaknya berbohonglah dan bilang aku yang paling kamu suka. Atau paling tidak, bilang kalau kamu tidak bisa memberi urutan..."

Berkata begitu, dia menempelkan wajahnya di dadaku, dan berucap sambil meneteskan air mata.

"Kuruto benar-benar bodoh, bodoh, bodoh, bodoooh!"

Hildegard-chan menangis.

Akulah yang membuatnya menangis.

Lalu, aku menunggunya sampai berhenti menangis.

"Besok kamu ada pelajaran penting, kan? Biar kuberi tahu ya, aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu gagal gara-gara hal ini."

Sambil berkata begitu, dia memberikan senyuman terakhir padaku lalu kembali ke kamarnya.

 

—Dan hari ini, Hildegard-chan muncul kembali di depanku dengan senyuman, dan dia mendengarkan pelajaranku dengan wajah ceria sampai tadi.

"Hei, Kuruto. Karena aku ras iblis, meskipun aku menjadi muda kembali, aku bisa hidup dua kali lipat lebih lama dari ras manusia. Selain itu, pertumbuhanku juga akan berhenti di usia dua puluh tahun, dan aku akan tetap memiliki sosok yang sama selama lebih dari seratus tahun. Kamu tahu?"

"Iya, aku tahu."

"Lalu, apa kamu tahu ini obat apa?"

Hildegard-chan menunjukkan obat awet muda yang dibuat oleh kakek pemilik toko serba ada.

"Eh? Kenapa Hildegard-chan punya itu?"

"Aku mendapatkannya. Begitu aku menceritakan rencanaku pada kakek toko serba ada itu, dia memberikannya gratis."

"Rencana Hildegard-chan?"

"Kuruto, hiduplah yang lama. Satu detik pun harus lebih lama dari Lise atau Yurishia! Lalu, setelah mengantarkan mereka berdua, minumlah obat ini untuk menjadi muda kembali, dan menikahlah denganku! Saat itu, penggantiku pasti sudah tumbuh dengan baik jadi tidak masalah jika aku pergi!"

"E... eeeeeeeeeh!?"

Itu adalah pernyataan cinta yang luar biasa.

"Apa? Kamu tidak puas?"

"Bukannya tidak puas, tapi bagaimana ya, apa Hildegard-chan tidak apa-apa begitu?"

"Tentu saja. Aku sudah menunggu selama seribu dua ratus tahun, lho! Menunggu tujuh puluh atau delapan puluh tahun lagi bukan masalah besar! Tenang saja, aku sudah membicarakan hal ini dengan Lise dan Yurishia."

"Eh!? Apa kata mereka berdua?"

"Lise bilang, 'Mana mungkin aku mati lebih dulu dari Kuruto-sama, tapi baiklah, aku terima tantangan itu', dia menyatakan perang padaku. Kalau Yurishia bilang, 'Aku tidak keberatan menerimanya, tapi bukan berarti kamu boleh mencoba membunuhku, ya?', dia terlihat agak bingung."

Mereka menerimanya, mereka berdua menerimanya.

"Tapi saat aku bilang kalau aku diberitahu berada di urutan ketiga, mereka berdua memasang wajah penuh kemenangan, itu membuatku sedikit kesal."

Padahal tidak perlu repot-repot memberi tahu soal itu.

Tapi—

"Kalau begitu, sebenarnya tidak perlu menunggu sampai Lise-san dan Yurishia-san meninggal, kan bisa setelah Hildegard-chan menyerahkan takhta Kaisar Tua..."

"Kalau begitu aku tidak bisa memilikimu sendirian, kan? Mumpung sudah menunggu, aku ingin memilikimu hanya untukku sendiri."

Jika dikatakan begitu, aku benar-benar harus hidup panjang umur.

Tapi, meski rasanya tidak boleh mengatakan ini, aku jadi sedikit menantikan masa depan.

"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan minum susu setiap hari dan hidup sehat."

Melihat Hildegard-chan yang menjalani hidup dengan positif, aku merasa bodoh karena sempat murung hanya gara-gara ledakan kecil saat pelajaran tadi.

Baiklah, mulai besok aku akan berjuang lagi.

◆◇◆

"Haaah, kunjungan kelas Kuruto pasti sudah selesai jam sekarang. Sial, kenapa aku harus di tempat seperti ini berdua dengan Bandana menunggu hasil penyelidikan."

"Itu kan hasil pilihanmu sendiri, jangan mengeluh dong."

Bandana berkata begitu padaku—Yurishia—sambil mengutak-atik remote control.

Yang terpampang di monitor adalah rekaman Cleaning Golem yang katanya akan dibuat saat pelajaran kemarin malam.

Aku mendapatkan satu buah yang dia buat sebagai latihan.

Alat sihir semacam ini bisa digunakan untuk kepentingan militer sesuka hati.

Membayangkan para siswa membuatnya di sekolah membuatku sedikit merinding, tapi bagian inti dari golem itu harus dibuat oleh Kuruto menggunakan Dungeon Core.

Artinya tidak bisa diproduksi massal, jadi aku sedikit lega.

Dan rekaman yang sedang kami lihat sekarang adalah—pemandangan di sekitar permukaan dunia lama.

Pedang besi yang ditemukan Bandana di permukaan—pedang yang jelas-jelas benda buatan manusia—kami sedang menyelidiki apakah pemiliknya ada di permukaan atau tidak.

"Tapi kenapa ada manusia di permukaan? Bukankah semuanya sudah evakuasi ke dunia baru?"

"Secara resmi memang begitu, tapi coba pikirkan. Apa kamu pikir benar-benar semuanya bisa dievakuasi?"

Mendengar itu, aku pun berpikir.

Awalnya, mustahil untuk mengetahui lokasi seluruh manusia di seluruh dunia.

Mungkin ada penduduk desa tersembunyi, atau biksu yang mengasingkan diri di pedalaman gunung.

"Yurishia-han sepertinya berpikir macam-macam, tapi kemungkinan besar mereka sudah mati. Monster tabu tidak akan melepaskan manusia begitu saja. Mungkin ada desa tersembunyi, tapi pasti sudah lama ditemukan. Apalagi biksu di gunung, itu sudah pasti habis."

"Kalau begitu—"

"Ada cukup banyak manusia yang tahu dunia akan hancur tapi tetap memilih tinggal di dunia lama. Ada yang ingin mati di tempat suaminya bersemayam. Ada yang cemas pergi ke dunia baru. Mereka lebih memilih mati di sini daripada pergi ke dunia yang tidak mereka kenal."

Sepertinya memang banyak yang begitu.

Memulai hidup baru di dunia baru pasti dirasa sangat berat.

"Dan yang paling utama adalah penjahat. Gereja saat itu bingung bagaimana menangani mereka. Di dunia lama hukuman mati sudah dihapuskan, paling parah hukuman seumur hidup, dan ada juga yang dihukum penjara puluhan tahun. Tapi untuk memulai hidup di dunia baru, mereka tidak punya kemewahan untuk mengurus para penjahat."

Apa mereka ditinggalkan begitu saja?

Aku sempat berpikir begitu, tapi seolah bisa membaca pikiranku, Bandana menggelengkan kepala.

"Akhirnya, orang dengan hukuman di bawah sepuluh tahun mendapat pengampunan... meski tetap dikenakan kewajiban kerja paksa, dan dibawa ke dunia baru. Tapi para narapidana di atas itu dan yang dihukum seumur hidup semuanya ditinggalkan di dunia lama. Hanya saja, agar tidak mati konyol begitu saja, mereka ditinggalkan dengan stok makanan awetan yang cukup untuk bertahan hidup. Mereka ditinggalkan di dalam penghalang yang bisa melindungi dari monster tabu, jadi kupikir selama tidak terjadi saling bunuh, mereka bisa hidup sampai ajal menjemput secara alami."

"Jangan-jangan, keturunan para penjahat itu bertahan hidup dan tinggal di dunia lama?"

"Seharusnya itu tidak mungkin. Kamu ingat tugas menara ini, kan?"

"Menara ini... Menara Sage, menyedot energi dari dunia lama."

"Benar. Karena itu, di permukaan hampir tidak ada tanaman yang bisa tumbuh. Bukan cuma daratan, laut pun sama. Rumput laut tidak tumbuh, ikan pun tidak ada. Panas bumi rendah, kondisinya seperti musim dingin abadi. Sejujurnya, boro-boro manusia, apakah makhluk hidup lain bisa bertahan saja sangat diragukan."

"...Tapi ada pedang yang jatuh."

Aku pun memastikannya menggunakan teropong.

Namun di sekitarnya tidak ada tanda-tanda makhluk hidup maupun mayat, bahkan rumput liar pun tidak tumbuh.

Sekitar menara memiliki kekuatan menyedot energi yang kuat, jadi terutama tumbuhan tidak akan bisa tumbuh.

Karena tidak ada tumbuhan, hewan tidak akan berkembang.

Karena hewan tidak berkembang, hewan pemangsa pun tidak muncul. Tidak ada apa-apa yang muncul.

Di tempat seperti itu, tidak mungkin ada orang tinggal.

"Karena itulah aku memberikan peta kepada Pemimpin dan menyuruhnya menuju ibu kota lama. Karena Kuruto sudah menyiapkan makanan, kan. Monster berbahaya seharusnya tidak ada, dan monster tabu di langit juga tidak terlihat akan bergerak. Jika tidak ada apa-apa, mereka akan kembali dalam sebulan. Jika di sana tidak ditemukan apa-apa, berikutnya wilayah perlindungan lain, jika di sana juga nihil, ke tempat lain. Aku meminta mereka menyelidiki seluruh benua ini, dan jika ternyata tidak ada apa-apa, aku bisa tidur dengan tenang."

"Tenang... ya. Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika ditemukan manusia yang masih hidup?"

"Entahlah... yah, aku akan memikirkannya saat itu terjadi. Meskipun aku akan jadi bangkrut karena harus membayar seluruh hartaku pada Pemimpin dan Marlefiss."

Bandana berkata begitu sambil nyengir, lalu menatap monitor.

"Nah, aku juga harus melakukan penyelidikan sendiri. Karena mereka berdua bisa saja cuma berkeliling asal-asalan lalu lapor bohong kalau tidak ada apa-apa."

"Oi oi, kamu memberikan tugas sepenting itu pada orang yang tidak kamu percayai?"

"—Kalau dulu mungkin iya, tapi sekarang aku cukup memercayai mereka berdua. Aku kan mempertaruhkan seluruh hartaku, tentu saja itu wajar."

Mendengar itu, tingkat kepercayaanku pada mereka berdua sedikit meningkat.

"Yah, bagaimanapun hasilnya baru akan keluar berbulan-bulan lagi. Jika ada sesuatu, aku akan melaporkannya nanti."

Begitulah kata Bandana.

Dan dia mendatangi bengkel tiga minggu kemudian.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close