NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 9 Interlude III

Interlude 3

Di Balik Kabut


“…………”

Begitu tersadar, aku, Kuruto, terbangun di tempat yang bukan kamar tidurku.

Padahal seingatku, tadi malam aku tidur lebih awal karena harus menjemput Paman pemilik toko kelontong di Desa Haste sebelum penandatanganan perjanjian damai dimulai.

Aku harus bergegas, kalau tidak aku tidak akan sempat.

Aku bangkit berdiri dan baru menyadari kalau tempat ini sama sekali asing bagiku.

"Kamu pasti sedang berpikir, 'Langit-langit yang tidak kukenal', kan?"

"Eh? Tidak, aku hanya berpikir kalau ini ruangan yang tidak kukenal, bukan langit-langitnya... Tunggu, Bandana-san!? Lho? Ini di mana?"

"Ini adalah Menara Sage."

"Eh? Tempat ini?"

Jadi, inilah Menara Sage yang konon sudah ditinggali Akuri selama ribuan tahun?

"Apa hanya ada Bandana-san di sini?"

"Tidak, kalau Akuri-sama, dia ada di sana."

"Eh..."

Saat aku menyingkap selimutnya, aku melihat Akuri sedang terlelap.

"Ah, Kuruto, biarkan Akuri-sama istirahat sebentar. Dia menggunakan terlalu banyak Mana. Untuk sementara dia tidak bisa menggunakan Teleport, jadi dia tidur pulas."

"Terlalu banyak menggunakan Mana? Apa terjadi sesuatu?"

"Ah... soal itu,"

Bandana-san kemudian menceritakan alasan kenapa aku bisa tidur di sini.

Ternyata upacara penandatanganan sudah selesai kemarin, dan di tengah perjamuan malam, aku pingsan karena penyakitku yang biasanya kambuh hingga kehilangan kesadaran.

Lusa—maksudku hari ini, aku punya jadwal untuk memandu Yang Mulia Kaisar di Adventurer Land, jadi agar aku sempat, Akuri mempercepat aliran waktu di ruangan ini.

"Ya ampun... Gara-gara aku pingsan karena sakit, sampai jadi begini..."

"Ah, jangan terlalu dianggap serius begitu. Rasanya cuma seperti kelelahan setelah lari sprint satu kilometer sampai kehabisan napas, lalu tidak bisa bergerak sebentar. Seperti yang kukatakan tadi, dia akan bangun sebentar lagi."

Saat aku melihat wajah Akuri, memang rasanya rona wajahnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Benar juga, bukankah ini sudah hampir waktunya aku pergi ke Adventurer Land?

Karena di menara ini tidak ada jam, aku jadi sulit memastikan waktu yang tepat.

"Tapi, Bandana-san, apa tidak apa-apa aku berada di sini? Bukankah ini tempat yang hanya boleh dimasuki oleh murid Sang Sage—murid Akuri?"

Untuk sampai ke menara ini, konon dibutuhkan alat bernama Lonceng Sage.

Bahan khusus diperlukan untuk membuatnya, dan kabarnya Akuri pun hanya bisa membuat dalam jumlah terbatas.

Dulu, aku pernah berpikir untuk datang menggunakan Lonceng Sage milik Yurishia-san.

Namun, pada dasarnya Lonceng Sage diperlukan untuk menyelaraskan Mana pemiliknya dengan Mana di Menara Sage, dan jika satu orang telah menggunakannya, orang lain tidak akan bisa menggunakannya selama ratusan tahun.

Karena itulah, Lonceng Sage yang dulu digunakan oleh nenek Yurishia-san dan ibu Lise-san kini tersegel di dalam Menara Sage dan tidak bisa digunakan oleh siapa pun.

Kabarnya, Lonceng Sage yang masih bisa berfungsi tersisa kurang dari tiga buah.

"Ah, soal itu memang benar... Kuruto, kamu ingat tidak, waktu dulu kita masih jadi petualang bersama, kamu sering membuat Magic Crystal dan menjualnya padaku?"

"Iya, waktu itu aku benar-benar terbantu."

Aku ingat sering menjualnya saat sedang kesulitan uang.

"Sebagian besar Magic Crystal itu kugunakan untuk pemeliharaan Menara Sage ini."

"Eh!? Benarkah!?"

"Ya, soalnya aku maupun Akuri-sama tidak terlalu ahli dalam membuat Magic Crystal. Berkat Magic Crystal yang kamu buat, Mana di sini tidak akan habis sampai ribuan tahun ke depan."

Bandana-san sudah membeli sekitar sepuluh ribu butir Magic Crystal dariku, jadi untuk pemeliharaan setahun hanya butuh beberapa butir saja?

Ternyata Menara Sage ini bisa dipertahankan hanya dengan jumlah Mana yang sangat sedikit, ya.

Ngomong-ngomong, sebelum aku mulai memberikan Magic Crystal, katanya kebutuhan itu dipenuhi dari barang yang didapat ayah Hildegard-chan di Desa Haste atau dikumpulkan oleh murid-murid Sang Sage lainnya.

"Tapi, apa hubungannya hal itu dengan alasanku bisa berteleportasi ke sini?"

"Artinya, selama beberapa tahun terakhir ini Menara Sage dipelihara dengan Mana milik Kuruto, kan? Gara-gara itu, sebagian besar Mana di menara ini sudah selaras dengan Mana-mu. Makanya, tanpa Lonceng Sage pun, kamu bisa beresonansi dengan Mana menara dan masuk ke dalam. Walau begitu, itu tidak pasti bisa terjadi setiap saat, jadi Akuri-sama pun merasa lega karena tidak perlu menggunakan Lonceng Sage."

"Begitu rupanya."

Singkatnya, ini semua berkat Bandana-san yang selama ini telaten mengangkut Magic Crystal milikku ke Menara Sage.

Aku jadi merasa berutang budi lagi padanya.

"Benar juga, Kuruto. Ikut aku sebentar. Walau agak terlambat, mari berziarah ke makam Yuna."

"Ah, iya! Tentu saja, aku senang sekali akhirnya bisa berziarah ke makam Yuna-san."

Kemarin aku tidak sempat berziarah, tapi berkat Akuri dan Bandana-san, entah bagaimana aku bisa menyampaikan rasa terima kasihku.

Meski sangat disayangkan aku tidak bisa mengatakannya langsung pada orangnya.

"......Tapi, bagaimana dengan Akuri?"

"Tidak apa-apa. Begitu bangun, dia akan sembuh. Lagipula, Kuruto, seberapa pun kamu bilang kamu ayahnya, tetap saja ada masalah kalau laki-laki berada di kamar tempat perempuan dewasa sedang tidur."

Perempuan dewasa—kurasa usianya sudah bukan di level itu lagi.

Namun, mempercayai perkataan Bandana-san bahwa dia akan sembuh setelah tidur, aku memutuskan untuk pergi berziarah ke makam Yuna-san.

Di tengah jalan, begitu keluar dari ruangan, aku terkejut melihat pemandangan yang ada.

Tadi aku tidak menyadarinya karena berada di ruangan tanpa jendela yang dikelilingi empat dinding, tapi tempat ini benar-benar berada di puncak menara.

Selagi aku terkagum-kagum melihat langit yang membentang di balik menara, aku menyadari ada teropong binokular yang diletakkan di tepian dinding.

"Bandana-san, teropong itu untuk apa?"

"Ah, itu. Kupikir akan bagus kalau bisa melihat keadaan di bawah sana setelah kabut di daratan menghilang, jadi aku membelinya. Tapi ternyata gagal total. Daratan terlalu jauh sehingga tidak kelihatan apa-apa."

"Hm? Ah, benar juga, dengan pembesaran sebesar ini, keadaan di daratan memang tidak akan terlihat."

Mungkin ini teropong yang dibuat untuk pengamatan burung atau semacamnya.

"Sepertinya kalau dimodifikasi sedikit, kita bisa melihat keadaan di daratan, lho."

"Benarkah? Wah, memang harus dicoba, ya. Sebenarnya aku menaruhnya di sana karena mengira Kuruto akan berkata begitu."

"Aduh, kalau bilang dari tadi, aku pasti akan melakukannya."

Aku mencoba mengeluarkan peralatan dari dalam tas, lalu aku menyadari ada obat yang tidak kukenal di dalamnya.

Lho? Ini apa, ya?

Permen... obat terbang... mungkin?

Mungkin saja benda ini ikut terbawa saat aku menerima camilan yang diletakkan di ruang tamu bank.

Aku memutuskan untuk memikirkan soal permen itu nanti, lalu mengeluarkan peralatan dan menyesuaikan teropongnya.

"Nah, sudah selesai."

"Waktu pengerjaan dua koma enam detik. Seperti yang diharapkan dari Kuruto."

"Hahaha, apa-apaan itu? Tadi itu memakan waktu tiga koma tujuh detik, lho."

Gaya bercanda Bandana-san masih tetap menarik seperti biasanya.

Tepat saat aku berpikir begitu...

"Papa! Ketemu!"

"Ah, Akuri, kamu sudah bangun. Syukurlah—"

Akuri berlari dan menyambar tanganku.

Padahal aku belum sempat berziarah ke makam Yuna-san... Tapi melihat betapa paniknya Akuri, sepertinya waktu kami memang sudah sangat mendesak.

"Kita harus segera kembali ke tempat Mama Yuli kalau tidak waktunya—eh lho? Papa, aku tidak bisa melakukan Teleport ke dalam Adventurer Land."

"Adventurer Land memblokir Mana dari luar untuk mencegah serangan sihir, mungkin itu penyebabnya—ah, benar juga. Sepertinya tercampur dengan camilan yang kubagi di ruang tamu bank, aku punya obat terbang. Kalau kamu bisa menteleportasiku ke langit di atas Adventurer Land, mungkin aku bisa terbang dari sana untuk mencari Yurishia-san?"

"Eh? Hal seperti itu... Tapi kalau gagal... ah, kan ada Papa. Percuma saja aku khawatir. Baik kalau begitu, aku akan teleportasi ke arah pintu masuk dan menyusul nanti."

Begitu kata Akuri.

Aku mengulum permen terbang itu.

Di saat yang sama, Bandana-san yang sedang mengintip daratan menggunakan teropong yang baru saja selesai kuperbaiki—

"In-ini adalah—"

Tepat setelah aku merasa dia meneriakkan sesuatu karena menemukan sesuatu, tubuhku sudah berada di langit di atas Adventurer Land.

Saat mengulum permen terbang, tubuhku terasa menjadi ringan.

Mari kita lihat, efeknya bertahan sekitar dua menit—di mana ya Yurishia-san berada?

Begitu aku membatin, aku melihat semuanya sedang berkumpul di dekat pintu masuk.

Kalau begitu, sebenarnya teleportasi ke pintu masuk pun langsung ketemu, ya—sambil memikirkan penyesalan yang sudah terlambat itu, aku perlahan-lahan melayang turun.

◆◇◆

"Apa-apaan itu—"

Di Menara Sage setelah Kuruto dan Akuri-sama menghilang, aku—Bandana—tanpa sadar bergumam dengan nada bicaraku yang asli.

Sekali lagi kulihat keadaan daratan melalui teropong.

Di sana, tampak sebuah pedang besi yang patah, tergeletak dalam keadaan separuh berkarat.

Melihat kondisi pedang yang tidak mungkin berasal dari lima ribu tahun yang lalu itu, aku tidak butuh waktu satu menit pun untuk menarik kesimpulan.

"......Di Dunia Lama, masih ada manusia."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close