Interlude 3
Di Balik Kabut
“…………”
Begitu
tersadar, aku, Kuruto, terbangun di tempat yang bukan kamar tidurku.
Padahal
seingatku, tadi malam aku tidur lebih awal karena harus menjemput Paman pemilik
toko kelontong di Desa Haste sebelum penandatanganan perjanjian damai dimulai.
Aku harus bergegas, kalau tidak aku tidak akan
sempat.
Aku bangkit berdiri dan baru menyadari kalau tempat ini
sama sekali asing bagiku.
"Kamu pasti sedang berpikir, 'Langit-langit yang
tidak kukenal', kan?"
"Eh? Tidak, aku hanya berpikir kalau ini ruangan
yang tidak kukenal, bukan langit-langitnya... Tunggu, Bandana-san!? Lho? Ini di
mana?"
"Ini adalah Menara Sage."
"Eh? Tempat ini?"
Jadi, inilah Menara Sage yang konon sudah ditinggali
Akuri selama ribuan tahun?
"Apa hanya ada Bandana-san di sini?"
"Tidak, kalau Akuri-sama, dia ada di sana."
"Eh..."
Saat aku menyingkap selimutnya, aku melihat Akuri sedang
terlelap.
"Ah, Kuruto, biarkan Akuri-sama istirahat sebentar.
Dia menggunakan terlalu banyak Mana. Untuk sementara dia tidak bisa
menggunakan Teleport, jadi dia tidur pulas."
"Terlalu banyak menggunakan Mana? Apa terjadi
sesuatu?"
"Ah... soal itu,"
Bandana-san kemudian menceritakan alasan kenapa aku bisa
tidur di sini.
Ternyata upacara penandatanganan sudah selesai kemarin,
dan di tengah perjamuan malam, aku pingsan karena penyakitku yang biasanya
kambuh hingga kehilangan kesadaran.
Lusa—maksudku hari ini, aku punya jadwal untuk memandu
Yang Mulia Kaisar di Adventurer Land, jadi agar aku sempat, Akuri mempercepat
aliran waktu di ruangan ini.
"Ya
ampun... Gara-gara aku pingsan karena sakit, sampai jadi begini..."
"Ah, jangan terlalu dianggap serius begitu.
Rasanya cuma seperti kelelahan setelah lari sprint satu kilometer sampai
kehabisan napas, lalu tidak bisa bergerak sebentar. Seperti yang kukatakan
tadi, dia akan bangun sebentar lagi."
Saat aku melihat wajah Akuri, memang rasanya rona
wajahnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Benar juga, bukankah ini sudah hampir waktunya aku
pergi ke Adventurer Land?
Karena di menara ini tidak ada jam, aku jadi sulit
memastikan waktu yang tepat.
"Tapi, Bandana-san, apa tidak apa-apa aku berada di
sini? Bukankah ini tempat yang hanya boleh dimasuki oleh murid Sang Sage—murid
Akuri?"
Untuk sampai ke menara ini, konon dibutuhkan alat bernama
Lonceng Sage.
Bahan khusus diperlukan untuk membuatnya, dan kabarnya
Akuri pun hanya bisa membuat dalam jumlah terbatas.
Dulu, aku pernah berpikir untuk datang menggunakan Lonceng
Sage milik Yurishia-san.
Namun, pada dasarnya Lonceng Sage diperlukan untuk
menyelaraskan Mana pemiliknya dengan Mana di Menara Sage, dan
jika satu orang telah menggunakannya, orang lain tidak akan bisa menggunakannya
selama ratusan tahun.
Karena itulah, Lonceng Sage yang dulu digunakan oleh
nenek Yurishia-san dan ibu Lise-san kini tersegel di dalam Menara Sage dan
tidak bisa digunakan oleh siapa pun.
Kabarnya, Lonceng Sage yang masih bisa berfungsi tersisa
kurang dari tiga buah.
"Ah,
soal itu memang benar... Kuruto, kamu ingat tidak, waktu dulu kita masih jadi
petualang bersama, kamu sering membuat Magic Crystal dan menjualnya
padaku?"
"Iya,
waktu itu aku benar-benar terbantu."
Aku ingat sering menjualnya saat sedang kesulitan
uang.
"Sebagian besar Magic Crystal itu
kugunakan untuk pemeliharaan Menara Sage ini."
"Eh!? Benarkah!?"
"Ya, soalnya aku maupun Akuri-sama tidak terlalu
ahli dalam membuat Magic Crystal. Berkat Magic Crystal yang kamu
buat, Mana di sini tidak akan habis sampai ribuan tahun ke depan."
Bandana-san sudah membeli sekitar sepuluh ribu butir Magic
Crystal dariku, jadi untuk pemeliharaan setahun hanya butuh beberapa butir
saja?
Ternyata Menara Sage ini bisa dipertahankan hanya dengan
jumlah Mana yang sangat sedikit, ya.
Ngomong-ngomong, sebelum aku mulai memberikan Magic
Crystal, katanya kebutuhan itu dipenuhi dari barang yang didapat ayah
Hildegard-chan di Desa Haste atau dikumpulkan oleh murid-murid Sang Sage
lainnya.
"Tapi, apa hubungannya hal itu dengan alasanku bisa
berteleportasi ke sini?"
"Artinya, selama beberapa tahun terakhir ini Menara
Sage dipelihara dengan Mana milik Kuruto, kan? Gara-gara itu, sebagian
besar Mana di menara ini sudah selaras dengan Mana-mu. Makanya,
tanpa Lonceng Sage pun, kamu bisa beresonansi dengan Mana menara dan
masuk ke dalam. Walau begitu, itu tidak pasti bisa terjadi setiap saat, jadi
Akuri-sama pun merasa lega karena tidak perlu menggunakan Lonceng Sage."
"Begitu rupanya."
Singkatnya, ini semua berkat Bandana-san yang selama ini
telaten mengangkut Magic Crystal milikku ke Menara Sage.
Aku jadi merasa berutang budi lagi padanya.
"Benar juga, Kuruto. Ikut aku sebentar. Walau agak
terlambat, mari berziarah ke makam Yuna."
"Ah, iya! Tentu saja, aku senang sekali akhirnya
bisa berziarah ke makam Yuna-san."
Kemarin aku tidak sempat berziarah, tapi berkat Akuri dan
Bandana-san, entah bagaimana aku bisa menyampaikan rasa terima kasihku.
Meski sangat disayangkan aku tidak bisa mengatakannya
langsung pada orangnya.
"......Tapi, bagaimana dengan Akuri?"
"Tidak apa-apa. Begitu
bangun, dia akan sembuh. Lagipula, Kuruto, seberapa pun kamu bilang kamu
ayahnya, tetap saja ada masalah kalau laki-laki berada di kamar tempat
perempuan dewasa sedang tidur."
Perempuan dewasa—kurasa usianya sudah bukan di level
itu lagi.
Namun, mempercayai perkataan Bandana-san bahwa dia
akan sembuh setelah tidur, aku memutuskan untuk pergi berziarah ke makam
Yuna-san.
Di tengah jalan, begitu keluar dari ruangan, aku
terkejut melihat pemandangan yang ada.
Tadi aku tidak menyadarinya karena berada di ruangan
tanpa jendela yang dikelilingi empat dinding, tapi tempat ini benar-benar
berada di puncak menara.
Selagi aku terkagum-kagum melihat langit yang
membentang di balik menara, aku menyadari ada teropong binokular yang
diletakkan di tepian dinding.
"Bandana-san, teropong itu untuk apa?"
"Ah, itu. Kupikir akan bagus kalau bisa melihat
keadaan di bawah sana setelah kabut di daratan menghilang, jadi aku membelinya.
Tapi ternyata gagal total. Daratan terlalu jauh sehingga tidak kelihatan
apa-apa."
"Hm? Ah, benar juga, dengan pembesaran sebesar
ini, keadaan di daratan memang tidak akan terlihat."
Mungkin ini teropong yang dibuat untuk pengamatan
burung atau semacamnya.
"Sepertinya kalau dimodifikasi sedikit, kita bisa
melihat keadaan di daratan, lho."
"Benarkah?
Wah, memang harus dicoba, ya. Sebenarnya aku menaruhnya di sana
karena mengira Kuruto akan berkata begitu."
"Aduh, kalau bilang dari tadi, aku pasti akan
melakukannya."
Aku mencoba mengeluarkan peralatan dari dalam tas, lalu
aku menyadari ada obat yang tidak kukenal di dalamnya.
Lho? Ini apa, ya?
Permen... obat terbang... mungkin?
Mungkin saja benda ini ikut terbawa saat aku menerima
camilan yang diletakkan di ruang tamu bank.
Aku memutuskan untuk memikirkan soal permen itu nanti,
lalu mengeluarkan peralatan dan menyesuaikan teropongnya.
"Nah, sudah selesai."
"Waktu pengerjaan dua koma enam detik. Seperti yang
diharapkan dari Kuruto."
"Hahaha, apa-apaan itu? Tadi itu memakan waktu tiga
koma tujuh detik, lho."
Gaya bercanda Bandana-san masih tetap menarik seperti
biasanya.
Tepat saat aku berpikir begitu...
"Papa! Ketemu!"
"Ah, Akuri, kamu sudah bangun. Syukurlah—"
Akuri berlari dan menyambar tanganku.
Padahal aku belum sempat berziarah ke makam
Yuna-san... Tapi melihat betapa paniknya Akuri, sepertinya waktu kami memang
sudah sangat mendesak.
"Kita harus segera kembali ke tempat Mama Yuli kalau
tidak waktunya—eh lho? Papa, aku tidak bisa melakukan Teleport
ke dalam Adventurer Land."
"Adventurer Land memblokir Mana dari luar
untuk mencegah serangan sihir, mungkin itu penyebabnya—ah, benar juga.
Sepertinya tercampur dengan camilan yang kubagi di ruang tamu bank, aku punya
obat terbang. Kalau kamu bisa menteleportasiku ke langit di atas Adventurer
Land, mungkin aku bisa terbang dari sana untuk mencari Yurishia-san?"
"Eh?
Hal seperti itu... Tapi kalau gagal... ah, kan ada Papa. Percuma saja aku
khawatir. Baik kalau begitu, aku akan teleportasi ke arah pintu masuk dan
menyusul nanti."
Begitu kata Akuri.
Aku mengulum permen terbang itu.
Di saat yang sama, Bandana-san yang sedang mengintip
daratan menggunakan teropong yang baru saja selesai kuperbaiki—
"In-ini adalah—"
Tepat setelah aku merasa dia meneriakkan sesuatu
karena menemukan sesuatu, tubuhku sudah berada di langit di atas Adventurer
Land.
Saat mengulum permen terbang, tubuhku terasa menjadi
ringan.
Mari kita lihat, efeknya bertahan sekitar dua
menit—di mana ya Yurishia-san berada?
Begitu aku membatin, aku melihat semuanya sedang
berkumpul di dekat pintu masuk.
Kalau begitu, sebenarnya teleportasi ke pintu masuk
pun langsung ketemu, ya—sambil memikirkan penyesalan yang sudah terlambat itu,
aku perlahan-lahan melayang turun.
◆◇◆
"Apa-apaan itu—"
Di Menara Sage setelah Kuruto dan Akuri-sama
menghilang, aku—Bandana—tanpa sadar bergumam dengan nada bicaraku yang asli.
Sekali lagi kulihat keadaan daratan melalui teropong.
Di sana, tampak sebuah pedang besi yang patah, tergeletak
dalam keadaan separuh berkarat.
Melihat kondisi pedang yang tidak mungkin berasal dari
lima ribu tahun yang lalu itu, aku tidak butuh waktu satu menit pun untuk
menarik kesimpulan.
"......Di Dunia Lama, masih ada manusia."



Post a Comment