NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanchigai no Atelier Meister Volume 9 Interlude I

Interlude 1

Pengakuan Hildegard, Sekali Lagi


Rutinitas pagi milikku—Kuruto—dimulai dengan melakukan perawatan peralatan di dalam bengkel.

Sebenarnya, alat-alat sihir di bengkel ini dirancang agar tidak rusak selama lebih dari seratus tahun meski tanpa perawatan, jadi ini tidak terlalu diperlukan.

Namun, ini penting bagiku untuk melakukan trial and error demi meningkatkan efisiensi energi atau menekan konsumsi mana.

Hari ini pun, saat aku sedang bekerja di lantai bawah tanah bengkel untuk pemeliharaan, seorang tamu datang berkunjung.

Dia adalah Hildegard-chan.

Ini bukan kunjungan mendadak karena dia sudah membuat janji temu, jadi aku tidak terlalu terkejut.

Tapi karena dia datang sedikit lebih awal dari jadwal, pekerjaanku belum selesai.

"Selamat datang, Hildegard-chan. Maaf ya, aku masih ada kerjaan, bisa tunggu sebentar?"

Sembari berkata begitu, aku menyesuaikan peralatan boiler untuk mandi dan mengatur debit air air mancur.

"Tidak apa-apa, aku yang salah karena tidak tepat waktu. Lagipula, apa aku boleh masuk ke sini?"

"Tadi aku bertanya pada pria bernama Kans, lalu dia mengantarku ke sini," lanjutnya.

Hildegard-chan seharusnya sudah beberapa kali bertemu Kans-san—anggota party petualang "Sakura" yang bernaung di bengkel ini.

Namun, dia mengatakannya seolah-olah baru saja dipandu oleh orang asing yang tidak dikenalnya.

"Iya, tidak masalah. Karena ini Hildegard-chan, tidak ada hal yang perlu kusembunyikan darimu."

"Kata-katamu itu, tergantung cara mendengarnya, bisa terdengar seolah kau meremehkanku karena tidak akan paham apa pun meski melihatnya..."

Hildegard-chan menatapku dengan lekat.

Rasanya agak malu bekerja sambil diperhatikan, tapi tidak enak juga membiarkannya menunggu, jadi aku mempercepat gerakanku dengan akurat.

"Kuruto, apa ada sesuatu yang berubah?" tanya Hildegard-chan tiba-tiba.

"Benarkah? Malah menurutku, Hildegard-chan yang bertambah tinggi?"

Tingginya memang jelas terlihat lebih tinggi dibandingkan saat dia datang sebelumnya.

"Yah, ini kan masa pertumbuhanku setelah seratus dua ratus tahun—ah, lupakan soal aku. Apa ada sesuatu yang baik terjadi?"

"Anu..."

Aku sempat bimbang, tapi akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Hildegard-chan.

Dia sudah tahu kalau Yurishia-san dan Lise-san menyatakan cinta padaku, jadi dia langsung paham saat aku bilang sudah memberikan jawaban.

Ngomong-ngomong, tepat setelah mereka berdua menyatakan cinta, Hildegard-chan yang baru tiba saat itu sempat mengajakku, "Bagaimana kalau kita membuat anak antara Iblis dan Manusia?".

Tapi saat itu aku menolaknya, karena menurutku salah jika membuat anak dengan orang yang tidak kucintai.

"Karena utangku belum lunas, pernikahannya masih agak lama, sih."

"He... hee, Kuruto akan menikah ya. Omong-omong, kapan tepatnya kau memberikan jawaban itu?"

"Mungkin sekitar satu bulan yang lalu."

"...Cih, menghapus ingatannya sudah tidak mungkin, ya."

Hildegard-chan mendecak dan menggumamkan sesuatu dengan suara pelan.

Mungkin dia ingin bilang agar aku fokus bekerja daripada memamerkan kemesraan.

Ya, aku harus konsentrasi.

Aku memusatkan perhatian, menggunakan kunci pas untuk mengencangkan baut pada pipa—

"Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa kau mau menikah denganku?"

Mendengar ucapan mendadak Hildegard-chan, tanganku terpeleset dan aku terjatuh. Satu baut terlepas akibat guncangan itu.

"Eh? Anu..."

"Mau bagaimana lagi, kan! Gara-gara seseorang, aku terjebak dalam wujud ini selama seribu dua ratus tahun dan tidak pernah menikah!"

"Akhir-akhir ini, sebagian besar pria hanya terlihat seperti anak kecil yang jauh lebih muda dariku. Karena itu, hanya ada Kuruto yang kutemui saat aku masih kecil yang bisa jadi pasangan nikahku!"

Hildegard-chan terus mencerocos dengan nada bicara yang cepat—

"Bukan itu! Aku menyukai Kuruto! Ya, benar! Kau menyelamatkan nyawaku saat aku masih kecil, saat itu Kuruto terlihat keren, dan aku jatuh cinta!"

"Sebenarnya aku berniat menyatakan cinta dengan benar, tapi kau tiba-tiba menghilang—"

"Setelah seratus tahun lebih aku tidak tumbuh besar, aku tetap menyukaimu. Lalu aku dengar manusia akan mati dalam beberapa puluh tahun."

"Aku sempat marah dan berpikir, 'kenapa kau mati seenaknya', mengira kau sudah meninggal. Lalu seribu dua ratus tahun berlalu, aku ditangkap Raja Iblis dan dijual pada manusia."

"Tepat saat aku merasa tidak peduli lagi pada semuanya, Kuruto menyelamatkanku. Kau masih tetap ceroboh seperti dulu, tapi tetap terlihat keren!"

"Soal ingin punya anak berdua untuk eksperimen itu juga bohong! Aku hanya murni ingin menikah dengan Kuruto—"

"Intinya, aku menyukaimu! Sadarlah!"

"............Maaf."

"Jangan minta maaf!"




Hildegard berteriak dengan sangat kencang.

Uap panas mulai menyembur keluar dari pipa yang bautnya terlepas, membuatku bergegas mengencangkannya kembali.

"Anu..."

Baru saja aku hendak membalas ucapannya—

"Kau tahu kan, kalau sebentar lagi akan diadakan upacara penandatanganan perdamaian resmi di ibu kota kerajaan ini?"

"Iya, itu kelanjutan dari diskusi di Pegunungan Shean waktu itu, kan?"

Perang antara manusia dan iblis adalah tragedi yang dipicu oleh sosok yang memiliki dua wajah; Paus Gereja Pollan sebagai manusia, dan Raja Iblis sebagai kaum iblis.

Hal tersebut kini telah disampaikan kepada para perwakilan dari setiap negara.

Terlebih lagi, kemunculan musuh kuat yang berbeda dari manusia maupun iblis bernama Monster Tabu, telah melahirkan rasa solidaritas antarnegara.

Terdapat kesepakatan bahwa jika monster serupa muncul di masa depan, negara-negara tidak boleh saling berselisih dan harus membentuk sistem kerja sama timbal balik.

Aneh memang mengatakannya, tapi berkat kejadian itu, pertemuan perdamaian berlangsung lebih tenang dibandingkan sebelum Raja Iblis menyerang.

Isi dari perjanjian damai pun diputuskan dengan sangat lancar.

Kini, sebuah upacara akan segera diadakan untuk meresmikan penandatanganan poin-poin perdamaian tersebut.

Aku, Yurishia-san, Lise-san, bahkan beberapa penduduk Desa Haste juga turut diundang ke sana.

Katanya, kami akan menerima penghargaan atas jasa sukarelawan dalam membersihkan lahan yang terkontaminasi oleh Monster Tabu.

Meski orang-orang di desa sempat berkata kalau itu terlalu berlebihan hanya untuk sekadar bersih-bersih...

"Orang-orang penting itu ternyata benar-benar memperhatikan siapa yang bekerja keras. Kuruto, kau tinggal di negara yang baik ya," ujar Ibu dengan raut wajah yang tampak bahagia.

"Jawabannya... berikan setelah upacara penandatanganan itu selesai saja. Kuruto juga butuh waktu untuk berpikir, kan?"

"Eh, tapi—"

"Aku bilang, aku juga butuh waktu! Mengertilah sedikit!"

"I-iya!"

Setelah mengatakan itu, Hildegard-chan menaiki tangga dengan raut wajah yang sedikit kesal.

...Hildegard-chan, bukankah rencananya hari ini kau akan menginap di bengkel? Apa dia masih ingat ya?

◆◇◆

Aku benar-benar sudah mengacaukannya—begitulah yang kupikirkan, aku, Hildegard.

Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk menyatakan cinta.

Setidaknya, aku berencana untuk menyimpan perasaan ini rapat-rapat di dalam dada sampai penampilanku mencapai usia dewasa manusia—yaitu lima belas tahun.

Dan yang terpenting, aku berpikir jika Kuruto benar-benar menikah dengan orang yang dia cintai sebelum aku mencapai usia itu, maka saat itu tiba, aku akan merayakannya dengan tulus.

Yah, meski aku sempat berpikir kalau manusia biasa mungkin awalnya akan baik-baik saja, tapi lama-lama mereka akan dipermainkan oleh kemampuan Kuruto yang luar biasa hingga akhirnya kehidupan pernikahan mereka hancur.

Lalu di saat Kuruto sedang patah hati, aku yang sudah tumbuh dewasa akan mengulurkan tangan bantuan kepadanya—begitulah skenario yang sempat kubayangkan.

Namun, aku tidak pernah menyangka kalau dia akan berencana menikahi dua orang sekaligus.

Atau lebih tepatnya, itu adalah kesimpulan yang mustahil diambil oleh Kuruto yang dulu.

Dulu aku mengira dia akan berkata, "Orang sepertiku menikahi satu orang saja sudah terlalu lancang, apalagi dua wanita. Aku tidak bisa melakukannya."

Namun, Kuruto yang sekarang menyatakannya padaku dengan wajah tenang—entahlah tenang atau tidak—bahwa dia akan menikahi dua wanita.

Aku bisa membayangkan bahwa Yurishia, Lise, dan Akuri... tidak, bukan hanya mereka bertiga, tapi orang-orang di sekitarnya jugalah yang telah mengubah Kuruto yang seperti itu.

Tapi, justru karena itulah aku jadi berpikir.

Kalau menikah dengan dua orang saja bisa, maka dengan tiga orang pun sama saja, kan? Masukkan aku juga sebagai salah satunya—begitu.

 

Saat naik ke lantai satu, aku berpapasan dengan Akuri.

Penampilannya tampak kekanak-kanakan, tapi dia adalah wanita yang lebih tua dariku.

Omong-omong, Bandana—wanita bernama Noah itu juga kabarnya lahir lebih dari lima ribu tahun yang lalu, tapi karena dia berkali-kali menyegel tubuhnya sendiri dan menghentikan waktu, usia aslinya mungkin hanya sekitar seratus tahunan.

Kalau begitu, para Elf atau kaum Iblis di sekitar sini justru lebih tua darinya.

Artinya, dia adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang lebih tua dariku—meski secara teknis dia bukan manusia, melainkan Roh.

"Hildegard-sama, selamat datang."

Akuri menyadariku dan menundukkan kepala.

"Hari ini aku akan menumpang di sini. Maaf merepotkan, ya."

"Yang mengurus Anda bukan saya, melainkan Papa. Lagipula, Papa pasti tidak akan merasa direpotkan. Papa terlihat sangat senang saat bersama Hildegard-sama."

"Benarkah? Bagiku dia selalu terlihat sedang kesulitan atau kebingungan."

"Fufufu, itu artinya Papa merasa tenang untuk memperlihatkan sisi lemahnya di depan Hildegard-sama."

"...Anu, bisa berhenti memanggilku dengan embel-embel '-sama'? Akuri pasti malu kalau memanggilku 'Kakak' seperti dulu, jadi panggil saja Hildegard, atau Hilde."

"Kalau begitu, saya akan memanggil Anda Hilde-san ya," ucap Akuri sambil tersenyum.

"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan dengan Akuri."

"Apakah ini tentang ayah dari Hilde-san?"

Ayahku adalah seorang Sage Agung—dengan kata lain, dia adalah murid dari Akuri ini.

Alasan Ayah menjadi muridnya kabarnya adalah demi diriku.

Berdasarkan apa yang kudengar, aku tidak akan bisa berumur panjang jika hidup secara normal.

Penyebabnya adalah Defisiensi Mana, sebuah penyakit khas kaum Iblis—khususnya Ras Bertanduk.

Dibandingkan dengan pertumbuhan tanduk yang berfungsi menyimpan mana, jumlah mana yang terkumpul justru sedikit, sehingga mana tidak tersalurkan ke seluruh tubuh dan menyebabkan kematian—aku menderita penyakit seperti itu.

Manusia dan Iblis sama-sama memiliki mana, namun kaum Iblis dapat menyerap mana dari luar melalui tanduk mereka.

Bagi kaum Iblis yang menyerap mana dalam jumlah besar, mereka juga memiliki organ untuk melepaskannya di saat yang bersamaan.

Namun, karena kapasitas penyimpanan manaku lebih sedikit dari orang lain sementara jumlah yang dilepaskan normal, seiring pertumbuhan tubuh, jumlah pelepasan itu akan meningkat.

Jika akhirnya jumlah pelepasan melebihi jumlah penyerapan, maka nyawaku akan melayang.

Tetapi secara kebetulan, berkat obat keabadian yang dibuat Kuruto, jumlah pelepasan manaku tidak meningkat, sementara tanduk penyimpan manaku berkembang dengan baik, sehingga aku bisa bertahan hidup.

Namun, pertemuanku dengan Kuruto dan meminum obat itu sebenarnya bukanlah kebetulan. Itu adalah metode yang dipelajari dan dipilih oleh Ayah dari Sang Sage Agung—yaitu Akuri.

Meski tahu aku akan menderita karena tidak bisa menua selama seribu dua ratus tahun, Ayah tetap mencari keselamatan di sana karena tahu akan ada masa depan di mana aku bisa menghabiskan waktu dengan tersenyum.

Ayah masuk ke Desa Haste sebagai pedagang keliling, berusaha mengajarkan norma-norma pada penduduk desa, sambil mengincar momen untuk mempertemukan aku dengan Kuruto.

Jika aku tidak bertemu Kuruto, maka Yurishia dan Lise tidak akan pergi ke Desa Haste di masa lalu, dan jika itu terjadi, Akuri sang Roh Agung Ruang dan Waktu tidak akan pernah lahir.

Yah, aku tidak berniat mempermasalahkannya sekarang.

Aku sudah terbebas dari keabadian, dan selama seribu dua ratus tahun ini aku telah mendapatkan banyak orang yang berharga.

Karena itu—

"Aku sudah mendengar cerita tentang apa yang terjadi antara Ayah dan Akuri. Aku memang sempat mendendam. Tapi jika melihat hasilnya, sekarang aku sudah melangkah maju, jadi aku tidak berniat mengeluh lagi. Meski untuk berterima kasih rasanya agak menyebalkan, tapi aku sudah menerimanya."

"Saya minta maaf."

"Jangan minta maaf—aku kan sudah bilang kalau aku menerimanya. Astaga, sifatmu itu benar-benar mirip dengan ayahmu."

Aku menghela napas saat teringat pada pria yang baru saja kunyatakan cinta tadi.

"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?"

"Aku dengar serikat dagang yang disokong resep oleh Kuruto juga menangani anggur (wine) dan sejenisnya."

"Iya, mereka mengoperasikan satu toko di ibu kota."

"...Bisakah kau membuat mereka membuka cabang di Lapselad, tempat tinggalku? Kalau bisa, aku tidak ingin anggur, tapi teh dan kue kering..."

Rumor tentang anggur dari serikat dagang Kuruto telah sampai ke wilayah Iblis. Sebuah serikat dagang di sana mengimpor anggur tersebut dan meraup keuntungan besar.

Bagus jika serikat dagang dalam negeri mendapat untung, tapi saat ini perdagangan antara wilayah Iblis dan manusia skalanya sangat kecil. Mengimpor beberapa botol anggur berharga tinggi saja sudah membuat rasio impor melonjak drastis dibandingkan ekspor.

Singkatnya, terjadi defisit perdagangan.

Beberapa petinggi mulai khawatir bahwa jika perdagangan berskala besar terus dilakukan seperti ini, seluruh kekayaan wilayah Iblis akan terkuras habis.

Karena itu, aku berniat mengekspor barang lain ciptaan Kuruto dari wilayah Iblis untuk mengatasi defisit perdagangan tersebut. Itulah sebabnya aku ingin menjalin hubungan dengan serikat dagang itu.

"Anu, soal itu sepertinya lebih baik dikonsultasikan dengan Mama Lise atau Papa daripada saya—"

"Aku tidak mau, makanya aku memintanya padamu."

Sebenarnya aku berniat meminta pada Lise, tapi aku benar-benar enggan berutang budi pada gadis yang baru saja menjadi tunangan Kuruto itu.

Apalagi, aku tidak mungkin berkonsultasi pada orang yang baru saja kunyatakan cinta.

"Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan mengatakannya sebagai permintaan dari Hilde-san, tapi saya sendiri yang akan mengajukannya pada para Mama. Tapi, kenapa harus teh dan kue kering?"

"...Itu karena aku ingin minum teh buatan Kuruto."

Terutama setelah aku meminum teh yang rasanya mirip air lumpur buatan si "Director", bawahan Raja Iblis itu, aku jadi semakin ingin meminumnya.

Meski begitu, aku tidak bisa datang ke bengkel hanya demi minum teh.

Yah, aku sempat berpikir juga.

Mungkin tidak buruk jika aku sering berkunjung ke bengkel dengan dalih ingin minum teh.

Jika aku mengatakannya, Kuruto yang peka-nya nol itu pasti akan maklum dan menyuguhkanku teh, bahkan mungkin memberiku kue kering sebagai oleh-oleh saat pulang.

Tapi, Lise dan Yurishia juga tinggal di sini.

Kalau aku terus datang ke tempat seperti ini setiap saat—

Aku pasti akan merasa sedikit cemburu, kan?

Aku pun punya posisi yang harus dijaga. Tidak seperti Tuan Putri yang isi kepalanya penuh bunga itu, posisiku tidak bisa dibuang begitu saja dengan mudah.

Jika hanya gelar Kaisar Tua, aku ingin membuangnya jika bisa, tapi aku tidak bisa membuang para bawahan yang telah mengikutiku dengan setia.

Karena itu, aku tidak bisa meninggalkan segalanya dan tinggal di bengkel ini.

Seolah bisa membaca isi hatiku, Akuri tersenyum kecil.

"Saya mengerti. Saya akan mencari berbagai alasan untuk membicarakannya dengan Mimiko-san. Apa produk yang dibutuhkan cukup teh dan kue kering saja?"

"...Ya, untuk saat ini itu saja sudah cukup. Mungkin nanti aku akan minta tolong lagi."

"Tapi, bukannya lebih baik meminta resepnya saja lalu menjualnya sebagai produk serikat dagang milik Hilde-san daripada membuka cabang Papa? Saya rasa Papa akan mengizinkannya."

"Aku tidak mau, karena itu sama saja mengkhianati Kuruto."

Imbalan yang setimpal harus diberikan atas apa yang telah didapat.

Aku tahu Kuruto tidak kekurangan uang, tapi menurutku itu adalah dua hal yang berbeda.

"Begitu ya... Padahal kalau aset Papa bertambah lagi, para Mama akan kesulitan."

Akuri menggumamkan kalimat terakhirnya dengan sangat pelan tanpa membuka mulut.

Mungkin dia bermaksud agar tidak terdengar, tapi sebagai Ras Bertanduk yang pendengarannya lebih tajam dari manusia, aku bisa mendengarnya dengan jelas.

Yah, aku tidak melakukan hal yang salah. Dan jika itu membuat mereka berdua kesulitan, aku malah merasa sedikit lega.

"Kalau begitu, para bawahan dan Chicchi sudah menungguku, jadi aku akan segera pergi."

Karena ini kunjungan resmi, jumlah pengawalku lumayan banyak.

Di antara mereka ada yang baru pertama kali datang ke kota manusia, jadi mereka pasti cemas jika aku tidak kunjung kembali.

"............"

Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas dan membuatku merenung sejenak.

"Ada apa, Hilde-san?"

"Di antara pengawalku, ada bawahan yang keluarganya dibunuh oleh manusia dan merasa tidak puas dengan upacara penandatanganan ini. Aku khawatir anak itu melakukan sesuatu yang tidak sopan."

Itu terjadi puluhan tahun lalu saat ada perselisihan kecil dengan Raja Iblis.

Saat itu, Raja Iblis menyerang wilayahku dengan membawa ribuan manusia sebagai tentara budak.

Meski disebut budak, mereka tidak dicuci otak atau dikendalikan, melainkan orang-orang yang sukarela mendaftar karena diiming-imingi kebebasan dari status budak jika berprestasi dalam perang.

Banyak dari mereka yang melakukan penjarahan atas kehendak sendiri.

Manusia seperti itulah yang membunuh keluarga bawahanku.

Saat itu dia masih berusia tiga tahun dan berhasil selamat karena dimasukkan ke dalam ruang rahasia.

Namun karena melihat sisi terburuk manusia, dia menjadi bawahanku hanya demi membalas dendam pada Raja Iblis. Bukan karena dia setuju dengan kebijakan-kebijakanku.

Namun sekarang setelah Raja Iblis dikalahkan, yang tersisa padanya hanyalah kebencian pada manusia.

Aku membawanya sebagai pengawal karena ingin dia melihat sisi lain manusia selain sisi buruknya.

Aku sudah menyuruh Chicchi untuk mengawasinya agar tidak berbuat aneh-aneh, tapi apa dia baik-baik saja?

"Ah, kalau soal itu sepertinya tidak apa-apa. Papa tadi pergi ke ruang tamu sambil membawa minuman."

"Eh? Kapan sempatnya!?"

Saat aku bergegas menuju ruang tamu, para bawahan sedang meminum teh buatan Kuruto dengan wajah yang terlihat sangat bahagia dan santai.

Wajah yang menunjukkan bahwa jika musuh menyerang sekarang, mereka pasti akan kalah telak.

Bahkan bawahanku yang mendendam pada manusia tadi sedang bergumam dengan serius.

"Ternyata manusia bisa membuat teh seenak ini... Mungkin tidak semua dari mereka adalah orang jahat."

Berubah pikiran hanya karena secangkir teh... Meski itu berita bagus, tapi apa benar-benar boleh semudah itu?

"Ah, Hildegard-chan... mau minum teh?"

Kuruto sang pelaku utama (?) melihatku dan bertanya dengan nada agak canggung.

"...Beri aku tiga sendok gula."

Aku mengatakannya sambil meminum teh buatan Kuruto yang terasa lebih manis dari biasanya untuk menenangkan perasaanku.

 

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat kota Valha.

"Yang Mulia Kaisar Tua, bolehkah saya bicara sebentar? Ada yang aneh."

Salah satu bawahanku memanggilku.

"Apa yang aneh?"

"Reaksi orang-orang di kota ini. Biasanya, mata manusia saat melihat kita paling baik adalah waspada, atau paling buruk menunjukkan permusuhan. Namun, manusia di kota ini sepertinya memandang kita dengan ramah. Meski ada perintah dari atasan untuk menyambut kita, manusia maupun kaum iblis tidak bisa mengubah perasaan di dalam hati mereka semudah itu. Apa ini sebuah jebakan?"

"Ah, soal itu—benar juga. Permisi sebentar?"

Aku memanggil seorang ibu-ibu yang sedang berjualan sayur di depan toko.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Apa pendapatmu tentang kami? Kami ini kaum iblis, lho."

"Sepertinya begitu ya—ah, maksud saya, sepertinya memang begitu. Tapi, kami dengar kalian adalah teman-teman Kuruto-chan," ucap ibu itu dengan senyum cerah.

"Kau kenal Kuruto?"

"Tentu saja. Semua orang di kota ini berada di pihak Kuruto-chan. Meskipun tubuhnya sekecil itu, dia setiap hari bekerja keras dengan sungguh-sungguh demi bengkel. Karena Kuruto-chan terlihat sangat senang saat bilang teman-teman perempuannya akan datang berkunjung, mana mungkin kami tidak menyambut kalian? Lagipula, orang-orang di bengkel juga bilang kalau kaum iblis yang datang kali ini adalah orang-orang baik, jadi tidak ada satu pun yang ragu."

"Kau juga?"

Aku bertanya pada pemuda yang berdiri di sebelahnya sambil mengangguk-angguk.

"Tentu saja! Saya adalah anggota cabang Valha dari Klub Penggemar Kurumi-chan! Kata-kata Kurumi-chan adalah mutlak! Ah, ini, lukisan sosoknya untuk bahan dakwah. Silakan diambil!"

Begitu katanya sambil menyerahkan beberapa buku kumpulan ilustrasi.

Di sana tergambar seorang gadis cantik—tidak, itu adalah gambar Kuruto yang sedang menyamar jadi perempuan (cross-dressing).

Apa yang sedang dia lakukan, sih!

Aku hampir saja berteriak begitu.

"Ah, sekadar catatan, mohon batas permintaan agar Kuruto-san memanggil Kurumi-chan hanya satu kali sehari. Saat jam kerja benar-benar dilarang. Kostum, wig, dan alat rias harap disiapkan sendiri. Jika dia sedang bersama Yurishia-san, kemungkinan besar dia akan membantu membujuknya, jadi itu sangat disarankan. Dan jika Kurumi-chan sudah dipastikan akan muncul, kumpulkan anggota sebanyak mungkin. Apa ada yang ahli menggambar? Jika ada, ingatlah sosok Kurumi-chan saat itu dan gambarlah dengan baik. Jangan mencoba mempercantiknya secara berlebihan, gambarlah apa adanya saja."

Mendengar kata-kata dan semangatnya yang berapi-api, aku sampai terperangah.

Di sana tidak ada sekat antara iblis maupun manusia.

Hanya ada kata-kata panas dari seorang penggemar yang mencari rekan seperjuangan.

Apa kota ini dipenuhi oleh pengikut bodoh semacam itu?

"Ini... sosok Tuan Kuruto itu?"

"Aku... sepertinya dia tipeku banget..."

"Chicchi-san sudah pernah melihatnya langsung, kan? Bagaimana rasanya?"

"Hmm, aslinya jauh lebih manis daripada di ilustrasi lho."

"Serius? Lebih manis dari ini berarti dia sudah setingkat dewi, kan?"

...Bawahanku pun mulai tertular menjadi pengikut bodoh.

 

Untuk keperluan inspeksi, kami menuju ke pos penjagaan prajurit agar bisa melihat sisi militer kota ini.

"Selamat datang, Yang Mulia Kaisar Tua."

Yang menyambutku adalah Alraid Cookso—jenderal yang mengepalai kota ini.

Berbeda dengan orang-orang di kota, dia menunjukkan ekspresi yang rumit.

Yah, mau bagaimana lagi.

Bagaimanapun, kota ini awalnya dibangun sebagai benteng untuk melindungi negara dari ancaman kaum iblis. Pasukan ksatria di sini juga dibentuk untuk bertarung melawan kaum iblis.

Kini mereka justru diberi tugas untuk memandu kaum iblis.

Disebut ironis pun rasanya pertemuan ini terlalu keterlaluan seperti sebuah lelucon.

Meskipun begitu, mereka tidak menunjukkan permusuhan atau niat jahat padaku.

Mungkin mereka hanya butuh waktu untuk mencerna segalanya.

"Kalau begitu, mohon panduannya."

Setelah itu, aku diperlihatkan dinding benteng dan sejenisnya.

Aku tidak diperlihatkan bagian yang sangat rahasia, tapi senjata-senjata yang ditempatkan di sana cukup menarik.

Mungkin senjata itu dirancang bukan untuk melawan manusia, melainkan melawan monster.

Senjatanya sangat beragam, dan yang berkesan bagiku adalah penempatan senjata besar seperti Ballista dan pelontar batu.

Dulu saat diserang kawanan Skeleton, senjata ini jarang digunakan karena tidak ada monster raksasa yang muncul. Tapi kabarnya senjata ini juga dipersiapkan untuk menghadapi serangan Wyvern.

"Apakah Anda tidak menempatkan senjata dari bengkel?"

"Iya, kami tidak menaruhnya. Tidak, tepatnya kami menerima beberapa pedang tempaan master, tapi tidak ada senjata buatan Kuruto-kun."

Sepertinya Alraid tahu kalau Atelier Master yang sebenarnya adalah Kuruto.

Kalau tidak salah, ada catatan bahwa dia adalah orang pertama di negara ini yang melihat langsung kemampuan abnormal Kuruto.

Meskipun tidak diberi tahu secara langsung, dia pasti sudah menyadari siapa Atelier Master yang sesungguhnya.

"Kenapa begitu? Dengan senjatanya, situasi perang pasti akan berubah drastis. Saya tidak paham alasan Anda tidak menaruhnya."

"Benar. Memang benar bahwa saat kota ini diserang kawanan monster dulu, nyawa kami diselamatkan oleh kristal sihir buatannya. Jika dia tidak ada, saya dan banyak ksatria di kota ini tidak akan berdiri di sini sekarang."

"Lalu kenapa?"

"Senjatanya terlalu kuat. Itu adalah kekuatan yang melampaui apa yang seharusnya dimiliki oleh sebuah organisasi. Seandainya senjata buatan Kuruto-kun ditempatkan dalam jumlah besar di kota ini, jika para ksatria di sini melakukan kudeta, mereka pasti akan berhasil. Begitulah kekuatannya. Dan Kuruto-kun pasti tidak menginginkan hal itu terjadi."

Alraid mengedikkan bahu dan lanjut bicara.

"Lagipula, kalau senjata yang bisa digunakan siapa saja tersedia dalam jumlah besar, melatih bawahan jadi tidak terasa menantang lagi."

"Tentu saja, itu masalah yang sangat serius ya."

Aku pun ikut tertawa bersamanya.

Begitu ya, aku jadi sangat paham betapa Kuruto dicintai di kota ini.

Dan di saat yang sama, aku merasa senang karena justru karena kota ini dilindungi oleh ksatria seperti merekalah, Kuruto bisa tetap menjadi dirinya yang sekarang.

"Berbicara soal masalah serius, ada satu hal lagi."

Kali ini Alraid mengatakannya dengan wajah bingung.

"Dinding benteng bagian barat dan utara yang diperbaiki oleh Kuruto-kun tidak bisa dihancurkan dengan cara apa pun. Akibatnya, jika nanti kota ini ingin diperluas, sepertinya akan sangat sulit untuk mengembangkannya ke arah barat dan utara—"

"Ah, itu merepotkan sekali ya."

Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Alraid.

Jika hanya menerima kata-katanya mentah-mentah, sepertinya dia hanya sedang kesulitan karena kekuatan Kuruto. Namun sebenarnya Alraid ingin menyampaikan ini:

Kami tidak akan memperluas wilayah lebih jauh lagi ke arah wilayah Iblis, kami tidak punya niat untuk itu.

Tentu saja, hal seperti itu tidak bisa diputuskan oleh seorang jenderal sendirian. Namun, aku menerima perasaannya itu dengan baik.

 

Saat kembali ke bengkel, Tuan Putri Lise sudah menyambutku.

"Selamat datang, Hildegard-sama dan semuanya. Mohon maaf atas keterlambatan saya menyapa karena saya baru saja berada di ibu kota."

Aku tidak pernah melihatnya menyambutku dengan senyuman seperti itu.

Dulu, yang kurasakan darinya hanyalah permusuhan dan kewaspadaan.

Pelunakan sikap ini pasti karena rasa percaya diri setelah mendapatkan jawaban pernyataan cinta dari Kuruto.

Tiba-tiba, beberapa pengawalku melangkah maju dan masuk ke posisi siaga.

"Tidak apa-apa, itu pengawal dari sang mantan Tuan Putri."

Mereka bereaksi terhadap hawa keberadaan Phantom yang bersembunyi di dekat langit-langit.

Kuruto juga memiliki pengawal Phantom, tapi sebagai mantan Tuan Putri, jumlah Phantom yang mengikuti Lise jauh lebih banyak dibandingkan Kuruto.

Yah, pengawal yang tidak bisa menyadari hawa keberadaan setingkat ini harus dilatih ulang oleh Solflare yang sedang menungguku di Lapselad nanti.

"Terima kasih atas sambutannya. Dan juga, aku dengar kau sudah mendapat jawaban atas pernyataan cintamu pada Kuruto. Selamat ya."

"Aduh, beritanya sudah sampai ya? Benar sekali. Pastikan Anda datang ke upacara pernikahan kami nanti. Saya akan menyiapkan kursi khusus sebagai tamu negara. Ah, kalau Anda berkenan, saya juga ingin meminta Anda memberikan pidato sebagai perwakilan teman."

Aku berdiri di samping Lise, menengadah menatapnya, lalu berbisik pelan.

"Aku juga sudah menyampaikan perasaanku, lho."

Lise tidak goyah mendengar kata-kataku.

Bukannya dia berpikir kalau Kuruto tidak akan mempedulikanku—

Sebaliknya, dia menunjukkan ekspresi yang seolah berkata bahwa meskipun Kuruto menerimaku, dia tidak keberatan.

Seolah dia ingin bilang bahwa tak peduli berapa banyak wanita yang dicintai Kuruto, dia sudah puas selama dirinya menjadi salah satu di antaranya.

Melihat ekspresi itu, dalam hati aku mendecak lidah kesal.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close