Interlude 1
Pengakuan
Hildegard, Sekali Lagi
Rutinitas pagi milikku—Kuruto—dimulai dengan melakukan
perawatan peralatan di dalam bengkel.
Sebenarnya, alat-alat sihir di bengkel ini dirancang agar
tidak rusak selama lebih dari seratus tahun meski tanpa perawatan, jadi ini
tidak terlalu diperlukan.
Namun, ini penting bagiku untuk melakukan trial and
error demi meningkatkan efisiensi energi atau menekan konsumsi mana.
Hari ini pun, saat aku sedang bekerja di lantai bawah
tanah bengkel untuk pemeliharaan, seorang tamu datang berkunjung.
Dia adalah Hildegard-chan.
Ini bukan kunjungan mendadak karena dia sudah membuat
janji temu, jadi aku tidak terlalu terkejut.
Tapi karena dia datang sedikit lebih awal dari jadwal,
pekerjaanku belum selesai.
"Selamat
datang, Hildegard-chan. Maaf ya, aku masih ada kerjaan, bisa tunggu
sebentar?"
Sembari
berkata begitu, aku menyesuaikan peralatan boiler untuk mandi dan
mengatur debit air air mancur.
"Tidak
apa-apa, aku yang salah karena tidak tepat waktu. Lagipula,
apa aku boleh masuk ke sini?"
"Tadi aku bertanya pada pria bernama Kans, lalu dia
mengantarku ke sini," lanjutnya.
Hildegard-chan seharusnya sudah beberapa kali bertemu
Kans-san—anggota party petualang "Sakura" yang bernaung di bengkel
ini.
Namun, dia mengatakannya seolah-olah baru saja dipandu
oleh orang asing yang tidak dikenalnya.
"Iya, tidak masalah. Karena ini Hildegard-chan,
tidak ada hal yang perlu kusembunyikan darimu."
"Kata-katamu itu, tergantung cara mendengarnya, bisa
terdengar seolah kau meremehkanku karena tidak akan paham apa pun meski
melihatnya..."
Hildegard-chan
menatapku dengan lekat.
Rasanya
agak malu bekerja sambil diperhatikan, tapi tidak enak juga membiarkannya
menunggu, jadi aku mempercepat gerakanku dengan akurat.
"Kuruto,
apa ada sesuatu yang berubah?" tanya Hildegard-chan tiba-tiba.
"Benarkah?
Malah menurutku, Hildegard-chan yang bertambah tinggi?"
Tingginya memang jelas terlihat lebih tinggi
dibandingkan saat dia datang sebelumnya.
"Yah, ini kan masa pertumbuhanku setelah seratus dua
ratus tahun—ah, lupakan soal aku. Apa ada sesuatu yang baik terjadi?"
"Anu..."
Aku sempat bimbang, tapi akhirnya memutuskan untuk
menceritakan semuanya pada Hildegard-chan.
Dia sudah tahu kalau Yurishia-san dan Lise-san menyatakan
cinta padaku, jadi dia langsung paham saat aku bilang sudah memberikan jawaban.
Ngomong-ngomong, tepat setelah mereka berdua menyatakan
cinta, Hildegard-chan yang baru tiba saat itu sempat mengajakku,
"Bagaimana kalau kita membuat anak antara Iblis dan Manusia?".
Tapi saat itu aku menolaknya, karena menurutku salah jika
membuat anak dengan orang yang tidak kucintai.
"Karena utangku belum lunas, pernikahannya masih
agak lama, sih."
"He... hee, Kuruto akan menikah ya. Omong-omong,
kapan tepatnya kau memberikan jawaban itu?"
"Mungkin sekitar satu bulan yang lalu."
"...Cih, menghapus ingatannya sudah tidak mungkin,
ya."
Hildegard-chan mendecak dan menggumamkan sesuatu dengan
suara pelan.
Mungkin dia ingin bilang agar aku fokus bekerja daripada
memamerkan kemesraan.
Ya, aku harus konsentrasi.
Aku memusatkan perhatian, menggunakan kunci pas untuk
mengencangkan baut pada pipa—
"Kalau aku bilang aku menyukaimu, apa kau mau
menikah denganku?"
Mendengar ucapan mendadak Hildegard-chan, tanganku
terpeleset dan aku terjatuh. Satu baut terlepas akibat guncangan itu.
"Eh? Anu..."
"Mau bagaimana lagi, kan! Gara-gara seseorang, aku
terjebak dalam wujud ini selama seribu dua ratus tahun dan tidak pernah
menikah!"
"Akhir-akhir ini, sebagian besar pria hanya terlihat
seperti anak kecil yang jauh lebih muda dariku. Karena itu, hanya ada Kuruto
yang kutemui saat aku masih kecil yang bisa jadi pasangan nikahku!"
Hildegard-chan
terus mencerocos dengan nada bicara yang cepat—
"Bukan itu! Aku menyukai Kuruto! Ya, benar! Kau
menyelamatkan nyawaku saat aku masih kecil, saat itu Kuruto terlihat keren, dan
aku jatuh cinta!"
"Sebenarnya aku berniat menyatakan cinta dengan
benar, tapi kau tiba-tiba menghilang—"
"Setelah seratus tahun lebih aku tidak tumbuh besar,
aku tetap menyukaimu. Lalu aku dengar manusia akan mati dalam beberapa puluh
tahun."
"Aku sempat marah dan berpikir, 'kenapa kau mati
seenaknya', mengira kau sudah meninggal. Lalu seribu dua ratus tahun berlalu,
aku ditangkap Raja Iblis dan dijual pada manusia."
"Tepat saat aku merasa tidak peduli lagi pada
semuanya, Kuruto menyelamatkanku. Kau masih tetap ceroboh seperti dulu, tapi
tetap terlihat keren!"
"Soal ingin punya anak berdua untuk eksperimen itu
juga bohong! Aku hanya murni ingin menikah dengan Kuruto—"
"Intinya, aku menyukaimu! Sadarlah!"
"............Maaf."
"Jangan minta maaf!"
Hildegard berteriak dengan sangat kencang.
Uap panas mulai menyembur keluar dari pipa yang bautnya
terlepas, membuatku bergegas mengencangkannya kembali.
"Anu..."
Baru saja aku hendak membalas ucapannya—
"Kau tahu kan, kalau sebentar lagi akan diadakan
upacara penandatanganan perdamaian resmi di ibu kota kerajaan ini?"
"Iya, itu kelanjutan dari diskusi di Pegunungan
Shean waktu itu, kan?"
Perang antara manusia dan iblis adalah tragedi yang
dipicu oleh sosok yang memiliki dua wajah; Paus Gereja Pollan sebagai manusia,
dan Raja Iblis sebagai kaum iblis.
Hal tersebut kini telah disampaikan kepada para
perwakilan dari setiap negara.
Terlebih lagi, kemunculan musuh kuat yang berbeda dari
manusia maupun iblis bernama Monster Tabu, telah melahirkan rasa solidaritas
antarnegara.
Terdapat kesepakatan bahwa jika monster serupa muncul di
masa depan, negara-negara tidak boleh saling berselisih dan harus membentuk
sistem kerja sama timbal balik.
Aneh memang mengatakannya, tapi berkat kejadian itu,
pertemuan perdamaian berlangsung lebih tenang dibandingkan sebelum Raja Iblis
menyerang.
Isi dari perjanjian damai pun diputuskan dengan sangat
lancar.
Kini, sebuah upacara akan segera diadakan untuk
meresmikan penandatanganan poin-poin perdamaian tersebut.
Aku, Yurishia-san, Lise-san, bahkan beberapa penduduk
Desa Haste juga turut diundang ke sana.
Katanya, kami akan menerima penghargaan atas jasa
sukarelawan dalam membersihkan lahan yang terkontaminasi oleh Monster Tabu.
Meski orang-orang di desa sempat berkata kalau itu
terlalu berlebihan hanya untuk sekadar bersih-bersih...
"Orang-orang penting itu ternyata benar-benar
memperhatikan siapa yang bekerja keras. Kuruto, kau tinggal di negara yang baik
ya," ujar Ibu dengan raut wajah yang tampak bahagia.
"Jawabannya... berikan setelah upacara
penandatanganan itu selesai saja. Kuruto juga butuh waktu untuk berpikir,
kan?"
"Eh, tapi—"
"Aku bilang, aku juga butuh waktu! Mengertilah
sedikit!"
"I-iya!"
Setelah mengatakan itu, Hildegard-chan menaiki tangga
dengan raut wajah yang sedikit kesal.
...Hildegard-chan, bukankah rencananya hari ini kau akan
menginap di bengkel? Apa dia masih ingat ya?
◆◇◆
Aku benar-benar sudah mengacaukannya—begitulah yang
kupikirkan, aku, Hildegard.
Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk menyatakan
cinta.
Setidaknya, aku berencana untuk menyimpan perasaan ini
rapat-rapat di dalam dada sampai penampilanku mencapai usia dewasa
manusia—yaitu lima belas tahun.
Dan yang terpenting, aku berpikir jika Kuruto benar-benar
menikah dengan orang yang dia cintai sebelum aku mencapai usia itu, maka saat
itu tiba, aku akan merayakannya dengan tulus.
Yah, meski aku sempat berpikir kalau manusia biasa
mungkin awalnya akan baik-baik saja, tapi lama-lama mereka akan dipermainkan
oleh kemampuan Kuruto yang luar biasa hingga akhirnya kehidupan pernikahan
mereka hancur.
Lalu di saat Kuruto sedang patah hati, aku yang sudah
tumbuh dewasa akan mengulurkan tangan bantuan kepadanya—begitulah skenario yang
sempat kubayangkan.
Namun, aku tidak pernah menyangka kalau dia akan
berencana menikahi dua orang sekaligus.
Atau lebih tepatnya, itu adalah kesimpulan yang mustahil
diambil oleh Kuruto yang dulu.
Dulu aku mengira dia akan berkata, "Orang sepertiku
menikahi satu orang saja sudah terlalu lancang, apalagi dua wanita. Aku tidak
bisa melakukannya."
Namun, Kuruto yang sekarang menyatakannya padaku dengan
wajah tenang—entahlah tenang atau tidak—bahwa dia akan menikahi dua wanita.
Aku bisa membayangkan bahwa Yurishia, Lise, dan Akuri...
tidak, bukan hanya mereka bertiga, tapi orang-orang di sekitarnya jugalah yang
telah mengubah Kuruto yang seperti itu.
Tapi, justru karena itulah aku jadi berpikir.
Kalau menikah dengan dua orang saja bisa, maka dengan
tiga orang pun sama saja, kan? Masukkan aku juga sebagai salah satunya—begitu.
Saat naik ke lantai satu, aku berpapasan dengan Akuri.
Penampilannya tampak kekanak-kanakan, tapi dia adalah
wanita yang lebih tua dariku.
Omong-omong, Bandana—wanita bernama Noah itu juga
kabarnya lahir lebih dari lima ribu tahun yang lalu, tapi karena dia
berkali-kali menyegel tubuhnya sendiri dan menghentikan waktu, usia aslinya
mungkin hanya sekitar seratus tahunan.
Kalau begitu, para Elf atau kaum Iblis di sekitar sini
justru lebih tua darinya.
Artinya, dia adalah satu-satunya manusia di dunia ini
yang lebih tua dariku—meski secara teknis dia bukan manusia, melainkan Roh.
"Hildegard-sama, selamat datang."
Akuri menyadariku dan menundukkan kepala.
"Hari ini aku akan menumpang di sini. Maaf
merepotkan, ya."
"Yang mengurus Anda bukan saya, melainkan Papa.
Lagipula, Papa pasti tidak akan merasa direpotkan. Papa terlihat sangat senang
saat bersama Hildegard-sama."
"Benarkah? Bagiku dia selalu terlihat sedang
kesulitan atau kebingungan."
"Fufufu, itu artinya Papa merasa tenang untuk
memperlihatkan sisi lemahnya di depan Hildegard-sama."
"...Anu, bisa berhenti memanggilku dengan
embel-embel '-sama'? Akuri pasti malu kalau memanggilku 'Kakak' seperti dulu,
jadi panggil saja Hildegard, atau Hilde."
"Kalau begitu, saya akan memanggil Anda
Hilde-san ya," ucap Akuri sambil tersenyum.
"Sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan dengan
Akuri."
"Apakah ini tentang ayah dari Hilde-san?"
Ayahku adalah seorang Sage Agung—dengan kata lain,
dia adalah murid dari Akuri ini.
Alasan Ayah menjadi muridnya kabarnya adalah demi
diriku.
Berdasarkan apa yang kudengar, aku tidak akan bisa
berumur panjang jika hidup secara normal.
Penyebabnya adalah Defisiensi Mana, sebuah penyakit
khas kaum Iblis—khususnya Ras Bertanduk.
Dibandingkan dengan pertumbuhan tanduk yang berfungsi
menyimpan mana, jumlah mana yang terkumpul justru sedikit, sehingga mana tidak
tersalurkan ke seluruh tubuh dan menyebabkan kematian—aku menderita penyakit
seperti itu.
Manusia dan Iblis sama-sama memiliki mana, namun kaum
Iblis dapat menyerap mana dari luar melalui tanduk mereka.
Bagi kaum Iblis yang menyerap mana dalam jumlah
besar, mereka juga memiliki organ untuk melepaskannya di saat yang bersamaan.
Namun, karena kapasitas penyimpanan manaku lebih
sedikit dari orang lain sementara jumlah yang dilepaskan normal, seiring
pertumbuhan tubuh, jumlah pelepasan itu akan meningkat.
Jika akhirnya jumlah pelepasan melebihi jumlah
penyerapan, maka nyawaku akan melayang.
Tetapi secara kebetulan, berkat obat keabadian yang
dibuat Kuruto, jumlah pelepasan manaku tidak meningkat, sementara tanduk
penyimpan manaku berkembang dengan baik, sehingga aku bisa bertahan hidup.
Namun, pertemuanku dengan Kuruto dan meminum obat itu
sebenarnya bukanlah kebetulan. Itu adalah metode yang dipelajari dan dipilih
oleh Ayah dari Sang Sage Agung—yaitu Akuri.
Meski tahu aku akan menderita karena tidak bisa menua
selama seribu dua ratus tahun, Ayah tetap mencari keselamatan di sana karena
tahu akan ada masa depan di mana aku bisa menghabiskan waktu dengan tersenyum.
Ayah masuk ke Desa Haste sebagai pedagang keliling,
berusaha mengajarkan norma-norma pada penduduk desa, sambil mengincar momen
untuk mempertemukan aku dengan Kuruto.
Jika aku tidak bertemu Kuruto, maka Yurishia dan Lise
tidak akan pergi ke Desa Haste di masa lalu, dan jika itu terjadi, Akuri sang
Roh Agung Ruang dan Waktu tidak akan pernah lahir.
Yah, aku tidak berniat mempermasalahkannya sekarang.
Aku sudah terbebas dari keabadian, dan selama seribu
dua ratus tahun ini aku telah mendapatkan banyak orang yang berharga.
Karena itu—
"Aku sudah mendengar cerita tentang apa yang
terjadi antara Ayah dan Akuri. Aku memang sempat mendendam. Tapi jika melihat
hasilnya, sekarang aku sudah melangkah maju, jadi aku tidak berniat mengeluh
lagi. Meski untuk berterima kasih rasanya agak menyebalkan, tapi aku sudah
menerimanya."
"Saya minta maaf."
"Jangan minta maaf—aku kan sudah bilang kalau aku
menerimanya. Astaga, sifatmu itu benar-benar mirip dengan ayahmu."
Aku menghela napas saat teringat pada pria yang baru saja
kunyatakan cinta tadi.
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Aku dengar serikat dagang yang disokong resep oleh Kuruto
juga menangani anggur (wine) dan sejenisnya."
"Iya, mereka mengoperasikan satu toko di ibu
kota."
"...Bisakah kau membuat mereka membuka cabang di
Lapselad, tempat tinggalku? Kalau bisa, aku tidak ingin anggur, tapi teh dan
kue kering..."
Rumor tentang anggur dari serikat dagang Kuruto telah
sampai ke wilayah Iblis. Sebuah serikat dagang di sana
mengimpor anggur tersebut dan meraup keuntungan besar.
Bagus jika serikat dagang dalam negeri mendapat
untung, tapi saat ini perdagangan antara wilayah Iblis dan manusia skalanya
sangat kecil. Mengimpor beberapa botol anggur berharga tinggi saja sudah
membuat rasio impor melonjak drastis dibandingkan ekspor.
Singkatnya, terjadi defisit perdagangan.
Beberapa petinggi mulai khawatir bahwa jika
perdagangan berskala besar terus dilakukan seperti ini, seluruh kekayaan
wilayah Iblis akan terkuras habis.
Karena itu, aku berniat mengekspor barang lain
ciptaan Kuruto dari wilayah Iblis untuk mengatasi defisit perdagangan tersebut.
Itulah sebabnya aku ingin menjalin hubungan dengan serikat dagang itu.
"Anu, soal itu sepertinya lebih baik
dikonsultasikan dengan Mama Lise atau Papa daripada saya—"
"Aku tidak mau, makanya aku memintanya padamu."
Sebenarnya aku berniat meminta pada Lise, tapi aku
benar-benar enggan berutang budi pada gadis yang baru saja menjadi tunangan Kuruto
itu.
Apalagi, aku tidak mungkin berkonsultasi pada orang yang
baru saja kunyatakan cinta.
"Baiklah kalau begitu. Saya tidak akan mengatakannya
sebagai permintaan dari Hilde-san, tapi saya sendiri yang akan mengajukannya
pada para Mama. Tapi, kenapa harus teh dan kue kering?"
"...Itu karena aku ingin minum teh buatan Kuruto."
Terutama setelah aku meminum teh yang rasanya mirip air
lumpur buatan si "Director", bawahan Raja Iblis itu, aku jadi semakin
ingin meminumnya.
Meski begitu, aku tidak bisa datang ke bengkel hanya
demi minum teh.
Yah, aku sempat berpikir juga.
Mungkin tidak buruk jika aku sering berkunjung ke
bengkel dengan dalih ingin minum teh.
Jika aku mengatakannya, Kuruto yang peka-nya nol itu
pasti akan maklum dan menyuguhkanku teh, bahkan mungkin memberiku kue kering
sebagai oleh-oleh saat pulang.
Tapi, Lise dan Yurishia juga tinggal di sini.
Kalau aku terus datang ke tempat seperti ini setiap
saat—
Aku pasti akan merasa sedikit cemburu, kan?
Aku pun punya posisi yang harus dijaga. Tidak seperti
Tuan Putri yang isi kepalanya penuh bunga itu, posisiku tidak bisa dibuang
begitu saja dengan mudah.
Jika hanya gelar Kaisar Tua, aku ingin membuangnya
jika bisa, tapi aku tidak bisa membuang para bawahan yang telah mengikutiku
dengan setia.
Karena itu, aku tidak bisa meninggalkan segalanya dan
tinggal di bengkel ini.
Seolah bisa membaca isi hatiku, Akuri tersenyum
kecil.
"Saya mengerti. Saya akan mencari berbagai
alasan untuk membicarakannya dengan Mimiko-san. Apa produk yang dibutuhkan
cukup teh dan kue kering saja?"
"...Ya, untuk saat ini itu saja sudah cukup. Mungkin
nanti aku akan minta tolong lagi."
"Tapi, bukannya lebih baik meminta resepnya saja
lalu menjualnya sebagai produk serikat dagang milik Hilde-san daripada membuka
cabang Papa? Saya rasa Papa akan mengizinkannya."
"Aku tidak mau, karena itu sama saja mengkhianati Kuruto."
Imbalan yang setimpal harus diberikan atas apa yang telah
didapat.
Aku tahu Kuruto tidak kekurangan uang, tapi menurutku itu
adalah dua hal yang berbeda.
"Begitu
ya... Padahal kalau aset Papa bertambah lagi, para Mama akan kesulitan."
Akuri menggumamkan kalimat terakhirnya dengan sangat
pelan tanpa membuka mulut.
Mungkin dia bermaksud agar tidak terdengar, tapi sebagai
Ras Bertanduk yang pendengarannya lebih tajam dari manusia, aku bisa
mendengarnya dengan jelas.
Yah, aku tidak melakukan hal yang salah. Dan
jika itu membuat mereka berdua kesulitan, aku malah merasa sedikit lega.
"Kalau begitu, para bawahan dan Chicchi sudah
menungguku, jadi aku akan segera pergi."
Karena ini kunjungan resmi, jumlah pengawalku lumayan
banyak.
Di antara mereka ada yang baru pertama kali datang ke
kota manusia, jadi mereka pasti cemas jika aku tidak kunjung kembali.
"............"
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas dan membuatku merenung
sejenak.
"Ada apa, Hilde-san?"
"Di antara pengawalku, ada bawahan yang keluarganya
dibunuh oleh manusia dan merasa tidak puas dengan upacara penandatanganan ini.
Aku khawatir anak itu melakukan sesuatu yang tidak sopan."
Itu terjadi puluhan tahun lalu saat ada perselisihan
kecil dengan Raja Iblis.
Saat itu, Raja Iblis menyerang wilayahku dengan membawa
ribuan manusia sebagai tentara budak.
Meski disebut budak, mereka tidak dicuci otak atau
dikendalikan, melainkan orang-orang yang sukarela mendaftar karena
diiming-imingi kebebasan dari status budak jika berprestasi dalam perang.
Banyak dari mereka yang melakukan penjarahan atas
kehendak sendiri.
Manusia seperti itulah yang membunuh keluarga bawahanku.
Saat itu dia masih berusia tiga tahun dan berhasil
selamat karena dimasukkan ke dalam ruang rahasia.
Namun karena melihat sisi terburuk manusia, dia menjadi
bawahanku hanya demi membalas dendam pada Raja Iblis. Bukan karena dia setuju
dengan kebijakan-kebijakanku.
Namun sekarang setelah Raja Iblis dikalahkan, yang
tersisa padanya hanyalah kebencian pada manusia.
Aku membawanya sebagai pengawal karena ingin dia melihat
sisi lain manusia selain sisi buruknya.
Aku sudah menyuruh Chicchi untuk mengawasinya agar tidak
berbuat aneh-aneh, tapi apa dia baik-baik saja?
"Ah, kalau soal itu sepertinya tidak apa-apa. Papa
tadi pergi ke ruang tamu sambil membawa minuman."
"Eh? Kapan sempatnya!?"
Saat aku bergegas menuju ruang tamu, para bawahan sedang
meminum teh buatan Kuruto dengan wajah yang terlihat sangat bahagia dan santai.
Wajah yang menunjukkan bahwa jika musuh menyerang
sekarang, mereka pasti akan kalah telak.
Bahkan bawahanku yang mendendam pada manusia tadi
sedang bergumam dengan serius.
"Ternyata manusia bisa membuat teh seenak ini...
Mungkin tidak semua dari mereka adalah orang jahat."
Berubah pikiran hanya karena secangkir teh... Meski itu
berita bagus, tapi apa benar-benar boleh semudah itu?
"Ah,
Hildegard-chan... mau minum teh?"
Kuruto
sang pelaku utama (?) melihatku dan bertanya dengan nada agak canggung.
"...Beri aku tiga sendok gula."
Aku mengatakannya sambil meminum teh buatan Kuruto
yang terasa lebih manis dari biasanya untuk menenangkan perasaanku.
Setelah makan siang, kami memutuskan untuk berkeliling
melihat-lihat kota Valha.
"Yang Mulia Kaisar Tua, bolehkah saya bicara
sebentar? Ada yang aneh."
Salah satu bawahanku memanggilku.
"Apa yang aneh?"
"Reaksi orang-orang di kota ini. Biasanya,
mata manusia saat melihat kita paling baik adalah waspada, atau paling buruk
menunjukkan permusuhan. Namun, manusia di kota ini sepertinya memandang kita
dengan ramah. Meski ada perintah dari atasan untuk menyambut kita, manusia
maupun kaum iblis tidak bisa mengubah perasaan di dalam hati mereka semudah
itu. Apa ini sebuah jebakan?"
"Ah, soal itu—benar juga. Permisi sebentar?"
Aku memanggil seorang ibu-ibu yang sedang berjualan sayur
di depan toko.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa pendapatmu tentang kami? Kami ini kaum iblis,
lho."
"Sepertinya begitu ya—ah, maksud saya, sepertinya
memang begitu. Tapi, kami dengar kalian adalah teman-teman Kuruto-chan,"
ucap ibu itu dengan senyum cerah.
"Kau kenal Kuruto?"
"Tentu saja. Semua orang di kota ini berada di pihak Kuruto-chan.
Meskipun tubuhnya sekecil itu, dia setiap hari bekerja keras dengan
sungguh-sungguh demi bengkel. Karena Kuruto-chan terlihat sangat senang saat
bilang teman-teman perempuannya akan datang berkunjung, mana mungkin kami tidak
menyambut kalian? Lagipula, orang-orang di bengkel juga bilang kalau kaum iblis
yang datang kali ini adalah orang-orang baik, jadi tidak ada satu pun yang
ragu."
"Kau
juga?"
Aku
bertanya pada pemuda yang berdiri di sebelahnya sambil mengangguk-angguk.
"Tentu
saja! Saya adalah anggota cabang Valha dari Klub Penggemar Kurumi-chan! Kata-kata
Kurumi-chan adalah mutlak! Ah, ini, lukisan sosoknya untuk bahan dakwah.
Silakan diambil!"
Begitu katanya sambil menyerahkan beberapa buku kumpulan
ilustrasi.
Di sana tergambar seorang gadis cantik—tidak, itu adalah
gambar Kuruto yang sedang menyamar jadi perempuan (cross-dressing).
Apa yang sedang dia lakukan, sih!
Aku hampir saja berteriak begitu.
"Ah, sekadar catatan, mohon batas permintaan agar Kuruto-san
memanggil Kurumi-chan hanya satu kali sehari. Saat jam kerja benar-benar
dilarang. Kostum, wig, dan alat rias harap disiapkan sendiri. Jika dia sedang
bersama Yurishia-san, kemungkinan besar dia akan membantu membujuknya, jadi itu
sangat disarankan. Dan jika Kurumi-chan sudah dipastikan akan muncul, kumpulkan
anggota sebanyak mungkin. Apa ada yang ahli menggambar? Jika ada, ingatlah
sosok Kurumi-chan saat itu dan gambarlah dengan baik. Jangan mencoba
mempercantiknya secara berlebihan, gambarlah apa adanya saja."
Mendengar kata-kata dan semangatnya yang berapi-api, aku
sampai terperangah.
Di sana tidak ada sekat antara iblis maupun manusia.
Hanya ada kata-kata panas dari seorang penggemar yang
mencari rekan seperjuangan.
Apa kota ini dipenuhi oleh pengikut bodoh semacam itu?
"Ini... sosok Tuan Kuruto itu?"
"Aku... sepertinya dia tipeku banget..."
"Chicchi-san sudah pernah melihatnya langsung, kan?
Bagaimana rasanya?"
"Hmm, aslinya jauh lebih manis daripada di ilustrasi
lho."
"Serius? Lebih manis dari ini berarti dia sudah
setingkat dewi, kan?"
...Bawahanku pun mulai tertular menjadi pengikut bodoh.
Untuk keperluan inspeksi, kami menuju ke pos penjagaan
prajurit agar bisa melihat sisi militer kota ini.
"Selamat datang, Yang Mulia Kaisar Tua."
Yang menyambutku adalah Alraid Cookso—jenderal yang
mengepalai kota ini.
Berbeda dengan orang-orang di kota, dia menunjukkan
ekspresi yang rumit.
Yah, mau bagaimana lagi.
Bagaimanapun, kota ini awalnya dibangun sebagai
benteng untuk melindungi negara dari ancaman kaum iblis. Pasukan ksatria di
sini juga dibentuk untuk bertarung melawan kaum iblis.
Kini mereka justru diberi tugas untuk memandu kaum
iblis.
Disebut ironis pun rasanya pertemuan ini terlalu
keterlaluan seperti sebuah lelucon.
Meskipun begitu, mereka tidak menunjukkan permusuhan atau
niat jahat padaku.
Mungkin mereka hanya butuh waktu untuk mencerna
segalanya.
"Kalau begitu, mohon panduannya."
Setelah itu, aku diperlihatkan dinding benteng dan
sejenisnya.
Aku tidak diperlihatkan bagian yang sangat rahasia, tapi
senjata-senjata yang ditempatkan di sana cukup menarik.
Mungkin senjata itu dirancang bukan untuk melawan
manusia, melainkan melawan monster.
Senjatanya sangat beragam, dan yang berkesan bagiku
adalah penempatan senjata besar seperti Ballista dan pelontar batu.
Dulu saat diserang kawanan Skeleton, senjata ini jarang
digunakan karena tidak ada monster raksasa yang muncul. Tapi kabarnya senjata
ini juga dipersiapkan untuk menghadapi serangan Wyvern.
"Apakah Anda tidak menempatkan senjata dari
bengkel?"
"Iya, kami tidak menaruhnya. Tidak, tepatnya kami
menerima beberapa pedang tempaan master, tapi tidak ada senjata buatan Kuruto-kun."
Sepertinya Alraid tahu kalau Atelier Master yang
sebenarnya adalah Kuruto.
Kalau tidak salah, ada catatan bahwa dia adalah orang
pertama di negara ini yang melihat langsung kemampuan abnormal Kuruto.
Meskipun tidak diberi tahu secara langsung, dia pasti
sudah menyadari siapa Atelier Master yang sesungguhnya.
"Kenapa begitu? Dengan senjatanya, situasi perang
pasti akan berubah drastis. Saya tidak paham alasan Anda tidak
menaruhnya."
"Benar. Memang benar bahwa saat kota ini diserang
kawanan monster dulu, nyawa kami diselamatkan oleh kristal sihir buatannya.
Jika dia tidak ada, saya dan banyak ksatria di kota ini tidak akan berdiri di
sini sekarang."
"Lalu kenapa?"
"Senjatanya terlalu kuat. Itu adalah kekuatan yang
melampaui apa yang seharusnya dimiliki oleh sebuah organisasi. Seandainya
senjata buatan Kuruto-kun ditempatkan dalam jumlah besar di kota ini, jika para
ksatria di sini melakukan kudeta, mereka pasti akan berhasil. Begitulah
kekuatannya. Dan Kuruto-kun pasti tidak menginginkan hal itu terjadi."
Alraid mengedikkan bahu dan lanjut bicara.
"Lagipula, kalau senjata yang bisa digunakan
siapa saja tersedia dalam jumlah besar, melatih bawahan jadi tidak terasa
menantang lagi."
"Tentu saja, itu masalah yang sangat serius
ya."
Aku pun ikut tertawa bersamanya.
Begitu ya, aku jadi sangat paham betapa Kuruto dicintai
di kota ini.
Dan di saat yang sama, aku merasa senang karena justru
karena kota ini dilindungi oleh ksatria seperti merekalah, Kuruto bisa tetap
menjadi dirinya yang sekarang.
"Berbicara soal masalah serius, ada satu hal
lagi."
Kali ini Alraid mengatakannya dengan wajah bingung.
"Dinding benteng bagian barat dan utara yang
diperbaiki oleh Kuruto-kun tidak bisa dihancurkan dengan cara apa pun.
Akibatnya, jika nanti kota ini ingin diperluas, sepertinya akan sangat sulit
untuk mengembangkannya ke arah barat dan utara—"
"Ah, itu merepotkan sekali ya."
Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Alraid.
Jika hanya menerima kata-katanya mentah-mentah,
sepertinya dia hanya sedang kesulitan karena kekuatan Kuruto. Namun sebenarnya
Alraid ingin menyampaikan ini:
Kami tidak akan memperluas wilayah lebih jauh lagi ke
arah wilayah Iblis, kami tidak punya niat untuk itu.
Tentu saja, hal seperti itu tidak bisa diputuskan oleh
seorang jenderal sendirian. Namun, aku menerima perasaannya itu dengan baik.
Saat kembali ke bengkel, Tuan Putri Lise sudah
menyambutku.
"Selamat datang, Hildegard-sama dan semuanya. Mohon
maaf atas keterlambatan saya menyapa karena saya baru saja berada di ibu
kota."
Aku tidak pernah melihatnya menyambutku dengan senyuman
seperti itu.
Dulu, yang kurasakan darinya hanyalah permusuhan dan
kewaspadaan.
Pelunakan sikap ini pasti karena rasa percaya diri
setelah mendapatkan jawaban pernyataan cinta dari Kuruto.
Tiba-tiba, beberapa pengawalku melangkah maju dan masuk
ke posisi siaga.
"Tidak apa-apa, itu pengawal dari sang mantan Tuan
Putri."
Mereka bereaksi terhadap hawa keberadaan Phantom yang
bersembunyi di dekat langit-langit.
Kuruto juga memiliki pengawal Phantom, tapi sebagai
mantan Tuan Putri, jumlah Phantom yang mengikuti Lise jauh lebih banyak
dibandingkan Kuruto.
Yah, pengawal yang tidak bisa menyadari hawa keberadaan
setingkat ini harus dilatih ulang oleh Solflare yang sedang menungguku di
Lapselad nanti.
"Terima kasih atas sambutannya. Dan juga, aku dengar
kau sudah mendapat jawaban atas pernyataan cintamu pada Kuruto. Selamat
ya."
"Aduh, beritanya sudah sampai ya? Benar sekali.
Pastikan Anda datang ke upacara pernikahan kami nanti. Saya akan menyiapkan
kursi khusus sebagai tamu negara. Ah, kalau Anda berkenan, saya juga ingin
meminta Anda memberikan pidato sebagai perwakilan teman."
Aku berdiri di samping Lise, menengadah menatapnya,
lalu berbisik pelan.
"Aku juga sudah menyampaikan perasaanku, lho."
Lise tidak goyah mendengar kata-kataku.
Bukannya dia berpikir kalau Kuruto tidak akan
mempedulikanku—
Sebaliknya, dia menunjukkan ekspresi yang seolah berkata
bahwa meskipun Kuruto menerimaku, dia tidak keberatan.
Seolah dia ingin bilang bahwa tak peduli berapa banyak
wanita yang dicintai Kuruto, dia sudah puas selama dirinya menjadi salah satu
di antaranya.
Melihat ekspresi itu, dalam hati aku mendecak lidah
kesal.



Post a Comment