Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 4
Takdir Aneh
"Ini kerusakannya parah juga, ya."
Ars mendongak menatap tembok kota raksasa di hadapannya.
Pecahan batu berserakan dengan mengenaskan, dan retakan menjalar di sana-sini pada permukaan dinding.
Tampak terluka dan kelelahan, layaknya kastil tua yang terus menahan angin dan hujan selama bertahun-tahun.
Namun, anehnya, di kaki tembok itu tidak ada satu pun bercak darah atau mayat yang tergeletak.
Padahal serangan berskala sebesar ini telah terjadi, keheningan dan pemandangan tanpa manusia di depan mata justru terasa semakin mengerikan.
Inilah yang disebut——,
——Perang Sihir.
Tak diragukan lagi ini adalah bukti terjadinya pertempuran antar penyihir.
Dalam pengepungan yang dilakukan para penyihir, mereka saling memukulkan sihir dahsyat sambil menjaga jarak.
Keganasan pertempuran itu bisa sangat ekstrem hingga menelan satu kota, namun jarang meninggalkan mayat atau jejak fisik.
Sebab mereka yang terbakar habis akan menjadi abu, dan mereka yang terhempas akan lenyap tanpa jejak.
Kekuatan tanpa ampun yang meruntuhkan tembok kota dan bahkan mengejek senjata pengepungan, memberikan kesan daya hancur yang luar biasa bagi yang melihatnya, namun di sisi lain menciptakan medan perang anorganik tanpa secuil pun rasa kemanusiaan.
Sisa-sisa Mana samar-samar terbawa angin.
Hawa panas yang menyentuh tanah hangus menceritakan bekas luka Perang Sihir.
Ars kembali mengamati keadaan sekitar, menatap pemandangan kehancuran yang memenuhi pandangannya.
"Meski begitu, sepertinya mereka tidak sampai menyusup ke dalam kota, ya."
Tembok kota yang dipandang Ars, meski rusak parah, tertahan di ambang keruntuhan oleh barrier yang kuat. Di permukaannya terbentang lapisan sihir tipis yang bersinar, memancarkan semacam intimidasi.
"Hmm... saya tidak terpikir ada penyihir yang bisa memasang barrier sekuat ini."
Sebas bergumam sambil menyipitkan mata menatap tembok kota.
"Begitu kah?"
"Biasanya, barrier 'Helheim' itu pada dasarnya dipasang berlapis-lapis berkat kerja sama beberapa penyihir. Namun, dari yang saya lihat sekarang, barrier sebelumnya telah hancur, dan yang baru dipasang ini hanya satu lapis. Walaupun begitu, kekokohan ini... sungguh patut dikagumi."
Mata Sebas berkilat tajam sesaat.
Kemudian, seolah teringat sesuatu, dia menjatuhkan pandangan ke kakinya dan menyunggingkan senyum tipis di bibir.
"Percuma juga berhenti di sini. Mari lewat sini."
Sebas melangkah maju, lalu dengan terampil memberi isyarat tangan pada Ars dan yang lain meski sedang menggendong Lilith di punggungnya.
Namun, arah yang dia tuju justru berlawanan dengan gerbang utama.
"Gerbang utamanya di sana, kita mau ke mana?"
Ars menunjuk arah gerbang utama dengan jempolnya.
"Dalam situasi sekarang, saya rasa penjaga tidak akan membukakan pintu."
"Biarpun ada Ratu dan kau di sini, tetap tidak bisa masuk?"
Terhadap pertanyaan jujur Ars, Sebas tersenyum masam.
"Justru karena itulah. Di sini Ratu selalu menyembunyikan wajah aslinya. Selain itu saya juga jarang tampil di panggung depan, jadi sulit bagi penjaga untuk mengenali kami dengan akurat. Terlebih lagi, dalam situasi seperti ini, rasa saling curiga sedang merajalela."
"...Maksudnya waspada terhadap Gift [Disguise], [Transformation], atau [Camouflage], ya."
Ars bergumam sambil mengangguk memaklumi.
Gift penyamaran atau perubahan wujud dengan sihir dapat meniru penampilan fisik dengan sempurna.
Oleh karena itu, wajar jika para penjaga menjadi sangat hati-hati.
Apalagi setelah menerima serangan dari kekuatan musuh tepat sebelumnya.
"Sejak awal, Ratu memang tidak berniat membeberkan wajah aslinya... tapi andai kata dalam situasi ini kami menunjukkan wajah asli dan memerintahkan buka pintu, tidak mungkin mereka akan percaya."
"Kalau begitu, fakta bahwa wajahnya dilihat oleh Hajarl dan para 'Antitesis Buangan' lainnya, bukankah itu pukulan telak?"
"Soal itu tidak perlu dipikirkan."
Sebas menggeleng dengan ekspresi tenang.
"Iblis yang tinggal di 'Helheim' tidak akan percaya pada siapa pun. Apa pun yang diteriakkan oleh mereka yang telah diasingkan, tidak akan ada yang mendengarkan."
"Artinya kontrol informasinya menyeluruh, ya... tidak, secara alami memang jadi begitu, ya."
Pandangan Ars tertuju pada penduduk yang mungkin ada di balik tembok kota.
Informasi yang mengalir di 'Helheim' sangat terbatas.
Hanya terbatas pada apa yang dibawa petualang dan pelancong dari Dunia Luar, atau media resmi yang disebarkan oleh petinggi yang memerintah 'Helheim'.
Kota tertutup dengan kontak dunia luar yang minim, dan 'Helheim' adalah satu-satunya wilayah kelangsungan hidup umat manusia (dan Iblis) yang ada di 'Lost Land'.
"Akan tetapi, demi saat-saat seperti ini, ada lorong rahasia yang hanya bisa dilalui orang tertentu."
"Persiapannya bagus juga."
"Kami sudah mengalami hal semacam ini berkali-kali di masa lalu. Sejarah Iblis adalah sejarah pertempuran melawan penjajah, jadi bukan berarti kami memprediksi kejadian kali ini lalu menyiapkannya."
"Kudengar 'Helheim' berkembang lewat proses trial and error berulang kali, jadi sepertinya ada banyak mekanisme menyenangkan lainnya, ya."
Saat Ars berkata dengan riang, Sebas mengangguk setuju.
"Benar sekali, saat itu kami tidak punya pengetahuan apa pun, pokoknya barang bagus atau buruk kami ambil sembarangan. Dalam prosesnya banyak juga barang yang akhirnya tidak dipakai, jadi kalau sudah tenang nanti saya akan pandu Anda. Siapa tahu bisa jadi referensi."
"Aku akan menantikannya."
Saat Ars membalas begitu, Sebas berhenti melangkah.
Di hadapannya, sekilas hanya ada dinding yang tampak biasa saja.
Sebas menyentuh dinding itu, lalu mulai berjalan sambil mengelusnya lebar-lebar.
Saat dia berhenti lagi, sebagian dinding itu melekuk tanpa suara, dan area sekitarnya bergerak mengeluarkan suara rendah.
Tak lama kemudian, lorong yang diselimuti kegelapan menampakkan wujudnya.
"Hee, dinding yang bereaksi terhadap Mana, ya. Mekanisme yang menarik, tapi sepertinya tidak sembarang orang bisa lewat."
"Tempat ini diatur agar hanya bereaksi terhadap Mana saya, Ratu, dan satu orang lagi."
"...Sebas-dono, aku rasa itu pasti informasi rahasia. Nanti kau dimarahi Ratu lagi, lho."
Shion mengeluh sambil geleng-geleng kepala, tapi Sebas sama sekali tidak mempedulikannya dan melangkah masuk ke lorong gelap itu. Ars dan yang lain pun mengikuti di belakangnya.
Sementara Lilith yang tidak ikut dalam percakapan mereka bertiga, tampaknya kelelahan akibat pelarian dan masih tertidur di punggung Sebas.
"Betapa cerobohnya saya... astaga, Ars-sama sungguh pandai mengorek informasi."
"Tidak, itu bukan salahku, kan."
Ars mengangkat bahu sambil tersenyum masam, tapi dalam hati dia menganggap orang seperti Sebas adalah yang paling merepotkan.
Dia bicara dengan datar, terlihat bermulut ember, tapi tidak bisa dibedakan apakah dia sedang membicarakan hal yang benar-benar penting atau tidak. Kelihatannya membocorkan rahasia, padahal mungkin saja itu informasi yang diketahui semua orang. Orang yang sengaja bersikap penuh arti seperti Sebas justru adalah orang yang licin dan sulit dipegang.
"Ngomong-ngomong, ternyata luas juga, ya."
Saat Ars menyuarakan kekagumannya, Sebas mulai menjelaskan dengan nada santai.
"Awalnya ini dirancang sebagai jalur evakuasi penduduk. Makanya dibuat agak luas. Di masa-masa awal sempat digunakan beberapa kali, tapi beberapa dekade terakhir sudah tidak diperlukan lagi, dan seperti yang saya bilang tadi, pengaturannya diubah agar hanya bisa digunakan oleh orang tertentu."
Sambil mendengarkan cerita Sebas, mereka terus melangkah hingga akhirnya keluar dari lorong.
Yang terbentang di sana adalah halaman belakang.
Dikelilingi jalan setapak batu berlumut, di ujung ruang yang suasananya agak terbengkalai itu berdiri sebuah bangunan tua berlantai dua. Bangunan kayu yang terasa tua, namun memiliki wibawa yang anggun.
"Lewat sini."
Sebas menoleh, lalu memandu menuju pintu belakang bangunan tua itu.
Begitu melangkah masuk, berbanding terbalik dengan penampilan luarnya yang kuno, bagian dalamnya terawat dengan sangat baik. Lantai kayu yang polis dan balok-balok mengkilap tampak indah, memancarkan atmosfer kuno namun menenangkan.
"Di permukaan tempat ini beroperasi sebagai penginapan, tapi sebenarnya ini tempat yang disiapkan sebagai persembunyian darurat."
"Kenapa menyiapkan tempat seperti ini?"
Menjawab pertanyaan Ars, Sebas menunjukkan ekspresi yang sedikit bernostalgia.
"Ratu adalah orang yang memiliki banyak rahasia. Dulu beliau sering terluka. Jika menyiapkan tempat yang tidak didekati siapa pun, beliau bisa memulihkan diri dengan tenang."
Sebas terus berjalan menyusuri koridor.
Langkah kakinya alami, seolah pulang ke rumah sendiri.
Akhirnya, rombongan itu sampai di tempat seperti resepsionis.
Di sana duduk seorang wanita tua Iblis.
Dua tanduk gagah tumbuh di kepalanya, rambut abunya diikat di sekitar bahu.
Matanya juga abu-abu, dan wajahnya dipenuhi kerutan dalam, namun aura yang memancar dari Mana yang menyelimutinya tidak menunjukkan usianya.
"Graia-dono, sudah lama tidak berjumpa."
Sebas membungkuk dalam-dalam, wanita tua itu menyipitkan mata sesaat menatapnya, lalu menjawab dengan suara lembut.
"Sebas, ya. Ada perlu apa hari ini?"
"Saya minta kamar biasa. Lalu, tolong obati dua orang."
"...Tuan Putri lagi, ya? Padahal aku sudah lega karena belakangan ini dia tidak datang. Apa yang kau lakukan padahal kau mendampinginya, hah?"
Sambil menceramahi Sebas, wanita tua yang dipanggil Graia itu memandu ke satu kamar.
"Baringkan di situ. Satu lagi gadis berambut perak itu?"
"Ya, namanya Yulia, aku ingin minta tolong obati gadis ini juga."
"...Kalau begitu, baringkan di tempat tidur sebelahnya."
Mengikuti instruksi Graia, Ars membaringkan Yulia dengan hati-hati ke tempat tidur.
Saat melihat ke tempat tidur sebelah, Lilith sedang tidur dengan tenang di sana.
Warna kelelahan terlihat jelas di wajah kedua gadis itu, menceritakan betapa kerasnya kehidupan pelarian mereka.
Napas mereka dalam, dan sepertinya tidak akan bangun hanya karena sedikit suara gaduh.
"Nah, sekarang aku mau mengobati mereka, jadi kalian keluarlah."
Graia menepuk tangan plak plak, mengusir Ars dan yang lain ke koridor layaknya gembala mengusir kawanan domba.
"Heh, kau bantu aku!"
"Eh, y-ya!"
Saat Shion hendak menuju koridor juga, tengkuknya dicengkeram oleh Graia.
"Kau, siapa namamu?"
"S-Shion."
"Oke, Shifon! Pertama kita buka baju gadis-gadis ini!"
"Eh, a, b-baik!"
Masih dalam kebingungan karena namanya salah disebut, Shion diseret ke bagian dalam kamar.
Sambil mendengarkan suara pintu tertutup, Ars mengirimkan rasa simpati padanya dalam hati.
Saat dia berdiri bengong di koridor karena tidak ada kerjaan, Sebas mendekat.
"Pasti akan memakan waktu, mari saya seduhkan teh."
Sebas mulai berjalan, lalu berhenti di depan pintu kamar sebelah.
Kemudian dia membuka pintu dan mempersilakan Ars masuk.
Kamarnya sederhana namun memancarkan suasana tenang.
Sambil duduk di sofa, Ars bertanya pada Sebas yang sedang menyiapkan teh.
"Orang bernama Graia tadi itu, sejauh mana dia tahu keadaan Lilith?"
"Yang dia tahu hanyalah wajah asli Ratu Hel, dia tidak tahu rahasia seperti Demon Lord Lilith."
Meski begitu, fakta bahwa Lilith dan Sebas menyerahkan pengobatan pada Graia berarti kepercayaan terhadapnya sangat tebal. Terlebih lagi, buktinya adalah Sebas tidak menunjukkan keraguan sedikit pun saat menyerahkan pengobatan.
"Apa kalian sudah kenal lama?"
"Ya, ini hubungan sejak 'Helheim' masih disebut desa. Tapi, karena melayani negara tidak cocok dengan sifatnya, dia jadi pemilik penginapan ini."
Sebas menyodorkan teh yang dia seduh. Gerakannya efisien dan anggun.
"Nah, karena ada waktu, izinkan saya bercerita sedikit tentang masa lalu."
Sebas duduk di kursi seberang dengan ekspresi serius, lalu menyesap teh yang masih mengepul.
Di ruangan yang seharusnya tenang, udara tegang mulai menyelimuti.
"Isi cerita yang akan saya sampaikan adalah tentang seorang gadis yang terseret dalam tragedi."
Kata-kata itu memiliki bobot.
Ars secara alami menegakkan punggung, menunggu kata-kata Sebas selanjutnya.
Ruangan itu diselimuti keheningan seolah waktu berhenti.
*
200 tahun lalu—dunia disiksa oleh penyakit mematikan.
Mulai dari bangsawan kerajaan hingga rakyat jelata, tanpa memandang ras atau status, penyakit itu mengamuk dan menjerumuskan semua orang ke dasar ketakutan.
Banyak cendekiawan berusaha mengembangkan obat, para penyihir mencoba memperpanjang hidup dengan sihir penyembuhan.
Namun, semuanya sia-sia.
Penyakit mematikan itu tak bisa dihentikan siapa pun, terus menggerogoti seolah mengejek kehidupan di seluruh dunia.
Namun, seberkas cahaya menyinari jurang keputusasaan.
Kepala keluarga Bangsawan Kekaisaran Eliznir, Loki—pria yang kelak disebut "Penyihir Gila", menjadi terkenal sebagai penyelamat.
Keluarga tercinta Loki juga terserang penyakit itu.
Yang pertama tumbang adalah istri tercintanya, Erika. Berikutnya, putri kesayangannya, Lilith, jatuh sakit.
Dan, banyak pelayan yang bekerja di mansionnya tertular satu demi satu.
Dia mencari segala cara demi menyelamatkan keluarga dan orang-orang yang bekerja di mansionnya.
Setelah trial and error, Gift [Compounding] miliknya melahirkan keajaiban.
——Dia berhasil menciptakan Elixir, Obat Segala Penyakit.
Pertama-tama Loki memberikan obat itu pada istri tercintanya, Erika.
Setelah memastikan penyakit lenyap dari tubuhnya, dia memberikan obat itu pada putrinya, Lilith.
Selanjutnya, dia memberikan obat itu satu per satu kepada para pelayan, termasuk kepala pelayan.
Semua orang berhasil menaklukkan penyakit itu—namun, mereka harus membayar harga yang tidak sedikit.
Obat itu memiliki efek samping.
Di dahi mereka yang diberi obat tumbuh tanduk, dan fisik mereka menjadi jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
Lagipula, saat itu adalah zaman di mana belum ada ancaman atau kebencian terhadap Iblis.
Di atas segalanya, kegembiraan karena menaklukkan penyakit mematikan dan mendapatkan tubuh yang lebih kuat melampaui kecemasan atau ketakutan akan perubahan ini.
Artinya, bagi orang-orang yang menerima wujud aneh itu sebagai masalah sepele, obat ini justru dianggap sebagai berkah dari para dewa.
Dan, fenomena aneh ini kelak terukir dalam sejarah sebagai "Iblis Buatan".
"Aku juga ingin tanduk seperti Ibu."
"Jangan bicara begitu. Lebih baik tidak punya tanduk, tahu. Tapi, Ibu benar-benar bersyukur Lilith sudah sehat kembali."
"Ibu khawatir?"
"Tentu saja. Kamu kan anak kesayangan Ibu."
Hati Loki dipenuhi haru melihat sosok Erika dan Lilith berjalan-jalan di taman.
Pemandangan keluarganya yang kembali sehat adalah kebahagiaan terbesar baginya.
Namun, keajaiban ini segera tersebar di dalam dan luar Kekaisaran.
Para penguasa termasuk Kaisar mendatangi Loki demi mencari Elixir buatannya.
Tapi, Loki menolak.
Obat itu diracik khusus menyesuaikan konstitusi tubuh istri, anak, dan pelayannya, jadi jika diberikan pada orang lain, efek samping apa yang muncul sama sekali tidak diketahui.
Namun, perintah Kaisar adalah mutlak. Loki dipaksa mempersembahkan obat itu entah dia mau atau tidak.
Hasilnya, penyakit mematikan itu mereda secara drastis.
Orang-orang memuji Loki, dan Kekaisaran merayakannya dengan megah.
Namun—keserakahan manusia tidak mengenal batas.
Orang-orang yang telah pulih kesehatannya akhirnya mengarahkan pandangan mereka pada perang.
"Iblis Buatan" yang diperkuat oleh obat menunjukkan kekuatan luar biasa di medan perang, meningkatkan kekuatan militer Kekaisaran secara drastis.
Para bangsawan, demi memenuhi ambisi pribadi, menggunakan dalih "Noblesse Oblige"—Kewajiban Bangsawan—untuk memberikan obat kepada anak-anak dan pengikut mereka, lalu melancarkan perang agresi ke negara lain.
Obat yang seharusnya menyelamatkan dunia, malah menabur benih tragedi baru, mulai mengukir sejarah yang berlumuran api perang dan darah.
Namun, ironisnya, pecahnya perang menjadi pemicu ditemukannya efek samping yang fatal.
——Mana Deficiency.
Biasanya, Mana yang habis akan pulih secara alami seiring waktu.
Namun, dalam kasus Iblis Buatan, sifat itu sangat berbeda dari manusia.
Sebagai ganti mendapatkan Mana dalam jumlah besar berkat efek obat, mereka memikul cacat fatal berupa hilangnya fungsi pemulihan Mana alami secara total.
Jika Mana berkurang, mereka kehilangan cara untuk mengisinya kembali. Setiap kali bertarung atau beraktivitas, Mana perlahan terkikis, dan akhirnya akan kering sepenuhnya.
Kehilangan Mana berarti lenyapnya daya hidup itu sendiri, sehingga pada akhirnya Iblis Buatan ditakdirkan mati karena kekurangan Mana.
Namun, petinggi Kekaisaran saat itu menyembunyikan fakta ini.
Sebab perang sedang berlangsung di berbagai wilayah, dan para Iblis Buatan telah menjadi kekuatan tempur utama.
Akan tetapi, perang mengonsumsi Mana dalam jumlah yang sangat besar.
Akibatnya, "Mana Deficiency" mulai mewabah, dan jumlah kematian di garis depan meningkat pesat.
Karena kekuatan tempur perlahan mengalami kekurangan, garis depan Kekaisaran pun runtuh dengan mudahnya.
Setelah itu, kemunduran terjadi bagaikan menggelinding menuruni bukit, dan setelah kekalahan berturut-turut, Kekaisaran semakin terpojok.
Kepada Kekaisaran yang seperti itulah 'Great Forest' yang dikuasai Elf mengulurkan tangan pertolongan.
Dengan bantuan 'Great Forest', Kekaisaran menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan negara-negara tetangga, dan api perang yang berkecamuk di benua pun padam dengan cepat.
Namun, bahkan setelah perang berakhir, beberapa masalah masih tersisa di Kekaisaran.
Di antaranya yang paling serius adalah tempat bernaung bagi para Iblis Buatan yang lahir akibat perang.
Mereka yang terhubung dengan bangsawan dicabut hak warisnya dengan alasan Mana yang terbatas, sedangkan Iblis Buatan dari kalangan rakyat jelata ditakuti oleh orang sekitar karena kekuatan mereka yang terlalu besar.
Lambat laun, di antara mereka yang kelebihan kekuatan, mulai muncul orang-orang yang terjerumus ke dalam kejahatan.
Situasi ini memperparah prasangka dan persekusi terhadap Iblis Buatan, memperdalam jurang antara manusia dan Iblis Buatan, serta menjadi faktor yang semakin memanaskan konflik.
Terlebih lagi, karena penampilan khas mereka yang bertanduk, bahkan mereka yang tidak terlibat kejahatan pun ikut dibenci, sehingga ketidakpercayaan dan ketakutan menyebar ke seluruh masyarakat.
Hasilnya, keamanan Kekaisaran memburuk drastis dan mencapai puncak kekacauan.
Demi mengatasi situasi kekacauan yang berlarut-larut itu, petinggi Kekaisaran mengambil keputusan.
"Kepala Keluarga Bangsawan Kekaisaran Eliznir, Loki. Engkau telah memanfaatkan posisi muliamu untuk melakukan tindakan yang mengguncang pemerintahan dan ketertiban negara. Ini jelas melanggar Pasal 6 Hukum Kekaisaran tentang Pengkhianatan Terhadap Negara, dan tidak ada ruang untuk pengampunan. Oleh karena itu, engkau dijatuhi hukuman penggal."
Petinggi Kekaisaran menimpakan seluruh tanggung jawab kepada ayah Lilith, Loki.
"Ayah!"
Dalam perjalanan dibawa dari pengadilan ke tempat eksekusi, Loki dipeluk oleh putrinya, Lilith.
"Lilith, dengarkan baik-baik."
Dengan lengan terikat, Loki berlutut di tanah dan mendekatkan wajah ke telinga Lilith.
"Segera tinggalkan tempat ini. Sisanya kuserahkan pada Sebas dan Erika."
"Apa maksudnya?"
Bagi Lilith kecil, dia tidak bisa memahami arti kata-kata yang diucapkan ayahnya.
Namun, dari nada suaranya, dia bisa merasakan dengan peka bahwa situasi yang tidak biasa sedang terjadi. Tapi, tidak ada waktu tersisa untuk menjawab keraguan Lilith, dan pasangan ayah-anak itu dipisahkan tanpa ampun oleh tangan para prajurit.
"Lilith, maafkan Ayah tidak bisa melindungimu sampai akhir."
"Kenapa Ayah bicara begitu!"
Meski masih kecil, Lilith bisa merasakan bahwa perpisahan dengan ayahnya sudah dekat.
Namun, bukan berarti dia bisa menerimanya.
"Kau anak yang kuat. Kesulitan apa pun yang menanti di depan, kau pasti bisa melaluinya."
"Tidak mau! Ayah! Ayah! Tolong bimbing aku mulai sekarang juga!"
"Anakku tersayang... maafkan ayahmu yang tidak berdaya ini."
Itulah kata-kata terakhir yang Lilith dengar dari ayahnya.
Senyum yang terdistorsi oleh kesedihan itu juga menjadi ingatan terakhir baginya.
Eksekusi dilakukan pada hari yang sama.
Tanpa ampun, bahkan sisa rasa perpisahan pun tidak diberikan kepada Lilith.
Sejak awal, waktu untuk bersedih pun tidak disisakan untuk Lilith.
Biang kerok yang membuat Kekaisaran—yang seharusnya bisa menjadi penguasa benua—jatuh, telah mati.
Namun, bagaimana jika diketahui keluarganya masih hidup?
Tak terelakkan lagi, ujung tombak kemurkaan dan kebencian rakyat secara alami akan mengarah pada mereka.
"Sebas! Lepaskan! Ibu dan yang lain masih tertinggal di dalam!"
Lilith menjerit di depan mansion yang terbakar hebat di depan matanya.
Orang yang menahan bahunya dengan kuat adalah Sebas, yang menjabat sebagai kepala pelayan di keluarga Eliznir.
"Nona, tolong, larilah sekarang! Ini adalah keinginan Nyonya—dan tugas kami yang melayani keluarga Eliznir!"
Di wajah Sebas yang memohon sambil meneteskan air mata darah, terpancar rasa mendesak yang mengerikan.
"Kenapa kami harus mengalami hal seperti ini!"
Memang tidak bisa disangkal bahwa obat yang diciptakan ayahnya adalah awal dari segalanya.
Namun, yang memaksa mempersembahkan obat itu, menganalisis dan memproduksi massal, serta menyebarkannya ke seluruh dunia adalah petinggi Kekaisaran.
Bahkan setelah penyakit mematikan berakhir, merekalah yang memberikan obat kepada orang sehat, menjadikan mereka tentara sebagai Iblis Buatan, dan berulang kali melakukan invasi ke negara tetangga.
Meskipun begitu, tanpa dimintai pertanggungjawaban, mereka menimpakan semua dosa kepada Loki seorang diri, dan menjadikan keluarganya sebagai objek kebencian, itu sungguh terlalu tidak masuk akal.
"Nona Lilith, tolong dengarkan. Di balik kerusuhan rakyat ini, ada keterlibatan Elf. Saya melihat sosok Elf yang menyusup di antara para perusuh."
"Kenapa... mereka?"
"Mungkin mereka mencoba mendapatkan hasil penelitian Tuan. Namun, Nyonya tidak berniat menyerahkannya, jadi beliau membakar mansion. Dan sekarang pun, pertarungan pasti sedang berlangsung di dalam mansion."
"Kalau begitu, aku dan Sebas juga harus membantu, kan!"
Keluarga Eliznir hampir semuanya telah menjadi Iblis Buatan sebagai harga untuk menaklukkan penyakit mematikan.
Karena itu, mereka memiliki kekuatan untuk memukul mundur serangan perusuh dengan mudah.
Akan tetapi—
"Mustahil. Elf yang menyusup ke mansion adalah salah satu dari Ten Holy Heavens of Sacred Law. Kita yang sekarang sama sekali bukan tandingannya."
"Kenapa... orang seperti itu..."
Langkah Lilith yang hendak kembali ke mansion terhenti.
Meski telah diperkuat sebagai Iblis Buatan, jika lawannya adalah penjaga 'Great Forest', salah satu dari Ten Holy Heavens of Sacred Law, ceritanya akan berbeda.
Lilith dan yang lainnya adalah amatir dalam pertarungan, menghadapi seseorang yang memiliki kekuatan setara Demon Lord adalah tindakan yang tak lebih dari kenekatan.
Di hadapan perbedaan kekuatan yang mutlak itu, Lilith menyadari alasan mengapa ibunya, Erika, membakar mansion.
Keputusasaan menyelimuti wajah Lilith, dia hanya bisa menatap mansion yang terbakar hebat itu.
"Nona, Anda pasti sudah mengerti. Kita harus segera meninggalkan tempat ini."
Sebas menarik kuat tangan Lilith yang sudah tidak melawan, dan bergegas menjauh dari mansion yang terbakar.
Jika ditemukan oleh perusuh, masalahnya akan menjadi rumit.
"Kenapa... kenapa... Ibu, Ayah... aku..."
Kata-kata yang digumamkan pelan oleh Lilith, air mata yang meluap—Sebas memalingkan wajah dari itu dan menatap ke depan, menggigit bibir bawahnya merasakan ketidakberdayaannya sendiri.
Sebenarnya, Sebas menyembunyikan satu fakta dari Lilith.
Tujuan sebenarnya dari Ten Holy Heavens of Sacred Law—itu adalah Lilith sendiri.
Kelemahan Iblis Buatan, yakni Mana Deficiency—itu adalah takdir yang tak terelakkan bagi ibu Lilith, Erika, Sebas sendiri, maupun para pelayan lainnya.
Namun, mereka tidak membenci Loki, malah memilih hidup dengan meminimalkan penggunaan Mana sembari berterima kasih atas nyawa yang diberikan.
Nyawa yang akan hilang jika Loki tidak menolong mereka—karena itu, mereka yang telah membulatkan tekad untuk hidup dalam waktu terbatas tidak menyimpan dendam, melainkan rasa terima kasih.
Akan tetapi, ada satu orang yang meski merupakan Iblis Buatan, jelas berbeda dari yang lain.
——Lilith.
Sebenarnya, tidak ada tanda-tanda Mana Deficiency sedikit pun yang muncul padanya.
Bukan hanya itu, perubahan fisik khas Iblis Buatan—fenomena tumbuhnya tanduk di dahi pun tidak terlihat.
Artinya, bisa dibilang dia adalah satu-satunya contoh sukses yang sempurna di antara Iblis Buatan.
Jika fakta ini terungkap kepada para penguasa, apa yang akan terjadi sudah sangat jelas.
Faktanya, entah dari mana mereka mendapatkan informasi, 'Great Forest' telah bergerak.
Mereka menyingkirkan ayahnya, Loki, yang merupakan pelindungnya sebagai pendosa, menghasut rakyat, dan menimpakan dosa itu kepada keluarganya.
Dan, pada akhirnya, dengan cara membuat Lilith—gadis kecil itu menyerahkan diri, 'Great Forest' akan melaksanakan penelitian tidak manusiawi secara terang-terangan.
Itu adalah cara yang licik namun dingin, dan hina sampai membuat mual.
Singkatnya, rencana untuk mendapatkan Lilith kali ini sangat teliti dan cermat, bisa dikatakan sebagai kondensasi dari sifat insidious khas Elf.
Namun, sang ibu, Erika, yang menyadari konspirasi itu lebih cepat dari siapa pun, bergerak paling awal.
Dengan tekad memusnahkan segalanya, dia membakar mansion beserta hasil penelitian Loki.
Bersama tempat yang penuh kenangan keluarga, dia membuat rencana hina Elf menjadi abu.
Itulah satu-satunya perlawanan terakhir yang dipilih Erika, ibu Lilith.
"Nona, Sebas ini bersumpah akan melindungi Anda sampai saat Mana ini habis."
Pada hari Sebas mengucapkan sumpah setia itu, zaman penuh gejolak bagi Lilith dimulai.
Mengetahui bahwa segalanya akan dirampas jika tidak memiliki kekuatan, hal pertama yang dilakukan Lilith adalah memahami seluruh aspek Gift [Necromancy] miliknya.
Dalam prosesnya, Lilith menemukan sihir "Subjugation", dan menemukan harapan bagi para Iblis Buatan—metode untuk menekan perkembangan Mana Deficiency, lalu dia pun tenggelam dalam penelitian itu.
Selama itu, Lilith berpindah-pindah tempat bersama Sebas, melindungi Iblis Buatan yang dipersekusi, dan melanjutkan perjalanan bersama mereka untuk menemukan "Surga".
Namun, jawaban yang mereka temukan di akhir perjalanan sungguh kejam.
Kenyataannya, di tanah yang ditinggali manusia, tidak ada tempat bagi mereka.
Jika begitu—Lilith pun memutuskan.
Mereka akan membangun surga mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri.
Dengan cita-cita itu di dada, mereka menuju 'Lost Land'.
Kemudian, interaksi dengan Monster Spesial No. 3 "White Wolf Fenrir" dimulai, dan mereka mendapat izin membangun desa di kaki Gunung Kembar yang menjadi sarangnya.
Sejak saat itu, Lilith membangun desa sebagai kepala desa, sementara di sisi lain menyusup ke Kota Sihir sebagai penyihir, hingga akhirnya mendaki sampai ke kursi Demon Lord. Dan, desa yang dibangun di 'Lost Land' menjadi kota, dan tanpa disadari tumbuh hingga skala yang disebut negara.
Namun, di balik hari-hari yang bersinar dalam kejayaan itu, hanya ada satu hal yang menguasai hati Lilith—keinginan tulus untuk menemukan cara membebaskan Iblis Buatan dari kutukan Mana Deficiency.
Meski telah mencapai posisi Demon Lord, bahkan di Asosiasi Sihir yang merupakan gudang pengetahuan pun metode pengobatan tidak ditemukan.
Di tengah situasi itu, suatu hari, kejadian tak terduga terjadi.
Hasil penelitian penting mengenai "Subjugation" yang sedang dikembangkan Lilith dicuri oleh seseorang.
Itu benar-benar kebetulan.
Tapi, tidak ada bukti yang pasti.
Sejak tengah melakukan penelitian, Lilith terkadang merasakan sesuatu seperti tatapan aneh di punggungnya.
Namun, sensasi menyeramkan yang mirip tatapan itu tiba-tiba menghilang pada suatu hari.
Saat itu, dia punya firasat bahwa pengetahuannya telah dicuri.
Tapi, tidak ada cara untuk membuktikannya.
Tanpa bukti, dan tanpa bisa menangkap sosok pelakunya, dia paham bahwa jika bersuara pun, paling-paling dia hanya akan ditertawakan sebagai paranoia oleh orang sekitar.
Oleh karena itu, Lilith tidak memberitahukan hal ini kepada siapa pun.
Namun, sebuah nama mulai terdengar sebagai rumor di telinganya.
——"Essence of Magic, Mimir".
Memasang barrier pun tidak ada artinya, menempatkan penyihir sehebat apa pun tidak bisa mencegah penyusupannya.
Keberadaan yang bisa lolos dari mata pengawas dengan sangat mudah dan mencuri pengetahuan itu menjadi objek ketakutan dan kekaguman di antara para penyihir.
Tidak ada cara menghentikan orang itu.
Hanya bisa membiarkan pengetahuan terekspos.
Begitu didengar, tamatlah sudah, segalanya akan direbut.
Rumor yang tidak masuk akal dan skeptis seperti itu menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap mata.
Negara-negara di seluruh dunia menunjukkan kemarahan mereka.
Terhadap sosok yang wujudnya tak bisa ditangkap, "Essence of Magic, Mimir", banyak negara sampai memasang hadiah buruan baginya.
Tidak jelas siapa yang memberinya nama, namun nama "Essence of Magic, Mimir" menyebar dalam sekejap sebagai simbol ketakutan dan kebencian.
Namun, Lilith——,
——Bersukacita.
Mengetahui keberadaan penyihir yang melampaui dirinya, dia tak bisa berhenti tertawa akan fakta itu.
Dia tak bisa menahan kegembiraan mendengar rumor bahwa sosok itu telah merebut seluruh pengetahuan sihir di dunia.
Setiap kali rumor tentang "Essence of Magic, Mimir" menyentuh gendang telinganya, kegembiraan yang hampir gila berpacu di dalam dadanya.
Lilith yakin.
Orang itulah keberadaan yang selama ini dia nantikan——kunci yang akan membebaskan Iblis Buatan dari penderitaan.
Satu-satunya solusi yang diceritakan oleh teman lamanya, Monster Spesial No. 3 "White Wolf Fenrir".
Bahwa dia adalah pemilik Gift Original——[Hearing].
Dan, keyakinan itu tidak salah.
Seumur hidup, dia tidak akan melupakannya.
Kegembiraan saat pertama kali melihat seorang bocah laki-laki yang usianya terlalu muda untuk disebut "Essence of Magic, Mimir".
Serta kegembiraan yang meluap saat melihat Shion, Iblis Buatan yang berdiri di sisi bocah itu.
Lilith menyadari bahwa masa-masa penderitaan selama dua ratus tahun yang panjang akhirnya terbayarkan.
Karena itulah, dia menantang perang demi mendapatkannya.
Demi memojokkannya secara perlahan, dia memutuskan untuk menjadikan gadis perak itu sebagai lawan.
Namun, situasi berubah lebih cepat dari dugaan, dan tanpa sadar dia malah akrab dalam pelarian bersamanya.
"Fufu, hidup itu benar-benar misterius, ya."
Ekspresi Lilith yang bergumam sambil tersenyum itu terdistorsi oleh rasa kesepian sesaat.
Saat itu, tiba-tiba dia merasakan sensasi kesadarannya muncul ke permukaan.
——Saat membuka mata, ada langit-langit asing di sana.
Kenyataan menghantam bahwa kejadian barusan hanyalah mimpi.
Rasa gembira yang masih tersisa di lubuk hati, maupun rasa kehilangan yang tak terjelaskan, perlahan memudar.
"...Mimpi, rupanya."
Suara Lilith yang menggumamkan itu begitu tenang hingga mengejutkan dirinya sendiri.
Kemudian, sambil menegakkan tubuh bagian atas, bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.
"Tapi... mimpi hari ini, sedikit tidak buruk."
Sambil bergumam dan memastikan keadaan sekitar, pandangannya bertemu dengan seorang bocah laki-laki.
"Sudah bangun? Bagaimana kondisi tubuhmu?"
"Tidak buruk. Terima kasih sudah menolong saya."
Lilith mengangguk kecil, mengangkat wajah, lalu memiringkan kepala.
"Omong-omong, di mana ini?"
"Penginapan milik kenalan Sebas bernama Graia."
"Ah... pantas saja. Makanya tercium aroma yang nostalgis."
Lilith mengangguk paham, lalu melirik tempat tidur di sebelahnya.
Di sana Yulia sedang tidur dengan tenang.
Di sampingnya, mungkin lelah merawat, Shion tidur dengan terampil sambil duduk.
Melihat luka Yulia yang tampaknya tidak parah, Lilith menghela napas lega.
Ars yang melihat keadaannya itu tiba-tiba menundukkan kepala.
"Terima kasih sudah menolong Yulia."
"Saya bingung kalau tiba-tiba ditunduki kepala begitu. Tolong angkat wajah Anda. Lagipula, justru sayalah yang ditolong Yulia-san, lho."
Sambil tersenyum masam, Lilith mulai menceritakan secara singkat perjalanan mereka sejauh ini.
Serangan Hajarl, pelarian di "Lost Land", perjuangan Yulia mengalahkan pengejar——.
Setelah selesai bercerita, Lilith menepuk tangan seolah teringat sesuatu.
"Ah, benar juga, saya harus sampaikan ini pada Anda. Cuma masakan Yulia-san saja yang rasanya tidak enak dan benar-benar bikin susah. Itu semua salah Anda."
"...Kenapa salahku?"
"Ara, tidak sadar ya? 'Kalau Ars-san tidak akan komplain', atau 'Ars-san mau makan apa saja', sanggahan Yulia-san hampir semuanya menyebut nama Anda. Benar-benar tidak ada secuil pun keinginan untuk berkembang, padahal cuma memanggang saja tapi sama sekali tidak makin jago... saya benar-benar menderita, lho."
Lilith menutupnya hampir sepenuhnya dengan keluhan.
Dari cara bicaranya yang cepat dan tegas, sepertinya rasa tidak puasnya sudah sangat menumpuk.
Meski begitu, Ars mencoba menyanggah.
"...Bukannya masih bisa dimakan?"
Memang benar kemampuan masak Yulia sangat hancur.
Berapa kali pun diajari tidak ada tanda-tanda berkembang, bahkan Michiruda yang menjabat kepala koki di <Villeut Sisters Lampfire> pun sampai angkat tangan.
Lagipula, bagi Ars yang selalu makan makanan dingin saat dikurung dulu, hangat saja sudah cukup.
Kalau parah sampai tidak bisa dimakan mungkin bisa jadi alasan untuk marah.
Tapi, Ars berpikir mengeluh hanya karena rasanya tidak enak itu tidak pantas.
Akan tetapi, sepertinya dia tidak mendapat simpati dari Lilith.
"Hah? Anda waras? Baik dan memanjakan itu beda, lho. Bukannya kemampuan masak Yulia-san tidak berkembang karena Anda bersikap tidak tegas begitu?"
Ars hanya bisa mengangguk pada Lilith yang kembali mengomel dengan cepat.
Jelas dia telah memancing masalah.
Menyadari fakta itu, Ars memutuskan bahwa menyanggah lagi bukanlah langkah yang bijak.
"Ke depannya aku akan hati-hati."
Saat Ars mengakui dengan jujur, Lilith mengangguk dalam-dalam, tampaknya puas.
"Begitu lebih baik. Ngomong-ngomong, Sebas pergi ke mana?"
"Kalau Sebas, dia pergi ke ‘Istana Kecantikan, Semprema’. Katanya ingin mengecek situasi <Helheim>."
"Begitu, ya... kalau begitu, mungkin sekarang adalah kesempatan emas untuk mengambil kepala saya."
Lilith menepuk lehernya sendiri dengan ringan sambil menyunggingkan senyum jahil.
Ars tersenyum masam mendengar kata-kata yang terdengar seperti provokasi itu.
"Aku tidak berniat begitu."
"Ara... padahal kalau saya yang sekarang, Anda bisa mengalahkan saya dengan mudah, lho."
"Sayang sekali kalau mengalahkanmu tanpa melihat sihirmu. Aku minta nanti saja saat kondisimu sudah prima."
"Anda percaya diri bisa mengalahkan saya, ya."
"Entahlah, aku tidak punya kepercayaan diri kok. Pertarungan itu tidak akan tahu hasilnya kalau belum dicoba."
Ars mengangkat bahu saat menjawab, lalu menyunggingkan senyum menggoda.
"Lagipula, kalau aku menantang teman Yulia bertarung tanpa alasan, aku bakal dimarahi."
"Hah? Siapa yang teman?"
Lilith memasang ekspresi bengong.
Melihat keadaan itu, Ars menunjuk Lilith dan Yulia bergantian lalu menyampaikannya.
"Kau dan Yulia."
"Ka-kami bukan teman!"
Lilith membantah seketika, namun wajahnya tidak terlihat keberatan.
Entah orangnya sadar atau tidak, dia jadi gelisah tak tenang dan melilitkan rambut samping di jari telunjuknya.
"Di mataku cuma terlihat begitu. Aku tidak tahu kebenarannya sih. Kenapa tidak kau bicarakan saja dengan orangnya langsung untuk menentukannya?"
"Mana mungkin saya bisa tanya itu pada orangnya langsung. Yulia-san maupun Ars-san, kalian ini aneh, ya."
Lilith menghela napas panjang, namun kembali menatap Ars dengan senyum kecil.
"Mumpung sedang begini, bagaimana kalau kita bicara masa lalu? Anda pasti ingin tahu alasan kenapa saya bertarung dengan Yulia-san, kan?"
Meski Ars tidak bisa mengukur apa yang menyentuh hatinya hingga dia mau mengungkapkan rahasia setelah tanya jawab barusan, Ars terkejut sesaat sebelum menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak perlu dipikirkan. Soal itu aku sudah dengar dari Sebas, meski tidak semuanya."
"Ara... mulut Sebas benar-benar ember, ya."
Lilith memasang ekspresi tak habis pikir, namun tidak terasa amarah terhadap Sebas.
"Jangan-jangan, kau memang berniat menceritakannya pada kami sejak awal?"
"Benar. Apa pun hasil yang terjadi, setelah semuanya berakhir, sejak awal saya memang berniat menceritakannya pada kalian semua."
"Kalau begitu, apa sudah kau sampaikan pada Yulia?"
"Sekarang belum... karena terjadi macam-macam... tapi, saya pasti akan mengungkapkannya."
"Kalau begitu, tidak ada yang perlu kukatakan."
"Anda tidak butuh permintaan maaf?"
"Kenapa butuh permintaan maaf?"
Ars memiringkan kepala mendengar pertanyaan Lilith.
"Bukankah Anda marah karena saya membuat Yulia-san mengalami hal seperti ini?"
Kecemasan melintas sesaat di ekspresi Lilith.
Namun, Ars menggelengkan kepala dengan enteng.
"Tidak mungkin. Aku tidak menaruh dendam padamu. Yulia pun bertarung melawanmu dengan tekad bulat. Aku tidak berniat menyiram air pada tekad itu."
Terhadap masalah mereka berdua, Ars sengaja tidak ikut campur terlalu dalam.
Yulia memiliki sesuatu yang tak bisa diserahkan, dan memilih bertarung dengan Ratu Lilith.
Jika sampai nyawanya melayang, mungkin cara pikirnya akan berubah.
Namun, masa depan itu tidak terjadi.
Karena itu, Ars tidak berniat melakukan tindakan apa pun.
"Lagipula, kalau kau merasa sayang hasilnya jadi begini, daripada berakhir dengan tidak puas, menurutku kalian bertarung sekali lagi saja."
Mendengar perkataan Ars, Lilith menunjukkan sedikit keterkejutaan di wajahnya, lalu mengangguk seolah lega.
"Anda orang yang bicaranya cukup blak-blakan, ya. Tapi, saya berterima kasih."
Lilith menundukkan kepala sekali, lalu mengangkat wajahnya dengan ekspresi agak tidak puas.
"Satu lagi, bisakah tidak memanggil dengan nama? Dipanggil 'Kau' itu agak tidak menyenangkan."
"Maaf soal itu. Boleh kupanggil Lilith?"
"Ya, karena itu nama asli saya, mulai sekarang saya akan terbantu jika Anda memanggil 'Lilith'."
"Baiklah. Kalau begitu, Lilith, salam kenal lagi."
"Ars-san. Saya akan senang jika mulai sekarang kita bisa akrab."
Ars mendekati Lilith dan mengulurkan tangan, wanita itu menyunggingkan senyum lembut dan membalas genggaman tangan itu dengan erat.
"Omong-omong... Yulia-san itu menembus batas protektif sampai taraf menakutkan, tapi Ars-san sepertinya tidak begitu, ya?"
"Hm. Bicara apa sih?"
"Tidak, bukan apa-apa. Cuma bicara sendiri kok."
Ars merasa dialihkan, namun menilai itu bukan topik yang perlu dikejar terlalu dalam, dia tidak mendesaknya lebih jauh.
"Ngomong-ngomong, tadi Ars-san bilang tidak menaruh dendam pada saya, tapi cara bicaranya seolah ada orang lain yang didendam."
"Ah, ada orang yang agak kupikirkan. Meski aku tidak tahu bisa bertemu atau tidak."
"Kalau begitu, bagaimana kalau saya bantu agar Anda bisa bertemu orang itu?"
"Tidak, tidak usah. Kurasa aku akan bertemu dengannya dalam waktu tidak lama lagi."
Sambil menolak tawaran Lilith, Ars melemparkan pandangan ke luar jendela.
<Istana Kecantikan, Semprema> yang bermandikan cahaya matahari bersinar dengan indah.
*
Di bagian terdalam 'Helheim', berdiri sebuah istana gemerlap yang melambangkan kemakmuran Iblis.
Karena keindahannya yang luar biasa, istana itu diberi nama <Istana Kecantikan, Semprema>.
Dibangun di kaki Gunung Kembar yang menghubungkan Area Tinggi ke Area Dalam, benteng itu memamerkan kemegahan yang sangat menarik perhatian di tengah benteng alam yang terjal.
Dinding luar istana yang seputih kapur berpadu indah dengan pemandangan danau dan pegunungan di sekitarnya, keanggunannya memancarkan kewibawaan dan pesona yang seolah mencuri hati siapa pun yang melihatnya.
Sementara dinding luarnya bersinar memantulkan cahaya matahari dan memamerkan keindahan yang terlihat jelas dari jauh, menara-menara runcing yang menjulang ke langit dihiasi ukiran rumit dan jendela mawar yang memukau, mengejar nilai seni hingga ke detail terkecil.
Selain itu, dari dataran tinggi tempat istana dibangun, pemandangan Gunung Kembar yang agung dapat terlihat seluruhnya.
Di bawahnya terbentang danau jernih dan hutan hijau nan rimbun, menciptakan pemandangan menakjubkan bagaikan lukisan yang mengelilingi istana.
Di <Istana Kecantikan, Semprema> itulah Sebas telah kembali dalam wujud Iblis.
Saat ini, dia berdiri diam di sebelah takhta yang tak diduduki siapa pun di dalam Ruang Takhta yang agung.
Tatapan tajamnya tertuju pada para ajudan yang menunggu di hadapannya, menilai setiap gerakan mereka tanpa terlewat.
"Tolong laporkan status kerusakan."
Suara Sebas tenang, namun membawa kewibawaan yang menegangkan kesadaran semua orang di Ruang Takhta. Para ajudan menunjukkan ketegangan sesaat, namun mulai melapor berdasarkan dokumen dan ingatan yang telah mereka siapkan.
Salah satu ajudan—Raj, yang merupakan Oushuuten, Shatou, pemimpin Six Desire Heavens, Schtern, melangkah maju, menundukkan kepala, dan merangkai kata dengan ringkas.
"Saat ini, kerusakan tembok kota mencapai enam puluh persen dari keseluruhan, dan perbaikan sedang dilakukan dengan kecepatan tinggi."
"Bagus. Bagaimana persiapan penyebaran ulang barrier?"
"Demi menstabilkan barrier sepenuhnya, saat ini persiapan sedang dilakukan dengan hati-hati. Untungnya, berkat barrier kuat yang dipasang oleh Verg-dono, salah satu dari Ten Holy Heavens of Sacred Law, diperkirakan kita punya waktu yang cukup."
"Ninth Apostle Teisa Verg-sama, ya..."
Sebas bergumam sambil memutar otak.
Dia sulit menebak niat sebenarnya dari perubahan hati macam apa yang membuat Elf yang dikenal membenci Iblis itu mau memberikan bantuan.
Memang Distrik Khusus Elf di 'Helheim' itu penting dan sayang jika hilang, tapi sulit dipercaya bahwa Elf sombong itu mau meminjamkan tangan pada Iblis hanya karena alasan itu.
Faktanya, dia mendengar bahwa selain 'Ten Holy Heavens of Sacred Law' Tenth Apostle Ashiora dan Ninth Apostle Teisa, Elf lainnya sudah ditarik ke 'Great Forest'.
"Apakah ada maksud tertentu... kita harus cari tahu kebenarannya. Nanti saya juga akan mengunjungi Verg-sama untuk memberi salam sekaligus memastikan niat sebenarnya."
Meski merangkai kata dengan suara tenang, dalam hati Sebas tidak bisa menghapus kecurigaan terhadap pergerakan Elf.
"Dimengerti. Lalu, laporan selanjutnya—"
Raj membuka mulut tanpa jeda.
"Jumlah korban tewas dan luka melebihi empat ratus orang. Jika termasuk mereka yang tidak bisa bertarung, jumlahnya akan bertambah, namun banyak juga yang bisa kembali ke garis depan, jadi pada tahap ini dinilai tidak ada kekurangan dalam kekuatan pertahanan."
Mengarahkan pandangan pada kata-kata itu, ekspresi lega samar muncul di wajah Sebas.
"Beruntung sekali kekuatan pertahanan bisa dipertahankan pada tahap ini. Meski 'Antitesis Buangan' sudah mundur, tolong jangan lengah. Selain itu, jalin komunikasi yang erat, dan siapkan sistem yang bisa merespons perubahan situasi dengan cepat."
"Dimengerti."
Setelah Raj menunduk dan menerima instruksi, Sebas mengangguk kecil lalu mengedarkan pandangan.
"Ada laporan lain?"
Atas pertanyaan Sebas, dengan ekspresi berat Raj memberi jeda sesaat sebelum membuka mulut.
"...Nirmana dari Kerakuten, Seku telah dibunuh oleh 'Antitesis Buangan' saat menjalankan misi pengintaian."
Keheningan menyelimuti Ruang Takhta.
Sebas memejamkan mata, mengembuskan napas pendek.
"Pengorbanan Nirmana sungguh berat..."
Para ajudan mendengarkan dengan wajah serius suara yang bergema rendah itu.
"Namun, kematiannya tidak boleh disia-siakan. Nanti mari kita bahas dengan hati-hati siapa yang pantas menggantikan perannya. Dan, berkabung untuknya dilakukan setelah itu. Sekarang, prioritaskan perbaikan tembok kota dan penguatan barrier."
Kata-kata tegas Sebas mengusir udara kesedihan yang melayang di Ruang Takhta.
"Sepertinya tidak ada laporan lagi. Kalau begitu, mulailah bertindak."
Para ajudan mengangguk pada perintah Sebas, lalu mulai bersiap meninggalkan ruangan sambil memikirkan peran mereka masing-masing.
Sambil memandangi keadaan itu, kesadaran Sebas tenggelam ke dalam lautan pemikiran yang dalam.
Situasi tembok kota yang barrier-nya hancur ternyata lebih serius dari dugaan.
Di sisi lain, terhindar dari keruntuhan total berkat barrier Ninth Apostle Teisa Verg tak diragukan lagi adalah kabar baik. Terlebih lagi, barrier Verg jauh lebih kokoh dari bayangan, tanpa kekuatan itu, keruntuhan tembok kota takkan bisa dicegah.
Pasti dia tidak mengulurkan tangan hanya karena niat baik semata. Memikirkan apa yang akan dia minta nanti memang menakutkan, tapi Sebas meyakinkan dirinya untuk bersyukur secara murni untuk saat ini.
"Nah, mari melapor pada Ratu."
Beliau pasti sudah menunggu dengan tidak sabaran.
Tingkahnya yang sombong dan keras kepala memang mencolok, tapi sebenarnya dia wanita yang sangat memikirkan teman.
Dan, saat Sebas melangkahkan kaki, sisi wajahnya tiba-tiba memerah.
"A...!"
Tanpa sempat mengeluarkan suara terkejut, berikutnya suara ledakan yang menggetarkan gendang telinga bergema.
Para ajudan yang hendak meninggalkan Ruang Takhta pun menghentikan langkah akibat guncangan itu.
Tindakan selanjutnya semua orang sama.
Membuka jendela di dekatnya—jendela raksasa yang terhubung ke balkon, dan serentak melihat ke bawah ke arah kota.
Di sana, terbentang pemandangan api yang mengamuk menelan kota.
Jeritan, teriakan marah—suara kekacauan sampai ke <Istana Kecantikan, Semprema>.
"...Jadi begitu. Ternyata ini tujuan mereka!"
Sebas menggigit bibir.
"Raj! Segera kumpulkan pasukan. 'Antitesis Buangan' telah menyusup ke kota!"
"Dimengerti! Tapi, bagaimana cara mereka menyusup ke kota ini..."
"...Nirmana. Seharusnya saya sadar saat mendengar dia terbunuh."
Nirmana dari Kerakuten, Seku—peran utamanya adalah intelijen dan pengintaian.
Karena sering bergerak sendiri, dia mengetahui banyak jalan rahasia ke 'Helheim' yang mereka gunakan saat pulang.
"...Mundurnya mereka itu tipuan. Semuanya adalah taktik untuk menunggu Ratu kembali."
Kelengahan sesaat.
Celah itu dimanfaatkan saat kami lengah karena percaya musuh mundur.
"Penyesalan tak ada gunanya sekarang—utamakan evakuasi penduduk dulu!"
Sebas mulai berjalan tanpa ragu sambil meneriakkan instruksi.
"Sebas-dono, mau ke mana?"
Suara Raj terdengar dari belakang. Tapi Sebas tidak menoleh.
Kakinya menuju ke satu-satunya tuannya—Ratu Lilith.
"Incaran mereka adalah tempat persembunyian... Tujuan 'Antitesis Buangan' adalah Ratu!"
Sebas berlari, tak mampu menahan perasaan tidak sabarnya.
*
Api yang mengamuk menguasai tanah kota, asap hitam menutupi langit.
Bau hangus menusuk hidung, jeritan penuh keputusasaan bergema dari sekitar. Di dalamnya, teriakan amarah bercampur aduk, semakin mengobarkan kekacauan.
Di 'Helheim' yang telah berubah menjadi neraka, seorang pria yang merancang tragedi ini menyunggingkan senyum gembira.
Namanya adalah 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl.
"Melihat 'Helheim' yang terkutuk ini terbakar memang menyegarkan, ya."
Merentangkan kedua lengan, Hajarl menghirup dalam-dalam udara yang mengandung hawa panas api dan bau hangus.
Di ekspresinya merembes kegilaan dan kepuasan yang tenggelam dalam kehancuran.
Satu bayangan mendekati Hajarl—pria bertubuh kurus menampakkan diri.
Dia adalah 'Antitesis Buangan No. IV' Charle.
"Hajarl-dono. Sosok wanita dan anak-anak tidak terlihat. Ada orang-orang yang sepertinya non-kombatan, tapi laki-laki semua."
"Anak-anak memang dipisahkan sejak awal, jadi wajar kalau tidak ada."
'Helheim' adalah satu-satunya kota yang ada di 'Lost Land' tempat berbagai ras lalu lalang.
Tidak semua yang mengunjungi tanah ini orang baik.
Mereka yang merencanakan kejahatan demi memuaskan nafsu, mereka yang mengincar sumber daya berharga—berbagai motif bercampur aduk di kota ini.
Target orang-orang macam itu adalah anak-anak dan wanita Iblis.
Dulu, tragedi di mana anak-anak diculik dan dijual sebagai budak berulang kali terjadi di tanah ini.
Karena itulah, Ratu Hel mengambil satu keputusan.
Melarang anak-anak tinggal di 'Helheim', dan membuat sistem perlindungan bersama ibu mereka di tempat rahasia yang tidak diketahui orang luar.
Itu adalah keputusan realistis yang mungkin tampak egois, namun juga tindakan yang mewujudkan rasa tanggung jawab mendalam dan kasih sayang terhadap saudara sebangsanya.
"Tapi, sampai wanita pun tidak ada satu pun, ya... yah, sepertinya mereka sudah mencium rencana serangan kita sebelumnya. Pasti sudah dievakuasi lebih dulu."
"Saya berpikir mau menjadikan wanita dan anak-anak sebagai sandera, tapi kalau begini meleset ya. Ngomong-ngomong, persiapan yang begitu matang ini... malah terasa sedikit menakutkan, lho."
Charle menyunggingkan senyum di bibir, namun dalam suaranya tercampur kewaspadaan tipis.
"Wanita itu licik dan kejam, tapi yang paling tidak boleh dilupakan adalah ketangguhannya sebagai ahli strategi yang telah bertarung melawan Asosiasi Sihir dan Gereja Hukum Suci selama dua ratus tahun."
Ratu Hel adalah wanita yang meminta jabat tangan sambil tersenyum, namun menusukkan pisau tanpa ampun dengan tangan satunya.
Dalam dua ratus tahun dia telah membantai banyak Demon Lord, bahkan mengubur Ten Holy Heavens of Sacred Law dengan mudah.
Karena kekuatan mutlak dan kekejamannya itu, umat manusia menyimpulkan dia mustahil ditaklukkan.
Dan akhirnya menetapkannya sebagai Monster Spesial No. 6 "Ratu".
"Kalau begitu, apa dia jadi lebih lembut dibanding dulu, ya? Sampai repot-repot mengevakuasi para wanita, sepertinya dia jadi agak lunak."
Hajarl mendengus menanggapi ucapan Charle.
"Wanita itu tidak mungkin punya kebaikan. Di baliknya hanya ada perhitungan dan kelicikan."
Kelunakan Ratu Hel tidak akan pernah jadi kelemahan. Karena dia justru memanfaatkan kelunakan itu, menebar perangkap cerdik untuk menunggu mangsanya.
"Jangan lupa. Lawan kita adalah Monster Spesial."
Dalam suara Hajarl terkandung kewaspadaan tajam.
Meski berhasil menyusup ke 'Helheim', pertarungan sesungguhnya baru dimulai.
Fakta bahwa bukan cuma anak-anak, wanita pun dievakuasi—itu menunjukkan kemungkinan Ratu Hel sudah menduga penyusupan ke 'Helheim' sejak awal.
Di sekitar sini mungkin sudah menunggu perangkap yang dipasang dengan cerdik.
Tapi, tidak mungkin berhenti karena takut akan hal itu.
Hajarl tidak punya pilihan selain terus maju demi mencapai ambisinya.
"Meski itu perangkap, ini kesempatan emas. Runtuhnya 'Helheim'—itulah yang akan menjadi sinyal pembebasan Iblis."
Di mata Hajarl tersimpan tekad layaknya api yang berkobar.
"Jadi, apa No. II sudah berangkat?"
"Ya. Dovie-dono sudah menuju ke penginapan yang dimaksud. Tapi... apa benar perlu mengirim Dovie-dono hanya untuk menyerang penginapan biasa?"
Hajarl menjawab pertanyaan Charle dengan nada tenang.
"Tempat itu kelihatannya cuma penginapan bobrok, tapi itu juga tempat perlindungan darurat Ratu di saat-saat genting."
"Hoh... Ratu akan kabur ke sana?"
"Kemungkinan wanita itu kabur memang rendah. Tapi, tetap saja jalan pelariannya harus ditutup."
Sambil berkata begitu, Hajarl mengarahkan tatapan tajam pada Charle.
"Jadi, No. IV—mau sampai kapan kau ada di sini. Kau juga pergilah ke arah penginapan."
Charle mengangkat bahu ringan, menyunggingkan senyum sinis.
"Yakin tidak apa-apa? Menurut saya Dovie-dono saja sudah terlalu cukup... apa yang membuat Hajarl-dono begitu waspada?"
Mendengar kata-kata itu, mata Hajarl menajam sesaat.
"Ada informasi yang diberikan oleh seseorang. Katanya Dovie sendirian mungkin akan kesulitan."
"...Seseorang, ya. Masih berurusan dengan orang semacam itu rupanya. Padahal Anda tahu dia mencurigakan, saya rasa sebaiknya berhenti terlalu mempercayainya."
Charle tersenyum tipis, namun dalam tatapannya merembes sedikit kekhawatiran.
"Jangan cemas. Meski dia merencanakan sesuatu, selama kepentingan kita sejalan, dia akan berguna sebagai informan yang praktis."
"...Baiklah. Tapi, tolong berhati-hatilah. Orang semacam itu benar-benar gampang berkhianat."
"No. IV, kau cerewet. Cepat pergi."
"Ya, ya. Kalau Hajarl-dono sudah bilang begitu, saya tidak akan bicara apa-apa lagi. Kalau begitu, saya permisi."
Charle yang dimata-matai Hajarl menunduk sopan, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Terlihat sosok Iblis Tingkat Menengah—bawahan Charle—yang mengejar di belakangnya dengan terburu-buru.
Hajarl merasakan suatu kehadiran dan mengarahkan pandangan ke lorong jalan—ke dalam kegelapan pekat yang terbentang di ujung sana.
Ruang yang menggenang hitam seolah menolak cahaya itu tidak terlihat ujungnya meski mata dipicingkan, membuat ilusi seolah akan terhisap ke dalamnya.
Saat merasakan dingin yang tidak menyenangkan di punggung—suara rendah sampai ke telinganya.
"Penyusupan yang cukup mencolok, ya."
Pemilik suara itu sudah muncul di lorong tanpa disadari.
Hajarl sama sekali tidak merasakan kedatangannya tadi, tapi sekarang dia bisa merasakan keberadaannya dengan jelas.
Hajarl menatap tajam.
"Ini ibarat kampung halaman kedua, kan. Mungkin semua orang terlalu bersemangat karena pulang."
Jika melihat sekeliling, bangunan-bangunan diselimuti api, dan cipratan darah mengotori jalanan.
Bau kematian menusuk hidung, suara bentakan dan ledakan yang terdengar dari sana-sini menceritakan kekacauan situasi.
"Begitu ya. Kalian diasingkan ke 'Wilayah Luar', dan merasa tidak terima melihat saudara yang lebih lemah dari kalian hidup nyaman di 'Wilayah Dalam'—jadi kalian melampiaskan apa yang disebut kecemburuan itu dengan mengamuk, ya."
Terhadap kata-kata provokatif itu, Hajarl mengerutkan kening.
"Aku tidak berniat melakukan tanya jawab konyol... tapi permainan kata kalian para Elf benar-benar membuat orang lain kesal, ya."
"Dipuji begitu, saya merasa terhormat."
Meskipun disindir, Elf bertudung ini hanya tersenyum senang, bahkan malah berterima kasih tanpa terlihat menyesal sedikit pun.
"Jadi, kau repot-repot menampakkan diri berarti ada perlu, kan?"
"Ya. Saya mendapat informasi bahwa Ratu ada di penginapan itu."
"...Kau bilang dia ada di <Istana Kecantikan, Semprema>, kan. Kau juga bilang Sebas dan yang lain menjaga penginapan untuk mengamankan jalur pelarian."
"Mohon maaf. Di sini pun informasinya simpang siur, situasinya sulit mendapatkan informasi yang akurat. Tapi, mau bagaimana lagi, gara-gara 'Antitesis Buangan' menyerang, 'Helheim' jadi gempar seperti sarang lebah yang dicolok."
Kepada Elf yang menyusun alasan dengan santai sambil secara tidak langsung menimpakan tanggung jawab pada 'Antitesis Buangan', Hajarl mengarahkan tatapan marah yang tajam.
Di situ, percakapan yang baru saja dia lakukan dengan Charle melintas di benak Hajarl.
"...Kau tidak berniat berkhianat, kan?"
"Mana mungkin. Kalau begitu, saya tidak akan repot-repot menampakkan diri untuk menyampaikan informasi baru, kan."
"Tidak bisa dipercaya. Dengan cara begitu juga kau membuang Christof, kan?"
"Itu sih mau bagaimana lagi. Orang itu bertindak terlalu berlebihan. Kalau begitu caranya, hal yang harusnya disembunyikan pun tidak bisa disembunyikan."
"Yah sudahlah. Sekarang waktu sangat berharga. Aku konfirmasi sekali lagi, Ratu ada di penginapan, kan?"
"Ya. Tidak salah lagi. Tapi, keputusan tepat Anda mengirimkan No. II dan No. IV. Kalau mereka, pasti mudah untuk menahan musuh sampai Anda bergabung."
"Hmph, anggap saja kesalahan ini harganya mahal."
"Saya mengerti. Nanti, saya akan minta maaf secara resmi. Kalau begitu, saya akan menghubungi Anda lagi."
Elf itu berkata demikian, menunduk ringan, lalu menghilang seolah melebur ke dalam kegelapan yang merajalela di gang.
"Dia itu orang yang jago kabur seperti biasa. Tidak, lebih baik dibilang dia tahu kapan harus mundur, ya."
Hajarl bergumam sendiri, lalu mulai melangkah menuju arah penginapan.
Tapi, langkah itu segera berhenti.
Sebab—
"Ah... akhirnya ketemu juga."
Seorang bocah berambut hitam yang mengenakan pakaian hitam menyapanya dengan gembira.
Sikapnya yang penuh wibawa dan senyum santainya memberitahukan bahwa dia bukan bocah biasa.
Di hadapan Hajarl yang berdiri di puncak 'Antitesis Buangan', bocah itu bukannya menunjukkan ketegangan, malah terlihat menikmatinya.
"Hei, kau Hajarl, kan?"
Suara yang dilontarkan bersama kata-kata itu bergema dengan aneh, mengandung intimidasi yang cukup untuk membekukan seluruh tubuh Hajarl.
Sekilas penampilannya seperti orang awam.
Namun, Mana yang menyelimuti bocah itu adalah sesuatu yang luar biasa, bahkan melampaui Ratu Hel.
Tekanan yang membuat jiwa berderit—yang tidak dirasakannya saat berhadapan dengan Ratu Hel dulu—meluap dari bocah di hadapannya.
Bertolak belakang dengan wajahnya yang masih menyisakan kesan kanak-kanak, keberadaannya diselimuti keasingan dan kekejaman yang tak terukur dalamnya.
Hawa dingin yang membekukan menguasai udara dalam sekejap, menyelimuti seluruh tubuh seolah mencekik tenggorokan Hajarl.
"——......'Essence of Magic, Mimir', ya. Kenapa kau ada di sini?"
Saat Hajarl bertanya, bocah itu menunjukkan ekspresi terkejut sesaat sebelum menyunggingkan senyum.
"Hee... apa kau tipe yang percaya rumor tentangku? Tapi maaf ya, hari ini aku tidak berniat menggunakan nama palsu itu."
"Bicara apa kau? Kau adalah 'Essence of Magic, Mimir', kan."
Mendengar kata-kata itu, sang bocah menggelengkan kepala dengan ringan.
Hajarl menyadari ada ketidaksesuaian dalam percakapan mereka, namun sikap bocah itu sama sekali tidak goyah.
"Makanya, aku cuma sembarangan mengaku-ngaku nama itu demi memancing yang asli keluar."
"...Hmm. Kalau mau menyembunyikan identitas sih terserah. Jadi, kalau bukan 'Essence of Magic, Mimir', lantas kau ini siapa sebenarnya?"
Bocah itu menyunggingkan senyum berani yang dalam atas pertanyaan itu.
"Namaku Ars. Aku datang untuk mengalahkanmu. Aku cuma penyihir yang kebetulan punya 'Telinga Bagus'."
"...Mengalahkanku? Bocah yang bicara hal menarik. Tapi, kenapa memilihku? 'Antitesis Buangan' ada yang lain, kan. Apa kau mau mengambil kepala ini untuk menaikkan pamor?"
Menanggapi pertanyaan Hajarl, Ars menjawab sambil tertawa mendengus ringan.
"Hanya pelampiasan semata. Ini masalah perasaanku. Bukan berarti kau salah karena mencoba mengambil keuntungan di tengah kekacauan. Kau juga punya keyakinanmu sendiri, kan? Alasan ingin menang secara mutlak itu."
"Apa maksudmu?"
Hajarl mengerutkan kening.
Tak mampu menebak maksud ucapan si bocah, keraguannya kian mendalam.
Namun, Ars terus bermonolog tanpa peduli.
"Kau salah memilih lawan. Kau——telah melukai orang-orang yang tak boleh kau sentuh."
"...Jadi——jangan-jangan, Ratu Hel... bukan, apa kau kenalan si rambut perak itu?"
Akhirnya teka-teki dalam benak Hajarl terpecahkan.
Kata-kata bocah itu tidak mungkin merujuk pada orang lain selain gadis berambut perak yang baru-baru ini berurusan dengannya.
"Sudah ingat? Kau telah melukai Yulia dan Elsa. Akan kubuat kau membayar harganya."
Senyum yang muncul di bibir Ars adalah kekejaman itu sendiri.
Senyum itu sekilas terlihat enteng, namun sebenarnya memancarkan amarah yang tak terukur dalamnya.
"Kau kan ahlinya menyerang dadakan lalu kabur."
Provokasi Ars tidak berhenti. Nada bicaranya bercampur antara ketenangan dan cemoohan, melemparkan tatapan dingin yang merendahkan lawan.
Tidak ada amarah terhadap Lilith——itu adalah suara hatinya yang jujur.
Namun terhadap selain dia——terhadap Hajarl, emosi yang selama ini ditekan mati-matian kini meluap keluar.
Pertama, dia melukai Elsa hingga parah dan membuat Karen bersedih.
Lalu menerobos pertarungan Lilith dan Yulia, serta melukai mereka.
Perbuatan itu sama sekali tidak bisa dimaafkan.
Mutlak tidak boleh dimaafkan.
Tidak——dia memang tidak berniat memaafkannya.
Ars yang orang-orang berharganya dilukai, menyimpan amarah yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri di dalam dada.
Amarah itu menjadi api neraka yang terus membakar di lubuk hati, tidak pernah padam.
Karenanya, dia sampai kagum pada dirinya sendiri betapa dia bisa menahannya selama ini.
Dia percaya waktu akan memulihkannya, namun betapa pun waktu berlalu, amarah itu bukannya memudar, malah berakar dalam, lebih kuat mencekik hatinya dan mengamuk.
Tapi, sekarang tidak perlu menahan diri lagi.
Saatnya untuk melepaskan.
Dia hanya perlu membebaskan murka yang mengamuk di dalam dadanya.
"Kalau takut padaku, larilah. Perlihatkan punggungmu yang menyedihkan itu, cobalah lari sampai ke ujung dunia."
Sambil berkata begitu, Ars merentangkan kedua tangan, melepaskan Mana yang menyelimutinya.
Mana yang pekat mendistorsi ruang itu sendiri, tekanan mutlak menguasai sekitarnya.
Hajarl membelalakkan mata melihat pemandangan itu.
Dia hanya diam memandangi Mana sang bocah yang menyelimuti dunia.
"Akan kukejar kau. Entah itu ke ujung dunia, atau jatuh ke neraka sekalipun, aku akan memojokkanmu——"
Memutus kata-katanya sejenak, Ars menyunggingkan senyum yang mengerikan.
"——Akan kubunuh kau sampai ke serpihan jiwamu."
Niat membunuh murni yang tidak tercampur emosi yang tidak perlu.
Cahaya di matanya dingin dan tajam, namun terlihat mengandung kegilaan.
Senyuman itu memberikan rasa takut sekaligus menunjukkan kepercayaan diri yang mutlak.
Perubahan ini pasti sulit dipercaya bagi mereka yang mengetahui sikap Ars selama ini.
Ars selalu punya kebiasaan meremehkan diri sendiri.
Dia yang sering meragukan kekuatannya sendiri——kini memprovokasi Hajarl dengan mata penuh keyakinan.
Sosok itu bagaikan Demon Lord yang berdiri gagah, memancarkan kewibawaan dan keberadaan mutlak yang pantas untuk nama 'Essence of Magic, Mimir'.
Menyelimuti diri dengan Mana dahsyat, di balik senyum yang tampak enteng tersimpan tekad yang kokoh.
Siapa sangka Ars akan berubah sedemikian rupa karena amarah.
Jika Yulia dan yang lain melihat perubahan ini, pasti mereka akan kehilangan kata-kata dan menelan ludah.
Atau mungkin, hati mereka akan tercuri oleh pesona berbahaya yang dipancarkan senyuman itu, dan tanpa sadar pipi mereka memerah.
Sedemikian dahsyatnya pesona berbahaya dan daya tarik yang dipancarkan senyuman Ars, memancarkan keberadaan mutlak yang menarik orang tanpa sadar.
Menghadapi Ars yang seperti itu, Hajarl yang menerima deklarasi pembunuhan yang begitu terus terang hingga terasa menyegarkan, tak kuasa menahan tawanya.
"Fuhahahaha! Kau orang pertama yang melontarkan omong besar seperti itu pada diriku ini."
Akibat rentetan provokasi itu, amarah Hajarl mencapai puncaknya.
"...Baiklah."
Dia mencengkeram senjatanya erat-erat, dan semangat bertarung pun meluap dari sekujur tubuhnya.
"Majulah, bocah! Akan kutebas putus leher kurusmu itu!"
Ars menyisipkan keheningan sesaat, lalu memperdalam senyum provokatifnya.
"Hah, cobalah tunjukkan padaku sihir yang tidak kuketahui."
Ketegangan yang membentang di antara keduanya mencapai batas ekstrem.
Dalam sekejap, lingkungan sekitar menjadi sunyi senyap.
Bahkan suara angin pun lenyap, seolah-olah waktu itu sendiri telah berhenti.
Dan——,
——Seolah memecahkan keheningan, keduanya berbenturan dengan dahsyat.
*
"A-Ars itu!? Kenapa dia selalu bergerak tiba-tiba begitu sih!"
Yang menarik Yulia dari dunia mimpi adalah teriakan Shion tersebut.
"Setidaknya, setidaknyaaa! Dia bisa kan bilang sepatah kata saja padaku!"
"S-Shion-san... a-aku mengerti perasaanmu, tapi tolong tenanglah."
"Demon Lord Lilith! Apa aku salah?"
"Ti-tidak, kamu tidak salah, kok! Karena itu, mari tenang dulu! Selain itu, tolong jangan panggil namaku dengan embel-embel Demon Lord sekeras itu!"
Suara perdebatan kedua wanita itu semakin mempercepat kesadaran Yulia.
Saat membuka mata, langit-langit asing terpantul dalam pandangannya.
Bau obat-obatan yang menusuk hidung membuat kesadarannya pulih sepenuhnya, dan Yulia perlahan menegakkan tubuh bagian atasnya.
Namun, ruangan yang tadi begitu ribut, dalam sekejap diselimuti keheningan.
Alasannya jelas. Mungkin karena Yulia tiba-tiba bangun.
Seolah mengisi jeda yang aneh itu, Yulia membuka mulut.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Belum lewat setengah hari, kok. Selain itu, kita sudah tiba di 'Helheim' dengan selamat."
Yang menjawab adalah Lilith.
"Begitu ya, ternyata sudah sampai di 'Helheim' dengan selamat, ya."
Yulia menghela napas lega, namun teringat sesuatu yang mengganjal dan kembali bertanya.
"Kalau begitu, luka Lilith-san sudah tidak apa-apa?"
"Ya, kenalanku sudah mengobatinya."
"Syukurlah kalau begitu. Lilith-san, meski kamu berusaha mati-matian menyembunyikannya, ekspresimu yang menahan sakit sangat mudah dibaca, makanya aku khawatir, lho."
"Ti-tidak mungkin begitu! Padahal seharusnya aku tanpa ekspresi bagaikan topeng besi!"
Wajah Lilith memerah membantah, tapi Yulia menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Tidak, wajahmu sangat mudah dibaca, lho. Makanya aku berkali-kali bertanya apakah kamu baik-baik saja, kan?"
"Ti-tidak mungkin... aku..."
Lilith kehilangan kata-kata, lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur Yulia dan membenamkan wajahnya ke selimut. Bahunya bergetar kecil, rasa depresinya tersampaikan lewat sikap yang sangat mudah dibaca itu. Yulia tersenyum masam, namun Shion yang melihat keadaan itu melipat tangan dan membuat ekspresi rumit.
"Hmm, Ars juga begitu, tapi Yulia juga jadi akrab tanpa disadari, ya."
Mendengar perkataan Shion, Yulia teringat keributan tadi dan bertanya.
"Ngomong-ngomong, Shion-san, tadi kamu ribut-ribut, memangnya ada apa?"
Mendengar pertanyaan itu, Lilith mengangkat wajahnya dengan penuh semangat.
"Benar juga! Tadi Ars-san tiba-tiba melompat pergi. Gara-gara itu Shion-san yang ditinggalkan jadi marah, dan aku sedang menenangkannya."
"Benar! Yulia, dengarkan aku! Ars itu jahat!"
Shion memeluk pinggang Yulia dengan semangat sambil mengadu.
Namun, terhadap Shion yang seperti itu, Yulia memberitahukan fakta dengan tenang dan datar.
"...Bukankah itu hal yang biasa?"
"Ugh, memang sih... tapi bukankah kau pikir setidaknya di saat seperti ini dia bisa bilang sepatah kata?"
Mendengar jawaban Yulia yang blak-blakan, Shion terus berusaha menyampaikan argumennya, tapi tiba-tiba Yulia merasakan tatapan Lilith. Tatapan itu kuat dan tampak tertarik.
"...Mana-nya stabil sampai taraf yang menakjubkan, ya."
Mendengar kata-kata Lilith, Yulia menyadari maksudnya.
Sebab dia telah mendengar cerita Lilith di tengah perjalanan.
"Cerita yang itu, ya? Eeto, soal efek sihir 'Subordination', bukan sihir 'Subjugation', ya?"
"Benar. Ini sungguh hasil yang inovatif. Mungkin bisa menjadi bantuan untuk menyembuhkan Mana Deficiency pada Iblis Buatan."
"Hm? Bicara soal apa?"
Saat Shion memiringkan kepala, Lilith mulai menjelaskan.
"Sebenarnya sekitar dua ratus tahun lalu, saat 'Helheim' masih berupa desa tanpa nama, lebih dari separuh populasinya adalah Iblis Buatan. Karena itu, di antara keturunannya, terkadang lahir anak yang mengidap Mana Deficiency akibat atavisme."
Anak-anak seperti itu diberikan sihir 'Subjugation', lalu dikumpulkan dan dibesarkan di satu tempat.
Kenapa? Itu demi mencegah Mana anak-anak tersebut menjadi kering.
Metode untuk menekan perkembangan Mana Deficiency adalah dengan terus menyuplai Mana, serta tidak meninggalkan jangkauan tertentu dari 'Helheim'.
"Begitu ya... karena pengaruh Miasma, hubungannya terputus. Tapi, di 'Helheim' ada banyak Iblis—mereka yang diberi 'Subjugation' oleh Ratu Hel. Berkat itu hubungan bisa dijaga, dan Mana anak-anak juga tidak jadi kering, begitu kan."
"Shion-san cepat paham, itu sangat membantu. Kalau boleh kutambahkan, Iblis dewasa juga ada yang menderita Mana Deficiency, lho."
"Oh begitu, kalau itu alasannya memang benar... Aku yang menerima sihir 'Subordination' tidak punya batasan seperti itu. Aku bisa paham kenapa Demon Lord Lilith menginginkan sihir 'Subordination'."
"Benar. Makanya, aku perlu belajar sihir 'Subordination' dari Ars-san dan menelitinya."
"Itu alasanmu mengincar Ars ya... Aku paham itu, tapi selama ini kan lancar pakai 'Subjugation', apa masalahnya?"
"Tidak, 'Subjugation' sebentar lagi akan mencapai batasnya."
"Batas?"
Shion merasa heran dan menatap Yulia.
Gadis itu sepertinya sudah mendengar situasinya, jadi tidak terlihat kaget.
Shion kembali menatap Lilith.
"Dua ratus tahun lalu saat populasinya sedikit, tidak ada masalah. Tapi, zaman sekarang populasi Iblis bertambah terlalu banyak. Berbanding lurus dengan itu, anak-anak dengan Mana Deficiency juga bertambah tiap tahun."
"Artinya... Mana-nya mulai kurang, begitu?"
"Tepat sekali."
Dua ratus tahun lalu, di zaman persekusi, populasi Iblis tidak sampai seribu orang.
Namun, begitu 'Helheim' yang dibangun di 'Lost Land' menjadi tanah aman yang menjauhkan ancaman musuh luar, populasi Iblis meledak drastis.
Tapi, seiring dengan itu muncul masalah baru.
Mana dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah kecil demi mempertahankan hidup.
Terlebih lagi, jika melakukan aktivitas aktif atau pekerjaan berat, konsumsi Mana akan meningkat drastis. Berdasarkan kenyataan ini, perlu dilakukan pembagian tugas di mana Iblis Buatan sebisa mungkin tidak menggunakan Mana.
Jika dipaksakan, nyawa mereka sendiri yang akan terancam.
Namun, itu tidak memberikan solusi mendasar.
Justru, beban menjadi terkonsentrasi pada Iblis Murni.
"Karena Iblis Buatan tidak bisa disuruh melakukan pekerjaan berbahaya yang mengonsumsi Mana, otomatis peran berbahaya itu ditanggung oleh Iblis Murni."
Akibatnya, wajar saja jika ketidakpuasan menumpuk dan tak terhindarkan.
Iblis Buatan yang bertahan hidup dengan menerima Mana dari mereka, malah hidup nyaman di dalam dinding.
Fakta itu melahirkan rasa ketidakadilan di antara Iblis Murni.
Ketidakpuasan memuncak, dan akhirnya muncul gerakan protes.
Gerakan itu perlahan menjadi radikal, berujung pada kerusuhan, dan akhirnya berkembang menjadi situasi terburuk berupa pembunuhan.
"Keamanan memburuk dengan cepat. Akhirnya anak-anak pun jadi target, dan muncul penculik yang memanfaatkan kekacauan. Karena itu, dengan dalih melindungi anak-anak dari ras lain, diputuskan untuk mengumpulkan dan membesarkan anak-anak di tempat aman."
Selain itu, sebagai langkah untuk mengurangi beban Iblis Murni, mereka mulai mencari tenaga kerja dari 'Wilayah Luar'.
Sebelumnya 'Helheim' adalah negara khusus Iblis, namun mereka mengubah haluan untuk menerima ras lain.
Selanjutnya, dengan membangun hubungan dengan musuh bebuyutan, Gereja Hukum Suci, dan menunjukkan sikap beralih dari permusuhan menjadi kerja sama, beban Iblis Murni berkurang dan ketidakpuasan pun perlahan teratasi.
Namun, meski begitu orang yang terjerumus ke dalam kejahatan tak kunjung habis.
Orang-orang seperti itu diasingkan ke 'Wilayah Luar' sebagai 'Antitesis Buangan'.
Tapi, mereka yang diasingkan perlahan menjadi radikal, dan mulai menyebut 'Helheim' sebagai "Sangkar" yang mengurung saudara mereka.
Lebih jauh lagi, mereka mulai melakukan tindakan destruktif dengan mengusung pembebasan saudara sebangsa.
"Meski tersisa sedikit masalah, secara garis besar hasilnya memuaskan. Tapi, seiring berjalannya waktu, masalah paling serius muncul ke permukaan."
Itu adalah kekurangan Mana akibat peningkatan populasi.
Sejak awal, jumlah Iblis Buatan lebih banyak daripada Iblis Murni.
Karena itulah, semakin mereka menikmati kedamaian, kekurangan Mana menjadi hal yang tak terelakkan dalam artian tertentu.
"Ibarat semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Aku sudah mencoba melakukan 'Subjugation' pada kriminal dari ras lain yang melakukan kejahatan di 'Helheim' untuk menyuplai Mana, tapi sedikit sekali yang punya Mana besar sampai bisa memulihkan Mana para Iblis, jadi itu bagaikan setetes air di padang pasir."
Berpikir bahwa metode saat ini akan hancur dalam waktu dekat, Lilith mencari pengetahuan di seluruh dunia dengan teliti.
"Begitulah, aku terus mencari sihir baru untuk menggantikan 'Subjugation'... dan akhirnya menemukan sihir 'Subordination'."
Saking antusiasnya kalimat itu, mata Lilith bersinar penuh harapan.
Dia perlahan mengulurkan tangan, mengarahkannya pada Shion.
"Dan, satu-satunya contoh sukses sihir 'Subordination' di dunia—itu adalah kamu, Shion-san."
Kata-kata Lilith dipenuhi semangat.
Keseriusan yang luar biasa dan tekad yang dibawa hingga hari ini terasa sangat jelas.
Suasana di tempat itu seketika menegang, sama sekali tidak bisa dibuat bercanda, bahkan tenaga untuk berkata-kata pun seolah terenggut.
Tidak ada yang membuka mulut, tekanan aneh menguasai tempat itu, dan keheningan pun datang.
Namun, seiring berjalannya waktu, benang ketegangan perlahan terurai.
Shion memegang leher seolah melemaskan bahu yang kaku, lalu membuka mulut.
"...Begitu ya. Kalau alasannya itu, kurasa Ars akan mengajarimu sihirnya."
Mendengar kata-kata itu, di sudut pandangan terlihat Yulia juga mengangguk kecil setuju.
Lagipula, Ars mempelajari sihir 'Subjugation' karena mencurinya dari Lilith.
Jika 'Subordination' adalah evolusi orisinal berdasarkan sihir itu, meski Gift-nya berbeda, Lilith pun seharusnya sangat mungkin untuk menguasainya.
Meski riwayat mempelajarinya agak bermasalah, jika memikirkan sifat Ars, dia pasti tidak akan menolak.
"Kalau begitu, soal Demon Lord dan yang lain sempat ribut katanya hasil penelitian dicuri..."
"Ya, aku yang menyebarkannya. Semuanya demi mendapatkan informasi tentang 'Essence of Magic, Mimir'."
Kegigihan yang mengerikan—gumam Shion dalam hati.
Entah sejak berapa tahun lalu dia menyusun rencana ini.
Dia pasti telah menghadapi kegagalan dan rintangan berkali-kali, dan terus melakukan revisi setiap saat.
Demi menyambut hari ini, dia pasti telah mengorbankan banyak hal.
Justru karena dia tidak menyerah untuk menyelamatkan Iblis Buatan-lah, dia bisa menjalin takdir dengan Ars.
"Mengenai 'Subordination', nanti kalau situasi sudah tenang, aku akan bernegosiasi dengan Ars-san."
"Negosiasi?"
Yulia memiringkan kepala dengan heran.
Ars tidak mungkin meminta imbalan.
Lagipula, itu adalah modifikasi dari sihir yang dicuri dari Lilith.
"Menurutku Ars bakal bilang tidak perlu. Mungkin dia akan senang kalau diberi imbalan sihir baru atau sesuatu yang belum dia ketahui..."
"Aku sudah paham soal itu. Pasti Ars-san akan senang."
Karena Lilith mengatakannya sambil membusungkan dada dengan penuh percaya diri, Yulia maupun Shion tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Di tengah suasana yang sulit digambarkan itu, Lilith menepuk tangan seolah teringat sesuatu, dan dengan mudah mengubah atmosfer ruangan.
"Oh ya, ada yang ingin kusampaikan padamu, Yulia-san."
"Apa itu?"
"Rahasiaku."
"...Rahasia?"
"Ya, mumpung ada waktu, sedikit cerita masa lalu—"
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, suara gemuruh memotong perkataan Lilith.
Suara yang menggetarkan udara, bahkan bangunan pun terasa berguncang sesaat.
"Tuan Putri, boleh masuk sebentar?"
Suara wanita tua terdengar dari luar pintu—Graia.
"Masuklah."
Begitu Lilith memberi izin, Graia masuk ke kamar dengan tenang tanpa suara langkah kaki.
"Baru saja ada kabar, gerombolan bodoh 'Antitesis Buangan' sepertinya sudah menyusup ke kota."
Kata-kata itu mengejutkan.
Masuknya 'Antitesis Buangan' ke 'Helheim' adalah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Yulia dan Shion menunjukkan ekspresi tercengang, namun hanya Lilith, penguasa 'Helheim', yang tetap tenang.
"Hmm, Tuan Putri tidak kaget ya."
Menanggapi ucapan Graia, Lilith mengangguk pelan.
"Aku sudah bersiap agar siap menghadapi situasi apa pun. Langkah penanggulangannya juga sudah kusampaikan. Jadi, yang harus kulakukan hanyalah mengusir orang-orang bodoh yang menyusup itu dengan tanganku sendiri."
Setelah berkata begitu, Lilith mengarahkan pandangan ke Yulia yang ada di tempat tidur.
"Maaf ya, Yulia-san, ceritanya lain kali saja, sekarang tolong izinkan aku memprioritaskan pembasmian orang-orang bodoh itu."
"Aku tidak keberatan, tapi apa kau berniat pergi sendirian?"
Yulia yang menurunkan kaki dari tempat tidur menendang-nendang lantai dengan ujung kaki seolah memastikan sensasi kakinya.
"Tentu saja, aku kan Ratu negeri ini."
Melihat Lilith membusungkan dada saat mengatakan itu, Shion buru-buru membuka mulut.
"Tunggu dulu, biar aku yang pergi. Kalian berdua sebaiknya istirahat saja. Kalian belum pulih sepenuhnya, dan aku tidak yakin tangan musuh sudah sampai ke sini."
Penampilan luar penginapan itu bobrok seolah akan runtuh kapan saja.
Bagian dalamnya memang direnovasi dengan indah, tapi Shion berpikir musuh akan salah mengira tempat itu sebagai reruntuhan jika melihat dari luar dan tidak akan menyerang.
"Tidak, lukaku sudah menutup kok, aku tidak apa-apa."
"Aku juga tidak terpengaruh luka."
"Tidak, sebaiknya kalian tetap beristirahat."
Shion mencoba menghentikan mereka tanpa menyerah, tapi kedua gadis itu tidak terlihat akan menurut.
Shion yang kebingungan mengirimkan tatapan pada Graia seolah meminta bantuan.
Namun, Graia yang merupakan penyembuh tidak berpihak padanya.
"Shiffon, orang yang sudah membulatkan tekad tidak bisa dihentikan. Biarkan saja mereka sesukanya. Kalau lukanya terbuka, tinggal diobati lagi saat itu."
"Graia-dono, namaku Shion, bukan Shiffon!"
Shion memegangi dahi seolah sakit kepala, kehilangan kata-kata karena tak menyangka Graia malah mendukung mereka berdua.
Saat dia hendak memikirkan kata-kata bujukan—dia merasakan tekanan dahsyat menyerang seluruh tubuhnya.
Itu berasal dari Mana.
"...Ara, sepertinya kita tidak perlu repot-repot keluar mencarinya."
Saat Lilith berkata sambil tersenyum, Shion menjatuhkan bahunya.
Tekanan Mana dari luar itu pastilah dari 'Antitesis Buangan'.
Itu juga bukti bahwa musuh sudah tahu Lilith dan yang lain ada di penginapan ini.
"Sepertinya mereka menunggu... buktinya mereka tidak langsung menyerang ke sini."
Melihat Shion menghela napas panjang, dia sadar bahwa pilihan Yulia dan Lilith untuk tidak bertarung sudah lenyap.
"Tuan Putri, saya doakan keberuntungan perang Anda."
Graia sang pemilik penginapan juga menundukkan kepala bersiap melepas kepergian mereka.
"Kalau begitu, mari kita temui bajingan tak tahu adat yang datang merusak taman bunga para gadis ini."
Lilith berkata dengan riang, lalu melangkah keluar dengan ringan seolah sedang menikmati jalan-jalan.
Mengejar punggung itu, Yulia dan Shion pun keluar.
Di sana, gerombolan besar Iblis sudah menunggu.
Yang berdiri di paling depan adalah dua Iblis Tingkat Atas. Di belakang mereka, tak terhitung banyaknya Iblis Tingkat Menengah yang bersiaga.
"Wah, nona-nona yang cantik sekali. Boleh saya tanya sedikit?"
Salah satu Iblis Tingkat Atas melangkah maju, menyapa dengan senyum yang tampak enteng.
Untuk ukuran Iblis, tubuhnya kurus, penampilannya seperti pria pesolek yang lembut.
"Maaf, terlambat memperkenalkan diri. Nama saya 'Antitesis Buangan No. IV' Charle. Jadi—apa nona-nona sekalian punya hubungan dengan Ratu Hel?"
Tatapan Charle tertuju pada Yulia.
Menghadapi tatapan lancang itu, Yulia membalas dengan tatapan tajam yang menunjukkan ketidaksenangan.
"Kalau kami ada hubungan, memangnya kenapa?"
"Saya hanya ingin bertanya sedikit. Terutama kepada Anda—ada banyak hal yang ingin saya tanyakan."
Menebak dari sikapnya, Charle sepertinya sudah mengetahui fakta bahwa Ratu Hel dan Yulia menjalani kehidupan pelarian bersama di Area Tinggi.
"Bagaimana kalau saya menolak?"
Terhadap pertanyaan tenang Yulia, Charle memperlebar senyumnya sesaat, lalu mengangkat bahu dan menjawab.
"Sayang sekali, tapi saya terpaksa harus membuat Anda buka mulut dengan kekerasan. Saya tidak terlalu ingin menggunakan cara kasar, jadi akan sangat membantu jika Anda menjawab dengan jujur."
"Baiklah. Setidaknya mari kita dengarkan dulu apa yang ingin Anda bicarakan."
Sambil berkata begitu, Yulia menghunus pedang di pinggangnya tanpa suara.
Melihat gerakan dingin itu, Charle memasang ekspresi curiga, namun ia melanjutkan pembicaraan tanpa menghilangkan sikap bersahabatnya.
"Informasinya simpang siur. Kami belum bisa memastikan keberadaan Ratu Hel. Jika Anda menjawab dengan jujur, saya bisa saja melepaskan Anda... bagaimana?"
Yulia melirik ke arah Lilith yang berdiri di sebelahnya.
Dari gerakan sesaat itu, Shion menyadari apa yang sedang dipikirkan mereka berdua.
Saat ini Lilith tidak menyembunyikan wajahnya.
Saat bertindak sebagai Ratu Hel dia mengenakan tudung, tapi sekarang dia membiarkan wajah aslinya terlihat.
Menilai dari ucapan Charle, tampaknya mereka tidak menyadari bahwa Demon Lord Lilith dan Ratu Hel adalah orang yang sama.
Meskipun wajahnya sudah dilihat oleh Hajarl, entah informasinya tidak dibagikan, atau mungkin mereka sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa Demon Lord Lilith adalah Ratu Hel.
(Yah, kalau tidak curiga dengan hubungan keduanya, tidak akan terpikir untuk menyelidikinya. Lagipula, sepertinya mereka juga tidak sadar kalau Lilith itu adalah Demon Lord.)
Baik Ratu Hel maupun Demon Lord Lilith adalah sosok ternama, namun mereka jarang tampil di panggung depan, sehingga informasi tentang mereka hampir tidak beredar.
Dengan premis itu, para Iblis dalam posisi khusus sebagai 'Antitesis Buangan' ini kurang paham informasi 'Wilayah Luar', dan juga tidak mudah mendapatkan informasi 'Wilayah Dalam'.
Karena itulah, meski ada di depan mata, mungkin mereka tidak bisa menyadari bahwa Ratu Hel dan Demon Lord Lilith adalah orang yang sama.
Shion menatap situasi di hadapannya dengan tenang sembari memikirkan hal itu.
"Kalau begitu, izinkan saya mengatakan satu hal saja."
Tanpa menghilangkan senyumnya, Yulia merangkai kata dengan tenang.
"Tidak akan saya beri tahu. Alasannya, karena saya benci Anda."
Tidak ada secercah cahaya pun di matanya.
Meski hanya menyampaikan perasaannya dengan nada datar, kata-kata itu mengandung hawa dingin bak pisau tajam.
Namun, senyum Yulia tidak pudar.
Itu bukan senyum basa-basi, bukan pula senyum palsu.
Itu adalah senyuman yang disertai tekanan aneh yang tak terjelaskan, memancarkan kengerian yang seolah membelai saraf siapa pun yang melihatnya dengan kasar.
"Lagipula sejak tadi, kenapa Anda bicara dengan nada merendahkan begitu? Jika Anda ingin mendapatkan informasi dari saya, seharusnya Anda menundukkan kepala dan memohon dengan jauh lebih sopan dan ramah."
Kata-kata Yulia terdengar dingin, namun juga menyiratkan cemoohan.
Dan terakhir, sambil menempelkan punggung tangan ke mulut, Yulia tertawa kecil dari tenggorokannya.
"Jika Anda meminta maaf dengan jujur, saya akan melepaskan Anda, lho."
Jelas-jelas kata-kata yang provokatif.
Suaranya terdengar ringan, namun membawa nada dingin yang merendahkan lawan.
Warna cemoohan tampak pekat dalam senyum Yulia, dan tidak ada sedikit pun rasa sungkan dalam sikapnya.
Ucapan dan perilaku yang tidak pantas bagi gadis cantik yang rupawan dan tanpa cela.
Kilau kejam bersemayam di mata ungu peraknya, memancarkan intimidasi yang seolah membekukan hati siapa pun yang melihatnya.
"............Baru pertama kali ini saya dihina sampai begini."
Charle bergumam dengan suara gemetar menahan amarah. Sambil menatap tajam Yulia, sudut matanya berkedut.
"Sudah cukup——... Gadis tengik, apa kau sudah siap mati?"
Entah ke mana perginya kesopanan yang tadi ia tunjukkan.
Nada bicara Charle berubah kasar, dan sifat aslinya yang tak bisa disembunyikan kini terungkap jelas.
"Itu kata-kata saya."
Meski begitu, sikap Yulia tidak goyah sedikit pun.
Masih dengan senyum dinginnya, dia merangkai kata seolah menikmati provokasi tersebut.
Lalu, dengan senyum yang tetap terlihat manis, dia berkata.
"Saya tidak akan membiarkan Anda melakukan apa pun. Berusahalah mati dengan indah meski wujud Anda jelek, ya."
Satu kalimat itu menjadi penentu.
Habis kesabaran akibat cemoohan Yulia, Charle meneriakkan perintah kepada para Iblis Tingkat Menengah yang bersiaga di belakangnya.
"——Bunuh!"
Suara kasar itu bergema, dan di belakang Charle, para Iblis mulai bergerak serentak.
Akibat perintah penuh amarah itu, tirai pertarungan melawan Yulia kini baru saja akan diangkat.



Post a Comment