Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Chapter 3
Masa Lalu
Pemandangan yang terbentang di hadapan Lilith adalah ingatan masa lalu yang jauh.
Sebuah ruangan luas yang dihiasi perabotan mewah. Di tengahnya, terdapat tempat tidur besar yang mempertahankan kewibawaan namun entah kenapa tampak kesepian.
Di atas tempat tidur, seorang wanita bertubuh kurus kering berbaring, dan di sampingnya Lilith kecil sedang duduk.
Di belakangnya, berdiri seorang pria dengan ekspresi lembut.
"Ibu! Ayah telah mengembangkan obat untuk menyembuhkan penyakit Ibu!"
"Benar, Elena. Dengan ini penyakitmu pasti sembuh."
Saat itu, penyakit mematikan yang mengguncang dunia—penyakit misterius sedang mewabah.
Penyakit itu merenggut banyak nyawa, dan ibu Lilith tak terkecuali.
"Aku sudah mengembangkan obatnya. Pertama aku berniat mencobanya pada rakyat untuk memastikan efeknya."
"Suamiku, tolong gunakan padaku dulu. Tidak boleh menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan."
"Tapi... kita belum tahu efek samping apa yang akan muncul."
"Tidak apa-apa. Jika bisa berguna bagi rakyat, aku tidak peduli apa yang terjadi pada tubuh ini."
Wanita yang dipanggil Elena itu berkata dengan suara tegas sambil menatap ke luar jendela.
Pria itu mendekati tempat tidur seolah menerima tekad kuatnya, berlutut, dan menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Baiklah. Kalau tekadmu bulat, kita coba darimu."
"Tolong lakukan."
"Sebas! Bawakan obat itu."
Lilith kecil yang mendengar percakapan itu mengeluarkan suara cemas.
"Ibu, tidak apa-apa? Obatnya pahit lho?"
"Ya, tidak apa-apa kok."
Elena tersenyum lembut, lalu mengelus kepala Lilith perlahan.
"Dan ingatlah ini, Lilith. Orang yang berada di posisi mulia memiliki tanggung jawab dan kewajiban yang menyertainya. Demi itulah, kita para bangsawan ada."
"Un, mungkin, aku mengerti."
"Suatu saat pasti akan datang hari di mana kamu mengerti."
Melihat interaksi orang tua dan anak yang menghangatkan hati itu, pria itu juga menunjukkan ekspresi lega.
"Tuan. Saya sudah membawanya... tapi apakah benar-benar akan digunakan pada Nyonya?"
Kepala pelayan tua Sebas bertanya dengan ragu-ragu.
"Ini keputusannya. Sebas, kau juga tahu itu, kan."
"Tapi..."
Pria itu mengambil paksa obat dari kepala pelayan tua yang masih ragu itu.
Di tangannya, tergenggam sebutir tablet—obat yang kelihatannya biasa saja.
"Elena, kau siap?"
"Ya, tolong."
Di wajah Elena tersimpan tekad yang kuat.
——Lilith yang telah tumbuh dewasa tahu masa depan yang menanti di depan.
Ingin menghentikannya. Harus dihentikan bagaimanapun caranya.
Tapi, suara tidak keluar. Tubuh juga tidak bergerak.
Dia hanya bisa menatap ibunya yang membulatkan tekad dan memasukkan tablet ke mulutnya.
Inilah awal dari neraka——.
Kisah masa lalu nan jauh yang terus menyiksa Lilith hingga kini, yang telah mengacaukan hidupnya secara besar-besaran.
"...Mimpi ini lagi, ya. Astaga, berapa tahun, berapa puluh tahun, berapa ratus tahun, sampai kapan pun terus menyiksaku, ya."
Yang masuk ke mata Lilith saat bangun adalah permukaan batu yang dingin.
Saat menegakkan tubuh yang kelelahan dan melihat sekeliling, terlihat gadis cantik berambut perak berdiri diam di depan api unggun.
Yulia mengamati keadaan Lilith sambil menatap dengan cemas.
"Akhir-akhir ini kamu sering mengigau, apa benar-benar tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, kok. Mungkin karena penyembuhan lukanya lambat, aku jadi mimpi aneh."
"Sepertinya terjadi banyak hal di masa lalu, ya."
Hidup dalam pelarian ini sudah memasuki hari ketiga.
Hanya tiga hari, tapi selama menghabiskan waktu bersama, melihat keadaan Lilith yang sering tidur terus, mungkin tidak sulit untuk menebak ada sesuatu yang tersembunyi di dalam dirinya.
"Siapa pun pasti punya masa lalu. Meski ada bedanya apakah itu pahit atau manis."
"Memang benar. Dan, biasanya itu menjadi luka yang tidak bisa diceritakan pada siapa pun."
Yulia mengangguk pelan pada kata-kata Lilith.
Siapa pun punya masa lalu.
Ada kenangan yang ingin dibanggakan pada orang lain, ada juga bekas luka yang tidak ingin disentuh.
"Jadi, kalau hari ini kita keluar dari hutan, di depan sana mungkin kita tidak bisa istirahat lagi."
Mungkin menilai tidak boleh masuk lebih jauh, Yulia mengalihkan topik.
Meski menyadari sikap yang terang-terangan itu, Lilith mengikuti topik itu tanpa berkata apa-apa.
"Benar juga. Kita pasti akan bentrok dengan 'Antitesis Buangan'."
Di tengah api unggun yang bergoyang, ketegangan mulai menyelimuti di antara keduanya.
Waktu istirahat berakhir, waktu untuk melangkah kembali ke kenyataan yang kejam semakin dekat.
Saat ini, tempat mereka berdua istirahat adalah di dalam gua di tengah hutan.
Mereka bergerak sebisa mungkin menghindari pandangan orang, tapi begitu keluar gua dan melewati hutan, sisanya sampai 'Helheim' hanyalah area dataran saja.
Artinya, kemungkinan diserang oleh Iblis pengejar akan menjadi tinggi.
"Dalam tiga hari ini lukaku memang belum tertutup, tapi tenagaku sudah lumayan pulih, jadi mulai sekarang aku juga bisa bertarung."
"Nanti penyembuhan lukanya jadi lambat, lho. Kita bergerak sambil berlari saja sudah berat, jadi pertarungan di depan biarkan aku yang menanganinya."
"......Tapi, kalau cuma monster..."
"Tidak, tenaga harus dihemat."
Dibandingkan hari pertama, tenaga Lilith mungkin sudah kembali, tapi untuk bertarung rasanya masih berat. Jika harus melawan Hajarl lagi, mereka tidak akan menang.
"Saat 'Antitesis Buangan No. I' menghadang lagi, aku tidak bisa menanganinya sendirian, jadi sampai saat itu aku tidak ingin kamu membuang tenaga sia-sia."
"Muu... mau bagaimana lagi, ya."
Lilith memanyunkan bibir dan memalingkan muka dengan kesal.
Sosok itu entah kenapa tidak menunjukkan kewibawaan Ratu.
Malah, seperti penampilannya—memancarkan pesona gadis seusianya yang sedang ngambek.
Melihat reaksi Lilith itu, Yulia tanpa sadar tersenyum masam.
Karena terbiasa dengan sikap yang mengintimidasi dan atmosfer bangsawan, saat diperlihatkan sisi seperti ini, keinginan untuk menggodanya pun hilang dan hanya kata-kata aman yang keluar.
"...Syukurlah kalau kamu mengerti."
Hubungan mereka memang semakin dalam, sampai tak terbayangkan bahwa mereka adalah dua orang yang saling bunuh beberapa hari lalu. Pasti Lilith juga merasakan hal yang sama—setidaknya, itulah yang dirasakan Yulia.
Namun, tetap saja ada satu halangan yang terbentang di antara mereka berdua.
Itu adalah—
"Nah, untuk sarapan hari ini aku percaya diri."
"..................Ya, selamat makan."
Lilith menerima gumpalan daging hitam legam itu dengan ekspresi putus asa.
"Kalau tidak ada ini... padahal aku bisa menerima perasaanmu dengan jujur..."
Lilith menghela napas di depan benda yang terlalu menantang dan provokatif untuk disebut masakan.
Akibat dipaksa mengonsumsi "makanan" yang seperti racun secara berkala, lahir jarak aneh di mana ikatan yang sepertinya akan mendalam malah tidak jadi mendalam.
Hubungan aneh dan menyedihkan itu pun terulang lagi hari ini.
*
Dataran luas diterangi oleh sinar matahari siang.
Padang rumput bergoyang tertiup angin sambil bermandikan cahaya lembut.
Dalam pemandangan tenang itu, tercampur sedikit ketidakwajaran.
Di dalam bayangan rumput yang bergoyang di kejauhan, terlihat pergerakan yang tidak alami.
"...Monster?"
Saat Shion bergumam, Ars yang berlari di sebelahnya mengangkat sudut bibir.
"Bukan, sepertinya beda."
"Hmm, untuk ukuran monster tidak ada pergerakan, namun hawa keberadaannya kuat, itu terlalu tidak wajar."
Pria tua berpenampilan pelayan yang berlari di depan Ars dan Shion membenarkan perkataan mereka sambil mengelus jenggot putihnya.
Di ujung pandangan mereka bertiga, beberapa bayangan bergoyang dengan ritme berbeda seolah melawan angin.
"Pasti Iblis. Tingkat Menengah?"
"Seperti dugaan Ars-sama... mungkin mereka sedang menyergap Ratu."
"Artinya, Yulia dan yang lain belum ketahuan, ya."
"Sepertinya begitu. Namun, tidak salah lagi mereka juga tidak ada di sekitar sini."
"...Kenapa kau bisa memastikan begitu?"
"Ratu tidak mungkin memilih dataran dengan pandangan terbuka sebagai rute pelarian. Andaikan beliau melewati rute ini pun, tidak mungkin mereka yang menyergap masih hidup."
Setelah diberitahu Sebas, Ars pun setuju dengan hal itu.
Ars tidak tahu detail tentang sifat Ratu. Namun, perkataan Sebas yang telah melayaninya bertahun-tahun terdengar meyakinkan.
Mungkin saja, Lilith mirip dengan Yulia. Dia juga pasti tidak akan membiarkan pengejar atau musuh yang menyergap lolos begitu saja.
"Kalau begitu, bagaimana? Apa kita tangkap mereka?"
"Karena waktu sangat berharga, saya rasa tidak perlu. Lagipula cuma Iblis Tingkat Menengah—saya ragu mereka punya informasi."
"Kalau begitu, boleh serahkan padaku?"
"Saya sih tidak keberatan... tapi apa Anda tidak apa-apa sendirian?"
Sebas yang mengurangi kecepatan bertanya sambil berlari sejajar dengan Ars.
Tatapannya mengandung kewaspadaan seolah sedang menilainya, namun di ekspresinya muncul warna ketertarikan.
"Tenang saja, aku tidak berniat menghabiskan waktu. Jangan kurangi kecepatan, kalian ikuti saja aku seperti ini, itu akan sangat membantu."
"Dimengerti. Jika Anda sepercaya diri itu, saya serahkan pada Anda. Semoga beruntung."
"Kalau begitu, sisanya serahkan padaku—'Sonic Speed, Klangfarbe'."
Setelah mengangguk membalas perkataan Sebas, Ars segera merapalkan sihir.
Karena sosoknya menghilang dalam sekejap, Sebas mengerjapkan mata karena terkejut.
Segera terdengar suara pertarungan dari depan.
"Ini... harus bilang apa ya, dahsyat sekali. Dan juga, aneh."
Sebas merasakan kulitnya merinding karena udara yang menegang seiring jarak dengan lokasi Iblis Tingkat Menengah itu memendek.
Hanya sesaat.
Suara angin menghilang, dan keheningan menyelimuti sekitar.
Keheningan yang salah tempat itu menonjolkan keanehan sang bocah laki-laki.
Saat Sebas terus berlari, pemandangan di bawah kaki berganti menjadi sesuatu yang berbahaya.
Iblis Tingkat Menengah tergeletak pingsan.
Dan di depannya, bocah yang tadi menggunakan sihir sudah kembali berlari.
Entah karena sisa-sisa pertarungan masih tertinggal, Sebas merasa sesak napas merasakan hawa dingin yang dipancarkan Ars.
"...Hmm, beliau benar-benar sosok yang tak terukur dalamnya, ya."
"Fufun, iya kan?"
Saat Sebas bergumam kagum, Shion yang bertugas berjaga di belakang bereaksi.
Entah kenapa, padahal bukan dirinya yang dipuji, dia memasang ekspresi bangga.
"Sebas-dono, Ars itu, ya. Kelihatannya egois, tapi sebenarnya dia bocah yang memikirkan orang lain."
Kepada Shion yang tiba-tiba bicara soal kepribadian, Sebas sedikit bingung namun mungkin karena tertarik, dia diam saja mendesak kelanjutannya.
"Dia menghadapi hal yang diminatinya dengan totalitas, tapi tetap tidak membuang rasa main-mainnya. Tapi, demi orang lain—terutama orang yang sudah dia percayai, dia akan mengeluarkan keseriusannya. Dia bocah yang sangat baik."
"Begitu ya, makanya dia tidak ragu mengalahkan Iblis Tingkat Menengah, ya."
"Kali ini karena nyawa Yulia jadi taruhannya. Kalau biasanya, dia akan bertarung sambil mengamati lawan apakah punya sihir yang tidak dia ketahui atau tidak."
"Memang dia sepertinya benci pembunuhan sia-sia, kepribadiannya pasti lembut."
Pandangan Sebas tertuju pada Iblis Tingkat Menengah di bawah kakinya. Meski tergeletak, setiap individu masih bernapas.
"Sebas-dono, apakah kau menganggap poin itu sebagai kekhawatiran—sebagai kelemahan Ars?"
"Sama sekali tidak. Malah, saya merasa itu menakutkan."
Sebas menjawab dengan suara tenang, namun dengan nada tegas.
"Membiarkan hidup atau membunuh tergantung perasaannya sendiri. Artinya, Ars-sama memiliki kemampuan sebesar itu. Meski Tingkat Menengah, ketenangan itu saat menghadapi Iblis... sungguh menakutkan."
"Sebas-dono, kau paham juga, ya. Kebaikan Ars tidak akan jadi kelemahan. Justru, bisa dibilang itu 'sisik terbalik' yang tidak boleh disentuh. Kalau meremehkannya bakal kena batunya."
"Maksudnya kalau meremehkan Ars-dono, kaki kita akan dijegal, begitu?"
"Ya. Lagipula, bukan cuma Tingkat Menengah, lho. Kalau Ars, Iblis Tingkat Atas pun mungkin bisa dilumpuhkan dengan mudah seperti memelintir tangan bayi."
"...Kesempatan itu pasti akan segera datang, jadi saya menantikan hari untuk melihatnya."
Wajar saja jika dalam kata-kata tenang Sebas terkandung harapan.
Karena jelas bahwa pertarungan tak terelakkan melawan 'Antitesis Buangan' menanti di depan.
Jika posisinya bermusuhan mungkin akan terasa sebagai ancaman, tapi karena masa depan melawan 'Antitesis Buangan' tak terelakkan, keberadaan Ars terlihat bisa diandalkan.
"Iya kan, iya kan! Kau boleh berharap pada Ars sebagai kekuatan tempur, lho!"
Shion bersuara riang di sebelahnya. Melihat keadaan itu Sebas memiringkan kepala.
Karena dia tidak bisa mengerti kenapa Shion begitu bangga.
Namun, melihat ekspresi gembira Shion di depan mata, Sebas yang tidak tega merusak suasana hatinya hanya bisa tersenyum basa-basi.
"Sebas-dono, mulai sekarang pun kau akan melihat pemandangan yang mengejutkan. Nantikan saja."
"...Saya benar-benar menantikan itu."
Sebas kembali mengarahkan pandangan penuh harap pada Ars yang berlari di depan.
Dia telah mengumpulkan informasi tentang Ars atas perintah Ratu, namun ada banyak ketidaksesuaian antara data yang diperoleh sebelumnya dengan kesan setelah bertemu langsung.
Meski begitu, ada bagian yang tidak berubah. Itu adalah kesan "bocah misterius" yang menyelimuti Ars.
Meskipun terasa memiliki kedalaman yang tak terukur, sosoknya yang bertingkah ringan juga terlihat seperti manusia biasa. Bahkan Sebas yang telah berinteraksi dengan banyak manusia pun belum bisa memahami esensi Ars sepenuhnya.
Jujur saja, dia sampai merasakan ilusi bahwa jika melawan Ars dia bisa menang.
Dari Ars, sama sekali tidak tercium intimidasi atau hawa khas orang kuat.
Namun, justru itulah penyebab yang bisa dibilang menyeramkan.
Insting membunyikan alarm dan memunculkan keraguan, apakah benar-benar aman jika menantangnya bertarung.
Bahkan Sebas yang sudah makan asam garam pertempuran pun dibuat merasa begitu, itu menunjukkan betapa Ars adalah bocah yang tak terukur kedalamannya.
"Benar-benar bocah yang menakutkan."
Suara hati Sebas yang bocor tanpa sadar tidak sampai ke siapa pun, melebur dan menghilang bersama angin.
*
'Helheim'—Distrik Khusus Elf.
Sebuah sudut di mana penghijauan terbentang luas.
Di distrik itu, berbagai tanaman besar dan kecil ditanam dengan rapi, menciptakan pemandangan indah yang harmonis.
Namun, tanaman-tanaman ini bukan sekadar produk alam.
Bibit dan benih pilihan dibawa dari 'Great Forest', dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh para pengrajin ahli. Terutama tanaman yang disukai para Elf dipilih secara prioritas, sehingga hijaunya yang cerah dan bentuknya yang anggun memberikan kedamaian dan penghiburan bagi hati para Elf.
Di dalam distrik itu, sungai kecil dan kolam tersebar, air jernih membasahi akar tanaman. Selain itu, disediakan juga lapangan tempat para Elf mengadakan ritual dan acara, berfungsi sebagai tempat suci untuk mewariskan budaya dan tradisi.
Dan, sedikit agak jauh dari distrik khusus itu, terbentang area pemukiman para Elf.
Rumah-rumah yang dibuat dengan rumit berjejer, penampilannya selaras dengan alam namun tetap memperlihatkan kebanggaan penghuninya.
Di tempat seperti itulah seorang Elf muncul.
"Oya, tak disangka cukup sunyi, ya."
Verg bergumam sambil melihat sekeliling.
Di belakangnya, menjulang gerbang raksasa aneh yang hanya berupa kerangka tanpa pintu.
Ini adalah salah satu alat sihir kebanggaan 'Asosiasi Sihir', memiliki fungsi unggul yang memungkinkan teleportasi ke tempat tujuan hanya dengan menyentuhnya. Salah satu jenis alat sihir yang sangat efisien, di mana harga kenyamanan itu hanya perlu dibayar dengan konsumsi Mana sebagai biaya tol.
Bangunan yang metode pembuatannya telah ditetapkan seribu tahun lalu ini adalah hasil kolaborasi para penyihir hebat pemilik Gift [Grant] dan [Blacksmith], dan disebut Gerbang Teleportasi.
Perlu dicatat, Gerbang Teleportasi ini adalah salah satu pengetahuan yang dirahasiakan 'Asosiasi Sihir', namun Ratu Hel—yakni Demon Lord Lilith mencuri metode pembuatannya, dan memasangnya juga di markasnya sendiri, 'Helheim'.
Tentu saja, petinggi 'Asosiasi Sihir' mengetahui fakta itu.
Namun, kenyataannya mereka membiarkan situasi ini tanpa protes.
Alasan utamanya berakar pada fakta bahwa 'Helheim' adalah keberadaan yang sangat penting bagi Asosiasi Sihir—tidak, bagi seluruh dunia.
Itu adalah satu-satunya kota yang ada di 'Lost Land', tempat istirahat bagi para petualang, benar-benar seperti oasis di padang pasir.
Jika wilayah ini dilarang dimasuki, sudah pasti aktivitas para petualang akan terkena dampak besar.
Jalur suplai terputus, istirahat pun tak bisa dilakukan—jika kesulitan-kesulitan itu bertumpuk, jelas akan mengancam nyawa para petualang.
Dalam situasi seperti ini, jika Asosiasi Sihir mengambil sikap keras, mereka akan kehilangan kepercayaan para petualang, yang pada akhirnya akan menjadi masalah yang menyangkut wibawa Asosiasi Sihir itu sendiri.
Akibatnya, kenyataannya adalah mereka terpaksa membiarkan keberadaan Gerbang Teleportasi itu secara diam-diam.
Seolah mengejek Asosiasi Sihir yang tidak bisa bersikap tegas, 'Helheim' dengan berani memasang Gerbang Teleportasi di distrik khusus. Kemudian, mereka mengundang negara lain dan mendapatkan dukungan dengan membuat petualangan di 'Lost Land' menjadi lebih mudah, yang hasilnya memojokkan Asosiasi Sihir ke situasi di mana mereka semakin tidak bisa bertindak keras.
Pihak yang pertama kali melompat pada keuntungan itu adalah para Elf dari 'Great Forest'.
Melalui berbagai negosiasi, mereka berhasil mendirikan Distrik Khusus Elf di dalam 'Helheim'.
Berkat ini, para Elf termasuk Verg menjadi jauh lebih mudah untuk pergi dan pulang dari 'Helheim'.
"Ninth Apostle Teisa, saya sudah menunggu Anda."
Yang muncul di hadapan Verg yang sedang mengamati sekitar adalah sesama Elf.
Akan tetapi, ekspresi orang itu tidak terlihat karena tertutup tudung.
Namun, Verg tidak meragukan identitas aslinya.
"Wah wah, Tenth Apostle Ashiora, terima kasih sudah repot-repot menyambut saya."
Setelah mengangguk kecil, Verg melemparkan senyum pada Tenth Apostle Ashiora Shelf.
"Hari ini ada apa... sepertinya keadaannya berbeda dari biasanya, bisakah Anda jelaskan?"
Mungkin karena berumur panjang, Elf bukanlah ras yang terlalu aktif.
Mereka jarang bertingkah ramai seperti manusia, dan keheningan itu memang ciri khas mereka sehari-hari. Namun, bukan berarti mereka sama sekali tidak keluar rumah.
Seperti hari ini, tidak terlihatnya sosok Elf sama sekali di Distrik Khusus Elf adalah pemandangan yang sangat langka.
"Sepertinya para 'Antitesis Buangan' serentak kembali ke 'Lost Land'."
"Ya, saya mendengarnya. Tapi, sayang sekali saya mendengarnya lewat jalur lain, sih."
Sambil mengangkat bahu, Verg melanjutkan kata-kata dengan sedikit sindiran.
"Menyedihkan sekali. Tidak ada satu pun informasi yang dikirimkan dari saudara sendiri. Telinga saya sama sekali tidak mendengar cerita seperti itu, lho. Jadi, karena ingin memastikan apa yang terjadi, dan kebetulan ada urusan lain, saya datang sendiri ke sini."
"Itu bukan hal yang perlu repot-repot disampaikan kepada Ninth Apostle Teisa yang merupakan bagian dari Ten Holy Heavens of Sacred Law, kan. Kalau 'Great Forest' yang diserang itu beda cerita, tapi ini kota Iblis 'Helheim'. Berapa banyak pun kerusakan yang diterima, tidak ada hubungannya dengan kita."
"Memang saya tidak peduli apa yang terjadi pada Iblis. Tapi, saya tetap ingin diberitahu, lho. Tempat ini juga salah satu markas penting bagi kita para Elf. Terlebih lagi, ini tempat di mana banyak saudara kita tinggal."
Saat Verg berkata dengan nada menyalahkan, Shelf menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Saya rasa itu memang kesalahan saya, tapi tenang saja. Evakuasi saudara-saudara kita sudah selesai. Sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."
Melihat Shelf yang memberitahu dengan penuh percaya diri, Verg memutuskan bahwa perdebatan lebih lanjut akan sia-sia.
Lagipula, dia sadar Shelf tidak berniat mengakui kesalahannya kali ini, dan Verg juga memutuskan untuk mundur karena ingin memprioritaskan urusan lain.
Sebenarnya dia ingin memojokkannya sampai minta maaf, tapi seolah berpikir mau bagaimana lagi, dia mengubah topik pembicaraan sambil tetap menempelkan senyum seperti biasa.
"Jika saudara kita aman, tidak masalah. Daripada itu, saya ingin bertanya tentang urusan lain."
"Ah, tadi Anda bilang begitu, ya. Anda datang karena urusan lain, memangnya ada apa?"
"Saya mendapat informasi bahwa 'Saint' Yulia-sama hilang."
"............Itu kabar yang tidak tenang, ya. Jika ada yang bisa saya bantu, saya akan bekerja sama dalam hal apa pun."
"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi, jika situasi 'Helheim' seperti ini, mengirim pasukan pencari pun tidak mungkin."
Verg awalnya berniat menyerahkan pencarian Yulia kepada bawahan pribadinya yang ada di 'Helheim'. Tapi, mereka pun telah dipulangkan ke 'Great Forest' oleh tangan Tenth Apostle Ashiora Shelf. Jika memanggil mereka kembali, itu sama saja Verg membeberkan semua bidaknya kepada Shelf.
Sambil menghela napas dalam hati karena segalanya tidak berjalan lancar, Verg memutuskan bertanya untuk memahami situasi saat ini.
"Jadi, bagaimana situasi 'Helheim'? Lebih sepi dari dugaan, apa kalian berhasil memukul mundur 'Antitesis Buangan'?"
Saat Verg mengunjungi 'Helheim', kejanggalan pertama yang dirasakannya adalah seluruh kota terlalu sunyi untuk ukuran sedang berperang.
"Tidak, saat ini kondisinya buntu. 'Antitesis Buangan' belum bisa menghancurkan dinding yang mengelilingi 'Helheim'."
"Begitu ya. Kalau begitu, ada gunanya juga saya datang ke sini."
Verg tiba-tiba mulai berjalan. Shelf berjalan mendekat seolah mengejar punggungnya.
"Ninth Apostle Teisa, Anda mau ke mana?"
"Saya berniat menggunakan sihir Gift [Barrier] agar gerbang utama 'Helheim' tidak dihancurkan."
"...Tumben sekali. Tak disangka Ninth Apostle Teisa mau melakukan hal sejauh itu demi Iblis."
Jawaban Verg terhadap keraguan Shelf sangatlah singkat.
Sebenarnya, Verg merasa tidak masalah jika keberadaan bernama Iblis itu musnah.
Malah, dia berpikir jika mereka saling hancur dalam pertempuran melawan 'Antitesis Buangan', itu justru menguntungkan karena menghemat tenaga.
"Tapi, kenyataan selalu kejam... Ars-sama sedang menuju ke sini demi menyelamatkan 'Saint'-sama. Padahal dia akan datang, kalau 'Helheim'-nya sudah tidak ada kan tidak lucu. Saya cuma berpikir untuk mencari sedikit poin di sekitar sini, kok."
"Begitu ya. Tapi, bukankah membiarkannya menggunakan Gerbang Teleportasi akan mendapatkan poin kesukaan yang lebih tinggi?"
Sambil berkata dengan nada sindiran, Shelf menatap Verg.
"Itu langkah buruk. Bagi Ars-sama, tingkat kesukaan terhadap saya setara dengan nol. Lagipula, selama perantara saya, Yulia-sama, tidak mengungkapkan identitas asli saya, mendekatinya pun saya tidak bisa."
Verg menghela napas panjang. Di ekspresinya bercampur rasa jengkel dan pasrah.
"Kalau begitu, sampai kapan saya harus terus menunggu? Sampai kapan saya harus menjaga suasana hati 'Saint'-sama dan terus membantu dari bayang-bayang seperti ini? Saya terus memikirkannya, dan sampai sekarang pun belum menemukan jawabannya."
Verg mengekspresikan perasaannya dengan gerakan tubuh yang berlebihan bak aktor panggung.
Shelf yang melihat tingkah itu sedikit mengerutkan kening.
"Mengingat itu Saint-sama, bukankah beliau akan mengungkapkan identitas aslinya ketika waktu yang tepat tiba? Bagaimana kalau Anda menunggu sebentar lagi? Atau, mungkin lebih cepat jika bertanya langsung pada orangnya."
"Inginnya sih begitu, tapi saya tidak bisa merusak suasana hati Saint-sama. Karena itu, kita hanya bisa terus mengasah taring. Sampai tiba saatnya kita menyelesaikan urusan dengan Asosiasi Sihir nanti."
Sambil bertukar percakapan seperti itu, mereka terus melangkah, melewati Distrik Khusus Elf dan keluar ke jalan utama.
Jalanan 'Helheim' yang biasanya ramai terlihat, namun hari ini tentu saja sunyi. Sosok petualang terlihat jarang-jarang, dan keaktifan mereka tampak tertahan.
Sejak awal, karena anak-anak dipisahkan di distrik lain di Kota Iblis, lalu lalang orang jarang terlihat ramai, tapi hari ini kesunyian terasa sangat mencolok.
Di tengah situasi itu, sekelompok orang yang berlarian sibuk di ujung jalan menarik perhatian Verg dan rekannya.
"Itu..."
"'Weltschmerz Guild' yang dipimpin Demon Lord Lilith, lho."
"Kebetulan sekali mereka ada di 'Helheim', ya."
Saat Verg bergumam sambil mengirimkan tatapan dingin, Shelf juga mendengus kecil dan memberikan penjelasan.
"Menarik, lho. Entah kenapa, sekarang sepertinya mereka menjalin hubungan aliansi dengan 'Helheim'. Tampaknya mereka bersama-sama melindungi kota dari serangan 'Antitesis Buangan'."
"Ratu memikirkannya dengan baik, tapi bagi kita yang tahu sisi baliknya, mereka hanya terlihat menyedihkan."
Dalam tatapan Verg bercampur warna cemoohan.
Baik para Iblis yang berafiliasi dengan 'Helheim', maupun anggota 'Weltschmerz Guild' yang tidak menyadari kebenaran bahwa Demon Lord Lilith adalah Ratu Hel, bagi Verg hanyalah keberadaan yang bodoh.
Jika mereka tahu identitas asli Demon Lord Lilith, reaksi apa yang akan mereka tunjukkan—membayangkan momen itu memang memancing ketertarikan, tapi Verg berpikir kemungkinan hal itu menjadi kenyataan sangatlah rendah.
Alasannya, selain kepercayaan yang tebal terhadap Ratu Hel, takdir yang dipikul ras Elf—kebencian yang diterima dari ras lain membuat dinding itu semakin tinggi.
Elf pada dasarnya tidak mengakui ras lain.
Hanya di lingkungan kejam seperti 'Lost Land' inilah mereka mentoleransi keberadaan kota Iblis 'Helheim' karena dianggap berguna, namun begitu melangkah keluar, Iblis langsung menjadi target pembasmian.
Kesepakatan ini dipimpin oleh Elf, dan karena itulah mereka dikecam sebagai "tidak tahu malu" bukan hanya oleh Iblis, tapi juga oleh ras Manusia dan Beastkin.
Namun, para Elf tidak merasa terganggu dengan penilaian itu, malah cenderung memandang rendah ras lain.
Verg juga, sebagai salah satu anggota ras Elf, sangat memahami kenyataan itu.
Di tengah situasi itu, kelompok 'Weltschmerz Guild' yang terpantul di mata Verg tampak sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
Demi mengetahui jawaban apa yang sedang mereka lakukan, Verg ditemani Shelf berjalan cepat menuju gerbang utama.
Di tengah atmosfer sibuk yang menyelimuti, Verg menaiki tangga tembok kota di mana dia bisa melihat kondisi luar.
"Pria Iblis di sana—tidak, Anda, ada sedikit yang ingin saya tanyakan, bolehkah?"
Sikapnya sangat sopan, namun mungkin bagi Iblis itu tak terduga, pria yang disapa itu membelalakkan mata karena terkejut.
"Elf masih ada yang tersisa? Kudengar semua sudah ditarik ke 'Great Forest'... jangan-jangan, kalian terlambat lari?"
"Tidak, bukan terlambat lari, tapi kami sengaja tinggal sendiri. Kami pikir mungkin bisa sedikit membantu."
"Itu patut disyukuri sih... tapi tumben sekali bagi seorang Elf."
Elf bertindak demi ras lain, terutama bagi Iblis yang sehari-hari menerima diskriminasi ras, adalah hal yang mustahil.
Sebab, sikap Elf yang memandang rendah ras lain, tak terbatas pada Iblis, adalah fakta umum, dan prasangka akibat perbuatan mereka selama ini juga mengakar kuat.
Namun, bagi Verg, dia tidak merasa perlu meluruskan prasangka semacam ini.
Di latar belakangnya terdapat harga diri dan perhitungan Elf sendiri, dan dia sama sekali tidak berniat menjelaskan demi menunjukkan keagungan ras Elf di masa depan.
"Daripada itu, bisakah Anda beri tahu apa yang terjadi?"
"...Ah, salah satu dari 'Six Desire Heavens Stern' telah dibunuh oleh 'Antitesis Buangan'."
Pria Iblis itu memberitahukannya dengan penyesalan dan tampak agak sedih.
"Itu sungguh... tak disangka satu sudut 'Six Desire Heavens Stern' runtuh. Apakah dia maju sendirian?"
"Hmm... yah, kalau kau bolehlah diberitahu, meski tidak bisa dikatakan keras-keras..."
Memperhatikan sekitar, pria Iblis itu mendekati Verg dan merendahkan suaranya.
Terhadap tindakan itu, Verg mundur selangkah.
Akibat pendekatan tiba-tiba itu, instingnya sebagai Elf memunculkan rasa waspada.
Biasanya, dia akan murka atas pelanggaran jarak ini, namun Verg tetap mempertahankan senyumnya.
Sekarang mendapatkan informasi demi Ars adalah prioritas utama—perasaan itulah yang membuatnya tetap tenang.
"Orang yang mengurus intelijen di dalam 'Six Desire Heavens Stern' dibunuh. Kepercayaan Ratu padanya tebal, tapi sepertinya dia tidak cocok untuk pertarungan. Kalau lawannya 'Antitesis Buangan', wajar saja dia kesulitan."
"Begitu ya, yang menangani intelijen di 'Six Desire Heavens Stern' adalah..."
Verg memberi isyarat mata pada Shelf.
Karena yang mengurus intelijen di Sepuluh Langit Hukum Suci adalah Tenth Apostle Ashiora Shelf.
"Ya, itu pasti sosok bernama Nirmana yang menduduki ‘Kerakuten, Seku'."
"Hee~, kalian tahu sekali ya. Benar orang itu."
Dengan konfirmasi dari Iblis itu, pencocokan jawaban selesai.
Namun, kedua Elf itu juga menerima fakta bahwa Nirmana dari 'Kerakuten, Seku' dikalahkan sebagai hal yang wajar. Alasannya, 'Antitesis Buangan' berisi orang-orang kuat yang bertahan hidup di lingkungan yang lebih kejam daripada 'Six Desire Heavens Stern'.
'Antitesis Buangan' selalu menempatkan diri di dunia di mana yang kuat memakan yang lemah dan terus mengasah kemampuan, sedangkan 'Six Desire Heavens Stern' hanyalah mereka yang dibesarkan dengan nyaman di dalam rumah kaca di bawah perlindungan Ratu Hel.
Karena itu, jika dia bertindak sendirian dan tertangkap, tidak mungkin dia bisa lolos, dan dibunuh pun adalah hal yang wajar.
Itulah sebabnya Demon Lord Lilith mungkin mengirimkan anggota guild-nya.
Keputusan itu sepertinya tepat.
Berkat kekuatan pertahanan yang memadai, 'Helheim' belum jatuh.
Meski begitu, kecemasan tetap tersisa. Karena pertempuran belum berakhir.
Dari atas tembok kota pun bisa dipastikan bahwa para 'Antitesis Buangan' sedang mengincar dengan penuh nafsu untuk menghancurkan dinding tebal itu.
"...Hmm, jika menerima serangan lebih dari ini, sepertinya akan jatuh ke situasi sulit."
Verg melihat ke bawah, memastikan beberapa bagian tembok kota yang runtuh.
Meskipun dilindungi sihir, dinding yang telah melindungi dari serangan monster selama dua ratus tahun itu pun mungkin tidak tahan jika diserang secara terus-menerus seperti ini.
"Runtuh pun hanya masalah waktu. Kalau bisa menahan dua kali lagi, tidak, sekali lagi saja, itu sudah bagus."
"Kalau begitu, kedatangan saya ada gunanya."
Menanggapi perkataan Shelf, Verg menyentuh tembok kota.
Saat Mana-nya dilepaskan dengan kekuatan yang sangat besar, sensasi seolah udara bergetar menyebar.
"Penjara seribu tahun yang tidur di dalam jurang. Besi fajar yang mengelilingi samsara. Cincin baja yang menolak kehancuran. Pengikat hukum yang menenangkan kekacauan. Ikatlah badai, hubungkan bumi, jadilah delapan lapis dinding yang menopang langit. Berdirilah menghadang musuhku, jadilah rantai besi yang menolak segala bencana."
Lingkaran sihir raksasa muncul, dan pola rumit menyebar seolah meresap ke dalam tembok kota.
Secara visual tidak ada perubahan khusus, namun bagi mereka yang menyentuh tembok atau berada di tempat itu pasti merasakan perubahan yang jelas.
Sesuatu seperti selaput tipis menutupi tembok kota, dan bagi siapa pun yang bisa merasakan Mana meski sedikit, pasti menyadari bahwa itu adalah barrier yang kuat.
"Ini sungguh... barrier yang kuat, ya."
Shelf menendang tanah pelan dengan ujung kaki, bergerak seolah memastikan kekuatan barrier tersebut.
Kemudian dia menjatuhkan bahu seolah tak habis pikir, dan mengarahkan pandangan pada Verg.
"Apa perlu sampai sejauh ini?"
"Ars-sama pasti akan menyadarinya. Beliau itu sangat menyukai sihir, jadi jika melihat 'Barrier' saya ini, saya yakin beliau pasti akan tertarik."
"...Tapi, kalau itu Gift Langka sih masih masuk akal, tapi itu Gift Keturunan, kan? Lagipula, Gift yang mirip dengan [Barrier] ada banyak. Sihir ini memang kuat, tapi bukan sesuatu yang istimewa atau langka, kan?"
"Tidak apa-apa. Jika beliau tertarik, mungkin saya bisa menjadikannya pijakan untuk mendapatkan cara mendekati Ars-sama secara langsung tanpa perantara Saint-sama."
"Jadi ini batu loncatan demi masa depan, ya..."
Shelf mengangguk seolah menerima penjelasan Verg.
"Benar. Tumpukan kecil akan membentuk masa depan. Karena itu, situasi kali ini ibarat pucuk dicinta ulam tiba—mungkin saya harus sedikit berterima kasih pada para Iblis."
(TLN: pucuk dicinta ulam tiba artinya mendapat lebih dari yang diharapkan)
Saat itu, Verg menyadari suasana ribut di luar.
Di bawah sana, hawa bahwa para 'Antitesis Buangan' mulai bersiap menyerang lagi terasa pekat.
"'Antitesis Buangan', kuharap kalian mau menjadi batu pijakanku."
Hanya dengan tersenyum, Verg menatap ke bawah pada para 'Antitesis Buangan' yang bergerak di luar tembok kota.
*
Satu-satunya kota besar yang ada di 'Lost Land', 'Helheim'.
Tembok kota raksasa memancarkan keberadaan yang luar biasa, namun di beberapa tempat kemegahannya telah runtuh.
Asap hitam membumbung dari bagian yang runtuh, berputar seolah merembes dari celah puing-puing dan menghilang ke langit. Asap itu memancarkan hawa fana, seolah mengejek kekokohan masa lalu.
Sisa-sisa batu yang runtuh berserakan kasar di tanah, dan di sekitarnya dipenuhi bau hangus yang bisa disebut sisa pertempuran.
Meski begitu, kemegahan kota besar yang dilihat dari atas bukit kecil belum hilang.
Terlebih lagi, atmosfer putus asa yang menyelimuti sebelumnya telah lenyap dalam sekejap.
Perubahan udara itu juga dirasakan oleh 'Antitesis Buangan No. I'.
"...Apa katamu? Barrier dipasang?"
Dari markas yang dibangun di atas bukit, Hajarl menatap tajam ke arah tembok kota.
"Di saat begini ada gangguan..."
Dia duduk dalam di kursi, menghela napas sambil memancarkan kekesalan.
Sambil menempelkan tangan di dahi, Hajarl menengadah ke langit.
Itu tidak bisa ditembus.
Sihir barrier kuat yang muncul tiba-tiba—tidak jelas mengapa penyihir yang menggunakannya muncul, tapi jelas bahwa untuk menghancurkan barrier itu akan dibutuhkan pengorbanan besar.
"Kalau kondisiku prima sih tidak masalah..."
Mengingat lukanya sendiri yang belum sembuh total, rasa tidak sabar semakin memuncak.
Meskipun menggunakan sihir penyembuhan dan penyembuhan alami khas Iblis secara bersamaan, dia masih belum pulih sepenuhnya.
Lagipula, setelah luka ini sembuh, pertarungan penentuan dengan Ratu Hel menanti.
"Wanita itu bukan lawan yang bisa dikalahkan sambil lalu. Di sini tidak ada pilihan selain mundur."
"Yakin? Padahal tinggal selangkah lagi temboknya runtuh, lho."
Yang mempertanyakan keputusan itu adalah 'Antitesis Buangan No. II' Dovie.
Sambil menggoyangkan gelas anggur, dia bertanya seolah itu urusan orang lain.
"Ratu Hel dan Sebas absen, tapi tembok pun tak bisa diruntuhkan. Ditambah lagi barrier itu. Aku hanya memutuskan bahwa tertahan di sini lebih lama lagi adalah buang-buang waktu."
"Baru tiga hari, lho. Baru tiga hari berlalu. Dari dulu aku penasaran, apa yang membuatmu begitu terburu-buru?"
'Helheim' telah bertahan selama dua ratus tahun di lingkungan keras 'Lost Land'. Untuk menembus pertahanannya dan menghancurkan kota itu, Dovie secara tersirat menyalahkan bahwa tiga hari adalah waktu yang terlalu singkat.
"Dovie. Seharusnya dinding itu bisa diruntuhkan di hari pertama."
"Hoh? Jadi kau ingin bilang kami ini tidak becus?"
Meletakkan cangkirnya, tatapan Dovie menajam.
"Pertama-tama, hilangnya No. III dan 'Antitesis Buangan' lainnya, serta kau sendiri yang terluka membuat rencana sangat kacau. Lalu, fakta bahwa banyak Iblis Tingkat Menengah dihabisi oleh guild Mahkota Kedua Demon Lord juga salah satu alasannya."
Mengambil napas sejenak, Dovie melanjutkan.
"Tapi ya, penyebab utamanya adalah kau memaksakan rencana ini. Jadi aku tanya sekali lagi—kenapa kau begitu terburu-buru?"
"Tidak ada waktu."
"...Apa maksudnya?"
Dovie mengerutkan kening mendengar jawaban singkat itu.
"Kau tahu kan aku bekerja sama dengan manusia dan terlibat dalam 'Penciptaan Iblis'?"
Hajarl berkata dengan suara rendah.
Dia mengincar peningkatan kekuatan tempur 'Antitesis Buangan', bekerja sama dengan sebagian Asosiasi Sihir dan menyentuh satu dari Tiga Tabu Besar.
Dia melakukan transaksi menyerahkan penduduk desa dan kota yang diserang di 'Dunia Luar' kepada manusia yang diajak kerja sama, dan sebagai gantinya menerima Iblis Tingkat Menengah—meski produk gagal. Dan sebagai imbalannya, dia membangun hubungan kerja sama dalam bentuk meminjamkan sebagian anggota 'Antitesis Buangan'.
"Aku sudah terima laporannya. Kalau tidak salah, ajudan Demon Lord bernama Christof... kudengar dia mati beberapa bulan lalu."
"Hoh, kau ingat sekali ya."
"Tentu saja. Rencana menambah saudara dengan 'Penciptaan Iblis' itu dikerjakan bersama oleh seluruh 'Antitesis Buangan'. Lagipula, aku juga mengirim bawahanku."
Dovie melanjutkan kata-katanya dengan tenang.
Dari gaya bicaranya, terlihat bahwa dia memahami seluruh gambaran rencana dengan akurat.
"Tapi... dengan laporan terakhir dari No. VIII, semuanya berakhir."
Ada sedikit kekesalan yang merembes dalam kata-kata terakhirnya.
Hajarl juga memahami perasaan Dovie.
Malah, bisa dibilang yang paling antusias dengan rencana 'Penciptaan Iblis' adalah Dovie sendiri. Alasannya, Dovie mengincar kursi 'Antitesis Buangan No. I' dan mencurahkan tenaga untuk memperkuat faksinya sendiri. Artinya, dalam mendorong rencana tersebut, Dovie telah memberikan kontribusi besar.
Tentu saja, tidak semuanya positif. Iblis yang diciptakan lewat 'Penciptaan Iblis' memiliki kelemahan berupa 'Mana Deficiency'. Namun, jika mengesampingkan hal itu, kemampuan dan sifat mereka hampir tidak berbeda dengan Iblis biasa.
Terlebih lagi, melalui transaksi dengan Christof, organisasi mendapatkan banyak Iblis Tingkat Menengah sebagai bawahan, sehingga memperkokoh fondasi organisasi secara keseluruhan. Dan pada saat yang sama, faksi Dovie pun semakin kuat. Waktu itu suasana hati Dovie sangat bagus—Hajarl masih bisa mengingat keadaannya saat itu dengan jelas.
Namun, kematian Christof membuat rencana itu hancur.
"Kalau begitu, kau pasti paham. Sejak saat itu segalanya mulai kacau. Aku mencoba merevisi rencana, tapi kejadian tak terduga terus terjadi."
Monster Spesial No. 3 'White Wolf Fenrir' meninggalkan Gunung Kembar, menyebabkan kekacauan di 'Helheim'. Memanfaatkan momen itu, Hajarl berniat melemahkan kekuatan tempur Ratu Hel, tapi malah kehilangan banyak 'Antitesis Buangan'.
"Jadi hanya masalah waktu sebelum Ratu Hel mencium rencana kita—tidak, Ratu Hel pasti sudah sadar. Makanya, dia memanfaatkan pihak ketiga dengan baik untuk membereskan 'Antitesis Buangan'."
"Maksudmu, dia mengambil langkah untuk bertaruh sebelum rencana hancur total. Begitu?"
"Benar. Ratu Hel menggunakan pihak ketiga untuk menggerus kekuatan kita. Aku bermaksud membalas dendam untuk itu dengan cara yang setimpal, tapi..."
"Kalau dilihat hasilnya, Ratu Hel lolos, kau terluka dan keluar dari garis depan, 'Helheim' gagal ditaklukkan, mundur tanpa hasil—tidak, cuma dapat kepala 'Kerakuten, Seku' Nirmana ya... terlalu murah sebagai ganti kehilangan yang kita alami."
Dovie tertawa sinis seolah tak habis pikir, lalu menenggak cangkir berisi arak, namun saat sadar isinya kosong, dia melemparnya ke tanah karena kesal.
"Bagaimana dengan pengkhianat mencurigakan itu? Tidak bisa minta kerja sama kali ini?"
"Sekarang tidak ada kontak. Lagipula, hubungan dengan dia ada karena keberadaan Christoph."
"Apa kita dikhianati?"
"Dia memang orang yang mencurigakan, tapi sebelum bicara pengkhianatan, dia bukan kawan atau lawan siapa pun. Lagipula mitra bisnisnya bukan cuma kita. Kalau pihak kita tidak benar-benar unggul, sulit mendapatkan kerja samanya biarpun dikontak."
"Mungkin terlalu banyak taktik, tapi kekalahan kali ini bisa dibilang karena terlalu mengandalkan orang luar."
"Meski begitu aku berhasil menancapkan pasak. Tidak semuanya sia-sia."
Menodongkan kenyataan bahwa bahkan 'Helheim' pun tidak aman, dia berhasil menanamkan ketakutan akan 'Antitesis Buangan' secara mendalam pada para Iblis yang terbiasa hidup damai.
"...No. I belakangan ini jadi banyak bicara omong kosong—yah, karena sudah tahu alasanmu buru-buru, ya sudahlah. Lalu, mau apa setelah ini? Benar-benar ada gunanya mundur di sini?"
"Ada gunanya. Perlu untuk kembali ke niat awal."
Tidak ada keraguan di mata Hajarl. Dia tampak yakin pilihannya benar.
Melihat sosok itu, Dovie melipat tangan dan menghembuskan napas kasar dari hidung.
"Niat awal itu sikap yang patut dipuji. Apa boleh dipercaya?"
"Ke depannya fokus incar Ratu saja. Akhirnya dapat info juga."
Hajarl melirik sekilas ke arah sosok 'Antitesis Buangan No. V' yang dulunya ditawan oleh Elf.
"Hoh, kirain ke mana, ternyata dibawa keliling oleh No. I ya."
Dovie menyipitkan mata tertarik, sementara 'Antitesis Buangan No. V' menunduk hormat dengan sopan.
"Lama tidak berjumpa, Dovie-sama."
"Kudengar kau ditangkap Elf... tidak diapa-apakan kan?"
"Entahlah. Sejak awal saya sudah diotak-atik Ratu Hel-sama, jadi kalau ditambah satu atau dua jebakan belum tentu sadar."
"Setidaknya, sudah dikonfirmasi kalau Gift [Farsight] aman."
Yang memotong pembicaraan mereka adalah Hajarl.
"Makanya, tadi kau bilang sudah dapat info... tapi, dia ini 'Antitesis Buangan' yang dikirim Ratu, kan. Bukannya informasi kita juga bocor sepenuhnya?"
'Antitesis Buangan No. V' memiliki Gift Standar [Farsight].
Meskipun standar, kelangkaannya bukan main-main. Memang tidak setara dengan Gift Langka, tapi tingkat kemunculannya lebih rendah dari Gift Keturunan, menjadikannya Gift yang sangat bernilai.
Terlebih lagi, karena dia diperbudak oleh Ratu Hel, "sudut pandang"-nya dibagikan, sehingga dia dianggap sangat berbahaya.
Alasannya, itu adalah salah satu dari sedikit Gift yang tidak terpengaruh oleh Miasma bahkan di 'Lost Land'.
"Ya, karena itu—aku akan membereskannya di sini."
Hajarl berdiri, mencengkeram senjatanya, dan berjalan mendekat dengan tenang.
"'Antitesis Buangan No. V'. Sekarang, aku bebaskan kau dari pasak Ratu."
"Hah?"
Saat keraguan terlontar, kepala 'Antitesis Buangan No. V' melayang membentuk busur tinggi di langit biru.
Ditarik gravitasi, kepala itu menggelinding di tanah dengan suara tumpul, matanya masih terbelalak menatap Hajarl.
Namun, ekspresi Hajarl yang menatapnya ke bawah menyunggingkan senyum dingin.
"Ratu. Tunggulah, aku akan segera menjemputmu."
Melirik sekilas pada mata yang telah kehilangan cahaya itu, Hajarl kembali duduk di kursi seolah kehilangan minat.
"...Dengan ini 'Antitesis Buangan' berkurang lagi, ya. Tapi, apa tidak apa-apa? 'Antitesis Buangan No. V' memang mengganggu, tapi kita juga memanfaatkan Gift miliknya, kan."
"Kita sudah tidak perlu 'Antitesis Buangan No. V' lagi. Justru, ke depannya dia akan menjadi beban bagi kita."
'Antitesis Buangan No. V' adalah Iblis yang diserahi tugas oleh Ratu Hel untuk mengawasi 'Dunia Luar'—wilayah umat manusia.
Tentu saja, selain itu dia juga memikul peran mencari tahu pergerakan 'Antitesis Buangan' yang diasingkan dari 'Lost Land'.
Ratu Hel memperbudak 'Antitesis Buangan No. V' yang memiliki Gift [Farsight], dan memanfaatkan kemampuan itu untuk mengawasi 'Antitesis Buangan'.
Terhadap situasi ini, Hajarl dan para 'Antitesis Buangan' lainnya merasa jengkel, namun di sisi lain ada banyak situasi di mana mereka bisa menikmati manfaat dari [Farsight], sehingga keberadaan 'Antitesis Buangan No. V' menjadi berharga.
Namun, dengan kejadian kali ini, jelas sudah bahwa hubungan 'Antitesis Buangan' dan Ratu Hel telah pecah sepenuhnya. Sudah tidak ada alasan membiarkan 'Antitesis Buangan No. V' hidup, dan demi memutus pasak Ratu Hel, Hajarl membereskannya.
"Bukankah sebaiknya dibebaskan saja secara normal dari 'Perbudakan' Ratu Hel?"
"Masalah dari 'Perbudakan' adalah pihak ketiga tidak bisa memastikan apakah sudah lepas atau belum."
Meskipun diperbudak secara paksa, bukan berarti tidak ada cara melepasnya.
Sebagaimana ada Gift penyembuh luka, ada juga Gift yang bisa menghalau kutukan atau belenggu.
Namun, jika ada perubahan pada penampilan fisik, keberhasilan pengobatan bisa dipastikan, tapi kalau urusan mental, terpaksa harus bergantung pada pengakuan orang yang bersangkutan.
"Walaupun 'Antitesis Buangan No. V' mengaku sudah bebas, kita hanya bisa mempercayainya. Tidak ada cara memastikan kebenarannya selain Ratu Hel sendiri. Selama kesetiaannya ada pada Ratu, tidak ada jalan pembebasan yang pasti selain membunuhnya."
"Kalau begitu, demi tidak menambah korban lebih banyak lagi, kita harus segera membereskan Ratu Hel, ya."
Dovie bersikap keras terhadap ras lain, namun karena pernah menyebut dirinya "Raja", dia memiliki sisi toleran terhadap sesama Iblis.
Karena itu, saat membebaskan Iblis di 'Helheim' pun, dia mungkin ingin menghindari situasi di mana mereka dibantai oleh Hajarl.
"Tadi kau bilang, kau sudah dapat informasi Ratu, kan?"
"Katanya sekarang ada di Distrik 28. Aku sudah mengirim Iblis Tingkat Menengah ke sana. Selain itu tenang saja. Kalau tidak mengganggu, aku tidak berniat repot-repot membunuh saudara sendiri."
Tujuan Hajarl bukan mengurangi jumlah Iblis.
Membebaskan Iblis yang terikat oleh Ratu adalah hal yang dia tuju.
"Kalau begitu, jika kita menarik diri dari sini, bagaimana kalau kita juga menuju ke sana?"
Dovie berdiri dari kursi, tapi Hajarl menggeleng dan menahannya dengan tangan.
"Tunggu. Ada yang mau kubicarakan."
"Apa?"
Dovie kembali duduk sesuai arahan, menunggu kata-kata Hajarl dengan minat.
"Ada hal yang ingin kuminta kerja samanya. Lagipula, menurutmu untuk apa aku membereskan 'Antitesis Buangan No. V'?"
"Hmm... kalau begitu, maksudnya mulai dari sini rahasia?"
"Ya. Sebentar lagi No. IV akan kembali. Setelah menjelaskan pada kalian berdua, kita mulai persiapan mundur."
"Kalau begitu, mari kita tunggu sebentar lagi."
Dovie mengangkat tangan ringan.
Hanya dengan itu bawahannya paham, segera menyiapkan cangkir dan menuangkan arak.
"Lalu No. I. Bagaimana dengan Ratu?"
"Aku sudah mengirim No. VII dan No. VIII. Mungkin cuma bisa menahan sebentar, tapi untuk sekarang itu cukup."
Hajarl merebut cangkir Dovie, lalu menenggaknya sekaligus.
Dovie hendak protes, namun Hajarl mengabaikannya dan menimpali dengan suara berat.
"Ratu mungkin berpikir segalanya berjalan sesuai rencananya, tapi yang menang di akhir adalah aku."
Sambil menyunggingkan senyum yang dalam dan kelam, Hajarl membenamkan tubuhnya diam-diam di kursi.
*
"Di depan sana ada yang sedang bertarung."
"Nona... tidak, Ratu, ya?"
Yang memanggil Ars saat terus berlari adalah Sebas. Dalam suaranya terkandung nada yang terdengar agak gembira.
Meskipun baru saja mengalami luka berat beberapa hari lalu, sosoknya yang bisa mengikuti Ars dan Shion dengan biasa menunjukkan betapa tingginya daya pemulihan seorang Iblis.
Meskipun begitu, dia belum pulih sampai taraf bisa bertarung, dan sepertinya tidak benar-benar sembuh total seperti penampilannya.
"Tapi, di mata saya ini bahkan bayangannya pun belum terlihat. Ternyata Gift [Hearing] itu memang hebat, ya."
"Yah, waktu dikurung dulu cuma mendengarkan yang jadi hiburanku. Kalau soal suara, aku tidak berniat kalah dari siapa pun."
Entah karena tidak keberatan dipuji, Ars menggaruk pipi dengan jari sambil terlihat agak malu.
"Ternyata benar bahwa lingkunganlah yang membesarkan seseorang. Saya juga, 200 tahun lalu tidak sekuat sekarang. Waktu awal membangun desa bersama Ratu di 'Lost Land', saya sama sekali tidak berkutik melawan monster."
"Hee~, hebat juga kau bisa selamat."
"Karena saya Iblis, itu berkat tubuh yang lebih tangguh daripada manusia. Meski terluka, saya tidak menderita luka yang mengancam nyawa."
"Itu hebat. Nanti setelah menolong Yulia dan yang lain, beritahu aku sihir macam apa yang kau pakai. Aku juga ingin minta tanding."
"Justru saya yang ingin meminta hal itu. Saya ingin sekali melihat sihir dari orang yang dijuluki 'Essence of Magic, Mimir'."
"Tadi kan sudah kubilang, aku bukan orang aslinya. Aku cuma mengaku-ngaku begitu untuk memancing keluar 'Essence of Magic, Mimir'."
"Begitu ya... mari kita anggap saja begitu."
Melihat senyum penuh arti Sebas, Ars mengangkat bahu ringan.
Shion yang berlari di belakang mereka memasang ekspresi tak habis pikir melihat tingkah itu.
"Dua orang ini benar-benar jadi akrab ya..."
Sepanjang jalan, Ars dan Sebas terus bertukar percakapan.
Sebas bertanya dengan penuh minat tentang sihir macam apa yang digunakan dan latihan seperti apa yang dijalani Ars.
Di sisi lain, Ars juga tidak hanya menjawab pertanyaan Sebas, tapi juga menanyakan hal-hal yang dia minati satu per satu.
Tumpukan interaksi itulah yang mungkin membangun hubungan kepercayaan aneh di antara mereka.
"Kalau begitu, aku duluan bergabung dengan Yulia."
"Hmm... apa mereka kewalahan?"
"Tidak, sepertinya tidak ada tanda-tanda begitu, tapi jaga-jaga kalau terjadi sesuatu."
"Dimengerti. Kalau begitu, saya titip Ratu ya."
Sebas membungkuk dengan luwes sambil berlari, Ars mengangguk ringan dan mengarahkan pandangan ke depan.
Menilai dari suara, situasi Yulia dan yang lain tidak mendesak.
Terasa ada keleluasaan dalam gaya bertarung Yulia.
Namun, kekhawatiran "jaga-jaga" itu membara di lubuk hati Ars.
"'Sonic Speed, Klangfarbe'."
Sosok Ars menghilang dalam sekejap, berakselerasi menuju ufuk.
Sambil menatap punggung itu pergi, Sebas membuka mulut dengan kagum.
"Cepat seperti biasa. Tapi, [Light] melampaui itu, kan?"
"Benar. Kalau ahlinya mungkin bisa menangkap bayangan Ars, tapi kalau lawannya Yulia, kepala mereka sudah putus sebelum itu."
"Itu menambah lagi rasa tidak sabar untuk bertemu Yulia-sama."
Meninggalkan percakapan Sebas dan Shion di belakang, Ars berlari secepat kilat membelah dataran.
Cakrawala sejauh mata memandang.
Di bawah matahari yang menggantung di tengah langit, rerumputan bergoyang tertiup angin, menyebarkan aromanya dengan nyaman.
Monster yang membaur dalam pemandangan damai itu kehilangan nyawa setiap kali Ars lewat. Memikirkan keselamatan Sebas dan Shion yang mengejar di belakang, Ars tidak lalai melakukan pembasmian.
Akhirnya, sosok Yulia dan yang lain masuk ke pandangan.
Bangkai Iblis Tingkat Menengah berserakan mengelilingi mereka.
Masih ada dua ekor yang menyerang Yulia dan rekannya.
Tanpa ragu Ars menambah kecepatan, dan langsung melepaskan tendangan keras ke satu Iblis Tingkat Menengah.
Akibat penyusup tiba-tiba itu, bukan cuma Iblis Tingkat Menengah, Yulia pun membelalakkan mata karena terkejut dan tercengang.
"Yulia, aku tidak kagum kalau kau lengah di tengah pertarungan, lho."
Setelah berkata begitu, Ars menghantamkan tinju ke rahang Iblis Tingkat Menengah yang tersisa terakhir, membuatnya pingsan.
Melihat gerakan yang brilian itu, Yulia menatap sosok Ars sambil kebingungan.
"A-Ars... kah?"
"Memangnya kelihatan seperti siapa lagi."
"Eh, kenapa ada di sini...?"
Entah bingung atau bagaimana, melihat keadaan Yulia yang tak seperti biasanya itu, Ars tersenyum masam.
"Syukurlah kau terlihat sehat."
Dengan perasaan lega dari lubuk hati, Ars memeluk Yulia.
"Hya, hya!? A, Ars!?"
Wajah Yulia memerah dalam sekejap, dia menggelengkan kepala sekuat tenaga berusaha memahami situasi.
Namun, karena bingung, dia berada dalam kondisi tidak tahu harus bicara apa.
Yang mengulurkan tangan pertolongan pada gadis itu adalah wanita yang sejak tadi diabaikan.
"Anu... apa saya diabaikan?"
Suara pelan menyela, dan Ars mengarahkan pandangan ke pemilik suara.
Di sana, ada sosok Lilith yang duduk di tanah sambil tersenyum masam.
"Kau... Demon Lord Lilith, ya. Sudah lama sejak pesta perayaan waktu itu."
"Ara, kau sadar identitas asli saya?"
"Tidak, aku baru sadar kalau 'Suara'-nya sama setelah bertemu begini."
"..................Cara identifikasi yang aneh, ya. Baru pertama kali saya bertemu pria seperti ini."
"Aku bangga punya 'Telinga Bagus' soalnya. Ngomong-ngomong, kau terluka?"
"Begitulah. Tadinya luka berat, tapi sekarang sudah bisa dibilang luka ringan."
"Biar kubantu."
Setelah berkata begitu, Ars melepaskan pelukannya pada Yulia terlebih dahulu.
Namun, menyadari tenaga hilang dari tubuhnya, saat dia buru-buru hendak menopangnya—
"Kyuu..."
Dengan suara yang manis, Yulia pingsan di tempat.
Lilith yang melihat keadaan itu memasang ekspresi setengah tak habis pikir, setengah tersenyum maklum.
"Perawatan Yulia-san kuserahkan pada kalian. Kalau aku—"
Lilith memutus kata-katanya sejenak, mengarahkan pandangan ke dua bayangan yang mendekat.
"Berniat menyerahkan diri pada Sebas."
"Nona! Syukurlah Anda selamat! Bisa bertemu Anda lagi adalah kebahagiaan terbesar bagi orang tua bangka ini!"
Sambil menunjukkan rasa haru yang berlebihan, air mata mengalir dari sudut mata Sebas.
Melihat sosok itu Lilith agak mundur canggung, tapi dia juga tampak merasakan kegembiraan.
"Sebas, kau terlalu senang."
Sambil memandangi reuni mereka berdua, Shion berlari menghampiri Ars.
Di wajahnya muncul ekspresi yang mendesak.
"Hei, Ars, apa Yulia terluka?"
"Tidak, dia jadi begini setelah kupeluk."
Mengarahkan pandangan pada perkataan Ars, Shion tercengang sesaat, lalu menghela napas dalam-dalam.
"Hah... rugi aku khawatir. Padahal hubungan kalian sudah sampai mandi telanjang bersama, kenapa sekarang pingsan cuma gara-gara dipeluk? Sepolos apa gadis ini?"
Meski menghela napas seolah tak habis pikir, dia pasti khawatir.
Shion mengelus kepala Yulia dengan lembut, lalu menyunggingkan senyum lega.
"Jadi, kita sudah berhasil bergabung dengan selamat, lalu setelah ini bagaimana?"
Ars bertanya pada Lilith dan Sebas.
"Mohon maaf. Saya hanya memikirkan soal bergabung saja, jadi Ratu, bagaimana kebijakan ke depannya?"
Saat Sebas bertanya dengan sopan, Lilith memperlihatkan gelagat berpikir sejenak, lalu mengucapkan keputusannya dengan tegas.
"Aku sempat berpikir untuk kembali ke Zona Aman tapi... mari kita lanjut menuju 'Helheim'."
Lilith mengarahkan pandangan pada Ars.
"Aku tidak akan berbuat jahat. Karena itu, demi mengistirahatkan Yulia-san, bisakah kalian juga ikut bersama?"
"Benar juga. Kami akan merepotkanmu. Di tengah jalan mungkin ada gangguan Iblis Tingkat Menengah, serahkan bagian itu padaku."
"Kalau soal itu tidak perlu khawatir. Para 'Antitesis Buangan' memutuskan untuk mundur, kok."
"Benarkah?"
"Ars-sama, dalam Gift Ratu ada sihir bernama 'Subjugation'. Selain bisa merebut Mana lawan, beliau juga bisa menggunakan kemampuan Gift lawan. Jadi ada satu orang di antara 'Antitesis Buangan' yang menggunakan [Farsight], dan sepertinya beliau mendapatkan informasi dari situ."
"...Itu tidak salah. Tapi, Sebas, ada yang perlu kubicarakan sebentar. Ada beberapa rahasia yang tidak boleh dikatakan, lho."
Meski tersenyum masam, Lilith menegur Sebas dengan halus.
Mengucapkan detail Gift Ratu dan sihirnya dengan enteng adalah masalah besar.
Namun, Sebas menangkis amarah Lilith sambil menyunggingkan senyum lembut.
"Kalau Ars-sama tidak masalah. Beliau kan 'Essence of Magic, Mimir', mungkin beliau sudah tahu informasi ini. Sepanjang jalan ini, saya mendengar wawasan mendalam Ars-sama, dan sampai pada kesimpulan demikian."
Sebas melirik sekilas ke arah Shion, lalu kembali menghadap Lilith.
Lilith tampak heran terhadap apa sinyal itu ditujukan, namun dia segera menunjukkan pemahaman dan mengangguk kecil.
"Benar. Kalau informasi yang dibilang Sebas tadi aku sudah tahu. Dulu aku pernah melawan 'Antitesis Buangan No. III', waktu itu dia memberitahuku banyak hal tentang 'Antitesis Buangan No. V'."
Ars yang merasa tidak enak karena Sebas disalahkan mencoba membantu.
"Ara, aku kaget kalian jadi akrab tanpa sepengetahuanku—..."
Lilith memutus kata-kata di tengah jalan, memasang ekspresi yang agak serba salah.
Seolah ada sesuatu yang mengganjal, akhirnya dia membuka mulut lagi.
"Kalau begitu, sebaiknya aku sampaikan informasi ini juga pada Ars-san dan yang lain. Aku tidak mau nanti kalian berharap padaku tapi malah repot."
Sambil sedikit bersikap sok penting, Lilith melanjutkan.
"'Antitesis Buangan No. V' sudah meninggal."
"Ratu, benarkah!?"
Kepada Sebas yang berseru kaget, Lilith melemparkan pandangan tak habis pikir.
"Kenapa malah kamu yang paling kaget..."
Pandangan Lilith kembali tertuju pada Ars dan yang lain, melanjutkan pembicaraan sambil menata situasi.
"Tadi sihir 'Berbagi' yang kupasang pada 'Antitesis Buangan No. V' terputus. Kemungkinan para 'Antitesis Buangan' telah memilih jalan bermusuhan sepenuhnya."
"Begitu ya, padahal itu Gift yang berharga, memilih cara berpikir pendek begitu sungguh bodoh."
Sementara Sebas menerima kabar itu dengan kekecewaan yang jelas, Lilith mengangkat bahu dan tersenyum mencemooh diri sendiri.
"Seharusnya aku segera membebaskannya. Aku benar-benar telah melakukan hal yang patut disesalkan."
Lilith menjatuhkan bahu kecil, melanjutkan dengan nada yang menyiratkan penyesalan.
"Memang benar itu cara paling cepat untuk membebaskan dari 'Subjugation'-ku... tapi tak kusangka mereka akan membunuh saudara sendiri dengan begitu mudah. Aku berpikir mereka hanya akan menahannya, kenaifankulah yang jadi kesalahannya."
Pada ekspresi Lilith yang tersenyum sinis, terlihat jelas dia sangat menyesali kenaifan keputusannya sendiri.
"Oleh karena itu, soal kesalahan Sebas, kali ini tidak akan kupermasalahkan."
Lilith menghela napas kecil, menutup pembicaraan dengan gerakan melambaikan tangan ringan.
Saat Ars yang merasa lega dengan reaksi itu hendak mengucapkan terima kasih, "suara" yang samar sampai ke telinganya. Ars menajamkan ekspresi dan mengalihkan topik.
"Ngomong-ngomong, aku masih dengar suara, apa sebaiknya mereka dibereskan?"
[Hearing] tajam Ars menangkap jelas kehadiran yang sedang mengintip mereka.
Dia tidak merasakan niat bertarung, tapi karena merasa tidak nyaman dengan tatapan yang melekat itu, dia meminta konfirmasi.
"Kalau soal itu tidak masalah. Mereka juga pasti sadar Ars-san sudah bergabung, jadi mereka tidak akan melakukan tindakan nekat."
Lilith melanjutkan dengan nada tenang.
"Kemungkinan itu No. VII atau No. VIII, tapi keduanya Iblis Tingkat Atas yang berhati-hati. Kecil kemungkinan mereka menyerang di tengah jalan."
Saat mendengar nama No. VIII, ingatan masa lalu melintas sesaat di benak Ars. Namun, karena merasa tidak perlu repot-repot mengucapkannya, dia mendesak kelanjutannya dalam diam.
"Kalau begitu, mari segera berangkat. Aku ingin tiba sebelum malam."
"Ratu, silakan naik ke punggung saya."
"Aku akan merepotkanmu."
Sebas berlari sambil menggendong Lilith di punggungnya.
Melihat interaksi itu, Shion menatap Ars.
"Apa Yulia mau kugendong?"
"Tidak, biar aku yang gendong. Shion tolong waspadai sekitar."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan lari duluan—Sebas-dono, bisakah kau memandu dari belakang?"
"Baik. Jika kelihatan mau salah arah, saya akan panggil."
"Un. Kutitip, ya. Kalau begitu, ayo berangkat."
Saat Shion mulai berlari, Ars dan yang lainnya pun mengejar di belakangnya.



Post a Comment