NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Munou to Iware Tsuzuketa Madoushi, Jitsu wa Sekai Saikyou Nanoni Yuuhei Sareteita node Jikaku Nashi V7 Chapter 1

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 1

Kekacauan

Bunga lili putih murni yang bermekaran dengan bangga di bumi, kini diam-diam mengakhiri hidupnya.


Bunga-bunga yang dulunya menengadah ke langit dan bersinar sebagai simbol kehidupan itu, kini layu dan mati dengan menyedihkan. Pemandangan itu adalah pertanda akhir zaman, dan istana putih kapur yang dulu ada di pusat dunia juga mulai runtuh dengan suara gemuruh.


Sebagai gantinya, Bunga Higanbana berwarna merah padam bermekaran seolah menginvasi bumi.


Namun, dunia merah itu pun hanyalah sesuatu yang fana.


Warna cerah yang seolah menyala itu pun sudah menunjukkan tanda-tanda keruntuhan.


Seindah apa pun mereka bermekaran, semuanya akan kembali menjadi ketiadaan.


Perpaduan warna putih dan merah itu adalah pertunjukan yang indah, seolah langit dan bumi melebur menjadi satu.


Akan tetapi, dunia itu menemui akhirnya akibat penyusup yang datang tiba-tiba.


Benda asing yang muncul tiba-tiba—pria besar yang menghancurkan bumi dengan daya hancur yang mutlak.


"Ada apa, Ratu? Mana para pahlawan kebanggaanmu?"


Pria besar yang kekar—'Antitesis Buangan No. I' Hajarl mengangkat sudut bibirnya, lalu mengayunkan Pedang Sabit Naga Hitam yang ada di tangannya. Bilah pedang yang memancarkan kilau hitam pekat yang indah namun mengerikan itu membanggakan keagungan bagaikan naga yang melesat di angkasa, dan bentuk sabitnya tajam seolah taring naga yang memamerkan diri ke langit. Di tanah tempat bilah itu menancap, tulang belulang makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya berserakan sembarangan.


"Sosok yang menyedihkan, ya. Ratu."


Di ujung pandangan Hajarl, terdapat seorang wanita yang terluka.


Rambutnya yang dulu bersinar keemasan, kini berlumuran lumpur dan kehilangan kilaunya.


Wajah cantiknya dikotori oleh tanah yang tak kenal ampun, dan matanya yang dulu menyimpan cahaya luhur kini berkabut karena kelelahan dan rasa sakit. Sosok lemah yang penuh luka itu, dulu memikat siapa pun yang melihatnya hanya dengan postur berdirinya dan penuh kemewahan, namun kini jejak itu tak ada di mana pun. Dia hanya tenggelam di tanah yang gersang, mengertakkan gigi menahan kenyataan yang kejam.


"...Fufu."


Sambil tersenyum, Lilith kembali bangkit berdiri.


"Padahal menyerang secara mendadak... lancang sekali Anda mengatakan kalimat seperti itu, ya."


Saat Lilith mengatakannya dengan nada merendahkan, Hajarl yang tersenyum melepaskan tangannya dari Pedang Sabit Naga Hitam yang menancap di tanah.


"Omong kosong. Yang penting menang."


Hajarl mengetuk pelipisnya sendiri beberapa kali dengan jari telunjuk.


"Dulu, itu adalah kata-kata yang kau ajarkan padaku. Jika tidak bisa menang dengan kekuatan, gunakanlah otak. Bahwa di 'Lost Land', bertahan hidup dengan menghalalkan segala cara adalah segalanya. Yang bisa bertahan hidup di sana bukan hanya orang kuat. Mereka yang menyusun strategi, mempertahankan tekad, dan memiliki semangat itulah yang akan menjadi pemenang sejati."


"Saya masih ingat lho. Nostalgia sekali, ya."


"...Tidak ada kata lupa. Bagi 'Antitesis Buangan', kekalahan pertama—itu adalah takdir yang terukir sejak momen kami terlahir ke dunia ini. Penghinaan yang pertama kali dirasakan di tengah evolusi yang terus berlanjut tanpa tahu apa-apa. Rasa sakit dan penyesalan itu tidak akan pernah hilang. Karena itulah bukti eksistensi, dan ujian pertama untuk mengetahui batasan diri."


Senyum lenyap dari wajah Hajarl, digantikan oleh kemurkaan yang muncul.


Melihat itu, Lilith hanya menyunggingkan senyum mencemooh.


"Penghinaan pertama, ya...? Itu agak aneh. Yang saya lakukan hanyalah menyelamatkan domba yang tersesat dan melindunginya. Itu adalah tindakan yang seharusnya disyukuri, dan saya tidak ingat melakukan hal yang pantas dibenci. Kebencian yang Anda pendam itu—hanyalah interpretasi sepihak. Tangan saya hanya mengulurkan belas kasih dan keselamatan."


"Perbedaan nilai, ya. Dalam pemahamanmu, itu mungkin keselamatan dan perlindungan. Tapi bagi kami—para Iblis, itu tidak ada bedanya dengan budak. Diikat dengan rantai bernama keselamatan, dan dimanipulasi sesuai kehendakmu, kau tidak akan bisa memahami betapa besar penghinaan itu."


"Budak... terdengar buruk sekali. Menganggap perlindungan dengan cara yang begitu picik... bagi orang yang berdiri di puncak 'Antitesis Buangan', kapasitas segitu sungguh menyedihkan."


Saat Lilith mengangkat tangan, kerangka yang memegang pedang merangkak keluar dari tanah.


"Apakah saya harus mengajarkan kekalahan sekali lagi?"


Melihat prajurit kerangka yang tak terhitung jumlahnya, Hajarl mendengus tidak senang.


"...Masih muncul juga, Gift yang menjijikkan seperti biasa."


"Ara, Anda seharusnya tahu betul, kan?"


Saat Lilith tersenyum memikat, prajurit kerangka mulai mengepung seolah melindunginya.


"Prajurit kerangka yang indah ini adalah inkarnasi dari para pahlawan yang mati dalam penyesalan di 'Lost Land'. Mereka masih menyimpan jiwa bangga mereka di dalam tulang, dan berdiri di tanah ini sekarang. Mereka adalah keberadaan yang patut dihormati, dan bukanlah sesuatu yang boleh diperlakukan dengan kasar."


"Seperti biasa, orang yang terus mengulang interpretasi yang menguntungkan diri sendiri. Sifat asli yang tersembunyi di balik kata-kata manis itu—memaksa orang lain tunduk dan memasukkannya ke dalam pasukan sendiri. Itulah caramu. Berbicara tentang idealisme dengan kata-kata manis, padahal sebenarnya hanya menginginkan dominasi dan kepatuhan. Kekejaman yang bersembunyi di balik topeng kemunafikan... kau pikir aku tidak tahu?"


"Fufuf, Anda tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti apa-apa."


Lilith menggelengkan kepala dengan tenang. Meskipun tubuhnya dipenuhi luka yang tak terhitung jumlahnya, sosoknya tetap memancarkan keindahan yang bermartabat. Tanpa memperlihatkan rasa sakit atau kelelahan, matanya jernih seolah melihat menembus segalanya.


"Ada banyak orang di dunia ini yang memikirkan hal-hal yang jauh lebih kejam daripada saya. Justru karena itulah, saya mengusir 'Antitesis Buangan' ke 'Dunia Luar'. Seharusnya itu memberi kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan dan berkembang. Meskipun begitu, tidak melihat pada keburukan dunia dan terus terperangkap di masa lalu... benar-benar bodoh."


"Hmph, aku tidak berniat meladeni omong kosongmu lebih dari ini."


Hajarl kembali mencengkeram erat Pedang Sabit Naga Hitam.


"Akhirnya tiba saatnya untuk menghapus penghinaan itu. Sekarang biarkan aku menikmati kegembiraan ini."


Sambil mengeruk tanah, dia mengarahkan ujung pedang ke Lilith.


"Akhirnya aku bisa melampauimu."


"...Baiklah."


Lilith menghela napas panjang seolah menyerah.


Kemudian, Lilith membuang segala emosi dari ekspresinya.


"Akan saya buktikan. Bahwa inilah kekuatan Ratu—akan saya perlihatkan sepuasnya kepada Anda juga. Ukirlah di mata itu agar tidak terlupakan."


Saat Lilith mengayunkan lengan ke bawah, para prajurit kerangka menyerbu ke arah Hajarl.


Melihat jumlah kerangka yang sangat banyak pun, Hajarl tidak menggerakkan alisnya sedikit pun, hanya melangkah maju satu langkah.


"Mantra 'Heavenly Domain Expansion' milikmu sudah ada di bawah kekuasaanku."


Hajarl mengangkat tangan kiri dengan tenang dan menunjuk ke langit.


Langit mendung perlahan terdistorsi sambil membentuk pusaran yang menyeramkan. Di hadapan kekuatan mutlak itu, Bunga Higanbana yang menutupi bumi juga rebah seolah terinjak-injak dengan menyedihkan.


Tidak tersisa satu batang pun, seolah langit telah runtuh, semuanya menghadap ke arah yang sama, kehilangan bentuk seolah tenggelam dalam kesedihan.


"'Tulang Gila Kegelapan, Hades' yang melindungimu juga telah lenyap, pertarungan sudah berakhir."


Hajarl mengepalkan tangan kanan dengan keras, lalu menghunjamkannya sekaligus.


"Core Collapse."


Sesaat setelah nama sihir dirapalkan, suara gemuruh bagaikan guntur memancar dari tinjunya, menggetarkan udara.


Detik berikutnya, kepala prajurit kerangka meledak dengan menyedihkan, serpihannya berhamburan ke udara.


Kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata.


Di tengah serpihan tulang yang menari di udara, yang pertama bergerak adalah Hajarl.


Di tangannya tergenggam Pedang Sabit Naga Hitam. Sambil menatap tajam ke arah Lilith, dia berlari kencang di atas tanah, suara langkah kakinya bergema bagaikan guntur.


Tujuannya hanya satu—nyawa Ratu.


Dia menerjang lurus menuju sosok Lilith.


"...Gift yang merepotkan, ya."


Lilith menggenggam pedang cambuk kesayangannya, menatap Hajarl yang mendekat dengan tatapan tenang.


Tidak ada kegoyahan sedikit pun pada sosoknya, justru dia menyunggingkan senyum tipis.


Sambil berlari dengan kecepatan penuh, Hajarl mengayunkan Pedang Sabit Naga Hitam secara horizontal dengan lebar.


Serangan itu membelah ruang, mendekat dengan tajam ke arah Lilith.


Memercikkan bunga api yang dahsyat, bilah dan bilah berbenturan.


Pada saat itu, udara bergetar, dan gelombang kejut menyebar ke sekeliling.


Bunga Higanbana yang tak mampu menahan guncangan itu berhamburan ke udara, lalu turun menumpuk di tanah.


Keheningan datang, dan kedua pihak juga menghentikan gerakan, namun itu hanya sesaat, karena secara bersamaan mereka menendang tanah untuk menjauh.


Lalu, mereka kembali saling berhadapan, satu jurus, dua jurus—pertarungan pedang yang sengit berlangsung.


Bilah dan bilah berbenturan berkali-kali, bunga api berhamburan, dan suara udara yang terbelah bergema di medan perang.


Serangan dan pertahanan bersilangan, pertarungan keduanya semakin sengit.


Pertarungan sengit yang tak mengizinkan celah sesaat pun—namun, akhirnya datang secara tiba-tiba.


"Kuh!?"


Tiba-tiba, kekuatan hilang dari lutut Lilith, dan tubuhnya goyah ke depan.


Setelah pertarungan melawan Yulia, lalu diserang Hajarl tanpa henti—bahkan bagi Ratu Hel yang ditakuti sebagai Monster Terdaftar Khusus sekalipun, dia tidak bisa lari dari akumulasi kelelahan itu.


Karena itulah, celah sesaat tercipta.


Hajarl bukanlah orang yang akan melewatkan itu.


Dia segera mengangkat Pedang Sabit Naga Hitam, lalu mengayunkan bilah tajam itu ke arah leher Lilith.


Tidak ada keraguan ataupun kebimbangan dalam serangan itu.


Namun, tepat sebelum bilah itu menyentuh Lilith, sebuah pedang putih murni menyela masuk.


"Saya tidak keberatan Anda bersemangat sendiri, tapi mencoba merebut mangsa saya, Anda Iblis yang kurang ajar ya."


Hajarl yang Pedang Sabit Naga Hitam-nya ditepis, menatap gadis yang baru saja menyela itu.


Gadis yang cantik. Memiliki rupa yang begitu sempurna hingga membuat napas tertahan.


Meskipun penuh luka, keindahan yang tak berkurang itu justru memberikan kesan yang agak menyimpang.


Ekspresi lembut yang tidak sesuai dengan medan perang, serta suara yang terdengar ramah—itu bagaikan kepolosan murni yang tak mengenal rasa sakit. Kepolosan itu justru terasa aneh, memancarkan ketidaksesuaian ganjil yang kontras dengan sengitnya pertempuran.


"Cih..."


Hajarl tanpa sadar mengambil jarak, sebegitu anehnya aura yang dipancarkan oleh Yulia.


"...Gadis kecil. Kau masih ada rupanya, kalau mengganggu akan kubunuh kau juga?"


"Jangan-jangan, Anda berniat membiarkan saya tetap hidup? Anda orang yang baik hati ya."


Yulia melirik sekilas ke arah pergelangan tangan yang tergeletak di tanah.


Benda itu sudah kehilangan tuannya, tergeletak tanpa daya. Bagian potongannya tidak terhubung ke mana pun, hanya terbaring dingin di atas tanah.


"Tapi, pemilik pergelangan tangan itu—saya tidak begitu mengenalnya, tapi Anda sudah membereskannya, kan?"


"...Benar. Karena tidak ingin penyelesaian dengan Ratu diganggu, aku menyuruh Sebas keluar dari panggung. Untuk apa kau menanyakan hal itu?"


Setelah jeda sejenak, Hajarl menjawab.


Merasakan sedikit kejanggalan pada jawaban itu, Yulia mengangkat sedikit sudut bibirnya.


"Tidak, saya berterima kasih karena hal yang ingin saya ketahui sudah terkonfirmasi."


Sambil tersenyum, Yulia berdiri di depan Lilith yang berlutut dengan satu kaki, memasang kuda-kuda seolah melindungi Lilith dengan punggungnya.


"Ara~... apa maksudnya ini? Kamu melindungiku, rasanya terlalu aneh sampai menakutkan, lho."


Suara keraguan itu bukan datang dari Hajarl, melainkan dari belakang Yulia.


Yulia menoleh ke belakang hanya dengan kepalanya, menyipitkan mata dan mengamati kondisi Lilith dengan seksama.


"Sebaiknya jangan memaksakan diri. Dengan luka itu kau tidak akan bisa bertarung dengan baik, kan."


Yulia menyadari ada yang aneh dengan kondisi Lilith.


Sambil tetap berlutut satu kaki, dahi Lilith dipenuhi keringat dingin dalam jumlah yang tidak wajar. Awalnya dia mengira itu karena kelelahan, tapi melihat pertarungannya dengan Hajarl, jelas sekali performanya menurun. Firasat Yulia sepertinya benar. Lilith masih bersikap angkuh dan tangguh seperti biasa, namun suaranya terdengar lemah, dan wajahnya sangat pucat.


"Apa kamu terluka di suatu tempat?"


Sepertinya bukan karena pertarungan dengan Hajarl.


Setidaknya bagi Yulia, pertarungan kedua pihak terlihat seimbang sampai pertengahan.


Jadi, sudah pasti Lilith menderita luka dalam saat bertarung dengan Yulia.


Karena dia tidak membiarkan hal itu disadari, entah harus disebut sebagai kehebatan sang Ratu, atau hanya karena dia benci kekalahan.


"Hanya sedikit sakit di pinggang samping kok. Bukan hal yang perlu kamu cemaskan."


"Untuk ukuran itu, wajahmu terlihat pucat, tuh."


"Lagipula, kenapa kamu melindungiku? Aku tidak ingat kita sudah menjadi seakrab itu."


"Akulah yang memojokkanmu sampai sejauh itu. Aku tidak berniat menyerahkannya kepada siapa pun."


"Tak disangka, ternyata kamu orang yang cukup bergairah meski tidak terlihat dari penampilannya, ya... Tapi, kamu juga terlihat babak belur, apa tidak apa-apa?"


Yulia juga tidak tanpa luka. Dia terluka dalam pertarungan melawan Lilith.


Mananya juga sudah hampir habis. Jujur saja, berdiri saja sudah berat, dan dia tidak yakin bisa bertarung lebih baik daripada Lilith yang terluka.


"...Sebenarnya aku berencana menggunakannya padamu sih. Yah, sudahlah. Diam dan lihat saja di situ."


Yulia memutus pembicaraan secara paksa, lalu kembali mengarahkan pandangan pada Hajarl.


"Apa sudah selesai menyampaikan pesan wasiat yang tidak berguna itu?"


"Tak terduga ya. Anda menunggu kami? Saya kira—"


"Saya kira? Apa?"


Terhadap Hajarl yang memiringkan kepala, Yulia menutupi mulut dan tertawa bersuara.


"Saya hanya berpikir Anda takut pada saya."


Meskipun menekan suaranya, senyum sinis memberikan kesan provokatif pada kata-kata itu.


Hanya suara tawa geli Yulia yang bergema di dunia itu.


Selanjutnya hembusan angin kencang bertiup, dan Hajarl yang berada di pusatnya memancarkan kemarahan.


"Aku tidak mengerti. Dengan tubuh yang berdiri saja susah payah, kenapa kau bisa bersikap begitu tangguh, benar-benar aneh."


Dengan mata yang dipenuhi amarah dahsyat, Hajarl menatap Yulia dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuh Yulia penuh luka tak kalah dari Lilith, dan bekas luka itu menceritakan betapa sengitnya pertarungan mereka.


"Gadis kecil, kau tidak berpikir bakal bisa pulang hidup-hidup, kan?"


Sedikit kekesalan merembes keluar dari Hajarl yang mengayunkan Pedang Sabit Naga Hitam.


Jelas sekali dia mati-matian menahan gejolak emosi akibat provokasi bertubi-tubi dari Yulia.


"Sudah pasti saya akan pulang hidup-hidup, kan—daripada itu, bisakah kita berhenti bicara omong kosong dan cepat bertarung?"


Tanpa menanggalkan sikap provokatifnya, Yulia perlahan mengulurkan lengan, lalu menekuk jarinya untuk semakin memancing Hajarl. Gerakan itu memancarkan ketenangan, seolah sengaja mengobarkan amarahnya.


Hal itu membuahkan hasil yang luar biasa, bersamaan dengan tanah yang berpijar pecah, Hajarl melesat maju.


"Benar juga. Tak perlu bicara lagi. Sampai aku membunuhmu!"


Sambil menatap tajam Hajarl yang mendekat, Yulia mengeluarkan sebuah batu sihir.


Sepertinya Hajarl menyadarinya, namun mungkin karena tidak menganggapnya sebagai ancaman, dia terus menyerbu ke arah Yulia tanpa mengurangi kecepatan.


"Kalau begitu——jika kita sama-sama selamat, mari bertemu lagi."


Yulia mengalirkan Mana ke batu sihir yang dipegangnya, lalu melemparkannya begitu saja ke arah Hajarl.


Segera setelah itu, dia membuka mulut dengan tenang.


——'Suara Kematian, Death Flüstern'.


Udara berubah menjadi tidak wajar.


Hajarl mungkin segera merasakan keanehan itu.


Dia kehilangan momentumnya yang tadi, dan berhenti di tempat.


Namun, detik berikutnya, entah karena merasakan bahaya yang tidak wajar, dia dengan cepat menempelkan kedua tangannya ke tanah.


"'Guncang Langit, Hancurkan Bumi, Erdbeben'!"


Tanah menyembul naik, mengelilingi sekitar Hajarl.


Seketika itu juga, badai kematian mengamuk.


Kehidupan bumi mati sepenuhnya, dan napas langit terputus dalam sekejap.


Seolah dunia itu sendiri menjemput ajalnya, seluruh kehidupan lenyap dan keheningan pun meluas.


Dunia yang diciptakan oleh 'Heavenly Domain Expansion' runtuh dalam sekejap mata, dan segalanya terwarnai putih bersih.


Satu, dua, waktu terus bergulir.


Tak lama kemudian, sebagian tanah menyembul naik, dan seorang pria besar keluar dari sana.


"...Apa, ini..."


Hajarl memuntahkan darah dalam jumlah banyak dari mulutnya, sambil mengamati keadaan sekitar dengan ekspresi tercengang.


"Sialan, lenganku hilang ya... tidak, kakiku juga... sebenarnya apa yang terjadi?"


Darah yang mengalir dari kepala meresap ke dalam tanah.


"Sihir? Tapi, apakah sihir yang dimasukkan ke dalam batu sihir bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini?"


Hajarl mencoba bangkit berdiri namun malah jatuh terduduk.


Sambil menengadah ke langit dengan tercengang, seiring pikirannya perlahan menjadi jernih, Hajarl menyadari bahwa kondisinya sangat serius.


"Gadis kecil itu... lolos ya... aku harus segera mengejar..."


Menyadari bahwa Ratu telah lolos, Hajarl mengedarkan pandangan dengan ekspresi dipenuhi amarah.


Namun, entah karena segera mendapatkan kembali ketenangannya, dia menghembuskan napas panjang.


"...Fuh, aku harus tenang. Kemarahan mempersempit pandangan. Sekarang pengobatan luka adalah prioritas. Aku tidak boleh salah pilih."


Mungkin karena seluruh kehidupan di area sekitarnya telah mati, keheningan terasa menyakitkan di telinga.


Justru karena itulah, mungkin Hajarl bisa menjadi tenang kembali.


"Sekarang nikmatilah kebahagiaan karena berhasil kabur."


Meski bisa menekan amarah, rasa itu tidak menghilang, jadi Hajarl melontarkan kata-kata penuh dendam.


"Tapi, aku pasti akan menemukanmu. Jangan berpikir kalian bisa lolos."


Ini pertama kalinya dia menderita luka seberat ini.


Mungkin dia terlalu sombong. Meski begitu, dia sama sekali tidak menyangka Yulia akan melepaskan sihir yang hampir merenggut nyawanya.


"Lain kali aku tidak akan lengah. Bukan cuma Ratu... Gadis Kecil, aku pasti akan membunuhmu dengan tangan ini."


Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


Pertama-tama obati luka, tapi untungnya vitalitas Iblis jauh melampaui manusia.


Selama masih hidup, luka fatal seperti apa pun akan sembuh secara alami.


Jika beristirahat di tempat yang memiliki Miasma pekat, dia seharusnya bisa pulih lebih cepat daripada Ratu.


"...Akan kuberi rasa sakit sampai kau berpikir lebih baik mati saja di sini."


Jika berbicara tentang kota terbesar di dunia, ada tiga kota yang bisa disebut.


Salah satunya adalah kampung halaman para Elf, 'Great Forest'.


Satunya lagi adalah 'Helheim' yang masih terus berkembang di 'Lost Land'.


Dan yang terakhir, yang tidak boleh dilupakan adalah 'Kota Sihir' tempat berkumpulnya pengetahuan dan sumber daya manusia yang hebat.


Ketiga kota besar inilah yang memiliki pengaruh paling kuat di dunia, masing-masing membanggakan karakteristik dan kekuatan yang berbeda.


Di antara ketiga kota besar itu, 'Kota Sihir' adalah tempat berkumpulnya sihir dan pengetahuan paling mutakhir.


Di sini berkumpul penyihir dan cendekiawan yang tak terhitung jumlahnya, setiap hari teori sihir dan teknologi baru dilahirkan. Kota ini benar-benar memegang peranan sebagai garis depan sihir, dan telah mencapai evolusi unik yang tidak tertandingi oleh kota lain.


Di pusat 'Kota Sihir' itu, menjulang sebuah menara yang disebut "Menara Babel", yang dipenuhi dengan kebijaksanaan sihir. Meskipun masih dalam tahap pembangunan, tingginya mencapai langit, puncaknya tertutup awan, dan wujud keseluruhannya tidak dapat dilihat dari tanah.


Menara yang dipenuhi pengetahuan dan Mana yang melampaui akal manusia ini benar-benar merupakan simbol 'Kota Sihir', sehingga tinggal di area pemukimannya pun menjadi semacam status sosial.


Di salah satu sudut Menara Babel, terlihat sosok Ars.


Dia mengalami beberapa kejadian tak terduga seperti bertemu Maneater spesies mutan di 'Lost Land' saat ujian promosi guild, namun semuanya berhasil diselesaikan dengan aman, dan dia hendak kembali ke <Villeut Sisters Lampfire>. Namun, di tengah jalan, dia menerima instruksi mendesak dari staf Asosiasi Sihir melalui sihir 'Transmisi' untuk segera menyerahkan material Penguasa Wilayah.


Sebenarnya, dia ingin cepat pulang karena khawatir dengan keadaan Karen dan yang lainnya.


Tapi, staf itu memohon dengan sangat.


Karena diminta dengan sangat gigih, Ars pun terpaksa mengalah dan datang ke Asosiasi Sihir. Akan tetapi, bukannya diprioritaskan, Ars dan rekan-rekannya malah disuruh menunggu giliran di resepsionis sama seperti orang lain. Dan saat menunggu dengan rasa kesal, resepsionis yang sama seperti sebelumnya, Elemita, melayani mereka.


"Ara... ini Ars-san, apakah Anda butuh sesuatu sebelum ekspedisi?"


"Tidak, sudah selesai."


Karena dipanggil tapi ujung-ujungnya disuruh menunggu, Ars menunjukkan reaksi ketus, namun Elemita tampak kaku seolah mendapat kejutan yang membuat sikap Ars itu tidak lagi penting.


Monster yang ditentukan dalam ujian promosi adalah Penguasa Wilayah Area Rendah.


Bagi guild yang baru didirikan, penaklukan itu adalah ujian yang sangat sulit dicapai.


Meski masa depannya sangat diharapkan, Elemita pun mungkin tidak membayangkan bahwa mereka sudah menyelesaikannya.


"Eh, e, hah............ hah?"


"Aku berencana melapor besok, sih. Tapi ada staf Asosiasi Sihir yang menghubungi lewat sihir 'Transmisi' menyuruhku segera menyerahkan material. Jadi aku mampir ke sini. Bisakah kau memeriksanya?"


Elemita tampak tercengang sesaat, namun segera teringat tugasnya dan mulai bergerak dengan panik.


"Penyerahan? Penyerahan, ya... ma, maaf. Tolong tunggu sebentar, saya akan memastikannya."


Elemita dengan panik mulai memeriksa dokumen yang menumpuk di mejanya.


"Me, memang benar, ada laporan bahwa instruksi seperti itu dikeluarkan langsung dari atasan. Namun, meski begitu, memanggil tapi tidak memprioritaskan, penanganan yang ceroboh seperti ini... saya benar-benar minta maaf karena telah merepotkan Anda."


"Melihat reaksimu, sepertinya kau tidak tahu Elemita, jadi jangan dipikirkan. Daripada itu, bisakah kau segera memeriksa materialnya?"


"Baik. Saya akan mulai proses penilaian sekarang, jadi bisakah Anda meletakkan materialnya di sini?"


Tepat di dekat resepsionis, disediakan ruang yang agak luas, tempat untuk memeriksa material monster. Dia mengarahkan tangan untuk memandu ke sana.


"Ternyata ada tempat seperti ini, ya."


Saat datang sebelumnya ia tidak menyadarinya, tapi sepertinya tempat untuk memeriksa material telah disediakan.


Ars meletakkan kantong berisi material monster di atas meja yang telah disiapkan. Mungkin karena isinya penuh sesak, terdengar suara berat seolah kantong itu akan pecah. Di sini, Elemita tampaknya baru menyadari bahwa barang bawaan Ars dan rekannya berjumlah tidak wajar, wajahnya terlihat kaku.


"...Hasil panen sebanyak ini dalam waktu sesingkat ini. Apakah kalian membuang sebagian besar materialnya?"


"Masih hanya ada aku dan Shion berdua sih. Kami berdua bukan pemilik tipe Gift [Storage]."


"Anda bisa menggunakan layanan pengiriman penyihir yang berafiliasi dengan Asosiasi Sihir, lho."


Setelah berpikir sejenak, Elemita melontarkan saran.


"Karena rekomendasi dari Asosiasi Sihir, mereka bisa dipercaya, dan meski biayanya agak mahal, saya rasa itu lebih baik daripada membuang material dengan sia-sia."


"Akan kupikirkan."


Asosiasi Sihir adalah organisasi raksasa yang menaungi banyak penyihir.


Namun, peringkat tertinggi di dalam internal Asosiasi berhenti di 'Peringkat Keempat', dan posisi penting diduduki oleh orang-orang kuat dari luar. Alasannya adalah karena banyak penyihir yang setelah mengasah kemampuan di Asosiasi Sihir, mendirikan guild sendiri dan menjadi independen. Karena itu, tokoh besar seperti '24 Council Keryukeion' maupun Demon Lord tidak terikat dengan Asosiasi Sihir, dan Asosiasi cenderung kuat dalam aspek sebagai lembaga pelatihan penyihir semata. Karena itulah, Ars merasa tidak ada orang kuat yang bisa mengikuti kecepatan berburu mereka, jadi dia hanya menampung saran itu.


"Kalau begitu, saya akan memeriksa materialnya, ya."


Setelah mengenakan sarung tangan, Elemita mengintip ke dalam kantong dengan sikap terbiasa.


Tak lama kemudian, dia mengeluarkan material sambil memperlakukannya dengan hati-hati.


"Apakah semua ini mau dijual?"


"Ya, tolong. Tapi, apakah pembelian material juga termasuk pekerjaan resepsionis?"


"Benar. Dulu kabarnya mereka menyewa pedagang material dari luar, tapi sepertinya terjadi masalah beberapa kali, dan sejak saat itu, resepsionis juga dituntut memiliki kemampuan seperti 'Appraisal'. Sekarang pembelian dan penilaian material juga menjadi salah satu tugas resepsionis."


Elemita yang selesai menjajarkan material monster mengangguk puas lalu melepas sarung tangannya.


"Meski kondisi pengawetannya buruk, semuanya diambil dalam kondisi yang bersih. Bagaimana dengan tiga koin platinum?"


"Tunggu... kenapa bisa jadi uang sebanyak itu?"


Yang bereaksi terhadap perkataan Elemita adalah Shion. Dia memiringkan kepala dengan ekspresi heran.


Karena Ars tidak terlalu paham, dia diam saja mengamati perkembangan situasi.


"Apakah Anda tidak setuju? Kalau begitu, bagaimana jika ditambah 20 koin emas selain tiga koin platinum? Jika lebih dari ini, sulit bagi saya untuk memutuskannya sendiri."


"Bukan. Aku ingin tanya kenapa harga belinya jadi semahal itu."


"Ah... begitu ya, memang benar tanpa penjelasan mungkin akan terasa aneh."


Elemita mengangguk, menganggap pertanyaan Shion sebagai hal yang wajar.


"Material yang ada di sini adalah monster Area Rendah, jadi harga beli yang wajar mungkin sekitar tiga koin emas."


"Ya, aku juga berpikir harga pasarnya sekitar segitu. Makanya aku tanya. Sebenarnya dari mana koin platinum itu muncul?"


Mata uang yang digunakan di Asosiasi Sihir adalah koin tembaga, koin perak, koin emas, dan koin platinum.


Nilai mata uangnya setara dengan sepuluh koin tembaga untuk satu koin perak, sepuluh koin perak untuk satu koin emas, dan sepuluh koin emas untuk satu koin platinum. Namun, nilainya akan berubah jika berada di negara lain.


Mata uang negara lain terkadang memiliki kandungan emas yang sedikit dalam pembuatannya, atau kualitasnya buruk, sehingga meskipun mata uangnya sama, nilainya berbeda dengan standar Asosiasi Sihir.


"Karena saya tidak ingin membuat keributan..."


Kata Elemita, lalu dia membuka mulut sambil mengamati keadaan sekitar dengan segan.


"Ada material yang belum dikeluarkan dari kantong."


Setelah diberitahu, Ars dan Shion mengarahkan pandangan ke kantong yang mereka bawa.


Diketahui masih ada isinya karena masih menggembung.


Di situ, Shion tampak menyadari sesuatu dan membeku dengan mulut terbuka.


Ars juga bisa memahami apa yang ingin dikatakan Elemita.


"Itu karena di dalamnya ada material monster Area Dalam yang seharusnya tidak bisa didapatkan di Area Rendah maupun Area Tinggi—Maneater."


Kalimat terakhir Elemita diucapkan dengan suara pelan, mungkin karena mempedulikan sekitarnya.


"Sebenarnya saya ingin menanyakan detail kenapa kalian memiliki material seperti ini, tapi..."


"...Tidak mungkin."


Shion menolak setelah memperlihatkan gelagat ragu sejenak.


"Kami juga tidak sepenuhnya mengerti kenapa monster Area Dalam ada di Area Rendah. Kalau disuruh bicara detailnya pun, kami hanya bisa bilang tidak tahu."


Siapa dan apa tujuannya melakukan hal seperti ini, Ars dan Shion pun tidak mengerti.


"Begitu ya... kalau alasannya begitu, apa boleh buat. Tapi, saya ingin memastikan satu hal saja, apakah ada tanda-tanda keberadaan yang lain?"


"Tidak, kemungkinan besar cuma satu ekor ini saja. Lagipula monster Area Dalam akan melemah seiring berjalannya waktu jika berada di tempat dengan Miasma tipis. Kalaupun ada yang lain, selama tidak menantang dengan nekat, tidak akan mati, kok."


Entah apa niatnya melepaskan Maneater di Area Rendah, tapi jika memikirkan waktunya, sasarannya pastilah Ars.


Jadi, kemungkinan ada monster Area Dalam lainnya sangatlah kecil.


"Baiklah. Saya akan menuliskan demikian di laporan."


"Aku kira di saat seperti ini kalian akan memaksaku bicara, tapi ternyata tidak, ya."


Saat Ars mengatakannya, Shion dan Elemita saling berpandangan.


Shion mengangguk dengan ekspresi maklum, lalu menatap wajah Ars.


"Omong-omong, aku belum menjelaskannya pada Ars, tapi Asosiasi Sihir pada dasarnya tidak memiliki wewenang investigasi terhadap guild. Jadi, meskipun terjadi sesuatu di 'Lost Land', tidak ada kewajiban untuk menjelaskannya."


"Benar. Faktanya, '24 Council Keryukeion' dan '12 Supreme Mage Kings' pun mendirikan guild mereka sendiri sembari terdaftar di Asosiasi Sihir, jadi mereka tidak akan membuat hukum yang merugikan diri mereka sendiri. Karena itu, memang benar bahwa kami staf Asosiasi Sihir tidak diberi wewenang untuk memaksa meminta informasi."


Elemita menambahkan penjelasan pada perkataan Shion dan melanjutkannya.


"Namun, saya tetap akan mengajukan laporan kali ini. Mengenai apakah akan dilakukan penyelidikan dengan wawancara atau tidak, itu diserahkan pada keputusan atasan... artinya, semua tergantung pada hati '24 Council Keryukeion'."


"Begitu, ya. Aku mengerti. Terima kasih atas penjelasannya kalian berdua."


"Kalau begitu, bagaimana dengan tiga koin platinum dan dua puluh koin emas? Material monster Area Dalam jarang beredar di pasar karena sebagian besar dimonopoli oleh guild papan atas. Oleh karena itu, saya menetapkan harga seperti ini."


"Ars, menurutku tidak masalah tuh."


Karena Shion juga tampak setuju dengan harganya, Ars pun mengangguk.


"Oke, kalau begitu tolong ya."


"Mari kembali ke meja resepsionis. Saya akan melakukan pembayaran. Dan juga Ars-sama, tolong serahkan kartu identitas Anda."


Ars yang didesak Elemita kembali ke meja resepsionis, dengan terbiasa melepas cincin dari jari manis kirinya dan meletakkannya di atas meja.


"Kalau begitu, saya terima ya."


Elemita menerima cincin itu lalu menghilang ke bagian belakang.


"Cuma begini saja Peringkat Guild naik ya, rasanya tidak terlalu nyata."


"Memang sih, kita tidak dapat bukti fisik apa pun. Tapi karena kita bakal bisa menerima misi Area Tinggi, nanti juga langsung terasa kok. Kalau sudah mulai berburu di Area Tinggi—eh, tapi kita sudah berburu di Area Tinggi, jadi mungkin tidak terlalu terasa juga ya?"


Shion bereaksi terhadap kata-kata Ars. Namun sayangnya, dia tidak menemukan bahan untuk menyangkal kata-kata Ars, jadi Shion hanya bisa tersenyum masam.


Ars belum lama bergabung dengan Asosiasi Sihir. Jika dia sendirian, jangankan mendirikan guild, dia mungkin masih belum berafiliasi dengan siapa pun.


Jika tidak bertemu Yulia, dan jika tidak ada hubungan dengan Karen dan yang lainnya, Ars yang sekarang pasti tidak akan ada. Meski memiliki kemampuan yang disebut sebagai ‘Essence of Magic, Mimir', dia hanyalah seorang bocah laki-laki yang belum dewasa.


Pengetahuannya luas tapi pengalamannya sedikit. Mengingat kepribadian Ars, jika tidak bertemu Yulia, kemungkinan besar dia akan terlunta-lunta di jalan. Sebaliknya, hal yang sama juga berlaku bagi Yulia dan yang lainnya.


Jika tidak bertemu Ars, Yulia tidak akan bisa kabur dari Kekaisaran, guild Karen dan yang lainnya juga akan dihancurkan, dan Shion pun pasti sudah mati kelaparan di suatu tempat.


"Benar-benar keajaiban, ya."


"Apanya?"


"Bukan, aku cuma berpikir ajaib sekali Ars bisa ketemu Yulia, dan sekarang aku ada bersama kalian di sini."


"Memang benar, kalau aku tidak kabur dari menara terkutuk itu, aku tidak akan bertemu Yulia."


"Ars kebetulan kabur, lalu Yulia yang digiring ke sana melarikan diri, untungnya kalian berdua bertemu dan melarikan diri bersama ke 'Kota Sihir'—dan sekarang mengelola guild bersamaku, begitu ya."


"Meski guild-nya cuma dua orang, sih."


"Tetap saja, dua hari setelah didirikan sudah Peringkat D. Belum pernah terjadi sebelumnya, lho. Lagipula, baru kali ini ada pendatang baru yang dipromosikan sampai ke 'Peringkat Keempat'."


Memang benar Ars itu unggul, tapi tidak mungkin segalanya berjalan semulus ini hanya karena itu. Seharusnya wajar jika ada semacam gangguan.


'Kota Sihir' adalah tempat yang seperti itu.


Disebut tempat untuk saling mengasah kemampuan memang terdengar bagus, tapi kenyataannya, Asosiasi Sihir dipenuhi oleh orang-orang narsistik yang percaya bahwa diri merekalah yang terbaik.


Terlebih lagi mereka yang berada di posisi atas—para Demon Lord benar-benar sekumpulan orang yang merasa dirinya paling hebat.


Mereka menyimpan keangkuhan yang menolak orang lain, hanya percaya pada kekuatan mereka sendiri.


Karena itu, awalnya Shion memperkirakan bahwa orang-orang yang merasa terganggu dengan keberadaan Ars akan melakukan pelecehan karena cemburu, atau bahkan mengambil tindakan yang lebih langsung.


"Tidak ada gangguan sampai sejauh ini malah menakutkan, ya. Waktu aku mendirikan guild sebelumnya, tiba-tiba ada guild lain yang memaksaku masuk di bawah perlindungan mereka dengan sikap sok atas, lho."


Ars tidak menyembunyikan fakta bahwa dia adalah ‘Essence of Magic, Mimir'.


Meskipun asli, dia menyebut dirinya palsu, situasi yang agak aneh memang, tapi bahkan di depan Demon Lord Grimm pun dia tidak mencoba menyembunyikannya. Dia juga dengan bangga memperkenalkan diri di 'Helheim'.


Meskipun begitu, anehnya tidak ada masalah besar yang terjadi.


Mungkin ada gangguan kecil seperti pelecehan, tapi yang pasti Ars terhindar dari situasi serius yang membuatnya menderita kerugian.


"Pasti ada kehendak seseorang yang campur tangan. Atau mungkin kehendak dari beberapa pihak."


Jika boleh dibilang pasti, kemungkinan besar dia sedang diawasi oleh sosok yang sangat kuat—keberadaan yang tidak mengizinkan campur tangan orang lain.


"Makanya, waktu aku mengaku sebagai ‘Magic of Magic, Mimir', tidak ada yang menggubrisku ya?"


"Ya. Tapi, kita tidak bisa tenang. Karena mereka pasti tidak melindungimu murni karena niat baik. Cepat atau lambat, mereka pasti akan datang menagih investasi yang sudah mereka tanamkan selama ini."


"Kalau begitu mari kita tunggu dengan senang hati. Toh, tidak ada yang bisa kita lakukan dari sisi kita."


Melihat Ars yang tersenyum senang seperti biasa, Shion menghela napas sambil menatapnya dengan ekspresi tak habis pikir.


"Maaf membuat Anda menunggu. Kenaikan Peringkat Guild, serta catatan penaklukan dan lainnya telah saya perbarui. Dan juga, di kantong ini ada tiga koin platinum dan dua puluh koin emas. Mohon diperiksa."


Ars memasang kembali cincin yang diletakkan di meja resepsionis, lalu menyerahkan kantong itu kepada Shion tanpa memeriksa isinya. Melihat sikap Elemita yang memiringkan kepala karena itu, Ars yang mengerti apa yang dipikirkannya tersenyum masam.


"Tidak perlu diperiksa, aku percaya kok, jadi aman."


Untuk menjadi resepsionis Asosiasi Sihir, seseorang harus lolos ujian yang sulit dan menembus rasio persaingan yang tinggi. Karena itulah, dia tidak berpikir mereka akan melakukan hal licik seperti memotong imbalan. Terlebih lagi, Elemita sama sekali tidak terlihat seperti orang yang akan menghancurkan hidupnya demi hal sepele seperti itu. Di belakang Ars yang berpikir demikian, Shion membereskan kantong itu sambil mengangguk berkali-kali dengan panik. Gerak-geriknya yang terlihat seolah-olah hendak membuka kantong itu, memancarkan rasa panik entah kenapa.


Ars menyadari kepanikan Shion, namun demi menjaga harga dirinya, dia hanya bisa tersenyum basa-basi untuk mengalihkan perhatian.


"Terima kasih."


Elemita mengucapkan terima kasih dengan senang, namun Ars melambaikan tangannya ke samping.


"Tidak apa-apa, kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih."


"Sama-sama. Dan juga, jika kondisi pengawetannya lebih baik, harga belinya juga akan sedikit naik... jadi saya akan sangat terbantu jika Anda mempertimbangkan hal yang saya sampaikan tadi. Terima kasih banyak telah menggunakan layanan kami hari ini."


"Ya, terima kasih sarannya."


Ars dan Shion pergi. Karena mereka terlihat agak terburu-buru, sosok keduanya segera menghilang dari pandangan. Setelah itu Elemita mengalihkan pandangan dan menunduk melihat laporan yang baru saja ditulisnya.


"Monster Area Dalam di Area Rendah, ya... Dia benar-benar tidak membosankan."


Sambil tersenyum masam, Elemita merobek laporan itu lalu dipeluk dari belakang.


"Pasang muka serius kenapa tuh~?"


"Cuma bingung mau lapor ke atas atau tidak."


"Hmm~, laporan apa?"


Rekan kerjanya melirik laporan yang sudah dirobek itu.


Di depan rekannya itu, Elemita membuang laporan tersebut ke tempat sampah.


"Sepertinya monster Area Tengah muncul di Area Rendah."


"Ara~... tapi itu bukan hal yang langka, kan. Meski begitu perlu peringatan ya? Siapa tahu itu pertanda 'Monster Parade', kan."


"Kemungkinan itu juga kecil. Soalnya sepertinya cuma satu ekor saja yang terkonfirmasi."


"Begitu ya. Terus korbannya bagaimana?"


"Sepertinya berhasil dikalahkan tanpa masalah. Itu lho, si rookie yang jadi buah bibir itu yang mengalahkannya."


"Aah, anak muda yang menjanjikan itu, ya. Katanya dia terkenal di antara '24 Council Keryukeion' juga, kan. Kenaikan Peringkat Guild kali ini pun kabarnya belum pernah terjadi sebelumnya. '24 Council Keryukeion' yang biasanya berpegang pada preseden itu tumben sekali bergerak, sampai-sampai jadi rumor di kalangan staf, lho."


"Begitu ya, apa orang-orang tua itu akhirnya mulai bergerak untuk memperbaiki Asosiasi Sihir?"


"Bukannya sudah terlambat? Hukum Asosiasi Sihir kan sudah terlalu sempurna, kalau diotak-atik sembarangan malah jadi aneh, kan."


"Sepertinya begitu. Aku pernah lihat catatan di suatu tempat, dulu mereka pernah mencoba mengubahnya demi kepentingan sendiri dan malah kena batunya."


Saat Elemita menjawab, rekannya mengangguk.


"Katanya sih dibuat supaya Asosiasi Sihir tidak dikuasai oleh satu guild saja~"


"Justru karena itulah, '24 Council Keryukeion' jadi berpegang pada preseden, dan para Demon Lord jadi menafsirkannya sesuka hati demi keuntungan mereka sendiri."


"Kata Senpai sih sistemnya dibuat sedemikian rupa supaya tidak berjalan sesuai keinginan Demon Lord maupun '24 Council Keryukeion'. Tapi, meski sudah dijelaskan aku sama sekali tidak paham, sih."


Elemita menepuk pelan kepala rekannya yang menjulurkan lidah untuk menutupi kurangnya belajarnya.


"Ya ya, ngobrolnya sampai di sini saja. Senpai yang menakutkan itu sedang melotot, ayo kembali kerja."


Di arah pandangan Elemita, seorang wanita atasan sedang menatap mereka berdua dengan pandangan menegur.


"Gawat kalau dikira sedang main-main, lho."


Elemita menepuk pelan lengan rekan yang merangkul lehernya, mendesaknya untuk melepaskan diri.


"Kalau begitu, sampai nanti ya~"


Rekannya melambaikan tangan ke belakang sambil menjauh.


Setelah melihatnya pergi, Elemita menghela napas.


"Terlepas dari itu, aku harus mencari orang yang memanggil Ars-san, ya."


Ars bilang, sebenarnya dia berniat mengunjungi Asosiasi Sihir besok.


Namun, entah siapa, ada orang yang memanggilnya sampai menggunakan sihir 'Transmisi'.


Menyadari tujuannya, Elemita tersenyum geli.


"Yah, mungkin tujuannya mengulur waktu... baiklah, mari kita rapikan informasinya."


Elemita mengeluarkan dokumen tebal, lalu mengangguk berkali-kali sambil matanya mengikuti tulisan.


"...'24 Council Keryukeion', '12 Supreme Mage Kings', 'Ten Holy Heavens of Sacred Law', Monster Terdaftar Khusus, 'Antitesis Buangan', hebat juga bisa menjalin hubungan sebanyak ini dalam waktu singkat."


Sambil membaca dokumen tentang Ars dan rekan-rekannya, Elemita terus bersenandung.


"Lebih dari ini akan sulit untuk mengelabui banyak mata. Sampai sekarang dia dalam artian tertentu dilindungi oleh Ratu Hel—tidak, Demon Lord Lilith. Tapi, cara itu mungkin tidak akan bisa digunakan lagi."


Elemita membereskan dokumen itu dan terakhir tersenyum.


"Nah, Yulia, Ars-san, takdir seperti apa yang akan kalian jalani, ya."

Jika bicara soal tempat dengan keamanan terburuk di 'Kota Sihir' adalah 'Distrik Bobrok', namun tempat di mana ketidakamanan bersembunyi di balik kemewahan adalah Distrik Hiburan.


Dibandingkan distrik lain, jalanan di Distrik Hiburan ini tidak bisa dibilang bersih meski sebagai basa-basi.


Sampah berserakan di pinggir jalan, mungkin ketiadaan bau busuk masih menjadi satu-satunya penyelamat.


Dan, seiring malam semakin larut, jumlah orang yang lalu lalang pun bertambah.


Wajah orang-orang dihiasi senyum hendak bersenang-senang, dan wanita-wanita berpakaian mencolok juga mulai menampakkan diri. Pemandangan yang memberi firasat bahwa tempat ini akan semakin ramai.


Ars dan Shion berjalan di jalanan itu, lalu berhenti di sebuah kedai minum.


<Villeut Sisters Lampfire>—kedai minum yang dikelola oleh adik Yulia, Karen.


Karena belum jam buka, belum ada keramaian.


Meski begitu, dari pintu masuk berkaca, terasa kesibukan di dalam toko.


Sosok para Schuler yang berlarian di dalam toko terlihat dari balik kaca, Ars dan Shion melangkah masuk dari pintu sambil memandangi keadaan itu.


"Ara, Ars-san, selamat datang kembali! Sudah pulang?"


Yang berlari mendekat dengan suara langkah kaki tap tap tap adalah salah seorang Schuler.


"Ya, karena material monster syarat promosinya sudah didapat."


"Cepat sekali! Kalau begitu, guild sudah berhasil promosi dengan selamat, ya!"


Para Schuler 'Guild Villeut' mungkin sudah tahu betul permintaan mustahil Ars, jadi meski terlihat sedikit terkejut, mereka segera kembali ke ekspresi biasa.


"Selamat! Hari ini tidak mungkin, tapi mari kita rayakan lain kali!"


"Ya, soal itu aku harus berdiskusi dengan Karen, tapi mungkin bisa kok, jadi tunggulah dengan antusias."


Karena Karen suka hal-hal yang menyenangkan, dia pasti akan membuat pesta perayaan.


Pasti akan diminta dana untuk itu, tapi berkat menaklukkan monster Area Dalam, dompetnya tebal.


"Kalau begitu, karena kalau lebih lama lagi bakal mengganggu, aku akan kembali ke kamar—"


"Ada orang?! Tolong bantu, di bawah tanah!"


Yang memotong perkataan Ars adalah seorang Schuler paruh baya yang menyembulkan wajah dari pintu masuk yang terhubung ke kamar mandi.


"Ada apa!?"


Seorang Schuler wanita mendekat dengan kaget.


"Para Lehrer sudah kembali, tapi lukanya parah sekali! Siapa pun tolong bantu!"


Yang bergerak paling pertama adalah Ars. Dia segera menyelinap melewati ketiak Schuler paruh baya itu, dan bergegas menuruni tangga menuju bawah tanah. Di bawah tanah tergambar lingkaran sihir untuk kepulangan, dan meski sempit, tempat itu ditata sebagai ruangan khusus.


Rasa sesak ini entah karena berada di bawah tanah, atau karena terus berlari—saking tidak tahunya perbedaannya, Ars berlari turun dalam diam.


Di belakangnya, Shion dan yang lainnya juga mengikuti.


Saat tiba di ruangan bergambar lingkaran sihir,


"Ars! Tolong Elsa!"


Karen yang berwajah pucat segera berteriak. Lebih cepat daripada berpikir, Ars berlari menghampiri Elsa yang tergeletak berlumuran darah di lantai.


"Mengerti."


Ars memeriksa kondisi Elsa. Masih bernapas, tapi tidak ada respon saat dipanggil. Sepertinya dia kehilangan kesadaran.


"Ars-san! Tolong bawa ke ruangan besar di lantai dua! Penyembuh sudah bersiap!"


"Ya, kutitipkan Karen padamu."


Ars mengangkat Elsa yang mengalami pendarahan hebat, lalu segera berlari menaiki tangga.


‘Whoa, kakek ini, apa dia Iblis!?"’


Terdengar suara terkejut dari belakang, namun Ars terus maju sambil menggendong Elsa tanpa menoleh sekalipun.


Saat tiba di aula, para Schuler yang sibuk dengan persiapan sebelum kedai buka menoleh ke arahnya, bertanya-tanya ada apa, namun Ars mengabaikan itu juga dan bergegas ke lantai dua. Lalu, dia mendorong pintu ruangan besar hingga terbuka dengan suara keras.


"Ars-san, sebelah sini."


Seorang Schuler yang bersiaga di dalam ruangan mengarahkan tangan ke tempat tidur.


"Dia bernapas, tapi sepertinya tidak sadarkan diri."


Ars membaringkan Elsa dengan lembut di tempat tidur, dan menjelaskan secara singkat.


"Baik. Kami akan segera memulai pengobatan."


"Kalau ada apa-apa, panggil aku."


Meninggalkan pesan itu, Ars keluar kamar agar tidak mengganggu pengobatan.


"Kalau keadaan mendesak, mau tak mau aku sendiri yang harus mengobatinya..."


Dia telah menghabiskan cukup banyak Mana di 'Lost Land', tapi masih ada sisa tenaga untuk memaksakan diri. Yang paling dia khawatirkan adalah terlepasnya 'Belenggu'.


Sesaat setelah Ars menyandarkan punggung ke dinding, seorang kakek tua dibawa masuk.


"Maaf! Tolong bukakan pintu kamarnya!"


"Kakek ini, berat banget tahu!"


Dua Schuler laki-laki berlari mendekat sambil memopong pria Iblis itu.


Saat Ars membukakan pintu, mereka masuk ke dalam sambil menundukkan kepala.


Tak lama setelah keduanya keluar, Ars menyapa mereka.


"Bagaimana dengan Karen?"


"Kalau Lehrer, seharusnya beliau akan segera datang."


"Apa dia tidak terluka?"


"Sepertinya begitu. Selebihnya silakan tanya langsung pada orangnya."


Para Schuler menundukkan kepala lalu pergi.


Segera setelah itu, Karen dan Shion muncul.


"Maaf, ya. Padahal Ars juga lelah, aku tiba-tiba minta hal yang mustahil."


Begitu mendekati Ars, Karen menundukkan kepala.


Menanggapi Karen, Ars menggelengkan kepala.


"Tidak, jangan dipikirkan. Daripada itu, apa Karen tidak terluka?"


"Ah, ini darah Elsa. Aku tidak terluka, kok."


Wajah Karen yang pucat mungkin karena faktor mental.


Wajar jika dia tidak bisa tenang melihat kondisi Elsa seperti itu.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi, bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?"


"Ya, harus mulai jelaskan dari mana, ya..."


Karen menyentuh dagunya pelan, mengarahkan pandangan sedikit ke atas, dan mulai bercerita seolah menggali ingatannya.


"Segera setelah Ars dan yang lainnya pergi, muncul misi paksa untuk kami."


"Area Tinggi?"


"Bukan, anehnya itu Area Tengah, lho. Makanya, aku pergi bertiga dengan Elsa dan Onee-sama."


"Jadi itu jebakan, ya."


"Benar. Yang muncul adalah paman Iblis yang tadi dibawa itu—namanya Sebas."


Setelah menunjuk pintu dengan jempol, Karen mengangkat bahu dan melanjutkan ceritanya.


"Menurut cerita yang dia sampaikan sebelum pingsan, sepertinya Onee-sama dipindahkan paksa ke tempat Ratu Hel. Setelah itu, yang muncul adalah pria yang mengaku sebagai 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl."


Informasi tentang Ratu Hel dan lainnya memang menarik perhatian, namun tanpa menyuarakan keraguannya, Ars mendesak kelanjutan cerita dalam diam.


"Lalu pertarungan Sebas dan Hajarl dimulai, dan sempat terjadi kebuntuan beberapa saat. Tapi mungkin karena tidak sabar, Hajarl mengincar kami."


Hajarl yang menyerang Karen dan Elsa. Namun, tampaknya mereka berdua selamat berkat Sebas yang menjadi tameng di saat-saat kritis. Akan tetapi, serangan dahsyat itu mencapai Karen juga, dan Elsa terluka karena melindungi Karen.


"...Begitu ya. Jadi pria bernama Hajarl itu yang melukai Elsa."


Ars mengangguk paham lalu terdiam, namun Shion yang membuka mulut sebagai gantinya.


"——Hmm, mendengar ceritanya, 'Antitesis Buangan' bernama Hajarl itu sepertinya orang yang sangat kuat."


Karen mengangguk pelan pada kata-kata Shion.


"Ya, kekuatannya pantas menyandang nama Antitesis Buangan Nomor Satu. Selain itu, Iblis yang sudah lama dicari Demon Lord Grimm itu, aku rasa juga orang itu."


"Hebat juga dia bisa bertahan hidup."


"Daripada beruntung, lebih tepat dibilang dia dibiarkan hidup. Sepertinya Hajarl juga punya tujuan, begitu merebut tangan kiri Sebas, dia langsung berpindah tempat dan menghilang."


"Tangan kiri ya... untuk tujuan apa dia melakukan hal itu?"


"Sepertinya di tangan kirinya terukir lokasi Ratu—koordinatnya. Dan untuk menyelamatkan kami, dia memotong tangannya sendiri. Kalau Hajarl masih bersikeras ingin bertarung, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi pada akhirnya dia menghilang, mungkin karena sudah puas."


Karen bersandar ke dinding dengan lesu lalu duduk di sana. Melihat Karen yang seperti itu, Ars yang sedari tadi mendengarkan dalam diam menyapanya dengan lembut.


"Begitu ya... bagaimanapun, syukurlah Karen selamat."


"Tapi, Elsa... gara-gara aku..."


Shion duduk di sebelah Karen yang murung, lalu merangkul bahunya.


"Karen. Ini bukan salah siapa-siapa. Demi menantang 'Lost Land', meski harus menghadapi hal yang tidak masuk akal dan mati sekalipun, seharusnya kau sudah punya tekad itu. Kalau Elsa mendengarmu bicara begitu, kau bakal dimarahi, lho. Jangan merasa bertanggung jawab seenaknya, katanya."


"Benar. Kalau mereka berdua pasti tidak apa-apa. Percayalah pada temanmu."


Ars juga menambahkan kata-kata. Namun, ini bukan sekadar penghiburan, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Karena kemampuan penyembuh yang ada di dalam ruangan itu sudah terjamin. Terlebih lagi, jika pengobatannya tidak memadai, dia sendiri yang akan turun tangan mengobatinya. Jadi, mereka berdua tidak akan mati.


Bukan berarti dia tidak punya pikiran apa-apa tentang Iblis bernama Sebas itu, tapi fakta bahwa Karen dan yang lainnya diselamatkan olehnya juga tidak terbantahkan. Karena itulah, dia berniat menyelamatkannya sekalian.


"Lehrer, pengobatannya sudah selesai."


Penyembuh menyembulkan wajah setelah membuka pintu dengan pelan. Karen segera bangkit berdiri dan menghampiri penyembuh.


"Apa mereka berdua baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa, kok. Untuk Elsa-san mungkin akan berbahaya jika sedikit terlambat, tapi tidak akan meninggalkan bekas luka, sisanya tinggal menunggu siuman."


"Bagaimana dengan Iblis itu?"


"Soal dia, memang pantas disebut Iblis ya... sebelum diobati pun dia sudah hampir pulih sepenuhnya berkat penyembuhan alami. Tangan kiri yang hilang juga sudah mulai regenerasi, jadi tanpa diapa-apakan pun pasti akan sembuh total. Saya baru pertama kali melihat vitalitas Iblis secara langsung, sungguh dahsyat ya."


"Begitu, syukurlah kalau keduanya tidak apa-apa."


"Meski keduanya belum siuman, tidak masalah jika ditunggu di dalam ruangan sampai sadar. Kalau begitu, hari ini saya akan bersiaga di kamar sendiri, jadi kalau ada apa-apa silakan panggil."


"Maaf ya, padahal hari libur."


"Tidak apa-apa, lagipula saya tidak ada kegiatan khusus."


Setelah melihat kepergian Schuler, Ars dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan.


Di sana, terlihat sosok Sebas yang sudah mendudukkan separuh badannya.


"...Hebat ya. Sudah bisa bangun?"


Saat Karen berkata dengan kaget, Sebas mengangguk kecil, sepertinya sudah memahami kondisinya sendiri.


"Tampaknya saya telah diselamatkan. Kebaikan ini, suatu saat pasti akan saya balas."


"Tidak, sepertinya Anda bakal sembuh total biarpun dibiarkan begitu saja kan. Malah, apa sebaiknya tidak usah dibawa ke sini ya?"


"Saya yang hebat ini pun, jika dibiarkan di tempat seperti itu pasti hanya bisa mati. Saya benar-benar tertolong, lho."


"Tidak apa-apa. Anda kan sudah melindungi kami dari serangan Hajarl."


Saat Karen menggelengkan kepala, Ars menyembulkan wajah dari samping.


"Aku Ars. Katanya kau kuat ya. Kalau lukamu sudah sembuh, tolong lawan aku."


Saat Ars mengulurkan tangan kiri, Sebas juga mengulurkan tangan dan menggenggamnya, mereka saling berjabat tangan.


"Sopan sekali. Saya bernama Sebas. Saya sudah sering mendengar rumor tentang Ars-sama, lho."


"Semoga itu rumor yang baik ya... ——Ngomong-ngomong, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, boleh?"


"Apa itu? Kalau sudah sampai di sini, saya akan membeberkan informasi sampai batas tertentu."


"Kau tangan kanannya Ratu Hel, kan?"


"Benar. Saya melayani Ratu Hel—tidak, Demon Lord Lilith-sama."


Karena identitas aslinya diungkapkan dengan begitu mudah, Ars tanpa sadar tertawa.


Karen dan Shion tampaknya membeku karena terlalu kaget.


"Sebas, kau ini menarik, ya. Tapi, mudah sekali kau membongkar identitas aslimu?"


"Kalaupun disembunyikan, tampaknya Ars-sama sudah tahu, dan saya pikir untuk membicarakan hal selanjutnya, saya harus mengungkap identitas agar tersampaikan."


"Memang sih aku sudah tahu identitas aslimu... tadinya aku mau menjadikan itu umpan buat mengorek informasi, tapi sepertinya sia-sia."


"Sejak awal saya tidak berniat menyembunyikannya. Hanya saja, jika diminta memberitahu rahasia 'Helheim', itu agak sulit, tapi bukan itu yang ingin Ars-sama tanyakan, kan?"


"Ya, yang ingin kutanyakan itu tentang 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl kalau tidak salah, ke mana dia berpindah tempat? Yah, sebenarnya aku sudah bisa menebak dari cerita Karen, sih."


Dia bisa saja menghabisi Karen dan yang lainnya, tapi pasti ada alasan kuat kenapa dia tidak melakukannya. Umpan yang lebih menarik daripada mereka—yaitu Ratu adalah sasarannya.


Sebas memotong tangan kirinya sendiri demi membiarkan Karen dan yang lainnya hidup.


Dan, 'Antitesis Buangan No. I' itu benar-benar memakan umpannya.


Pasti itu keputusan yang pahit. Karena dia melakukan tindakan seperti menjual tuan yang dilayaninya.


"Tapi, aku tidak mengerti. Kau bisa saja kabur dengan meninggalkan Karen dan yang lainnya. Lagipula, kalian kan bermusuhan, jadi hati nuranimu tidak akan sakit, kan?"


Ars tidak melihat alasan bagi Sebas untuk menolong Karen dan yang lainnya sampai harus menjual Ratu.


Dengan kemampuan sepertinya, seharusnya dia bisa menjadikan Karen dan yang lainnya sebagai umpan lalu melarikan diri.


Jika berniat melindungi Ratu, justru itulah jawaban yang benar.


"Saya hanya memikirkan masa depan. Lagipula, jika itu Ratu, beliau tidak akan kalah. Meski soal menang atau tidak, menurut saya itu tergantung situasi."


Sebas berkata begitu lalu mengeluarkan sebuah cincin dari balik bajunya.


"Koordinat tempat Ratu berada terukir di cincin ini."


"...Kalau ada ini, apa perlu sampai memotong tangan segala?"


Ars memiringkan kepala sambil memandangi cincin yang diserahkan padanya.


"Jika saya tidak menyerahkan setidaknya satu tangan, Karen-sama dan yang lainnya bisa terkena dampaknya. 'Antitesis Buangan No. I' bukanlah lawan yang lunak yang akan melepaskan begitu saja secara cuma-cuma. Jika saya hanya menyerahkan cincin, dia tidak akan puas, dan pasti akan tetap di sana melanjutkan pertarungan."


"Begitu ya. Lalu, apa artinya kau menyerahkan cincin ini padaku?"


"Seperti yang saya katakan tadi, sulit membayangkan Ratu akan kalah dari 'Antitesis Buangan No. I'. Namun, tidak menjamin beliau akan selamat tanpa luka. Terutama jika beliau kelelahan akibat pertarungan dengan Yulia-sama, situasinya berbeda, kemungkinan besar beliau akan jatuh dalam bahaya."


"Baiklah. Maksudnya pergi menolong mereka berdua kan. Tapi, di mana tempatnya?"


"Distrik 24 Area Tinggi."


"Bukankah di Area Tinggi Miasma-nya pekat sehingga hal seperti teleportasi akan terhambat?"


"Memang benar begitu, tapi segala sesuatu ada pengecualiannya, lho."


Sebas menjelaskan dengan riang.


"Miasma tidak pekat secara merata, ada bagian yang tipis, dan kabarnya orang-orang menyebut tempat itu sebagai 'Safety Point'."


"Aku pernah dengar ceritanya, ternyata benar-benar ada ya."


"Ya, 'Helheim' memiliki beberapa. Negara lain juga harusnya punya beberapa—Asosiasi Sihir tidak punya. Tapi, saya pernah dengar rumor bahwa guild papan atas mengamankan beberapa 'Safety Point'."


"Di situlah Yulia dan Ratu Hel bertarung, kan?"


"Ya. Tempat yang kami siapkan untuk bertarung dengan Yulia-sama."


"Kalau begitu, aku akan pergi memeriksanya."


Saat Ars berkata begitu, Shion mendekat.


"Aku juga ikut."


"Tidak masalah sih... tapi cincinnya cuma ada satu, lho."


Jika lingkaran sihir, tidak masalah berapa pun jumlah orangnya asalkan muat dalam bingkai.


Namun, benda seperti cincin yang terukir koordinat ini diperuntukkan bagi satu orang.


"Kalau begitu, Nona bernama Shion, ya? Silakan gunakan ini."


Sebas menyodorkan cincin baru.


"Kau punya sebanyak itu?"


"Tempat ini adalah tempat favorit Ratu, beliau sering mengadakan pesta teh dan semacamnya. Jadi, saya hanya menyimpannya beberapa untuk tamu."


"Kalau begitu bukannya tidak perlu mengukir koordinat di tangan kiri?"


Tempat favorit Ratu berarti sering dikunjungi.


Jika dia selalu membawa cincin untuk tamu, rasanya tidak perlu mengukir koordinat di tangan kiri.


"Saya sudah diberitahu Ratu sebelumnya. Beliau menyuruh menyiapkan cincin karena ingin mengundang tamu."


"Artinya?"


"Ini disiapkan untuk Karen-sama dan yang lainnya. Saya membawa cincin ini dengan niat mengundang mereka berdua setelah pertarungan berakhir."


"...Begitu ya. Makanya ada dua."


"Begitulah."


"Maaf tanya yang aneh-aneh. Kalau begitu, Shion, ayo berangkat."


"Tunggu. Bawalah ini."


Karen melemparkan kantong kecil, Ars menangkapnya secara refleks dan memiringkan kepala.


Melihat Ars yang memasang ekspresi heran, Karen tersenyum masam.


"Batu teleportasi, lho. Perlu buat pulang kan."


"Sangat membantu. Nanti kalau sudah pulang aku bayar gantinya."


"Tidak perlu. Daripada itu, aku titip Onee-sama, ya."


"Aku mengerti. Kalau begitu, Shion, siap?"


Ars mengambil dua batu teleportasi dari kantong, dan menyerahkan satu kepada Shion.


"Ya. Kapan pun siap."


"Kalau begitu, sampai jumpa di sana."


Saat Ars mengalirkan Mana ke batu teleportasi, pemandangan sekitar berubah dalam sekejap, dan dia berdiri di tempat yang sama sekali berbeda.


Di depan mata, terbentang bumi yang dulunya pasti dipenuhi bunga bermekaran dan kehidupan yang berdenyut.


Namun, kini jejak itu tak ada, hanya tanah gersang dan bangkai bunga yang berserakan terbaring dalam diam.


"Sepertinya pertarungannya sengit, ya."


Ars mengerutkan kening dan bergumam pelan.


"...Ya, selain itu, sosok Yulia dan yang lainnya juga tidak terlihat."


Shion menanggapi kata-kata Ars dengan tenang sambil tetap mengarahkan pandangan ke kejauhan.


Pemandangan yang terbentang di depan mata mereka menceritakan segalanya.


Di tanah yang seharusnya indah itu terukir bekas pertarungan yang kejam, kini tak ada sedikit pun hawa kehidupan yang tersisa. Jejak yang jelas di mata siapa pun itu, diam-diam menceritakan betapa dahsyatnya medan perang tadi.


"Artinya, kemungkinan besar Yulia dan yang lainnya tertangkap?"


Dalam suara Ars bercampur sedikit getaran.


Emosi yang ditekan di antara rasa frustrasi dan kemurkaan tampak merembes keluar.


"Tidak... bukan itu. Jika Yulia dan yang lainnya tertangkap, keberadaan mereka di sini tidak bisa dijelaskan."


Sambil berkata begitu, di arah yang ditunjuk Shion, Iblis Tingkat Menengah bertanduk satu menampakkan diri, mereka berjalan maju dalam diam mengepung Ars dan Shion.


"Ars... sepertinya Iblis Tingkat Menengah muncul. Semuanya bertanduk satu, jadi tidak salah lagi."


"Kalau begitu, bisa dibilang si Hajarl itu tidak ada di sini, kan?"


Ars merangkai kata-kata sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Ada kemungkinan dia bersembunyi karena kedatangan kita... tapi rasanya tidak mungkin begitu."


"Kenapa?"


Menanggapi pertanyaan Ars, Shion mengangkat bahu ringan dan melanjutkan kata-katanya.


"Karena Iblis adalah kaum yang memiliki kepercayaan diri mutlak pada kekuatan mereka sendiri."


Di dunia mereka, kemampuan menguasai segalanya. Terutama bagi mereka yang diusir dari 'Helheim', yang disebut 'Antitesis Buangan', hal itu lebih berlaku lagi.


Mereka tidak bisa sepenuhnya membuang insting saat masih menjadi monster. 'Antitesis Buangan' yang awalnya hanya menunjukkan urutan pengusiran, tanpa sadar diperlakukan sebagai hierarki, menciptakan tren di mana semakin kecil nomornya, semakin tinggi kemampuannya.


"Makanya, aku tidak berpikir orang bernama Hajarl yang ada di peringkat satu itu punya pikiran lembek seperti itu. Kalau dipikir secara wajar, bukannya lebih alami kalau dia mengejar Yulia dan yang lainnya yang kabur?"


"Apakah itu juga dasar pemikiran Shion bahwa Yulia dan yang lainnya belum tertangkap?"


"Ya. Ars juga tidak berpikir Yulia tertangkap, kan?"


Ditanya balik oleh Shion, Ars segera mengangguk mengiyakan.


Yulia memiliki Gift Langka [Light].


Jika dia melarikan diri dengan kecepatan itu, tidak akan ada yang bisa mengejarnya.


Terlebih lagi, dia tidak hanya mengandalkan Gift, tetapi juga memiliki kemampuan yang mumpuni.


Gift yang dianggap tercepat di dunia—terhadap Yulia yang memilikinya, bahkan jika lawannya adalah orang yang berdiri di puncak 'Antitesis Buangan', pengejaran tidak akan berhasil.


Justru karena itulah, Ars bisa berpura-pura tenang.


Saat berada di 'Kota Sihir', kesadarannya teralihkan oleh cederanya Elsa, sehingga untuk sementara dia tidak memikirkan Yulia. Namun, sekarang setelah memikirkan Yulia, rasa frustrasi itu membara di dalam dada, justru membuatnya kehilangan ketenangan.


Oleh karena itu, meskipun memiliki keyakinan bahwa Yulia berhasil kabur dan tidak tertangkap musuh, Ars tidak bisa menghapus kecemasannya, dan terus meminta konfirmasi dari Shion berulang kali.


"Kesampingkan dulu soal Hajarl yang tidak ada di sini... kalau begitu, apa tujuan mereka ada di sini, ya?"


Ars kembali mengarahkan pandangan pada Iblis Tingkat Menengah yang mengepung mereka.


Mereka tidak bergerak sedikit pun, menatap lekat-lekat seolah mengamati.


Tidak bisa dipastikan apakah mata itu menyimpan kewaspadaan atau cahaya dingin yang menunggu kesempatan, tapi yang pasti, udara tegang yang siap meledak kapan saja menguasai tempat itu.


Melihat lawan yang begitu waspada terhadap setiap gerak-gerik mereka, Ars sedikit mengendurkan bibirnya. Jelas sekali bahwa keseimbangan akan runtuh jika ada pergerakan sedikit saja, namun kapan hal itu terjadi, pihak merekalah yang menentukan—Ars dan Shion bahkan memancarkan ketenangan seperti itu.


"Benar juga, ini hanya dugaan, tapi mungkin dia benar-benar kehilangan jejak Yulia. Bisa jadi Hajarl sendiri terluka dan menyerahkan pencarian pada bawahannya. Bagaimanapun juga, lawannya adalah Yulia itu, kan."


Ars setuju dalam hati dengan dugaan Shion.


Ars juga tidak bisa membayangkan situasi di mana Yulia melarikan diri begitu saja tanpa perlawanan.


Selain itu, Ratu Hel juga seharusnya ada di tempat itu. Meski dia Hajarl yang mengaku sebagai 'Antitesis Buangan No. I', rasanya tidak mungkin segalanya berjalan mudah saat menghadapi mereka berdua.


"Kalau begitu, sudah cukup... mari kita korek jawabannya dari mereka."


Ars menyipitkan mata, lalu memasang kuda-kuda sambil memandang sekeliling dengan tenang.


Gerakannya efisien, dan tatapan tajamnya tidak melewatkan celah musuh.


Seolah merespons hal itu, Iblis Tingkat Menengah—jumlahnya lima ekor—semakin meningkatkan kewaspadaan dan perlahan mempersempit lingkaran yang mengepung Ars dan Shion.


"Ars, sayangnya, Iblis bertanduk satu itu kecerdasannya rendah. Anggap saja individu yang bisa diajak bicara dengan benar itu langka. Selain itu, melihat mereka tetap diam di tempat seperti ini, mungkin mereka bahkan tidak punya kehendak untuk mencari sendiri. Jadi, kemungkinan besar mereka adalah kelompok yang kecerdasannya sangat rendah."


Saat Shion mengatakannya dengan dingin, Ars memiringkan kepala karena heran.


"Iblis Tingkat Menengah, apa kecerdasan mereka serendah itu?"


"Begitulah. Tingkat Rendah hampir tidak ada bedanya dengan monster, sedangkan Tingkat Menengah hanya sebatas bisa mendengarkan perintah atau tidak. Kalau sudah jadi Iblis Tingkat Atas, kecerdasannya berkembang pesat... yah, mengharapkan informasi dari Iblis Tingkat Menengah sepertinya sia-sia."


Saat Shion mengarahkan tangan seolah memprovokasi, beberapa Iblis Tingkat Menengah memamerkan gigi untuk mengancam.


"Lihat, kan, karena mereka berpikir untuk melawan kita, itu artinya mereka bahkan tidak bisa memahami perbedaan kekuatan."


"Kalau begitu, mari kita selesaikan dengan cepat—'Impact, Wegblasen'."


Serangan pertama menentukan kemenangan—Ars menghempaskan salah satu Iblis Tingkat Menengah yang mendekat di depan mata dengan satu serangan.


Melihat sosok rekannya yang menggelinding dengan kencang di tanah, sisa Iblis Tingkat Menengah lainnya meraung penuh amarah. Menghadap mereka, Ars menendang tanah dan berlari menerjang.


Shion yang menatap punggung Ars diam-diam menghela napas.


"...Apa aku harus menganggap Ars sudah cukup bersabar untuk ukurannya?"


Mengetahui tidak akan ada jawaban, Shion ingin menyuarakan kata-kata itu.


Ars yang biasanya selalu memancarkan aura santai dan tenang.


Namun, itu hanyalah tampilan luarnya saja.


Sebenarnya, mungkin karena reaksi balik akibat pernah dikurung, dia memiliki kepribadian yang tidak terlalu sabar.


Meskipun pergaulan Shion dengan Ars belum lama, melalui pertarungan bersama selama ini, dia mulai memahami hakikat Ars sedikit demi sedikit.


Misalnya, melakukan hal nekat seperti menjadikan dirinya sendiri umpan untuk mencari 'Essence of Magic, Mimir' adalah salah satu buktinya. Keinginannya untuk segera pergi berburu pun adalah tindakan untuk mengembangkan diri lebih cepat, atau mungkin tindakan yang dihasilkan dari rasa tidak sabar untuk mendapatkan pengetahuan baru.


Terlebih lagi, Ars yang tidak pandai menunggu diam, adalah tipe orang yang lebih suka bergerak sendiri dan memastikan sesuatu agar bisa merasa puas.


Justru karena itulah, fakta bahwa dia bisa tetap diam dan tidak langsung melesat pergi di tengah situasi Yulia dalam bahaya—meskipun ada faktor cedera Elsa—adalah hal yang mengejutkan bagi Shion.


Namun, melihat sosoknya yang sekarang mengerahkan kekuatan penuh melawan Iblis—Tingkat Menengah ini, bisa dipahami dengan mudah bahwa kesabarannya pun sudah hampir mencapai batasnya.


"Meski begitu, sepertinya dia masih bisa menahan diri, ya."


Shion terus mengamati pertarungan Ars dengan tenang tanpa ikut serta dalam pertempuran.


Gaya bertarung Ars sepenuhnya dipelajari secara otodidak.


Terlebih lagi, itu adalah teknik yang dia kuasai sambil meraba-raba sendirian berdasarkan informasi sepotong-sepotong yang didapat menggunakan Gift [Hearing] saat masa pengurungan.


Karena itu, gaya bertarungnya tetap terlihat amatir, dan sulit dikatakan terasah dengan baik.


Ditambah lagi dengan penampilannya yang muda, dia jarang dianggap sebagai orang kuat oleh orang lain.


Dalam kehidupan sehari-hari pun dia secara sadar menekan Mana, dikombinasikan dengan fisiknya yang tidak mencolok, bisa dikatakan hampir tidak ada orang yang bisa melihat potensi yang dimiliki Ars.


Oleh karena itu, mereka yang pertama kali bertarung melawan Ars, semuanya akan sama-sama terkejut dan tercengang.


Menghadapi kekuatan di luar nalar yang tak terbayangkan dari penampilan maupun cara bertarungnya, banyak yang kehilangan semangat bertarung dan mentalnya hancur.


——Persis seperti Iblis Tingkat Menengah yang saat ini sedang menerima serangan bertubi-tubi dari Ars.


Wajah mereka menunjukkan keputusasaan, tidak dapat menemukan cara untuk melawan perbedaan kekuatan yang mutlak, dan akhirnya terpojok.


"'Impact, Wegblasen' ya... itu juga sihir yang aneh. Setidaknya tidak ada dalam pengetahuanku."


Keahlian andalan Ars—kekuatan penghancur yang tidak seperti sihir tingkat dasar itu membingungkan siapa pun yang melihatnya.


Sepintas terlihat seperti sihir elemen hijau seperti [Wind] atau [Storm], dan sifatnya sering disalahpahami, tetapi siapa pun yang benar-benar menerimanya akan langsung mengerti.


Itu bukanlah sesuatu yang bisa disimpulkan atau digambarkan sebagai angin.


Sensasi seolah-olah dinding tak terlihat menghantam seluruh tubuh secara tiba-tiba—itulah esensi dari 'Impact, Wegblasen'.


Terlebih lagi, karena tidak terlihat dan tidak bisa disentuh, tidak ada cara untuk menangkisnya.


Jika itu 'Angin', orang bisa merasakan udaranya, dan jika itu 'Barrier', orang masih bisa menyentuhnya.


Namun, 'Impact, Wegblasen' milik Ars adalah sesuatu yang baru disadari setelah seseorang menerima dampaknya.


"Yah... yang paling merepotkan mungkin adalah 'Death Flüstern'."


Sihir yang secara langsung merenggut nyawa makhluk hidup, belum pernah terdengar sebelumnya.


Sihir pada dasarnya adalah sesuatu yang mempengaruhi fisik atau mental, dan sihir curang yang langsung memutus nyawa itu tidak ada—setidaknya, begitulah yang dipercayai selama ini.


Namun, 'Death Flüstern' milik Ars yang dimasukkan ke dalam batu sihir telah membalikkan akal sehat itu.


Menurut cerita Legi dan Shigi—saudara kembar Dwarf—daya hancur batu sihir itu memiliki kekuatan dahsyat yang mampu memukul mundur Monster Terdaftar Khusus No. 3.


Monster Terdaftar Khusus adalah keberadaan yang penaklukannya telah dihentikan oleh umat manusia.


Mereka adalah monster-monster unik yang menghuni 'Lost Land'—wilayah di luar habitat manusia—mulai dari Area Tinggi dan seterusnya, dan masing-masing memiliki wilayah kekuasaan tertentu.


Di antara mereka, jika bicara soal 'Nomor Tiga', itu adalah 'White Wolf Fenrir', keberadaan yang telah ada sejak zaman purba dan diceritakan dalam legenda pernah membantai para dewa. Kekuatan mutlaknya jauh melampaui apa yang bisa ditandingi manusia, dan benar-benar pantas disebut sebagai bencana hidup.


Memukul mundur 'White Wolf Fenrir' tersebut dengan batu sihir yang tidak dalam kondisi kekuatan penuh, sungguh harus dikatakan sebagai keajaiban. Jika itu adalah sihir aslinya, seberapa dahsyat kekuatannya—membayangkannya saja sudah menakutkan.


"Jangan-jangan... Yulia mungkin menerima batu sihir dari Shigi."


Shion mengalihkan pandangan dari Ars dan kembali menatap kondisi sekitar yang mengenaskan.


Bumi yang hancur lebur, napas kehidupan yang layu—pemandangan di sini hanya bisa disebut sebagai tanah tandus.


Jika ini disebabkan oleh batu sihir yang diisi 'Death Flüstern', maka wujud menyedihkan ini pun bisa dijelaskan dengan cukup masuk akal.


Ditambah lagi, alasan mengapa 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl tidak menampakkan diri, mungkin juga masuk akal dengan penjelasan ini—sambil berpikir demikian, Shion kembali menghembuskan napas panjang.


"Baiklah... cukup sampai di sini berspekulasinya."


Setelah memutuskan itu, Shion kembali menatap Ars yang telah menyelesaikan pertarungan.


Di kakinya, Iblis Tingkat Menengah yang telah dilumpuhkan tergeletak di tanah.


Melihat dada mereka yang naik turun, sepertinya nyawa mereka tidak direnggut, hanya kehilangan kesadaran saja.


Ars yang telah menunjukkan kekuatan mutlak kepada mereka, berdiri tegak di depan salah satu Iblis Tingkat Menengah, menatapnya ke bawah dengan tatapan dingin.


"Meski Iblis Tingkat Menengah, dikalahkan semudah ini... dan orangnya sendiri berpikir ini bukan hal besar, itu malah makin merepotkan."


Gumam Shion bercampur helaan napas. Rendahnya penilaian diri Ars, di satu sisi menyembunyikan kemampuannya, namun di sisi lain menjadi penyebab kesalahpahaman orang sekitar akan kekuatannya yang di luar nalar.


"Ars, apa kau berhasil mengorek informasi?"


Shion mendekati Ars sambil tersenyum masam dan bertanya.


"Tidak, biarpun diajak bicara sama sekali tidak ada respon. Seperti kata Shion, mungkin ini individu yang tidak bisa bicara."


"Hmm, meski begitu, aneh juga kalau tidak ada respon sama sekali. Aku memang bilang individu yang bisa bicara itu langka, tapi biasanya komunikasi minimal masih mungkin dilakukan."


Tatapan Shion tertuju pada Iblis Tingkat Menengah yang duduk di depan Ars.


Mungkin merasakan hawa itu dengan peka, Iblis Tingkat Menengah itu sedikit menyusutkan tubuh, memalingkan pandangan dan menunduk.


Sekilas terlihat seperti gerakan sepele, namun Shion tidak melewatkan apa yang ada di balik gerakan itu. Sikap Iblis Tingkat Menengah itu, alih-alih sekadar reaksi insting, jelas menunjukkan pertimbangan rasional.


"Ternyata benar, dia mengerti bahasa kita."


Shion yakin. Lawannya jelas mengerti arti tatapannya.


Jika demikian, bisa dipastikan komunikasi tingkat tertentu dengan Iblis Tingkat Menengah ini mungkin dilakukan.


Shion mengubah tangannya menjadi cakar menggunakan Gift [Change], lalu menempelkannya ke leher Iblis Tingkat Menengah itu.


"Maaf pakai cara klasik. Kalau kau buka mulut, kau tidak perlu mati—bagaimana?"


Iblis Tingkat Rendah dan Menengah, karena kecerdasannya rendah, tidak akan bereaksi kecuali ditunjukkan niat yang jelas.


Lagipula, menggunakan cara damai—meski berupa ancaman—terhadap Iblis adalah hal yang sangat langka. Sebab, hukum menetapkan bahwa Iblis, termasuk Tingkat Atas, boleh dibunuh begitu ditemukan, sehingga hampir tidak ada yang mau bernegosiasi.


Mungkin karena menerima perlakuan langka itulah, Iblis Tingkat Menengah itu menunjukkan reaksi.


"...Apakah kalian tidak akan membunuh kami?"


Gumam Iblis Tingkat Menengah itu pelan sambil melirik rekan-rekannya yang pingsan.


Tak disangka, kata-katanya lancar.


Artinya, dia termasuk dalam golongan yang langka.


Justru karena itulah, Shion tidak bisa tidak merasa kasihan pada Iblis Tingkat Menengah di depannya ini.


Hanya butuh sedikit kekuatan lagi, sedikit pemicu sepele, mungkin dia bisa mencapai Tingkat Atas—Shion menyadari kemungkinan itu.


Sayang sekali. Benar-benar sayang. Pasti dia sendirilah yang paling merasa kesal.


Antara Tingkat Menengah dan Tingkat Atas, perbedaan kekuatannya terlalu jelas.


Posisi mereka tidak akan pernah berbalik, dan hampir tidak ada harapan bagi Tingkat Menengah untuk berkembang lebih jauh.


Akibatnya, banyak Iblis Tingkat Menengah dimanfaatkan sebagai pion buangan. Padahal sudah berevolusi dari monster, namun yang menunggu di depan sana sebagian besar hanyalah akhir yang tragis.


Shion mengangguk, lalu berbicara seolah mewakili perasaan Ars.


"Itu tergantung pembicaraan selanjutnya. Untuk saat ini kubilang saja tidak ada alasan untuk membunuh. Jadi, kenapa kalian ada di sini? Apa tujuannya?"


"Kami diperintahkan oleh 'Antitesis Buangan No. I' untuk mencari dua orang wanita."


"Wanita yang dimaksud? Apakah kau mendengar informasi detailnya?"


"Satu wanita berambut perak, satu lagi Ratu Hel. Katanya yang terakhir menderita luka berat. Kami diperintahkan untuk segera melapor begitu menemukan mereka."


"Artinya, mereka belum ditemukan, kan?"


"Ya. Selain kami, ada pasukan pencari lain yang bergerak, tapi belum ada penemuan sampai sekarang."


Menerima perkataan Iblis Tingkat Menengah itu, Shion bertukar pandang dengan Ars.


Ars memiliki kemampuan membedakan kebohongan dari 'suara' lawan menggunakan Gift [Hearing].


Jika bergerak, napas menjadi kacau dan detak jantung berdegup kencang.


Hal itu sama saja dengan kata-kata, jika berbohong, suaranya akan menjadi tidak teratur.


Selama masih makhluk hidup, pasti akan menunjukkan reaksi melalui suara tertentu.


Itu adalah fenomena yang umum bagi semua makhluk hidup, dan tidak ada pengecualian.


"Shion, sudah kupastikan, sepertinya dia tidak berbohong."


Fakta bahwa Ratu Hel terluka parah memang mengkhawatirkan mengingat posisi yang dipercayakan Sebas.


Namun, karena saat ini keselamatan keduanya terkonfirmasi, Ars mengelus dada saking leganya. Melihat keadaannya, Shion tersenyum kecil, namun segera menghapusnya dan kembali menatap Iblis Tingkat Menengah.


"'Antitesis Buangan No. I' Hajarl pergi ke mana? Apakah dia mengejar mereka sendiri?"


"'Raja' meninggalkan garis depan sementara untuk menyembuhkan lukanya."


"...Memang hebat ya, Yulia."


Gumam Ars tanpa sadar.


Hajarl mundur karena terluka bisa dibilang kabar baik.


Tentu saja, belum tentu itu perbuatan Yulia. Meski begitu, dalam benak Ars sepertinya itu dianggap perbuatan Yulia. Memang jika dianalisis secara situasi, mengingat informasi Ratu Hel terluka, kemungkinan besar Yulia pelakunya.


Namun, sambil memandang sekeliling, Shion menyimpulkan situasi ini adalah efek batu sihir yang diisi 'Death Flüstern'.


Akan tetapi, karena ini tak lebih dari dugaan Shion, dia tidak mengatakannya pada Ars.


Lagipula, membiarkan Ars salah paham seperti ini lebih baik untuk mencegahnya mengamuk. Jadi Shion melanjutkan pembicaraan.


"Kalau begitu, apakah yang mencari mereka hanya Iblis Tingkat Menengah seperti kalian?"


"Tidak, Iblis Tingkat Atas—'Antitesis Buangan' No. VII dan No. VIII juga dikerahkan untuk pencarian."


"Hah... benar juga, tidak mungkin cuma diserahkan ke Tingkat Menengah, ya."


Shion tanpa sadar menghela napas.


Jika hanya Tingkat Menengah, Yulia mungkin masih bisa lolos meski sambil melindungi orang terluka.


Tapi jika Iblis Tingkat Atas diterjunkan, bahkan Yulia pun mungkin akan kesulitan.


"Tergantung sisa Mana Yulia, ya... nah, bagaimana ini..."


Sepertinya sulit mengorek informasi lebih lanjut dari Iblis Tingkat Menengah.


Sesaat Shion berpikir untuk mengejar jejak Yulia, tapi jujur saja, dia menilai itu kemungkinan besar akan sia-sia.


Sebab, jika Yulia kabur menggunakan sihir, dia pasti sudah tidak ada di sekitar sini. Ditambah lagi, fakta bahwa Iblis Tingkat Menengah datang mencari sampai ke sini menunjukkan bahwa tidak ada jejak jelas yang tertinggal.


"Ars... selanjutnya bagaimana?"


"Aku sudah mencoba mencari 'suara' di sekitar, tapi aku tidak mendengar 'suara' Yulia dan yang lainnya. Mereka pasti sudah tidak ada di sekitar sini. Mengingat sifat Yulia, dia juga tidak akan kembali ke sini. Ayo kembali ke <Villeut Sisters Lampfire> dulu dan berdiskusi dengan Karen."


"Kalau Ars yang bicara pasti tidak salah... Memang benar tidak ada gunanya mencari membabi buta hanya berdua, ya."


Shion mengangguk setuju, lalu menatap Iblis Tingkat Menengah.


"Sisanya, mau diapakan mereka ini."


"Level segini sih tidak akan jadi lawan sepadan bagi Yulia, biarkan saja."


Meskipun mereka kembali mencari Yulia, Iblis Tingkat Menengah yang tidak berkutik melawan Ars ini rasanya mustahil bisa bertarung dengan benar.


"Tapi, Ars, siapa tahu ada kemungkinan terburuk. Tidak perlu sampai membunuh, tapi sebaiknya dibuat tidak bisa bertarung demi keamanan Yulia dan yang lainnya."


Membunuh memang tidak tega, tapi membiarkan hidup begini bisa mengundang situasi yang tak bisa diperbaiki jika terjadi masalah. Terutama demi memastikan keamanan Yulia, dia ingin menghindari situasi yang menghambat tindakan Yulia dengan melepaskan mereka.


"Memang benar kata Shion, tapi..."


Jika terlihat ada niat melawan, Ars pasti sudah memojokkan mereka hingga tidak bisa bertarung tanpa ragu. Tapi tidak ada tanda perlawanan di ekspresi Iblis Tingkat Menengah itu, malah dia menjawab pertanyaan dengan jujur.


Saat mereka berdua bingung harus bagaimana, Iblis Tingkat Menengah itu bergumam pelan.


"...Aku tidak berniat terlibat dengan wanita itu lagi. Aku akan peringatkan yang lain juga. Jadi, tolong lepaskan kami di sini."


Permohonan—tidak ada kebohongan dalam suaranya, dan di mata yang menatap lurus itu terdapat ketakutan.


Dari mata itu, Ars teringat pada pria Iblis yang pernah dia biarkan lolos.


"Kalau tidak salah, namanya 'Antitesis Buangan No. VIII' Zeld, ya. Dia tidak memperlihatkan sosok menyedihkan seperti ini, lho."


Iblis Tingkat Atas yang pernah menghalangi Ars saat hendak menyelamatkan Shion dan Karen. Pria itu sadar tidak bisa menang, tapi berharap Ars bertarung serius, dan tidak memperlihatkan sikap memalukan demi nyawa.


"Baiklah. Kali ini kulepaskan. Tapi, kalau nanti kalian menghalangi jalanku lagi, saat itu aku tidak akan segan-segan."


"Dimengerti. Akan kukatakan hal itu pada yang lain juga."


"Sebaiknya kalian bergabung di bawah 'Antitesis Buangan No. VIII'. Dia pasti bisa mengelola kalian dengan baik."


Meski cuma sekali bertarung, Zeld sepertinya punya sifat pengasuh yang baik. Terlebih lagi, lebih mudah mengatasi masalah jika mereka berkumpul di satu tempat.


"Ars, apa tidak apa-apa?"


Shion bertanya dengan agak cemas.


"Ya, kalau terjadi sesuatu karena ini, aku yang akan bertanggung jawab."


Tidak ada keraguan dalam suara Ars.


Bukan cuma Yulia. Jika ada orang lain yang menjadi korban, saat itu Ars akan bertanggung jawab memojokkan mereka sampai ke ujung neraka dan membereskannya.


"Maka dari itu, buat aku berpikir bahwa keputusanku ini tidak salah."


"Aku mengerti. Aku akan menuruti keputusanmu. Kami tidak akan memusuhimu di masa depan."


Entah apa yang dirasakannya dari tatapan dingin Ars yang menatap ke bawah, Iblis Tingkat Menengah itu gemetar sekali. Lalu, dia mengangguk mantap seolah meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalau sudah punya tekad sampai segitu, tidak ada lagi yang perlu kukatakan."


Shion menghela napas kecil, lalu melemaskan bahunya seolah menyerah.


"Jadi, terakhir aku ingin tanya... apa kau dengar alasan penyerangan terhadap Yulia dan yang lainnya?"


Ars kembali menatap Iblis Tingkat Menengah itu dan melontarkan pertanyaan.


"Sepertinya tujuannya adalah kepala Ratu Hel. Tapi, tampaknya gagal dan dia merasa kesal."


"Kenapa kepala Ratu Hel dibutuhkan?"


"Saat ini, saudara-saudara kami sedang menyerang untuk menjatuhkan 'Helheim'. Perlu mematahkan semangat mereka yang melawan. 'Raja' bilang tujuannya adalah pembebasan kaum Iblis."


Ars dan Shion saling berpandangan.


"Sepertinya memang lebih baik kembali ke <Villeut Sisters Lampfire> dulu, ya."


"Ya, sebaiknya beritahu Iblis bernama Sebas itu. Siapa tahu dia tidak sadar kalau 'Helheim' sedang diserang."


"Ada lagi yang ingin ditanyakan?"


Menanggapi pertanyaan Iblis Tingkat Menengah itu, Ars menggelengkan kepala.


"Sudah tidak ada. Terima kasih sudah memberitahu banyak hal. Setelah kami menghilang, terserah kalian mau apa."


Ars berkata begitu, lalu mengeluarkan cincin yang terukir koordinat <Villeut Sisters Lampfire>, dan di tangan satunya dia menggenggam batu sihir yang diisi sihir 'Teleportasi'.


"Apa Shion masih ada yang ingin ditanyakan padanya?"


"Hmm. Benar juga. Kalau begitu, sekalian saja kusampaikan satu hal terakhir."


"Apa itu...?"


Iblis Tingkat Menengah itu memiringkan kepala menunggu kata-kata Shion yang menyusul pertanyaan Ars.


"Berterima kasihlah pada belas kasihan Ars. Kalau kalian melanggar janji, neraka sudah menunggu. Bukan tempatku untuk mengatakannya, sih... tapi demi Ars—tidak, demi kalian sendiri, aku beri peringatan keras."


Pada saat itu, tekanan dahsyat yang dipancarkan Shion menerjang Iblis Tingkat Menengah itu.


Meskipun menghadapi aura yang terasa menekan, Iblis Tingkat Menengah itu tidak memalingkan pandangan, mengangguk dalam seolah meresapi kata-kata Shion.


"Kata-kata itu, akan kuukir dalam hati."


"Shion, ayo segera pergi. Waktunya mendesak."


"Ya."


Dengan jawaban singkat sebagai penutup, Shion dan Ars menghilang dari tempat itu.


Iblis Tingkat Menengah membelalakkan mata melihat Ars dan Shion yang menghilang dalam sekejap. Dia melihat sekeliling dengan hati-hati untuk memastikan apakah mereka benar-benar sudah pergi.


Akhirnya, setelah memastikan sosok mereka tidak terlihat, dia menghela napas lega yang panjang.


"...Wanita itu Iblis Buatan, ya. Tak disangka Mana-nya bisa sestabil itu..."


Iblis Tingkat Menengah bergumam sambil berdiri dan menatap langit.


Kehebohan tadi telah senyap seolah bohong, dan waktu yang tenang mengalir.


Sambil menyipitkan mata menerima cahaya matahari yang terbenam di barat, dia menurunkan pandangan ke rekan-rekannya yang tergeletak di kaki.


"Ini zona waktu di mana monster mulai bertambah. Aku harap mereka segera sadar..."


Saat itu, terdengar suara dari belakang.


"Sepertinya kau sedang kesulitan, jadi biar kami bantu."


Karena suara tiba-tiba itu, Iblis Tingkat Menengah terkejut dan menoleh, segera memasang kuda-kuda.


Yang muncul di hadapan matanya adalah pria berotot kekar. Di dahinya terukir tanda "VIII" yang menunjukkan "Antitesis Buangan".


Selain itu, di belakangnya terlihat dia diikuti oleh Iblis Tingkat Menengah yang mirip dengannya.


Menyadari lawannya adalah Iblis Tingkat Atas, Iblis Tingkat Menengah segera berlutut dan menundukkan kepala.


"...Maafkan kelancangan saya."


"Tidak masalah. Daripada itu—sepertinya kalian bertarung melawan 'Essence of Magic, Mimir', ya."


"............?"


Atas pertanyaan 'Antitesis Buangan No. VIII', Iblis Tingkat Menengah mengangkat wajah dan memiringkan kepala.


"Bocah laki-laki tadi—maksudku Ars. Dia juga dipanggil 'Essence of Magic, Mimir'. Karena nama itu lebih terkenal, aku tanpa sadar mengatakannya... tapi sepertinya kau tidak tahu ya."


"Dia itu... 'Essence of Magic, Mimir'?"


"Benar. Jadi—kau ingin menanyakan alasanku datang ke sini, kan?"


Iblis Tingkat Menengah mengangguk kecil, lalu membuka mulut.


"Bukankah Anda diperintahkan oleh 'Raja' untuk mencari Ratu dan rekannya?"


"Aku tidak berniat menuruti perintah itu. Karena kami tidak berniat memusuhi dia."


'Antitesis Buangan No. VIII' menjawab dengan senyum masam, Iblis Tingkat Menengah mengangguk paham.


"Artinya... kalian berdua terhubung, ya. Makanya dia mengatakan hal seperti itu."


"Sepertinya kau salah paham. Apa yang dia katakan padamu?"


"...Disuruh menuruti Anda. Katanya saya tidak akan diperlakukan buruk."


"Kalau begitu wajar saja jika salah paham... tapi aku dan dia tidak terhubung secara khusus. Dulu aku kalah telak darinya. Itu saja ceritanya."


"Kalah...?"


Melihat Iblis Tingkat Menengah kesulitan memahami, 'Antitesis Buangan No. VIII' tersenyum masam sambil mengulurkan tangan.


"Nanti kuceritakan detailnya. Sekarang ikutlah bersamaku. Seperti kata bocah itu, aku akan melindungi kalian."


"...Kalau diketahui 'Raja', bukankah akan jadi masalah gawat?"


"Tidak masalah. 'Raja' memang punya kekuatan, tapi tidak punya karisma. Tidak masalah."


"Memang benar... kalau begitu, mari bergerak bersama."


Iblis Tingkat Menengah meraih tangan yang terulur.


Kepada dia, 'Antitesis Buangan No. VIII' menambahkan satu syarat.


"Ada beberapa hal yang ingin kujadikan janji—satu, jangan pernah memusuhi bocah itu lagi."


"Dimengerti. Janji itu akan kujaga."


Iblis Tingkat Menengah yang mengetahui kekuatan Ars dengan tubuhnya sendiri menyetujui dengan mudah.


"Satu lagi. Ini yang paling penting jadi tanamkan di kepalamu. Gadis berambut perak yang dicari 'Antitesis Buangan No. I'—jangan sentuh wanita itu juga."


"Gadis yang kabur bersama Ratu itu ya... apakah dia sekuat itu?"


"Kuat. Kekuatannya sampai bikin tercengang. Tapi, tidak sekuat Ars."


Meski berkata begitu, ekspresi 'Antitesis Buangan No. VIII' terlihat agak kaku.


Tekanan dahsyat yang dirasakan saat berhadapan dengan gadis berambut perak dulu—hal itu memang tersisa dalam ingatan.


Namun, tidak ada rasa putus asa seperti saat menghadapi Ars.


Hanya satu yang berbeda, yaitu niat membunuh pekat yang dipancarkan gadis itu. Itu mencapai puluhan kali lipat dari Ars.


"Tapi, 'itu' tidak punya belas kasihan. Tidak memiliki kebaikan seperti bocah itu. Jika bertemu, dia akan memenggal leher kita tanpa ragu. 'Itu' memelihara monster di dalam hatinya."


"...Maksudnya kalau bertemu harus lari?"


"Bukan, memperlihatkan punggung adalah hal terburuk. 'Itu' dengan senang hati memojokkan lawan yang memperlihatkan punggung. Jika bertemu, tundukkan kepala dan mohon ampun mati-matian. Kalau dia kehilangan minat, ada kemungkinan dia akan melepaskanmu."


"...Apakah dia keberadaan yang seberbahaya itu?"


"Ya. Dia tidak punya perasaan apa pun selain pada orang terdekatnya. Wanita yang bisa menjadi sangat kejam terhadap orang lain."


"...Wanita berambut perak ya. Aku akan berhati-hati."


"Lakukanlah begitu."


Setelah mengatakan itu, 'Antitesis Buangan No. VIII' memberi isyarat mata pada teman-temannya di belakang.


Mereka mulai memanggul rekan-rekan Iblis Tingkat Menengah yang tergeletak satu per satu.


Iblis Tingkat Menengah yang melihat keadaan itu memiringkan kepala dengan curiga.


"Mau pergi ke mana?"


"Tempat persembunyian kami."


Wajah 'Antitesis Buangan No. VIII' yang menjawab seperti itu menunjukkan senyum yang agak bangga.

Hutan itu diselimuti keheningan yang dalam.


Karena dedaunan lebat menutupi langit, hanya sedikit cahaya yang mencapai tanah.


Di tanah, lumut basah dan dedaunan kering bertumpuk, begitu tebal hingga langkah kaki pun terserap dan menghilang.


Tetesan embun dari dahan sesekali jatuh tes, suaranya bergema dengan sangat keras.


Di ruang yang seolah waktunya berhenti itu, hanya udara dingin dan lembap yang berhembus.


Ruang yang menyeramkan itu tiba-tiba terkoyak.


——Cahaya.


Kilatan cahaya memancar di dalam kegelapan, bersamaan dengan jeritan yang bergema.


"La, lari!?"


Satu ekor, dua ekor, tiga ekor—bayangan menari akibat cahaya yang menyinari dari langit.


Segera setelah itu suara tidak terdengar lagi.


Saat keheningan kembali, sosok seorang gadis yang diterangi oleh sedikit cahaya matahari yang menembus pepohonan terungkap.


Rambut peraknya memancarkan kilau lembut namun dingin, seolah ditenun langsung dari cahaya bulan. Setiap helainya mengalir dengan halus, dan setiap kali ujung rambutnya berayun pelan, ia memantulkan cahaya dan berkilauan bagaikan menaburkan debu bintang.


Kulit putihnya yang transparan begitu murni hingga memberikan kesan dingin seperti salju, menyimpan kehalusan yang seolah akan meleleh dengan fana jika disentuh.


Mata perak keunguan yang jernih bagaikan permata, memancarkan cahaya tenang bahkan di dalam kegelapan.


Bagaikan peri yang tidak berasal dari dunia ini—sosoknya menyimpan keindahan yang luar biasa namun juga tampak fana, hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa segan dan ragu.


Namanya Yulia. Sosok yang dulunya adalah Putri Pertama Kerajaan Villeut yang kini telah runtuh.


"...Sepertinya sudah tidak ada pengejar, ya."


Sambil menghela napas, dia menyisipkan senjatanya ke pinggang.


Kemudian dia mendekati bangkai monster yang tergeletak di dekatnya.


"Monster apa ini ya? Apa bisa dimakan?"


Yulia memiringkan kepalanya dengan imut ke kanan dan ke kiri, lalu mencengkeram monster itu dengan satu tangan dan mulai berjalan menyeret tubuh raksasanya.


Jika ada pihak ketiga di sini, mereka pasti akan kehilangan kata-kata melihat pemandangan di depan mata.


Sosoknya yang manis—kulit transparan dan tubuh yang ramping. Lengan kecilnya memberikan kesan yang jauh dari kata kuat, namun caranya menyeret monster raksasa dengan kekuatan yang sulit dipercaya itu benar-benar membalikkan akal sehat.


Di tengah suara tubuh berat monster mirip babi hutan yang menyeret dan membelah tanah, langkah kakinya begitu anggun, bahkan memancarkan ketenangan seolah tidak terjadi apa-apa. Jika ada yang menyadari sosoknya, mereka pasti tidak bisa menahan perasaan campur aduk antara takut dan hormat akan siapa sebenarnya dia.


"...Kamu dapat buruan besar lagi, ya."


Setelah Yulia berjalan beberapa saat, seorang wanita yang sedang beristirahat di bawah pohon besar menyapanya.


Rambut emasnya memancarkan kilau seolah menangkap cahaya matahari secara langsung. Setiap gerakannya membuat rambut itu bergelombang lembut dan memercikkan cahaya yang menyilaukan. Saat angin bertiup, bahkan terlihat seolah-olah sinar matahari itu sendiri yang bergoyang.


Di dalam dua matanya yang jernih bagai permata dengan warna berbeda, tersimpan kebijaksanaan mendalam dan kekuatan yang tenang, namun bukan hanya itu. Terkandung kehangatan yang memeluk lembut siapa pun yang melihatnya, tatapan itu memiliki kekuatan yang membuat orang merasakan semacam kedamaian.


Penampilannya bagaikan keberadaan suci, memancarkan atmosfer yang agak sulit didekati, namun di saat yang sama begitu memikat hingga tak bisa melepaskan pandangan.


Rambut emas dan kecantikan sempurnanya itu mengingatkan pada keberadaan surgawi.


Namun, kulitnya yang halus seperti keramik itu tampak pucat tidak sehat, memberikan kesan yang agak fana. Jelas di mata siapa pun bahwa kondisinya sedang buruk, dan keindahannya dibayangi oleh sedikit rasa sakit.


Wanita itu adalah Ratu yang bertahta di puncak 'Helheim', satu-satunya kota yang dikuasai oleh makhluk cerdas di 'Lost Land'—Hel.


Meskipun dia adalah keberadaan yang ditakuti hanya dengan namanya, dia juga dikenal sebagai salah satu dari '12 Supreme Mage Kings', peringkat tertinggi di 'Asosiasi Sihir' yang paling berpengaruh di dunia—disebut sebagai Mahkota Kedua Lilith.


"Bagaimana kondisi lukamu?"


"...Tidak baik, ya."


Yulia sendiri juga terluka, tapi luka Lilith yang bertarung melawan Hajarl jelas lebih serius.


Kemungkinan besar dia menderita kerusakan fatal di bagian perut, tapi karena dia tidak mau memberitahu Yulia, Yulia tidak bisa mengetahui kondisi spesifiknya.


(Padahal kalau sakit bilang saja sakit...)


Yulia bergumam dalam hati, tapi dia tidak tahu bagaimana cara mendekatkan jarak dengan lawan yang tadi bermusuhan dengannya.


Karena telah ditolong olehnya, Yulia merasa sangat frustrasi karena tidak bisa mengobati lukanya. Namun, Yulia mengerti bahwa sulit untuk menuntut keakraban secara tiba-tiba, jadi dia menekan keinginan untuk bertanya lebih jauh dan hanya bisa menyerahkan diri pada suasana di sana.


"Fufu, tidak perlu pasang wajah cemas begitu kok. Kami, kaum Iblis, luka seperti apa pun akan sembuh secara alami. Yah, memang ada perbedaan individu, tapi seiring waktu lukaku akan sembuh dengan sendirinya."


Di tengah senyum Lilith, jika diperhatikan dengan saksama, memang luka-luka kecil di wajahnya mulai menghilang. Tapi melihat itu pun tidak bisa menghapus kecemasan Yulia.


Meskipun Iblis memiliki kemampuan penyembuhan yang tinggi, fakta bahwa dia bersikeras kondisinya baik-baik saja padahal menderita luka yang penyembuhannya selambat ini, dalam artian tertentu justru menjadi hal yang tidak bisa membuat lega.


"Begitu ya, bagaimana soal makan?"


"Aku tetap makan dong. Bagaimanapun untuk menyembuhkan luka tidak ada cara lain selain makan dan mengumpulkan tenaga."


"Di situ tidak ada bedanya dengan manusia, ya."


"Ara, makhluk hidup itu hampir semuanya sama, lho. Cuma beda ras, hanya perbedaan sepele."


Sambil mendengarkan kata-kata Lilith yang bermulut tajam, Yulia memotong-motong monster itu dengan keterampilan yang luar biasa.


"Ngomong-ngomong, Iblis itu berevolusi dari monster, kan. Apa kamu tidak apa-apa memakan monster?"


"Yulia-san, apa kamu tahu proses evolusi Iblis?"


"Aku dengar katanya monster berevolusi setelah terus-menerus terpapar Miasma, sih."


Ada dua asal usul kelahiran Iblis.


Satu adalah mereka yang lahir dari sesama Iblis.


Satu lagi adalah mereka yang berevolusi dari monster akibat terpapar Miasma.


Karena itu, jika ditelusuri ke masa lalu, nenek moyang Iblis dianggap sebagai monster.


"Benar sekali. Jadi, kalau bicara soal itu, aku juga termasuk golongan yang 'berevolusi', lho."


Yulia sedikit mengerutkan kening mendengar pemilihan kata yang sepertinya mengandung makna tersirat itu.


Meski begitu, sambil tetap memotong-motong monster dalam diam, dia mengirimkan tatapan yang mendesak kelanjutannya.


"Kalau dijelaskan lebih rinci, di tempat yang lebih dalam dari 'Area Tinggi' di 'Lost Land'—tempat yang disebut 'Area Dalam', para monster saling berebut wilayah kekuasaan dengan sengit. Pemenang memakan daging yang kalah, menjadikan kekuatan itu miliknya, lalu mencari musuh baru. Sambil mengulang hal itu, mereka terus menimbun Miasma di tubuh—dan akhirnya, monster itu berevolusi menjadi Iblis."


"...Begitu ya, artinya mencapai tahap Iblis adalah hak istimewa yang hanya diperbolehkan bagi monster yang terus menang, ya."


"Benar. Makanya, tidak ada yang menolak daging monster. Lagipula, begitu berevolusi, kami sudah berbeda dari monster. Tidak dianggap kanibalisme. Sebaliknya, ada juga Iblis yang marah kalau kau bilang begitu dan menyamakan kami, jadi berhati-hatilah."


"Begitu ya... kalau begitu, kamu bisa memakannya tanpa sungkan, ya."


Selesai memotong monster dengan keterampilan yang luar biasa, Yulia menyalakan api unggun kecil di dekatnya, dan mulai membakar daging dengan cekatan.


"Kamu terbiasa, ya. Kalau tidak salah, kamu mantan putri raja, kan? Punya pengalaman seperti ini?"


"Biarpun putri raja, itu cerita di negara kecil, kok. Ada banyak hal yang harus kulakukan sendiri. Lagipula, aku sering menyelinap keluar istana untuk menjelajahi hutan, jadi aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini."


Kampung halaman Yulia, Kerajaan Villeut, adalah negara kecil yang diapit oleh negara-negara besar.


Salah satunya adalah Kekaisaran, di mana pertempuran kecil terus terjadi berulang kali.


Pada akhirnya Kerajaan Villeut dihancurkan oleh tangan Kekaisaran, tapi sebelum itu, Yulia sering menyelinap keluar istana malam-malam dan melakukan serangan malam ke perkemahan Kekaisaran.


Dia belajar banyak hal dari Elsa yang ditemuinya saat itu, dan berkat bimbingannya, dia mengasah kemampuan berkemahnya.


"Ara, tomboi sekali sampai tidak terlihat seperti putri raja, ya."


"Aku sering diomeli macam-macam, sih. Tapi bagiku sendiri itu menyenangkan bisa dapat banyak pengalaman. Lagipula baru-baru ini juga ada pengalaman serupa."


Saat pelarian bersama Ars-lah dia benar-benar merasakan bahwa kemampuan yang dipelajarinya selama ini tidak sia-sia.


Yulia yang ditawan Kekaisaran berhasil lolos dengan susah payah, dan secara ajaib bertemu Ars. Dalam perjalanan menuju 'Kota Sihir' bersamanya, ada banyak momen dia memamerkan kemampuan berkemahnya, dan setiap kali itu dia merasa pengalamannya berguna.


"Aku jadi berpikir segala sesuatu memang harus dialami dulu. Buktinya sekarang juga berguna, kan."


Yulia teringat hari-hari yang dihabiskannya bersama Ars saat pelarian, tanpa sadar bibirnya mengendur, namun dia berusaha menahan senyum sambil menyodorkan daging monster yang sudah matang kepada Lilith.


"Ada apa? Tidak mau makan?"


Namun, karena Lilith sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menerimanya, Yulia memiringkan kepala dengan heran.


"...Ini, bisa dimakan?"


Lilith menatap lekat-lekat gumpalan daging yang gosong hitam legam itu dengan ekspresi seolah sedang melihat racun.


"Tidak masalah. Bisa dimakan, kok. Tadi Lilith juga bilang, kan, kalau makan monster itu tidak apa-apa."


"...Memang bilang. Aku memang bilang begitu, tapi bukankah itu dan ini adalah hal yang berbeda?"


"Jangan egois dong. Di tengah hutan begini makanan terbatas, bumbu juga tidak ada. Lagipula, dulu aku pernah mengalami hal serupa dengan Ars, dia tidak mengeluh sedikit pun dan memakannya—meski tidak bilang enak, tapi mungkin dia berpikir begitu."


Saat Yulia mengatakannya sambil mengangkat bahu ringan, Lilith mengerutkan kening dan menatapnya dengan mata curiga.


"Bukan itu. Kamu terlalu mengalihkan topik. Yang ingin kukatakan adalah—ah sudahlah. Kamu makan duluan sana."


Sambil menghela napas, Lilith mengambil gumpalan daging gosong hitam itu, lalu kali ini menyodorkannya ke Yulia. Melihat itu sekilas, Yulia menggelengkan kepala sambil tersenyum masam.


"Punyaku sedang dipanggang sekarang jadi tidak usah. Lagipula, aku tidak mungkin merebut makanan orang yang terluka, kan."


"Ka, ka, kamu ini berniat memberi makan benda semacam ini pada orang terluka—guh!?"


Saat Lilith hendak membuka mulut sambil gemetar, tiba-tiba dia memegangi perut dan berjongkok kesakitan.


Sepertinya karena mencoba bersuara keras, lukanya jadi nyeri.


"Astaga, jangan memaksakan diri. Orang sakit makan saja dengan tenang."


Sambil berkata begitu, Yulia memasukkan bagian daging bakarnya sendiri ke mulut.


Tapi, dia segera memasang ekspresi aneh dan menundukkan pandangan. Menyadari dagingnya masih mentah, diam-diam dia mulai membakarnya lagi di atas api.


Lilith yang menatap lekat keadaan itu, sesaat mengirimkan tatapan penuh dendam pada Yulia.


Namun, entah akhirnya menyerah atau membulatkan tekad—Lilith mengambil gumpalan daging hitam gosong itu, dan akhirnya memasukkannya ke mulut.


"Ugh... tidak enak sekali... Pahit sekali. Orang yang terluka parah sepertiku disuruh makan racun, i-ini penyiksaan macam apa sih?"


Sambil berkaca-kaca, Lilith mengunyah gumpalan daging itu, mengeluarkan suara kriuk-kriuk seolah sedang memakan batu.


"Jadi, sekarang bagaimana?"


Yulia bertanya dengan datar sambil memandangi Lilith yang makan sambil menangis.


Lilith mengerutkan wajah, menatap Yulia dengan pandangan penuh ketidakpuasan.


"...Aku menghormatimu dalam artian tertentu karena bisa bertanya begitu di situasi ini."


Meski begitu, entah karena ingin lari dari kenyataan atau ingin mengalihkan kesadaran dari gumpalan hitam itu, Lilith dengan enggan menanggapi topik Yulia.


"Yang pasti kita sekarang ada di Area Tinggi."


Lilith mengeluarkan satu batu sihir, lalu mengalirkan Mana ke dalamnya.


Namun, batu sihir itu tidak menunjukkan reaksi apa pun.


"Sayang sekali. Kalau ini Area Tengah, sihir 'Teleportasi' yang ada di batu sihir harusnya aktif. Kenapa bisa jadi begini ya... kalau ikut prosedur yang benar, kita tidak akan tersesat. Aaah... benar-benar menyedihkan."


Lilith menatap Yulia dengan tatapan yang sengaja dibuat seolah menyalahkan.


Menghadapi itu, Yulia memalingkan wajah dengan canggung, lalu setelah berpikir sejenak dia membuka mulut.


"Se-sehebat dirimu pun, apa tidak bisa tahu kita ada di mana sekarang?"


Sikap tangguhnya tadi entah pergi ke mana, suara Yulia dipenuhi rasa bersalah.


Yulia yang sekarang tampak seperti gadis yang akan remuk oleh rasa bersalah.


Wajar saja, karena jelas Yulialah penyebab mereka tidak tahu lokasi mereka saat ini.


Demi melarikan diri dari 'Antitesis Buangan No. I' Hajarl, Yulia mengaktifkan sihir 'Lightspeed, Eclair' menggunakan Gift Langka [Light]. Namun, akibat terus berlari tanpa sempat memikirkan arah, saat sadar dia sudah benar-benar kehilangan posisi.


Tentu saja, Yulia juga ingin membela diri.


Dia harus melepaskan diri dari pengejar sambil menggendong Lilith yang terluka parah, jadi itu hal yang tak terelakkan—tapi jika dipikir dengan tenang, cedera Lilith pun dipicu oleh tindakan Yulia, jadi dia ada dalam situasi di mana dia tidak bisa mengeluh meski disalahkan.


"Sayang sekali~, aku juga tidak tahu tuh~"


Entah karena dendam yang kuat akibat dipaksa makan gumpalan hitam itu, nada bicara Lilith terdengar agak menyebalkan.


Yulia hampir saja melontarkan kata-kata marah, tapi dia berpikir semua ini adalah tanggung jawabnya, jadi dia menahannya dan menelannya kembali. Setiap kali hampir terpancing provokasi Lilith, dia mati-matian menekan rasa kesal yang meluap dari dalam dada.


Melihat ekspresi kesal Yulia itu, mungkin Lilith merasa puas, dia menyunggingkan senyum kecil lalu melanjutkan dengan suara lembut.


"Main-mainnya cukup sampai di sini, ayo jawab dengan serius."


Lilith yang telah memaksakan diri menelan seluruh gumpalan daging hitam itu, sambil berkaca-kaca mengarahkan tulang monster yang dijadikan pengganti tusuk sate ke satu arah.


"Aku tidak tahu jarak pastinya, tapi kalau jalan ke arah ini, kita akan sampai di 'Helheim'."


"Apa itu pasti?"


"Ya. Salah satu rumorku—memiliki Mana tak terbatas. Pernah dengar rumor itu tidak?"


Mendengar perkataan Lilith, Yulia memanggil kembali rumor tentangnya dari sudut ingatan.


Saat mengumpulkan informasi secara menyeluruh untuk persiapan bertarung dengannya, dia ingat bahwa ada banyak julukan dan rumor yang melekat pada Lilith.


Di antaranya, cerita tentang "memiliki Mana tak terbatas" adalah yang paling terkenal.


Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di masa lalu, Yulia sampai pada satu kemungkinan.


"Jangan-jangan—apa kamu juga bisa tahu arah berkat efek 'Subjugation'?"


Dalam pengumpulan informasi Yulia tentang Lilith, hal yang sama pentingnya dengan identitas aslinya adalah cerita tentang sumber kekuatannya. Ada juga rumor bahwa dia mendapatkan Mana dengan melakukan 'Subjugation' pada Iblis menggunakan sihir dari Gift-nya.


Artinya, jika merapikan pembicaraan selama ini, jawabannya akan muncul secara alami.


Dan Lilith sendiri tampaknya tidak berniat menyembunyikannya, dia mengangguk dengan mudah seolah membenarkan pertanyaan Yulia.


"Ya, aku mendapatkan Mana dalam jumlah besar melalui sihir 'Subjugation' dari Gift [Necromancy]. Bisa dibilang ini produk sampingan... aku bisa merasakan aliran Mana dari mereka yang diperbudak. Kalau individu sih gerakannya kecil dan sulit dilacak, tapi kalau berkumpul di satu tempat, menentukan lokasinya bukan hal sulit."


"...Apa boleh memberitahuku semudah itu?"


"Ara, aku tidak menyembunyikan soal 'Subjugation', kok. Mengenai produk sampingannya, karena situasinya begini, ada bagian yang mau bagaimana lagi. Diketahui pun tidak masalah, lagipula kamu juga tahu sedikit banyak soal 'Subjugation', kan?"


Yulia tak bisa menjawab perkataan Lilith. Terhadapnya, Lilith tersenyum.


"Tidak perlu sungkan, katakan saja. Ars-san juga pasti menggunakan 'Subjugation', kan. Itu satu-satunya cara menekan 'Mana Deficiency'."


Sambil menyunggingkan senyum yang menyiratkan sesuatu, Lilith melanjutkan kata-katanya.


"Shion-san, ya? Syukurlah dia sehat. Aku lega sihirku berguna, lho."


"Kalau kamu tahu sampai segitu, tidak perlu disembunyikan lagi ya? Memang benar Shion-san selamat berkat 'Subjugation'. Sekarang dia terlihat sehat. 'Mana Deficiency'-nya juga sepertinya sudah sembuh—"


"Tidak akan sembuh."


Lilith menyela kata-kata Yulia.


"Eh?"


Berubah drastis dari suasana sebelumnya, Lilith memberitahu dengan ekspresi serius.


"Makanya, 'Mana Deficiency' itu bukan sesuatu yang bisa sembuh. Dalam artian tertentu, itu penyakit tak tersembuhkan yang akan terus menempel selamanya. Dan akhirnya akan menjemput kematian—untuk menekannya butuh Mana dalam jumlah besar."


"Jadi salah satu pengobatannya adalah sihir 'Subjugation', begitu?"


"Bukan pengobatan sih, tapi karena menekan perkembangannya, mungkin mirip ya... Iblis itu karena masing-masing individunya kuat, jumlah Mana yang dibutuhkan pun jadi sangat besar. Tentu saja, itu bukan sesuatu yang bisa kusiapkan sendirian. Makanya, dalam kasusku, aku membagi Mana dalam jumlah besar dengan memperbudak banyak Iblis."


"Tapi, Ars menyuplai Mana ke Shion-san sendirian—"


Setelah bicara sampai di situ, mungkin Yulia menyadari sesuatu, dia menutup mulutnya.


Melihat keadaan itu, Lilith mengangguk puas.


"Sebesar apa pun Mana yang Ars-san miliki, mustahil mempertahankan Mana Iblis Buatan agar tidak kering dalam kondisi suplai terus-menerus—kalau begitu, dia pasti sudah menciptakan cara untuk memungkinkannya, mungkin lebih mudah dimengerti kalau kubilang dia menggunakan sihir yang berbeda dari 'Subjugation'."


Diberitahu sampai situ oleh Lilith, Yulia akhirnya sadar.


"...Yang Ars gunakan bukan 'Subjugation'."


Karena itu Ars, dia melewatkannya, tapi saat itu, Ars memang tidak menggunakan sihir 'Subjugation' pada Shion, melainkan menggantinya dengan 'Subordination'.


"Akhirnya sadar juga. Itu jawaban yang benar."


Lilith tersenyum senang.


"Kami kaum Iblis ahli dalam membaca aliran Mana. Saat melihat Shion-san, aku langsung paham. Dia telah mengatasi 'Mana Deficiency'. Memang sepertinya ada suplai Mana dari Ars-san, tapi jumlahnya sangat sedikit—mungkin, orangnya sendiri tidak sadar, tapi Mana-nya yang sekarang sebagian besar pulih dengan kekuatannya sendiri."


"...Apa itu benar?"


"Ya, karena aku menyuruh orang mengawasinya. Di pesta perayaan pun, aku mengamati keadaannya secara langsung. Tidak salah lagi dia sudah sembuh dari 'Mana Deficiency'—tidak, lebih tepatnya dibilang 'mulai sembuh'. Tapi, melihat reaksimu, sepertinya tidak ada yang menyadarinya ya."


"Ya, Ars juga kemungkinan besar tidak menyadarinya."


Ars sangat antusias dalam mencari pengetahuan, namun di sisi lain jarang terpaku pada hasil.


Tepatnya, dia punya kepribadian ekstrem, jika berhasil dia langsung kehilangan minat, jika gagal dia akan mengejarnya sampai berhasil. Karena itulah, fakta bahwa 'Mana Deficiency' Shion mulai sembuh pun, daripada tidak tahu, kemungkinan besar kalaupun tahu dia hanya akan menganggapnya enteng seperti "Oh, begitu ya".


"...Dengan begini, apa kau sudah bisa menebak tujuanku?"


Atas pertanyaan Lilith, Yulia hanya menunjukkan ekspresi rumit tak tahu harus berkata apa, dan membiarkan momen itu berlalu dalam diam.


Melihat keadaannya itu, Lilith tersenyum tampak senang, lalu berdiri dan duduk di samping Yulia, kemudian semakin merapatkan tubuhnya.


"Fufu, coba pikirkan baik-baik. Kata-kata yang kuucapkan padamu di pesta teh sebelumnya, ya."


Lilith berbisik lembut di telinga Yulia, lalu meletakkan kepalanya di bahu Yulia begitu saja.


"Hangat dan empuk, bantal yang pas. Hari ini mari kita istirahat begini saja. Kalau begitu, Yulia-san, selamat tidur."


Dijadikan bantal seenaknya, Yulia ingin melontarkan satu-dua keluhan, namun berbagai informasi berputar-putar di kepalanya sehingga dia tidak bisa merangkai kata-kata dengan baik.


Meskipun mengarahkan pandangan pasrah ke langit, dedaunan pepohonan menghalanginya, sehingga dia tidak bisa melihat bintang-bintang.


"...Haa, apa Ars dan yang lainnya mengkhawatirkanku, ya?"


Dia mengumpulkan informasi demi pertarungan melawan Ratu Hel—Lilith, dan menantangnya dengan keyakinan berada di atas angin, namun hasilnya berantakan—tidak, sampai sekarang pun dia masih memikul masalah yang tidak tahu akan berakhir bagaimana.


Meski begitu, Yulia tersenyum pahit tipis.


"...Meski begitu ada hasilnya juga, ya."


Satu-satunya kabar baik mungkin adalah jaraknya sedikit memendek dengan Lilith yang seenaknya menjadikan bahunya bantal.


"Demi besok juga, hari ini berhentilah berpikir."


Memutuskan demikian dalam hati, Yulia melemparkan satu ranting ke api unggun, lalu memejamkan mata sambil menumpukkan kepalanya perlahan di atas kepala Lilith.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close