NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Sen'nou Sukiru De Isekai Musou! ? ~ Sukiru ga Baretara Shokei sa Rerunode Kenzen Seijitsu ni Ikiyou to Shitara. Naze ka Bishouo-tachi ni Aisa Rete Iru Kudan ni Tsuite ~ Volume 3 Chapter 2

Bab 2: K-A-U S-E-N-D-I-R-I Y-A-N-G B-I-L-A-N-G B-E-G-I-T-U


"Hacin!"

Di tengah perjalanan menuju hutan pinggiran ibu kota menggunakan kereta kuda yang disiapkan Lugh, tiba-tiba hidungku terasa gatal dan aku bersin.

"Apa Anda flu, Hugh-san?"

Lugh yang duduk di hadapanku bertanya dengan nada khawatir. Rasanya agak berlebihan hanya karena satu bersin, tapi di tingkat medis dunia ini, flu biasa pun tidak bisa diremehkan. Petualang yang mengandalkan tubuh sebagai modal utama pasti sangat memperhatikan kesehatan, dan di dalam kereta yang sempit begini, wajar jika dia waspada.

"Tidak, aku baik-baik saja. Sepertinya hanya ada seseorang yang sedang membicarakanku."

"Ah, klasik sekali. Ayahku juga sering bilang begitu. Satu kali bersin berarti gosip biasa. Dua kali berarti gosip buruk. Tiga kali berarti gosip baik."

"Benar sekali. Kalau sampai empat kali, itu baru namanya flu."

Ternyata di dunia ini ada juga takhayul seperti itu. Di dunia lamaku pun tiap daerah berbeda-beda, jadi aku sedikit terkejut mendengar Lugh menceritakan takhayul yang persis sama.

"Fumu. Baru kali ini aku mendengar cerita kalau bersin berarti sedang digosipkan orang."

Idiot yang duduk di sampingku mengangguk sambil melipat tangan dengan penuh minat. Sepertinya hal itu tidak umum di ibu kota.

"Eh~? Di Naeble semua orang bilang begitu, kok~"

"Begitu ya, Kerajaan Naeble. Kalau begitu seharusnya lokasinya dekat dengan kampung halaman Hugh."

"Ah, benar juga..."

Kerajaan Naeble adalah salah satu negara kecil yang bertetangga dengan Kerajaan Leese, dan berbatasan langsung dengan wilayah Pnosis. Namun, di antara Kerajaan Naeble dan Kerajaan Leese terdapat pegunungan terjal yang disebut "Pusar Benua", sehingga jalur perdagangan yang menghubungkan kedua negara harus memutar melewati wilayah Pnosis.

Karena itu, hubungan budaya maupun ekonomi antara wilayah Pnosis dan Kerajaan Naeble hampir tidak ada. Lagipula, aku belum pernah mendengar takhayul bersin itu di wilayah Pnosis, jadi ini murni kebetulan belaka.

"Kalau begitu, kalian berdua datang dari Kerajaan Naeble ya. Pantas saja kalian sudah bisa menjadi petualang peringkat B di usia yang sama dengan kami."

"Iya. Di Kerajaan Leese ada Perintah Raja, tapi di Naeble tidak ada."

Di Kerajaan Leese, berdasarkan Perintah Raja, semua anak berusia lima belas tahun yang dianugerahi skill yang berguna untuk perang wajib mengikuti ujian masuk Akademi Kerajaan tanpa terkecuali. Jika lulus, mereka akan masuk akademi dan tinggal di asrama selama tiga tahun. Mereka jadi hanya bisa beraktivitas sebagai petualang di hari libur, seperti aku dan Idiot.

Bisa menjadi petualang peringkat B di usia yang sama dengan kami berarti Lugh dan Tina pasti memiliki skill yang sangat kuat. Jika mereka lahir di Kerajaan Leese, mereka pasti sudah masuk ke Akademi Kerajaan.

Saat aku menunjukkan hal itu, Tina tersenyum ceria.

"Itu juga kedengarannya seru sih~"

"Ahaha, benar juga. Aku rasa menjalani kehidupan sekolah bersama Hugh-san dan Idiot-san tidak akan buruk juga," tambah Lugh.

"Ya, benar."

Meskipun belum sejam kami bertemu, aku merasakan aura unik yang membuat mereka mudah akrab. Istilahnya mungkin "sefrekuensi". Entah kenapa aku merasa sangat cocok dengan mereka berdua.

"Omong-omong, kalian datang ke ibu kota untuk mengambil permintaan mendampingi latihan luar kampus Akademi Kerajaan, kan? Apakah akademi juga membuka lowongan di perserikatan Kerajaan Naeble?"

"Tidak, bukan begitu. Kami sebenarnya memang sudah memindahkan basis kegiatan kami ke Kerajaan Leese tahun ini. Di Naeble memang banyak dungeon dan uangnya banyak, tapi tidak banyak cara untuk menghabiskannya."

"Makanan di Kerajaan Leese jauh lebih enak daripada di Naeble, terus banyak peralatan bagus dan alat sihir yang dijual! Aku jadi benar-benar merasakan perbedaan kekuatan negara~"

"Lalu di tengah situasi itu, kenalan kami di staf perserikatan menawarkan permintaan latihan luar kampus ini, dan kami baru tiba di ibu kota kemarin. Jadi hari ini kami langsung mengambilnya di perserikatan."

"Katanya petualang yang cocok sedang sibuk semua, jadi stafnya sampai membungkuk minta tolong pada kami yang baru saja menempuh perjalanan jauh. Kami jadi tidak enak kalau menolak, ya kan~"

"Bertemu kalian berdua adalah keberuntungan bagi kami. Jauh lebih hemat waktu daripada kami mencari membabi buta di hutan yang tidak kami kenal medannya. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya."

"Tidak, aku pun merasa terbantu. Berkat ini aku tidak perlu mengambil banyak kerjaan peringkat F sekaligus."

Jika tidak disapa oleh Lugh dan yang lain, aku mungkin sedang mencari kucing hilang atau membersihkan selokan sekarang. Imbalan dari pekerjaan itu sangat kecil, apalagi kalau dibagi dua dengan Idiot. Bagiku, ajakan mereka benar-benar pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Hei, hei, kenapa Hugh-san mulai jadi petualang?~"

"Ah, aku butuh uang dalam jumlah yang lumayan."

"Aku tahu! Pasti buat beli hadiah untuk pacar!"

Tina menunjukku dengan mantap sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.

Tebakannya hampir kena... atau lebih tepatnya, hampir sepenuhnya benar. Tapi ada alasan kenapa aku tidak bisa mengatakannya secara jujur.

"Bukan buat pacar kok. Buat hadiah ulang tahun teman sekamar asramaku, sahabatku."

"Yah~ membosankan~"

Tina menggembungkan pipinya dan duduk kembali di samping Lugh. Sambil tertawa pahit melihat kelakuan adiknya, Lugh bertanya padaku.

"Apa kau sudah memutuskan mau memberikan apa?"

"Belum, tidak ada yang spesifik. Lebih tepatnya, aku masih agak ragu..."

Tadinya aku berniat mencari waktu untuk konsultasi dengan Lily, tapi mumpung ada kesempatan...

"Bolehkah aku minta pendapat kalian berdua sebagai referensi?"

"Mari kita lihat... Kalau aku yang menerima, aku akan senang jika ditraktir makan. Merayakan ulang tahun dengan minum bersama sahabat di kedai sampai pagi itu rasanya luar biasa, bukan?"

"Eh~? Karena ini momen spesial, lebih baik barang yang bisa disimpan dong. Kalau aku sih pasti perhiasan~ Seperti cincin atau kalung! Meskipun dari teman perempuan, aku akan senang kalau perhiasannya imut!"

"Begitu ya..."

Makan-makan atau perhiasan, ya.

Kalau minum sampai pagi rasanya kurang cocok, tapi idealnya adalah memesan restoran yang agak bagus di ibu kota, lalu memberikan kejutan hadiah setelah makan. Masalahnya, ulang tahun Lucretia jatuh tepat di tengah latihan luar kampus. Jika waktunya buruk, momen itu akan tiba saat kami sedang berada di dalam dungeon.

Meskipun jadi seminggu lebih awal, mungkin lebih baik kami pergi berdua pada hari libur sebelum latihan dimulai. Aku sempat berpikir untuk mengajaknya memilih hadiah bersama, tapi...

"Eeeh!? Kalau bisa sih hadiahnya kejutan dong! Memang kalau pilih bersama tidak akan salah, tapi nanti dia malah jadi sungkan memilih yang mahal! Tina rasa perasaan 'dia sudah memilihkan ini khusus untukku' itu lebih membuat bahagia~"

"Begitukah...?"

Idiot dan Lugh tampak memiringkan kepala karena tidak terlalu paham, tapi Tina mengangguk dengan penuh percaya diri. Yah, rasanya ini bukan soal perbedaan cara berpikir pria dan wanita, melainkan kepribadian masing-masing. Tapi sepertinya lebih aman mengikuti saran Tina yang sesama perempuan...?

Setelah mengobrol banyak hal dengan mereka bertiga, dalam waktu satu jam kereta kuda akhirnya tiba di kawasan hutan.

"Kita sampai."

Kereta berhenti di tepi luar hutan, tepat di dataran tempat berdirinya kedai-kedai dan kursi penonton saat kompetisi antar kelas dulu. Meskipun sudah dua minggu berlalu, kedai dan kursi penonton yang hancur akibat serangan monster masih dibiarkan begitu saja tanpa dibongkar.

Entah mereka membiarkannya agar bisa digunakan lagi saat kompetisi (yang ditunda ke musim gugur) dilakukan kembali, atau memang dibiarkan membusuk begitu saja. Melihat nilai dan standar di dunia ini, sepertinya pilihan kedua lebih masuk akal. Dunia ini masih jauh dari kesadaran soal masalah lingkungan atau perlindungan alam.

Setelah turun dari kereta, kami mengenakan peralatan masing-masing. Meskipun begitu, aku dan Idiot hanya menyampirkan pedang pinjaman dari Alyssa-san di pinggang. Kami tidak bisa meminjam baju zirah atau peralatan Ksatria Kerajaan.

Alyssa-san juga memberi saran, "Daripada gerakan kalian jadi lambat karena memakai peralatan yang tidak biasa, lebih baik tidak usah pakai sama sekali-ssu."

Terutama bagi Idiot, selama ada pedang dia bisa menangkis hampir semua serangan. Malah Alyssa-san bilang kalau baju zirah hanya akan menghambat gerakannya, sebaiknya dia bertarung tanpa busana saja. Tentu saja tanpa busana itu mustahil, tapi tidak diragukan lagi bahwa Idiot bisa mengeluarkan kemampuan aslinya jika tubuhnya ringan.

Lugh dan Tina juga mengenakan pakaian ringan. Pelindung dada logam dan pelindung lengan (gauntlet). Selebihnya hanya pelindung kaki yang menutupi lutut dan tulang kering.

"Aku pikir petualang itu selalu memakai peralatan lengkap yang berat di sekujur tubuh."

"Itu tergantung orangnya. Memang ada petualang seperti yang Hugh-san bayangkan. Tapi, kami lebih mementingkan kelincahan daripada pertahanan. Guru kami juga begitu."

"Guru selalu bilang, kan~ 'Kalau tidak kena, tidak akan terjadi a—ghuakh!'"

"Itu kan barusan kau kena..." gumamku dalam hati.

Mengabaikan candaan Tina, Lugh membawa pedang di pinggangnya seperti kami, sementara Tina menyampirkan tabung anak panah di punggung dan memegang busur.

"Mari kita maju dengan hati-hati untuk bersiap jika bertemu monster."

Kami memasuki hutan dengan Lugh di posisi paling depan. Idiot maju berdampingan dengan Lugh, sementara aku dan Tina mengikuti di belakang mereka. Formasi yang terbagi menjadi barisan depan dan belakang.

Bagian dalam hutan yang rimbun dengan pepohonan itu terasa remang-remang dan diselimuti keheningan yang mencekam. Suara burung maupun serangga tidak terdengar. Apakah karena skill-ku saat ini adalah "Pyrokinesis"...?

"Mencekam ya~ Di dalam dungeon pun tidak sepi begini."

"Benarkah?"

"Iya. Tergantung tempatnya sih, tapi biasanya cukup ramai karena ada banyak monster yang tinggal di sana. Tapi di sini tidak begitu. Aku bahkan tidak merasakan hawa monster sama sekali~"

...Memang, ini terasa terlalu sunyi.

Setelah berjalan terus selama tiga puluh menit, kami tidak bertemu monster sekali pun. Saat kompetisi antar kelas dulu, meskipun menggunakan skill "Strategist" milik Lily, kami berkali-kali diserang monster sebelum bisa keluar dari hutan ini...

"Aku dengar sebelum kita, Ksatria Kerajaan dan tentara reguler juga sudah melakukan pencarian di hutan ini. Mungkin monster-monster yang ada sudah dibasmi habis."

"...Tidak, bukankah ini terasa tidak alami? Bekas pertarungannya terlalu sedikit."

Idiot meragukan spekulasi Lugh. Kalau dipikir-pikir memang benar, jika ksatria atau tentara telah membasmi monster, seharusnya hutan ini tidak terlihat sebersih ini. Yah, karena aku tidak memakai skill "Ninja", ada kemungkinan aku hanya melewatkannya, tapi kalau Idiot yang bilang begitu pasti ada benarnya.

"...Begitu ya. Mungkin itu sebabnya Kerajaan Leese memberikan permintaan ini kepada Perserikatan Petualang. Jika ksatria dan tentara yang masuk untuk menyelidiki hutan tidak bisa menemukan penyebabnya, atau bahkan tidak bertemu monster sama sekali, tidak heran jika mereka bingung lalu melempar urusannya ke perserikatan."

"Biasanya mereka tidak akan minta tolong ke perserikatan kalau tidak ada apa-apa, sih..."

Ksatria Kerajaan maupun militer pasti punya harga diri dan ingin menemukan penyebabnya sendiri. Karena gagal, akhirnya giliran Perserikatan Petualang yang maju. Kalau begitu, apakah yang memesan permintaan ini adalah militer... faksi Pangeran Brute? Jika Pangeran Lucas, dia pasti sudah punya petunjuk kenapa monster-monster itu tiba-tiba menghilang. Beliau tidak akan mengambil risiko menyebarkan informasi dengan meminta tolong ke perserikatan.

Setelah satu jam mencari, kami tetap tidak bertemu monster. Saat kami mulai berdiskusi untuk kembali karena tidak menemukan petunjuk berarti...

"Bau."

Tina memegang hidungnya dan bergumam seolah menahan rasa mual. Sesaat aku kaget dan mengira dia bicara soal aku, tapi sepertinya bukan itu maksudnya. Hidungku pun mulai menangkap aroma busuk yang samar entah dari mana. Bau seperti keju basi, atau sampah basah yang membusuk... Bau bangkai, ya?

"Mari kita periksa. Mungkin ada petunjuk."

"Ya..."

Aku mengangguk setuju pada usul Lugh. Seiring kami mengikuti asal bau tersebut, aromanya semakin menyengat. Akhirnya kami tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan.

Di tengahnya terdapat kolam dengan air yang keruh kehitaman, dan pepohonan di sekitarnya tampak layu serta melintir dengan bentuk yang aneh. Di pinggir kolam, berserakan beberapa tulang yang sepertinya milik hewan.

Tempat ini benar-benar mencekam... Karena hari masih siang, rasanya tidak terlalu menakutkan, tapi jika aku menemukannya saat senja atau malam hari, aku pasti sudah langsung lari pulang.

"Kak Lugh, apakah ini penyebab kemunculan monsternya?"

"Entahlah... Apa kalian berdua menyadari sesuatu?"

Mendengar pertanyaan Lugh, aku dan Idiot saling lirik. Penyebab kemunculan monster kemungkinan besar adalah obat yang mengubah Lechery dan Rosalie menjadi monster itu. Namun, aku dan Idiot sudah diperintah tegas oleh Pangeran Lucas untuk tidak membocorkan soal obat tersebut. Aku tidak bisa memberitahu Lugh dan Tina tentang keberadaan obat itu.

Meskipun merasa tidak enak karena sudah dijanjikan imbalan...

"Aku rasa kolam ini mencurigakan, tapi maaf. Aku tidak tahu lebih dari itu."

"Begitu ya..."

Lugh melipat tangan dan menempelkan kepalan tangannya di depan mulut. Sepertinya itu kebiasaannya saat sedang berpikir keras.

"Semua monster yang kalian lihat bentuknya sangat mirip dengan hewan penghuni hutan, kan? Kalau begitu, apakah hewan-hewan yang meminum air kolam ini berubah menjadi monster...?"

"Eh~? Masa hewan-hewan mau minum air sekotor ini?"

"Sudah dua minggu lebih sejak monster muncul. Mungkin kualitas airnya memburuk setelah itu."

"Tapi tetap saja terasa tidak alami! Monster yang ditemui Hugh-san dan yang lain kan bukan cuma satu atau dua ekor. Kalau satu-dua hewan datang minum air sih mungkin saja, tapi masa banyak hewan datang minum bersamaan lalu jadi monster?"

"Itu..."

Jika obat itu ditebar di kolam ini, hewan-hewan hutan yang datang minum memang akan berubah menjadi monster. Itu menjelaskan kenapa monster muncul di hutan yang seharusnya tidak punya dungeon... tapi keraguan Tina memang masuk akal.

Mungkinkah hewan-hewan hutan datang minum bersamaan dalam jumlah banyak? Apalagi kompetisi antar kelas diadakan di pagi hari di hutan ini. Apakah mungkin sebuah kebetulan jika hewan-hewan itu datang minum secara serentak tepat saat kelasku masuk ke hutan di siang hari...?

"...Fumu, artinya ada seseorang yang sengaja menggiring hewan-hewan itu ke kolam ini?"

"Iya. Sepertinya hanya itu penjelasannya..."

"Kasus ini sepertinya bakal lebih baik kalau ternyata cuma dungeon yang baru ditemukan~"

Tina tertawa pahit sambil memiringkan kepala, dan kami hanya bisa mengangguk dalam diam. Setelah itu kami mencari di sekitar kolam, tapi tidak menemukan petunjuk berarti lainnya. Karena matahari mulai terbenam, kami meninggalkan hutan dan menempuh perjalanan pulang ke ibu kota.

Begitu kami masuk ke dalam kereta yang sudah menunggu, tanpa sadar kami semua menghela napas panjang.

"Sepertinya permintaan kali ini berhubungan dengan urusan yang cukup gelap. Walaupun kurasa kalian akan baik-baik saja, maaf karena sudah melibatkan kalian."

"Tidak, jangan dipikirkan."

...Malah sepertinya pihak Perserikatan Petualang-lah yang sebenarnya sudah "terlibat".

Jika ada seseorang yang sengaja menebarkan obat ke kolam untuk mengubah hewan hutan menjadi monster, apa sebenarnya tujuannya? Monster-monster itu menyerang kami yang berada di dalam hutan, lalu menyerbu ke arah kursi penonton di luar hutan. Keributan besar terjadi, dan di tengah kekacauan itulah Lecty diculik.

Masuk akal untuk berpikir bahwa kerusuhan monster itu sengaja dibuat demi menciptakan celah untuk menculik Lecty. Jika demikian, pelakunya kemungkinan besar adalah dokter sekolah yang menculik Lecty, atau komplotannya.

Jika rentetan insiden yang bermula dari kediaman Adipati Lechery ini berkaitan erat dengan kejadian kali ini, maka pihak yang terseret ke dalamnya sekarang adalah Perserikatan Petualang, dan juga Lugh serta Tina.

Karena Lugh dan adiknya mencurigai air kolam itu, tidak menutup kemungkinan mereka akan sampai pada keberadaan obat tersebut. Aku harus berkonsultasi dengan Alyssa-san setelah kembali ke akademi...

Kereta kuda yang membawa kami melewati gerbang kota, lalu alih-alih ke Perserikatan Petualang, kereta itu langsung menuju ke Akademi Kerajaan. Lugh cukup peka untuk mengantarkan kami sampai ke tujuan.

"Maaf ya, sudah merepotkanmu dengan banyak hal."

Setelah turun dari kereta di depan gerbang sekolah, aku kembali berterima kasih kepada Lugh dan Tina.

"Tidak apa-apa, berkat Hugh-san dan Idiot-san, permintaan ini sepertinya bisa diselesaikan dengan sukses. Sisanya tinggal kami yang membuat laporannya, jadi ini bayaran untuk kalian."

Lugh mengeluarkan dua kantong kain berisi uang yang entah sejak kapan sudah dia siapkan, lalu menyerahkannya kepadaku dan Idiot.

"Apa tidak apa-apa...? Kami hampir tidak melakukan apa-apa, lho..."

Di hutan tadi tidak ada pertarungan dengan monster, kami hanya berjalan bersama mereka. Melihat dari ketebalan kantongnya, jumlahnya sepertinya benar-benar setara dengan imbalan permintaan peringkat D. Tidak terlihat ada pemotongan meski kami tidak banyak bekerja.

"Tentu saja. Informasi yang kalian berikan jauh melebihi harapan kami, dan kalian sudah bekerja cukup baik untuk dibayar sekian. Lagipula, kami tidak bisa melakukan hal licik seperti memotong nilai kontrak di tengah jalan. Ayah selalu mengajarkan kami untuk hidup dengan sehat dan jujur."

"Sehat dan jujur?"

Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata yang sama dengan moto hidupku sendiri. Mulai dari urusan bersin sampai hal ini, aku merasa punya kemiripan aneh dengan ayah Lugh.

"Hou, kau dibesarkan oleh ayah yang luar biasa ya."

"Iya, beliau adalah ayah kebanggaanku."

"Padahal punya istri tiga orang, menurutku tidak ada sehat-sehatnya atau jujur-jujurnya sama sekali~" seloroh Tina sambil tersenyum nakal. Ternyata Lugh dan Tina punya tiga ibu, dan mereka adalah kakak-adik beda ibu. Aku jadi tidak ingin merasa mirip sampai ke bagian itu...

Saat kami sedang asyik mengobrol, tiba-tiba suara Lugh dan Tina terhenti. Mereka berdua seolah menahan napas, dan saat aku menoleh ke arah pandangan mereka, terlihat Lily dan Lecty sedang berjalan mendekat dari arah gedung sekolah.

"...Kalau begitu, kami pamit dulu ya."

"Sampai jumpa di latihan luar kampus nanti, Hugh-san, Idiot-san!"

"Umu. Sampai bertemu lagi!"

"Terima kasih ya, kalian berdua."

Lugh dan Tina tampak terburu-buru masuk ke dalam kereta dan kereta itu pun segera melaju. Ada apa ya, tiba-tiba panik begitu? Seolah-olah mereka berusaha lari dari Lily dan Lecty... ah, perasaanku saja mungkin?

"Selamat datang kembali, Hugh, Idiot."

"Apakah kalian berdua terluka?"

Lily dan Lecty menyapa kami sambil melihat kereta yang menjauh. Mungkin mereka memang sedang menunggu kami pulang.

"Jangan khawatir, Nona Lecty. Aku sehat bugar. Monster bukan lawan bagi si Idiot Hoartness ini!"

"Padahal tadi tidak ketemu monster sekali pun..." gumamku.

"Fufu. Syukurlah kalau tidak ada yang terluka. Sepertinya hasilnya memuaskan ya."

"Begitulah. ...Eh? Omong-omong, di mana Lugh? Dia tidak bersama kalian?"

Begitu aku bertanya, Lily mendadak terdiam, "Ugh...".

"Lu-Lugh sudah kembali ke kamar duluan... Tadi dia memang bersama kami, tapi dia bilang... harus menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan Hugh."

"Menyiapkan sesuatu...?"

Apa yang sedang disiapkan Lugh untuk menyambutku? Aku tidak bisa menebaknya sama sekali dan itu malah membuatku agak takut...

"Lalu, anu..."

Lily mengalihkan pandangannya dengan canggung, lalu tiba-tiba menepuk pundakku.

"Mungkin ini akan berat bagimu, tapi kuatkanlah hatimu. Aku yakin kau pasti bisa melaluinya."

"Tunggu sebentar. Memangnya Lugh sedang menyiapkan apa untuk menungguku...!?"

Aku jadi sangat takut untuk pulang ke kamar. Aku sempat berpikir serius untuk menginap di kamar Idiot saja malam ini, tapi kalau aku tidak pulang, hasilnya mungkin akan lebih buruk lagi...

Lily hanya menggelengkan kepala dengan tatapan yang seolah sudah pasrah, "Aku tidak bisa bilang lebih dari ini." Aku mencoba menatap Lecty dengan seberkas harapan, tapi dia hanya berbisik "Berjuanglah ya, Hugh-san..." lalu segera membuang muka.

Eeeh...

Pokoknya, sebelum kembali ke kamar, aku harus mengembalikan pedang pinjaman kepada Alyssa-san. Aku berpisah dengan Lily dan Lecty di depan asrama putri, lalu menuju asrama pengajar bersama Idiot. Aku mengembalikan pedang kepada Alyssa-san yang sedang berlatih di lahan kosong biasa, lalu melaporkan kejadian hari ini.

"Dimengerti-ssu. Aku akan melaporkannya kepada Yang Mulia Lucas-ssu."

Reaksi Alyssa-san saat mendengar soal kolam yang kutemukan bersama Lugh dan yang lain ternyata lebih datar dari dugaanku. Mungkin keberadaan kolam itu sudah diketahui oleh pihak ksatria sejak lama...

Setelah berpisah dengan Idiot yang masih ingin berlatih bersama Alyssa-san sampai jam makan malam, aku kembali ke asrama putra sendirian. Meskipun penuh rasa cemas soal apa yang disiapkan Lugh, ada perasaan ingin cepat pulang dan menghabiskan waktu bersamanya.

"Aku pulang."

Saat aku membuka pintu kamar, terdengar suara Lugh dari balik lorong, "Selamat datang kembali!". Entah kenapa suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya...? Perasaanku saja...?

Aku melangkah menyusuri lorong dan dengan ragu membuka pintu ruangan.

Di baliknya, yang berdiri di sana adalah—

—Gadis berambut emas, Lucretia. 




Aku terpaku, sampai-sampai lupa cara bernapas karena kecantikannya yang luar biasa. Cahaya dari alat sihir menyinari rambut emasnya yang berkilau dan tampak sehalus sutra. Mata biru tuanya yang besar menatapku, melengkung indah karena rasa bahagia.

Dia yang duduk di tepi ranjangku mengenakan seragam Akademi Kerajaan, namun satu hal yang berbeda dari biasanya: seragam itu bukan milik murid laki-laki, melainkan seragam murid perempuan.

"Kenapa kau berpenampilan seperti itu...?"

Banyak hal yang seharusnya kukatakan, tapi pertanyaan itulah yang pertama kali lolos dari mulutku. Mengapa dia, yang selama ini selalu bersikap sebagai Lugh di depanku, tiba-tiba menampakkan diri sebagai Lucretia sekarang?

Lucretia memasang senyum yang agak canggung dan berkata:

"Kurasa kalau hanya kita berdua saja, sudah tidak perlu disembunyikan lagi, kan?"

Ah, ya. Benar juga.

Lucretia melompat kecil dari tempat tidur, lalu berputar sekali di depanku. Roknya tersingkap, memperlihatkan pahanya yang seputih porselen.

"Aku meminjamnya dari Lecty. Apa... menurutmu cocok?"

Aku sudah terbiasa melihat seragam berukuran agak besar itu dipakai oleh Lecty atau Lily. Namun, saat Lucretia yang memakainya, ada sensasi kesegaran yang sulit dijelaskan... intinya, itu sangat, sangat cocok untuknya.

Tanpa sadar aku hampir mengeluarkan tawa "Fuhi" yang menjijikkan seperti Lily, tapi aku segera berdehem untuk menutupinya. Aku lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan Lucretia dan menundukkan kepala.

"Sangat cocok untuk Anda, Putri Lucretia."

Selama Lucretia berdiri di hadapanku sebagai Putri Ketujuh Kerajaan Leese, Lucretia von Leese, aku harus memberikan penghormatan sebagai bawahan. Meskipun kami sedang berdua dan aku tahu Lucretia tidak menginginkan formalitas itu.

"Muuu... Hugh ini terlalu serius di saat yang tidak tepat!"

"Meski Anda bilang begitu..."

Sangat sulit untuk tetap berinteraksi dengan Lucretia menggunakan jarak yang sama seperti saat dia menjadi Lugh. Walaupun aku sudah tahu identitas aslinya sejak lama, selama ini aku selalu bermain peran seolah-olah aku tidak tahu. Berkat sandiwara itulah aku bisa menjaga sopan santun. Tapi karena sekarang Lucretia ada di depanku dengan wujud aslinya, sandiwara "pura-pura tidak tahu" itu tidak lagi berlaku.

"Kalau begitu, ini perintah Putri. Saat hanya berdua denganku, bersikaplah seperti biasa!"

"Guh... Baik, Tuan Putri. ...Haa, apa begini cukup?"

Aku berdiri sambil menghela napas, dan Lucretia mengangguk puas dengan seruan "Ehm!". Jika sudah diperintah oleh sang Putri, apa boleh buat. Meski secara mental sulit untuk bersikap benar-benar seperti biasa, aku akan berusaha semaksimal mungkin.

Lucretia duduk kembali di ranjangku dan menepuk-nepuk kasur di sampingnya. Sepertinya itu perintah agar aku duduk di sebelahnya. Terpaksa aku duduk di tepi ranjang dengan sedikit jarak, namun Lucretia segera menggeser tubuhnya untuk merapat.

"Kenapa duduknya jauh-jauh?"

"Eh, cuma perasaan saja..."

"Muuu—"

Lucretia menggembungkan pipinya dengan tidak puas. Ya-ya ampun, mau bagaimana lagi! Di kamar asrama yang sempit, duduk berdampingan di atas ranjang sendiri dengan gadis yang disukai... normalnya pasti gugup, kan!

Kalau aku mengatakan itu sejujurnya, mungkin Lucretia akan mengerti, tapi itu sudah seperti menyatakan cinta. Mengaku "aku gugup karena aku menyukaimu" itu rasanya terlalu memalukan. Untuk saat ini, aku tidak bisa hanya diam menatap langit-langit terus.

"Anu... Tuan Putri Lucretia?"

"Pui!" (Membuang muka)

Begitu kupanggil namanya dengan embel-embel "Sama", dia langsung memalingkan wajah. Sepertinya dia tidak suka dipanggil begitu...

"Lu-Lucretia-san...?"

"Puuu—"

Ternyata pakai "San" pun tidak boleh. Aku sempat berpikir reaksi merajuknya ini sangat imut dan tidak keberatan jika diteruskan, tapi karena aku tidak ingin dia membenciku, sebaiknya aku berhenti.

"...Bolehkah aku memanggil namamu langsung, Lucretia?"

Seorang putra Baron memanggil nama Tuan Putri tanpa gelar... jika Raja tahu, ini adalah penghinaan besar yang bisa membuat kepalaku dipenggal seketika.

Mendengar pertanyaanku, Lucretia menoleh dan berkata pelan:

"Boleh saja memanggil nama langsung, tapi..."

"Tapi?"

Pipi Lucretia merona merah, lalu dia bergumam lirih:

"...Aku ingin Hugh memanggilku Tía."

Tía? Bukankah itu nama panggilan akrab untuk Lucretia...? Baiklah, ini lebih mudah dilakukan daripada memanggil nama aslinya secara langsung tanpa gelar.

"Baiklah, Tía."

"Hauuu!"

Tía menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara aneh.

"E-ehehe. Aku dipanggil Tía oleh Hugh...!"

Dia mulai menggeliat-geliat kegirangan. Melihat betapa senangnya dia hanya karena dipanggil dengan nama akrab, rasa sayang yang tak terbendung nyaris meluap dari hatiku. Aku berusaha keras menahan insting untuk memeluknya erat, lalu mengajukan pertanyaan yang mengganjal sejak tadi.

"Lalu, kenapa tiba-tiba kau kembali ke wujud aslimu?"

Meskipun dia bilang "sudah tidak perlu disembunyikan lagi", aku yakin dia tidak melakukannya hanya karena iseng tanpa pemicu.

Mendengar pertanyaanku, Tía tersadar dan kembali menggembungkan pipinya.

"Hugh Pnosis-san. Aku sa-ngat marah! Aku benar-benar kesal!"

"Ah, iya."

"Apa kau tahu kenapa?"

"Anu..."

Sejujurnya, bukannya aku tidak tahu. Malah ada dua atau tiga hal yang terlintas di kepalaku. ...Hanya saja, jika aku menebak sembarangan dan ternyata salah, aku pasti akan diprotes lebih parah lagi. Jadi aku tidak berani mengatakannya.

"Maaf, aku tidak tahu."

"Muuu. Hugh bodoh."

Tía membuang muka lagi. Lalu dia bergumam pelan, "...Lily dan Lecty curang."

"A-aaah..."

Begitu ya. Akhirnya rangkaian tindakan Lucretia... dan sikap Lily serta Lecty saat menyambutku tadi jadi masuk akal. Tía sudah mendengar dari mereka berdua kalau aku pernah mencium mereka.

Seharusnya mereka mengatakannya secara jujur saja padaku, tapi karena tadi ada Idiot, mungkin Lily dan yang lain hanya bisa memberi peringatan tersirat. Jika Lecty yang meminjamkan seragam, maka ide untuk kembali ke wujud Lucretia pastilah dari Lily. Tujuannya agar aku menyadari bahwa dia adalah "Gadis Lucretia" dan bukan "Laki-laki Lugh", sehingga hambatan mental untuk menciumnya berkurang...

Hei, hei! Justru kalau hambatannya berkurang, pengendalian diriku bisa hancur berantakan! Jika itu terjadi, aku bisa saja kebablasan sampai akhir. Bisa-bisa terjadi situasi yang tidak bisa diperbaiki lagi.

Apa aku harus berkelit? Tidak, itu akan sangat tidak jujur pada Tía. Meminta maaf agar dimaafkan pun rasanya kurang tepat. Tía tidak marah karena aku berciuman dengan mereka, dia marah karena hanya dia yang belum mendapatkan ciuman itu. Karena dia tidak butuh permintaan maaf, maka maaf saja tidak akan berguna.

Tapi, untuk menciumnya...

Aku merasa dia pasti akan menerimanya.

Namun, melangkah lebih jauh dari itu akan menjadi masalah. Kami punya posisi masing-masing, dan yang terpenting, perasaanku sendiri ingin menjalani hubungan dengan Tía secara perlahan dan berharga, selangkah demi selangkah.

Karena itu,

"Tía."

Aku meletakkan tangan kiriku dengan lembut di atas tangan kanannya dan memanggil namanya. Saat dia menoleh, mata biru tuanya sedikit berkaca-kaca, memantulkan wajahku seperti cermin.

"Maukah kau menutup matamu sebentar?"

"—! I-iya...!"

Tía membuka matanya lebar-lebar sesaat, lalu memejamkannya erat-erat sampai dahinya sedikit berkerut. Aku merasa sangat gemas melihatnya yang terlalu tegang begitu. Aku mengusap rambut emasnya yang sehalus sutra dengan tangan kanan secara perlahan.

Lalu, aku menahan bibirnya yang sedikit mengerucut dengan telunjuk kiriku.

"Maaf, untuk sekarang tolong terima ini saja."

Aku mengecup dahi Tía dengan lembut.

Jika ada yang bilang aku pengecut karena main aman, aku tidak bisa membantahnya. Tapi, jika aku boleh memberi satu alasan:

"Karena kaulah yang pertama kali aku cium atas kemauanku sendiri."

Jadi, tolong maafkan aku jika hanya sebatas ini untuk sekarang. Jantungku berdegup sangat kencang, aku berusaha keras menenangkan napas yang mulai memburu. Aku menginjak rem pengendalian diri sedalam-dalamnya untuk menahan dorongan memeluk Tía dan menjatuhkannya ke tempat tidur.

Saat aku menjauh perlahan, wajah Tía memerah padam seolah akan mengeluarkan uap, dan mulutnya bergetar gugup.

"Hyu-Hugh! A-aku... aku ya!"

Dengan air mata di mata biru tuanya yang terbuka lebar, Tía...

Kruyuuuk.

"...A-aku lapar."

Kalau diingat-ingat, kami memang belum makan malam, ya...

**

Kami sepakat untuk pergi ke kantin demi makan malam, sekaligus untuk menenangkan diri sejenak.

Lucretia perlu kembali ke wujud Lugh dan berganti dari seragam perempuan ke seragam laki-laki, jadi aku memutuskan untuk menunggu di koridor asrama lebih dulu. Begitu aku keluar dan menutup pintu...

"Haaaah..."

Tanpa sadar aku menghela napas panjang dan terduduk lemas di sana.

Ba-bahaya sekali. Sedikit lagi saja, rem pengendalian diriku bisa hancur total. Berdua saja dengan Lucretia di dalam kamar, ditambah situasi duduk di ranjang yang sama—daya hancurnya terlalu tinggi.

Terbawa suasana aneh tadi, aku bahkan sampai mencium dahinya. Untungnya Tía tampak tidak keberatan, tapi kalau dipikir-pikir, normalnya ini sudah masuk kategori pelecehan, kan? Tía juga tadi terlihat sangat menggebu-gebu ingin menyampaikan sesuatu, entah apa yang akan terjadi jika perutnya tidak berbunyi...

Pokoknya, aku harus kuatkan hati seperti saran Lily. Jangan sampai aku terbawa nafsu sesaat lalu melakukan dosa yang tak termaafkan. Bukan hanya demi diriku sendiri, tapi juga demi melindungi Lucretia...!

"Ma-maaf membuatmu menunggu, Hugh."

Sekitar lima menit berlalu, Lugh keluar dari kamar. Rambut perak yang sudah biasa kulihat, dan seragam laki-laki. Tanpa sadar aku mengembuskan napas lega. Rasanya jauh lebih tenang melihatnya dalam wujud ini—tapi kalau aku mengatakannya, dia pasti akan marah, jadi lebih baik aku diam.

"Ayo berangkat."

"I-iya."

Aku melangkah menuju kantin bersama Lugh yang tampak agak tegang. Mungkin karena waktunya sedikit bergeser, aku tidak melihat Lily atau kawan-kawan lainnya di kantin. Ada beberapa teman sekelas, tapi kami tidak terlalu akrab untuk mengobrol. Kami duduk berdua di satu meja dan menyantap makan malam dalam diam.

Biasanya kami akan mengobrol santai soal pelajaran atau kejadian hari itu, tapi khusus hari ini suasananya tidak mendukung... Tiap kali mata kami tidak sengaja bertemu, Lugh langsung memerah, menunduk, lalu buru-buru memasukkan roti ke mulutnya.

Setelah makan malam dan kembali ke kamar, kami menghabiskan waktu masing-masing seperti biasa. Aku duduk di meja belajar untuk mengerjakan tugas dan belajar mandiri, sementara Lugh berbaring di ranjangku sambil membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan.

Ya, seperti biasa. Saking terbiasanya, mengerikan juga membayangkan betapa aku sudah tidak lagi merasa aneh saat Lugh menjajah tempat tidurku. Meski terkadang aku merasakan tatapan dari arah belakang, tugas dan belajarku selesai dalam dua jam. Sejak membiasakan diri belajar setelah makan malam, aku merasa benar-benar bisa mengikuti pelajaran di kelas. Kalau begini, ujian berikutnya pasti tidak akan seberat yang lalu.

...Nah.

"Anu... Lugh. Hari ini giliranku yang mandi duluan, kan?"

"A-ah, i-iya! Benar."

Saat aku bertanya, Lugh tampak panik dan langsung duduk tegak di atas kasur sambil mengangguk cepat.

"Kalau begitu, aku duluan ya."

Aku membawa handuk dan baju ganti menuju ruang mandi. Aku menutup pintu dan mengunci dari dalam. Biasanya aku tidak pernah mengunci pintu, tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Lugh hari ini. Kalau dia sampai menyerbu masuk saat aku mandi, pengendalian diriku bisa lenyap seketika. Lebih baik waspada daripada menyesal.

Rasanya ingin bilang "tolong mengerti posisiku sedikit", tapi ya sudahlah... Aku harus segera menjadikan Pangeran Lucas raja berikutnya dan bertunangan dengan Lucretia. Kalau sudah begitu, aku tidak perlu menahan diri seperti ini lagi. Demi tujuan itu, aku harus mendiskusikan "hal tersebut" dengan Lily dan Idiot nanti...

Setelah mandi dan menyikat gigi, aku kembali ke kamar. Lugh sudah duduk manis di ranjangku sambil memeluk handuk dan baju ganti. Apa perasaanku saja, atau wajahnya memang terlihat sangat tegang?

"Aku mandi dulu!"

Lugh berlari kecil menuju ruang mandi berpapasan denganku yang baru masuk. Apa aku tidur saja sebelum dia kembali? Tidak, itu kasihan juga... Bukannya aku ingin menghindarinya. Malah kalau diizinkan, aku ingin lebih dekat dengannya. Hanya saja situasi yang terasa seperti chicken game ini sungguh aneh.

Kami harus bicara baik-baik. Tapi untuk melakukan itu, aku harus menyampaikan perasaanku pada Lucretia. Bagiku itu sama saja dengan menyatakan cinta, dan aku ingin melakukannya dengan cara yang benar. Waktunya adalah bulan depan, tepat di hari ulang tahun Lucretia. Sampai saat itu tiba, aku harus berusaha memahami keinginan Lucretia sembari sekuat tenaga menahan diri agar tidak melewati batas. Aku pasti bisa menahannya... mungkin, seharusnya, maybe...

Aku memutuskan untuk menunggunya kembali. Saat duduk di ranjang, mataku tertuju pada buku yang tadi dibaca Lugh di dekat bantal. Judulnya Naga Hitam Drefon... Apa ini semacam dongeng atau cerita rakyat?

Aku mengambilnya dan membalik halaman. Ternyata isinya cukup berat untuk ukuran buku anak-anak. Gaya bahasanya lebih mirip buku sejarah. Ceritanya berlatar di sebuah wilayah di bagian barat Kerajaan Leese, tepat di seberang Danau Leese dari arah ibu kota. Buku itu mencatat detail tentang seorang petualang muda pemberani yang membasmi Naga Hitam bernama Drefon yang bersarang di sebuah dungeon.

Apakah ini fiksi yang dikemas seperti buku sejarah, atau memang catatan sejarah asli? Entah kenapa aku merasa ini yang kedua. Sejak tinggal di ibu kota, aku sadar dunia ini benar-benar dunia fantasi. Tidak aneh kalau naga hitam itu nyata.

Akhir bukunya menyebutkan bahwa petualang yang membasmi Drefon diberi gelar bangsawan oleh Raja sebagai imbalan, dan itulah asal mula keluarga Count Drefon saat ini. Berdasarkan tahun di teks tersebut, kejadiannya sekitar dua ratus tahun yang lalu. Menjadi Count hanya karena membasmi naga... itu prestasi yang luar biasa besar. Seharusnya ini masuk ke buku pelajaran sejarah, tapi aku tidak ingat pernah membacanya. Kalau ada kata keren seperti "Pembasmian Naga Hitam", aku pasti ingat. Jadi mungkin ini hanya karangan? Hmm...

Aku penasaran dan ingin bertanya pada Lugh saat dia keluar nanti... tapi pikiranku langsung kosong saat melihat sosok Lucretia yang baru kembali.

Rambut emasnya berkilau indah. Kulitnya yang merona merah karena uap panas hanya tertutup oleh negligee berwarna hijau muda. Bahannya cukup tipis hingga memperlihatkan siluet tubuhnya, dan desain off-shoulder yang mengekspos kedua bahunya memberikan kesan imut sekaligus menggoda. Sosoknya benar-benar seperti peri, sampai-sampai aku spontan menutupi mulut dengan tangan. Gawat, dia terlalu imut...!

Dia pasti tidak memakainya hanya karena "ingin ganti baju tidur yang lebih tipis karena musim panas sudah dekat". Sepertinya kecupan di dahi tadi belum cukup memuaskannya.

"Ba-bagaimana? Apa cocok?"

"A-ah. Sangat cocok. Kau cantik sekali."

"Hore, dipuji Hugh! Ehehe~"

Melihat Lucretia yang melompat kegirangan, rasa sayangku rasanya mau meledak. Rasanya ingin memeluknya saat ini juga dan berteriak "Aku suka padamu!". ...Tidak, tidak! Tenang, Hugh! Kalau aku menembaknya sekarang karena terbawa suasana lalu dia menerimanya, hubungan kami bisa langsung melompat ke tahap yang tak bisa ditarik kembali. Harus selangkah demi selangkah.

"A-ayo kita tidur, Tía."

Aku mengajaknya tidur dan segera masuk ke dalam selimut. Kalau terus terjaga, pengendalian diriku bisa benar-benar terbang. Lebih baik cepat tidur... tapi ternyata tidak semudah itu.

Aku merasakan kehadiran seseorang di dekat bantal. Lucretia berdiri di sana, menutupi separuh wajahnya dengan bantal yang ia peluk, sambil menatapku dengan mata biru tua yang penuh harap.

"Bolehkah aku tidur bersamamu...?"

"..................Silakan."

Setelah ragu cukup lama, aku menerimanya. Aku tidak mungkin bilang "tidak boleh karena pengendalian diriku mau hilang", dan yang terpenting, Tía akan tersiksa mimpi buruk jika tidur sendirian. Mana mungkin aku bisa menolaknya setelah tahu hal itu.

Wajah Tía langsung cerah. Dia menaruh bantalnya di samping bantal milikku lalu masuk ke dalam selimut. Aroma manis seperti bunga Kinmokusei tercium lebih kuat dari biasanya karena dia baru saja mandi. Saat lampu dimatikan, aroma itu terasa semakin pekat.

"Fufu. Tidur dengan Hugh dalam wujud seperti ini membuatku berdebar-debar."

"B-benar juga ya..."

Aku tidak bisa menjawab lebih dari itu saat Lucretia membisikkan hal semacam itu. Konsentrasiku sudah pecah. Kumohon, jangan katakan hal-hal yang memancing kesadaranku! Aku ini sedang menginjak rem pengendalian diri sekuat tenaga, tahu!

"Aku senang karena Hugh menciumku tadi. Meski di dahi agak sedikit mengecewakan... tapi aku senang karena aku yang pertama bagimu. Jadi..."

Tía terdiam sejenak, lalu...

"Setelah ciuman, aku harap aku juga yang menjadi yang pertama bagimu."

—Aku mendengar suara rem pengendalian diriku hancur berantakan.

"Tía!"

Karena dorongan insting yang tak tertahankan, aku bangkit dan menindih tubuh Tía, namun—

"...Ssuuu... ssuuu..."

Aku menyadari dia sudah tertidur dengan napas yang tenang, lalu aku pun kembali ke posisiku semula. Dia tidak sedang pura-pura tidur. Tía benar-benar tertidur lelap dengan perasaan tenang yang sangat dalam. Dia sangat... mempercayaiku.

"............Haaah."

Sambil menahan luapan emosi yang tak tersalurkan, aku menghela napas sendirian di dalam kegelapan. Sepertinya butuh waktu lama bagiku untuk bisa terlelap malam ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close