NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2 Chapter 6

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 6

[Empat Wanita Cantik] vs Harusora Hibise

Di dalam kereta, tidak ada sosok lain selain kami berdua. Keputusanku untuk memilih gerbong paling ujung demi menjaga privasi Hibise tampaknya membuahkan hasil. Hibise sedang mendengarkan musik melalui headphone. Dari posisiku, ekspresi wajahnya tidak terlihat.


──Canggung.


Aku yang baru saja menolak perasaan Hibise, dan Hibise yang baru saja patah hati, kini terguncang bersama di dalam kereta yang sama. Seharusnya, pilihan untuk pulang bersama adalah sebuah kesalahan. Namun, aku tidak bisa meninggalkan Hibise sendirian di sekolah yang gelap itu dalam kondisi seperti tadi. Membawanya sampai ke stasiun sudah cukup. Setelah itu, Hibise bisa pulang sendiri.


Naik di kereta yang sama dengan orang yang baru saja menolakmu pasti terasa sangat berat, jadi tadinya aku berniat pulang dengan jadwal kereta berikutnya. 


──Namun. Hibise terus mencengkeram ujung bajuku. Tenaganya lemah, tidak cukup kuat untuk menahan langkahku. Meski begitu, aku bisa merasakan pesan darinya bahwa ia tidak berniat melepaskannya. Walau demikian, tidak ada kata-kata yang terucap. Tanpa sepatah kata pun dari kami berdua, waktu berlalu dalam keheningan.


Di balik jendela, lampu-lampu kota yang sudah akrab di mata mengalir ke belakang. Aku mencoba membunuh waktu dengan memandangi pemandangan itu. Namun, masa tenggang itu pun berakhir. Pengumuman stasiun pemberhentian terdekat bergema pelan di dalam gerbong.


"──Hibise, maaf, tapi..."


Aku memutus kalimatku. Stasiun terdekat Hibise masih jauh di depan. Tadinya aku berniat turun di sini dan berpisah. Namun, Hibise perlahan bersiap untuk berdiri.


"......Aku juga akan ikut sampai ke depan gerbang tiket."


Suaranya kecil, tetapi tidak ada keraguan di sana.


"......Begitu ya."


Tidak ada kata-kata lain yang muncul di benakku. Kereta berhenti dan pintu terbuka. Karena berada di ujung gerbong, kami secara otomatis menjadi orang paling terakhir yang turun ke peron.


Para pekerja kantoran yang baru pulang kerja, siswa yang bersimbah keringat setelah kegiatan klub, serta bayangan orang-orang yang berjalan sambil menatap ponsel. Semuanya seharusnya terlihat jelas di mataku, namun entah mengapa rasanya kurang nyata. Pengumuman kedatangan pada papan informasi digital. Tekanan angin dari kereta yang masuk ke peron seberang. Aku berjalan sambil merasakan hal-hal itu dengan hampa. Hibise mengikuti sedikit di belakangku, tetapi aku tidak menoleh.


Kami menaiki eskalator. Pijakan kaki membawa kami ke atas secara otomatis; aku hanya perlu berdiri diam. Suara mesin yang berbunyi dengan ritme tetap seolah mengosongkan isi kepalaku.


──Di sinilah akhirnya.


Begitu turun dari eskalator, pandanganku langsung terbuka luas. Gerbang tiket sudah berada tepat di depan mata, dalam jarak yang tidak memberikan waktu untuk berpikir. Langkahku terhenti. 


Akhirnya aku menoleh ke arah Hibise. Namun, Hibise tetap menunduk dengan penyuara jemala yang dikalungkan di lehernya. Meski begitu, suasana di sekitarnya terasa sunyi seolah ia tidak bisa mendengar apa pun.


"──Kalau begitu, aku pergi dulu ya."


Setelah mengucapkannya, barulah rasa nyata itu muncul. Semua hal yang harus kusampaikan seharusnya sudah tersampaikan. Tidak perlu lagi menambah kata-kata. Saat aku berpikir demikian dan hendak menyelesaikan salam perpisahan.


"──Lima kali."


"Eh?"


Kata-kata singkat itu tiba-tiba mencuat di tengah keramaian.


"Itu adalah jumlah berapa kali aku ditolak oleh Satoshi-senpai."


Nada bicaranya tidak terdengar seperti bercanda, tidak juga seperti menyalahkan. Itu hanya kata-kata yang memaparkan fakta.


"......Oh."


Apa lagi yang harus kukatakan setelah itu?


"Kalau dipikir-pikir, Senpai itu jahat sekali. Senpai melupakan pernyataan cinta tulusku yang hanya terjadi sekali seumur hidup pada keesokan harinya."


Hibise memberikan tatapan dingin ke arahku.


"Kurasa itu karena 'Kekuatan Paksa Dunia' sih."


"Di bagian itu! Jangan menjawab!"


Ia memotong perkataanku dengan cepat, membuatku refleks mengangkat bahu. Berbanding terbalik dengan ucapannya yang sangat tidak masuk akal, suara Hibise perlahan mulai kembali bertenaga.


"......Tapi, mungkin aku sudah terlalu terlena dengan hal itu."


Hibise tersenyum seolah-olah baru saja mengembuskan napas lega.


"Karena Senpai selalu melupakan perasaanku, secara teknis itu dianggap tidak pernah terjadi. Hanya aku sendiri yang harus merenungi kenangan pahit saat ditolak...... hiks."


"Kenapa kau malah melakukan sesuatu yang seperti menaburkan garam di atas lukamu sendiri......"


Saat aku mengatakannya, ekspresi Hibise mendung dan suasana di sekitar kami seolah ikut menjadi gelap. Kalau ingin menangis, lebih baik tidak usah dikatakan. Meski begitu, anehnya suasana tidak menjadi berat. Justru ketegangan yang tadi terasa kini sedikit mengendur.


"Po-kok-nya!"


Hibise berteriak dengan suara keras. Karena lokasi kami berada di depan gerbang tiket, perhatian orang-orang di sekitar serentak tertuju pada kami.


"Senpai sekarang akan mengingat tentangku!"


Ucapannya diikuti dengan senyuman yang jelas.


"Jika Senpai mengingatnya, maka kita bisa mulai menumpuk kenangan!"


Di wajahnya tidak ada lagi bekas air mata yang tadi mengalir.


"Satu langkah. Aku akan memperpendek jarak satu langkah demi satu langkah lagi, dan akan kembali berdiri di samping Senpai. Sama seperti saat masa SMA dulu!"


Dengan senyum secerah matahari, ia menyatakan dengan tegas.


"Oleh karena itu, Senpai, aku tidak berniat menyerah."


Detik berikutnya, Hibise menghambur ke pelukanku. Tanpa sempat berpikir, benturan dan kehangatan tubuhnya merambat ke seluruh ragaku. Aku hanya berdiri terpaku saat ia mendekapku erat.


"Muhuu."


Ia menggesek-gesekkan wajahnya ke dadaku, mengembuskan napas seperti anak kecil yang sedang bermanja. Aku tahu ia ingin aku membalas pelukannya. Namun, hanya hal itu yang tidak bisa kulakukan. Aku merentangkan kedua tanganku, menunjukkan pose menyerah.


"Lepaskan aku......"


Suaraku terdengar kecil dan menyedihkan.


"Tidak mau~!"


Ia justru semakin merapatkan tubuhnya. Tenaga pada lengan yang melingkar di punggungku semakin kuat, membuat kedekatan kami menjadi satu tingkat lebih dalam.


──Aku benar-benar dalam kesulitan besar.


Aku sempat berpikir bahwa membiarkannya melakukan apa yang ia mau adalah bentuk ketulusanku. Aku memang berpikir begitu, namun tetap saja, situasi ini benar-benar gawat.


"Hibise, sudah cukup......"


"Sebentar lagi saja~."


Berbanding terbalik dengan suaranya yang manja, tenaga pada lengannya justru semakin kuat. Tubuhku kehilangan ruang gerak dan terkunci sepenuhnya. Aku sadar tatapan orang-orang di sekitar perlahan mulai terpusat pada kami.


──Gawat. Benar-benar gawat.......


Dari sudut pandang orang lain, kami mungkin hanya terlihat seperti pasangan serasi yang berat untuk berpisah. Namun bagiku yang mengalaminya, ini adalah aksi berjalan di atas tali yang sama sekali tidak lucu. Nuraniku merasa sakit jika harus melepaskannya secara paksa──.


"──Selingkuh."


Satu kata sedingin es dibisikkan, nyaris menyerempet daun telingaku. Jantungku benar-benar mencelos. Rasa dingin menjalar di punggung dan wajahku seketika pucat pasi. Secara refleks aku mendongak, dan tepat di hadapanku──Satsuki berdiri di sana.


Sebuah senyuman lebar yang ceria. Sambil memiringkan kepalanya sedikit, ia menatapku lurus-lurus. Udara di depan gerbang tiket tiba-tiba terasa semarak. Pandangan orang-orang yang lewat seolah tersedot dan tertuju pada Satsuki. Namun, hanya mata Satsuki yang tidak tersenyum. Matanya tampak keruh kegelapan dan menyimpan kilatan cahaya yang dingin.


Tidak perlu ditanya lagi ke mana arah pandangan itu tertuju. Yaitu kepada Hibise──yang saat ini masih bergelayut manja padaku. Aku menggoyangkan tubuhku mencoba melepaskan Hibise, mengirimkan sinyal darurat sekuat tenaga. Instingku mengatakan bahwa jika aku bicara sekarang, itu hanya akan menyiram bensin ke dalam api.


"Sebentar lagi! Sebentar saja sudah cukup kok!"


Namun, Hibise justru semakin memperkuat pelukannya. Seolah-olah ia berkata tidak akan pernah melepaskanku seumur hidup.


──Kumohon, dengarkan perkataanku!


Tepat saat aku memohon dalam hati.


"──Selingkuh, ya~."


"──Ini perselingkuhan, ya."


Dengan perasaan takut aku menoleh, dan di sana sudah ada Shuna dan Shino. Senyuman Shuna yang seharusnya bisa menyembuhkan siapa pun, kini terlihat dengan pupil mata yang melebar dan terpaku, sementara hanya ekspresi wajahnya yang tampak lembut. 


Shino benar-benar menakutkan. Ia menatapku sejenak dengan senyuman sempurna, namun di detik berikutnya, pandangannya jatuh kepada Hibise. Ia tampak sedang menilai dengan serius bagaimana cara "mengolah" gadis itu.


"──"


Pada saat itu, hawa dingin yang nyata terasa berhembus dari samping Satsuki. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Reine berjalan ke arah kami. Langkah kakinya sunyi, namun keberadaannya terasa sangat berat secara tidak wajar. Ia akhirnya berhenti dan menatap rendah ke arah Hibise. Tatapan matanya sedingin es, tanpa ada sedikit pun warna emosi.


Detik berikutnya, tangan Reine menjulur dan menjewer pita Hibise.


"──Pengganggu."


Satu kata yang pendek dan dingin.


"Eh? Kyaa!"


Seketika itu juga, Hibise ditarik secara paksa dari dekapanku. Tubuhnya seolah melayang di udara sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai.


"Sakit......! Apa yang kalian laku......kan?"


Sambil duduk bersimpuh, suara Hibise perlahan mengecil. Di saat yang sama, keringat dingin bercucuran deras dari dahinya. Keempat gadis itu perlahan memperkecil jarak. Mereka membentuk lingkaran, mengelilingi dan menatap rendah ke arah Hibise.


Senyuman.

Keheningan.

Hawa dingin.


Jalan keluar telah tertutup sepenuhnya.


"──Salam kenal, Harusora Hibise."


Suara Satsuki terdengar sangat lembut. Ia kemudian merendahkan tubuhnya agar tinggi pandangan matanya sejajar dengan Hibise.


"Sepertinya kau sudah sangat merepotkan pacarku, ya?"


"E-anu, itu."


Tersudut oleh senyuman Satsuki, mulut Hibise bergetar dan ia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Karena ada banyak hal yang ingin kami tanyakan padamu," jeda sejenak, Satsuki melanjutkan dengan ceria, "mampirlah ke rumah kami."


"Tidak, anu......"


"Jangan sungkan. Shino sudah menyiapkan camilan teh kualitas terbaik, lho. Iya, kan?"


Begitu dialihkan, Shino maju selangkah.


"Benar. Si kucing pencuri... ah, maaf."


Sesaat, ia menatap rendah ke arah Hibise dengan pandangan seolah melihat sampah. Namun di detik berikutnya, ia beralih ke senyum sempurna khas topeng masyarakat kelas atas.


"Hibise-san adalah junior berharga Satoshi-san. Jika kau sudah banyak membantunya, maka nama keluarga Shinonome akan tercemar jika kami tidak menyambutmu dengan hangat."


Tutur katanya sangat sopan. Namun, pilihan untuk menolak sama sekali tidak ada di sana.


"I-ini sudah larut, jadi mungkin lain kali saja...!"


Hibise tersentak dan bangkit berdiri, mencoba berlari menuju tangga peron. 


──Namun.


"Baikk~, stop~."


Bersamaan dengan suara riang itu, tangan Shuna menjulur. Ia mencengkeram lengan Hibise dengan sangat kuat hingga seolah-olah terdengar suara gashi. Kemudian, sambil menatap Hibise, ia memasang senyum andalannya yang seharusnya bisa menyembuhkan siapa pun.


"Jangan kaku begitu dong~, Hibise-chan. Tidak perlu ada rasa sungkan di antara kita, kan~?"


"Ti-tidak, saya belum memiliki hubungan apa pun..."


"Hm~?"


"A-anu."


Suara Hibise semakin lama semakin mengecil.


"Kau tidak punya hak untuk menolak, kan?"


Reine berucap dengan suara yang kehilangan emosi.


"Setelah kau berani menyentuh milik orang lain yang paling berharga──iya, kan?"


"I-iya..."


Hibise tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa tertunduk lesu.


──Bagaimana ya, dia benar-benar terlihat sangat malang...


Sudah patah hati karena ditolak olehku, dan tepat setelah itu ia terjebak dalam kepungan ini. Aku pun tidak bisa tinggal diam.


"Dengar ya."


"Ada apa~?"


Meski aku bersuara, tidak ada satu pun dari mereka yang mengalihkan pandangan dari Hibise.


"Aku dan Hibise sama-sama lelah, bagaimana kalau diskusinya dilakukan lain hari saja? Ini sudah malam."


"Senpai..."


Hibise menatapku seolah baru saja menemukan harapan. Cahaya di matanya kembali sesaat. Namun──.


"Ah, kalau Satoshi-kun sih wajib mengikuti interogasi semalam suntuk."


Satsuki memberitahuku dengan nada ceria.


"Eh?"


"Setelah membuat kami khawatir sampai sejauh ini, kau pikir kau bisa tidur nyenyak?"


"A-anu."


Kata 'selingkuh' tadi kembali bergema di dalam kepalaku. Keringat dingin mengalir di punggungku.


"Kalau begitu."


Satsuki berdiri, menatapku dan Hibise bergantian, lalu berkata dengan riang.


"Ayo kita pulang ke rumah! ──Ya?"


Nada bicaranya seolah sedang mengajak ke pesta teh yang menyenangkan. Namun, aku dan Hibise bisa merasakan dengan jelas bahwa di baliknya terdapat emosi yang mendidih seperti magma. Kami saling berpandangan. Tidak butuh kata-kata lagi.


""......Baik.""


Aku dan Hibise tidak punya pilihan selain patuh dan mengikuti mereka.



Aku dan Hibise digiring dengan posisi dikelilingi oleh mereka berempat. Dari stasiun ke apartemenku tidak sampai lima menit berjalan kaki. Jarak yang biasanya terasa singkat itu kini terasa sangat panjang secara tidak wajar. Tidak ada satu pun yang membuka mulut. Hanya suara langkah kaki yang meninggalkan bunyi kering di jalanan malam. Cahaya lampu jalan membuat bayangan mereka berempat memanjang dalam sudut yang aneh, mengurung aku dan Hibise di tengahnya.


Tanpa suara kami melewati jalan malam, hingga akhirnya sampai di apartemen. Kami menaiki tangga, dan Satsuki berhenti di depan pintu kamarku. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam gerakannya saat mengeluarkan kunci.


Kachari, suara kunci terbuka yang ringan.


"Silakan."


Atas desakan itu, aku melangkah masuk ke dalam kamar. Bahkan aku, yang seharusnya adalah pemilik rumah, merasa tidak nyaman seolah-olah sedang menyelinap ke rumah orang lain. Begitu lampu dinyalakan, aku menyadari ada sesuatu yang aneh.


──Ruangan ini sedikit berubah.


Ada dua bantal duduk yang sudah dijajarkan di depan meja. Jaraknya dekat, namun posisinya diatur sedemikian rupa hingga tidak ada jalan keluar. Benar-benar seperti kursi terdakwa.


Di sofa seberang meja, Satsuki duduk menyandarkan punggungnya dengan posisi santai, menatap rendah ke arah kami. Dan di bawahnya, pada lantai di sisi kiri dan kanan meja, duduk Reine, Shuna, dan Shino. Dengan Satsuki di puncak pimpinan, posisi ini secara alami membuat semua pandangan tertuju pada satu titik.


"Ayo, duduklah."


Satsuki mengubah posisi kakinya. Sesaat, kakinya yang jenjang terpampang tanpa penutup, namun rasa intimidasi jauh lebih kuat daripada daya tarik seksualnya. Sambil tetap menopang dagu, ia menusuk kami dengan tatapan matanya, menyuruh kami duduk.


Aku dan Hibise, tanpa menemukan alasan untuk membantah, akhirnya duduk di atas bantal tersebut.


"──Jadi?"


Hanya satu kata.


──Aku tidak butuh alasan.

──Aku tidak butuh basa-basi.

──Ceritakan semua yang kau sembunyikan.


Seolah-olah itulah yang sedang mereka katakan.


"Hibise adalah junior di universitasku... dan yah, kami menjalin hubungan baik dalam berbagai hal."


"Ah, aku tidak butuh penjelasan semacam itu."


Satsuki menjentikkan jarinya pelan. Seakan menunggu aba-aba itu, Shino mengempaskan setumpuk dokumen ke atas meja.


Basats, suara kertas yang kering.


Foto-foto aku dan Hibise yang sedang berjalan berdampingan. Ada banyak potongan gambar dari berbagai sudut dan jarak yang ditumpuk menjadi satu. Masing-masing telah disusun dengan rapi berdasarkan tanggal, waktu, dan tempat.


"Kami sudah menyelidikinya."


"A-ah, iya."


Aku mengangguk secara refleks. Senyum Shino memiliki kekuatan persuasif yang cukup untuk membuat orang tunduk. Entah ia menyelidikinya sendiri atau menggunakan kekuatan keluarga Shinonome, hal itu tidak mengubah fakta bahwa kami sedang disidang.


"──Hanya saja, masih ada hal yang belum kami pahami~."


Shuna menatapku dengan nada bicara santai yang terasa tidak cocok dengan situasi ini. Suara yang sengaja membelai udara yang sedang tegang.


"Sudah dipastikan kalau Satoshi-kun menjadi pria jahat yang bermain-main dengan perasaan kami dan sengaja membuat kami cemas dengan bertingkah seolah selingkuh~."


"Maaf, soal itu aku benar-benar berpikir kalau itu hanya kesalahpahaman kalian saja!"


Aku langsung membantahnya. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti menguji kasih sayang kekasihku sendiri.


"Hm~?"


Shuna memiringkan kepalanya dan menatapku. Itu adalah pertanyaan murni. Matanya seolah bertanya, apakah kau benar-benar berpikir demikian?


"......Apa pun motifnya, jika aku sudah membuat kalian berpikir seperti itu, aku merasa aku pantas menerima hukuman......."


"Jawaban yang bagus~."


Bersamaan dengan suara Shuna, terdengar suara tepuk tangan. Bukan hanya Shuna, tapi Shino dan Satsuki juga bertepuk tangan di waktu yang bersamaan. Suara yang kering. Aku tidak tahu bahwa ada tepuk tangan yang bisa terasa seburuk ini.


"──Bertele-tele sekali."


Suara Reine membelah suasana itu bagaikan tebasan pedang. Suara yang tajam, tanpa kelembutan maupun jalan keluar.


"Hanya ada dua hal yang ingin kami ketahui."


Sambil berkata demikian, Reine mengangkat dua jarinya.


"Pertama. Tujuan Hibise mendekati Satoshi."


Satu jarinya ditekuk.


"Satu lagi adalah kau, Satoshi."


Tatapan Reine menghunjam lurus ke arahku.


"Mengapa kau diam-diam bersama Hibise tanpa memberi tahu kami? Kau pasti sudah tahu akan jadi seperti ini, kan?"


──Yah, pada akhirnya pasti akan sampai ke pertanyaan itu juga.......


Pada saat itu, udara terasa satu tingkat lebih berat. Tatapan mereka berempat beralih secara bergantian antara aku dan Hibise.


"Ah, kalau itu sih mudah."


Hibise membuka mulutnya, membelah kesunyian.


"Karena aku menyukai Satoshi-senpai."


"O-o-oi!?"


Suaraku melengking karena pengakuan yang terlalu blak-blakan itu.


"Singkatnya, ini adalah NTR (netori). Karena para Senpai tidak pantas untuk Satoshi-senpai, jadi aku akan mengambilnya. Mohon bantuannya, ya~."


"Tunggu, tunggu, tunggu, Hibise!?"


Sepertinya remnya sudah blong, Hibise sama sekali tidak mendengarkan peringatanku.


"Aku sudah memikirkannya matang-matang~. Bukankah tidak ada alasan bagiku untuk merasa takut?"


Gestur mengangkat bahunya itu terasa sangat provokatif.


"Hambatan adalah bumbu dalam cinta. Dinding? Bukan, kalau menganggapnya hanya sebagai empat buah batu loncatan, rasanya bukan apa-apa ya~."


"......Sudah, diamlah. Oke?"


"Kalau begitu, buatlah aku diam dengan ciuman~."


"Mau aku tutup mulutmu pakai lakban!?"


"Kyaa, takutnya~. Aku mau diserang!"


"Makanya, jangan bicara begitu...! ──Hap."


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatku, aku menahan napas. Dengan penuh rasa takut, aku melihat ke arah mereka berempat.


──Tidak ada seorang pun yang mengubah ekspresinya.


Tidak ada kemarahan, tidak juga rasa jengah. Mereka hanya menatap ke sini dengan wajah datar seolah-olah emosi mereka telah dikikis habis.......Sejujurnya, akan jauh lebih baik jika mereka membentakku.


Secara alami aku mengubah posisi dudukku menjadi bersimpuh. Namun, Hibise tidak gentar. Sebaliknya, ia tampak berniat menghadapi mereka berempat secara langsung. Keberanian yang berlebihan itu hanya akan menjadikannya orang bodoh, tahu...?


Beberapa detik berlalu. Keheningan yang berat mengendap, hingga akhirnya, Hibise mengembuskan napas kecil.


"Yah, soal itu sih tidak penting-penting amat."


Seketika itu juga, udara mendingin.


"──Di mana Sano Yuuto berada?"


Nada bicara santai yang tadi ia tunjukkan telah lenyap. Suaranya terdengar sangat tenang.


Tidak ada pelarian, tidak ada candaan. Hanya dengan satu kalimat itu, suasana seketika menjadi berat. Tanpa sadar aku memegang dahi. Bisa-bisanya dia langsung mengincar poin itu di sini...


"──Apa maksudmu?"


Reine bertanya balik sambil memberikan tekanan. Tatapannya tajam, suaranya ditekan rendah. Namun, Hibise sama sekali tidak memedulikannya.


"Alasanku mendekati Satoshi-senpai adalah karena ingin merebutnya dari para Senpai. Dan, satu hal lagi."


Ia menjeda sejenak.


"──Adalah untuk meminta bantuannya dalam mencari Sano Yuuto."


Tiba-tiba mataku bertemu dengan mata Satsuki.


"......Itu benar?"


"......Benar," jawabku dengan helaan napas.


Sebenarnya, aku ingin memikirkan cara bertanya yang lebih baik. Namun, karena Hibise sudah melangkah sejauh ini, tidak ada jalan untuk mundur.


Hibise meletakkan ponselnya di atas meja tanpa suara. Ia menyalakan layar dan mengarahkannya ke arah Satsuki dan yang lainnya.


"Eh?"


Terdengar suara napas yang tertahan.


Rekaman video yang terbagi menjadi tiga bagian.


Ruang tamu.

Kamar mandi.

Loteng.


Tenggorokanku bergetar pelan.


"Sano memasang kamera pengawas di kamarku."


“””"──"”””


Mereka berempat tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap layar.


Hibise menggunakan ujung jarinya untuk menaikkan kecepatan putar video hingga maksimal. Hari-hari di dalam layar berlalu dengan cepat karena dikompresi. ──Di sana, terekam pula hal-hal yang sama sekali tidak boleh bocor secara tanpa ampun.


"Soal itu sendiri, masih tidak apa-apa. Tinggal pukul dia sekali, lalu serahkan ke polisi, urusan selesai."


Di situ video terhenti.


"Reine, Shuna, Shino."


Aku memanggil nama mereka dengan tenang.


Adegan itu di dalam layar. Tiga orang yang mengarahkan tatapan seperti sedang membenci seseorang.


"......Sejak kapan kalian menyadarinya?"


Tidak ada jawaban.


Aku memalingkan wajah, menatap lurus Satsuki di depanku.


"Dan, Satsuki. Hari itu, aku dibawa pergi olehmu."


14 Maret. Hari peringatan satu tahun sejak kecelakaan itu.


Bagiku, itu sama sekali bukan hari yang membawa keberuntungan. Namun, bagi mereka berempat, itu adalah hari takdir saat mereka diselamatkan olehku. Kenangan yang tersimpan berharga di lubuk hati mereka sebagai hari perayaan.


Kenangan itu kini, dengan satu rekaman pengawas ini, berguncang dengan keras.


"......Karena mungkin sulit bagi Satoshi-senpai untuk mengatakannya, biar aku yang bicara. Aku yakin kalian berempat terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto."


Satu kalimat yang menutup semua jalan keluar.


"Sejak hari ini, Sano Yuuto tidak bisa lagi dihubungi."


Satu ketukan. Lalu, ia menatap lurus mereka berempat.


"──Apa yang kalian lakukan?"


Pertanyaannya singkat. Namun, itu adalah sebuah penghakiman. Aku memandang mereka berempat. Tidak ada satu pun yang mengangkat wajah.


──Kenapa kalian tidak membantahnya......!


Keringat mengucur di dahi secara alami. Detak jantungku berpacu karena keheningan itu membuatku berpikir bahwa mereka sedang menyusun siasat untuk menutupi sesuatu.


"──Begitu ya."


Satu kalimat terlontar dari Satsuki bersamaan dengan helaan napas.


"Boleh aku bertanya satu hal?"


Dengan suara yang kehilangan emosi, Satsuki menatap Hibise.


"Bagaimana cara kau mendapatkan rekaman itu?"


"Sangat tidak menyenangkan bagiku, tapi aku dianggap sebagai kaki tangan oleh Sano Yuuto."


"Kaki tangan?"


"Ya. Dia terus mengirimiku video sambil berkata, 'Karena kau kaki tangan, kau harus tahu apa yang kulakukan'. Tentu saja, aku tidak membicarakannya kepada siapa pun selain Satoshi-senpai."


"Begitu......."


Satsuki mengembuskan napas kecil.


"──Ternyata kau sudah mengetahuinya ya."


Setelah bergumam begitu, ia menatapku.


"Seperti yang dikatakan Hibise. Kami memang bertemu dengan 'benda' itu."


"──! Kalau begitu, sekarang dia di mana!?"


Tanpa sadar suaraku meninggi.


"Entahlah?"


Jawaban yang kembali adalah satu kata yang sangat tidak berperasaan.


"Kenapa kalian menemui bajingan itu!?"


Detak jantungku melesat seketika. Namun, ekspresi mereka berempat justru tenang secara mengejutkan. Perbedaan itu membuat kesabaranku habis.


"──Itu demi Satoshi-kun."


Satsuki berkata dengan tenang.


"Hah? Demi aku?"


Aku tidak mengerti dan pikiranku tidak bisa mengejar kenyataan yang ada.


"Satoshi-kun. Belakangan ini, apa kau bahagia?"


"......Ada apa, tiba-tiba sekali?"


"Jawab saja."


Sadar-sadar, Reine, Shuna, dan Shino juga sedang menatapku. Dalam atmosfer seperti ini, diam bukanlah sebuah pilihan.


"──Aku merasa sangat bahagia."


Aku menegaskannya. Pada saat itu, terdengar suara tarikan napas tertahan dari arah Hibise.


"Begitu. Kalau begitu, syukurlah......."


Satsuki mengembuskan napas lega, dan ketegangan di bahunya tampak melonggar.


"Saat kita memulai kehidupan ini, kami sudah memutuskan untuk membuat Satoshi-kun lebih bahagia daripada siapa pun."


Lalu, ekspresi Satsuki mengeras.


"Demi mendapatkan kebahagiaan itu──【LoD】 adalah penghalang."


Suara kecil pelan terdengar dari arah Hibise.


"Bagi Satoshi-kun, 【LoD】 adalah kenangan yang ingin kau lupakan, kan?"


"......Iya."


Neraka di mana segalanya dianggap tidak pernah ada, dan aku harus menerima takdir kematian. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.


"──Bajingan itu adalah pemicu yang akan membuat Satoshi mengingat neraka tersebut," lanjut Reine.


"Meskipun kita mencoba untuk bahagia, jika melihat dia, masa lalu akan teringat kembali. Itu benar-benar terlalu menyakitkan......."


"Reine......."


Suara Reine sedikit bergetar.


"Satoshi-san," Shino menyambung dengan tenang. 


"Bahwa kami adalah alasan di balik hilangnya bajingan itu, kemungkinan besar adalah fakta."


Ia menyatakannya dengan jelas.


"Ironisnya, kamera pengawas yang ditemukan Hibise-san itulah pemicunya."


Pandanganku terarah pada ponsel di atas meja.


"『Jika tidak ingin dilaporkan ke polisi, silakan menghilang dari hadapan kami.』──Itulah yang kami katakan."


Lalu, ia menghela napas.


"Sepertinya bajingan bejat itu menepati janjinya, setidaknya aku merasa lega soal itu."


"Begitu rupanya......."


Alasan dan motifnya, semuanya kini terhubung. Namun, rasa ganjil yang tersisa di lubuk hatiku tidak hilang begitu saja.


"Maaf ya~" 


Shuna mendekat dan menggenggam tanganku. 


"Kalau kami memberitahu hal berbahaya seperti ini kepada Satoshi-kun, kau pasti akan menentangnya~."


"......Iya."


Nyatanya, bahkan setelah mengetahui faktanya sekarang pun, amarahku belum mereda.


"Tapi kan~, Satoshi-kun itu bukan orang dari dunia 【LoD】, melainkan seorang reinkarnator~. Karena itu, kami memutuskan bahwa masalah 【LoD】 biar kami yang bereskan~."


"Cukup, aku mengerti."


Masih banyak hal yang tidak kupahami. Tindakan-tindakan "berat" yang kupikir sudah mereda setelah lukaku sembuh. Sepertinya, bara apinya masih tersisa.


......Sejujurnya, ada perasaan ingin menyerah saja menghadapi ini, tapi tetap saja ada yang harus kukatakan.


"──Terima kasih, karena telah melakukannya demi aku."


Kata-kataku terdengar jauh lebih lembut dari yang kubayangkan.


"......Kau tidak marah?"


"Tentu saja aku marah."


Tanpa sadar nadaku mengeras, membuat bahu mereka berempat tersentak. Aku mengacak rambutku dan menatap langit-langit.


"......Aku senang kalian menjadikan kebahagiaanku prioritas utama, tapi," aku menatap mereka berempat dengan lurus. 


"Aku tidak sudi membiarkan kalian memikul beban hidup ini sendirian."


"Satoshi-kun......."


Ada sedikit rasa keterasingan, seolah-olah aku ditinggalkan sendirian. Aku sudah lama menjadi penduduk 【LoD】 dan manusia di dunia ini. Masa lalu di kehidupan sebelumnya bukan urusanku lagi.


"Maaf ya, Hibise. Karena situasinya seperti itu──"


Kata-kataku terhenti di sana. Saat aku menoleh ke samping, Hibise tampak sedikit gemetar. Bahunya berguncang pelan dan napasnya pendek-pendek.


"Kenapa......"


Suara parau terdengar.


"Kenapa kalian bisa tahu tentang 【LoD】......?"


Hibise bertanya sambil menatap mereka berempat.


"Seharusnya kalian tidak bisa mengingat Satoshi-senpai, tapi kenapa......"


Kami secara spontan saling berpandangan. Satsuki berdiri dengan tenang, membuka lemari, dan tanpa ragu menjulurkan tangan. Yang ia keluarkan adalah sebuah buku catatan.


"Jangan-jangan......!"


Begitu diletakkan di atas meja, mata Hibise membelalak lebar.


"Begitulah. Kami membaca 【Buku Harian】 itu. Masa lalu Satoshi-kun, perasaannya, semuanya."


"──"


"Termasuk betapa mengerikannya hal-hal yang pernah kami lakukan padanya."


"Itu karena 'Kekuatan Paksa Dunia'. Itu bukan hal yang bisa dihindari."


"Meskipun begitu. Kami merasa bahwa kami harus terus menyesalinya selamanya."


Topik ini sudah kami bicarakan berulang kali. Namun, selamanya akan tetap menjadi dua garis sejajar yang tak bertemu. Lebih dari itu──.


"Hibise?"


"──"


Hibise tetap menunduk dan tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup poni.


"──Harusora Hibise-san."


Shino menyela dengan tenang.


"Ada satu hal yang juga ingin saya tanyakan."


Ia menujukan kata-katanya pada Hibise yang masih belum mengangkat wajahnya.


"Kami menyadari bahwa Anda adalah... karakter figuran dalam 【LoD】."


"Eh!?"


Tanpa sadar, kata-kata itu lolos dari mulutku. Benar-benar di luar dugaan.


"Kami juga sudah memainkan 【LoD】, lho~."


"Eh? Eh?"


"Ini buktinya."


Mengabaikan kebingunganku, Reine mengeluarkan sebuah laptop dari balik sofa dan meletakkannya di atas meja. Di sana ada kemasan gim yang sangat kukenal. Di dalam layar, tampak karakter-karakter dengan desain yang sama persis dengan empat gadis di depanku.


Aku menatap bolak-balik antara kenyataan dan layar, lalu tanpa sadar memukul meja.


"Kalian benar-benar memainkannya!? Kalian, para heroine【LoD】!?"


"Tentu saja! ──Meski rasanya sangat menjijikkan."


Ekspresi Satsuki jelas-jelas mendung.


"Melihat diri sendiri sedang ditaklukkan hati dan cintanya adalah pengalaman yang jarang bisa didapatkan, kan~?"


Suara Shuna santai, tapi emosinya terasa mati.


"Benar-benar... hidup ini lucu sekali ya~."


Dalam kata-katanya hanya tersirat rasa muak.


"Sama sekali tidak lucu."


Reine bersedekap dan berucap dengan nada menghina.


"Rasanya seperti menonton penayangan masa lalu yang memalukan secara real-time."


Rasa penolakan terpancar jelas darinya.


"Fufu."


Shino mengembuskan napas kecil. Sambil tetap menunduk, ia memilih kata-katanya dengan tenang.


"Sangat menyebalkan membayangkan hal ini dilihat oleh banyak orang. Gim di mana kami bersatu dengan 'benda' itu."


Ia menjeda sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Senyumannya tetap terlihat lembut.


"Bagaimana kalau perusahaannya kita hancurkan saja sekalian?"


Nadamu bercanda, tapi suasana seketika menjadi satu tingkat lebih dingin.


"──"


Aku tidak bisa berkata apa-apa...


Kata-kata penghiburan maupun lelucon untuk mencairkan suasana, semuanya terasa terlalu dangkal. Ketegangan di sini begitu kuat hingga salah bicara sedikit saja bisa berarti menginjak ranjau darat. 


Karakter gim memainkan gim yang menaklukkan karakter yang menyerupai diri mereka sendiri? Logikaku tidak bisa mengejar keanehan ini.


Shino kemudian tersenyum padaku.


"Melalui penyelidikan keluarga Shinonome, kami berhasil memastikan bahwa Hibise-san adalah junior kita. Setelah tahu sejauh itu, kami hanya perlu mencarinya di antara CG upacara penerimaan siswa baru."


"Sisanya, tinggal menghubungkan kemungkinan bahwa Hibise-chan pernah bersama Satoshi-kun saat masa SMA~. Karena kami tidak memberikan celah sedikit pun bagi Satoshi-kun untuk jatuh cinta pada orang lain di masa kuliah nanti~."


"Begitu ya......."


Tengkukku merinding menyadari kemampuan penyelidikan mereka yang mengerikan. Jika aku benar-benar selingkuh──aku mungkin benar-benar akan dibunuh.


"──Karena itulah, aku tidak mengertimu, Harusora Hibise."


Reine menatap rendah ke arah Hibise.


"Mengapa seorang figuran biasa bisa menyadari tentang 【LoD】? Dan juga—"


"Curang."


Suara parau itu menghentikan desakan Reine. "Eh?"


"Curang curang curang curang curang curang curang curang......."


Kata-kata yang sama meluncur dan terpental. Seperti mantra, secara mekanis. Logika runtuh tanpa suara.


"Hi-Hibise?"


"Jangan sentuh!"


Tepat saat Reine hendak menyentuhnya, Hibise menepis tangan itu dengan keras. Suara tepukan yang kering. Dengan wajah tetap menunduk, Hibise berucap rendah.


"──Jadi, begitu rupanya ya."


Nada bicaranya yang mendayu justru terasa mengerikan.


"Kelompok 'Utara-Selatan-Timur-Barat' yang memiliki obsesi kepemilikan sangat kuat itu... Aku terus-menerus bertanya-tanya mengapa kalian bisa berpacaran dengan Satoshi-senpai. Tapi sekarang aku mengerti."


Ia perlahan mengangkat wajahnya. Pertama ia menatapku, lalu menyapu pandangannya ke arah mereka berempat.


"Padahal tidak ingat apa-apa, tapi hanya karena membaca 【Buku Harian】, kalian merasa sudah mengetahui kebenaran ya~."


Ia tertawa. Tawa tipis yang kering. Hanya suara tanpa emosi yang jatuh ke lantai.


"Kalian benar-benar menjijikkan──kalian semua."


Udara semakin tegang.


"Para Senpai hanya memproyeksikan sosok pengganti Sano Yuuto kepada Satoshi-senpai, kan?"


"──Kalau kau berani bicara sembarangan lagi, kubunuh kau."


Reine membalas dengan nada rendah. Shuna, Shino, dan Satsuki ──mereka tidak bergerak sedikit pun. Namun, Hibise tidak gentar.


"Ooh, takutnya~."


Ia mengangkat bahu dan melanjutkan dengan nada provokatif.


"──Kalau begitu, biar kutanya. Jika kalian tidak mengetahui kebenarannya, saat ini pun kalian pasti masih bersama Sano Yuuto, kan?"


Terjadi kekosongan sesaat di antara Satsuki dan yang lainnya. Namun, Hibise tidak melepaskan mereka.


"Jangan bilang kalian tidak pernah memikirkannya~? Memilih universitas yang sama dengan 'benda' itu untuk tujuan tersebut. ──Karena aku tahu segalanya."


“””"──"”””


Mereka berempat tidak menjawab. Keheningan itu telah menjadi sebuah pembenaran.


"Kalian yang tidak ingat apa-apa──budak 【LoD】 yang tidak bisa mengingat apa pun, tidak mungkin memikirkan tentang kematian kalian sendiri pada hari itu."


Tempat yang disiapkan untuk menghakimi aku dan Hibise, tanpa sadar telah berbalik arah. Pihak yang menghakimi kini telah sepenuhnya bertukar posisi.


Hibise tersenyum simpul.


"Setelah menerima pernyataan cinta yang menjijikkan dari 'benda' itu, apa yang kalian pikirkan saat itu~?"


Ia mempersempit jarak.


"Awalnya aku yakin kalian sangat marah. Tapi──"


Hibise melontarkannya tepat di hadapan mereka.


"Hanya aku yang tahu sisi baiknya. Cinta bisa bermula bahkan dari hubungan fisik. Dia hanya sedang tidak punya ketenangan karena stres ujian. Menunjukkan kekurangan adalah bukti kepercayaan. Orang ini tidak akan bisa apa-apa tanpaku.──Kalian berpikir seperti itu, kan?"


Setelah menumpahkan semuanya tanpa jeda napas, Hibise kembali tertawa mengejek.


"Kalian benar-benar orang yang beruntung, ya. Bisa mengetahui kesalahan kalian di tahap yang masih bisa diperbaiki."


"──Apa yang ingin kau katakan?"


Satsuki, yang sedari tadi mendengarkan dengan tenang, bertanya balik pada Hibise.


"Kesimpulannya adalah,"


Nada bicara Hibise melonjak tajam.


"Kalian tidak mencintai Senpai......!"


Suara Hibise semakin mengeras.


"Kalian hanya ingin menghapus masa lalu saat kalian ditipu. Ini hanyalah pertahanan diri karena tidak ingin mengakui kenyataan bahwa kalian telah mencintai pria yang salah......!"


Kata-kata Hibise menghujam bertubi-tubi bagaikan arus deras.


"Perasaan kalian terhadap Senpai sudah tertulis di 【Buku Harian】, ditambah lagi Satoshi-senpai sedang patah hati. Ini adalah percintaan yang kemenangannya sudah dijanjikan sejak awal. Benar-benar pahlawan wanita utama!"


Sindiran yang terasa seperti ludah penghinaan.


"Ini hanyalah proses mengganti objek cinta dari Sano Yuuto ke Iriya Satoshi, kan! Seperti mengganti baterai saja!"


"Hibise──!"


Tepat saat aku melangkah maju.


"Curang......."


Satu kata terlontar. Ketajaman tadi lenyap, digantikan suara yang sangat lirih.


"Ini curang......!"


Air mata tumpah membasahi pipinya.


"Ini terlalu curang....... Kalau begitu, tidak mungkin aku bisa menang, kan......!"


Suaranya bergetar dan meninggi.


"Padahal kalian tidak punya kenangan atau apa pun......!"


Hibise melotot ke arah mereka berempat, dan terakhir, ia menatapku dengan pandangan memohon yang lemah.


"Hanya aku yang dilupakan, ditinggal sendirian......! Dan sekarang, satu-satunya peluang menangku pun menghilang...... ini curang......!"


Hibise menyambar barang-barangnya dengan kasar, lalu berlari keluar tanpa menoleh kembali.


"Hibise!"


Saat aku berteriak, hanya suara pintu yang tertutup yang tersisa di dalam ruangan. Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga luar dengan terburu-buru. 



Di tengah jalan, terdengar suara tumpul sesuatu yang bergesekan dengan dinding. Kemudian, semuanya menjauh dan menghilang.


Keheningan jatuh di dalam ruangan. Seolah-olah tidak ada yang bernapas, hanya suara detak jarum detik jam yang sampai ke telinga.


"Aku──!"


Tanpa sadar suaraku keluar, namun kata-kataku terhenti di sana.


Mengejarnya.


Seharusnya itulah yang ingin kukatakan. Namun, sesuatu tersangkut di tenggorokanku dan tidak bisa menjadi suara. Lidahku kaku, dan hanya pandanganku yang jatuh ke lantai. Aku menunduk.


Aku telah memilih mereka berempat yang ada di sini, bukan Hibise. Jika aku mengejar Hibise sekarang, itu adalah sebuah pengkhianatan. Perasaan lengket dan hangat yang entah penyesalan atau rasa benci pada diri sendiri mulai menyebar di lubuk hatiku.


"──Hibise baru saja menusuk tepat di bagian yang menyakitkan, ya."


Dalam kata-kata Satsuki tidak ada kemarahan maupun nada menyalahkan. Hanya ada kelelahan yang hanya dimiliki oleh orang yang telah menerima kenyataan.


"Tidak tahu apa-apa...... itu benar, ya. Kami hanya mengetahuinya karena membaca 【Buku Harian】."


Reine bergumam pelan.


"Tidak begitu. Aku...... merasa senang, kok."


Mati tanpa meninggalkan apa pun kepada siapa pun benar-benar hal yang sangat menyakitkan.


"──Namun,"


Shino berucap.


"Apa yang dikatakan Hibise-san adalah fakta."


Sambil tetap menunduk, ia menyatakannya dengan datar.


"Jika 【Buku Harian】 itu tidak ada, aku mungkin akan melakukan hal yang persis seperti yang dikatakan Hibise-san."


"Itu...... mungkin sesuatu yang lebih baik tidak kuketahui."


Tanpa sadar, aku tersenyum kecut. Bagiku, 【LoD】 sudah berakhir pada hari itu. Membayangkan bahwa di dunia di mana aku tidak ada, mereka tetap bersama bajingan itu, hanya memikirkannya saja membuat hatiku bergejolak.


"──Aku sedikit iri pada Hibise-chan ya~," kata Shuna dengan lembut. 


"Artinya dia tahu lebih banyak tentang Satoshi-kun daripada kami, kan? Jika melihat bicaranya tadi."


"Ya, dia adalah 'korban dari kekuatan paksa'."


Hanya dengan satu kalimat itu, semuanya tersampaikan.


"Ternyata, Satoshi-kun juga......"


"──Telah melupakan Hibise."


Keheningan kembali melanda.


Kali ini, keheningan itu terasa lebih sunyi dan berat daripada sebelumnya.


"──Pergilah."


"......Eh?"


Satsuki menatapku lurus-lurus tepat dari hadapanku.


"Aku hanya memaafkan perselingkuhan kali ini saja. Jadi, pastikan ──kau mengingat hal itu baik-baik, ya?"


Ucapannya sedikit bernada menggoda. Namun, di balik matanya, terdapat kegelisahan yang nyata sekaligus──rasa percaya yang jauh lebih besar.


Lubuk hatiku terasa hangat. Aku bangkit berdiri dan memegang gagang pintu kamar. Tanpa menoleh, aku hanya mengucapkan satu kalimat.


"......Terima kasih."


Lalu, aku pun bergegas keluar.



Malam musim panas. Besok sekolah sudah dimulai lagi.


Mungkin karena aku berharap fajar tidak segera datang, panas yang tersisa dari siang hari tadi tidak menemukan jalan keluar meski malam telah tiba, dan terasa menempel dengan sangat tidak nyaman di kulit. Setiap kali aku menarik napas, udara suam-suam kuku seolah meresap hingga ke dalam dadaku.


Jika Hibise sudah pulang naik kereta, aku tidak akan bisa mengejarnya lagi. Namun, kakiku secara alami melangkah ke arah yang berlawanan dari stasiun. Saat aku berjalan menyusuri rel kereta api, sebuah taman muncul di balik jajaran lampu jalan yang sudah tidak asing lagi. Tempat di mana hubungan kami mengalami kemajuan yang menentukan.


Mungkin karena aku sudah berkali-kali datang ke sini, tidak ada lagi rasa sentimental yang mendalam. Tempat ini hanyalah sebuah lokasi di mana berbagai fakta telah tertumpuk.


"──Ketemu."


Hibise sedang duduk di bangku taman. Dengan penyuara jemala yang terpasang di telinganya, ia mengangkat sedikit ujung kakinya dan mengayun-ayunkannya seolah mengikuti ritme musik. Tubuhnya pun bergoyang pelan. Seolah menyadari kehadiranku, Hibise mengangkat wajahnya, melepas penyuara jemalanya, dan menatapku dengan lemah.


"Boleh aku duduk...... di sampingmu?"


"......Silakan."


Aku duduk di bangku itu.


──Panas sekali.


Aku berharap malam di musim ini bisa sedikit lebih lembut. Sambil memikirkan hal-hal tidak penting seperti itu, aku terdiam sejenak.


"──Bagaimana Senpai tahu aku ada di sini?" 


Hibise bertanya dengan suara lirih.


"Entahlah, aku merasa kau ada di sini."


"Itu sama sekali bukan jawaban......."


Ia tersenyum kecut, tampak sedikit heran sekaligus bingung.


"Jika kau sudah pulang naik kereta, tidak ada yang bisa kulakukan." Setelah jeda sesaat, aku melanjutkan. 


"Tapi aku pikir, jika kau ingin bicara denganku, kau pasti akan menunggu di tempat ini."


"──"


Selama hari-hari neraka itu, aku sering datang ke sini sendirian demi menghindari bad end. Saat itu, jika Hibise benar-benar bersamaku, aku pikir ia pasti mengerti arti dari tempat ini.


"──Senpai benar-benar orang yang jahat ya," Hibise menatapku sambil tersenyum. 


"Memangnya tidak apa-apa Senpai mengejarku?"


"Tentu saja tidak boleh...... karena aku sudah memilih mereka." 


Setelah jeda singkat, aku menambahkan, "Mereka bilang──hanya memaafkan perselingkuhan sekali ini saja."


Hibise tersentak mendengar hal itu.


"Benar-benar wanita-wanita yang menyebalkan......."


Umpatan yang keluar dari mulutnya tidak lagi memiliki ketajaman seperti sebelumnya. Hibise perlahan berbalik menghadapku.


"......Maaf soal yang tadi," ucapnya sambil menunduk dalam-dalam. 


"Aku hanya melampiaskan kekesalanku. Padahal para Senpai sama sekali tidak bersalah......."


Tanpa mengangkat wajahnya, ia melanjutkan.


"Aku berpikir bahwa selama hanya aku yang tahu tentang masa lalu Senpai...... aku bisa mengungguli mereka. Tapi──"


Ia mengembuskan napas kecil yang terdengar seperti mencemooh diri sendiri.


"Bahkan hal itu pun kini tidak lagi tersisa padaku."


Ia kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Tapi kalau dipikir-pikir, itu wajar saja......." 


Ia melanjutkan kembali, "Karena Senpai memang sudah melakukan banyak hal demi mereka."


Hibise mendongak.


"Aku sangat mengerti bagaimana perasaan mereka."


Ia menghela napas untuk kesekian kalinya. Lalu, ia bergumam lirih.


"......Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


Sebuah senyuman yang seolah memohon.


Tinggalkan mereka berempat sekarang juga. Jika itu mustahil, setidaknya sekali saja, tidurlah denganku. 


Begitu melihat ekspresinya, aku menyadari keinginan Hibise sampai pada taraf yang menyakitkan. Bahkan jika hal itu diketahui oleh Satsuki dan yang lainnya.


'Hanya memaafkan perselingkuhan sekali ini saja.'


Aku bisa saja menjadikan kalimat itu sebagai pembenaran untuk memeluk 'Harusora Hibise, sang korban dari kekuatan paksa' ini.


Berbagai alasan bisa saja aku buat. Jika aku mau, aku bisa dengan mudah memilih opsi yang paling bajingan. Namun──.


"Tidak ada yang bisa kulakukan untukmu, Hibise......."


"Kejam sekali ya. Padahal kupikir, sekadar memeluk saja boleh, kan?" 


Hibise menggembungkan pipinya dan berucap dengan nada bercanda.


Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum yang samar.


"Sebenarnya... aku pikir pilihan yang paling benar adalah menjauhimu begitu saja."


Biarkan semuanya berakhir dengan Hibise yang membenciku. Tidak apa-apa. Biarkan aku menjadi pria brengsek yang melupakan Hibise—padahal ia sudah begitu banyak berkorban—lalu malah bersenang-senang dikelilingi banyak wanita. Baginya yang pernah terjerat oleh host hingga diperas harta dan perasaannya, aku akan menjadi sosok yang sama. Jika dia ingin menyalahkanku, silakan salahkan aku sepuasnya. Jika dengan begitu dia bisa melangkah maju, menurutku itulah cara mengakhiri segalanya dengan paling benar.


"Tapi aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu padamu, Hibise......."


Aku mengembuskan napas kecil. 


Alasan mengapa Satsuki dan yang lainnya begitu akrab satu sama lain sudah sangat jelas. Itu karena mereka adalah kawan seperjuangan yang merasakan penderitaan yang sama. Mereka dipaksa menyukai Sano Yuuto, dan memikul takdir kematian jika tidak bersamanya. Karena itulah, mereka menghargai satu sama lain lebih dari apa pun.


Dalam artian itu, aku dan Hibise memiliki kesamaan sebagai 'korban dari kekuatan paksa'. Kami tahu rasanya dilupakan dan dianggap tidak pernah ada. Namun, ada satu hal yang membedakan kami secara telak. Aku sudah menceritakan semuanya kepada orang-orang yang ingin kukenal, dan aku telah diterima. 


Namun, Hibise berbeda. Hibise adalah sosok "diriku" yang harapannya tidak terkabul.


"Aku adalah pelaku yang melupakanmu. Bagaimana mungkin aku bisa mencampakkan Hibise yang merasakan penderitaan yang sama denganku...... mana mungkin aku bisa......."


"Senpai......."


Namun meski begitu, aku tetap tidak bisa mengabulkan harapan Hibise. Karena aku──telah memilih mereka. Meskipun aku datang mengejar Hibise dengan penuh semangat, nyatanya tidak ada yang bisa kulakukan. Benar-benar tidak ada.


Karena itu.


"──Lakukanlah sesukamu."


"Eh?"


"Aku tidak akan menolakmu. Jika kau ingin berada di dekatku, silakan saja. Bermain bersama seperti biasa juga... yah, boleh saja."


"Itu artinya──"


"Tapi, hanya merekalah yang kucintai." Aku menghela napas panjang. 


"Sampai kau menemukan sesuatu yang bisa membuatmu melupakanku ──lakukanlah sesukamu."


Sebuah tawaran masa tenggang sampai ia bisa menemukan kebahagiaan lain. Itulah kompromi maksimal yang bisa kuberikan.


"......Apakah Senpai sedang mengujiku?"


"Wajar saja jika kau berpikir begitu......."


Membiarkan Hibise melakukan sesukanya berarti aku tidak keberatan kapan pun dan dalam bentuk apa pun Hibise melakukan pendekatan padaku.


"Kalau dipikir-pikir... bukankah Satoshi-senpai terlihat seperti sedang menjadikanku cadangan?"


"Kau benar......."


Satsuki dan yang lainnya pasti akan menunjukkan wajah tidak senang.


"Hanya saja, aku tidak punya rencana untuk jatuh cinta padamu."


Bukannya setia pada satu jalan──malah empat jalan sekaligus, ya? Sejak awal, aku memang tidak punya kejujuran sedikit pun.


"Bajingan......," Hibise mendesis pelan, tampak jengah.


"......Kau merasa kecewa?"


Jika dengan begini ia menyerah, maka biarlah. Memang tidak baik, tapi setidaknya ia tidak akan terikat olehku.


"Tidak──justru aku jadi semakin bersemangat."


Setelah berkata demikian, Hibise tersenyum. Panas yang bersemayam di mata birunya bukanlah candaan atau sekadar gertakan. Matanya menyala dengan tekad yang pasti dan jelas.


Angin suam-suam kuku berhembus melewati taman. Angin khas malam musim panas yang seolah menyapu kelembapan yang menempel di kulit hanya untuk sesaat. Di bawah cahaya lampu jalan, rambut pirang panjang Hibise bergoyang, memantulkan cahaya dan menebarkan partikel halus yang berkilau.


"Begitu ya......."


Sebentar lagi bulan Agustus. Jika aku bisa melewati ujian, liburan musim panas yang sangat panjang telah menanti. Waktu terus berjalan maju seolah tidak terjadi apa-apa.


"Nah, mari kita pulang."


"Benar juga ya......."


Hibise bangkit dari bangku dengan gerakan yang lincah.


"Akan kuantar sampai stasiun."


"Jangan, aku merasa tidak enak kalau sampai begitu. Aku tidak ingin berutang lebih banyak lagi pada wanita-wanita itu."


"......Baiklah. Hati-hati di jalan, ya."


"Iya!"


Melihat Hibise kembali ceria, tanpa sadar pipiku melonggar.


"Omong-omong, Senpai. Ada kotoran di kepala Senpai karena angin tadi."


"Eh? Masa?"


"Iya, biar kuambilkan, jadi diamlah sebentar."


"Oh......."


Aku tetap duduk di bangku. Hibise melangkah ke hadapanku.


──Sebuah sentuhan lembut terasa di dahiku.


"──Eh?"


"Senpai lengah ya~," ucapnya sambil menjauh dengan cepat. Pipinya merona merah padam, dan ia memasang senyum seperti anak kecil yang baru saja berhasil menjahili orang.


"Kau──!?"


Rasa panas di pipiku melonjak seketika. Saat aku menyentuh area kening, sensasi sentuhan itu memang masih tertinggal di sana.


"Aduh-aduh~ Senpai. Ja-ngan-ja-ngan, Senpai tersipu ya?"


Senyumannya tampak menggoda.


"Padahal baru saja Senpai bilang tidak bisa menganggapku sebagai wanita~, tapi sekarang Senpai malah jadi terpikirkan hanya karena kecupan kening dari gadis sepertiku~? Ayo, ayo, beri tahu aku!"


Hibise terus memprovokasiku layaknya bocah nakal. Namun, saat melihat tingkahnya itu, rasa panas di wajahku perlahan surut dan kepalaku kembali tenang.


"──Sisi itulah yang membuatmu menyedihkan."


"Memangnya apa sih yang Senpai maksud dengan menyedihkan itu!?"


Padahal lebih baik jika ia tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu.


──Yah, tapi aku tidak akan mengatakannya.


Aku bangkit berdiri, lalu menepuk debu yang menempel di celanaku.


"Kalau begitu, aku duluan ya."


"Ah, tunggu sebentar."


"Hm?"


Aku menoleh kembali.


"Ada sesuatu yang... lupa kusampaikan pada Senpai."


Setelah berdeham pelan, Hibise menatapku dengan lurus.


"Aku sangat senang Senpai masih hidup!"


Ekspresinya tampak tenang dan penuh kasih. Tanpa sadar, pipiku pun melonggar.


"──Terima kasih."


"Sama-sama!"


Setelah berkata demikian, Hibise berlari dengan penuh semangat. Di tengah jalan keluar taman, ia berputar dan menoleh ke arahku.


"Kalau begitu, Senpai. Sampai jumpa lagi!"


"Ya, sampai jumpa."


Meninggalkan senyuman secerah matahari, Hibise berlari menembus kegelapan malam. Aku pun mulai melangkah ke arah jalan yang berlawanan dengannya.


"Nah sekarang......"


Bahuku merosot lesu.


"Penjelasan apa yang harus kuberikan pada Satsuki dan yang lainnya?"


Saat kembali ke kamar nanti, bagaimana aku harus menjelaskannya? 


Tanpa menemukan jawaban, helaan napas pendekku pun melebur ke dalam keheningan malam.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close