Penerjemah: Amir
Proffreader: Amir
Chapter 8
Scenario Writer
Musim panas tahun ketiga SMA.
Ujian masuk universitas telah mencapai puncaknya, dan dunia seolah-olah hanya tersusun dari hasil try-out serta nilai ambang batas. Setelah entah bagaimana berhasil melewati penderitaan kursus musim panas—yang kurasa hanya ada untuk menguras kesehatan mental—musim gugur pun mulai mendekat.
Aku memutuskan untuk datang ke acara Open Campus untuk menyegarkan pikiran.
──Sejujurnya, kemampuanku yang sekarang bahkan tidak cukup untuk mencapai universitas cadangan pilihan Senpai. Meski begitu, aku tidak boleh terpuruk jika ingin bertemu dengannya lagi.
Begitu surat kelulusan ada di tangan, aku akan langsung menghubungi Senpai. Mungkin, di sana dia sudah tidak ingat apa-apa. Baik tentang diriku, maupun waktu yang kami habiskan bersama. Karena itulah, aku tidak punya pilihan selain menunjukkan 【Buku Panduan Strategi】 padanya. Agar dia bisa mengingat fakta bahwa—sama seperti sebelumnya—meski ingatannya hilang, dia benar-benar telah berbagi masa lalu denganku.
Lagi pula, 【LoD】 sudah berakhir. Seharusnya tidak akan ada lagi 'Kekuatan Paksa Dunia' seperti penghapusan ingatan yang akan menghalangi kami. Senpai pasti sedang terluka karena patah hati. Jadi──aku harus menghiburnya. Perasaan misi itu membuncah di dalam dadaku.
"──Jadi, apa maksud dari semua ini?"
Sadar-sadar, aku sudah berada di sebuah kafe dekat universitas. Nama kedainya adalah 'Meguri'. Interiornya bernuansa kayu dengan aroma kopi yang tercium lembut. Tempat yang tenang dengan suasana yang menyenangkan. Begitu jadi mahasiswi nanti, aku ingin datang ke sini bersama Senpai. Begitulah kesan tempat ini bagiku.
"Baru juga bertemu lagi setelah sekian lama, tapi kau galak sekali ya."
Pria yang duduk di depanku──Sano Yuuto.
Dia sengaja memamerkan jam tangan yang terlihat mahal dan mengenakan kardigan tipis. Tipe orang yang sok keren dan bisa ditemukan di mana saja. Kesannya seperti orang yang suka memakai istilah asing dan sibuk dengan bisnis sampingan atau MLM. Saat itulah, kesan mencurigakan menimpa pengaturan karakternya yang katanya 'hanya sekadar baik hati'.
Hanya berada di ruangan yang sama dengan pria ini saja sudah membuat ulu hatiku sakit.
"Hal itu tidak penting~. Kenapa Satsuki-senpai dan yang lainnya bisa menjadi milik Iriya Satoshi? Cepat beritahu aku."
Suaraku terdengar kasar, bahkan bagi diriku sendiri. Sano Yuuto sempat kehilangan kata-kata sejenak, namun segera memasang wajah sok serius.
"──Iriya Satoshi itu selalu menempel pada Satsuki dan yang lainnya saat SMA, kan?"
"Iya, begitulah."
Karena itu fakta, aku mengangguk.
"Tapi, untungnya Satsuki dan yang lainnya sangat membenci Iriya Satoshi dari lubuk hati mereka. Karena saking bencinya, mereka sampai kehilangan ingatan keesokan harinya, kan?"
"──Iya."
Aku terdiam, memintanya melanjutkan.
"Mana mungkin orang seperti itu bisa bersama Satsuki dan yang lainnya! Dia pasti menggunakan cara kotor untuk mencuci otak mereka......!"
Sano Yuuto mengeraskan suaranya dan memukul meja. Suara tumpul bergema di dalam kedai, membuat pandangan orang-orang di sekitar serentak tertuju ke arah kami. Kepalaku berdenyut sakit mendengar argumen yang sangat tidak masuk akal itu.
"......Apa Anda punya bukti?"
"Ada──tapi, aku tidak akan memberitahumu secara cuma-cuma."
Begitu melihat ekspresi wajahnya, rasa mual langsung bergejolak.
"Pembicaraan ini tidak ada gunanya. Selamat tinggal."
"A-apa!?"
Informasi yang sengaja ditahan-tahan biasanya tidak memiliki nilai yang berarti. Aku bangkit dari kursi dan mengambil tasku.
"Tu-tunggu dulu! Ini berita luar biasa, lho!?"
"Aku tidak peduli~."
Aku meletakkan uang pembayaran di meja dan langsung menuju pintu keluar. Mengetahui bahwa Satoshi-senpai ada di universitas ini sudah merupakan hasil yang cukup. Sisanya, aku hanya perlu berjuang dalam belajar.
"Tu-tunggu dulu, Harusora!"
Mengabaikan suara yang mencoba menghentikanku, aku tetap membelakanginya.
"Aku berencana menjadi penulis skenario gim! Aku ingin Harusora membantuku! Kalau kau mau, aku akan memberikan semua informasi yang kau inginkan!"
Tidak peduli.
Mengabaikan kata-kata yang hanya numpang lewat di telinga, aku berjalan lurus membelah kedai. Tanganku terjulur ke arah pintu──.
"──【Love or Dead】."
Jariku berhenti seketika, masih menyentuh sensasi dingin pada gagang pintu.
"......Barusan, Anda bilang apa?"
Suaraku sendiri terdengar sangat jauh.
Saat aku menoleh, Sano Yuuto mengangkat sudut mulutnya seolah telah meraih kemenangan.
"【Love or Dead】...... karena terlalu panjang, sebut saja 【LoD】."
──Pada saat itu.
Segala hal yang selama ini tidak kupahami, kini terhubung menjadi satu garis lurus.
Mengapa dunia ini begitu gigih mencoba membunuh karakter figuran. Mengapa pahlawan wanita yang tidak bersatu dengan siapa pun, pasti ditakdirkan untuk mati.
Aku tidak akan memaafkan wanita yang tidak memilihku.
Matilah bersama Iriya Satoshi!
Pemikiran menyimpang yang bahkan tidak bisa disebut sebagai niat jahat itu telah tertanam ke dalam dunia ini sebagai sebuah sistem. Dan, orang yang membangun semua itu adalah──pria ini.
Semuanya.
Semuanya adalah salahmu.
"Sano-senpai."
"A-ada apa......"
Sudut pandanganku perlahan mulai memerah karena amarah.
Rasanya saat ini juga, aku ingin mencengkeram lehernya dan mengerahkan tenaga pada jemariku sampai napasnya terhenti.
──Akan kubunuh kau.
Tepat saat pikiran itu muncul. Tiba-tiba, tenaga di tanganku melemas. Tas yang kusampirkan di bahu miring, dan sebuah buku catatan terjatuh dari dalamnya ke lantai.
"Ah."
Kejadian tak terduga itu membuat niat membunuh yang tadinya mendidih sedikit mereda.
Aku membungkuk untuk memungutnya.
【Buku Panduan Strategi】 yang diberikan oleh Satoshi-senpai. Begitu aku memegangnya, emosi lain menyeruak dari lubuk hatiku.
Sebuah rasa kewajiban yang menyerupai insting.
Pria ini adalah sosok yang harus dibunuh. Sangat tidak diragukan lagi.
Namun, mengapa──.
Aku merasakan niat membunuh di dalam diriku mulai tumpul, dan sebagai gantinya, rasa penasaran yang aneh mulai muncul.
──Untuk saat ini, mari kita lihat situasinya dulu.
Lalu, seolah tidak terjadi apa-apa, aku kembali ke kursi dan mengenakan topengku. Kemarahan maupun niat membunuh, semuanya kutenggelamkan ke dasar hati.
Aku mengangkat sudut bibirku, membentuk senyuman ramah.
"──Kedengarannya menarik bukan! Tolong ceritakan lebih detail lagi padaku!"
◇
Setelah berpisah dengan Satoshi-senpai dan yang lainnya.
Sambil menyandarkan tubuh mengikuti goyangan kereta, aku memutar musik favoritku. Melodi yang mengalir melalui penyuara jemala membuat kerangka pikiranku sedikit mengabur.
"Jika melihat situasinya──Sano Yuuto kemungkinan sudah dibunuh ya."
Sebuah penghilangan yang benar-benar terasa sangat tidak wajar.
Dalam suaraku, tersirat rasa jengah yang lebih besar daripada kekesalan.
"Kalau begini terus, tinggal menunggu waktu saja sampai identitas asliku terungkap."
──Tapi kalau memang sanggup membunuhku, silakan dicoba saja.
Saat membuka kotak masuk surel, yang berjejer di sana adalah korespondensi mengenai 【LoD】. Entah mengapa, Sano Yuuto mendaftarkan alamat surelku ke perusahaan pengembang 【LoD】. Gara-gara itu, aku malah menjadi penghubung dengan pihak produksi.
Mungkin karena dia menghilang, alamatku digunakan sebagai kontak darurat.
──Benar-benar merepotkan.
"Tapi berkat itu, aku bisa menyisipkan banyak hal."
Tadinya, aku berniat untuk menyerah. Bahwa tidak ada lagi gunanya menaruh harapan pada orang yang telah melupakanku.
"Tapi setelah mendengar kata-kata tadi, mana mungkin aku bisa menyerah begitu saja......."
Tetap ingin bertaruh pada seberkas kemungkinan, itulah hati seorang wanita. Wajahku terpantul di layar ponsel; ekspresinya datar, namun binar di matanya tampak bercahaya dengan misterius.
Kereta meluncur memasuki stasiun berikutnya. Tersamar oleh kebisingan itu, aku menggerakkan bibirku sedikit saja.
"Apa pun caranya──pasti."
Previous Chapter | ToC |





Post a Comment