NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2 Chapter 2.3

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 2.3

Kasus Saionji Satsuki

Hari Sabtu. 


Padahal ini adalah hari libur yang berharga, tapi aku──Saionji Satsuki──sedang mengerahkan seluruh tenagaku untuk menjalankan misi yang sangat menyedihkan, yaitu membuntuti pacarku sendiri.


Hari ini seharusnya menjadi jadwal kencan kami. Namun, Satoshi-kun menolaknya dengan alasan ada urusan mendesak. Katanya, dia ingin membantu tugas teman sekelas di seminarnya.


"Berhentilah berbohong. Berdasarkan penyelidikan Reine, kami sudah tahu kalau kau tidak punya teman sama sekali di kelas seminar itu..."


Aku memakai kacamata hitam dan mengawasi mereka berdua dari balik pilar di depan stasiun. Tujuan mereka bukan ke arah universitas, melainkan ke arah sebaliknya.


Setelah menempuh perjalanan dengan kereta, mereka turun di sebuah stasiun yang agak sepi. Lebih tepatnya, daerah ini sangat dekat dengan SMA tempat kami bersekolah dulu.


"Akhirnya sampai juga ya!"


Suara Hibise yang riang bergema di depan stasiun, namun tidak ada siapa pun di gerbang pemeriksaan tiket.


Di bawah langit yang mendung, deretan toko tua dengan pintu gulung yang tertutup berjejer, dan kantong plastik yang tertiup angin berguling-guling di atas aspal. Berbeda dengan lingkungan sekitar apartemen kami, kota ini terasa sangat sunyi, seolah-olah tertinggal oleh waktu.


"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Satoshi-kun.


"Hm~, aku belum merasakan apa-apa ya."


"Begitu ya."


Mereka berdua berdiri berdampingan sambil tertawa bersama.


"Ayo berangkat~!"


Begitu Hibise mengatakannya, dengan gerakan yang sangat alami ia melingkarkan lengannya ke lengan Satoshi-kun. Ia merapatkan tubuhnya hingga ke bagian dada, menyelipkan lengannya ke lekukan siku Satoshi-kun.


"Anu, Hibise. Jarak ini jelas terlalu dekat, tahu..."


"Kalau antar teman, ini hal biasa kok! Laki-laki dan perempuan di sekitarku juga biasa melakukan ini! Malah ini sedang tren tahu!"


Hibise tertawa sambil memberikan alasan, tapi pipinya merona merah. Suaranya pun terdengar agak melayang.


Mana mungkin alasan seperti itu bisa diterima──.


"Teman... ya, kalau begitu mau bagaimana lagi."


Apa dia merasa sesenang itu karena akhirnya punya teman?


Aku memutuskan dalam hati bahwa aku harus membantu Satoshi-kun mencari teman. Tapi, kami tidak punya kenalan laki-laki.


Perempuan? Itu di luar pertanyaan. 


Punya teman perempuan bagi laki-laki yang sudah punya pacar hanya akan menjadi pemantik api masalah. Persis seperti fenomena yang sedang terjadi di depan mataku sekarang.


"Yah, lupakan soal itu──"


Melihat wajah Hibise, aku tanpa sadar menghela napas. Dia sudah benar-benar menjadi gadis yang sedang jatuh cinta.


Jatuh cinta setelah ditolong dari gangguan orang asing... dia ini sebenarnya heroine dari gim galge mana sih?


"Aku sudah memikirkan ini dari tadi."


"Hm?"


"Satoshi-senpai, kenapa kau tidak punya teman?"


Hibise bertanya seolah itu bukan hal yang penting.


"......Ini sebenarnya cerita tentang temanku, sih."


Satoshi-kun membuang muka dan berkata setelah memberi jeda sejenak.


...Aku tidak menyangka benar-benar ada orang yang menggunakan kalimat "cerita tentang temanku" di dunia nyata. Dan ironi yang menyedihkan adalah dia memang tidak punya teman itu.


"Dia itu punya empat orang pacar yang luar biasa cantik jelita."


"......O-oh."


Aku seolah mendengar suara hati Hibise yang retak.


"Pertama, setiap kali dia mencoba mencari teman lawan jenis, langkahnya terhenti karena rasa cemburu para pacarnya."


Tentu saja. Kau tidak butuh wanita lain selain kami, kan?


"......Lalu, teman sesama jenis?"


"Setiap kali mencoba mencari teman sesama jenis, mereka juga cemburu padanya dan tidak mau berteman dengan benar...! Mereka pasti iri karena dia punya empat pacar..."


"Kalau itu sih, memang benar ya~"


Hibise tertawa canggung. Meskipun matanya terlihat keruh.


"Karena itulah sepertinya dia tidak punya teman. Apa yang harus aku lakukan?"


Dia sudah keceplosan bilang "aku" tuh...


Sisi di mana dia tidak bisa memerankan skenario bodoh itu sampai akhir justru terasa manis bagiku.


"Bukankah sebaiknya putus saja dengan pacarnya?"


Hah? Apa yang dikatakan junior ini sambil tersenyum?


"Hanya itu yang tidak mungkin terjadi."


Namun, Satoshi-kun menegaskannya dengan suara rendah. Matanya menatap lurus, tidak goyah sedikit pun. Hibise tercekat, alisnya sedikit berkedut.


"Ta-tapi, kalau kau dikekang sampai seperti itu, bukankah putus adalah salah satu jalan keluarnya?"


"Hanya itu yang tidak mungkin terjadi."


Tanpa jeda sedetik pun, dia menjawab instan lagi. Karena kecepatannya yang luar biasa, bahu Hibise tersentak kaget.


"Kau pasti punya keluhan, kan? Kalau begitu—"


"Bahkan termasuk sisi itu pun, aku mencintai mereka."


──Duh, pacarku keren sekali!


"Benar-benar tidak ada celah untuk masuk ya!"


Hibise akhirnya bertumpu pada tanah, jatuh berlutut. Ia mendongak ke langit dan berteriak. Benar-benar gambaran seorang pecundang. Melihat pemandangan itu, aku berpikir:


"......Tadinya aku hanya berniat menyelidiki, tapi sepertinya aku harus mulai bergerak."


Hibise mencoba membuat Satoshi-kun putus, tidak mungkin aku sebagai pacarnya hanya diam saja. Wajah itu, cara bicara itu, dan sosoknya yang sangat menyedihkan itu. Jelas-jelas dia bersalah. Wanita jahat yang menyesatkan Satoshi-kun akan kuhukum di sini.


Tepat saat aku melangkah maju.


"Ngomong-ngomong, apakah ada (──) di tempat seperti ini?"


Aku tidak bisa mendengar kata-kata Satoshi-kun dengan jelas. Kakiku langsung terhenti seketika.


"Entahlah? Bukankah kita kencan untuk mencari hal itu?"


"Benar juga ya... Dan lagi, ini bukan kencan."


"Cih."


"Barusan kau berdecak lidah?"


"Duh, ada-ada saja! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu~"


Hibise memukul-mukul bahu Satoshi-kun dengan gemas.


"Sedang mencari sesuatu...?"


Tenggorokanku terasa kering, detak jantungku makin cepat. Aku harus mengumpulkan lebih banyak informasi.


Hibise berhenti di depan jembatan. Sambil menatap layar ponselnya, ia mengangkat perangkat itu perlahan. Cahaya dari permukaan sungai terpantul, membuat layar LCD-nya berkilau putih sesaat.


"Anu, sedikit lagi──"


"Oalah! Ternyata Satoshi~!"


"Eh?"


Eh?


Suaraku dan suara Hibise kembali tumpang tindih. Waktu yang sama, cara terkejut yang sama.


Di seberang jembatan, berdiri seorang wanita yang tampak anggun. Ia menenteng kantong belanja di satu tangan, sementara tangan lainnya memegang rokok elektrik yang mengeluarkan asap tipis. Rambut abu-abunya diikat longgar bergaya side-tail, dan dari blusnya yang agak terbuka, tulang selangka yang ramping terlihat sekilas. Ia memancarkan aura ketenangan sekaligus daya tarik dewasa yang kuat.


......Firasat burukku makin menjadi.


"Ada apa~? Apa kau jauh-jauh datang ke sini sengaja untuk menemuiku~?"


Wanita itu menyapa Satoshi-kun sambil mengabaikan keberadaan Hibise seolah-olah dia itu tembus pandang. Jaraknya... bukankah itu terlalu dekat!?


"Anu, hari ini aku datang benar-benar cuma kebetulan saja..."


Satoshi-kun buru-buru membela diri, tapi suaranya terdengar lemah.


Tidak, tunggu sebentar. Kenapa orang itu tahu nama Satoshi-kun? Lagipula, kenapa Satoshi-kun meresponsnya seolah-olah mereka sudah sangat akrab begitu!?


"......Satoshi-senpai. Si-siapa wanita itu?"


Dengan senyum yang dipaksakan, Hibise melotot ke arah Satoshi-kun dengan tatapan mata seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya. Lalu, tepat saat Satoshi-kun hendak membuka mulut──.


"Aku adalah selingkuhannya Satoshi~"


Hee~, jadi dia selingkuhannya ya~... Hmm, selingkuhan... selingkuhan ya, selingkuhan— SELINGKUHAN!?


Aku berusaha sekuat tenaga menutup mulutku sendiri dengan tangan agar tidak berteriak. Suara jantungku berdegup kencang tak keruan.


"Jangan katakan hal yang mengundang kesalahpahaman, Hisui-san!"


Eh!? Panggil nama depan!?


"Bukan begitu, Hibise. Orang ini adalah──!"


Satoshi-kun panik. Suaranya sampai melengking.


"Apanya yang bukan begitu~"


Dengan suara yang menggoda, Hisui memotong kalimatnya dan langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Satoshi-kun. Rambutnya yang tampak lembut jatuh di bahu Satoshi, jarak mereka benar-benar nol.


"Bulan lalu kan kau menginap di rumahku~"


Hah?


"Itu karena Hisui-san membuatku mabuk! Lagipula, di sana kan ada──!"


Satoshi-kun mati-matian membela diri.


Kalau diingat-ingat, memang ada satu hari di bulan lalu di mana dia tidak pulang.


"Jahatnya~. Kata-kata yang kau ucapkan kalau aku adalah orang yang berharga bagimu. Apa kau sudah melupakannya~?"


"Tidak, anu, itu memang benar, tapi..."


"Jadi itu fakta!?"


Teriakan Hibise menggema di udara.


E-eh, mari kita susun dulu informasinya.


Pertama, bertemu dengan Hibise yang merupakan kandidat selingkuhan Satoshi-kun. Kemudian Satoshi-kun melakukan aksi cool yang membuat Hibise jatuh cinta.


Setelah itu, saat kukira dia sedang menghindari godaan Hibise dengan lihai, tiba-tiba muncul seorang wanita dewasa.


Aku benar-benar tidak paham...


"Ngomong-ngomong, Satoshi~. Perempuan itu siapa ya~?"


Hisui menatap Hibise perlahan dengan tatapan tajam. Meskipun suaranya manis, sorot matanya sama sekali tidak tersenyum.


Setelah seolah selesai menilai kepribadian Hibise, Hisui menghela napas seakan menyadari sesuatu.


"Satoshi tidak cocok untukmu~. Aku tidak bermaksud buruk, tapi lebih baik cari pria lain saja~"


"Apa!? Apa maksud Anda!?"


Suara Hibise meninggi. Dia benar-benar terguncang.


"Untuk bisa berdiri di samping Satoshi, kau kekurangan kecerdasan, sifat keibuan, dan segalanya~"


Nada bicara Hisui terdengar lembut. Namun, senyumannya itu benar-benar sebuah vonis mati. Dan dengan sangat alami, ia menarik lengan Satoshi-kun.


"Ayo, kita pergi~"


"Eh, tunggu sebentar, Hisui-san!?"


Satoshi-kun terseret pergi.


Ini selingkuh, kan!? Apalagi dengan wanita dewasa!?


"Tunggu sebentar dong!"


Hibise tidak mau kalah dan berteriak. Wajahnya merah padam karena marah, lalu ia melangkah maju.


"Hm~? Masih di sini~?"


Hisui berbalik perlahan. Ekspresinya menunjukkan senyum yang sayu dan manis. Tapi, hanya matanya saja yang sedingin es.


"Lagipula, aku dan Satoshi-senp, bukan..."


Lalu, dengan pipi yang merah padam.


"Aku sedang kencan dengan Satoshi! Jangan bawa dia pergi sembarangan!"


“"Hah?"”


Suaraku dan suara Satoshi-kun terdengar serempak.


Hibise mengatakannya dengan tegas, lalu ia menarik kembali lengan Satoshi-kun dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Anu Hibise. Orang ini adalah──"


"Tenang saja! Serahkan sisanya padaku!"


Hibise memasang senyum ceria dan mengedipkan sebelah mata ke arah Satoshi-kun.


"Jadi begitu...!"


Aku menggigit bibir setelah memahami maksud Hibise.


Menurut hasil penyelidikan Shuna, untuk menolong Hibise, Satoshi-kun sempat berpura-pura menjadi pacarnya secara mendadak. Ternyata Hibise mencoba membalas budi dengan melakukan hal yang sama sekarang.


Kali ini sebaliknya, sepertinya Hibise sedang mencoba melindungi Satoshi-kun. Namun, gara-gara interaksi itu, sekarang pemandangan yang luar biasa kacau tersaji tepat di depan mataku.


Selingkuhan ①: Hisui si wanita bersuami ── pendosa besar yang sedang gencar menggoda Satoshi-kun.

Selingkuhan ②: Hibise si "pacar" gadungan ── heroine tipe junior menyedihkan yang telanjur jatuh cinta pada Satoshi-kun.

Dan, aku yang mengintip dari balik bayangan ── Pacar asli (serius).


Bagaimana ceritanya bisa jadi begini!?


"Tidak boleh lho~, Satoshi."


Hisui tersenyum lembut sambil menyapukan jarinya di pipi Satoshi-kun.


"Meski ada pepatah 'pahlawan suka wanita cantik', tapi jangan merayu sembarang orang dong~."


"Makanya, ini salah paham!?"


"Kembalikan pacarku!"


"Hibise, kau juga jangan bicara yang aneh-aneh!?"


Satoshi-kun ditarik dari kiri dan kanan, kedua lengannya mengarah ke sisi yang berbeda.


"Aduh, tidak bisa dibiarkan! Aku harus pergi ke sana!"


Dada bagian dalamku mendidih. Aku tidak bisa hanya diam menonton lagi. Tepat saat aku hendak melangkah masuk ke antara mereka bertiga──.


"Lagipula, aku tidak paham apa maksud Anda menyentuhnya padahal sudah tahu Satoshi punya pacar!"


Teriakan Hibise membelah udara. Kata-kata yang meluncur dari lubuk jiwanya itu tanpa sadar membuat langkahku terhenti.


Suasana pun menegang, seolah waktu berhenti berputar.


"Fuu~"


Di tengah keheningan yang mencekam, Hisui perlahan menghisap rokok elektriknya, dan asapnya bergoyang tipis.


"Selama wanita masih mengejar pria, selamanya dia tidak akan bisa menjadi pihak yang dikejar~."


Suaranya rendah dan merdu. Seolah sedang membisikkan sebuah kebenaran.


"Wanita yang benar-benar hebat hanya perlu menunggu. Pada akhirnya, pria itulah yang akan kembali meski harus merangkak sekalipun~."


Aroma asap itu melebur dalam angin. Aku terpaku melihat ketenangannya.


"Paham~? Inilah yang disebut ketenangan orang dewasa yang sebenarnya~, Nona Kecil."


Senyuman penuh kemenangan. Di balik senyum itu tidak ada kebencian, melainkan hanya kepercayaan diri yang mutlak.


Saat Hibise menggigit bibir karena kesal, hanya Satoshi-kun yang menatapnya dengan tatapan datar.


"......Anda sendiri yang bicara begitu?"


"......Kalau kau bicara macam-macam lagi, tidak akan kubiarkan kau pulang lho~?"


"Maaf, saya tidak akan bicara apa-apa lagi!"


Satoshi-kun langsung minta maaf saat itu juga.


Secara posisi, Hisui lebih tinggi. Ini bukan lagi sekadar lokasi perselingkuhan, melainkan lokasi hubungan dominasi antara suami dan istri.


"Ta-tapi, Satoshi akan tetap kupinta kembali!"


Hibise terengah-engah, berusaha keras mengeraskan suaranya.


"Padahal kami baru saja bersatu, aku tidak mau dicampakkan di sini!"


"Dengar Hibise. Dari tadi apa yang kau..."


"......Fu-un, kau lumayan juga ya~. Kalau begitu, mari kita bertanding secara adil dan jujur untuk menentukan Satoshi milik siapa~."


"Aku terima tantangannya!"


"Bukan, sungguh, apa yang kalian katakan..."


Perlawanan Satoshi-kun sia-sia; lengannya ditarik, dan ia dibawa pergi dengan wajah yang meringis pasrah.


Biasanya aku akan langsung menolongnya. Namun, kata-kata Hisui anehnya terus terngiang di kepalaku.


"Apa aku terlalu mengekangnya ya......?"


Tanpa sadar, gumaman itu keluar dari bibirku. Tidak peduli bagaimana pun cara berpikirnya, fakta bahwa Satoshi-kun tidak punya teman adalah kesalahan kami.


Hasil dari keinginan kami agar dia tidak mencari teman lawan jenis malah berakhir dengan dia tidak bisa mencari teman sesama jenis sekalipun. Apakah itu bisa disebut sebagai bentuk kepercayaan pada Satoshi-kun? Rasanya itu lebih condong ke arah ketergantungan──


"Eh?"


Sebelum pikiranku sempat menyatu, kusadari mereka bertiga sudah menghilang.


Begitu sadar aku telah melakukan kesalahan fatal, keringat dingin mengucur di punggungku.


"Aku mengacaukannya......?"


Setelah itu, aku tidak bisa menemukan Satoshi-kun lagi. Meskipun begitu──.


“Hm? Ada apa ya~?”


“Tidak, bukan apa-apa.”


Dia benar-benar sudah menjadi ibu rumah tangga biasa ya, sampai tidak terlihat kalau dia adalah wanita yang dulu melakukan kekerasan sepanjang tahun.



"Aku pulang~......"


Begitu membuka pintu, rasa lelah yang luar biasa menyelimuti tubuhku. Aku tidak pergi ke kamar Satoshi-kun.


Sekarang adalah waktunya laporan── 【Rapat Empat Penjuru】.


"Selamat datang kembali."


Suara lembut menggema di pintu masuk. Shino tersenyum sambil menatap wajahku.


Saat melangkah ke ruang tamu, pemandangan yang biasa terlihat tersaji di sana. 


Reine berbaring di sofa, menyumbat kedua telinganya dengan earphone sambil asyik mengikuti irama. Begitu melihatku, ia menyapa dengan cara menggerak-gerakkan punggung kakinya.


"Tidak sopan, tahu?"


Sebagai gantinya, ia mengubah sudut kakinya dan menggerakkannya dua kali, seolah menjawab "iya, iya".


Aku benar-benar diremehkan. Di sisi lain, Shuna sedang duduk di meja, membuka buku referensi yang tebal. Begitu melihatku, ekspresinya langsung melunak dan ia melambaikan tangan kecil.


"Selamat datang kembali~, Satsuki-chan."


"Aku pulang, Shuna."


Pokoknya, aku melempar barang bawaanku dan duduk di lantai. Seluruh tubuhku terasa berat.


"Bagaimana hasilnya?"


Shino duduk tepat di sampingku dan menyodorkan gelas berisi minuman yang masih mengepul.


"Sepertinya Hibise dan Satoshi-kun sedang mencari sesuatu."


"......Barang yang hilang kah?"


"Iya. Tapi aku tidak tahu apa yang mereka cari. Maaf ya......"


"Tidak apa-apa... Seperti yang diharapkan dari Satsuki-san," ujar Shino sambil tersenyum lembut.


Namun──.


"Tapi, hal itu tidak penting sekarang. Ada informasi yang jauh lebih berbahaya."


"──Silakan sampaikan."


Aku bisa mendengar Shino menelan ludah. Lalu, aku pun memberitahu mereka.


"Satoshi-kun itu... sepertinya dia punya selingkuhan wanita bersuami."


"Begitu ya... eh?"


Mereka bertiga langsung mematung.


"......Kita ini sudah terlalu mengekang Satoshi-kun, ya?"


"......Benar juga. Tapi daripada itu, tolong ceritakan soal selingkuhan wanita bersuami tadi."


Suara tenang Shino bergema.


"Aku baru terpikir," kataku sambil meletakkan tangan di dada dan menatap lurus wajah mereka bertiga.


"Mengekang itu sebenarnya lahir dari kelemahan hati kita, kan?"


"Ada benarnya juga. Sekarang, lanjut ke cerita selingkuhannya."


"Makanya, aku──akan menjadi wanita bersuami!"


Seketika ruangan menjadi sunyi senyap, hanya suara detak jarum jam yang terdengar di telinga. Shino memegang dahinya, Reine mematung dengan keripik kentang masih di mulutnya, sementara Shuna memiringkan kepala dengan senyum tetap di wajahnya.


"Aku ingin lebih mempercayai Satoshi-kun!"


Ucapanku penuh dengan penekanan.


"Kita ini selama ini selalu mengekang segala hal karena takut Satoshi-kun akan direbut orang lain, kan?"


"Iya, anu, jadi detail soal wanita bersuaminya bagaimana?"


"Tapi, kalau kita benar-benar mencintainya, kita harus memberinya kebebasan!"


Aku terus melanjutkan, seolah sedang meyakinkan diriku sendiri dengan tangan di dada.


"Meskipun tidak bisa bertemu saat ingin bertemu, meskipun dia bicara akrab dengan wanita lain, kita harus tetap percaya. Aku rasa 'ketenangan orang dewasa' seperti itulah yang merupakan cinta sejati!"


Lalu, aku pun mendeklarasikannya dengan penuh semangat.


"Oleh karena itu──aku akan menjadi wanita bersuami!"


Hening. Benar-benar hening. Mereka bertiga saling berpandangan dan mulai berbisik-bisik dengan suara pelan.


"Satsuki ini, kenapa tiba-tiba bicara hal bodoh seperti itu, ya?"


"Iya ya~. Biasanya dia memang agak ceroboh, tapi kali ini sudah keterlaluan~."


"......Kalian berdua sadar tidak siapa yang kalian bicarakan?"


"Kalian sedang membicarakan apa?"


"Tidak, bukan apa-apa."


Shino menatapku dengan senyuman yang sempurna.


"Terima kasih atas kerja kerasmu. Hari ini beristirahatlah dengan tenang."


"Hm, terima kasih! Aku siapkan air mandinya dulu, ya!"


"Silakan."


──Lalu, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu.


"Niat Reine-san menjadi idola, perubahan Shuna-san menjadi orang lurus, dan keinginan Satsuki-san menjadi wanita bersuami."


Semua perubahan yang memusingkan kepala ini terjadi karena pengaruh Hibise yang begitu besar.


Shino berdiri, membiarkan rambut hitamnya tergerai indah. Tatapan matanya yang tenang seketika membuat suasana menjadi tegang.


"──Biar aku yang mengakhiri semua ini."




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close