NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Shibou End wo Kaihi shita Galge no Heroine-tachi ga Ore no [Nikki-chou] o Yonde Himitsu o Shitta Rashii Volume 2 Chapter 4

 Penerjemah: Amir

Proffreader: Amir


Chapter 4 

Harusora Hibise

"......Aku ini sedang apa, ya......"


Suara kereta api bergema secara teratur. Aku terbenam di kursi panjang, melipat tangan sambil mengangkat dagu, dan menyandarkan kepala pada jendela kereta yang dingin. Pemandangan yang mengalir di balik kaca tampak begitu monoton dan membosankan.


Demi menjaga ketenangan pikiran, aku menatap ruang kosong di atas dan mengembuskan napas. Di papan iklan langit-langit kereta, tertulis kata-kata: 'Pendaftaran Taklimat Sekolah Sedang Dibuka!' Padahal aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan ujian masuk universitas, namun aku merasa payah karena secara tidak sadar bergumam dalam hati, "Berjuanglah, ya."


──Pelarian dari kenyataan ini sudah keterlaluan.


"Ugh...... bukan begitu. Aku tidak sedang berselingkuh......!"


Tanpa sadar suara itu keluar dari mulutku.


Akhir-akhir ini, tatapan Satsuki dan yang lainnya terasa sangat tajam. Tidak, lebih tepatnya, aku sepenuhnya dicurigai. ──Telah berselingkuh.


Kecurigaan semacam itu telah merajalela di seluruh rumah kami. Yang terpenting, perilaku mereka berempat menjadi semakin aneh.


Reine, yang tiba-tiba mengaku ingin menjadi idol, terus berlatih tersenyum di depan cermin kamarnya. Ia mencari kostum rumbai-rumbai di Amazon lalu menunjukkannya padaku sembari bertanya, "Apa ini cocok untukku?" Kamar Reine kini sudah seperti ruang tunggu panggung.


Satsuki mulai memilih pakaian yang anehnya terlihat seksi; memamerkan bahu, memperlihatkan punggung dengan berani, serta memakai riasan tebal—ia sedang memerankan sosok wanita dewasa. Gestur dan senyumannya entah mengapa mengingatkanku pada sikap Hisui-san, yang sejujurnya, buruk bagi kesehatan jantungku.


Shino menyatakan pengunduran diri dari keduniawian.......Aku benar-benar tidak paham maksudnya. Namun, sembari berkata hal-hal seperti "Akan memutus hawa nafsu," ia justru menyadari bahwa "'Kebahagiaan mutlak' adalah ajaran tertinggi Buddha," lalu menguras habis energiku. Sejujurnya, aku tidak tahu itu latihan spiritual macam apa.


Dan yang paling menakutkan adalah Shuna. Tak disangka, Shuna yang itu, berhenti melakukan top-up gim dan berjudi, lalu mulai belajar untuk ujian pegawai negeri. Saat ditanya alasannya, ia hanya menjawab, "Rendah hati dan tekun adalah tren zaman sekarang, lho~," tanpa memberi tahu alasan yang sebenarnya.......Aku akan merasa lebih tenang jika dikabarkan bahwa meteor akan jatuh ke bumi.


"Aku tahu kok......"


Penyebab dari perilaku abnormal ini adalah diriku sendiri. Lebih spesifiknya, fakta bahwa aku menghabiskan waktu bersama Hibise mungkin telah terbongkar. Jadi, wajar saja jika aku dicurigai berselingkuh.


Namun, kali ini ada alasan yang benar-benar tidak bisa kujadikan pembelaan. Tak peduli seberapa besar aku dicurigai atau seberapa jauh aku disalahpahami── aku tidak boleh melibatkan Satsuki dan yang lainnya.


Karena, ini adalah masalah tentang 【LoD】.


"Ada apa, Satoshi-senpai? Mau makan Pocky?"


Tiba-tiba aku ditarik kembali ke kenyataan. Di sampingku, ada Hibise yang menatapku dengan mata berbinar-binar sambil menggigit batang Pocky.......Tidak, wajahmu terlalu dekat.


Tanpa sadar aku menghela napas. 


"......Ini di dalam kereta, lho."


"Aku juga tidak akan melakukan hal seperti ini kalau ada banyak orang. Sekarang kan tidak ada penumpang lain."


Memang benar, gerbong ini sedang kosong. Di luar jendela, hanya pemandangan yang terus berlalu.......Tapi, itu bukan alasan baginya untuk mendekat sambil menggigit Pocky.


"Nn......"


Hibise menyodorkan ujung Pocky yang tidak berbalut cokelat ke arahku.


"Nn~!"


Ia menggoyang-goyangkannya dengan penuh penekanan. Matanya berbinar, tampak mengharapkan sesuatu. Pipinya juga sedikit merona. Mata birunya yang indah menatap lurus ke dalam mataku.


──Ah, begitu rupanya.


Aku memegang ujung Pocky tersebut, lalu dengan tenang mematahkannya di tengah.


"Terima kasih atas makanannya."


Aku langsung memasukkannya ke mulut. Rasa manis cokelat menyebar, mengalirkan glukosa ke otakku. Perasaan melankolis tadi sirna dalam sekejap. Gula memang luar biasa.


"He-hei, hei, hei, apa-apaan yang Senpai lakukan!?"


Di sampingku, Hibise terpaku dengan wajah merah padam. Matanya berkedip-kedip, mulutnya menganga tanpa suara. Apa dia ikan koki?


"Memangnya tidak boleh kumakan?"


"Bukan, maksudku itu memang boleh dimakan. Tapi soal tata krama, atau ritual, atau templatnya......"


Suara Hibise semakin mengecil. Sambil memainkan poni rambutnya, wajahnya menjadi semerah apel. Mengapa dia jadi semalu itu......


"Sudah pernah kukatakan sebelumnya, jangan melakukan hal seperti itu sembarangan. Nanti bisa disalahpahami sebagai Pocky Game."


"......Aku akan berhati-hati~."


Aku memperingatkannya sambil mengangkat bahu, namun ia tampaknya tidak terlihat menyesal. Hibise benar-benar memiliki masalah dalam menjaga jarak.


Ia terbiasa memegang bahu atau mendekat sampai seolah-olah akan menggesekkan pipinya. Jika laki-lakinya bukan aku, sembilan dari sepuluh orang pasti akan salah paham.


Wajahnya menawan (sayangnya begitu), dan saat tersenyum ia terlihat sangat manis tanpa pertahanan (sayangnya begitu). Jika ia melakukan kontak fisik sedekat itu, ia akan menciptakan barisan laki-laki yang terpesona secara massal (sayangnya begitu). Namun, orangnya sendiri sama sekali tidak sadar. Benar-benar disayangkan.....


"Entah kenapa, aku merasa baru saja dihina, ya?"


"Mungkin perasaanmu saja."


Karena isi hatiku hampir terbaca, aku berdehem untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lagipula karena ada Satsuki dan yang lainnya, aku tidak akan salah paham dengan keusilanmu. Sayang sekali, ya."


Mungkin karena sudah lama bersama, aku jadi memiliki antibodi.


"......Tiba-tiba aku jadi kesal. Boleh aku melakukannya dengan serius?"


Hibise menatapku dengan urat saraf yang menonjol di dahi karena kesal.


"──Aku ingin Hibise tahu satu fakta ini saja."


"Ya?"


Sambil tersenyum kecut, aku merangkai kata-kata.


"Kalau aku sampai kalah oleh godaan Hibise── aku akan dipasok kasih sayang yang berlebihan oleh Satsuki dan yang lainnya selama satu minggu penuh, lho."


"Benar juga ya, maafkan aku...... hiks."


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Bukan apa-apa kok!"


Sambil menggembungkan pipi seolah berpura-pura tegar, ia mengenakan headphone. Rambut pirangnya bergoyang kecil mengikuti guncangan kereta.


Hibise itu baik. Karena kami telah menghabiskan waktu yang cukup lama bersama, aku menyadari hal itu sampai taraf yang menyebalkan. Keluh kesahku tentang kehidupan harem bersama empat gadis itu pastinya merepotkan hanya dengan mendengarnya saja, namun ia selalu mendengarkan dengan serius. Ia tidak mengejek, tidak menertawakannya, melainkan hanya menerimanya di sisiku. Entah ia merasa kasihan padaku atau tidak, ia mendengarkannya dengan ekspresi wajah yang tampak sangat prihatin.


"Hm?"


Getaran merambat ke dalam gerbong. Suara rem memekik nyaring, dan badan kereta bergoyang hebat. Ada sensasi jantung yang seolah sedikit melayang. Begitu suara derit logam mereda, hawa panas yang pengap langsung menyeruak masuk.


"Sudah sampai, ya."


"Sepertinya begitu~."


Stasiun tujuan. Begitu turun ke peron, keramaian di pintu keluar timur dan barat terasa sangat berbeda. Berdasarkan kabar yang kudengar, selisih harga sewanya bahkan mencapai hampir tiga kali lipat. Katanya stasiun ini dibangun meniru Stasiun Tokyo, namun entah mengapa terasa agak mengecewakan. Dinding bata mengeluarkan hawa panas perlahan saat terpapar sinar matahari yang terik.


"Nn~, sudah lama sekali ya~."


Hibise menautkan kedua tangan di belakang kepala sambil menatap langit. Karena keringat, rambut pirangnya menempel di tengkuk dan memantulkan cahaya.


Begitu melewati jalan di depan stasiun, pantulan panas dari aspal terasa semakin kuat. Lonceng angin yang tergantung di pintu masuk pusat perbelanjaan bergoyang lemah, seolah kalah oleh hawa panas.


"Banyak yang sudah berubah, ya."


"Benarkah? Padahal aku tidak ke sini selama dua tahun lebih, tapi rasanya tidak banyak berubah."


"Eh~, benarkah begitu~?"


Hibise berjalan sambil memandangi sekeliling. Aku pun refleks menimpali.


"Yah, mungkin saja ingatanku yang salah."


"Sebenarnya, aku baru saja ke sini bulan lalu, sih."


Aku menjewer pita Hibise.


"Kembalikan rasa kepedulianku tadi."


"Sakit, sakit, sakit! Jangan tarik pitanya! Itu cuma candaan Hibise! Aku melakukannya karena Senpai terlihat tegang, jadi aku mencoba mencairkan suasana!"


Sambil mengeluh di dalam hati, aku menghela napas. Tak lama kemudian, setelah melewati pusat perbelanjaan, persimpangan yang familier pun muncul. Aspal terasa membara, dan fatamorgana yang naik dari permukaan tanah mendistorsi pemandangan.


"──Kita sudah sampai, ya."


"......Iya."


Saat menatap lurus ke jalan di depan, di sana sekolah berdiri dengan megahnya.


"Tak disangka, aku akan kembali ke sini lagi......"


Jalanan sudah sepenuhnya diaspal ulang; tidak ada bekas darah maupun bekas ban yang terbakar. Tempat aku dan Hibise berdiri sekarang adalah titik akhir dari 【LoD】, tempat di mana aku── Iriya Satoshi──dan Satsuki beserta yang lainnya dalam 【Empat Gadis Cantik】, seharusnya binasa.


"Apa kau merasa rindu?"


Hibise mengintip wajahku. Rambut pirangnya yang basah oleh keringat bergoyang berkilauan memantulkan cahaya matahari.


"Yah, sedikit......"


Sebagian besar adalah kenangan yang bahkan tidak ingin kuingat kembali. Ketakutan yang kutulis dalam 【Buku Harian】 seolah sedang menghitung hari kematianku sendiri. Perasaan hampa saat tahu bahwa apa pun yang kulakukan akan sia-sia, namun tetap mencoba melawan. Keheningan yang terasa seperti tenggelam ke permukaan air setelah rasa sakit yang membakar.


Meski begitu, fakta bahwa aku bisa membuat celah di dunia ini── bahwa aku bisa menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya──adalah pelipur lara yang paling utama. Meskipun sebagai bonusnya, aku juga ikut bertahan hidup.


"......Skenario akhir kehancuran total 【LoD】 berakhir di sini, ya."


Hibise mengeluarkan ponselnya, memeriksa layar, lalu menutupnya dengan tenang. Kemudian, ia tersenyum seolah sedang mengatur napas.


"Sekali lagi, terima kasih sudah mau menemaniku."


Hibise membungkukkan badan.


"Jangan dipikirkan. Ini sudah bagian dari kontrak."


Saat aku menjawab singkat, Hibise tersenyum lembut. Tidak perlu ada kata-kata lagi setelah itu.


"Kalau begitu, mari kita pergi!"


"Ya......"


Setiap kali sol sepatu menginjak aspal, hawa panas merambat ke telapak kaki. Suara denting lonceng angin kembali terdengar dari kejauhan.



Suara tetesan hujan yang mengetuk jendela perlahan semakin kuat. Pemandangan di luar tampak memudar menjadi abu-abu, dan seluruh dunia seolah tenggelam perlahan di dalam lapisan air yang samar.


Melalui kaca, terlihat anak-anak sekolah dasar bertopi sekolah sedang bermain anggar menggunakan payung. Suara kering dari kerangka payung yang berbenturan seolah-olah terdengar sampai ke sini. Bisa tertawa meskipun basah kuyup seperti itu adalah hak istimewa anak-anak.


Sebaliknya, suasana di dalam toko terasa tenang dan hangat. Terdengar suara biji kopi yang digiling dan aroma pahit kopi yang menyerbak. Permukaan cairan hitam yang bergoyang di dalam gelasku memantulkan cahaya lampu dan berkilauan.


"──"


"Hun, huhu~n♪"


Harusora Hibise bersenandung riang sambil memasukkan sirup gula berkali-kali tanpa ampun. Setiap kali ia mengaduk dengan sedotan, es di dalam gelas berdenting pelan.


Ia meminumnya sedikit dengan perlahan. Pada saat itu, ia melemaskan bahunya dan mengembuskan napas lega.


"Sepertinya wajahmu sedang menyuruhku untuk cepat-cepat melanjutkan cerita, ya~."


"Yah...... aku tidak menampiknya."


Jika ia hanya menyebut nama Sano Yuuto, aku tidak akan terlalu terkejut. Namun, kalimat berikutnya jelas-jelas tidak bisa kuterima.


"......Apa maksudmu dengan heroine kelima di 【LoD】?"


Hibise seolah mengabaikan pertanyaanku dan memasukkan sendok ke piring jeli kopi edisi terbatas yang ada di sampingnya.


"Umm, enak!"


Ia bergumam dengan suara yang terdengar sangat menikmati. Ia menyuapkan sendok ke mulutnya sambil sedikit menyipitkan mata. Gestur itu menunjukkan kepolosan yang seolah tidak ada hubungannya dengan percakapan kami saat ini. Tak lama kemudian, ia menyeka bibirnya pelan dengan serbet lalu tersenyum.


"Arti kalimatku ya sesuai dengan maknanya~. Aku adalah heroine kelima di 【LoD】──Harusora Hibise."


Saat kata-kata itu jatuh di tengah suara rintik hujan, aku merasa udara di dalam kafe menjadi setingkat lebih berat.


"......Mana mungkin ada karakter seperti itu."


Kata-kata yang keluar secara refleks itu mengandung kekasaran yang lebih dari dugaanku. Dadaku terasa panas, dan kata-kataku tidak bisa berhenti.


"【LoD】 hanyalah gim simulasi kencan di mana Sano Yuuto menaklukkan 【Empat Gadis Cantik】. Tidak lebih dan tidak kurang. Orang kelima itu tidak pernah ada."


Tanpa sadar aku menekan tanganku di atas meja. Es di dalam gelas berdenting pelan. Tidak ada orang yang memainkan 【LoD】 sedalam diriku. Semua variasi CG telah kukumpulkan. Cuplikan gambar, musik, hingga dialog pun sudah terekam di setiap sudut kepalaku. Apakah mungkin aku, yang telah menghabiskan ratusan jam di dunia itu, melewatkan heroine kelima? Itu mustahil.


Saat aku memelototi Hibise, ia mengerutkan dahi seolah sedang menerima tatapanku secara langsung.


"Mau bagaimana lagi. Aku sendiri pun hanya bisa mengatakannya seperti itu~."


Nada bicaranya tenang. Tidak ada gertakan maupun kecemasan dalam nada tersebut. Hanya terdengar datar, seolah ia sedang menyatakan sebuah fakta. Hibise mengangkat sendoknya pelan, lalu mengarahkannya padaku layaknya seorang guru yang sedang memegang tongkat penunjuk.


"Lagipula, aku tahu kalau Senpai dan yang lainnya adalah karakter di dalam 【LoD】──sebuah gim. Bukankah itu bisa menjadi buktinya?"


"Itu......"


Napas tertahan. Guntur di luar menggetarkan kaca, dan tetesan air di atas meja bergoyang kecil. Hanya aku, Satsuki, Reine, Shuna, dan Shino yang tahu bahwa dunia ini adalah dunia gim. Namun sekarang, ada pihak ketiga yang mengucapkannya secara wajar tanpa peringatan apa pun.


Hawa dingin mengalir di punggungku. Sudut penglihatanku terasa kabur.


"Meskipun, aku ini heroine yang kalah, sih~," gumam Hibise datar seolah hal itu bukan masalah besar. 


"Saat itu, aku tidak memiliki perasaan cinta terhadap Sano Yuuto."


Suaranya terdengar sangat lembut dan membekas di telinga. Senyum tipis merambat di permukaan kopi. Hibise menyendok jeli, memakannya, lalu kembali menyentuhkan bibirnya ke cangkir kopi sambil tersenyum tipis.


"──【Empat Gadis Cantik】. Saionji Satsuki, Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, dan Shinonome Shino──keempat orang ini selalu menjadi pusat pembicaraan, bukan? Mereka adalah sosok dambaan kami."


Ia tersenyum penuh kerinduan.


"Dan Sano Yuuto yang mendapatkan semuanya. Hebat sekali ya, dia."


"Yah......"


Aku kehilangan kata-kata. Seolah-olah rekaman masa lalu diputar secara paksa, kenangan pahit masa itu bangkit kembali. Masa di mana segalanya direnggut oleh makhluk bodoh bernama Sano Yuuto itu.


"Tapi, hal yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa Senpai telah merebut posisi Sano Yuuto. Sebenarnya, apa yang terjadi?"


"Ah, itu, ada banyak hal yang terjadi......"


"Hmm~."


Ia menatapku dengan pandangan seolah sedang menyelidiki sesuatu.


"──Aku ikut senang karena usaha Senpai membuahkan hasil."


"...? Terima kasih."


"Sama-sama~."


Cara bicaranya terasa sedikit ganjil, namun hal itu tersembunyi di balik senyum Hibise. Aku meminum es kopi. Rasanya sangat pahit karena aku tidak memasukkan gula maupun sirup, namun itu pas untuk mendinginkan otakku yang mulai panas.


"Fuu......"


Sambil menatap gelas, aku berusaha keras mengingat tujuan dari percakapan ini──alasan mengapa aku berada di sini bersama Hibise.


"......Jadi, apa maksudmu ingin tahu tentang Sano?" 


Aku meletakkan kopi dan langsung bertanya tanpa jeda. 


"Kalau kau bilang kau adalah heroine kelima, aku bisa paham jika kau menyukai Sano, tapi......"


"Tidak, tidak, tidak mungkin aku bisa menyukai laki-laki seperti itu! Mustahil! Aku benar-benar tidak paham kenapa Satsuki-senpai dan yang lainnya bisa menyukai orang itu!"


"Sebagai heroine 【LoD】, bukankah itu agak aneh......"


Hibise merengut dengan wajah yang tampak benar-benar jijik sambil melambaikan kedua tangannya dengan kuat. Akibat gerakannya, permukaan kopi sedikit beriak.


"Saat masa SMA, aku dan Sano Yuuto hanyalah sekadar kenalan yang kadang mengobrol sedikit," ucapnya santai sambil mengangkat bahu. 


"Saat aku pergi ke acara open campus, kami bertemu kembali, lalu mengobrol banyak hal, dan setelah itu──"


Ia menjeda kalimatnya sejenak.


"......Aku dikuntit olehnya."


"Apa-apaan itu?"


Mendengar suaraku yang keluar secara spontan, Hibise menggembungkan pipinya dengan kesal.


"Akupun ingin tahu kenapa begitu! Mentalku benar-benar terkuras lebih parah daripada saat menghadapi ujian masuk, tahu!?"


Suara gebrakan meja yang kering bergema di dalam toko.


"Setiap hari, setiap hari, dia mengirimkan puisi menjijikkan dan cerita tentang dirinya sendiri! Padahal aku sama sekali tidak tertarik padanya! Karena saking menjijikkannya, aku bahkan takut untuk memblokirnya! Bagaimana kalau dia mengamuk dan melakukan hal yang tidak-tidak!?"


"Te-tenangkan dirimu."


"Ah, maaf."


Seolah kembali tersadar, Hibise langsung melemaskan tubuhnya dan duduk kembali di kursi.


Terserah apa pun alasannya, apa yang sebenarnya dilakukan Sano.......


"Yah, berkat itu ada banyak hal...... ah, lupakan saja."


Sikap Hibise berubah tegak. Nada bicaranya yang santai tadi menghilang, dan suasana pun berubah. Aku pun ikut terpengaruh dan menegakkan punggung.


"Sekarang kita masuk ke pembahasan utama."


Tatapannya menghunjam lurus ke arahku.


"Sano Yuuto sudah keluar dari universitas, kan?"


"Eh? Benarkah?"


Aku bertanya balik dengan nada spontan.


"Kalian kan berada di fakultas yang sama, setidaknya tunjukkanlah sedikit rasa tertarik......."


"Aku tidak bisa membantah itu......."


Memang benar, aku tidak pernah melihat Sano lagi sejak menjadi mahasiswa tahun kedua. Waktu yang kuhabiskan bersama Satsuki dan yang lainnya begitu menyenangkan sehingga, sejujurnya, keberadaannya benar-benar hilang dari kepalaku.


Terakhir kali kami bicara adalah saat ia memicu perselisihan di tahun pertama. Meskipun terkadang aku melihatnya di kelas, Sano selalu sendirian. Seingatku, ia sering duduk tenang di kursi dekat jendela saat kuliah berlangsung.


"──Yah, itu hanya yang tampak di permukaan saja."


"Di permukaan?"


"Iya."


Sesaat, lampu di dalam kafe berkedip sedikit. Cahaya yang terpantul pada pinggiran gelas menyinari profil wajah Hibise dengan warna pucat.


"──Dia menghilang tanpa jejak."


Bersamaan dengan dentuman guntur, lampu padam dan sekeliling tenggelam dalam kegelapan. Sesaat kemudian, cahaya kembali pulih.


"Hah? Sano?"


"Iya."


Aku tercengang. Sejak tadi aku dibanjiri informasi yang membuatku sulit untuk memahaminya.


"Aku yakin Satsuki-senpai yang merupakan teman masa kecil Sano Yuuto mengetahuinya, tapi sepertinya dia tidak memberitahumu ya, Senpai~."


"Yah...... kalau kau tidak mengatakannya, aku bahkan tidak akan ingat tentang Sano."


"Melihat kepribadian Satsuki-senpai, aku juga tidak berpikir dia akan sengaja membahas Sano Yuuto kepada Senpai~."


"......Benar juga."


Cara bicaranya yang seolah-olah sudah mengenal Satsuki sejak lama memberikan sedikit perasaan ganjil di hatiku.


"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Sano Yuuto, tapi pesan LINE tidak dibaca, dan aku tidak tahu dia ada di mana. Sejujurnya, aku sedang kesulitan. Dasar...... saat tidak dibutuhkan dia menghubungi sampai membuatku muak, tapi di saat penting seperti ini dia malah tidak ada. Cih."


Ia bicara dengan nada bercanda. Namun, helaan napas dan decakan lidah yang menyertainya menyiratkan perasaan yang sebenarnya.


"......Aku sangat ingin membantu, tapi pengetahuan yang kupunya tentang Sano hanya sebatas isi di dalam 【LoD】. Tentang apa yang terjadi setelah dia menjadi mahasiswa, aku tidak tahu apa-apa......."


Tepat saat itu, Hibise perlahan mengeluarkan ponselnya. Ia meletakkannya di atas meja, mengubah layar menjadi posisi horizontal, lalu menggesernya ke arahku.


"Sebenarnya, ini bukan hal yang pantas untuk kuminta pada Senpai, tapi...... situasinya sudah tidak memungkinkan lagi......."


Itu adalah──sebuah video.


"Ini──apa!?"


Sosokku dan keempat gadis itu sedang saling menjalin kemesraan, dengan napas yang memburu dan tak beraturan. Dari pengeras suara ponsel, terdengar desahan manis dan suara gesekan kulit.


"Ka-kamarku......?"


Detak jantungku bertambah cepat.


Satu di loteng. Satu di kamar. Satu di kamar mandi. Tiga sudut pandang terekam di layar ponsel tersebut. Aku menelan ludah sambil dengan panik mempercepat rekaman video itu.


Setiap hari.

Setiap hari.

Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari. Setiap hari──.

Seluruh kehidupan kami ada di sana.


"Hei......! Apa-apaan ini!?"


Jariku gemetar hingga hampir menjatuhkan ponsel itu. Di sudut mataku, permukaan kopi sedikit beriak. Di dalam kepalaku, terdengar suara darah yang seolah mendidih.


"Tunggu dulu!"


Hibise bergegas condong ke depan.


"Bukan aku yang memasang kameranya! Itu Sano, Sano Yuuto!"


"Apa?"


Suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar seperti penolakan untuk memahami kenyataan, alih-alih kemarahan.


"Tadi aku sudah bilang kan kalau dia mengirimkan pesan-pesan yang obsesif setiap hari? Saat itulah, video-video ini juga ikut dilampirkan. Dia bilang karena kami adalah kaki tangan, dia juga membagikan rekamannya......."


"Kaki tangan......?"


"Aku sama sekali tidak ingat pernah terlibat dengannya! Aku tidak tertarik sama sekali dan sudah menolaknya, tapi dia tetap mengirimkannya lewat fitur share screen!"


"B-bajingan itu......!"


Aku hampir saja menggebrak meja, tapi aku mengepalkan tinjuku kuat-kuat. Kuku-kukuku menusuk telapak tangan, menimbulkan rasa sakit. Saat kupikir dia sudah tenang, ternyata dia melakukan hal yang menjijikkan seperti ini. Aku merasa mual. Seandainya rekaman ini sampai bocor ke internet──.


Dadaku terasa goyah dan perutku seperti terpelintir.


"Tolong tenanglah sedikit."


Suara ringan Hibise justru terdengar mengganggu telinga.


"Bagaimana aku bisa tenang! Kamarku sedang dipantau lewat kamera tersembunyi, tahu!?"


Suaraku meninggi. 


Aku baru tersadar bahwa orang-orang di sekitar serentak menoleh ke arah kami. Aku menahan napas dan segera menutup mulut. Hanya suara detak jantungku yang terdengar sangat keras secara tidak wajar.


Aku menghela napas sekali, lalu perlahan duduk kembali di kursi. Telapak tanganku basah kuyup oleh keringat, namun jariku tetap tidak bisa berhenti gemetar karena marah.


"Aku mengerti perasaanmu. Jika bisa menangkapnya, aku rasa kau harus segera melaporkannya ke polisi. ──Tapi, aku ingin kau mendengarkan kelanjutannya."


"Apa-apaan ini......"


Tenggorokanku terasa sakit seperti terbakar.


Demi menekan dorongan untuk berteriak, aku mencubit pahaku dengan keras. Kuku-kukuku menusuk kulit, menimbulkan rasa sakit yang tumpul. Sembari mengalihkan perhatian melalui rasa sakit itu, aku mengambil gelas dan menyesap kopi.


Pahit. Rasanya sama seperti sebelumnya, tapi sekarang kepahitannya seolah menusuk hingga ke dasar lambung. Hibise, meski melihatku seperti itu, tidak mengubah ekspresi wajahnya.


"Silakan lihat hari terakhirnya."


Tanpa kata, ibu jariku secara alami menggulirkan layar.


Hari terakhir. Di sudut kanan atas layar tertera tanggal──tepat satu tahun setelah upacara kelulusan SMA.


Kalau diingat-ingat──.


Hari itu adalah hari peringatan saat Satsuki mendahului ketiga temannya untuk pergi kencan bersamaku. Aku ingat bagaimana dia menggandeng lenganku sambil tersenyum malu. Aku juga ingat ketiga gadis lainnya sedikit merajuk malam itu. Kenangan yang terasa hangat dan penuh kerinduan.


Yang terekam di depan kamera adalah kamarku. Reine, Shuna, dan Shino yang tertinggal di sana sedang mengobrol dengan santai.


『Haa, Satsuki-san benar-benar cepat bertindak kalau sedang situasi seperti ini ya,』 ucap Shino pelan dengan senyum kecut. Meski nada bicaranya sopan, tersirat sedikit rasa jengah di sana.


『Beraninya dia pergi dan membebankan semua persiapan kepada kita. Aku benar-benar harus memberinya pelajaran nanti,』 Reine menyilangkan kaki dan mengembuskan napas panjang.


『Yah, itu memang gaya Satsuki-chan sih~,』 suara Shuna yang sedikit menyeret di bagian akhir terdengar sangat ceria.


『Tapi, kita harus tetap menyiapkan perayaan untuk Satoshi-san dengan layak,』 Shino melanjutkan pembicaraan dengan lugas.


『Untuk sekarang, mari kita pergi belanja. Satsuki-san harus merenungkan perbuatannya baik-baik nanti.』 Shino berdiri dan merapikan roknya sedikit.


Sesaat kemudian, Reine tersenyum nakal.


『Hukuman apa ya yang pantas untuk dia yang sudah mencuri start?』

『Fufu~ itu akan menjadi agenda selanjutnya dalam 【Rapat Empat Penjuru】~,』 ucap Shuna dengan riang, lalu mereka bertiga saling berpandangan dan tertawa.


Reine dan yang lainnya berjalan bersamaan menuju pintu keluar. Sambil melihat hal itu, aku menggerakkan tangan ke layar untuk mempercepat rekaman sampai mereka kembali.


Tepat pada saat itu.


『──Ah, benar juga. Aku lupa.』


Nada suara Reine tiba-tiba mengubah suasana. Suara itu seharusnya terdengar ringan, namun begitu menyentuh telinga, hawa dingin merambat di punggungku. Di dalam layar, langkah kaki mereka bertiga terhenti secara bersamaan.


Dalam sekejap mata saat mereka menghilang dari kamar, Shino muncul di kamar mandi. Di sudut ruangan, Shuna berhenti menutup gorden dan menatap ke arah kamera. Reine, yang baru saja selesai menaiki tangga menuju loteng, perlahan menolehkan wajahnya tepat ke arah kamera.


──Mata kami bertemu.


Shino, Shuna, dan Reine.


Ketiganya tidak berkedip sedikit pun. Mereka hanya menatap lurus ke sisi lain layar dengan tatapan mata yang dingin.


Tatapan apa ini?


......Tatapan itu persis seperti tatapan Satsuki saat dia melukai Sano di sekolah dulu──.


『──Enyahlah, sampah tak berguna.』


Hinaan yang angkuh dan tertata sempurna. Dingin, layaknya bilah pedang yang terasah tajam, melesat dalam bentuk kata-kata.


『Akhirnya...... hari ini tiba juga.』


Nada bicara yang tenang dan sopan. Namun, di baliknya tersimpan penghinaan yang penuh keyakinan.


『──Aku akan mendengarkan kesan-kesanmu di akhir nanti ya~.』


Senyuman yang muncul di balik kegelapan itu tampak seperti iblis. Reine menjulurkan tangan ke bagian dalam loteng. Shuna membungkuk di balik sofa. Shino menyelipkan tangannya ke balik cermin.


Pishii......


Derau statis yang kering meledak. Gambar di video bergoyang sesaat. Ujung jari mengabur, rambut terkikis oleh derau, dan garis luar senyuman mereka terputus. Cahaya meledak, lalu kegelapan menyelimuti. Di tengah monitor, deretan huruf putih muncul perlahan.


──【RESET】


"Apa-apaan...... ini."


Tenggorokanku terasa kering. Tanganku tidak berhenti gemetar. Kami diawasi oleh kamera tersembunyi. Fakta itu saja sudah membuat mual, apalagi video terakhir tadi. Mereka bertiga tahu tentang keberadaan kamera pengawas tersebut. Dan mereka mengarahkan niat membunuh kepada seseorang di balik layar.


Tidak perlu ditanya lagi siapa orang itu.


──Sano Yuuto.


Lambungku terasa melilit. Keringat dingin mengalir di punggung, membuat kemeja terasa menempel di kulit.


"──Setelah video ini berakhir, Sano Yuuto dinyatakan hilang."


Di kejauhan, suara sendok yang mengetuk pinggiran cangkir dan musik latar kafe terdengar sangat jelas di telingaku. Kemudian, aku diperlihatkan riwayat pesan LINE antara Hibise dan Sano. Pesan dari Hibise sejak tanggal 14 Maret sama sekali tidak menunjukkan tanda telah dibaca.


"Aku akan mengatakannya dengan jelas. Aku yakin keempat gadis itu terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto."


"──!"


Aku menggigit bibir. Terasa sapaan rasa darah. Aku ingin berteriak bahwa hal itu tidak mungkin. Namun, kata-kata sanggahan tidak mampu melewati tenggorokanku.


Rekaman kamera pengawas. Tatapan mata ketiga gadis itu. Keyakinan bahwa mereka telah mengetahui keberadaan kamera tersebut. Alasan mengapa mereka membiarkannya. Aku merasakan adanya maksud yang disengaja, seolah-olah semuanya terhubung dalam satu garis lurus.


Keringat dingin mengalir dari tengkuk, perlahan membasahi tulang punggung.


"......Apa yang kau inginkan dariku?"


Suara yang akhirnya berhasil kukeluarkan terdengar parau.


"Aku ingin Senpai membantuku mencari Sano Yuuto."


Kata-kata Hibise tidak mengandung keraguan sedikit pun.


"Seperti yang kukatakan tadi, aku memiliki kesadaran sebagai heroine kelima. Namun, aku tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang berkaitan dengan 【LoD】."


Hibise menatapku dengan tajam sambil menyambung kalimatnya.


"Dunia macam apa ini sebenarnya? Siapa sebenarnya Harusora Hibise itu──aku ingin mendapatkan jawaban yang memuaskan."


Lalu, ia tiba-tiba menatapku dan tersenyum.


"Satoshi-senpai. Meskipun tujuan kita berbeda, dalam hal keharusan mencari Sano Yuuto, kepentingan kita sejalan, bukan?"


Ia pun menyodorkan tangan kanannya.


"......Tidakkah kau ingin memukulnya sekali saja?"


Lengan kananku, yang sebelumnya tidak bisa digerakkan sama sekali akibat kecelakaan, secara alami mulai bertenaga.


"Kalau begitu──apakah kontraknya telah disepakati?"


"......Mohon bantuannya."


"Tentu."


Aku menjabat tangannya kembali.


──Hei, kalian semua sebenarnya sedang memikirkan apa......?



"Mempercayakan ini pada Hibise adalah sebuah kebodohan......!"


"Kasar sekali bicaranya! Itu karena hari ini hari libur, jadi memang tidak ada orang!"


"Meski begitu, menyelinap masuk ke lingkungan sekolah tanpa izin itu tidak masuk akal!"


Kami memang sudah sampai di sekolah almamater kami, namun gerbangnya tertutup rapat. Setelah diperiksa, ternyata hari ini adalah hari libur nasional. Alih-alih kegiatan ekstrakurikuler, sosok guru pun tidak terlihat.


Area sekolah yang luas ini dikelilingi oleh jaring pengaman berwarna hijau. Tentu saja hal itu wajar dilakukan untuk melindungi anak-anak dari bahaya di luar. 


──Karena akan gawat jika ada penyusup seperti kami yang muncul.


"Sekolah kita juga sistem keamanannya longgar, ya~. Bisa-bisanya ada lubang di tempat seperti ini."


Hibise menunjuk ke arah lubang yang menganga di bagian bawah jaring. Bingkai logamnya melengkung dan ujung kawatnya sudah berkarat. Ukurannya cukup besar untuk dilewati satu orang.


"......Kuharap ini bukan dugaanku, tapi Hibise, kau datang ke sekolah bulan lalu bukan untuk sengaja melubangi ini, kan?"


"Seseorang sepertiku pun tidak akan berani melakukan tindakan kriminal. Lubang ini sudah ada sejak zaman kita masih sekolah dulu. Ada anak yang malas lari estafet lalu kabur lewat sini."


Saat mengatakan itu, profil wajah Hibise yang tersenyum memperlihatkan campuran antara rasa rindu dan sifat usil.


"Untung saja saat kuperiksa bulan lalu, lubangnya masih ada."


Setelah urusan hari ini selesai, aku akan menghubungi pihak sekolah sebagai alumni.


"Nah──silakan ikuti aku, Holmes-kun."


"Seharusnya Watson, tahu."


Sembari berkata demikian, pandanganku secara alami tertarik pada gerakan Hibise. Hibise berjongkok di depan jaring pengaman, meregangkan jaring dengan tangannya, lalu menyelinapkan tubuhnya masuk.


"Hup...... ya, sudah."


Angin berembus kencang, membuat pepohonan di sekitar berdesis. ──Terserah sajalah, tapi itu kelihatan, lho.......


Gaun terusan off-shoulder berwarna merah miliknya bergoyang pelan, memperlihatkan garis bahu hingga punggungnya. Kainnya yang lembut memantulkan cahaya, menonjolkan putih kulitnya.


"Ah."


Tepat saat suaraku keluar secara spontan, angin kembali berembus sekali lagi. Ujung gaunnya tersingkap, memperlihatkan kakinya yang tampak menyilaukan. ──Nah, benar kan apa kubilang. Benar-benar kelihatan.......


"Kau berharap bisa melihat sesuatu, ya~?"


Hibise berbalik dan menyipitkan matanya dengan usil.


"Eh?"


Ujung gaunnya bergoyang lagi, dan sekilas terlihat celana pendek hitam. Perpaduan warna merah, hitam, dan kulit putihnya memberikan kontras yang anehnya membekas di mataku.


"Sayang sekali! Ini adalah salah satu model fesyen yang disebut skapan (rok celana). Kalau ingin mengintip isinya, tunggu sampai kita menjadi kekasih nanti, ya──"


"Cepatlah masuk."


"Sakit! Sakit! Jangan tendang bokongku~!"


Aku melepas sepatuku dan mendorong bokong Hibise, membuatnya melewati jaring meski sedikit terhuyung. Aku mengikuti di belakangnya dengan membungkukkan badan, menyelinap di bawah kawat. Pasir menempel di lutut dan celanaku sedikit kotor. 


Setelah membersihkannya sedikit dengan tangan dan mendongak, di depan mata terbentang lapangan sekolah almamater yang sudah lama tidak kulihat. Di tengah kesunyian, entah mengapa jauh di dalam dadaku terasa bergejolak.


Saat keluar ke bagian belakang lapangan, terlihat pagar pelindung bola berwarna hijau tinggi milik klub bisbol. Di sisi lain pagar, lintasan lari milik klub atletik membentang membentuk lingkaran. Garis-garis putih dari kapur memantulkan cahaya sore dan bersinar terang.


Kami melintasi lapangan dengan hati-hati agar tidak menginjak garis tersebut. Tugas seperti ini biasanya dilakukan oleh siswa tahun pertama. Meski tidak punya pengalaman di klub olahraga, aku sering melihat pemandangan di mana junior dibentak oleh senior atau guru jika garisnya bengkok atau warnanya tidak rata.


"Sekolah yang tidak ada satu orang pun ternyata menyenangkan juga ya~."


"......Meskipun terasa agak menyeramkan."


Suara Hibise terdengar terbawa angin. Biasanya para guru berkeliling untuk memantau, namun sekarang tidak ada siapa-siapa. Jendela-jendela gedung sekolah tertutup, memantulkan cahaya ke arah kami seperti cermin. Angin menabrak dinding dan pagar, sesekali mengeluarkan suara deru rendah. Hanya ada kami berdua di lapangan sekolah yang terlalu luas ini. Rasanya seperti berada di sebuah taman miniatur yang terpisah dari kenyataan.


"Bagaimana cara kita masuk ke gedung sekolah?"


Tingkat kesulitan masuk ke area sekolah dan masuk ke dalam bangunan itu berbeda jauh.


"Pasti ada yang terbuka, kok."


Ia memberikan jempol sambil tersenyum. Rencana kriminal yang setengah-setengah sekali.......


"Gedung sekolah itu luas, tahu? Lupa menutup satu atau dua pintu itu hal yang biasa terjadi sehari-hari. Bagaimanapun juga, mereka kan adik kelas kita~."


"Benar juga...... tapi tunggu sebentar. Jangan samakan aku denganmu."


Rasanya sangat tidak menyenangkan jika harus dianggap setingkat dengan Hibise.


Kami memutar ke bagian belakang gedung sekolah. Karena aku menduga pintu utama pasti terkunci, aku mencari pintu belakang. Lantai beton terasa hangat karena paparan sinar matahari, mengalirkan hawa panas melalui sol sepatu. Angin berembus kencang, dan pagar kembali berdenting.


Saat Hibise menarik gagang pintu geser, pintu itu terbuka dengan sedikit suara derit.


"Lihat!"


Ia menoleh dengan senyum bangga yang tampak menyilaukan.


"Ternyata ada banyak orang payah yang selevel dengan Hibise, ya....... Prospek kelulusan tahun ini benar-benar suram......."


"Apa maksudmu!?"


Aku menghela napas pendek sambil melangkah mengikutinya.


Di luar tadi matahari terasa sangat menyengat hingga kulit serasa terbakar, namun di dalam sini terasa temaram karena sinar matahari tidak masuk secara langsung, dan udara terasa sedikit lembap. Kebisingan di luar menjauh, digantikan oleh suara langkah kaki kami sendiri yang bergema di lorong.


Saat aku memutar keran air, air suam keluar bersamaan dengan bunyi logam. Aku meminumnya untuk membasahi tenggorokan. Meski tidak dingin, rasanya entah mengapa terasa sangat akrab. Di sampingku, Hibise juga sedang mencuci tangan sambil tertawa.


Di lorong, loker-loker berjejer dengan rapi. Di atasnya, barang-barang pribadi tertumpuk sembarangan. Seragam olahraga yang terlipat, kotak bekal yang lupa dibawa pulang, botol minum yang isinya tinggal setengah, foto idola, majalah bintang Korea, majalah Jump dua minggu lalu, hingga kotak figur yang sepertinya keberadaannya sengaja dibiarkan oleh guru.


"Tidak berubah, ya......."


"Benar sekali~."


Aku dan Hibise saling berpandangan dan tanpa sadar tersenyum kecut. Karena peringkat akademik sekolah kami sama, mungkin dalam hal kecerobohan seperti ini pun terasa mirip. Rasanya sedikit memalukan, seolah sedang mengintip kembali masa SMA kami sendiri.


"Ayo kita masuk ke ruang kelas!"


"Ah, hei!"


Belum sempat aku mencegah, Hibise sudah berjalan menuju ujung lorong. Ia menautkan tangan di belakang punggung, membuat rambut pirangnya bergoyang pelan. Cahaya sore masuk melalui jendela, membuat bayangan Hibise memanjang.


Sosok Hibise dari belakang menghilang ke dalam kelas. Aku pun ikut masuk, dan mendapati Hibise sudah duduk di kursi dekat jendela. Tanpa izin, ia membuka jendela sedikit lalu menopang dagu sambil memandang ke luar. Angin yang masuk membuat tirai bergoyang, dan cahaya mengenai rambut pirang Hibise hingga berkilau.


Aku pun duduk di sampingnya dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas.


"Ternyata ruang kelas sesempit ini, ya."


"Itu tandanya kita sudah dewasa."


"Benar juga."


"Apa kau sedang berpikir, 'Hibise juga sudah tumbuh besar ya, slurp'? Dasar Senpai mesum!"


"Fuuhh."


"Kau menertawakanku lewat hidung!?"


Sambil mengabaikan celotehan Hibise, aku menyandarkan beban tubuhku ke kursi. Sensasi akrab merambat ke bokong dan punggungku.


"──Omong-omong, apa Senpai ingin kembali menjadi siswa SMA?"


Sambil menopang dagu, ia bertanya dengan nada santai. Namun, suaranya terdengar sedikit hati-hati, seolah sedang menguji jawabanku.


"Sama sekali tidak. Karena Satsuki dan yang lainnya tidak akan ada di sisiku."


"Jangan pamer kemesraan di sini juga dong......."


Hibise menunduk dan mengembuskan napas pelan.


Sore hari di bulan Juli, saat libur musim panas hampir tiba. Dari jendela yang terbuka lebar, angin hangat mengalir masuk dan menggoyangkan tirai perlahan. Aroma kayu tua yang meresap pada meja dan kursi terasa akrab. Debu kapur yang tersisa di papan tulis. Dinding luar gedung sekolah yang tampak memutih karena paparan cahaya matahari.


Rasanya sedikit berbeda dari sekadar rindu. Ada perasaan bahwa sesuatu yang tidak bisa kuingat berada tepat di dekatku. Aku menarik napas sekali.


──Mari kita akhiri kepura-puraan ini.


"......Hei, Hibise."


"Ya?"


"──Kenapa kau mendekatiku dengan berpura-pura menjadi heroine kelima?"


Begitu kata-kata itu terucap, angin kencang berembus masuk. Tirai berkibar hebat dan menghantam bingkai jendela, menimbulkan suara kering yang bergema di dalam kelas.


"──Jahat sekali~. Aku ini benar-benar heroine kelima, lho?"


Hibise menggembungkan pipinya dan melayangkan protes yang dibuat-buat.


"Hanya hal itu yang sudah pasti salah."


"──"


Begitu aku menegaskannya, Hibise terdiam.


Saat pertama kali bertemu denganku, Hibise memang mengetahui isi dari 【LoD】 dan menggunakan pengetahuan itu untuk mendekatiku. Semuanya terasa sempurna. Karena itulah, aku sempat percaya──bahwa heroine kelima memang benar-benar ada. 


Namun.


"──Di kehidupan sebelumnya, aku memainkan 【LoD】 sampai mati."


Itulah satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dari hidupku yang hampa. Baik itu CG maupun teksnya. Percabangan akhir hingga perbedaan kecil dalam dialog. Aku mengulanginya berkali-kali──berkali-kali, sampai aku menghafalnya.


"Awal dari 【LoD】──upacara penerimaan siswa baru kalian pun sudah kulihat berkali-kali. Saking seringnya, aku sampai hafal wajah-wajah karakter figuran."


"──"


Hibise tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatapku dengan wajah tanpa ekspresi.


"Sudah cukup, kan?"


Aku melangkah maju satu tahap.


"Harusora Hibise──hanyalah karakter figuran."


Saat aku mengatakannya dengan tegas, udara di dalam kelas terasa sedikit mendingin.


Alasan mengapa aku tidak segera menyadari identitas asli Hibise dari penampilannya sangatlah sederhana.


Perubahan gaya saat kuliah. Warna rambut, gaya berpakaian, hingga auranya telah berubah total seperti orang yang berbeda.


"......Seperti dugaan saya, Satoshi-senpai memang hebat ya." 


Hibise mengembuskan napas kecil seolah menyerah.


Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya di depanku. Layar itu menampilkan CG paling awal dari 【LoD】. 


Saat Hibise memperbesar gambar dengan jarinya, di sana terlihat seorang gadis berkacamata dengan rambut dikuncir dua yang warnanya sulit disebut pirang—lebih cenderung kecokelatan. Seorang siswi baru yang polos, tidak menonjol, dan sangat pas digambarkan dengan istilah "gadis sastra".


......Perubahannya benar-benar terlalu ekstrem.


"Omong-omong, sejak kapan menyadarinya?" 


Ia bertanya dengan santai, seolah hanya melanjutkan obrolan ringan.


"Saat aku pergi ke acara jumpa penggemar."


"Ternyata Senpai sudah menyadarinya sejak awal ya....... Padahal kalau Senpai bilang saja, kan lebih baik." 


Hibise menggembungkan pipinya, berbicara dengan nada tidak puas. Jika hanya melihat gesturnya, ia tampak seperti sedang bercanda. Namun, akulah yang sebenarnya ingin menghela napas.


"──Itu karena Hibise menyembunyikan sesuatu."


"Eh?"


Jika Harusora Hibise hanyalah karakter figuran biasa, aku tidak akan menempuh jalan memutar sejauh ini. Begitu aku menyadari identitas aslinya, aku tinggal menjaga jarak dan semuanya selesai.


"Saat aku menyadari Hibise adalah karakter figuran, muncul sebuah pertanyaan yang tidak bisa kuhilangkan." 


Tatapanku tidak beralih darinya. 


"Harusora Hibise adalah karakter di dalam 【LoD】...... tapi kenapa dia sadar kalau dunia ini adalah 【LoD】?"


Coba pikirkan baik-baik.


Jika suatu hari, kau diberi tahu bahwa duniamu adalah dunia gim. Bahwa kau adalah karakter figuran. Atau tokoh utama. Atau heroine yang akan bersatu dengan seseorang. Karakter pendukung. Ataupun raja iblis. Jika hidupmu dibagikan beserta buku petunjuknya seperti itu, apakah kau bisa tetap tertawa? Apakah kau bisa menerimanya?


......Mustahil.


Jika seseorang benar-benar memercayai hal itu, maka logika atau mentalnya pasti sudah rusak. Salah-salah, bisa dikirim ke rumah sakit jiwa. Itulah reaksi yang normal. Tidak ada yang aneh dengan itu.


Satsuki dan yang lainnya adalah pengecualian dari segala pengecualian. Karena aku, seorang reinkarnator, meninggalkan "bom" berupa 【Buku Harian】, mereka akhirnya mengetahui kebenaran dunia ini. Namun, bagi orang lain yang bukan pelakunya, itu hanyalah catatan pengamatan yang memuaskan diri sendiri dari seorang penguntit jahat. Jika orang lain yang membacanya, aku mungkin sudah diamankan pihak berwajib dalam artian yang berbeda.


Orang yang mungkin menyadari bahwa dunia ini adalah dunia gim──.


"Apakah Senpai mengira aku adalah seorang reinkarnator?" 


Suara Hibise menyela dengan tenang. Seolah-olah ia sedang mengintip isi pikiranku dari dalam.


"Tepat sekali......." 


Aku tidak punya ruang untuk membantah atau niat untuk berkilah.


──Hanya saja.


"Ternyata dugaan itu salah ya......."


"Eh?" suara kebingungan yang pendek.


Saat aku duduk bersandar lebih dalam ke kursi, terdengar suara derit yang menyedihkan. 


Memang, sampai di pertengahan tadi aku mengira Hibise adalah seorang reinkarnator. Bahkan sampai detik ini pun, aku berharap memang begitulah kenyataannya.


Aku menundukkan pandangan dan merogoh ke dalam tasku. Ujung jariku yang meraba dasar tas menyentuh sesuatu yang keras. Tekstur sudut yang tajam. Tumpukan kertas. Berat yang sangat kukenali. Jauh di dalam dadaku terasa mendingin.


──Mungkin perasaan Satsuki dan yang lainnya saat menyatakan cinta padaku juga seperti ini ya.......


Aku mengerahkan tenaga pada jemariku. Kemudian, aku menarik "benda itu" keluar dari dalam tas. Pada saat itu, mata Hibise membelalak lebar. Sepasang mata biru secerah langit itu terpaku, kehilangan kata-kata seolah hendak mengatakan sesuatu namun tertahan.


"Itu......!" 


Hibise membocorkan suaranya, tak mampu menyembunyikan gejolak emosinya.


Itu adalah 【Buku Harian】 milik Hibise yang tampak seolah telah menempuh perjalanan waktu yang sangat lama.


"......Buruk sekali ya, sikap Senpai." 


Hibise mengembuskan napas kecil. Ia tidak tampak marah ataupun menyalahkan. Suaranya hanya terdengar seperti seseorang yang telah sepenuhnya pasrah.


"Aku memang licik."


"......Aku baru tahu itu sekarang," ucapnya sambil tersenyum. Namun, senyuman itu tampak sangat rapuh.


"......Kapan Senpai melakukannya?"


"Saat di 'Rinne'."


Begitu Hibise meninggalkan tempat duduknya sejenak, aku menggeledah tasnya. Selama ada kemungkinan Satsuki dan yang lainnya terancam, aku tidak akan memilih-milih cara. Hanya saja, sejujurnya──aku tidak ingin mengetahui fakta ini.


"Begitu ya~," Hibise bergumam lemas.


"Isinya──"


"......Tentu saja sudah kubaca."


"Begitu ya~. Begitu ya......." suaranya perlahan semakin mengecil. 


"......Akhirnya Senpai mengetahuinya."


"......Iya."


Hanya ada satu cara bagi penduduk dunia ini untuk mengetahui bahwa dunia ini adalah 【LoD】. Yaitu mendengarnya langsung dari aku, sang reinkarnator. Satsuki dan yang lainnya mengetahui rahasia itu karena membaca 【Buku Harian】 milikku.


Lalu, bagaimana dengan Hibise──?


Senyum sedih yang sesekali ia tunjukkan. Tatapan mata yang seolah memohon sesuatu. Ingatan-ingatan yang tadinya berupa titik-titik kini menyatu menjadi satu garis lurus di dalam benakku.


"──Hibise selalu berada tepat di sisiku."


Hibise tetap membisu. Seolah-olah diam adalah jawaban yang benar.


Mungkin aku sempat merasa sombong. Berpikir bahwa hanya akulah satu-satunya yang mengetahui kebenaran, berjuang sendirian menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya, serta menghancurkan skenario 【LoD】. Satsuki dan yang lainnya memang mengetahui tindakanku secara tidak langsung. Namun, dalam artian yang sepenuhnya, tidak ada seorang pun yang mengenal diriku di masa itu. Itu adalah pemikiran yang benar-benar arogan.


"Kenapa ya aku tidak menyadari kemungkinan ini......."


Kenapa aku bisa-bisanya berasumsi bahwa hanya akulah yang merasakan penderitaan karena dilupakan. Tenggorokanku terasa perih.


"Aku──ternyata aku telah melupakanmu ya......."


Hibise adalah 'korban dari kekuatan paksa' dunia ini.


























Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close