Aku adalah
Pangeran Ketujuh Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Seorang anak berusia sepuluh
tahun yang sangat mencintai sihir.
Di kehidupan
sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin tak berarti. Aku sempat menjadi incaran kaum bangsawan dan
menerima hukuman mati yang berkedok duel.
Namun, saat
melihat sihir tingkat tinggi untuk pertama kalinya, aku malah terpesona hingga
lupa bertahan. Serangan itu mengenaku telak dan merenggut nyawaku.
Tapi begitu
sadar, aku sudah bereinkarnasi ke dalam tubuh ini. Berbekal bakat yang luar
biasa, apalagi statusku hanya Pangeran Ketujuh yang tidak ada hubungannya
dengan takhta, aku diminta untuk hidup sesukaku.
Kini, aku pun
menikmati kehidupan sihir yang bebas dan santai.
"Hah-hah-ha!
Rasakan ini, Lloyd! Demon King Annihilation Black Strike!"
"Tidak semudah itu! Sihir Skala Besar Tiga Rapalan, Heavenly
Radiant Fang!"
Zudoooooon! Gelombang kejut meledak hebat,
mengakibatkan ruang di sekeliling kami terdistorsi secara drastis.
Dinding
batu hancur, tanah terkelupas ke atas, dan bebatuan besar mulai berjatuhan dari
langit-langit.
──Tempat
ini adalah dungeon tanpa nama yang terletak di ujung utara.
Ini
adalah dungeon raksasa yang tercipta akibat berbagai "kenakalan" yang
kulakukan di masa lalu. Letaknya berada di negeri antah berantah yang tidak
dihuni oleh manusia.
Lingkungannya
sangat dingin membeku ditambah banyaknya monster kuat yang berkeliaran,
sehingga saat ini tidak ada seorang pun yang mendekat. Karena itulah tempat ini
menjadi laboratorium pribadiku.
Meski
begitu, karena jaraknya jauh dari Saloum, awalnya aku hanya sesekali datang
untuk bersih-bersih agar monster di sini tidak meluap keluar. Namun, belakangan
ini aku jadi sering berkunjung.
Alasannya
adalah sosok yang ada di hadapanku sekarang.
"Kukuku, kau
hebat juga, Lloyd. Sepertinya simpanan trikmu masih banyak, aku benar-benar
senang."
Suara tawa serak
itu keluar dari seorang gadis berambut hijau cerah dengan pakaian pelayan……
yang di dalamnya bersemayam Raja Iblis Behal.
Gadis pelayan
itu──Connie, adalah gadis penyuka alat sihir yang kukenal di Akademi William,
sekolah lamaku.
Dia memiliki
kondisi Mana Housing Constitution, sebuah kondisi unik di mana ia tidak
memiliki mana sendiri, namun sebagai gantinya, jemari tangannya sangat luar
biasa terampil.
Kemampuan itu ia
curahkan sepenuhnya dalam membuat alat sihir, hingga ia memiliki teknik hebat
yang sanggup membuatku terpukau.
Ngomong-ngomong,
saat Behal muncul, wujudnya akan mengenakan jubah hitam dengan topeng yang
retak secara vertikal di bagian tengah.
Di desa tempat
Connie tinggal, banyak penduduknya yang lahir dengan gangguan mana akibat
pengaruh kuat dari mana bumi.
Connie
mengunjungi akademi demi menciptakan alat sihir yang bisa mengatasi masalah
tersebut, namun ternyata di dalam tubuhnya tertidur inti dari Raja Iblis Behal.
Behal yang
terbangun ternyata sangat kuat layaknya seorang Raja Iblis, dan aku harus
berjuang keras sebelum akhirnya berhasil mengalahkannya.
Namun, Connie
berkata bahwa pengetahuan Behal akan sangat mubazir jika dibuang begitu saja.
Ia pun mengajukan diri untuk menerima sang Raja Iblis dan menyatu dengannya.
Karena aku tidak
bisa membiarkan Connie yang sudah menjadi setengah Raja Iblis begitu saja,
akhirnya aku menjadikannya pelayanku.
……Yah,
aku sendiri juga menginginkan pengetahuan Behal, sih. Bisa dibilang ini adalah
keberuntungan bagi tiga pihak.
Semuanya
berakhir bahagia.
Begitulah
situasinya, sekarang ada dua kesadaran yang bersemayam di tubuh Connie: dirinya
sendiri dan Behal.
Biasanya
Connie sendiri yang mengendalikan tubuhnya, namun sesekali Behal akan keluar
dan menantangku bertarung seperti ini.
Sepertinya dia
masih belum terima karena kalah dariku.
Behal itu tipe
orang yang gila bertarung; dia bahkan sengaja menyeberangi lautan dari Dunia
Iblis menuju benua ini hanya demi mencari lawan yang kuat.
Meskipun begitu,
bagiku ini juga menguntungkan karena aku jadi punya lawan yang sanggup menerima
sihirku sekuat tenaga untuk bahan eksperimen.
Kami
berada dalam hubungan simbiosis yang saling menguntungkan.
Tentu
saja karena kekuatan tempur Behal sangat dahsyat, aku juga harus meladeninya
dengan serius, sehingga kami butuh tempat yang memadai.
Karena itulah
kami menggunakan dungeon ini. Karena tempat ini dibangun berdasarkan manaku,
areanya sangat luas dan kokoh.
Sangat cocok
untuk dijadikan tempat baku hantam yang heboh.
"Bicara-bicara,
apa tidak apa-apa beraksi sekasar itu pada Connie sebagai pemilik tubuh?"
Sambil
menepis serangannya, aku bertanya. Behal menyeringai lebar dan merangsek maju.
"Jangan
khawatirkan hal yang tidak perlu! Tubuh Connie selalu terlindungi oleh
manaku!"
"Selama
aku tidak menerima luka yang mematikan, dia tidak akan mati. Malah, gaya hidup
harian anak ini jauh lebih berbahaya!"
"Pola
makannya berantakan, sering begadang, bahkan perawatan kulit pun tidak
dilakukan sama sekali…… benar-benar bisa mati muda dia."
Sambil
menggerutu, Behal terus memberondongku dengan peluru mana.
Tidak seharusnya
kau melakukan hal itu sambil mencemaskan kesehatan kulit dan gaya hidup, tahu.
"Be-Behal,
hentikan! Malu tahu!"
"Ini
kenyataan. Sayangi dirimu sedikit, dasar bodoh."
Di celah tubuh
mana hitam yang menyelimutinya, suara malu-malu Connie terdengar.
Kalimat itu
benar-benar tidak cocok untuk seorang Raja Iblis, tapi menjaga kesehatan memang
penting.
Ngomong-ngomong,
aku tidak punya masalah soal itu karena sudah diurus oleh Sylpha dan Ren. Heh.
"Masalahnya
begini, Lloyd-sama! Ini gawat!"
Tiba-tiba,
Grim yang berada di telapak tanganku berseru.
"Dungeon-nya
tidak akan kuat kalau pertarungannya selama ini! Meski punya fungsi Auto-Repair,
tetap saja ada batasnya!"
"Benar.
Dinding dan langit-langit tidak sanggup menahan pertarungan kalian berdua,
sepertinya akan segera runtuh."
"Bagaimana
jika untuk kali ini kita cukupkan saja?"
Dari telapak
tanganku yang satu lagi, Malaikat Jiriel ikut bicara.
Keduanya adalah
familiku yang saat ini berwujud Magic-Suit Arm──sepasang sarung tangan
hitam dan putih yang menyatu di kedua tanganku.
Ini adalah
materialisasi mana secara sempurna──sebuah teknik yang dikuasai iblis tingkat
tinggi.
Memang butuh
waktu untuk merangkainya, tapi dengan menanamkan Grim dan Jiriel ke dalamnya,
kemampuan tempurku meningkat drastis.
Karena
sejujurnya, akan sulit meladeni Behal jika aku tidak dalam kondisi seperti ini.
Meski begitu,
salah satu kekurangannya adalah output kekuatannya jadi terlalu besar, sehingga
aku harus memikirkan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.
"Benar juga,
sepertinya tempat ini sudah mencapai batasnya. ……Oi Behal, ayo kita akhiri
sekarang."
Begitu
kupanggil, Behal melepaskan posisi tempurnya.
"Cih,
dungeon di dunia manusia ternyata rapuh sekali. Baiklah, untuk hari ini segini
saja dulu."
Behal turun dengan wajah bosan.
Walaupun dungeon ini punya fungsi perbaikan mandiri, tetap
saja ada batasnya, kan.
Aku memang selalu begitu kalau sudah asyik dengan sihir,
sampai-sampai tidak memedulikan keadaan sekitar.
"Terima
kasih ya. Kalau kalian berdua tidak memberi tahu, bisa gawat tadi."
Setelah
pertarungan berakhir, Grim dan Jiriel melepas wujud sarung tangan mereka dan
kembali menjadi sosok anak kambing dan burung kecil.
"Yah,
andaikata dungeon ini runtuh pun, Lloyd-sama pasti bisa meloloskan diri dengan
mudah, sih……"
"Behal juga
pasti akan melakukan hal yang sama…… Kalian berdua benar-benar mengerikan."
"Kurasa
sebentar lagi kalian bisa menguasai dunia, deh."
Oi, oi, mana
mungkin aku melakukan hal semacam itu.
Lagi pula, kalau
aku melakukan hal merepotkan seperti menaklukkan dunia, aku jadi tidak punya
waktu untuk riset sihir kesukaanku, kan.
"Tapi dulu
Behal pernah mencoba melakukannya, kan?"
"Hm…… ah.
Benar juga."
──Invasi Pasukan
Iblis.
Dulu, Behal
memimpin pasukan dari Dunia Iblis dan mengamuk di benua ini.
Namun, ia harus berhadapan dengan pasukan manusia yang dipimpin oleh leluhur para penyihir, William Bordeaux, dan tertidur di tanah tersebut──kalau tidak salah begitu ceritanya.
"Omong-omong,
aku belum sempat mendengar detailnya. Kali ini, ceritakanlah kejadian saat itu padaku."
Sebenarnya, aku
mengajukan satu syarat setiap kali menerima tantangan bertarung dari Behal: ia
harus membagikan satu pengetahuan kepadaku sebagai imbalan.
"Ah,
aku juga ingin dengar. Tolong ya, Behal."
"Baiklah…… Lagipula, akhirnyahhh kau menanyakan hal itu
juga."
Behal
menghela napas panjang seolah baru saja melepaskan beban berat. Aku jadi bertanya-tanya, apa maksudnya
dengan kata 'akhirnya' itu?
"Aku sudah
bersiap-siap sejak lama, menebak-nebak kapan kau akan menanyakannya. Tapi
kalian berdua malah selalu menanyakan hal-hal tidak penting setiap saat. Itu
membuatku gemas sendiri, tahu!"
"Perasaan
aku tidak menanyakan hal yang tidak penting, deh……"
Aku hanya
ingin tahu tentang mana hitam unik miliknya, bagaimana rasanya merasuki tubuh
manusia, atau posisi sihir di Dunia Iblis.
Ada
terlalu banyak hal yang ingin kuketahui sampai-sampai aku belum sempat bertanya
tentang latar belakang Behal sendiri.
"Maksudmu,
kau ingin kami bertanya tentang dirimu sendiri? Behal, kau ternyata cukup manis
ya."
"Apa?!
Ja-Jangan bercanda, Connie! Beraninya kau menyebutku manis! Aku ini Raja
Iblis!"
"Fufu, iya,
iya. Kami akan dengarkan, kok. Jadi, ceritakanlah tentang dirimu."
"Arghhh!"
Behal hanya bisa
mengerang frustrasi karena digoda oleh Connie. Melihat mereka, mereka benar-benar terlihat
seperti kakak beradik.
"……Haaah,
ya sudahlah. Jadi, tentang apa yang terjadi pada saat Invasi Pasukan Iblis
dulu, kan? Baiklah, akan kuceritakan. Pasang telinga kalian baik-baik—"
"Ah,
sebelum itu, aku buatkan teh dulu ya. Kalian semua pasti haus, kan?"
Connie berdiri
dan mulai menuangkan teh ke dalam cangkir yang sudah disiapkan. Lagi-lagi
ceritanya terpotong, membuat bahu Behal merosot lemas. Connie benar-benar tipe
orang yang selalu mengikuti ritmenya sendiri.
"Yah, Anda
juga tidak jauh berbeda, Lloyd-sama……"
"Malah, Anda
jauh lebih parah daripada Connie……"
Aku mengabaikan
gerutuan Grim dan Jiriel, lalu mulai memfokuskan pendengaranku pada cerita
Behal.
"──Dahulu
kala, aku merasa sangat bosan dengan kehidupanku sebagai Raja Iblis. Akhirnya
aku membawa para bawahanku menuju benua tempat manusia tinggal. Di Dunia Iblis,
sudah lama tidak ada lagi orang yang punya nyali untuk menentangku. Di dunia yang mengagungkan
kekuatan, begitu ada sosok yang menonjol sepertiku, para penentang akan
langsung lenyap."
Behal
menghela napas sambil menyeruput teh dengan banyak gula buatan Connie.
Yah,
wajar saja sih kalau tidak ada yang berani menantang sosok sekuat dirinya.
Bagi Behal yang
sangat suka bertarung, hari-hari itu pasti terasa sangat membosankan.
"Tapi,
kenapa harus benua ini? Apakah reputasi William, sang leluhur penyihir itu,
sampai terdengar ke Dunia Iblis?"
"Tidak, aku
menyebar bawahanku ke seluruh dunia untuk mencari orang kuat. Aku menerima
banyak laporan, tapi hanya satu orang yang kukirim ke benua manusia yang tidak
pernah kembali. Dengan kata lain, di sana pasti ada seseorang yang cukup hebat
untuk menghabisi bawahanku."
"Main serang saja…… Benar-benar merepotkan……"
Jiriel tampak mengernyitkan dahi. Memang benar sih, mengirim
monster ke seluruh dunia pasti akan menimbulkan kekacauan besar.
Iblis itu memiliki kekuatan yang sanggup menghancurkan
sebuah negara sendirian. Belum lagi Empat Panglima Iblis, atau bahkan
Giza-siapa-gitu yang pernah kulawan dulu, mereka punya kekuatan yang lumayan.
"Ngomong-ngomong, yang kukirim ke benua ini adalah
bawahan terbaikku. ……Kukuk, darahku mendidih saat menerima laporan itu. Singkat
cerita, setelah mengetahui keberadaan orang kuat yang membuat jantungku
berdebar, aku menyeberangi lautan menuju benua ini. Namun, begitu tiba, aku
langsung disambut oleh pasukan manusia. Sepertinya mereka sudah menyadari
pergerakan kami. Pantai dipenuhi oleh prajurit, dan banyak juga orang hebat
yang sanggup mengimbangi iblis. Terutama William, dia sangat kuat. Sering kali
aku menyudutkannya, tapi dia selalu berhasil meloloskan diri dengan cerdik.
Terlebih lagi, sambil meladeniku, dia juga mampu menyegel iblis-iblis kuat
termasuk Empat Panglima. Harus kuakui, dia memang luar biasa."
Behal berdecak kesal, namun ekspresinya tampak sedikit
senang. Dia pasti menganggap William sebagai rival sejatinya. Ternyata William
Bordeaux memang penyihir yang hebat ya.
"Bagi kami, William itu seperti malaikat maut. Ada
pepatah yang mengatakan bahwa siapa pun yang melihat sosoknya akan mati."
"Apa Grim juga disegel oleh William?"
"……Bukan, aku disegel oleh orang yang sama sekali tidak
kukenal."
"Buhaha! Itu wajar saja! Iblis kroco sepertimu mana
mungkin sampai ditangani oleh William Bordeaux yang agung itu."
"Kau sendiri
dasar malaikat sialan! Pasti
kau hanya gemetaran sambil bersembunyi di balik bayangan, kan?!"
"Ke-Kenapa
kau bisa tahu?!"
Grim dan Jiriel
mulai bertengkar. Tapi kalau dipikir-pikir, karena mereka adalah iblis dan
malaikat, wajar saja jika mereka ikut dalam perang itu.
Meskipun
dari suasananya, sepertinya mereka berdua hanyalah bawahan tingkat rendah.
"……Oi, boleh
aku lanjutkan ceritanya?"
"Baik!"
Di bawah tatapan
tajam Behal, keduanya langsung duduk tegak dengan kaku. Behal berdehem pelan
sebelum melanjutkan.
"Singkat
cerita, kami menikmati pertempuran itu. Meskipun para dewa memihak mereka,
manusia-manusia itu cukup merepotkan juga. Pertarungan antara pasukanku dan
mereka berlangsung sengit, saling desak satu sama lain."
"Hmm? Tapi
dengan kekuatan sebesar milikmu, bukankah kau bisa menghancurkan pasukan
manusia dengan mudah? Sehebat apa pun William, bukankah dia tetap tidak
sebanding denganmu? Kalau kau merangsek maju dengan paksa, bukankah kau bisa
melindas mereka? Apa mungkin karena orang-orang dari langit itu terlalu
kuat?"
"Tidak,
mereka sebenarnya cukup penakut. Kami tidak terlalu kesulitan menghadapi
mereka. Namun, ada satu lagi sosok yang sangat merepotkan. ……Argh,
mengingatnya saja membuatku kesal."
Berbeda saat menceritakan William, nada bicara Behal kali
ini terdengar seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat ia benci dan
hindari. Grim tiba-tiba tersentak menyadari sesuatu.
"! Maksud Anda…… sang Holy King?"
Behal mengangguk mantap. Jika bicara soal Holy King, dia
adalah sosok yang berada di puncak Holy See, pusat dari segala gereja.
Beberapa tahun sekali, beberapa orang yang menerima wahyu
akan menjadi kandidat, dan dari sana, mereka yang berhasil melewati ujian
beratlah yang akan terpilih.
Dia adalah eksekutor yang menjalankan kekuatan langsung di
bawah Dewa. Itulah sosok Holy King…… seingatku begitulah yang dikatakan oleh
rekanku, mantan Paus Gitan.
"Kalau Behal
sampai bicara begitu, dia pasti sangat kuat ya."
"Tidak juga,
aku bahkan tidak pernah bertarung melawannya sekali pun."
"Eh, apa
maksudnya? Bukankah dia lawan yang merepotkan?"
Aku tidak
mengerti maksudnya. Saat aku sedang memiringkan kepala dengan bingung, Connie
tiba-tiba menepuk tangannya seolah menyadari sesuatu.
"Aku tahu!
Pasti kemampuan pertahanan atau penghindarannya sangat luar biasa!"
Mendengar
perkataan Connie, aku mengangguk setuju. Benar juga, sihir suci yang dikuasai
para pendeta gereja memang unggul dalam hal pertahanan dan pemulihan.
Holy King
adalah bos mereka, jadi wajar jika dia bisa menggunakan sihir suci yang sangat
hebat. Sampai-sampai Behal yang seorang Raja Iblis pun tidak bisa melawannya
dengan normal.
Namun,
Behal menggelengkan kepalanya.
"Hmph,
dia jauh lebih menyebalkan daripada itu. Argh, sial, mengingatnya saja
sudah membuatku muak……"
Behal
mulai bergumam tidak jelas. Kekuatan
macam apa yang bisa membuat Raja Iblis sekelas Behal merasa kerepotan?
Kemungkinan besar
dia memang pengguna sihir suci, tapi…… apa pun itu, ini terdengar menarik.
"Hei Behal, tolong ceritakan lebih detail tentang Holy
King itu."
"Sudah
kubilang aku tidak mau mengingatnya!"
"Jangan
begitu dong."
"Kyaa?!
Tu-Tunggu sebentar Lloyd-kun, jangan tiba-tiba memelukku begitu!"
Saat aku
mencoba memegang bahunya, Behal malah bersembunyi jauh ke dalam diri Connie.
Ah, sial,
dia kabur. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin membicarakannya.
Kalau
begitu, seharusnya dia tidak menceritakannya setengah-setengah. Ini benar-benar
membuatku penasaran setengah mati.
"Aku
juga belum pernah melihat sosok Holy King itu. Paling-paling hanya pernah
mendengar namanya saja."
"Aku juga…… Tapi aku dengar sosok itu adalah orang yang
sangat penting bahkan di kalangan kami para malaikat. Katanya dia memiliki kontrak langsung dengan
satu-satunya Dewa yang berada di puncak langit."
Sepertinya
mereka berdua juga tidak tahu banyak. Hmm, Holy King ya. Aku sangat penasaran, tapi Holy See itu jauh. Apalagi
urusan gereja biasanya dijaga dengan sangat ketat.
Dulu saja saat
aku masuk gereja untuk belajar sihir suci, mereka sangat pelit berbagi ilmu.
Apalagi pusatnya di Holy See. Mungkin akan sangat sulit untuk menemuinya.
"Aaah, aku
ingin sekali bertemu dengannya, sang Holy King……"
"Sepertinya
mustahil……"
"Benar-benar
mustahil……"
Grim dan Jiriel
langsung menyambar gumamanku. Duh, kalian berdua benar-benar tidak punya mimpi
ya. Siapa tahu dia tiba-tiba mampir ke Saloum.
◇
"Lloyd-sama,
hari sudah pagi."
"Ayo,
ayo, kalau tidak segera bangun nanti terlambat."
"Ngh……"
Aku
bangkit dan meregangkan tubuh. Setelah mataku terbiasa dengan cahaya yang masuk
dari celah tirai, aku melihat dua orang pelayan berdiri di hadapanku.
"Hwaaa…… Selamat pagi, kalian berdua."
Gadis berambut perak itu Sylpha, sedangkan yang berambut
ungu itu Ren. Keduanya bekerja setiap hari sebagai pelayan pribadiku.
"Selamat pagi, Lloyd-sama. Sarapan sudah siap."
Sambil berkata
demikian, Sylpha dan Ren mulai bekerja sama menyiapkan keperluanku.
Mereka mengelap
wajahku, melepaskan baju tidur, lalu memasangkan lengan baju…… dalam sekejap
aku sudah selesai berganti pakaian dan langsung dibawa menuju ruang makan.
"Rasanya
kalian berdua hari ini lebih terburu-buru dari biasanya. Apa terjadi
sesuatu?"
"Ya, kami
diminta untuk segera membawa Anda ke sana."
"Kalau tidak
cepat bersiap dan menampakkan diri, nanti bisa dimarahi lho!"
Seseorang
memanggilku? Tapi Kak Albert pasti masih sibuk dengan urusan pagi, lalu siapa
yang…… yah, kalau sudah sampai juga bakal tahu sendiri.
Begitu aku
membuka pintu ruang makan, sudah ada seseorang yang duduk di meja dan sedang
makan.
"Nyam nyam…… Selafat fagi, Foyd."
"Kak Saria!"
Seorang wanita berambut hitam yang mengenakan kacamata,
kakak perempuanku sekaligus Putri Keempat, Saria, sedang memasukkan makanan ke
mulutnya hingga pipinya menggembung seperti tupai.
Dia adalah sosok yang mampu memainkan segala jenis alat
musik seolah-olah itu adalah anggota tubuhnya sendiri. Nadanya dikatakan mampu memikat bahkan para dewa,
benar-benar seorang jenius musik.
Hanya saja, ia
tidak tertarik pada hal lain selain musik, bahkan ia tidak ingat nama orang
dengan benar.
Ia hanya bisa
mengingat namaku entah bagaimana, tapi untuk saudara yang lain, namanya masih
sering tertukar.
Tapi, ada angin
apa hari ini?
Biasanya dia
menghabiskan hampir seluruh waktunya bermain piano di Menara Musik kastel, dan
makannya pun dilakukan sembarangan di sana, tapi kenapa sekarang──
"Mmph?!"
Tiba-tiba saja,
bakso yang dilempar Saria masuk dengan tepat ke dalam mulutku.
"Lloyd,
kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang tidak sopan tentangku, kan?"
"Ti-Tidak
kok. Haha, hahaha……"
Sambil
tertawa canggung, aku duduk di kursi di hadapan Saria.
Saria itu
tipe jenius yang sulit ditebak apa yang ada di pikirannya.
Aku merasa
sedikit kurang nyaman karena rasanya dia bisa melihat menembus pikiranku.
"Salfa, Rin,
siapkan makanannya."
"Baik."
Sylpha dan Ren
segera membawakan makanan ke hadapanku tanpa membantah.
Karena nama
mereka sering salah disebut, mereka berdua sudah tidak mau repot-repot
mengoreksinya lagi.
Bagaimanapun, aku
mulai menyantap sarapan yang sudah disiapkan.
Hmm, masakan
Sylpha memang selalu enak. Kemampuan Ren juga sepertinya semakin meningkat.
Di tengah suara
denting peralatan makan, aku bertanya pada Saria.
"……Jadi, Kak
Saria. Ada urusan apa denganku?"
"Tunggu
sebentar lagi. Aku memanggil satu orang lagi."
"Haaah……"
Sesuai
perintahnya, aku pun melanjutkan sarapanku. Dia yang memanggil, tapi seenaknya sendiri ya.
Yah, ini
bukan hal baru sih. Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara langkah
kaki yang terburu-buru dari arah koridor.
"Ma-Maaf
saya terlambattt!"
Brak!
Pintu terbuka dan
Paus Isha pun muncul. Dulunya dia hanyalah seorang biarawati yang sangat suka
bernyanyi, tapi karena berbagai alasan, ia akhirnya menjadi Paus.
Katanya jabatan
itu hanya sebagai pajangan, tapi berkat dukungan orang-orang di sekitarnya, ia
sepertinya bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Suaranya yang
indah dikatakan sampai bergema hingga ke langit.
Terutama saat ia
berkolaborasi dengan Saria dalam sebuah konser, bahkan aku yang tidak tertarik
pada musik pun sampai terenyuh mendengarnya.
Begitu ya, jadi
yang ditunggu adalah Isha.
"Lama tidak
jumpa, Isha."
"Ara! Ara
ara, Lloyd-kun! Sudah lama sekali ya!"
Begitu
menemukanku, Isha langsung berlari kecil dan memelukku dengan erat. Ugh, sesak.
Setelah Sylpha berdehem dengan sengaja, Isha tersentak dan melepaskanku.
"Ahaha…… maaf. Refleks……"
"Akhirnya
kau datang juga, Isha."
"Iya, maaf
membuatmu menunggu, Saria. Tadi ada sedikit pekerjaan yang menumpuk……
ehem."
Isha berdehem kecil, lalu menatapku dengan lekat.
"Alasan kami
datang hari ini adalah karena ada sesuatu yang ingin kami minta dari Lloyd-kun.
……Aku akan langsung saja ya. Kami ingin kau bernyanyi bersama kami."
"Aku…… bersama kalian berdua?"
"Iya, sebenarnya kemarin ada pengumuman bahwa sang Holy
King akan datang berkunjung ke Kerajaan Saloum ini."
"!"
Sontak aku
membelalakkan mata. Ooh, kejadiannya persis seperti dugaanku kemarin. Ternyata
dia benar-benar mampir secara tiba-tiba ya. Isha melanjutkan perkataannya
dengan nada bersemangat.
"Holy King
adalah sosok yang sangat jarang meninggalkan Holy See, bahkan aku pun belum
pernah bertemu dengannya. Orang seperti itu datang meninjau Saloum benar-benar
kejadian luar biasa yang belum pernah ada sebelumnya! Tentu saja kita harus
menyambutnya dengan meriah! Karena itulah, pihak gereja meminta kepada Baginda
Raja untuk mengadakan festival besar di seluruh negeri!"
"Di sana,
aku dan Isha akan tampil bermain musik. Tapi lawannya adalah Holy King.
Musik kami berdua saja tidak bisa dikatakan sebagai penyambutan yang sempurna.
Jadi Lloyd, kau juga harus ikut tampil."
Kalau tidak salah, mereka berdua entah kenapa memberikan
penilaian yang sangat tinggi pada nyanyianku.
Padahal kalau jujur, nyanyianku itu hanyalah tiruan yang
kubuat menggunakan sihir kendali.
Lagipula, kurasa
Saria dan Isha saja sudah lebih dari cukup, tapi──
"Kalau
begitu, dengan senang hati!"
Tentu saja, tidak
ada alasan bagiku untuk menolak.
Aku sama sekali
tidak tertarik pada menyanyi, jadi biasanya aku pasti menolak mentah-mentah.
Tapi kalau itu
penampilan di depan Holy King, berarti aku akan berada tepat di hadapannya,
kan.
Ini kesempatan
bagus untuk melihat langsung sosok Holy King yang dibicarakan itu. Untuk tujuan
itu, satu atau dua lagu bukanlah masalah besar.
"Meskipun
nyanyian Lloyd masih berada di tahap meniru, tapi kualitas suaramu yang
mencampurkan tenor yang lembut dengan sopran anak laki-laki yang jernih itu
benar-benar unik. Jika Lloyd bergabung, kita pasti bisa mengekspresikan suara
agung yang tidak bisa dihasilkan hanya olehku dan Isha saja."
"Iya, benar
sekali! Apalagi saat aku mengajakmu dulu kau tampak sangat terpaksa, tapi
nyanyian Lloyd-kun itu benar-benar hebat! Karena kali ini orangnya
sendiri tampak bersemangat, aku jadi sangat berharap banyak! ……Fufu, rasanya
aku mulai terbawa suasana setelah sekian lama!"
Saria dan Isha
menggumamkan sesuatu sambil mulai memainkan peralatan makan mereka hingga
menimbulkan irama.
Yang satu memakai
garpu dan pisau, yang lain bersenandung, tapi suaranya setara dengan konser
musik kelas satu.
Biasanya tindakan
itu akan ditegur karena dianggap tidak sopan, tapi Sylpha dan Ren malah tampak
terpesona.
Mereka
berdua benar-benar bersemangat ya. Hanya saja, kuharap latihan kerasnya tidak
terlalu berlebihan.
◆
Di dalam
kegelapan, seorang pria terbangun. Ia menatap peti mati tempatnya bersemayam
dengan mata setajam serigala, lalu bergumam.
"……Di mana
ini?"
"Di mana pun
tidak masalah, kan? Tidak
ada hubungannya denganmu. Tidak penting. Seharusnya begitu."
Suara
yang sedikit lebih muda menjawab gumaman pria tersebut.
"Aku
juga terkejut. Tidak kusangka kau akan merespons. ……Tapi bukankah hal itu tidak
penting bagi kita berdua? Yang penting adalah kau telah bangkit kembali
sekarang."
"……Siapa
kau?"
"Siapa
saja boleh. Ah, tapi akulah orang yang telah membangkitkanmu kembali. Kalau mau berterima kasih, silakan
saja."
"Cih,
kukukukuku……"
Tepat setelah
pria itu mendengus. Sebuah gelombang kejut yang dahsyat meledak mengincar
kepala pemuda itu.
Serangan tangan
kosong, namun berisi mana yang luar biasa besar, menciptakan lubang besar pada
dinding.
"Lancang sekali…… siapa yang memintamu. Kau harus
membayar kelancangan itu dengan nyawamu."
Ucapnya dengan nada dingin. Namun──
"Waduh, aku kaget lho. Tiba-tiba saja kau mencoba
membunuhku, aku jadi takut. Tapi, rasanya memang harus begini ya."
Pria itu membelalakkan matanya mendengar jawaban tersebut.
Setelah debu menghilang, tampak sosok pemuda yang sama
sekali tidak terluka.
Hal yang aneh adalah lubang di dinding itu bergeser cukup
jauh dari posisi pemuda itu berdiri.
Padahal ia yakin
serangannya sudah tepat sasaran…… keraguan itu cukup untuk membuat pria
tersebut terdiam.
"Kau pasti
punya tujuan, kan? Jika tidak, bahkan kekuatanku pun tidak akan bisa
membangkitkanmu."
"……"
Benar, pria itu
punya tujuan. Namun, ia harus kehilangan nyawanya di tengah jalan.
Sedikit demi
sedikit ingatannya mulai kembali. Tentang apa yang harus ia lakukan, dan tentang bocah sialan itu.
"Apa
kau mau membuang kesempatan itu hanya demi harga diri yang tidak berguna? Yah,
bagiku sih tidak masalah. Kalau kau menolak, aku hanya perlu mengembalikanmu ke
alam hampa lagi, kan?"
"Kh!"
Seiring
dengan perkataan itu, tubuh pria tersebut mulai hancur menjadi butiran debu.
Sepertinya
nyawa ini bukanlah miliknya sendiri. Pria itu menatap kehancuran tubuhnya
sejenak sambil bimbang, lalu ia pun berkata:
"Aku tidak menyukainya…… tapi baiklah. Meskipun ini tidak menyenangkan,
aku akan ikut dalam rencanamu."
"Nah, begitu dong! Wah, untunglah. Aku sempat bingung
kalau kau menolak. Habisnya, aku ini kan orangnya lemah lembut."
Pemuda
itu menepuk-nepuk bahu si pria dengan akrab.
Meskipun
kata-katanya terdengar sangat ringan, namun kehancuran tubuh si pria tiba-tiba
saja berhenti. Ia terpaksa harus percaya bahwa kekuatan pemuda itu memang
nyata.
"Kukuk, tapi
jangan harap aku akan menuruti perkataanmu begitu saja. Begitu kau lengah, aku
akan langsung membunuhmu! Jangan pernah lupakan hal itu."
"Aduh, seram
sekali. Aku ini cinta damai, jadi tolong kasihanilah aku ya."
Keduanya pun
mulai berjalan ke arah yang sama sambil tertawa kecil seolah sedang
bersenang-senang.
◆
Firasatku
benar-benar tepat, aku harus menjalani latihan yang sangat berat.
Setiap hari diisi
dengan penyelarasan musik dan latihan vokal, intinya aku dipaksa terus
menyanyi.
……Yah, tapi
sebenarnya yang kulakukan adalah mengendalikan boneka kayu yang menyerupai
diriku menggunakan sihir kendali dari jarak jauh, sementara aku sendiri asyik
membaca buku di ruangan lain, jadi tidak ada masalah sama sekali.
Wah, buku-buku
yang kudapat dari akademi benar-benar menarik untuk dibaca.
Meski sudah
dibaca berulang kali, aku sama sekali tidak bosan. Ternyata di dunia ini masih
banyak sihir yang menarik ya.
Selama itu pula,
persiapan di kota sepertinya terus berjalan, hingga akhirnya tibalah hari
Festival Penyambutan Holy King.
Dar! Der! Dor!
Kembang api mulai
bermunculan, dan keriuhan penduduk kota terdengar sampai ke sini.
Di tengah
kemeriahan kota, aku melakukan gladi resik di Menara Musik di pinggiran kastel.
Sambil diiringi
permainan piano Saria, aku dan Isha bernyanyi bersama.
"──♪"
Setelah nyanyian
berakhir dan kami membungkuk hormat, keheningan sejenak diikuti oleh riuh tepuk
tangan yang luar biasa.
Yah, penontonnya
hanya ada Sylpha, Ren, dan beberapa prajurit saja sih, tapi tepuk tangan Sylpha
terlalu kencang. Dia bahkan sampai terisak-isak.
"Luar biasa…… Lloyd-sama benar-benar luar biasa…… Ah,
Tuan Putri Saria dan Tuan Putri Isha juga."
"Duh Sylpha-san, kenapa kami disebutnya cuma seperti
tambahan begitu…… tapi anu, kalian bertiga tadi hebat sekali kok!"
Ren mencoba menengahi, tapi ia memperlakukan Saria dan Isha
dengan agak sembarangan. Meskipun sepertinya mereka berdua tidak terlalu
memedulikannya.
"Ya, kau sudah jauh lebih baik, Lloyd. Benar-benar berbeda dari
sebelumnya."
"Benar! Aku
baru kali ini bisa menghasilkan suara seperti ini! Ini semua berkat
Lloyd-kun!"
Itu karena aku
terus meniru bayangan suara terbaik milik Saria dan Isha, sih. ……Lagipula,
setiap kali latihan mereka berdua terus bertambah hebat, jadi aku terpaksa
harus mengimbanginya.
Sebenarnya sejak
awal saja sudah lebih dari cukup, tapi kalau begini, sang Holy King pasti akan
sangat terkesan.
Dengan begitu,
mungkin ia akan mau mengajariku banyak hal. Fufu, aku jadi tidak sabar. Apalagi para
prajurit yang mendengarkan tadi sampai terharu dan tidak bisa berkata-kata.
"Nah,
sudah hampir waktunya Holy King tiba. Ayo kita menuju lokasi."
"Benar juga.
Ayo berangkat, Lloyd."
"Baik!"
Setelah keluar
dari Menara Musik, kami menuju Symphony Hall, bangunan kebanggaan Saloum yang
terletak tepat di sebelah kastel.
Bangunan hasil
kerja sama gereja dan kerajaan itu mampu menampung sepuluh ribu orang.
Didesain dengan
mempertimbangkan akustik ruang, tempat itu biasanya digunakan untuk acara besar
atau konser musik.
"Kalau
begitu, saya akan memanggil Anda jika sudah waktunya."
"Tolong ya,
Salfa."
Begitu Sylpha
menutup pintu ruang tunggu, mereka berdua pun mulai fokus. Ruangan itu menjadi
sangat sunyi, hanya suara detak jarum jam yang terdengar.
"Fuuuh,
ketegangan ini benar-benar tidak main-main ya. Mereka berdua sudah masuk ke
dalam dunianya sendiri."
"Bisa mendengar suara Saria-tan dan Isha-tan dari jarak
sedekat ini berkali-kali…… meski banyak kejadian yang terjadi, aku benar-benar
senang telah mengikuti Lloyd-sama……!"
Jiriel sampai menangis terharu. Tapi tolong ya, jangan
menangis saat kami sedang menyanyi nanti.
"Nah, karena
masih ada waktu luang, aku mau jalan-jalan sebentar ah."
"Apa Anda
yakin, Lloyd-sama? Malah mau keluyuran di saat seperti ini."
"Tenang
saja, lagipula nanti aku menyanyi menggunakan sihir kendali yang meniru
suaraku. Selain itu, meski sulit bertemu Holy King, setidaknya satu atau dua
orang pengawalnya pasti ada yang sedang berkeliaran di luar, kan?"
Tadi aku sempat
melihat sekilas, aura yang dipancarkan rombongan Holy King benar-benar luar
biasa. Meski sulit bertemu langsung dengan Holy King, siapa tahu ada
pengawalnya yang sedang keluar. Itu yang kuincar.
"Yah,
entahlah ya……"
"Aku ragu
seorang pengawal akan keluyuran begitu saja……"
"Sudahlah,
ayo pergi sebelum Sylpha datang menjemput."
Aku menyelinap
keluar dari ruang tunggu, lalu berjalan menyusuri koridor menuju aula utama.
Begitu masuk ke
dalam aula, aku mengedarkan pandangan ke seluruh kursi penonton…… dan akhirnya
kutemukan.
Sekelompok orang
yang mengenakan jubah putih. Itulah sang Holy King beserta para pengawalnya.
"Fumu, yah
untuk ukuran manusia mananya cukup besar sih, tapi kurasa tidak ada yang
istimewa."
"Benar,
apa Holy King itu orang yang duduk di tengah? Wajahnya tidak kelihatan dari sini."
Dari balik tudung
putih yang berada di tengah rombongan itu, aku merasakan tekanan yang sedikit
lebih kuat dari yang lain.
Apakah dia sang
Holy King……?
Tapi menurutku
tekanannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang dikatakan Behal.
Selain itu, ada apa ya?
Untuk ukuran
seorang Holy King, entah kenapa rasanya mananya sedikit…… kelam atau jahat.
"Keturunan
William saja sudah jadi lemah gara-gara kedamaian yang terlalu lama, mungkin
Holy King juga jadi lemah seperti itu, kan?"
"Lagi pula,
Holy King yang melayani Dewa tidak membutuhkan kekuatan. Tugas utamanya adalah
menyebarkan kedamaian kepada orang-orang. Lloyd-sama tidak perlu terlalu
memikirkannya."
"Aduh,
aduh, kalian berdua benar-benar tidak mengerti ya."
Bukannya
aku ingin bertarung dengan lawan yang kuat. Yang penting adalah apakah mereka
punya kekuatan menarik, terutama yang berkaitan dengan sihir.
Seperti
kata kalian berdua, aku memang tidak merasakan mana yang begitu kuat dari
mereka, tapi sampel sihir suciku masih sangat sedikit.
Jika ia disebut
Holy King, ada kemungkinan ia memiliki kekuatan lain yang berbeda.
"Meskipun
begitu, aku tidak bisa menemuinya langsung secara terang-terangan. Pasti
akan sangat mencolok. Jadi…… aku akan membuat pihak sana yang bergerak."
Sambil berkata
demikian, aku menjentikkan jariku.
Setelah menunggu
beberapa saat, salah satu pengawal tampak terburu-buru meninggalkan tempat
duduknya.
"Ooooh!
Pengawalnya bergerak!"
"Apa yang
Anda lakukan, Lloyd-sama?"
"Aku hanya
membuatnya merasa ingin buang air kecil."
Itu adalah
aplikasi dari sihir kendali. Jika dilakukan saat mereka sedang lengah, hal
seperti itu mudah saja.
Sebenarnya
aku mengincar sang Holy King, tapi seranganku ditepis dan mengenai orang di
sebelahnya.
Meski ada jarak
yang cukup jauh, dia bisa menahan sihirku…… fufu, menarik juga ya.
Yah, aku akan
simpan kesenangannya untuk nanti. Karena tidak ada waktu, orang yang baru saja
berdiri itu sudah cukup.
"Anda
benar-benar keterlaluan ya……"
"Itu
benar-benar serangan yang salah sasaran ya……"
Salah
sendiri tidak waspada. Kalau itu Sylpha, dia pasti sudah menyadari hawa
keberadaanku dan menghindar.
Dia
kurang kesadaran sebagai seorang pengawal. Bagaimanapun, aku pun menuju ke toilet terdekat
dari lokasi tersebut.
"Sip, sudah
sampai."
Aku menyandarkan
punggungku pada pilar di dekat toilet, lalu menghilangkan hawa keberadaanku
sambil menunggu. Karena jarang ada orang lewat, aku tidak mungkin
melewatkannya.
Nah, sudah hampir
waktunya dia datang. Sambil menunggu dengan antusias──
"……Waduh,
aku juga jadi kebelet nih."
Mungkin karena
berdiri di depan toilet, aku jadi ikut ingin buang air juga. Sial, dia lama
sekali datangnya. Gawat, sudah di ujung tanduk nih.
"Apa Anda
baik-baik saja, Lloyd-sama? Menahan diri itu tidak baik untuk kesehatan
lho."
"Benar, biar
kami yang berjaga di sini, jadi silakan Anda masuk saja dulu."
"Benar juga
ya."
Aku pun
bergegas lari ke dalam toilet, dan kebetulan ada satu bilik yang kosong.
Beruntung sekali. Namun, tepat saat aku hendak memegang gagang pintu, ada
tangan lain yang memegangnya secara bersamaan.
"Ah."
Aku dan
orang itu bersuara secara bersamaan. Ia adalah seorang pemuda biasa yang tidak
terlihat istimewa. Tingginya tidak terlalu tinggi namun tidak juga pendek,
perawakannya pun sedang-sedang saja.
Rambut
hitamnya dipotong rapi, dan pakaian putihnya tidak terlihat mahal namun tidak
juga murah, intinya benar-benar biasa.
Wajahnya
pun tidak memiliki ciri khas tertentu, benar-benar pemuda yang menggambarkan
definisi kata 'biasa' secara keseluruhan.
Pemuda
itu tersenyum ramah lalu berkata:
"Wah,
maaf ya Nak, tapi bisakah kau memberikan bilik ini padaku? Tadi tiba-tiba saja
aku kebelet sekali, aku sudah lari sambil menahannya sekuat tenaga tapi ini
benar-benar sudah di ambang batas. Kumohon ya, tolonglah aku!"
Ia
menangkupkan kedua tangannya memohon padaku, tapi aku juga harus segera
menyelesaikannya agar tidak kehilangan jejak pengawal Holy King itu.
Aku tidak berniat
memberikan urutan ini padanya.
"Aku
menolak. Tanganku
yang lebih dulu memegang gagang pintu ini."
"Aduh,
aduh, tapi kan tidak ada saksi mata yang melihatnya? Aku juga berhak mengeklaim
kalau aku yang lebih dulu. Kalau begini terus, kita cuma akan berdebat kusir.
Paham?"
Apa-apaan
orang ini, gigih sekali. Padahal aku tidak punya waktu untuk meladeni
perdebatan ini.
"Maaf
ya, tapi aku juga sedang buru-buru. Aku tidak berniat mengalah."
"Mumu……
ini cara yang sebenarnya tidak ingin kugunakan, tapi…… baiklah. Ambil
ini."
Pemuda
itu menyerahkan sekeping koin tembaga padaku. Apa dia menyuruhku pergi membeli minum atau
semacamnya?
"Ini namanya
diplomasi uang. Ini batas kompromiku. Kumohon ya, Nak."
"Aku bukan
anak kecil yang bisa disuap dengan uang jajan. Tentu saja aku menolak."
Biarpun begini,
aku ini Pangeran Ketujuh, tahu. Mana mungkin aku bisa disuap dengan uang receh
anak kecil.
"Hei, hei,
dilihat dari mana pun kau itu anak kecil, kan? Sudahlah, terima saja suapan
uang jajan ini. Lagipula, kalau tidak segera masuk, aku bisa mengompol di
sini……"
Di tengah
perdebatan tidak jelas ini, aku sendiri pun mulai merasa sangat kebelet.
Percakapan ini benar-benar buang-buang waktu. Mari kita akhiri dengan cepat.
"Baiklah.
Kita tentukan dengan janken saja. Yang menang masuk duluan—"
"Tidak,
itu tidak boleh."
Pemuda
itu memotong perkataanku.
"Pertikaian
adalah hal yang paling kubenci sebagai seorang pasifis. Aku bahkan merasa lebih
baik mati daripada harus bertikai. Tentu saja ini cuma prinsip pribadiku jadi
aku tidak bermaksud memaksakannya pada orang lain, tapi aku tidak bisa menerima
tantangan janken yang memicu pertikaian. Meski begitu, hidup adalah perjuangan.
Itulah sebabnya aku yang pasifis ini selalu berpakaian biasa agar tidak
memancing perhatian siapa pun. Ah, tentu saja bukan berarti aku mau kalah, ya?
Sejarah manusia telah membuktikan bahwa pihak yang kalah tidak akan berakhir
baik. Karena itulah, aku meloloskan permintaanku tanpa perlu bertikai. Inilah
cara hidupku sebagai seorang pasifis. Kau paham, Nak? Kalau paham, mari kita bicarakan ini secara damai. Tenang
saja, sebagai pasifis, aku mempertaruhkan nyawaku untuk tidak bertikai. Demi
prinsip itu, aku bahkan sudah siap jika harus sedikit mengompol di
celana!"
"Oh, begitu
ya."
Di depan pemuda
yang terus mengoceh panjang lebar itu, aku langsung menutup pintu toilet dengan
keras. Brak!
……Fiuuh, untung
sempat.
"Aaaaaah!
Tega sekali kau, Nak! Orang masih bicara, tahu! Apa kau ini tidak punya
perasaan?!"
"Maaf, maaf.
Tapi bilik sebelah baru saja kosong tuh."
Lewat pintu, aku
mendengar suara orang keluar dari bilik sebelah di tengah ocehan pemuda itu.
Dia terlalu asyik bicara sampai tidak sadar.
Terdengar suara
langkah kaki terburu-buru yang berlari masuk ke toilet sebelah.
"Aduh, aduh, kau ini benar-benar ya. Apa kau tidak pernah dibilang tidak punya
hati? Kalau aku bukan seorang
pasifis, kau pasti sudah celaka tadi. Mulai sekarang berhati-hatilah. Serius,
lho."
Dia masih saja
bicara. Cerewet sekali ya orang ini.
Dia bilang
pasifis, tapi kalau dia mengoceh begitu di depan orang yang salah, dia pasti
sudah dipukul sampai pingsan.
Tapi anehnya, aku
malah mendengarkan omongannya sampai habis. Pria ini punya aura yang janggal.
"Hmm?"
Aku merasakan
sesuatu yang aneh di dalam genggamanku.
Saat kubuka, di
sana ada koin tembaga yang tadi hendak diberikan pemuda itu padaku.
Mustahil. Padahal
aku sudah menolaknya, sejak kapan benda ini masuk ke tanganku……?
"……Yah,
sudahlah."
Aku menggunakan Teleportation
untuk mengembalikan koin itu ke dalam saku pemuda di sebelah.
"Waduh,
daripada itu aku harus segera keluar."
Hampir saja aku
melupakan tujuanku. Aku segera mencuci tangan dan berlari keluar dari toilet.
"Lloyd-sama,
ternyata Anda di sini."
"Geh……"
Pada akhirnya,
pengawal itu tidak pernah muncul di toilet ini, dan aku malah tertangkap oleh
Sylpha yang datang mencariku. Aku pun diseret kembali menuju ruang tunggu.
"Kalau
dipikir-pikir, ada kemungkinan mereka tidak tahu kalau ini toilet terdekat,
Tuan."
"Bagi mereka
ini tempat asing, jadi mungkin saja mereka pergi ke toilet yang lain."
Seperti kata Grim
dan Jiriel, aku terlalu berasumsi kalau mereka akan datang ke sini. Sial, ini
kecerobohanku.
"Mau
bagaimana lagi. Katanya aku bisa bertemu mereka setelah pertunjukan selesai,
jadi aku akan bersabar sampai saat itu."
Lagipula itu tadi
cuma iseng-iseng saja. Tidak masalah kalau tidak bisa bertemu sekarang.
"Lloyd-sama,
waktu kita sudah mepet. Mohon maaf atas kelancangan saya."
"Tolong ya,
Sylpha."
Begitu aku
mengangguk, Sylpha langsung menggendongku dan menambah kecepatannya.
Sambil
berlari di dinding untuk menghindari orang-orang di koridor, kami pun tiba di
ruang tunggu dalam sekejap.
"Ya
ampun Lloyd, dilepas sebentar saja langsung menghilang. Kalau mau ke toilet bilang dong."
"Ahaha……
yah, kami juga salah karena terlalu fokus sampai tidak sadar. Malu-maluin
saja……"
"Maaf ya,
kalian berdua."
"Sudahlah.
Yang penting sebentar lagi tirai dibuka. Kita harus segera ke panggung."
"Ayo
keluarkan semua hasil latihan kita! Tenang saja, Lloyd-kun pasti bisa!"
……Padahal aku
sama sekali tidak ikut latihan, sih. Sambil merasa sedikit berdosa, aku pun
melangkah menuju panggung.
◆
"Wah, parah,
parah. Kukira tadi
aku bakal mengompol beneran."
Pemuda yang baru
kembali dari toilet itu menghela napas lega.
"Akhirnya
kau kembali juga."
Ujar seorang pria
berjubah putih dengan nada kesal.
"Berani
sekali kau meninggalkanku sendirian di tengah-tengah manusia. Apa kau tidak
takut aku akan mengamuk dan menghancurkan tempat ini?"
Pria berjubah
putih itu menyeringai tipis. Namun, si pemuda menggelengkan kepalanya.
"Yah,
anggap saja aku percaya padamu. Lagipula kau itu tipe yang bisa bersabar demi
tujuan, kan? ……Maksudku, kau
'tidak akan bisa' melakukannya karena sudah aku 'ikat'."
"……Cih."
Pria itu berdecak kesal. Si pemuda mengambil koin tembaga
dari sakunya, lalu melambungkannya ke udara. Koin itu tidak jatuh kembali, melainkan menghilang ke dalam kehampaan.
"……Lagipula,
aku merasa sesuatu yang menarik akan segera terjadi. Siapa tahu keinginan
terpendammu juga akan terkabul?"
"Hoh……?"
Di balik
tudungnya, pria itu tersenyum penuh minat sambil menyibakkan poni rambutnya
yang panjang.
◆
"Ooooh,
ramai sekali."
Melihat dari
balik panggung, lautan penonton tampak sudah tidak sabar menunggu pertunjukan
dimulai.
"Katanya
seluruh kursi pesanan di Symphony Hall langsung ludes dalam sekejap, lho."
"Meski sudah
ditambah sepuluh ribu kursi berdiri darurat, semuanya juga langsung habis. Wah,
bisa mendengar pertunjukan sehebat ini dari jarak sedekat ini benar-benar
sebuah keuntungan."
"Yah, bagiku
dalam situasi apa pun, aku tidak akan melewatkan nyanyian Lloyd-sama."
Sylpha dan Ren
tampak sangat menantikan pertunjukan ini, tapi pelayan satunya lagi, Connie,
malah menunjukkan wajah muram.
"Ada apa,
Connie?"
"……Anu,
sebenarnya aku sih tidak apa-apa, tapi Behal……"
Connie memejamkan
mata dan meletakkan tangan di dadanya, seolah sedang berkomunikasi dengan
dirinya sendiri.
"……Sejak
tadi dia tidak mau keluar, tapi hari ini gelagatnya aneh sekali. Sejak sampai
di sini, dia bilang perasaannya tidak enak, atau lebih tepatnya…… Behal seperti sedang memancarkan
haus darah?"
"Omong-omong,
dia memang bilang sangat membenci Holy King, kan."
Lalu saat
aku mencoba bertanya, dia malah merajuk dan bersembunyi.
Jangan-jangan
dia berniat menyerang penonton secara tiba-tiba?
Kalau
Behal sampai mengamuk di sini, bisa jadi bencana besar.
……Tapi,
sejujurnya aku ingin sekali melihat pertarungan antara Holy King dan Raja Iblis
Behal.
Yah, tentu saja
aku akan menghentikannya jika terjadi sesuatu. Tapi tergantung cara
menghentikannya, mungkin aku bisa melihat kelanjutannya nanti…… Hmm, sepertinya
bakal menarik. Aku jadi bersemangat.
"Orang ini
kenapa malah senyam-senyum sendiri sih……"
"Lloyd-sama,
sepertinya sudah giliran Anda."
"Ah, benar
juga."
Di tengah
percakapan itu, giliran kami pun tiba. Bagaimanapun, aku harus menyukseskan
pertunjukan ini dulu. Begitu
naik ke atas panggung, sorakan gemuruh langsung menyambut kami.
Baru
sadar sekarang, tapi penontonnya benar-benar banyak. Apa aku tidak akan terlalu menonjol ya…… ah,
mereka semua kan datang untuk melihat Saria dan Isha, jadi aku tidak akan
terlalu diperhatikan.
"Lloyd,
jangan melamun."
"Baik, Kak
Saria."
"Ayo kita
mulai. Tiga, dua, satu──♪"
──Suara pun
bergema.
Permainan musik
Saria, suara nyanyian Isha, dan suara tiruanku mengalir tanpa henti memenuhi
aula. Para penonton mulai meneteskan air mata sejak nada pertama menyentuh
telinga mereka, bahkan banyak yang sampai terisak hebat.
"Ooh,
ternyata mereka mengeluarkan performa terbaik di sini…… kualitasnya terus meningkat setiap
detiknya. Suara Lloyd-sama juga seolah tertarik mengikuti mereka berdua!
……Duh, aku pun jadi ingin menangis."
"Hiks…… aku hanya bisa menangis…… suara ini benar-benar
bukan berasal dari dunia ini, begitu agung…… air mata ini tidak mau
berhenti……!"
Grim dan Jiriel juga tampak sangat terharu. Ren menyeka air
mata yang terus mengalir, dan Sylpha bahkan sampai pingsan dalam posisi
berdiri.
──Namun,
rombongan Holy King sama sekali tidak bergeming.
Meski mata mereka
tertutup tudung, mereka tampak tidak terlalu tertarik.
Saria dan Isha
yang menyadari hal itu sepertinya merasa tertantang, mereka pun menaikkan
volume dan intensitas musik mereka.
Wah, melodi yang
sangat indah sekaligus dahsyat. Aku sampai kesulitan untuk terus menirunya.
Duh, aku pun jadi harus berusaha keras, kan.
Padahal kalau aku
terlalu fokus pada Control Magic, aku jadi kurang memperhatikan sekitar.
──♪
Tetap
saja, para pengawal itu tetap tidak berekspresi. Mereka bahkan terlihat menahan kantuk dan menguap
bosan.
……Tapi, meski
wajahnya tidak kelihatan jelas, gaya berdiri yang sangat 'biasa' hingga justru
terasa unik itu, rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat—
Tepat saat aku
memikirkan hal itu.
Aku
merasakan gelombang mana yang sangat kuat dari balik panggung. Connie──bukan,
itu adalah Behal di dalamnya.
Mana
hitam yang menyelimuti Connie menampakkan wajah yang mengerikan dan mulai
melahap area sekitarnya.
Ini
adalah kekosongan spesial yang pernah digunakan oleh Empat Panglima Iblis.
Sebuah Special Barrier yang menciptakan dimensi di balik ruang nyata.
Di
dalamnya, tidak ada yang bisa menyadari keberadaan apa pun kecuali sang
pengguna dan beberapa orang yang diizinkan masuk.
Jangan-jangan
Behal berniat melawan Holy King di sini?
Sesaat
aku ingin menghentikannya, namun rasa ingin tahuku untuk melihat pertarungan
mereka jauh lebih besar.
Argh, aku benci
rasa penasaranku sendiri.
"Kenapa Lloyd-sama
malah tertawa begitu sih?!"
"Barrier-nya
hampir selesai!"
Pakiinnn!
Terdengar suara
pecah dan barrier pun terbuka. Ya ampun, padahal secara mental aku sudah
berniat menghentikannya, lho. ……Beneran, deh.
Di dalam ruang
dimensi itu, kini hanya tersisa Behal, rombongan Holy King, dan aku yang
memaksa ikut masuk saat barrier tercipta.
"Mu, kenapa
kau masuk juga, Lloyd? Padahal aku sudah memotong ruang ini agar tidak ada yang
mengganggu……"
Connie yang
berbalut mana hitam──Behal, memanggilku.
"Yah, soal
itu, aku cuma penasaran saja."
"Apa kau mencemaskanku? ……Hmph, kau meremehkanku ya.
Kau sendiri kan tahu seberapa besar kekuatanku."
Behal tampak tersipu malu karena mengira aku mencemaskannya.
"Tidak, kurasa Lloyd-sama cuma penasaran dengan
pertarungannya……"
"Malah, beliau sepertinya lebih tertarik pada Holy
King-nya……"
Grim dan Jiriel menggumamkan sesuatu, tapi daripada itu.
"Wah, wah, bukankah kau anak yang tadi? Kebetulan
sekali ya."
Holy King──atau lebih tepatnya pengawal yang berdiri di
sampingnya, angkat bicara.
Begitu ia membuka tudungnya, wajah di baliknya adalah pemuda
yang kutemui di toilet tadi. Behal menatapnya, lalu melepaskan tawa serak.
"……Jadi begitu, kaulah Holy King generasi
sekarang."
Mendengar kata-kata itu, barulah aku menyadarinya.
Dia adalah sang Holy King, dan yang duduk di kursi utama
tadi kemungkinan hanyalah penyamaran.
"Apa yang ada di bawah tudung putih itu hanya boneka
mana?"
"Yah, semacam itulah. Habisnya aku tidak punya banyak
teman."
Cetk!
Begitu ia menjentikkan jari, sosok-sosok berjubah putih di
sekitarnya lenyap. Jubah-jubah itu jatuh ke lantai begitu saja.
"Pangeran Ketujuh Saloum, Lloyd di Saloum. Ternyata
benar kau orangnya. Duh, malasnya. Aku benar-benar tidak bersemangat."
Dalam situasi seperti itu pun, sang Holy King masih saja
mengajakku bicara sambil tersenyum. Behal yang merasa diabaikan pun wajahnya
mulai berkedut kesal.
"Kukuku…… aku tidak tahu kau generasi keberapa, tapi
sifat menyebalkanmu itu sepertinya tidak berubah……!"
Hanya dengan berdiri di sampingnya saja, aku bisa merasakan
aliran mana yang luar biasa. Behal benar-benar haus darah sekarang.
Namun, meski menerima tekanan itu secara langsung, sang Holy
King tetap memasang wajah tenang sambil memiringkan kepala dan meletakkan
tangan di dagunya.
"Anu, kau
ini siapa ya…… Aku tidak mungkin melupakan gadis kacamata semanis
dirimu…… Ah, apa jangan-jangan kau teman masa kecilku yang dulu sering main
bersama? Atau kau penggemarku?"
"Kau ingin bilang kalau kau hanya melihat wadahnya
saja, begitu? Provokasi yang cukup berani juga……!"
Behal meraung penuh amarah.
"Baiklah, akan kuberitahu sebagai bekalmu ke akhirat
nanti. Aku adalah Behal! Sosok yang dulu pernah bertarung melawan leluhurmu,
sang Raja Iblis!"
"Raja Iblis──"
Begitu mendengar kata-kata Behal, Holy King sesaat
membelalakkan matanya.
"Ah, jadi kau orangnya? Kukira tadi orangnya itu
Lloyd-kun……"
"Bukan aku, tahu!"
Aku sampai hampir terjatuh saking kagetnya. Tidak kusangka dia akan salah sangka sejauh itu.
"Yah, mau
bagaimana lagi. Kadang Lloyd-sama memang memancarkan mana yang jauh lebih jahat
daripada iblis, sih."
"Apalagi Behal biasanya bersembunyi di dalam Connie.
Kalau ditanya siapa yang lebih terlihat seperti iblis, yah memang Lloyd-sama
orangnya."
Grim dan Jiriel ikut menyambar, tapi hei, menyamakan anak
kecil biasa penyuka sihir sepertiku dengan Raja Iblis itu benar-benar
keterlaluan, kan?
"Begitu ya…… Ah, jadi begitu."
Gumam sang Holy King pelan. Ia menyipitkan matanya perlahan,
dan seketika aura dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya mulai
menyelimuti dirinya.
"Jadi kau
benar Raja Iblis ya. Aku dengar kau sudah lenyap setelah kalah melawan Holy
King terdahulu."
"Itu cuma
keberuntungan. Kali ini aku yang akan menang!"
Mendengar
tantangan Behal yang penuh percaya diri, Holy King menjawabnya dengan tenang.
"Baguslah
kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot mencarimu. Alasan aku datang ke
sini memang untuk melumpuhkanmu."
Selama ini aku
bertanya-tanya. Kenapa Holy King yang jarang sekali keluar rumah sampai rela
datang jauh-jauh ke Saloum.
Tapi jika melihat
waktunya, sudah jelas tujuannya adalah untuk membereskan Raja Iblis yang telah
bangkit kembali.
Gereja adalah
organisasi pembasmi iblis, mana mungkin mereka membiarkan Behal-sang Raja
Iblis-begitu saja.
Mendengar itu,
Behal malah menyeringai lebar, seolah memang itu yang ia harapkan.
"Kalau
begitu, majulah. Akan kuberitahu bahwa aku yang sekarang berbeda dengan yang
dulu. Aku terus mengumpulkan kekuatan sambil menunggu kesempatan untuk membalas
dendam pada kalian. ──Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Akan
kuhancurkan kau sampai tidak bersisa!"
Seiring dengan
raungannya, seluruh tubuh Behal bersinar hitam pekat.
Sesaat kemudian,
pilar cahaya hitam yang tak terhitung jumlahnya turun dari langit. Itu adalah Demon
King's Light Prison Column, serangan mana yang terkonsentrasi pada satu
titik.
"Waduh, dia
langsung mengeluarkan jurus yang bahkan butuh konsentrasi penuh dari Barrier
Lloyd-sama untuk menahannya tanpa ragu-ragu."
"Tu-Tunggu, Lloyd-sama!
Bagaimanapun dia itu Holy King. Sebaiknya jangan sampai terbunuh……"
"Fuha!
Fuha ha ha ha ha ha ha──!"
Umm,
Behal bukan tipe yang mau mendengarkan jika disuruh berhenti, sih.
Tapi
aneh. Meski terus menerima serangan sehebat itu, Holy King yang terlihat di
balik cahaya tetap memasang wajah santai.
Malah, sepertinya
dia tidak menangkisnya sama sekali…… serangan itu seolah-olah menghindarinya
dengan sendirinya.
"Aaah—"
Di tengah ruang
yang ganjil itu, sang Holy King membuka mulutnya.
"Maaf ya
meski kau sudah sangat bersemangat, tapi sebagai seorang pasifis, kata-kataku
cuma satu. ──Aku tidak akan bertarung."
Seketika, kekuatan besar meledak.
"Gu…… oh……?!"
Guncangan
dahsyat menjalar ke sekeliling. Tekanan aneh itu seketika menghentikan gerakan
Behal yang hendak melancarkan serangan berikutnya.
"Nu…… gugu…… ugh……?! Ke-Kekuatan apa ini! Jauh lebih kuat dari Holy King yang dulu! Tapi, aku
pun tidak tinggal diam selama ini……! Haaaaaaa!"
Meski pembuluh
darahnya sampai menonjol karena berusaha bergerak, Behal tetap tidak bisa
menggerakkan satu jari pun, tubuhnya hanya gemetar kecil.
"A-Apa-apaan ini? Holy King itu cuma bergumam sebentar,
tapi gerakan Behal langsung terkunci?!"
"Menghentikan pergerakan Raja Iblis…… ini benar-benar
tidak masuk akal. Sebenarnya apa yang sedang terjadi……?"
Kekuatan yang misterius. Begitu menyentuh gelombang aneh
yang terpancar dari Holy King, perasaanku jadi tidak tenang. Rasanya mirip
dengan sihir tipe mental, tapi setidaknya ini bukan sihir biasa.
"Heh, sanggup mempertahankan niat bertarung setelah
menerima 'Suara'-ku secara langsung, kau hebat juga."
Suara, ya. Benar. Rasanya seolah mana dialirkan langsung ke
dalam kata-katanya.
……Bukan, apa dia mengubah kata-katanya menjadi formula sihir
itu sendiri?
Ada Protection dari bahasa sihir langit di dalamnya,
ditambah lagi susunannya sangat rumit hingga aku pun sepertinya akan kesulitan
untuk memecahkannya.
"Tapi sebanyak apa pun kau mencoba, itu tidak akan ada
gunanya. Karena aku tidak
punya niat untuk bertarung denganmu—"
Sesaat
setelah ia bicara, sebuah garis merah muncul di pipi sang Holy King. Detik
berikutnya, kursi penonton di belakangnya hancur berkeping-keping.
Asap
putih mengepul dari ujung jari Behal yang berhasil ia angkat sedikit. Ia baru saja melepaskan Mana Flash
yang sangat padat.
"Ku, kuku……
Meskipun kau tidak punya niat, aku sudah punya niat sejak lama. Mau tidak mau,
kau harus meladeniku……!"
Behal belum
menyerah. Melihatnya berjalan mendekat dengan hawa bertarung yang berkobar,
Holy King hanya menghela napas bosan.
"Umm,
tekad dan kegigihanmu benar-benar di luar akal sehat. Kalau kau Raja Iblis,
bukannya harusnya kau bertindak lebih licik? Misalnya mundur dulu lalu
menyerang dari balik bayangan, atau menyandera seseorang. Ada banyak cara lain daripada mengandalkan otot
seperti ini, tahu."
"Tidak berguna…… bertarung melawan orang kuat sepertimu
adalah keinginanku…… aku tidak tertarik dengan hal lain selain adu kekuatan
secara langsung! Maaf saja, aku tidak berniat mengakhiri ini
setengah-setengah……! Lloyd, kau jangan ikut campur, ya."
"Iya,
iya, aku mengerti kok."
Aku juga
tidak berniat mengganggu. Lagipula
aku masuk ke sini memang untuk menonton pertarungan kalian berdua.
Tidak ada alasan
bagiku untuk merusak suasana yang sedang seru ini.
Nah, apa yang
akan terjadi selanjutnya?
Karena sepertinya
bakal lama, aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi penonton.
"Lloyd-sama, popcorn-nya sudah siap."
"Lloyd-sama,
cola-nya juga ada."
"Terima
kasih."
Begitulah, aku
menonton sambil bersantai. Nah, kalian berdua, tunjukkanlah pertarungan yang
menarik. Demi riset sihirku.
"Yah, mau
bagaimana lagi, sepertinya kau tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa ya.
Kalau begitu── Stradi-Varius."
Begitu Holy King
bergumam, cahaya menyilaukan menyelimuti dirinya. Perasaan ini── Light Armor,
ya. Begitu aku sadar, sebuah biola sudah tergenggam di tangannya.
"A-Apakah
itu biola legendaris buatan sang maestro Varius?! Suara yang dihasilkan dari
kayu yang telah diawetkan selama seratus tahun, harta karun dunia manusia,
sebuah mahakarya sejati! Itulah Stradi-Varius! Terlebih lagi, itu adalah
model Odyssey yang memecahkan rekor harga tertinggi empat belas miliar
G$! Seingatku Holy See yang memenangkan lelangnya, tapi tidak kusangka Holy
King sendiri yang memegangnya……"
Jiriel
mulai mengoceh panjang lebar dengan sangat detail. Sepertinya alat musik itu
benar-benar barang langka ya.
"Kau terlalu
detail lho, dasar malaikat sialan……"
"Bodoh!
Ini barang yang sangat terkenal tahu, iblis tolol! Benar kan, Lloyd-sama?!"
……Ditanya
begitu pun, aku sebenarnya sama sekali tidak tahu, sih.
Sebenarnya
yang lebih membuatku penasaran adalah bagaimana cara ia mengeluarkan benda itu
barusan.
Sebuah
instrumen musik yang tiba-tiba muncul di ruang hampa…… sepertinya itu bukan
diciptakan menggunakan Light Armor. Apakah itu juga salah satu kemampuan
sang Holy King?
Namun,
meski kemampuannya sehebat itu, aku tidak merasakan Holy King melakukan sesuatu
yang signifikan…… Sejak tadi, banyak hal yang terasa janggal.
"Hah!
Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan benda seperti itu?"
Berbanding
terbalik denganku yang waspada, Behal malah menertawakan Holy King.
Memang
benar, meski aku tidak tahu seberapa berharganya instrumen itu, sulit
membayangkan alat musik seperti itu bisa menandingi kekuatan fisik Behal yang
brutal…… tapi……
"Uoooooh!"
Seolah
menjawab terjangan Behal, sang Holy King mulai menggesek biolanya.
──♪
Begitu
suara itu bergema, bulu kudukku seketika meremang.
Kemampuan
bermainnya berada di level yang tidak kalah, atau bahkan mungkin melampaui
Saria.
……Namun
di saat yang sama, aku merasakan sensasi yang sangat tidak menyenangkan.
Rasanya seperti jiwaku dibelai secara langsung.
Sensasi
ini mirip dengan 'Suara' yang digunakan Holy King tadi, namun kekuatannya
meningkat puluhan kali lipat──
"Gu, ooooh……"
"A, agaga……"
"Grim? Jiriel!?"
Tanpa sadar, mereka berdua sudah jatuh ke lantai dengan
mulut berbuih.
Apakah ini efek dari serangan (?) barusan? Sepertinya nyawa
mereka tidak terancam, tapi mereka tampak tidak bisa bergerak sama sekali.
"Ma, maafkan kami…… Lloyd-sama……!"
"Lagu ini…… seolah-olah menyedot seluruh kekuatan
kami……!"
Hm, jadi ini nilai asli dari seorang Holy King.
Bahkan aku sendiri pun merasakan hambatan pergerakan yang
cukup signifikan.
"Cih…… Lagu Iblis, ya……!"
Gumam
Behal dengan nada benci.
──Lagu
Iblis adalah teknik yang diwariskan secara turun-temurun kepada Holy King.
Dengan
menyatukan formula khusus ke dalam melodi, teknik ini menghasilkan efek yang
mirip dengan sihir.
Logikanya
mirip dengan Spell Bundle.
Jika aku
fokus pada efisiensi dengan memadatkan mantra dalam jumlah besar menjadi satu
kesatuan, Lagu Iblis lebih menekankan pada elemen pertunjukan. Singkatnya, ini
adalah sejenis sihir ritual.
Lagu yang
dimainkan menciptakan berbagai efek akustik, sehingga memungkinkan penggunanya
untuk menyentuh hati pendengar dengan lebih kuat.
……Begitulah kata
mantan Paus, Gitan.
Suara Holy King
pun pada akhirnya adalah 'suara'. Meski tidak menggunakan instrumen, hal itu
bisa dianggap sebagai bagian dari Lagu Iblis.
"……Aku
terkejut. Kau masih bisa bicara ya. 'Lagu Perdamaian' ini adalah gubahan lirik
dan melodiku sendiri. Sekali mendengarnya, niat bertarungmu akan hilang tak
bersisa. Seharusnya Raja Iblis yang merupakan gumpalan niat bertarung tidak
akan berdaya setelah mendengarnya. Aku dengar Raja Iblis generasi ini sangat kuat, dan ternyata itu benar.
Aku terkesan."
"Gu,
oooooo……!"
Seluruh
tubuh Behal gemetar hebat, namun ia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari
pun.
Sihir
memang tidak mempan terhadap iblis yang merupakan entitas mana, namun mereka
tidak kebal terhadap serangan yang bekerja langsung pada tubuh seperti teknik
pernapasan atau energi fisik.
Terlebih
lagi, Lagu Iblis yang dimainkan Holy King tampak seperti mengguncang entitas
mana itu sendiri. Efeknya benar-benar luar biasa.
"Waduh,
ini bukan waktunya untuk sekadar mengamati."
Aku sudah
berjanji akan menjaganya. Aku tidak bisa membiarkan Behal dikalahkan begitu
saja.
Sebelum
Holy King memberikan serangan pemungkas, aku mengaktifkan Sonic Barrier
menggunakan sihir atribut angin.
Ini
adalah barrier yang memutus suara dengan cara menggetarkan udara. Aku berniat
memutus melodi Holy King dengan ini.
Logikanya,
jika ritualnya dibatalkan, maka formula sihir ritual itu sendiri akan gagal.
Begitulah pikirku, namun──
"……?
Aneh. Tidak aktif……?"
Seharusnya
formula sihirnya sudah aktif. Namun, suara yang dimainkan Holy King tetap tidak
berhenti.
Ada
sesuatu yang mengganggu. Aku mengalihkan pandangan ke arah sumber formula sihir
yang melakukan pembatalan terhadap sihirku──
"Akhirnya
kau sadar juga. Dasar bocah linglung."
Suara itu
terdengar dari ruang hampa. Di saat yang sama, seorang pria jangkung muncul
dari kegelapan yang mencair.
Tatapan
matanya tajam menusuk, tubuhnya ramping namun berotot, dan rambut hitam
panjangnya berkibar tertiup angin. Saat ia menatapku dari atas, mata Grim dan Jiriel
membelalak.
"Mustahil……
kau…… bukannya kau sudah mati……!"
"I-Ini
jangan-jangan orang yang diceritakan Ren-tan, si……?"
"Gimzal……!"
Si pria
itu langsung tersandung jatuh sementara dua pengawalku tampak jijik. ……Eh? Aku
salah sebut ya.
Pria itu
bangun dengan sempoyongan, lalu menatapku lurus-lurus.
"GI-ZAR-ME! ……Masih saja jadi bocah tengik yang
menyebalkan."
Oalah, sepertinya memang itu namanya.
──Gizarme. Iblis yang dulu pernah mengambil alih tubuh Jade.
Dia cukup kuat, tapi seharusnya aku sudah menghanguskannya
sampai jadi abu dengan Void milikku. Kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini……?
Kemungkinan besar
ini adalah kekuatan sang Holy King, tapi……
"Wah, terima
kasih bantuannya, Gizarme. Tanpamu mungkin tadi akan berbahaya."
"……Cih,
kekuatan bocah ini malah bertambah dibanding sebelumnya……! Hei! Jangan malah
asyik mengobrol!"
"Aku tahu
kok, sebentar lagi selesai──!"
"Gugaaaaaaa!?"
──♪ Holy King
memejamkan mata dan fokus pada permainannya. Suara yang bergema perlahan semakin kuat dan
bertenaga.
Mana
hitam yang menyelimuti Connie, yaitu tubuh Behal, mulai terkikis dan menghilang
sedikit demi sedikit.
Mau bagaimana
lagi, sepertinya kami harus mundur untuk sementara.
"Maaf ya,
tapi untuk hari ini kami akan mundur."
"Hahaha,
kukira kau mau bicara apa. Kau pikir bisa lari semudah—"
Belum sempat
menyelesaikan kalimatnya, gerakan Holy King terhenti.
Aku menghasilkan
mana dalam jumlah besar dan menyebarkannya ke sekeliling.
Barrier yang
dibangun Behal ini memang memiliki kekerasan yang luar biasa, tapi strukturnya
sangat sederhana.
Karena si
pengguna sudah kehilangan kesadaran, menghancurkannya dengan kekuatan kasar
adalah hal yang memungkinkan.
"Luar biasa…… aliran mana yang sungguh mencengangkan. Kekuatannya mengingatkanku pada air terjun
yang ada di ujung dunia. Tak salah lagi, kau memang Pangeran Ketujuh yang
dirumorkan itu…… pantas saja kau masuk daftar orang yang harus diwaspadai oleh
Holy See. Kekuatanku dikhususkan untuk melawan iblis, efeknya lemah terhadap
manusia. Apalagi aku ini seorang pasifis. Aku tidak punya keinginan untuk
melanjutkan ini lebih jauh."
"Cih…… dia
memancarkan mana yang lebih dahsyat dari waktu itu……! Bukan itu saja,
ketelitian formulanya pun tidak tertandingi. Sialan…… aku tidak suka ini. Aku
ini bangsawan dunia iblis, Tuan Gizarme, tahu!? ……Yah sudahlah, selama tujuanku
tercapai, bocah ini bukan tandinganku. Untuk sekarang, akan kubiarkan kau
hidup……!"
Holy King dan Gizarme menggumamkan sesuatu, tapi aku tidak
terlalu peduli karena lebih mencemaskan Behal.
Dia tidak sadar dan tubuhnya tampak mengalami kejang-kejang
kecil.
Sepertinya aku
harus menahan diri dan merasakan Lagu Iblis itu di lain kesempatan.
Sangat
disayangkan, namun sambil merasa berat hati, aku menghantamkan mana dalam
jumlah besar ke barrier tersebut.
Gooooo! Suara ledakan menggema dan
retakan besar muncul di barrier.
"Sampai
jumpa."
──Paaan!
Terdengar suara seperti sesuatu yang meletus, barrier itu hancur berantakan dan
pemandangan kembali ke aula seperti biasa.
Begitu
kembali ke aula, kerumunan orang bersorak dengan sangat meriah!
"Waaaaaaa!"
Ah, benar
juga, pertunjukannya kan masih berlangsung. Holy King sepertinya juga sudah
kembali, ia memakai tudungnya lagi.
Ekspresinya
benar-benar biasa saja. Dengan senyum ramah yang tersungging di wajahnya, ia
pun ikut bertepuk tangan.
◇
Hujan
turun dengan derasnya.
Setelah
kejadian itu, rombongan Holy King menghilang entah ke mana.
Katanya
mereka pulang karena kunjungan kerja sudah selesai, tapi mungkin lebih tepatnya
karena tujuan mereka sudah tercapai jadi tidak ada urusan lagi di sini.
Faktanya,
setelah pertarungan itu, Behal bahkan tidak bisa menampakkan diri lagi.
"Bagaimana
kondisimu, Connie?"
Tanyaku
pada Connie yang terbaring di tempat tidur.
"……Aku
tidak bisa bilang kalau aku baik-baik saja."
Jawab
Connie sambil mengatur napasnya. Karena Behal kehilangan kekuatannya, Connie pun ikut menjadi sangat lemah.
"Bagian dalam tubuhku terasa cenat-cenut. Seperti nyeri
saraf. Tidak sampai sakit yang mematikan, tapi ini benar-benar menyiksa."
"Itu karena Connie berbagi 'wadah jiwa' dengan Behal. Luka yang ia terima otomatis menjadi
bebanmu juga. Mungkin tidak seberapa, tapi aku akan memberikan sihir penyembuh
untukmu."
Meski aku hanya
bisa sekadar meredakan rasa sakitnya saja.
Walau begitu,
wajah Connie tampak sedikit membaik setelah menerima cahaya penyembuh.
"Terima
kasih. Aku merasa lebih mendingan sekarang."
"Jangan
memaksakan diri. Ini belum menyelesaikan masalah utamanya."
Selama Behal
belum pulih, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Connie.
Sebagai tindakan
pencegahan, aku memintanya untuk libur dari pekerjaan pelayan.
Bagaimanapun,
stamina itu sangat penting.
"……Kau baik
sekali ya, Lloyd. Padahal
Behal sendiri yang mengamuk tanpa izin."
"Yah,
amukannya itu kan memang sudah biasa."
Habisnya, mereka
berdua adalah teman berharga—maksudku, subjek penelitian berhargaku. Aku akan
repot jika mereka tidak segera sembuh.
Grim dan Jiriel
menatapku dengan tatapan dingin, tapi aku mengabaikan mereka.
"Tapi
untunglah kita bisa kabur dari sana. Kalau sampai terjadi pertarungan
sungguhan, sejujurnya itu akan berbahaya."
"Pihak lawan
juga sudah terkuras staminanya, Tuan. Tapi yang lebih membuatku penasaran
adalah bangkitnya si Gizarme itu!"
"Iblis yang
dulu dikalahkan Lloyd-sama, ya. Sepertinya ia bangkit karena kemampuan Holy
King, tapi……"
"Ya. Bisa
menyudutkan Behal sampai seperti itu, dan bahkan membangkitkan Gizarme yang
sudah musnah, kita harus berasumsi bahwa jangkauan tekniknya sangat luas."
Biasanya, sihir
adalah teknik untuk mewujudkan berbagai fenomena menggunakan formula yang
mendetail.
Namun,
hal yang bisa dilakukan paling mentok hanyalah fenomena fisik sederhana.
Untuk
mereplikasi boneka yang bisa bergerak sendiri, bicara, bahkan memiliki kekuatan
tempur seperti Gizarme barusan adalah hal yang mustahil bagi sihir.
Paling
banter hanya bisa menggabungkan banyak formula untuk membuat sesuatu yang
'mirip' seperti itu.
"Fenomena sederhana kata Anda…… padahal Tuan sudah bisa
mengendalikan manusia dengan mana dan membelokkan ruang……"
"Bagi Lloyd-sama
itu mungkin hal sederhana. Tapi membangkitkan iblis yang sudah musnah itu
benar-benar sudah menyalahi hukum alam."
Aku sangat
tertarik untuk mengetahui bagaimana sistem kerjanya, tapi sekarang pemulihan
Behal adalah prioritas utama.
Dengan kondisi
Behal yang sangat lemah sekarang, tidak aneh jika ia tiba-tiba lenyap.
Untuk sementara
aku melindunginya dengan barrier, tapi masih banyak hal yang tidak kupahami
tentang Lagu Iblis, jadi lebih baik waspada.
"Tapi orang
itu benar-benar gila ya, bisa mengalahkan Behal sang Raja Iblis dengan semudah
itu……"
"Dikatakan
bahwa kekuatan Raja Iblis setara dengan Dewa. Berarti kekuatan Holy King itu
melampaui Dewa……?"
"Tidak.
Seperti yang dikatakan Behal, dia tidak memiliki kekuatan yang sederhana. Mana
miliknya sendiri sebenarnya rendah, dan gerakannya saat bertarung pun tidak ada
yang istimewa. Yang perlu diwaspadai hanyalah Lagu Iblisnya."
Meskipun
teknik itu memang luar biasa sih.
Jika Spell
Bundle memadatkan mantra, maka Lagu Iblis memberikan informasi dalam jumlah
besar dengan menumpangkan mana pada suara itu sendiri.
Jumlah
formula berbanding lurus dengan luasnya fenomena yang bisa diciptakan oleh
sihir.
Ditambah
lagi, Lagu Iblis menggunakan pendekatan yang berbeda dari sihir biasa, sehingga
efeknya sangat luar biasa bahkan terhadap iblis yang biasanya sulit ditembus
sihir.
Mengingat
ia hanya membawa satu Gizarme, sepertinya ada batasan tertentu.
Namun,
bagi lawan yang merupakan iblis, itu adalah teknik yang sangat fleksibel.
Sihir
Suci milik Gereja adalah teknik yang meminjam kekuatan surga melalui media
musik untuk menyembuhkan manusia dan membasmi kejahatan.
Kekuatan
itu memang sangat pantas bagi seseorang yang berdiri di puncak seperti Holy
King.
"Lagu Iblis, ya…… Hehe, ini membuatku
bersemangat."
Memang sedikit mirip dengan mantra suara, tapi efek dan
kekuatannya jauh berbeda.
Kemungkinan besar ia mendapatkan efek yang lebih besar
dengan menginterpretasikan ritme, nada, dan melodi sebagai formula sihir.
Mungkin ada rahasia lain di baliknya, tapi aku tidak bisa
tahu lebih detail hanya dengan melihatnya sekali. Hmm, aku ingin bertemu
dengannya lagi.
"Jangan malah bersemangat begitu, Lloyd-sama!
Kekuatannya saja sanggup membuat kami yang berada cukup jauh pingsan seketika!
Kalau sampai kena serangan telak lagi, aku tidak tahu apa yang akan
terjadi!"
"Benar! Bahkan Lloyd-sama sendiri kekuatannya sempat
tersegel cukup banyak saat itu. Bisa dibilang Behal sangat beruntung masih bisa
hidup. Omong-omong, bagaimana kondisi Behal sekarang?"
"Dia
sedang meringkuk di dalam Connie. Seperti sedang masuk ke dalam cangkang."
Entitas
mananya hampir seluruhnya terkikis, yang tersisa hanyalah bagian inti Behal
saja.
Itu pun
perlahan-lahan semakin melemah, jika dibiarkan saja bisa berbahaya.
"Muu,
padahal sihir penyembuh biasa tidak mempan terhadap entitas mana."
"Ya,
meskipun mereka kuat, itu karena ditopang oleh mana yang sangat besar. Jika
kehilangan mana sebanyak ini, pemulihan alami tidak bisa diharapkan."
Seperti kata
mereka berdua, entitas mana pulih dengan cara disuntikkan mana.
Namun, itu
hanyalah pengobatan kasar.
Jika mana di
sekelilingnya terkelupas hingga tersisa intinya saja, maka dibutuhkan proses
yang lebih halus, dan akan sulit untuk memberikan bantuan dari luar.
Terlebih lagi
jika subjeknya adalah Behal yang memiliki mana yang sangat masif.
Biasanya kita
hanya bisa menunggu ia pulih dengan sendirinya, tapi……
"Ada cara
lain──musik harus dilawan dengan musik."
Setelah mengamati
Lagu Iblis sang Holy King, aku mulai sedikit memahami logikanya.
Karena itu, Lagu
Iblis dengan sifat yang berlawanan──yaitu yang memiliki efek pemulihan,
seharusnya bisa kugunakan sekarang.
Aku tinggal
membedah sihir tipe penyembuhan, menjadikannya formula, lalu merangkainya
kembali menjadi sebuah lagu.
Mari kita lihat,
bagian ini diganti begini, lalu begitu…… oke, selesai.
"Ayo kita
coba. ──♪"
Aku menyanyikan
lagu yang kubuat secara improvisasi. Mendengar itu, Grim dan Jiriel sampai gemetar.
"Ooh…… suara apa ini yang begitu menggetarkan jiwa……
aku merasa kekuatan meluap-luap dari dasar tubuhku!"
"Efeknya terasa bahkan padaku yang seorang malaikat!
Rasanya luka dari Holy King tadi mulai sembuh……"
Hm, sesuai dugaan, efek penyembuhan terhadap entitas mana
juga didapatkan.
Kondisi
Behal pun sepertinya mulai stabil.
Sepertinya
ini cukup efektif. Setelah bernyanyi sejenak, aku berhenti.
"Eh? Kenapa
berhenti, Lloyd-sama?"
"Ya, aku
sudah tahu kalau ini efektif, tapi kalau hanya nyanyianku saja, pemulihannya
akan memakan waktu yang sangat lama."
Meskipun sudah
melewati masa kritis, mana milik Behal itu sangat besar.
Jika begini
terus, butuh waktu berbulan-bulan sampai ia pulih total.
Aku tidak punya
waktu luang sebanyak itu, jadi ini bukan cara yang praktis.
"Daripada
itu, akan lebih efisien jika Isha dan yang lainnya yang menyanyi."
Suara Isha yang
berhasil naik pangkat menjadi Paus hanya dengan modal nyanyian memiliki
kekuatan yang bahkan membuatku terkesan.
Aku akan membuat
lagu dengan tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi, meminta Isha
menyanyikannya, lalu ditambah dengan iringan musik Saria.
Dengan begini,
efeknya pasti akan meningkat pesat. Inilah yang disebut menempatkan orang yang
tepat di tempat yang tepat. Hmm, hmm.
"Begitu ya,
jika mereka berdua, mereka pasti bisa membawa lagu buatan Lloyd-sama ke tingkat
yang lebih tinggi lagi. Ide yang luar biasa, Tuan!"
"Ya, ya
benar sekali! Membayangkan lagu yang luar biasa itu dimainkan oleh Isha-tan dan
Saria-tan…… ah! Membayangkannya saja sudah membuatku menangis……!"
"Kau ini…… masih saja menjijikkan ya……"
Grim tampak jijik melihat Jiriel yang menangis.
Mereka berdua yang selalu ingin melibatkanku dalam hal musik
pasti akan dengan senang hati menerimanya.
Dan Lagu Iblis ini, jika diatur dengan baik, tidak hanya
bisa digunakan untuk pemulihan, tapi juga efek-efek lainnya.
Jika aku memahami ini dengan benar, aku bisa menerapkannya
ke dalam sihir juga. Wah, aku jadi semakin bersemangat.
"Pokoknya, lebih cepat lebih baik. Sampai jumpa Connie,
tidurlah yang nyenyak!"
"Ah,
baik. Hati-hati di jalan."
Aku pun
melangkah menuju gereja dengan perasaan gembira.
◇
Aku
mengunjungi kantor pusat Gereja.
Di dalam
area yang sangat luas itu, banyak penganut yang sedang berdoa dengan khusyuk.
Terakhir
kali aku ke sini adalah saat bertarung melawan Gitan.
Kalau
dipikir-pikir, sudah cukup lama juga ya.
"Ngomong-ngomong,
ini pertama kalinya aku ke sini sejak Isha menjadi Paus."
"Sesekali
berkunjunglah ke sini, Tuan. Jangan selalu pihak sana yang mendatangi
Anda."
"Lloyd-sama
kan pada dasarnya memang mengabaikan hal-hal yang tidak beliau minati. Kalau
aku sih sering mengintip ke sini!"
Ya habisnya tidak
ada gunanya juga datang kalau tidak ada urusan.
Isha tidak
terlalu paham soal sihir suci, jadi Gitan jauh lebih berguna untuk mendapatkan
informasi.
Karena itulah aku
tidak punya alasan kuat untuk mengunjungi tempat ini. Tapi karena mereka sudah
banyak membantuku, mungkin memang sesekali aku harus menampakkan muka.
Tapi masalahnya,
Isha itu suka sekali tiba-tiba memelukku, jadi agak merepotkan.
Sambil memikirkan
hal itu, akhirnya aku sampai di depan ruangan Paus.
"Aku masuk
ya."
Begitu aku
membuka pintu dan menyapa, Isha sedang duduk di sofa di bagian dalam ruangan.
Oh, dia ada di
sana. Menyadari
keberadaanku, ia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
"……Sepertinya
ada yang aneh. Biasanya dia langsung lari menghampiri kalau melihat wajah
Tuan."
"Benar,
lalu langsung mendekap Anda dengan dadanya yang melimpah itu……"
Memang
aneh. Kenapa dia tidak bicara ya?
Sambil
merasa heran, aku melihatnya memberikan isyarat tangan menyuruhku mendekat.
"Isha?"
"……Maaf,
suaraku tidak mau keluar. Uhuk, uhuk."
Ujarnya dengan
suara yang sangat lemah dan nada meminta maaf. Suaranya serak dan ia tampak
kesulitan bicara.
"Sebenarnya
beberapa hari lalu, karena menyanyi di depan Holy King, tenggorokanku jadi
sakit…… uhuk."
Benar juga, waktu
itu suara nyanyian Isha memang menghasilkan performa berkali-kali lipat dari
biasanya. Tidak aneh jika suaranya sampai habis.
"Ah, itu…… apa kau tidak apa-apa?"
"Kondisi
tubuhku tidak masalah, tapi…… rasanya sedih sekali tidak bisa menyanyi."
Gumam Isha sambil
menghela napas panjang.
"Dia itu kan
selalu menyanyi setiap ada kesempatan. Tidak bisa menyanyi pasti membuatnya stres
berat."
"Aduh,
kasihan sekali Isha-tan! Lloyd-sama, tidak bisakah Anda membantunya?!"
Tanpa diminta pun
aku memang berniat membantunya.
Lagipula
tujuannya aku ke sini memang karena menginginkan nyanyian Isha.
Tapi kalau aku
menyembuhkannya secara terang-terangan dengan sihir, itu akan terlalu mencolok,
jadi lebih baik secara diam-diam…… Tepat saat aku menyentuh tenggorokan Isha dan hendak mengaktifkan sihir
penyembuh.
"Sudah
jadi, Isha."
Pintu
terbuka dan yang masuk adalah Babylon dan kawan-kawan dari Lordst.
Begitu melihatku,
mata mereka semua membelalak kaget.
"Oya, Lloyd-sama,
sedang apa Anda di sini?"
"Aku
ada urusan dengan Isha…… tapi kalian sendiri sedang apa?"
"Kami
dengar tenggorokannya sedang sakit."
Kalau
diperhatikan, mereka semua memakai celemek. Di atas kereta dorong yang didorong
Galilea, terdapat banyak tumpukan masakan.
"Aku
dengar dari Babylon kalau tenggorokan Isha sakit, jadi aku langsung
datang."
"Dulu
saat tenggorokan Crow sakit karena terlalu sering menggunakan mantra suara, aku
sering membuatkan masakan. Asal tahu saja, masakanku ini sangat manjur
lho~"
Mendengar
kata-kata Crow dan Talia, Babylon menggaruk pipinya dengan malu-malu.
"Begitulah.
Silakan dimakan, Isha."
"──!"
Isha
berlari menghampiri mereka, menggenggam tangan mereka dengan mata berkaca-kaca.
Ia
membungkuk berkali-kali dan mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang
serak.
"Jika Lloyd-sama
berkenan, bagaimana kalau ikut makan juga?"
"Boleh juga,
aku akan mencicipinya."
Kebetulan aku
juga mulai lapar. Sepertinya ada makanan manis juga, jadi aku akan ikut minta
sedikit.
"Ada pancake
madu dengan banyak jeli persik, teh jahe segar, dan puding ya. Isinya banyak
sekali hal-hal yang bagus untuk tenggorokan."
"Ooh! Mata
Isha-tan sampai tidak bisa lepas dari makanannya! Air liurnya bahkan sampai
menetes!"
"Ya,
kelihatannya sangat enak."
Aku pun sangat
menyukai makanan manis. Meskipun tenggorokanku tidak sakit, tidak ada salahnya
aku menerima tawaran mereka. Setelah menikmati waktu minum teh sejenak.
"Sudah
sembuuuuuuuh♪"
Isha mulai
menyanyi sambil mengangkat kedua tangannya.
Ia tidak tampak
memaksakan diri, suaranya sudah kembali seperti biasa.
"Ini berkat
kalian semua. Terima kasih banyak."
"A-Ah…… tapi sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri
dulu ya."
"Baik!"
Jawab Babylon yang tampak agak bingung karena kedua
tangannya digenggam erat oleh Isha.
Isha tampak sangat senang hingga ia secara alami
menyenandungkan melodi. Sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya. Syukurlah kalau
begitu.
"Tapi ini sebenarnya berkat sihir penyembuh Lloyd-sama
kan!?"
"Mana mungkin sembuh secepat itu hanya dengan masakan,
seberapa berkhasiat pun itu bagi tenggorokan. Orang-orang Lordst itu juga mulai
curiga!"
Kalau diperhatikan, selain Isha, semua orang memberiku
tatapan penuh curiga.
Ya ampun, padahal aku sudah memberikan kesempatan bagi
mereka untuk tampil sebagai pahlawan. Benar-benar orang-orang yang peka.
"Ini
semua berkat Babylon-san dan yang lainnya!"
Berbeda
dengan yang lain, Isha menunjukkan senyum yang sangat cerah.
Sebuah
kemurnian yang luar biasa, bahkan tanpa terpikir untuk curiga sedikit pun.
Benar-benar deh,
aku ingin mereka semua mencontoh kemurnian hati Isha ini.
◇



Post a Comment