NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji Volume 2 Part 3


Lalu setelah bermalam, keesokan harinya.

Kami berjalan kaki menuju kediaman Penguasa Roadst tanpa menggunakan Flight karena beban fisiknya terlalu berat bagi selain Ren.

Berkat itu, perjalanan memakan waktu lama dan kami tiba hampir sore hari. Waktu yang pas.

Kediaman Penguasa Roadst terletak di atas bukit yang jauh dari kota. Penampilannya yang dikelilingi tembok pertahanan dan sungai benar-benar menyerupai benteng yang kokoh.

Sesuai dengan reputasi penguasa yang haus perang.

Katanya tempat ini belum pernah jatuh sekali pun meski sudah beberapa kali terlibat perselisihan dengan negara lain.

"Ngomong-ngomong…… suasananya agak ramai ya."

Saat kami mendekat sambil bersembunyi, kediaman itu tampak terang benderang, dan aku bisa merasakan kehadiran banyak orang bahkan dari kejauhan.

"Pasti mereka sedang menyiapkan penyambutan untuk kita!"

"Semoga saja begitu…… yah, diam di sini juga tidak ada gunanya."

Setelah berkata begitu, Galilea melangkah keluar dan mulai berjalan menuju pintu masuk.

"Biar aku sendiri yang pergi mengecek. Kalau ada apa-apa aku akan segera kabur."

Begitu mengatakannya, kehadiran Galilea tiba-tiba menipis.

Ooh, ini sama seperti saat Ren menyelinap ke istana.

Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia menutup total Mana yang biasanya bocor sedikit dari tubuhnya.

Kalau diperhatikan lagi, ini teknik yang hebat. Bagi penyihir yang selalu berpikir cara mengolah Mana, menutupnya secara total adalah hal yang sulit.

Manusia biasa pun mengeluarkan Mana secara tidak sadar, dan para ahli kabarnya bisa melacak kehadiran yang sangat tipis itu.

Sebaliknya, itu berarti jika kebocoran Mana ditutup, seorang ahli pun tidak akan bisa menyadari kehadirannya. Kapan-kapas aku harus mencobanya.

Selagi aku memikirkan itu, Galilea menjulurkan benang laba-laba dari tangannya ke tembok benteng, lalu memanjatnya dengan lincah.

Dia melompat dari satu atap ke atap lainnya. Benar-benar seperti laba-laba.

Dalam sekejap Galilea sampai di kediaman itu dan mengintip dari jendela. Setelah mengobservasi beberapa saat, dia kembali.

"Sepertinya mereka memang sedang menyiapkan pesta. Ada prajurit juga, tapi senjatanya minimal. Sepertinya kita benar-benar disambut."

"Hmm…… mau tidak mau kita harus masuk."

Bagaimanapun juga, sudah sampai di sini tidak mungkin untuk putar balik. Kami berjalan lurus menuju gerbang.

Prajurit yang ada di sana menyambut kami dengan wajah ramah.

"Selamat datang. Rekan-rekan Tuan Jade, ya? Silakan masuk ke dalam. Persiapan pesta sudah selesai."

"……Terima kasih."

Di luar dugaan, kami dipersilakan masuk begitu saja.

Di dalam, banyak prajurit yang sedang berbincang dengan santai.

Di meja-meja berjejer banyak makanan mewah dan minuman keras.

"Tuan kami berpesan agar kalian silakan menikmati hidangan sambil menunggu," kata salah satu pelayan.

"Ohooo! Ini luar biasa! Hidangan yang sangat mewah!"

"Ada minuman yang belum pernah kulihat juga!"

"Boleh makan apa saja sesuka hati? Kuku, murah hati sekali ya. Luar biasa."

"……Kelihatan enak."

Atas saran prajurit, Galilea dan yang lainnya mulai makan.

Sepertinya mereka sangat lapar. Makannya lahap sekali.

"Tuan Lloyd, rasanya ada yang tidak enak ya……"

"Iya, aromanya tercium seperti sesuatu yang menarik akan terjadi."

Konsentrasi Mana yang melayang di sekitar sini sangat tinggi.

Bahkan dari para prajurit pun, aku merasakan Mana yang tidak seperti manusia biasa.

Dan yang terpenting, ada kehadiran aneh yang terpancar dari lantai paling atas. Apa pun bisa terjadi di sini.

"Maksud saya, mereka makan dengan lahap begitu padahal bisa saja ada racun, apa tidak apa-apa?"

"Aku sudah mengecek dengan Appraisal, sepertinya tidak ada racun. Para prajurit juga ikut makan, jadi kurasa bagian itu tidak masalah."

Sihir sistem analisis, Appraisal, bisa mendapatkan informasi tentang segala benda.

Jika ada racun, aku akan langsung tahu. Walaupun aku sendiri tidak berniat untuk makan, sih.

Selagi aku mengobservasi sekitar, salah satu prajurit menyapa.

"Oya, kenapa Anda tidak minum?"

"あいにくと喉が渇いていなくてね (Maaf, kebetulan aku tidak haus)."

"Oya! Sayang sekali! Ini anggur terbaik yang bisa didapat di daerah ini! Ah, nikmat sekali!"

Prajurit itu menenggak anggurnya dengan riang.

Cairan merah pekat menetes dari sudut mulutnya.

Fokus mata prajurit itu tidak jelas, dan pemandangan dia menenggak anggur sambil tertawa itu terasa sangat mengerikan.

Bukan cuma prajurit ini, yang lainnya pun menunjukkan gelagat serupa.

"Lloyd, rasanya menyeramkan……"

Ren mendekat ke arahku. Sepertinya dia juga menyadari keanehan ini.

"Jelas-jelas ini berbahaya. Sesuatu sedang terjadi. Kenapa semuanya tidak sadar?"

"Mereka mungkin sedang mabuk karena Mana aneh yang melayang di sekitar sini."

Mana kuat yang dikeluarkan seseorang.

Orang yang tidak punya ketahanan pasti tidak akan bisa menjaga kesadarannya dengan benar.

Ren baik-baik saja mungkin berkat kondisi uniknya yang mencegah segala macam gangguan kesehatan.

Pemandangan aneh, situasi aneh, di tengah semua itu, kehadiran di lantai atas mulai bergerak.

Perlahan turun ke bawah, menuruni tangga.

Begitu suara langkah kaki terdengar dan sesosok bayangan muncul, aula yang tadinya bising mendadak senyap seketika.

"Ya, ya, selamat datang. Rekan-rekanku."

Dia adalah seorang pemuda berambut hitam panjang dengan mata yang sehitam jelaga.

"Jade……?"

Ren bergumam pelan.

Wajahnya bukan menunjukkan ekspresi saat melihat rekan yang dipercaya, melainkan tampak diwarnai oleh kebingungan dan ketakutan.




Jade tersenyum saat melihat Galilea dan yang lainnya sedang makan dan minum dengan lahap.

"Jade!"

Ren memanggilnya dengan wajah cemas.

"Itu... pertama-tama, selamat. Dan terima kasih sudah mengadakan pesta semegah ini. ...Suasananya memang agak berubah sih, tapi kamu kan sekarang sudah jadi penguasa wilayah. Jadi mau bagaimana lagi."

Ren berusaha merangkai kata sambil memaksakan senyum, namun ekspresinya segera melemah.

Wajar saja. Tatapan yang diarahkan Jade kepada Ren terasa sangat dingin.

Ren merasa seolah akan hancur oleh tekanan tanpa kata itu, namun dia memantapkan tekad dan menatap lurus ke depan.

"Jade, bicaralah! Mungkin ini tidak sopan di tengah pesta, tapi tentang semua yang terjadi sampai sekarang, tentang masa depan, apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu rasakan... aku ingin kamu menceritakan semuanya! Seperti dulu lagi! ...Aku merasa sangat cemas. Tolong, jangan menatapku dengan mata sedingin itu..."

Di akhir kalimat, suaranya nyaris menghilang.

Melihat hal itu, Jade malah menyunggingkan senyum.

"Aduh, aduh. Babi ini... atas izin siapa dia berani angkat bicara?"

Bertolak belakang dengan nada bicaranya yang lembut seolah sedang menasihati, kata-kata Jade justru terdengar sangat menusuk.

Di sekitar Ren yang menampakkan wajah tidak percaya, energi sihir dalam jumlah besar tiba-tiba berkumpul dengan sangat padat.

"Ka, ha... hgh!"

Ren berlutut akibat kepekatan sihir yang seharusnya tidak bisa membuat manusia bertahan hidup.

Sambil mengatur napas yang tersenggal, dia mendongak menatap Jade.

"Ja, de...?"

"Hoo, padahal aku memberikan tekanan dengan niat membunuh... Jadi begitu, inikah yang disebut Cursed? ...Hmm, kalau tidak salah namamu Ren, ya? Cursed yang menyemburkan racun."

Jade menatap Ren seolah sedang melihat binatang langka yang aneh.

"Lalu ada Galilea, Talia, Babylon, Crow... Ya, mereka semua adalah orang-orang yang dulu dipimpin oleh Jade. Aku mulai mengingatnya sekarang."

Jade mengalihkan pandangannya satu per satu. Terlihat Galilea dan yang lainnya sudah tergeletak pingsan.

Sepertinya mereka terkena dampak dari energi sihir yang dikumpulkan tadi.

Mereka tidak mati, tapi kehilangan kesadaran.

"Se...muanya...? Jade! Apa... yang kamu katakan...?"

Ren tampak kebingungan melihat Jade yang membicarakan teman-temannya—bahkan dirinya sendiri—seolah-olah itu urusan orang lain.

Jade... bukan, sosok itu bukanlah manusia.

Melihat Ren yang kebingungan, dia tertawa geli.

"Ah-ha-ha! ...Begitu ya, begitu ya. Benar juga. Pasti menyedihkan kalau harus lenyap tanpa tahu apa-apa. Baiklah, karena aku sedang bersemangat, akan kuberitahu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ini."

Dia menyeringai lebar, lalu melanjutkan kata-katanya.

"──Jade yang memimpin kalian sudah mati. Akulah yang membunuhnya dan merebut tubuh ini. Kemampuan dan ingatannya tentu saja sudah menjadi milikku. Kamu pasti mengerti setelah melihat isi surat yang kukirim kemarin, kan? Itu kutulis menggunakan sisa ingatan Jade yang ada di tubuhku. Bagaimana, tulisan tangannya benar-benar sama, kan?"

"B-Bohong!"

"Bukan bohong. Lagipula... kekeke, bukankah dirimu sendiri juga sadar kalau itu adalah kenyataan? Makanya wajahmu jadi pucat pasi begitu."

"...ugh!"

Melihat Ren menggigit bibir dengan wajah pucat, dia menyipitkan mata dengan riang.

Merebut tubuh... kalau begitu, makhluk ini adalah Demonic Spirit, ya?

Demonic Spirit tidak memiliki wujud fisik, karena itulah mereka punya kekuatan untuk merasuki tubuh manusia atau makhluk lain dan menjadikannya milik mereka.

"Ngomong-ngomong, mungkin ini sudah tidak penting lagi, tapi isi surat itu benar adanya. Jade adalah putra ketiga dari bangsawan di sini, dan dia memanfaatkan kalian demi membunuh orang tua serta saudara-saudaranya yang mengganggu. Sepertinya benar kalau dia berniat memanggil kalian kembali setelah semuanya beres. Tapi sebelum itu terjadi, aku muncul. Dia adalah Cursed yang sangat unik. Aku menginginkan itu, jadi aku datang jauh-jauh ke sini. Dia sempat melakukan berbagai perlawanan... tapi ya, jadinya begini. Jade sudah menjadi aku."

"Tidak mungkin...!"

Mata Ren langsung diwarnai oleh keputusasaan.

"Oh iya, kudengar saat aku sedang tertidur, Jade berkeliling melakukan berbagai insiden menggunakan nama kalian. Kemungkinan besar dia sengaja membiarkan dirinya ketahuan dan terlihat seperti mengkhianati kalian agar kalian tidak mendekat ke tempat ini. Wah, cerita yang mengharukan, bukan? Memeras sisa kesadaran terakhirnya yang nyaris hilang demi membiarkan teman-temannya kabur. ...Tapi itu tidak terwujud. Sekarang kesadaran Jade sudah tenggelam sepenuhnya di dalam diriku, dan tubuh ini sudah resmi menjadi milikku sepenuhnya. Ahahahaha!"

Setelah mengatakan itu, dia mulai tertawa terbahak-bahak.

Para prajurit pun ikut tertawa.

"Hahahahahahahahahahahahahahahaha!"

Saat dia mengangkat tangan, para prajurit langsung berhenti tertawa.

"Sebagai informasi, para prajurit ini tubuhnya sudah dirasuki oleh bawahanku, para Demonic Spirit yang kubawa dari dunia iblis. Karena sudah jauh-jauh sampai ke sini, aku berpikir ingin menghancurkan satu atau dua negara sebagai ajang uji coba kemampuan sebelum pulang. Hari ini bisa dibilang sebagai pesta malam pembukaannya."

"Kamu berniat... memulai perang...?"

Padahal Jade adalah orang yang paling menjunjung tinggi penghentian perang, tapi sekarang Ren dan yang lainnya malah dipaksa melakukan hal yang sebaliknya.

Ren menatap tajam sosok itu dengan penuh rasa sesal.

Darah merembes dari bibir yang digigitnya.

"Benar. Ini adalah pesta pembantaian yang membuat darah mendidih dan daging menari. Bergembiralah, karena kalian juga bisa berpartisipasi. Aha!"

Dia mengibaskan jubahnya dan menyingsingkan lengan baju.

Di lengan kurusnya itu, terlihat beberapa wajah manusia berwarna hitam yang muncul di permukaan kulit.

"Nah, mari kita masuk ke topik utama. Alasan aku memanggil kalian para Cursed hanya satu, yaitu tubuh kalian. Demonic Spirit dan Cursed memiliki kecocokan yang sangat luar biasa. Kalian akan menjadi kekuatan tempur yang hebat. Aku akan menjadikan kalian wadah bagi para bawahanku yang kubawa dari dunia iblis! Hahahahahaha!"

Sekali lagi, dia tertawa lebar.

Ren menundukkan wajahnya dalam keputusasaan sambil berlutut.

Di tengah situasi itu, matanya bertemu dengan mataku.

"Oh, kamu... kenapa kamu terlihat biasa saja saat menerima tekananku? Lancang sekali. Berlututlah."

Dia berkata demikian sambil mengumpulkan energi sihir di sekitarku.

Energi sihir yang lebih pekat lagi berputar membentuk pusaran dengan aku sebagai pusatnya... tapi, aku tidak merasa terganggu sama sekali.

Seberapa tinggi pun tekanan sihir di sekitar ditingkatkan, jika konsentrasi sihir milik sendiri lebih tinggi, maka tidak akan ada pengaruhnya.

"Hmm... ini mengejutkan. Padahal aku memberikan tekanan yang bisa membuat manusia biasa menjadi daging cincang dalam sekejap. Sebenarnya kamu ini apa?"

"Hanya seorang pangeran. Pangeran ketujuh."

"Pangeran ketujuh... Ah, sepertinya aku pernah mendengarnya sedikit. Kalau tidak salah namanya Lloyd de Saloum. Meskipun seorang pangeran, dia memiliki bakat sihir yang luar biasa, dan merupakan orang aneh yang tidak ragu untuk bekerja keras. Dia melakukan berbagai riset sihir orisinal, dan target risetnya sangat luas. Jade sangat ingin bertemu dengannya. Dia juga meneliti sihir demi mengendalikan kemampuannya sendiri, jadi sepertinya dia ingin mendengar ceritanya."

"Kebetulan sekali. Aku juga begitu... tapi kau telah menghancurkannya."

"Sayang sekali ya~ ♪"

Aku menatap tajam ke arahnya yang tertawa geli.

Sialan... dia sudah merenggut kesempatanku untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berharga seperti Jade.

Jika aku bisa bertemu dan mengobrol dengannya yang punya pengetahuan mendalam tentang sihir dan kemampuan khusus, mungkin akan tercipta cara penggunaan kemampuan baru atau kombinasi dengan sihir.

Ditambah lagi soal perang? Kalau itu terjadi, sumber daya manusia berharga yang belum kukenal bisa saja mati.

Berani-beraninya dia bertingkah semaunya di negeri orang... seberapa berharganya pun dia sebagai objek penelitian, aku tidak akan memaafkannya.

"...Kalau tidak salah, Demonic Spirit bisa dikalahkan jika dihujani dengan sihir dalam jumlah besar, kan?"

Sihir memang tidak mempan secara langsung pada Demonic Spirit, namun mereka akan menerima kerusakan kecil dari gelombang kejut yang dihasilkan saat sihir tersebut aktif.

Oleh karena itu, jika dihujani sihir dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi, mereka bisa dikalahkan tanpa masalah.

"Mugh!?"

Aku menyelimuti tubuhnya dengan Barrier, lalu memasukkan sihir dalam jumlah besar ke dalamnya.

Dan, aktifkan.

Dododododododo! Sihir yang tak terhitung jumlahnya aktif di dalam Barrier.

Dia tertelan oleh ledakan asap yang terjadi terus-menerus.

Mungkin aku sudah menembaknya selama puluhan detik. Perlahan, asapnya mulai menipis.

"...Hmm, memang jumlah pengembangan formula sihir yang luar biasa. Baik kecepatan maupun kekuatannya tidak ada keluhan. Sepertinya tidak banyak penyihir sehebat dirimu."

Dia muncul dari balik asap.

Tubuhnya seperti kumpulan kabut dan tidak memiliki wujud fisik.

Benar-benar Demonic Spirit... tapi apa maksudnya sihirku tidak mempan?

Saat aku sedang memutar otak, tiba-tiba aku menyadari telapak tanganku gemetar sedikit.

"Gawat... kenapa makhluk ini ada di tempat seperti ini...!? T-Tidak mungkin...!"

"Ada apa, Grim?"

"Lebih baik kita segera kabur. Tuan Lloyd, dia bukan Demonic Spirit... dia adalah Demon!"

──Demon, mereka adalah kaum yang tinggal di luar daratan tempat kami tinggal, di seberang samudra luas, di tempat yang disebut Dunia Iblis.

Mereka adalah keberadaan seperti bencana yang sesekali muncul dalam sejarah manusia, meninggalkan luka yang mendalam, lalu menghilang begitu saja sesuai suasana hati.

Kemunculan terakhir mereka adalah lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, di mana penyihir agung saat itu memimpin pasukan besar untuk menghadapinya.

Setelah pertempuran sengit, mereka berhasil dipukul mundur, namun penyihir tersebut tewas, pasukannya hancur setengahnya, dan beberapa negara musnah.

Dalam buku yang mencatat kejadian saat itu, kalau tidak salah tertulis begini:

"──Keberadaan yang memimpin para Demonic Spirit, memiliki kekuatan sihir yang tinggi serta tubuh yang kuat, dan menunjukkan kekuatan yang dahsyat... begitu kan? Jadi maksudnya, Demonic Spirit itu bawahannya Demon?"

"Hah, jangan bicara sembarangan. Bagi mereka, kami ini hanyalah budak. Bukan, sudah seperti ternak. Sebagian besar Demonic Spirit di daratan ini adalah pelarian yang kabur dari sana. Termasuk aku juga."

Grim berkata seolah meludah.

"Demonic Spirit punya peringkat dari kelas satu sampai sepuluh. Sebagai informasi, aku kelas tiga dan Pazuzu kelas delapan. Perbedaan kelas adalah perbedaan kekuatan tempur. ...Tapi, Demon adalah keberadaan yang jauh di luar itu. Bahkan jika kau mengumpulkan seratus Demonic Spirit kelas satu pun, mereka tidak akan bisa berkutik di depan Demon. Istilahnya, Demonic Spirit itu rakyat jelata, sedangkan Demon adalah kaum bangsawan. Jumlah mereka sedikit, tapi mereka punya kekuatan yang mutlak. Biarpun itu Tuan Lloyd, situasinya terlalu buruk..."

Hoo, jadi mereka adalah kelompok yang sampai membuat Grim bicara sejauh itu.

Karena disebut Demon, pasti mereka punya satu atau dua teknik hebat yang disembunyikan.

Kedengarannya menarik, bukan?

"Kenapa Tuan malah terlihat sangat bersemangat begini!?"

"B-Benarkah?"

Grim langsung protes.

Apa aku memang memasang wajah seperti itu? ...Mungkin saja sih.

"Pokoknya dia itu sangat berbahaya! Lebih baik kita cepat kabur!"

"Aduh, aduh. Kupikir ada hawa yang aneh... ternyata kamu menyimpan Demonic Spirit di dalam tubuhmu? Terlebih lagi, kamu tidak dikendalikan, melainkan malah memperbudaknya. Benar-benar Demonic Spirit yang memalukan. Sebagai sesama penghuni Dunia Iblis, aku sangat malu."

Dia bergumam sambil menuruni tangga.

"Siapa namamu?"

"Hmm... baiklah. Sepertinya kamu bukan sekadar babi biasa. Kamu berhak mendengar namaku. Namaku adalah Guizarm Reil Walhenvach. Seperti yang dikatakan Demonic Spirit itu, aku adalah Demon yang penuh kebanggaan."

"Penuh kebanggaan, ya? Merendahkan orang lain tanpa pikir panjang adalah bukti kalau kau tidak percaya diri. Kau hanyalah wadah kosong dengan harga diri yang membengkak. Orang yang benar-benar bangga tidak akan merendahkan orang lain meskipun status mereka lebih rendah. ...Ngomong-ngomong, ini adalah prinsip pendidikan di rumahku."

Sylpha sering menasihatiku tentang hal ini.

Yah, karena di kehidupan sebelumnya aku adalah rakyat jelata, sedari awal aku memang tidak pernah merendahkan orang lain.

Mendengar perkataanku, Guizarm menyeringai dengan sudut mulut yang miring.

"...Berani juga bicaramu. Baiklah. Sekarang, kamu punya kewajiban untuk menghiburku. Aku akan melakukan apa pun yang kumau—jadi jangan mati terlalu cepat, ya?"

Guizarm perlahan mengangkat ujung jarinya.

Apa itu? Ujung jari itu terasa aneh.

Saat aku mempertajam penglihatan, terlihat ujung jari Guizarm bersinar hitam.

Seketika, cahaya hitam itu melesat menuju dadaku.

Serangan!? Tapi Magic Barrier otomatisku tidak aktif—!?

Seharusnya Magic Barrier bereaksi terhadap serangan apa pun dan langsung aktif seketika.

Meskipun begitu, kenapa serangan ini tidak memicu reaksi sama sekali? Apa logikanya?

Sesaat aku merasa ingin mencoba menerima serangan itu, tapi aku menyadari ada prajurit yang dirasuki Demonic Spirit tepat di belakangku.

Baiklah, biarkan dia saja yang menerimanya. Hup.

"Gugyaa!?"

Cahaya hitam itu menembus dada sang prajurit.

Tubuhnya kejang sesaat, lalu prajurit itu tumbang dan tidak bergerak lagi.

"...Mati?"

Aku mencoba menyenggolnya dengan kaki, tapi dia tetap tidak bergerak.

Coba kulihat dengan Appraisal, tidak ada luka luar atau pendarahan, hanya jantungnya saja yang berhenti dengan rapi.

"Meskipun ada Demonic Spirit di dalamnya, dasarnya adalah manusia. Jika tubuh aslinya mati, Demonic Spirit itu juga akan ikut mati."

Muu, beraninya dia membunuh bawahannya sendiri.

Yah, itu juga gara-gara aku menghindar sih.

"Lupakan soal itu... serangan tadi, sepertinya kau hanya menembakkan energi sihir saja."

"Ya, benar sekali. Demon itu bisa mengendalikan energi sihir yang ada di atmosfer sesuka hati hanya dengan niat... kemungkinan dia tadi hanya meniatkan 'Matilah'."

Dengan kata lain, kemampuan untuk menimbulkan fenomena secara langsung tanpa melalui formula sihir.

Alasan kenapa kerusakan akibat melukai diri sendiri milik Talia, kutukan kata-kata Crow, dan kabut racun Ren tidak bisa ditahan oleh Magic Barrier adalah karena hal-hal itu tidak dimanifestasikan ke dunia ini melalui formula sihir.

Jika energi sihir diibaratkan air, maka Magic Barrier itu seperti saringan. Meskipun bisa menahan benda yang memiliki bentuk, air tetap akan melewatinya begitu saja.

"Begitu ya, jadi energi sihir yang dikendalikan Guizarm adalah versi lebih kuat dari kemampuan Ren dan yang lainnya."

"Apa...?"

Guizarm bereaksi terhadap perkataanku.

"Tadi aku mendengar kata-kata yang tidak bisa diabaikan... Kau bilang kekuatanku sama dengan kekuatan babi-babi itu?"

"Apa tidak?"

"Sangat berbeda!"

Nada bicaranya yang tenang tadi menghilang entah ke mana, Guizarm tiba-tiba meledak marah.

"Ini adalah teknik milik kaum Demon yang agung! Membandingkannya dengan kemampuan yang digunakan babi-babi itu saja sudah sangat lancang! Sedari awal, apa yang kalian sebut sihir 'itu' juga hanyalah versi cacat dari kekuatan yang kami para Demon gunakan!"

"Oi, oi, jangan bicara begitu. Sihir juga sudah sangat berkembang pesat dibanding dulu, lho. Jangan terlalu meremehkannya."

"Hmph... pengendalian sihir lewat formula? Itu hanyalah sekadar meniru dan tipuan anak kecil! Kalau begitu, coba lawan kekuatanku dengan apa yang kau sebut sihir itu!"

Guizarm menyeringai, lalu mulai mengumpulkan energi sihir di seluruh tubuhnya.

Lalu, lepaskan.

Energi sihir yang dilepaskan mendarat di bawah kakiku, membentuk bilah tajam dan menjalar ke arahku.

"Oups."

Tapi hal-hal yang dimanifestasikan sebagai materi fisik bisa ditangkis dengan Magic Barrier.

Saat aku menangkis semuanya dengan ringan, terlihat energi sihir di bawah kaki berkumpul di satu titik.

Itu menjadi gumpalan besar seperti Spear, dan menusuk ke arahku.

Ini cukup kuat. Sepertinya tidak bisa ditahan hanya dengan Magic Barrier biasa.

Kalau begitu, aku akan membalasnya.

"Vibrating Rock Fang."

Seiring dengan kata-kataku, taring batu raksasa muncul dari bawah kaki.

Taring batu itu bertabrakan dengan Magic Spear dan saling meniadakan.

"Hmph, apa kau pikir itu sudah berakhir?"

Saat Guizarm menggerakkan ujung jarinya, Magic Spear yang hancur berkumpul kembali.

Mugh, lumayan cepat ya. Balasan dengan sihir tidak akan sempat.

Magic Spear yang mendekat menembus Magic Barrier yang aktif secara otomatis.

Gagagagaga! Lima lapis Magic Barrier yang aktif berturut-turut hancur seketika.

Lalu—Gatun! Serangan itu tepat mengenai dadaku.

"Lloyd!?"

Ren berteriak dengan suara pilu.

Tapi, aku tidak apa-apa.

Magic Spear tadi aku tahan dengan Magic Barrier lain yang berbeda dari yang otomatis.

Magic Barrier yang diaktifkan tepat beberapa milimeter di depan kulit memiliki kekerasan puluhan kali lipat dibanding yang otomatis karena adanya batasan untuk menahan serangan di saat-saat terakhir.

Bisa dibilang ini adalah Magic Barrier - Strong.

Hanya saja, rasanya agak sedikit sakit saat bertabrakan dengan pelindungnya.

"Hoo, menahan Magic Spear milikku... tapi tombaknya tidak cuma satu, lho."

"Apa...?"

Belum sempat aku bicara, jantungku berdegup kencang.

Ini...? Melihatku memegang dada, Guizarm tersenyum licik.

"Magic Spear-nya ada dua lapis. Tombak yang menembus secara fisik, dan tombak yang hanya menembus jantung."

Begitu ya, Guizarm menembakkan energi sihir dengan perintah 'Mati' bersamaan dengan Magic Spear tadi.

Aku bisa merasakan detak jantungku perlahan melemah.

Dan, berhenti berdenyut.

"Tuan Lloyd!? T-Tunggu, jangan bercanda... apa Tuan benar-benar mati!? Tuan Lloyddd!"

"Ahahahaha! Ternyata bicaranya saja yang besar, tapi aslinya tidak seberapa! Yah, aku sempat sedikit terhibur. Hanya sedikit sih! Ahahahaha! Hahahahahahaha!"

Tawa keras Guizarm menggema di sekitar.

Dia tertawa seperti itu untuk beberapa saat, lalu tiba-tiba pandangannya tertuju padaku yang tetap berdiri mematung tanpa bergerak.

"...Kamu, kenapa tidak tumbang?"

"Yah, soalnya tidak perlu."

"Apaa!?"

Saat aku membalas perkataannya, bahu Guizarm tersentak kaget.

Dia melompat mundur cukup jauh untuk menjaga jarak.

"Tuan Lloyd! Anda selamat! Tapi bagaimana bisa...?"

"Aku sudah memasang Resurrection terlebih dahulu."

──Sihir tipe penyembuhan, Resurrection.

Di dalam sihir pun ada jenis sihir yang memiliki efek kematian instan seperti ini.

Untuk menghadapi hal itulah sihir Resurrection ini tercipta.

Sihir untuk memaksa jantung yang berhenti agar bergerak kembali dan membuat seseorang bernapas lagi.

Sesuai namanya, ini bukan berarti membangkitkan orang yang sudah benar-benar mati menjadi hidup kembali, tapi jika digunakan segera pada orang yang detak jantungnya berhenti, kemungkinan besar dia bisa pulih.

Serangan tadi hanya menghentikan jantung saja, jadi aku pikir sihir ini akan mempan.

Hmm, setelah aku melepaskan formulanya, sepertinya jantungku sudah bergerak normal tanpa masalah.

"T-Tidak mungkin...! Kamu menggerakkan kembali jantung yang sudah berhenti...?"

Wajah Guizarm tampak penuh keterkejutan.

Ternyata kekuatan kaum Demon itu tidak jauh berbeda dengan sihir, hanya saja mereka tidak menggunakan formula.

Kalau begitu, ada banyak sekali cara untuk menghadapinya dengan sihir modern yang sudah maju.

"...Kekuatan itu, ternyata lebih sederhana dari yang kukira."

"...ugh!"

Mendengar perkataanku, mata Guizarm terbelalak.

Urat-urat kemarahan muncul di pelipisnya.

"Apa-apaan yang Tuan lakukan, Tuan Lloyddd!"

Tiba-tiba Grim berteriak kencang.

Uwoh, jangan teriak keras-keras dong. Bikin kaget saja.

"A-Ada apa sih sebenarnya...?"

"Ada apa katamu!? Serangan tadi, kalau Tuan mau pasti bisa dihindari, kan! Beraninya Tuan sengaja menerima serangan bajingan itu, apa Tuan sudah gila!? Apa yang akan Tuan lakukan kalau terjadi sesuatu!"

Ah, ketahuan ya.

Sebenarnya tadi itu cukup berbahaya, tapi karena rasa penasaran, aku jadi ragu dan akhirnya malah berakhir dengan menerimanya.

"...Yah, meskipun kau bilang begitu, kalau tidak coba diterima sekali, aku tidak akan tahu seperti apa rasanya."

Fenomena fisik melalui energi sihir tanpa formula sihir.

Apa bedanya dengan sihir, dan bagaimana cara kerjanya, aku tidak akan tahu jika tidak merasakannya langsung.

Ternyata rasanya biasa saja, tapi itu pun tidak akan kuketahui kalau aku tidak menerimanya.

Mendengar jawabanku, Grim terdiam seribu bahasa.

"Nyawa Tuan itu cuma satu! Aku bakal susah kalau Tuan tidak menyayangi diri sendiri! Kumohon jangan melakukan hal nekat lagi!"




"Apa-apaan, kau mengkhawatirkanku?"

"B-Bukan begitu, tapi... ugh, tubuhmu itu suatu saat nanti akan jadi milikku! Aku akan repot kalau kau mati di tempat seperti ini...!"

Grim mulai bergumam tidak jelas.

Yah, benar juga. Di kehidupan sebelumnya pun, aku mati konyol gara-gara terkena telak saat mencoba mengamati sihir yang tidak kukenal.

Kurasa aku memang harus sedikit lebih berhati-hati. Ya.

"Mencoba... menerimanya... katamu...? Haha, jangan membuatku tertawa...!"

Wush! Energi sihir yang terkumpul dari sekeliling mulai memenuhi tubuh Guizarm.

Guizarm mengangkat kedua tangannya, dan di sana tercipta sebuah bola energi sihir raksasa.

Konsentrasi sihirnya begitu pekat hingga bisa terlihat tanpa perlu memicingkan mata, dengan percikan listrik yang meletup-letup.

Oho, output-nya lumayan besar.

Kapasitas sihir sebanyak ini jarang sekali bisa ditemui.

"Aku telah mengumpulkan seluruh energi sihir di area ini... Sebenarnya aku tidak ingin menghancurkan kediaman ini. Tapi ini salahmu, tahu? Kau sendiri yang sudah memancingku dengan kata-kata provokasimu itu...!"

Guizarm memasang senyum yang tampak berkedut karena amarah.

Serangan yang terlihat menarik... tapi kalau dibiarkan begini, Ren dan yang lainnya di belakang bisa ikut terkena dampaknya.

"Ren, bawa semuanya dan menjauhlah dari sini."

Akibat energi sihir yang dipusatkan ke satu titik, tekanan sihir di sekitar jadi melonggar sehingga Galilea dan yang lainnya—yang tadinya tak bisa berkutik—kini mulai bisa bangkit.

Para prajurit juga sedang kebingungan, jadi sekarang adalah kesempatan untuk kabur.

"I-Iya... tapi bagaimana denganmu, Lloyd?"

"Aku tidak apa-apa. Sudah, pergi sana."

"...Baiklah. Hati-hati!"

Ren mulai berlari membawa semua orang sambil berulang kali menoleh ke belakang dengan tatapan cemas.

Bagus, mereka sudah pergi. Kalau ada Ren dan yang lain, mereka hanya akan jadi penghalang.

Sekarang aku bisa bertarung sambil mencoba berbagai hal sepuas hati.

"Jangan harap bisa lolos!"

Guizarm melepaskan beberapa tombak dari bola sihirnya ke arah Ren dan yang lain yang tengah berlari menjauh.

Namun, Magic Barrier yang kubentangkan memantalkannya kembali.

Ting! Dengan suara dentuman tumpul, tombak sihir yang terpental itu justru menembus para prajuritnya sendiri.

"Oi, oi, jangan menyia-nyiakan energi sihir yang sudah susah payah kau kumpulkan. Tidak akan seru kalau kau tidak menghantamkan seluruh kekuatanmu padaku."

"...Ku, kukukuku... Begitu ya. Jika kau memang ingin mati secepat itu, akan kukabulkan keinginanmu. Black Death Sphere yang membawa seluruh energi sihirku ini adalah teknik terkuatku yang akan menelan segalanya ke dalam ruang subdimensi."

"Aku ingin lihat, apa kau masih bisa bicara besar di hadapan teknik ini!"

Guizarm mengompresi bola sihir yang dikumpulkannya secara sekaligus.

Suara ruang yang berderit mulai bergema di sekitar.

Pusaran hitam itu... aku pernah melihatnya.

Berarti kalau aku menggunakan itu... Selagi aku memutar otak, Grim bersuara.

"Tu-Tunggu, Tuan Lloyd, apa yang sebenarnya ingin Anda lakukan!? Tekanan sihirnya sudah terlalu gila, lho!?"

"Tidak masalah, akan kutahan."

"Tadi aku baru saja bilang jangan nekat, kaaaaaaan!"

Guizarm dengan wajah bengis mengayunkan kedua tangannya ke bawah.

"Aha! Kalau kau pikir bisa menahannya, coba saja! Telan segalanya! Black Death Sphere!"

Wush! Bola sihir yang dilepaskan dengan kecepatan tinggi itu melenyapkan puing-puing bangunan, menembus prajurit, menyedot debu tanah, dan menelan segala rintangan selagi melesat menuju ke arahku.

Aku mencoba menciptakan api dengan Fireball dan menembakkannya ke arah bola sihir itu.

Zzzzt. Hanya menyisakan seutas asap, api itu langsung lenyap seketika.

"Ahahahaha! Percuma, percuma saja! Black Death Sphere milikku akan menelan dan menggilas segalanya, entah itu Magic Barrier atau apa pun! Pertahanan itu mustahil! Sekarang, hancurlah berkeping-keping!"

Guizarm tertawa terbahak-bahak.

Grim berteriak saat bola sihir itu semakin mendekat.

"Daaaaah! Benar-benar nekat, kaaaaaaan!"

"Tenang saja, ini bukan nekat kok."

Namun, aku hanya membalasnya dengan gumaman pelan.

Setelah mencoba menerima serangannya tadi, aku sudah paham garis besar kemampuan Guizarm.

Dia menembakkan energi sihir dengan menyertakan perintah, tapi efeknya terbatas pada hal-hal yang sederhana saja.

Dan seperti saat aku menetralkan tombak sihir dengan Vibrating Rock Fang, sihir dengan efek serupa pun bisa digunakan untuk melawannya.

Guizarm bilang kalau sihir lahir dari kekuatan yang digunakan kaum Demon.

Artinya, perbedaannya hanya terletak pada penggunaan formula atau tidak, bukan?

Dan aku ingat ada sihir yang menimbulkan fenomena serupa dengan bola sihir itu.

──Sihir Ruang, Void.

Sihir yang menciptakan lubang menuju ruang subdimensi dan melenyapkan segala benda yang menyentuhnya.

Entah itu Magic Barrier atau apa pun, segalanya.

Aku pernah mencoba mengetes seberapa banyak massa yang bisa ditelan oleh Void, dan sihir itu berhasil melahap satu gunung bulat-bulat.

Saat itu, aku tiba-tiba berpikir. Apa yang akan terjadi jika sesama sihir ini saling bertabrakan?

Hasil eksperimennya, silakan saksikan sendiri.

"──Karena itulah, hap!"

Saat aku mengaktifkan Void, sebuah pusaran hitam tercipta di depanku.

Sesaat kemudian, bola sihir itu bertabrakan dengannya.

Gyuuuuuuu! Keduanya saling menderu, bercampur, saling tolak, menyatu──dan akhirnya, keduanya lenyap begitu saja.

"A-Apa!?"

Guizarm menunjukkan ekspresi terperanjat.

Ya, jika dua lubang menuju ruang dimensi lain di angkasa saling bertabrakan, mereka akan saling memakan dan lenyap tanpa terjadi apa-apa.

Padahal aku sudah sangat berdebar-debar membayangkan hal luar biasa apa yang akan terjadi, jadi tolong kembalikan debaran jantungku saat menembakkan Void secara berderet itu.

Padahal aku sudah susah payah menyelinap keluar kastil tengah malam hanya untuk uji coba di atas laut yang tak berpenghuni... Ehem, yah, lupakan soal itu.

"Apa teknik tadi adalah serangan terkuatmu, Guizarm?"

"Gu, gugugu...!"

Guizarm menggertakkan giginya mendengar perkataanku.

Fumu, sepertinya perkataannya tadi memang benar.

Kalau begitu, aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya. Tinggal menyelesaikannya saja.

"Sekarang giliranku yang maju."

Saat aku melangkah maju, Guizarm tersentak mundur.

Aku melirik sejenak ke arah belakang.

Ren dan yang lainnya... ya, mereka sudah berhasil kabur sampai ke luar kediaman.

Dengan begini, aku bisa bertarung sepuas hati.

"Nah, kalau begitu──"

"Guh...!"

Guizarm melangkah mundur lagi.

Dia mengangkat tangannya mencoba mengumpulkan energi sihir, tapi gagal.

Tentu saja. Gara-gara serangan tadi, energi sihir di sekitar sini sudah sangat menipis.

Biasanya, penyihir menggunakan energi sihir dari dalam tubuh sendiri, bukan dari sekeliling.

Sebab, itu lebih mudah dikendalikan, dan kekuatannya akan cukup jika diperkuat dengan formula sihir.

Sebaliknya, cara Guizarm terlalu mengandalkan tenaga kasar.

Memang benar jika mengumpulkan energi sihir dari alam bisa menghemat energi sendiri.

Tapi jika dilakukan tanpa perhitungan, energi sihir di sekitar akan habis, dan dia tidak akan bisa menyerang untuk sementara waktu.

...Kalau diingat-ingat, sihir kuno yang digunakan Grim juga tipe sederhana yang hanya mengandalkan pengumpulan energi sihir dalam jumlah besar.

Mungkin karena di Dunia Iblis cara itu sudah cukup, makanya tidak ada perkembangan teknik yang lebih rumit.

"Bagus! Serangannya sudah tidak perlu ditakuti lagi! Waktunya serangan balik, Tuan Lloyd! Sekarang dia tidak bisa melawan, meski dia Demon sekalipun, dia pasti kalah kalau terkena sihir tadi! Cepat habisi saja dia!"

Grim bersorak kegirangan, tapi sepertinya tidak akan semudah itu.

Melihat wajahku yang tampak serius, Guizarm menyeringai seolah menyadari sesuatu.

"! ...Begitu ya. Jadi begitu. Ku, kuku... ternyata begitu. Memang benar seranganku mungkin tidak bisa memberimu luka fatal. Tapi bukankah kau juga sama?"

"...Tebakan yang tepat."

Sihir yang kutembakkan tadi sama sekali tidak memberikan kerusakan pada Guizarm.

Seperti kata Grim, sihir Void yang bisa membuang energi sihir ke subdimensi memang bisa mengalahkannya, tapi jarak jangkauannya terlalu pendek.

Sihir Ruang sangat sulit dikendalikan sehingga ada risiko lepas kendali jika dilepaskan terlalu jauh, dan aktivasinya memakan waktu lama, jadi sangat sulit mengenai lawan yang terus bergerak.

"Ti-Tidak mungkin..."

"Yah, begitulah kenyatannya. Ditambah lagi, seranganmu yang lain tidak akan mempan padaku, tapi jika seranganku kena sekali saja, aku bisa membunuhmu. Artinya, aku hanya perlu terus menyerang sampai kau kehabisan napas. Saat energi sihirmu habis dan pertahananmu runtuh, itulah kemenanganku!"

Zzzzt. Guizarm kembali memunculkan bola sihir kecil di tangannya.

Hm, ternyata pengisian energi sihirnya lebih cepat dari dugaanku.

Meskipun energi sihir di sini sudah terkuras, sihir akan terus mengalir dari tempat lain seperti air yang mengalir ke tempat rendah.

Jika hanya serangan dengan kekuatan menengah, dia masih bisa melakukannya terus-menerus tanpa menghabiskan energi sihir di sekitar.

"Kalau begitu... bukannya ini tetap gawat!?"

Di tengah teriakan Grim, Guizarm melepaskan bilah-bilah energi sihir.

"Ahahahaha! Benar sekali! Matilah dengan tenang!"

"Kh...!"

Sambil menangkis semua serangan dengan Magic Barrier, aku mencoba melakukan serangan balik.

Aku mulai merapal mantra bersamaan dengan munculnya mulut di tangan kananku.

"■■■, ■■■"

Rapalan ganda dari sihir api tingkat tertinggi Cincin Api Pemanggang dan sihir angin tingkat tertinggi Taring Badai Langit.

Pusaran api dan angin yang tercipta membentuk taring-taring tajam.

──Sihir Gabungan, Vortex of the Flaming Storm.

Boom! Dengan suara ledakan dahsyat, taring gabungan api dan angin itu menghantam Guizarm telak.

"Kukuku... Percuma saja."

Tapi sepertinya serangan itu tidak berefek pada Guizarm yang tidak memiliki wujud fisik.

Mau dibakar atau dicabik-cabik pun, dia langsung kembali ke bentuk semula.

"Tubuh ini hanyalah wadah sementara, serangan apa pun tetap percuma, percuma, percuuuma! Manusia tidak mungkin bisa mengalahkan kami kaum Demon. Dan satu lagi, akan kuberitahu hal yang lebih membuatmu putus asa...!"

Saat Guizarm menengadahkan tangannya, sebuah lingkaran sihir menyelimuti tubuhnya.

Formula!? Kenapa baru sekarang dia menggunakannya... Selagi aku bertanya-tanya, Grim menarik tanganku.

"Tuan Lloyd, di belakang!"

Bola sihir Guizarm melesat tepat di sampingku setelah aku ditarik.

Ternyata, tangan Guizarm yang terputus melayang tepat di belakangku.

"Kuku, sayang sekali..."

Gumam Guizarm. Lengannya menghilang di tengah jalan.

Sepertinya dia melakukan teleportasi ruang hanya pada bagian lengannya saja.

"...Begitu ya, itu kemampuan Jade."

Kemampuan yang digunakan untuk mengirim surat secara langsung ke Guild Pembunuh.

Aku sudah menduganya, tapi ternyata kemampuan Jade memang teleportasi ruang.

Apalagi, dia mengombinasikan kemampuannya sendiri dengan sihir ruang dan formula pendukung agar bisa dikendalikan sesuka hati.

Muu, praktis sekali. Aku jadi iri.

"Ayo, ayo, ayo! Apa kau bisa menangani semua serangan dari titik butamu!?"

Guizarm memindahkan kedua tangannya ke atas kepala dan belakangku melalui teleportasi ruang, lalu menembakkan bola-bola sihir.

Bola sihir yang dilepaskan dari segala arah.

Aliran sihirnya sulit dibaca, ditambah lagi kekuatannya hampir tidak bisa ditahan sepenuhnya oleh Magic Barrier.

"Tuan Lloyd, kanan... bukan, atas... eh, bawah, kanan belakang... Aaaaaah! Aku sudah tidak mengerti lagi!?"

"Sepertinya tidak bisa hanya mengandalkan Magic Barrier... kalau begitu, aku pakai ini!"

Aku menghunus pedang penyerap sihir dari pinggangku.

Selain menggunakan pedang yang bisa menyerap dan menyimpan sihir ini, aku juga menggunakan sihir kendali untuk meniru gerakan Sylpha dalam kekuatan penuh.

"Hah!"

Aku mengayunkan pedang sambil mengembuskan napas pendek. Bilahnya menerima dan menyerap seluruh serangan yang datang.

Aku mencoba menyerang balik tangan Guizarm yang melayang, tapi hanya berhasil menyerempet formula sihirnya saja.

"Oho, aku meremehkanmu karena kau seorang penyihir, tapi ternyata kau bisa bergerak lebih lincah dari dugaanku. ...Tapi kecepatanmu itu, sudah kubaca sekarang."

Bam! Rahang bawahku terhantam ke atas.

Bola sihir yang ditembakkan dari bawah menghancurkan Magic Barrier otomatisku.

Aku segera mengayunkan pedang, tapi jaraknya terlalu jauh untuk bisa menjangkaunya.

Memanfaatkan celah saat ayunanku meleset, bola sihir kembali ditembakkan.

Duar! Bam! Zing! Jarakku sudah terbaca sepenuhnya. Dari titik buta atau dari luar jangkauanku, bola-bola sihir itu terus menghancurkan barisan Magic Barrier.

Dan akhirnya, bola sihir yang menembus segalanya itu menghantam kepalaku hingga bergoyang.

"Tuan Lloyd!"

Aku sedikit limbung karena guncangan itu, tapi aku baik-baik saja.

Aku melindunginya dengan Magic Barrier - Strong yang aktif di jarak sangat dekat.

Tapi bola-bola sihir yang dilepaskan secara beruntun terus menghantamku. Bertubi-tubi.

Suara dentuman keras bergema bersama guncangan hebat, hingga akhirnya aku berlutut.

Bahkan di saat seperti itu, serangannya tidak kunjung berhenti.

"Ahahahaha! Mengenaskan sekali! Kau sudah seperti kura-kura saja! Teruslah meringkuk di sana! Aku akan menguliti semua Magic Barrier itu seperti menguliti tempurung kura-kura!"

Guizarm tertawa terbahak-bahak sambil menghujani kepalaku dengan bola sihir tanpa henti.

Aku hanya bisa meringkuk dan bertahan.

"Berakhir sudah! Matilah! Mati, mati, mati, mati! Ma—"

Serangan Guizarm tiba-tiba terhenti di tengah kalimat.

Yah, dia terpaksa berhenti.

Sebab, lengan yang dia gunakan untuk menyerang tadi sudah menghilang sepenuhnya.

"A...!? Ke-Kenapa lenganku...!?"

"Fumu, sepertinya bagian yang sudah tertelan ke dimensi lain tidak bisa tumbuh kembali meski kau seorang Demon, ya."

Mendengar perkataanku, Guizarm menatap tempat di mana lengannya tadi melakukan teleportasi ruang.

Di sana, sebuah pusaran hitam tengah melayang.

Pusaran yang tercipta dari sihir Void, gerbang pembuka menuju dimensi lain.

"Ti... Tidak mungkin!"

Lengan Guizarm mulai tampak seperti berkabut, lalu perlahan memudar dan lenyap.

Pemandangannya mirip seperti saat Demonic Spirit menghilang.

"A-Apa yang kau lakukan...? Aku selalu berpindah tempat setiap kali menyerang, dan aku menyerang dari titik buta. Kau seharusnya tidak bisa memprediksi gerakanku. Jadi tidak mungkin serangan selambat itu bisa mengenaku...!"

"Benar itu, Tuan Lloyd! Tuan sendiri yang bilang kalau sihir itu aktivasinya lambat dan jaraknya pendek, jadi mustahil untuk bisa kena, kan!?"

Aku mengangguk menjawab pertanyaan Guizarm dan Grim.

"Ya, makanya aku menyusun sebuah formula sihir. Barusan, saat aku sedang meringkuk tadi."

──Tadi, aku sempat menyentuh formula teleportasi ruang milik lawan dengan pedang penyerap sihir.

Dengan menyentuhnya, aku berhasil menyerap dan menganalisis formula tersebut.

Di pedang penyerap sihir itu sudah kuukir formula Appraisal, jadi aku bisa memeriksa struktur formula yang kuserap.

Dan barusan, aku menyusun formula baru untuk mendeteksi tanda-tanda awal aktifnya formula teleportasi tersebut.

Sisanya, tinggal menghubungkan formula itu dengan sihir Void.

Seketika lengan Guizarm muncul melalui teleportasi ruang, formulanya terbaca, dan sihir Void aktif tepat di titik tersebut.

Hasilnya, sebuah lubang subdimensi terbuka tepat di lokasi lengan itu muncul.

"Menyusun formula baru!? Saat kau sedang meringkuk tadi!? Menyusun formula yang sederhana saja butuh waktu berhari-hari. Tidak mungkin bisa dilakukan hanya dalam puluhan detik! Tidak mungkin! Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin!"

"Aku tidak percaya! Luar biasa, Tuan Lloyd! Ini pasti berkat Tuan yang setiap hari hobi mengutak-atik dan memodifikasi formula sihir sampai ke tingkat yang gila! Kemampuan analisis dan penyusunan formula Tuan sudah mendarah daging! Di tingkat yang tidak masuk akal!"

Keduanya bergumam tentang hal yang tidak kumengerti.

Yah, aku masih punya banyak cadangan energi. Mari kita berikan serangan pamungkas.

Aku mengaktifkan Void tepat ke arah Guizarm yang sedang kebingungan.

"Gawat──!?"

Sebuah lubang hitam terbuka tepat di perut Guizarm yang sedang lengah karena bicara sendiri.

Tubuh Guizarm mulai tersedot ke dalamnya.

Batang tubuhnya, kaki dan tangannya, hingga kepalanya──

"Guh... ku... sialaaaaaaaaaaan!"

Suara jeritan terakhir Guizarm bergema di kediaman itu.

Namun suara itu pun segera menghilang.

Pusaran hitam itu lenyap, dan hanya keheningan yang tersisa.

Guizarm menghilang seperti debu yang tertiup angin.

Saat aku memperhatikannya menghilang, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara.

"Terima kasih. Kutitipkan Ren dan semuanya padamu."

Rasanya, itu adalah suara yang sangat lembut.

"Ada apa, Tuan Lloyd?"

"Ah, tidak. Bukan apa-apa."

Formula teleportasi ruang yang kuserap tadi... entah kenapa terasa mengandung kebaikan di dalamnya.

Meskipun strukturnya rumit, formula itu sangat rapi dan mudah dimengerti, seolah ingin memudahkan siapa pun yang membacanya.

Karena ketelitian itulah aku bisa membacanya dalam waktu singkat dan menyusun formula tandingan.

Bisa menyusun formula sehebat ini... Jade, ya. Aku benar-benar ingin mengobrol dengannya sekali saja.

Selagi aku tenggelam dalam perasaan itu, aku menyadari suara gaduh dari luar.

"Tuan Lloyd! Di luar terjadi kekacauan besar!"

Gawat, aku lupa kalau tadi aku membiarkan para prajurit Demonic Spirit yang kabur begitu saja.

Apa mereka sedang bertarung dengan Ren dan yang lain?

Kalau benar, mereka pasti kalah jumlah. Aku harus segera melakukan sesuatu.

Aku buru-buru melongok dari jendela.

"...Apa-apaan ini?"

Di bawah sana, hujan api tengah mengguyur para prajurit Demonic Spirit.

Di tengah kekacauan itu, puluhan ksatria yang wajahnya tidak asing bagiku tengah melakukan serangan susulan.

Setiap kali mereka mengayunkan pedang, api berkobar dan kilat menyambar.

"Maju! Jangan biarkan musuh lolos!"

Suara gagah itu berasal dari... Albert.

Para ksatria itu memegang pedang sihir buatanku.

"Tembak!"

Atas perintah Albert, para ksatria mengayunkan pedang mereka secara bersamaan.

Kumpulan sihir yang aktif turun dari langit, menghanguskan para prajurit Demonic Spirit.

Kekuatannya luar biasa. Sudah terbukti di sihir gabungan bahwa jika sihir dilepaskan secara bersamaan, kekuatannya akan berlipat ganda menjadi dua atau tiga kali lipat.

Tentu saja itu berlaku juga untuk pedang sihir.

Kekuatan pedang sihir yang dilepaskan oleh satu pasukan penuh benar-benar mengerikan.

Setiap kali api dan kilat menyambar, para prajurit Demonic Spirit terpental, tumbang, dan hancur berantakan.

"Hei Grim, bukankah mereka itu Demonic Spirit? Bukankah seharusnya sihir tidak mempan pada mereka?"

"Mereka itu kelas sepuluh, peringkat terendah di antara para Demonic Spirit. Apalagi mereka merasuki tubuh manusia, jadi ditebas dengan pedang biasa pun mereka akan mati. Menghadapi sihir tingkat itu, mereka jelas tidak akan berkutik."

Fumu, ternyata meskipun Demonic Spirit, jika peringkatnya rendah mereka tidak sehebat itu ya.

Mereka mungkin lebih kuat dari manusia biasa, tapi mereka tidak ada apa-apanya di depan pasukan pedang sihir pimpinan Albert.

"Sialan! Incar komandannya! Incar laki-laki berwajah halus itu!"

Melewati celah kobaran api, beberapa prajurit Demonic Spirit menerjang ke arah Albert.

Namun, sebelum mereka sampai ke arah Albert, embusan angin kencang bertiup.

Brak! Suara benturan keras bergema, dan para prajurit itu terpental jauh.

Di tempat itu berdiri Tao yang tengah memasang kuda-kuda tinju.

"Tuan Albert, tadi itu berbahaya sekali, lho!"

"A-Ah, iya. Terima kasih."

"Fuhihi, Tuan Albert memang benar-benar tampan, ya. Tidak sia-sia aku memaksa ikut. Kalau aku terus memberikan bantuan begini, mungkin aku bisa diangkat jadi pengawal pribadi...! Kalau begitu, aku bisa mengincar posisi menantu raja juga, kan♪"

Tao menyeringai dengan wajah yang terlihat licik.

Sepertinya dia tidak sengaja bertemu Albert saat meninggalkan kota dan memaksa ikut.

Yah, dia memang wanita yang tangguh.

"Uoooooooo! Terpental sanaaaaa!"

Pusaran api yang setara dengan sihir agung milik pasukan pedang sihir membubung tinggi.

Itu Dian.

Aku tidak tahu kenapa dia juga ikut, tapi dia juga sedang mengayunkan pedang sihir buatanku.

"Hajar mereka, Lil!"

"Wooooooooo!"

Serigala perak itu berlari menerjang medan perang sambil melolong keras.

Setiap kali dia lewat, para prajurit terpental.

Di punggung serigala perak itu, ada Alise.

Oi, oi, kenapa mereka berdua juga ada di sini?

"Tuan Lloyd, Anda baik-baik saja!?"

Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara itu, dan melihat Sylpha berdiri di sana.

Shiro yang berada di sampingnya langsung berlari kencang ke arahku.

"Guk! Guk guk guuuuk!"

"Uwah!? O-Oi, Shiro!?"

Dia melompat ke arahku dengan penuh semangat hingga aku jatuh telentang.

"Whining... whining..."

"Hei, itu geli, tahu."

Aku mencoba bangkit sambil wajahku dijilati olehnya.

Shiro menatapku dengan matanya yang bulat sambil menjulurkan lidahnya.

"Apa kau mengikutiku lewat penciuman?"

"Guk!"

Shiro menggonggong kencang seolah membenarkan ucapanku.

"Ya, tepat sekali."

Sylpha berkata demikian sambil berjalan mendekat ke arahku dengan tatapan tajam. Seram. Seram sekali.

"Pagi tadi, Shiro membangunkan saya dan membawa saya ke kamar Tuan Lloyd yang ternyata sudah kosong melompong. Saya segera melapor kepada Tuan Albert. Kami mencari ke seluruh kastil tapi tidak menemukan Tuan, sementara Shiro terus-menerus menggonggong ke arah selatan—yaitu ke arah sini. Tuan Albert yakin pasti terjadi sesuatu, jadi beliau mengumpulkan pasukan untuk berangkat. Lalu Tuan Dian dan Nona Alise bersikeras untuk ikut..."

"Jadi begitulah ceritanya..."

Gawat. Minimal aku seharusnya meninggalkan satu tubuh klon di kamar.

Aku tidak menyangka urusan ini bakal memakan waktu selama ini.

Kalau sudah asyik dengan riset, aku memang sering melupakan sekeliling. Aku harus introspeksi diri.

"Benar-benar, saya pikir saya sudah memahami Tuan Lloyd... tapi kejadian kali ini benar-benar jauh di luar dugaan saya. Fufu, fufufufu..."

"S-Sylpha...?"

Gawat, dia marah besar. Aku refleks memejamkan mata saat Sylpha berjalan mendekat ke arahku.




"Luar biasa, Tuan Lloyd."

Namun, ucapan Sylpha benar-benar di luar dugaanku.

Saat aku membuka mata perlahan dengan rasa waswas, di belakang Sylpha tampak Ren dengan mata yang berkaca-kaca.

"Saya sudah mendengar situasinya dari anak ini. Tampaknya mereka yang mendengar rumor tentang Tuan Lloyd datang memohon bantuan di tengah malam. Sebagai bawahan Lordst, mereka mengetahui rencana pemberontakan tuan mereka dan memohon agar Anda menghentikannya, begitu bukan? Tuan Lloyd mengabulkan permintaan itu dan menyerbu kediaman ini bersama mereka. Namun, yang muncul justru iblis yang menyerupai sang penguasa. Itu adalah jebakan untuk memancing para pemberontak. Meski begitu, Anda berhasil menumbangkannya dengan gemilang... Saya, Sylpha, benar-benar kagum."

"A-Ah... yah, begitulah..."

Senyum kaku tak sengaja lolos dari bibirku.

Sepertinya setelah aku membiarkannya kabur, Ren mencari bantuan ke seseorang. Di sana ada Albert dan yang lainnya, dan akhirnya jadilah cerita seperti ini.

Meski begitu, alasan yang dia buat dalam sekejap itu hebat juga. Anak itu, Ren, sepertinya dia berhasil mengelabui mereka untukku.

"Lloyd... ugh, hiks... kamu... selamat... huwaaa..."

"Oi, Ren...?"

"Aku... panik... lalu orang-orang ini ada, dan aku minta tolong... hiks... syukurlah... kamu... tidak mati..."

...Yah, melihat kondisinya yang bicara saja tidak becus begitu, tidak mungkin dia yang mengarang cerita tadi.

Kemungkinan besar Sylpha menyimpulkan sendiri dari potongan-potongan kata yang didengarnya. Berkat itu aku berhasil mengecoh mereka, tapi di sisi lain, aku merasa ada kesalahpahaman besar yang terjadi.

...Yah, yang penting hasilnya oke. Sip.

"Metode membunuh penguasa wilayah dan mengambil alih tubuhnya, pelakunya kemungkinan besar adalah seorang Demon. Berhasil mengalahkan dan melenyapkannya sendirian... pertumbuhan Tuan Lloyd benar-benar jauh melampaui imajinasi saya. Tidak hanya itu. Bukan hanya Tuan Albert, bahkan Tuan Dian dan Nona Alise sampai rela mengambil risiko demi menolong Tuan Lloyd. Anda benar-benar memiliki karisma yang luar biasa. Ah, sungguh mengagumkan, Tuan Lloyd...!"

Sylpha terus bergumam dengan wajah yang tampak terpesona, tapi karena rasanya menyeramkan, lebih baik aku tidak menatap matanya.

"...Ayo pulang."

"Guk!"

Sambil membawa Shiro yang menjawab dengan penuh semangat, aku pun meninggalkan kediaman itu.

 

Setelah pertempuran berakhir, kami kembali ke kastil menggunakan kereta kuda.

Di dalam kereta saat perjalanan pulang, aku duduk di tengah dengan Albert di kiri dan Dian di kanan. Di sebelah Dian ada Alise, sementara Sylpha yang mengendalikan kuda, dan Shiro duduk di pangkuanku.

Di luar, Tao dan kelompok Galilea berjalan tepat di samping kereta kuda.

"Benar-benar, jangan membuat kami cemas begitu dong."

"Maafkan aku, Kak Albert."

Begitu aku meminta maaf, Albert langsung memasang senyum yang lembut.

"Yah, setidaknya uji coba operasional Unit Pedang Sihir membuahkan hasil yang bagus. Lloyd, pedang sihir buatanmu jauh lebih kuat dari dugaanku. Aku mengandalkanmu mulai sekarang, ya."

"Siap!"

"Oi, oi, Kak Al, yang membuat pedang sihir itu kan aku dan Lloyd. Jangan lupakan aku juga dong."

Albert mengangguk menanggapi Dian yang tiba-tiba memotong pembicaraan.

"Tentu saja. Aku juga mengandalkanmu, Dian."

"Serahkan saja padaku! Ngomong-ngomong Lloyd, kudengar kau mengalahkan Demon, ya? Hebat banget, sih!"

Sebenarnya bukan Demon, sih.

Sambil tertawa kecut dalam hati, aku memegang pedang penyerap sihirku dan mengangguk.

"Iya, kalau tidak ada pedang sihir buatan Kak Dian, mungkin aku tidak akan menang!"

"Heh, kau pintar banget ya kalau bicara! Tadinya aku bingung pedang penyerap sihir itu buat apa, tapi ternyata efektif juga kalau lawannya iblis!"

Dian menggosok ujung hidungnya dengan wajah malu-malu. Dari sampingnya, Alise melongokkan kepalanya.

"Lloyd, apa kau sudah memuji Shiro dengan benar? Menyadari bahaya yang menimpamu dari jarak sejauh itu dan membawa semua orang ke sini, itu bukan hal yang mudah dilakukan, lho?"

"Tentu saja aku tahu itu, Kak Alise. Kerja bagus, Shiro."

"Guk!"

Saat aku mengelus Shiro di pangkuanku, dia menyahut dengan gonggongan semangat.

"Aduh, sepertinya aku tidak perlu bicara apa-apa lagi ya. Kalian berdua terikat oleh ikatan yang sangat, sangat kuat. Indah sekali."

Alise mengelus kepalaku dan kepala Shiro sambil tersenyum. Suasana damai yang tak terlukiskan menyelimuti kami.

 

"...Omong-omong Tuan Lloyd, apa yang akan Anda lakukan terhadap mereka?"

Menunggu percakapan kami mereda, Sylpha melontarkan pertanyaan padaku.

"Mereka adalah anggota Guild Pembunuh. Terlepas dari alasannya, mereka semua adalah orang-orang yang pernah berbuat jahat. Meski mereka bilang ingin menjadi bawahan setia Tuan Lloyd, kita tidak tahu apa yang sebenarnya akan mereka lakukan."

Setelah itu, aku memang menjelaskan tentang Ren dan yang lainnya. Bahwa mereka adalah anggota Guild Pembunuh yang melayani Lordst, tapi sekarang ingin bekerja di bawahku.

...Aku tidak berbohong. Tapi tetap saja, sepertinya Albert dan yang lainnya tidak merasa nyaman.

"Ucapan Sylpha ada benarnya. Mencari bawahan itu boleh saja, apalagi Lloyd sudah di usia yang pas. Namun, tanggung jawab atas kesalahan bawahan pasti akan kembali ke atasannya. Jika kau menjadikan orang-orang bermasalah sebagai bawahan, kau pun akan dipandang seperti itu. Terutama karena kau adalah anggota keluarga kerajaan. Pasti akan ada orang yang melontarkan keluhan. Jika itu terjadi, apa yang akan kau lakukan, Lloyd?"

Mendengar kata-kata Albert yang jarang-jarang seserius ini, aku berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Ucapan Kak Albert sangat masuk akal. Agar tidak dipandang seperti itu, aku akan memerintah mereka dengan baik. Jika mereka melakukan kesalahan, aku akan menghukum mereka dengan tegas dan siap bertanggung jawab."

"...Fumu, jawaban yang bagus. Tidak ada dusta dalam kata-katamu, kan?"

"Iya."

Setelah mengatakan itu, tangan Albert bergerak menuju sarung pedang di pinggangnya.

"O-Oi, Kak Al..."

"Diamlah."

Suasana di sana langsung membeku karena nada suara Albert yang dingin, berbeda dari biasanya. Saat ujung jarinya bergerak sedikit, saat itulah...

"Mohon tunggu sebentar!"

Terdengar suara dari luar kereta. Dengan ringkikan kuda, kereta itu berhenti mendadak.

Ketika aku membuka jendela dan melihat ke luar, Ren dan yang lainnya tengah berlutut.

"...Kami memang telah melakukan banyak kejahatan. Kami juga telah membunuh orang. Tubuh kami pun tidak normal. Sudah biasa bagi kami untuk dihina. ...Tapi Lloyd tidak memandang rendah kami. Dia meminjamkan kekuatannya. Dia juga menyelamatkan nyawa kami. Kami ingin membalas budi ini. Untuk itu, kami siap mempertaruhkan nyawa! Jika Anda ingin memberikan hukuman karena kami, tolong tebas aku terlebih dahulu!"

Ren bicara sambil menatap lurus ke arah Albert. Yang lain pun ikut menimpali.

"Dari sudut pandang para Pangeran, kepercayaan kepada kami mungkin hanya selevel sampah. Kata-kata tadi sudah sewajarnya. Tapi kami berutang budi besar pada Tuan Lloyd. Mulai sekarang kami ingin membalas budi itu. Kami ingin hidup demi Tuan Lloyd."

"Saya juga memohon dengan sangat. Pekerjaan kasar atau apa pun akan saya lakukan."

"Kuku, saya cukup percaya diri dengan kemampuan memasak saya. Kami ini sebenarnya cukup berguna, lho. Kami tidak akan mengecewakan Anda."

"Aku juga... jago bersih-bersih. Jadi, kumohon."

Melihat mereka semua menundukkan kepala secara serempak, Albert mengembuskan napas pendek.

Lalu dia melepaskan tangannya dari pedang, berbalik ke arahku yang sedang melongo, dan tersenyum lebar.

"Fuh, jangan pasang wajah seperti itu. Aku hanya sedikit menguji tekad Lloyd. Mana mungkin aku menghunuskan pedang pada adikku yang lucu? ...Yah, aku tidak menyangka akan jadi begini, sih."

Albert tersenyum kecut melihat Ren dan yang lainnya yang masih berlutut.

"Tekad kalian, aku, Pangeran Kedua Albert di Saloum, telah mendengarnya dengan jelas. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mencari-cari kesalahan kalian. Karena itu, bekerjalah demi Lloyd dengan tenang."

"B-Baik!"

Mendengar jawaban serempak mereka, Albert mengangguk puas. Jika Albert sudah memberikan perlindungan, sepertinya tidak akan banyak orang yang berani menghina mereka.

"Keputusan Tuan Albert sungguh luar biasa, dan jawaban Lloyd yang mempercayainya juga sempurna. Ikatan persaudaraan yang indah... sungguh pemandangan yang manis. Fuhihi."

"Membuat para pembunuh yang bahkan membuat Guild Petualang kesulitan sampai bicara seperti itu... Tuan Lloyd memang hebat."

"Ya, ya, tidak tunduk pada gertakanku menunjukkan tekad yang luar biasa. Bawahan sehebat itu sulit didapatkan. Kerja bagus, Lloyd. Teruslah mengincar tempat yang lebih tinggi dengan semangat itu."

"...Heh, baik bawahan maupun Lloyd, semuanya saling peduli sampai mempertaruhkan nyawa. Cerita yang bagus sekali... Sialan, padahal tidak hujan tapi pipiku basah begini... Srat."

"Cinta ya. Ini adalah cinta... hiks."

Semua orang mulai bergumam setelah melihat interaksi kami. Dian dan Alise bahkan sampai menangis sesenggukan.

Ada apa dengan mereka? Rasanya agak menyeramkan.

Beberapa hari kemudian, setelah kembali ke kastil, aku dipanggil oleh Charles.

Setelah diantar ke Ruang Singgasana, aku segera berlutut di hadapan beliau.

Ugh, wajahnya tampak sangat serius.

Gawat. Ini sih tipe ekspresi yang bakal berujung pada kemarahan besar.

Menyelinap keluar di tengah malam saja sudah parah, apalagi sekarang aku malah menjadikan pembunuh bayaran sebagai bawahan, dan membuat wilayah Lordst jadi berantakan begitu.

Aku sendiri merasa tindakanku memang sudah kelewatan.

Sambil diliputi rasa waswas, aku menunggu kata-kata Charles.

"……Lloyd, kau benar-benar telah melakukan hal yang luar biasa."

"I-Iya……"

Aku refleks menundukkan kepala. Charles kemudian melanjutkan ucapannya.

"Selama ini aku selalu mewaspadai wilayah Lordst. Penguasa di sana sering sekali berencana mengobarkan perang. Karena itulah, agar tidak ada masalah kapan pun mereka mengangkat senjata, aku memerintahkan Albert untuk mempersiapkan pasukan. Itu alasan kenapa kali ini pasukan bisa bergerak dengan cepat. Namun Lloyd, kau justru berangkat ke Lordst lebih awal dari mereka, mendatangi tempat di mana mereka nyaris melakukan pemberontakan, dan menjatuhkan hukuman pada mereka. Benar-benar hal yang luar biasa."

"He……?"

Mendengar kata-kata yang di luar dugaan itu, aku spontan mengangkat wajah.

"Apalagi menurut cerita Albert, kau berhasil merekrut orang-orang yang sangat kuat menjadi pengikutmu. Kudengar mereka sampai bersumpah akan mengabdi padamu meski harus mempertaruhkan nyawa. Benar-benar deh, aku tahu kau anak yang hebat, tapi aku tidak menyangka kau akan sehebat ini."

Charles mengangguk-angguk mantap.

……Eeeh, jadi ini maksudnya apa, ya?

Karena belum sepenuhnya memahami situasi, aku pun bertanya pada Charles.

"Ayahanda, apakah itu berarti aku sedang dipuji?"

"Tentu saja, mau didengar dari sisi mana pun bunyinya memang begitu. Kerja bagus, Lloyd! Memang benar-benar putraku!"

Prok, prok, prok, prok. Para menteri pun ikut bertepuk tangan.

Saat aku menoleh ke arah Albert, dia bertepuk tangan sambil memberikan kedipan mata padaku.

Sepertinya Albert telah memutarbalikkan fakta tentang kekacauan yang kubuat dan menyampaikannya sebagai sesuatu yang positif.

"Untuk pencapaian kali ini, kau butuh hadiah. Bagaimana, Lloyd? Berhubung ini berkaitan dengan jasamu, maukah kau mengelola wilayah Lordst?"

"A-Apa……!? Maksud Ayahanda, aku harus menjadi penguasa wilayah!?"

"Bukan. Biarkan orang lain yang menjadi penguasa resminya, kau cukup memberikan instruksi pada orang itu saja. Aku tahu betul kalau wadahmu itu terlalu besar jika hanya menjadi penguasa satu wilayah. Namun, meski secara tidak langsung, mengelola sebuah tanah pasti akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupmu ke depan. Apalagi sekarang hal yang ingin kau lakukan pasti sudah bertambah banyak, kan? Memiliki tanah dan sumber daya manusia itu sangat memudahkan, lho."

Muuu, kalau dipikir-pikir, memiliki wilayah yang bisa kugunakan sesuka hati mungkin akan sangat membantu untuk eksperimen sihir.

Sihir skala besar atau sihir dengan jangkauan super luas membutuhkan tanah yang sangat lapang.

Selama ini hal itu belum masuk dalam radarku, tapi jika aku mendapatkan wilayah kekuasaan, mungkin hari di mana aku bisa melakukannya akan segera tiba.

"……Aku mengerti, Ayahanda. Wilayah Lordst akan aku kelola dengan penuh tanggung jawab."

"Bagus, bagus! Berusahalah dengan giat, Lloyd!"

Charles pun mengangguk puas mendengar jawabanku.

 

"Eeeeh!? A-Aku harus jadi…… penguasa Lordst di sini!? Tuan Lloyd, Anda serius!?"

Galilea membelalakkan matanya mendengar deklarasiku setelah membawa mereka semua kembali ke Lordst.

"Iya, aku ingin Galilea yang melakukannya. Setelah Jade tidak ada, Galilea yang menyatukan Guild Pembunuh, kan? Kau pasti sudah terbiasa memimpin orang. Aku yakin kau bisa mengatasinya."

Soal posisi penguasa wilayah, setelah kupikir-pikir, aku memutuskan untuk menyerahkannya pada Galilea.

Charles dan Albert sempat merekomendasikan beberapa orang berbakat, tapi kalau mereka yang jadi penguasanya, aku tidak akan bisa melakukan hal-hal gila sesuka hatiku.

Dalam hal itu, Galilea sudah berada di bawah pengaruhku.

Lagipula, Galilea ini ternyata cukup punya akal sehat dan suka mengayomi.

Aku merasa ini adalah pilihan orang yang paling tepat. Ya.

"Enggak, enggak, enggak, itu sih nekat namanya! Orang yang dulunya cuma preman kayak aku mana mungkin bisa jadi penguasa wilayah!"

Namun Galilea menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Sepertinya dia merasa tidak percaya diri.

"Mana tahu kalau tidak dicoba? Preman ataupun penguasa wilayah, pada akhirnya kan sama-sama manusia. Isi pekerjaannya mungkin tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Cuma skalanya saja yang jadi sedikit lebih besar."

"Memimpin beberapa orang di Guild dengan memimpin ratusan rakyat itu beda skalanya jauh banget, tahu!?"

"Aku juga sesekali akan datang berkunjung. Aku berniat memberikan bantuan penuh. Lagipula aku mengatakannya karena aku yakin Galilea pasti bisa."

"Ta-Tapi……"

Aku mencoba membujuknya, tapi wajah Galilea masih tampak muram.

……Mau bagaimana lagi, kudesak sedikit saja kalau begitu. Aku menatap mata Galilea dalam-dalam dan bertanya.

"Atau jangan-jangan, sumpahmu untuk melayaniku meski harus mempertaruhkan nyawa itu cuma bohong belaka?"

"! I-Itu tidak benar! Demi Tuan Lloyd, aku siap meski harus mati sekalipun! ……Tapi aku benar-benar merasa tidak pantas menjadi penguasa wilayah. Aku merasa cemas……"

"Duh, badan saja yang besar, tapi nyalimu ciut sekali ya."

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Galilea.

Itu Talia. Di kedua sisinya juga ada Babylon dan Crow.

"Kami juga akan membantu, kok. Mari kita satukan kekuatan dan ciptakan wilayah yang hebat!"

"Benar juga ya. Orang-orang yang nyaris jadi preman seperti kita bisa punya kesempatan jadi penguasa wilayah, kesempatan begini tidak akan datang dua kali. Rasanya darahku sampai mendidih. Lagipula Galilea, kalau jadi orang penting, mungkin kita bisa menikmati hal-hal enak, kan? Kukuku."

"Aku juga bakal lakuin apa pun yang aku bisa. Semangat."

"Nah, ayo lakukan, Galilea."

"Kalian……"

Mendengar ucapan Talia dan yang lainnya, mata Galilea mulai berkaca-kaca.

Dia mengusap matanya dengan lengan, lalu menatapku dengan mantap.

"Aku mengerti, Tuan Lloyd! Aku, Galilea, menerima mandat sebagai penguasa wilayah Lordst! Akan kulakukan dengan segenap nyawaku!"

"Iya, aku titip ya."

"Baik!"

Mendengar kata-kataku, mereka semua menundukkan kepala dengan serentak.

Fuuuh, akhirnya satu beban di pundakku terangkat.

Sisanya aku tinggal datang memantau sewaktu-waktu. Dengan alasan itu, aku bisa mempelajari kemampuan Galilea dan yang lainnya. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

"……Tapi menjadikan orang-orang seperti kami sebagai penguasa, sebenarnya apa yang sedang Tuan Lloyd pikirkan……? Ah, begitu rupanya! Tuan Lloyd ingin kami meneruskan wasiat Jade! Mimpi anak itu adalah membangun kota di mana para Cursed tidak didiskriminasi dan bisa hidup dengan tenang. Kami pun merasakan hal yang sama. Itu sebabnya meski tahu ini mungkin jebakan, kami tetap percaya pada Jade dan pergi ke kediaman itu. Tapi ternyata dia sudah mati, dan kami pun sempat terpuruk. Di saat itulah Tuan memberikan kami kesempatan…… hehe, rupanya segalanya sudah Anda lihat sejak awal, ya…… Luar biasa sekali, Tuan Lloyd……! Aku sudah membulatkan tekad, aku akan mengikutimu seumur hidup!"

Galilea menggumamkan sesuatu, tapi karena jaraknya jauh, suaranya tidak terdengar jelas.

"Uoooooo! Ayo kerja, kalian semua! Ikuti aku!"

Lagipula tiba-tiba dia malah berteriak lantang. Bikin kaget saja.

Yah, punya semangat itu bagus sih.

"Ngomong-ngomong Tuan Lloyd, ke mana perginya gadis bernama Ren itu?"

"Eh, benar juga, dia tidak ada."

Begitu dibilang begitu, aku baru sadar sosoknya tidak kelihatan dari tadi.

Seingatku dia ada saat aku membawa Galilea dan yang lainnya ke Lordst…… Ke mana dia perginya ya?

"Pasti dia sedang melakukan sesuatu di suatu tempat. Tidak perlu dikhawatirkan, kan?"

"Tuan Lloyd, tolonglah beri sedikit perhatian pada mereka……"

"Kurang ajar sekali kau. Aku kan sangat menyukai mereka."

"Itu maksudnya sebagai subjek penelitian, kan…… Ah, sudahlah, lupakan saja."

Tanpa memedulikan Grim yang bergumam pasrah, aku menggunakan Flight untuk kembali ke kastil.

"Se-Selamat…… datang kembali…… Tuan…… Lloyd……"

Yang menyambutku setibanya di kastil adalah Sylpha dan seorang pelayan mungil──Ren.

"Lho, bukannya itu Ren? Ada apa dengan pakaianmu itu? Kenapa kau tidak bersama yang lainnya?"

"Uu…… i-ini itu, anu……"

Ren menggerak-gerakkan jarinya dengan gelisah.

Selagi aku bertanya-tanya apa yang terjadi, Sylpha yang berada di sampingnya membuka suara.

"Gadis ini mendatangi saya saat Tuan Lloyd dan yang lainnya sedang menuju ke Lordst. Dia bersikeras ingin melayani di sisi Tuan Lloyd. Karena itu, saya katakan padanya untuk bekerja sebagai pelayan. Apalagi jangkauan aktivitas Tuan Lloyd sekarang semakin luas, asisten yang memiliki kemampuan bertarung cukup berharga. Kebetulan saya juga berpikir butuh satu orang lagi untuk membantu mengurus Tuan, jadi saya izinkan dengan syarat dia harus menerima pendidikan di bawah pengawasan saya terlebih dahulu. Tentu saja, itu jika Tuan Lloyd tidak keberatan."

Pantas saja aku bingung dia hilang ke mana, ternyata begini ceritanya.

"Tentu saja, aku tidak keberatan."

Mendengar kata-kataku, wajah Ren seketika menjadi cerah.

"Mo-Mohon bantuannya! Tuan…… Lloyd."

"Ren, masih terlalu dini bagimu untuk memanggil Tuan Lloyd dengan namanya saja. Panggil dia 'Tuan Muda'."

"Ugh, Tu…… Tuan Muda……"

Melihat Ren yang mengatakannya dengan wajah memerah, aku hanya bisa tertawa kecut.

"Panggil dengan sebutan yang nyaman bagimu saja tidak apa-apa, kok."

"Tidak bisa begitu. Kita harus memikirkan pandangan orang di sekitar. Masih banyak hal yang harus dia pelajari, mulai dari tata bahasa hingga sopan santun."

"I-Iya. Saya akan berjuang…… berr-usaha."

Melihat Ren yang berusaha memperbaiki bahasanya dengan kaku, aku tanpa sadar tertawa.

"Eh! Jangan tertawa!"

"Haha, maaf, maaf."

"Heh, kau lupa memakai bahasa hormat lagi, Ren."

"U-Uuuh……"

Ditegur oleh Sylpha, Ren pun terdiam seribu bahasa.

Rasanya situasinya jadi agak aneh, tapi kalau Ren ada di dekatku, aku jadi bisa mempelajari teknik dan kemampuan pembunuh bayaran dari jarak dekat.

Ini tidak buruk juga, sih.

Saat hendak keluar kamar menyusul Sylpha, Ren menoleh ke belakang dan bergumam pelan.

"……Hei Lloyd, apa benar-benar tidak apa-apa? Meletakkan orang beracun sepertiku di sisimu?"




"Hmm?"

"Maksudku, sekarang aku memang bisa mengendalikannya berkat bantuan Lloyd, tapi aku sudah membunuh banyak orang dengan racun ini. Aku dibenci. Kalau aku memikirkan sesuatu terjadi lagi, rasanya..."

Aku mendaratkan tanganku di atas kepala Ren yang sedang menggigit bibirnya.

"Itu karena kamu masih belum berpengalaman. Jade belajar dengan sangat keras sampai dia bisa mengubah kemampuannya menjadi sebuah formula, memahaminya, dan mengendalikannya. Jika kamu bisa memahami dan mengendalikan kemampuanmu dengan cara yang sama, kamu akan bisa membagi racun yang kamu hasilkan menjadi elemen yang lebih rinci. Jika sudah begitu, menciptakan obat pun bukan hal yang mustahil."

"Racun milikku... bisa jadi obat...?"

Ren menatapku dengan wajah terperangah mendengar kata-kataku.

"Ya, racun dan obat itu hanya dibatasi sekat yang tipis. Jika dilihat secara mendetail, obat memiliki komponen yang sama dengan racun. Faktanya, dalam sihir elemen racun, ada banyak sihir penawar yang eksis. Selama ini kamu membenci kemampuanmu sendiri, kan?"

"Aku percaya kalau kamu mau menghadapi kemampuanmu dengan benar, kamulah yang punya potensi perkembangan paling besar. Jika kamu berada di sisiku yang punya pengetahuan tentang sihir elemen racun dan belajar dengan serius, kamu bahkan bisa menjadi tabib terbaik."

Racun yang membunuh orang, jika dibalik bisa menjadi obat yang menyelamatkan nyawa.

Kemampuan apa pun itu, semua bergantung pada interpretasi, pengetahuan, dan orangnya sendiri.

"Jadi, berjuanglah, Ren."

"Iya──Um! Aku akan berjuang!"

Mata Ren berbinar-binar cerah, tak ada lagi raut wajah muram seperti sebelumnya.

Lagipula kalau Ren bisa mengembangkan kemampuannya sendiri, itu akan mengurangi beban kerjaku juga. Ya.

Dengan bertambahnya subjek penelitian baru, kehidupan penyihirku sepertinya akan jadi jauh lebih berwarna.

Sambil melepas kepergian Ren yang berlari menjauh dengan melambaikan tangan, dadaku terasa sesak oleh ekspektasi akan masa depan yang menanti.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close