NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji Volume 2 Part 2


Di bagian tengah kota, terdapat sebuah gedung yang sangat besar di lokasi strategis yang menghadap ke jalan raya utama.

Tempat di mana pria dan wanita dengan penampilan meyakinkan berlalu-lalang itu adalah Adventurer Guild.

"Bernostalgia sekali, ya," gumam Sylpha sambil menatap gedung itu.

Matanya menerawang jauh seolah teringat masa lalu.

Kira-kira seperti apa sosok Sylpha saat dia masih aktif menjadi petualang dulu, ya?

Sambil memikirkan hal itu, aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam gedung.

"Tuan Lloyd, aku akan menunggu di sini. Silakan lakukan pendaftarannya sendiri."

"Baiklah."

Sesuai instruksi Sylpha, aku melangkah menuju konter pendaftaran.

Orang-orang yang sedang duduk sambil minum-minum tampak memperhatikanku sambil menyeringai.

Mungkin anak kecil sepertiku memang pemandangan langka bagi mereka. Agak memalukan juga.

Saat sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba sesuatu menjulur di dekat kakiku.

Seketika—begyii! Terdengar bunyi benda keras yang tumpul, dan pria yang duduk tepat di sebelahku jatuh terjungkal.

"Gyaaaaaaa! Sa-sakiiiitttt!?"

Pria itu menjerit histeris, memegangi kakinya sambil berguling-guling kesakitan.

Apa yang terjadi sebenarnya?

"Heh, bocah ini selalu memasang Magic Barrier setiap saat. Bakal aktif otomatis kalau ada serangan mendadak. Rasanya pasti kayak menendang baja, kan?"

Grim mengatakan sesuatu, tapi suaranya tenggelam oleh jeritan si pria.

Kurasa tidak perlu menyapanya juga. Abaikan saja.

"Tu-tunggu!"

Saat aku berniat pergi tanpa peduli, pria itu bangkit dengan sempoyongan.

"Berani-beraninya kau, bocah tengik! Kau sudah membuat kakiku jadi begini, hah!?"

Sambil membentak, dia melayangkan pukulan ke arahku.

Wah, kaget juga.

Namun, Magic Barrier yang aktif secara otomatis langsung menahan serangan pria itu.

"Gyaaaaaaa!?"

Tangan kanan yang digunakannya untuk memukul tertekuk ke arah yang aneh, dan pria itu kembali menjerit.

Sejak tadi dia sedang melakukan apa sih sendirian?

Entahlah, tapi Adventurer Guild ini tempat yang mengerikan.

"Gu-gugugu…… Jangan pikir kau bisa lolos begitu saja setelah menghina Galahad-sama yang merupakan petualang Rank C ini! Akan kuhajar kau—"

Baru setengah bicara, pria itu langsung terpental.

"Lloyd! Sudah lama tidak bertemu, ya!"

Yang menyela di tengah-tengah adalah seorang gadis berambut hitam yang mengenakan pakaian kungfu, Tao.

Dia adalah ahli bela diri pengguna 'Qi', dan penyuka pria tampan yang tiada duanya.

Dia adalah kenalan yang pernah bertarung bersamaku dulu.

"Lama tidak bertemu, Tao. Apa kabarmu?"

"Iya, tapi ngomong-ngomong, sedang apa di tempat seperti ini?"

"Aku datang untuk mendaftar jadi petualang."

"Hee! Kalau begitu biar aku yang antar. Lewat sini."

Tao menarik tanganku dan membawaku ke konter.

Rasanya semua orang di sekitar sedang menatap kami, tapi itu pasti cuma perasaanku saja.

"Sialaaaaan……!"

Sambil menyingkirkan meja yang terbalik, pria tadi bangkit berdiri.

Wajahnya merah padam, dan urat-urat nadi bermunculan di pelipisnya.

Pria itu mencoba meraih pedang yang tergantung di pinggangnya.

"Cukup sampai di situ saja."

Terdengar suara yang tegas dari belakang pria itu.

Itu Sylpha. Dia hanya mencengkeram pundak si pria dengan ringan, tapi sepertinya pria itu tidak bisa menggerakkan lengannya lebih dari itu.

"Jika Tuan Lloyd sedang ingin, leher dan tubuhmu pasti sudah berpisah sepuluh kali."

"A…… k-kau si Silver Sword Princess, Sylpha Langris!? Kudengar kau sudah pensiun, tapi kenapa ada di sini……?"

Kehadiran Sylpha membuat suasana sekitar menjadi gaduh.

"Hari ini aku sedang mendampingi tuanku untuk pendaftaran petualang."

Kegaduhan itu pun menjadi semakin besar.

"Oi, tadi ada yang lihat bagaimana dia menangkis serangan Galahad?"

"Tidak, tidak kelihatan sama sekali…… Rasanya seperti dia memakai sihir."

"Tentu saja hebat. Dia itu petualang legendaris yang berhasil naik ke Rank A di usia muda, padahal peringkat itu cuma diisi segelintir orang di guild. Bahkan Silver Sword Princess mengakuinya sebagai tuan."

"Apalagi dia juga akrab dengan Tao yang belakangan ini prestasinya melejit sampai ke Rank B dalam sekejap."

"Siapa sebenarnya bocah itu……!?"

Semua orang membicarakan sesuatu, tapi suaranya terlalu berisik hingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Ternyata Sylpha memang hebat ya sampai bisa jadi pusat perhatian seperti ini.

"Mau mendaftar jadi petualang, ya. Kalau begitu silakan isi data yang diperlukan di formulir ini."

Aku pun mengisi formulir yang kuterima dari resepsionis dengan lancar.

Nama, alamat, usia, pekerjaan yang didaftarkan…… hanya seputar itu.

Sylpha bilang aku boleh menulis jujur tanpa perlu khawatir.

Maka sesuai instruksinya, aku mengisi apa adanya dan menyerahkannya kembali pada si resepsionis.

"Humu humu, jadi Lloyd-san ini pangeran dari negara ini, ya. Apalagi usiamu masih sangat muda. Menjadi petualang itu berbahaya, kau bisa terluka atau bahkan mati jika kemampuanmu kurang. Terhadap hal itu, Adventurer Guild sama sekali tidak bisa menjamin keselamatanmu. Kami juga tentu saja tidak bisa memberikan perlakuan istimewa. Apa kau tetap bersedia?"

"Iya, tidak apa-apa."

"Begitu ya. Tekad yang bagus."

Resepsionis itu tersenyum manis sambil menerima formulirnya.

Bagi seorang petualang, status sosial sama sekali tidak ada gunanya.

Mereka yang tidak punya kekuatan akan merangkak di tanah, sementara mereka yang punya kekuatan akan mendapatkan segalanya.

Sistem meritokrasi yang murni, itulah alasan Sylpha bilang tempat ini cocok untuk latihan.

"Nah, pemeriksaan dokumen sudah oke, selanjutnya aku ingin mengukur status Lloyd-san. Bisa letakkan tanganmu di kristal ini?"

Sambil berkata begitu, si resepsionis meletakkan bola kristal di atas meja.

Ini adalah Magic Item untuk melihat nilai kemampuan fisik orang yang menyentuhnya.

Saat masuk ke Akademi Sihir di kehidupan sebelumnya, aku juga pernah memakai alat seperti ini.

Dulu aku tidak paham logikanya, tapi sekarang aku mengerti.

Kristal ini memancarkan energi sihir yang sangat lemah, dan saat melewati tubuh orang yang menyentuhnya, alat ini akan mengukur jumlah energi sihir yang terkumpul di dalam tubuh serta tingkat pengaruhnya terhadap fisik.

Kemudian, ia akan menghitungnya dengan rumus tertentu dan menampilkannya sebagai status.

Tentu saja, karena ini hanya perhitungan kasar dari jumlah energi sihir, nilainya hanya berfungsi sebagai tolok ukur saja.

Teknik bertarung maupun luasnya pengetahuan tidak termasuk di dalamnya, jadi bisa dibilang ini hanyalah sekadar pemeriksaan fisik.

"Heh, kristal ringkih begitu mana mungkin bisa mengukur jumlah energi sihir Tuan Lloyd. Saking banyaknya, proses perhitungannya pasti tidak akan sanggup mengejar dan bakal hancur dalam sekejap! Minimal sediakan lima buah dong."

"Memangnya buat apa kalau dihancurkan. ……Lagipula, tidak terlalu bagus kalau jumlah energi sihirku ketahuan secara detail."

Rasanya mustahil kristalnya akan hancur, tapi karena ada Sylpha juga, gawat kalau aku mengeluarkan angka yang terlalu besar dan membuat orang curiga.

Mari bersikap biasa saja, biasa saja.

Secara spesifik, aku akan memalsukan energi sihirku.

Aku menekan aliran energi sihir dari dalam tubuh hingga batas maksimal, lalu mengencerkannya.

Dengan begini, nilai yang terpantul di kristal akan lebih rendah dari nilai aslinya.

……Sebagai catatan, ada juga sihir untuk membaca status lawan, tapi karena logikanya hampir sama dengan kristal ini, nilainya sering kali tidak ada hubungannya dengan kekuatan asli lawan, apalagi sihir itu mengharuskan adanya sentuhan sehingga jarang digunakan.

Pengguna yang sudah ahli pasti akan melakukan pemalsuan seperti yang kulakukan ini.

"Lloyd-san?"

"Ah, maaf. Segera kulakukan."

Atas desakan resepsionis, aku menjulurkan tangan ke atas kristal.

Bersamaan dengan sensasi energi sihir lemah yang mengalir melewati tubuhku, huruf-huruf mulai muncul di permukaan kristal.

Magic Power: A

Strength: F

Agility: F

Stamina: F

Resilience: F

Total Stats: E

"—Pfft."

Pria yang menonton dari belakang langsung menyemburkan tawanya.

"Gyahahaha! Total Stats: E katanya! Biasanya orang normal minimal dapat Rank D lho! Aku saja Rank C! Ternyata cuma bocah. Payah sekali—"

Di tengah tawa kerasnya, sebuah serangan siku dari Tao menghantam ulu hati pria itu, sementara sebuah pukulan backhand dari Sylpha mendarat tepat di wajahnya.

Pria itu terpental jatuh dan mengerang kesakitan.

"Jangan dimasukkan ke hati. Itu hanya tolok ukur. Terutama nilai total yang hanya merupakan jumlah dari tiap nilai. Kekuatan Tuan Lloyd tidak bisa diukur oleh kristal semacam itu."

"Benar benar, aku juga awalnya peringkat E, tapi peringkatku naik dengan cepat."

Mereka berdua berusaha menghiburku, tapi aku sendiri malah merasa lega.

Aku sempat kaget nilai Magic Power-ku masih A padahal sudah kuencerkan konsentrasinya sampai di bawah sepuluh persen, tapi efek sampingnya nilai-nilai lain jadi keluar sangat rendah, jadi ini sangat membantu.

Berkat latihan dengan Sylpha, normalnya nilaiku pasti keluar jauh lebih tinggi.

Pokoknya dengan begini orang tidak akan curiga.

Saat memikirkan hal itu, aku menyadari resepsionis itu sedang memasang wajah serius.

"Magic Power: A!? ……Memang benar orang-orang bangsawan dan kerajaan yang diberkati garis keturunan dan bakat cenderung mengeluarkan nilai standar tinggi. Tapi tetap saja paling mentok di peringkat B atau C. Peringkat A adalah nilai yang baru bisa dicapai oleh penyihir kawakan. Tapi anak ini mencapainya di usia baru sepuluh tahun…… Sulit dipercaya, tapi kristal ini baru saja diganti dengan yang baru, jadi tidak mungkin rusak. Jangan-jangan anak ini punya bakat untuk tumbuh menjadi petualang Rank S yang hanya ada segelintir orang di dunia……! Tadinya kupikir dia cuma keluarga kerajaan kurang kerjaan yang cuma mau main-main, jadi aku mau bersikap dingin saja, tapi kalau dia punya bakat Rank S urusannya jadi lain. Kalau aku jadi penanggung jawabnya, gajiku pasti beda. Aku harus memperhatikannya mulai sekarang, dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang…… Ufufu, ufufufu……"

Resepsionis itu menatapku sambil menggumam sendirian.

Ada apa dengannya?

"Anu, apa ada masalah?"

"Ah, tidak! Tidak ada apa-apa. ……Pokoknya pendaftaran sudah selesai. Berdasarkan peraturan, Anda akan memulai dari Rank E, tapi menurutku Lloyd-san pasti bisa segera naik pangkat. Jadi, apa Anda mau langsung mengambil permintaan?"

"Tentu saja!"

"Kalau begitu, aku merekomendasikan permintaan yang ini."

Kertas yang diserahkan padaku berisi tugas seperti memetik tanaman obat atau mengangkut barang.

Sejujurnya, tidak ada yang bisa dijadikan bahan eksperimen sihir, dan karena tidak ada pertempuran, sepertinya aku tidak akan bisa mendapatkan inti monster.

"……Hmm, apa tidak ada permintaan untuk mengalahkan monster? Aku ingin masuk ke dungeon."

"Untuk itu silakan naikkan peringkatmu dulu. Berdasarkan peraturan, penaklukan dungeon hanya bisa diambil oleh petualang Rank B ke atas…… Benar sekali. Kalau tiba-tiba kuberi tugas begitu lalu gagal dan dia jadi patah arang, aku harus bagaimana. Dia harus menyelesaikan permintaan mudah dulu untuk mengumpulkan pengalaman sukses. Ya, benar."

Sambil bersedekap dan mengangguk-angguk sendiri, Sylpha tiba-tiba melangkah maju ke depan resepsionis.

"Pendaftaran petualang ini adalah untuk latihan tempur nyata. Kami tidak bisa membiarkan Tuan Lloyd mencabuti rumput atau menjadi kurir. Aku yang mantan Rank A ini akan mengambil permintaan itu sebagai gantinya. Kalau begitu tidak masalah, kan?"

"Tidak bisa. Sylpha-san kan sudah pensiun."

"Kalau begitu aku akan mendaftar sekali lagi."

"Itu juga tidak bisa. Untuk pendaftaran ulang, peringkatmu akan turun dua tingkat dan dimulai dari peringkat C."

"……Kau kaku sekali ya."

"……Ini sudah peraturan."

Keduanya saling melotot seolah memercikkan bunga api.

"Ehem, ehem, ehem!"

Tao menyela di tengah-tengah mereka sambil berdeham dengan sengaja.

"Oya oya, sepertinya di sini kebetulan ada petualang Rank B yang sedang menganggur. Dan dia juga sedang mencari anggota partai. ……Hei Lloyd, bagaimana kalau kau membentuk partai denganku dan pergi ke dungeon?"

Lalu dia mengedipkan matanya dengan centil.

Isi permintaannya adalah pembasmian monster di dungeon yang terletak sekitar setengah hari perjalanan ke arah timur dari kota kastel Saloum.

Monster yang lahir di dungeon pada dasarnya akan tetap berada di dalam sana, namun jika tempatnya mulai sesak, banyak dari mereka yang akan keluar.

Jika itu terjadi, monster-monster akan berkeliaran di luar dan membahayakan para pengelana.

Oleh karena itu, Adventurer Guild secara rutin mengirim petualang untuk membasmi monster tersebut.

Tentu saja, aku juga diperbolehkan untuk menghancurkan dungeon-nya, jadi aku akan menghancurkannya tanpa ragu, dan sekalian mengambil intinya.

Sebagai catatan, resepsionis itu berkali-kali menyuruhku untuk berhati-hati.

Padahal tadinya dia bilang 'ini berbahaya jadi jangan protes kalau mati', tapi…… saat keadaan sudah mendesak, ternyata dia orang yang cukup baik ya.

"Tapi kenapa harus repot-repot jadi petualang? Kalau cuma mau memberiku pengalaman tempur asli, kita bisa pergi ke dungeon mana saja, kan?"

"Dungeon itu bisa lahir baru, hancur dan lenyap, atau bahkan berpindah tempat, lokasinya berubah dengan frekuensi yang cukup sering. Dalam sebulan saja peta bisa jadi tidak berguna. Sulit untuk mengetahui lokasi tepatnya jika bukan lewat Guild yang menyatukan banyak petualang."

"Lagipula, dungeon tipe besar yang tidak berpindah tempat itu dijaga ketat, dan kartu petualang berfungsi sebagai surat izin masuk. Agak sulit bagi orang selain petualang untuk masuk ke dungeon."

"Item yang didapatkan juga bisa dibeli oleh mereka. Selain itu semua, ini pasti akan menjadi pelajaran yang bagus. ……Hm, sepertinya itu dia tempatnya."

Saat aku mengikuti arah telunjuk Sylpha, di dalam hutan yang agak jauh dari jalan raya, sebuah lubang gua terlihat di antara celah pepohonan.

"Dungeon itu, ya! Ayo segera ke sana!"

"Tunggu dulu."

Sylpha menarik kerah baju Tao yang hendak berlari.

"Chotto! Apa-apaan sih! Leherku tercekik, tahu!"

"Aku berterima kasih kau bersedia menerima permintaan ini, tapi Tuan Lloyd adalah subjek utamanya. Tidak ada gunanya jika kau yang maju lebih dulu."

"Muuu, aku tahu kok. Aku tidak akan ikut campur dalam pertarungan sebisa mungkin, kan."

Tao memajukan bibirnya dengan tampang bosan.

Tidak masalah jika dia ikut dengan kami, tapi bagaimanapun ini adalah latihan tempurku.

Jadi Sylpha menyuruhnya agar tidak ikut campur sebisa mungkin.

Sebagai gantinya, Sylpha berjanji akan mengadakan acara minum teh bersama Albert setelah permintaan ini selesai.

"Fuhihi, minum teh bersama Albert-sama, aku tidak sabar♪"

Sylpha menatap dingin ke arah Tao yang sedang kegirangan.

Lagipula dia membuat janji seenaknya tanpa izin Albert, apa tidak apa-apa ya.

Ya sudahlah, bagiku ini membantu karena aku jadi bisa bergerak bebas.

"Kalau begitu ayo jalan, Shiro."

"On!"

Shiro menyalak semangat di sampingku.

Benar, tujuan lain di dungeon ini adalah eksperimen untuk melihat sejauh mana Shiro bisa berguna.

Aku sudah paham garis besar cara menangani Magic Beast menggunakan energi sihir.

Aku akan mencoba banyak hal di pertempuran sungguhan.

Kami segera melangkah masuk ke dalam gua.

Aku membiarkan Shiro berjalan paling depan untuk mengintai sekitar selagi kami maju perlahan.

Sylpha dan Tao mengikuti di belakang.

"Vuvuvu……"

Shiro menggeram, menatap tajam ke arah depan.

Hm, monster ya? Lewat telepati, aku mengirim perintah Bite kepada Shiro.

"On!"

Menerima perintahku, Shiro menerjang ke arah kegelapan di depan.

Gyaa! Terdengar suara teriakan dan sesuatu muncul dari kegelapan.

Sesosok monster berukuran sebesar anak kecil dan memiliki tanduk, Goblin.

"On! On!"

Shiro masih menyalak. Sepertinya masih ada lagi di dalam sana.

Hm, suara salakannya menjauh?

Sepertinya Shiro sedang mengejar para Goblin yang melarikan diri.

Sial, aku tidak bisa melihat ke sisi sana, jadi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Bagaimanapun, mengejar terlalu jauh itu berbahaya, jadi aku mengirim telepati agar dia kembali.

"Gishaaaa!"

"Opsi."

Saat aku teralihkan oleh Shiro, seekor Goblin menyerangku dengan gada kayu.

Aku melompat menghindar, lalu mencabut pedang yang tersampir di pinggang.

Itu adalah pedang yang diberikan Dian untuk kubawa.

Mungkin maksudnya agar aku menggunakannya langsung dan mengingat sensasinya.

Mari aku coba tanpa ragu.

"Fu."

Aku membuang napas pendek dan mengayunkan pedang.

Saat itu, tiba-tiba aku merasakan keanehan pada gerakanku sendiri.

Gawat, aku lupa menjiplak teknik pedang Sylpha.

Tapi garis seranganku tidak seburuk yang kukira.

Karena aku sudah berkali-kali menjiplak teknik pedang Sylpha, mungkin tubuhku sudah mengingatnya di luar kesadaran.

Goblin itu mencoba menahannya dengan gada kayu.

—Namun, pedang itu dengan telak memotong tubuh Goblin beserta gadanya.

Dengan wajah yang seolah tidak mengerti apa yang terjadi, Goblin itu tumbang.

Ooh, tajam sekali. Ternyata pedang yang diberi Enchantment itu lebih hebat dari dugaanku.

"On! On!"

Suara salakan itu kembali.

Terdengar banyak suara langkah kaki. Apa Shiro menggiring para Goblin ke sini? Kerja bagus, Shiro.

"Gi!?" "Gishishi!?"

Sambil melarikan diri, para Goblin yang menemukanku langsung menyiagakan senjata dan menerjang.

Jumlahnya lima ekor, pertama-tama aku akan menghentikan gerakan mereka.

Aku melepaskan sihir elemen tanah Earth Ball ke arah para Goblin.

Seharusnya ini menembakkan bongkahan tanah, tapi aku memodifikasi formulanya untuk memperkuat kekentalan tanah secara drastis dan menembakkannya sebagai gumpalan lumpur yang lengket.

Bashaa! Gerakan para Goblin yang terkena lumpur langsung terhenti.

Mereka menjadi lengket dan sulit bergerak.

Aku melangkah maju ke sana, lalu mengayunkan pedang secara horizontal.

"Gyaaaaaaaa!?"

Terbelah dalam sekali tebas, para Goblin itu tumbang satu demi satu.

Fuh, sempat agak panik ya. Aku memang payah kalau soal pedang.

Saat aku menghela napas lega, lumpur di bawah kakiku bergerak.

"Gishaaa!"

Sambil mengeluarkan teriakan aneh, seekor Goblin yang berlumuran lumpur menerjang ke arahku.

Uwoh, ternyata dia berpura-pura mati dan bersembunyi di dalam lumpur.

"On!"

Tepat saat aku hendak membalas serangannya, Shiro yang berlari datang langsung menggigit leher Goblin itu.

Setelah sempat meronta-ronta sebentar, Goblin itu pun berhenti bergerak.

"Terima kasih Shiro. Kau menyelamatkanku."

"Kyuu~n."

Saat aku mengelusnya, Shiro mengeluarkan suara manja dari tenggorokannya. Menggemaskan sekali.

Aku melirik ke belakang dan melihat Sylpha serta Tao sedang membicarakan sesuatu.

"Fuhihi, ternyata pelayan yang biasanya dingin ini sempat panik juga ya?"

"……Tidak, sedikit pun tidak. Itu karena aku percaya pada Tuan Lloyd."

"Kalau begitu kenapa kau menggenggam erat gagang pedangmu? Kau ini tipe pencemas ya."

"Kau sendiri yang bicara begitu, tanganmu saja masih mengepal."

"Mu……" "Fuh……"

Aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi mereka berdua tampak tersenyum.

Sepertinya mereka berdua punya kecocokan yang tidak terduga.

"Meskipun ini pertempuran sungguhan pertamanya, tidak terlihat ada kekacauan pada garis pedangnya…… Sepertinya hasil dari 'main pedang-pedangan' kita membuahkan hasil ya. Luar biasa, Tuan Lloyd."

"Padahal masih anak-anak, tapi dia sama sekali tidak ragu membunuh monster. Ditambah lagi gaya bertarungnya yang memadukan sihir juga bagus. Lloyd akan tumbuh menjadi petarung yang sangat kuat."

Mereka berdua mengikuti dari belakang sambil terus menggumam.

……Bertarung sambil ditonton begini agak sulit ya.

Para Goblin yang kutebas mulai ditelan oleh dungeon.

Katanya dungeon itu seperti monster raksasa, makhluk hidup yang tewas di dalamnya akan diserap dan menjadi nutrisinya.

"On!"

"Hm, ada apa Shiro?"

Shiro memungut sebuah batu merah kecil yang terjatuh setelah si Goblin tertelan, lalu menyerahkannya padaku.

"Begitu ya, jadi ini yang namanya inti monster."

Dibandingkan dengan inti dungeon, ini lebih kecil dan banyak mengandung kotoran.

Dengan begini, sepertinya akan sulit untuk menganyam formula sihir yang memadai.

Hanya ada satu yang terjatuh, dan saat aku masuk dungeon dulu tidak ada yang jatuh, jadi sepertinya ini cukup langka.

Yah, pokoknya simpan saja dulu.

"On!"

Shiro menggoyangkan ekornya dengan kencang seolah menyuruhku untuk cepat-cepat jalan.

……Sama seperti tadi, masalahnya adalah Shiro tidak bisa bergerak sepenuhnya sesuai keinginanku.

Lagi pula, repot juga kalau aku harus terus-menerus mengirim perintah telepati setiap saat.

Baiklah, mari menyusun formula sihir sebentar.

Ini adalah formula yang mengirim perintah otomatis kepada Shiro sesuai situasi.

Dengan begini, dia akan bertarung sendiri tanpa perlu aku perintah.

"Mari kita lihat…… Saat tidak ada musuh, berjalanlah di depanku untuk mengintai. Saat bertemu musuh, segera beralih ke mode tempur. Dalam jarak dekat dan menengah saat bertempur, bebas menyerang dengan menggigit atau mencakar. Segera patuhi jika aku memberi perintah. Dilarang menjauh terlalu jauh dariku. Untuk jarak jauh—"

"Tuan Lloyd kelihatan senang sekali ya……" gumam Grim dengan tampang sangsi melihatku yang sibuk mengutak-atik formula.

"Iya, ini menyenangkan. Apalagi karena Shiro tidak mau bergerak sesuai keinginanku, jadi mengutak-atik formulanya terasa sangat berharga."

"Ha, haa……"

Tingkat kebebasan tindakannya tinggi, dia punya wujud fisik sehingga bisa digunakan untuk berbagai hal, dan yang terpenting, dia lucu.

Magic Beast itu memang hebat ya.

"……Oke, mari kita coba dengan pengaturan ini dulu. Sisanya tinggal disesuaikan lagi formulanya sesuai situasi nanti."

"On!"

"Aduh aduh, sudah persis kayak boneka tali saja…… aku kasihan padamu, anjing kecil," Grim menghela napas panjang. Ada apa dengannya?

Bagaimanapun, kami terus maju menelusuri dungeon dengan lancar.

Perintah akhir yang kususun adalah: dalam mode siaga, Shiro berjalan sekitar 3 meter di depanku untuk mendeteksi musuh.

Jika menemukan monster, salak sekali untuk memberitahuku.

Jika musuh kabur, lumpuhkan alat geraknya, jika sulit dilakukan maka tetap siaga. Jangan mengejar terlalu jauh.

Jika musuh diam di tempat atau menyerang, mulailah menyerang.

Jika menghadapi banyak musuh, berputar ke belakang agar mereka tidak kabur dan giring mereka ke arahku.

……Kira-kira seperti itulah.

Setelah beberapa kali bertarung melawan monster, akhirnya polanya jadi seperti ini.

"On!"

Saat sedang berjalan, Shiro menyalak dan seekor Goblin melompat keluar.

Shiro segera menggigitnya dan mengalahkannya dalam sekejap.

Karena sekarang perintahnya sudah dikendalikan oleh formula dan tanganku jadi bebas, aku menyadari sesuatu saat melakukan eksperimen pada Shiro.

Jika aku merubah sifat energi sihir yang menyelimuti cakar dan taring Shiro agar menjadi lebih tajam, efeknya sangat luar biasa bahkan melawan monster.

Berkat kecepatan pembasmian yang meningkat, sekitar setengah dari monster yang muncul dikalahkan oleh Shiro.

"Lloyd! Kalau kau membiarkan si anjing mengalahkan semuanya, kau tidak akan bisa mengasah kemampuan bela dirimu!"

"Aku tahu kok!"

Sambil membalas teriakannya, aku berniat membiarkan Shiro terus bekerja keras.

Merubah sifat energi sihir pada diri sendiri itu mudah, tapi melakukannya pada orang lain itu cukup sulit.

Aku sulit membayangkan citranya dengan baik pada sesuatu yang bukan diriku.

Kekuatan dan presisinya jatuh jauh dibandingkan jika aku melakukannya pada diriku sendiri.

Butuh latihan, nih. Dan pada akhirnya, aku ingin mengotomatiskan bagian ini juga.

"Oh, sepertinya sebentar lagi sampai ke garis finis."

Ada lubang besar di depan kami.

Saat masuk dulu, ruangan bos juga memiliki lubang besar seperti ini.

"On!"

Begitu Shiro menerjang ke arah musuh seperti biasa, suara pertempuran segera terdengar.

Mari kita lihat sejauh mana dia bisa bertarung melawan bos.

Tepat saat aku hendak masuk ke ruangan, sebuah penghalang muncul di depanku dan kepalaku terbentur, gon.

"Aduh duh…… apa-apaan ini……?"

Aku mencoba memukulnya, tapi tidak bergeming sedikit pun.

Sepertinya penghalang ini dibuat agar orang dari luar tidak bisa masuk.

"Jika pertempuran di ruangan bos sudah dimulai, orang lain tidak akan bisa masuk sampai pertarungan selesai!"

"Ah, benar juga, dulu juga pernah ada yang seperti ini ya."

Di pintu masuk ruangan bos terpasang penghalang kuat yang menjadikan dungeon sebagai sumber energi sihirnya.

Mungkin syarat aktivasinya terpenuhi saat bos menemukan penyusup.

Dan hanya Shiro yang terkurung di dalam sana.

"Minggir."

Terdengar suara tepat di sampingku.

Itu Tao. Setelah mengambil satu napas, dia melepaskan serangan telapak tangan yang disertai 'Qi'. Di saat yang sama—

"Langris-style Twin Sword Technique—Wolf Fang."

Sylpha juga menerjang sambil melancarkan tebasan.

Meski diserang secara bersamaan oleh keduanya, penghalang itu tidak bergeming.

"Penghalang ini sepertinya memperkuat ketahanannya hingga batas maksimal dengan membatasi syarat aktivasinya."

Dengan memasukkan syarat tertentu, sebuah formula sihir akan mengeluarkan kekuatan yang lebih besar.

Dalam kasus ini, efeknya ditingkatkan dengan membatasi lokasi dan waktunya.

Bukannya tidak bisa dihancurkan secara paksa, tapi itu akan memakan banyak waktu.

"Kyain!"

Shiro yang terpental menghantam dinding dan mengeluarkan jeritan kesakitan.

Seekor Goblin raksasa menatapnya sambil menyeringai.

Itu adalah spesies tingkat tinggi Goblin, Hobgoblin.

Tinjunya sudah berlumuran darah.

Sepertinya ada perbedaan kemampuan tempur yang cukup jauh.

"Cih, penghalang ini bahkan tidak bisa dilewati olehku yang tidak punya wujud fisik! Kalau dibiarkan, si anjing kecil itu bakal……" Grim menggertakkan giginya.

Tapi, aku punya cara.

Penghalang tetap jenis ini sangat lemah terhadap penulisan ulang formula karena ia memaparkan dirinya tanpa pertahanan.

Jika aku mengutak-atik formulanya dan menghancurkannya, aku bisa membuat penghalang itu sendiri menjadi rapuh.

Pertama-tama, aku akan menghapus syaratnya.

Penetapan syarat yang ketat memang membuat penghalang ini menjadi sangat kokoh, tapi jika aku mengubah pengaturannya menjadi bebas, tingkat pertahanannya pasti akan menurun drastis.

Mari kita lihat... penulisan ulang formula, selesai. Sip, begini saja harusnya sudah cukup membuat strukturnya rapuh.

"Kalian berdua! Serang sekali lagi! Kali ini dengan seluruh kekuatan kalian!"

"……! Baik, aku mengerti."

"Siap dilaksanakan, aru!"

Mendengar suaraku, Sylpha dan Tao mengangguk sambil mengambil kuda-kuda. Mereka mengisi tubuh dengan energi melalui pernapasan, lalu merangsek maju.

"One Hundred Flower Fist: Single Point Breakthrough Form — Thunderfire Crumbling Fist!"

"Langris-style Twin Sword Technique — Lion's Roar!"

Zuzun! Disertai guncangan hebat, penghalang itu bergetar hebat.

"Kh……!"

"Auh……!?"

Pedang Sylpha hancur berkeping-keping, sementara Tao jatuh terduduk sambil memegangi tinjunya.

Namun, sebuah retakan kecil muncul di pusat penghalang itu.

Retakan itu perlahan meluas, dan—gashaaann! Penghalang itu pun hancur berkeping-keping.

"Shiro!"

Aku melewati penghalang dan berlari. Hobgoblin yang hendak menginjak Shiro menyadari keberadaanku dan menoleh ke arahku.

"GRUOOOOOOO!"

"—Mengganggu saja."

Sebelum raungan itu selesai, tangan kananku yang memegang pedang—Grim—melepaskan gelombang energi sihir hitam.

Serangan itu menembus mulut Hobgoblin dan meledakkan wajahnya.

Aku melirik sekilas ke arah Hobgoblin yang tumbang, lalu memanggil Shiro.

"Shiro, kau tidak apa-apa?"

"Kyuuu~n……"

Shiro mengeluarkan suara rintihan yang lemah. Luka-lukanya cukup parah.

Seandainya dia hanya fokus melarikan diri, dia tidak akan sampai seperti ini, tapi karena dia mematuhi perintahku dengan jujur, hasilnya jadi begini.

Memberikan perintah secara otomatis ternyata tidak bagus karena mematikan kemampuan adaptasi. Ini perlu dikaji ulang.

"Tuan Lloyd, cepat sembuhkan si anjing kecil ini."

"Oh benar, kau benar."

Analisisnya nanti saja, aku menjulurkan tangan ke luka Shiro. Sihir pemulihan tingkat tertinggi, Holy Healing Light.

Cahaya lembut menyelimuti Shiro dan menyembuhkan luka-lukanya. Begitu cahaya meredup, Shiro membuka matanya lebar-lebar dan melompat turun dari lenganku.

"On!"

Dia menyalak semangat sambil menggoyangkan ekornya dengan kencang. Sepertinya dia sudah pulih sepenuhnya.

"Heh, syukurlah kalau begitu, anjing kecil."

"On on!"

Saat Grim mengejeknya, Shiro malah menjilat tangan kananku.

"Melemahkan penghalang itu……? Aku yakin itu sejenis sihir, tapi bisa melakukan hal seperti itu benar-benar bukan orang biasa. Apalagi sampai menguasai sihir pemulihan yang penggunanya sedikit…… Bakat sihir Lloyd mungkin sudah melampaui Albert-sama, aru……"

"Tebasan hitam tadi, mungkinkah itu Magic Sword Art yang menggabungkan sihir dan teknik pedang……? Teknik itu memang ada sebagai jurus rahasia di aliran Langris kami jika menggunakan Magic Sword. Tapi tetap saja penggunaannya sangat terbatas. Bahkan ayahku pun tidak bisa menguasainya dengan benar……! Jika itu Tuan Lloyd yang memiliki bakat di kedua bidang, mungkinkah hal itu dilakukan? Karena kejadiannya sangat mendadak, beliau sendiri pasti belum memahaminya secara jelas…… Fufufu, Tuan Lloyd, seberapa dalam sebenarnya rahasia yang Anda simpan……!"

Mereka berdua menggumamkan sesuatu, tapi aku terlalu sibuk meladeni Shiro yang mengajak main. Aduh aduh, geli tahu.

Setelah Hobgoblin dikalahkan, ruangan di bagian dalam terbuka. Saat melangkah masuk, sebuah peti harta karun sedang tertidur di sana.

"Harta karun, ya. Tapi karena dungeon ini kecil, paling isinya cuma item biasa."

"Benar, tapi tujuan Tuan Lloyd adalah inti monster berkualitas tinggi. Itu ada di sini."

Sambil berkata begitu, Sylpha menatap tajam ke arah peti harta karun itu.

Seketika, suasana peti itu berubah. Seolah memiliki kehendak sendiri, peti itu mulai menunjukkan gelagat ingin melarikan diri.

"Hah!"

Sylpha mengembuskan napas pendek, mengibaskan roknya, dan melemparkan belati yang ia sembunyikan.

Peti harta karun itu melompat dengan kecepatan tinggi untuk menghindar. Ia menghindari belati Sylpha berkali-kali. Sret, sret, sret.

"Apa!? Peti harta karunnya bisa melompat-lompat, aru!?"

"Tolong kalahkan dia."

"Ba-baiklah—Iyaaaa!"

Tao meluncurkan tendangan memutar ke arah peti yang bergerak cepat itu.

Tendangannya telak mengenai sasaran dan menghantamkan peti itu ke dinding, tapi sepertinya serangan itu tidak berpengaruh sama sekali.

Begitu bangkit, peti itu kembali melompat-lompat dengan lincah.

"Makhluk apa sih ini!?"

"Peti harta karun yang berada di bagian terdalam dungeon sebenarnya adalah inti dari monster itu sendiri. Kualitasnya sangat tinggi, tapi sangat keras dan lincah. Tidak mudah untuk mengalahkannya."

Memang bagi mereka yang tahu, inti monster berkualitas tinggi bisa didapatkan dengan mudah di dungeon level rendah.

Tapi melihat Sylpha yang Rank A dan Tao yang Rank B pun kesulitan, ini lawan yang cukup merepotkan.

Namun, aku juga butuh inti itu. Aku tidak boleh membiarkannya kabur.

Aku memasang Magic Barrier di jalur pelarian si peti yang hendak menuju pintu masuk di belakangku.

Sesaat kemudian, dukk!

Terdengar suara tumpul saat peti itu menabrak penghalang.

Ia pun jatuh terkapar di lantai.

Tak melewatkan celah itu, belati yang dilemparkan Sylpha menancap tepat sasaran, dan si peti harta karun pun berhenti bergerak.

"Tuan Lloyd, apa Anda baru saja melakukan sesuatu?"

"Tidak? Dia cuma menabrak tembok sendiri kok."

"……Fumu, benar juga. Peti harta karun memiliki ketahanan sihir yang sangat tinggi. Sehebat apa pun Tuan Lloyd, pasti sulit untuk memberikan damage padanya."

Begitukah? Padahal terakhir kali aku melakukannya, aku bisa menghancurkannya dalam satu serangan dengan sihir elemen angin.

Ternyata pilihanku untuk tidak mengalahkannya secara normal sudah tepat. Nyaris saja aku membuat mereka curiga.

 

"Ooh, dia sudah tidak bergerak lagi ya."

"Kalau begitu, bolehkah aku mengambilnya?"

"Silakan, sesuka Anda. ……Sebagai gantinya Sylpha, soal 'hal' itu, aku benar-benar mengandalkanmu, aru. Fuhihi."

"Iya, iya."

Mendengar bisikan Tao yang menyeringai itu, Sylpha hanya menjawab dengan dingin.

Setelah keluar dari dungeon, aku merasakan keberadaan seseorang dari balik pohon besar di depan kami.

Tao yang sepertinya juga menyadarinya langsung berteriak.

"Siapa yang ada di sana, aru!?"

Sambil berdecak kesal, seorang pria muncul. Hm, rasanya aku pernah melihat orang ini di suatu tempat.

"Anda kalau tidak salah…… Galapagos, ya? Apa yang Anda lakukan di tempat seperti ini?"

"Galahad! ……Aku cuma datang untuk memastikan apa bocah di sana itu bermain curang atau tidak!"

Curang? Saat aku memiringkan kepala kebingungan, Tao memberi penjelasan.

"Aku ingat. Pria itu, Galahad si 'Penghancur Pemula'. Dia petualang berhati busuk yang selalu mencari gara-gara dan berusaha menghancurkan setiap pendatang baru yang berbakat."

"Benar-benar kurang kerjaan…… Daripada melakukan hal itu, lebih baik Anda mengasah teknik Anda sendiri……"

"Kalau dia bisa berusaha sekeras itu, dia tidak akan melakukan hal memalukan seperti ini. Pria ini sudah menyerah untuk menjadi kuat. Makanya dia cuma bisa menjatuhkan orang lain seperti ini, aru."

"Itu benar-benar…… hal yang menyedihkan ya……"

Tao dan Sylpha menatap pria itu dengan pandangan kasihan.

"B-berisik! Diam kalian semua!"

Pria itu meledak marah, wajahnya merah padam saat dia membentak.

"Kalau bocah lemah yang cuma mengandalkan kakak-kakak kuat untuk bertarung dan mencuri hasil kerja keras mereka bisa naik peringkat, itu akan merusak kualitas petualang secara keseluruhan! Makanya aku datang untuk melihat apa ada kecurangan! ……Tapi lihat, kalian baru keluar dari dungeon tapi penampilanmu masih sangat rapi. Sudah jelas kau sama sekali tidak bertarung! Akan kulaporkan kau ke Guild—"

"On!"

Sebelum pria itu selesai bicara, Shiro sudah menggigit kakinya.

"Ugyaaaaaaa!? Sa-sakiiiitttt!?"

Ah, aku lupa menghapus perintah untuk menyerang musuh secara otomatis.

Tiba-tiba menggigit begitu kan berbahaya.

Nanti akan kuhapus. Pria itu berusaha melepaskan diri, tapi Shiro tidak mau lepas.

"Oi Shiro, lepaskan dia."

"Grrrrrr……"

Sambil menggeram, Shiro melepaskan pria itu.

Tao dan Sylpha mendekati pria yang sedang meringkuk ketakutan itu.

"Asal kau tahu, kami hampir tidak ikut campur dalam penaklukan dungeon ini. Semua musuh dikalahkan oleh Lloyd dan Shiro, aru."

"Sekadar informasi, Shiro yang sekarang membuatmu ketakutan ini adalah Familiar milik Tuan Lloyd. Kau pasti mengerti kan kalau kekuatan Familiar itu jauh di bawah tuannya? Jika sudah paham, pergilah sebelum kau mempermalukan dirimu lebih jauh lagi."

"Hi-hiiiiii!?"

Setelah mendengar gertakan mereka, pria itu langsung lari terbirit-birit.

"Ngomong-ngomong Tao, bolehkah aku menitipkan laporan penyelesaian permintaannya? Aku harus segera kembali."

Lagipula aku hanya datang untuk mengambil inti monster.

Aku tidak peduli soal laporan, aku ingin cepat-cepat kembali ke kastel untuk melanjutkan pembuatan Magic Sword.

"Aku tidak keberatan sih…… tapi bagaimana dengan imbalannya?"

"Berikan saja untuk Tao. Anggap saja sebagai tanda terima kasih."

"Fumu, benar juga, Lloyd kan pangeran. Kau pasti tidak butuh uang. Baiklah. Akan kulaporkan aksi hebatmu ke Guild tanpa terlewat satu pun, jadi tenang saja!"

Tao mengacungkan jempolnya dengan mantap.

"……Tolong laporannya yang akurat saja ya."

"Tentu! Serahkan padaku!"

……Rasanya dia bakal melaporkan hal-hal yang tidak-tidak dan membuatku cemas, tapi yah, aku juga tidak akan sering-sering menjadi petualang.

Tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Aku berpamitan pada Tao dan kembali ke kastel.

Begitu sampai di kastel, aku segera menuju bengkel kerja Dian.

 

"Ooh, bukankah ini Roddy-bou. Belakangan ini kau tidak kelihatan, ke mana saja?"

"Maaf. Sebenarnya aku pergi mengambil ini."

Sambil berkata begitu, aku menunjukkan inti dungeon yang kudapatkan kepada Dian.

"Ini…… inti monster! Kemurniannya tidak perlu diragukan lagi…… Aku tidak tahu dari mana kau mendapatkannya, tapi kerja bagus! Aku juga sudah mencoba berbagai cara tapi tidak bisa mendapatkannya dan hampir menyerah, tapi…… sial, kau hebat juga ya, Roddy-bou!"

Dian memukul-mukul punggungku dengan gembira. Sakit, tahu.

"Da-daripada itu, ayo segera buat Magic Sword-nya."

"Heh, benar juga…… sial, kau malah lebih semangat soal Magic Sword daripada aku. Sebagai kakak dan sebagai pandai besi, aku jadi merasa tidak berguna. Kalau bos dengar pasti dia bakal tertawa."

Dian menggumamkan sesuatu. Aku tidak peduli, aku hanya ingin segera mulai membuat Magic Sword.

"Apa yang sedang kau lakukan, Bos?"

"Jangan panggil aku Bos! Panggil Dian!"

Lagi-lagi dia minta dipanggil dengan nama yang berbeda. Aku mulai bingung sendiri. Lagipula, memanggil kakak sendiri tanpa sebutan kehormatan itu rasanya mustahil.

"Ba-baik. Kak Dian."

"……Cih, ya sudahlah."

Meskipun Dian tampak sedikit tidak puas, sepertinya dia menerima panggilan itu. Dan pembuatan Magic Sword pun dimulai.

Meski begitu, resepnya sudah ada.

Bahannya pun sudah lengkap, jadi kami tinggal melakukannya sesuai rencana.

Kami maju selangkah demi selangkah dengan teliti dan penuh kesabaran. Dan akhirnya—

"Selesai……!"

Pedang panjang yang diletakkan di atas paron ini adalah Magic Sword yang kami buat bersama.

Sekilas terlihat tangguh, namun keindahannya terpancar sebagai sebuah mahakarya.

Pada bilahnya yang berkilau perak, terdapat semburat warna merah yang samar.

Penampilannya hampir tidak berbeda dengan Magic Sword yang pernah kulihat sebelumnya.

"Hasilnya bagus sekali ya."

"Ouh, benar. Kita harus memberinya nama. ……Bagaimana kalau 'Di-Lloyd', mengambil dari namaku dan namamu?"

Dian mengelus pedang itu dengan gembira. Nama apa pun tidak masalah bagiku, jika dia menyukainya, maka aku setuju saja.

"Nama yang bagus. Rasanya sangat keren."

"Heh, begitu ya. ……Ini semua berkat dirimu. Terima kasih ya, Roddy-bou."

Mungkin karena impiannya akhirnya terwujud, Dian tampak sedikit berkaca-kaca. Dia pasti senang karena bisa menembakkan sihir. Ya, aku mengerti perasaannya.

"Ayo segera kita uji coba!"

"Benar. Ayo kita ke luar!"

Aku dan Dian menuju lapangan tembak yang biasa digunakan untuk latihan sihir.

Di ruangan luas seluas seratus meter persegi itu, para penyihir kastel sedang giat berlatih hari ini.

Di tengah-tengah mereka, Albert menyadari keberadaan kami dan mendekat.

"Hai Dian, juga Lloyd. Ada apa ini?"

"Hehe, akhirnya Magic Sword-nya selesai, Kak Al."

"Ooh! Bukankah itu hebat!"

"Ini semua berkat Roddy-bou. Tentu saja aku juga berterima kasih pada Kak Al yang sudah memperkenalkannya padaku."

"Begitu ya. ……Meski ada bantuan dari Dian, bisa menyelesaikan Magic Sword dengan begitu cepat, bakat Lloyd memang luar biasa. Apalagi aku melihat masih banyak potensi untuk berkembang. Benar-benar adik yang mengerikan. Fufufufufu."




Albert menatapku lekat-lekat sambil menggumamkan sesuatu.

Padahal aku ingin segera mulai uji cobanya.

"Jadi, ini saatnya uji coba tebas, ya?"

"Ouh, tentu saja Kak Al juga harus menonton, kan?"

"Tentu saja. Aku akan menontonnya dari kursi penonton istimewa…… Hei, bersiaplah."

Albert memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan target.

Begitu Dian menggenggam Magic Sword dan mengambil kuda-kuda, cahaya merah bersemayam di bilahnya.

Formula sihir yang tertanam di Magic Sword akan aktif sesuai dengan energi sihir pemiliknya saat digenggam.

Dengan mengayunkannya sesuai kehendak, formula tersebut akan terhubung dan mengaktifkan Blazing Fireball yang tersimpan di dalam bilah—begitulah mekanismenya.

Sejauh ini sepertinya formulanya bekerja dengan baik, tapi aku belum bisa tenang.

Aku mengawasi setiap gerak-gerik Dian sambil menahan napas.

"Kalau begitu…… rasakan ini! Mengaumah, Dylloyd! Bakar habis musuhmu!"

Bersamaan dengan teriakan semangatnya, Dian mengayunkan Magic Sword itu ke bawah.

Api tercipta di udara dan menyembur ke arah depan.

Gooooo!

Kobaran api yang membara terbang lurus mengincar target.

Api itu membakar rumput, menghanguskan udara, menembus target, dan lenyap ke kejauhan yang amat jauh.

Ooh, berhasil. Blazing Fireball aktif tepat sesuai dengan formula sihir yang kususun.

Saat aku sedang merasa puas dengan hasilnya, kedua kakak laki-lakiku yang berdiri tepat di sampingku menunjukkan ekspresi kaget yang luar biasa.

"A-apa-apaan itu!? Targetnya hancur berantakan dan apinya terus memanjang sampai tidak kelihatan!? Sihir biasa tidak mungkin begini……! Roddy-bou, sihir macam apa yang sebenarnya kau masukkan ke sana……?"

"K-kekuatan yang sulit dipercaya……! Aku tidak ingin berpikir begini, tapi apa kau memasukkan sihir tingkat tertinggi…… Tidak, aku belum pernah melihat Magic Sword seperti ini…… Sebenarnya apa yang terjadi……!?"

Mungkin saking terkejutnya, mereka berdua sampai melongo lebar.

Gawat, sepertinya kekuatannya sedikit terlalu tinggi. Aku harus mencari alasan untuk menutupinya.

"Wa-waaa. Kekuatannya hebat yaaa. Mungkinkah kecocokan antara pedang buatan Kak Dian dengan sihirku sangat bagus?"

Aku mencoba berpura-pura seperti itu, tapi…… sepertinya agak terlalu dibuat-buat ya.

Segala sesuatu di dunia ini memiliki kecocokan.

Begitu pula dengan Magic Sword; meskipun menggunakan formula yang sama, akan muncul perbedaan kemampuan tergantung pada kecocokan dengan pengguna sihirnya.

"Ouh, kalau soal itu aku pernah dengar! Katanya kualitas pembuatan Magic Sword sangat bergantung pada kecocokan antara pandai besi dan penyihirnya! Intinya, alasan kenapa pedang sehebat ini bisa tercipta adalah—karena aku dan Roddy-bou adalah kombo maut dengan kecocokan terbaik!"

Syukurlah. Dian sepertinya teryakinkan.

Tepat saat aku menghela napas lega, aku menyadari Albert sedang menyipitkan matanya.

"……Tunggu dulu."

Ti-tidak bisa ya.

Ternyata Albert yang punya dasar sihir tidak bisa dikelabui sepenuhnya.

Aku pasrah dan memejamkan mata.

"Aku tidak bisa membiarkan ucapan itu lewat begitu saja. Asal tahu saja, yang punya kecocokan terbaik dengan Lloyd itu adalah aku."

"Eeeh……"

Dian berseru tidak puas, sementara aku hampir saja terjungkal. Albert malah mulai bersaing di bagian yang aneh.

Yah, entahlah, tapi sepertinya aku berhasil mengelabui mereka.

Lain kali aku akan menyusun formula yang lebih lemah saja.

Setelah itu, kami mencoba membuat Magic Sword lagi dengan melibatkan Albert.

Namun, aku sengaja menahan diri dan memasukkan Fireball yang sudah kuperlemah habis-habisan ke dalam pedangnya.

Dian dan Albert sempat memiringkan kepala melihat hasilnya, tapi aku berhasil meyakinkan mereka bahwa keberhasilan sebelumnya hanyalah kebetulan belaka.

Tidak baik juga kalau penilaian mereka terhadapku naik terlalu tinggi, bisa-bisa aku disuruh membuat Magic Sword terus-menerus.

Membuat Magic Sword memang menyenangkan, tapi kalau harus terus-menerus membuatnya, itu sih merepotkan.

Hal yang ingin kulakukan hanyalah sihir. P

embuatan Magic Sword hanyalah salah satu bagian darinya.

"Muu, daya rusaknya tidak keluar seperti tadi ya……"

"Sayang sekali, tapi apa boleh buat. Yah, sepertinya akulah yang benar-benar cocok dengan Lloyd. Hahaha."

Entah kenapa Albert terlihat senang. Meskipun kakak sendiri, dia orang yang sulit dimengerti.

"Lagi pula, meski tidak sampai sehebat tadi, Magic Sword tetaplah Magic Sword. Kegunaannya sudah cukup banyak. ……Dian, sesuai janji, kau mau membantu rencana itu, kan?"

"Ah, tentu saja."

Kira-kira apa "rencana itu"? Melihatku yang memiringkan kepala penasaran, mereka berdua menyeringai.

 

"Pasukan Magic Sword!?"

Melihatku yang refleks berteriak, mereka berdua kembali menyeringai.

"—Ya, itulah syarat saat aku memperkenalkanmu pada Dian. Aku berencana melengkapi seluruh pengawal pribadiku dengan Magic Sword."

"Aku tidak pernah bermimpi bisa memproduksi Magic Sword di negara ini, tapi karena sudah terlanjur bisa, ya apa boleh buat. Ayo kita lakukan, Roddy-bou!"

Dian dan Albert bersalaman dengan mantap.

Tak kusangka mereka berdua berniat memproduksi massal Magic Sword dan membentuk pasukan.

Memang kedengarannya keren, sih……

"Terlebih lagi bagi selain pengawal pribadi…… meski Magic Sword mungkin terlalu sulit, setidaknya aku ingin memberikan pedang yang sudah diberi Enchantment kepada prajurit yang berprestasi. Pada akhirnya, jika seluruh prajurit kastel memilikinya, pasukan terkuat akan tercipta."

"Kuuu~! Bukankah itu keren! Aku jadi semakin bersemangat!"

Oi oi, bahkan seluruh prajurit kastel?

Itu sih mustahil. Inti monster biasa saja sangat sulit didapatkan.

Saat aku sedang melamun karena heran, aku merasa ada sesuatu yang menarik lengan bajuku.

"Kyuuu~n."

"Hm, ada apa Shiro?"

"On!"

Itu Shiro. Shiro menarikku dan mulai berlari.

"Wawa!?"

"Hei hei Lloyd, kau mau ke mana? Tanpamu rencana ini tidak akan jalan!"

"Meskipun Kakak bilang begitu…… na-nanti saja yaaaa!"

Sambil ditarik oleh Shiro, aku pun meninggalkan tempat itu.

Tempat tujuan kami adalah menara tempat tinggal putri keenam, Alize. Ada urusan apa di tempat seperti ini?

"On!"

"Sepertinya dia bilang, 'sudah ikut saja', tuh."

"Iya iya, aku mengerti."

Atas desakan Shiro, aku mengetuk pintu menara.

Yang keluar dari dalam adalah pelayan pribadinya, Erice. Entah kenapa wajahnya terlihat sangat lelah.

"Aduhh, Tuan Lloyd. Selamat siang."

"Hai. Sepertinya kamu kelihatan lelah ya."

"Ya…… belakangan ini entah dari mana jumlah Magic Beast bertambah lagi…… Haa, apa tidak bisa dilakukan sesuatu ya……"

Sepertinya Alize memancing datangnya Magic Beast lagi. Benar-benar seperti umpan hidup ya. Merawat Alize sepertinya berat sekali.

"Ngomong-ngomong, mereka mirip dengan anjing milik Tuan Lloyd……"

Meninggalkan Erice yang memiringkan kepala, Shiro melangkah masuk ke dalam menara. Hei hei, tidak boleh masuk sembarangan begitu.

"Oooooon!"

Shiro melolong di tengah menara. Seketika, dari semak-semak di sekitar, muncullah sesuatu.

"Wan wan!"

"Kyan kyan!"

Yang berlari mendekati Shiro sambil menyalak nyaring adalah Bearwolf, jenis yang sama dengan Shiro yang pernah kami temui di hutan dulu.

Sosok mereka yang ukurannya satu tingkat lebih kecil dari Shiro terlihat seperti Shiro versi mini.

Aku dan Shiro dalam sekejap dikelilingi oleh para Shiro mini itu.

"Ara ara, kalian mau ke mana?"

Yang muncul mengejar mereka adalah Alize. Terlebih lagi, dia sedang menggendong beberapa ekor Shiro yang jauh lebih kecil lagi—Shiro mungil.

"Wah, Lloyd! Kamu datang lagi ya! Kakak senang sekali!"

"Wapu!?"

Aku dipeluk bersama para Shiro mungil itu dan didekap dengan kencang. Su—sulit bernapas……

"Wan!" "Kyan!"

Terlebih lagi para Shiro mini pun ikut menggosok-gosokkan badan mereka padaku. Ini sebenarnya ada apa sih.

"Fufu, mereka lucu, kan? Anak-anak ini baru beberapa hari lalu tersesat masuk ke kastel, jadi aku melindungi mereka. Sepertinya mereka kenalan Shiro juga. Iya, kan?"

"Wan wan!" "Kyan kyan!"

Seolah membenarkan ucapan itu, para Shiro mini dan mungil itu menyalak.

Tunggu dulu, Kak Alize mengerti bahasa mereka? Benar-benar mengerikan.

"Haa, aku berharap kemampuan bicara itu dibagi sedikit kepada kami juga."

"Ara Erice, aku mencintai kalian semua tanpa membeda-bedakan, baik anak-anak ini, kamu, maupun Lloyd."

"Disamakan dengan binatang!? Aku tidak bisa mengabaikan ucapan itu, Alize-sama!"

"Ufufu."

Alize berbincang akrab dengan Erice. Ternyata mereka berdua cukup akrab ya.

"Sepertinya mereka ini mengejar Tuan Lloyd."

Kalau tidak salah, saat berpisah dulu mereka tetap di hutan karena punya anak, kan?

Waktu aku meninggalkan hutan, mereka terlihat sangat ingin ikut.

Jadi akhirnya mereka datang ke sini bersama anak-anak mereka.

"Wan!"

Para Shiro mini masuk ke semak-semak sebentar, lalu kembali sambil menggigit sesuatu. Di depanku berjajar batu-batu merah. Ini adalah…… inti monster.

"On!"

Shiro menatapku lurus-lurus dan menyalak.

"Sepertinya dia menyuruh Tuan untuk mengambilnya."

"Ternyata itu alasan Shiro membawaku ke sini."

Jumlahnya cukup banyak, bahkan ada beberapa yang berkualitas tinggi sehingga bisa digunakan untuk pembuatan Magic Sword.

Tadinya aku sudah malas kalau harus mengumpulkan bahan dari nol, tapi…… kalau begini, aku tidak keberatan membantu Dian.

Lagi pula aku ingin mencoba berbagai macam formula sihir lainnya.

"Baiklah, kerja bagus kalian semua. Aku akan sering-sering datang berkunjung."

"Wan!" "Kyan kyan!"

Saat aku mengelus Shiro mini dan mungil, mereka semua berkumpul berebutan ingin dielus. Hei hei, antre ya.

"Ternyata itu memang Magic Beast yang dipanggil oleh Tuan Lloyd…… Hah! Ja-jangan-jangan mulai sekarang jumlah Magic Beast akan bertambah dua kali lipat oleh Tuan Lloyd dan Alize-sama!? Jika begitu, waktu cutiku…… t-tidak mungkinnn……"

Erice jatuh terduduk sambil menggumamkan sesuatu. Mungkin dia kelelahan. Jadi pelayan itu berat ya. Sambil memikirkan hal itu, aku meninggalkan menara.

 

"Oi oi oi oi, Lloyd, kau ini…… dari mana kau bisa mendapatkan inti monster sebanyak ini!"

Di hadapan tumpukan inti monster, Dian terbelalak kaget.

"Shiro dan kawan-kawannya yang mengumpulkannya untukku."

"On!"

"Hebat sekali! Terima kasih ya!"

Dian mencoba mengelus Shiro yang mengangguk bangga.

"Vuvuvu……!"

Namun Shiro menolak dengan geraman pelan. Dian sempat gentar sesaat, tapi segera menatapku sambil menyeringai.

"Oups, jadi dia tidak mau akrab dengan siapa pun selain tuannya, ya? Ya ampun, anjing kecil yang sombong."

"Maaf ya, Kak Dian."

"Tidak apa-apa. Lagipula dengan ini kita bisa mulai memproduksi massal Magic Sword."

"Ya, pasukan Magic Sword, terdengar sangat keren. Ayo kita coba."

Berkat Shiro dan yang lainnya membawakan inti monster, produksi massal Magic Sword sepertinya tidak akan bermasalah.

Bahannya sudah cukup, mari kita lakukan sebisa mungkin.

Setelah itu, untuk beberapa waktu aku mencurahkan tenagaku untuk pembuatan Magic Sword di tempat Dian.

Dengan mengalami puluhan kegagalan, pandanganku terhadap Enchantment pun berubah.

Pertama-tama, sebuah senjata akan menjadi jauh lebih kuat daripada senjata biasa saat diberi Enchantment. Namun, Enchantment itu ternyata mudah sekali luntur.

Selain karena degradasi akibat pertempuran, gesekan saat mencabut dan memasukkan pedang ke sarungnya juga tidak bisa diabaikan.

Bagi yang cepat, sepertinya dalam sepuluh hari saja sudah luntur.

Oleh karena itu, menjaga keawetan formula sihir jauh lebih penting daripada meningkatkan daya serang atau kekuatan pedang.

Apalagi bagi Magic Sword, jika sebagian formulanya rusak saja, sihirnya tidak akan aktif dan ia hanya akan menjadi pedang biasa.

"Pokoknya harus mengukir formula dengan akurat dan kuat……!"

Satu per satu huruf kuukir dengan teliti dan penuh dedikasi; bukan seperti menganyam, melainkan dengan perasaan seperti memahat.

Jika aku memasang formula pemeliharaan dua lapis sebagai tindakan pencegahan, mungkin akan bertahan sekitar satu tahun. Kuharap bisa bertahan selama itu.

Soalnya, setiap satu pedang yang dibuat memakan tenaga dan biaya yang sampai membuatku pening.

"Wan!"

Shiro mini masuk ke bengkel sambil menggigit inti monster.

"Ooh, kalian datang lagi hari ini. Terima kasih ya!"

"Wan wan!"

"Oke oke, ini makanannya—"

Para Shiro mini meletakkan inti monster di sembarang tempat, lalu mengerubungi makanan yang dikeluarkan Dian.

Ngomong-ngomong, mereka memungutnya dari mana ya…… mungkin mereka mengalahkan monster di sekitar sini.

Karena mereka membawa dalam jumlah yang cukup banyak, dalam sehari kami bisa membuat satu Magic Sword dan sekitar dua pedang yang diberi Enchantment.

Dan akhirnya—

"Kak Al, untuk sementara tiga puluh Magic Sword sudah selesai."

"Ooh! Magic Sword sebanyak ini…… luar biasa!"

Melihat deretan pedang itu, mata Albert berbinar.

"Dengan ini, pasukan ini akan berfungsi dengan baik. Dian, Lloyd, kalian berdua sudah bekerja keras!"

"Hehe, aku cuma melakukan apa yang kusukai saja."

"Iya, aku juga banyak belajar."

Berkat ini, aku mendapatkan berbagai ilmu tentang penguncian formula sihir dan Enchantment pada benda padat.

Kapan-kapan aku akan mencoba menerapkannya pada hal lain.

"Aku ingin memberikan semacam hadiah, tapi……"

"Ouh, benar juga Kak Al. Kita harus memberikan hadiah untuk Roddy-bou!"

"Umu, apa yang kau inginkan? Katakan saja keinginanmu."

Mendengar pertanyaan Albert, aku berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Kalau begitu…… aku ingin Kak Dian membuatkan satu Magic Sword untukku. Untuk diriku sendiri."

Mendengar ucapanku, mereka berdua saling berpandangan dan tertawa.

"Benar juga, Lloyd memang belum punya Magic Sword miliknya sendiri ya."

"Hahaha! Setelah disuruh membuat sebanyak itu, tentu saja kau jadi ingin punya bagianmu sendiri! Maaf maaf. Kalau soal itu, serahkan saja padaku. Aku akan menempa Magic Sword terbaik untukmu!"

"Aku juga akan membantu mengumpulkan bahan. Aku berjanji akan mengumpulkan bahan-bahan terbaik."

"Ooh! Kalau begitu Kak Al, mumpung ada kesempatan, ayo kita buat senjata yang luar biasa tanpa memedulikan biaya! Apa kita bisa mendapatkan Tamahagane atau semacamnya!?"

"Fumu, itu baja sihir yang dianggap paling baik untuk membuat Magic Sword ya. Baiklah, aku akan menggunakan koneksiku untuk menyiapkan kualitas tertinggi."

"Hehe, sepertinya akan lahir Magic Sword yang luar biasa. Aku jadi bersemangat!"

Mereka berdua asyik mengobrol sendiri dan membiarkanku begitu saja.

Yah, tidak apa-apa selama Magic Sword yang bagus bisa tercipta.

Keesokan harinya, karena ada kabar bahwa pengumpulan bahan sudah selesai, aku pun menuju bengkel.

"Ooh Lloyd, selamat datang."

"Sesuai permintaan Dian, aku sudah menyiapkan bahan-bahan terbaik."

"Terima kasih. Ayo segera kita buat."

Maka dimulailah pembuatan Magic Sword milikku. Aku mengukir formula sihir bersama cairan sumsum sihir ke pedang yang ditempa Dian.

"Ngomong-ngomong, sihir macam apa yang mau Anda masukkan? Apakah salah satu sihir tingkat tertinggi?"

"Lihat saja nanti."

Tanpa menjawab pertanyaan Grim, aku berkonsentrasi pada pekerjaanku selama beberapa saat—dan akhirnya, Magic Sword milikku selesai.

Pedang yang sedikit pendek dan pas dengan tinggi badanku. Beratnya terasa pas dan sangat nyaman di tanganku.

Saat aku menggenggam dan mengubah sudutnya, cahaya memantul di bilah peraknya dan berkilauan.

"Nah Lloyd, sekarang beritahu kami sihir apa yang kau masukkan ke sana?"

"Benar Lloyd, jangan membuat kami penasaran terus."

Ternyata aku merahasiakannya dari mereka berdua juga ya.

Grim pun sepertinya ikut memasang telinga.

Entah kenapa aku merahasiakannya, tapi sebenarnya bukan sesuatu yang perlu disembunyikan juga…… malah aku jadi merasa malu sendiri.

"Sebenarnya bukan sesuatu yang harus dibicarakan secara formal begini…… baiklah. Ayo kita coba di luar."

Begitu aku melangkah ke luar dan menggenggam pedang itu, bilahnya mulai memancarkan cahaya putih.

Aku melambaikan tangan kepada Albert yang berdiri agak jauh.

"Kalau begitu Kak Albert, bisakah Kakak menembakkan sihir apa saja padaku?"

"Baiklah."

Setelah berkata begitu, Albert menembakkan Fireball. Aku mengarahkan pedang ke arah bola api yang terbang ke arahku.

Seketika, bola api itu lenyap, dan bilah pedangku berubah menjadi sedikit kemerahan.

"Sip, berhasil."

Melihatku melakukan pose kemenangan, Dian memasang wajah heran.

"Aku terkejut. Bola apinya lenyap. Trik sulap apa yang kau gunakan?"

"……Begitu ya, Magic Absorption, ya."

Mendengar ucapan Albert, aku mengangguk. Magic Absorption adalah sihir untuk menahan sihir lawan dan mengubahnya menjadi energi sihir sendiri.

Ini adalah salah satu sihir untuk melawan penyihir; sekilas terlihat kuat, tapi penggunanya harus mengaktifkannya setelah melihat sihir lawan dan harus selalu menyiagakan formulanya.

Karena itu, pengguna tidak bisa menyerang balik dan harus fokus menahan serangan, sehingga sulit untuk melakukan gerakan lain.

Sihir ini terlihat praktis tapi sebenarnya cukup sulit digunakan.

"Fuh, kau sudah memikirkannya ya Lloyd. Benar, sebagai sihir murni Magic Absorption memang sulit digunakan, tapi jika dijadikan Magic Sword, kau tidak perlu lagi repot-repot menyiagakan formula. Hanya dengan mengayunkan pedang, kau bisa meniadakan sihir lawan ditambah menyerap energinya. Ini akan menjadi keuntungan luar biasa dalam pertarungan melawan penyihir. Di masa depan, pertempuran antar penyihir pasti akan menjadi fokus utama. Meski adikku sendiri, sungguh luar biasa pemikiranmu itu……! Hebat sekali, Lloyd……!"

"Magic Absorption, ya…… kukuku, kau sudah memikirkannya ya. Sihir ini memang tidak banyak diketahui, tapi ia tidak hanya bisa digunakan untuk pertahanan, melainkan juga serangan. Sihir yang sudah ditahan tidak hanya diserap menjadi energi sendiri, tapi juga bisa ditembakkan kembali tanpa perlu dirapal. Saat itu, jika dipadukan dengan sihir sendiri, maka bisa aktif sebagai sihir ganda. Jika ditambah lagi bisa menjadi tiga lapis……! Hehe, tentu saja kau sudah memperhitungkan sampai sejauh itu, kan. Kau hebat juga ya……!"

"Dyaldo, eh Roddybert? Atau Al-dyldo……? Umuu, semua namanya sulit dilepaskan……"

Grim dan kedua kakakku sedang menggumamkan sesuatu.

Ngomong-ngomong, alasan kenapa aku memilih Magic Absorption adalah agar saat ada sihir tak dikenal yang ditembakkan, aku bisa menangkap dan mempelajarinya dengan teliti. Pasti masih banyak sihir yang belum pernah kulihat.

Pedang ini menggunakan sebagian besar performanya untuk memperluas formula, meningkatkan kapasitas energi sihir, serta menjaga formula tersebut.

Dengan ini, sihir apa pun bisa kutangkap. Aku merasa ide ini sangat bagus. Mari aku beri nama Pedang Absorpsi saja.

 

"Tuan Lloyd, ada pesan dari Albert-sama."

Suatu hari saat aku sedang membaca buku, Sylpha memanggilku.

"Lusa nanti rencananya akan diadakan acara minum teh di halaman tengah, dan Tuan Lloyd diharapkan kehadirannya."

"Acara minum teh…… mungkinkah itu?"

"Ya, 'hal' itu."

Sylpha menghela napas. Janji yang kubuat dengan Tao saat menjadi petualang dulu. Acara minum teh bersama Albert.

"Ah, kita memang pernah membuat janji itu ya. Tapi kenapa aku juga harus ikut?"

"Saat aku membicarakannya dengan Albert-sama, beliau bilang; 'Acara minum teh? Bagus juga. Tapi sekalian saja kita lakukan bersama-sama.' ……begitu katanya."

Benar juga, jika seorang pangeran dan seorang petualang mengadakan acara minum teh berdua saja, mudah dibayangkan akan muncul rumor yang aneh.

Tapi jika bersama kami, alasannya bisa menjadi tanda terima kasih karena telah membantu, sehingga acara minum tehnya punya dasar yang kuat.

Aku juga sudah dibantu Albert dalam pembuatan Magic Sword, anggap saja aku ikut untuk membalas budi.

Dan pada hari acara minum teh, aku dibawa oleh Sylpha menuju halaman tengah kastel.

Di taman yang dirawat dengan teliti itu terdapat air mancur dan patung-patung batu, dan di tengahnya terdapat meja putih dengan atap hijau.

"Hai Lloyd, terima kasih sudah datang."

Albert sudah menunggu dan menyambut kami. Pakaiannya lebih bagus dari biasanya.

Ngomong-ngomong, aku juga dipaksa memakai pakaian serupa oleh Sylpha.

Meskipun lawannya adalah petualang, selama kita menyambutnya, sudah sewajarnya kita berpenampilan rapi; begitu kata Sylpha.

"Ngomong-ngomong kenapa ada Kak Dian dan Kak Alize juga?"

Ya, entah kenapa di meja itu sudah duduk Dian dan Alize yang berpakaian rapi.

"Ini kan acara minum teh untuk menyambut petualang yang membantumu mendapatkan inti monster? Secara tidak langsung aku juga berterima kasih. Kalau tidak mengucapkannya secara langsung, rasanya tidak sopan, kan."

"Aku melihat kalian semua sedang minum teh dengan asyik, jadi aku pikir aku ikut saja. Iya kan, Lil?"

"Won!"

Lil menyalak di samping Alize yang tersenyum, sementara Erice menghela napas. Mengikuti majikan yang sesuka hati memang berat ya.

"Begitu ya…… ngomong-ngomong apa Tao belum datang?"

"Masih belum waktunya."

Eh, padahal Sylpha berkali-kali mendesakku agar cepat bersiap karena sudah waktunya. Saat melihat jam, memang masih banyak waktu tersisa.

"……Sylpha."

"Jika tidak diberitahu lebih awal, Tuan Lloyd pasti akan langsung tenggelam dalam bacaan dan melupakan waktu."

Sylpha menjawab dengan wajah datar.

Cih, karena ucapannya benar, aku jadi tidak bisa membantahnya.

"……Oho, sepertinya yang sedang kita bicarakan sudah datang."

Aku mengikuti arah pandangan Albert. Di sana, terlihat Tao yang sedang berjalan kemari dengan dipandu oleh para prajurit.

Dia mengenakan gaun merah menyala bergaya eksotis dengan belahan tinggi di sampingnya. Rambutnya pun ditata menjadi sanggul kembar di kedua sisi kepala.

Penampilannya benar-benar penuh totalitas, sampai-sampai dia terlihat seperti orang yang berbeda dari Tao yang biasanya.

Albert berdiri dan mengangkat tangannya.

"Hai, Tao. Senang sekali kamu bisa datang. Selamat datang."

"Tuan Albert! Dan juga…… anu."

Pandangan Tao tertuju pada Dian dan yang lainnya yang duduk di meja. Sepertinya dia sangat gugup, gerak-geriknya terlihat mencurigakan.

Yah, dia pasti tidak menyangka akan disambut oleh orang sebanyak ini.

"Hahaha, tidak perlu seformal itu. Mereka adalah adik-adikku yang memaksa ikut setelah mendengar kabar tentang acara minum teh ini."

Saat Albert melirik ke arah mereka, Dian dan Alize mengangguk lalu berdiri.

"Aku Dian di Saloum. Sepertinya adikku sudah banyak merepotkanmu, ya."

"Aku Alize di Saloum. Fufu, manis sekali gadis ini."

"T-Tao Yuifa, salam kenal aru!"

Tao menjabat tangan mereka berdua. Saking gugupnya, imbuhan di akhir kalimatnya sampai jadi kacau begitu.

Sylpha bergumam pelan di belakang Tao.

"Tao, padahal Anda sendiri yang meminta saya untuk mengadakan acara minum teh ini, tapi apa-apaan sikap memalukan itu? Cepat tegakkan badan Anda."

"B-biar pun kamu bilang begitu, aku tidak tahu kalau bakal ada orang sebanyak ini! Lagipula semuanya tampan dan cantik, aku merasa sangat salah tempat aru!"

"Haa, Anda benar-benar lemah terhadap wajah rupawan, ya……"

Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya mereka sedang kesulitan. Bagiku sendiri, aku tidak terlalu tertarik dengan acara minum teh ini.

Mungkin aku habiskan waktu seadanya saja…… hm? Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah kartu yang terselip di belahan gaun pada bagian pinggang Tao.

"Tao, itu apa?"

"Ah benar juga, akan kuberikan sebelum aku lupa. Ini Guild Card milik Lloyd."

Saat aku menyentuh kartu logam berwarna tembaga itu, namaku dan informasi lainnya langsung muncul ke permukaan. Kartu ini memiliki semacam Magic Engraving khusus yang terukir di dalamnya.

"Aku menerimanya dari resepsionis saat melaporkan penyelesaian misi. Katanya dia berniat memberikannya saat kamu datang, tapi karena kamu tidak pernah muncul, akhirnya dia menitipkannya padaku."

Mengingat formula sihirnya aktif dan memunculkan tulisan saat kusentuh, kemungkinan besar ini bereaksi terhadap Mana pemiliknya. Tampaknya mereka menggunakan perubahan sifat Mana dalam hal warna dan bentuk untuk mengukirnya ke dalam kartu.

Dengan kata lain, ini adalah Enchant. Cara pembuatannya mirip dengan Magic Sword, tapi kartu yang sering keluar masuk dompet atau saku pasti lebih mudah rusak.

Mungkin permukaannya dilapisi dengan zat yang memiliki konduktivitas Mana yang tinggi? Ternyata ada juga cara penggunaan seperti ini. Menarik sekali.

"……Hei, kamu sama sekali tidak mendengarkan, ya aru!?"

Saat aku sedang asyik meneliti, Tao langsung menyela.

"Hahaha, Lloyd memang suka lupa daratan kalau sudah berurusan dengan sihir."

"Benar-benar adik yang merepotkan!"

"Fufu, tapi di situlah letak keimutannya."

Ketiga kakakku tertawa riang sambil berkata begitu. Tao pun ikut tertawa kecil.

"Jadi Tao, maukah kamu menceritakan pada kami sosok Lloyd yang tidak kami ketahui?"

"Tentu saja! Lloyd itu──"

Tao mulai bercerita tentang diriku. Wajahnya sudah kembali seperti sedia kala.

"Luar biasa, Tuan Lloyd. Begitu melihat Tao gugup, Anda menjadikan diri sendiri sebagai bahan pembicaraan untuk mencairkan suasana agar obrolan mengalir lancar……"

"Padahal saya sempat khawatir Anda hanya memikirkan diri sendiri, tapi ternyata Anda sudah bisa memperhatikan perasaan orang lain…… Sepertinya pengalaman sebagai petualang sudah mulai membuahkan hasil."

Sylpha bergumam sendiri, tapi aku terlalu asyik meneliti Guild Card itu.

 

Karena penasaran dengan mekanisme Guild Card, aku pun mengajak Sylpha mengunjungi Adventurer Guild untuk bertanya lebih lanjut.

Begitu masuk, aku melihat seorang resepsionis sedang menatap tumpukan dokumen dengan wajah lesu.

"Halo—"

"Ah, ya, ya, ada keperluan ap…… lho, bukankah ini Tuan Lloyd!?"

Begitu melihatku, tatapan mata resepsionis itu langsung berubah. Dia melemparkan dokumennya dan berlari menghampiriku.

"Akhirnya Anda datang juga! Aduh, tidak boleh begitu, tahu! Setidaknya laporan penyelesaian misi harus Anda lakukan sendiri!"

"Asal Anda tahu ya, naik ke D-Rank hanya dengan satu misi ini adalah pengecualian dari segala pengecualian! Normalnya Anda harus menyelesaikan setidaknya tiga atau empat misi!"

"Tapi berkat laporan Nona Tao dan desak—maksud saya kepercayaan saya, saya sedikit memaksa agar peringkat Anda naik! Ini karena saya menaruh harapan pada Tuan Lloyd…… Ini benar-benar rahasia di antara kita saja ya. Hehehe."

Dia mendadak mulai bicara dengan semangat yang luar biasa. Padahal katanya rahasia, tapi suaranya keras sekali.

Mendengar itu, aku melihat kartu di tanganku. Ternyata peringkatnya sudah berubah dari E-Rank ke D-Rank. Aku sama sekali tidak menyadarinya.

Yah, aku juga tidak berniat menaikkan peringkat, jadi bagiku itu bukan masalah besar.

"Tuan Lloyd punya bakat sebagai petualang! Jadi tolong selesaikan banyak misi dan naikkan peringkat Anda!"

Si resepsionis menatapku dengan napas yang memburu penuh antusias.

"Daripada itu, aku ingin tanya soal Guild Card ini."

"Cara pakainya? Saya akan beri tahu apa saja! Dasarnya kartu ini berfungsi sebagai kartu identitas dan alat untuk melihat Status diri sendiri, tapi ada banyak kegunaan lainnya."

"Misalnya, Anda bisa mengisi saldo uang ke dalamnya untuk digunakan sebagai pengganti mata uang di restoran, atau menyewa barang-barang keperluan petualang sesuai peringkat Anda."

"Ada banyak keuntungan lainnya juga, jadi dari sudut pandang mana pun, saya sangat menyarankan Anda untuk menaikkan peringkat!"

Resepsionis itu bicara dengan bangga, tapi bukan hal itu yang ingin kudengar.

"Bukan, aku ingin tahu bagaimana cara pembuatannya."

"Proses produksinya!? ……Memangnya Anda mau apakan informasi itu?"

"Sepertinya menarik. ……Tidak boleh ya?"

"T-tidak…… bukannya tidak boleh, tapi……"

Resepsionis itu tampak berpikir sejenak. Setelah itu, dia memberi isyarat padaku untuk mendekat lalu berbisik pelan.

"……Baiklah. Khusus untuk Tuan Lloyd saja ya. Tolong ikut saya sebentar."

Resepsionis itu keluar dari balik meja konter dan menuntunku ke lantai dua gedung Guild. Saat pintu dibuka, di sana terdapat berbagai macam Magic Tools seperti mesin cetak dan alat tulis otomatis.

"Di sinilah Guild Card dibuat. Informasi diukir menggunakan tinta yang telah diberi Mana pada pelat logam khusus dengan konduktivitas Mana yang tinggi."

"Heh, jadi pelat logam ini dasarnya ya. ……Sepertinya ada pemrosesan khusus. Apakah dilapisi dengan zat kimia tertentu? Kelihatannya seperti tertutup lapisan transparan yang sangat tipis……"

"Oh, benarkah? Karena benda ini dibuat di kantor pusat Adventurer Guild, saya sendiri tidak terlalu paham soal itu."

Begitu ya. Jadi mereka memasukkan informasi ke pelat yang dikirim dari kantor pusat untuk menyelesaikannya.

Nanti akan kucoba bongkar kartu ini. Kalau hilang tinggal bilang saja, tenang saja.

"……Tuan Lloyd, jangan-jangan Anda sedang berpikir untuk membongkarnya, ya? Biaya pembuatan ulang itu satu koin emas, dan peringkat Anda akan diulang dari awal lagi, jadi tolong jangan lakukan itu."

"Aku mengerti, kok."

Begitu ya, jadi seperti itu. Kalau cuma segitu sih sepertinya tidak masalah. Nanti akan tetap kucoba bongkar kartu ini.

"Hmm, ini……"

Tiba-tiba, mataku tertuju pada tumpukan kertas yang diletakkan di sudut ruangan. Di sana tertulis jumlah uang hadiah beserta gambar sketsa wajah seseorang.

Sepertinya ini yang biasa disebut sebagai poster buronan. Tapi kenapa benda seperti ini ada di tempat seperti ini?

"Wah, selera Tuan Lloyd memang tajam kalau sampai memperhatikan itu. ……Anda pasti bingung kenapa poster buronan ini tidak ditempel di lantai bawah melainkan diletakkan di sini, kan?"

"Kelihatannya bukan seperti baru mau ditempel. Kertasnya sudah cukup lusuh."

"Benar, ini adalah poster-poster yang dulu ditempel di lantai bawah. Tadinya sudah disimpan, tapi karena rencananya akan ditempel kembali dalam waktu dekat, makanya diletakkan di sini. Mau tahu alasannya? Ingin tahu banget, kan?"

"Eh, tidak juga."

Setelah keheningan sesaat, dia melanjutkan.

"──Sebenarnya, orang-orang di poster buronan ini semuanya adalah para pembunuh bayaran yang sempat menghebohkan kota."




Resepsionis itu mulai bercerita.

Padahal, aku sama sekali tidak bilang ingin mendengarkannya.

"Ren of the Poison Moth, Talia of a Hundred Scars, Galilea of the Thread Spider, Babylon of the Giant Rat, Crow of the Dark Raven…… Mereka semua adalah buronan kelas kakap dengan nilai buruan melebihi seratus koin emas. Namun, nama mereka tiba-tiba menghilang dari daftar poster buronan beberapa tahun lalu. Alasannya adalah kemunculan seorang pria. ——Jade of the Shadow Wolf. Dialah yang menyatukan para kriminal ternama itu dan mendirikan Assassin Guild."

Gaya bicara si resepsionis mulai berapi-api.

Sepertinya dia memang tipe orang yang sangat suka mendongeng. Aku berharap dia segera menyelesaikannya.

"Setelah menyatukan para pembunuh, Jade mengajukan kesepakatan kepada Adventurer Guild. Dia meminta agar pekerjaan kotor yang enggan dilakukan para petualang diserahkan kepada mereka. Sebagai imbalannya, dia meminta agar status buronan mereka dicabut."

"Tentu saja awalnya kami menolak. Memang benar ada banyak sekali pekerjaan kotor yang tidak ingin disentuh siapa pun. Misalnya, menangani bangsawan korup yang menindas rakyat secara keji, atau menghadapi petualang berandalan yang merampas bahan pangan dengan dalih biaya tambahan saat mengambil misi yang tidak diinginkan orang lain."

"Lembar misi merepotkan seperti itu sudah lama berdebu di gudang. Memang akan sangat membantu jika ada yang menyelesaikannya, tapi karena pihak lawan adalah buronan, kami tidak bisa langsung mengiyakan begitu saja. Adventurer Guild juga berperan dalam menjaga ketertiban, jadi tentu saja kami langsung mengusir mereka."

"……Namun beberapa hari kemudian, mereka menyelesaikan semua misi itu sendirian. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, dengan cara khas seorang pembunuh. Target utama mereka adalah orang-orang yang berniat menyulut peperangan."

"Mungkin cara mereka tidak bisa dipuji, tapi berkat tindakan mereka, banyak nyawa yang terselamatkan. Kami sendiri tidak bisa menyentuh orang-orang berkuasa seperti itu. Rakyat pun mulai berterima kasih, dan perlahan pandangan terhadap mereka mulai berubah."

"Masyarakat mulai berpikir bahwa meski mereka adalah pembunuh licik yang dibenci, ternyata mereka tidak jauh berbeda dengan kita para petualang. Tidak perlu mencari masalah dengan mereka, anggap saja sebagai kejahatan yang diperlukan, bahkan bekerja sama pun tidak ada salahnya…… Setelah suara-suara itu bermunculan, nilai buruan mereka akhirnya dicabut untuk sementara waktu."

Resepsionis itu berbicara dengan sangat cepat.

Dia benar-benar cerewet. Kelihatannya dia sangat menikmati ceritanya sendiri.

"Namun suatu hari, Jade menghilang secara tiba-tiba tanpa sepatah kata pun. Sejak saat itu, anggota Assassin Guild kehilangan kendali dan mulai berbuat semena-mena lagi. Perampokan, sabotase—meski mereka tidak melakukan pembunuhan, tapi pada akhirnya semuanya kembali seperti semula, dan mereka pun kembali menjadi buronan…… Begitulah ceritanya."

"He~, begitu ya."

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Resepsionis itu memasang wajah bangga, tapi jujur saja, bagiku cerita itu sama sekali tidak penting. Aku kan cuma ingin tahu cara membuat Guild Card.

 

Setelah urusanku selesai, aku pun meninggalkan Adventurer Guild.

Si resepsionis memintaku mengambil misi karena dia merasa sudah mengajariku banyak hal, tapi karena aku tidak merasa berhutang budi padanya, aku tidak mengambil satu pun. Lagipula tidak ada misi yang menarik dan rasanya merepotkan.

Dia memasang wajah seolah sedang mengalami ketidakadilan yang luar biasa, tapi ya sudahlah. Misi D-Rank pasti bisa diselesaikan oleh siapa saja tanpa perlu bantuanku.

"Tapi, Assassin Guild, ya. Aku juga pernah berurusan dengan mereka sekali saat masih menjadi petualang dulu."

Di perjalanan pulang, Sylpha bergumam pelan.

"Saat sedang mengawal kereta kuda, anggota Assassin Guild menyerang di tengah kegelapan malam. Aku sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka sampai mereka berada sangat dekat. Waktu itu aku berhasil memukul mundur mereka, tapi aku benar-benar dipaksa berjuang keras."

"Sylpha sampai kesulitan?"

Itu adalah hal yang sulit dipercaya.

Sylpha adalah seorang ahli yang bisa menemukanku dalam sekejap di mana pun aku bersembunyi untuk membaca buku, tapi dia bisa terkena serangan kejutan. Jika hal itu benar-benar terjadi, itu pasti bukan sekadar teknik bela diri biasa.

Ada kemungkinan mereka menggunakan semacam sihir yang tidak kuketahui. Aku sempat mengira pembunuh bayaran itu tidak jauh berbeda dengan pencuri, tapi sekarang aku jadi tertarik.

"Sylpha, kamu tahu di mana markas Assassin Guild?"

"Tidak, mereka tidak mungkin membangunnya secara terang-terangan. Aku pernah dengar ada lorong rahasia di berbagai sudut kota, dan salah satunya terhubung ke markas pusat mereka. ……Jangan-jangan, Tuan Lloyd berniat pergi ke sana?"

"M-mana mungkin…… tidak mungkinlah. Haha, hahaha……"

"……Benarkah?"

Sylpha menatapku dengan curiga saat aku mencoba tertawa untuk menutup-nutupi.

Tidak, sungguh. Aku cuma berpikir kalau lokasinya dekat, aku ingin mampir sebentar sebelum pulang. Tapi kalau lokasinya tidak diketahui, mau bagaimana lagi.

Meskipun begitu, jika ada kesempatan, aku ingin mencoba berkunjung ke sana.

 

Malam itu, aku tiba-tiba terbangun dari tidurku.

Aku merasakan sebuah kehadiran. Tidak, tepatnya, aku tidak merasakan apa-apa.

Dunia ini dipenuhi oleh berbagai kehadiran, mulai dari serangga, hewan, hingga manusia. Namun, dari titik itu, secara tidak alami aku tidak bisa merasakan apa pun.

Aku menyadarinya karena aliran Mana di area tersebut terasa janggal. Rasanya seolah bagian itu telah terpotong dari dunia.

Bisa dibilang ini adalah 'kehadiran yang kosong'. Jika aku tidak mendengar cerita dari Sylpha, aku mungkin tidak akan menyadari distorsi yang sangat kecil ini.

Buktinya, Shiro yang biasanya langsung melompat bangun jika ada penyusup, masih tertidur lelap sambil mendengkur.

"Kehadirannya bergerak……"

Saat aku mempertajam indraku, sesuatu itu memang bergerak dengan sebuah tujuan. Mungkinkah ini pembunuh yang dibicarakan tadi?

Memutus aliran Mana sepenuhnya selain menyembunyikan kehadiran adalah sihir yang sangat menarik. Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.

……Baiklah, mumpung ada kesempatan, ayo kita tangkap dan tanya-tanya.

Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi karena dia masuk ke rumah orang tanpa izin, dia pasti sudah siap mental untuk ditangkap dan diinterogasi. Setelah memutuskan itu, aku bangun dan menuju ke arah kehadiran tersebut.

Untungnya dia berada di halaman tengah. Di sini aku bisa sedikit berisik tanpa ketahuan.

"Lawan adalah spesialis penghilang kehadiran, ada kemungkinan besar dia akan menyadari suara pergerakanku. ……Kalau begitu, gunakan ini saja."

Aku merapal ganda sihir elemen angin, Fly dan Haste.

Begitu rapalan selesai, angin yang berputar langsung menyelimuti kedua kakiku. Dengan sihir kombinasi penerbangan kecepatan tinggi ini, aku pasti bisa mengejarnya sebelum dia kabur.

"——Hup!"

Begitu aku menendang tanah, Dogyun! Aku melesat dengan kecepatan luar biasa menuju target.

Gawat, cepat sekali. Ini terlalu cepat! Aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya.

Aku melesat lurus seperti peluru yang ditembakkan. Tepat sebelum menabrak, aku melakukan pengereman mendadak dan berhasil berhenti tepat di atas permukaan tanah.

"Waduh…… Bahaya, bahaya."

Hampir saja aku menabraknya.

Memang aku punya Mana Barrier jadi tidak akan terluka, tapi kalau taman ini hancur, tukang kebun akan kerepotan memperbaikinya. Aku mendarat dengan ringan, dan di depanku, di tengah semak-semak, ada seseorang yang terduduk lemas karena terkejut.

"A…… apa!?"

Suara terkejut itu keluar dari seorang pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam. Dari sela-sela tudung hitamnya, hanya terlihat rambut dan mata berwarna ungu pekat yang mencolok, serta kulit berwarna cokelat gelap.

Pakaiannya sangat mencurigakan. Sepertinya tidak salah lagi, pemuda inilah penyusupnya.

"Kenapa ada anak kecil di tempat seperti ini?"

"Cih!"

Tanpa menjawab pertanyaanku, pemuda itu segera bangkit dan melompat ke belakang. Namun sia-sia saja. Aku sudah mengaktifkan sihir elemen angin Void Ceiling di sekelilingnya.

Pemuda itu membenturkan kepalanya dengan keras ke dinding udara.

"Aduh…… sakit—!?"

Sambil memegangi kepala, dia berjongkok kesakitan. Dia mencoba kabur lagi, tapi wajahnya langsung berubah pucat saat menyadari sekelilingnya telah dikurung oleh Barrier.

"Sia-sia saja. Kamu sudah terkurung sepenuhnya. Sekarang, ceritakanlah banyak hal padaku."

Mendengar ucapanku, pemuda itu memejamkan mata seolah sudah menyerah.

"Sihir…… mau bagaimana lagi. Aku tidak ingin menggunakan kekuatan ini pada anak kecil, tapi……"

Sambil berkata begitu, dia menanggalkan pakaian hitamnya. Di balik pakaian itu, penampilannya berubah drastis menjadi sangat terbuka, seperti hanya mengenakan pakaian dalam dari tali.

Dada yang tertutup sedikit kain itu tampak sedikit menonjol. Ternyata dia bukan laki-laki, melainkan seorang gadis.

Ke hidungku yang sedang terkejut, tercium aroma samar seperti bunga. Aroma yang sangat manis.

"Black Mist……!"

Gadis itu bergumam pelan, dan tiba-tiba penglihatanku terasa berputar. Rasa mual, pusing, dan jantung berdebar mulai menyerangku.

Apakah ini racun? Tanpa kusadari, sesuatu yang menyerupai kabut hitam mulai menyelimuti tubuh gadis itu.

Mungkin dia menggunakan semacam kantung racun. Tapi tidak masalah selama aku menggunakan sihir penawar racun.

Sihir sistem penyembuhan, Purification.

Sihir ini dapat menghilangkan berbagai komponen racun dari serangga, tanaman, hingga hewan buas. Bahkan racun hasil racikan pun bisa dinetralkan seketika…… lho!?

"Racunnya…… tidak hilang?"

Racun yang seharusnya langsung lenyap, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghilang. Gadis itu menatapku yang berlutut karena pusing.

"Sia-sia saja. Racun milikku tidak akan bisa dimurnikan oleh siapa pun."

Dengan menggunakan Purification, aku seharusnya bisa menghilangkan komponen racun yang ada di dunia ini. Dengan kata lain, racun yang tidak bisa dihilangkan berarti bukan racun biasa.

Kalau begitu, identitas asli dari racun yang digunakan gadis ini adalah……

"——Berasal dari Mana, ya?"

"Tepat sekali. Meskipun kamu menyadarinya, kamu tetap tidak bisa berbuat apa-apa."

Gadis itu menjawab sambil menatapku dengan dingin.

Ada sejumlah orang yang terlahir dengan Mana di dalam tubuhnya, dan mereka semua belajar cara mengendalikannya seiring pertumbuhan mereka. Namun, ada juga yang tidak bisa mengendalikannya.

Mereka adalah tipe yang sulit mengendalikan Mana dengan kekuatan sendiri karena kualitas Mana mereka yang unik. ……Kemampuan Alize yang bisa mengumpulkan hewan juga merupakan salah satu jenisnya.

Mereka tidak bisa mengontrol aktivasi Mana tersebut, dan tergantung pada kemampuannya, ada yang kehilangan nyawa sebelum mencapai usia dewasa. Orang-orang sering memandang rendah pemilik kemampuan yang membahayakan lingkungan sekitar dan menjuluki mereka sebagai……

"The Cursed…… Seperti yang kamu duga, itulah aku. Aku terlahir dengan tubuh yang terus menyebarkan racun, makanya aku dipanggil dengan nama memalukan seperti Ren of the Poison Moth."

"Biasanya aku menutupi tubuhku dengan pakaian tebal, tapi jika aku melepaskannya, beginilah jadinya. Jika terkena secara langsung, kamu akan berakhir keracunan. ……Yah, yang kamu hirup tadi cuma sedikit, jadi tidak akan sampai mati……"

Ucapannya terhenti, gadis yang mengaku bernama Ren itu membelalakkan matanya. Pasalnya, aku yang tadi berlutut seolah akan pingsan, tiba-tiba berdiri dengan tegak.

"Kenapa racun milikku tidak mempan……?"

"Mempan, kok. Hanya saja aku terus memulihkan diri sebanyak kerusakan yang kuterima."

Sihir sistem penyembuhan Recovery Breath dan teknik pernapasan Ki yang diajarkan Tao. Dengan melakukan keduanya secara bersamaan, aku terus memulihkan Stamina melalui pernapasan dan menetralkan kerusakan akibat racun secara berkelanjutan.

Meski begitu, logika di balik racun Ren masih misteri. Kemungkinan besar ini adalah perubahan sifat Mana, tapi perubahan sifat seperti apa? Apakah dia memakai alat? Apakah ada alasan kenapa dia harus memperlihatkan kulitnya? Atau sesuatu yang lain…… aku jadi penasaran.

"Maaf ya, tapi aku akan menyelidikimu habis-habisan."

Aku tersenyum tipis dan melangkah mendekat ke arah Ren.

"Black Mist-ku tidak mempan……? Tapi kegunaan Black Mist bukan cuma ini saja!"

Ren menarik napas dalam-dalam, lalu menyemburkannya ke satu titik pada Void Ceiling yang mengurungnya. T

erdengar suara mendesis Jiuuu seperti sesuatu yang terbakar, dan aku bisa melihat dinding udara itu mulai meleleh.

Dia memusatkan racunnya pada satu titik untuk melubanginya? Heh, meski pertahanannya rendah, dia bisa menghancurkan barierku. Karena ini adalah racun dari Mana, sepertinya ini juga efektif terhadap Mana itu sendiri.

"Hah!"

Ren menendang dinding udara yang telah menipis itu dan melompat keluar dari barier.

Tak lama kemudian, kabut hitam dalam jumlah besar menyembur dari tubuh Ren hingga menutupi seluruh sosoknya.

"Sampai jumpa."

Dari dalam kabut, terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Saat kabut itu menghilang, sosok Ren sudah tidak ada lagi di sana.

"Ooh, teknik penghilangan diri yang mengesankan."

Sepertinya racun yang dihasilkan dari tubuhnya itu tidak sepenuhnya mustahil untuk dikendalikan.

Ternyata bisa digunakan dengan berbagai cara.

Ditambah lagi dengan kelincahannya itu, pantas saja Sylpha sampai kesulitan.

Tapi, selama aku mencari 'kehadiran yang kosong', aku bisa tahu di mana Ren bersembunyi.

……Sepertinya dia lari lewat bawah tanah.

"Ayo kita kejar, Tuan Lloyd!"

"Ooh Grim, ternyata kamu sudah bangun ya."

"Dengan keributan seperti itu, tentu saja aku bangun! Daripada itu, kalau tidak cepat, dia bisa kabur, tahu!?"

Mendengar suara Grim yang tidak sabaran, aku justru mengelus daguku sambil mengangguk.

"……Yah, tidak perlu terburu-buru. Biarkan saja dulu."

"Tapi……"

"Daripada bertanya pada satu orang, bukankah lebih efisien jika bertanya pada semuanya sekaligus?"

"?"

Grim tampak bingung mendengar perkataanku.

Kehadiran Ren yang tadi bergerak kini mulai berhenti.

Lokasinya berada tepat di pusat kota, sekitar 100 meter di bawah tanah. Itu pasti markas Assassin Guild.

Aku sengaja membiarkannya lolos karena aku yakin dia akan kembali ke markasnya.

Karena sepertinya ada pembunuh lain yang mirip dengannya, aku bisa mendapatkan lebih banyak informasi daripada hanya dari Ren sendirian. Semua berjalan sesuai rencana.

"Ah, begitu ya…… sekaligus, ya."

"Satu orang saja bisa menggunakan teknik sehebat itu. Rekan-rekannya pasti juga punya teknik yang menarik!"

Fufufu, aku jadi bersemangat. Sambil menahan rasa tidak sabar, aku terbang menuju pusat kota di tengah kegelapan malam.

 

Tepat di tengah kota yang sudah tidak ada lampu yang menyala, aku sampai tepat di atas kehadiran tersebut dan membuka telapak tanganku lebar-lebar.

"■■■, ■■■"

Dengan rapalan ganda menggunakan tumpukan mantra, aku mengaktifkan kombinasi sihir elemen tanah, Rock Drill dan Muddy.

Seketika, tanah di bawah kakiku melunak, dan tubuhku perlahan-lahan tenggelam ke dalam tanah.

Dengan menggabungkan sihir penghancur batu untuk membuat jalan dan sihir pelunak tanah, aku bisa menyelam ke dalam bumi hanya dengan beban tubuhku sendiri.

Dengan cara ini, kerusakan pada kota bisa diminimalisir, dan Ren serta yang lainnya di bawah tanah tidak akan menyadarinya. Ngomong-ngomong, aku memasang barier di sekelilingku agar pakaianku tidak kotor dan aku tetap bisa bernapas.

Semakin dalam aku tenggelam, 'kehadiran yang kosong' itu semakin mendekat.

"Kamu bilang kamu gagal!?"

Gashaaan! Terdengar suara kaca pecah yang nyaring.

Wah, aku kaget. Kupikir aku ketahuan, ternyata bukan.

Aku menghentikan proses tenggelam dengan mengaktifkan Levitation, lalu hanya melongokkan wajahku dari langit-langit.

Di bawah sana, di sebuah aula besar beralaskan batu, ada lima orang pria dan wanita.

Ada seorang wanita yang sedang mengikir kuku di atas sofa.

Dia cantik dengan rambut putih dan jubah putih, memberikan kesan misterius, dan di kulitnya yang terlihat dari sela-sela jubah terdapat bekas luka yang tak terhitung jumlahnya.

Ada juga seorang pemuda bermata sipit yang sedang dengan terampil menumpuk boneka kayu kecil menjadi sebuah menara. Dia memasang senyum licik yang menyeramkan.

Lalu ada seorang pria yang mengenakan topeng dengan paruh menonjol seperti burung gagak.

Apa paruh itu tidak mengganggu, ya?

Dan orang yang sedang berteriak marah dengan wajah memerah adalah pria besar berkepala botak.

Di punggungnya terukir tato laba-laba, dan wajahnya terlihat sangat garang.

Yang sedang berhadapan dengannya di depan pecahan gelas kaca adalah Ren, yang sedang menatap pria itu dengan dingin.

"Diamlah, berisik. Gendang telingaku bisa pecah."

"Bagaimana aku bisa diam! Ren, wajahmu sampai ketahuan dan kamu gagal membunuhnya, kan!? Makanya sudah kubilang jangan menyelinap ke istana raja!"

Apakah mereka itu pembunuh lainnya? Benar saja, aku merasakan Mana unik yang sama seperti milik Ren.

"Tapi itu ada hasilnya. Produksi massal Magic Sword dan pengumpulan Magic Beast…… aku yakin itu adalah persiapan perang. Ini adalah giliran kita."

"Makanya aku bilang…… kita sudah tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi!"

Pria itu menekan pelipisnya seolah sedang menahan kekesalan.

"Menghancurkan persiapan perang, kita sudah tidak perlu melakukannya! Sampai kapan kamu berniat mematuhi perintah orang itu dengan setia! Sadarlah, Jade sudah tidak ada!"

Mendengar ucapan pria itu, ekspresi Ren yang tadinya tenang langsung berubah drastis.

"Jade tidak hilang!"

Melihat kemarahan yang luar biasa itu, si pria botak mundur selangkah. Ren memelototinya dan melanjutkan kata-katanya dengan suara yang tertahan.

"Orang yang menunjukkan jalan baru bagi kita para pembunuh untuk memperbaiki dunia adalah Jade. Assassin Guild ini ada untuk tujuan itu! Melindungi tempat Jade akan pulang adalah tugas kita sekarang!"

"Dia tidak akan pernah pulang!"

"Dia akan pulang! Pasti! Jade sudah berjanji seperti itu!"

Adu mulut di antara keduanya semakin memanas. Ngomong-ngomong, Jade…… sepertinya aku pernah dengar nama itu di suatu tempat.

"Dia pemimpin yang menyatukan para pembunuh, Tuan."

"Ah, iya juga ya."

Daripada itu, aku ingin melihat teknik mereka. Dari gelagat keduanya, kalau dibiarkan saja mereka mungkin akan mulai bertarung.

Aku juga berharap tiga orang lainnya ikut campur sehingga terjadi tawuran besar-besaran di antara kelima orang itu. Ini kesempatan bagus untuk observasi mendalam. Mari kita lihat situasinya sebentar lagi.

"Hei, kalian berdua, cukup sampai di situ saja."

Wanita berjubah putih angkat bicara. Kemudian dia mendongak ke arah langit-langit, dan mata kami pun bertemu.

"Ada yang sedang mengintip kita, lho."

Mendengar ucapan wanita itu, semua orang langsung mendongak ke arahku.

"……Ara, ketahuan ya?"

Padahal aku ingin melihat kalian semua bertarung. Apa boleh buat. Sambil menghela napas, aku melepaskan Levitation dan mendarat di bawah.

"Oi oi, ini kan…… jangan-jangan dia adalah Pangeran Ketujuh itu!"

Pria botak besar itu membelalakkan matanya saat melihatku.

"Kalian mengenalku?"

"Tentu saja kenal. Alasan Ren menyelinap ke istana adalah karena kamu, Nak. Akhir-akhir ini kamu sedang bertindak mencolok, kan?"

Wanita berjubah putih itu memasang senyum tipis.

"Melatih Magic Beast, memproduksi massal Magic Sword…… sebenarnya pangeran lain yang melakukannya, tapi di pusat semua itu selalu ada kamu, Pangeran Ketujuh."

"Kamu berpura-pura biasa saja, tapi sebenarnya memiliki kekuatan dan ambisi yang besar…… Kamu cukup terkenal di kalangan ini, tahu? Kuku."

Pria bermata sipit itu merobohkan menara bonekanya lalu berdiri.

"…………"

Pria bertopeng paruh hanya menolehkan kepalanya ke arahku tanpa suara.

"Sebenarnya kamu berniat berperang dengan siapa?"

Ren memelototiku dengan tajam.

Hmm, sepertinya aku sedang mengalami banyak kesalahpahaman di sini.

"Entah kenapa, tapi aku sama sekali tidak berniat melakukan perang apa pun. Aku hanya sedang melakukan riset sihir saja."

"Bohong. Riset sihir tidak ada hubungannya dengan Magic Beast atau Magic Sword."

"Sebenarnya itu hal yang sangat wajar, sih……"

Sebagian besar fenomena di dunia ini memiliki hubungan dengan Mana, bahkan sihir. Tapi sepertinya menjelaskan hal ini pada orang yang bukan penyihir pun tidak akan membuat mereka mengerti.

"Meski begitu, aku terkejut orang-orang seperti kalian sampai mengenalku. Padahal aku merasa sudah bertindak dengan sangat rendah hati……"

"Tuan Lloyd, Anda serius bicara begitu?"

Grim entah kenapa terlihat sangat heran. Kenapa, ya? Ini benar-benar tidak adil.

"Apa pun alasannya, karena kamu sudah tahu tempat ini, kami tidak bisa membiarkanmu pulang begitu saja."

"Benar. Anak nakal yang masuk ke rumah orang tanpa izin harus diberi hukuman."

"Meski Pangeran Ketujuh, dia tetap seorang pangeran. Kita mungkin bisa minta uang tebusan. Kuku."

"Jangan lengah. Dia adalah orang yang membuat racunku tidak mempan."

"…………!"

Kelima orang itu bergantian bicara sambil mengepungku.

Yah, tidak apa-apa. Pertarungan justru sangat kuterima dengan senang hati. Mari kita lihat teknik mereka di tengah pertarungan ini.

"Grim, jangan ikut campur ya."

"Heh heh, saya mengerti."

Saat melihat racun Ren tadi, aku sudah menduga, dan setelah melihat mereka secara langsung, aku jadi yakin.

Kemampuan mereka adalah manifestasi dari Mana bawaan lahir sebagai kondisi tubuh yang unik.

Aku pernah membaca di sebuah buku bahwa terkadang ada orang yang terlahir seperti itu.

Bisa dibilang, teknik mereka adalah produk dari kondisi tubuh unik bawaan lahir.

Karena mereka tidak mengendalikannya sebagai sihir, kemungkinan besar mereka tidak bisa menggunakan Mana Barrier seperti penyihir biasa.

Dalam kondisi seperti itu, jika Grim sampai turun tangan, dia bisa saja membunuh mereka dalam sekali serang karena mereka tidak punya pertahanan.




"Apa yang sedang kalian bicarakan, hah!?"

Selagi kami berbincang, pria berkepala botak itu tiba-tiba meluncurkan serangan.

Meski tubuhnya besar, gerakannya sangat lincah, benar-benar mencerminkan sosok seorang pembunuh bayaran.

Tinjunya melesat cepat, mengincar ulu hatiku. Namun, Mana Barrier yang aktif secara otomatis langsung menangkis serangan tersebut.

"Hoh, Mana Barrier, ya? Tapi..."

Pria itu menyeringai lebar, lalu menarik lengannya sekuat tenaga.

Bersamaan dengan itu, Mana Barrier yang tadi menahan tinjunya ikut tertarik.

Saat kuperhatikan, ada cairan lengket yang menempel di titik bekas hantaman tadi.

"Aku dijuluki Galilea of the Thread Spider. Aku bisa menghasilkan cairan pelekat super kuat dari tubuhku! Seperti ini!"

Aku menahan rentetan benang yang dilepaskan pria bernama Galilea itu dengan Mana Barrier baru, namun penghalang itu pun kembali ditarik hingga terlepas.

Dia bisa menggerakkan Mana Barrier yang sudah terkunci koordinatnya, ya? Tekniknya mirip dengan milik Ren, tapi meski tidak memiliki racun, kekuatannya jauh lebih unggul. ——Menarik.

"K-kenapa kamu malah tersenyum!? Menakutkan sekali!"

Galilea membelalakkan mata melihatku yang tanpa sadar menyeringai. Padahal dia tidak perlu merasa ketakutan begitu.

"Sink!"

Saat aku sedang melamunkan tekniknya, tiba-tiba tubuhku terasa menjadi sangat berat.

Aku menoleh ke arah sumber suara. Pria bertopeng paruh itu telah melepas topengnya dan memamerkan wajah aslinya.

Ternyata dia pemuda yang tampak cukup ramah. Di sudut mulutnya, terukir tato berupa formula sihir.

Itu... teknik untuk memberikan direktivitas pada Mana, ya?

"Dia Crow of the Dark Raven. Dia memiliki kondisi tubuh di mana Mana akan menyatu ke dalam kata-katanya."

"Biasanya dia membatasi ucapannya sendiri untuk mencegah kekuatan itu meledak secara liar," jelas Galilea.

Pria bernama Crow itu mengangguk. Tubuhku sebenarnya tidak menjadi berat.

Ini adalah efek terhadap ruang. Tipe yang menyatukan Mana langsung ke dalam ucapan... bukan mantra (spell), melainkan kata kutukan (incantation), ya?

Mungkin ini bisa dibilang sebagai asal-usul dari sebuah mantra.

Bushu! Tiba-tiba pergelangan tangan kananku mengeluarkan darah.

Padahal tidak ada tanda-tanda serangan apa pun sebelumnya.

Kulihat wanita berjubah putih di depanku juga mengalami pendarahan di pergelangan tangan kanannya.

"Talia of a Hundred Scars. Fufu, jika aku melukai diriku sendiri sambil menatap lawan, aku bisa memberikan luka di titik yang sama pada lawan tersebut."

Ooh! Kemampuan yang hebat! Bagaimana logikanya, ya? Aku jadi sangat bersemangat.

Saat aku berkonsentrasi melihatnya, aku menyadari ada pita Mana yang menjulur dari tatapan wanita bernama Talia itu menuju ke arahku.

Mungkin dia menghubungkan tubuhnya denganku melalui perantara Mana.

Ini sedikit mirip dengan sihir sistem kontrol yang digunakan untuk melacak gerakan lawan.

Namun, untuk memberikan luka, ikatannya pasti harus jauh lebih dalam. Benar-benar logika yang membuat penasaran.

"K-kenapa anak ini malah menatapku dengan mata berbinar padahal pergelangan tangannya berdarah……? Normalnya orang akan merasa jijik dan takut……"

Entah kenapa Talia tampak merasa ngeri melihatku.

Daripada itu, sepertinya dia memberiku kerusakan melalui luka mandiri. Lalu, apa yang terjadi jika aku yang memberinya kerusakan?

Baiklah, mari kita coba. Aku melontarkan sihir elemen tanah Mudball ke arah Talia.

"Kuku……"

Pria bermata sipit itu tertawa kecil sambil menarik tangan Talia.

Mudball yang seharusnya mengenai Talia kini melesat ke arah pria bermata sipit itu—namun, dia menghindar di saat-saat terakhir.

……Tidak, apakah itu bisa disebut menghindar?

Mudball yang seharusnya menghantamnya justru terbang menembus tubuh pria itu dan menabrak dinding.

Pria itu menghindar dengan posisi tubuh seperti boneka yang sendi-sendinya telah hancur.

"Babylon of the Giant Rat. Sejak lahir persendianku sangat longgar. Aku bisa melepas seluruh sendi tubuhku dan masuk ke celah sempit layaknya tikus."

Pria bernama Babylon itu tersenyum tenang meski lehernya tertekuk seratus delapan puluh derajat.

Aku pikir aku sudah paham seberapa besar pengaruh Mana terhadap fisik, tapi…… ternyata tubuh manusia bisa tertekuk sampai sejauh itu.

Ini adalah teknik yang berbeda arah dengan sihir sistem perubahan yang menyelimuti tubuh dengan Mana untuk mengubah wujud.

Apakah dia melumpuhkan persendiannya dengan Mana? Atau mungkin, cairan sendinya digantikan oleh Mana yang digerakkan untuk membuat tubuhnya menjadi sangat lentur.

Ini benar-benar puncak dari kondisi tubuh unik. ……Aku jadi ingin membedahnya sedikit. Ah, tapi tentu saja aku tidak akan benar-benar melakukannya.

"……!? Aku merinding…… Nak, jangan-jangan kamu ini orang yang cukup berbahaya?"

Babylon pun entah kenapa ikut merasa ngeri.

"Suara hati Anda bocor, Tuan Lloyd," tegur Grim.

"Aduh."

Sabar, Lloyd. Kebiasaan burukku memang sering bicara sendiri kalau sudah terlalu asyik.

Bagaimanapun, mereka kelompok yang menarik. Aku akan menikmatinya sebisa mungkin.

"Waduh, pertama-tama aku harus menghentikan pendarahannya."

Kalau kehilangan terlalu banyak darah, aku bisa mati.

Saat aku menyembuhkan luka di pergelangan tanganku dengan sihir penyembuh, luka Talia pun ikut menutup.

Hee, ikatannya ternyata berlaku dua arah, ya.

"Apa! K-kecepatan pemulihan macam apa itu……!?"

Talia tampak terkejut melihat sihir penyembuhku.

Serangan itu sepertinya cocok untuk pembunuhan diam-diam, tapi efeknya akan sangat tipis jika melawan seorang penyihir.

"Sialan!"

Galilea menembakkan benangnya, namun aku memunculkan Mana Barrier untuk menangkisnya.

Karena Mana Barrier milikku aktif secara otomatis dan bisa dimunculkan tanpa batas, tidak ada gunanya meski dia terus merobeknya.

Lagipula, apakah benang yang dia hasilkan itu terbatas? Rasanya jumlahnya mulai berkurang dibandingkan di awal tadi.

"Kuku……! Banyak sekali jumlah Mana Barrier-nya! Rasanya seranganku tidak akan ada yang kena sama sekali……!"

Babylon mencoba menyerang dengan meliukkan tubuhnya ke arah yang aneh melalui celah Mana Barrier, namun karena dasarnya dia hanya menyerang dengan pisau, aku cukup menjaga jarak atau mendorongnya dengan Mana Barrier.

Sejujurnya, setelah rahasia kemampuannya terbongkar, teknik ini akan sulit digunakan dalam pertarungan sungguhan.

"Blow Away!"

Bersamaan dengan teriakan Crow, angin kencang bertiup, namun itu hanya menggoyangkan rambutku saja.

Karena kata kutukannya hanya berefek pada area di sekitarku, selama aku mengunci posisiku dengan kuat menggunakan Fly, hal itu tidak akan berpengaruh padaku.

Teknik ini berguna untuk melawan musuh yang lebih lemah atau menyegel gerakan lawan, tapi…… apakah tidak bisa digunakan selain untuk bertarung?

Misalnya, berkata pada bahan makanan 'Jadilah enak'. Mungkin itu mustahil, ya.

Dan Ren sepertinya tidak bisa ikut menyerang karena khawatir kemampuannya akan mengenai teman-temannya.

Kemampuan menghasilkan racun dari tubuh sepertinya agak sulit untuk digunakan dalam kerja sama tim.

Nah, karena aku sudah melihat semuanya, sepertinya giliran aku yang beraksi.

Kalau aku terus-terusan bertahan, aku tidak akan bisa melihat potensi penuh dari kemampuan mereka. Aku akan menahan diri sebisa mungkin……

"Wind Chi Bullet."

Ini adalah kombinasi sihir elemen angin Wind Ball dan Chi. Aku melepaskan angin yang telah diisi dengan Chi.

Karena aku masih pemula dalam penggunaan Chi, aku belum bisa menembakkannya secara langsung, tapi hal itu menjadi mungkin jika digabungkan dengan Wind Ball.

Keuntungannya adalah aku bisa memberikan kerusakan yang cukup tanpa melukai fisik lawan, sebuah serangan yang sangat damai.

"Gwaaaa!" "Kyaaaa!"

Wind Chi Bullet yang kulepaskan menghantam Galilea dan kawan-kawan, menerbangkan mereka, dan mengempaskan mereka ke dinding.

Jika menggunakan sihir biasa, aku harus sangat teliti menahan diri agar tidak membunuh mereka.

Sebagai pemanasan, ini sudah cukup…… eh?

Aku bersiap menunggu mereka bangkit setelah terempas ke dinding, namun tak satu pun dari mereka yang bangun meski waktu telah berlalu.

"……Lho? Ada apa dengan mereka?"

"Mereka pingsan sepenuhnya, Tuan," ujar Grim dengan nada jengah.

Masa, sih? Padahal aku sudah sangat menahan diri.

Ataukah orang biasa yang tidak bisa memakai sihir memang selemah ini?

"……Apa boleh buat."

Aku merapal sihir penyembuh kepada mereka.

"Apa yang Anda lakukan, Tuan Lloyd?" tanya Grim.

"Aku belum melihat semua teknik mereka. Mereka harus bertarung sampai aku puas."

Karena tadi seranganku terlalu kuat, aku akan menggunakan serangan yang lebih lemah lagi.

Katanya ahli bela diri sejati bisa melumpuhkan lawan tanpa melukainya. Memang aku tidak berbakat dalam hal pertarungan.

Jika aku menyegel sihir dan Chi…… Benar, mari gunakan ini saja.

Aku menghunus pedang penyerap sihir yang tersampir di pinggangku.

Aslinya Absorb Magic hanya bisa menyerap sihir yang sudah ada, tapi pedang ini bereaksi dan menyerap segala fenomena yang melibatkan Mana.

Terlebih lagi, pedang ini bisa menyimpan banyak jenis kemampuan dalam jangka waktu yang lama.

Aku akan menyerap semua teknik mereka dan menelitinya nanti. Tak lama kemudian, mereka mulai terbangun berkat sihir penyembuhku.

"Ugh…… t-tadi itu apa sebenarnya……"

"Selamat pagi. Mari kita lanjut ronde berikutnya."

Aku berkata begitu sambil tersenyum ceria. Namun, wajah Galilea dan yang lainnya entah kenapa malah menjadi pucat pasi.

"……Aku turut berduka, wahai para manusia," gumam Grim pelan.

Setelah itu, aku terus bertarung dengan mereka selama beberapa waktu.

Aku membiarkan mereka menyerang, memberikan serangan balasan yang pas, dan menyembuhkan mereka saat mereka sudah tidak bisa bergerak.

Sepertinya aku melakukannya selama sekitar satu jam.

"Menyerah! Tolong ampuni kami!"

Galilea mengangkat kedua tangan dan terduduk lemas.

"Eh? Kenapa? Ayo lanjut lagi."

"Tidak, tidak, semuanya sudah tidak bisa bergerak! Aku pun sudah sampai batas!"

Saat kulihat, yang lainnya juga sudah terkapar sepenuhnya.

Aneh. Padahal aku selalu memberikan sihir penyembuh, seharusnya tidak ada luka fisik.

"Mereka kehabisan Mana, Tuan. Sepertinya kemampuan mereka sangat boros energi," jelas Grim.

Jika Mana benar-benar terkuras habis, seseorang akan diserang rasa lemas yang luar biasa dan pingsan.

Bagi orang biasa hal ini tidak masalah karena pancaran Mana mereka kecil, tapi penyihir yang mengelola Mana dalam jumlah besar biasanya akan mengontrol keluarannya sendiri.

Namun bagi mereka yang memiliki kondisi tubuh unik—pengguna Mana alami—sepertinya mereka tidak bisa melakukan kontrol itu dengan baik.

Bisa dibilang, kondisi mereka seperti ember yang selalu bocor.

Dalam pertarungan yang mengonsumsi banyak Mana, mereka akan segera kehabisan energi.

Ngomong-ngomong, tipe seperti mereka mahir dalam beralih antara aktif dan non-aktif meski sulit melakukan penyesuaian mikro, itulah sebabnya mereka pandai menyembunyikan kehadiran.

(Sebaliknya, penyihir justru payah dalam peralihan tersebut, sehingga kehadiran mereka mudah bocor).

"Artinya, kalian sudah tidak bisa bertarung lagi?"

Galilea dan yang lainnya mengangguk mantap.

"……Hmm, jujur saja aku masih belum puas, tapi tidak ada gunanya jika aku terlalu memaksakan kalian."

"Aku mengerti. Jika kalian berkata begitu……"

Mendengar ucapanku, mata Galilea dan yang lainnya mulai memancarkan harapan.

"Aku akan mengajari kalian cara mengontrol Mana. Dengan begitu kalian akan baik-baik saja, kan?"

Mendengar ucapanku, mata Galilea dan yang lainnya langsung berubah menjadi penuh keputusasaan.

"Tunggu! Berhenti dulu! Kami sudah tidak punya niat bertarung……"

"Sudahlah, tidak apa-apa, tidak apa-apa."

Aku menempelkan tangan di punggung Galilea yang mencoba menolak, lalu mengalirkan Mana sekaligus.

"Aaaaaakkh!"

Tubuh besar Galilea bergetar hebat lalu ambruk.

"Galilea!"

Rekan-rekannya bergegas menghampiri dan membopongnya. Galilea segera membuka mata dan menatap tubuhnya sendiri dengan heran.

"A-apa-apaan ini……? Tubuhku tidak terasa lengket……?"

"Wah, benar…… Apa yang Anda lakukan, Pangeran Ketujuh?"

"Aku mengukir formula sihir langsung ke tubuhmu."

Jika tidak bisa mengontrolnya sendiri, maka harus dipaksa dari luar. Aku mengukir formula agar Mana yang biasanya bocor itu bersirkulasi di dalam tubuh, sehingga konsumsi Mana bisa ditekan.

Tentu saja, kemampuan yang lama tetap bisa digunakan sesuai keinginan sendiri.

Ini pertama kalinya aku mengukir formula pada tubuh manusia, tapi sepertinya berhasil. Ini adalah hasil dari kerja kerasku membuat banyak Magic Sword.

"Bagaimana? Apakah ada yang terasa aneh?"

"……Tidak, ini luar biasa. Aku terkejut……"

Aku memperhatikan dengan teliti, formula sihirnya sepertinya bekerja dengan baik.

"Nah, sekarang giliran kalian semua. Berbarislah di sana."

Yang lain saling bertukar pandang lalu mengangguk. Bagus, anak penurut itu baik. Yah, meskipun kalian menolak pun, aku akan tetap melakukannya secara paksa.

Akhirnya aku selesai memasang formula pada mereka semua. Semuanya tampak sehat dan sudah bisa mengontrol kemampuan masing-masing.

Meski begitu, mereka baru sampai di tahap bisa mengaktifkan dan menonaktifkannya saja. Untuk bisa mengontrolnya secara sempurna, pasti akan butuh waktu yang lama.

"Heh, meski tadi aku sempat ragu, tapi kemampuanku benar-benar tidak aktif secara otomatis lagi!"

"Luar biasa ya. Kukuku."

"Terima Kasih. Sudah lama aku tidak bisa bicara dengan normal."

Semua orang mengucapkan terima kasih padaku. Padahal aku tidak merasa perlu diberi terima kasih, karena aku melakukannya demi kepentinganku sendiri.

"Ayo, kamu juga ucapkan terima kasih," ujar Talia kepada Ren yang sedang meringkuk di sudut ruangan.

Ren memasang wajah cemberut yang kesal dan bergumam.

"……Tubuhku disentuh sembarangan."

"Cuma segitu saja tidak masalah, kan? Tidak akan membuat tubuhmu berkurang juga. Berkat dia, kamu tidak perlu lagi menyebarkan racun ke sembarang tempat!"

"Tapi, ugh…… t-te…… rima…… ka……"

Dia menggumamkan sesuatu tapi suaranya tidak terdengar jelas. Melihat itu, Grim menghela napas jengah.

"Hadeh, Tuan Lloyd, itu yang namanya rasa malu seorang gadis. Benar-benar ya, perempuan di dunia mana pun memang merepotkan. ……Ngomong-ngomong, aku pun dulu saat masih di dunia iblis pernah membuat satu atau dua wanita menangis. Gehehe."

Grim tertawa mesum. Kamu menjijikkan sekali, tahu.

"……Anu, maafkan aku!"

Saat aku sedang melamunkan itu, Ren menundukkan kepalanya.

"Kupikir kamu sedang merencanakan perang, tapi sepertinya aku salah paham. Lloyd adalah penyihir yang hebat. Ternyata Magic Sword dan Magic Beast itu memang hal yang diperlukan."

"Baguslah kalau kamu sudah paham."

Kalau tidak salah, dia menyelinap ke istana karena urusan perang itu ya. Bagiku sih itu seperti 'pucuk dicinta ulam pun tiba', justru aku merasa diuntungkan dan malah ingin berterima kasih.

"……Kamu memaafkanku?"

"Iya, jangan dipikirkan."

Mendengar jawabanku, wajah Ren memerah.

"Hah, setelah melakukan semua itu, normalnya hukuman pancung pun tidak akan aneh, tapi dia sama sekali tidak tampak keberatan. Luar biasa sekali kemurahan hatinya. Jika orang ini……"

Melihatku, Galilea tampak menggumamkan sesuatu. Ada apa ya? Entahlah.

"Ngomong-ngomong, soal penghancur perang tadi, kenapa Ren melakukan hal seperti itu?"

"Itu adalah——"

"Biar aku saja yang menjelaskannya."

Galilea menjawab menggantikan Ren.

"Kami semua adalah orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat perang. Ada yang kehilangan keluarga, ada yang kehilangan mata pencaharian, alasannya beragam, tapi kami semua sama-sama membenci perang. Tujuan utama Assassin Guild ini adalah membunuh orang-orang yang akan memulai perang dan menghancurkan rencana mereka sebelum dimulai."

Begitu ya, di negara ini pun sampai belasan tahun lalu memang sering terjadi perang kecil-kecilan.

Ternyata mereka adalah korban perang yang rela menjadi pembunuh demi menghentikannya.

Meski bukan cara yang terpuji, mungkin ini yang disebut sebagai kejahatan yang diperlukan.

Melihatku yang tengah berpikir, Galilea melanjutkan bicaranya dengan mantap.

"Tuan Lloyd, aku punya satu permohonan. ……Bisakah Anda menjadi bos kami?"

Mendengar ucapan Galilea, yang lainnya tampak terkejut.

"Hei, tunggu dulu, Galilea!"

"Kamu serius!? Dia itu masih anak-anak!"

Menanggapi suara-suara yang mencoba menghentikannya, Galilea mengangguk.

"Ya, tentu saja aku serius. Memang Tuan Lloyd masih anak-anak dan tadi sempat menjadi musuh kita. Tapi, Anda tidak mendiskriminasi kami para The Cursed, dan Anda punya kekuatan yang layak menjadi bos. Ditambah lagi kemurahan hati Anda yang bisa memaafkan kesalahpahaman kami tadi. Justru karena Anda adalah sosok yang bisa menerima baik dan buruk, aku ingin memohon——Tuan Lloyd, jadilah bos kami!"

Galilea menundukkan kepalanya dengan wajah serius.

"Menjadi bos Assassin Guild? Kedengarannya tidak menarik sama sekali."

"Jangan menganggapnya terlalu berat. Anggap saja Anda mendapatkan lima orang bawahan yang siap menuruti perintah Anda kapan pun. ……Mungkin Anda sudah dengar tadi, tapi beberapa bulan lalu kami menjadi buronan. Kami dijebak oleh Jade, mantan bos kami."

Sepertinya resepsionis tadi pernah menceritakan hal itu. Akhir-akhir ini bos Assassin Guild menghilang, organisasi kehilangan kendali dan mulai berbuat semena-mena lagi. Tapi soal dijebak adalah informasi baru bagiku.

"Apa maksudnya dijebak?"

"Memang benar Jade menghilang, tapi kami tidak pernah melakukan kejahatan apa pun. Buktinya adalah ini."

Galilea menunjukkan sebuah medali kepadaku. Di sana terukir lambang serigala.

"Ini adalah benda yang selalu kami tinggalkan di lokasi kejadian setelah menyelesaikan misi sebagai tanda perbuatan kami. Benda ini dibuat oleh Jade dan mengandung sihir khusus sehingga mustahil untuk dipalsukan. Medali ini ditemukan di lokasi-lokasi kejahatan yang terjadi belakangan ini. Seseorang yang meninggalkan benda seperti itu pastilah orang yang mengetahui cara kerja kami."

"Artinya itu perbuatan Jade?"

"Kemungkinan besar begitu."

Galilea mengangguk. Yang lain pun tampak menyetujuinya.

"Jika Anda menjadi bos kami, mungkin akan ada kesempatan untuk membersihkan nama baik kami. Aku tidak meminta Anda untuk langsung percaya! Anda bisa memutuskannya setelah menilai sendiri apakah kami benar-benar tidak melakukannya. Jika saat itu tiba, aku ingin Anda bicara pada Adventurer Guild agar mencabut status buronan kami!"

"……Sebelum Guild ini berdiri, kami dibenci, dihina, dan hidup bersembunyi seperti tikus got. Tapi sekarang kami bisa hidup tenang seperti manusia normal. Kami juga punya teman. Demi mempertahankan itu, aku rela melakukan apa saja, termasuk menjadi bahan eksperimen sihir Anda! Jadi kumohon! Aku meminta dengan sangat!"

Saat Galilea menundukkan kepala, yang lainnya pun mengikutinya.

"Aku juga memohon padamu."

"Aku akan mengikuti kata yang lain. Aku mengakuimu sebagai bos. Kuku."

"Kumohon……"

Melihat mereka yang satu per satu menundukkan kepala, aku mulai berpikir. Kemampuan mereka masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Tadi aku sudah mengukir formula agar mereka bisa mengontrolnya, dan setelah ini pasti akan semakin berkembang.

Menjadi bos memang merepotkan, tapi jika aku menyuruh mereka berlatih setiap hari dan memperlihatkan kemampuan baru yang mereka ciptakan kepadaku…… Hmm, itu mungkin cara yang lebih efisien untuk mengobservasi kemampuan mereka.

Jika mereka bisa menciptakan kombinasi yang bagus dengan formula sihir, itu pasti akan berguna untuk riset sihirku.

"……Baiklah. Aku akan menjadi bos kalian."

"Benarkah!? Terima kasih banyak!"

Aku menyambut dan menjabat tangan yang diulurkan Galilea.

"……"

Tiba-tiba, aku menyadari Ren memasang wajah tidak senang. Melihat pandanganku, Galilea pun bergumam pelan.

"Ren itu sangat dekat dengan Jade, jadi sepertinya dia tidak suka melihat Tuan Lloyd menjadi bos. Tapi bukan berarti dia tidak mengakuimu. Bisa dilihat sendiri kalau dia sebenarnya berterima kasih. Dia itu cuma tidak jujur saja. Seiring berjalannya waktu, dia pasti akan menerimamu."

"Hoo, begitu ya."

Kalau butuh waktu, berarti urusan belakangan saja.

Yah, tidak akan terlambat meski aku menelitinya setelah selesai dengan kemampuan yang lain.

Sampai saat itu tiba, biarkan saja dia mengembangkan kemampuannya sendiri.

"……Hm?"

Saat sedang berpikir begitu, aku merasakan munculnya sebuah formula sihir di atasku.

Saat aku mendongak, ada gumpalan Mana berwarna hitam pekat yang melayang, dan dari sana jatuh selembar kertas.

Aku mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di sana.

"Kepada rekan-rekan Assassin Guild, dari Jade."

Begitu aku membacanya, semua orang menunjukkan ekspresi terkejut.

"P-pinjam!"

Ren merebut surat itu dariku. Dia merobek amplopnya dengan terburu-buru dan mulai membacanya dengan sangat serius.

"Anu…… 'Rekan-rekanku, pertama-tama aku minta maaf karena menghilang secara tiba-tiba. Ada alasan di baliknya. Selama ini aku merahasiakannya, tapi aku adalah putra ketiga dari Penguasa Roadst. Aku mendirikan Guild ini untuk membunuh ayah dan saudara-saudaraku yang setiap hari merencanakan peperangan'."

Mendengar isi surat yang dibacakan Ren, semua orang menjadi gaduh.

"Putra ketiga Roadst? Memang tindak-tanduk Jade selalu terasa seperti orang terpandang. Dia bisa memakai sihir, dan aku selalu tahu dia bukan orang biasa……"

"Kalau dipikir-pikir, kita sudah berkali-kali membunuh penguasa di sana dengan alasan mereka merencanakan perang, ya. Guild kita didirikan dengan dalih menghancurkan perang…… artinya selama ini kita dimanfaatkan oleh pria itu dari awal?"

"Kuku, bisa dibilang itu adalah kesepakatan yang saling menguntungkan. Jade ingin menyingkirkan penguasa yang mengganggu, dan kita ingin kehidupan yang layak."

"……Aku bersyukur pada Jade yang telah memberikan tempat bagiku."

Wilayah Roadst berada di sebelah selatan Saloum, dan keluarga penguasa di sana memang terkenal haus perang sejak dulu.

Seingatku, Albert dan Charles juga pernah khawatir karena wilayah itu sepertinya akan menyulut perang.

Akhirnya setiap kali penguasanya mati dan digantikan, rencana itu selalu kembali ke titik nol…… Begitu ya, ternyata anggota Assassin Guild lah yang mencegahnya.

"……Aku lanjut membacanya ya. 'Tentu saja dari awal aku tidak berniat membunuh mereka. Tapi meski sudah berkali-kali kubujuk mereka tidak mendengarkan, sehingga aku terpaksa mengambil tindakan tegas. Bagiku itu juga pilihan yang sulit. Bagaimanapun, setelah ayah dan saudara-saudaraku tiada, aku segera kembali ke rumah untuk mengatasi kekacauan. Selama itu aku sangat sibuk sehingga tidak bisa menghubungi kalian. Maafkan aku. Namun akhirnya segalanya mulai tenang, dan aku berhasil menjadi penguasa wilayah. Aku merasa ini semua berkat kalian. Karena itu, aku ingin menyambut kalian sebagai rakyatku. Aku ingin kalian terus bekerja di bawah pimpinanku. Bagaimana menurut kalian? Jika kalian menerima tawaran ini, besok sore aku akan mengadakan pesta penyambutan di kediaman penguasa Roadst, jadi tolong datanglah'…… katanya!"

Wajah Ren langsung berbinar cerah, seolah ketidaksenangannya tadi hanyalah bohong belaka.

"Lihat, kan! Pasti ada alasannya kenapa dia tidak menghubungi kita! Hebat sekali Jade kita sudah menjadi penguasa wilayah! Jika kita pergi ke tempat Jade, kita bisa bekerja di sana! Kita tidak perlu lagi lari dan sembunyi-sembunyi seperti sekarang!"

Namun berbanding terbalik dengan Ren yang berbicara dengan antusias, yang lainnya justru tampak mengerutkan dahi.

"Hmm, kedengarannya masuk akal, tapi……"

"Benar. Meski begitu, kenapa baru sekarang…… dan kita masih belum tahu soal kejadian-kejadian yang belakangan ini terjadi."

"Bisa jadi ini upaya untuk membungkam saksi…… Kukuku."

"……"

Tanggapan dari Galilea dan yang lainnya sepertinya kurang baik.

"Ini sih jelas-jelas jebakan, Tuan. Pasti ini upaya membungkam bawahan setelah tugas mereka selesai. Jika orang tahu dia menyewa pembunuh untuk membunuh ayah dan saudaranya demi menjadi penguasa, posisinya yang susah payah didapatkan itu akan terancam. Kemungkinan besar dia menggunakan nama Assassin Guild untuk berbuat jahat agar kita ditangkap lagi, tapi karena kita tidak kunjung tertangkap, dia jadi tidak sabar dan ingin menghabisi kita sendiri…… begitulah kira-kira."

Perkataan Grim ada benarnya. Namun ada bagian yang terasa mengganjal.

"Tapi, apakah orang yang ingin menjebak akan mengirim surat yang sejelas ini? Lagipula jika dia tahu di mana persembunyian kalian, dia bisa saja mengirim pasukan penumpas atau cara lainnya, kan?"

"Benar! Kamu pintar sekali, Lloyd! Jade bukan orang yang suka bermain siasat seperti itu! Kalian semua juga tahu itu, kan!"

Ren menimpali gumamanku.

"Yah, kalau dipikir-pikir dia memang orangnya terlalu baik hati atau gampang percaya, sih."

"Dia itu orang bodoh yang rela terjun langsung demi menyelamatkan teman yang tertinggal, ya. Kejahatan yang terjadi belakangan ini pun kabarnya tidak melukai siapa-siapa…… sepertinya memang mirip dengannya."

"Itulah sebabnya kami mengakuinya sebagai bos…… Kuku. Memang benar jika itu Jade, dia mungkin akan mengirim surat yang jujur dan konyol seperti ini."

"Aku ingin percaya pada Jade."

Yang lainnya pun mulai sependapat dengan Ren. Sepertinya si Jade ini punya pengikut yang cukup setia.

"……Bagaimanapun juga, kita tidak punya pilihan selain pergi dan memastikannya sendiri," ujar Galilea sambil menghela napas.

"Yah, benar juga. Siapa tahu isi surat itu benar, dan jika kita mengabdi pada Jade yang sudah sukses, kita juga bisa kecipratan untungnya, kan?"

"Kalau terjadi apa-apa tinggal kabur saja. Kuku, aku kan bisa masuk ke celah mana pun."

"Hanya melarikan diri sendiri itu tidak baik."

"Jika terjadi sesuatu, aku yang akan menanganinya!"

"——Sudah diputuskan, ya."

Mendengar kata-kata mereka, Galilea mengangguk. Kemudian dia menghadap ke arahku dan menundukkan kepalanya.

"Begitulah, Tuan Lloyd. Kami akan mencoba pergi ke tempat Jade. Aku tahu ini sangat tidak sopan, tapi tolong lupakan dulu permintaanku soal Anda menjadi bos kami tadi! Tentu saja, aku akan bertanggung jawab atas perkataanku tadi dan akan tetap menemani eksperimen Anda! Aku juga akan membantu sebisa mungkin. Jadi, tolong maafkan kami, ya?"

……Hmm, jadi kalian akan kembali ke bos yang lama, ya.

Yah, bagiku sih ini malah bagus karena aku tidak perlu mengurusi kalian, dan aku masih bisa melakukan eksperimen dengan leluasa.

Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui.

Meski begitu, aku tidak bisa begitu saja mengangguk setuju pada cerita ini.

"……Benar juga. Memang itu permintaan yang egois. Karena itu, aku punya satu syarat. ——Bawa aku pergi bersama kalian."

"Apa!? T-tapi seperti yang Anda dengar tadi, ini berisiko! Ditambah lagi tidak ada keuntungan apa pun bagi Anda!"

Melihat Galilea yang terkejut, aku memberikan senyuman balasan.

"Tidak apa-apa, aku pernah menjadi bos kalian walau sebentar. Bertanggung jawab sampai akhir adalah suatu keharusan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, kan? Jika terjadi sesuatu yang buruk, aku yang akan menanganinya."

"A-Anda benar-benar……!"

Mata Galilea mulai berkaca-kaca mendengar ucapanku. Yang lainnya pun tampak tersentuh.

"Lloyd……!"

Wajah Ren entah kenapa kembali memerah. Sepertinya semua orang setuju.

"Sudah diputuskan, ya."

"……Terima kasih banyak. Meski Anda bukan bos kami lagi, kami bersumpah akan mengabdi kepada Anda……!"

Mereka semua kembali menundukkan kepala dalam-dalam.

"Hadeh, saya kaget. Ternyata Tuan Lloyd bisa mengatakan hal yang sangat baik seperti itu."

"Iya, kalau sampai terjadi sesuatu dan kemampuan mereka hilang kan aku yang rugi, lagipula aku juga penasaran dengan kemampuan Jade."

Kemampuan mengirim surat tadi, itu pasti teknik perpindahan ruang.

Orang yang memiliki kemampuan ini biasanya tidak bisa mempertahankan koordinatnya sendiri, dan sering mengalami fenomena 'diculik setan' sejak kecil karena tiba-tiba berpindah tempat.

Tapi Jade jelas-jelas bisa mengontrol kemampuan itu.

Perpindahan ruang adalah dasar dari sihir sistem ruang yang sudah diteliti bertahun-tahun, namun kontrolnya sangat sulit dan belum ada manusia yang bisa menggunakannya dengan benar.

Apakah dia menggabungkan formula sihir dengan kemampuannya dengan baik?

Bisa mengontrolnya secara sempurna…… Jade, dia orang yang hebat.

Sekarang aku tidak hanya tertarik pada kemampuannya, tapi juga pada orangnya.

Aku jadi ingin sekali bertemu dengannya.

"Aku jadi tidak sabar! Grim!"

"Hadeh, yah, saya sudah menduga bakal jadi begini……"

Grim menghela napas mendengar itu. Kenapa dia tampak jengah begitu? Dasar makhluk yang sulit dimengerti.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menuju ke kediaman Penguasa Roadst.

Kami berangkat meninggalkan persembunyian dan keluar kota di tengah malam agar tidak mencolok.

"Nah, jarak ke Roadst lumayan jauh. Sepertinya kita akan sampai tepat waktu meski berjalan kaki, tapi akan merepotkan kalau ketahuan orang di tengah jalan."

"Menurut Tuan Lloyd, kita ini kan selangkah lagi jadi buronan. Tidak aneh kalau kita ditangkap kapan saja."

"Kita harus menghindari tindakan mencolok. Kita harus pergi diam-diam seperti tikus. Kuku."

"Bagaimana sebaiknya? ……Lloyd."

Ren menatapku dengan pandangan memohon.

Berjalan kaki itu merepotkan, dan sekarang aku sudah tidak perlu lagi menyembunyikan sihirku dari mereka.

Kalau soal berpindah tempat, aku bisa mengatasinya dengan sihir.

"Ayo kita terbang saja."

"Hah?"

Suara mereka semua serempak.

"Aku akan memakai Flight. Kalian pasti pernah melihatnya, kan? Kita akan sampai dalam sekejap."

Mendengar perkataanku, Galilea mengibaskan tangannya dengan panik.

"Tidak, tidak, tidak! Bukannya itu sihir untuk menerbangkan diri sendiri? Jangan lupakan nasib kami dong."

"Aku dengar Flight itu sihir tingkat tinggi yang penggunanya sedikit. Katanya kecepatannya juga tidak seberapa, ya?"

"Tenang saja. Kalau sihirku, aku bisa menerbangkan kalian semua sekaligus. Pokoknya berdiri saja di sana. Oh, jangan bergerak ya. Kalau salah sedikit, leher kalian bisa patah karena guncangannya."

"Hiii!?"

Mereka menjerit mendengar suaraku.

"Yah, kalaupun patah, aku bisa menyembuhkannya dengan sihir pemulihan, jadi tenang saja. Tapi lebih baik tidak patah, kan?"

"O-oh……"

Sambil mengangguk mantap, mereka semua mematung kaku di tempat yang kutunjuk.

Setidaknya, apa ucapanku tadi sudah sedikit menenangkan mereka?

Kata Sylpha—bawahan yang baru bergabung itu selalu merasa cemas. Sosok pemimpin harus bisa menaruh perhatian pada mereka. Menjamin keselamatan mereka, dan menjelaskan dengan baik jika ingin melakukan sesuatu. Tanpa menghilangkan rasa cemas itu, hubungan kepercayaan tidak akan terbangun—begitu katanya.

Yup, kurasa aku sudah melakukannya dengan baik.

"Sekadar info saja ya, Tuan Lloyd, yang Anda lakukan itu namanya memerintah dengan teror."

"Eh? Begitu ya?"

Padahal aku tidak berniat menakut-nakuti mereka…… Tapi saat aku melirik mereka, wajah mereka memang tampak tegang ketakutan.

Hmm, sepertinya aku masih belum paham batasan perasaan orang normal.

"Ya sudahlah, oke, ayo berangkat!"

Sihir sistem ruang, Area Expansion.

Ini adalah sihir untuk memperluas jangkauan efek dari sebuah formula sihir, dan bisa dikombinasikan dengan berbagai sihir lainnya.

Ini juga sihir praktis yang bisa digunakan pada tas untuk menambah kapasitas barang bawaan.

Aku menyambungkan formula itu dengan Flight, lalu mengaktifkannya.

Bersama mereka, tubuhku perlahan melayang ke udara.

"Awawawawa!? Kita mengambang!?"

"Kalau bicara, lidahmu bisa tergigit, lho."

"Muggh."

Ren dan yang lainnya buru-buru menutup mulut.

Begitu aku memusatkan pikiran, kami semua terbang bersama menuju wilayah Roadst.

 

Setelah sekitar sepuluh menit penerbangan berlangsung...

"Tu-tunggu…… sebentar…… aku mau mati……"

"Eh? Apa?"

Saat aku menoleh, Galilea memasang wajah yang sangat menderita.

"Sepertinya mereka tidak kuat menahan kecepatan Flight milik Tuan Lloyd. Di ketinggian memang sulit bernapas, apalagi terbang secepat ini, beban di tubuh mereka pasti luar biasa. Bukankah lebih baik kita istirahat sejenak?"

"Padahal aku sudah memasang Mana Barrier, lho……"

Begitu diperingatkan Grim, aku melihat mereka semua memang tampak kepayahan.

Ada yang sudah terlihat ingin muntah, jadi mau bagaimana lagi, aku harus turun. Aku membatalkan Flight dan perlahan mendarat.

"Hah, hah…… hieee……"

Begitu mendarat, semuanya langsung terduduk lemas sambil terengah-engah.

Kecuali satu orang, yaitu Ren.

"Semuanya, kalian tidak apa-apa?"

"O-oh…… tidak terlalu, apa-apa……"

Ren menyapa teman-temannya yang lemas dengan nada khawatir.

Padahal yang lain sangat kepayahan, tapi Ren tampak baik-baik saja.

"……Aku ini The Cursed yang menyimpan racun di dalam tubuh. Sepanjang hidupku, aku selalu bersama racun. Entah karena itu atau bukan, tapi tubuhku tidak pernah merasa tidak enak sedikit pun."

"Hee, ada keuntungan seperti itu juga ya."

Bisa dikatakan, mereka adalah orang-orang yang sejak lahir Mana-nya tercampur ke dalam tubuh dan tidak bisa dipisahkan.

Kondisi unik itu punya sisi buruk dan juga sisi baik.

Bagi Ren yang memiliki tubuh penghasil racun, kemungkinan dia memiliki sifat untuk menetralkan racun di dalam dirinya sendiri.

Bisa jadi dia juga kebal terhadap racun lain, atau hal-hal yang bisa melemahkan tubuh.

"Keuntungan…… ini pertama kalinya ada yang bicara begitu padaku."

"Segala sesuatu punya dua sisi. Jika ada sisi buruk, pasti ada sisi baiknya. Lagipula, jangan menyebut dirimu sendiri 'terkutuk'."

Bagiku, Ren dan teman-temannya bukan dikutuk, melainkan hanya punya kondisi fisik yang unik.

Mendengarnya merendahkan diri sendiri seperti itu membuatku merasa kurang nyaman.

Ren berpikir sejenak, lalu mengangguk.

"……Iya, aku mengerti."

Bagus kalau mengerti.

Omong-omong, kenapa wajahnya sedikit memerah?

Katanya tadi tidak akan merasa tidak enak badan? Ya sudahlah.

"Daripada itu, aku ingin tanya. Berdasarkan ucapan tadi, apakah racun tidak mempan pada Ren? Meski itu racun yang sangat mematikan sekalipun?"

"K-kalau kamu menatapku dengan mata berbinar begitu aku jadi bingung…… tapi iya, soal racun, aku bisa makan rumput liar atau jamur apa pun. Berkat itu, aku jadi tahu flora dan fauna hutan mana yang enak dimakan. Oh iya! Bagaimana kalau kita istirahat makan di sini? Kalian lapar, kan?"

"Dipikir-pikir, benar juga……"

Sejak bangun tengah malam tadi, aku terus bergerak tanpa henti.

Sekarang sudah hampir siang, dan perutku mulai terasa lapar begitu diingat.

Mendengar perutku berbunyi kruuuk, Ren tersenyum manis.

"Sudah diputuskan! Serahkan urusan makanan padaku, kalian istirahat saja!"

Begitu mengatakannya, Ren langsung berlari menuju pegunungan.

Hebat juga. Dia menghilang dalam sekejap.

Setelah menunggu beberapa saat, Ren kembali membawa bahan makanan dan segera mulai memasak.

Begitu panci mulai mendidih di atas api, aroma lezat mulai menyerbak di sekitar kami.

"Ini! Sudah jadi! Sup panci dadakan!"

Di dalam panci itu, ada benda-benda yang belum pernah kulihat sebelumnya sedang mengapung.

"Hoh, apa-apaan ini? Bahan makanan yang jarang kulihat……"

"Ada rumput liar dan jamur yang kupetik tadi, lalu ada ular dan tikus liar."

"Apa……!?"

Mendengar itu, Galilea dan yang lainnya langsung mengernyitkan dahi.

"Ini aromanya agak mencurigakan ya…… Selain penampilannya, ini masakan gadis itu. Ada kemungkinan besar benar-benar mengandung racun," gumam Grim sambil tersenyum kecut melihat panci itu.

Di tengah keheningan itu, hanya suara air mendidih yang terdengar.

"Ah…… be-benar juga ya. Maaf. Ini bukan masakan yang layak, kan. Anu, tidak usah dipaksa makan tidak apa-apa, kok. Biar aku makan sendiri saja……"

Ren tampak lesu dan hendak mulai makan sendiri.

Namun, aku lebih dulu menjulurkan tangan ke arah panci.

Aku mengambil sendok dari tangan Ren, lalu melahap isinya.

"Nyam nyam…… hmm, ini lumayan enak."

Di bawah tatapan tak percaya dari semua orang, aku mulai melahap isi panci itu dengan semangat.

Di kehidupanku sebelumnya, saat tidak punya uang, aku terbiasa memasukkan sisa sayuran, rumput liar, hingga bangkai hewan ke dalam panci untuk dimakan.

Beberapa kali aku sakit perut, dan ada juga yang rasanya sangat menjijikkan sampai tidak bisa dimakan.

Dibandingkan itu, bahan yang dipetik Ren rasanya masih masuk akal.

"……Aku juga, mau co-ba."

Orang berikutnya yang menjulurkan tangan adalah Crow.

Melihatnya makan dengan lahap, yang lainnya pun mulai ikut mencoba.

"Ooh! Ternyata benar-benar enak!"

"Wah, iya. Jangan menilai dari penampilannya saja, ya."

"……Hehe, iya kan? Karena aku memilih yang terbaik!"

Rasa lesunya tadi hilang entah ke mana, digantikan dengan tawa bangga Ren.

"Memakan pemberian orang lain dengan lahap adalah salah satu cara efektif untuk mendapatkan kepercayaan. Tapi memakan sesuatu yang bahkan kami yang tumbuh di perkampungan kumuh saja ragu untuk menyentuhnya tanpa ragu sedikit pun…… apakah Tuan Lloyd benar-benar anggota keluarga kerajaan?"

"Tapi efeknya luar biasa…… Lihat Ren, dari tadi matanya terus mengikuti Tuan Lloyd. Pipinya memerah, imut sekali ya."

"Kuku, kapasitas hatinya benar-benar di luar dugaan."

"Aku juga, jadi suka, Lloyd."

Semuanya bergumam sendiri-sendiri.

Makan sambil bicara itu tidak sopan, lho.

"Nyam nyam, nambah."

"Siap!"

Ren menuangkan porsi besar ke mangkuk yang kusodorkan dengan senyum lebar.

Setelah selesai makan, aku memperhatikan Ren yang sedang membereskan peralatan masak.

"Ngomong-ngomong, Ren benar-benar paham soal hutan, ya."

Bisa mengumpulkan rumput liar dan jamur sebanyak ini bukanlah hal biasa.

Sudah berapa lama dia menghabiskan waktu di dalam hutan?

"Bukan cuma paham lagi. Ren itu kabarnya memang tinggal di hutan sejak kecil."

"Di hutan? Kenapa?"

Mendengar pertanyaanku, Galilea berpikir sejenak sebelum menjawab.

"……Yah, kalau pada Tuan Lloyd, kurasa boleh diceritakan. Kami para The Cursed ini adalah orang-orang yang dibenci di kota. Semua yang ada di sini pernah mendapat perlakuan kasar. Tapi diskriminasi yang diterima Ren jauh lebih parah daripada kami."

"Katanya baru berumur beberapa tahun, orang tuanya meninggal karena racun yang dia sebarkan sendiri. Setelah itu dia berpindah-pindah dari satu rumah kerabat ke rumah kerabat lainnya. Di mana pun dia berada, dia selalu dibenci, sampai akhirnya dia kehilangan tempat tinggal dan kabur dari rumah."

"Dia lari ke hutan dan sejak saat itu terus tinggal di sana."

Grim mengangguk mendengar cerita Galilea.

"Memang orang yang menyebarkan racun ke sekeliling itu akan dianggap pengganggu di kota. Aku bisa paham perasaan penduduk kota."

Manusia cenderung membenci sesuatu yang berbeda dari diri mereka sendiri.

Di kehidupanku sebelumnya pun, saat aku melakukan riset sihir, aku sering dipandang sebelah mata.

"Lalu Jade muncul. Jade mengajari Ren banyak hal. Cara bertahan hidup sebagai The Cursed, cara mengontrol kemampuan, bahkan dia membuatkan pakaian yang ditenun dengan formula Mana Isolation agar racunnya tidak bocor. Berkat itu, Ren bisa kembali ceria seperti sekarang. Itulah kenapa Ren sangat menyayangi Jade seperti kakak kandungnya sendiri."

Galilea bercerita dengan nada yang berat.

……Begitu ya, jadi ada sejarah seperti itu.

Pantas saja Ren berkali-kali menyatakan kepercayaannya pada Jade.

"Jade sendiri juga seorang The Cursed. Meski lahir dari keluarga bangsawan, dia pasti juga pernah mendapat perlakuan buruk. Dia sering bilang kalau dia akan membangun kota yang nyaman di mana kita tidak akan didiskriminasi, apa pun caranya. Singkatnya, kami semua mengikuti Jade karena hal itu. Kami tidak ingin percaya kalau dia mengkhianati kami."

Galilea menatap lurus ke depan.

Begitu ya, meski ada kemungkinan jebakan, alasan mereka tetap datang sejauh ini adalah karena mereka percaya pada Jade.

Ren dan yang lainnya pun pasti merasakan hal yang sama.

Aku jadi ingin membantu mereka juga. ……Lagipula, jika ada kota tempat para pemilik kemampuan seperti mereka bisa hidup tenang, subjek risetku akan bertambah banyak.

"Tuan Lloyd, kenapa Anda senyum-senyum sendiri?"

"Eh? Memangnya wajahku begitu?"

Aneh. Padahal aku berniat memasang wajah serius.

Melihatku yang mencoba mengatupkan bibir dengan serius, Grim hanya terdiam dengan tatapan curiga.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close