Chapter
5
Bintang
1
Konoe yang terlempar ke udara segera mengamati
keadaan. Ia memeriksa situasi di sekitarnya.
Pertama, ia mengecek posisinya dengan rekan-rekannya. Di
sampingnya ada Melmina, dan di seberangnya ada Tica. Melmina sudah hendak
mengulurkan tangan ke arah Tica.
Selanjutnya, ia melihat tiga hal di bawah sana. Pertama,
gumpalan yang tampak seperti perpaduan dari banyak Daemon.
Kemudian, Kristal Perak yang didekap oleh gumpalan
itu. Dan yang terakhir.
(──Itu.)
Sesuatu yang memancarkan aura mengerikan, seolah
kegelapan dipadatkan menjadi bentuk manusia dengan bola mata yang tertanam di
dalamnya.
Konoe segera menciptakan Divine Weapon di
tangannya──.
【────!!!!】
Tepat pada saat itu, sebuah suara tanpa suara berteriak
di dalam lubuk hati Konoe.
Itu adalah sang Dewa. Emosi Dewa tersalurkan kepadanya.
Itu adalah──kemurkaan. Emosi yang baru pertama kali ia rasakan selama dua puluh
lima tahun hidupnya. Sang Dewa saat ini sedang marah luar biasa!
【──Dewa Jahat (Evil God)!】
"────!"
Konoe segera bergerak. Sembari memastikan jebakan dengan Authority
of Gold, ia memusatkan kekuatan sihir ke tombaknya dan mengaktifkan
kekuatan jiwanya.
Dalam sekejap, kekuatan sihir itu mencapai titik kritis
dan melepaskan petir, sementara jiwanya menciptakan pisau-pisau yang tak
terhitung jumlahnya di sekelilingnya.
Jawaban
yang diberikan oleh Authority of Gold adalah: Tidak ada jebakan.
Serangan bisa dilakukan selama menghindari Kristal Perak.
"────"
Konoe
menembakkan tombak dan pisau-pisaunya dengan kekuatan penuh. Itu adalah firepower
maksimal yang bisa dikerahkan Konoe saat ini. Dewa Jahat dan gumpalan Daemon
itu bahkan belum sempat bereaksi sama sekali.
Bersamaan
dengan dentuman petir, sekumpulan bilah tajam melesat untuk menghancurkan
musuh──.
"────LUUUUUUU!"
──Pertama,
tubuh gumpalan Daemon itu tertusuk oleh bilah tajam dan petir. Bagian
atasnya meleset karena ia menghindari Kristal Perak, tetapi bagian
bawahnya seketika hancur berantakan.
Di saat yang sama, lensa Melmina melesat di udara. Lensa
itu membakar tangan Daemon dengan Divine Weapon dan merenggut Kristal
Perak.
Tak hanya itu, sinar cahaya bagai hujan menghujani
mereka, membuat tubuh Daemon itu berlubang seperti sarang lebah.
──Respons kehidupannya pun lenyap.
[isdynvbgulyvmsym!!!!]
Dewa Jahat pun tertusuk──namun di saat-saat terakhir,
tiba-tiba bayangan meluas dari bawah kaki Dewa Jahat.
Bayangan itu seketika berubah menjadi hitam keunguan dan
mulai membuncit.
──Dari bayangan itu, muncul empat bilah tajam dan dua
perisai.
Bukan itu saja. Dari balik sana, muncul rongga mata yang
gelap. Itu adalah tengkorak.
Tiga tengkorak tipe iblis dengan tanduk besar yang tumbuh
di atasnya. Di bawahnya, terdapat tubuh dengan tulang belulang yang tersingkap,
dibalut baju zirah.
Ia memiliki enam lengan yang memegang pedang, tombak,
dan perisai raksasa. Pengawal Dewa Jahat, kah?
“““SUUUUUUUUUAAAAAAAALYYYYYYYY!!”””
Skeleton
berkepala tiga dan berlengan enam itu muncul.
Ketiga kepalanya mengaum, dan ia mengayunkan dua
pedang, dua tombak, serta dua perisai yang dipegang oleh keenam lengannya
dengan kecepatan yang mengerikan.
Tombak-tombak Konoe dijatuhkan oleh pedang,
pisau-pisau ditepis oleh tombak, dan cahaya hitam yang dilepaskan perisai
memantulkan serangan yang meleset.
Di antara sekian banyak pisau, hanya beberapa saja
yang luput dan lolos ke belakang.
Cahaya dari perisai itu adalah Unique Magic.
Sihir perlindungan yang memantulkan segala hal yang berbahaya.
──Itu adalah sebuah Bencana (Calamity).
[rukyztnuyrvn!!]
──Lalu, di celah sesaat yang tercipta itu, Dewa Jahat
yang mulai bergerak berteriak.
Kegelapan meluas di belakang sang Bencana. Aura Dewa
Jahat menipis di dalam kegelapan tersebut.
……Itu sihir ruang. Ia menghilang begitu saja, bahkan
Konoe tidak tahu apakah pisau yang lolos tadi mengenainya atau tidak.
"──!"
……Daemon itu berhasil dibunuh, tapi Dewa Jahat
berhasil meloloskan diri. Konoe menggertakkan giginya──.
"──Kyaa!"
"──!?"
──Namun, tidak ada waktu untuk menyesali keadaan.
Dari arah belakang, terdengar jeritan──jeritan Tica.
Tanpa mengalihkan pandangan dari skeleton
Bencana di depannya, ia mencari sumber aura tersebut dan menemukan bahwa tangan
Tica terluka.
Di depannya, terdapat Kristal Perak yang telah
diambil oleh Melmina──.
◆◇◆
"……Eh?"
──Tica menatap telapak tangannya yang mengepulkan
asap dengan tatapan kosong.
Jika ditanya apa yang terjadi, jawabannya adalah ia
terpental.
Kristal yang diletakkan Melmina pada lensa, saat
mendekati Tica, memancarkan cahaya perak dan membakar tangan Tica.
Benar, cahaya perak itu.
Kekuatan yang sangat Tica kenal──tidak, kekuatan yang
bisa dikatakan adalah diri Tica sendiri, justru menolak Tica.
Mengapa bisa begitu? Tica membuka mulutnya
lebar-lebar karena bingung.
『……………………kah』
"……?"
Di sana, kristal itu tiba-tiba bergetar. Sebuah suara
terdengar di telinga Tica.
Suara seorang wanita dewasa. Suara yang mirip dengan
ibunya.
『──Apakah dengan ini, sudah benar?』
Kristal Perak itu
membisikkan hal tersebut kepada Tica.
◆◇◆
──Lalu, saat itu juga, Melmina sedang.
Sambil mengobati tangan Tica, ia tidak menatap Kristal
Perak atau skeleton itu, melainkan melihat ke atas.
Ia sadar bahwa situasi sedang berubah dalam waktu
sesingkat ini.
"……Gawat."
Melmina bisa merasakan sesuatu. Itu berada jauh di atas
langit-langit ruangan ini. Karena berada di bawah tanah, auranya sulit
dilacak…… tapi mungkin sekitar dua puluh kilometer ke arah permukaan.
Di sana, kawanan monster yang berjumlah lebih dari
seratus ekor berkumpul dan mulai bergerak menuju tempat ini.
Kemungkinan besar, itu adalah monster pertahanan yang
disiapkan oleh Dewa Jahat.
Mereka tadinya berhasil dilewati berkat kemampuan sang
Jamur, namun seharusnya mereka harus bertarung melawan monster-monster itu
sebelum sampai ke sini.
Terlebih
lagi, di barisan terdepan adalah Bencana tipe Worm. Entah karena
kekuatan Unique Magic atau bukan, mereka menggali tanah dengan kecepatan
luar biasa.
Jika
mereka terus menggali dengan kecepatan seperti ini──kontak akan terjadi dalam
waktu sekitar dua menit.
──Ini
adalah serangan balik Dewa Jahat. Ia tidak hanya mencoba kabur, tapi juga
melakukan langkah untuk membunuh mereka.
"──Konoe, pengejar datang!"
"……!"
Punggung Konoe yang berdiri di depan sedikit
tersentak. Dan, mungkin karena menyadari auranya, ia menahan napas.
Tentu saja. Karena di antara kawanan monster itu,
terdapat puluhan Bencana.
Jika Bencana sebanyak itu datang, pertempuran tidak akan
mungkin terjadi. Mereka hanya akan dibantai.
Selain itu, bahkan jika mereka mencoba lari, mustahil
bagi Konoe dan Melmina untuk melarikan diri dari musuh yang bergerak di bawah
tanah secepat itu.
──Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk selamat yang
terpikirkan oleh Melmina hanya satu.
──Sebelum pengejar datang, ia harus mengembalikan
Instruktur ke wujud asalnya.
"……"
Namun──Melmina menatap ke dalam pelukannya sendiri. Tica sedang menatap tangannya dengan tatapan kosong.
……Ia teringat suara Instruktur yang terdengar dari
kristal tadi.
Meskipun kristal──yang diduga sebagai Silver Lamp
itu telah direbut kembali, Tica justru ditolak.
Dengan kata lain, apakah Tica harus memenuhi syarat lain
agar bisa kembali menjadi Instruktur?
(……Apakah syarat itu bisa dipenuhi dalam dua menit?)
Jika tidak sempat, mereka mati. Padahal, situasinya masih
sangat samar.
Apakah
syaratnya bisa dilihat dengan Authority of Gold?
Ia
menatap Konoe. ……Ah, sepertinya tidak bisa. Auranya menunjukkan demikian.
Itulah sebabnya Konoe berkeringat dingin.
Kalau begitu, apa yang bisa ia lakukan adalah──.
"──Konoe, aku akan menggunakan kartu as. Aku yang
akan mengulur waktu."
"──!
……Ah!"
Melmina
melompat dari udara dan mendarat di tanah. Sambil menjelaskan kepada Tica yang
masih kebingungan, ia bergerak ke arah dinding.
Ia menurunkan Tica beserta Kristal Perak dan duduk
di sana. Posisi saat menggunakan kartu as.
Bencana skeleton di depannya terlihat kuat,
dan ia pun tidak mengerti soal Kristal Perak…… tapi, ia harus menghadapi
musuh yang mendekat, jika tidak, mereka akan mati dalam dua menit.
……Terakhir. Sambil berkata "kuserahkan
padamu" di dalam hati kepada Konoe yang berdiri di depannya, Melmina
memejamkan mata.
◆◇◆
──Lalu, Konoe berdiri seolah melindungi Melmina dan
Tica.
Puluhan meter di depannya, Bencana skeleton
itu berada, mengarahkan pedang, tombak, dan perisainya ke arah Konoe.
Urusan pengejar diserahkan pada Melmina, namun masalahnya
adalah Kristal Perak. Ia tidak tahu mengapa benda itu menyerang Tica.
Authority of Gold──meskipun
memberitahunya soal jebakan, ia tidak memberi tahu apa pun soal Kristal
Perak. Benda
itu memberitahunya bahwa lebih baik tidak tahu. ……Konoe merasa belakangan ini
selalu seperti itu. Inilah sebabnya mengapa Unique Magic memerlukan
verifikasi.
Sembari
merasa panik, Konoe mencoba memikirkan tentang kristal itu dan suara Instruktur
tadi.
“““SUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYYY”””
──Namun,
sang Bencana tidak membiarkannya berpikir lebih jauh.
Skeleton dengan
tiga kepala dan enam lengan.
Tingginya sekitar dua meter.
Bentuknya seperti tiga skeleton yang dibongkar
dan digabungkan secara menyimpang menjadi satu.
Di berbagai bagian tubuhnya terlihat paku-paku yang
mengandung kutukan, mungkin itu yang menyatukan mereka.
Aura yang menyimpang. Kekuatan sihir yang bergejolak.
Dari pedang, tombak, dan perisai di lengannya, ia
merasakan kekuatan yang mengingatkannya pada Divine Weapon.
Bencana yang diperkuat dengan senjata Dewa Jahat.
Pengawal Dewa Jahat.
──Ia mengerti. Tanpa keraguan, selain bayangan
Instruktur, ini adalah musuh terkuat yang pernah ia hadapi.
“““SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””
"…………"
Namun, sekuat apa pun musuh itu, ia tidak pernah
dididik untuk takut saat menghadapi musuh.
Konoe memutar jiwanya dan menembakkan pisau. Saat ia
hendak menerjang──.
"──SUUUUUUUUUU"
"──AAAAAAAAAAAA"
"──LYYYYYYYYYYYY"
──Di sana, gerakan skeleton itu berubah.
Sambil menepis pisau dengan perisai, ketiga mulutnya
mulai berteriak dengan nada yang berbeda. Lalu.
"──SUUUUUUU ORIGIN"
"──AAAAAAAA ORIGIN"
"──LYYYYYYYY ORIGIN"
"────Apa?"
Tiga warna bercampur di tubuh skeleton itu.
Hitam yang menyelimuti perisai, cokelat yang
menyelimuti tombak, dan abu-abu yang menyelimuti pedang. Mata Konoe berdenyut.
『Unique Magic──Cepat, lebih cepat dari apa pun, biarkan pedangku merobek musuhmu.
Satu menjadi dua.』
『Unique Magic──Kuat, lebih kuat dari apa pun, biarkan tombakku menghancurkan
penghalangmu. Dua menjadi tiga.』
『Unique Magic──Kokoh, lebih kokoh dari apa pun, biarkan perisaiku melindungimu dari
segala fenomena. Tiga menjadi satu.』
──Itu adalah senjata rahasia sang Dewa Hitam. Akhir dari
sihir terlarang yang mengumpulkan dan mencoba menciptakan Raja Iblis.
──Triple
Unique Magic yang menodai dan menggabungkan tiga mayat.
"────!"
Kata-kata
yang diberitahukan oleh Authority of Gold.
Tepat
saat Konoe memahami maknanya──.
“““──SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””
──Bersamaan
dengan suara yang memecahkan udara, skeleton itu mendekati Konoe.
Bilah
tajam berwarna cokelat dan abu-abu diayunkan dari atas kepala Konoe dengan
kecepatan yang luar biasa.
2
──Melmina
menyelam dalam, semakin dalam ke dalam Unique Magic. Menyelam dan
mengasah kemampuannya.
Kartu
as. Aplikasi dari Unique Magic yang biasanya ia sembunyikan dan berusaha
untuk tidak ia gunakan.
"────"
Melmina melihat. Sekitar dua puluh kilometer di
depan.
Banyak monster berkumpul dan mengincar tempat ini.
Di barisan terdepan, Bencana tipe Worm
meliuk-liuk, menggali ke bawah sambil melenyapkan lapisan batuan.
Di belakangnya ada puluhan monster yang diduga
sebagai Bencana.
Melmina mengarahkan pandangannya pada salah satu monster
Bencana, monster tipe iblis.
Meskipun ini prasangka total, tapi sepertinya individu
itu memiliki kecerdasan yang rendah.
Ia
mengaktifkan Clairvoyance.
Ia
melihat. Bagian kepala iblis itu.
Di
dalam bola matanya──Lensa-nya.
Lalu──ia
memproyeksikan bayangan ke dalam lensa tersebut.
『GA!?
GLUUUUAAAAA!』
『──CLUUUUU!?』
『──ZAAAAGAAAAAA!?』
──Bencana
iblis itu, karena tiba-tiba melihat sosok Adept putih yang
mengacungkan tombak di depan matanya, seketika mengayunkan pedangnya.
Tebasan
yang dilepaskan seketika itu──melukai Bencana yang berada di sebelahnya.
『──CLUUUCUU!』
『──GAAAAAA!?』
Para
Bencana menjadi bingung karena serangan mendadak dari rekan mereka.
Melmina
terus memproyeksikan bayangan sosok manusia satu per satu ke dalam lensa
monster-monster yang sedang memastikan keadaan di sekitarnya.
Ia
menanamkan sosok manusia yang menyusup ke dalam kawanan monster yang sedang
berdesakan itu.
Monster-monster itu berteriak. Melmina tidak mengerti
bahasa monster, tapi mungkin mereka berteriak bahwa ada musuh yang menyusup. Ia
memanfaatkan jeritan itu.
Ia memproyeksikan bayangan itu agar informasinya
tersebar satu per satu, membuat kawanan itu percaya bahwa ada musuh yang tidak
ada di sana.
Kekacauan meluas. Jeritan monster memenuhi gua yang
sempit itu──.
『KYYYYYAAAAAAAAA!?』
──Serangan dari monster yang kacau itu melukai Bencana
yang berlari di depan.
Gerakan Worm yang menggali batuan dengan tenaga
luar biasa pun terhenti.
(……Bencana-bencana yang memiliki kekuatan luar biasa. Tapi pengalaman bertarung mereka tidak begitu banyak, ya.)
Melmina merasa lega sambil menyandarkan tubuhnya di
dinding di dasar bumi.
Jika ini adalah para Adept, intervensi ceroboh
seperti hanya memproyeksikan bayangan ke dalam pandangan mereka akan langsung
terbongkar dan mereka semua akan mencongkel mata mereka sendiri.
(……Syukurlah.)
──Ini adalah kartu as Melmina. Kekuatan untuk menerapkan Clairvoyance
guna memproyeksikan bayangan ke lensa mata orang lain.
Ini cocok untuk mengacaukan kelompok atau memalsukan
informasi.
Awalnya, Unique Magic milik Melmina adalah untuk
memproyeksikan bayangan jarak jauh ke lensa matanya sendiri.
Melmina memperluas kemampuan itu dengan pelatihan selama
bertahun-tahun.
Ia membuatnya bisa memproyeksikan ke tempat selain
matanya sendiri.
Hasil itulah yang membuatnya biasa menggunakan Divine
Weapon berupa lensa untuk memproyeksikan bayangan.
Memproyeksikan bayangan ke lensa merah bukanlah kekuatan
dari Divine Weapon.
Itu adalah aplikasi dari Unique Magic yang
dikuasai Melmina sebagai hasil dari pelatihan yang sangat panjang.
──Dengan kata lain, Clairvoyance milik Melmina
bisa memproyeksikan bayangan ke mana pun selama itu adalah lensa. Meskipun itu
berada di dalam bola mata musuh.
"──"
Ini adalah kekuatan yang cukup praktis. Akan sangat
berguna jika bisa digunakan sehari-hari.
……Namun, Melmina menjadikan kekuatan ini sebagai kartu
as. Ini adalah ketiga kalinya ia menggunakannya dalam pertempuran nyata sejak
ia menguasainya.
Alasannya──pertama, karena ia hanya ingin
merahasiakannya.
Kekuatan ini lebih efektif jika digunakan untuk
mengejutkan lawan.
Meski untuk mengacaukan, tingkat kesulitannya akan sangat
berbeda antara musuh yang tahu dan yang tidak tahu.
Dan alasan kedua adalah.
"──Gu, uuu."
……Sederhananya, karena kekuatan ini membebani tubuh
Melmina secara luar biasa.
Ya. Kekuatan ini memiliki beban yang jauh lebih besar
pada otak daripada penggunaan yang seharusnya.
Untuk menipu musuh, ia harus melakukan intervensi
terhadap orang lain yang sudah sulit, ditambah lagi dengan menyusupkan bayangan
yang diproyeksikan tanpa terlihat aneh bagi musuh.
Terlebih lagi, dalam kasus ini, ia melakukannya terhadap
puluhan musuh sekaligus.
Ia tidak bisa menggunakannya tanpa meningkatkan kecepatan
aliran darah di otak dan memperkuat otak itu sendiri hingga batas maksimal.
Sebagai hasil dari mempertahankan dan memperkuat otak
yang hampir hancur serta memusatkan sihir penyembuh, ia bahkan tidak bisa
menggerakkan tubuhnya dengan benar.
Di bagian yang kekuatannya lemah, aliran darah yang
dipercepat menyebabkan pembuluh darah pecah.
Darah itu mengalir keluar dari tempat-tempat di mana
kulitnya tipis seperti mata, hidung, dan mulut, serta mewarnai kulit tangan dan
kakinya menjadi biru kehitaman.
──Kartu as ini adalah pedang bermata dua yang
menghancurkan tubuhnya sendiri.
(……Konoe.)
Melmina memikirkan pria itu. Sambil merasakan rasa darah
yang menyebar di mulutnya, ia mempercepat aliran darah di otaknya lebih jauh
lagi demi menahan mereka sedetik lebih lama──.
◆◇◆
──Menebas, menebas, menangkis, menusuk, mengelak.
Menebas menebas menangkis menusuk.
Menebas menebas menangkis menebas menusuk menebas
menangkis menebas tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tebas tangkis tusuk
elak tebas tebas tebas.
Tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tangkis tusuk
elak tebas tebas tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tebas tebas tebas
tangkis tebas tebas tebas tebas tusuk elak tangkis tebas tebas tebas tebas
tebas tebas.
“““──SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””
"────"
──Di sisi lain, saat itu. Konoe terus menangkis empat
pedang dan tombak yang semakin cepat dengan pelindung tangan di kedua
tangannya.
Bilah tajam berwarna cokelat dan abu-abu menyerang
bagaikan badai.
Tebasan yang dipercepat dan tusukan yang diperkuat.
Badai yang mencabik-cabik dan melenyapkan apa pun yang
disentuhnya itu terbang ratusan kali dalam satu napas seolah ingin menggiling
Konoe.
(──, cepat, dan kuat!)
Jika lengah sedikit saja, ia mati. Jika salah satu
langkah saja, ia mati. Kecepatan dan kekuatan sebesar itu.
『Unique Magic──Cepat, lebih cepat dari apa pun,
biarkan pedangku merobek musuhmu. Satu menjadi dua.』
『Unique Magic──Kuat, lebih kuat dari apa pun,
biarkan tombakku menghancurkan penghalangmu. Dua menjadi tiga.』
Unique Magic yang mempercepat. Tebasan yang
kecepatannya ditingkatkan dengan kekuatan itu jauh melampaui kecepatan Konoe.
Saat ia mengeluarkan satu serangan, musuh mengeluarkan
dua. Saat Konoe menangkis satu bilah, empat bilah baru terbang ke arahnya.
Unique Magic yang memperkuat. Tusukan yang
kekuatannya ditingkatkan dengan kekuatan itu dengan mudah menembus pertahanan
Konoe.
Jika ia tidak mengelaknya dengan teknik, atau bahkan jika
ia mengelak, guncangannya tetap terakumulasi di tubuh Konoe.
──Hanya cepat, dan kuat. Itulah kekuatan Bencana skeleton.
Konoe yang tubuhnya dicabik-cabik oleh pedang dan
diguncang oleh tombak dalam sekejap, segera bermandikan darah akibat kekuatan
yang sangat sederhana namun sangat kuat itu.
Ia melihat celah di garis kematian dan menangkis dengan
gerakan minimal. Ia mengontrol lintasan dengan teknik untuk hanya mengelak dari
serangan fatal.
──Dengan melakukan itu, ia akhirnya bisa mempertahankan
hidupnya.
"──!"
Gawat. Konoe mendecakkan lidah sambil mengelakkan
pedang musuh dengan pelindung tangannya.
──Skeleton ini, benar-benar tidak ada celah.
Kemampuan menyerang yang luar biasa. Ia sudah
kewalahan hanya dengan bertahan agar tidak terbunuh.
Jika ia tidak dididik habis-habisan oleh Instruktur
dalam melawan musuh yang lebih kuat, Konoe pasti sudah mati sejak lama.
Terlebih lagi──.
"──"
Saat itu juga, Konoe menemukan satu kekosongan di
dalam badai tersebut.
Konoe memutar jiwanya, menciptakan pisau, dan
menembakkannya──.
“““──SUUUUAAALYYYYYYYYYYYYYYYYYYY”””
──Namun, pachin, cahaya hitam menepis serangan
Konoe.
Sihir yang dilepaskan dari perisai itu dengan mudah
melumpuhkan pisau Konoe. Itu adalah kekuatan Unique Magic dari perisai
tersebut.
『Unique Magic──Kokoh, lebih kokoh dari apa pun, biarkan perisaiku melindungimu dari
segala fenomena. Tiga menjadi satu.』
Sihir perlindungan yang memantulkan segala hal yang
berbahaya.
Cahaya hitam yang menyelimuti seluruh tubuh skeleton
itu sepertinya tidak bisa ditembus oleh pisau Konoe.
Bahkan serangan balik yang baru saja ia selipkan pun
tidak memberikan rasa sakit sedikit pun.
“““──SUUUUUUUUUUUUUULYYYYYYY!!”””
"…………"
Itulah yang dimaksud dengan tiga kekuatan yang bersatu.
Jika hanya cepat, ia masih bisa mengatasinya.
Jika hanya kuat, ia masih bisa mengelak. Bahkan jika
hanya kokoh, masih ada caranya. Namun, jika ia memiliki ketiganya.
"────!!"
──Skeleton ini jauh lebih kuat darinya.
Itulah kenyataan yang ada di depan mata Konoe. Pengawal
Dewa Jahat. Sosok yang memiliki tiga Unique Magic sekaligus.
Cepat, kuat, dan kokoh. Puncak dari kekerasan murni.
……Ia berpikir ingin mengacaukan lawan dengan kaki, tapi
ada dua orang di belakang Konoe. Karena ia harus melindungi Melmina dan Tica,
ia tidak bisa menggunakan cara itu.
"…………Gu."
Konoe menggertakkan gigi. Apa yang harus dilakukan?
Saat ini ia masih bisa mempertahankan nyawanya, tapi
tidak ada jalan untuk menang.
Musuh bisa dengan mudah membunuhnya, tapi Konoe tidak
punya cara untuk membunuh musuh.
Ia sempat berpikir untuk berubah menjadi petir, tapi ia
menolaknya karena itu adalah langkah terakhir.
Perubahan menjadi petir hanya bisa digunakan selama lima
detik.
Itu karena ia tidak bisa mempertahankan petir yang
menyebar.
Jika ia tidak bisa membunuhnya dalam lima detik itu,
mereka pasti akan musnah karena efek sampingnya.
……Apa yang harus dilakukan? Padahal sekarang bukan
saatnya untuk kesulitan seperti ini.
Meskipun Melmina sedang menghambat, tidak aneh jika
kawanan Bencana lainnya mendekat ke sini kapan saja.
Dan Tica. Tica dan Kristal Perak. Suara
Instruktur yang terdengar.
『……Benarkah, dengan ini sudah benar?』
Suara itu masih terdengar sampai sekarang. Suara
Instruktur yang gelap, yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Saat Konoe berpikir mengapa Instruktur sampai berkata
begitu……
"……Eh,
ah!?"
"Tica!?"
……Keadaannya
berubah. Suara terkejut Tica.
Ia tahu apa yang terjadi dari auranya. Sesuatu yang kental meluap dari kristal.
Sesuatu itu menjerat kaki Tica──membuat Tica
tersungkur di tempat.
3
──Kakinya terjerat oleh sesuatu seperti lumpur hitam,
Tica pun berlutut.
Lalu, lumpur itu juga menjalar ke tangannya, membuat
kedua tangannya menyentuh tanah.
"……A,
apa ini?"
Tica
bergumam dengan bingung. Sementara itu, lumpur terus meluap dari kristal dan
menutupi sekeliling Tica. Ia tidak bisa bergerak, tidak mengerti apa yang
terjadi──.
『……Ah, itu menumpuk.』
"……!"
──Saat itu, sebuah suara terdengar dari belakang. Bukan dari kristal di depannya, melainkan dari belakang.
Ia menolehkan lehernya untuk melihat ke belakang. Di
sana, terdapat sosok seperti manusia yang terbuat dari lumpur hitam pekat.
Sosok itu duduk membelakangi Tica di posisi serong
belakangnya.
Ia duduk dengan satu kaki ditekuk, menggoyangkan rambut
halus yang ia lihat di cermin setiap hari.
Ia tahu dengan instingnya. Itu adalah……
"……Masa depan, aku?"
『………………』
Saat Tica bergumam, punggung sosok manusia itu bergoyang.
Lalu──.
『──Penyesalan, itu menumpuk──』
──Bersamaan dengan kata-kata itu, ingatan mengalir ke
dalam diri Tica.
◆
──Itu adalah ingatan seorang pahlawan.
Ingatan pahlawan yang mulia yang menyelamatkan umat
manusia.
Saat berusia tiga belas tahun, kotanya diserang monster,
ia bangkit bersama kilauan perak dan masuk ke sekolah militer.
Di usia enam belas tahun, ia menyelesaikan ujian, menjadi
Adept, dan membunuh Raja Iblis berusia tujuh belas tahun yang mencoba
memusnahkan dunia manusia. Itu adalah ingatan pahlawan terkuat.
Demi melindungi umat manusia, ia berdiri lebih depan dari
siapa pun dan memimpin dunia manusia.
Selama seribu tahun, waktu yang sangat lama, ia
menyelamatkan lebih banyak orang daripada siapa pun dan terus menjadi simbol
harapan.
……Tapi.
『……Itu adalah, tidak lama setelah negara monster musnah,
ya?』
Sosok itu bergumam. Ingatan itu meluas di benak Tica. Itu
adalah.
"……Hii."
Mayat.
Seubah Gunung
mayat.
Di jalan, di dalam gedung.
Di dalam kastil, di atas tembok kastil, di dalam
sungai.
Satu kota. Tidak, bukan hanya kota. Kota-kota di
sekitarnya, desa-desa juga.
──Satu negara, terkubur dalam mayat.
Mayat-mayat itu semuanya membusuk, mengeluarkan darah,
dan memasang ekspresi tersiksa.
Mungkin karena tidak tahan dengan penderitaan, ada
yang memotong tenggorokan sendiri dengan pisau.
Ada wanita yang mati sambil mendekap anaknya.
Ada pria yang mati di atas tembok kastil sambil
memegang senjata.
Ada orang tua yang mati di kuil dengan posisi sedang
berdoa kepada Dewa.
"……Ini, adalah."
Tica merasa terpukul. Ia
tidak tahu hal seperti ini.
Mimpi buruk seperti ini, ia belum pernah mendengarnya
sekalipun sampai sekarang.
Kepada Tica yang masih tenggelam dalam kesedihan,
sosok bayangan itu berbisik.
Ia berbisik bahwa wajar jika Tica tidak tahu, karena
hal ini terjadi jauh setelah sang pahlawan menjadi Adept.
Sebagai seorang anak kecil, tidak mungkin Tica
mengetahuinya.
Tica memang sempat mendengar Konoe dan Melmina
membicarakan hal ini sebelum tiba di sini, namun ia tidak benar-benar memahami
maknanya.
──Dungeon Outbreak.
Kebencian Dewa Jahat yang menyebarkan miasma
dan monster.
Itu adalah sistem yang diciptakan Dewa Jahat setelah
pahlawan terkuat memusnahkan negara monster.
Menilai bahwa ia tidak akan bisa menang melawan sang
pahlawan dalam pertarungan frontal, ia merancang metode ini untuk tetap bisa
membunuh manusia…… semacam taktik gerilya.
Pertarungan antara manusia dan monster sebelum itu,
meski penuh tipu muslihat, tetaplah peperangan yang dilakukan secara langsung.
──Pahlawan terkuat itu bahkan telah mengubah bentuk
peperangan di dunia ini.
『…………』
Di dalam ingatan itu, sang pahlawan berdiri terpaku.
Ia menatap nanar tumpukan mayat yang membentang di depan matanya.
Mayat-mayat mereka yang tewas menderita karena
penyakit mematikan. Melihat pemandangan yang menyayat hati itu, sang pahlawan
berpikir.
……Apakah ini terjadi karena aku telah memusnahkan
negara monster?
"……Eh, tidak, tapi."
『……Ah, tentu saja aku mengerti. Aku mengerti. Aku
seharusnya tidak memikirkan hal semacam itu.』
Kepada Tica yang hendak menyela, sosok bayangan itu
perlahan menggelengkan kepalanya.
『Faktanya, jika saat itu aku tidak memusnahkan negara
monster, umat manusia pasti akan musnah dalam waktu singkat. Jauh lebih banyak
orang yang akan mati dibandingkan akibat Dungeon Outbreak. Kupikir
saat itu, tidak ada pilihan lain. Itu sudah pasti.』
──Namun. Sosok bayangan itu bergumam lagi.
『Tapi, aku tak bisa menahan diri untuk berpikir.
Mungkinkah ada cara yang lebih baik? Mungkinkah aku bisa mengurangi jumlah korban? ……Seribu tahun
sejak saat itu. Setiap kali Dungeon Outbreak terjadi, aku selalu
memikirkan hal itu.』
……Kemudian,
wajah banyak orang mulai bermunculan di benak Tica.
Seorang pria yang tertawa lepas. Wanita yang
tersenyum bahagia. Orang-orang yang duduk bersama mengelilingi meja bundar.
Tica
menyadari. Mereka semua…… mengenakan lambang Adept di dada mereka.
『──Route
gugur demi melindungi Dewa dari Raja Iblis Kyokuten. Padahal
anaknya baru saja lahir.』
"……Eh?"
『Rain kehilangan jiwanya oleh Raja Iblis Yumekui.
Lieja mengikis jiwanya untuk mengaktifkan Unique Magic demi menahan Raja
Iblis abadi, lalu tewas sepuluh hari kemudian. Rowen tewas dikepung oleh
Bencana saat melindungi penduduk yang mengungsi dari wabah.』
Wajah-wajah saat mereka tewas muncul. Orang-orang yang
tadinya tertawa, kini tewas satu per satu.
Dari meja bundar yang tadinya penuh, mereka menghilang
satu demi satu.
Lalu──tampaklah seorang wanita. Seorang wanita berwajah
lembut yang mengenakan kacamata.
Wajah itu, berbeda dengan orang-orang sebelumnya, justru
dikenal oleh Tica.
Karena wanita itu adalah sosok pertama yang selama ribuan
tahun melindungi manusia bersama Dewa……
『Sang Guru menjadi perisai untuk menghentikan Tengairyu.』
Ingatan itu tersalurkan. Senyum terakhir sang Guru yang
telah lama berjalan bersama sang pahlawan.
──Tica. Murid kebanggaanku.
──Kuserahkan sisanya padamu. Mohon jaga Dewa dan umat
manusia.
Guru yang tetap memanggil sang pahlawan dengan nama yang
sama sejak ia kecil, tidak peduli berapa ratus tahun telah berlalu atau
seberapa besar sang pahlawan dipuja.
Guru itu menjadi perisai demi menahan Raja Iblis terkuat
dan mengulur waktu untuk menyusun strategi.
Sang pahlawan, yang pernah kalah dari Tengairyu
dan menderita luka dalam, tidak mampu menghentikannya.
『……Sudah sangat, sangat lama aku bertarung. Aku telah
mencapai banyak hal. ……Tapi di saat yang sama, aku juga telah kehilangan banyak
hal.』
Pahlawan Perak. Jasanya tak terhitung jumlahnya.
Sosok terkuat yang telah melindungi umat manusia selama
seribu tahun.
Tica juga telah mendengar banyak hal dalam tiga hari
perjalanannya ke sini. Dari Dewa, dari Konoe, dan dari
Melmina. Semuanya bercerita dengan bangga.
──Ah,
tapi. ……Tidak, justru karena itulah.
『Lambat laun, aku mulai berpikir. ──Apakah jalan ini sudah
benar? Mungkinkah aku bisa melakukannya dengan lebih baik?』
Tica memahami. Sang pahlawan sedang menyesali
diri. Ia terus-menerus menyesal, bertanya-tanya apakah pilihannya sudah tepat.
Pahlawan itu menyesal karena ia adalah orang yang
mengambil banyak keputusan.
Pahlawan itu lah yang pertama kali melangkah untuk
memusnahkan negara monster, dan dialah yang memimpin manusia selama seribu
tahun setelahnya.
Tica bisa merasakannya. Seberapa sering pun ia tertawa,
seberapa tegak pun ia berjalan.
Sang pahlawan selalu, selalu menyesal. Setiap kali
kehilangan, ia menyesal.
Karena itulah──.
『Jika aku bisa kembali ke masa lalu. Jika aku bisa kembali
menjadi gadis biasa yang tidak tahu apa-apa. Kali berikutnya, aku pasti bisa
melakukannya dengan lebih baik.』
──Ini adalah endapan penyesalan yang tertumpuk selama
seribu tahun.
Tica mengetahuinya. Sisi negatif yang disembunyikan sang
pahlawan selama seribu tahun. Sisi lemah dari pahlawan terkuat yang mungkin
tidak akan pernah muncul ke permukaan hingga ia mati seandainya tidak terjadi
apa-apa.
Kini, sisi itu dimanipulasi oleh Unique Magic
milik Daemon, ditarik keluar, dan mewujud ke dunia nyata.
"……Ah."
──Karena itulah, beban seribu tahun itu menghimpit
punggung Tica.
Tica
dihancurkan oleh beban tersebut.
"──Instruktur!
Itu, itu──"
Dari
kejauhan, suara Konoe terdengar. Ia berteriak memanggil,
"Instruktur".
Namun
Tica perlahan tenggelam ke dalam lumpur hitam itu──.
◆◇◆
──Lalu, para Daemon itu tertawa.
Gumpalan Daemon itu tertawa. Meskipun tubuhnya
hancur, Unique Magic miliknya tetap tertawa.
Hasrat yang tertinggal di dunia tertawa di dalam Kristal
Perak yang menangkap sang pahlawan.
『Selamat.』
Mereka tertawa dengan gembira. Itu bukan
ejekan. Tidak ada niat jahat.
Para Daemon itu mengirimkan senyuman kepada sang
pahlawan dengan restu dari lubuk hati terdalam.
『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』
『『『『Syukurlah kamu bisa kembali. Selamat.』』』』
Mereka merestui dan menatapnya dengan iri. Karena itulah
keinginan para Daemon itu sendiri.
──Ingin kembali ke hari itu.
Karena itu adalah keinginan semua Daemon yang
telah dihinakan oleh Dewa Jahat dan kehilangan segalanya.
Keinginan semua Daemon yang ditipu oleh Dewa Jahat
untuk membangun benteng di permukaan, lalu keluarga, teman, dan rekan mereka
dibantai oleh manusia.
『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』
──Mari bicara tentang hal mendasar. Daemon
sangatlah cerdas. Mereka lebih cerdas daripada manusia pada umumnya.
Dan karena cerdas, mereka memahami kapasitas diri mereka
sendiri dengan benar. Monster jenis itulah mereka.
Monster kelas atas yang telah membunuh dan memangsa
banyak manusia untuk tumbuh. Itulah Daemon.
……Namun, dengan asumsi tersebut, muncul satu keraguan.
Kenapa Daemon yang secerdas itu──membangun benteng
di permukaan?
Sejak dulu, Daemon membangun benteng di area
terkontaminasi di permukaan. Seperti misalnya area terkontaminasi yang pernah
didatangi Konoe dan Melmina sebelumnya.
Namun, tentu saja, jika mereka membangun benteng, Adept
akan datang. Utusan Dewa akan datang untuk membunuh mereka demi melindungi
manusia.
Karena itu, hal-hal yang mencolok seperti benteng
seharusnya tidak perlu dibuat. Cukup berpikir sedikit pun sudah bisa
memahaminya.
Karena meski mereka bisa memangsa manusia yang lemah
di awal, manusia yang kuat pasti akan datang setelahnya.
──Tindakan Daemon yang tidak bisa dimengerti
itu. Jawabannya adalah para Daemon yang kini berada di dalam kristal.
Dewa Jahat telah menyusun rencana untuk membuat
gumpalan Daemon yang menjatuhkan sang pahlawan kali ini sejak ratusan
tahun lalu.
Dan ia telah memanipulasi serta menguji para Daemon
itu.
Dewa Jahat terus mencuci otak para Daemon,
mengirim mereka ke permukaan secara paksa, dan membuat mereka membangun
benteng.
Membuat mereka membangunnya, membiarkan para Adept
membantai mereka semua──hanya untuk membuat mereka menyesal.
Demi merampas segalanya dari Daemon yang mengenal
perasaan dan cinta, dan memaksa mereka untuk menyangkal kenyataan.
『Ah』『Kenapa』『Mengapa』『Bohong』『Benci』『Maafkan
aku』『Tidak
mungkin』『Benci』『Ini
mimpi』『Tidak
mau』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong──』
Di dasar bumi, gumpalan Daemon itu terus
menyangkal.
Mereka putus asa. ──Mereka sangat menyesal.
Mengapa, mereka harus pergi ke permukaan hari itu.
Daemon yang tidak tahu bahwa mereka
dimanipulasi oleh Dewa Jahat, terus putus asa atas kebodohan mereka sendiri dan
menyangkal kenyataan.
Mereka terus menyesali bahwa merekalah penyebab keluarga,
teman, dan rekan mereka tewas.
Tanpa mereka sadari, penyesalan itulah yang terhubung
dengan Unique Magic manipulasi ruang-waktu yang telah lama didambakan
oleh Dewa Jahat.
──Ya, Unique Magic ini adalah sihir untuk menyesal
dan menyangkal kenyataan.
Jika bisa kembali ke hari itu.
Sihir yang secara menyimpang mengabulkan khayalan yang
pasti pernah dipikirkan oleh siapa pun setidaknya sekali.
Kekuatan untuk merampas waktu dari tubuh target dan
mengembalikan mereka ke wujud hari itu.
Karena pada dasarnya ini adalah sihir yang mengabulkan
keinginan si target, kekuatan ini sangat sulit untuk dilawan.
Bahkan jika kristal itu direbut kembali, penyesalan si
target akan melakukan perlawanan dan menyangkal untuk kembali ke wujud asalnya.
『Unique Magic──Regresi Terbatas, Ilusi Kegelapan,
seperti yang kau impikan hari itu.』
──Itulah wujud asli sihir yang menjatuhkan sang pahlawan
dan mengubahnya menjadi gadis tak berdaya.
4
"──Instruktur……!"
Sembari menghadapi Bencana, Konoe berteriak,
memanggil, "Instruktur".
Meski terus menangkis badai pedang dan tombak, ia
mendengarkan suara yang terdengar dari belakang.
──Instruktur. Guru Konoe.
Selama dua puluh lima tahun, ia telah diajar olehnya.
Selama dua puluh lima tahun, hampir tidak ada hari di
mana mereka tidak bertemu.
Namun, kata-kata yang terdengar dari belakang
semuanya adalah hal-hal yang tidak diketahui Konoe.
『……Sudah sangat, sangat lama aku bertarung. Aku telah
mencapai banyak hal. ……Tapi di saat yang sama, aku juga telah kehilangan banyak
hal.』
『Lambat laun, aku mulai berpikir. ──Apakah jalan ini sudah
benar? Mungkinkah aku bisa melakukannya dengan lebih baik?』
──Instruktur, teriak Konoe. Memanggilnya.
Penyesalan Instruktur, dan hal-hal yang telah hilang.
Konoe ingin mengatakan sesuatu tentang itu.
"……Instruk, tur."
……Namun, ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Konoe
tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Konoe yang tidak pandai bicara, tidak mengerti. Ia
tidak terpikirkan kata-kata apa yang harus diucapkan untuk menanggapi
penyesalan sang Instruktur. Lagipula…….
“““──SUUUUAAAAAAAAAALYYYYYYY!!”””
"……!"
Di depannya, Bencana itu berteriak. Ingin membunuh
Konoe, ia mengayunkan pedang dan tombaknya.
Musuh yang lebih kuat dari dirinya.
Jika ia lengah, ia akan mati.
Jika salah menilai, ia akan langsung mati.
Dalam situasi itu, Konoe tidak bisa menemukan kata-kata
yang tepat.
Di tengah pikirannya yang kian panas, Konoe hanya
bergumam "Instruktur", dan……
◆◇◆
"…………A, aa."
Di belakang Konoe, Tica hampir hancur oleh emosi sang
pahlawan.
Penyesalan seribu tahun. Kehilangan seribu tahun.
──Karena pahlawan itu menyesal, ia ingin kembali ke
masa kecilnya saat ia belum tahu apa-apa.
……Dan karena ia telah kembali, ia tidak ingin melepaskan
kebahagiaan itu. Begitulah yang ia pikirkan.
Tapi itu adalah pemikiran hasil manipulasi Unique
Magic Daemon, jelas sebuah pemikiran yang salah.
Hanya tubuhnya yang kembali ke masa kecil tidak ada
artinya.
Tidak ada yang bisa ia ambil kembali.
"…………Uuuuuhuuuu."
Namun, meski begitu. Meski salah, meski dimanipulasi.
Keinginan pahlawan itu untuk mengulang segalanya adalah
asli.
Tidak ada satu pun kebohongan dalam penyesalan dan
penderitaan selama seribu tahun itu.
Karena itulah, Tica tidak sanggup menahan beban itu.
Karena Tica hanyalah gadis biasa. Gadis biasa yang
bingung dengan dunia seribu tahun kemudian, takut pada labirin, menegang saat
melihat monster, dan mendambakan cinta.
Sehebat apa pun bakatnya, dan sehebat apa pun ia akan
menjadi orang istimewa nantinya, itu bukan saat ini.
……Gadis biasa seperti itu tidak sanggup memikul beban
seribu tahun dari pahlawan terkuat dunia.
"……U, a, aa."
Tica berusaha mati-matian menahan emosi yang menyerbu.
Ia
merasa tersiksa, ingin lari, dan berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat
sekeliling. ……Lalu.
"……Instruktur……!"
"……U?"
……Suara Konoe terdengar di telinga Tica.
Suara yang memanggil "Instruktur". Sambil
bertarung melawan monster mengerikan di dekatnya, ia memanggilnya berulang
kali.
Kepada Konoe yang seperti itu, Tica──.
"────"
──Hanya sesaat, ia melupakan beban yang menyerbunya.
Lalu, ia berpikir. Bukankah ada juga hal-hal baik
dalam hidup sang pahlawan?
Ia mengerti bahwa ada banyak penyesalan dan ia ingin
kembali ke masa lalu.
Tapi bukankah pasti ada hal-hal baik juga?
『……Hal baik? Tentu saja ada. Sangat banyak. Jika itu hal
kecil, ia terjadi hampir setiap hari, dan hal-hal besar pun ada. Bahkan
baru-baru ini, ada hal yang paling membahagiakan dalam seratus tahun ini.』
"Ka, kalau begitu"
『……Tapi, kenapa ya, semakin lama aku hidup, timbangannya
semakin condong.』
……Timbangan?
『Timbangan antara hal baik dan hal buruk perlahan condong
ke arah yang buruk. Meski ada banyak hal positif, aku mulai hanya bisa melihat
hal negatif saja. Penyesalan terus menumpuk, dan aku merasa pijakanku terus
tenggelam.』
──Lalu, sang pahlawan bergumam.
『……Pendidikan Adept adalah contoh terbesarnya.』
"…………?"
『Aku mereformasi sistem pendidikan. Aku mereformasinya
selama seribu tahun. Hasilnya,
jumlah Adept meningkat. Para kandidat tidak lagi tewas. ……Karena itulah,
semua orang memujiku. "Terima kasih padamu, tidak ada lagi korban tewas,
dan umat manusia menjadi lebih kuat."』
Tica
juga pernah mendengar soal reformasi sistem pendidikan itu. Dewa pun
mengatakannya dengan bangga.
……Namun,
sang pahlawan tersenyum kecut──dan mengembuskan napas panjang.
『────Benarkah?』
"……"
『Benarkah
itu hal yang baik? Dengan pengajaran yang menghancurkan manusia satu per satu
dan hanya memungut mereka yang kebetulan selamat? Sejak menerapkan pendidikan
itu, korban tewas memang menghilang, tapi bukankah banyak pemuda yang akhirnya
hidup dengan trauma? Bukankah aku telah menghancurkan masa depan pemuda yang
tak terhitung jumlahnya?』
──Demi umat manusia. Demi melindungi dunia. Karena perlu.
Sang pahlawan berkata bahwa ia telah menciptakan banyak
korban atas nama kata-kata itu.
『Memang, ada hal-hal yang membahagiakan. Saat muridku
tumbuh dengan baik, aku selalu bahagia. Jika mereka melakukan perbuatan besar,
aku bahkan merasa sedikit terselamatkan. ……Tapi, para korban terus bertambah
setiap hari, dan sepertinya akan terus bertambah hingga tak terhitung
jumlahnya.』
Sang pahlawan menundukkan wajahnya dan menatap kakinya.
『Aku sering berpikir. Seandainya aku menyadarinya, jika
saja aku tidak melewatkannya, pasti ada cara yang lebih baik.』
……Dan karena itulah, katanya.
『……Aku berpikir, jangan-jangan pendidikanku, pengajaranku,
semuanya salah.』
Dengan suara kelam, sang pahlawan bergumam begitu.
"……A, ……aah."
Tica tidak bisa mengatakan apa-apa pada pahlawan itu. Ia
hampir hancur oleh beban di punggungnya yang terus bertambah.
Hampir tenggelam ke dalam lumpur penyesalan──.
"────Salah!"
──Namun di sana. Satu teriakan bergema di dasar bumi.
◆◇◆
"────Salah!"
──Ya, Konoe berteriak.
Sembari menghadapi Bencana, sembari menapaki garis
kematian di mana ia akan mati jika salah melangkah satu inci saja, ia
berteriak.
Meski teriakan itu membuat tekniknya sedikit melambat dan
pedang Bencana merobek perut Konoe. Meski begitu.
"────Itu, hanya itu yang salah!"
Sembari menahan rasa sakit yang luar biasa dan
menelan darah, Konoe berteriak berulang kali.
Karena itu adalah kebohongan. Itu sudah pasti salah.
Konoe tidak bisa berkata apa-apa mengenai penyesalan
lain yang diucapkan Instruktur. Konoe tidak tahu apa-apa.
Namun, hanya itu yang tidak ia sukai. Hanya itu, yang
tidak ingin ia dengar.
──Bahwa pendidikan Instruktur semuanya salah.
Konoe sama sekali tidak bisa menerima hal itu. Karena itulah, meski sedang sekarat, Konoe berteriak kepada Instruktur.
Berteriak sekuat tenaga.
『……? Suara ini, Konoe ya? Kamu juga ada di sana?』
Di sana, Instruktur bergumam. Entah ia mendengar
suaranya atau tidak, ia menoleh dan menatap ke arah Konoe. Dengan suasana
seolah ia melihatnya, tapi juga tidak.
Konoe menahan rasa sakit perutnya yang robek sambil
merasakan tatapan sang Instruktur.
『Kamu bilang itu salah? Padahal kamu pun sudah melihat
neraka berkali-kali. Memang benar kamu telah berjuang sampai akhir, dan
bertahan lebih lama dari yang lain. ……Sambil berpikir "seandainya kamu
lebih percaya diri", aku juga sangat bangga karena kamu telah mengalahkan
Raja Iblis Abadi.』
"…………"
『Tapi……
Huh, berkata begitu, padahal saat masa pelatihan kamu menganggapku sebagai
Nenek Sihir……………… Nenek Sihir…………………… menganggapku sebagai monster, kan.』
Instruktur mengatakannya dengan nada merajuk.
Konoe mendengarnya sembari menyembuhkan lengannya
yang setengah hancur.
『Aku tahu kamu mencoba menghiburku, tapi bukankah kamu
juga menganggapku sebagai iblis? Menganggapku sebagai guru iblis yang dengan
entengnya menjatuhkan murid ke neraka, kan?』
"…………"
Akibat konsentrasi berlebih, rasa sakit, dan dampak
dari kata-kata Instruktur, pemikiran Konoe semakin panas. Pikirannya perlahan
memutih.
Lalu, kata-kata Instruktur masuk ke dalam kepalanya
yang memutih itu.
Iblis?
Guru iblis yang dengan enteng menjatuhkan murid ke
neraka?
Apakah ia menganggap Instruktur seperti itu?
Meski tulangnya dikikis, Konoe menepis tombak skeleton
dan membuka mulutnya.
Itu, hal seperti itu──!
"……Hal seperti itu, tentu saja! ──Bukankah sudah
jelas aku menganggapmu begitu!?"
『…………………………Eh.』
5
──Berteriak. Konoe berteriak kepada Instruktur. Tentu
saja ia menganggapnya begitu.
Sudah pasti. Tidak mungkin ia tidak berpikir begitu.
Karena.
"Setiap hari perutku dilubangi, dihajar
habis-habisan, dan saat aku tersungkur, perutku ditendang, lalu hampir mati.
Bahkan jantungku benar-benar berhenti beberapa kali──jadi bukankah tidak
mungkin jika aku tidak mengumpat karenanya!?"
『…………Eh……
A, u, uuu…… I, itu benar ya. Kamu pun, kamu pun berpikir begitu ya.』
"──Tapi!"
『…………?』
Di sana, Konoe menarik napas panjang.
Dan──.
"Meski begitu, mengatakan bahwa semua pendidikanmu
salah, hanya itu yang mutlak salah!"
『────』
──Ya. Meski begitu, tetaplah begitu. Karena itulah Konoe menyangkalnya. Menyangkalnya dengan segenap tenaga
kepada sang Instruktur. Sembari menangkis pedang dan memuntahkan darah yang
terkumpul di mulutnya.
『……Apa maksudnya? Kamu juga menganggapku…… itu, Nenek Sihir, kan?』
"Meski begitu! Dan aku tidak menganggapmu nenek!
Instruktur itu cantik sampai-sampai aku terkejut!"
『……Hae?』
Konoe berteriak di ambang kematian. Meski
ia merasa tidak mengerti apa yang ia katakan.
Meski ia merasa seolah perasaannya yang sebenarnya, yang
biasanya tidak pernah ia ucapkan, meluap keluar.
Berteriak. Meski di depannya ada musuh yang lebih kuat
dari dirinya, meski dalam situasi di mana kepalanya bisa terbelah dan ia tewas
kapan saja, meski bukan saatnya untuk membuka mulut.
"──Instruktur!"
『Eh, u, um.』
Meski dalam situasi seperti itu, Konoe memiliki hal
yang harus ia katakan kepada sang Instruktur.
Ada hal yang harus ia sampaikan kepada sang
Instruktur yang mengatakan bahwa semua pendidikannya salah.
Konoe menghadapi perasaan di lubuk hatinya. Ia
mencoba mengungkapkan perasaan di dalam dirinya, perasaan yang samar-samar dan
bahkan tidak ia pahami sendiri, menjadi kata-kata.
Itu
adalah hal yang tidak bisa dilakukan Konoe selama ini. ……Namun, Konoe yang
sekarang bisa.
"Instruktur, memang benar aku punya banyak
pendapat tentangmu! Pelatihanmu terlalu keras! Aku berkali-kali berpikir kau
adalah guru iblis yang tidak masuk akal!"
『……Ugh.』
"……Jujur saja, aku pernah berpikir jangan-jangan
kau tidak punya hati manusia!"
『……Itu, a, ada kok……!』
"Tapi────"
──Tapi, ya.
Konoe mengingatnya. Ia
mengingat yang paling pertama.
"Kau selalu, selalu menghadapiku!"
『……Eh?』
──Saat pertama kali, Konoe tidak bisa melakukan apa pun.
Saat Konoe baru masuk sekolah militer. Konoe tidak tahu
apa-apa.
Cara berlari yang benar, cara memegang senjata.
Ia tidak tahu apa-apa tentang kekuatan sihir, dan
pendidikannya dimulai dari pendidikan anak-anak.
Ia tidak punya bakat, dan meski diajari, ia sama sekali
tidak bisa melakukannya dengan baik.
Ia tidak punya keberanian, gagal dalam menaklukkan
monster dan menjelajahi dungeon berkali-kali, dan menunjukkan sosok yang
memalukan. Namun.
"Berapa kali pun aku gagal, kau tidak pernah
menyerah padaku!"
──Konoe berpikir. Sembari menepis pedang abu-abu yang
diayunkan di depannya.
Sudah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ia bisa
menangkis pedang ini?
Berapa kali ia gagal hingga dirinya yang dulu, yang
bahkan memejamkan mata saat diserang musuh, bisa tumbuh sejauh ini?
Cara mengelak dari kekuatan, cara mengambil jarak.
Dibutuhkan waktu yang sangat, sangat lama untuk menguasainya.
Kewaspadaan untuk menepis pedang abu-abu. Langkah kaki
untuk mengelak dari tombak cokelat.
Mata observasi untuk menyerang celah sekecil apa pun. Ia
menguasainya sembari gagal berkali-kali.
Gagal berulang kali, tersandung di tempat yang sama
berkali-kali, dan saat akhirnya berhasil pun, ia gagal lagi di kesempatan
berikutnya.
Ada masa di mana ia bahkan tidak tahu apakah ia maju
selangkah atau malah mundur selangkah di bagian lain. Tapi──.
"……Karena kau, selalu memperhatikanku. Karena kau
menemaniku sampai akhir!"
Kapan pun itu, Instruktur menemaninya sampai akhir.
Selalu tersenyum dengan wajah "kau ini ada-ada
saja".
……Sebenarnya, meski tidak pernah sekalipun mengatakannya.
Konoe, sebenarnya──menyukai wajah Instruktur itu.
Tempat latihan di sore hari. Pelatihan lembur hanya berdua.
Itu
sangat berat dan menyakitkan, tapi…… Konoe menyukai mata Instruktur yang
menatapnya saat ia melanjutkan pelatihan.
Instruktur selalu menatap Konoe dengan saksama. Ia
tahu bahwa Instruktur sedang berpikir bagaimana cara agar Konoe bisa lebih
baik.
Menjaga, mengajar, dan lalu──saat ia berhasil,
Instruktur ikut bahagia seolah itu pencapaiannya sendiri.
Mengucapkan selamat, dan ikut tertawa bersama. Konoe
ingat senyuman itu.
……Beberapa kali, Instruktur juga pernah mengacak-acak
rambut Konoe saat ia berhasil melakukannya.
Konoe merasa malu akan hal itu, lalu memintanya untuk
berhenti.
Tapi, sebenarnya──.
"──Aku, sangat senang. Sungguh, sungguh, aku sangat
senang!"
──Dahulu. Saat masih di Jepang.
Konoe tidak punya guru yang mengajarinya dengan
benar.
Karena setiap guru memutuskan untuk tidak melihat
Konoe, anak bermasalah yang ditinggalkan orang tuanya.
Karena mereka memutuskan untuk tidak berurusan dengan
Konoe yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
Itulah mengapa Konoe selalu berjalan sendirian. Ia merasa
seperti akan tersesat ke kanan dan ke kiri, namun ia tetap terus berjalan.
……Namun.
"Karena kau, ada di sini, aku...!"
──Dua puluh lima tahun ini. Separuh hidupnya. Waktu yang
sangat, sangat lama. Kapan pun itu, Instruktur melihat Konoe dan
membimbing Konoe. Saat ia mengangkat wajah, Instruktur berdiri menunggu di
ujung jalan.
Instruktur. Terkuat. Pahlawan yang menyelamatkan
dunia.
Punggung yang ia kejar itu sangat jauh, tapi karena
selalu bersinar──.
"Selain itu──"
──Konoe tiba-tiba mengingat kejadian tadi.
Jamur, dan telapak tangan yang melayang di udara.
Sensasi tangan yang digenggam. Suhu yang tersalurkan.
Bertemu dengan jamur, akhirnya ada satu hal yang
dipahami Konoe.
"Hari itu, orang yang menemukanku adalah kau!"
Masa lalu Konoe. Di dalam rumah sakit, sendirian. Ia
hampir mati. Itu adalah saat-saat terakhirnya tanpa seorang pun di sisinya.
Kemudian, ia bereinkarnasi──.
Saat pelatihan pertama setelah tiba di dunia ini, ada
suara yang menyapanya saat Konoe sedang berjalan di koridor. Sang instruktur
mendekat dengan rambut peraknya yang bergoyang lembut.
──Hei, kudengar kamu berusaha sangat keras, ya? Aku
dengar nilaimu sangat bagus?
Dengan memamerkan Life Magic-nya—yang ini bagus,
yang itu hebat—ia mengajak Konoe bergabung. Jika dipikirkan sekarang, ada
banyak hal yang terlintas di pikiran, tapi……
──Ya sudah, ikut saja denganku sebentar, nanti kujelaskan
detailnya.
Setelah penjelasan itu, sang instruktur menarik
tangan Konoe. Telapak tangan yang hangat itu menggenggam dan menarik tangan
Konoe.
Benar, Konoe yang meninggal di kehidupan sebelumnya
tanpa seorang pun di sisinya──
"Orang yang pertama kali menggenggam tanganku
adalah kamu!"
──Karena itulah, karena ditarik oleh tangannya, Konoe
merasa sangat bahagia.
Jadi, pastilah begitu. Semua hal itu adalah salah satu
alasan mengapa Konoe bisa terus berjalan hingga akhir.
Meskipun latihannya begitu kejam, keras, dan menyakitkan
hingga ia sempat meragukan ketulusan manusia dan berkali-kali hampir menyerah,
namun karena sang instruktur yang membimbingnya, ia tidak pernah tersesat.
"Kamu adalah bintang penunjuk jalanku, yang lebih
keras dan lebih lembut dari siapa pun!"
──Aku memikirkan penyesalan sang instruktur. Aku
memikirkan masa lalu sang instruktur yang baru saja kudengar.
Ia pasti menderita, ia pasti berjalan dengan memikul masa
lalu yang seberat itu.
Konoe tidak tahu seberapa besar beban yang ada di
sana.
Karena Konoe bukanlah sang instruktur, ia tidak akan
berani mengatakan bahwa ia mengerti penderitaan itu.
Tidak mungkin ia bisa mengatakan bahwa tidak perlu
ada penyesalan.
──Namun. Meski begitu. Konoe tidak bisa menerima
bahwa semuanya adalah kesalahan.
"──Aku bersyukur, karena itu adalah kamu!"
『……』
"Aku bersyukur bisa bertemu denganmu!"
『…………』
"Tidak mungkin ada penyesalan karena aku mengangguk
pada ajakanmu hari itu!"
──Karena itulah.
"Aku akan membuktikannya! Bahwa aku, yang dididik
olehmu, tidaklah sepenuhnya salah!"
Cahaya bersemayam di tubuh Konoe. Godly Armament
merespons keinginan Konoe.
Cahaya itu menyelimuti tubuh Konoe, mewujudkan tekad yang
baru.
"Jika kau bilang kau senang dengan pencapaianku,
maka aku akan mencapainya! Jika kau bilang aku harus menegakkan dada, maka aku
akan menegakkannya!"
Di kepala, tubuh, dan kaki Konoe, cahaya putih dan emas
mulai membentuk wujud.
Berkat [Cinta], kekuatan divinity itu pulih
kembali. Bersama dengan gauntlet dan greave, cahaya itu
menyelimuti seluruh tubuh Konoe──.
"──Karena aku merasa beruntung bisa menjadi
muridmu!"
──Armor Dewa menampakkan diri. Pancarannya tampak seperti
bintang yang paling indah, bintang yang selama ini ia tatap dan ia kejar.
6
Armor
seluruh tubuh berwarna emas dan putih muncul. Cahaya terpancar, mewarnai ruang
dan kegelapan di dasar bumi.
Godly
Armament yang
terlepas sepenuhnya meningkatkan kemampuan Konoe──.
“““SUUUUAAAAAAAAAALYYYYYYY!!”””
"────"
──Konoe
memahami kekuatan armor yang ia kenakan. Ia memahami wujud kekuatan yang ia
cari.
Di
tengah pedang abu-abu yang melesat cepat dan tombak cokelat yang menerjang,
Konoe menciptakan kilat di dalam dirinya.
Kilat
yang tercipta mulai menggerogoti tubuh Konoe. Sembari membakar daging dan
sarafnya, tubuh Konoe berubah menjadi petir.
Menghancurkan,
dan membentuk kembali. Pasti, untuk membuktikannya pada
sang instruktur.
──Lightning
Body.
Gemuruh
petir bergema di dunia yang tertutup itu.
Benar.
Kekuatan ini pun ia pelajari bersama sang instruktur.
Bagi
Konoe yang tidak memiliki Unique Magic, sang instruktur menemukan teknik
rahasia Adept kuno dari rak buku.
Sebuah
langkah terakhir yang menciptakan kekuatan setara Unique Magic dengan
taruhan nyawa.
Sang instruktur memodifikasinya agar Konoe tidak mati
saat menggunakannya. Konoe butuh sepuluh tahun untuk menguasainya.
Ia berulang kali melakukan trial and error
untuk menahan petir yang menyebar, namun tetap saja hanya bisa mempertahankan
selama lima detik.
Namun, sekarang. Bagi Konoe yang mengenakan armor
putih dan emas ini.
"────"
Armor
Dewa mencegah penyebaran petir. Kekuatan itu menjadi stabil.
──Lightning
Body, kini telah sempurna di sini.
Akselerasi.
Konoe berakselerasi bagaikan petir. Kecepatan Konoe mendekati kecepatan Skeleton
tersebut. Jejak abu-abu, cokelat, dan emas saling bertabrakan, meninggalkan
luka di kehampaan. Konoe dengan tepat menangkis pedang dan menepis tombak.
“““SUUAAAA!?”””
Melihat
hasil yang berbeda dari sebelumnya, Skeleton itu berteriak seolah
terkejut dan ketakutan.
Lalu──.
“““SUUAAAAAAALYYYY!!”””
"──!"
Skeleton itu tiba-tiba melompat jauh ke
belakang. Dalam satu tarikan napas, ia berpindah dari ujung aula ke
ujung lainnya. Saat mendarat, ia melepaskan kekuatannya. Tubuh Skeleton
diselimuti oleh tiga warna.
Artinya, ini──berarti ia telah merespons kecepatan Konoe
seketika.
"──SUUUUUUUUUU!!"
"──AAAAAAAAAAAA!!"
"──LYYYYYYYYYYYY!!"
Skeleton itu meraung. Kemudian,
suara retakan terdengar pada pedang, tombak, dan perisai yang dipegangnya.
Retakan itu pecah dan──bercampur.
Sebuah langkah untuk menghancurkan persenjataan. Mungkin,
ia mencoba menggunakan kartu as-nya.
Semuanya bercampur. Warna abu-abu, cokelat, dan hitam
menyelimuti Skeleton seperti pusaran.
“““──SUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYY!!”””
──Itu tampak seperti sebuah tombak raksasa.
Pecahan senjata yang berputar itu menjadi satu tombak
yang terdiri dari tiga warna yang bercampur. Kekuatan Unique Magic
saling berpadu. Persenjataan itu berubah wujud menjadi cepat, kuat, dan keras.
Dan kemudian.
Bersamaan dengan suara yang merobek udara, tombak raksasa
itu menerjang ke arah Konoe.
Pusaran itu mengoyak tanah dengan mudah seolah tanpa
hambatan, meninggalkan jejak berbentuk setengah lingkaran saat ia terbang.
Menanggapi itu, Konoe──.
"────"
Menciptakan tombak, Konoe pun melangkah maju. Menuju
pusaran itu, cahaya emas dan putih melesat bersama suara guntur.
Karena ada orang yang harus dilindungi di belakang,
ia tidak bisa menghindar. Ia harus mengalahkannya secara langsung.
Musuh tentu tahu hal itu dan memilih serangan ini.
──Konoe melihat. Di saat yang terasa seperti waktu
terhenti, ia melihat. Ia melihat tombak yang menerjang.
Tombak yang berputar dengan tiga Unique Magic
yang mencoba menembus segala hal yang menghalangi.
Meskipun Konoe telah mendapatkan armor, ini bukanlah
sesuatu yang bisa ia kalahkan dengan mudah.
Meski kecepatannya setara, ia kalah telak dalam hal
kekuatan dan kekerasan. Jika ia melawannya secara langsung, ia hanya akan
terlindas.
Karena itulah, Konoe mengamati aliran pusaran dan melihat
aliran kekuatannya.
Melihat bagaimana Unique Magic itu bekerja, lalu
ia menyiapkan tombaknya.
Seperti yang diajarkan padanya.
Seperti yang telah ia ulangi selama dua puluh lima tahun.
Benar──.
◆◇◆
『──Hei, Konoe. Untuk permulaan, aku ingin mengajarimu satu
hal.』
──Dua puluh lima tahun yang lalu. Ada sesuatu yang
diajarkan instruktur kepada Konoe yang masih pemula.
『Seperti ini, lalu seperti ini. Tusukkan tombaknya. Untuk
awal, aku ingin kamu berlatih ini.』
Hanya sebuah tusukan. Teknik yang pertama kali diajarkan
pada Konoe. Konoe mengulanginya berkali-kali sesuai ajaran
instruktur. Lalu instruktur berkata.
『Ya, itu sudah bagus. Sekarang memang terlihat
canggung, tapi jika kamu terus melatihnya seumur hidup, ini pasti akan menjadi
teknik yang luar biasa.』
『Eh? Ya. Seumur hidup, tahu? Melatihnya seumur hidup. Kapan
pun itu, ayunkan tombakmu setiap hari. Jika kamu melakukan itu, teknik ini
pasti akan……』
◆◇◆
(──Instruktur)
Konoe menyiapkan tombaknya ke arah pusaran yang
menerjang. Melakukannya persis seperti yang ia ulangi setiap hari.
Konoe telah melakukannya selama dua puluh lima tahun.
Ia terus menjaga ajaran instruktur. Kecuali dalam keadaan darurat, ia selalu
melanjutkan latihannya.
Seberapa lelah atau menderitanya pun ia, ia terus
mengulanginya di tempat latihan, di belakang penginapan, dan di dalam hutan.
Benar. Inilah yang diajarkan oleh instruktur──.
(──Tombak Pertama)
Teknik permulaan. Tombak salib putih dan emas
bersentuhan dengan pusaran tiga warna.
Di sana, Konoe melihat tempat di mana aliran pusaran itu
sedikit melambat. Sebuah titik kosong kekuatan yang sangat, sangat kecil.
Di pusat pusaran, di bagian ujung tombak penyerang.
Ia membidik satu titik yang lebih kecil dari ujung jarum
itu di tengah pergerakan super cepat yang jauh melampaui kecepatan suara.
Konoe──.
“““SU!!??”””
"────"
──Lima belas tahun latihan tombak Konoe, tidak akan
pernah meleset dari bidikan.
Bilah putih dan emas itu merangsek masuk ke dalam
pusaran. Petir yang dilepaskan dari ujung tombak yang menembus ke dalam merobek
aliran kekuatan yang diciptakan oleh pusaran tersebut.
Pancaran tiga warna yang melawan mulai terpecah. Berkat
petir dewa, pusaran itu kehilangan kekuatannya dari dalam.
“““──A”””
──Tusuk. Tombak salib itu menembus jauh ke dalam pusaran
yang runtuh, tepat ke arah Skeleton. Berkat tombak dewa, tubuh Skeleton
itu perlahan disucikan.
“““──”””
Skeleton itu runtuh. Pasak yang menghubungkan
tiga mayat itu kehilangan wujudnya.
Di saat terakhir, mata Skeleton itu, lubang dari
enam rongga tengkorak itu, menatap Konoe. Ia menggerakkan rahangnya sedikit.
"…………"
──Bencana itu jatuh runtuh. Konoe telah memenangkan
pertarungan melawan Skeleton.
◆◇◆
──Dan, di belakang Konoe. Bayangan sang instruktur
melihat sosok Konoe. Melihat cahaya setelah kemenangannya melawan Skeleton.
『…………Konoe.』
Bayangan itu bergumam, seolah hampir menangis.
Melihat kata-kata dan punggung murid kesayangan yang telah ia didik.
Bayangan itu sungguh, sungguh merasa bahagia.
Sampai-sampai rasa sesak yang menekan dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Sampai-sampai ia yakin bahwa dalam seribu tahun ini,
ada hal yang tidak salah.
……Namun.
『…………Eh?』
Di sana, pikiran bayangan itu terhenti. Meskipun ia
menyadari sesuatu yang penting, ia tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Itu
adalah kekuatan otoritas dari gumpalan Daemon.
Kekuatan yang mencuci otak bayangan itu. Kekuatan yang
terus meneriakkan untuk merebut kembali hari itu.
Benar. Gumpalan Daemon itu tidak akan mengakuinya.
Mereka tidak akan menerima begitu saja jika hak yang
telah mereka dapatkan dengan susah payah dibuang begitu saja.
Karena ini adalah keinginan terakhir para Daemon.
Mereka ingin merebutnya kembali.
Istri, suami, orang tua, anak, rekan-rekan berharga, para
Daemon ingin merebut mereka kembali.
Karena itulah otoritas ini ada.
Karena itulah berkat ini ada.
Jadi, mereka ingin setidaknya satu orang bisa merebutnya
kembali.
……Karena jika tidak──terlalu menyedihkan bagi mereka.
Karena mereka berpikir, setidaknya mereka ingin semua yang telah hilang
memiliki arti.
『…………Ah.』
Bayangan yang sudah terperangkap dalam keputusasaan
ratusan, ribuan Daemon itu semakin terikat. Pikirannya menumpul dan
menjauh.
Bayangan itu hanya bisa duduk diam. Meskipun Konoe
menunjukkan cahayanya dan membuktikannya, keputusasaan dari gumpalan Daemon
sebagai mahakarya Dewa Jahat itu terlalu kuat.
Kebencian Dewa Jahat yang telah mengotori dunia selama
ribuan tahun menjerat sang instruktur.
Cahaya emas dan putih itu terhalangi oleh kegelapan Dewa
Jahat. Bayangan itu tampak akan segera tertelan.
『──Eh?』
──Namun, pada saat itu. Dari
dekat, terdengar suara sesuatu yang terputus dengan bunyi plek.
◆◇◆
"──Tuan Konoe."
Tica bergumam. Lalu ia melihat. Melihat punggung
Konoe yang telah memenangkan pertarungan melawan monster mengerikan itu. Armor
emas dan putih. Pancaran yang menyilaukan seolah mewarnai gua yang gelap.
Karena itu, sangat indah. Karena itu sungguh sangat
indah──.
"──"
Dengan bunyi plek, lumpur yang mengikat Tica
terputus. Tica mengerahkan kekuatan pada tangannya.
Mengerahkan kekuatan pada kakinya. Melawan beban yang
mengikatnya, ia berusaha untuk berdiri.
──Di sekujur tubuhnya, cahaya perak menyala.
Tubuhnya yang berat mulai terasa ringan. Jiwanya
berdenyut di dalam dirinya.
『……Ke, kenapa?』
Bayangan itu bergumam. Tica mengerti apa artinya.
Bagaimana mungkin dirinya yang masih kecil bisa menahan
beban seribu tahun ini.
Bagaimana ia bisa berdiri. Tica pun──.
"──Aku, sebenarnya, sangat takut."
『……Eh?』
Tica
bergumam. Jawaban yang jauh dari pertanyaan sang bayangan. Namun
kata-kata itu adalah ketulusan hati Tica──.
◆
──Benar. Tica takut. Ia selalu, selalu merasa takut. Ia
tidak bisa mempercayainya.
Tiba-tiba dilempar ke seribu tahun kemudian, diberikan
penjelasan yang tidak ia mengerti oleh Dewa, dan disuruh turun ke labirin.
Ke tempat yang disebut sebagai neraka yang dipenuhi
monster dan tercemar oleh miasma.
Karena itu adalah permintaan Dewa, ia mengangguk. Hanya
itu yang bisa ia lakukan.
Karena, bagaimana mungkin ia bisa menolak permintaan dari
sosok yang berdiri di puncak seluruh Dewa?
Sebenarnya ia ingin menolak. Ia ingin melarikan diri.
Tapi ia hanya bisa mengangguk.
Dewa pun meminta maaf pada Tica dengan wajah yang hampir
menangis. Meminta maaf, dan memeluknya.
……Ia sadar bahwa ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak
perlu turun.
Karena itulah, Tica berusaha mati-matian mengangkat
wajahnya yang hampir menangis, lalu berdiri. Menahan kakinya yang gemetar.
Saat melakukan itu, dua orang Adept yang akan
turun bersamanya kembali.
Adept berambut merah mulai berbicara dengan
Dewa, dan Tica akhirnya berbicara dengan Adept yang satu lagi.
Sedikit mengobrol, dan melakukan berbagai konfirmasi.
──Dan, itu terjadi secara kebetulan.
『Bagi Tuan Konoe, saya yang berada di seribu tahun
kemudian itu orang seperti apa……?』
Tica bertanya secara tidak sengaja kepada Adept
bernama Konoe itu.
Lalu──.
『……Dia adalah orang yang luar biasa.』
──Ah,
ah, benar. Itulah titik baliknya.
Tica yakin. Ia terpikat oleh suara itu, oleh wajah itu.
Karena pesan itu tersampaikan. Bukan berarti ia menyukai wajah dan suaranya.
Hanya saja, Tica terpikat oleh emosi dan perasaan yang
terkandung di dalamnya.
──Orang yang luar biasa, katanya. Kata yang singkat.
Dalam kata-kata sesingkat itu, terkandung──perasaan yang
sangat, sangat besar terhadap dirinya di masa depan.
Benar-benar penuh kebanggaan, terlihat sangat
bahagia.
Mata yang menyipit dan sudut bibir yang tersenyum
memberitahunya.
Ia sadar orang ini sangat menyukai dirinya di masa
depan.
Ia sadar betapa mendalam perasaannya sampai ia tidak
bisa berbuat apa-apa lagi.
Karena kekuatan perasaan itu, karena harapan yang
tersampaikan itu, bagian dalam tubuhnya terasa sakit.
Perasaan yang ditujukan padanya, perasaan untuk orang
yang bukan dirinya, membuat jantungnya terasa terhimpit.
『Hawa-hawa, hawa-hawa……』
Menyakitkan, menyesakkan, tapi juga hangat.
Karena itulah pastilah──itu adalah cinta pertama Tica.
Ia berpikir mungkin memang keliru jatuh cinta pada
seseorang yang memikirkan dirinya di masa depan, tapi karena ia sudah terlanjur
jatuh cinta, tidak ada yang bisa ia lakukan.
Walaupun keliru, cinta tetaplah cinta.
……Tidak, mungkin justru karena keliru itulah, ia tampak
bersinar lebih terang.
Karena ia tahu. ──Cinta itu, bukankah sesuatu yang tumbuh
sambil melakukan kesalahan?
◆
『……Tidak,
eh, itu…… anu』
"──Ya, benar. Karena itulah, saya berusaha
keras."
Melirik bayangan sang pahlawan yang entah mengapa
terlihat tercengang──Tica berdiri dengan tekad dan perasaan di dadanya.
Membelah
lumpur, menepis beban itu. Jaraknya tinggal tiga langkah dari
kristal.
Lalu, membelah lumpur yang menempel di
kakinya──lumpur yang menarik kakinya agar tidak melangkah—ia melangkah satu
langkah ke arah kristal. ──Tinggal dua langkah lagi.
"Hei, diriku di masa depan, kamu telah mendidik
murid yang luar biasa, ya."
『……Eh? U, ya.』
Karena Tica sedang jatuh cinta, ia berusaha keras selama
tiga hari ini. Ia menahan rasa takut, dan berusaha keras.
Ia melihatnya. Melihat sosok orang yang ia cintai berlari
sambil memikirkan dirinya di masa depan.
Di setiap sela kata-katanya, ia terus memikirkannya.
Saat ia menatapnya secara tidak sengaja, dadanya dipenuhi
oleh tatapan itu.
──Karena itulah, karena perasaan itu membuatnya bahagia.
Tica menahan beban itu, lalu melangkah satu langkah lagi.
Tinggal satu langkah lagi.
"──Ugh."
Tapi itu terjadi bersamaan. Beban di punggung Tica
bertambah. Akibat beratnya perasaan dirinya di masa depan dan para Daemon,
kaki yang baru saja ia tegakkan terasa hampir patah.
"……Diriku di masa depan, ini berat ya."
『…………』
Berat. Karena begitu berat, Tica hampir menangis.
Penyesalan yang tersampaikan terasa menyakitkan dan
menyedihkan. Ia bisa memahami perasaan ingin mengulang segalanya.
……Tapi, keinginan itu salah. Karena dengan begini,
tidak ada yang bisa direbut kembali. Waktu tidak akan kembali.
Dirinya hanya akan melupakannya. Pahlawan yang selama
ini kehilangan akan semakin kehilangan lagi.
──Ia harus menghentikannya.
"……Tuan Konoe."
Untuk itu, Tica bergumam. Lalu, mengingat. Punggung
berwarna emas dan putih yang baru saja ia lihat.
Tica melihat saat di mana perasaan yang ia cintai itu
bersinar paling terang. Armor emas dan putih itu telah membuktikannya.
Membuktikan perasaan terhadap dirinya di masa depan. Tica
merekam cahaya itu di matanya. Sungguh, sungguh sangat keren, dan indah.
Ia hampir jatuh cinta untuk kedua kalinya. Tidak, ia
sudah jatuh cinta. Ia semakin, semakin mencintainya.
Karena itulah, ia menggerakkan kakinya. Meskipun ia tahu
waktu antara dirinya dan Konoe akan segera berakhir.
……Tidak, justru karena akan berakhir, ia harus
membuktikannya. Perasaannya sendiri. Seperti yang ia (Konoe) buktikan.
"────!"
Tica berjalan demi cinta. Ia merasa bisa menjadi tak
terkalahkan demi cinta.
Lalu, ia melangkah satu langkah lagi mendekati
kristal……
"──Hei, diriku di masa depan."
『……Eh?』
Tica sudah berada tepat di depan kristal. Dengan
perasaan di dadanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Tolong, jangan sia-siakan perasaan ini ya?"
『──』
Dan kemudian, Tica mengayunkan tinjunya ke arah kristal
perak itu──.
7
──Waktu kembali beberapa puluh detik, sesaat sebelum Tica
mengayunkan tinjunya.
"…………Ugh, ghooh."
Melmina membuka matanya. Setelah membuka mata, ia
memuntahkan darah dari mulutnya.
Ia merentangkan tangannya ke samping, menumpu pada batu,
lalu berdiri.
Ia menghentikan ulur waktu dan menciptakan lensa di
samping tangan kanannya.
Ulur waktu, sudah berakhir. Jika ditanya mengapa──.
"…………"
──Duum, sebuah suara bergema di aula. Itu adalah
suara dinding aula yang dihancurkan dari luar.
Benar.
Ulur waktu, sudah berakhir. Gangguan Melmina telah diketahui.
Ia
telah mengerahkan segala upaya, tapi akhirnya mereka berhasil mencapai ruangan
ini.
Terdengar
suara reruntuhan puing-puing.
Dari
dinding yang hancur, worm terdepan masuk ke dalam ruangan.
……Bencana
telah menampakkan dirinya.
Di belakangnya, ada puluhan bayangan monster.
Menghadapi monster-monster itu, Melmina melirik ke
samping──.
"…………Ya."
──Melmina melangkah satu kaki ke depan. Ia berniat menghentikan mereka. Ia berniat bertarung.
Meskipun ia tahu tidak mungkin menang, meskipun ia
tahu ia akan segera mati, ia tetap berniat bertarung sampai akhir.
Melmina tidak tahu apa yang terjadi di ruangan ini selama
ia menghalangi mereka. Ia tidak melihatnya.
Karena ia sangat berusaha keras. Yang ia tahu hanyalah
Konoe berhasil mengalahkan Bencana.
……Namun, meskipun tidak tahu pasti, ia bisa memahami
bahwa sang instruktur yang merupakan satu-satunya harapan belum kembali ke
wujud asalnya. Tica sedang menghadapi kristal di dalam lumpur.
Apakah masih butuh waktu, ataukah ia tidak akan pernah
bisa kembali lagi?
Ia tidak tahu, tapi Melmina berbalik menghadapi para
monster itu. Untuk mengulur waktu satu detik saja lebih lama. Meskipun mati, ia
bertekad untuk menahannya.
"────"
Di ujung pandangannya, ia melihat monster-monster masuk
ke ruangan satu per satu. Bencana yang bahkan tidak tahu apakah ia bisa menang
melawan satu saja, kini berjumlah puluhan.
Dan mereka semua mengarahkan wajah ke arah Melmina dan
yang lainnya.
──Saat ini, adalah sesaat sebelum mereka menerjang.
Dalam waktu singkat kurang dari satu kedipan sebelum
pertempuran itu, Melmina, sambil menciptakan lensa, mengingat masa lalu sedikit
demi sedikit bagaikan flashback.
Tentang malam sebelum keberangkatan. Saat ia menyampaikan
hal penting kepada Konoe──ia tidak bisa memasukkan namanya ke dalam itu.
Meskipun ia tahu mungkin ia akan mati, Melmina tidak bisa
mengatakannya pada Konoe. Mungkin karena ia takut ditolak. Karena ia tahu orang
yang berada di sisinya.
……Tapi, ah, Melmina menyesal, seandainya saja ia
menyampaikannya dengan benar.
Ia punya penyesalan. Ia ingin menjadi kekasihnya. Ia
tidak ingin mengakhirinya tanpa menyampaikannya.
Selain itu, ia juga ingin bertemu dengan kakaknya. Ia
ingin dipeluk sekali lagi. Ia tidak ingin mati.
Ada hal yang belum terselesaikan. Di dalam diri
Melmina, ada banyak penyesalan dan……
"──"
……Tapi, Melmina melangkah ke depan menghadapi Bencana
tanpa gentar. Itu pasti karena ada sesuatu yang lebih besar dari
penyesalan.
──Karena, Konoe sedang menggenggam tombaknya. Seperti
saat mereka menghabiskan waktu bersama selama lima belas tahun, ia mencoba
bertarung di sampingnya.
Seberapa pun putus asanya perbedaan kekuatan mereka. Jika
begitu, Melmina juga ingin bertarung bersama.
……Karena mereka sudah bertarung bersama sejak lama.
Benar. Melmina, jika ia harus mati, ia ingin berada di
samping orang yang ia cintai sampai akhir──.
"────Eh?"
……Tapi, saat itulah. Di belakang Melmina, ada cahaya
perak yang besar.
◆◇◆
Lalu, Konoe melihatnya.
Di saat ia menggenggam tombak untuk bertarung bersama
Melmina.
Di saat para Bencana yang masuk ke ruangan mulai diwarnai
dengan berbagai warna.
『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』
Konoe
melihatnya. Unique Magic monster yang mulai aktif dan──.
"……Ah."
──Melihat
cahaya perak yang bersinar untuk menghalau hal itu. Kehadiran luar biasa yang
lahir di belakangnya.
Namun, itu adalah kehadiran yang hangat. Kehadiran yang
ia tahu, kehadiran yang paling tangguh dan luwes dari siapa pun. Kehadiran yang
terus Konoe pandangi selama puluhan tahun──.
"──Maaf ya, sepertinya aku merepotkanmu cukup
lama."
Suara itu terdengar. Lalu, ia mendekat. Meskipun
gerakannya santai, namun sebelum ia sadar, sosok itu sudah berada di sisinya,
dan telapak tangannya menepuk bahu Konoe.
Begitu saja, cahaya itu berjalan ke depan Konoe.
Rambut perak yang bergoyang lembut.
Gauntlet dan greave
di kedua tangan dan kakinya.
"──Kamu pasti lelah, kan? Istirahatlah dengan santai
sejenak. Tidak apa-apa, sisanya aku yang akan lakukan."
Kegelapan di dasar bumi diwarnai oleh cahaya yang lebih
tajam dari apa pun──.
『GLUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!』
『CLUUUUUUUUUUUUUUSUUUUUUU!!』
『ZAAAAAAAAAAAAAAAGAAAAAAAAA!!』
Namun, monster-monster itu berteriak menyambutnya. Seolah melawan warna perak yang
mewarnai dunia.
『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』
Puluhan
Unique Magic aktif. Hasrat monster itu mencemari ruangan.
Sihir kehendak yang memutarbalikkan dunia.
Otoritas
kebencian yang membunuh manusia aktif.
『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』 『Unique
Magic』
『Unique Magic』 『Unique Magic』
Kebencian
Dewa Jahat yang memusnahkan kota dan memutarbalikkan negara hanya dengan satu
sosok saja.
Jika salah dalam menanganinya, puluhan hingga jutaan
orang akan mati. Bencana yang melampaui bencana alam.
Itulah yang ada di depan mata, puluhan jumlahnya.
Kekuatan tempur yang membuat negara besar sekalipun harus
mengorbankan segalanya untuk bertarung, dan belum tentu bisa menang.
Jika itu negara kecil, mereka pasti akan dilumat tanpa
ada perlawanan.
『Unique
Magic』
... (berulang)
『JAAAAAAAAAAAAAAREEEEEEEEEEE!!』
『LOOOOOOOOOOOOOMUUUUUUUU!!』
『ZAAAAAAAAAAAAAAAGAAAAAAAAA!!』
Puluhan
keputusasaan itu berlari bersama raungan.
Pancaran
warna-warni menginvasi dunia.
Sesuai
dengan niat membunuh yang diwariskan dari Dewa Jahat, mereka mencoba membunuh
habis manusia yang menghalangi──.
"────"
──Namun,
di pusaran niat membunuh itu, cahaya perak tidak goyah.
Di
depan musuh seberapa pun banyaknya, ia menegakkan dada dan berdiri dengan
anggun.
"──Unique
Magic."
──Cahaya
perak bersinar jauh lebih kuat.
Dan, pada saat itu. Pandangan Konoe memudar.
Seperti frame-by-frame, ada sensasi sesuatu
yang tiba-tiba berganti. Konoe tahu nama kekuatan itu.
Benar, itulah sosok terkuat yang telah melindungi
dunia sejak seribu tahun lalu.
Harapan yang didendangkan dalam banyak legenda──.
『Unique Magic──Langkah yang terayun bagaikan meteor, mari kita nyalakan lentera di tengah kegelapan.』
──Kilatan cahaya melesat.
Gemuruh membahana, mengguncang seluruh dunia.
Cahaya yang melenyapkan segalanya, suara yang
menghancurkan apa pun.
Lalu, di saat berikutnya──semuanya telah berakhir.
"────Ah."
Konoe mengembuskan napas seperti sedang mengerang.
Setelah kilatan itu berlalu, puluhan Bencana yang
seharusnya ada di sana kini telah menjadi bangkai yang terhempas ke dinding.
"──Kurasa hanya segini saja."
Di tengah lautan darah yang merah pekat, sang
Instruktur bergumam sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Nadanya terdengar begitu santai, seolah ia baru saja
pulang dari jalan-jalan ringan.
Benar, inilah kekuatan asli sang Instruktur.
Unique Magic milik
manusia terkuat yang mampu mengubah dunia seorang diri.
『Unique Magic──Langkah yang terayun bagaikan meteor, mari kita nyalakan lentera di
tengah kegelapan.』
Wujud asli dari kekuatan itu adalah──penghentian
waktu.
Sebuah sihir yang menghentikan aliran waktu selama
kurang lebih lima belas detik dalam persepsi sang Instruktur.
Di dalam waktu yang terhenti itu, hanya sang
Instruktur yang bisa bergerak bebas.
Dan bagi seseorang yang memiliki kemampuan bela diri
sepertinya…… lima belas detik sudah cukup untuk membunuh hampir semua hal.
Kekuatan untuk menghancurkan dan melenyapkan musuh
dalam sekejap, tak peduli apakah itu pasukan yang berjumlah puluhan ribu atau
kawanan Bencana.
Kecuali musuh memiliki kekuatan yang sangat khusus
seperti Empat Raja Iblis, mereka bahkan tidak akan bisa memberikan perlawanan.
Seribu tahun lalu, kekuatan ini bangkit dalam diri
seorang gadis yang kotanya hampir hancur, demi melindungi keluarga dan
teman-temannya.
Sebuah kekuatan bagaikan keajaiban yang didapatkan
oleh gadis biasa—yang bukan seorang pejuang—yang berdiri demi menyelamatkan
orang-orang dari serangan monster.
"…………"
"…………"
Konoe dan Melmina saling berpandangan.
Tubuh keduanya berlumuran darah, menjadi saksi betapa
kejamnya pertempuran yang baru saja mereka lalui.
Sesaat, mereka merenungi perjuangan yang telah
berhasil mereka lampaui bersama──.
Keduanya mengembuskan napas panjang secara bersamaan,
seolah seluruh tenaga mereka baru saja terkuras habis.
"Kalau begitu, ayo kita pulang. ……Kali ini, maaf ya.
Dan terima kasih. Berkat kalian berdua, aku selamat."
──Begitulah, keributan yang disebabkan oleh hilangnya kekuatan sang Instruktur pun akhirnya berakhir.



Post a Comment