NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 4 Chapter 5

Chapter 5

Bintang


Konoe yang terlempar ke udara segera mengamati keadaan. Ia memeriksa situasi di sekitarnya.

Pertama, ia mengecek posisinya dengan rekan-rekannya. Di sampingnya ada Melmina, dan di seberangnya ada Tica. Melmina sudah hendak mengulurkan tangan ke arah Tica.

Selanjutnya, ia melihat tiga hal di bawah sana. Pertama, gumpalan yang tampak seperti perpaduan dari banyak Daemon.

Kemudian, Kristal Perak yang didekap oleh gumpalan itu. Dan yang terakhir.

(──Itu.)

Sesuatu yang memancarkan aura mengerikan, seolah kegelapan dipadatkan menjadi bentuk manusia dengan bola mata yang tertanam di dalamnya.

Konoe segera menciptakan Divine Weapon di tangannya──.

────!!!!

Tepat pada saat itu, sebuah suara tanpa suara berteriak di dalam lubuk hati Konoe.

Itu adalah sang Dewa. Emosi Dewa tersalurkan kepadanya. Itu adalah──kemurkaan. Emosi yang baru pertama kali ia rasakan selama dua puluh lima tahun hidupnya. Sang Dewa saat ini sedang marah luar biasa!

──Dewa Jahat (Evil God)!

"────!"

Konoe segera bergerak. Sembari memastikan jebakan dengan Authority of Gold, ia memusatkan kekuatan sihir ke tombaknya dan mengaktifkan kekuatan jiwanya.

Dalam sekejap, kekuatan sihir itu mencapai titik kritis dan melepaskan petir, sementara jiwanya menciptakan pisau-pisau yang tak terhitung jumlahnya di sekelilingnya.

Jawaban yang diberikan oleh Authority of Gold adalah: Tidak ada jebakan. Serangan bisa dilakukan selama menghindari Kristal Perak.

"────"

Konoe menembakkan tombak dan pisau-pisaunya dengan kekuatan penuh. Itu adalah firepower maksimal yang bisa dikerahkan Konoe saat ini. Dewa Jahat dan gumpalan Daemon itu bahkan belum sempat bereaksi sama sekali.

Bersamaan dengan dentuman petir, sekumpulan bilah tajam melesat untuk menghancurkan musuh──.

"────LUUUUUUU!"

──Pertama, tubuh gumpalan Daemon itu tertusuk oleh bilah tajam dan petir. Bagian atasnya meleset karena ia menghindari Kristal Perak, tetapi bagian bawahnya seketika hancur berantakan.

Di saat yang sama, lensa Melmina melesat di udara. Lensa itu membakar tangan Daemon dengan Divine Weapon dan merenggut Kristal Perak.

Tak hanya itu, sinar cahaya bagai hujan menghujani mereka, membuat tubuh Daemon itu berlubang seperti sarang lebah. ──Respons kehidupannya pun lenyap.

[isdynvbgulyvmsym!!!!

Dewa Jahat pun tertusuk──namun di saat-saat terakhir, tiba-tiba bayangan meluas dari bawah kaki Dewa Jahat.

Bayangan itu seketika berubah menjadi hitam keunguan dan mulai membuncit.

──Dari bayangan itu, muncul empat bilah tajam dan dua perisai.

Bukan itu saja. Dari balik sana, muncul rongga mata yang gelap. Itu adalah tengkorak.

Tiga tengkorak tipe iblis dengan tanduk besar yang tumbuh di atasnya. Di bawahnya, terdapat tubuh dengan tulang belulang yang tersingkap, dibalut baju zirah.

Ia memiliki enam lengan yang memegang pedang, tombak, dan perisai raksasa. Pengawal Dewa Jahat, kah?

“““SUUUUUUUUUAAAAAAAALYYYYYYYY!!”””

Skeleton berkepala tiga dan berlengan enam itu muncul.

Ketiga kepalanya mengaum, dan ia mengayunkan dua pedang, dua tombak, serta dua perisai yang dipegang oleh keenam lengannya dengan kecepatan yang mengerikan.

Tombak-tombak Konoe dijatuhkan oleh pedang, pisau-pisau ditepis oleh tombak, dan cahaya hitam yang dilepaskan perisai memantulkan serangan yang meleset.

Di antara sekian banyak pisau, hanya beberapa saja yang luput dan lolos ke belakang.

Cahaya dari perisai itu adalah Unique Magic. Sihir perlindungan yang memantulkan segala hal yang berbahaya.

──Itu adalah sebuah Bencana (Calamity).

[rukyztnuyrvn!!

──Lalu, di celah sesaat yang tercipta itu, Dewa Jahat yang mulai bergerak berteriak.

Kegelapan meluas di belakang sang Bencana. Aura Dewa Jahat menipis di dalam kegelapan tersebut.

……Itu sihir ruang. Ia menghilang begitu saja, bahkan Konoe tidak tahu apakah pisau yang lolos tadi mengenainya atau tidak.

"──!"

……Daemon itu berhasil dibunuh, tapi Dewa Jahat berhasil meloloskan diri. Konoe menggertakkan giginya──.

"──Kyaa!"

"──!?"

──Namun, tidak ada waktu untuk menyesali keadaan. Dari arah belakang, terdengar jeritan──jeritan Tica.

Tanpa mengalihkan pandangan dari skeleton Bencana di depannya, ia mencari sumber aura tersebut dan menemukan bahwa tangan Tica terluka.

Di depannya, terdapat Kristal Perak yang telah diambil oleh Melmina──.

◆◇◆

"……Eh?"

──Tica menatap telapak tangannya yang mengepulkan asap dengan tatapan kosong.

Jika ditanya apa yang terjadi, jawabannya adalah ia terpental.

Kristal yang diletakkan Melmina pada lensa, saat mendekati Tica, memancarkan cahaya perak dan membakar tangan Tica.

Benar, cahaya perak itu.

Kekuatan yang sangat Tica kenal──tidak, kekuatan yang bisa dikatakan adalah diri Tica sendiri, justru menolak Tica.

Mengapa bisa begitu? Tica membuka mulutnya lebar-lebar karena bingung.

……………………kah

"……?"

Di sana, kristal itu tiba-tiba bergetar. Sebuah suara terdengar di telinga Tica.

Suara seorang wanita dewasa. Suara yang mirip dengan ibunya.

──Apakah dengan ini, sudah benar?

Kristal Perak itu membisikkan hal tersebut kepada Tica.

◆◇◆

──Lalu, saat itu juga, Melmina sedang.

Sambil mengobati tangan Tica, ia tidak menatap Kristal Perak atau skeleton itu, melainkan melihat ke atas.

Ia sadar bahwa situasi sedang berubah dalam waktu sesingkat ini.

"……Gawat."

Melmina bisa merasakan sesuatu. Itu berada jauh di atas langit-langit ruangan ini. Karena berada di bawah tanah, auranya sulit dilacak…… tapi mungkin sekitar dua puluh kilometer ke arah permukaan.

Di sana, kawanan monster yang berjumlah lebih dari seratus ekor berkumpul dan mulai bergerak menuju tempat ini.

Kemungkinan besar, itu adalah monster pertahanan yang disiapkan oleh Dewa Jahat.

Mereka tadinya berhasil dilewati berkat kemampuan sang Jamur, namun seharusnya mereka harus bertarung melawan monster-monster itu sebelum sampai ke sini.

Terlebih lagi, di barisan terdepan adalah Bencana tipe Worm. Entah karena kekuatan Unique Magic atau bukan, mereka menggali tanah dengan kecepatan luar biasa.

Jika mereka terus menggali dengan kecepatan seperti ini──kontak akan terjadi dalam waktu sekitar dua menit.

──Ini adalah serangan balik Dewa Jahat. Ia tidak hanya mencoba kabur, tapi juga melakukan langkah untuk membunuh mereka.

"──Konoe, pengejar datang!"

"……!"

Punggung Konoe yang berdiri di depan sedikit tersentak. Dan, mungkin karena menyadari auranya, ia menahan napas.

Tentu saja. Karena di antara kawanan monster itu, terdapat puluhan Bencana.

Jika Bencana sebanyak itu datang, pertempuran tidak akan mungkin terjadi. Mereka hanya akan dibantai.

Selain itu, bahkan jika mereka mencoba lari, mustahil bagi Konoe dan Melmina untuk melarikan diri dari musuh yang bergerak di bawah tanah secepat itu.

──Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk selamat yang terpikirkan oleh Melmina hanya satu.

──Sebelum pengejar datang, ia harus mengembalikan Instruktur ke wujud asalnya.

"……"

Namun──Melmina menatap ke dalam pelukannya sendiri. Tica sedang menatap tangannya dengan tatapan kosong.

……Ia teringat suara Instruktur yang terdengar dari kristal tadi.

Meskipun kristal──yang diduga sebagai Silver Lamp itu telah direbut kembali, Tica justru ditolak.

Dengan kata lain, apakah Tica harus memenuhi syarat lain agar bisa kembali menjadi Instruktur?

(……Apakah syarat itu bisa dipenuhi dalam dua menit?)

Jika tidak sempat, mereka mati. Padahal, situasinya masih sangat samar.

Apakah syaratnya bisa dilihat dengan Authority of Gold?

Ia menatap Konoe. ……Ah, sepertinya tidak bisa. Auranya menunjukkan demikian. Itulah sebabnya Konoe berkeringat dingin.

Kalau begitu, apa yang bisa ia lakukan adalah──.

"──Konoe, aku akan menggunakan kartu as. Aku yang akan mengulur waktu."

"──! ……Ah!"

Melmina melompat dari udara dan mendarat di tanah. Sambil menjelaskan kepada Tica yang masih kebingungan, ia bergerak ke arah dinding.

Ia menurunkan Tica beserta Kristal Perak dan duduk di sana. Posisi saat menggunakan kartu as.

Bencana skeleton di depannya terlihat kuat, dan ia pun tidak mengerti soal Kristal Perak…… tapi, ia harus menghadapi musuh yang mendekat, jika tidak, mereka akan mati dalam dua menit.

……Terakhir. Sambil berkata "kuserahkan padamu" di dalam hati kepada Konoe yang berdiri di depannya, Melmina memejamkan mata.

◆◇◆

──Lalu, Konoe berdiri seolah melindungi Melmina dan Tica.

Puluhan meter di depannya, Bencana skeleton itu berada, mengarahkan pedang, tombak, dan perisainya ke arah Konoe.

Urusan pengejar diserahkan pada Melmina, namun masalahnya adalah Kristal Perak. Ia tidak tahu mengapa benda itu menyerang Tica.

Authority of Gold──meskipun memberitahunya soal jebakan, ia tidak memberi tahu apa pun soal Kristal Perak. Benda itu memberitahunya bahwa lebih baik tidak tahu. ……Konoe merasa belakangan ini selalu seperti itu. Inilah sebabnya mengapa Unique Magic memerlukan verifikasi.

Sembari merasa panik, Konoe mencoba memikirkan tentang kristal itu dan suara Instruktur tadi.

“““SUUUUUUUUUUAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYYY”””

──Namun, sang Bencana tidak membiarkannya berpikir lebih jauh.

Skeleton dengan tiga kepala dan enam lengan.

Tingginya sekitar dua meter.

Bentuknya seperti tiga skeleton yang dibongkar dan digabungkan secara menyimpang menjadi satu.

Di berbagai bagian tubuhnya terlihat paku-paku yang mengandung kutukan, mungkin itu yang menyatukan mereka.

Aura yang menyimpang. Kekuatan sihir yang bergejolak.

Dari pedang, tombak, dan perisai di lengannya, ia merasakan kekuatan yang mengingatkannya pada Divine Weapon.

Bencana yang diperkuat dengan senjata Dewa Jahat. Pengawal Dewa Jahat.

──Ia mengerti. Tanpa keraguan, selain bayangan Instruktur, ini adalah musuh terkuat yang pernah ia hadapi.

“““SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””

"…………"

Namun, sekuat apa pun musuh itu, ia tidak pernah dididik untuk takut saat menghadapi musuh.

Konoe memutar jiwanya dan menembakkan pisau. Saat ia hendak menerjang──.

"──SUUUUUUUUUU"

"──AAAAAAAAAAAA"

"──LYYYYYYYYYYYY"

──Di sana, gerakan skeleton itu berubah.

Sambil menepis pisau dengan perisai, ketiga mulutnya mulai berteriak dengan nada yang berbeda. Lalu.

"──SUUUUUUU ORIGIN"

"──AAAAAAAA ORIGIN"

"──LYYYYYYYY ORIGIN"

"────Apa?"

Tiga warna bercampur di tubuh skeleton itu.

Hitam yang menyelimuti perisai, cokelat yang menyelimuti tombak, dan abu-abu yang menyelimuti pedang. Mata Konoe berdenyut.

Unique Magic──Cepat, lebih cepat dari apa pun, biarkan pedangku merobek musuhmu. Satu menjadi dua.

Unique Magic──Kuat, lebih kuat dari apa pun, biarkan tombakku menghancurkan penghalangmu. Dua menjadi tiga.

Unique Magic──Kokoh, lebih kokoh dari apa pun, biarkan perisaiku melindungimu dari segala fenomena. Tiga menjadi satu.

──Itu adalah senjata rahasia sang Dewa Hitam. Akhir dari sihir terlarang yang mengumpulkan dan mencoba menciptakan Raja Iblis.

──Triple Unique Magic yang menodai dan menggabungkan tiga mayat.

"────!"

Kata-kata yang diberitahukan oleh Authority of Gold.

Tepat saat Konoe memahami maknanya──.

“““──SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””

──Bersamaan dengan suara yang memecahkan udara, skeleton itu mendekati Konoe.

Bilah tajam berwarna cokelat dan abu-abu diayunkan dari atas kepala Konoe dengan kecepatan yang luar biasa.


──Melmina menyelam dalam, semakin dalam ke dalam Unique Magic. Menyelam dan mengasah kemampuannya.

Kartu as. Aplikasi dari Unique Magic yang biasanya ia sembunyikan dan berusaha untuk tidak ia gunakan.

"────"

Melmina melihat. Sekitar dua puluh kilometer di depan.

Banyak monster berkumpul dan mengincar tempat ini.

Di barisan terdepan, Bencana tipe Worm meliuk-liuk, menggali ke bawah sambil melenyapkan lapisan batuan.

Di belakangnya ada puluhan monster yang diduga sebagai Bencana.

Melmina mengarahkan pandangannya pada salah satu monster Bencana, monster tipe iblis.

Meskipun ini prasangka total, tapi sepertinya individu itu memiliki kecerdasan yang rendah.

Ia mengaktifkan Clairvoyance.

Ia melihat. Bagian kepala iblis itu.

Di dalam bola matanya──Lensa-nya.

Lalu──ia memproyeksikan bayangan ke dalam lensa tersebut.

GA!? GLUUUUAAAAA!

──CLUUUUU!?

──ZAAAAGAAAAAA!?

──Bencana iblis itu, karena tiba-tiba melihat sosok Adept putih yang mengacungkan tombak di depan matanya, seketika mengayunkan pedangnya.

Tebasan yang dilepaskan seketika itu──melukai Bencana yang berada di sebelahnya.

──CLUUUCUU!

──GAAAAAA!?

Para Bencana menjadi bingung karena serangan mendadak dari rekan mereka.

Melmina terus memproyeksikan bayangan sosok manusia satu per satu ke dalam lensa monster-monster yang sedang memastikan keadaan di sekitarnya.

Ia menanamkan sosok manusia yang menyusup ke dalam kawanan monster yang sedang berdesakan itu.

Monster-monster itu berteriak. Melmina tidak mengerti bahasa monster, tapi mungkin mereka berteriak bahwa ada musuh yang menyusup. Ia memanfaatkan jeritan itu.

Ia memproyeksikan bayangan itu agar informasinya tersebar satu per satu, membuat kawanan itu percaya bahwa ada musuh yang tidak ada di sana.

Kekacauan meluas. Jeritan monster memenuhi gua yang sempit itu──.

KYYYYYAAAAAAAAA!?

──Serangan dari monster yang kacau itu melukai Bencana yang berlari di depan.

Gerakan Worm yang menggali batuan dengan tenaga luar biasa pun terhenti.

(……Bencana-bencana yang memiliki kekuatan luar biasa. Tapi pengalaman bertarung mereka tidak begitu banyak, ya.)

Melmina merasa lega sambil menyandarkan tubuhnya di dinding di dasar bumi.

Jika ini adalah para Adept, intervensi ceroboh seperti hanya memproyeksikan bayangan ke dalam pandangan mereka akan langsung terbongkar dan mereka semua akan mencongkel mata mereka sendiri.

(……Syukurlah.)

──Ini adalah kartu as Melmina. Kekuatan untuk menerapkan Clairvoyance guna memproyeksikan bayangan ke lensa mata orang lain.

Ini cocok untuk mengacaukan kelompok atau memalsukan informasi.

Awalnya, Unique Magic milik Melmina adalah untuk memproyeksikan bayangan jarak jauh ke lensa matanya sendiri.

Melmina memperluas kemampuan itu dengan pelatihan selama bertahun-tahun.

Ia membuatnya bisa memproyeksikan ke tempat selain matanya sendiri.

Hasil itulah yang membuatnya biasa menggunakan Divine Weapon berupa lensa untuk memproyeksikan bayangan.

Memproyeksikan bayangan ke lensa merah bukanlah kekuatan dari Divine Weapon.

Itu adalah aplikasi dari Unique Magic yang dikuasai Melmina sebagai hasil dari pelatihan yang sangat panjang.

──Dengan kata lain, Clairvoyance milik Melmina bisa memproyeksikan bayangan ke mana pun selama itu adalah lensa. Meskipun itu berada di dalam bola mata musuh.

"──"

Ini adalah kekuatan yang cukup praktis. Akan sangat berguna jika bisa digunakan sehari-hari.

……Namun, Melmina menjadikan kekuatan ini sebagai kartu as. Ini adalah ketiga kalinya ia menggunakannya dalam pertempuran nyata sejak ia menguasainya.

Alasannya──pertama, karena ia hanya ingin merahasiakannya.

Kekuatan ini lebih efektif jika digunakan untuk mengejutkan lawan.

Meski untuk mengacaukan, tingkat kesulitannya akan sangat berbeda antara musuh yang tahu dan yang tidak tahu.

Dan alasan kedua adalah.

"──Gu, uuu."

……Sederhananya, karena kekuatan ini membebani tubuh Melmina secara luar biasa.

Ya. Kekuatan ini memiliki beban yang jauh lebih besar pada otak daripada penggunaan yang seharusnya.

Untuk menipu musuh, ia harus melakukan intervensi terhadap orang lain yang sudah sulit, ditambah lagi dengan menyusupkan bayangan yang diproyeksikan tanpa terlihat aneh bagi musuh.

Terlebih lagi, dalam kasus ini, ia melakukannya terhadap puluhan musuh sekaligus.

Ia tidak bisa menggunakannya tanpa meningkatkan kecepatan aliran darah di otak dan memperkuat otak itu sendiri hingga batas maksimal.

Sebagai hasil dari mempertahankan dan memperkuat otak yang hampir hancur serta memusatkan sihir penyembuh, ia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan benar.

Di bagian yang kekuatannya lemah, aliran darah yang dipercepat menyebabkan pembuluh darah pecah.

Darah itu mengalir keluar dari tempat-tempat di mana kulitnya tipis seperti mata, hidung, dan mulut, serta mewarnai kulit tangan dan kakinya menjadi biru kehitaman.

──Kartu as ini adalah pedang bermata dua yang menghancurkan tubuhnya sendiri.

(……Konoe.)

Melmina memikirkan pria itu. Sambil merasakan rasa darah yang menyebar di mulutnya, ia mempercepat aliran darah di otaknya lebih jauh lagi demi menahan mereka sedetik lebih lama──.

◆◇◆

──Menebas, menebas, menangkis, menusuk, mengelak. Menebas menebas menangkis menusuk.

Menebas menebas menangkis menebas menusuk menebas menangkis menebas tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tebas tangkis tusuk elak tebas tebas tebas.

Tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tangkis tusuk elak tebas tebas tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tebas tebas tebas tangkis tebas tebas tebas tebas tusuk elak tangkis tebas tebas tebas tebas tebas tebas.

“““──SUUUUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYYYY”””

"────"

──Di sisi lain, saat itu. Konoe terus menangkis empat pedang dan tombak yang semakin cepat dengan pelindung tangan di kedua tangannya.

Bilah tajam berwarna cokelat dan abu-abu menyerang bagaikan badai.

Tebasan yang dipercepat dan tusukan yang diperkuat.

Badai yang mencabik-cabik dan melenyapkan apa pun yang disentuhnya itu terbang ratusan kali dalam satu napas seolah ingin menggiling Konoe.

(──, cepat, dan kuat!)

Jika lengah sedikit saja, ia mati. Jika salah satu langkah saja, ia mati. Kecepatan dan kekuatan sebesar itu.

Unique Magic──Cepat, lebih cepat dari apa pun, biarkan pedangku merobek musuhmu. Satu menjadi dua.

Unique Magic──Kuat, lebih kuat dari apa pun, biarkan tombakku menghancurkan penghalangmu. Dua menjadi tiga.

Unique Magic yang mempercepat. Tebasan yang kecepatannya ditingkatkan dengan kekuatan itu jauh melampaui kecepatan Konoe.

Saat ia mengeluarkan satu serangan, musuh mengeluarkan dua. Saat Konoe menangkis satu bilah, empat bilah baru terbang ke arahnya.

Unique Magic yang memperkuat. Tusukan yang kekuatannya ditingkatkan dengan kekuatan itu dengan mudah menembus pertahanan Konoe.

Jika ia tidak mengelaknya dengan teknik, atau bahkan jika ia mengelak, guncangannya tetap terakumulasi di tubuh Konoe.

──Hanya cepat, dan kuat. Itulah kekuatan Bencana skeleton.

Konoe yang tubuhnya dicabik-cabik oleh pedang dan diguncang oleh tombak dalam sekejap, segera bermandikan darah akibat kekuatan yang sangat sederhana namun sangat kuat itu.

Ia melihat celah di garis kematian dan menangkis dengan gerakan minimal. Ia mengontrol lintasan dengan teknik untuk hanya mengelak dari serangan fatal.

──Dengan melakukan itu, ia akhirnya bisa mempertahankan hidupnya.

"──!"

Gawat. Konoe mendecakkan lidah sambil mengelakkan pedang musuh dengan pelindung tangannya.

──Skeleton ini, benar-benar tidak ada celah.

Kemampuan menyerang yang luar biasa. Ia sudah kewalahan hanya dengan bertahan agar tidak terbunuh.

Jika ia tidak dididik habis-habisan oleh Instruktur dalam melawan musuh yang lebih kuat, Konoe pasti sudah mati sejak lama. Terlebih lagi──.

"──"

Saat itu juga, Konoe menemukan satu kekosongan di dalam badai tersebut.

Konoe memutar jiwanya, menciptakan pisau, dan menembakkannya──.

“““──SUUUUAAALYYYYYYYYYYYYYYYYYYY”””

──Namun, pachin, cahaya hitam menepis serangan Konoe.

Sihir yang dilepaskan dari perisai itu dengan mudah melumpuhkan pisau Konoe. Itu adalah kekuatan Unique Magic dari perisai tersebut.

Unique Magic──Kokoh, lebih kokoh dari apa pun, biarkan perisaiku melindungimu dari segala fenomena. Tiga menjadi satu.

Sihir perlindungan yang memantulkan segala hal yang berbahaya.

Cahaya hitam yang menyelimuti seluruh tubuh skeleton itu sepertinya tidak bisa ditembus oleh pisau Konoe.

Bahkan serangan balik yang baru saja ia selipkan pun tidak memberikan rasa sakit sedikit pun.

“““──SUUUUUUUUUUUUUULYYYYYYY!!”””

"…………"

Itulah yang dimaksud dengan tiga kekuatan yang bersatu.

Jika hanya cepat, ia masih bisa mengatasinya.

Jika hanya kuat, ia masih bisa mengelak. Bahkan jika hanya kokoh, masih ada caranya. Namun, jika ia memiliki ketiganya.

"────!!"

──Skeleton ini jauh lebih kuat darinya.

Itulah kenyataan yang ada di depan mata Konoe. Pengawal Dewa Jahat. Sosok yang memiliki tiga Unique Magic sekaligus.

Cepat, kuat, dan kokoh. Puncak dari kekerasan murni.

……Ia berpikir ingin mengacaukan lawan dengan kaki, tapi ada dua orang di belakang Konoe. Karena ia harus melindungi Melmina dan Tica, ia tidak bisa menggunakan cara itu.

"…………Gu."

Konoe menggertakkan gigi. Apa yang harus dilakukan?

Saat ini ia masih bisa mempertahankan nyawanya, tapi tidak ada jalan untuk menang.

Musuh bisa dengan mudah membunuhnya, tapi Konoe tidak punya cara untuk membunuh musuh.

Ia sempat berpikir untuk berubah menjadi petir, tapi ia menolaknya karena itu adalah langkah terakhir.

Perubahan menjadi petir hanya bisa digunakan selama lima detik.

Itu karena ia tidak bisa mempertahankan petir yang menyebar.

Jika ia tidak bisa membunuhnya dalam lima detik itu, mereka pasti akan musnah karena efek sampingnya.

……Apa yang harus dilakukan? Padahal sekarang bukan saatnya untuk kesulitan seperti ini.

Meskipun Melmina sedang menghambat, tidak aneh jika kawanan Bencana lainnya mendekat ke sini kapan saja.

Dan Tica. Tica dan Kristal Perak. Suara Instruktur yang terdengar.

……Benarkah, dengan ini sudah benar?

Suara itu masih terdengar sampai sekarang. Suara Instruktur yang gelap, yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

Saat Konoe berpikir mengapa Instruktur sampai berkata begitu……

"……Eh, ah!?"

"Tica!?"

……Keadaannya berubah. Suara terkejut Tica.

Ia tahu apa yang terjadi dari auranya. Sesuatu yang kental meluap dari kristal.

Sesuatu itu menjerat kaki Tica──membuat Tica tersungkur di tempat.


──Kakinya terjerat oleh sesuatu seperti lumpur hitam, Tica pun berlutut.

Lalu, lumpur itu juga menjalar ke tangannya, membuat kedua tangannya menyentuh tanah.

"……A, apa ini?"

Tica bergumam dengan bingung. Sementara itu, lumpur terus meluap dari kristal dan menutupi sekeliling Tica. Ia tidak bisa bergerak, tidak mengerti apa yang terjadi──.

……Ah, itu menumpuk.

"……!"

──Saat itu, sebuah suara terdengar dari belakang. Bukan dari kristal di depannya, melainkan dari belakang.

Ia menolehkan lehernya untuk melihat ke belakang. Di sana, terdapat sosok seperti manusia yang terbuat dari lumpur hitam pekat.

Sosok itu duduk membelakangi Tica di posisi serong belakangnya.

Ia duduk dengan satu kaki ditekuk, menggoyangkan rambut halus yang ia lihat di cermin setiap hari.

Ia tahu dengan instingnya. Itu adalah……

"……Masa depan, aku?"

………………

Saat Tica bergumam, punggung sosok manusia itu bergoyang. Lalu──.

──Penyesalan, itu menumpuk──

──Bersamaan dengan kata-kata itu, ingatan mengalir ke dalam diri Tica.

──Itu adalah ingatan seorang pahlawan.

Ingatan pahlawan yang mulia yang menyelamatkan umat manusia.

Saat berusia tiga belas tahun, kotanya diserang monster, ia bangkit bersama kilauan perak dan masuk ke sekolah militer.

Di usia enam belas tahun, ia menyelesaikan ujian, menjadi Adept, dan membunuh Raja Iblis berusia tujuh belas tahun yang mencoba memusnahkan dunia manusia. Itu adalah ingatan pahlawan terkuat.

Demi melindungi umat manusia, ia berdiri lebih depan dari siapa pun dan memimpin dunia manusia.

Selama seribu tahun, waktu yang sangat lama, ia menyelamatkan lebih banyak orang daripada siapa pun dan terus menjadi simbol harapan.

……Tapi.

……Itu adalah, tidak lama setelah negara monster musnah, ya?

Sosok itu bergumam. Ingatan itu meluas di benak Tica. Itu adalah.

"……Hii."

Mayat.

Seubah Gunung mayat.

Di jalan, di dalam gedung.

Di dalam kastil, di atas tembok kastil, di dalam sungai.

Satu kota. Tidak, bukan hanya kota. Kota-kota di sekitarnya, desa-desa juga.

──Satu negara, terkubur dalam mayat.

Mayat-mayat itu semuanya membusuk, mengeluarkan darah, dan memasang ekspresi tersiksa.

Mungkin karena tidak tahan dengan penderitaan, ada yang memotong tenggorokan sendiri dengan pisau.

Ada wanita yang mati sambil mendekap anaknya.

Ada pria yang mati di atas tembok kastil sambil memegang senjata.

Ada orang tua yang mati di kuil dengan posisi sedang berdoa kepada Dewa.

"……Ini, adalah."

Tica merasa terpukul. Ia tidak tahu hal seperti ini.

Mimpi buruk seperti ini, ia belum pernah mendengarnya sekalipun sampai sekarang.

Kepada Tica yang masih tenggelam dalam kesedihan, sosok bayangan itu berbisik.

Ia berbisik bahwa wajar jika Tica tidak tahu, karena hal ini terjadi jauh setelah sang pahlawan menjadi Adept.

Sebagai seorang anak kecil, tidak mungkin Tica mengetahuinya.

Tica memang sempat mendengar Konoe dan Melmina membicarakan hal ini sebelum tiba di sini, namun ia tidak benar-benar memahami maknanya.

──Dungeon Outbreak.

Kebencian Dewa Jahat yang menyebarkan miasma dan monster.

Itu adalah sistem yang diciptakan Dewa Jahat setelah pahlawan terkuat memusnahkan negara monster.

Menilai bahwa ia tidak akan bisa menang melawan sang pahlawan dalam pertarungan frontal, ia merancang metode ini untuk tetap bisa membunuh manusia…… semacam taktik gerilya.

Pertarungan antara manusia dan monster sebelum itu, meski penuh tipu muslihat, tetaplah peperangan yang dilakukan secara langsung.

──Pahlawan terkuat itu bahkan telah mengubah bentuk peperangan di dunia ini.

…………

Di dalam ingatan itu, sang pahlawan berdiri terpaku. Ia menatap nanar tumpukan mayat yang membentang di depan matanya.

Mayat-mayat mereka yang tewas menderita karena penyakit mematikan. Melihat pemandangan yang menyayat hati itu, sang pahlawan berpikir.

……Apakah ini terjadi karena aku telah memusnahkan negara monster?

"……Eh, tidak, tapi."

……Ah, tentu saja aku mengerti. Aku mengerti. Aku seharusnya tidak memikirkan hal semacam itu.

Kepada Tica yang hendak menyela, sosok bayangan itu perlahan menggelengkan kepalanya.

Faktanya, jika saat itu aku tidak memusnahkan negara monster, umat manusia pasti akan musnah dalam waktu singkat. Jauh lebih banyak orang yang akan mati dibandingkan akibat Dungeon Outbreak. Kupikir saat itu, tidak ada pilihan lain. Itu sudah pasti.

──Namun. Sosok bayangan itu bergumam lagi.

Tapi, aku tak bisa menahan diri untuk berpikir. Mungkinkah ada cara yang lebih baik? Mungkinkah aku bisa mengurangi jumlah korban? ……Seribu tahun sejak saat itu. Setiap kali Dungeon Outbreak terjadi, aku selalu memikirkan hal itu.

……Kemudian, wajah banyak orang mulai bermunculan di benak Tica.

Seorang pria yang tertawa lepas. Wanita yang tersenyum bahagia. Orang-orang yang duduk bersama mengelilingi meja bundar.

Tica menyadari. Mereka semua…… mengenakan lambang Adept di dada mereka.

──Route gugur demi melindungi Dewa dari Raja Iblis Kyokuten. Padahal anaknya baru saja lahir.

"……Eh?"

Rain kehilangan jiwanya oleh Raja Iblis Yumekui. Lieja mengikis jiwanya untuk mengaktifkan Unique Magic demi menahan Raja Iblis abadi, lalu tewas sepuluh hari kemudian. Rowen tewas dikepung oleh Bencana saat melindungi penduduk yang mengungsi dari wabah.

Wajah-wajah saat mereka tewas muncul. Orang-orang yang tadinya tertawa, kini tewas satu per satu.

Dari meja bundar yang tadinya penuh, mereka menghilang satu demi satu.

Lalu──tampaklah seorang wanita. Seorang wanita berwajah lembut yang mengenakan kacamata.

Wajah itu, berbeda dengan orang-orang sebelumnya, justru dikenal oleh Tica.

Karena wanita itu adalah sosok pertama yang selama ribuan tahun melindungi manusia bersama Dewa……

Sang Guru menjadi perisai untuk menghentikan Tengairyu.

Ingatan itu tersalurkan. Senyum terakhir sang Guru yang telah lama berjalan bersama sang pahlawan.

──Tica. Murid kebanggaanku.

──Kuserahkan sisanya padamu. Mohon jaga Dewa dan umat manusia.

Guru yang tetap memanggil sang pahlawan dengan nama yang sama sejak ia kecil, tidak peduli berapa ratus tahun telah berlalu atau seberapa besar sang pahlawan dipuja.

Guru itu menjadi perisai demi menahan Raja Iblis terkuat dan mengulur waktu untuk menyusun strategi.

Sang pahlawan, yang pernah kalah dari Tengairyu dan menderita luka dalam, tidak mampu menghentikannya.

……Sudah sangat, sangat lama aku bertarung. Aku telah mencapai banyak hal. ……Tapi di saat yang sama, aku juga telah kehilangan banyak hal.

Pahlawan Perak. Jasanya tak terhitung jumlahnya.

Sosok terkuat yang telah melindungi umat manusia selama seribu tahun.

Tica juga telah mendengar banyak hal dalam tiga hari perjalanannya ke sini. Dari Dewa, dari Konoe, dan dari Melmina. Semuanya bercerita dengan bangga.

──Ah, tapi. ……Tidak, justru karena itulah.

Lambat laun, aku mulai berpikir. ──Apakah jalan ini sudah benar? Mungkinkah aku bisa melakukannya dengan lebih baik?

Tica memahami. Sang pahlawan sedang menyesali diri. Ia terus-menerus menyesal, bertanya-tanya apakah pilihannya sudah tepat.

Pahlawan itu menyesal karena ia adalah orang yang mengambil banyak keputusan.

Pahlawan itu lah yang pertama kali melangkah untuk memusnahkan negara monster, dan dialah yang memimpin manusia selama seribu tahun setelahnya.

Tica bisa merasakannya. Seberapa sering pun ia tertawa, seberapa tegak pun ia berjalan.

Sang pahlawan selalu, selalu menyesal. Setiap kali kehilangan, ia menyesal.

Karena itulah──.

Jika aku bisa kembali ke masa lalu. Jika aku bisa kembali menjadi gadis biasa yang tidak tahu apa-apa. Kali berikutnya, aku pasti bisa melakukannya dengan lebih baik.

──Ini adalah endapan penyesalan yang tertumpuk selama seribu tahun.

Tica mengetahuinya. Sisi negatif yang disembunyikan sang pahlawan selama seribu tahun. Sisi lemah dari pahlawan terkuat yang mungkin tidak akan pernah muncul ke permukaan hingga ia mati seandainya tidak terjadi apa-apa.

Kini, sisi itu dimanipulasi oleh Unique Magic milik Daemon, ditarik keluar, dan mewujud ke dunia nyata.

"……Ah."

──Karena itulah, beban seribu tahun itu menghimpit punggung Tica.

Tica dihancurkan oleh beban tersebut.

"──Instruktur! Itu, itu──"

Dari kejauhan, suara Konoe terdengar. Ia berteriak memanggil, "Instruktur".

Namun Tica perlahan tenggelam ke dalam lumpur hitam itu──.

◆◇◆

──Lalu, para Daemon itu tertawa.

Gumpalan Daemon itu tertawa. Meskipun tubuhnya hancur, Unique Magic miliknya tetap tertawa.

Hasrat yang tertinggal di dunia tertawa di dalam Kristal Perak yang menangkap sang pahlawan.

Selamat.

Mereka tertawa dengan gembira. Itu bukan ejekan. Tidak ada niat jahat.

Para Daemon itu mengirimkan senyuman kepada sang pahlawan dengan restu dari lubuk hati terdalam.

Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.

『『『『Syukurlah kamu bisa kembali. Selamat.』』』』

Mereka merestui dan menatapnya dengan iri. Karena itulah keinginan para Daemon itu sendiri.

──Ingin kembali ke hari itu.

Karena itu adalah keinginan semua Daemon yang telah dihinakan oleh Dewa Jahat dan kehilangan segalanya.

Keinginan semua Daemon yang ditipu oleh Dewa Jahat untuk membangun benteng di permukaan, lalu keluarga, teman, dan rekan mereka dibantai oleh manusia.

Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.』『Selamat.

──Mari bicara tentang hal mendasar. Daemon sangatlah cerdas. Mereka lebih cerdas daripada manusia pada umumnya.

Dan karena cerdas, mereka memahami kapasitas diri mereka sendiri dengan benar. Monster jenis itulah mereka.

Monster kelas atas yang telah membunuh dan memangsa banyak manusia untuk tumbuh. Itulah Daemon.

……Namun, dengan asumsi tersebut, muncul satu keraguan.

Kenapa Daemon yang secerdas itu──membangun benteng di permukaan?

Sejak dulu, Daemon membangun benteng di area terkontaminasi di permukaan. Seperti misalnya area terkontaminasi yang pernah didatangi Konoe dan Melmina sebelumnya.

Namun, tentu saja, jika mereka membangun benteng, Adept akan datang. Utusan Dewa akan datang untuk membunuh mereka demi melindungi manusia.

Karena itu, hal-hal yang mencolok seperti benteng seharusnya tidak perlu dibuat. Cukup berpikir sedikit pun sudah bisa memahaminya.

Karena meski mereka bisa memangsa manusia yang lemah di awal, manusia yang kuat pasti akan datang setelahnya.

──Tindakan Daemon yang tidak bisa dimengerti itu. Jawabannya adalah para Daemon yang kini berada di dalam kristal.

Dewa Jahat telah menyusun rencana untuk membuat gumpalan Daemon yang menjatuhkan sang pahlawan kali ini sejak ratusan tahun lalu.

Dan ia telah memanipulasi serta menguji para Daemon itu.

Dewa Jahat terus mencuci otak para Daemon, mengirim mereka ke permukaan secara paksa, dan membuat mereka membangun benteng.

Membuat mereka membangunnya, membiarkan para Adept membantai mereka semua──hanya untuk membuat mereka menyesal.

Demi merampas segalanya dari Daemon yang mengenal perasaan dan cinta, dan memaksa mereka untuk menyangkal kenyataan.

Ah』『Kenapa』『Mengapa』『Bohong』『Benci』『Maafkan aku』『Tidak mungkin』『Benci』『Ini mimpi』『Tidak mau』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong』『Bohong──

Di dasar bumi, gumpalan Daemon itu terus menyangkal.

Mereka putus asa. ──Mereka sangat menyesal.

Mengapa, mereka harus pergi ke permukaan hari itu.

Daemon yang tidak tahu bahwa mereka dimanipulasi oleh Dewa Jahat, terus putus asa atas kebodohan mereka sendiri dan menyangkal kenyataan.

Mereka terus menyesali bahwa merekalah penyebab keluarga, teman, dan rekan mereka tewas.

Tanpa mereka sadari, penyesalan itulah yang terhubung dengan Unique Magic manipulasi ruang-waktu yang telah lama didambakan oleh Dewa Jahat.

──Ya, Unique Magic ini adalah sihir untuk menyesal dan menyangkal kenyataan.

Jika bisa kembali ke hari itu.

Sihir yang secara menyimpang mengabulkan khayalan yang pasti pernah dipikirkan oleh siapa pun setidaknya sekali.

Kekuatan untuk merampas waktu dari tubuh target dan mengembalikan mereka ke wujud hari itu.

Karena pada dasarnya ini adalah sihir yang mengabulkan keinginan si target, kekuatan ini sangat sulit untuk dilawan.

Bahkan jika kristal itu direbut kembali, penyesalan si target akan melakukan perlawanan dan menyangkal untuk kembali ke wujud asalnya.

Unique Magic──Regresi Terbatas, Ilusi Kegelapan, seperti yang kau impikan hari itu.

──Itulah wujud asli sihir yang menjatuhkan sang pahlawan dan mengubahnya menjadi gadis tak berdaya.


"──Instruktur……!"

Sembari menghadapi Bencana, Konoe berteriak, memanggil, "Instruktur".

Meski terus menangkis badai pedang dan tombak, ia mendengarkan suara yang terdengar dari belakang.

──Instruktur. Guru Konoe.

Selama dua puluh lima tahun, ia telah diajar olehnya.

Selama dua puluh lima tahun, hampir tidak ada hari di mana mereka tidak bertemu.

Namun, kata-kata yang terdengar dari belakang semuanya adalah hal-hal yang tidak diketahui Konoe.

……Sudah sangat, sangat lama aku bertarung. Aku telah mencapai banyak hal. ……Tapi di saat yang sama, aku juga telah kehilangan banyak hal.

Lambat laun, aku mulai berpikir. ──Apakah jalan ini sudah benar? Mungkinkah aku bisa melakukannya dengan lebih baik?

──Instruktur, teriak Konoe. Memanggilnya.

Penyesalan Instruktur, dan hal-hal yang telah hilang. Konoe ingin mengatakan sesuatu tentang itu.

"……Instruk, tur."

……Namun, ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Konoe tidak tahu apa yang harus ia katakan.

Konoe yang tidak pandai bicara, tidak mengerti. Ia tidak terpikirkan kata-kata apa yang harus diucapkan untuk menanggapi penyesalan sang Instruktur. Lagipula…….

“““──SUUUUAAAAAAAAAALYYYYYYY!!”””

"……!"

Di depannya, Bencana itu berteriak. Ingin membunuh Konoe, ia mengayunkan pedang dan tombaknya.

Musuh yang lebih kuat dari dirinya.

Jika ia lengah, ia akan mati.

Jika salah menilai, ia akan langsung mati.

Dalam situasi itu, Konoe tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Di tengah pikirannya yang kian panas, Konoe hanya bergumam "Instruktur", dan……

◆◇◆

"…………A, aa."

Di belakang Konoe, Tica hampir hancur oleh emosi sang pahlawan.

Penyesalan seribu tahun. Kehilangan seribu tahun.

──Karena pahlawan itu menyesal, ia ingin kembali ke masa kecilnya saat ia belum tahu apa-apa.

……Dan karena ia telah kembali, ia tidak ingin melepaskan kebahagiaan itu. Begitulah yang ia pikirkan.

Tapi itu adalah pemikiran hasil manipulasi Unique Magic Daemon, jelas sebuah pemikiran yang salah.

Hanya tubuhnya yang kembali ke masa kecil tidak ada artinya.

Tidak ada yang bisa ia ambil kembali.

"…………Uuuuuhuuuu."

Namun, meski begitu. Meski salah, meski dimanipulasi.

Keinginan pahlawan itu untuk mengulang segalanya adalah asli.

Tidak ada satu pun kebohongan dalam penyesalan dan penderitaan selama seribu tahun itu.

Karena itulah, Tica tidak sanggup menahan beban itu.

Karena Tica hanyalah gadis biasa. Gadis biasa yang bingung dengan dunia seribu tahun kemudian, takut pada labirin, menegang saat melihat monster, dan mendambakan cinta.

Sehebat apa pun bakatnya, dan sehebat apa pun ia akan menjadi orang istimewa nantinya, itu bukan saat ini.

……Gadis biasa seperti itu tidak sanggup memikul beban seribu tahun dari pahlawan terkuat dunia.

"……U, a, aa."

Tica berusaha mati-matian menahan emosi yang menyerbu.

Ia merasa tersiksa, ingin lari, dan berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat sekeliling. ……Lalu.

"……Instruktur……!"

"……U?"

……Suara Konoe terdengar di telinga Tica.

Suara yang memanggil "Instruktur". Sambil bertarung melawan monster mengerikan di dekatnya, ia memanggilnya berulang kali.

Kepada Konoe yang seperti itu, Tica──.

"────"

──Hanya sesaat, ia melupakan beban yang menyerbunya.

Lalu, ia berpikir. Bukankah ada juga hal-hal baik dalam hidup sang pahlawan?

Ia mengerti bahwa ada banyak penyesalan dan ia ingin kembali ke masa lalu.

Tapi bukankah pasti ada hal-hal baik juga?

……Hal baik? Tentu saja ada. Sangat banyak. Jika itu hal kecil, ia terjadi hampir setiap hari, dan hal-hal besar pun ada. Bahkan baru-baru ini, ada hal yang paling membahagiakan dalam seratus tahun ini.

"Ka, kalau begitu"

……Tapi, kenapa ya, semakin lama aku hidup, timbangannya semakin condong.

……Timbangan?

Timbangan antara hal baik dan hal buruk perlahan condong ke arah yang buruk. Meski ada banyak hal positif, aku mulai hanya bisa melihat hal negatif saja. Penyesalan terus menumpuk, dan aku merasa pijakanku terus tenggelam.

──Lalu, sang pahlawan bergumam.

……Pendidikan Adept adalah contoh terbesarnya.

"…………?"

Aku mereformasi sistem pendidikan. Aku mereformasinya selama seribu tahun. Hasilnya, jumlah Adept meningkat. Para kandidat tidak lagi tewas. ……Karena itulah, semua orang memujiku. "Terima kasih padamu, tidak ada lagi korban tewas, dan umat manusia menjadi lebih kuat."

Tica juga pernah mendengar soal reformasi sistem pendidikan itu. Dewa pun mengatakannya dengan bangga.

……Namun, sang pahlawan tersenyum kecut──dan mengembuskan napas panjang.

────Benarkah?

"……"

Benarkah itu hal yang baik? Dengan pengajaran yang menghancurkan manusia satu per satu dan hanya memungut mereka yang kebetulan selamat? Sejak menerapkan pendidikan itu, korban tewas memang menghilang, tapi bukankah banyak pemuda yang akhirnya hidup dengan trauma? Bukankah aku telah menghancurkan masa depan pemuda yang tak terhitung jumlahnya?

──Demi umat manusia. Demi melindungi dunia. Karena perlu.

Sang pahlawan berkata bahwa ia telah menciptakan banyak korban atas nama kata-kata itu.

Memang, ada hal-hal yang membahagiakan. Saat muridku tumbuh dengan baik, aku selalu bahagia. Jika mereka melakukan perbuatan besar, aku bahkan merasa sedikit terselamatkan. ……Tapi, para korban terus bertambah setiap hari, dan sepertinya akan terus bertambah hingga tak terhitung jumlahnya.

Sang pahlawan menundukkan wajahnya dan menatap kakinya.

Aku sering berpikir. Seandainya aku menyadarinya, jika saja aku tidak melewatkannya, pasti ada cara yang lebih baik.

……Dan karena itulah, katanya.

……Aku berpikir, jangan-jangan pendidikanku, pengajaranku, semuanya salah.

Dengan suara kelam, sang pahlawan bergumam begitu.

"……A, ……aah."

Tica tidak bisa mengatakan apa-apa pada pahlawan itu. Ia hampir hancur oleh beban di punggungnya yang terus bertambah.

Hampir tenggelam ke dalam lumpur penyesalan──.

"────Salah!"

──Namun di sana. Satu teriakan bergema di dasar bumi.

◆◇◆

"────Salah!"

──Ya, Konoe berteriak.

Sembari menghadapi Bencana, sembari menapaki garis kematian di mana ia akan mati jika salah melangkah satu inci saja, ia berteriak.

Meski teriakan itu membuat tekniknya sedikit melambat dan pedang Bencana merobek perut Konoe. Meski begitu.

"────Itu, hanya itu yang salah!"

Sembari menahan rasa sakit yang luar biasa dan menelan darah, Konoe berteriak berulang kali.

Karena itu adalah kebohongan. Itu sudah pasti salah.

Konoe tidak bisa berkata apa-apa mengenai penyesalan lain yang diucapkan Instruktur. Konoe tidak tahu apa-apa.

Namun, hanya itu yang tidak ia sukai. Hanya itu, yang tidak ingin ia dengar.

──Bahwa pendidikan Instruktur semuanya salah.

Konoe sama sekali tidak bisa menerima hal itu. Karena itulah, meski sedang sekarat, Konoe berteriak kepada Instruktur. Berteriak sekuat tenaga.

……? Suara ini, Konoe ya? Kamu juga ada di sana?

Di sana, Instruktur bergumam. Entah ia mendengar suaranya atau tidak, ia menoleh dan menatap ke arah Konoe. Dengan suasana seolah ia melihatnya, tapi juga tidak.

Konoe menahan rasa sakit perutnya yang robek sambil merasakan tatapan sang Instruktur.

Kamu bilang itu salah? Padahal kamu pun sudah melihat neraka berkali-kali. Memang benar kamu telah berjuang sampai akhir, dan bertahan lebih lama dari yang lain. ……Sambil berpikir "seandainya kamu lebih percaya diri", aku juga sangat bangga karena kamu telah mengalahkan Raja Iblis Abadi.

"…………"

Tapi…… Huh, berkata begitu, padahal saat masa pelatihan kamu menganggapku sebagai Nenek Sihir……………… Nenek Sihir…………………… menganggapku sebagai monster, kan.

Instruktur mengatakannya dengan nada merajuk.

Konoe mendengarnya sembari menyembuhkan lengannya yang setengah hancur.

Aku tahu kamu mencoba menghiburku, tapi bukankah kamu juga menganggapku sebagai iblis? Menganggapku sebagai guru iblis yang dengan entengnya menjatuhkan murid ke neraka, kan?

"…………"

Akibat konsentrasi berlebih, rasa sakit, dan dampak dari kata-kata Instruktur, pemikiran Konoe semakin panas. Pikirannya perlahan memutih.

Lalu, kata-kata Instruktur masuk ke dalam kepalanya yang memutih itu.

Iblis?

Guru iblis yang dengan enteng menjatuhkan murid ke neraka?

Apakah ia menganggap Instruktur seperti itu?

Meski tulangnya dikikis, Konoe menepis tombak skeleton dan membuka mulutnya.

Itu, hal seperti itu──!

"……Hal seperti itu, tentu saja! ──Bukankah sudah jelas aku menganggapmu begitu!?"

…………………………Eh.


──Berteriak. Konoe berteriak kepada Instruktur. Tentu saja ia menganggapnya begitu.

Sudah pasti. Tidak mungkin ia tidak berpikir begitu. Karena.

"Setiap hari perutku dilubangi, dihajar habis-habisan, dan saat aku tersungkur, perutku ditendang, lalu hampir mati. Bahkan jantungku benar-benar berhenti beberapa kali──jadi bukankah tidak mungkin jika aku tidak mengumpat karenanya!?"

…………Eh…… A, u, uuu…… I, itu benar ya. Kamu pun, kamu pun berpikir begitu ya.

"──Tapi!"

…………?

Di sana, Konoe menarik napas panjang.

Dan──.

"Meski begitu, mengatakan bahwa semua pendidikanmu salah, hanya itu yang mutlak salah!"

────

──Ya. Meski begitu, tetaplah begitu. Karena itulah Konoe menyangkalnya. Menyangkalnya dengan segenap tenaga kepada sang Instruktur. Sembari menangkis pedang dan memuntahkan darah yang terkumpul di mulutnya.

……Apa maksudnya? Kamu juga menganggapku…… itu, Nenek Sihir, kan?

"Meski begitu! Dan aku tidak menganggapmu nenek! Instruktur itu cantik sampai-sampai aku terkejut!"

……Hae?

Konoe berteriak di ambang kematian. Meski ia merasa tidak mengerti apa yang ia katakan.

Meski ia merasa seolah perasaannya yang sebenarnya, yang biasanya tidak pernah ia ucapkan, meluap keluar.

Berteriak. Meski di depannya ada musuh yang lebih kuat dari dirinya, meski dalam situasi di mana kepalanya bisa terbelah dan ia tewas kapan saja, meski bukan saatnya untuk membuka mulut.

"──Instruktur!"

Eh, u, um.

Meski dalam situasi seperti itu, Konoe memiliki hal yang harus ia katakan kepada sang Instruktur.

Ada hal yang harus ia sampaikan kepada sang Instruktur yang mengatakan bahwa semua pendidikannya salah.

Konoe menghadapi perasaan di lubuk hatinya. Ia mencoba mengungkapkan perasaan di dalam dirinya, perasaan yang samar-samar dan bahkan tidak ia pahami sendiri, menjadi kata-kata.

Itu adalah hal yang tidak bisa dilakukan Konoe selama ini. ……Namun, Konoe yang sekarang bisa.

"Instruktur, memang benar aku punya banyak pendapat tentangmu! Pelatihanmu terlalu keras! Aku berkali-kali berpikir kau adalah guru iblis yang tidak masuk akal!"

……Ugh.

"……Jujur saja, aku pernah berpikir jangan-jangan kau tidak punya hati manusia!"

……Itu, a, ada kok……!

"Tapi────"

──Tapi, ya.

Konoe mengingatnya. Ia mengingat yang paling pertama.

"Kau selalu, selalu menghadapiku!"

……Eh?

──Saat pertama kali, Konoe tidak bisa melakukan apa pun.

Saat Konoe baru masuk sekolah militer. Konoe tidak tahu apa-apa.

Cara berlari yang benar, cara memegang senjata.

Ia tidak tahu apa-apa tentang kekuatan sihir, dan pendidikannya dimulai dari pendidikan anak-anak.

Ia tidak punya bakat, dan meski diajari, ia sama sekali tidak bisa melakukannya dengan baik.

Ia tidak punya keberanian, gagal dalam menaklukkan monster dan menjelajahi dungeon berkali-kali, dan menunjukkan sosok yang memalukan. Namun.

"Berapa kali pun aku gagal, kau tidak pernah menyerah padaku!"

──Konoe berpikir. Sembari menepis pedang abu-abu yang diayunkan di depannya.

Sudah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ia bisa menangkis pedang ini?

Berapa kali ia gagal hingga dirinya yang dulu, yang bahkan memejamkan mata saat diserang musuh, bisa tumbuh sejauh ini?

Cara mengelak dari kekuatan, cara mengambil jarak. Dibutuhkan waktu yang sangat, sangat lama untuk menguasainya.

Kewaspadaan untuk menepis pedang abu-abu. Langkah kaki untuk mengelak dari tombak cokelat.

Mata observasi untuk menyerang celah sekecil apa pun. Ia menguasainya sembari gagal berkali-kali.

Gagal berulang kali, tersandung di tempat yang sama berkali-kali, dan saat akhirnya berhasil pun, ia gagal lagi di kesempatan berikutnya.

Ada masa di mana ia bahkan tidak tahu apakah ia maju selangkah atau malah mundur selangkah di bagian lain. Tapi──.

"……Karena kau, selalu memperhatikanku. Karena kau menemaniku sampai akhir!"

Kapan pun itu, Instruktur menemaninya sampai akhir.

Selalu tersenyum dengan wajah "kau ini ada-ada saja".

……Sebenarnya, meski tidak pernah sekalipun mengatakannya.

Konoe, sebenarnya──menyukai wajah Instruktur itu.

Tempat latihan di sore hari. Pelatihan lembur hanya berdua.

Itu sangat berat dan menyakitkan, tapi…… Konoe menyukai mata Instruktur yang menatapnya saat ia melanjutkan pelatihan.

Instruktur selalu menatap Konoe dengan saksama. Ia tahu bahwa Instruktur sedang berpikir bagaimana cara agar Konoe bisa lebih baik.

Menjaga, mengajar, dan lalu──saat ia berhasil, Instruktur ikut bahagia seolah itu pencapaiannya sendiri.

Mengucapkan selamat, dan ikut tertawa bersama. Konoe ingat senyuman itu.

……Beberapa kali, Instruktur juga pernah mengacak-acak rambut Konoe saat ia berhasil melakukannya.

Konoe merasa malu akan hal itu, lalu memintanya untuk berhenti.

Tapi, sebenarnya──.

"──Aku, sangat senang. Sungguh, sungguh, aku sangat senang!"

──Dahulu. Saat masih di Jepang.

Konoe tidak punya guru yang mengajarinya dengan benar.

Karena setiap guru memutuskan untuk tidak melihat Konoe, anak bermasalah yang ditinggalkan orang tuanya.

Karena mereka memutuskan untuk tidak berurusan dengan Konoe yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Itulah mengapa Konoe selalu berjalan sendirian. Ia merasa seperti akan tersesat ke kanan dan ke kiri, namun ia tetap terus berjalan. ……Namun.

"Karena kau, ada di sini, aku...!"

──Dua puluh lima tahun ini. Separuh hidupnya. Waktu yang sangat, sangat lama. Kapan pun itu, Instruktur melihat Konoe dan membimbing Konoe. Saat ia mengangkat wajah, Instruktur berdiri menunggu di ujung jalan.

Instruktur. Terkuat. Pahlawan yang menyelamatkan dunia.

Punggung yang ia kejar itu sangat jauh, tapi karena selalu bersinar──.

"Selain itu──"

──Konoe tiba-tiba mengingat kejadian tadi.

Jamur, dan telapak tangan yang melayang di udara. Sensasi tangan yang digenggam. Suhu yang tersalurkan.

Bertemu dengan jamur, akhirnya ada satu hal yang dipahami Konoe.

"Hari itu, orang yang menemukanku adalah kau!"

Masa lalu Konoe. Di dalam rumah sakit, sendirian. Ia hampir mati. Itu adalah saat-saat terakhirnya tanpa seorang pun di sisinya.

Kemudian, ia bereinkarnasi──.

Saat pelatihan pertama setelah tiba di dunia ini, ada suara yang menyapanya saat Konoe sedang berjalan di koridor. Sang instruktur mendekat dengan rambut peraknya yang bergoyang lembut.

──Hei, kudengar kamu berusaha sangat keras, ya? Aku dengar nilaimu sangat bagus?

Dengan memamerkan Life Magic-nya—yang ini bagus, yang itu hebat—ia mengajak Konoe bergabung. Jika dipikirkan sekarang, ada banyak hal yang terlintas di pikiran, tapi……

──Ya sudah, ikut saja denganku sebentar, nanti kujelaskan detailnya.

Setelah penjelasan itu, sang instruktur menarik tangan Konoe. Telapak tangan yang hangat itu menggenggam dan menarik tangan Konoe.

Benar, Konoe yang meninggal di kehidupan sebelumnya tanpa seorang pun di sisinya──

"Orang yang pertama kali menggenggam tanganku adalah kamu!"

──Karena itulah, karena ditarik oleh tangannya, Konoe merasa sangat bahagia.

Jadi, pastilah begitu. Semua hal itu adalah salah satu alasan mengapa Konoe bisa terus berjalan hingga akhir.

Meskipun latihannya begitu kejam, keras, dan menyakitkan hingga ia sempat meragukan ketulusan manusia dan berkali-kali hampir menyerah, namun karena sang instruktur yang membimbingnya, ia tidak pernah tersesat.

"Kamu adalah bintang penunjuk jalanku, yang lebih keras dan lebih lembut dari siapa pun!"

──Aku memikirkan penyesalan sang instruktur. Aku memikirkan masa lalu sang instruktur yang baru saja kudengar.

Ia pasti menderita, ia pasti berjalan dengan memikul masa lalu yang seberat itu.

Konoe tidak tahu seberapa besar beban yang ada di sana.

Karena Konoe bukanlah sang instruktur, ia tidak akan berani mengatakan bahwa ia mengerti penderitaan itu.

Tidak mungkin ia bisa mengatakan bahwa tidak perlu ada penyesalan.

──Namun. Meski begitu. Konoe tidak bisa menerima bahwa semuanya adalah kesalahan.

"──Aku bersyukur, karena itu adalah kamu!"

……

"Aku bersyukur bisa bertemu denganmu!"

…………

"Tidak mungkin ada penyesalan karena aku mengangguk pada ajakanmu hari itu!"

──Karena itulah.

"Aku akan membuktikannya! Bahwa aku, yang dididik olehmu, tidaklah sepenuhnya salah!"

Cahaya bersemayam di tubuh Konoe. Godly Armament merespons keinginan Konoe.

Cahaya itu menyelimuti tubuh Konoe, mewujudkan tekad yang baru.

"Jika kau bilang kau senang dengan pencapaianku, maka aku akan mencapainya! Jika kau bilang aku harus menegakkan dada, maka aku akan menegakkannya!"

Di kepala, tubuh, dan kaki Konoe, cahaya putih dan emas mulai membentuk wujud.

Berkat [Cinta], kekuatan divinity itu pulih kembali. Bersama dengan gauntlet dan greave, cahaya itu menyelimuti seluruh tubuh Konoe──.

"──Karena aku merasa beruntung bisa menjadi muridmu!"

──Armor Dewa menampakkan diri. Pancarannya tampak seperti bintang yang paling indah, bintang yang selama ini ia tatap dan ia kejar.


Armor seluruh tubuh berwarna emas dan putih muncul. Cahaya terpancar, mewarnai ruang dan kegelapan di dasar bumi.

Godly Armament yang terlepas sepenuhnya meningkatkan kemampuan Konoe──.

“““SUUUUAAAAAAAAAALYYYYYYY!!”””

"────"

──Konoe memahami kekuatan armor yang ia kenakan. Ia memahami wujud kekuatan yang ia cari.

Di tengah pedang abu-abu yang melesat cepat dan tombak cokelat yang menerjang, Konoe menciptakan kilat di dalam dirinya.

Kilat yang tercipta mulai menggerogoti tubuh Konoe. Sembari membakar daging dan sarafnya, tubuh Konoe berubah menjadi petir.

Menghancurkan, dan membentuk kembali. Pasti, untuk membuktikannya pada sang instruktur.

──Lightning Body.

Gemuruh petir bergema di dunia yang tertutup itu.

Benar. Kekuatan ini pun ia pelajari bersama sang instruktur.

Bagi Konoe yang tidak memiliki Unique Magic, sang instruktur menemukan teknik rahasia Adept kuno dari rak buku.

Sebuah langkah terakhir yang menciptakan kekuatan setara Unique Magic dengan taruhan nyawa.

Sang instruktur memodifikasinya agar Konoe tidak mati saat menggunakannya. Konoe butuh sepuluh tahun untuk menguasainya.

Ia berulang kali melakukan trial and error untuk menahan petir yang menyebar, namun tetap saja hanya bisa mempertahankan selama lima detik.

Namun, sekarang. Bagi Konoe yang mengenakan armor putih dan emas ini.

"────"

Armor Dewa mencegah penyebaran petir. Kekuatan itu menjadi stabil.

──Lightning Body, kini telah sempurna di sini.

Akselerasi. Konoe berakselerasi bagaikan petir. Kecepatan Konoe mendekati kecepatan Skeleton tersebut. Jejak abu-abu, cokelat, dan emas saling bertabrakan, meninggalkan luka di kehampaan. Konoe dengan tepat menangkis pedang dan menepis tombak.

“““SUUAAAA!?”””

Melihat hasil yang berbeda dari sebelumnya, Skeleton itu berteriak seolah terkejut dan ketakutan.

Lalu──.

“““SUUAAAAAAALYYYY!!”””

"──!"

Skeleton itu tiba-tiba melompat jauh ke belakang. Dalam satu tarikan napas, ia berpindah dari ujung aula ke ujung lainnya. Saat mendarat, ia melepaskan kekuatannya. Tubuh Skeleton diselimuti oleh tiga warna.

Artinya, ini──berarti ia telah merespons kecepatan Konoe seketika.

"──SUUUUUUUUUU!!"

"──AAAAAAAAAAAA!!"

"──LYYYYYYYYYYYY!!"

Skeleton itu meraung. Kemudian, suara retakan terdengar pada pedang, tombak, dan perisai yang dipegangnya. Retakan itu pecah dan──bercampur.

Sebuah langkah untuk menghancurkan persenjataan. Mungkin, ia mencoba menggunakan kartu as-nya.

Semuanya bercampur. Warna abu-abu, cokelat, dan hitam menyelimuti Skeleton seperti pusaran.

“““──SUUUUAAAAAAAAAAAALYYYYYYYYY!!”””

──Itu tampak seperti sebuah tombak raksasa.

Pecahan senjata yang berputar itu menjadi satu tombak yang terdiri dari tiga warna yang bercampur. Kekuatan Unique Magic saling berpadu. Persenjataan itu berubah wujud menjadi cepat, kuat, dan keras. Dan kemudian.

Bersamaan dengan suara yang merobek udara, tombak raksasa itu menerjang ke arah Konoe.

Pusaran itu mengoyak tanah dengan mudah seolah tanpa hambatan, meninggalkan jejak berbentuk setengah lingkaran saat ia terbang.

Menanggapi itu, Konoe──.

"────"

Menciptakan tombak, Konoe pun melangkah maju. Menuju pusaran itu, cahaya emas dan putih melesat bersama suara guntur.

Karena ada orang yang harus dilindungi di belakang, ia tidak bisa menghindar. Ia harus mengalahkannya secara langsung.

Musuh tentu tahu hal itu dan memilih serangan ini.

──Konoe melihat. Di saat yang terasa seperti waktu terhenti, ia melihat. Ia melihat tombak yang menerjang.

Tombak yang berputar dengan tiga Unique Magic yang mencoba menembus segala hal yang menghalangi.

Meskipun Konoe telah mendapatkan armor, ini bukanlah sesuatu yang bisa ia kalahkan dengan mudah.

Meski kecepatannya setara, ia kalah telak dalam hal kekuatan dan kekerasan. Jika ia melawannya secara langsung, ia hanya akan terlindas.

Karena itulah, Konoe mengamati aliran pusaran dan melihat aliran kekuatannya.

Melihat bagaimana Unique Magic itu bekerja, lalu ia menyiapkan tombaknya.

Seperti yang diajarkan padanya.

Seperti yang telah ia ulangi selama dua puluh lima tahun.

Benar──.

◆◇◆

──Hei, Konoe. Untuk permulaan, aku ingin mengajarimu satu hal.

──Dua puluh lima tahun yang lalu. Ada sesuatu yang diajarkan instruktur kepada Konoe yang masih pemula.

Seperti ini, lalu seperti ini. Tusukkan tombaknya. Untuk awal, aku ingin kamu berlatih ini.

Hanya sebuah tusukan. Teknik yang pertama kali diajarkan pada Konoe. Konoe mengulanginya berkali-kali sesuai ajaran instruktur. Lalu instruktur berkata.

Ya, itu sudah bagus. Sekarang memang terlihat canggung, tapi jika kamu terus melatihnya seumur hidup, ini pasti akan menjadi teknik yang luar biasa.

Eh? Ya. Seumur hidup, tahu? Melatihnya seumur hidup. Kapan pun itu, ayunkan tombakmu setiap hari. Jika kamu melakukan itu, teknik ini pasti akan……

◆◇◆

(──Instruktur)

Konoe menyiapkan tombaknya ke arah pusaran yang menerjang. Melakukannya persis seperti yang ia ulangi setiap hari.

Konoe telah melakukannya selama dua puluh lima tahun. Ia terus menjaga ajaran instruktur. Kecuali dalam keadaan darurat, ia selalu melanjutkan latihannya.

Seberapa lelah atau menderitanya pun ia, ia terus mengulanginya di tempat latihan, di belakang penginapan, dan di dalam hutan.

Benar. Inilah yang diajarkan oleh instruktur──.

(──Tombak Pertama)

Teknik permulaan. Tombak salib putih dan emas bersentuhan dengan pusaran tiga warna.

Di sana, Konoe melihat tempat di mana aliran pusaran itu sedikit melambat. Sebuah titik kosong kekuatan yang sangat, sangat kecil.

Di pusat pusaran, di bagian ujung tombak penyerang.

Ia membidik satu titik yang lebih kecil dari ujung jarum itu di tengah pergerakan super cepat yang jauh melampaui kecepatan suara.

Konoe──.

“““SU!!??”””

"────"

──Lima belas tahun latihan tombak Konoe, tidak akan pernah meleset dari bidikan.

Bilah putih dan emas itu merangsek masuk ke dalam pusaran. Petir yang dilepaskan dari ujung tombak yang menembus ke dalam merobek aliran kekuatan yang diciptakan oleh pusaran tersebut.

Pancaran tiga warna yang melawan mulai terpecah. Berkat petir dewa, pusaran itu kehilangan kekuatannya dari dalam.

“““──A”””

──Tusuk. Tombak salib itu menembus jauh ke dalam pusaran yang runtuh, tepat ke arah Skeleton. Berkat tombak dewa, tubuh Skeleton itu perlahan disucikan.

“““──”””

Skeleton itu runtuh. Pasak yang menghubungkan tiga mayat itu kehilangan wujudnya.

Di saat terakhir, mata Skeleton itu, lubang dari enam rongga tengkorak itu, menatap Konoe. Ia menggerakkan rahangnya sedikit.

"…………"

──Bencana itu jatuh runtuh. Konoe telah memenangkan pertarungan melawan Skeleton.

◆◇◆

──Dan, di belakang Konoe. Bayangan sang instruktur melihat sosok Konoe. Melihat cahaya setelah kemenangannya melawan Skeleton.

…………Konoe.

Bayangan itu bergumam, seolah hampir menangis. Melihat kata-kata dan punggung murid kesayangan yang telah ia didik.

Bayangan itu sungguh, sungguh merasa bahagia. Sampai-sampai rasa sesak yang menekan dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Sampai-sampai ia yakin bahwa dalam seribu tahun ini, ada hal yang tidak salah.

……Namun.

…………Eh?

Di sana, pikiran bayangan itu terhenti. Meskipun ia menyadari sesuatu yang penting, ia tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Itu adalah kekuatan otoritas dari gumpalan Daemon.

Kekuatan yang mencuci otak bayangan itu. Kekuatan yang terus meneriakkan untuk merebut kembali hari itu.

Benar. Gumpalan Daemon itu tidak akan mengakuinya.

Mereka tidak akan menerima begitu saja jika hak yang telah mereka dapatkan dengan susah payah dibuang begitu saja.

Karena ini adalah keinginan terakhir para Daemon. Mereka ingin merebutnya kembali.

Istri, suami, orang tua, anak, rekan-rekan berharga, para Daemon ingin merebut mereka kembali.

Karena itulah otoritas ini ada.

Karena itulah berkat ini ada.

Jadi, mereka ingin setidaknya satu orang bisa merebutnya kembali.

……Karena jika tidak──terlalu menyedihkan bagi mereka. Karena mereka berpikir, setidaknya mereka ingin semua yang telah hilang memiliki arti.

…………Ah.

Bayangan yang sudah terperangkap dalam keputusasaan ratusan, ribuan Daemon itu semakin terikat. Pikirannya menumpul dan menjauh.

Bayangan itu hanya bisa duduk diam. Meskipun Konoe menunjukkan cahayanya dan membuktikannya, keputusasaan dari gumpalan Daemon sebagai mahakarya Dewa Jahat itu terlalu kuat.

Kebencian Dewa Jahat yang telah mengotori dunia selama ribuan tahun menjerat sang instruktur.

Cahaya emas dan putih itu terhalangi oleh kegelapan Dewa Jahat. Bayangan itu tampak akan segera tertelan.

──Eh?

──Namun, pada saat itu. Dari dekat, terdengar suara sesuatu yang terputus dengan bunyi plek.

◆◇◆

"──Tuan Konoe."

Tica bergumam. Lalu ia melihat. Melihat punggung Konoe yang telah memenangkan pertarungan melawan monster mengerikan itu. Armor emas dan putih. Pancaran yang menyilaukan seolah mewarnai gua yang gelap.

Karena itu, sangat indah. Karena itu sungguh sangat indah──.

"──"

Dengan bunyi plek, lumpur yang mengikat Tica terputus. Tica mengerahkan kekuatan pada tangannya.

Mengerahkan kekuatan pada kakinya. Melawan beban yang mengikatnya, ia berusaha untuk berdiri.

──Di sekujur tubuhnya, cahaya perak menyala.

Tubuhnya yang berat mulai terasa ringan. Jiwanya berdenyut di dalam dirinya.

……Ke, kenapa?

Bayangan itu bergumam. Tica mengerti apa artinya.

Bagaimana mungkin dirinya yang masih kecil bisa menahan beban seribu tahun ini.

Bagaimana ia bisa berdiri. Tica pun──.

"──Aku, sebenarnya, sangat takut."

……Eh?

Tica bergumam. Jawaban yang jauh dari pertanyaan sang bayangan. Namun kata-kata itu adalah ketulusan hati Tica──.

──Benar. Tica takut. Ia selalu, selalu merasa takut. Ia tidak bisa mempercayainya.

Tiba-tiba dilempar ke seribu tahun kemudian, diberikan penjelasan yang tidak ia mengerti oleh Dewa, dan disuruh turun ke labirin.

Ke tempat yang disebut sebagai neraka yang dipenuhi monster dan tercemar oleh miasma.

Karena itu adalah permintaan Dewa, ia mengangguk. Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Karena, bagaimana mungkin ia bisa menolak permintaan dari sosok yang berdiri di puncak seluruh Dewa?

Sebenarnya ia ingin menolak. Ia ingin melarikan diri. Tapi ia hanya bisa mengangguk.

Dewa pun meminta maaf pada Tica dengan wajah yang hampir menangis. Meminta maaf, dan memeluknya.

……Ia sadar bahwa ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak perlu turun.

Karena itulah, Tica berusaha mati-matian mengangkat wajahnya yang hampir menangis, lalu berdiri. Menahan kakinya yang gemetar.

Saat melakukan itu, dua orang Adept yang akan turun bersamanya kembali.

Adept berambut merah mulai berbicara dengan Dewa, dan Tica akhirnya berbicara dengan Adept yang satu lagi.

Sedikit mengobrol, dan melakukan berbagai konfirmasi.

──Dan, itu terjadi secara kebetulan.

Bagi Tuan Konoe, saya yang berada di seribu tahun kemudian itu orang seperti apa……?

Tica bertanya secara tidak sengaja kepada Adept bernama Konoe itu.

Lalu──.

……Dia adalah orang yang luar biasa.

──Ah, ah, benar. Itulah titik baliknya.

Tica yakin. Ia terpikat oleh suara itu, oleh wajah itu. Karena pesan itu tersampaikan. Bukan berarti ia menyukai wajah dan suaranya.

Hanya saja, Tica terpikat oleh emosi dan perasaan yang terkandung di dalamnya.

──Orang yang luar biasa, katanya. Kata yang singkat.

Dalam kata-kata sesingkat itu, terkandung──perasaan yang sangat, sangat besar terhadap dirinya di masa depan.

Benar-benar penuh kebanggaan, terlihat sangat bahagia.

Mata yang menyipit dan sudut bibir yang tersenyum memberitahunya.

Ia sadar orang ini sangat menyukai dirinya di masa depan.

Ia sadar betapa mendalam perasaannya sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Karena kekuatan perasaan itu, karena harapan yang tersampaikan itu, bagian dalam tubuhnya terasa sakit.

Perasaan yang ditujukan padanya, perasaan untuk orang yang bukan dirinya, membuat jantungnya terasa terhimpit.

Hawa-hawa, hawa-hawa……

Menyakitkan, menyesakkan, tapi juga hangat.

Karena itulah pastilah──itu adalah cinta pertama Tica.

Ia berpikir mungkin memang keliru jatuh cinta pada seseorang yang memikirkan dirinya di masa depan, tapi karena ia sudah terlanjur jatuh cinta, tidak ada yang bisa ia lakukan.

Walaupun keliru, cinta tetaplah cinta.

……Tidak, mungkin justru karena keliru itulah, ia tampak bersinar lebih terang.

Karena ia tahu. ──Cinta itu, bukankah sesuatu yang tumbuh sambil melakukan kesalahan?

……Tidak, eh, itu…… anu

"──Ya, benar. Karena itulah, saya berusaha keras."

Melirik bayangan sang pahlawan yang entah mengapa terlihat tercengang──Tica berdiri dengan tekad dan perasaan di dadanya.

Membelah lumpur, menepis beban itu. Jaraknya tinggal tiga langkah dari kristal.

Lalu, membelah lumpur yang menempel di kakinya──lumpur yang menarik kakinya agar tidak melangkah—ia melangkah satu langkah ke arah kristal. ──Tinggal dua langkah lagi.

"Hei, diriku di masa depan, kamu telah mendidik murid yang luar biasa, ya."

……Eh? U, ya.

Karena Tica sedang jatuh cinta, ia berusaha keras selama tiga hari ini. Ia menahan rasa takut, dan berusaha keras.

Ia melihatnya. Melihat sosok orang yang ia cintai berlari sambil memikirkan dirinya di masa depan.

Di setiap sela kata-katanya, ia terus memikirkannya.

Saat ia menatapnya secara tidak sengaja, dadanya dipenuhi oleh tatapan itu.

──Karena itulah, karena perasaan itu membuatnya bahagia.

Tica menahan beban itu, lalu melangkah satu langkah lagi. Tinggal satu langkah lagi.

"──Ugh."

Tapi itu terjadi bersamaan. Beban di punggung Tica bertambah. Akibat beratnya perasaan dirinya di masa depan dan para Daemon, kaki yang baru saja ia tegakkan terasa hampir patah.

"……Diriku di masa depan, ini berat ya."

…………

Berat. Karena begitu berat, Tica hampir menangis.

Penyesalan yang tersampaikan terasa menyakitkan dan menyedihkan. Ia bisa memahami perasaan ingin mengulang segalanya.

……Tapi, keinginan itu salah. Karena dengan begini, tidak ada yang bisa direbut kembali. Waktu tidak akan kembali.

Dirinya hanya akan melupakannya. Pahlawan yang selama ini kehilangan akan semakin kehilangan lagi.

──Ia harus menghentikannya.

"……Tuan Konoe."

Untuk itu, Tica bergumam. Lalu, mengingat. Punggung berwarna emas dan putih yang baru saja ia lihat.

Tica melihat saat di mana perasaan yang ia cintai itu bersinar paling terang. Armor emas dan putih itu telah membuktikannya.

Membuktikan perasaan terhadap dirinya di masa depan. Tica merekam cahaya itu di matanya. Sungguh, sungguh sangat keren, dan indah.

Ia hampir jatuh cinta untuk kedua kalinya. Tidak, ia sudah jatuh cinta. Ia semakin, semakin mencintainya.

Karena itulah, ia menggerakkan kakinya. Meskipun ia tahu waktu antara dirinya dan Konoe akan segera berakhir.

……Tidak, justru karena akan berakhir, ia harus membuktikannya. Perasaannya sendiri. Seperti yang ia (Konoe) buktikan.

"────!"

Tica berjalan demi cinta. Ia merasa bisa menjadi tak terkalahkan demi cinta.

Lalu, ia melangkah satu langkah lagi mendekati kristal……

"──Hei, diriku di masa depan."

……Eh?

Tica sudah berada tepat di depan kristal. Dengan perasaan di dadanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Tolong, jangan sia-siakan perasaan ini ya?"

──

Dan kemudian, Tica mengayunkan tinjunya ke arah kristal perak itu──.


──Waktu kembali beberapa puluh detik, sesaat sebelum Tica mengayunkan tinjunya.

"…………Ugh, ghooh."

Melmina membuka matanya. Setelah membuka mata, ia memuntahkan darah dari mulutnya.

Ia merentangkan tangannya ke samping, menumpu pada batu, lalu berdiri.

Ia menghentikan ulur waktu dan menciptakan lensa di samping tangan kanannya.

Ulur waktu, sudah berakhir. Jika ditanya mengapa──.

"…………"

──Duum, sebuah suara bergema di aula. Itu adalah suara dinding aula yang dihancurkan dari luar.

Benar. Ulur waktu, sudah berakhir. Gangguan Melmina telah diketahui.

Ia telah mengerahkan segala upaya, tapi akhirnya mereka berhasil mencapai ruangan ini.

Terdengar suara reruntuhan puing-puing.

Dari dinding yang hancur, worm terdepan masuk ke dalam ruangan.

……Bencana telah menampakkan dirinya.

Di belakangnya, ada puluhan bayangan monster.

Menghadapi monster-monster itu, Melmina melirik ke samping──.

"…………Ya."

──Melmina melangkah satu kaki ke depan. Ia berniat menghentikan mereka. Ia berniat bertarung.

Meskipun ia tahu tidak mungkin menang, meskipun ia tahu ia akan segera mati, ia tetap berniat bertarung sampai akhir.

Melmina tidak tahu apa yang terjadi di ruangan ini selama ia menghalangi mereka. Ia tidak melihatnya.

Karena ia sangat berusaha keras. Yang ia tahu hanyalah Konoe berhasil mengalahkan Bencana.

……Namun, meskipun tidak tahu pasti, ia bisa memahami bahwa sang instruktur yang merupakan satu-satunya harapan belum kembali ke wujud asalnya. Tica sedang menghadapi kristal di dalam lumpur.

Apakah masih butuh waktu, ataukah ia tidak akan pernah bisa kembali lagi?

Ia tidak tahu, tapi Melmina berbalik menghadapi para monster itu. Untuk mengulur waktu satu detik saja lebih lama. Meskipun mati, ia bertekad untuk menahannya.

"────"

Di ujung pandangannya, ia melihat monster-monster masuk ke ruangan satu per satu. Bencana yang bahkan tidak tahu apakah ia bisa menang melawan satu saja, kini berjumlah puluhan.

Dan mereka semua mengarahkan wajah ke arah Melmina dan yang lainnya.

──Saat ini, adalah sesaat sebelum mereka menerjang.

Dalam waktu singkat kurang dari satu kedipan sebelum pertempuran itu, Melmina, sambil menciptakan lensa, mengingat masa lalu sedikit demi sedikit bagaikan flashback.

Tentang malam sebelum keberangkatan. Saat ia menyampaikan hal penting kepada Konoe──ia tidak bisa memasukkan namanya ke dalam itu.

Meskipun ia tahu mungkin ia akan mati, Melmina tidak bisa mengatakannya pada Konoe. Mungkin karena ia takut ditolak. Karena ia tahu orang yang berada di sisinya.

……Tapi, ah, Melmina menyesal, seandainya saja ia menyampaikannya dengan benar.

Ia punya penyesalan. Ia ingin menjadi kekasihnya. Ia tidak ingin mengakhirinya tanpa menyampaikannya.

Selain itu, ia juga ingin bertemu dengan kakaknya. Ia ingin dipeluk sekali lagi. Ia tidak ingin mati.

Ada hal yang belum terselesaikan. Di dalam diri Melmina, ada banyak penyesalan dan……

"──"

……Tapi, Melmina melangkah ke depan menghadapi Bencana tanpa gentar. Itu pasti karena ada sesuatu yang lebih besar dari penyesalan.

──Karena, Konoe sedang menggenggam tombaknya. Seperti saat mereka menghabiskan waktu bersama selama lima belas tahun, ia mencoba bertarung di sampingnya.

Seberapa pun putus asanya perbedaan kekuatan mereka. Jika begitu, Melmina juga ingin bertarung bersama.

……Karena mereka sudah bertarung bersama sejak lama.

Benar. Melmina, jika ia harus mati, ia ingin berada di samping orang yang ia cintai sampai akhir──.

"────Eh?"

……Tapi, saat itulah. Di belakang Melmina, ada cahaya perak yang besar.

◆◇◆

Lalu, Konoe melihatnya.

Di saat ia menggenggam tombak untuk bertarung bersama Melmina.

Di saat para Bencana yang masuk ke ruangan mulai diwarnai dengan berbagai warna.

Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic

Konoe melihatnya. Unique Magic monster yang mulai aktif dan──.

"……Ah."

──Melihat cahaya perak yang bersinar untuk menghalau hal itu. Kehadiran luar biasa yang lahir di belakangnya.

Namun, itu adalah kehadiran yang hangat. Kehadiran yang ia tahu, kehadiran yang paling tangguh dan luwes dari siapa pun. Kehadiran yang terus Konoe pandangi selama puluhan tahun──.

"──Maaf ya, sepertinya aku merepotkanmu cukup lama."

Suara itu terdengar. Lalu, ia mendekat. Meskipun gerakannya santai, namun sebelum ia sadar, sosok itu sudah berada di sisinya, dan telapak tangannya menepuk bahu Konoe.

Begitu saja, cahaya itu berjalan ke depan Konoe.

Rambut perak yang bergoyang lembut.

Gauntlet dan greave di kedua tangan dan kakinya.

"──Kamu pasti lelah, kan? Istirahatlah dengan santai sejenak. Tidak apa-apa, sisanya aku yang akan lakukan."

Kegelapan di dasar bumi diwarnai oleh cahaya yang lebih tajam dari apa pun──.

GLUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!

CLUUUUUUUUUUUUUUSUUUUUUU!!

ZAAAAAAAAAAAAAAAGAAAAAAAAA!!

Namun, monster-monster itu berteriak menyambutnya. Seolah melawan warna perak yang mewarnai dunia.

Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic

Puluhan Unique Magic aktif. Hasrat monster itu mencemari ruangan.

 Sihir kehendak yang memutarbalikkan dunia.

Otoritas kebencian yang membunuh manusia aktif.

Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic Unique Magic

Kebencian Dewa Jahat yang memusnahkan kota dan memutarbalikkan negara hanya dengan satu sosok saja.

Jika salah dalam menanganinya, puluhan hingga jutaan orang akan mati. Bencana yang melampaui bencana alam.

Itulah yang ada di depan mata, puluhan jumlahnya.

Kekuatan tempur yang membuat negara besar sekalipun harus mengorbankan segalanya untuk bertarung, dan belum tentu bisa menang.

Jika itu negara kecil, mereka pasti akan dilumat tanpa ada perlawanan.

Unique Magic ... (berulang)

JAAAAAAAAAAAAAAREEEEEEEEEEE!!

LOOOOOOOOOOOOOMUUUUUUUU!!

ZAAAAAAAAAAAAAAAGAAAAAAAAA!!

Puluhan keputusasaan itu berlari bersama raungan.

Pancaran warna-warni menginvasi dunia.

Sesuai dengan niat membunuh yang diwariskan dari Dewa Jahat, mereka mencoba membunuh habis manusia yang menghalangi──.

"────"

──Namun, di pusaran niat membunuh itu, cahaya perak tidak goyah.

Di depan musuh seberapa pun banyaknya, ia menegakkan dada dan berdiri dengan anggun.

"──Unique Magic."

──Cahaya perak bersinar jauh lebih kuat.

Dan, pada saat itu. Pandangan Konoe memudar.

Seperti frame-by-frame, ada sensasi sesuatu yang tiba-tiba berganti. Konoe tahu nama kekuatan itu.

Benar, itulah sosok terkuat yang telah melindungi dunia sejak seribu tahun lalu.

Harapan yang didendangkan dalam banyak legenda──.

Unique Magic──Langkah yang terayun bagaikan meteor, mari kita nyalakan lentera di tengah kegelapan.




──Kilatan cahaya melesat.

Gemuruh membahana, mengguncang seluruh dunia.

Cahaya yang melenyapkan segalanya, suara yang menghancurkan apa pun.

Lalu, di saat berikutnya──semuanya telah berakhir.

"────Ah."

Konoe mengembuskan napas seperti sedang mengerang.

Setelah kilatan itu berlalu, puluhan Bencana yang seharusnya ada di sana kini telah menjadi bangkai yang terhempas ke dinding.

"──Kurasa hanya segini saja."

Di tengah lautan darah yang merah pekat, sang Instruktur bergumam sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Nadanya terdengar begitu santai, seolah ia baru saja pulang dari jalan-jalan ringan.

Benar, inilah kekuatan asli sang Instruktur.

Unique Magic milik manusia terkuat yang mampu mengubah dunia seorang diri.

Unique Magic──Langkah yang terayun bagaikan meteor, mari kita nyalakan lentera di tengah kegelapan.

Wujud asli dari kekuatan itu adalah──penghentian waktu.

Sebuah sihir yang menghentikan aliran waktu selama kurang lebih lima belas detik dalam persepsi sang Instruktur.

Di dalam waktu yang terhenti itu, hanya sang Instruktur yang bisa bergerak bebas.

Dan bagi seseorang yang memiliki kemampuan bela diri sepertinya…… lima belas detik sudah cukup untuk membunuh hampir semua hal.

Kekuatan untuk menghancurkan dan melenyapkan musuh dalam sekejap, tak peduli apakah itu pasukan yang berjumlah puluhan ribu atau kawanan Bencana.

Kecuali musuh memiliki kekuatan yang sangat khusus seperti Empat Raja Iblis, mereka bahkan tidak akan bisa memberikan perlawanan.

Seribu tahun lalu, kekuatan ini bangkit dalam diri seorang gadis yang kotanya hampir hancur, demi melindungi keluarga dan teman-temannya.

Sebuah kekuatan bagaikan keajaiban yang didapatkan oleh gadis biasa—yang bukan seorang pejuang—yang berdiri demi menyelamatkan orang-orang dari serangan monster.

"…………"

"…………"

Konoe dan Melmina saling berpandangan.

Tubuh keduanya berlumuran darah, menjadi saksi betapa kejamnya pertempuran yang baru saja mereka lalui.

Sesaat, mereka merenungi perjuangan yang telah berhasil mereka lampaui bersama──.

Keduanya mengembuskan napas panjang secara bersamaan, seolah seluruh tenaga mereka baru saja terkuras habis.

"Kalau begitu, ayo kita pulang. ……Kali ini, maaf ya. Dan terima kasih. Berkat kalian berdua, aku selamat."

──Begitulah, keributan yang disebabkan oleh hilangnya kekuatan sang Instruktur pun akhirnya berakhir.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close