Chapter 1
Sehari di Sekolah
1
──Kota
putih murni tempat bersemayamnya Sang Dewa.
Pagi
kembali datang di kota yang dipenuhi deretan bangunan batu putih tersebut.
Di
dalam udara pagi yang dingin dan sedikit lembap, Konoe terbangun di atas tempat
tidur sebuah penginapan di ibu kota.
Cahaya
tipis masuk menembus jendela, membuat kelopak matanya perlahan terbuka──.
──Di saat yang sama, ia mengaktifkan kemampuan deteksi di
sekelilingnya.
Matahari yang baru sedikit menampakkan diri. Suara kicau
burung yang mulai terdengar.
Tidak ada Miasma, tidak ada monster.
Hanya ada atmosfer tenang tanpa niat jahat maupun aura
kegelapan.
Ia bisa merasakan orang-orang mulai beraktivitas
seiring terbitnya fajar.
……Dan juga, hawa keberadaan gadis emas di dekatnya.
Sepertinya dia sudah bangun lebih awal dari Konoe.
Terdengar suara langkah kaki ringan yang bergerak ke sana kemari.
"………………"
Tidak ada keanehan. Sembari mengembuskan napas lega,
Konoe bangkit dari tempat tidur. Sambil menguap kecil, ia menatap kota dari
jendela terdekat.
Di jalanan pagi buta, orang-orang berjalan dengan
renggang. Ia memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan kosong──.
"──Konoe-sama, ini Telnerica. Bolehkah aku
masuk?"
"……Ah, silakan."
Tak lama, suara ketukan pintu oleh si gadis pagi ini
kembali bergema di dalam ruangan.
Begitu Konoe menjawab, gadis itu masuk dan mendekati
tempat tidur.
Ia meletakkan pakaian ganti di samping tempat tidur
dan mengganti air di kendi.
Ia bergerak lincah di dalam ruangan untuk menyiapkan
segala keperluan pagi.
Konoe memperhatikan sosok Telnerica dengan tatapan
kosong.
Rambut emasnya berkilau memantulkan cahaya matahari.
……Mungkin sudah sekitar dua puluh hari berlalu sejak ia
datang ke penginapan ini dari Silmenia.
Selama itu, kecuali saat berada di desa perintis,
pemandangan seperti ini selalu terulang setiap hari. Rutinitas pagi yang tanpa
sadar mulai terasa biasa.
Keseharian baru yang tercipta.
Sebuah kenormalan yang membuat bagian dalam dadanya
terasa sedikit menggelitik.
Setelah ini, ia pasti akan berganti pakaian, keluar
kamar, mencuci muka, lalu menyantap sarapan bersama Telnerica……
"……Ngomong-ngomong, Konoe-sama."
"……Hm?"
……Saat sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba si gadis
berbalik dengan cepat.
Ekspresi
wajahnya…… eh? Berbeda dari biasanya, dia tampak sedikit nakal.
"Mengenai
hal yang kita bicarakan tempo hari, apakah Anda sudah memikirkannya?"
"……Tempo
hari?"
"Soal
aku yang ingin mencoba membangunkan Konoe-sama."
Ingin
membangunkan? Konoe mengerjapkan matanya beberapa kali──ah, benar
juga.
Ia teringat pernah ada pembicaraan seperti itu. Itu
adalah cerita sebelum mereka pergi ke desa perintis.
"Hari ini pun, Konoe-sama sudah bangun sebelum aku
datang. Bagiku, itu sedikit mengecewakan."
"Sesekali, aku ingin membangunkan Konoe-sama yang
sedang tidur."
Waktu itu Telnerica mengatakannya.
Tapi Konoe tidak begitu mengerti──benar, intinya, Konoe
bilang itu mustahil karena dia pasti terbangun jika ada orang yang mendekat.
Lalu.
"Kalau begitu, pura-pura tidur pun tidak apa-apa,
kok!"
"Konoe-sama. Aku akan datang untuk membangunkan Anda
berapa kali pun, puluhan kali, bahkan ratusan kali. Jadi, meskipun tidak ada
artinya…… jika Konoe-sama merasa ingin melakukannya──tolong cobalah."
──Telnerica tertawa sambil merona bahagia saat itu.
(……Pura-pura tidur kalau merasa ingin melakukannya,
ya.)
Itu adalah usulan yang membuat Konoe memiringkan kepala
saat itu. Ia pikir tidak ada gunanya sengaja pura-pura tidur hanya untuk
dibangunkan.
Dan
setelah sekitar tiga puluh hari berlalu…… Konoe yang sekarang pun berpikiran
sama. Ia hanya bisa memiringkan kepalanya.
"Konoe-sama,
bagaimana……?"
"……"
──Tapi,
meski seharusnya tidak ada artinya.
Telnerica menatap Konoe dengan mata yang penuh harap.
Sambil menautkan jemari di depan dada, ia melirik ke arah Konoe.
Atmosfernya seolah meneriakkan kata-kata "Aku ingin
mencoba melakukannya". Atmosfer yang bahkan Konoe pun bisa memahaminya.
……Karena itu, setelah sedikit bimbang meski masih tidak
mengerti, Konoe menjawab.
"……E-itu, kalau kamu memang ingin melakukannya
sampai begitu. Mari kita coba sekali……?"
"……! Baik! Baik!!"
Yah, lagipula itu bukan hal yang sulit. Ia pikir tidak
ada salahnya jika Telnerica memang sangat menginginkannya.
"Kalau begitu, mari segera kita lakukan
sekarang!"
"……Eh? Sekarang?"
"Iya! Sekarang!"
Bukan besok? Selagi Konoe berpikir begitu, Telnerica
meletakkan barang bawaannya di meja terdekat. Kemudian,
ia berkata akan masuk lagi tiga puluh detik kemudian, lalu keluar dari kamar
dan menutup pintu.
"…………"
Konoe mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut
dengan semangat gadis itu…… namun karena dikatakan tiga puluh detik, ia
berhenti berpikir, berbaring kembali, dan memejamkan mata.
……Satu detik, demi satu detik berlalu.
Di tengah pandangan yang tertutup, terdengar suara
jam dari kejauhan.
Suara pendulum yang berayun dan jarum detik yang
berdetak.
"Konoe-sama, permisi."
Tepat tiga puluh detik kemudian. Setelah mengetuk, Telnerica masuk ke dalam kamar. Melihat Konoe yang
sedang berbaring──ia tampak sangat gembira.
Hawa keberadaannya mendekat perlahan ke samping
tempat tidur.
Ia berhenti dalam jarak hanya puluhan sentimeter.
Gadis itu menunduk mengintip wajah Konoe.
……Aroma seperti bunga tercium.
"──Konoe-sama, sudah pagi, lhoー."
"……"
"Ayo banguーn."
Ia berbisik. Suaranya menggelitik telinga dari jarak
yang sangat dekat.
Sambil memanggil namanya, Telnerica perlahan
mengulurkan kedua tangan.
Ujung jarinya, lalu telapak tangannya menyentuh bahu
Konoe.
Tekanan lembut terasa, membuat tubuh Konoe bergoyang
pelan.
"Konoe-samaー……
hehe, Konoe-samaー……"
Telnerica memanggil Konoe dengan suara tertawa kecil
yang terdengar sangat senang dan bahagia.
Tubuhnya bergoyang pelan dengan ritme yang teratur
dan nyaman.
"………………"
Lalu, tiba-tiba. Aroma tepung gandum yang terpanggang
tercium di ujung hidung Konoe.
Aroma roti. Juga aroma telur dan sup. Aroma sarapan yang
disiapkan Telnerica setiap hari.
"Konoe-sama, fufu, Konoe-samaー. Sudah
pagi, lhoー."
"……Ngh."
Di
dalam atmosfer yang hangat dan lembut itu, Konoe perlahan membuka matanya.
Sepasang
mata biru menatapnya dari jarak sangat dekat.
Rambut
emas yang tergerai tampak berkilau menembus cahaya matahari.
"──Selamat pagi, Konoe-sama."
"……Ah."
Hari ini pun cuacanya bagus, katanya. Gadis itu tersenyum
tipis dengan pipi yang sedikit merona.
Setelah menatap senyuman itu dari jarak dekat selama
beberapa detik, Konoe perlahan membuka mulutnya.
"……Bagaimana menyampaikannya, ya."
"Iya."
"……Aku malu."
"Aku sangat senang sekali!"
Konoe memalingkan wajah dari si gadis, berbalik ke
samping sambil menutupi wajahnya dengan lengan.
Telnerica tersenyum lebar dan tertawa saking bahagianya.
……Begitulah, salah satu momen di pagi hari mereka.
◆
──Sekitar lima hari telah berlalu sejak kejadian di desa
perintis berakhir.
Berbagai pekerjaan telah selesai dengan selamat, Konoe
kembali ke ibu kota dan menghabiskan waktu bersama Telnerica di penginapan.
Bisa dikatakan situasinya sudah beres dan akhirnya ia bisa bernapas lega.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, dan pembangunan
kembali desa perintis pun terus berjalan.
Meski banyak rintangan, desa itu kini ramai dikunjungi
banyak orang, dan terakhir kali ia melihatnya beberapa hari lalu, semua orang
tampak ceria.
Bagi Konoe sendiri, persenjataannya telah berevolusi, dan
ia sekarang bisa menggunakan teknik baru seperti mengaktifkan alat sihir secara
paksa. J
ika melihat hasilnya, bisa dikatakan semuanya berjalan
lancar.
Ia juga berhasil mengumpulkan uang sesuai rencana awal,
sehingga sepertinya ia tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangan untuk
sementara waktu.
(……Tapi, meskipun semuanya berjalan lancar, tertimpa
bencana berturut-turut itu benar-benar melelahkan.)
Hanya saja…… kenyataan bahwa ia diserang bencana dua kali
dalam waktu singkat membuatnya merasa agak penat.
Mulai dari naga di Silmenia, lalu jamur di desa perintis,
benar-benar beruntun.
Padahal monster kelas bencana seharusnya jarang muncul,
bahkan satu kali setahun saja sudah termasuk sering di dunia ini.
(……Nasib macam apa ini?)
Instrukturnya bahkan tertawa sambil berkata keberuntungan
Konoe benar-benar buruk.
Katanya hal seperti ini biasanya mustahil terjadi, dan
sang instruktur sendiri belum pernah bertarung melawan kelas bencana sesering
ini.
Lalu, ketika Konoe bilang "Kalau begitu ini kasus
yang cukup langka ya jika instruktur saja tidak berpengalaman", sang
instruktur membalas "Barusan kamu menganggapku sudah tua, ya?",
"Tidak, aku tidak bilang begitu", begitulah percakapan mereka.
(……Mari bersantai sejenak.)
Karena itulah ia berpikir begitu.
Selama lima hari terakhir, ia tidak mengambil pekerjaan
baru dan hanya menghabiskan waktu melihat katalog rumah bersama Telnerica.
Mereka berdiskusi serius ingin mengakhiri hidup di
penginapan, bahkan mendatangi beberapa bangunan yang sudah mereka incar untuk
survei lokasi.
Sambil melihat bangunan secara langsung, mereka
berbincang tentang ini bagus, itu bagus, lebih baik ada halaman, atau tidak
perlu, soal pengelolaan, hingga alat sihirnya.
Setelah selesai, mereka menghabiskan hari dengan berjalan
santai berdua di kota, belanja di toko, lalu minum teh──.
"──Konoe-sama, ada surat dari Sekolah."
──Sore itu, bersamaan dengan suara ketukan pintu, sebuah
surat dari instruktur pun tiba.
ï¼’
(……Kira-kira ada urusan apa, ya.)
Konoe berpikir sambil menaiki tangga menuju Sekolah.
Isi surat itu adalah pemanggilan.
Tidak tertulis detail tujuannya, hanya memintanya untuk
datang dalam beberapa hari ke depan.
Karena hari ini ia tidak punya urusan khusus, ia pun
segera berangkat.
(Bukan soal banjir labirin atau semacamnya, kan? Kalau
itu, pasti dipanggil secara paksa tanpa kompromi. ……Lalu, ada apa?)
──Konoe menaiki tangga sambil memikirkan alasan ia
dipanggil.
Setelah sampai di puncak tangga, ia menyapa penjaga
gerbang, melintasi gerbang, dan masuk ke dalam Sekolah.
"……?"
……Lho? Di sana Konoe merasakan ada yang aneh. Suasana
Sekolah terasa sedikit terburu-buru. Rasanya tidak tenang dan riuh. Yah, bukan
suasana yang berbahaya, sih.
Sambil merasa heran, Konoe menuju resepsionis dan
meminta untuk dihubungkan dengan instruktur.
……Setelah menunggu beberapa saat, datang jawaban yang
memintanya untuk menunggu sebentar karena sang instruktur sedang sibuk.
(……Yah, dia memang orang yang sibuk.)
Mau bagaimana lagi, lebih baik aku membunuh waktu
sebentar, pikir Konoe sambil mulai berjalan-jalan santai di dalam Sekolah.
Ia masuk ke toko serba ada yang kebetulan terlihat
dan mulai melihat-lihat barang dagangan……
(……Ah, benar juga, persediaan makanan daruratku
sudah tinggal sedikit.)
Di sana Konoe menghentikan langkahnya di depan salah
satu rak. Rak berisi makanan darurat berbentuk balok yang terkenal tidak enak.
Produk ini tahan lama, tapi teksturnya kering dan
beraroma seperti obat──namun, Konoe sudah lama mengandalkannya.
Sebab jika tidak ada ini, ia akan kesulitan saat keadaan
darurat atau saat sulit menemukan tempat makan.
Karena itu Konoe mengulurkan tangannya ke rak tersebut……
"……Kamu lagi, ya. Masih saja membeli itu? Makanlah
sesuatu yang lebih layak sedikit."
"……Melmina?"
Tiba-tiba, sebuah suara yang disertai desahan napas
terdengar dari samping Konoe.
Saat menoleh, ia melihat sosok gadis berambut merah yang
sedang memeluk tumpukan kertas di lengannya.
Melmina. Seorang Adept seangkatan yang sudah lama
ia kenal, dan baru-baru ini mereka juga melewati pertempuran bersama──dia
adalah rekan.
Dengan wajah heran, ia mendekat, mengambil makanan
darurat dari tangan Konoe, lalu mengembalikannya ke rak.
Kemudian……
ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas pinggangnya.
"Kalau butuh makanan darurat, pakailah yang
ini."
"……? Ini apa?"
"……Kamu tahu aku mengelola sebuah persekutuan
dagang, kan? Ini adalah makanan darurat yang dikembangkan di sana. Rasanya
lebih layak, dan masa simpannya pun sama. Belum dijual secara umum, sih…… yah,
jika kamu datang ke tempatku, aku akan menjualnya padamu kapan saja."
Karena disuruh mencoba, Konoe membuka bungkusan yang
diberikan.
Begitu
mencoba satu gigitan…… ia terkejut.
Rasanya seperti kue panggang dan buah kering.
Mirip dengan
rasa bar kalori yang pernah ia makan di Jepang dulu.
"……Ini enak."
Rasanya tidak bisa dibandingkan dengan makanan
darurat balok itu.
Tanpa sadar Konoe memakan satu-dua gigitan lagi, lalu
Melmina tersenyum bangga.
"Jadi, mulai besok datanglah menemuiku. ……Nah,
kalau begitu ayo pergi."
"……Hm?"
"Lewat sini. Ikutlah denganku."
Tiba-tiba, Melmina mengulurkan tangan ke telapak tangan
Konoe──lalu menarik lengannya dan mulai berjalan.
"……-kh?
……Me, Melmina?"
"Lagipula kamu cuma luntang-lantung di tempat
seperti itu, berarti sedang senggang, kan? Temani aku sebentar."
……Yah, memang sedang senggang, sih, pikir Konoe. Tapi
menemaninya untuk apa?
"Sebenarnya aku sedang mencari sesuatu di ruang
arsip, dan aku butuh bantuan tenaga. Aku akan memberimu imbalan yang pantas,
jadi bantu aku ya."
Melmina tersenyum sambil menunjukkan tumpukan kertas yang
ia peluk.
Mendengar kata ruang arsip, Konoe mengangguk paham.
"……Aku tidak keberatan membantu, sih. Tapi aku sedang menunggu instruktur."
"Instruktur? Aku tidak tahu dia ada urusan apa,
tapi sekarang sepertinya dia sedang melayani tamu langka yang datang
berkunjung."
……Tamu langka? Saat Konoe bergumam, Melmina
mengarahkan wajahnya ke arah jendela.
"Lihat, di sana. Bisa lihat, kan?"
"……Dia itu."
Mengikuti arah pandangannya, di seberang jendela dan
halaman tengah, terlihat koridor lantai paling atas.
Di sana, ada seorang wanita berwarna biru yang memiliki
tanduk dan sayap yang berkilau seperti permata.
◆
──Fonia Archinorca. Konoe mengenal sosoknya.
Rambut biru, mata biru──tanduk biru, sayap biru.
Dia adalah ras langka yang disebut Dragonute, sekaligus
putri dari kerajaan yang telah runtuh.
Kerajaan Archinorca yang Hilang.
Negara yang dihancurkan oleh Naga Langit seratus tahun
yang lalu.
Dia adalah keturunan terakhir dari keluarga kerajaan
tersebut.
"……Sudah lama sekali."
"Aku juga. Mungkin sudah sepuluh tahun sejak
terakhir kali aku bertemu dengannya."
Dan bagi Konoe, dia juga adalah teman seangkatan di
Sekolah.
Dia adalah salah satu orang yang masuk ke Sekolah dua
puluh lima tahun lalu dan sama-sama mengincar gelar Adept.
……Yah, meskipun dibilang seangkatan, Konoe hampir
tidak pernah berinteraksi dengannya.
Sebab dia memiliki bakat yang lebih besar daripada
siapa pun di angkatan mereka.
Pemilik otoritas perisai pemutus yang menepis segala
fenomena.
Berbeda dengan Konoe yang butuh waktu dua puluh lima
tahun untuk menjadi Adept, dia hanya butuh sepuluh tahun.
Karena kemampuan yang terlalu berbeda, ia hampir
tidak pernah satu tim dengannya saat latihan.
Karena tidak pernah satu tim, ia pun tidak pernah
berbicara dengannya.
Kepribadiannya yang pendiam mungkin menjadi salah
satu alasan mereka tidak memiliki hubungan.
Konoe yang payah berkomunikasi pun sama, ia bukan
tipe orang yang mau berinteraksi dengan orang lain secara aktif.
"…………"
Pada akhirnya, Konoe teringat ia hanya pernah bicara
sekali dalam sepuluh tahun, sambil memperhatikan sosoknya.
Gadis itu tampak sedang berbicara dengan Sang Dewa di
koridor.
Ekspresinya datar, sementara Sang Dewa berbicara
dengan wajah serius.
Konoe merasa aneh melihat Sang Dewa yang biasanya
selalu tersenyum menunjukkan ekspresi seperti itu.
(──?)
──Saat itu. Tiba-tiba, pandangan mereka berdua
tertuju pada Konoe. Sial,
apa aku barusan tidak sopan……?
(……Hm?
……Sang Dewa?)
Entah
kenapa, Sang Dewa menunjukkan wajah yang tampak syok.
Sang
Dewa menatap Konoe, lalu menatap gadis di sampingnya──Fonia, kemudian menatap
Konoe lagi.
Sang
Dewa tampak panik sambil menutupi mulutnya.
……Kenapa
dia menatapku dengan wajah seperti itu? Konoe
merasa heran.
"……Ah, begitu rupanya. Jadi
seperti itu."
"……Melmina?"
"Aku penasaran kenapa dia sengaja menampakkan diri
di Sekolah……"
Saat Konoe menoleh ke arah Melmina, gadis itu menghela
napas dan memberikan tatapan yang sedikit tidak senang ke arah sang putri.
"……Melmina, apa maksudnya?"
"Hm? Itu…… bukan aku yang harus mengatakannya."
Hah, dia kembali menghela napas panjang. Kemudian berkata, "Ayo pergi," sambil menarik lengan Konoe
dan mulai berjalan. Konoe
memiringkan kepalanya…… namun ia tetap mengikuti dengan patuh.
Melmina
melangkah lebar dan berjalan cepat menyusuri koridor. Tak lama, mereka sampai
di ujung koridor.
Di
tempat itu terdapat sebuah pintu besar, yang segera dibuka oleh Melmina dengan
perlahan.
──Di
balik pintu itu, terdapat ruang arsip berupa ruangan raksasa yang diperluas
dengan sihir ruang, tempat ribuan rak buku berjajar.
Itu
adalah tempat berkumpulnya segala macam dokumen Sekolah.
Sebuah
tempat di mana seluruh informasi negara ini terkumpul, yang hanya bisa dimasuki
oleh Sang Dewa, para Adept, dan segelintir pejabat sipil.
Melmina masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang
terbiasa.
Kemudian, ia meletakkan tumpukan kertas dan barang
bawaan di punggungnya ke meja terdekat, lalu mengamati sekeliling sejenak.
"Ya, tidak ada siapa-siapa."
Gumamnya. Lalu ia berbalik menghadap Konoe.
"Nah, Konoe. Selagi hanya ada kita berdua, aku ingin
menanyakan satu hal."
"……?"
"──Itu, soal janji waktu itu, apakah kamu sudah
memikirkannya?"
──Melmina mengatakannya sambil tersenyum manis dengan
pipi yang sedikit merona.
3
Janji. Bersama Melmina. Itu adalah…… itu?
"……Kalau, ini seandainya saja ya."
"Kalau segala sesuatunya sudah selesai, saat itu……
a-aku yang manis ini akan mengabulkan satu hal apa pun──"
Benar, ada janji yang mereka buat sebelum bertarung
melawan Jamur Bencana hari itu.
Janji untuk menuruti satu perkataan apa pun. Dan juga
saat acara minum-minum setelah pertempuran.
"──Aku akan menepati janji itu. …………Pikirkanlah
baik-baik, ya."
Melmina mengatakannya pada Konoe. Sambil tersenyum tenang. Sambil meronakan pipinya.
Kepada Melmina yang seperti itu, Konoe……
"……A-ah……
kalau begitu, akan kupikirkan baik-baik."
Beberapa
hari lalu. Ia ingat telah menjawab begitu di tengah kebingungan.
Dalam
kondisi belum memahami isinya dengan baik.
Karena
disuruh memikirkan baik-baik, ia pun membalas akan memikirkannya baik-baik.
──Dan
sekarang.
"Sudah
lewat beberapa waktu sejak saat itu…… bagaimana?"
"……Itu."
"………………?"
Saat
ditanya apakah janjinya sudah ditentukan, entah bagaimana bilangnya. Konoe
mengerjapkan matanya beberapa kali.
Melihat
itu, senyum Melmina berubah menjadi wajah heran…… lalu berubah menjadi ekspresi
penuh curiga.
"……Oi, keheningan apa ini?"
"……"
"Wajah itu, bukannya belum bisa memutuskan, tapi
kamu lupa, kan?"
Konoe memalingkan wajah. Benar sekali. ……Tidak,
tepatnya bukan lupa, tapi ia tidak tahu harus bagaimana sehingga hal itu
terhapus dari kepalanya.
Lagipula itu hanya janji lisan, dibicarakan di tempat
minum-minum pula. Ia tidak menyangka Melmina akan menanyakannya sendiri.
(……Eh? Tapi kenapa dia terlihat tidak puas?)
Padahal jika ia menuruti apa pun perkataannya, bagi Melmina
seharusnya lebih menguntungkan jika Konoe melupakannya.
"……Muu."
"……Tidak, itu."
Namun, bertolak belakang dengan pikiran Konoe, Melmina
dengan ekspresi kesal langsung melangkah satu langkah mendekati Konoe.
Secara alami Konoe mundur satu langkah. Lalu
Melmina maju lagi satu langkah, dan Konoe kembali mundur.
Melmina tidak berhenti, dan Konoe terus mundur.
Setelah mengulanginya beberapa kali──.
"……Ah."
──Tuk.
Punggung Konoe membentur rak. Rak buku besar yang
penuh dengan dokumen.
……Ia tidak bisa mundur lagi.
"……Konoe."
Melmina melangkah satu kaki lagi…… lalu berhenti.
Sangat dekat. Jarak di mana ia bisa melihat helai demi
helai bulu matanya tanpa perlu penguatan apa pun.
Konoe yang melirik ke kanan dan ke kiri dengan
bingung, serta Melmina yang memasang wajah cemberut.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik……
"Pikirkan baik-baik."
"……Eh, a-ah, iya."
"……Perhatikanlah aku sedikit lagi."
──Eh? Konoe mengarahkan matanya yang sempat tidak
tenang ke arah Melmina.
Gadis
itu…… tampak seperti sedang merajuk.
"Ya? Janji?"
"……A-ah, iya."
"Ya sudah, kalau begitu kali ini aku maafkan."
Melihat Konoe yang mengangguk kaku, Melmina membalikkan
punggungnya.
Kemudian, ia kembali ke tempat ia meletakkan
barang-barangnya.
……Eh? Barusan itu apa? Sama sekali berbeda dengan Melmina
yang kukenal.
"……Nah, kalau begitu bantu aku mencari
sesuatu!"
"…………"
Kepada Konoe yang masih kebingungan, Melmina berkata
dengan suara ceria, sangat kontras dengan yang barusan. Lalu, ia menyodorkan sebuah dokumen.
……Aku tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti.
Sambil tetap bingung, Konoe menerima dokumen itu dan
membacanya──.
"……?
Jumlah produksi Miasma Stone di setiap wilayah?"
◆
Miasma
Stone.
Mendengar nama yang tidak asing itu, Konoe menggali kembali pengetahuan yang ia
pelajari saat masih menjadi siswa pelatihan.
"……E-eh,
kalau tidak salah, Miasma Stone itu bahan untuk Elixir, obat
penyembuh penyakit mematikan."
"Benar,
itu bahannya. Dan dari sekian banyak bahan, itulah yang paling penting dan
paling sulit didapatkan."
Ucap Melmina sambil menarik dokumen dari rak dan
menumpuknya di atas meja. Ia menambahkan bahwa karena kekurangan bahan ini, Elixir
tidak bisa diproduksi dalam jumlah banyak.
──Miasma Stone. Itu adalah bahan baku untuk Elixir
yang menyembuhkan penyakit mematikan, sekaligus merupakan bentuk padat dari Miasma
yang menyebabkan penyakit tersebut.
Seingatnya, konsep "erosi" diambil dari Miasma
Stone, lalu melarutkan berbagai macam benda untuk dijadikan obat.
Ia merasa ironis bahwa penyebab penyakit justru
menjadi bahan baku obat penyembuhnya, tapi begitulah kenyataannya.
"……Miasma Stone bisa diambil di bagian
terdalam penjara bawah tanah, kan?"
"Iya.
……Secara teknis, bisa juga dibuat secara buatan dari pohon polusi yang dibeli
dari desa perintis, tapi efisiensinya terlalu buruk sehingga tidak bisa
menghasilkan jumlah yang banyak."
Itulah kenapa harganya ditekan semurah mungkin, dan desa
perintis tetap miskin selamanya, Melmina menghela napas.
Pohon polusi adalah sumber dana desa perintis yang
semakin menguntungkan jika semakin banyak diambil karena merupakan bahan baku Elixir.
Namun, jika ditanya apakah imbalannya sebanding dengan
risikonya, sepertinya tidak demikian.
Hal itu terlihat jelas hanya dengan melihat rumah-rumah
yang berjajar di desa perintis.
Kecuali jalan utama, hampir semuanya tampak seperti gubuk
kayu.
Padahal jika pergi ke kota yang sedikit lebih besar,
bangunan batu akan berderet.
"……Yah, lupakan soal desa perintis untuk sekarang.
Pokoknya, karena itulah Miasma Stone dibutuhkan untuk membuat Elixir,
dan aku ingin menyelidiki jumlah produksi di berbagai tempat untuk
mendapatkannya. Konoe, bantu aku ya."
"……Aku tidak keberatan, sih."
Sambil melihat dokumen yang diletakkan dengan suara debum
di depannya──Konoe merasa sedikit heran.
Ia tidak keberatan membantu, tapi, kenapa tiba-tiba Melmina
membutuhkan Elixir?
"──Aku butuh Elixir untuk membuat tubuh
Kakak."
"……Ah."
……Begitu ya. Soal kakak Melmina. Konoe juga mendengar
bahwa jiwanya berhasil diselamatkan dari Jamur Bencana, dan sekarang sedang
tertidur di dalam berkah Sang Dewa.
"Aku berniat membuat wadah untuk jiwanya
berdasarkan tubuhku…… tapi aku butuh Elixir untuk proses kultivasinya.
Karena butuh dalam jumlah besar, aku tidak bisa sekadar membeli yang ada di
pasar."
"……Jumlahnya tidak cukup, ya."
Karena Elixir dikelola oleh negara, barang
yang ada di pasar selain harganya mahal, jumlahnya pun sedikit.
"Jumlahnya memang jadi masalah, tapi
pertama-tama, jika aku membeli Elixir dalam jumlah besar dengan uang,
itu akan memicu kebencian."
"……Hm?"
"……Dengar ya, pada dasarnya satu botol Elixir
bisa menyelamatkan satu nyawa manusia. Jika aku mengumpulkannya secara paksa,
itu artinya akan ada nyawa yang melayang sebanyak jumlah yang
kukumpulkan."
"────"
"Semuanya, mereka tidak membeli barang semahal
itu karena mereka suka. Mereka menginginkannya karena mereka sendiri tidak
ingin mati, dan tidak ingin orang yang mereka sayangi mati."
──Masuk akal, pikir Konoe. Jika dilihat dari sudut
pandang itu, Elixir memanglah nyawa manusia itu sendiri.
Namun, jika ia membelinya secara paksa hanya karena
ia seorang Adept atau karena ia punya uang, yah, tentu saja ia akan
dibenci.
"Jadi, jika kamu menginginkan Elixir
dalam jumlah banyak, lebih baik buat sendiri. Aku ingin
kamu meminjamkan tanganmu untuk penyelidikan demi tujuan itu."
"……Ah, aku mengerti. Aku akan membantumu."
Apa pun itu, jika demi kakak Melmina, bagi Konoe itu
bukan urusan orang lain.
Karena di tengah pertarungan melawan jamur itu, alasan
Konoe bisa mendapatkan kembali Melmina tanpa kehilangan nyawanya adalah berkat
kakak Melmina.
……Panas itu, Konoe pasti tidak akan melupakannya seumur
hidup.
"Terima kasih. Ruang arsip hanya bisa dimasuki oleh Adept,
jadi ini sangat membantu. Nah, kalau begitu ini untukmu."
"……Ah."
Begitulah, Konoe mengambil dokumen yang ditunjuk,
membukanya, memegang pena──
◆
──Setelah itu, waktu pun berlalu. Sembari mencari dokumen dan menuliskan data, waktu terus berjalan.
Begitu matahari yang tadinya berada di posisi tinggi perlahan mulai condong.
"──Mari kita istirahat sebentar."
Atas perkataan Melmina, ia pun menghentikan tangannya.
Karena di dalam ruang arsip dilarang makan dan minum,
mereka memutuskan untuk pergi minum teh di kedai kopi yang ada di dalam
Sekolah.
Sembari merapikan dokumen, mereka keluar dari ruang
arsip──.
"……?"
──Hawa keberadaan itu mendekat tepat saat mereka keluar
ke koridor.
Itu adalah hawa keberadaan yang kuat dan besar. Konoe merasa tidak begitu mengingatnya, tapi ia yakin ia mengenalnya.
"Ah, ternyata benar, ya."
"……Melmina?"
Melmina yang berjalan di sampingnya tiba-tiba
mengembuskan napas panjang.
Sementara Konoe memiringkan kepala karena tidak mengerti
apa maksudnya, hawa keberadaan itu sudah berada tepat di dekat mereka.
Suara langkah sepatu katsun, katsun bergema. Sang pemilik suara muncul dari belokan koridor──.
"──Lama tidak bertemu, Konoe, Melmina."
──Tanduk biru dan sayap biru. Sang putri dari
kerajaan yang telah runtuh, Fonia Archinorca, berdiri di sana.
ï¼”
Meskipun manusia, ia memiliki kekuatan naga. Meskipun
manusia, ia melampaui batasan manusia.
──Dragonute. Ras yang sangat istimewa di dunia
lain, memiliki tanduk dan sayap yang indah.
Bagi orang Bumi, semua ras lain itu istimewa, tapi Dragonute
adalah ras yang spesial bahkan di dunia ini.
Kelangkaannya yang hanya berjumlah sekitar sepuluh ribu
di seluruh dunia──dan yang terpenting, kekuatan yang melampaui batasan manusia.
Tubuh yang tangguh dan sihir yang luar biasa besar
dikatakan jauh melampaui prajurit manusia biasa sejak lahir.
Kilau permata dan kekuatan yang dahsyat. Keduanya
dimiliki oleh eksistensi yang disebut Dragonute.
"──Lama tidak bertemu, Konoe, Melmina."
──Putri dari kerajaan Dragonute itu adalah Fonia
Archinorca yang berdiri tepat di depan Konoe.
Suaranya tenang, seolah berbisik. Bukan suara yang keras,
namun terdengar sangat jelas di telinga, suara yang misterius.
"Ya, lama tidak bertemu."
"……Ah, lama tidak bertemu."
Sembari membalas salamnya dengan jeda sedikit lebih
lambat dari Melmina, Konoe menatap sang putri yang tiba-tiba muncul──Fonia.
Ia dibalut gaun biru bergaya asing dengan hiasan rumit.
Tanduk dan sayap yang berkilau memantulkan cahaya.
Rambut biru legam dengan mata yang bersinar biru.
Di kedua lengannya yang terbungkus lengan baju yang
melambai, ia memeluk sesuatu yang berwarna putih.
"Konoe."
"……?"
Tiba-tiba, Fonia memanggil namanya. Lalu, ia melangkahkan
kaki ke arah Konoe. Terdengar bunyi katsun katsun, dan ia segera
sampai tepat di depan Konoe.
……Kedekatan yang tiba-tiba. Karena Fonia adalah
wanita yang luar biasa cantik, Konoe yang payah berkomunikasi—tipe orang yang
ingin lari jika didekati wanita cantik—pun merasa ingin melarikan diri.
"Ini, ambil."
"……Eh?"
Kepada Konoe yang kebingungan, ia memberikan
kata-kata singkat dan menyerahkan benda putih yang ia peluk tadi…… sepertinya
itu tumpukan kertas.
"Konoe, lihat."
──Lihat? Tumpukan kertas ini?
Sembari berpikir apa ini, Konoe mengulurkan tangan ke
arah tumpukan kertas itu sesuai perintah.
Saat mengambil yang paling atas, ia menyadari kertas itu
terbuat dari bahan yang keras dan sepertinya dilipat dua.
Saat membukanya……
"………………?"
Di dalamnya terdapat tulisan yang mendetail──dan foto
seorang wanita. Foto yang ia dengar bisa direproduksi beberapa tahun lalu.
Di sana, tertampang sosok wanita yang berpakaian indah.
Orang itu adalah Dragonute yang sama dengan Fonia
di depannya, wanita yang sangat cantik hingga membuat mata tak sanggup
berpaling, sedang tersenyum dengan tenang.
"………………Ini?"
"Tidak mau? Kalau begitu yang berikutnya."
Apa maksudnya "tidak mau"? Konoe hendak
bertanya, namun Fonia hanya berkata "berikutnya" dan menyerahkan
lembar kedua.
Saat
membukanya…… ternyata ada foto lagi.
Kali
ini wanita yang berbeda dari sebelumnya──seorang gadis.
Gadis Dragonute
yang berpakaian indah sedang tertawa dengan ceria.
"………………??"
"Berikutnya."
Begitulah,
Fonia terus menyerahkan foto-foto itu satu per satu dengan cepat. Total ada
sepuluh lembar, dan semuanya memperlihatkan wanita Dragonute yang
cantik.
"………………????"
"Bagaimana?"
Kepada
Konoe yang kebingungan, Fonia bertanya dengan sangat singkat.
Lalu……
Konoe teringat sesuatu. Dia memang orang yang berbicara
dengan cara seperti ini.
Jarang membuka mulut, dan jika membuka mulut pun ia
hanya bicara dengan datar.
Yah, sebenarnya Konoe sendiri pun tidak berhak
mengatakan orang lain pendiam.
……Tapi, justru karena itulah, saat malam bulan purnama
itu──di tempat latihan.
"──"
Konoe teringat satu-satunya percakapan yang pernah ia
lakukan dengannya di masa lalu──lalu menggelengkan kepala pelan.
Masalahnya sekarang bukan masa lalu. Lagipula, apa
sebenarnya benda yang diserahkan padanya sejak tadi ini……
"……Ini, sebenarnya apa?"
"Tsurigaki (resume perjodohan)."
"…………Hm?"
──Tsurigaki? Kepada Konoe yang mengernyitkan dahi, Fonia
memiringkan kepala…… dan setelah beberapa detik, ia mengangguk kecil.
"Ini adalah negosiasi pemindahan tempat tinggal.
Jika kau mau memindahkan markasmu ke wilayah otonomi Archinorca, kau boleh
memasukkan gadis-gadis ini ke dalam haremmu."
"………………Eh."
◆
──Eh? Apa katanya barusan? Konoe
membuka mulut lebar-lebar menatap sang putri di depannya. Lalu.
"……Gadis-gadis ini."
Fonia menyentuh foto di tangan Konoe dengan ujung
jarinya.
"Mereka adalah putri-putri dari keluarga menteri
senior yang sudah lama mengabdi pada Archinorca. Mereka memiliki darah istimewa
bahkan di antara para Dragonute. Biasanya mustahil bagi mereka untuk
menikah dengan pria bukan Dragonute."
"……?"
"Tapi, jika itu kamu, jika kamu mau melindungi
tanah dan rakyat Archinorca, mereka sendiri yang mengajukan diri untuk masuk ke
dalam haremmu dan mengabdi padamu."
"………………??"
Konoe bingung dengan pembicaraan yang terus berlanjut
tanpa sepengetahuannya, sementara Fonia terus melanjutkan dengan datar.
Ia mengatakan mereka adalah gadis-gadis yang
seharusnya hanya bisa menikahi istri pertama.
Bahkan ada gadis yang seharusnya memilih mati karena
malu, katanya.
"Bukankah pria menyukai gadis dari darah yang
mulia dan langka seperti ini?"
"……………………………………????"
…………Benar-benar,
pembicaraan macam apa ini? Konoe tertegun.
"Karena
kita harus menjaga kemurnian darah, tidak bisa semuanya, tapi maksimal tiga
orang. …………? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? ……Apa mungkin kamu mau
semuanya?"
"Bukan
begitu."
Konoe
benar-benar menyangkal karena sepertinya ia akan disalahpahami dengan hal yang
sangat keterlaluan.
Lagipula, kenapa bicara soal harem?
Tidak, memang benar dulu ia pernah bercita-cita memiliki
harem. Itu fakta. Tapi……
"……? Jadi, gadis-gadis ini tidak boleh?"
"……Bukan, itu, bukan tidak boleh sih."
Ia merasa ada sesuatu yang aneh dari dasar pembicaraan
ini. ……Di sanalah Konoe akhirnya bisa menenangkan kebingungannya. Ia berpikir
harus menjelaskan dari mana dulu.
"Jika darah mereka tidak bisa, maka hanya keluarga
kerajaan yang…… jangan-jangan, aku?"
"…………Eh."
"……Ya, jika begitu──dengan syarat, bukannya
mustahil."
"…………Eh."
"……Mulai sekarang, mohon bantuannya, ya? Tuanku?"
"…………Eh!?"
Konoe kembali bingung dengan bom yang terus
diledakkan. Fonia tetap dengan suara datarnya bergumam bahwa ia tidak akan
mewarisi kepemimpinan keluarga, ia punya tiga adik laki-laki, dan lagipula, apa
gunanya──
"──Kakak, Kakak!"
"──Kakak, mohon tunggu sebentar!"
──Lalu, tepat saat itu, terdengar dua suara baru.
Saat melihat ke arah belokan koridor, ada dua gadis yang
berlari mendekat. Gadis Dragonute dengan tanduk dan sayap
berwarna hijau, berbeda dengan Fonia. Mereka berdua kembar dengan wajah yang
persis, gaya rambut dan pakaiannya pun serupa.
"Ada apa?"
Di telinga Fonia yang bertanya, para gadis itu mendekat
dari kiri dan kanan serta membisikkan sesuatu dengan suara pelan.
Samar-samar terdengar suara yang bersahutan seperti
"Ada yang aneh!" atau "Tidak sesuai dengan cerita yang kami
dengar!", atau "Mari kembali dulu untuk rapat strategi!".
Fonia tampak heran sejenak setelah mendengar itu,
lalu mengangguk.
"Aku
mengerti. ……Maaf, Konoe. Hari ini permisi dulu."
"……A, ah, iya."
Fonia berkata begitu lalu pergi dengan cepat. ……Konoe
memandangi punggungnya yang menjauh dengan tatapan kosong.
"……Begitu ya."
"……Melmina?"
Di sana, Melmina yang sedari tadi diam di sampingnya
bergumam pelan.
Wajahnya tertunduk, sehingga Konoe tidak bisa melihat
ekspresinya──.
"──Lagipula, memang lebih baik jika kita
bertindak lebih dulu."
──Melmina bergumam dengan suara yang sedikit lebih
rendah.
"Konoe, hari ini kita akhiri sampai di sini. Terima
kasih sudah membantu, ini sangat menolong."
"……Eh, ah, iya."
"Aku pasti akan memberimu imbalan lain kali──kalau
begitu sampai jumpa, segera."
Mengatakan itu, Melmina pun pergi dengan terburu-buru.
Konoe hanya bisa melepas kepergiannya tanpa memahami situasi.
…………Beberapa detik, ia terus menatap ujung koridor.
"……Pulang, deh."
Ia bergumam sambil merasa lelah yang aneh. Terlalu
banyak hal yang tidak bisa dipahami dan mengejutkan hari ini.
Saat berpikir lebih baik segera kembali ke penginapan
dan bersantai, ia pun menuju pintu masuk──.
"──Ah, Konoe, pas sekali. Maaf, maaf, membuatmu
menunggu. Kamu bisa sekarang?"
"……Eh? Instruktur?"
──Begitu sampai di depan pintu masuk, ia disapa oleh
sang instruktur. Instruktur
mendekat sambil menggoyangkan rambut perak lembutnya…… dan di sana Konoe
teringat alasan ia datang ke Sekolah hari ini.
"………………Ah."
Instruktur,
lalu surat yang sampai di penginapan──ah, benar juga, aku dipanggil oleh
instruktur, pikirnya.
5
"Maaf
membuatmu menunggu meski aku yang memanggil. Nah, untuk
sementara, ayo kita pergi ke tempat latihan di bawah."
"……Tempat latihan?"
"Sebenarnya, ada sedikit hal yang ingin kutanyakan
soal teknik yang kau kuasai terakhir kali."
Yah, detailnya akan dibicarakan di bawah, kata
instruktur sambil mulai berjalan.
Maka Konoe mengikuti instruktur dari belakang sembari
bertanya-tanya hal apa itu.
……Sejujurnya, karena banyak hal terjadi hari ini, ia
merasa sedikit ingin pulang──tapi karena berpikir tidak boleh mengerjakan
urusan instruktur dengan asal-asalan, Konoe meluruskan punggungnya dengan
serius.
"Sepertinya kamu mengalami hari yang berat,
ya?"
……Namun, isi hati Konoe yang seperti itu langsung
terbaca dengan mudah oleh instruktur.
Dan──tiba-tiba, nyari, ia tersenyum dengan
cara yang menyebalkan.
"Jadi, Konoe, bagaimana?"
"……Bagaimana, apanya?"
"Kamu dirayu, kan? Banyak gadis cantik di sana,
ya."
Instruktur tertawa sambil terus menggoda.
……Begitu ya. Sepertinya instruktur tahu segalanya.
Lagipula, sekarang dia sedang menggodaku. Konoe
memahami hal itu, merasa sedikit penat, lalu berkata.
"Bagaimana? Apa kesanmu setelah diajak
bergabung?"
"……Kalau
ditanya kesan…… aku terkejut."
Saat Konoe berkata jujur sambil menghela napas,
instruktur tersenyum kecut.
"Pasti, ya. Tapi, setelah ini tawaran pindah
kerja akan datang secara rutin, dan kamu juga harus membiasakan diri,
lho?"
"………………Secara rutin?"
"Ya, hal itu tidak akan hilang. Setiap negara
kekurangan Adept. Kamu tahu itu, kan?"
……Itu, memang Konoe pahami.
Tidak peduli seberapa banyak bertarung, Dewa Jahat masih
ada, ujung labirin tidak terlihat, dan monster meluap-luap di permukaan bumi.
Karena itulah Adept selalu kekurangan. Saat di
Silmenia, saat di tempat Telnerica, pun sama.
"Meski ada aturan agar tidak terjadi perebutan
tawaran yang sengit──seperti pemberitahuan sebelumnya ke negara asal, atau
penentuan periode negosiasi──tapi setiap negara mati-matian ingin menambah Adept
mereka sendiri. Jadi tentu saja, tawaran akan datang ke semua Adept.
Begitulah aturannya. ……Apalagi kamu punya rekam jejak."
"…………? Rekam jejak?"
Saat Konoe memiringkan kepala…… instruktur
memasang wajah yang seolah tidak habis pikir.
"Dengar ya, kenapa kamu memasang wajah heran
padahal kamu sudah membunuh dua bencana?"
"……Ah."
Begitu dikatakan, ia tersadar. Benar juga, itu mungkin
dihitung sebagai rekam jejak.
"……Konoe, indramu agak melenceng, ya. Adept
yang membunuh dua bencana──tidak, Adept yang pernah membunuh satu
bencana saja tidak banyak, lho?"
"…………Benarkah begitu?"
"Tentu saja. Bencana itu kalau muncul satu dalam
setahun di seluruh dunia saja sudah termasuk banyak. Meskipun frekuensi
kemunculannya beragam, dalam seribu tahun tidak sampai seribu yang muncul, dan
separuhnya dibunuh olehku atau orang-orang nomor satu di tiap negara."
……Kalau dipikir-pikir, Konoe teringat sesuatu.
Seingatnya, Adept yang masih hidup saat ini berjumlah sekitar sembilan
ribu orang.
Jika dipikir begitu, mungkin memang sedikit Adept
yang pernah bertemu bencana.
……Konoe yang bertemu beberapa bencana dalam puluhan
hari ini, memang abnormal.
"Jadi, karena itu, tadi aku tertawa bilang
keberuntunganmu buruk, tapi itu sebenarnya hal yang luar biasa, lho."
"……Hah, haa."
"Apa aku terlalu banyak menggodamu ya…… maaf,
ya. Nah, sekali lagi. Konoe, selamat──sebagai gurumu, aku bangga padamu."
"────"
Ekspresi instruktur yang tampak merasa bersalah dan
kata-kata pujiannya.
Terhadap kata-kata itu──kata-kata dari sang guru yang
telah mengajarinya selama dua puluh lima tahun.
Kata-kata dari guru yang tidak pernah menyerah
padanya—yang keras, tegas…… namun tidak pernah membuang dirinya yang tak
memiliki bakat sedikit pun, dan terus melihatnya hingga akhir.
"──I-iya."
Ia juga pernah mengatakannya setelah kejadian di
Silmenia, tapi tetap saja, dada dan wajahnya terasa panas.
Ia merasa sangat malu.
Kepada Konoe yang tanpa sadar menunduk, instruktur
tersenyum lebar sambil menepuk punggungnya dengan pelan──.
◆
──Lalu, sembari mengobrol, mereka menuruni tangga dan
sampai di pintu tempat latihan bawah tanah.
Ia mendorong pintu logam berat di pintu masuk dan masuk
ke dalam.
"……Nah, kembali ke pembicaraan kita yang sempat
melenceng."
"……?"
"Soal negosiasi pindah kerja tadi. ……Dengar, Konoe.
Ini adalah permintaanku padamu──tolong jangan membenci Archinorca karena
kejadian ini."
──Membenci? Setelah berkedip, Konoe menggelengkan kepala,
bilang ia tidak punya niat begitu. Ia terkejut, memang sangat terkejut, tapi
hanya itu.
"……Begitu ya, aku lega. Sebagai orang yang memegang
posisi ini, aku tidak bisa ikut campur dalam proposal negosiasi, tapi arahnya
memang ada banyak yang salah, sih."
"……"
"Seharusnya mereka melakukan penyelidikan lebih
dulu………… tidak, mungkin juga tidak."
"……?"
"Bahkan kalau diselidiki pun tidak akan tahu. Soalnya kamu itu orang yang tidak pernah bilang menginginkan apa.
Maksudku, sebenarnya apa sih yang kamu inginkan?"
Aku pun hanya tahu soal rumah, kata instruktur.
"Tapi soal rumah, beli saja secara biasa. Lalu kalau
soal makanan lezat, kamu itu tipe orang yang makan makanan darurat balok itu.
Pakaian yang dipakai tiap hari desainnya mirip, status, kekuasaan, ketenaran,
seni, dan uang yang berlebih pun, tidak terlihat tertarik pada apa pun."
……Itu. Jika dikatakan begitu, Konoe sendiri pun tidak
terpikir barang apa yang ia inginkan.
"……Yah, jadi pada akhirnya terpaksa mengandalkan
ingatan Fonia ya. Padahal dari syarat, resume itu luar biasa, lho. Ada putri Dragonute
yang bercampur di sana."
"…………Putri (Hime-miko)?"
"Anggap saja dia spesial setara dengan keluarga
kerajaan. Terlepas dari apakah kamu sekarang tergerak hatinya oleh harem atau
tidak, itu menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam mengajakmu."
Pejabat yang menerima rencana rekrutmen itu bukan hanya
melihat dua kali, tapi tiga sampai empat kali, instruktur bergumam. Aku pun
jujur terkejut, katanya.
"──Mungkin mereka akan datang lagi dengan mengubah
syaratnya. ……Sebab negara di sana sekarang sedang dalam masalah. Tahun lalu bencana muncul, dan
tiga Adept terbunuh."
"……Bencana……
eh, t-tiga orang?"
"Muncul Fenrir, serigala langit yang
memiliki otoritas akselerasi. Adept yang telat bereaksi tampaknya
dibantai satu per satu. Sepertinya bahkan tidak sempat menggunakan Unique
Magic."
Konoe
mengerutkan pipinya. ……Berbicara soal Fenrir, itu adalah monster kelas
bencana yang larinya sangat cepat. Jika monster seperti itu mendapatkan Unique
Magic akselerasi.
"Jadi, sepertinya mereka putus asa. Tampaknya satu
tahun ini mereka sibuk untuk menutup lubang. Apalagi di sana──ada sesuatu yang
harus dilindungi bagaimanapun caranya."
"……"
"──Aku sudah memberitahumu kan, apa itu?"
Instruktur menatap mata Konoe. Itu…… itu, Konoe
memang tahu.
"……Ya, di bawah tanah Archinorca, Raja Iblis
disegel."
◆
Itu adalah monster kehancuran yang konon mengurangi
populasi dunia hingga dua puluh persen seribu tahun lalu.
Kejahatan yang menyebarkan Miasma dan mencemari
seperlima dunia.
Raja Iblis yang memiliki otoritas kebangkitan yang tidak
bisa dibunuh oleh siapa pun, bahkan oleh instruktur, Origin, atau
legenda lainnya.
──Di bawah tanah Archinorca, Raja Iblis yang abadi sedang
tidur.
Dan Archinorca terus menjaga segel itu selama seribu
tahun. Anekdot tentang mereka yang terus menjaga segel tersebut seratus tahun
yang lalu meski menerima kerusakan hingga kehilangan bentuk negara dari Naga
Langit, sama terkenalnya dengan legenda instruktur.
"Tugas yang berat dan panjang. Tidak peduli
berapa banyak kekuatan tempur hebat yang ada, itu tidak akan pernah cukup.
Setelah kejadian tahun lalu, kita sudah mengirim Adept dari negara kita
dan sekitarnya, tapi mereka pasti menginginkan Adept yang benar-benar
menetap di sana."
"Jika hanya pengiriman, tentu saja kurang
sungguh-sungguh," gumam instruktur. "Mereka pasti ingin orang yang
bisa menjaga tanah dan rakyatnya dengan benar untuk datang ke sana,"
katanya.
Konoe menunduk, mengangguk pada kata-kata instruktur
itu……
"…………"
"…………"
……Setelah kata-kata itu, percakapan pun terputus.
Konoe dan instruktur terus berjalan di dalam tempat
yang menyerupai padang gurun dengan gunung batu yang menjulang tinggi dalam
diam.
Waktu yang tenang. Suara langkah kaki za, za
bergema. Instruktur memandang jauh dengan mata yang menyipit seolah sedang
mengenang sesuatu.
──Dan, saat mereka sudah hampir mendekati pusat.
Tiba-tiba, instruktur bergumam──ah. Suara yang
berbeda dari sebelumnya, suara yang seolah menyadari sesuatu.
"──Emm, meski aku bicara begitu, jangan salah
paham ya? Aku sudah menjelaskan banyak hal, tapi bukan berarti aku menyuruhmu
pergi ke Archinorca."
"……Eh, ya."
"Pencapaian besar yang diraih negara itu dan
pemindahan tempat tinggalmu adalah masalah yang berbeda. Lagipula masih ada Adept
lainnya."
Ngomong-ngomong, soal pindah kerja, instruktur
berkata dengan wajah serius. Karena kamu akan hidup lama di sana,
jangan memutuskan karena dorongan sesaat.
Pindah kerja berarti kehidupan akan berubah, jadi jangan
menilai hanya dari imbalan, tapi yang terpenting adalah apakah kamu bisa hidup
dengan baik di sana atau tidak.
"Jadi jika kamu berpikir untuk pindah kerja,
selidiki dengan baik, lihat syaratnya, bandingkan dengan keadaan sekarang, lalu
putuskan. Lebih baik berpikir untuk pergi jika kamu memang benar-benar ingin
pergi."
"……Ya."
"……Ngomong-ngomong, jika berbicara soal
premis──sebenarnya aku dan Sang Dewa adalah pihak yang tidak ingin kamu pergi. Mungkin aku tadi bicara terlalu
condong ke posisi Archinorca. ……Untuk menyeimbangkan, bagaimana kalau aku
ceritakan hal-hal bagus dari negara ini supaya kamu tidak pindah?"
Dengan begitu, pertama-tama soal uang dan barang,
instruktur menghitung dengan jari.
Katanya, negara yang telah memanggil orang dari dunia
lain dan mengambil pengetahuannya ini, kini mengumpulkan uang dan barang dari
seluruh dunia.
Jika di Archinorca, imbalan pekerjaannya akan jauh
lebih sedikit.
Selain itu, negara ini keamanan lingkungannya baik,
teknologinya maju dan nyaman, makanannya enak, ada makanan manis, katanya.
Dan──.
"──Dan, yang terpenting, negara ini punya Sang Dewa.
Bobot ini tidak akan pernah kalah, apalagi lebih rendah dari Archinorca."
──Melindungi Sang Dewa. Pentingnya hal itu, tidak perlu
dijelaskan lagi.
◆
Setelah itu, sembari berjalan, pembicaraan tentang
hal-hal bagus dari negara ini terus berlanjut.
Terkadang dengan serius, terkadang dengan nada
bercanda, instruktur terus berbicara──
"Selain itu, apa ya. Mungkin karena ada aku.
……Senang, kan?"
"…………Ya."
"Eh, apa barusan jawabannya terlambat?"
"Tidak."
Selagi melakukan hal itu, mereka berdua sampai di tengah
tempat latihan. Di sana instruktur berhenti.
"Nah. Meski kita bicara panjang lebar tentang
banyak hal…… sebenarnya ini baru inti dari pembicaraan. Alasan kenapa
aku memanggilmu hari ini."
"……Ya."
"Tolong perlihatkan padaku, aktivasi ganda alat
sihir yang katanya kau kuasai saat pertempuran tempo hari."
ï¼–
──Menghancurkan pisau dengan petir, menempa, lalu
menembakkannya dengan tinju.
──Mengaktivasi alat sihir secara ganda, menahan
sirkuitnya agar tetap terhubung, dan menciptakan ratusan hingga ribuan pisau.
Itu adalah kekuatan yang Konoe bangkitkan di tengah
pertempuran melawan jamur. Kekuatan yang ia peroleh untuk mendapatkan kembali Melmina.
"……Mungkin sekitar sini."
"…………"
Suara Konoe bergema di tempat latihan yang dipenuhi
debu tanah. Sesuai instruksi instruktur, ratusan pisau menancap di gunung batu
yang telah disiapkan, dan di dalamnya terkandung petir.
Kekuatan yang berguna karena bisa digunakan untuk
serangan sederhana maupun jebakan. Konoe mengenali kekuatan ini sebagai
kekuatan itu.
Satu-satunya kelemahan adalah alat sihirnya akan hancur
setelah pertempuran. Tapi, jika itu hanyalah barang yang tidak terlalu mahal
seperti pisau, itu bukan masalah.
"………………Instruktur?"
"……Aku terkejut."
Entah mengapa, instruktur tidak memberikan jawaban
dan hanya melontarkan satu kalimat itu.
……Terkejut? Saat menoleh, instruktur tampak melongo
dengan mulut terbuka lebar, pemandangan yang belum pernah Konoe lihat
sebelumnya.
"Tidak, aku terkejut. Benar-benar
terkejut."
"……?"
"Dengar
ya, Konoe. Ini adalah Primitive Magic."
……Primitive
Magic?
◆
──Primitive
Magic. Itu adalah sihir yang diaktifkan bukan melalui teknik, melainkan
melalui insting.
Sihir
yang berbeda dari sihir yang diberikan oleh Sang Dewa, sihir yang menyimpang.
Bukan teknik yang diciptakan oleh Dewa, melainkan kemampuan yang diasah dari
insting manusia.
Primitive
Magic adalah
sihir seperti itu. Sihir khusus yang berbeda dari sihir umum maupun Unique
Magic. Itu adalah penciptaan sihir baru oleh tangan manusia, sebuah ranah
yang hanya bisa dicapai oleh segelintir orang jenius.
"……Ini,
apakah benar Primitive Magic?"
"Ya,
tidak diragukan lagi. ……Lagipula, apa kamu tidak merasa ada yang aneh?
Biasanya, kamu tidak akan bisa secara paksa menghubungkan sirkuit alat sihir
yang seharusnya habis terbakar."
"……Itu."
"Ini jelas melampaui batas manipulasi sihir biasa.
Tentu saja ini juga bukan Life Magic, karena ini bukan nyawa. Jika itu Alchemy
Magic atau Formation Magic, mungkin bisa melakukan hal serupa,
tapi……."
Jika dipikirkan, memang benar begitu.
……Tidak, sebenarnya Konoe sendiri merasa ada yang
tidak beres.
Namun, ia tidak pernah mengaitkan dirinya dengan Primitive
Magic yang katanya hanya bisa dibangkitkan oleh orang jenius.
(……Eh? Tunggu dulu, itu artinya…… apa ini berarti aku
memiliki bakat untuk Primitive Magic……?)
Dirinya yang tiba-tiba bisa menggunakan Primitive
Magic—sesuatu yang hanya bisa digunakan orang jenius—tanpa ia sadari.
Apakah dirinya, yang sama sekali tidak memiliki bakat,
ternyata memiliki bakat seperti ini?
Konoe menatap lekat-lekat tangannya sendiri yang baru
saja menembakkan pisau tadi.
Dua puluh lima tahun sejak ia mulai berlatih untuk
menjadi Adept. Apakah akhirnya ia menemukan bakatnya sendiri──.
"Aku benar-benar terkejut…… tidak kusangka."
"……Ya."
"Tidak kusangka, karena kamu tidak punya bakat
bawaan sama sekali, kamu justru malah membangkitkan Primitive Magic……"
"………………Eh?"
◆
……?? Karena tidak punya bakat bawaan sama sekali?
Saat Konoe mengerjapkan mata, instruktur
menggelengkan kepalanya pelan.
"……Konoe, apa yang akan kubicarakan setelah ini,
jangan disebarkan ke tempat lain, ya."
"……Eh, baik."
Instruktur memberikan peringatan bahwa ini bukan hal yang
ingin ia sebarkan secara umum. Lalu.
"Sebenarnya, Primitive Magic itu tidak
menggunakan sihir (mana), melainkan menggunakan kekuatan jiwa──kekuatan
kehendak."
"……Jiwa? Itu……."
"Sama seperti Unique Magic. Keduanya memiliki
sumber yang sama."
Instruktur mengangkat jari telunjuknya, memberi isyarat
untuk membandingkannya.
"Pertama, soal Unique Magic. Unique Magic
adalah sihir yang terukir di dalam jiwa karena adanya hasrat yang
mendalam."
Instruktur menjelaskan bahwa Unique Magic adalah
kekuatan yang aktif karena seseorang mengukir keinginan hingga rela mati ke
dalam jiwanya.
Itulah
sebabnya, setiap orang hanya memiliki satu Unique Magic. Itu karena jiwa
hanya ada satu, dan bentuk yang sudah terukir tidak akan bisa kembali lagi.
"──Oleh
karena itu, Unique Magic tidak akan berubah meskipun hasrat itu sudah
tercapai. Meskipun kamu mendapatkan hasrat baru, itu tidak akan berubah. Karena
luka yang terukir di jiwa tidak bisa hilang. ……Yah, kalau dia punya kekuatan
untuk memanipulasi jiwa seperti jamur yang ada di laporan itu, mungkin
ceritanya berbeda."
"……Ya."
"……Lagipula,
mungkin sudah terlambat untuk mengatakannya, tapi kekuatan jamur itu
benar-benar luar biasa. Untung saja kamu membunuhnya. Jika ia bebas
memanipulasi jiwa, satu kesalahan saja bisa membuatnya menjadi Raja
Iblis."
……Itu benar juga. Konoe mengangguk sambil mengingat
kejadian saat itu.
Monster
jamur yang menggunakan dua jenis Unique Magic.
Seandainya
jamur itu menggunakan tiga atau empat jenis Unique Magic, apakah Konoe
sanggup menanganinya?
……Setelah
beberapa hari berlalu, Konoe baru bisa mengembuskan napas lega.
Baik
soal naga maupun jamur, meski pada akhirnya ia menang, jika salah langkah
sedikit saja, ia mungkin sudah mati.
Itulah
pertarungan melawan bencana.
"Maaf,
pembicaraannya melenceng. Intinya, Unique Magic adalah
kekuatan seperti itu. Kurasa kamu sudah tahu sampai di sini. Nah, sebagai
lawannya, Primitive Magic itu……."
"……Ya."
"Primitive Magic sama seperti Unique Magic
dalam hal menggunakan kekuatan jiwa untuk aktif, tapi ia tidak terukir di jiwa.
Jadi, kamu tidak terbatas hanya satu, kamu bisa menggunakan sebanyak apa pun
yang kamu mau."
Terlebih lagi, lanjut instruktur, kekuatannya sangat
bervariasi dan merupakan kekuatan praktis yang bisa digunakan terlepas dari
berkah apa pun yang dimiliki.
"Tapi, tentu saja ada kekurangannya. Pertama, output-nya
rendah. Cost-performance-nya juga rendah──kalau memakai istilah dunia
lain, boros energi. Bahkan jika menggunakan kekuatan yang serupa, antara Unique
dan Primitive, bedanya bisa puluhan kali lipat."
"……Puluhan kali lipat."
"Dan yang paling penting…… kekuatan
jiwa itu sulit. Tidak seperti sihir biasa, sulit untuk merasakannya. Apalagi
menjadikannya sihir. Biasanya, orang hanya bisa mengukir Unique di jiwa
mereka dan mengeluarkan kekuatan ke sana saja sudah maksimal."
……Masuk akal, pikir Konoe. Jadi karena itu ia disebut
hanya bisa digunakan oleh orang jenius.
Sejauh
ini ia mengerti. ……Namun, itulah mengapa ia merasa heran.
Apa maksudnya tadi soal "karena tidak punya bakat
sama sekali"?
"──Jadi, alasan mengapa kamu bisa menggunakan
kekuatan sesulit itu adalah karena……."
"……Ya."
"Kekuatan jiwamu meluap keluar dari
wadahnya……."
──Meluap, maksudnya.
"Terlalu banyak menyimpan kekuatan jiwa, sampai
meluap, lalu karena mencari tempat untuk disalurkan, ia berubah menjadi Primitive
Magic dengan sendirinya."
"……Dengan sendirinya?"
"Mungkin? Aku juga baru pertama kali melihatnya,
jadi tidak bisa memastikan secara mutlak…… tapi
berdasarkan instingku, kurasa begitu."
Kepada Konoe yang bingung, instruktur memegang
dagunya dan bergumam.
"Ini pertama kalinya. Biasanya, hal seperti ini
tidak terjadi. Jika seseorang punya kekuatan jiwa sampai meluap, mereka akan
bisa menggunakan Unique sebelum Primitive."
Instruktur menjelaskan bahwa karena kekuatan jiwa
seharusnya dikonsumsi sebagai Unique Magic, maka seharusnya tidak akan
sampai meluap.
"Tidak aneh jika jiwamu menjadi kuat. Jiwa memang
bawaan sejak lahir, tapi jiwa juga bisa ditempa di tengah kesulitan. Oleh
karena itu, tidak jarang kandidat Adept yang tidak punya Unique
justru bangkit saat latihan."
"……Ya."
"……Kenapa kamu tidak bisa menggunakan Unique
Magic juga?"
"……Meski ditanya begitu."
Itu adalah hal yang paling ingin diketahui oleh Konoe.
Padahal Konoe juga ingin bisa menggunakannya.
"Aneh, ya. Jika kekuatan jiwanya sekuat itu,
seharusnya hasrat dan keterikatannya juga kuat. Karena itulah para Adept
langsung mencari hasrat baru setelah mencapai hasrat mereka yang lama."
"……?"
"……Apa karena kamu orang dari dunia lain? Tidak,
bukankah ada laporan tentang orang dunia lain yang bisa menggunakan Unique……?
Lalu kenapa?"
Instruktur mengerutkan kening sambil bergumam.
Konoe merasa tidak bisa berkata apa-apa melihat sosok
instruktur tersebut……
◆
"Yah, kalau tidak tahu mau bagaimana lagi,
ya."
"………………"
──Setelah beberapa lama, instruktur menyerah. Ia lalu
memberikan penjelasan tambahan tentang Primitive Magic.
"Jadi, soal Primitive Magic, dilarang
untuk disebarluaskan ke masyarakat."
"……Begitukah?"
"Ya, karena jika kekuatan jiwa digunakan oleh
orang biasa, jiwa mereka akan rusak berantakan, dan dalam kasus terburuk,
mereka bisa mati. ……Lagipula, Primitive Magic tidak punya sistem
pengaman."
Karena berbahaya, makanya dilarang, kata instruktur.
Ia ingin orang-orang menggunakan sihir umum yang
lebih praktis, mudah dipelajari──dan yang terpenting, aman.
Konoe
pun teringat…… ah, instruktur pernah hampir membunuh anjing kesayangannya
karena mengigau saat menggunakan Primitive Magic.
Memang
benar, lebih aman menggunakan kekuatan yang tidak membahayakan.
"……"
…………Konoe bertekad untuk melepas alat sihirnya jika tidur
mulai saat ini.
◆
"──Nah, ayo pulang!"
Mereka pun beres-beres dan keluar dari tempat latihan
bersama. Berjalan berdampingan, menaiki tangga selangkah demi selangkah.
"Wah, hari ini banyak sekali kejadian, ya."
"……Ya."
Suasana setelah menyelesaikan pekerjaan. Atmosfernya tenang dan langkah
kaki mereka santai.
"Hari
seperti ini paling enak minum alkohol…… eh, ngomong-ngomong soal alkohol,
sepertinya aku belum pernah minum denganmu."
"……Soal
itu, ya."
"Mari
kita minum bersama dalam waktu dekat! Aku tahu kedai yang bagus."
"……Yah, kalau ada kesempatan, nanti."
Konoe hanya perlu pulang. Instruktur pun sepertinya tidak
punya pekerjaan lagi setelah ini karena sudah membahas soal minum.
Hubungan guru-murid yang sudah terjalin dua puluh lima
tahun, hubungan yang tanpa sekat, terutama dari pihak instruktur.
Namun bukan berarti Konoe tidak membuka hati padanya.
"──Jadi, tadi calon tunanganku bertanya. 'Di antara
yang pernah kau lawan, monster mana yang terkuat kedua?' Tepat setelah aku
duduk dan menyapa. Biasanya kan tanya hobi? Tidak menurutmu aneh?"
"……Ya."
"Mengecualikan yang nomor satu rasanya licik
sekali…… yah, yang nomor satu memang Naga Langit, sih."
"……Ya."
Konoe berjalan sambil menanggapi dengan asal obrolan
yang dilontarkan instruktur.
──Dan, ini terjadi saat mereka sedang berbincang
ringan.
"──Ngomong-ngomong, belakangan ini kamu……."
"……Ada apa?"
"Sering bersama perempuan, ya."
……?
Benarkah? Konoe mengerjapkan mata mendengar kata-kata tak terduga itu…… tapi
tidak, memang benar ia tinggal bersama Telnerica, pikirnya.
"Jadi,
ini saran dariku bukan sebagai gurumu, tapi sebagai seorang kakak yang hidup
sedikit lebih lama."
"……Ya."
"…………………………Apa
kamu barusan berpikir, 'memangnya kau sudah pantas disebut kakak'?"
"……Tidak."
(Aku tidak berpikir begitu. ……Malah, rasanya
instruktur belakangan ini sering sekali seperti ini.)
Konoe memiringkan kepala, bertanya-tanya apakah
sesuatu terjadi.
"……Hmm. Pokoknya, sebagai kakak, aku akan beri
satu saran──di antara para perempuan, hati-hatilah dengan mereka yang memiliki Unique
Magic."
"……Memiliki Unique Magic?"
"Ya. Seperti yang kubilang tadi, mereka yang
punya Unique Magic itu jiwanya kuat. ……Jadi maksudnya, mereka
itu──banyak yang 'wanitanya berat'."
──Wanita, berat?
"Hati-hati, ya. Jangan mendekat dengan perasaan
main-main. Nanti saat sadar, kamu sudah tidak bisa lari lagi."
"……Hah, begitu ya."
"Konoe, kamu tidak mengerti, ya? Kalau
mau mendekat, harus ada tekad. Dengan
pemilik Unique Magic…… dan juga, hati-hatilah dengan mereka yang
terlihat akan membangkitkannya."
Meski dikatakan begitu, Konoe tidak paham apa yang
dimaksud instruktur.
Karena
Konoe tidak bisa membayangkan apa itu 'wanita berat'. ……Terlepas dari pemilik Unique
Magic, orang seperti apa yang akan membangkitkannya? Konoe bergumam dengan
kesadaran yang sedikit melayang.
"Maksudnya
yang akan membangkitkannya adalah…… ya, mereka yang penuh vitalitas."
"……Hah."
"Tipe
orang yang akan melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan orang biasa……
mengalahkan monster kelas atas berturut-turut, belajar begadang selama
berhari-hari, atau terus bekerja tanpa istirahat selama puluhan hari."
Memang terdengar penuh vitalitas. Tapi Konoe pikir
tidak ada orang seperti itu di sekitarnya.
"Yah, pokoknya hati-hati, ya."
"……Hah, ya, mengerti."
Sembari mendengarkan setengah hati, mereka akhirnya
sampai di pintu masuk Sekolah.
Karena hanya obrolan ringan, perpisahan mereka pun
singkat. Keduanya berpamitan dan pergi ke arah yang berbeda──.
◆◇◆
──Setelah berpisah, dia yang biasa dipanggil
instruktur itu pergi menuju kamarnya sendiri.
Mengingat percakapan dengan murid yang tadi
bersamanya, ia menaiki tangga.
"……Ah, benar juga. Ada satu lagi."
Tiba-tiba, ia bergumam. Itu adalah
hal yang baru saja mereka bicarakan. Soal mereka yang akan membangkitkan Unique
Magic.
"──Tipe yang meski terkena penyakit mematikan tahap
akhir, tetap bergerak dengan tekad."
Jika ada pemicunya, sepertinya mereka akan segera
membangkitkannya, pikirnya.
Sambil teringat gadis yang lima puluh hari lalu berteriak sambil memuntahkan darah di pelukan Konoe, ia bergumam seperti itu.



Post a Comment