Chapter 2
Permintaan
Penyelidikan
1
──Keesokan harinya, pagi hari. Konoe
terbangun di atas tempat tidur penginapannya.
Seperti biasa, ia melakukan rutinitas paginya, seperti
melatih Detection... lalu, "ah, benar juga," ia teringat
kejadian kemarin.
"…………Pemindahan tempat tinggal, ya."
Kemarin ada banyak hal yang terjadi, mulai dari urusan Melmina
hingga soal Primitive Magic, tapi hal itulah yang pertama kali muncul di
benaknya.
Mungkin karena itu adalah hal yang cukup mengejutkan. Ditambah lagi soal resume
perjodohan itu.
Fonia,
yang baru ditemuinya lagi setelah sekian lama, datang membawa tawaran tersebut.
Meski
kemarin ia sudah pulang, instruktur mengatakan bahwa ia pasti akan datang lagi
dengan mengubah syarat-syaratnya.
Konoe pun memahami alasannya, dan ia rasa kemungkinan
besar hal itu memang akan terjadi.
Mengenai tanggapan Konoe sendiri──sejujurnya, ia
tidak merasa tertarik.
Sebagai seseorang yang hidup di dunia ini, ia
berterima kasih atas apa yang telah dilakukan Archinorca, dan ia memahami
kondisi sulit negara mereka seperti yang dijelaskan instruktur. ……Namun.
"………………"
……Konoe menatap ke luar jendela. Berderet bangunan
dari batu berwarna putih bersih yang mengingatkannya pada kota-kota tua di
Eropa.
Di sana terdapat ibu kota negara tempat ia menghabiskan
dua puluh lima tahun sejak datang ke dunia ini.
Archinorca, setelah untuk pertama kalinya bersentuhan
dengan dunia di luar negaranya sendiri, Konoe kembali memandangi ibu kota itu.
Ia kembali memastikan tempat di mana ia berada saat ini.
Tempat ini adalah naungan Sang Dewa. Tanah suci tempat
bersemayamnya pecahan tubuh Dewa Tertinggi, satu dari sepuluh yang ada di dunia
yang begitu luas ini.
──Kerajaan Ilisia, tempat yang disebut sebagai ibu kota
dewa.
◆
"──Jadi begitulah, ada tawaran pindah tempat tinggal
dari Archinorca."
"……Begitu, ya."
Siang harinya, setelah merapikan pikirannya, Konoe
melaporkan kejadian ini kepada Telnerica.
Terlepas dari apakah ia akan menerimanya atau tidak,
karena mereka tinggal bersama, ia merasa perlu untuk memberitahukan hal
tersebut.
Hal-hal yang ia sampaikan adalah adanya negosiasi dari
Archinorca, bagaimana perasaan Konoe terhadap tawaran itu, serta kemungkinan
adanya negosiasi serupa secara berkala di masa depan.
……Mengenai syarat yang diajukan, yah, karena katanya
syaratnya akan berubah di pertemuan berikutnya, jadi tidak masalah.
"………………"
Setelah selesai menjelaskan, Telnerica terdiam dan
menyentuh dagunya dengan jari. Ia
tampak sedang berpikir keras.
Setelah
beberapa saat hening…… dan ketika jarum panjang jam sedikit bergeser, ia
tiba-tiba menatap Konoe.
Mata
birunya bertemu dengan mata Konoe.
Konoe
merasa tidak enak karena ia sempat menyembunyikan detail syarat-syaratnya, jadi
ia sedikit membuang muka.
Melihat
itu, Telnerica memasang wajah yang seolah masih mempertimbangkan sesuatu.
"……Begitu."
──Setelah
beberapa saat, Telnerica mengangguk kecil.
"Terima
kasih. Soal pemindahan tempat tinggal, saya sedikit terkejut, tapi saya sudah
diajarkan oleh orang tua saya bahwa seorang Adept pasti akan menerima
tawaran seperti itu. Bahwa masa negosiasi akan datang secara berkala.──Atas
dasar itu, jika boleh saya sampaikan pemikiran saya."
Telnerica
menjeda kalimatnya sejenak.
"──Saya."
Ia tersenyum. Senyum yang merekah seperti bunga. Ia
perlahan membuka mulutnya──.
"──Jika saya bisa berada di sisi Anda, di tanah
mana pun tidaklah masalah."
"──"
"……Mohon, tetaplah di sisi saya. Hanya itu harapan
saya."
Begitulah yang dikatakan Telnerica dengan suara yang
tenang dan lembut.
Kata-kata itu sedikit di luar dugaan Konoe.
Ia tidak bicara soal apakah negara ini lebih baik atau
negara lain yang lebih bagus. ……Ia hanya ingin berada di sisi Konoe, itu saja.
"……B-begitu, ya."
"Ya."
Mendengar kata-kata itu, Konoe jadi kehilangan kata-kata.
Ia terkejut, matanya bergerak ke kanan dan kiri.
Namun, Telnerica tetap tersenyum dan menatap lekat-lekat
mata Konoe yang tampak gelisah──.
"Karena, bukankah kita sudah berjanji?"
"……Eh?"
"Tubuh ini adalah bunga suci yang mekar di bawah
perlindungan Anda."
──Itu adalah kata-kata dari saat senja itu.
"──Jika itu memang keinginan Anda."
Setelah pertarungan melawan naga, di dalam salah satu
ruangan bengkel alkimia yang bermandikan cahaya emas.
Telapak tangan yang menggenggam tangan Konoe yang
terulur, itu nyata.
Sosok Telnerica
yang meneteskan air mata namun tetap tersenyum. Air mata yang mengalir di
pipinya berkilauan diterpa sinar matahari terbenam.
"Ya kan, Tuan Konoe?"
"……Ah, aku ingat."
"Fufu, saya senang."
Konoe teringat hari itu. Ingatan
saat ia berjuang keras mengungkapkan perasaannya.
Meski terlihat tidak keren, meski salah, tapi──tetaplah
di sisiku, ucapnya saat itu.
Kenangan yang membuat senang sekaligus malu. Bahkan
sekarang, hanya dengan mengingatnya saja wajahnya terasa sedikit panas.
Melihat Konoe yang seperti itu, Telnerica tertawa kecil
dan tersenyum dengan ceria.
……Konoe sekali lagi merasa bingung harus menjawab
apa.
"……Itu."
"Ya."
"……Tidak apa-apa."
"……Fufu, baik."
Hanya kata-kata tak bermakna yang keluar.
Namun, ada suasana yang terasa memaklumi, seolah hal itu
tidak masalah.
Di dalam ruangan yang hening, hanya ada mereka
berdua. ……Waktu pun berlalu dengan perlahan.
◆
Dan, akhir hari pun mendekat.
Suasana yang jauh berbeda dari kesibukan hari kemarin.
Saat mereka berdua minum teh dan pergi belanja sebentar,
matahari pun terbenam──.
"──Tuan Konoe, ada surat yang datang."
──Sore hari, sepucuk surat sampai di tangan Konoe.
Amplop berwarna biru cerah. Saat ia membuka segelnya.
"……Ini,
surat dari Archinorca dan…… formulir permintaan?"
Di
dalamnya terdapat surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang indah dan
selembar formulir permintaan.
"──Permintaan
investigasi. Objeknya adalah…… Area Tersegel?"
ï¼’
Formulir
permintaan yang dikirim dari Archinorca. Isinya ditulis dengan sangat singkat.
Nama permintaan, biaya, dan durasi. Lalu, karena
mengandung informasi rahasia, mereka ingin membicarakannya di sekolah.
(……Permintaan investigasi Area Tersegel?)
──Keesokan harinya, pagi hari. Sembari melewati gerbang
sekolah, Konoe merasa penasaran.
Jika bicara soal segel Archinorca, Konoe langsung
teringat segel Raja Iblis, tapi investigasi macam apa yang dimaksud?
"……Hmm."
Saat itulah, Konoe sadar. Ada dua sosok berpakaian hijau
di depan pintu masuk sekolah. Mereka berdua adalah──.
"──Kami sudah menunggu Anda, Tuan Konoe."
"──Terima kasih telah menyempatkan diri untuk
datang."
──Dua gadis Dragonute yang dua hari lalu memanggil
Fonia dengan sebutan "Kakak".
Karena kembar, wajah dan penampilan mereka sangat mirip. Keduanya menyambut Konoe di depan gerbang sekolah.
"Segera saja, kami akan mengantar Anda ke hadapan
Tuan kami."
"Silakan, lewat sini."
Dipandu oleh keduanya, Konoe berjalan menyusuri sekolah.
……Sembari merasa sedikit canggung karena dipandu di tempat yang ia sendiri
sudah kenal, Konoe berjalan di belakang mereka.
(…………Hmm? Warna ini.)
Ia pun sadar dan matanya tertuju pada warna tanduk dan
sayap mereka.
Rasanya Konoe pernah melihat warna seperti zamrud itu
sebelumnya.
……Namun, ia tidak bisa mengingat di mana.
"……Anu? Tuan Konoe?"
"Apakah ada sesuatu pada kami?"
"……Ah,
tidak…… maafkan aku."
Kedua
gadis itu berbalik dan bertanya. Konoe sadar ia telah menatap mereka terlalu
lekat, lalu buru-buru meminta maaf dan menjelaskan alasannya.
"……Oh,
astaga."
"……Anda
mengingat kami!?"
Keduanya
menutup mulut dengan ekspresi terkejut.
Satu
tersenyum lembut, satunya lagi tertawa cerah.
Mereka
berhenti dan menghadap ke arah Konoe kembali.
"Kalau begitu, karena Anda sudah menyapa kami,
izinkan kami memperkenalkan diri. Nama saya Colette."
"Nama saya Elenica! Kami berdua adalah kandidat Adept
yang terdaftar di sekolah ini!"
──Kandidat. Ah, begitu rupanya, Konoe teringat.
Entah kapan itu, instruktur pernah memanggilnya untuk
menunjukkan teknik bertarung di depan para kandidat baru.
Sepertinya saat itulah mereka ada di sana. Karena Dragonute
itu langka, mungkin itu sebabnya ia ingat.
"Duel antara Tuan Konoe dan instruktur yang
sempat kami lihat sebelumnya sungguh luar biasa…… kami sangat terkesan."
"Ya! Kami para siswa baru semua berpikir ingin
bisa bertarung seperti Anda!"
"……Haha."
……Duel. Duel, ya. Konoe tak sengaja tertawa hambar.
Menurut Konoe, saat itu ia bahkan tidak bisa membalas
serangan dan hanya dipukuli habis-habisan secara sepihak.
……Yah, mungkin karena mereka tidak melihat detailnya,
pikirnya.
……Meskipun begitu, ia merasa sedikit tersipu dengan
pujian jujur mereka di dalam hati. Karena ini pertama kalinya Konoe dipuji
seperti itu oleh juniornya.
"Jika ada kesempatan, kami harap Anda bisa
membimbing kami."
"Ya! Tentu saja jika tidak merepotkan Anda…… karena
kami adalah 'berikutnya', jadi kami harus menjadi kuat sesegera mungkin!"
(……? Berikutnya? )
Konoe merasa sedikit bingung…… tapi semangat kedua
gadis yang membungkuk itu membuatnya bingung dan kewalahan, sampai-sampai
maksud kata-kata itu hilang dari ingatannya──.
◆
──Beberapa menit kemudian, Konoe dan si kembar sampai
di tujuan──ruang tamu.
"──Maaf membuatmu datang jauh-jauh, Konoe."
"……Tidak apa."
Di sana duduk Fonia dengan suasana yang anggun.
Konoe merasa sedikit ragu untuk duduk di kursi ruang
tamu yang terlihat sangat mahal itu, tapi ia tetap duduk di hadapannya.
Fonia lalu memberikan salam singkat.
"Baiklah, langsung saja. Aku punya permintaan
untukmu. ……Ah, kukatakan di awal, ini tidak ada hubungan langsung dengan
negosiasi perpindahan tempat tinggalmu, meski tidak bisa dibilang tidak
berkaitan sama sekali. Ini adalah kasus terpisah."
……Kasus terpisah? Saat Konoe memiringkan kepala, Fonia
berkata bahwa ini adalah tugas yang diterima oleh hampir semua Adept
baru.
"……Hampir semua, Adept?"
"Ya. Permintaan kali ini adalah tugas yang sangat
penting. Investigasi Area Tersegel, dengan kata lain──investigasi Raja Iblis.
Kami ingin kamu mencoba apakah kamu bisa membunuh Raja Iblis abadi yang disegel
itu. Itulah tujuan permintaan ini."
◆
──Dahulu, seribu tahun yang lalu. Ada seorang Raja Iblis
yang tidak bisa dibunuh oleh siapa pun.
Raja Iblis abadi yang memiliki otoritas kebangkitan.
Kejahatan tanpa bentuk yang tidak bisa dibunuh meski
telah mengumpulkan seluruh kebijaksanaan dunia saat itu.
Monster yang pada akhirnya hanya bisa disegel dengan
mengorbankan banyak hal.
Segel yang katanya dibuat dengan biaya dan waktu yang
sangat besar──sebuah segel agung yang disebut Oten Kekkai (Segel Langit
Membara), sampai sekarang masih mengurung Raja Iblis jauh di kedalaman
Archinorca.
Archinorca telah lama sekali menjaga segel
tersebut──.
"──Namun, kami tidak pernah menyerah untuk
menaklukkannya."
Fonia bercerita. Bukan menyerah──melainkan terus
menyambung harapan.
"Kami percaya bahwa di masa depan, suatu hari nanti
pasti akan ada seseorang yang bisa membunuh Raja Iblis itu. Kami berharap suatu
hari nanti akan ada orang yang membangkitkan Unique Magic yang mampu
membunuh keabadian."
──Karena itulah.
"Kami meminta setiap Adept baru untuk
menghadapi Raja Iblis sekali saja. Dan meminta mereka untuk mencoba. Kami telah
melakukan itu selama seribu tahun."
"……"
"Jadi, kalau bisa, aku ingin kamu juga mencobanya.
……Ah, hampir tidak ada bahaya. Di dalamnya memang dipenuhi Miasma
konsentrasi sangat tinggi, tapi bagi seorang Adept itu tidak
masalah──lagipula Raja Iblis itu sejak awal hanya kuat dalam hal kontaminasi
dan kebangkitan, kemampuan bertarung langsungnya tidaklah tinggi."
Demi dunia, aku mohon. Fonia berbisik.
……Konoe berpikir sejenak setelah mendengar itu.
"……Aku mengerti situasinya. Namun……"
"……?"
"……Seperti yang kau tahu, aku tidak bisa
menggunakan Unique Magic."
Benar. Itulah masalahnya. Mereka memintanya untuk
mencoba Unique Magic milik Adept baru pada Raja Iblis, tapi Konoe
sendiri bahkan tidak memiliki Unique Magic. Jadi bukankah tidak ada
gunanya jika ia yang mencobanya?
"Tidak. Itu tidak masalah."
"……Eh?"
"Kami tetap memberikan tugas ini bahkan jika Adept
tersebut tidak memiliki Unique Magic yang cocok untuk membunuh makhluk
abadi."
"Sebagai
contoh, Melmina," ucap Fonia. Ia pun menerima tugas ini sepuluh tahun
yang lalu.
"Seperti yang kamu tahu, sihirnya adalah Clairvoyance.
Jika dipikir secara logis, itu mustahil."
"……Yah, memang."
"Meskipun begitu, kami memintanya karena kami
berharap ia bisa menemukan sesuatu."
Orang yang berbeda, sudut pandang yang berbeda,
kemampuan yang berbeda. Mungkin ada sesuatu di sana. Mungkin ia bisa menyadari
sesuatu. Dengan harapan itulah mereka meminta semua Adept untuk
mencobanya, tutur Fonia.
"Jadi, aku ingin kamu juga mencobanya."
"…………Baiklah. Jika kau berkata begitu."
Jika begitu, Konoe mengangguk. Jika tidak perlu
memiliki Unique Magic, ia tidak berniat untuk menolak.
"Terima
kasih…… dan, kalau bisa──."
Di sana, Fonia menarik napas sejenak.
"──Melalui kejadian ini, aku ingin kamu mengetahui
tentang Archinorca."
"……Itu."
"Di saat yang sama, Archinorca juga ingin mengetahui
tentang dirimu. Inilah alasan kenapa aku bilang ini tidak ada hubungannya
dengan negosiasi."
Aku harap kita bisa saling memahami. Begitu ucap Fonia.
◆
──Setelah pembicaraan berakhir, Konoe berdiri dari
kursinya. Ia membawa dokumen yang diberikan dan hendak pulang.
"──Konoe, boleh aku bertanya satu hal di
akhir?"
"……?"
──Namun, saat ia melangkah menuju pintu, Fonia memanggil
namanya.
Saat menoleh, Fonia sedang menatapnya lekat-lekat, mata
biru mereka bertemu. Lalu.
"Konoe, apa itu sudah cukup?"
"……Eh?"
"Apa harem itu sudah cukup?"
Fonia bertanya demikian. Apakah impian masa lalunya itu
sudah cukup.
Ia melepaskan ekspresi datarnya, sedikit menyipitkan
mata──.
◆◇◆
──Menghadapi Fonia yang seperti itu, Konoe teringat malam
di masa lalu.
"──Hei, Konoe."
Malam lima belas tahun yang lalu. Tempat latihan luar
ruangan. Di bawah malam yang pucat, hanya diterangi cahaya bulan.
Dengan mata yang sedikit menyipit, menghilangkan ekspresi
datarnya, dan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap Konoe.
"──Kita ini pasti benar-benar bertolak belakang,
ya."
◆◇◆
Interaksi yang sangat singkat. Hanya satu percakapan
dalam sepuluh tahun.
Aliran waktu membuat ingatan menjadi samar, namun Konoe
masih mengingat setetes air mata Fonia.
"……Konoe? Apa itu sudah cukup?"
"……A,
ah. ……Sudah cukup."
Konoe
bingung dengan pertanyaan itu, namun ia menjawab dengan perasaan yang
sebenarnya.
Sudah
cukup. Ia merasa sudah cukup. Karena Konoe kini telah mengetahui kehangatan,
telah mengetahui panasnya perasaan.
"……Begitu ya, aku mengerti."
Fonia hanya menatap Konoe dengan ekspresi datar.
……Tiba-tiba, ia berbalik memunggungi Konoe.
"……"
Konoe berkedip beberapa kali melihat punggungnya…… tanpa
mengucapkan apa pun, ia mulai melangkah kembali. Keluar dari ruangan tersebut.
──Kau sudah menemukannya, ya.
Saat hendak pergi, Konoe merasa samar-samar mendengar
suara itu.
3
Konoe menuruni tangga dari sekolah dan berjalan menuju
penginapan.
Ia teringat kembali isi diskusi tadi dan memikirkan
jadwal pekerjaan yang dimintakan padanya.
(……Omong-omong, bagaimana dengan Telnerica untuk
permintaan kali ini?)
Ia berpikir apakah harus mengajak Telnerica ke
Archinorca.
Archinorca, tidak seperti desa perintis sebelumnya,
adalah tempat yang memiliki fungsi dan bentuk sebagai sebuah kota.
Ia rasa tidak akan berbahaya jika membawanya ke sana.
……Mungkin, tapi.
(……Ada tiga Adept yang terbunuh di sana. Apa
pertahanannya aman……?)
Rasa cemas melintas di benak Konoe.
Sejauh yang ia dengar, selama di sana ia akan menuju Area
Tersegel, jadi ia tidak bisa terus-menerus berada di sisi Telnerica. Ada
kemungkinan ia tidak bisa menangani situasi darurat.
(……Aku rasa seharusnya aman, tapi. Sedikit, aku merasa
cemas.)
Konoe mulai khawatir. Ia berpikir mungkin lebih baik
membiarkan Telnerica tetap tinggal di ibu kota ini.
Lagipula, ada instruktur di ibu kota. Selama
ada instruktur, ada rasa aman bahwa ibu kota itu aman.
……Lagipula, jika instruktur saja tidak bisa menanganinya,
maka Konoe sendiri pun pasti tidak akan bisa.
(……Saat bicara soal pemindahan, instruktur sempat
bercanda bilang 'pasti senang kan ada aku di sini?', tapi kenyataannya memang
beda sekali dengan adanya orang itu.)
Tanpa diragukan lagi, fakta bahwa ada instruktur di sini
adalah salah satu keunggulan besar negara ini. Itu sudah sangat jelas
sampai-sampai respon Konoe tadi sempat terlambat.
Karena itulah, Konoe sedang bimbang──saat itulah.
"──Eh?"
Saat sampai di taman dekat penginapan, Konoe menyadari
suatu keberadaan.
Di taman tersebut, ada dua keberadaan yang ia kenal.
"…………Eh?"
Konoe berhenti seketika karena terkejut…… tapi ia segera
berlari ke arah sana. Dan kemudian.
"──Telnerica. Karena rambutmu indah, sebaiknya
gunakan cairan obat yang lebih baik. Jika kau minta, dia pasti tidak akan
menolak."
"Tidak, itu…… jika bicara soal itu, Melmina jauh
lebih……"
"Aku hanya menghilangkan luka dengan Life
Magic. Kalau soal kualitas rambut asli, kamu jauh lebih baik. ……Iya juga
ya. Nanti aku akan berikan produk kami. Gunakanlah itu."
Suara yang ia kenal. Di kursi taman, dua bayangan
duduk berdampingan. Sosok punggung berwarna emas dan merah itu.
"………………Eh."
"Oh, Konoe. Kau sudah pulang?"
"Tuan Konoe. Selamat datang."
……Telnerica dan Melmina sedang berbincang dengan
akrab.
◆◇◆
──Sedikit kembali ke masa lalu, pagi hari.
Sesosok bayangan berwarna merah muncul di depan
penginapan Konoe beberapa menit setelah Konoe berangkat ke sekolah.
"Jadi ini penginapannya."
Melmina bergumam kecil. Hari
ini Melmina datang untuk bicara dengan Konoe.
Soal apa, tentu saja soal pembicaraan dengan
Archinorca kemarin lusa, dan soal Elixir yang mereka bahas sebelumnya.
Karena ada banyak hal yang ingin dibicarakan, dan Melmina
juga berpikir kalau bisa ia ingin minum teh yang gagal mereka nikmati dua hari
lalu.
Jadi, Melmina masuk ke penginapan dan meminta
resepsionis untuk memanggil Konoe……
"Jika yang Anda maksud adalah Tuan Konoe, beliau
baru saja keluar."
"……Eh? Begitu ya? Apa aku salah waktu?"
Mendengar jawaban bahwa ia tidak ada, Melmina merasa
kecewa.
Mereka benar-benar tidak berpapasan.
Karena ia tidak bisa mendeteksi keberadaan dengan baik di
tengah kota, ia jadi tidak menyadarinya.
"……Ah, benar. Dia ada di sekolah."
Saat ia kembali melihat langit dengan Clairvoyance,
ia menemukan sosok Konoe di halaman sekolah.
Kalau begitu aku akan ke sana, Melmina berbalik──.
──Tepat pada saat itu.
"Aku akan pergi keluar sebentar."
"Baik, Nona Telnerica, silakan pergi."
Suara itu sampai di telinga Melmina. Saat ia menoleh, di
sana ada.
"……Ah."
"……Eh?"
Rambut
keemasan. Gadis elf. Mata biru sang gadis dan mata merah Melmina bertemu.
Gerakan Melmina terhenti.
Gadis berambut emas itu pun terhenti.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
Melmina mengenalnya.
Gadis itu pun pasti mengenal Melmina.
──Terdengar suara detak jarum detik jam pendulum di lobi.
Sosok yang muncul di depan mata Melmina adalah gadis yang
tinggal bersama Konoe.
Gadis yang telah mewarnai Konoe dengan warna emas. Rambut
dengan warna yang sama seperti petir. Warna baru Konoe. Wanita yang telah
mengubah Konoe.
Melmina selalu merasa penasaran. Kenapa Konoe sampai
terwarnai oleh warna gadis ini?
Karena Melmina berada di sisi Konoe selama lima belas
tahun. Bertemu hampir setiap hari.
Namun Konoe tidak terwarnai oleh warna merahnya.
Kenapa hanya dalam tiga puluh hari hal itu bisa terjadi?
Melmina tidak mengucapkannya, namun di dalam hatinya ia
terus merasa penasaran di tengah emosi yang kacau balau.
"………………"
"………………"
Dan sekarang, Melmina melihat gadis itu dengan kedua
matanya sendiri, bukan melalui lensa.
Berdiri di dekat gadis berambut emas itu, mereka saling
menatap mata satu sama lain.
"……Ah, begitu rupanya."
"……?"
……Ah, akhirnya aku mengerti.
Melmina memahami semuanya. Dalam sekejap, ia mengerti
mengapa Konoe terwarnai oleh warna gadis ini.
Meski Konoe sendiri tidak menyadarinya, Melmina, yang
memiliki kemampuan persepsi paling kuat di antara para Adept, bisa
memahaminya. Ia telah melihatnya. Apa yang telah dilakukan oleh gadis ini──.
"──Begitu ya, jadi seperti itu rupanya."
"……Anu……?"
……Karena itulah. Karena ia memahami bahwa hal itu adalah
sesuatu yang mustahil bagi dirinya sendiri.
"……Hei, apakah kau punya waktu?"
"Eh?"
"Mari kita bicara sebentar…… ya, aku ingin
mengenalmu."
◆
Telnerica dan Melmina pindah ke taman terdekat
bersama-sama. Lalu, mereka berbincang cukup panjang.
Tentang masa lalu. Tentang sebagian ingatan yang
mereka miliki bersama Konoe.
Tentang masa depan. Tentang negosiasi dan permintaan
yang saat ini datang kepada Konoe.
"Pasti Konoe akan pergi ke Archinorca. Alasannya
rahasia, tapi yang pasti, dia akan pergi."
"Apakah begitu?"
Melmina tahu. Permintaan investigasi Raja Iblis. Itu
adalah jalan yang pernah ia lalui sendiri. Konoe pun pasti akan menuju ke area segel yang mengerikan
itu. ……Dan.
"Dan……
kamu mungkin akan ditinggalkan di ibu kota ini."
"Itu…………
ya, mungkin saja begitu."
Seperti saat Telnerica ditinggalkan sendirian di ibu kota
ketika Konoe pergi ke desa perintis. Konoe tidak ingin membawa Telnerica ke
tempat yang berbahaya.
Telnerica menunduk dengan wajah yang tampak sedikit
sedih──.
"──Hei, kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang
membawanya?"
"……Maksud Anda, Nona Melmina?"
"Ya, sebenarnya aku juga ada urusan yang harus
diselesaikan di Archinorca. Jadi, aku akan menjadi pengawalnya. Aku tidak akan
keluar dari kota, jadi aku bisa tetap berada di sisinya, dan dia pasti tidak
akan menolak."
Melmina percaya diri bahwa ia telah mendapatkan
kepercayaan Konoe sampai sejauh itu.
Konoe pun pasti tidak ingin meninggalkan Telnerica di ibu
kota jika ia punya pilihan.
……Yah, meskipun bagian itu membuat dadanya terasa nyeri.
"Bagaimana? Bukan tawaran yang buruk, kan?"
"……Ya. Itu bukan tawaran yang buruk. ……Namun."
……Namun. Saat itu, Telnerica menatap Melmina dengan
lurus.
Menghadapi Melmina, sang gadis berambut emas itu menatap
dengan tenang, tanpa rasa takut, dan penuh martabat.
"Tetapi, saya harus bertanya kepada Nona Melmina.
Mengapa?"
──Mengapa? Melmina mengerti makna dan emosi yang
terkandung dalam kata itu.
Tentu saja. Melmina tidaklah lamban seperti Konoe. Ia
telah hidup lebih dari empat puluh tahun dan memiliki pengalaman hidup yang
cukup.
Karena itu ia paham. "Mengapa" itu pasti──.
"──Mengapa Anda berusaha untuk akrab dengan rival
cinta di depan mata Anda?"
"Ya."
"──Mengapa Anda repot-repot membawa rival cinta yang
seharusnya berpisah sementara untuk berada di sisinya?"
"Ya."
"──Atau
mengapa…… Anda tidak mencoba menyingkirkan saya sejak awal?"
"Ya."
Mengapa.
Mengapa. Mengapa. Semuanya adalah pertanyaan yang tak terelakkan.
Mengapa──Anda
tidak melihat saya sebagai musuh?
Justru
karena Melmina tidak menunjukkan permusuhan dalam kata-katanya, Telnerica
bertanya "Mengapa?". Bagaimana bisa? Bukankah itu mustahil?
"……Begitu, ya."
Satu pria, dua wanita. Jika
bicara soal premis dalam situasi ini serta hukum dan etika…… di negara ini,
secara hukum maupun etika, diperbolehkan bagi seorang pria untuk menikahi lebih
dari satu wanita.
Di dunia yang dekat dengan kematian akibat monster
dan Miasma ini, rasio gender cenderung tidak seimbang, sehingga
pernikahan monogami sering kali tidak bisa menjaga keseimbangan.
Alasan lainnya adalah tingginya angka kematian;
cerita tentang pria yang menikahi istri mendiang sahabatnya setelah sahabatnya
tewas, dan membesarkan anak-anak sahabatnya sebagai anaknya sendiri, sering
dianggap sebagai kisah yang mengharukan.
Oleh karena itu, negara ini bukanlah penganut sistem
monogami seperti dunia lain yang pernah didengar Melmina.
Ini adalah
negara yang mengizinkan mereka yang mampu untuk memiliki banyak pasangan.
Poligami maupun poliandri adalah hal yang biasa terjadi……
"……"
Ya. Yah, intinya "lalu kenapa?". Hanya
itu saja.
──Hukum mengizinkan. Etika mengizinkan. Lalu kenapa?
──Hal semacam itu sama sekali tidak ada hubungannya
dengan cinta.
Tentu saja rasanya tidak menyenangkan. Tentu
saja ingin menyingkirkannya.
Perasaan di dalam perutnya seolah terpelintir.
Di sisi pria yang dicintai, ada wanita lain. Tidak perlu
dijelaskan lagi betapa menjengkelkannya hal itu.
──Karena aku sedang jatuh cinta. Karena aku mencintainya.
Aku ingin pria yang menjadi satu-satunya bagiku,
melihatku sebagai satu-satunya juga. Hanya itu masalahnya.
……Namun, meskipun begitu, alasan Melmina bisa duduk
tenang di samping rival cintanya adalah.
"……Itu, pasti karena."
"Ya."
"Aku merasa berterima kasih padamu."
"……Eh?"
Melmina mengerti. Ia memahami sepenuhnya. Sekali melihat
gadis berambut emas itu, ia langsung tahu.
Dengan kemampuan persepsi yang telah ia latih, Melmina
melihatnya.
Hasrat yang dibawa gadis ini. Jalan
hidupnya. Gadis bernama Telnerica ini sebenarnya adalah eksistensi seperti apa?
"……Kamu, mencintai Konoe, ya."
"……? Ya."
"Melebihi segalanya, kamu hanya mencintai dia, dan
hanya dia."
"Ya."
Tanpa keraguan, Telnerica mengangguk.
Benar, gadis ini──hanya mencintai. Dengan sepenuh tenaga.
Dengan warna emas.
Dengan penuh pengabdian. Seolah-olah bersinar terang.
──Mencintai
Konoe dengan seluruh keberadaannya. Cara mencintai yang begitu murni.
Perasaan
yang seolah bisa berkembang menjadi Unique Magic kapan saja.
Bentuk
dari sebuah jiwa yang membuat orang lain bisa merasakan cinta itu hanya dengan
berada di sisinya.
"……Karena itulah, dia pun terwarnai."
Para Adept sangat sensitif terhadap hawa
keberadaan. Melmina terutama, tapi Konoe pun jauh lebih sensitif dibandingkan
orang lain.
Ia merasakan apa yang tak terlihat, ia tahu apa yang tak
dikenal. Oleh karena itu, misalnya──ia bisa merasakan samar-samar emosi apa
yang dimiliki orang di dekatnya terhadap dirinya.
Telnerica berada di sisi Konoe, seorang Adept
seperti itu, selama tiga puluh hari.
Selama tiga puluh hari ia terus berada di sisi Konoe. Konoe berada di dekat gadis itu dan terus menyentuh hatinya.
Tanpa tahu apa itu, Konoe menerima cinta sang gadis tanpa
perlawanan.
──Karena itulah, Konoe terwarnai oleh warna Telnerica.
Bukan karena kata-kata, bukan karena suhu, tapi karena ia
memahaminya dengan jiwa.
……Artinya, gadis ini──dengan cinta itu, ia telah
mengajarkan cinta kepada Konoe. Itulah alasan mengapa Konoe yang tadinya tak
berwarna, berubah menjadi emas hanya dalam tiga puluh hari.
"Apa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang tidak
bisa aku lakukan."
Melmina tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Telnerica.
Tentu saja Melmina juga mencintai Konoe. Mencintainya
dari lubuk hati terdalam. Tidak diragukan lagi.
……Namun, ia tidak bisa menjadi semurni itu. Ia tidak bisa
menjadikan Konoe sebagai seluruh dunianya.
Karena Melmina memiliki desa perintis yang harus ia
selamatkan. Ada perusahaan dagang yang ia kelola. Ada banyak bawahan yang
mengaguminya.
Bahkan jika keinginan pertama terpenuhi, Melmina memiliki
banyak hasrat lain, dan ia tidak mungkin membuang semuanya begitu saja.
──Dan, karena ia juga sangat mencintai kakaknya.
"Jadi, meski tidak ingin, aku harus berterima kasih.
Karena aku tidak bisa menyelamatkan dia."
Melmina tahu. Konoe benar-benar berubah. Ia memahami
cinta di suatu tempat dalam hatinya.
Suasananya jauh lebih lembut dibandingkan sepuluh tahun
yang lalu. Ia jauh lebih sering tersenyum, dan sedikit lebih menaruh minat pada
orang lain.
……Sampai bertemu hari ini, Melmina merasa sedih dan
menyesal karena ia sendiri tidak bertemu dengannya selama sepuluh tahun.
"……Yah, itulah alasan kenapa aku tidak melihatmu
sebagai musuh."
"……Ya."
Telnerica mengangguk pelan setelah mendengar seluruh
cerita itu. Ia menunduk sedikit dan memejamkan mata.
"………………"
"………………"
Keheningan meluas sejenak. Di atas bangku taman. Suara
burung terdengar dari kejauhan, begitu pula suara serangga.
Terdengar suara anak-anak yang bermain dengan riang,
disusul suara orang tua yang memperingatkan agar mereka tidak terluka.
"……………………Aku juga."
"……?"
"Aku juga, harus menyampaikan terima kasih kepada
Nona Melmina."
……Tiba-tiba,
Telnerica membuka mulutnya.
Kepada Melmina
yang memiringkan kepala, Telnerica menunjukkan senyum yang seolah menertawakan
diri sendiri.
"……Sejak
kembali dari desa perintis, beban di pundak Tuan Konoe rasanya sedikit
berkurang."
Gadis
itu mulai bercerita tentang perubahan Konoe selama beberapa hari terakhir ini.
Rasanya
ketegangan yang selalu ia jaga sedikit mengendur.
Ia merasa Konoe sedikit lebih positif terhadap
hal-hal yang tak berarti.
……Dan jika bicara tentang siapa yang melakukan itu.
"Aku tidak bisa mendukung Tuan Konoe seperti
Nona Melmina. Karena aku tidak punya kekuatan untuk bertarung."
"……Begitu."
"……Karena itu, meski tidak ingin, aku pun harus
berterima kasih."
Mengatakan itu, Telnerica terdiam. Keheningan kembali
terjadi……
"………………Mari kita menjadi kenalan."
"………………Ya, aku juga mohon bantuannya."
Entah berapa lama waktu telah berlalu. Tiba-tiba saja,
keputusan itu diambil.
Mereka pun saling berhadapan dan menatap mata. Lalu──.
"Senang berkenalan denganmu. Panggil saja aku Melmina.
Tidak perlu pakai 'Nona'."
"Ya, senang berkenalan denganmu, Melmina.
Silakan panggil aku Telnerica."
Keduanya saling tersenyum. Sebagai
kenalan. Meski masing-masing memiliki pemikiran sendiri, mereka menelannya.
Karena.
"Konoe pasti akan sedih jika melihat kita saling
bermusuhan."
"Benar sekali. Itulah alasan utamanya."
Pada akhirnya, meski sudah bicara banyak alasan, alasan
terbesarnya adalah itu.
Jika tidak bisa menyingkirkan lawan, maka itulah
satu-satunya cara. Mungkin, percakapan kali ini hanyalah ajang bagi mereka
untuk mencari alasan agar bisa memaklumi satu sama lain.
──Dengan begitu, keduanya menjadi kenalan.
Itu adalah kejadian beberapa menit sebelum Konoe datang
dan terkejut melihat mereka berdua.
ï¼”
──Kesimpulannya, sepertinya mereka berdua telah menjadi
akrab.
"Kami sudah jadi kenalan, loh."
"Ya, kami sudah jadi kenalan."
Kepada keduanya yang tersenyum manis bersandingan,
Konoe berkedip berkali-kali.
Kapan? Saat ditanya begitu, jawabnya baru saja. Di mana?
Di situ saja.
"…………?"
Konoe kembali berkedip beberapa kali. Ia
tidak tahu apa arti kekacauan di hatinya ini.
Mungkin karena senyum mereka sedikit berbeda dari
biasanya meski mereka duduk akrab berdampingan.
Atau mungkin karena dalam hidup Konoe, ia tidak bisa
membayangkan pemandangan di mana orang yang baru saja bertemu bisa saling
tersenyum akrab. Atau──mungkin insting Adept-nya membisikkan sesuatu.
"………………? Begitu, ya."
"Iya, dong."
"Ya."
"……Begitu ya."
……Bagaimanapun, Konoe merasa sedikit bingung, namun ia
tetap mengangguk.
Menjadi kenalan atau tidak, mungkin itu bukan urusan yang
harus ia campuri.
"Ah, ngomong-ngomong Konoe, kau akan pergi ke
Archinorca, kan?"
"……Eh, ah, ya."
"Aku juga akan ikut. Sekalian, aku akan menjaga Telnerica
yang sudah jadi kenalanku ini. Dengan begini dia bisa ikut juga, kan?"
"………………"
Konoe terdiam menerima informasi yang tiba-tiba masuk
dalam jumlah banyak, lalu ia mencoba merapikannya di dalam kepala.
…………Tidak masalah, pikirnya. Malah, itu patut disyukuri.
Melmina bebas untuk pergi ke Archinorca, dan jika ia
menjaga Telnerica, itu akan sangat melegakan. Melmina sangat bisa diandalkan.
Konoe tahu itu.
"…………?"
……Namun, satu hal yang mencurigakan muncul di kepala
Konoe.
"……Melmina, apa tidak apa-apa? Soal pengumpulan dokumen untuk obat itu."
Maksudnya soal kakak Melmina. Ia mengumpulkan dokumen
untuk membangun kembali tubuhnya.
Apa itu tidak apa-apa?
"Fufu, tentu saja tidak masalah, kan? Lagipula,
masalah kali ini juga ada hubungannya dengan itu."
"……Eh?"
"Datanya sudah selesai kucari sejak lama. Aku
begadang, loh. Tapi berkat itu, aku menemukan bahwa penambangan Miasma Stone
di Archinorca sedang terhambat."
Kata Melmina dengan bangga. Rupanya, setengah tahun lalu
di Archinorca, salah satu rute penambangan Miasma Stone di dalam dungeon
tidak bisa digunakan lagi akibat tanah longsor dan monster.
Namun, karena jumlah Adept dan ksatria berkurang
akibat bencana sebelumnya, rute baru belum berhasil diamankan.
"Kekurangan tenaga kerja di sana cukup parah, ya. Aku jadi simpati. ……Jadi, aku
menawarkan diri. Sebagai gantinya menemukan rute baru, aku minta hak untuk
mendapatkan Miasma Stone. Dengan kekuatanku, menemukannya bukanlah hal
sulit."
"……Begitu rupanya."
"Selain itu, aku juga berencana untuk ikut serta
dalam jalur distribusinya. ……Fufufu, jalur distribusi Miasma Stone
biasanya mustahil dimasuki oleh pemain baru, tahu?"
Melmina membuka tasnya dan menunjukkan tumpukan kontrak
kepada Konoe dengan sangat ceria, bilang bahwa ia sudah menyelesaikan
kontraknya tadi malam!
Tumpukan kertas tebal itu dipenuhi dengan kata-kata yang
sulit dimengerti. Semacam dokumen "Pihak Pertama" dan "Pihak
Kedua" versi dunia lain.
Bagi Konoe, itu sudah di luar pemahamannya. Ia hanya bisa
berpikir betapa hebatnya itu.
"…………Yah, meski begitu, bukan berarti tidak ada
masalah. Sepertinya pekerjaan dokumen yang merepotkan akan
bertambah. Lagipula, di luar Archinorca, sepertinya aku tidak bisa membawa
terlalu banyak bawahan."
Melmina memasang wajah kesal……
"……Ah, tentu saja. Karena
di Archinorca banyak sekali dokumen."
Telnerica yang ada di sampingnya bergumam seperti
itu. Ia melirik sekilas ke dalam tas, lalu membuang napas kecil, merasa sudah
menduganya. Melmina memasang wajah terkejut.
"……Telnerica, apa jangan-jangan kau paham soal
itu?"
"Tidak sampai paham sekali, tapi Holy Flower
tempatku bernaung juga pernah berdagang dengan negara lain. ……Jika
perlu bantuan, mau kubantu?"
"Eh? Boleh? Nanti kuberi gaji, ya?"
"Ya,
yah. ……Karena rasanya tidak enak hanya dilindungi saja saat Tuan Konoe tidak
ada."
"Kalau
begitu──"
──Dan
begitulah, keduanya mulai berdiskusi menggunakan berbagai istilah teknis.
Konoe
melihat keadaan itu sambil merasa takjub dengan mereka.
◆
Kemudian,
persiapan untuk berangkat ke Archinorca dimulai keesokan harinya.
Rencananya,
pekerjaan itu akan berlangsung sekitar sepuluh hari.
Bagi
seorang Adept, itu bukan jangka waktu yang lama, tapi karena pergi ke
negara lain, mereka tidak bisa bepergian dengan santai seperti biasanya dan
harus mempersiapkan diri dengan matang. Lagipula.
"──Tuan
Konoe, terima kasih karena telah membelikan barang-barang untukku juga."
"……Tidak,
itu memang perlu."
Persiapan
perjalanan Telnerica yang akan ikut ke Archinorca juga diperlukan.
Karena
itu, pada hari tersebut, Konoe pergi berbelanja dengan Telnerica sejak pagi.
Di
dunia ini, tidak ada mal atau pusat perbelanjaan besar.
Keduanya
berjalan menyusuri jalan utama, masuk ke satu toko demi satu toko, dan membeli
barang-barang yang diperlukan.
Mulai dari makanan dan air darurat, hingga sepatu dan
perlengkapan hujan.
Lagi pula, Telnerica tidak membawa apa-apa dari kampung
halamannya, jadi ia hanya punya pakaian untuk musim ini. Karena Archinorca
adalah negara di atas gunung, ia membutuhkan pakaian tebal dan baju musim
dingin……
"──Bagaimana dengan pakaian ini?"
"……Itu…… menurutku, itu cocok untukmu."
"……Ehehe, aku senang. Kalau
begitu, aku akan beli yang ini."
Di toko yang mereka masuki, mereka melihat-lihat
pakaian sambil membicarakan hal yang bisa dibilang sangat biasa.
Omong-omong, seperti apa pakaiannya?
Itu adalah pakaian yang imut dan terlihat nyaman
dipakai bergerak.
Bagi Konoe yang tidak punya pengetahuan soal fesyen,
hanya itu yang bisa ia katakan. Ia bahkan tidak tahu cara memuji dan hanya bisa
bilang itu cocok untuknya.
……Namun, bagi Konoe, Telnerica merona malu dengan
senang hati dan berputar.
Konoe merasa sedikit malu, lalu membuang muka──.
"──E-eh, kurasa sudah cukup. Kalau begitu, terakhir, mari beli tas."
"Itu, terima kasih banyak."
──Kemudian, akhirnya mereka membeli tas di toko peralatan
sihir. Tas yang ruang di dalamnya diperluas dengan Spatial Magic.
Mereka melihat-lihat barang yang bisa dibilang sebagai
kebutuhan pokok perjalanan di dunia ini.
"Kalau bisa menampung sebanyak ini, sekalian saja
aku ingin membeli oleh-oleh untuk orang-orang di Silmenia."
"……Oleh-oleh……?"
Gumam Telnerica sambil memeriksa bagian dalam tas, dan
Konoe mengulang kata-kata itu dengan perasaan aneh.
◆
──Persiapan terus berlanjut. Setelah belanja selesai,
berikutnya adalah prosedur keberangkatan ke negara lain di sekolah.
Karena kemampuan bertarungnya, meski disambut baik,
perjalanan Adept melintasi perbatasan diawasi dengan ketat. Prosedurnya
banyak dan terkesan rumit.
"……?"
Karena itulah Konoe terus memasang tanda tanya di
kepalanya sambil dibantu oleh staf di kantor sekolah untuk mengisi dokumen
antarnegara. Dokumen yang rumit itu terasa seperti bahasa yang berbeda……
"………………??"
……Omong-omong. Di dunia ini tidak ada perbedaan bahasa
antarnegara. Itu karena semuanya disatukan oleh bahasa Sang Dewa.
Ada Dewa Bahasa, dan seluruh umat manusia menerima
berkahnya.
Ini dianggap sebagai hal yang terpisah dari berkah yang
dimiliki setiap orang, dan bahkan jika seseorang melanggar sumpah kepada Dewa,
berkah ini tidak akan dicabut. Dalam istilah teknis, ini disebut Basic
Blessing.
Orang dunia lain pun sejak baru saja sampai di dunia ini
sudah diberikan berkah ini, jadi Konoe bisa berbicara dan membaca bahasa dunia
ini seolah-olah itu bahasa aslinya.
Oleh karena itu, tidak ada perbedaan bahasa antarmanusia
di dunia ini. Seolah-olah dunia ini adalah dunia sebelum Menara Babel dalam
mitos Bumi runtuh.
◆
"……………………???"
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Tuan Konoe. Kami
yang akan memproses sisanya."
"……Terima kasih."
Beberapa saat kemudian, Konoe menyelesaikan seluruh
prosedur dan keluar dari kantor administrasi.
Ia merasa lega dan berjalan menyusuri koridor dengan
perasaan yang sedikit lebih ringan……
"……?"
──Saat itulah, Konoe merasakan tatapan seseorang. Tatapan yang bercampur dengan kehendak yang kuat.
【……】
Saat ia menoleh ke arah tatapan itu, ia melihat
bayangan putih bersih.
Sang Dewa sedang menatap Konoe lekat-lekat sambil
menyembunyikan setengah tubuhnya di balik pilar.
5
Wajah Sang Dewa yang mengintip dari balik pilar dan
sayap putih bersih yang sama sekali tidak tersembunyi. Tatapan yang diarahkan
padanya.
Konoe yang berhenti melangkah dan Sang Dewa saling
menatap selama beberapa detik……
【…………】
"…………?"
Di sana Konoe sadar. Sayap Sang Dewa terkulai lemas,
berbeda dari biasanya.
【……!】
Saat ia bertanya-tanya ada apa, Sang Dewa memberi isyarat
dengan tangan ke arah Konoe. Gestur yang memintanya untuk
datang. Konoe mendekat ke sisi Sang Dewa sambil memiringkan kepala.
【……Dengar ya.】
Saat ia sampai di depan Sang Dewa, ia melihat wajah
yang sangat serius. Ekspresi langka dari Sang Dewa yang biasanya selalu
tersenyum.
【Ada yang ingin kusampaikan padamu.】
"……Ya."
Sikapnya lebih formal dari biasanya. Mulutnya
terkatup rapat. Setiap emosi yang tersalurkan terasa berat.
Melihat Sang Dewa seperti itu, Konoe merasa
bingung──lalu tiba-tiba sadar. Jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk?
【Ini adalah pembicaraan serius, jadi dengarkan
baik-baik.】
Pembicaraan
serius. ……Mungkin ada seseorang yang mati, atau sesuatu yang berakhir.
Perlahan,
imajinasi gelap mulai muncul di benak Konoe. Keringat dingin mulai merembes.
Sambil menahan napas, Konoe melihat Sang Dewa yang menarik napas dalam-dalam──.
【──Boleh,
kan? Pemindahan tempat tinggal tidak bisa diputuskan dengan mudah.】
"………………Hah?"
【Pindah
markas itu bukan hal yang gampang. Kalau negaranya beda, lingkungan hidup,
iklim, makanan, semuanya juga beda. Kalau tidak dipikirkan matang-matang,
jangan diputuskan.】
……Eh,
begitu. Konoe berkedip berkali-kali. Rasanya baru saja ia mendengar
pembicaraan seperti ini di suatu tempat.
【Kalau setelah pergi baru sadar ternyata tidak sesuai,
sesudah kontrak ditandatangani itu sudah terlambat. Jangan impulsif…… hm, lihat ke
sini, dong.】
"……Ah,
ya."
Konoe
yang tanpa sengaja melirik ke arah ruangan instruktur, kini merasakan suasana
Sang Dewa yang tampak merajuk.
Konoe buru-buru menegakkan punggung dan memasang
telinga.
【Jangan cuma karena syaratnya bagus lantas langsung
terjun begitu saja. Harus periksa poin-poin lain, bandingkan dengan keadaan
sekarang, baru ambil keputusan.】
"……Ya."
【Misalnya, negara ini iklimnya sangat stabil dan──】
◆
【──Teknologinya maju karena semua orang berusaha keras.
Kami juga menyerap barang dari dunia lain, dan aku sangat terkejut dengan
permen kapas yang kucoba baru-baru ini──】
【──Teh di negara ini enak, dan jenisnya banyak. Terutama
teh Holy Flower itu luar biasa sekali──】
◆
【──Jadi, di tengah kehidupan yang sudah terbiasa seperti
itu, ada hal-hal yang bersinar tanpa disadari, seperti teh yang kau minum
sehari-hari. Kamu juga harus memperhatikan hal-hal seperti itu, tahu?】
"……Ya."
【Negara ini punya banyak kelebihan, kok.】
──Begitulah, pembicaraan Sang Dewa terus berlanjut.
Konoe mendengarkan dengan serius, sambil berpikir bahwa
pembicaraan yang mirip pun akan terasa sangat berbeda jika yang bicara orangnya
berbeda.
"…………"
……Di tengah jalan, ia sempat berpikir.
Kalau dipikir-pikir, saat itu instruktur bilang ia
menjelaskan hal ini agar Konoe tetap tinggal di negara ini, apakah Sang Dewa
juga sama?
Karena Sang Dewa menjelaskan banyak sekali kelebihan
negara ini.
……Namun, pemikiran itu sendiri membuatnya merasa sangat
malu, sehingga Konoe merasa tidak tenang.
【Lalu begini. Seandainya……】
"……?"
──Di sana, suasana Sang Dewa tiba-tiba berubah. Sedikit
lebih sedih, berbeda dari sebelumnya.
【Tapi, seandainya, setelah memikirkannya baik-baik, kau
memutuskan untuk meninggalkan negara ini.】
"……Ya."
【Saat itu, aku pasti akan melepasmu dengan benar. Tapi
sekali-kali pulanglah, ya……】
……Eh? Apa maksudnya? Kepada Konoe yang berkedip bingung,
Sang Dewa membuat sayapnya yang terkulai semakin lemas lagi.
Katanya, ada orang-orang yang pergi ke negara lain
seperti Konoe kali ini dan tidak pernah kembali.
【Jangan berpikir "aku tidak punya muka untuk
bertemu"... sekali saja, tunjukkan wajahmu...】
Karena ada banyak anak yang tidak pernah pulang,
katanya.
Mungkin karena sangat terkejut, Sang Dewa memancarkan
suasana yang sangat sedih.
"……Itu, anu, Sang Dewa, aku, pasti akan
kembali."
【Benarkah?】
"……Y-ya, benar. Kali ini kan tujuannya hanya untuk
pekerjaan, dan lagi."
Lagi pula, ucap Konoe. Benar, ada satu hal yang
dipikirkan Konoe untuk tugas kali ini.
"……Itu, oleh-oleh, nanti kubawakan."
【……Eh?】
"……Aku berpikir untuk membelikan oleh-oleh."
──Itu adalah ucapan Telnerica saat kami sedang membeli
tas tadi.
Konoe pun berpikir untuk membelikan oleh-oleh untuk sang
Dewa saat pulang nanti.
Seumur hidupnya, ia belum pernah melakukan hal itu,
tetapi saat Telnerica menyebut kata "oleh-oleh", wajah sang Dewa
langsung terbayang di benak Konoe. Begitu juga dengan instruktur.
【……………………】
"……Jadi, yah."
【………………Hmm.】
Mata sang Dewa membelalak──lalu ia tersenyum lembut. Sayapnya
yang tadi terkulai lemas kini mendapatkan kembali kekuatannya.
【……Kalau begitu, aku tunggu, ya!】
"……Iya."
【Kalau kamu sudah pulang, kita akan mengadakan pesta teh.
Jadi, tunjukkan padaku saat itu nanti!】
──Setelah itu, sang Dewa melambaikan tangan, mengucapkan
selamat jalan dan semangat bekerja kepada Konoe.
Konoe menggaruk pipinya sambil berpikir bahwa karena ia
sudah mengucapkannya, ia harus membelikan barang yang bagus.
◆
Tiga hari masa persiapan pun berakhir. Setelah
menyelesaikan semua prosedur untuk dirinya dan Telnerica──sementara Melmina
sudah lebih dulu tiba di lokasi──Konoe berdiri di depan gerbang yang paling
besar di antara gerbang transfer yang ada di samping sekolah.
Itu adalah gerbang khusus yang terhubung ke luar
negeri. Dengan diantar oleh para penjaga gerbang, mereka berdua pun
melewatinya──.
"──Wah, luar biasa sekali, Tuan Konoe."
"……Ya."
──Di balik gerbang itu, terbentang pegunungan yang
curam.
Di samping gerbang transfer terdapat jendela besar di
mana dindingnya sengaja dipotong agar seluruh area sekeliling bisa terlihat.
Udaranya tipis.
Suhunya rendah. Puncak-puncak gunung diselimuti oleh
lapisan salju.
Itu adalah zona dataran tinggi dengan barisan gunung
yang ketinggiannya melebihi sepuluh ribu meter.
Alam yang megah dan berkilau putih, pemandangan yang
tidak akan pernah bisa dilihat di Bumi.
"──Ternyata benar-benar ada kota di dalam
gunung, ya."
──Namun, yang menarik perhatian Konoe dan Telnerica
di tempat itu bukanlah hal tersebut.
Yang mereka lihat adalah sebuah kota. Kota di dalam
gunung.
Hanya saja, "di dalam gunung" yang dimaksud
sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh orang Jepang pada umumnya.
Kota itu benar-benar berada di dalam gunung.
Lereng gunung dikeruk dengan skala besar, dan kota
dibangun di dalamnya.
Pemandangan seperti itu terlihat di banyak tempat di
sepanjang zona dataran tinggi tersebut.
──Negara Langit Archinorca. Itulah nama lain dari
negara ini, wilayah otonom saat ini.
◆
Setelah puas menikmati pemandangan, Konoe dan Telnerica
keluar dari ruang transfer.
Di sana, dua orang yang tidak asing lagi telah
menunggu.
"Selamat datang, kami senang Anda telah
tiba."
"Kami menyambut kunjungan Anda."
Disambut oleh Colette dan Elenica, si kembar Dragonute
hijau, mereka dipandu untuk mengikuti ke arah sini.
Di kantor di samping ruang transfer, Konoe dan Telnerica
menyelesaikan prosedur perjalanan dan menyerahkan dokumen yang mereka bawa.
Setelah selesai, mereka diberitahu bahwa Nona Fonia akan
segera menjelaskan tugas kali ini.
Konoe dan Telnerica pun melangkah masuk ke dalam Kastel
Archinorca yang bersebelahan dengan ruang transfer.
"──Ah,
kalian berdua sudah sampai, ya. Selamat pagi."
"……Melmina."
Seseorang menyapa mereka. Itu Melmina. Ia melambai dari
lorong kastel.
Kemudian, ia berbincang santai, menanyakan apakah mereka
mabuk perjalanan atau mengingatkan untuk menyiapkan pakaian hangat karena suhu
di atas gunung mudah berubah.
"Konoe, kau mau ke tempat Fonia, kan? Kalau begitu, Telnerica
biar aku yang urus."
"……Terima kasih."
"Mohon bantuannya, Melmina."
Telnerica mendekati Melmina dan disambut olehnya. Semua
berjalan sesuai rencana.
Konoe merasa tenang karena ada Melmina, lalu ia pun
melangkah menuju bagian dalam kastel bersama dua gadis Dragonute
tersebut……
"……Eh? Dokumen sebanyak ini apa maksudnya?"
"──Fufu, selamat datang, Telnerica. Aku menyambutmu dengan sepenuh hati."
"……Eh, jangan-jangan ini semua milik Melmina……? Ah, tunggu sebentar. Jangan pegang tanganku!"
"Fufu, tidak akan kubiarkan kau kabur."
──Di tengah jalan, percakapan seperti itu terdengar
dari belakang.
…………Apakah mereka akan baik-baik saja? Konoe merasa
sedikit cemas, tetapi ia tidak mungkin tertinggal dari pemandunya, jadi ia
mengikuti dua gadis itu sambil beberapa kali menoleh ke belakang.
◆
Konoe terus naik menyusuri kastel. Kondisi di dalam kastel pun tampak tidak biasa.
Yang aneh adalah lantai, dinding, dan
langit-langitnya terbuat dari tekstur yang serupa. Warna yang sama, kilau yang
sama.
Meski begitu, terdapat ukiran dekorasi yang
mendetail, bahkan tempat lilin untuk menyalakan api pun terbuat dari batu yang
sama.
(──Jadi, kastel ini dibuat dengan memahat gunung itu
sendiri, ya.)
Sembari mengamati kastel yang seluruhnya tampak
seperti karya seni, Konoe teringat apa yang dipelajarinya lebih dari sepuluh
tahun lalu.
Tentang ras Dragonute. Tentang ekologi khusus
mereka yang bertolak belakang dengan ketangguhan vitalitas mereka. Alasan
mereka hidup di dataran tinggi seperti ini bukanlah sekadar gaya-gayaan atau
keeksentrikan──.
"──Ngomong-ngomong, Tuan Konoe. Bolehkah saya
bertanya satu hal?"
"Kami memiliki sesuatu yang sangat membuat kami
penasaran……"
"……Hmm?"
Saat
itu, Colette dan Elenica tiba-tiba bertanya dengan ragu-ragu.
"……Itu,
apakah benar Tuan Konoe dan Kakak──Nona Fonia sering menghabiskan waktu bersama
saat masih menjadi peserta pelatihan?"
"Iya,
sebagai sesama peserta pelatihan dan sebagai 'penerus', kami sangat penasaran
dengan hubungan kalian berdua……!"
……Eh? Menghabiskan waktu bersama? Dengan Fonia? Apa
maksudnya?
Konoe terkejut. Ia sama sekali tidak memiliki ingatan
seperti itu. Jadi, Konoe menjelaskan dengan jujur bahwa mereka
tidak pernah berinteraksi.
"……Eh? Tidak pernah berinteraksi? Padahal, Nona
Fonia..."
"……Benarkah itu? Tapi, saat negosiasi..."
Keduanya berhenti melangkah dan saling bertukar pandang
dengan wajah terkejut.
……Negosiasi?
"Ehm, sebenarnya seharusnya Nona Fonia tidak mungkin
melakukan negosiasi perpindahan tempat tinggal sendiri."
"Ya,
benar…… ehm, mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi…… segala sesuatu ada
bidang keahliannya masing-masing, jadi……"
Gadis-gadis
itu mengatakan bahwa ada negosiator profesional untuk urusan perpindahan tempat
tinggal.
Namun
kali ini, karena Fonia bersikeras dan kebetulan mereka adalah kandidat angkatan
yang sama, Fonia yang akhirnya bertanggung jawab.
Benarkah? Apa benar tidak ada apa-apa?
Konoe pun ikut bingung melihat kebingungan mereka.
Bagaimanapun juga, Konoe tidak memiliki ingatan
percakapan dengan Fonia selain malam itu──.
◆
"Selamat datang, Konoe. Mohon kerja samanya kali
ini."
"……A, ah, mohon kerja samanya."
Konoe dan yang lainnya tiba di hadapan Fonia.
Ruang tamu tempat mereka diarahkan telah dipasangi barrier
untuk menjaga kerahasiaan.
Konoe diarahkan ke kursi dan mengucapkan salam
basa-basi yang biasa.
"……Baiklah, penjelasan untuk investigasi kali
ini."
Konoe segera mendengarkan penjelasan Fonia. Ia tampak
tenang dengan wajah tanpa ekspresi.
"Area investigasinya adalah dari sini──"
……Di dalam hati Konoe masih ada pertanyaan soal
percakapan tadi, tetapi ia menepisnya dan menyimak perkataan Fonia.
Sebesar apa pun misterinya, bagi Konoe tidak ada
pilihan untuk mendengarkan urusan pekerjaan dengan setengah hati.
Lama-kelamaan, Konoe berkonsentrasi pada pekerjaannya dan
melupakan hal tadi──.
"──Penjelasan selesai. Investigasi akan dilakukan
oleh kita berdua. Mulai besok pagi-pagi sekali. Ada pertanyaan?"
"…………Ah, aku mengerti. Tidak ada."
──Beberapa puluh menit kemudian, Konoe menyelesaikan
konfirmasi detail pekerjaan tanpa masalah. Dengan ini, pembicaraan mereka
selesai. Konoe berdiri, berpamitan untuk bertemu lagi besok saat bekerja.
"……Konoe, tunggu."
"……?"
──Namun, ia dipanggil oleh Fonia. Sama seperti akhir
diskusi tempo hari. Begitu
tiba-tiba.
"Hei,
apakah kau…… ingat hari itu, lima belas tahun lalu?"
"……Eh?"
Suara Fonia. Pertanyaan datar tanpa emosi. Konoe sempat ragu sesaat.
"……Aku ingat."
"Benarkah?"
"……Ah, saat kau bilang kita ini bertolak
belakang."
Percakapan satu-satunya hari itu. Sudah lima belas tahun
berlalu. Namun, Konoe masih mengingat air mata itu.
"……Begitu. Lalu, selain itu?"
"……Eh? Selain itu?"
"Kita membuat janji."
──Janji?
Kata itu…… kalau diingat-ingat, samar-samar memang masih ada di ingatannya.
Itu
terjadi setelah ia dibilang "bertolak belakang"──.
"──Jika, suatu hari nanti, kau benar-benar bisa
mendapatkannya──"
Benar. Kata-kata itu. Namun saat itu, Konoe tidak paham
maknanya──.
◆◇◆
『──Konoe. Bisakah kita membuat satu janji?』
『……Janji?』
Saat itu, di depan pintu masuk tempat pelatihan.
Gadis biru itu berkata. Memunggungi Konoe dengan suara
yang sedikit parau.
『Ya, janji. Jika suatu hari nanti kau benar-benar bisa
mendapatkannya──saat itu tiba, beri tahu aku. Aku pun menginginkannya.』
──Benar. Ia memang mengatakan hal itu.
Meminta Konoe memberitahunya. Dengan
punggung yang tampak rapuh dan seolah akan menghilang.
『……?』
……Namun, Konoe tidak mengerti artinya. Kata
"mendapatkannya", permohonan untuk "memberitahu", maupun
kata "bertolak belakang" tadi.
Ia tidak mengerti apa-apa…… namun
karena suasana yang sedih itu, ia tidak bisa menyela.
『……Kumohon.
Sebagai gantinya…… aku akan membantumu mendapatkannya.』
『……Membantu?』
『Ya……
pastinya. Aku akan bersiap dengan sungguh-sungguh.
Nantikanlah──』
◆◇◆
──Bagi Konoe saat itu, tidak, bahkan bagi Konoe yang
sekarang, itu adalah kata-kata yang hanya bisa membuatnya memiringkan kepala.
Air mata yang menetes dan kata-kata saat itu meninggalkan
kesan kuat, sehingga ingatan lainnya menjadi pudar.
"Kau telah mendapatkannya. Kilauan emas itu."
"──Hmm?"
"Dan aku, mencoba menepati janjiku."
"……Eh?"
"Resume perjodohan. Aku membantumu mendapatkan apa
yang kau cari."
…………?? Tanda tanya muncul di kepala Konoe.
Namun, saat ia meresapi kata-kata itu sambil menatap mata
gadis di depannya, ia pun mulai merapikan ingatannya.
──Eh? Jadi kata-kata saat itu maksudnya seperti itu?
"Hei, Konoe."
Fonia menatap Konoe dengan wajah tanpa ekspresinya yang
biasa. Ia berbicara dengan nada yang datar.
Gadis Dragonute biru yang cantik itu menatap
Konoe dengan mata permata yang tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Bisakah kau tunjukkan warna emas itu padaku?"
──Kepada Konoe yang terpaku, Fonia bertanya dengan
tenang.



Post a Comment