NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 1 Chapter 1

Chapter 1

Reinkarnasi ke Dunia Lain


1

Konoe dipanggil ke dunia lain pada suatu hari di musim semi.

Dia mati di Jepang, dan saat tersadar, dia sudah berada di sebuah aula luas.

Kesadarannya sempat kabur, matanya terpejam, dan saat terbuka kembali, pemandangan di depannya telah berubah total.

"……?"

Dia tidak mengerti apa yang terjadi.

Pikirannya kosong.

Sebab, seharusnya Konoe sudah mati karena penyakit.

Penyakit itu terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan, dan hanya dalam tiga bulan, nyawanya terenggut.

Mungkin karena dia masih berusia dua puluhan, progresinya sangat cepat hingga saat menyadarinya pun semua sudah terlambat.

Dia menderita, sangat menderita, hingga akhirnya mati dalam kesendirian.

Namun, begitu membuka mata, dia malah berada di tempat yang asing.

"……???"

Tidak ada kesinambungan sama sekali. Dalam kebingungan, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Ada banyak orang yang bernasib serupa di sekitarnya, dan mereka semua tampak termangu seperti Konoe.

Karena tak mampu memahami situasi, dia memegangi kepalanya, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

Dia mencubit pipinya, membuka dan menutup mata berulang kali, berharap ini hanyalah mimpi──.

──Kondisi itu terus berlanjut untuk beberapa saat.

Tiba-tiba, dinding aula terbuka dan seorang pria melangkah masuk.

Pria itu kemudian berucap:

"Kami menginginkan teknologi dari dunia kalian."

Tiga puluh hari telah berlalu sejak saat itu. Selama waktu tersebut, Konoe mempelajari bahwa dunia lain ini sedang mengalami stagnasi.

Demi menghancurkan stagnasi tersebut, mereka memanggil para teknisi dan ilmuwan dari Bumi. Pemanggilan Konoe pun merupakan bagian dari rencana itu──namun, ada satu masalah.

Sihir pemanggilan di dunia ini tidak memiliki fungsi untuk memilih target. Tampaknya, mereka hanya menarik jiwa orang mati secara sembarangan.

Akibatnya, banyak orang yang tidak relevan ikut terpanggil, dan tak perlu diragukan lagi, Konoe adalah salah satunya.

Sayangnya, Konoe tidak memiliki pengetahuan maupun keahlian yang mereka cari.

Singkat kata, dia hanyalah karakter figuran yang tak sengaja terlibat.

Dia adalah manusia yang ada atau tidak ada pun tidak akan berpengaruh──.

"──Baik, tesnya saya kumpulkan sekarang, ya."

Karena itulah, Konoe tidak memiliki peran khusus.

Bahkan setelah sekian lama berada di dunia ini, dia masih menyibukkan diri dengan hal-hal seperti tes.

Lokasinya saat ini adalah salah satu ruang di fasilitas pendidikan milik negara yang memanggilnya.

Dia berbaur di antara banyak orang yang bereinkarnasi lainnya.

Omong-omong, tes tadi adalah tentang geografi dunia ini. Tentang luas dunia, nama-negara, hingga pembahasan mengenai bawah tanah.

"…………"

……Yah, menurut kabar yang didengar Konoe, pengetahuan ini tidak akan terlalu berguna setelah mereka meninggalkan fasilitas.

Karena itu, reinkarnator lain tampaknya mengerjakan tes tersebut dengan asal-asalan.

Namun, Konoe tetap belajar serius dan menghadapi tes ini dengan sungguh-sungguh.

Alasannya? Alasannya karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

"…………"

Sambil menghela napas pendek, Konoe mengingat kembali isi tes tadi. Tentang luas negara ini dan luas planetnya.

Negara ini kabarnya seluas benua Eurasia di Bumi, dan planet ini sendiri berkali-kali lipat lebih besar dari Bumi.

Lalu di bawah tanah planet ini terdapat dungeon seperti di dalam game.

Dari dungeon tersebut, monster dan penyakit meluap tiada henti.

Katanya, dungeon tersebut merupakan konspirasi dari Dewa Jahat yang mengerikan.

Menghancurkan dungeon adalah misi bagi mereka yang lahir di dunia ini.

Untuk itulah para Dewa meminjamkan kekuatan kepada umat manusia──.

──Sayangnya, misi tersebut saat ini kabarnya sedang berada dalam jalan buntu.

Singkatnya, masalah utamanya adalah dungeon tersebut terlalu luas.

Labirin yang membentang jauh di bawah tanah dunia ini, berdasarkan data yang terkonfirmasi saja, ukurannya beberapa kali lipat lebih luas dari planet yang sudah sangat besar ini.

Sebuah dungeon super raksasa yang ujungnya tidak terlihat.

Ukurannya mustahil untuk dijelajahi dengan berjalan kaki.

Meski ada sihir perpindahan instan yang terasa seperti dunia fantasi, sihir itu adalah kemampuan individu.

Secara teknis, jumlah penggunanya sama sekali tidak mencukupi.

Intinya, masalahnya bukan karena musuhnya kuat, tapi secara fisik memang mustahil untuk ditaklukkan.

Sepertinya si Dewa Jahat memang tidak berniat membiarkan labirin itu diselesaikan.

Rasanya ingin memaki "Hei, itu curang, tahu!", tapi sebagai strategi bertahan hidup di dunia nyata, langkah itu sangatlah masuk akal.

Akibatnya, penaklukan tidak mengalami kemajuan selama ratusan tahun.

Selama itu pula, monster terus meluap dan penyakit terus menyebar. Maka dari itu, dibutuhkan sebuah terobosan untuk mengubah situasi saat ini.

Entah itu berupa teknologi mesin dari dunia lain, mobil, kereta api, atau pesawat terbang.

Sesuatu yang bukan sekadar barang tunggal, melainkan sistem yang bisa diindustrialisasi dan diproduksi massal.

Tepatnya, orang-orang Bumi dipanggil demi tujuan tersebut.

"Selesai, selesai!"

"Mau makan di mana nih?"

Tes berakhir, dan para reinkarnator di sekitar segera berdiri lalu berhamburan keluar kelas.

Waktu telah berlalu sejak mereka tiba, dan semuanya mulai terbiasa dengan dunia ini.

Para reinkarnator tidaklah dikurung di sini. Jadi, setelah tugas selesai, mereka tampak pergi ke berbagai tempat.

Turun ke kota, atau bermain menggunakan uang saku yang diberikan.

"…………"

……Yah, Konoe tidak melakukan hal semacam itu. Dia terus belajar sendirian karena tidak punya teman.

Sekarang pun dia menunduk agar tidak perlu bertatapan mata dengan siapa pun.

──Itulah Konoe. Dia benar-benar orang yang payah dalam berkomunikasi.

Beberapa menit kemudian, Konoe mengangkat wajahnya.

Dia pun keluar dari kelas yang sudah sepi, sambil memandang dari kejauhan betapa senangnya mereka semua.

"…………"

Sambil menyusuri koridor, Konoe memandang ke arah luar. Banyak reinkarnator yang berjalan dengan suasana hati ceria.

Tak ada satu pun yang terlihat pesimis. Setidaknya sejauh mata memandang.

Semuanya tertawa senang, bahkan ada yang menyapa gadis-gadis berambut pirang yang kemungkinan adalah ras Elf.

Mereka sudah terbiasa dengan dunia lain maupun ras lain, tanpa rasa takut atau putus asa. ……Bagi Konoe, hal itu terasa abnormal dalam artian tertentu.

Sebab, para reinkarnator ini dipanggil ke dunia lain yang benar-benar berbeda dari Bumi. T

anpa harta, tanpa pengetahuan, tanpa akal sehat, bahkan tidak tahu standar harga barang.

Di tempat seperti ini, mereka sebatang kara tanpa keluarga. Bukankah wajar jika mereka merasa pesimis? Bahkan tidak bisa tidur karena cemas pun bukan hal yang aneh.

Namun, semua orang justru hidup dengan optimis dan penuh tawa. Alasannya adalah……

(──Berkat para Dewa, ya.)

Singkat kata, itulah alasannya. Para reinkarnator kabarnya mendapatkan perlakuan istimewa dari para Dewa.

Tampaknya, melalui kebaikan mereka, reinkarnator diberikan kekuatan yang lebih dari cukup hanya untuk sekadar hidup normal.

Seorang reinkarnator yang dipanggil setahun lalu menjelaskan hal itu sambil tertawa.

Karena mengetahui jaminan tersebut, mereka bisa bermain tanpa beban.

(……Syukurlah kalau begitu.)

Tentu saja ini juga membantu bagi Konoe. Karena dia hanya manusia biasa.

Dia sadar dirinya adalah tipe orang yang akan mati pertama kali di luar layar jika ini adalah film horor.

……Yah, meskipun begitu, Konoe adalah orang yang penuh rasa curiga. Awalnya dia merasa ini terlalu menguntungkan hingga terasa mencurigakan.

Namun, selama tiga puluh hari mengamati di sini, tampaknya hal itu memang benar adanya.

(……Aku harus berterima kasih pada para Dewa.)

Dia sungguh berpikir demikian dari lubuk hatinya. Sambil membuat tanda salib dengan jarinya dan mempersembahkan doa syukur.

Karena jika tidak begitu, dia tidak akan bisa berjalan sesantai ini──.

"──Ah, kamu…… kalau tidak salah Konoe-kun, ya?"

"……!"

──Tepat saat dia selesai berdoa, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari samping.

Bahu Konoe tersentak saat mendengar namanya dipanggil secara mendadak.

"…………Instruktur."

"Ya, baru bertemu lagi sejak pelajaran kemarin."

Sambil berusaha berpura-pura tenang, dia menoleh dan melihat instruktur yang beberapa kali mengajar di kelasnya. Seorang wanita yang tampak berusia awal dua puluhan.

Ciri khasnya adalah rambut perak panjang yang lembut dan mantel putih bersih. Instruktur itu mendekati Konoe dengan langkah kaki yang ringan.

"Hei, aku dengar lho? Katanya kamu berusaha keras, ya? Nilaimu juga sangat bagus."

Lalu, dia tiba-tiba memujinya. Katanya, tingkat kehadiran Konoe bagus dan perilakunya di asrama juga patut dicontoh.

Mendengar kata-kata itu, Konoe pun……

"……Terima kasih. Hanya keseriusan yang saya miliki."

Dia menjawab dengan hati-hati agar suaranya tidak gemetar.

Dia adalah tipe orang yang sangat canggung, yang hanya bisa melakukan percakapan formal namun payah dalam obrolan santai.

……Itu pun dilakukan dengan susah payah dan selalu merasa terpojok. Fakta bahwa instruktur ini cantik juga tidak membantu.

Konoe adalah tipe orang yang justru ingin melarikan diri saat berhadapan dengan orang cantik.

"Hmm, begitu ya. Jadi keseriusan adalah kelebihanmu."

Namun, tanpa mempedulikan kegugupan Konoe, sang instruktur justru semakin mendekat.

Jarak mereka sangat dekat hingga Konoe bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dia cantik pada level yang sulit ditemukan di Bumi.

……Namun, Konoe tidak menganggap situasi ini sebagai sebuah keberuntungan.

Dia justru memalingkan wajah dan mencoba menjauh.

"Ngomong-ngomong, Kamu."

"……Eh, iya."

"Apa kamu sudah menentukan Blessing-mu?"

Kepada Konoe, instruktur itu mengajukan sebuah pertanyaan.

──Apa yang dimaksud dengan Blessing? Itu adalah kekuatan yang dimiliki setiap orang di dunia ini, yang dianugerahkan oleh para Dewa.

Ada banyak Dewa di dunia ini, dan masing-masing memberikan Blessing yang berbeda sesuai otoritas mereka. Begitulah yang diajarkan selama ini.

Kekuatan spesial itu bisa meningkatkan kekuatan sihir atau mempercepat penguasaan teknik tertentu.

Namun, karena dipengaruhi oleh garis keturunan dan lingkungan, orang biasa tidak bisa memilih Blessing apa yang akan mereka dapatkan.

Sering kali mimpi seseorang harus terhenti hanya karena mereka mendapatkan Blessing yang tidak sesuai.

──Namun, reinkarnator bisa memilih Blessing mereka sendiri.

Hak itulah yang merupakan perlakuan istimewa terbesar bagi para reinkarnator.

Karena tidak terikat darah maupun asal-usul, mereka bebas memilih, bahkan diberi sedikit bonus.

Mereka boleh memilih Blessing apa saja. Baik itu kekuatan untuk menaklukkan dungeon maupun kekuatan di bidang produksi.

Saking bebasnya, ada yang sampai merasa bingung sebagai bentuk masalah yang mewah──.

"──Blessing, saya belum menentukannya."

Konoe pun masih dalam tahap bimbang. Meski sempat terpikir untuk memilih Blessing sihir ruang, dia belum punya alasan kuat untuk menetapkannya.

Orang lain kabarnya saling berdiskusi satu sama lain, tapi Konoe tidak punya teman bicara.

……Memangnya kenapa kalau belum memilih?

"Heh, begitu ya!"

"──!?"

──Tiba-tiba, sang instruktur menepuk-nepuk bahu Konoe. Konoe terkejut oleh kontak fisik yang mendadak itu dan tubuhnya tersentak hebat.

"Kalau begitu, aku punya satu Blessing rekomendasi."

"………………Eh?"

"Pilihlah Life Magic, ya, itu saja."

Instruktur itu berkata bahwa itu sangat cocok untuk Konoe yang serius. ──Life Magic?

"Jika Blessing-nya tidak kuat, kamu tidak akan bisa menjadi kelas satu, dan itu butuh usaha keras. Tapi untuk reinkarnator, kekuatan Blessing-nya sudah terjamin, jadi ini sangat pas."

"……"

"Bagaimana? Hubungan guru dan muridnya tidak seketat di bidang produksi, dan jauh lebih mudah menghasilkan uang dibandingkan sihir lainnya…… Kamu akan jadi sangat kaya, lho?"

Konoe pernah mendengar tentang Life Magic. Singkatnya, itu adalah sihir penyembuhan──sihir untuk mengobati luka dan penyakit.

Katanya sihir lain juga bisa digunakan untuk pengobatan, tapi dalam hal menyembuhkan, Life Magic adalah yang terkuat. Intinya, itu adalah sihir untuk dokter yang khusus dalam pemulihan.

Yah, dia rasa itu memang akan menghasilkan banyak uang. Sebenarnya itu sempat masuk dalam daftar pilihannya…… tapi dia melupakannya karena menganggap sihir ruang lebih serbaguna.

Dia juga dengar semua penyihir setidaknya bisa menyembuhkan luka ringan.

Namun, instruktur itu mencengkeram bahu Konoe sedikit lebih kuat dan──

"──Lihat gedung di sana? Ya, gedung besar itu. Sebenarnya itu bukan kediaman bangsawan, lho. Itu rumah seorang pengguna Life Magic. Artinya, dia bisa menghasilkan uang sebanyak itu untuk merawat gedung semegah itu dengan mudah."

"……Ha, baik."

"──Lalu, Life Magic bukan cuma soal penyembuhan, tapi Physical Enhancement-nya juga luar biasa. Kamu bisa aktif sebagai petualang. Kamu tahu turnamen bela diri tahunan? Pemenang selama beberapa dekade terakhir semuanya adalah pengguna Life Magic."

"……Begitu rupanya."

──Rekomendasi yang bertubi-tubi dari instruktur menyerang Konoe yang sedang kebingungan. Konoe terkejut, namun tetap mendengarkan dengan serius.

Dia bangga pada dirinya sendiri bahwa menjadi serius adalah satu-satunya kelebihannya.

"Umurmu juga akan jadi lebih panjang. Yah, semua orang memang akan berumur panjang jika meningkatkan Mana dan Vitality, tapi pengguna Life Magic bisa tetap muda dan cantik dalam waktu yang jauh lebih lama."

"……Begitukah?"

Instruktur itu terus mempromosikan Life Magic tanpa henti. Konoe mendengarkan dengan wajah serius sambil membatin……

(──Tapi, entah kenapa.)

Dia merasa instruktur ini hanya mengatakan hal-hal yang bagus saja. Terasa mencurigakan karena dia sama sekali tidak menyebutkan kekurangannya.

Konoe adalah orang yang sangat penuh curiga. Tingkat kecurigaannya setara dengan tingkat keseriusannya.

Sifat penyendiri, kepribadian suram, dan rasa curiga itu ternyata tidak sembuh meski dia sudah mati sekali pun.

Pada dasarnya, Konoe adalah tipe orang yang memulai segala sesuatu dari rasa ragu.

"……"

Yah, karena lawan bicaranya adalah instruktur, dia ingin mempercayainya.

Tapi cerita ini terdengar terlalu indah. Penipu biasanya hanya membicarakan hal-hal yang menguntungkan.

Ditambah lagi, fakta bahwa instruktur ini adalah wanita cantik justru menjadi nilai minus baginya. Takut terjebak tipu muslihat.

"……Saya mengerti. Saya akan mempertimbangkannya sebagai salah satu pilihan."

Maka, dia mengucapkan kata-kata penolakan halus dan berniat pergi dari sana──

"Tunggu sebentar. Apa kamu tidak punya tujuan? Meski butuh usaha, tapi sihir ini bisa mengabulkan apa pun, lho?"

──Namun sang instruktur menahan bahunya. Justru karena dia bilang begitu, Konoe jadi semakin merasa curiga.

"Kamu meragukanku? Tidak ada kebohongan dalam kata-kataku. Tidak ada niat jahat juga. Hanya saja, jumlah orang yang bisa menjadi kelas satu dalam Life Magic itu sedikit. Aku menyarankannya karena tulus ingin setidaknya ada satu orang lagi yang mencoba."

Dia melanjutkan dengan nada mantap.

"──Kalau perlu, aku akan bersumpah demi Tuhan. Bahwa tidak ada kebohongan dalam perkataanku mengenai Life Magic yang aku sampaikan kepadamu kali ini."

"……Demi Tuhan?"

Konoe terkejut. Dia tahu bahwa di dunia ini, bersumpah demi Tuhan adalah hal yang sangat berat.

Sumpah itu bersifat absolut. Jika dilanggar, Blessing akan berkurang, kekuatan melemah, dan semua usaha selama ini akan sia-sia.

Semua instruktur selalu memperingatkan agar jangan pernah mengucapkannya sembarangan. Dia pernah mendengar cerita tentang reinkarnator yang kehilangan Blessing berharganya karena asal bicara.

Kisah yang sama juga tertulis di buku-buku perpustakaan. ──Oleh karena itu, kredibilitas perkataannya kini meningkat tajam.

"Nah, kalau kamu sudah percaya, coba pikirkan sekali lagi."

Instruktur itu menatap lurus ke mata Konoe dan berkata perlahan.

"Uang, kehormatan──bahkan wanita pun, apa pun bisa kau dapatkan. Membangun harem juga mudah. Kau bahkan bisa membeli seratus budak cantik jelita untuk melayanimu, lho?"

……Budak, harem?


2

──Budak Harem.

Itu adalah istilah yang mulai sering muncul dalam karya fiksi Jepang sejak beberapa waktu lalu.

Seorang protagonis membeli budak-budak cantik, lalu hidup dikelilingi oleh mereka sembari bermesraan.

Bersikap lembut lalu dicintai, atau sebaliknya, bersikap kejam lalu dibenci. Ya, kira-kira seperti itulah gambaran ceritanya.

Isinya memiliki banyak variasi, dan belakangan ini istilah tersebut sudah tidak bisa lagi didefinisikan hanya dengan satu kalimat, tetapi garis besarnya memang seperti itu.

Singkatnya, bisa dibilang itu adalah impian setiap pria. Konoe pun pernah membaca cerita semacam itu sebelumnya.

──Karena itulah, hati Konoe mendadak bimbang mendengar kata-kata sang instruktur. Habisnya, dia memang merasa iri.

Entah berapa banyak orang yang membaca kisah seperti itu di masa puber mereka, lalu berakhir berfantasi di atas tempat tidur.

Jika dengan budak, mungkin orang seperti dirinya pun bisa dicintai.

Jika di dunia lain, mungkin dia bisa berjalan berdampingan dengan seseorang. Fantasi semacam itu.

Namun, hal itu mustahil dan tidak mungkin terwujud, sehingga dia menghela napas dan menyerah, menganggapnya tak berarti dan konyol. Padahal, fantasi itu kini──.

"Heh, jadi kamu mendambakan budak harem?"

──Tiba-tiba saja fantasi itu melompat keluar ke dunia nyata.

"Begitu rupanya, begitu rupanya."

"……A, tidak."

Konoe panik karena telanjur bereaksi terhadap kata "budak harem" di depan seorang wanita. Namun, sang instruktur justru menyeringai.

Sambil mengangguk-angguk paham, dia menepuk-nepuk bahu Konoe.

"Bagus, kan? Itu memang impian pria, lho."

"……Bukan, itu."

"Aku mengerti, kok. Pria memang seperti itu, kan?"

Sang instruktur berkata bahwa hal semacam ini tetap sama meski dunianya sudah berubah.

"Kamu boleh berharap banyak. Berapa pun jumlahnya, puluhan orang pun tidak masalah."

"Asalkan kamu menguasai Life Magic, diakui──dan menjadi Adept. Kamu bisa mendapatkan seribu koin emas dengan mudah."

"Kamu bisa pergi ke pedagang budak dan membeli gadis-gadis cantik satu per satu!" begitu katanya.

Karena sikapnya yang terlalu terang-terangan, Konoe justru menyimak dengan serius alih-alih merasa risi.

"Membeli rumah mewah di ibu kota, dikelilingi banyak budak──yah, meski latihannya berat, kalau sudah berhasil melewatinya, sisanya kamu bisa bersenang-senang sepuasnya!"

Instruktur itu terus mengatakan hal-hal yang sangat menguntungkan.

Dia menepuk-nepuk bahu Konoe dengan keras.

Guncangan itu membuat pandangan Konoe goyah──dan di saat yang sama, hatinya pun sedikit goyah.

"Lihat ke sana. Ada gadis-gadis Elf, kan?"

Tatapan Konoe mengikuti arah telunjuk sang instruktur. Di sana ada gadis-gadis Elf yang dia lihat tadi; gadis-gadis cantik berambut pirang yang menyapa orang-orang Bumi dengan ceria.

Warna emas rambut mereka berkilau indah di bawah sinar matahari. Sebuah kecantikan dari dunia lain yang tidak ada di Bumi.

"Di duniamu tidak ada Elf, kan? Gadis-gadis seperti itu pun pasti bisa kamu miliki sesukamu."

"……"

Mata Konoe bergerak gelisah. Benarkah? Hal seperti itu bisa menjadi kenyataan?

Dia sempat mengira itu bohong──tapi tadi sang instruktur sudah bersumpah demi Tuhan. Jika demikian, apakah orang seperti dirinya benar-benar bisa memiliki budak harem?

Itu artinya──.

──Apakah hidupku selama ini ada artinya?

Mungkin kali ini, dia tidak perlu mati sendirian di dalam kamar rumah sakit yang sepi. Kali ini, bukan sebagai orang asing yang tidak dipedulikan, bukan sebagai orang yang dianggap pengganggu.

Meski dia payah dalam berkomunikasi, meski tidak bisa membangun hubungan normal, kali ini dia ingin bersama seseorang.

"Jalan menuju Adept memang berat, tapi untuk orang yang serius dan pekerja keras sepertimu, pasti akan baik-baik saja."

"Tenang saja, pendidikan Life Magic itu sangat mendalam. Kami akan membimbingmu sampai akhir, meski butuh waktu bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun."

"──"

……Goyah. Hatinya benar-benar goyah. Meski dia sempat mendengar bahwa latihannya berat, hal itu tidak lagi menjadi masalah karena hatinya sudah terpikat.

"──Aku bersumpah demi Tuhan. Aku tidak punya niat tersembunyi ataupun niat jahat."

"Aku merekrutmu karena kamu memiliki potensi, demi kepentingan orang banyak, dunia, dan Tuhan."

(……Potensi? Aku? Benarkah? Karena aku serius?)

Konoe memang merasa bangga akan keseriusannya. Selama ini dia hidup seperti itu. Jika tidak, dia tidak akan bisa mendapatkan tempat di masyarakat.

Konoe si pengganggu. Konoe yang tidak bisa sekadar berbasa-basi secara normal. Untuk bisa bertahan hidup di dalam masyarakat, dia tidak punya pilihan selain memakai topeng "orang serius".

"……"

Jika menguasai Life Magic, mungkin dia bisa menghasilkan banyak uang. Jika menghasilkan banyak uang, mungkin dia bisa membangun budak harem.

Mungkin kali ini, dia bisa menjalani hidup dengan dikelilingi orang-orang. Memikirkan hal itu membuatnya silau.

Dia sudah tidak mau lagi mengalami akhir di mana tidak ada orang yang mengulurkan tangan meski dia sangat menderita, dan tidak ada yang bersedih saat dia mati.

(──Tidak, tidak, tunggu. Tenanglah.)

Otaknya serasa berputar, tetapi Konoe segera mencoba menenangkan diri. Rasa curiga yang telah ia pupuk selama bertahun-tahun menahannya.

Dia berulang kali memperingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang.

Tidak mungkin semuanya berjalan semudah itu.

Seumur hidupnya, tidak pernah ada hal yang berjalan semulus itu bagi Konoe.

(……Benar, lagipula kalaupun aku membeli budak……)

Pada dasarnya, dia merasa hal itu pun tidak akan berjalan lancar bagi dirinya.

Meskipun dia tidak memiliki pengetahuan tentang sistem perbudakan di dunia ini, ini adalah kenyataan, bukan cerita fiksi.

Bahkan seorang budak sekalipun pasti memiliki kehendak bebas dan hak untuk memilih siapa yang ingin mereka cintai.

Dia mungkin bisa membeli budak, tetapi apakah dia bisa menjalin hubungan baik dengan mereka, itu tergantung pada kapasitas sang tuan.

Singkatnya, membangun harem adalah hal yang mustahil bagi orang yang bahkan tidak bisa mencari teman secara normal.

Alih-alih dicintai, dia justru akan dibicarakan di belakang, merasa tersakiti, dan akhirnya malah kembali terisolasi.

"Ada apa?"

Instruktur itu bertanya dengan wajah heran, mungkin karena Konoe tiba-tiba menjadi sangat tenang.

"……Tidak, saya rasa saya akan membatalkan niat itu. Kalau begitu, saya permisi."

"Eh, kenapa? Tunggu, tunggu!"

Konoe mencoba melarikan diri dengan paksa, tetapi bahunya kembali dicengkeram. Karena terdesak, dia terpaksa mengutarakan apa yang tadi dia pikirkan.

Tentang manusia yang harus tahu diri. Tentang orang sepertinya yang tidak akan bisa menjaga sebuah harem. Dia menjelaskan bahwa secara sosial, hubungan itu akan hancur dalam waktu singkat.

──Itulah sebabnya aku harus hidup dengan cara yang lebih aman seperti biasanya. Begitulah pikirnya.

"Hmm, soal menjaga hubungan ya…… Tenang! Kalau soal itu, kamu tidak perlu khawatir!"

"──Eh?"

Instruktur itu tertawa kecil. Lalu, dia memberikan kekuatan lebih pada tangannya yang berada di bahu Konoe.

"Kalau kamu berpikir begitu, justru bukankah itu alasan kenapa kamu harus menjadi Adept?"

Instruktur itu menatap Konoe dari jarak dekat dengan senyum manis tersungging di wajahnya──.

"──Boleh aku jelaskan? Budak pada dasarnya tidak memiliki hak asasi manusia. Mereka tidak punya hak untuk menolak perintah."

"……"

"Dan seorang yang telah menguasai Life Magic, seorang Adept, secara hukum diizinkan melakukan lebih banyak hal daripada orang biasa."

"Misalnya, izin penggunaan obat-obatan khusus. Hal itu tidak berlaku bagi Blessing lainnya, tahu? Seorang Alchemist bisa membuatnya, tetapi dilarang menggunakannya."

"……Apa maksud Anda?"

"Dengarkan baik-baik. Intinya, jika kamu seorang Adept──kamu bisa menggunakan ramuan pemikat."

"────"

──Konoe tertegun.

Konoe yang tidak pernah dibutuhkan oleh siapa pun. Konoe yang tidak pernah bisa bicara normal dengan siapa pun.

"………………………………………………Baik."

Konoe kalah oleh nafsunya sendiri. Dia menerjang sekuat tenaga umpan yang tergantung tepat di depan matanya.

──Mengenai ramuan pemikat, Konoe berpikir. Ramuan yang memaksa seseorang untuk jatuh cinta. Zat terlarang milik iblis yang mempermainkan perasaan manusia sesuka hati.

Itu adalah obat yang sangat egois dan menyimpang dari jalan yang benar. Nilai moral yang dia pelajari di Jepang menjerit, dan sisi logis di kepalanya memaki dirinya sendiri sebagai sampah.

Hal seperti itu tidak seharusnya dimaafkan. Tidak boleh dimaafkan.

"……"

Tapi…… apakah ada cara lain?

Selama lebih dari dua puluh tahun hidup, Konoe tidak pernah bisa menjalin hubungan yang normal dengan siapa pun. Ke mana pun dia pergi, dia selalu terisolasi. Konoe yang bahkan kesulitan untuk menatap mata lawan bicaranya.

Orang seperti dia tidak bisa memikirkan cara lain. Yang dia inginkan hanyalah satu hal. Meski dia payah dalam berkomunikasi seperti ini.

(……Jika ada ramuan pemikat, apakah orang sepertiku pun bisa menjadi nomor satu bagi seseorang?)

Menjadi sosok spesial bagi seseorang. Sesuatu yang berharga. Dia bertanya-tanya apakah dirinya pun bisa menjadi seperti sosok yang selama ini dia dambakan──.

──Lalu, beberapa hari berlalu.

Hari itu, pelatihan bagi para reinkarnator berakhir. Kecuali sebagian kecil, hampir semua reinkarnator meninggalkan asrama dan mulai melangkah di jalan pilihan masing-masing.

Demi mendapatkan Blessing pilihan mereka, mereka yang ingin menjadi ksatria pergi ke Warrior Guild, dan mereka yang ingin menjadi penyihir pergi ke Magic Guild.

"……"

Dan Konoe pun mengetuk pintu Life Magic Guild. Setelah disambut dengan hangat dan merasa muak pada dirinya sendiri yang hanya bisa membalas dengan "Terima kasih" dan "Saya akan berusaha keras", dia dibawa masuk ke bagian dalam guild.

Di sana, berdirilah wujud fisik dari Dewa yang pernah dia dengar dalam cerita. Dewa itu berwujud seorang gadis suci dengan sayap malaikat yang tumbuh di punggungnya.

Dengan wajah cantik dan mata yang murni tanpa kebencian, dia menyambut Konoe.

"Wahai insan, apakah engkau berharap untuk menempuh jalan kehidupan?"

Mendengar itu, Konoe……

"──Iya."

Dia menjawab singkat sembari sedikit memalingkan wajah. Meski terasa tidak sopan, dia tidak sanggup menatap matanya.

Namun, Sang Dewa kembali tersenyum pada Konoe.

"Kalau begitu, terimalah berkat ini. Semoga jalan yang engkau tempuh dipenuhi dengan banyak senyuman."

Bersamaan dengan kata-kata itu, cahaya memenuhi sekeliling. Konoe merasakan sesuatu yang hangat bersemayam di dalam tubuhnya──.

──Lalu, tiga puluh hari kemudian. Konoe sedang berada di ambang kematian di sudut area latihan.


3

"──Gah, aaaggghhh, aaakh!"

Konoe memuntahkan darah.

Dia memuntahkan isi perutnya. Jeritan lolos dari mulutnya.

Rasa sakit mendominasi sistem saraf pusatnya.

Otaknya terasa berguncang, dan lantai area latihan tempat dia meringkuk sekarang terasa seperti jungkat-jungkit yang tidak stabil.

"Bangunlah. Monster tidak akan menunggumu sepertiku, tahu?"

Suara instruktur turun dari atas kepalanya. Instruktur yang sama yang mengajaknya bergabung.

Namun, tidak ada lagi kelembutan seperti hari itu dalam suaranya.

"……Guh, ……kh!"

Meski terasa menyakitkan, Konoe mendengar suara sesuatu yang membelah udara, dan dia segera berguling ke samping.

Tepat di tempat dia meringkuk tadi, sebuah tombak latihan menancap.

Konoe bangkit berdiri sembari berlumuran muntahan darahnya sendiri.

"……Ugh, gaaaah!"

Dia memaksa anggota tubuhnya yang terasa berat seperti timah untuk mulai berlari. Sebab, dia tahu jika tidak melakukannya, dia akan mengalami hal yang lebih buruk lagi.

Sambil berlari, dia membatin. Yah, memang akan jadi begini, kan.

Dia sudah tahu sejak awal. Tidak mungkin semuanya berjalan semudah itu.

Konoe tidak pernah menjalani kehidupan yang semulus itu. Dunia ini kejam.

Lagipula, Konoe sendirilah yang dengan sengaja mengabaikan peringatan instruktur bahwa latihannya akan sangat berat.

Jika dipikir sedikit saja, jawabannya sudah jelas.

Uang bisa dihasilkan.

Kehormatan bisa didapatkan.

Jika memang sesederhana itu, mengapa instruktur harus bersusah payah merekrut orang?

Normalnya, orang-orang akan datang dengan sendirinya.

Fakta bahwa itu tidak terjadi berarti sudah pasti ada jebakan mengerikan di baliknya.

"──Hah, hah……"

Itulah sebabnya sekarang Konoe menderita, seolah menerima ganjaran karena telah bertindak gegabah.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan tangan dan kaki.

Sambil berlumuran darah, dia terus berlari di tengah pelatihan yang terlampau kejam ini.

"Jika kamu berlari, alirkan Mana-mu. Gunakan seluruh kekuatanmu untuk melakukan Physical Enhancement──jika tidak bisa, matilah saja. Tenang saja, jika kamu mati, aku bisa melakukan Resurrection segera setelahnya."

"……Kh!"

Pelatihan yang tidak normal. Sebuah metode Spartan yang tidak mungkin ada di Jepang.




Apakah Konoe, yang telah menderita sedemikian rupa, telah tertipu? Jawabannya adalah tidak.

Semua yang dikatakan instruktur waktu itu adalah kebenaran. Uang bisa didapat. Reputasi bisa diraih.

Bahkan wanita pun bisa dimiliki sesuka hati, dan penggunaan obat-obatan terlarang pun sangatlah mudah.

Adept──sebutan bagi mereka yang telah menguasai Life Magic.

Konon, setelah meraih gelar tersebut, hampir tidak ada hal yang tidak bisa didapatkan.

Sepertinya segala keinginan bisa terwujud.

Alasannya adalah──.

"──Seorang Adept adalah pelindung umat manusia. Benteng terakhir bagi rakyat yang tak berdaya. Kekalahan tidak diizinkan. Engkau harus menjadi yang terkuat di atas segalanya."

Konoe baru menyadari bahwa tanpa sadar dia telah mengincar posisi yang luar biasa berat pada hari pertama pelatihannya.

Dan sejak hari itu, Konoe terus berlari sembari memuntahkan isi perutnya.

Dia terus berlari sembari memaksakan aliran Mana yang baru saja dia pelajari ke seluruh tubuhnya yang terus-menerus didera rasa sakit.

Sedikit saja dia lengah, tinju akan melayang dan membuatnya memuntahkan darah.

Setiap kali latihan fisik berakhir, staminanya akan dipulihkan dengan Life Magic hanya untuk lanjut mempelajari sihir.

Hampir seluruh waktunya, selain untuk makan dan istirahat sejenak, dikorbankan demi Life Magic.

──Katanya, bagi orang biasa, sekadar memiliki Mana saja tidak cukup untuk menguasai Life Magic.

Seseorang dengan bakat luar biasa mungkin bisa menguasainya dengan latihan biasa.

Namun, instruktur mengatakan bahwa bagi orang biasa, diperlukan vitalitas yang sangat tangguh, dan untuk menempa vitalitas itu, seseorang harus menjadi kuat.

Dibutuhkan tekad yang pantang menyerah, tubuh yang melampaui baja, dan kemampuan tempur yang luar biasa.

Pelatihan ini adalah cara agar orang biasa bisa menguasai sihir tingkat ekstrem yang seharusnya tidak mungkin didapatkan. Neraka ini adalah jalannya.

"Jika lenganmu patah, bertarunglah dengan kaki. Jika kehilangan kaki, merangkaklah dan gigit lawanmu.

Bertarunglah meski engkau mati. Jadilah perisai bagi rakyat yang tidak berdosa. Itulah Adept."

──Rasanya ingin sekali dia berteriak bahwa itu mustahil.

Mana mungkin hal seperti itu bisa dilakukan.

Tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang tidak sakit, dan mentalnya sudah hampir hancur.

Konoe yang hanya orang biasa tidak diciptakan untuk menahan latihan seketat ini.

Sebenarnya, dia ingin melarikan diri sekarang juga dan menyatakan berhenti.

...Tapi.

"……!!"

Alasan Konoe tetap berlari mati-matian adalah karena dia memiliki tujuan.

Budak Harem.

Ramuan Pemikat.

Tak peduli seberapa hina atau salahnya tujuan itu, dia ingin merasakannya kali ini.

"Konoe, untuk apa kamu datang ke sini? Kenapa kamu mengincar posisi Adept?"

Benar. Jika dia berusaha, dia pasti bisa mendapatkannya.

Dia tidak akan sendirian lagi.

Jika dia berjuang, di ujung sana pasti ada sesuatu.

──Di Jepang dulu berbeda. Meski sudah berusaha, tetap saja gagal. Yang dibutuhkan adalah kemampuan komunikasi, dan Konoe yang tidak bisa mendapatkannya sama sekali tidak memiliki hak. Dia hanya bisa hidup sendirian. Karena itulah dia selalu sendirian, dan pada akhirnya, dia mati sendirian sambil meronta kesakitan.

──Namun, di dunia ini, jika dia berusaha, dia bisa mendapatkannya. Konoe tidak buruk dalam hal usaha dan belajar. Sebab, selama ini dia hanya menghabiskan waktunya untuk belajar. Hanya belajar yang bisa dia lakukan.

Keluarganya berantakan.

Dia tidak bisa mencari teman.

Dia tidak punya uang untuk bersenang-senang, namun dia juga tidak punya keberanian untuk menjadi anak nakal.

Dia hanya punya banyak waktu luang.

Itulah sebabnya dia selalu duduk menghadap meja belajar.

Otaknya tidak lebih jenius dari orang lain, tapi karena dia bisa mencapai standar rata-rata, sisanya dia selesaikan dengan kerja keras.

Karena setidaknya dia dibiayai, dia bisa masuk ke universitas yang lumayan......Tapi, hasilnya adalah.

(──Aku tidak mau lagi mati sendirian.)

Itulah yang dia takuti.

Dia tidak meminta seseorang untuk terus berada di sampingnya.

Tapi, sedikit saja, setidaknya dia ingin ada yang merasa sedih saat dia tiada. Jika itu terwujud, maka Konoe akan...

……Orang sepertiku seharusnya tidak usah lahir saja.

──Di saat terakhirnya. Menjelang ajal menjemput, seharusnya dia tidak perlu memikirkan hal semacam itu.

"……kh, hah, hah, kh, hah!"

Karena itulah, demi "kali ini", Konoe terus berlari. Dia menelan kembali muntahannya, mengabaikan rasa sakit, dan terus mengerakkan kakinya maju ke depan sekuat tenaga──.

──Lalu, setahun kemudian. Mental Konoe benar-benar hancur.

"……Ini mustahil, kan."

Menjadi Adept terlalu berat bagi orang biasa.

Dia rasa ini memang mustahil.

Latihan dan belajar yang tidak ada habisnya dari pagi hingga malam.

Begitu satu target terlampaui, target berikutnya segera ditetapkan.

Begitu dia mulai terbiasa dengan satu latihan, tingkat kesulitan latihan tersebut langsung dinaikkan.

Setelah melewati hari-hari seperti itu, akhirnya mental Konoe menyerah juga.

Sebenarnya, bisa bertahan selama satu tahun saja sudah bisa dibilang luar biasa.

Konoe pernah mendengar kabar burung bahwa puluhan reinkarnator dari Bumi sebelumnya pernah mencoba menjadi Adept, dan semuanya melarikan diri sebelum sepuluh hari.

Kenyataannya, hampir sejak awal Konoe sudah memecahkan rekor bertahan terlama.

Latihan yang sangat kejam ini memang memilih orang.

Konoe tahu ada pepatah yang mengatakan, "Manusia yang tidak memikul beban apa pun tidak akan sanggup menahan pelatihan Adept."

(──Mari menyerah saja.)

Dia pikir dia sudah berjuang cukup keras.

Karena dia sudah menjadi lumayan kuat, dia yakin bisa bertahan hidup dengan layak meski keluar dari sini.

Belakangan ini, dalam latihan, Konoe sudah bisa mengalahkan monster yang diklasifikasikan sebagai tingkat menengah di Adventurer Guild.

Selain itu, dia juga sudah bisa menggunakan sihir penyembuhan tingkat menengah.

Seberapa berharganya kemampuan itu... dia dengar di negara ini, jika seseorang bisa mencapai tingkat bawah dalam bidang apa pun, dia bisa menghasilkan cukup uang untuk setidaknya makan.

Tidak bisa bermewah-mewah, tapi bisa menjalani hidup sederhana bersama keluarga.

Dalam lingkungan sosial seperti itu, Konoe telah mencapai tingkat menengah di dua bidang sekaligus.

Ini sudah lebih dari cukup untuk sekadar menyambung hidup.

Sebagai catatan, dengan latihan biasa, seorang manusia normal butuh waktu dua puluh tahun untuk menguasai sihir penyembuhan tingkat menengah.

Bukannya senang, Konoe justru terpana saat mendengarnya. Seberapa gila latihan yang telah dia jalani selama ini?

(……Yah, pada akhirnya rencana Budak Harem dengan Ramuan Pemikat memang tidak cocok untukku.)

Konoe berpikir dengan mental yang sudah patah.

Manusia harus tahu diri.

Itu adalah mimpi yang terlalu tinggi bagi orang biasa sepertinya.

"…………"

──Maka, pada tengah malam itu. Untuk mengatakan "aku berhenti" kepada instruktur, Konoe berjalan menyusuri koridor akademi setelah latihan berakhir.

Melanjutkan pelatihan Adept memang sulit, tapi untuk berhenti itu sangat mudah.

Cukup katakan satu kata kepada instruktur bahwa dia berhenti.

Dia sudah melihat banyak orang melakukannya.

Jadi, seperti saat dia melepas kepergian orang-orang itu sebelumnya, kini giliran Konoe.

"…………?"

──Saat itulah, dia menyadarinya.

Ada sesuatu di koridor yang menuju ke kamar instruktur. Bukan, bukan sesuatu.

Dia mengenalnya.

Dia pernah melihatnya.

Sayap putih bersih, dan rambut putih murni.

Paras cantik yang terasa tidak nyata.

Mata merah.

Cahaya dari sosok itu menatap lurus ke arah Konoe dari sudut koridor.

──Sang Dewa ada di sana.


4

Koridor besar yang menuju ke kamar instruktur.

Di balik pilar di sudut koridor itu, ada sesosok bayangan yang sedang memperhatikan Konoe.

Di tengah kesunyian udara tengah malam.

Bahkan di tempat temaram yang hanya diterangi lampu dinding, sosok manusia serba putih itu tampak bersinar.

──Dewa.

Wujud fisik dari Dewa Life Magic.

Gadis cantik yang tampak seperti boneka itu sedang menatap ke arah sini dengan saksama.

"……?"

……Entah kenapa, bagi Konoe, wajah Sang Dewa tampak sedikit sedih. Dia bertanya-tanya mengapa Sang Dewa menatapnya dengan pandangan seperti itu.

Sempat terlintas di pikirannya apakah Sang Dewa tahu dia akan berhenti, tapi dia segera menepisnya; Dewa tidak mungkin menunjukkan wajah sedih hanya karena orang seperti dirinya berhenti.

Dia tidak mengerti, tapi dia juga tidak bisa memalingkan mata dari Sang Dewa yang sedang menatapnya.

Jadi, Konoe tetap di sana, saling berpandangan dengan Sang Dewa.

"………………"

"………………?"

Setelah beberapa saat, Sang Dewa memberikan isyarat tangan. Seolah-olah berkata, "Kemarilah." Sang Dewa melakukan gerakan itu ke arah Konoe.

"…………?"

Konoe menoleh dan melihat ke arah belakangnya.

Dia pikir mungkin ada orang lain di sana.

Itu sudah menjadi insting orang yang payah berkomunikasi.

Tapi tidak ada siapa-siapa, dan saat dia kembali melihat ke depan, Sang Dewa menunjukkan wajah agak heran sembari tetap memberi isyarat tangan.

Konoe menunjuk wajahnya sendiri. Sang Dewa segera mengangguk.

"……"

Begitu Konoe melangkah mendekat, Sang Dewa juga mulai berjalan.

Di ujung jalan itu, ada sebuah ruangan. Konoe mengikuti dari belakang.

Kepalanya penuh dengan tanda tanya dan dia merasa sangat gugup.

Namun, dia tidak punya cukup nyali untuk melarikan diri setelah dipanggil oleh Dewa.

──Ruangan yang mereka masuki hanya berisi sebuah meja dan dua buah kursi. Di atas meja sudah tersaji satu set perlengkapan minum teh beserta kudapan.

Sang Dewa duduk di salah satu kursi.

Kemudian, dengan gerakan tangan, dia mempersilakan Konoe duduk di kursi satunya.

Konoe menarik kursi dengan ragu-ragu lalu duduk.

Di sisi lain, Sang Dewa mengulurkan tangan ke arah teko teh.

"…………"

"…………"

Sang Dewa menuangkan teh ke dalam cangkir.

Hanya suara itu yang menggema di dalam ruangan.

Teh dituang ke dalam dua cangkir, dan salah satunya diletakkan di depan Konoe.

Sang Dewa memberikan gestur "silakan".

Dia tidak mengucap sepatah kata pun.

Konoe tahu bahwa sosok ini tidak akan pernah membuka mulut kecuali pada saat-saat istimewa seperti memberikan berkat.

──Sebab, di dunia ini, kata-kata Dewa adalah mutlak.

Manusia di dunia ini tidak boleh menentang Dewa.

Jika mereka menentang, Blessing mereka akan hilang.

Karena itu, kata-kata Dewa bagi manusia adalah sebuah perintah, itulah sebabnya Sang Dewa tidak bicara.

Sosok ini tahu bahwa kata-katanya yang tidak sengaja pun bisa menyiksa orang lain.

"……"

Sekarang, di hadapan Konoe bukan sebuah perintah, melainkan teh dan kue yang disuguhkan Sang Dewa dengan ramah.

"……"

Konoe mengulurkan tangan ke cangkir.

Dia menyesapnya perlahan.

Aroma yang harum semerbak melewati hidungnya, dan teh dengan suhu yang pas itu turun ke dalam perutnya.

"……Enak."

Tanpa sadar dia bergumam.

Dia menghela napas lega. Ketegangan di bahunya seolah sedikit meluruh.

……Kemudian, keheningan menyelimuti mereka kembali untuk beberapa saat.

Tiba-tiba, Sang Dewa tersenyum ke arah Konoe dan memiringkan kepalanya sedikit.

Melihat gerakan itu, entah mengapa Konoe merasa...

──Apakah pelatihannya berat?

Meskipun tanpa kata-kata, dia merasa Sang Dewa menanyakan hal itu padanya.

Dan akhirnya, Konoe mengakui kenyataannya. Alasan Sang Dewa mengajaknya kali ini.

Sosok ini tahu bahwa dirinya berniat melarikan diri dari pelatihan, itulah sebabnya Sang Dewa memanggilnya.

Dia bingung harus menjawab apa kepada Sang Dewa.

"……Iya, benar. Sangat berat."

Kejujuran tanpa kepura-puraan meluncur begitu saja dari mulutnya.

Mungkin karena mulutnya sudah rileks setelah meminum teh, atau mungkin karena senyuman Sang Dewa terasa sangat lembut.

Kemudian, sebuah perasaan "begitu ya" tersampaikan dari Sang Dewa.

Pasti melelahkan, ya. Kamu sudah berjuang keras selama satu tahun lebih di sini.

"……Terima kasih banyak."

Konoe merasakan suasana penuh apresiasi dari Sang Dewa.

Dia membalasnya sembari merasa terkejut.

Mengapa dia terkejut?

Karena Sang Dewa, sosok yang berada di langit, tahu sudah berapa lama Konoe berada di sini.

Dia tidak menyangka Dewa akan mengetahui keberadaan calon anggota baru sepertinya.

Yah, mengingat Beliau sampai sengaja memanggilnya seperti ini, mungkin memang sewajarnya begitu.

Tapi tetap saja dia merasa tak percaya Dewa memperhatikan orang seperti dirinya.

Tapi, apakah sudah mencapai batas?

"……Iya."

──Hm, benar juga. Kamu benar-benar sudah berjuang sangat keras, ya.

Konoe merasakan aura kesedihan dari Sang Dewa. Dia bisa merasakan bahwa Sang Dewa benar-benar merasa sangat menyesal.

"……kh."

Tanpa sadar Konoe merasa malu karena telah mengatakan hal yang menyedihkan di depan Sang Dewa.

Dia malu akan keluh kesahnya, dan tanpa sadar dia hampir saja mengatakan bahwa dia tidak jadi berhenti.

"……"

Tapi, dia benar-benar sudah di ambang batas. Karena, dia sudah menyadarinya.

Satu tahun berada di akademi. Pelatihan Adept masih berada di tahap awal, namun dia sudah berusaha keras sampai bisa menebak ke arah mana tujuannya.

──Konoe tidak memiliki bakat dalam Life Magic.

Benar-benar tidak ada sama sekali. Akademi ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang berbakat yang mengincar posisi Adept.

Di antara mereka, dia pasti yang paling tidak berbakat.

Di bidang yang dia kuasai pun dia hanya setingkat orang biasa, sedangkan di bidang yang tidak dia kuasai, dia butuh waktu dua kali lipat lebih lama dari orang lain.

Selama setahun ini, dia terus-menerus disalip oleh para kandidat Adept yang masuk belakangan. Setiap kali itu terjadi, dia hanya bisa melepas kepergian mereka yang maju lebih dulu.

Dia merasakan dengan tajam betapa tidak berbakatnya dirinya.

Dia sudah berusaha dengan caranya sendiri, tapi itu tidak cukup.

Dia tetaplah orang biasa.

Dan dia merasa putus asa memikirkan berapa tahun lagi waktu yang dibutuhkan agar orang sepertinya bisa menjadi Adept.

...Karena itulah. Dia sudah mencapai batasnya.

Dia pikir dia harus merelakan mimpi konyol seperti Budak Harem dan hidup sebagai orang biasa sebagaimana mestinya.

"……Saya mohon maaf. Bagi saya, ini mustahil."

……Begitu ya.

"Saya tahu ini karena usaha saya yang kurang. Tapi lebih dari ini, saya..."

Eh?

Tiba-tiba, terpancar suasana terkejut dari Sang Dewa. Saat Konoe mendongak, dia melihat mata Sang Dewa yang besar semakin melebar dan berkedip berkali-kali.

Usaha yang kurang?

"……? Iya."

Itu pasti salah.

"……Eh?"

Aku melihatmu. Aku tahu seberapa keras kamu berjuang. Setiap hari, kamu terus mengayunkan tombak sampai larut malam, kan? Di hari libur pun kamu tidak pergi bermain dan malah belajar, kan? Aku tahu semuanya.

──Dewa melihatnya?

Jika ditanya apakah apa yang dikatakan Sang Dewa itu benar, jawabannya adalah iya.

Memang benar dia selalu berada di area latihan sampai larut malam setelah latihan resmi berakhir.

Dia pun tidak pernah pergi bermain di hari libur.

Tapi itu semua... bagi Konoe adalah semacam pelarian.

Habisnya, dia payah berkomunikasi.

Dia tidak punya tempat di dalam kamar asrama.

Mana mungkin dia bisa bergabung dengan yang lain untuk pergi bermain bersama di hari libur.

Karena itu, Konoe melarikan diri ke latihan dan pelajaran.

Seperti biasanya. Seperti yang sudah dia ulangi terus-menerus selama ini.

Dia mengalihkan kesepiannya dengan kerja keras.

Karena begitulah cara dia bertahan hidup.

Namun, Sang Dewa justru berkata padanya...

Menyerah itu wajar. Tapi, kamu tidak boleh menyangkal usahamu sendiri.

"……"

Akui dan pujilah dirimu sendiri yang telah berjuang keras, ya?

Sang Dewa menatap Konoe dengan lurus sembari tersenyum lembut.

"Kamu sudah berjuang keras," "Kamu luar biasa," dia memujinya. Tidak ada kata-kata, hanya aura yang terpancar.

──Tidak ada kebohongan di sana.

Sang Dewa benar-benar mengakui keberadaan Konoe dari lubuk hatinya.

Hal itu tersampaikan ke dalam jiwanya.

Senyum itu tulus, sebuah perasaan yang tersampaikan begitu lurus hingga tak mungkin diragukan.

"……Baik."

Melihat Sang Dewa, entah mengapa Konoe merasa ingin menangis.

Karena senyum Sang Dewa, entah bagaimana dia merasa sesuatu di dalam dirinya terpenuhi.

Kekosongan asing di dalam dadanya terasa sedikit terisi.

"……"

...Karena itulah. Karena itulah, aneh memang.

 ...Dia merasa ingin mencoba berjuang sedikit lagi.

──Hari itu. Konoe tidak pergi ke kamar instruktur. Setelah berpisah dengan Sang Dewa, dia kembali ke kamar asrama, dan mulai berusaha lagi sejak pagi.

──Tahun berikutnya, mental Konoe hancur lagi. "Nggak, beneran mustahil deh ini."

Hal seperti itu terus berulang berkali-kali dengan frekuensi sekitar setahun sekali.

Mentalnya hancur, setiap kali itu pula Sang Dewa muncul, dan dia pun bangkit kembali. Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun.

Dia menumpuk pelatihan dan memuntahkan darah.

Ujungnya masih sangat jauh, dan meski sudah berusaha sekuat tenaga, dia tetap tidak tahu apakah dia sudah melangkah maju atau belum. Meski begitu, dia terus berjalan.

Berlari, menangis, memuntahkan darah. Berada di ambang kematian, hidup kembali, lalu hampir mati lagi.

Bertarung dengan monster, kalah berkali-kali. Akhirnya menang, tapi selanjutnya monster yang lebih kuat sudah menunggu.

Bakat yang dinanti tak kunjung tumbuh, dan ratusan junior yang masuk bertahun-tahun setelahnya terus menyalipnya.

Dan dia telah melepas kepergian ribuan orang yang menyerah dan keluar dari akademi.

Berjuang mati-matian. Belajar, merasa belum cukup belajar, dan mengulangi hal yang sama berkali-kali.

"Kali ini pasti bisa," dia bermimpi. Mimpi yang pernah dia lihat dulu. Mengejar sosok "Ramuan Pemikat Budak Harem" entah siapa itu.

Sebuah mimpi yang jika dikatakan pada orang lain, mungkin dia akan ditertawakan dan disuruh latihan bicara daripada jadi Adept.

Tapi karena dia tidak bisa melakukan itu, dia terus berjuang mati-matian. Meski konyol, meski memalukan.

Setidaknya di kehidupan kali ini, dia ingin bersama seseorang. Dia terus memanjatkan doa itu──.

"──Selamat, Konoe. Kamu benar-benar telah mencapainya."

Hari itu, Konoe resmi menjadi Adept.

Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak dia pertama kali mengetuk gerbang akademi.


5

"Konoe, selamat."

"……Terima kasih banyak."

Saat itu, tidak banyak kegembiraan di dalam hati Konoe. Yang ada hanyalah rasa lemas dan keraguan apakah ini nyata atau tidak.

──Dua puluh tahun. Kira-kira separuh dari umurnya jika digabung dengan masa hidupnya di Jepang.

Karena pemilik Blessing berbakat biasanya menjadi Adept paling cepat dalam sepuluh tahun, Konoe termasuk kategori yang paling lama.

Hari-hari yang panjang dan melelahkan. Meski penampilannya tetap awet muda berkat kekuatan Life Magic, waktu tetap berlalu.

Sudah tidak ada lagi orang yang masuk ke akademi di waktu yang sama dengannya.

Seingatnya dulu ada sekitar seratus orang; satu orang menjadi Adept lima belas tahun yang lalu, dan satu lagi sepuluh tahun yang lalu. Selain mereka, semuanya sudah menyerah.

"Ini jubah bukti seorang Adept. Tapi, seperti yang kamu tahu, tidak ada kewajiban untuk memakainya. Kamu boleh memakainya, atau membuangnya. Sesukamu."

"……Baik."

Konoe menerima jubah putih bersih dari sang instruktur. Instruktur yang mengajak Konoe masuk ke akademi dua puluh lima tahun yang lalu.

Dia berdiri berhadapan dengannya seperti waktu itu, namun jubah ini belum ada saat itu.

Memikirkan hal itu, dia mulai merasakan realitasnya. Jubah Adept yang jarang dipakai oleh pemiliknya.

Namun, ini benar-benar simbol seorang Adept.

"……"

Dia mengenang hari-hari yang telah berlalu. Dia bertanya-tanya mengapa dia bisa bertahan sejauh ini, dan yang muncul di benaknya adalah Sang Dewa.

Setiap kali dia hampir menyerah, Sang Dewa membuatkan teh untuknya. Mengakui keberadaannya. Selama bertahun-tahun, Beliau terus memperhatikannya.

──Pada ujian akhir Adept beberapa hari yang lalu, Sang Dewa memperhatikan Konoe dari kejauhan.

Beliau mengawasi Konoe yang sedang menghadapi ujian, dan ketika hasilnya diputuskan, Beliau bertepuk tangan dengan meriah.

Matanya tampak sedikit berkaca-kaca. Perasaan itu tersampaikan. Konoe pun hampir menangis. ……Meskipun tanpa kata-kata, Beliau mengucapkan selamat kepadanya.

……Karena itulah, Konoe merasa bersyukur. Atas kelembutan Sang Dewa.

Atas belas kasih-Nya yang telah mengulurkan tangan bahkan kepada sosok seperti Konoe.

"……"

Dia melihat jubah Adept di tangannya. Di sana terukir lambang Salib Sayap Putih yang melambangkan Sang Dewa.

Karena itu, Konoe memasukkan tangannya ke lengan jubah, lalu menutup semua pengait dari leher hingga pinggang.

"Kamu memilih untuk memakainya, ya. Yah, itu pun juga kebebasanmu. Seorang Adept diizinkan memiliki kebebasan yang jauh lebih besar daripada orang biasa, selama tidak mengkhianati misi yang diberikan oleh Dewa. Dan Konoe, mulai hari ini kamu resmi menjadi Adept ke-9.120."

"……Baik."

"Mulai sekarang, kamu boleh melakukan apa saja. Kamu bisa menyelamatkan orang dari penyakit dengan Life Magic yang kamu miliki. Kamu bisa menjadi petualang dan menantang dungeon. Kamu bisa pergi berperang melawan Dewa Jahat, meraih prestasi militer, lalu menjadi bangsawan. Atau seperti yang kamu katakan dulu, kamu juga boleh membangun harem."

"……Baik."

"Yah, meski aku bilang begitu, biasanya orang-orang tidak bisa hidup sesuka hati karena faktor keluarga bangsawan asal mereka atau batasan iman. Tapi sebagai orang dari dunia lain, kamu tidak memiliki beban itu. ……Mungkin kamu adalah Adept yang paling bebas di dunia ini."

"Ahaha," sang instruktur tertawa, menatap Konoe dengan pandangan yang sedikit iri. Konoe tidak tahu harus menjawab apa kepada instruktur tersebut, jadi dia tetap diam.

"……Fufu, maaf ya. Aku bicara hal yang tidak perlu. Kalau begitu, mari kita akhiri sampai di sini. Terakhir, ini untukmu."

"……? Apa ini?"

"Daftar harga pasar. Mungkin bisa dibilang daftar tarif saat seseorang meminta bantuan pada seorang Adept."

Konoe melihat kertas yang diberikan.

Di sana tertulis 'Penyembuhan Penyakit Mematikan: Setengah Koin Emas'. Selain itu ada juga 'Pengawalan (30 hari): 2.000 Koin Emas' dan 'Penempatan di Kota yang Tercemar Miasma (30 hari): 1.000 Koin Emas'.

Konoe tidak terlalu paham soal harga pasar.

Sebab sejak datang ke dunia ini, hampir seluruh waktunya dia habiskan untuk berlatih.

Namun, dia dengar satu koin emas saja sudah cukup untuk menghidupi satu keluarga warga ibu kota selama tiga puluh hari.

……Begitu ya. Ini benar-benar menghasilkan uang. Budak harem pun pasti bisa dibuat dengan mudah.

"Ah, sekadar mengingatkan sekali lagi, kamu bebas. Jadi, kamu tidak perlu mengikuti harga pasar itu. Kamu boleh mengobati secara gratis, atau meminta bayaran sepuluh kali lipat dari harga pasar. Itulah Adept."

"……Baik."

"Hanya saja, yah…… tidak, lupakan saja. Mulai dari sini, sebaiknya kamu melihat dan memutuskannya sendiri."

"……? Baik."

Instruktur itu menunjukkan ekspresi yang penuh teka-teki... Konoe menatapnya dengan curiga, bertanya-tanya apa maksudnya.

Namun, instruktur itu mengabaikan pandangan Konoe dan mengalihkan tatapannya ke sebuah gerbang.

Itu adalah pintu besar yang merupakan gerbang utama akademi.

Pintu itu ukurannya berkali-kali lipat tinggi manusia dan biasanya tertutup.

Pintu itu hanya dibuka ketika ada Adept baru yang lahir.

"Sekarang, pergilah. Hiduplah sesukamu dan puaskan hasratmu. Kamu telah berhasil. Karena itu, misi yang diberikan kepadamu hanya satu. ──Yaitu bertarung melawan Dewa Jahat beserta para pasukannya. Melindungi rakyat yang tak berdosa dari kejahatan. Hanya itulah kewajiban yang dibebankan kepada seorang Adept."

Sembari berjalan menuju gerbang, Konoe berpikir.

Akhirnya saatnya tiba untuk memenuhi tujuannya.

Membangun budak harem dan memberikan mereka ramuan pemikat.

Setelah itu dia bisa melakukan apa saja sepuasnya. Gadis cantik maupun wanita dewasa akan melayaninya sesuka hati, melakukan hal mesum atau apa pun itu, dia bebas.

Jika dia bekerja dengan lumayan dan menghasilkan uang, hal itu akan segera terwujud.

Berdasarkan daftar harga yang baru saja diterimanya, menyembuhkan satu penyakit mematikan saja dibayar setengah koin emas.

Meski hanya seorang Adept yang bisa menyembuhkan penyakit mematikan yang meluap dari dungeon, bisa dibilang itu adalah jumlah yang sangat besar.

Jika bekerja sampai taraf tertentu, dia pasti bisa membeli beberapa budak dan sebuah rumah mewah, bahkan masih ada kembaliannya.

──Singkatnya, tujuannya sudah bisa dibilang tercapai. Ideal yang dia impikan dulu.

Kali ini, Konoe tidak akan sendirian lagi, dia akan bersama seseorang.

"……"

"Tuan Adept, apakah Anda ingin keluar?"

"……Hm, ah, iya, tolong."

Sembari memikirkan hal itu, dia sudah sampai di depan gerbang.

Setelah mengangguk pada penjaga gerbang di kedua sisi, rantai yang terpasang mulai bergerak.

Pintu raksasa dengan tinggi lebih dari sepuluh meter itu mulai terbuka ke arah kiri dan kanan dengan suara gemuruh.

"……"

Gerakannya sangat lambat, sepertinya butuh waktu sampai pintu terbuka sepenuhnya.

Karena itu, Konoe mengalihkan pandangannya dari gerbang dan menoleh ke belakang tanpa alasan tertentu.

Di sana berdirilah akademi tempat dia menghabiskan separuh hidupnya.

Ada area latihan, asrama, dan kantin. Dan di lantai teratas...

"──Ah."

Saat itulah dia menyadarinya. Di salah satu ruangan di lantai teratas.

Di jendela itu terlihat Sang Dewa.

Itu adalah jendela kecil yang letaknya beberapa kilometer jauhnya.

Namun dengan penglihatan yang diperkuat oleh Life Magic, dia bisa melihatnya.

Sang Dewa sedang mengerjakan sesuatu di dekat jendela, dan...

──Tiba-tiba, mata mereka bertemu.

Sang Dewa membelalakkan mata seolah terkejut──lalu tersenyum pada Konoe.

Dengan senyum lembut, Beliau melambaikan tangan kecilnya.

Suasananya seolah-olah sedang berkata, "Selamat jalan."

Konoe pun tak kuasa menahan senyum.

Tanpa sadar dia melambaikan tangan balik, lalu merasa malu sendiri pada dirinya sendiri.

"……Aku berangkat."

Dia bergumam pelan, lalu menghadap ke depan.

Menyadari pipinya yang memerah, dia menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikannya.

……Lalu, sebentar.

……Dia bertanya-tanya wajah seperti apa yang akan ditunjukkan Sang Dewa jika Beliau tahu soal "Ramuan Pemikat Budak Harem"-nya.

"……"

Dia menggelengkan kepala.

Dia memutuskan untuk tidak memikirkannya.

Sudah terlambat sekarang.

Setelah dua puluh lima tahun berlalu, mana mungkin dia bisa mundur.

"──"

Tiba-tiba, suara dentuman keras menggema di sekitar.

Itu adalah suara pintu yang sudah terbuka sepenuhnya.

Konoe melangkahkan kaki.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dia menuju gerbang.

Di balik gerbang terlihat kota besar──ibu kota. Toko-toko dan rumah-rumah yang dibangun berdesakan, serta banyak orang yang berjalan di sepanjang jalan.

Dia membayangkan akan hidup bahagia di tempat seperti itu mulai sekarang...

"……Hm?"

Saat melewati bawah gerbang yang tebal, dia merasa ada yang aneh.

Sepertinya suasananya tidak biasa.

Konoe tahu. Akademi Adept dibangun di atas bukit yang paling tinggi di ibu kota, dan di balik gerbang terdapat tangga turun yang sangat besar.

Tangga panjang yang membuatnya merasa lelah saat pertama kali menaikinya. Di sana...

(……Hawa keberadaan manusia? Dan bukan cuma satu atau dua orang.)

Bukan sepuluh atau dua puluh orang.

Ada jauh lebih banyak lagi. Karena berada di dalam kota, dia terlambat menyadarinya.

(……Ada apa? Festival? Di tangga?)

Sembari memikirkan hal itu, dia melewati gerbang yang tebal.

Dari puncak tangga, dia melihat ke bawah.

"……Hah?"

Di sana, ada orang-orang.

Begitu banyak orang hingga meluap dari tangga raksasa itu.

Dan semuanya sedang menatap Konoe.

Mereka melihat ke arah sini dengan mata yang terbelalak lebar.

──Suara-suara mulai terdengar.

"Tuan Adept," "Tuan Adept yang baru," "Tolong kami," "Tuan Adept," "Tolong," "Mohon bantuannya," "Tuan Adept," "Ooh, sungguh luar biasa," "Kampung halaman saya," "Rumah saya," "Tolong kami," "Tuan Adept," "Itu Salib Sayap Putih," "Tuan Adept tolong," "Penyakit mematikannya," "Tuan Adept," "Mohon, mohon bantuannya," "Tuan Adept," "Mohon selamatkan kami," "Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Mohon selamatkan kami. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Mohon bantuannya. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Tuan Adept. Mohon, mohon, mohon──"

“““““──Tuan Adept, mohon selamatkanlah kami!”””””

──Di sana, ada orang-orang yang mendambakan keselamatan.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close