NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Telnerica


1

"Adept-sama." "Adept-sama." "Adept-sama." "Adept-sama." "Adept-sama."

Suara-suara yang memohon pertolongan itu merangsek maju. Konoe terdesak oleh tekanan tersebut dan melangkah mundur.

Apa-apaan ini, pikirnya. Ia merasakan pipinya berkedut. Meski tidak merasakan ancaman dari mereka, ia merasa sangat bingung.

Orang-orang itu menaiki tangga. Seiring jarak yang kian terkikis, Konoe justru mundur satu, dua langkah.

……Duh, serius, aku harus bagaimana kalau begini?

Di tengah kebingungan sambil menggaruk pipinya yang berkedut…… saat itulah.

"……?"

Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Ia melihat warna yang sudah tidak asing lagi. Warna merah, warna darah.

Konoe melihat sesosok bayangan kecil—seorang anak yang berlumuran warna itu—tenggelam dalam lautan manusia.

"……Tolong, beri jalan sebentar."

Konoe bergerak seketika. Sambil berhati-hati, ia membelah kerumunan orang demi menuju ke tempat di mana ia melihat darah tadi.

"……Ugh, ah…… Uhuk!"

Di sana, ia menemukan seorang gadis kecil yang mengerang kesakitan.

Terlihat rambut pirang dan telinga yang runcing.

Dia adalah gadis Elf. Anak itu meringkuk di tengah tangga sambil memuntahkan darah.

Entah sudah berapa banyak yang keluar, pakaiannya dan area luas di tangga itu telah terendam warna darah.

Konoe segera memindahkan gadis itu, membawanya keluar dari kerumunan orang.

"……Ini, parah sekali."

"……Ah…… ugh."

Konoe menarik napas pendek saat melihat kondisi anak di dalam dekapannya. Alasannya adalah, karena gadis itu……

"……Penyakit Mati?"

──Seluruh tubuhnya mulai membusuk.

Tahap akhir Penyakit Mati. Anggota geraknya berubah warna menjadi merah kehitaman, melepuh, dan terkulai lemas seolah kehilangan seluruh kekuatannya.

Mata birunya kehilangan fokus, kemungkinan besar ia sudah hampir tidak bisa melihat apa-apa.

Ia memuntahkan darah karena paru-parunya mulai membusuk. Darah terkumpul di dalam, dipaksa keluar, lalu terkumpul lagi dalam waktu singkat—proses itu terus berulang.

Benar-benar selangkah menuju kematian. Tidak akan aneh jika ia mengembuskan napas terakhir beberapa detik kemudian. Kondisinya seburuk itu.

Konoe sempat heran mengapa anak dengan tubuh seperti ini tidak berada di ranjang rumah sakit melainkan di tempat seperti ini—tapi ia segera tersadar.

Pasti dia datang mencari pengobatan. Karena jika itu seorang Adept, mereka bisa menyembuhkan Penyakit Mati.

"……Ugh…… ah…… ah?"

Gadis Elf itu mengerang. Dari penampilannya, usianya mungkin awal atau pertengahan belasan tahun. ……Yah, mengingat dia seorang Elf, penampilan luar dan usia aslinya pasti tidak selaras.

(…………Tapi, Penyakit Mati, ya.)

Melihat kondisi gadis itu, sejenak isi daftar harga dan koin emas yang baru saja diterimanya melintas di kepala Konoe──ia segera menggelengkan kepala dengan panik.

Dalam situasi begini, tidak ada pilihan lain selain mengobatinya.

Bagaimanapun, meski didasari dorongan sesaat, ia sudah menggendong anak ini.

Rasanya salah secara moral jika ia melemparnya begitu saja tanpa mengobatinya.

Jika ingin menelantarkannya, harusnya ia tidak menggendongnya sejak awal.

(……Mengobatinya di tempat ini…… mustahil, ya. Mari kembali dulu.)

Maka dari itu, Konoe berbalik arah—sambil mengabaikan orang-orang di sekitar yang sedang tidak dalam kondisi bisa diajak bicara.

Sambil menaiki tangga, ia merapalkan sihir penyembuhan kepada si gadis.

Heal tersebut tidak memiliki kekuatan cukup untuk menyembuhkan total Penyakit Mati.

Penyakit yang sudah mencapai tahap ini tidak bisa disembuhkan semudah itu, butuh perawatan di tempat yang lebih tenang.

Namun, jika ia membawanya tanpa melakukan apa pun, anak ini bisa mati di tengah jalan.

"…………Ah…… ugh? ……Adept…… sama?"

"Iya."

Mungkin karena efek penyembuhan, gadis itu mengeluarkan suara yang serak namun memiliki makna.

Konoe menyahut sambil berlari kecil melewati gerbang. Ia berhati-hati agar tidak menimbulkan guncangan pada si gadis.

Di tengah jalan, matanya bertemu dengan salah satu penjaga gerbang yang berdiri di kedua sisi.

……Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Namun, Konoe merasa seolah sedang disindir, 'Cepat sekali pulangnya.'

Yah, memang benar sih. Padahal dia baru saja dilepas oleh instruktur dan Sang Dewa.

Kalau instruktur mungkin akan berkomentar, tapi Sang Dewa sepertinya akan menyambutnya dengan senyum hangat seolah berkata 'Selamat datang kembali'.

"……Anu, Adept-sama, tolong……"

"……Iya, aku akan menyembuhkanmu. Tidak perlu khawatir."

Konoe mempercepat langkahnya menjauhi gerbang seolah melarikan diri dari tatapan penjaga, lalu berlari melintasi halaman depan.

Ia berpikir, ruang pengobatan mana di gedung akademi yang sedang kosong jam segini──.

"──Ah…… Adept-sama!"

"……?"

──Saat itulah terjadi. Lengan Konoe tiba-tiba dicengkeram. Karena terkejut, ia menunduk ke dalam dekapannya dan matanya bertemu dengan sepasang mata yang memancarkan tekad kuat.

Itu adalah gadis yang tadi bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun. Gadis yang digerogoti Penyakit Mati dan hampir kehilangan nyawa.

Wajahnya merah kehitaman karena penyakit, darah meluap dari sudut mulutnya…… namun ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap Konoe.

"Adept-sama…… tolong kota kami. ……Uhuk, tolong kota saya."

"……?"

……Kota? Bukan dirinya sendiri?

Melihat Konoe yang memiringkan kepala, gadis itu berusaha keras merangkai kata-kata.

"……Tolong. Saya mohon. Kota saya…… uhuk…… tanpa Adept-sama, kami……"

Sambil memuntahkan darah, ia berusaha keras. Seolah berteriak. Dan seiring teriakan itu, jumlah darah yang keluar semakin banyak──Konoe menjadi panik.

"……Tenanglah dulu."

"Tidak, tidak! ……Uhuk, uhuk."

Konoe mencoba menenangkannya, namun gadis itu tidak berhenti berteriak.

Di saat yang sama, tubuh gadis itu terus hancur. Tubuhnya belum sembuh, masih dalam kondisi luka berat.

Meski sudah sedikit membaik berkat sihir penyembuhan tadi, satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya mati seketika.

Meski begitu, gadis itu seolah tidak peduli dan terus berteriak sambil memuntahkan darah.

"Bagaimana…… bagaimana saya bisa tenang! ……Uhuk, jika begini terus…… saya mohon! Adept-sama!"

"……Kalau tidak tenang, kondisimu akan memburuk."

"……Tubuh saya tidak penting…… uhuk…… lebih dari itu, saya mohon, saya mohon!"

Gadis itu meronta dalam pelukan. Konoe menahan tubuhnya agar tidak jatuh…… dan merasa bingung.

Mengapa gadis ini terus berteriak? Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?

Konoe menatap gadis itu lekat-lekat. Ia lebih penasaran pada sosok gadis itu sendiri daripada isi teriakannya.

──Sebab, yang dirasakan gadis ini saat ini seharusnya adalah penderitaan yang setara dengan neraka.

Konoe tahu. Tahap akhir Penyakit Mati adalah pembusukan seluruh tubuh dan—jiwa.

Seharusnya itu adalah rasa sakit yang bisa membuat pria dewasa sekalipun menjadi gila. Justru karena Konoe tahu tentang Penyakit Mati, ia menjadi bingung. Setidaknya, semua pasien tahap akhir yang ia lihat sebelumnya berada dalam kondisi tidak mampu bergerak sedikit pun.

"Apa pun, saya akan lakukan apa pun…… jadi tolong, saya mohon……"

"……"

Air mata menetes dari mata si gadis. Ia memohon dengan sangat putus asa. Kepada gadis itu, Konoe──.

"──Oya, kau sudah kembali."

"……Instruktur."

Saat itu, sang instruktur muncul dari pintu masuk akademi.

Ia melirik sekilas ke arah gadis di pelukan Konoe.

"Satu ruang pengobatan sedang dikosongkan. Silakan pakai sesukamu."

"……Terima kasih."

Instruktur menyerahkan kunci. Konoe menerimanya sambil mengucap terima kasih.

──Hm? Dikantongi? Ia merasa ada yang aneh dengan kata-kata instruktur. Bukan 'sedang kosong', tapi 'sedang dikosongkan'?

Konoe menatap instruktur, mempertanyakan maksudnya.

Instruktur hanya membalas tatapan itu dengan senyum pahit.

"Apa, ini kan hal yang biasa terjadi."

"……?"

"Sambutan di sana itu adalah sesuatu yang dialami oleh setiap Adept. Jika ada Adept baru yang baru saja menjabat, banyak rakyat akan berkerumun demi secercah harapan."

Mereka yang ada di sana adalah orang-orang yang tidak punya uang, kata instruktur.

Mereka yang tidak sanggup membayar biaya standar datang untuk menggantungkan harapan terakhir mereka.

"Tentu saja, banyak juga yang mengabaikan mereka. Tapi, ada juga pemula yang tersentuh perasaannya karena ini adalah tugas pertama, lalu menolong satu atau dua orang. Itulah sebabnya aku selalu menyiapkan satu kamar kosong."

"……"

"Inilah realitas dunia ini. Kita kekurangan terlalu banyak Adept."

Di dunia ini, terkadang terjadi Dungeon Outbreak.

Outbreak terjadi akibat lahirnya kristal jahat yang disebut Miasma Core di dalam dungeon, dan fenomena ini tidak akan berakhir sampai kristal itu dihancurkan.

Miasma dan monster meluap dari pintu masuk dungeon yang mulai mengalami Outbreak. Lalu, orang yang menghirup miasma akan terjangkit Penyakit Mati. Sesuai namanya, itu adalah penyakit yang pasti menyebabkan kematian jika tidak diobati.

Jangka waktu dari gejala awal hingga kematian adalah sekitar tiga puluh hari. Gejala dimulai dari ujung anggota tubuh, lalu tubuh mulai membusuk.

Pada tahap akhir, jiwa ikut membusuk, dan banyak yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri sebelum mati karena penyakit akibat rasa sakit yang luar biasa.

Pencegahan bisa dilakukan dengan obat, tapi tidak sempurna. Meski meminum obat, jika terpapar miasma dalam waktu lama, penyakit itu akan muncul juga.

Dan sekali terjangkit, hanya ada dua cara pengobatan. Obat mahal bernama Elixir, atau penyembuhan dari seorang Adept.

Keduanya adalah metode dengan kekuatan yang mampu membangun ulang tubuh dari nol. Jika tidak, Penyakit Mati tidak bisa disembuhkan.

──Begitulah ngerinya Penyakit Mati.

Sejak dungeon diciptakan oleh Dewa Jahat ribuan tahun lalu, ini adalah penyakit yang terus diperangi oleh penduduk dunia ini. Namun, seberapa banyak pun penelitian dilakukan, tidak ada tanda-tanda penyakit ini bisa diatasi dengan metode medis biasa.

……Karena itulah, semua orang yang hidup di dunia ini hidup dalam ketakutan akan Penyakit Mati dan Outbreak.

Dungeon menyebar jauh di bawah tanah, dan pintu masuknya ada di mana-mana di seluruh dunia.

Outbreak tidak memiliki tanda-tanda; desa yang kemarin hidup damai, hari ini bisa saja terancam miasma dan diinjak-injak oleh monster.

Oleh karena itu, Adept selalu kekurangan. Konoe adalah Adept nomor 9120──tapi itu adalah hitungan di seluruh dunia.

Di negara ini, jumlahnya paling hanya puluhan orang.

Metode pengobatan lainnya, yaitu obat Elixir, hampir tidak beredar karena bahan bakunya tidak bisa diproduksi massal.

……Negara-negara berusaha keras meningkatkan jumlah Adept, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Pertama, sulit untuk mendapatkan Protection yang cukup kuat untuk menantang kualifikasi Adept.

Ditambah lagi, lebih dari sembilan puluh persen penantang yang sedikit itu akan menyerah dalam waktu kurang dari setahun.

Untuk menahan latihan yang sangat keras itu, dibutuhkan sesuatu yang tidak bisa patah—sesuatu yang berbeda dari sekadar bakat.

Ini bukan ujian yang bisa dilalui oleh mereka yang dipaksa.

Justru karena itulah, Adept dijanjikan imbalan dan hak istimewa yang sangat besar.

Kewajiban mereka sedikit, membuat semua orang iri dan ingin mencoba tantangan tersebut dengan sukarela.

──Alasan mengapa nafsu Konoe seperti membangun harem budak obat-obatan dimaafkan sambil tertawa juga karena hal itu.

Konoe menatap sang instruktur.

Orang yang dua puluh lima tahun lalu membawanya ke akademi dengan alasan demi dunia.

Ia kini menyadari kembali makna dari kata-kata hari itu.

"……Pokoknya, saya pinjam ruang pengobatannya."

"Ya, pakai saja sesukamu."

Namun, ada hal yang lebih mendesak daripada memikirkan hal itu.

Gadis yang hampir mati di dalam pelukannya.

Secara logika, dialah prioritas utama.

Konoe menggenggam kunci yang diterima dari instruktur dan hendak membawa gadis itu ke ruangan.

"──Adept-sama!"

Gadis yang sempat diam saat instruktur muncul, mulai meronta lagi di pelukan Konoe.

Konoe menahannya dengan kedua lengan.

"Sudah kubilang, kalau meronta kondisimu akan memburuk."

"Tubuh saya…… tidak masalah!"

Sambil berlumuran darah, gadis itu berteriak di depan wajah Konoe.

Dengan tubuh yang sudah hancur berantakan tanpa ada bagian yang sehat sedikit pun.

……Maksudmu, tubuhmu tidak masalah?

Kalau cuma omong kosong sih tidak apa-apa, tapi bagaimana mungkin orang yang seluruh tubuhnya membusuk bisa bicara begitu?

"……Kau ini."

"Waktunya…… tidak ada! Kota kami…… uhuk, hampir binasa!"

Gadis itu berteriak. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan napas tampak menyakitkan baginya.

Konoe buru-buru menyalurkan sihir penyembuhan ke punggungnya……

──Hm? Kota binasa? Tidak ada waktu?

Kata-kata yang sangat tidak tenang. Ia pikir, lebih baik memprioritaskan pembicaraan daripada pengobatan untuk sesaat.

"……Kota? ……Kota mana?"

"Silmenia! ……Di kaki bukit Kilrean, jajaran pegunungan Minea, di sanalah kota Silmenia berada!"

Begitu ditanya, gadis itu menjawab dengan teriakan──dan Konoe mengingat satu informasi.

Kilrean, ia pernah mendengar nama tempat itu.

"……Labyrinth Outbreak skala besar yang kemarin itu, ya?"

Itu cerita beberapa waktu lalu. Ia mendengar bahwa Outbreak terjadi di beberapa titik sekaligus di wilayah kekuasaan Count yang jauh.

Miasma menyebar di area yang sangat luas. Karena itulah, lowongan dibuka bahkan untuk Adept yang biasanya tinggal di akademi──dan semuanya telah berangkat ke sana, kecuali pengecualian seperti instruktur yang memiliki tugas khusus.

Konoe saat itu masih menjadi kandidat akhir, jadi ia tidak mendengar rinciannya secara detail.

"……Apakah situasinya sampai membuat kota binasa?"

"Benar sekali. ……Kami telah ditelantarkan."

Artinya, sama dengan apa yang dibicarakan instruktur tadi.

Dibandingkan luasnya dunia ini, jumlah Adept terlalu sedikit. Tidak ada Adept yang dikirim ke kota gadis itu.

Gadis itu bercerita. Kota Silmenia tertelan miasma lima belas hari yang lalu.

Meski sudah menggunakan obat pencegah, kini seluruh lima ribu penduduknya menderita Penyakit Mati.

Mereka juga dikepung oleh monster, dan tidak tahu kapan penghalang yang melindungi kota akan hancur.

──Karena itu, tidak ada waktu sedetik pun!

Begitu teriak si gadis.

Sambil memuntahkan darah, dengan kulit yang membusuk hingga pecah dan mengalirkan darah.

Berdiri di ambang kematian, namun ia tetap menatap lurus ke arah Konoe.

Konoe menarik napas melihat sosok gadis yang luar biasa tragis itu.

"Adept-sama, saya mohon kota kami! ……Ugh, bahkan saat ini pun, rakyat terus menderita!"

"──"

"Tolong, saya mohon. Jika Anda mengabulkannya, raga ini, akan menjadi bunga suci yang mekar di sisi Anda…… ugh…… ah, uhuk."

──Di sana, gadis itu memuntahkan gumpalan darah.

Kata-katanya terputus. Kekuatan hilang dari tangannya. Vitalitas terus menguap dari tubuhnya──.

"──Adept…… sama."

"……Kau."

──Meski begitu, kekuatan di matanya tidak padam.

Ia hanya menatap mata Konoe, tidak pernah memalingkannya sedikit pun. ……Terhadap gadis itu, Konoe.

"……Aku mengerti."

Ia mengangguk. Dan menyuruhnya berhenti memaksakan diri karena ia akan menerimanya.

……Tanpa sadar, ia telah mengatakan itu karena terintimidasi oleh tekad si gadis.


2

Beberapa waktu pun berlalu.

Pengobatan gadis itu telah selesai dengan selamat, dan kini Konoe serta gadis itu berada di dalam ruang pengobatan yang dipinjam.

Instruktur tidak ada. Beliau pergi untuk mempersiapkan Teleportation Gate guna berpindah ke kota si gadis.

Teleportation Gate adalah alat sihir yang terpasang di kota-kota di seluruh dunia, memungkinkan perpindahan instan sejauh apa pun jaraknya.

Namun, alat itu tidak bisa mengangkut barang besar dan memakan biaya yang sangat mahal.

Selain itu, butuh waktu untuk mengaktifkannya.

……Singkatnya, instruktur tidak akan kembali untuk sementara waktu.

Hanya ada Konoe dan si gadis di dalam ruangan.

"Anu, Adept-sama. Bolehkah saya memanggil Anda Konoe-sama……?"

"……Terserah kau saja."

Konoe menatap gadis yang duduk di sampingnya. Jarak duduknya sangat dekat.

Penyakit Mati gadis itu telah sembuh total, dan kini ia dalam kondisi sehat. Kulitnya yang tadi merah kehitaman telah kembali ke warna putih aslinya.

Sebagai seorang Elf yang dikenal sebagai ras yang rupawan, setelah sembuh gadis itu ternyata memiliki penampilan yang sangat imut.

Rambut pirang panjang yang indah, dan mata biru yang jika dilihat lebih dekat memiliki semburat keemasan.

Ditatap oleh gadis secantik itu dari jarak sedekat ini…… Konoe mulai merasa ingin melarikan diri seperti biasanya.

"Lagipula, keputusan saya untuk menunggu Konoe-sama memang benar. Saya sama sekali tidak bisa menghubungi Adept lain…… Begitu mendengar akan ada Adept baru, saya menggantungkan setitik harapan dan menunggu di tangga itu."

"……Begitu, ya."

"Saat kesadaran saya mulai kabur dan mata saya tidak bisa melihat lagi, saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak menyangka bahwa orang yang menggendong saya ternyata adalah Konoe-sama."

Terima kasih kepada Yang Mahatinggi, Dewa Hutan dan Dewa Kehidupan, kata gadis itu. Ia tersenyum lebar ke arah Konoe.

Gadis itu terus tersenyum sejak Konoe menerima permintaan bantuan ke kotanya dan mengobatinya.

Dia juga terus mengajak Konoe bicara. Sebaliknya, Konoe hampir tidak membuka mulutnya.

──Nama gadis itu adalah Telnerica.

Keturunan keluarga Silmenia──sepertinya ia berasal dari keluarga yang namanya sama dengan kota yang akan mereka bantu.

Rupanya dia adalah putri dari keluarga bangsawan yang memimpin kota tersebut.

Telnerica tiba di ibu kota lima belas hari yang lalu.

Tepat setelah ia mengetahui bahwa kotanya ditelantarkan.

Karena tidak bisa mengandalkan negara atau bangsawan induknya, ia memutuskan untuk berangkat sendiri ke ibu kota demi bernegosiasi langsung dengan Adept.

Dan sejak hari itu hingga hari ini, ia berjuang mencari bantuan…… namun alih-alih bernegosiasi, ia bahkan diusir sebelum sempat bicara, bahkan tidak dalam posisi untuk bisa mengobati tubuhnya sendiri.

"Setiap kali saya meminta bantuan, saya selalu diusir. Mereka bilang Adept yang tersisa di ibu kota saat ini hanya bertugas untuk perlindungan kota dan pengawalan Dewa. Saya diberitahu bahwa jika saya menyerah mencari bantuan, mereka setidaknya mau menyembuhkan saya secara pribadi……"

Tapi mana mungkin saya bisa setuju dengan hal itu, kata Telnerica.

Ia merasa geram karena tidak sanggup mengabaikan semua orang demi keselamatan dirinya sendiri.

"……"

Konoe menanggapi cerita Telnerica dengan keheningan.

……Entah bagaimana, ia bingung harus bereaksi apa.

"Namun, seberapa kali pun bernegosiasi, tidak ada hasilnya. Dan saat saya hampir putus asa, saya mendengar berita tentang Konoe-sama."

Katanya, kelahiran Adept baru diumumkan tiga hari yang lalu. Itu adalah saat ujian akhir Konoe selesai. Sejak hari itu, Telnerica terus menunggu di tangga tersebut……

"……? Tiga hari, terus-menerus?"

"Iya, kalau tidak begitu saya tidak akan bisa mendapatkan posisi paling depan."

Ia bilang ia bertahan dengan sihir Purification, sihir Spring Water, dan sihir Life Extension.

Aku sempat panik karena memaksakan diri hingga Penyakit Mati melonjak drastis sejak tadi pagi, tapi untungnya berhasil, kata Telnerica sambil tertawa. Ufufu, dengan gerakan yang anggun.

……Tunggu, apa itu sesuatu yang pantas ditertawakan? Konoe yang payah dalam komunikasi tidak mengerti.

Yah, Konoe memang sempat berpikir bahwa gejalanya terasa sangat parah untuk ukuran terjangkit lima belas hari yang lalu, dan ia memang sempat penasaran.

"…………"

Ah, benar juga. Bicara soal penasaran.

Ada satu hal lagi yang mengganjal setelah ia mendengar bahwa Telnerica adalah putri bangsawan.

"……Apakah di rumahmu,"

"Iya, ada apa Konoe-sama!"

"……Apakah di rumahmu tidak ada Elixir?"

Metode pengobatan Penyakit Mati selain penyembuhan Adept. Obat yang sangat langka hingga tidak beredar luas.

Namun, Konoe pernah belajar bahwa setiap keluarga bangsawan seharusnya memiliki satu botol Elixir yang disiapkan untuk anggota keluarga. Itu seharusnya diberikan oleh Raja untuk keadaan darurat.

"Elixir, ya? Memang ada, tapi……"

"……?"

"Milik saya pasti sedang digunakan oleh para ksatria."

"……Hah?"

……Ksatria?

"Pada tahap lima belas hari yang lalu, lebih tepat bagi ksatria yang melindungi rakyat dari monster untuk meminum Elixir, daripada saya yang hanya pergi ke sini untuk mencari Adept-sama."

"……"

"Lagipula saya pikir jika saya sampai di sini dan bertemu Adept-sama, saya pasti akan diobati…… Meskipun begitu, saya sempat bingung saat memuntahkan darah tadi pagi. Kalau saya mati sebelum bertemu Adept-sama, saya tidak akan bisa memanggil bantuan."

"………………………"

Telnerica tertawa malu-malu sambil berkata "Saya hampir saja mengacaukannya".

Melihat sosok gadis itu, Konoe.

(……Serius, kan?)

──Konoe meragukan telinganya sendiri mendengar kata-kata Telnerica.

Tidak, itu tidak tepat. Ia tidak meragukannya baru sekarang. Ia sudah meragukannya sejak tadi.

(……Anak ini, sebenarnya apa-apaan?)

Saat ia berteriak sambil memuntahkan darah, saat ia mendengar bahwa gadis ini ditolak meski hanya meminta bantuan pengobatan, saat ia mendengar dia menunggu tiga hari di tangga, dan saat mendengar dia memberikan Elixir-nya pada orang lain, Konoe tetap tidak mengerti.

──Mengapa anak ini bisa bertindak sejauh itu?

Memang, perkataan Telnerica benar.

Secara logika, itu adalah keputusan yang rasional. Jika tujuannya melindungi orang-orang di kota, mungkin itu memang tindakan yang benar.

Karena bantuan tidak datang, ia menanggung derita Penyakit Mati sambil memberikan obatnya pada orang lain, lalu menyeret tubuhnya yang terus membusuk hingga ke ibu kota.

Terus memohon bantuan kepada Adept. Padahal jika ia menginginkan pengobatan, ia sendiri bisa selamat.

Namun ia membuang jalan itu demi mencari cara menyelamatkan lebih banyak orang. Tetap berteriak meski di ambang kematian.

Kedengarannya mudah jika diucapkan dengan kata-kata. Seolah-olah itu adalah hal yang sangat lurus dan benar.

'Aku tidak butuh obat. Kalau aku menemukan bantuan, toh nanti akan sembuh juga, jadi tidak apa-apa kalau penderitaannya sedikit lebih lama.'

Konoe mungkin juga akan bicara begitu jika tidak melihatnya langsung.

Ia mungkin akan membual dengan nada sok pintar jika itu hanya teori di atas kertas.

──Namun.

"──"

Apakah kau mengerti? Tubuhmu itu membusuk, lho?

Tidak, mustahil dia tidak mengerti. Bagaimanapun, dialah pelakunya.

Di tengah rasa sakit yang seperti neraka. Menyaksikan sendiri tubuhnya berubah menjadi mengerikan.

Bagaimana bisa seseorang melakukan hal yang "hanya sekadar benar" itu? Konoe tidak bisa memahaminya.

(……Aku tidak mengerti.)

Apakah itu tanggung jawab yang menyertai status dan kekuasaan?

Memang benar bangsawan memiliki kewajiban menjaga kota yang mereka perintah.

Melindungi rakyat, meningkatkan kekuatan nasional, dan akhirnya menumbangkan Dewa Jahat adalah tugas bangsawan.

Dan sebagai gantinya, bangsawan mendapatkan Protection yang kuat, kekuasaan, serta kekayaan.

Artinya, anak ini melakukan tindakan yang benar sebagai seorang bangsawan.

Namun, tetap saja──.

(──Manusia tidak bisa hidup selurus itu.)

Manusia berbuat salah. Memilih jalan yang mudah. Melarikan diri.

Setidaknya, itulah sosok manusia dalam pengetahuan Konoe. Di saat-saat terakhir, manusia akan lebih mementingkan diri sendiri.

(Kenapa anak ini bisa bertindak sampai sejauh itu?)

Konoe tidak tahu apa yang bisa mengalahkan rasa sakit dan keputusasaan.

Ia tidak menjalani hidup yang bisa memahami hal seperti itu.

Itulah sebabnya dua puluh lima tahun yang lalu, Konoe meminta permohonan itu.

"Konoe-sama?"

"……Tidak ada apa-apa."

Telnerica mengintip wajah Konoe yang mendadak diam.

……Konoe memalingkan wajah dari tatapan itu dan mengembuskan napas kecil.

"……Jadi, bagaimana persiapan surat kontraknya?"

"Ah, iya! Tentu saja sudah ada!"

Konoe mengalihkan pembicaraan dengan paksa dan memeriksa sekilas surat kontrak yang disodorkan.

Penempatan di kota yang terkontaminasi miasma.

Jangka waktu tiga puluh hari.

Namun jumlah hari dapat berubah sesuai situasi.

Imbalannya adalah seribu koin emas.

Yah, jumlahnya sesuai dengan daftar harga yang diberikan instruktur.

"……"

"……Anu, apakah jumlahnya kurang……?"

"……Tidak, begini saja sudah cukup."

Melihat Konoe yang terdiam, Telnerica memasang wajah cemas seolah telah terjadi kesalahpahaman—namun Konoe menggelengkan kepalanya. Ia merasa jika harganya sesuai pasar, itu sudah lebih dari cukup.

Dengan seribu koin emas, ia pasti bisa membeli rumah mewah di ibu kota. Ia juga bisa membeli budak maupun obat-obatan. Karena itulah, ini sudah cukup.

Konoe menandatangani dokumen di tempat, lalu mengembalikan salah satu dari dua salinan kontrak tersebut kepada Telnerica.

"……Syukurlah."

Telnerica bergumam lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak," ucapnya sambil membungkukkan kepala berulang kali. Ia terus berkata bahwa dengan ini kampung halamannya akan terselamatkan.

Namun, Konoe tidak tahu harus merespons apa kepada Telnerica yang sedang memeluk erat surat kontrak itu.

"──Kalian berdua, kemarilah. Persiapan Teleportation Gate sudah selesai."

Tepat saat itulah sang instruktur datang memanggil mereka.

Konoe berdiri di depan Teleportation Gate.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan di dalam bangunan raksasa yang didirikan di sebelah gerbang utama akademi.

Di dalam ruangan kaku beralaskan lantai batu itu, terdapat sebuah gerbang batu setinggi manusia.

Lingkaran sihir digambarkan di sekelilingnya, dan Mana Stone yang bercahaya tertanam di berbagai sudut.

Energi sihir terasa sangat jenuh hingga menimbulkan suara seperti sesuatu yang terbakar. Dan di tengah-tengahnya, terdapat pusaran cahaya.

Teleportation Gate. Begitu melangkah melewati ini, mereka akan langsung sampai di kampung halaman sang gadis.

Dan tugas pertama Konoe pun akan dimulai.

Karena sudah melewati latihan yang sangat berat, Konoe tidak merasa tegang sama sekali saat melangkahkan kakinya maju.

(……Tapi, kalau dipikir-pikir, situasinya jadi luar biasa begini, ya.)

Konoe baru menyadarinya sekarang.

Padahal awalnya ia berniat menjalani kehidupan Adept yang lebih santai, pikirnya sambil menatap kosong ke depan.

"Kalau begitu, ayo! Mari segera berangkat!"

"……Ah, iya."

Telnerica menarik ujung mantelnya, mendesak Konoe untuk segera bergerak.

Konoe pun mengikuti tarikan itu dan melangkahkan kaki ke dalam pusaran cahaya──.

GAAAAAAAAAAAAA!!!!

──Di balik cahaya itu, terdapat taring.

Darah merah dan taring putih. Rahang monster berada tepat di depan matanya.

Niat membunuh telah menunggu di balik pintu keluar Teleportation Gate.

Rahang yang dipenuhi taring raksasa seukuran pisau besar itu terbuka lebar.

Taring yang sanggup mencabik-cabik manusia dengan mudah itu menerjang ke arah Konoe dan Telnerica.

Kejadian itu berlangsung kurang dari satu detik setelah mereka berteleportasi. Dalam waktu singkat yang bahkan tidak cukup bagi Telnerica untuk terkejut, monster itu sudah memangkas jarak menjadi nol──.

"──"

Konoe menghancurkan rahang itu dengan tinjunya.

Melalui satu serangan menyamping, monster yang kehilangan tubuh bagian atasnya itu terpental dalam lintasan tegak lurus, lalu menghantam dinding.

……Garm, si serigala iblis, ya?

"……Eh?"

"……"

──Begitulah, pertempuran pertama Konoe sebagai seorang Adept pun dimulai.


3

"……Eh…… E-EEHH!?"

"……"

Sambil menyembunyikan Telnerica yang panik di balik punggungnya, Konoe mengamati kondisi di dalam ruangan.

Miasma bertebaran di udara, dan di dalam pandangan yang mulai memudar keunguan itu, masih ada beberapa monster yang tersisa.

Mereka adalah serigala raksasa yang sama dengan yang baru saja ia bunuh──monster yang dikenal sebagai Garm.

Dalam peringkat Adventurer Guild, mereka termasuk kelas menengah. Yah, meskipun peringkat hanyalah referensi semata, intinya mereka adalah monster selevel itu.

Para Garm itu menggeram waspada. Mereka tidak mengalihkan pandangan dari Konoe, namun perlahan-lahan mulai bergerak mundur.

Dan salah satu dari mereka mundur selangkah demi selangkah tepat di atas tubuh manusia yang masih hidup──.

"──"

Konoe melangkah maju. Pada detik berikutnya, ia sudah berada di sisi lain ruangan, tepat di depan pintu.

Seolah terhempas dari garis lintasannya, seluruh Garm terpental dan hancur menjadi noda di dinding.

"……Kamu tetaplah di ruangan ini."

"B-Baik!"

Konoe menembakkan sihir Heal kepada orang yang selamat sembari memberi instruksi pada Telnerica untuk tetap menunggu. Ia kemudian melompat keluar menuju lorong.

"Ini sih……"

Ia mengerutkan dahi, menyadari bahwa situasinya benar-benar merepotkan.

Lorong itu dipenuhi oleh mayat manusia dan monster-monster yang sedang melahap mereka.

(……Ternyata, Barrier-nya benar-benar sudah hancur total, ya.)

Sambil menghabisi monster-monster di lorong dengan satu pukulan, Konoe menghela napas.

Ini bukan karena penyusupan khusus, tapi City Barrier yang melindungi kota ini sudah ditembus sepenuhnya. Terlebih lagi, musuh bahkan sudah berhasil masuk sampai ke area Teleportation Gate.

Teleportation Gate biasanya berada di dalam kastil, dan kastil adalah titik pertahanan utama.

Dengan kata lain, tempat yang sekarang dipenuhi monster ini seharusnya menjadi tempat perlindungan terakhir bagi penduduk kota.

(……Mungkin ini sudah terlambat.)

Miasma yang memenuhi kastil pun sangat pekat. Kepekatannya berada pada level di mana orang akan terjangkit Penyakit Mati dalam waktu kurang dari sehari meski sudah ada obat.

Ia merasa kasihan pada Telnerica, namun ia curiga sudah hampir tidak ada lagi orang yang selamat.

"──Hm?"

Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu saat melakukan Detection di dalam kastil.

Di lantai teratas kastil, di sebuah aula besar—ruang audiensi—terdapat hawa keberadaan manusia. Jumlahnya bukan cuma sepuluh atau dua puluh, tapi ada lebih dari ribuan reaksi kehidupan.

"……Jangan-jangan, evakuasinya berhasil?"

Di depan pintu ruang audiensi──terdapat reaksi monster berukuran besar dan hawa keberadaan orang-orang yang sedang bertahan.

"──!"

Ia menarik napas dan meningkatkan kecepatannya. Ia menyapu bersih monster-monster di sekitar Teleportation Gate.

Lalu, ia mulai berlari menuju ruang audiensi.

Ia melesat sekuat tenaga menembus kastil. Di tengah jalan, berbagai monster menghalangi langkahnya.

Konoe pun──.

──Ia membantai Orc yang sedang memakan daging manusia di balik puing barikade, menghancurkannya bersama puing-puing itu. Ia melumat gerombolan Goblin yang berisik, serta menggilas Werewolf yang sedang memimpin kawanan Garm.

Ia menebas habis seluruh Harpy yang terbang di aula depan, lalu mengalirkan energi sihir ke dalam pipa kastil untuk melenyapkan Demon Rat yang mengincar manusia dari dalam.

Monster yang menghalangi jalan, yang terpaku diam, yang bersembunyi di bayang-bayang, maupun yang mencoba lari—semuanya ia bantai habis.

──Hanya dalam waktu singkat, Konoe telah sampai di depan ruang audiensi.

Garis pertahanan terakhir kota ini. Di depan pintu terakhir yang jika ditembus maka hanya ada kematian itu, terdapat beberapa ekor Troll.

"OOOOOOHHHHH!"

Dan ada satu orang ksatria di sana.

Berlumuran darah, kehilangan satu lengan dan satu kaki, terjangkit Penyakit Mati, energi sihirnya telah kering—namun ksatria itu tetap berdiri menghadang.

Ke arah pria itu, seekor Troll mengulurkan tangannya sambil tertawa.

──Lumatkan, bakar sampai habis.

Troll memiliki vitalitas yang kuat. Karena itu, Konoe meningkatkan output Life Magic yang menyelimuti lengannya agar tidak ada satu pun serpihan daging yang tersisa.

"……Si-Siapa, Anda?"

Konoe merapalkan Heal kepada pria itu, lalu menembakkan sihir Grand Heal ke arah pintu di belakangnya.

Ia memasukkan energi sihir yang cukup untuk mengobati lebih dari seribu orang sekaligus, berpikir bahwa itu pasti akan membantu.

"……Setelah pembersihan selesai, aku akan mulai pengobatan. Bersiaplah."

Setelah memberikan instruksi singkat dan memastikan anggota tubuh pria itu mulai tumbuh kembali, Konoe berpijak pada jendela terdekat.

Lalu dari sana, Konoe melompat ke luar.

Bagian dalam kastil sudah ia bersihkan sampai batas tertentu. Namun──.

(……Tiga ekor.)

Masih ada pemimpin yang mengomandoi monster-monster ini.

Hanya monster dengan kekuatan luar biasa yang sanggup memaksa berbagai jenis monster untuk tunduk padanya.

Konoe sudah menyadari kekuatan besar itu sejak pertama kali ia keluar dari Teleportation Gate. Kekuatan luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan monster biasa.

Ada tiga ekor monster Kelas Bencana di sekitar kota ini. Dan salah satunya adalah...

GOOOOOOOOOOOOOO!!!!

Hecatoncheir. Raksasa bertangan seratus.

Di bawah langit berwarna miasma, berdiri raksasa yang tingginya jauh melampaui seratus meter sambil menginjak-injak puing kota yang hancur.

Ia mengincar Konoe yang melompat keluar dari kastil, lalu mengayunkan tinjunya ke bawah.

Satu tinju saja ukurannya sudah berkali-kali lipat ukuran manusia. Dan kini, banyak tinju sekaligus merangsek untuk melumat Konoe──serangan yang sanggup menghancurkan kastil beserta Konoe sekaligus.

Tentu saja. Sama seperti Konoe yang menyadarinya sejak awal, pihak lawan pun sudah menyadari keberadaannya.

Monster tingkat tinggi memiliki kecerdasan yang luar biasa. Sejak Konoe muncul, Hecatoncheir terus mengawasinya untuk mencari kelemahan.

Oleh karena itu, Hecatoncheir mengincar manusia yang dibantu bersamaan dengan Konoe.

Serangan dengan area yang sangat luas merangsek menuju Konoe. Menghindar pun percuma.

Jika ia membalas serangan itu dan ada satu saja serpihan kepalan tinju yang meluncur ke belakang, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang-orang di ruang audiensi.

"……Manifestation."

──Maka pilihannya hanyalah melenyapkannya.

Karena itu, Konoe mengeluarkan salah satu kartu asnya.

Cahaya meluap dari sekujur tubuhnya dan berkumpul di tangan kanan. Itu adalah puncak dari Life Magic seorang Adept. Persenjataan suci yang dianugerahkan oleh Dewa untuk memusnahkan kejahatan.

──Holy Cross Spear: Void.

Sebuah tombak muncul di tangan kanannya. Putih bersih tanpa noda, dengan mata tombak berbentuk salib yang menjadi simbol Sang Dewa.

Persenjataan unik milik Konoe memiliki warna yang sama dengan Sang Dewa Awal.

GU!!??

Divine Power dilepaskan. Tubuh Hecatoncheir gemetar dan momentum tinjunya melemah.

Namun, pada saat itu, persiapan Konoe sudah selesai.

Tombak salib itu diselimuti kilat putih, lalu diayunkan oleh tangan kanan Konoe.

"──"

Kilatan cahaya melesat. Warna putih menutupi seluruh pandangan.

Setelah cahaya menghilang, terlihat sosok Hecatoncheir yang tubuh bagian atasnya mulai dari lutut sudah lenyap.

Massa raksasa milik makhluk itu dimurnikan oleh cahaya dan lenyap menjadi debu.

"……"

Konoe menghela napas melihat hasilnya──.

"──"

──Tidak, tidak mungkin ia bisa tenang sekarang.

Sebab, Konoe terus waspada terhadap hawa keberadaan yang ada di langit.

Dua dari tiga Kelas Bencana masih tersisa.

Tanpa menampakkan diri, keduanya terus mengawasi Konoe tanpa membantu Hecatoncheir. Mereka hanya sedang mencari celah untuk menang.

──Itulah sebabnya, salah satu dari keduanya mulai bergerak tepat sebelum Konoe melemparkan tombaknya.

Artinya, bahkan Hecatoncheir pun hanyalah sebuah umpan.

Identitas makhluk yang menjadikan sesama Kelas Bencana sebagai tumbal itu adalah Wind Dragon—Naga Angin.

Tentu saja, meskipun spesies tingkat rendah, mereka tetaplah spesies terkuat yang telah bertakhta di puncak para monster sejak zaman purba.

Energi sihir Naga mengendalikan hukum dunia. Naga Angin mampu menjadikan atmosfer yang memenuhi dunia sebagai kekuatannya sendiri.

Konoe tahu bahwa Naga Angin mampu membuat hambatan udara menjadi nol dan mengubahnya menjadi daya dorong.

──Karena itulah, kecepatannya jauh melampaui kecepatan suara.

Naga yang berada di ketinggian dua ribu meter itu berakselerasi dalam sekejap, mencapai tiga kali kecepatan suara.

Menyerang dari luar jarak pandang manusia dalam sekejap. Itulah taktik kemenangan mutlak sang Naga Angin.

Konoe sedang dalam posisi setelah mengayunkan lengannya. Ia sudah menggunakan persenjataannya, dan tangannya kini kosong.

Rencana Naga Angin itu berhasil. Konoe memang dalam posisi lemah.

──Maka, jika ada satu kesalahan perhitungan dari naga tersebut...

──Itu hanyalah fakta bahwa yang sedang ia serang saat ini adalah seorang Adept. Hanya itu saja.

Dalam waktu singkat yang bahkan kurang dari seperseratus detik──mata Konoe dan naga itu benar-benar bertemu.

Konoe melompat sambil mempertahankan posisi lengannya yang baru saja mengayun. Ia menginjak udara dengan energi sihirnya, memutar tubuhnya, dan──.

"────!!"

Tendangan berputar Konoe menghantam sang naga dengan telak.

Serangan itu menembus pertahanan naga dan menghancurkan tubuhnya sepenuhnya.

Naga Angin itu terlempar jauh ke luar kota dan jatuh ke hutan, bahkan tanpa sempat menyadari bahwa ia telah kalah.

"……"

Konoe mendarat dan menatap ke langit. Di kejauhan, terdapat naga terakhir.

Naga itu diam di tempat selama beberapa saat…… sebelum akhirnya berputar balik dan pergi menjauh.

"……Mustahil dikejar, ya."

Konoe memutuskan untuk tidak mengejarnya. Ada hal yang harus dilakukan lebih dulu daripada memburu monster itu.

Ia berbalik ke arah kastil untuk mulai membersihkan sisa-sisa monster dan melakukan pengobatan.


4

"……Namun, syukurlah ini selesai dengan cukup mudah."

Sambil membelakangi langit ungu, Konoe yang kembali ke kastil bergumam pelan sambil menyapu bersih sisa-sisa musuh.

Ia menghela napas lega karena pemimpinnya ternyata hanyalah Kelas Bencana biasa.

Dunia ini akan berada dalam masalah besar jika yang muncul adalah Kelas Malapetaka atau monster yang memiliki Unique Magic.

"……Telnerica."

"……Konoe-sama."

Setelah membereskan sisa-sisa monster, ia bertemu kembali dengan Telnerica. Gadis itu sedang menangis di samping ksatria wanita yang telah tewas.

Konoe memberitahukan tentang situasi di ruang audiensi dan jumlah penyintas, serta niatnya untuk mulai mengobati penduduk.

"──Para ksatria, ternyata benar-benar berhasil melindungi kami, ya."

Telnerica mengusap air matanya dan berdiri dengan wajah penuh kebanggaan.

"……"

Konoe kehilangan kata-kata melihat sosok Telnerica.

"Kalau begitu, mari kita pergi! Saya juga akan memberikan dukungan semampu saya!"

Telnerica mulai melangkah. Konoe menyusul gadis itu menuju ke ruang audiensi──.

──Di sana, medan perang lain telah menunggu.

Saat Konoe dan Telnerica sampai di lantai teratas kastil, pintu-pintu sudah terbuka lebar.

Persiapan pengobatan sudah dimulai. Para ksatria yang terluka parah pun tetap berusaha membantu sebisanya.

"──Ah."

Suara Telnerica terdengar seperti jeritan kecil melihat pemandangan di dalam ruang audiensi.

Banyak orang tergeletak di lantai, terjangkit Penyakit Mati. Hampir tidak ada orang yang bergerak di dalam lingkaran sihir pelindung.

Hanya terdengar rintihan samar dan teriakan kesakitan.

Meskipun Adept dan Sang Putri telah datang, sebagian besar dari mereka bahkan tidak sanggup menoleh.

"……Kenapa bisa begini."

Telnerica terkesiap, air mata baru mulai menggenang di matanya.

Inilah kengerian dari Penyakit Mati. Miasma merasuk ke dalam tubuh dan menggerogoti raga beserta jiwanya.

Orang-orang di sini hanya bisa menunggu kematian dalam penderitaan yang luar biasa.

"──"

Konoe melangkah maju sambil merajut Life Magic.

──Kota Silmenia, penyintas lebih dari tiga ribu orang.

Bagi seorang Adept, setelah pertempuran untuk membunuh monster, pertempuran untuk menyelamatkan manusia telah menunggu.

Konoe memprioritaskan penyembuhan para ksatria yang masih bisa bergerak karena ia membutuhkan bantuan tenaga manusia.

Akan sangat sulit bagi Konoe sendirian untuk merawat lebih dari tiga ribu orang.

Setelah para ksatria selesai, ia mulai mengobati anak-anak, lansia, dan mereka yang tidak punya stamina. Di saat yang sama, ia juga menyembuhkan orang-orang dengan keahlian khusus seperti tenaga medis dan penyihir.

Ia menyusun tempat tidur secara melingkar dan melakukan pengobatan terhadap banyak orang sekaligus.

Para penyihir diminta memproduksi air, sementara yang lain memasak makanan lunak menggunakan api sihir.

──Waktu terus berlalu hingga malam menyelimuti kastil.

Raungan monster terdengar dari kejauhan, memaksa beberapa ksatria untuk tetap waspada.

Hari berganti hari, fajar menyingsing, dan malam kembali tiba. Pengobatan terus berlanjut tanpa henti.

Setelah dua hari, kota mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Mereka yang bisa bertarung membantu ksatria, sementara yang lain mencari bahan makanan dan bersih-bersih.

Pada hari keempat, seekor Demon mendekat ke kota. Konoe melemparkan tombaknya dari jendela untuk mengakhiri ancaman itu, lalu segera kembali mengobati pasien.

──Selama waktu itu, Konoe tidak beristirahat barang sedetik pun.

"Konoe-sama, anu, sebaiknya Anda beristirahat sebentar."

"……Tidak perlu."

Konoe menggelengkan kepalanya. Sebagai seorang Adept, ia sanggup terus bergerak.

Sebenarnya, sehebat apa pun seorang Adept, mereka akan kehabisan energi sihir jika melakukan apa yang Konoe lakukan sekarang.

Namun, Konoe memiliki sumber kekuatan lain.

"──Dewa."

Dewa benar-benar ada di dunia ini dan mengasihi manusia.

Selama tujuh hari tujuh malam, Konoe merasakan kehadiran Sang Dewa di belakangnya, menyuplai energi sihir yang tidak terbatas.

Berkat dukungan itu, Konoe akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya.

"──"

──Pada hari ketujuh, Konoe telah menyembuhkan seluruh tiga ribu dua ratus tiga puluh orang penyintas.


5

──Konoe bermimpi. Itu adalah mimpi tentang masa ketika ia masih berada di Jepang.

Kenangan tentang separuh hidupnya. Bagaimana sosok manusia bernama Konoe terbentuk.

Alasan mengapa ia menjadi sosok yang sekarang ini. Konoe menyaksikannya dari kejauhan di dalam dunia antara mimpi dan kenyataan.

──Konoe kecil sudah hidup sebatang kara sejak ia mulai mengingat keadaan di sekitarnya.

Ingatan tertua yang ia miliki adalah sosok kedua orang tuanya yang melangkah keluar dari rumah sambil membawa koper besar.

Punggung mereka berdua perlahan mengecil tanpa pernah sekali pun menoleh ke belakang.

Hati kecilnya merasakan firasat buruk, membuatnya mengejar kedua orang tuanya dengan putus asa. Namun, ia justru ditepis hingga terjatuh ke tanah.

Lututnya lecet dan darah mulai mengalir.

──Merah. Warna yang sangat merah.

Sakit, air mata membanjir…… namun yang kembali padaku hanyalah tatapan dingin. Padahal sebelumnya, jika aku menangis, mereka pasti akan memelukku.

Mereka selalu ada di sampingku. Tapi, kenapa.

……Benar, hanya dalam satu malam, Konoe telah menjadi barang yang tidak diinginkan.

Ingatan itu masih ada. Hal yang mendasari sosok Konoe adalah keputusasaan pada momen tersebut.

Belakangan, aku baru mengetahui fakta bahwa keluargaku hancur dipicu oleh perselingkuhan kedua orang tuaku. Kasih sayang di antara mereka sudah lama hilang, dan mereka hanya berpura-pura baik di permukaan saja.

Begitu kepura-puraan itu hancur, Konoe pun berubah menjadi sosok pengganggu bagi mereka berdua.

Tempat bagi Konoe tidak ada di mana pun. Aku ditinggalkan sendirian di rumah, dan urusan mengasuhku diserahkan sepenuhnya kepada asisten rumah tangga yang disewa.

Asisten rumah tangga itu bekerja hanya demi menjaga nama baik keluarga di mata masyarakat. Ia selalu memarahi Konoe dengan wajah tidak senang.

Makanan memang tersedia. Pakaian pun dicuci dengan rapi. Namun, tidak pernah ada percakapan yang layak.

Ia adalah orang yang hanya melakukan pekerjaannya saja.

Teman sekelas menertawakan Konoe. Konoe, yang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam kesepian di rumah sebelum masuk sekolah, tidak tahu cara berinteraksi dengan orang lain.

Yang ada hanyalah rasa takut akan penolakan. Karena itulah, keterasingan yang aku alami saat mulai bersekolah terus berlanjut hingga hari kelulusan.

Guru-guru pun memperlakukan Konoe dengan kasar. Mereka menganggapku sebagai pembuat masalah yang merepotkan.

Bahkan saat Konoe dikucilkan atau dilempari batu, mereka justru menyalahkan Konoe.

……Itulah masa kecil Konoe. Selalu sendirian──.

………………

──Konoe menatap anak itu dengan pandangan kosong. Dalam kesadaran mimpi yang samar, aku melihat diriku sendiri yang sedang menangis.

Tidak ada siapa pun di sampingnya. Seorang anak yang tumbuh besar dalam kesendirian dan hidup hanya mengandalkan dirinya sendiri.

……Bahkan setelah bertambah usia dan lanjut ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, Konoe tetap sendirian.

Aku hanya bisa melakukan percakapan yang bersifat formal saja. Di luar itu, aku tidak bisa apa-apa.

Sebab, Konoe tidak mengenal kasih sayang. Aku hanya mengenal kebencian dan keputusasaan.

Aku merasa semua orang diam-diam membenciku. Begitu pikiran itu muncul, kata-kata pun tidak bisa keluar dari mulutku.

Kebiasaan melihat orang lain dengan tatapan curiga telah terbentuk di dalam diriku.

………………aa

……Dan hal itu tidak berubah sampai sekarang.

Ah, benar. Meski bertahun-tahun telah berlalu, Konoe tetap tidak bisa melampaui trauma masa kecilnya.

Konoe tidak bisa berubah. Aku tidak bisa berhenti menaruh rasa curiga.

Tentu saja Konoe juga diajarkan bahwa tidak semua manusia itu jahat. Seharusnya memang begitu.

Namun, karena aku terus hidup dengan rasa curiga seperti itu, sosok Konoe pun sudah terpatri secara permanen.

Sebenarnya, mungkin akan lebih baik jika aku pergi ke konseling.

Mungkin akan lebih baik jika aku meminta pertolongan kepada satu orang saja. Namun, aku tidak bisa melakukannya.

Aku tidak bisa hidup seperti itu. Aku tidak bisa mempercayai orang lain.

……Hasilnya, aku terus hidup sendirian sampai akhir, dan mati dalam kesendirian.

Tidak ada orang yang menggenggam tanganku, pun tidak ada orang yang bersedih untukku. Itulah seluruh kehidupan Konoe sebagai orang Jepang.

──Karena itulah, karena hidupku seperti itu.

Dua puluh lima tahun yang lalu, di hari itu, Konoe merasa terpikat oleh kata Ramuan Cinta.

Bukan pada manusia, melainkan pada obatlah aku melihat sebuah keselamatan.

Jika itu obat, aku tidak perlu merasa curiga. Meski hati manusia tidak bisa dipercaya, obat pasti bisa diandalkan.

Orang yang meminum obat itu pasti akan menyukai Konoe.

Demi tujuan itu, aku sanggup bertahan meski harus memuntahkan darah berkali-kali. Meski menderita sampai ingin mati, aku tetap bisa terus melangkah.

Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun pun akan kujalani. Memikirkan hari itu membuatku sanggup berjuang sekuat tenaga.

Aku sadar bahwa diriku sudah menyimpang. Aku tahu ini tidak benar.

Meski begitu, bagi Konoe, hanya inilah satu-satunya cara hidup yang tersisa. Manusia yang sudah terlanjur hidup di jalan yang salah hanya bisa bersama seseorang dengan cara seperti ini.

Karena Konoe berpikir demikian──.

──Itu salah, lho.

…………?

──Eh? Pikir Konoe.

Terdengar sebuah suara dari suatu tempat. Konoe merasa heran di tengah kesadarannya yang samar antara mimpi dan kenyataan.

Suara yang terasa familier. Seperti pernah kudengar sekali di masa lalu yang sangat jauh.

──Kamu bukan anak yang salah. Kamu adalah anak yang baik dan bisa berjuang demi orang lain.

Itu adalah suara yang menenangkan. Sebuah suara lembut yang entah mengapa membuatku merasakan kehangatan.

Karena itulah, tenaga di tubuh Konoe pun mulai menghilang. Padahal selama ini aku selalu merasa kedinginan, namun sekarang rasanya seolah sedang diselimuti bulu angsa yang lembut.

──Tidak apa-apa. Pasti akan baik-baik saja.

Sambil merasa heran, Konoe merasa kesadarannya perlahan naik ke permukaan. Sepertinya aku akan segera terbangun.

Tubuhku terasa mengambang sambil tetap terbungkus dalam kehangatan.

……Dan pada akhirnya, Konoe merasa kepalanya seperti diusap dengan lembut.

◆◇◆

"……Aah."

Konoe terbangun. Saat kelopak matanya terbuka, ia berada di sebuah ruangan yang tidak familier.

Ini adalah kamar tamu di dalam kastil. Meski sudah menginap di sini selama satu minggu terakhir, baru tadi malam ia benar-benar tidur di atas ranjang.

"……Huaa."

Ia menguap, lalu bangkit duduk sambil melakukan Detection ke arah kastil dan sekitarnya. Tidak ada masalah. Tidak ada reaksi monster di dekat sini.

Tadi malam monster sempat mendekat dua kali dan ia terbangun untuk menyerang mereka, namun sepertinya tidak ada serangan lain setelah itu. Sekarang yang terasa hanyalah hawa keberadaan orang-orang yang mulai beraktivitas dengan sibuk.

Konoe duduk melamun di atas tempat tidur sambil menggaruk tengkuknya.

"……Entah kenapa, perasaanku enak sekali."

Ia bergumam lirih. Itu adalah momen bangun tidur yang terasa sangat segar, hingga terasa aneh.

Dulu Konoe adalah orang yang sering mengalami mimpi buruk saat sedang kelelahan. Karena itulah, ia yakin kali ini pun pasti akan bermimpi buruk.

Bagaimanapun, ini adalah setelah tujuh hari tujuh malam bekerja tanpa henti. Ini termasuk sepuluh besar kelelahan paling parah sepanjang hidup Konoe.

Sebagai catatan, nomor satu adalah saat ujian akhir ketika ia diakui sebagai Adept.

(……Kenapa, ya?)

Intinya, Konoe merasa aneh karena bisa bangun dengan perasaan yang begitu nyaman.

Tentu saja Konoe juga tidak mau melihat mimpi buruk. Namun, jika biasanya ia hampir selalu mengalaminya lalu tiba-tiba menghilang, itu tetap terasa janggal baginya.

Konoe memiringkan kepalanya.

(……Dewa?)

Tiba-tiba, kata itu terlintas di benaknya.

Ia tidak tahu mengapa ia berpikiran demikian. Apakah karena Beliau telah meminjamkan kekuatannya sampai kemarin?

Sekarang hawa keberadaan Beliau sudah tidak ada, jadi pasti Beliau sudah kembali ke Ibu Kota. Dewa juga punya kesibukan sendiri, tidak mungkin Beliau terus memperhatikan satu orang Adept selamanya──.

(──Ngomong-ngomong, kalau bicara soal mimpi.)

Seperti permainan asosiasi kata, Konoe teringat akan rumor yang pernah ia dengar sebelumnya. Ia pernah tidak sengaja mendengar percakapan sesama calon Adept di ruang istirahat.

Katanya, jika kita meminjam kekuatan dari Dewa, terkadang kita akan memimpikan Beliau di malam hari. Tampaknya jalur antara manusia dan Dewa akan terhubung saat menerima energi sihir.

Saat itulah, mereka yang memiliki perasaan bersalah akan didatangi Dewa di dalam mimpi dan diberi wejangan panjang lebar.

……Yah, tentu saja itu cuma rumor, tidak ada bukti kebenarannya.

Kali ini pun ia hanya merasa segar dan tidak melihat sosok Dewa. Lagipula jika rumor itu benar, mustahil orang sepertiku yang berencana membuat harem budak dengan Ramuan Cinta tidak diceramahi habis-habisan oleh Beliau.

(……Dewa, ya.)

Konoe memikirkan Sang Dewa. Sosok Dewa yang putih bersih.

Bukan manusia, melainkan keberadaan yang jauh di atasnya. Sosok penghuni surga.

……Mungkin karena itu.

Konoe tidak bisa meragukan Dewa.

Saat berhadapan langsung, rasa tegangnya tiba-tiba mengendur. Senyum dan kelembutan di depan matanya itu tersampaikan langsung ke hati tanpa melalui kata-kata.

Bagi Konoe, itu adalah sensasi yang pertama kali ia rasakan sejak ia lahir. Karena itulah, Konoe berkali-kali mengunjungi tempat Sang Dewa.

"──Tidak, lupakan saja."

Konoe menggelengkan kepala. Ia memutus arus pemikirannya.

Lalu ia mengembuskan napas panjang. Hari ini ia boleh sedikit bersantai.

Bagaimanapun juga, ia baru saja menyelesaikan tugas besar. Majikannya, Telnerica, juga sudah memintanya untuk beristirahat dengan baik.

"……"

Untuk berjaga-jaga, sekali lagi ia memastikan hawa keberadaan monster dan mengamati pergerakan orang-orang.

Setelah memastikan dengan serius bahwa tidak ada situasi darurat yang terjadi, ia kembali merebahkan tubuhnya yang tadi sudah bangkit ke atas tempat tidur.

"……Fuuu."

Sekali lagi Konoe mengembuskan napas panjang. Pekerjaan pertamanya ternyata menjadi jauh lebih besar dari dugaannya.

Dalam rencana awal, tidak seharusnya menjadi seperti ini. Yah, meski ia tidak punya pandangan besar yang bisa disebut sebagai rencana, ia mengira ini akan jadi pekerjaan yang sedikit lebih mudah.

Misalnya seperti membuka klinik Penyakit Mati di suatu tempat, lalu mencari uang dari sana.

Ia berniat mengumpulkan uang perlahan-lahan agar targetnya bisa tercapai di dalam tahun ini. Namun, dalam sekejap mata, ia justru berakhir menjadi penyelamat satu kota penuh.

Jika ditanya mengapa bisa jadi begini, itu karena saat itu ia memeluk anak itu──Telnerica.

"……"

……Bukannya ia merasa menyesal, sih.

Ia merasa masih memiliki sisi baik yang cukup untuk bisa merasa senang karena telah membantu orang lain. Konoe menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang seperti itu.

"……Yah, pokoknya."

Pokoknya, target sudah berada di depan mata. Dalam dua puluh hari atau sedikit lebih lama lagi, seribu koin emas akan masuk ke kantongnya.

Ia bisa membeli rumah mewah, juga bisa membeli budak. Obatnya pun seharusnya tidak akan semahal itu.

Harem budak Ramuan Cinta milik Konoe sudah hampir sampai di depan mata. Artinya, kali ini, Konoe akhirnya bisa bersama seseorang──.

"……Hm?"

Saat sedang memikirkan hal itu, suara ketukan pintu menggema di dalam ruangan.

Konoe-sama. Saya Telnerica. Apakah Anda sudah bangun?

"……Ah, sudah bangun kok."

Saya membawakan pakaian ganti.

Bolehkan saya masuk? tanya Telnerica, lalu Konoe menjawab silakan.

Konoe bangkit dari tempat tidur, merapikan rambut dan baju tidurnya sedikit. Lalu ia melihat ke arah pintu yang terbuka──.

"──?"

"Konoe-sama, silakan gunakan ini."

──Eh? pikir Konoe. Ia menatap Telnerica dua kali.

Telnerica menyodorkan pakaian yang sudah terlipat rapi sambil tersenyum ke arah Konoe.

"……Konoe-sama?"

"……Ah, iya."

Renda-renda yang bergoyang, serta penampilan dengan celemek hitam dan putih.

Rok setinggi lutut itu bergoyang mengikuti gerakan Telnerica.

……Konoe mengerjapkan matanya berulang kali.

Sebab, alasannya adalah karena Telnerica mengenakan pakaian pelayan.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close