NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Teido de Mune no Ana wa Umaranai Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Warna Emas


1

──Hari itu, gerbang transmisi diaktifkan saat pagi buta.

Tanpa perlu ada yang memberi tahu, Konoe sudah mengetahuinya.

Kemampuan persepsi Konoe yang telah ditempa sebagai seorang Adept akan membuatnya terbangun secara otomatis jika ada aliran mana besar yang bergerak di dekatnya, bahkan saat ia sedang tidur sekalipun. Tubuhnya akan langsung waspada.

……Karena itulah, Konoe tahu bahwa seseorang telah menggunakan gerbang transmisi untuk berpindah dari kota ini ke suatu tempat.

"……"

Pagi harinya, Telnerica tidak datang ke kamarnya. Yang muncul justru pelayan lain.

Dia adalah pelayan yang waktu itu memberi tahu Konoe tentang keluarga Telnerica.

Pelayan itu datang menggantikan Telnerica untuk menyiapkan sarapan dan pakaian Konoe.

Makanannya lezat. Pakaiannya pun disiapkan dengan rapi.

Namun, isi kepala Konoe hanya dipenuhi oleh Telnerica.

"……"

Ia mencemaskan sikap Telnerica tadi malam. Juga kata-kata saat mereka berpisah.

Apa sebenarnya maksud dari "janji awal" itu? Ditambah lagi dengan gerbang transmisi tadi pagi.

Firasat buruk yang sangat hebat menghantuinya. Ia merasa ada sesuatu yang keliru.

Perlahan, Konoe mulai merasa gelisah, namun ia tidak tahu apa-apa.

"……Di mana Telnerica?"

"……Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Hari ini Tuan Putri sedang tidak enak badan."

Saat Konoe bertanya, pelayan itu menundukkan pandangannya.

Konoe hanya menyahut pelan. Ketika ia menawarkan untuk menggunakan sihir penyembuh, pelayan itu menjawab bahwa penyihir penyembuh dari kastil sudah memeriksanya, jadi bantuan Konoe tidak diperlukan.

"……Ada saat-saat di mana Tuan Putri pun tidak bisa menemui siapa pun. Mohon maaf. Saya harap Anda bisa mengerti."

"……Begitu, ya."

Jika sudah ditegaskan begitu, Konoe tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ia ingin memastikannya sekarang juga. Namun, Konoe bukanlah tipe orang yang bisa membangkang dan memaksa masuk setelah diberi tahu bahwa seseorang tidak bisa ditemui. Ia tidak terbiasa hidup seperti itu.

Ditambah lagi, Konoe merasa terguncang karena ditolak secara tidak langsung melalui pelayan.

Padahal ditolak oleh orang lain adalah hal biasa baginya, namun hanya dengan berpikir bahwa Telnerica yang mengatakannya, entah kenapa gerakannya terasa menjadi tumpul.

"……"

Konoe menunduk. Setidaknya ia ingin memastikan keselamatannya dengan mencari hawa keberadaan Telnerica, namun ia sadar itu adalah tindakan yang salah.

Sebab, itu jelas-jelas pelanggaran privasi. Jika hanya untuk sekadar tahu apakah ada orang di sana mungkin tidak apa-apa, tapi jika ia melakukan deteksi sampai bisa mengenali identitas individu, itu artinya ia akan tahu apa yang sedang dilakukan oleh semua orang di daerah sekitar.

……Karena Konoe sudah bertekad untuk menjadi orang yang serius, ia tidak bisa melakukan tindakan yang tidak benar.

"……"

Lagipula, ia tidak punya bukti kuat untuk mengambil tindakan sekeras itu. Ini hanya kegelisahan Konoe belaka.

Kegelisahan yang bersumber dari suasana aneh Telnerica kemarin, dan gerbang transmisi yang aktif tadi pagi.

Serta kata-kata perpisahan yang diucapkan setengah hari lebih awal. Hanya itu saja.

Meskipun ia punya firasat buruk, pelayan yang sepertinya tahu situasinya tampak tenang-tenang saja, sehingga ia mulai merasa mungkin ini semua hanya perasaannya.

……Alasan Telnerica tidak datang pagi ini mungkin bukan karena alasan khusus, tapi hanya karena dia sudah bosan melayaninya.

Tidak, justru kemungkinan itu yang lebih besar. Karena, bukankah selama ini memang begitu normalnya?

"………………………………"

"Ngomong-ngomong, Adept-sama, ada satu laporan. Persiapan aktivasi gerbang transmisi sedang berlangsung. Transmisi menuju Ibu Kota seharusnya dilakukan tepat pada tengah hari."

"………………Begitu ya."

Di saat Konoe semakin tertunduk, informasi baru pun tiba.

Itu adalah pemberitahuan waktu bagi Konoe untuk kembali ke Ibu Kota.

Waktu saat pekerjaannya berakhir. Waktu terakhirnya dengan kota ini, dan juga dengan Telnerica.

"……"

Konoe tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Kekhawatiran terhadap Telnerica, firasat buruk, dan penyangkalan diri bercampur aduk menjadi satu, hingga ia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ingin ia lakukan.

……Lalu, tanpa memedulikan kondisi Konoe, waktu terus berlalu begitu saja──.

──Tanpa ada kaitan apa pun, hal itu tiba-tiba saja datang.

Tentu saja itu bukan Telnerica yang ia harapkan, melainkan sebuah benda asing.

"──?"

Suara dentuman besar bergema. Gashan! Tiba-tiba, terdengar suara seperti sesuatu yang pecah.

Apalagi itu bukan suara seperti piring yang pecah.

Suara yang khas ini, suara yang terdengar seperti nada sumbang yang bercampur aduk, suara yang jika sekali didengar tidak akan mudah dilupakan.

"……Begitu ya, Core Miasma."

Konoe segera sampai pada jawaban tersebut.

Core Miasma.

Penyebab dari luapan dungeon.

Sesuatu yang memicu semua bencana yang menyerang kota ini.

Bencana labirin dimulai saat dungeon menciptakan Core Miasma.

Karena miasma dan monster tertahan oleh kekuatan Penghalang Penutup yang menutup pintu masuk, orang sering kali melupakannya, namun luapan labirin tidak akan berakhir sampai Core Miasma dihancurkan.

Dengan menghancurkan Core Miasma, wilayah tersebut akan benar-benar mendapatkan kedamaian kembali.

"Berhasil dihancurkan ya."

Suara tadi sangat mirip dengan suara hancurnya Core Miasma yang pernah ia dengar sebelumnya.

Itu artinya, luapan labirin di wilayah ini yang dimulai empat puluh lima hari yang lalu telah berakhir.

Sepertinya Adept yang bertugas melakukannya dengan baik.

Saat ia mencoba memperluas deteksinya jauh ke dalam tanah, ia bisa merasakan hawa jahat mulai menipis.

(……Banyak sekali kejadian beruntun ya.)

Pikir Konoe. Yang ia maksud adalah rangkaian peristiwa sejak kemarin.

Bunga Suci ditemukan, penghalang kembali seperti semula, dan sekarang Core Miasma dihancurkan.

Hal-hal baik terus terjadi berturut-turut bagi kota ini.

……Yah, kalau soal Core Miasma, ia tidak terlalu merasakannya berkat adanya Penghalang Penutup.

Konoe berpikir bahwa itu tidak akan mengubah apa pun, namun──.

"──Adept-sama. Apakah suara tadi adalah suara saat Core Miasma dihancurkan?"

"……Hm, ya."

Ternyata pelayan yang berjaga di dekatnya memiliki reaksi berbeda.

Sorot matanya berubah setelah mendengar perkataan Konoe. Ia kemudian membungkuk meminta maaf dan pamit keluar ruangan sebentar.

Konoe bertanya-tanya ada apa sebenarnya.

……──, dengan Tuan Lord──dan──

Tak lama kemudian, suasana di dalam kastil menjadi gaduh. Tanpa perlu konsentrasi pun, pergerakan orang-orang dan suara-suara kecil terdengar olehnya.

(……Ah, begitu ya, Tuan Lord.)

Konoe memahami maksud suara-suara yang terdengar sepenggal-sepenggal itu.

Benar. Kalau tidak salah itu adalah orang tua dan kakak laki-laki Telnerica.

Keluarga Lord kota ini ditugaskan untuk menciptakan Penghalang Penutup.

Kalau begitu, sekarang setelah Core Miasma hancur, mereka mungkin akan segera kembali dalam waktu dekat.

Jadi keributan di dalam kastil itu pasti untuk mempersiapkan penyambutan mereka.

Walaupun hari ini tidak mungkin, mereka pasti akan kembali dalam beberapa hari ke depan.

……Yah, Konoe yang akan meninggalkan kota hari ini sepertinya tidak akan punya kesempatan bertemu mereka.

"……"

Konoe mengembuskan napas pendek.

Lalu, ia berpikir untuk mencari udara segar sejenak. Karena pelayan sudah pergi, ia ingin mencari suasana baru.

──Konoe naik ke menara pengawas.

Tempat yang selalu Konoe tempati selama beberapa hari terakhir ini.

Ia tidak perlu lagi membasmi monster, namun bagi Konoe, ini adalah tempat yang sudah sangat akrab baginya.

Tempat ia bersama Telnerica. Tempat ia berbincang tadi malam. Konoe duduk di kursi itu dan menatap kota dari atas.

"……"

Ke mana pun ia pergi, hanya sosok Telnerica yang muncul di pikirannya.

Tapi, ia tidak tahu situasinya. Ia tidak tahu keadaan Telnerica saat ini.

Suasana kemarin malam dan gerbang transmisi terus menghantuinya, tidak bisa lepas dari kepala──namun di sisi lain, ada dirinya yang merasa bahwa mungkin itu hanyalah salah paham.

Konoe mengejek dirinya sendiri, merasa bahwa menganggap telah terjadi sesuatu hanya karena dia tidak datang menemuinya adalah hal yang terlalu percaya diri.

……Benar, lagipula sejak awal──.

"──"

──Apa aku punya hak untuk mencemaskan Telnerica?

Hanya karena punya firasat buruk, memangnya ia merasa dirinya siapa?

Siapakah dirinya bagi Telnerica?

Ia hanyalah orang yang dipekerjakan.

Diminta tolong, dan ia memenuhinya.

Majikan dan pekerja.

Hanya sebatas itu saja, pikirnya.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi melihat suasana kemarin, bukankah Telnerica sendiri yang memutuskan untuk berbuat demikian?

Apa ia punya hak untuk ikut campur?

……Padahal ia hanyalah orang asing.

Padahal ia hanyalah orang yang gagap sosial yang bahkan tidak bisa mengobrol normal dengan orang lain.

Apa ia berniat bertingkah seperti orang dekat hanya karena sudah sempat mengobrol sedikit dengan Telnerica?

"……"

Pikiran-pikiran gelap berputar-putar dalam benak Konoe.

Rasa rendah diri.

Kebencian pada diri sendiri.

Kehidupan yang dijalaninya selama ini.

Masa lalunya, jati dirinya, mengejek Konoe yang sekarang.

Dan saat ia berpikir begitu, isi kepalanya menjadi kacau balau.

Ia jadi tidak mengerti. Ia bahkan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya ia inginkan.

"……………………Aku, ini……"

Matahari perlahan semakin meninggi, dan waktu untuk kembali ke Ibu Kota pun semakin dekat.

Jika ia memusatkan kesadarannya, ia bisa tahu bahwa mana di gerbang transmisi pun mulai meningkat.

──Saat itu terus mendekat dari detik ke detik. Konoe menatap kota.

Pergerakan orang-orang.

Orang-orang yang berlarian demi pemulihan kota.

Pria yang menyingkirkan puing-puing, wanita yang menyiapkan dapur umum.

Anak-anak yang beristirahat di tempat teduh karena kelelahan, juga para lansia.

Di dekat gerbang masuk kota, para ksatria berkumpul dan melakukan sesuatu……?

"…………?"

Sambil mencoba melarikan diri dari kenyataan, Konoe bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh para ksatria itu.

Karena merasa aneh, ia memperhatikannya selama beberapa saat. Ia hanya mengarahkan pandangannya ke sana tanpa sadar.

……!!

Sambil ia memperhatikan, para ksatria itu membawa semacam kotak, kotak yang ukurannya sebesar manusia, dan berjalan menuju pusat kota.

Jumlahnya tiga buah, dan berwarna hitam. Para ksatria membawa satu kotak berdua, mengangkutnya dengan sangat hati-hati.

"……?"

Jika dilihat baik-baik, di tengah kotak tersebut terdapat gambar sayap putih.

Gambar itu sama dengan yang ada di jubah Konoe, sebuah simbol yang mewakili Dewa Kehidupan.

Artinya itu adalah…… jika ditanya apa kotak seukuran manusia yang digambari lambang dewa tersebut, jawabannya adalah.

"……Peti mati?"

……Apa ada yang meninggal? Sejak kapan? Konoe merasa heran.

Hari ini? Tidak, ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain. Jika kemarin, seharusnya sudah ada laporan yang masuk.

Berarti, orang-orang itu baru saja meninggal?

Padahal sudah ada penghalang? Apa ada pertempuran mendadak di hutan?

……Tidak, kalau begitu suasananya terasa aneh.

Lagipula jika ada sesuatu yang terjadi, seharusnya mereka datang memanggil Konoe.

Jika hanya sekarat, Konoe bisa menyembuhkannya dengan mudah.

Bahkan jika sudah mati pun, selama kepalanya masih utuh, terkadang masih bisa diusahakan.

Namun, mereka justru membawanya dengan santai di dalam peti mati.

Tidak terlihat terburu-buru, melainkan membawanya dengan penuh hormat.

……Atau lebih tepatnya, kapan mereka menyiapkan peti mati itu?

Tidak mungkin ada peti mati untuk orang yang baru saja meninggal.

──Lalu, siapakah isi di dalam peti mati itu?

"……ugh."

Ia tidak tahu. Namun, jantungnya berdegup kencang.

Ia merasa harus mengetahuinya.

Jika ia tidak tahu siapa isi di dalam peti itu, Konoe akan……

"──!"

Konoe melangkah keluar dari atas menara pengawas. Ia mengalirkan mana, lalu menginjak udara.

Lalu dalam sekejap ia melesat ke arah para ksatria yang mengangkut peti mati tersebut.

Selagi Konoe berpikir, para ksatria sudah sampai di dekat pusat kota, dan banyak orang berkumpul di sekeliling mereka.

Mereka berlutut di sekitar peti, menangkupkan kedua tangan untuk memanjatkan doa.

"……Komandan Ksatria."

"! Adept-sama."

"……Ini, situasi macam apa?"

Konoe menemukan sang Komandan Ksatria di antara barisan ksatria, lalu mendarat tepat di belakangnya dan bertanya.

Komandan Ksatria membelalakkan matanya sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi sedih namun tampak bangga.

Konoe mengernyitkan dahi melihat hal itu.

"Kami sedang menyambut Tuan Lord dan yang lainnya."

"……?"

"Tuan Lord, sang Nyonya, dan Tuan Muda──akhirnya, akhirnya, kami bisa membawa mereka pulang ke kota. Kami sedang menyambut kepulangan mereka."

……Apa?


ï¼’

"……Lord, sang Nyonya, dan Tuan Muda?"

"Benar."

Konoe mengulangi perkataan Komandan Ksatria dengan tatapan kosong.

Lalu, ia mengalihkan pandangannya ke arah peti mati yang dijejerkan. Di sana memang ada peti untuk tiga orang.

──Namun.

"……Apa maksudnya ini?"

Artinya, orang-orang yang ada di sini adalah keluarga Telnerica.

Ketiga orang itu sudah meninggal, dan hari ini, mereka baru kembali?

Tapi, itu berbeda dari apa yang ia dengar──.

"──Bukankah sang Lord sedang memasang Penghalang Penutup?"

Seharusnya begitu. Ia mendengar bahwa tugas utama keluarga Lord kota ini, keluarga Silmenia, adalah menutup pintu masuk labirin yang meluap.

Itulah alasan mengapa ia mendengar hanya ada Telnerica di kota ini.

"Benar, Tuan Lord dan yang lainnya memang memasang Penghalang Penutup. Karena itulah, miasma di kota ini mulai menipis."

"Kalau begitu, tidak mungkin mereka kehilangan nyawa."

Seharusnya pemeliharaan Penghalang Penutup mendapatkan dukungan penuh dari kaum bangsawan tinggi.

Wajar saja.

Penghalang Penutup adalah penghalang tingkat tinggi.

Bukan sesuatu yang bisa dipasang oleh sembarang orang.

Penyihirnya sangat langka, dan jika sampai mati pun, mereka pasti yang paling terakhir.

"……Tidak, dukungan dari bangsawan tinggi itu, tidak ada."

"……?"

"Karena Tuan Lord menentang perintah bangsawan tinggi dan menutup lubang yang terbuka di dekat kota ini."

……Apa? ……Apa maksudnya itu?

"……Pada hari saat luapan monster itu dimulai, seluruh harapan di kota ini telah terputus."

Begitulah sang Komandan Ksatria mulai bercerita.

Tentang hari itu, hari empat puluh lima hari yang lalu.

Tentang hari di mana sebuah perintah turun kepada kota ini dari bangsawan tinggi.

Perintah itu adalah, "──Perintah yang turun kepada kota Silmenia adalah, penelantaran total."

"……"

"Di dekat kota ini, di lokasi sekitar lima puluh kilometer ke arah selatan, sebuah pintu masuk labirin baru terbuka. Luapan monster dimulai dari sana, miasma dan monster membanjir keluar."

Luapan dari tempat yang bisa dibilang sangat dekat. Kejahatan menyebar dalam sekejap mata dan mengepung kota Silmenia, begitu kata Komandan Ksatria.

Karena itu, Lord segera menghubungi bangsawan tinggi untuk meminta dukungan Penghalang Penutup dan pengiriman Adept. Namun.

"Jawabannya hanyalah satu kata: mustahil. Luapan monster terjadi dalam skala yang sangat besar, jangankan Adept-sama, bahkan penyihir untuk Penghalang Penutup maupun personel pendukung pun tidak mencukupi. Karena itu, turun perintah untuk membiarkan pintu masuk yang terbuka di dekat Silmenia, dan memusatkan personel ke wilayah yang populasi penduduknya lebih banyak."

Karena alasan itulah, perintah pindah diberikan kepada seluruh anggota keluarga Silmenia.

Dan, mereka diberi tahu bahwa hanya jumlah orang yang bisa dipindahkan dalam satu kali aktivasi gerbang transmisi saja yang diizinkan untuk ikut.

Itu artinya……

"Namun, itu adalah vonis mati bagi kami. Pada saat itu, kemungkinan kami untuk bertahan hidup menjadi nol. Apa pun yang dilakukan tidak akan berhasil. Karena pintu masuk labirin terbuka tepat di dekat kota. Miasma akan terus menyembur tanpa batas. Seberapa pun kami bertahan, konsentrasi miasma tidak akan turun. Bahkan jika Adept-sama datang untuk menyembuhkan, penyakit mematikan itu akan terus kambuh lagi dan lagi."

──Di sana, Konoe berpikir.

Jika saja instruksi dari bangsawan tinggi itu diikuti, nasib seperti apa yang akan dialami kota ini?

Tanpa Adept dan tentu saja tanpa Penghalang Penutup, konsentrasi miasma di sekitar kota ini akan terus meningkat tanpa batas, dan dalam beberapa hari akan tercemar oleh miasma konsentrasi sangat tinggi.

Dan penyakit mematikan akan bertambah parah jika konsentrasi miasma di sekitarnya terlalu tinggi.

Saat Konoe datang ke kota ini, cukup banyak penduduk yang masih hidup, namun itu karena konsentrasi miasma ditekan di bawah tingkat tertentu.

Jika konsentrasinya terus meningkat tanpa batas, maka mungkin tidak akan ada satu pun orang yang selamat. Sialnya, dalam beberapa hari setelah luapan terjadi, semuanya mungkin akan tewas.

Selain itu, seandainya pun Konoe datang tepat setelah luapan terjadi, ia tidak akan bisa melakukan apa-apa.

Jika konsentrasi miasma tidak turun, maka tidak ada gunanya menyembuhkan. Penyakit mematikan akan kambuh sesaat setelah disembuhkan, dan suatu saat nanti Konoe akan kewalahan dan semuanya akan musnah.

Luapan labirin adalah sesuatu yang baru bisa ditangani jika ada Penghalang Penutup dan Adept di kedua sisinya.

"Karena itulah, pada hari itu, Tuan Lord dan yang lainnya menentang perintah demi kami dan pergi menuju pintu labirin untuk menutupnya. Demi menyambung harapan yang sangat tipis, yang hampir mustahil. Mereka sudah tahu sejak awal bahwa memanggil Adept-sama bukanlah hal yang mudah. Meski begitu, jika labirin tidak ditutup terlebih dahulu, tidak akan ada harapan yang tersisa."

"……"

"Beliau semua menitipkan pesan terakhir kepada Tuan Putri, lalu hanya mereka bertiga pergi menuju luar kota. Setidaknya kami para ksatria ingin ikut mendampingi, tapi………… 'Tolong lindungi kota ini', kata mereka sambil tersenyum. Jangan pernah mengejar mereka sampai luapan monster berakhir. Karena itulah, kami……"

Konoe teringat saat ia datang membantu kota ini hari itu.

Pria di hadapannya ini tidak mundur selangkah pun di hadapan Troll.

Meskipun ia kehilangan lengan dan kakinya, meskipun seluruh tubuhnya sudah membusuk.

Pria itu tetap tidak mau menurunkan pedangnya.

──Ia teringat sosok pria ini yang sedang berjuang mati-matian.

"Dan setelah itu, kami tidak punya cara untuk mengetahui nasib Tuan Lord dan yang lainnya. Namun hari ini, saat mendengar Core Miasma telah hancur, kami segera menuju pintu masuk labirin."

"……Begitu, ya."

"Ketiga beliau ditemukan tergeletak tumpang tindih di depan pintu masuk. Seolah-olah mereka saling melindungi satu sama lain. Pada jasad dan pakaian mereka terdapat luka yang tak terhitung jumlahnya──melihat kondisinya, mereka sudah meninggal lebih dari tiga puluh hari yang lalu. Pasti setelah memasang Penghalang Penutup, mereka kehabisan tenaga."

……? Tidak, itu.

Seketika Konoe mengernyitkan dahi.

Seharusnya itu hal yang mustahil.

Karena penghalang tidak mungkin bisa dipertahankan setelah penggunanya meninggal.

Penghalang adalah sihir, dan untuk menggunakan sihir dibutuhkan mana.

Juga dibutuhkan keinginan untuk merapalkannya.

Karena itu, tidak mungkin orang mati bisa terus mempertahankan sebuah penghalang.

Menggunakan sihir bahkan setelah meninggal, itu artinya itu bukan lagi sihir biasa melainkan──.

"──Jangan-jangan…… Unique Magic……?"

Kekuatan untuk menginvasi dunia dengan ego diri sendiri. J

ika itu Unique Magic, maka memang benar kekuatannya bisa dipertahankan bahkan setelah kematian.

Namun, untuk merapalkan Unique Magic dibutuhkan tekad yang cukup besar untuk membelokkan dunia.

Dibutuhkan hasrat. Dibutuhkan cinta.

Tekad yang cukup kuat untuk menertawakan penderitaan macam apa pun yang menyerang.

Hasrat yang cukup besar sampai-sampai rela membuang segalanya demi hal itu.

Cinta yang cukup besar hingga mampu mengabdikan diri sepenuhnya tanpa memedulikan keselamatan diri sendiri.

──Konoe menatap peti mati itu dengan tatapan kosong.

Apakah mereka telah menyelamatkan kota ini dengan cinta sebesar itu?

"……"

Konoe mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Di sana penduduk kota ini berkumpul.

Jumlahnya begitu banyak, seolah ketiga ribu orang di sini semuanya telah berkumpul.

Ada yang menangis saat melihat peti mati sang Lord. Ada yang menampakkan tekad yang kuat di wajahnya.

Ada yang mengatupkan gigi rapat-rapat, mengepalkan tangan, dan tidak tertunduk.

Lalu, ia mengerti. Kekuatan yang selalu terpancar dari mata para penduduk kota ini.

Alasan mengapa semua orang berjuang mati-matian untuk hidup.

Alasan mengapa mereka tertawa, mungkinkah itu.

"……"

Ah, begitu ya, pikirnya. Ternyata begitu.

Rasanya semuanya mulai masuk akal.

Konoe merasa peti mati yang dijejerkan dan sosok mereka itu terlihat sangat menyilaukan.

Meskipun Konoe tidak bisa memahami mereka.

Meskipun Konoe tidak memiliki perasaan seperti itu.

Meskipun Konoe tidak memiliki cinta, hasrat, maupun jati diri yang bisa mengabdi sejauh itu.

──Tapi, meskipun begitu.

──Bahkan bagi Konoe yang seperti ini pun. Bahkan bagi Konoe yang tidak tahu apa-apa pun, ada sesuatu yang benar-benar tersampaikan kepadanya.

"……ugh."

Karena hal itu tersampaikan kepadanya, maka ia akhirnya bisa melangkah maju satu langkah.

Konoe mencari bayangan warna emas. Ia mencari Telnerica di antara orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya.

Kepada gadis itu, Konoe……

"……Sekali lagi."

Konoe berpikir bahwa ia harus bertemu dengan Telnerica.

Menyampingkan firasat buruk, kata-kata penolakan, kehidupan yang dijalaninya selama ini, dan hal-hal semacam itu, ia merasa bahwa ia hanya perlu menemuinya. Ia ingin melihat wajahnya sekali lagi.

Ia tidak ingin semuanya berakhir begitu saja tanpa sempat bertemu.

Ia tidak mengerti sedikit pun tentang emosi yang berkecamuk di dalam dadanya, namun itulah segalanya bagi Konoe saat ini.

"……"

Namun sejauh mata memandang, dia tidak ada di mana pun.

Di sini, Konoe merasa yakin. Telnerica memang benar-benar sedang tidak ada di kota ini sekarang.

Jika itu adalah gadis itu, mustahil ia tidak muncul padahal orang tua dan kakaknya telah kembali, seberapa pun buruk kondisi kesehatannya.

Artinya, Telnerica memang benar-benar pergi dengan gerbang transmisi tadi pagi.

"──Komandan Ksatria."

"? Ya."

"Di mana Telnerica berada?"

"Eh…… Tuan Putri? Kalau dipikir-pikir beliau ada di mana ya."

Dari jawaban itu, Konoe mengerti bahwa Komandan Ksatria tidak mengetahuinya. Kalau begitu, yang sekiranya tahu adalah.

"……Pelayan itu."

Konoe mencari pelayan tadi pagi. Dan ia segera menemukannya.

Beberapa ratus meter di depan. Pelayan itu berdiri di dekat barisan paling belakang dari orang-orang yang berkumpul.

Konoe melompat, berpindah ke arah pelayan tersebut seolah sedang meniti atap rumah.

"──Oya, Adept-sama. Ada apa gerangan?"

"……"

Pelayan itu tidak terkejut. Sebaliknya ia menatap tajam ke arah Konoe dan bertanya sambil tersenyum.

Konoe sempat ragu sejenak melihat hal itu.

"……Aku,"

"Ya."

"……ingin bertemu Telnerica."

Setelah terdiam sejenak, ia menyampaikan satu kalimat tersebut.

Hanya kalimat sesingkat itu. Namun itu adalah kalimat yang selama ini tidak pernah bisa diucapkan oleh Konoe.

Menginginkan orang lain. Mengucapkannya lewat kata-kata.

Hal sesederhana itu pun, Konoe belum pernah melakukannya.

Tidak bisa melakukannya. Itulah Konoe yang selama ini.

Tapi, Konoe yang sekarang berbeda.

Pelayan itu membelalakkan matanya mendengar perkataan Konoe. Lalu ia tersenyum senang──namun.

"Adept-sama, mohon maaf, tapi tidak ada yang bisa saya beri tahukan kepada Anda."

Jawaban pelayan itu adalah penolakan.

……Konoe merasa terguncang, matanya menatap liar tak menentu.

"Ini adalah janji saya dengan beliau, dengan Tuan Putri. Saya tidak akan membocorkannya. Jika Anda bilang tidak bisa memaafkan saya, silakan penggal kepala saya ini. Jika Anda membawa jasad saya ke hadapan Necromancer, Anda mungkin bisa mengorek informasi dari saya."

"……"

"Saya tidak akan bicara, apa pun yang terjadi."

……Saya? Cara bicaranya seolah sedang memberikan penekanan. Seolah-olah menyuruhnya bertanya kepada orang lain.

Namun jika selain pelayan itu, siapakah orang yang dimaksud?

"Adept-sama. Anda sebaiknya kembali ke Ibu Kota──ke Akademi Sihir Kehidupan."

"……Apa?"

"Tempat itu adalah tempat di mana seluruh informasi di negara ini terkumpul. Jika ada hal yang ingin Anda ketahui, bertanya di sanalah yang paling tepat."

Jika aku kembali ke Akademi?

"Pasti, baik dari segi arah maupun jaraknya."

"……Baiklah, terima kasih."

Konoe berbalik membelakangi pelayan itu dan mulai berlari.

Ia memusatkan kesadarannya ke arah kastil, mendeteksi bahwa persiapan aktivasi gerbang transmisi telah selesai.

"Tolonglah, sebelum matahari terbenam. Saya menitipkan Tuan Putri kepada Anda."

Sambil menerima kata-kata tersebut dari belakang, Konoe berpindah menuju kastil, menuju gerbang transmisi──.

──Konoe kembali ke Ibu Kota, kembali ke Akademi.

Lalu sambil mengabaikan penjaga, ia keluar dari ruangan gerbang transmisi.

…………

"……Eh?"

Di depan ruangan. Di lorong itu.

Ada sang Dewa di sana.


3

──Sang naga terus memperhatikan selama ini.

Tiga puluh hari, sejak hari itu. Ia terus memperhatikan kota dan sang pria.

Saat manusia yang dijadikan umpan sedang sekarat karena miasma, maupun saat kekuatan dewa mulai kembali ke kota ini.

Saat penghalang kembali ke bentuk aslinya, maupun saat Core Miasma dihancurkan.

Sang naga hanya terus bersujud di tanah, terus memperhatikannya.

……

Karena itulah, ia menyadarinya pada momen tersebut.

Momen di mana sang pria menghilang dari kota, sang naga memahaminya dengan pasti.

GLU

Ia mengerang pelan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Lalu ia mengepakkan sayapnya.

Mengibaskan serangga maupun hewan kecil yang merayap di atas sisiknya.

GAGYA

Dengan mana, ia menghempaskan segalanya. Sebuah pelepasan mana yang kecil.

Hal itu tidak menimbulkan suara yang besar, namun menghanguskan segala yang ada di sekeliling sang naga.

Sang naga terbang dengan tenang. Meninggalkan daratan, kembali ke tempat tinggal aslinya──sambil melirik sekilas ke arah kota.

──

──Ia membelakangi kota.

Lalu, ia terbang menjauh ke arah Ibu Kota.

◆◇◆

"……Tuhan?"

……

Di balik pintu yang ia lewati, sosok Tuhan telah menunggu. Sesosok Tuhan yang membentangkan sayap putih bersihnya lebar-lebar.

Tuhan berdiri di tengah lorong, menatap lurus ke arah Konoe.

Ekspresi itu berbeda dari senyum yang Konoe lihat selama dua puluh lima tahun ini—wajah yang seolah hendak menangis.

Langkah Konoe terhenti melihat raut yang baru pertama kali dilihatnya itu.

"……"

……

Keheningan menyelimuti mereka. Sang Tuhan hanya menatap Konoe lekat-lekat.

Tak ada hawa keberadaan yang terpancar, hanya tatapan penuh kesedihan.

Konoe merasa seolah isi perutnya sedang dilihat tembus oleh sosok itu.

……

……Namun tiba-tiba, raut wajah Tuhan berubah drastis menjadi senyuman.

Ia mengalihkan pandangan dari Konoe yang tertegun, lalu menunjuk ke sebuah ruangan.

Di balik jendela, terdapat sebuah ruangan di lantai paling atas akademi. Itu adalah ruangan milik instruktur tersebut.

Pergilah ke sana.

Suasananya menyiratkan hal tersebut.

Konoe hendak menanyakan maksud sang Tuhan, namun ia teringat kata-kata pelayan tadi. Pelayan itu bilang, "sebelum matahari terbenam". Pasti tidak banyak waktu yang tersisa.

Karena itu, setelah membungkukkan kepala sekali kepada Tuhan, Konoe berlari menuju ruangan instruktur yang ditunjukkan──.

"──Ah, Konoe, kau rupanya. Selamat datang kembali."

"Instruktur."

"Boleh kuucapkan selamat atas kerja kerasmu? Aku senang sekali pekerjaan pertamamu selesai tanpa hambatan. Kalau kau mau, aku ingin mentraktirmu minum satu atau dua gelas, tapi..."

──Namun, sang instruktur kembali menatap Konoe dengan serius.

"Sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk itu. Jadi, ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan."

Sambil berbicara, Konoe menatap matahari dari jendela.

Posisinya tepat berada di atas kepala. Masih ada beberapa jam sebelum matahari terbenam.

"……Telnerica. Jika Anda tahu sesuatu tentang putri Lord Silmenia, tolong beri tahu aku."

Konoe juga berkata bahwa jika sang instruktur tahu di mana keberadaannya, ia ingin tahu.

Tentu saja Konoe tidak tahu apakah instruktur ini mengetahuinya atau tidak, namun jika informasi memang berkumpul di sini seperti kata pelayan itu, ia berharap sang instruktur bisa memperkenalkannya kepada orang yang tahu.

"…………Begitu ya."

"……?"

Melihat semangat Konoe, sang instruktur justru merespons dengan desahan pelan dan gumaman seperti itu.

Lalu, ia berujar, "Ah benar juga, kau kan orang dari dunia lain ya."

"Baiklah, kau ingin tahu soal Nona Telnerica. Kalau begitu, sepertinya aku harus menjelaskan premisnya padamu terlebih dahulu."

"……Premis?"

"Ya, dengarkan baik-baik──Pertama, di negara ini, sosok yang disebut sebagai putri Lord Silmenia itu tidak ada di mana pun."

……Eh?

Apa maksudnya itu?

Konoe menjadi bingung. Apa maksudnya Telnerica tidak eksis? Lantas, siapa gadis yang bicara dengannya sampai kemarin itu?

"Ah, jangan salah paham. Bukan berarti gadis yang terikat kontrak denganmu itu orang lain. Gadis bernama Telnerica itu memang ada. Tapi, putri dari Lord Silmenia, atau lebih tepatnya Keluarga Silmenia itu sendiri, sudah tidak ada."

"……?"

"Jadi kau belum paham soal itu ya. Sejak laporan masuk tadi pagi, aku merasa perilakumu memang tidak seperti biasanya. Sosok mulia itu saja sampai terperangah begitu mendengarnya, sampai berjaga di depan gerbang transmisi dengan wajah mau menangis. Kasihan penjaga gerbangnya pasti merasa serba salah."

Sang instruktur tertawa kecut sambil berkata, "Kau benar-benar disukai oleh sosok mulia itu ya. ……Yah, sebenarnya sebagai seorang Adept, aku tidak seharusnya ikut campur dalam setiap pilihanmu, tapi..."

Namun Konoe masih belum mengerti. Apa maksudnya Keluarga Silmenia tidak ada?

"……Bisa tolong jelaskan padaku?"

"Ya, boleh saja. Singkatnya──Keluarga Silmenia sudah dibubarkan secara paksa. Tepat empat puluh lima hari yang lalu. Pada hari saat luapan besar itu dimulai."

……Pembubaran paksa?

"Kenapa? Sederhana saja. Lord kota itu mengabaikan perintah bangsawan tinggi. Dia memprioritaskan wilayahnya sendiri. Itu adalah pelanggaran perintah."

"……Itu..."

"Tentu saja aku tahu alasannya. Melihat kota tercinta hancur itu menyedihkan. Nyawa lima ribu orang itu berharga. Apalagi mereka adalah orang-orang yang dikenal. Menurutku wajar saja jika dia ingin melindungi mereka. Tapi──meski begitu, apakah pelanggaran perintah bisa dimaafkan?"

"……"

"──Seandainya, jika tindakan itu mengakibatkan sebuah kota berpenduduk seratus ribu orang musnah total, bagaimana?"

"──!"

Benar juga. Itu salah.

Konoe pun tidak mungkin bisa membenarkannya.

"Yah, untungnya kali ini ada personel cadangan sehingga tidak ada kerusakan berarti," tambah sang instruktur.

Sang instruktur menjelaskan bahwa rencana penanganan luapan besar memang disusun dengan mempertimbangkan kemungkinan adanya beberapa bangsawan yang bertindak seperti itu.

Kabar yang ia dengar, sepertinya Silmenia membangkang setelah mengumpulkan berbagai informasi.

Karena mereka keluarga lama yang paham seluk-beluk wilayah sekitar, mereka sepertinya tahu kalau pihak bangsawan tinggi punya cukup personel cadangan.

──Tapi, meski tidak ada kerusakan berarti.

"Tindakan itu bukan berarti boleh dimaafkan──Konoe, dengarkan. Aku tidak tahu bagaimana bangsawan di duniamu, tapi bangsawan di dunia ini terikat kontrak dengan Tuhan dan mendapatkan perlindungan yang kuat. Sesuai kontrak, bangsawan harus melindungi rakyat, meningkatkan populasi, memperkuat negara, dan pada akhirnya harus menumbangkan Dewa Jahat."

"……"

"Karena itulah, saat perintah turun dan perintah itu rasional demi menyelamatkan lebih banyak orang, bangsawan tidak punya hak tolak. Jika melanggar perintah, tentu hukuman akan turun. Atas dasar perasaan pribadi, Silmenia telah membahayakan rakyat dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang mereka selamatkan. Karena itulah mereka dibubarkan."

Sang instruktur berkata bahwa itulah makna menjadi bangsawan.

Mendapatkan kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan besar, namun sebagai gantinya memikul tanggung jawab dan kewajiban yang berat pula.

──Jika mengabaikan kewajiban, maka harus siap kehilangan segalanya.

"……Yah, pasti semua orang akan berpikir demikian. Mengapa aku harus menelantarkan orang yang berharga bagiku demi melindungi orang yang tak kukenal? ……Tapi, itulah bangsawan."

"……"

"Kekuatan besar disertai kewajiban yang berat. Satu-satunya pengecualian adalah Adept. Hanya Adept yang dibebaskan dari kewajiban bangsawan. Banyak orang mengetuk pintu akademi demi mencari hal itu. Demi melindungi apa yang ingin mereka lindungi."

"……Begitu, ya."

Di sana, Konoe teringat. Saat ia masih di akademi, banyak kandidat di sekitarnya yang berasal dari latar belakang bangsawan. Konoe sempat heran. Kenapa orang-orang yang lahir dalam kemapanan mau menantang ujian sekejam ini? ……Mungkin, itu karena alasan tadi.

"Kau paham sekarang?" tanya sang instruktur kepada Konoe.

Konoe terdiam sejenak, lalu mengangguk sekali.

"Jika kau sudah paham soal kewajiban bangsawan, sekarang kita bicara soal apa yang terjadi pada bangsawan yang melanggar perintah."

"……Baik."

"Hukuman pelanggaran kontrak adalah──karena kali ini Lord, Nyonya, dan pewarisnya semua sudah meninggal, ada dua hal yang berkaitan dengan Nona Telnerica yang kini hanya anggota keluarga tanpa status. Pertama, pembubaran keluarga dan penyitaan seluruh harta benda."

Penyitaan itu tidak hanya mencakup uang, tapi juga barang-barang, kata sang instruktur.

Mulai dari tanah, surat berharga, perhiasan, sampai furnitur, semuanya disita.

"Tentu saja itu termasuk pakaian dan sebagainya…… Ini mungkin hal yang paling mudah terlihat dari luar. Apa kau ingat sesuatu?"

"……!"

──Di situ ia teringat. Seragam pelayan. Telnerica terus-menerus memakai seragam pelayan.

Konoe sempat bertanya-tanya mengapa putri seorang Lord memakai pakaian seperti itu.

"Lalu yang kedua, penyitaan perlindungan sebagai bangsawan. Segala hasil latihan dan tempaan sampai saat itu menjadi sia-sia. Yang tersisa hanyalah perlindungan yang bersemayam dalam darah. ……Jika Silmenia memiliki darah Elf kuno, mungkin perlindungan Dewa Hutan masih tersisa."

──Jika mereka keluarga Penghalang Penutup, bukankah seharusnya itu perlindungan Dewa Batas?

Konoe sempat merasa aneh soal itu. Telnerica juga pernah memintanya untuk tidak menanyakan alasannya.

"……"

Segala pertanyaan kini mulai saling terhubung.

Hal-hal ganjil yang dirasakan Konoe di kota itu ternyata berakar pada hal yang sama.

"Nah, itu tadi premisnya. Sekarang, pertanyaanmu tadi──di mana Nona Telnerica berada?"

"……Ya."

Sang instruktur berhenti sejenak setelah mengatakan itu.

Ia menatap lurus ke arah Konoe dan menarik napas.

"Tadi kubilang bangsawan yang dibubarkan akan disita seluruh hartanya. Kalau begitu──"

"──Seribu koin emas yang akan dibayarkan padamu. Menurutmu, dari mana uang itu berasal?"


ï¼”

──Sebenarnya, uang sama sekali tidak ada.

Karena itulah, Telnerica merasa hal ini sudah sewajarnya terjadi.

"……"

Di sebuah kota tujuan transmisinya, tepatnya di sebuah ruangan dalam bangunan yang paling megah.

Telnerica duduk di atas sofa besar di sudut ruangan yang telah ditunjukkan kepadanya.

Di atas meja dekat situ terdapat keranjang berisi buah-buahan dan botol keramik berisi jus manis. Lantainya dilapisi oleh karpet berbulu tebal.

"──Perlakuan yang sangat sopan."

Telnerica bergumam lirih.

Apakah ini karena mereka memperlakukannya sebagai mantan bangsawan, ataukah mereka merasa kasihan dengan apa yang akan terjadi setelah ini sehingga setidaknya memberinya kenyamanan untuk sekarang?

……Pasti yang kedua, pikir Telnerica sambil memejamkan mata.

"……ugh."

Telnerica menekan tangannya yang gemetar kecil.

Ada penyesalan, dan ada juga rasa takut.

Setiap kali melihat alat sihir merah cerah untuk pertolongan medis di sudut ruangan, Telnerica merasa ingin melarikan diri.

Ia ingin menangis kepada siapa saja.

──Namun, alasan Telnerica tetap berada di sini adalah.

──Karena ia jauh, jauh lebih benci jika tidak bisa memberikan apa-apa kepada Konoe.

Ia sudah tahu. Ia sudah tahu sejak awal.

Jika ia menjelaskan situasinya, sosok itu—Konoe—pasti akan memaafkannya.

Dia pasti akan bilang tidak apa-apa. Dia pasti akan bilang jangan pusingkan soal uang.

Telnerica tahu itu. Dia sangat tahu.

Telnerica selalu memperhatikan Konoe. Konoe adalah orang yang seperti itu.

"……Tapi, aku yang tidak mau."

Padahal dia sudah berjuang sekeras itu.

Padahal dia sudah menolong sebanyak itu.

Selama tujuh hari tujuh malam, dia menyelamatkan tiga ribu orang.

Bahkan saat tidur pun, dia langsung melompat bangun jika monster mendekat.

Dia lebih peduli daripada siapa pun agar monster tidak masuk ke kota.

Dia melindungi rakyat, kota, dan segala hal yang berharga bagi Telnerica dan keluarganya.

Normalnya, orang tidak akan bertindak sejauh itu.

Karena Telnerica mantan bangsawan, ia tahu seperti apa Adept pada umumnya.

Karena sifat mereka yang diakui kebebasannya dan penuh ego, meskipun terikat kontrak, seberapa keras mereka bekerja tergantung pada Adept itu sendiri.

Mereka mungkin akan bertarung melawan monster yang merupakan entitas jahat.

Mereka mungkin akan menyembuhkan selama matahari masih bersinar.

Namun, mereka tidak akan melakukan lebih dari itu.

Banyak Adept yang hanya melakukan pekerjaan dasar, lalu sisanya tergantung bayaran tambahan.

……Karena itulah, fakta bahwa Konoe menyelamatkan seluruh penduduk yang tersisa hanyalah murni karena kebaikan hati Konoe.

Saat ia berterima kasih sekali waktu, Konoe merendah dengan berkata, "Aku bukan baik hati, tapi aku hanya ingin bersikap serius terhadap pekerjaanku."

Namun, yang memutuskan standar "serius" itu pun adalah Konoe sendiri.

Mengulurkan tangan kepada orang lain sebagai hal yang sewajarnya—Konoe memutuskan itulah makna serius baginya.

Jika ini tidak disebut kebaikan, lantas apa lagi?

Tak diragukan lagi, kota Silmenia telah diselamatkan oleh kebaikan hati Konoe.

"Karena itulah, aku harus membalas budi itu."

Telnerica tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia menangis dan meminta Konoe menganggap hutang itu tidak ada.

Setidaknya ia harus menepati janji awal…… yaitu memenuhi kontrak tersebut, atau ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri──.

──Dan karena itulah, Telnerica tidak bisa menceritakan kebenaran kepada Konoe.

Sebab, jika ia memberi tahu, Konoe pasti tidak akan mau menerima uangnya.

Dia orang yang seperti itu. Karena Telnerica tahu hal itu, ia tidak mungkin bisa melakukan perbuatan yang tak tahu malu dan tak tahu balas budi seperti itu.

Itu adalah tindakan yang merendahkan tiga puluh hari perjuangan Konoe.

Tindakan yang merendahkan Konoe yang telah mengobati dan menyelamatkan Telnerica pada hari pertama.

"──"

……Benar, hari itu.

Telnerica tidak mungkin bisa merendahkan fakta bahwa Konoe telah menemukannya dan mengangkat tubuhnya.

Karena, karena.

"──Sangat hangat sekali waktu itu."

Telnerica tidak akan melupakan momen itu. Pasti, sampai ajalnya tiba, ia tidak akan lupa.

Saat itu, Telnerica sedang sekarat.

Itu adalah tahap akhir dari penyakit mematikan.

Seluruh tubuhnya sakit dan menderita.

Matanya tidak bisa melihat, bernapas pun sulit.

Sudah tidak ada pilihan selain mati. Seharusnya tidak ada masa depan bagi Telnerica selain kematian.

……Ah, kau akan kusembuhkan. Tidak perlu khawatir.

Tapi, meskipun begitu. Ada lengan yang mengangkat tubuh Telnerica.

Lengan itu memeluk Telnerica dengan lembut dan merapalkan sihir penyembuh.

Suaranya membisikkan agar ia tidak perlu khawatir.

Saat matanya bisa kembali melihat, yang terpantul adalah tatapan pria itu yang mengkhawatirkan Telnerica.

Dan semuanya terasa sangat hangat, membuatnya tenang……

──Karena itulah, itu adalah cinta pertamanya.

Telnerica jatuh cinta pada kehangatan dan kebaikan itu.

"……Fufu."

Mengingat saat itu, senyum tersungging di wajah Telnerica meski dalam situasi seperti ini.

Kenangan yang bahagia. Mulai sekarang, seberapa pun rasa sakit yang menyerang, seberapa pun ia menderita atau memuntahkan darah, ia bisa membusungkan dada dan berkata bahwa ia pernah bahagia. Masa-masa itu nyata ada.

……Yah, itu juga kenangan yang sedikit memalukan.

"……Mungkin itu bukan kata-kata yang pantas diucapkan di sana."

Itu terjadi saat ia bernegosiasi dengan Konoe. Saat ia menjelaskan situasi Silmenia, pencemaran miasma, dan kondisi rakyat, serta memohon bantuannya.

Adept-sama, kumohon selamatkan kota kami! Bahkan saat ini pun, rakyat terus menderita!

Tolong, tolong, jika Anda bersedia mengabulkannya, tubuh ini akan menjadi seperti Holy Flower yang mekar di sisi Anda…… ngh…… ah, gobo (terbatuk darah)

"──Benar-benar memalukan."

Telnerica menempelkan tangan ke pipinya.

Terasa hangat. Pasti wajahnya memerah sekarang.

Sebab, itu adalah kata-kata yang spesial.

Kata-kata yang ingin diucapkan sekali seumur hidup oleh wanita Elf.

Berdasarkan bunga batu yang mekar di kaki patung dewa di kuil Elf kuno, itu adalah kata-kata sumpah setia.

Bukan sesuatu yang pantas diucapkan dengan tubuh berlumuran darah. Bukan sesuatu yang pantas dijadikan syarat pertukaran.

Ditambah lagi, ia tidak bisa mengucapkannya sampai akhir karena terhenti akibat batuk darah.

Jika ibunya masih hidup, beliau pasti akan terperangah dan menengadah ke langit.

Jika ayahnya, beliau mungkin akan pura-pura tidak dengar, dan kakaknya mungkin akan tertawa terpingkal-pingkal.

"Tapi, aku jatuh cinta sampai-sampai ingin mengucapkannya tanpa sadar."

Ia benar-benar jatuh cinta.

Hanya dengan berada di sisinya saja ia sudah merasa bahagia. Tak butuh kata-kata. Cukup dia ada di sana.

Dengan perasaan bahagia itu, ia terus menatap Konoe.

"──"

──Karena itulah, ia jadi bisa sedikit memahami Konoe.

Meskipun lebih kuat dari siapa pun, meskipun sangat baik hati, dia adalah orang dengan luka dalam di hatinya.

Orang yang meragukan orang lain dan memilih bungkam.

Orang yang tidak bisa memercayai apa pun dan membenci dirinya sendiri lebih dari apa pun.

Telnerica ingin menjadi kekuatan bagi Konoe yang seperti itu.

Mendampinginya, mengajaknya bicara, dan menyalurkan kehangatan.

Masih banyak hal yang ingin ia lakukan untuknya. Banyak hal yang ingin ia bicarakan.

Tapi, karena Telnerica memiliki tugas yang diamanatkan keluarganya.

Karena itu adalah keinginan terakhir dari keluarga tercintanya.

Karena itu, ia tidak boleh membuang tugas tersebut.

Pada akhirnya, semuanya terasa setengah-setengah.

Hal itu membuat Telnerica merasa menyesal dan sedih.

……Justru karena itulah, Telnerica bersumpah.

"──Konoe-sama, setidaknya aku pasti akan menepati janji kontrak awal kita."

◆◇◆

"Kalau begitu──seribu koin emas yang akan dibayarkan padamu. Menurutmu, dari mana uang itu berasal?"

"……!"

Di dalam ruang instruktur di Akademi Ibu Kota.

Di sana, Konoe terperangah mendengar perkataan sang instruktur.

Kontrak yang ia jalin dengan Telnerica. Seribu koin emas.

Jika cerita yang baru saja ia dengar adalah kenyataan, itu adalah jumlah yang mustahil untuk dibayarkan.

Lantas, bagaimana caranya──.

"Nah, kalau begitu, pertama-tama aku akan memberikan ini padamu."

"──Eh?"

"Tujuannya sudah diatur. Hati-hati jangan sampai rusak, ya?"

Instruktur memberikan sebuah alat sihir kepada Konoe yang masih termangu dengan mulut terbuka.

Itu adalah alat sihir penunjuk jalan yang pernah ia gunakan saat latihan. Sebuah alat yang jika sudah diatur, akan terus menunjukkan arah hingga sampai ke tujuan.

"Sepertinya akan sulit jika mengandalkan gerbang transmisi. Kemungkinan besar prosedurnya akan dilakukan tepat setelah matahari terbenam. Karena konon waktu senja adalah waktu yang terbaik."

"……Anu."

"Kalau begitu, bagi kita para Adept, akan lebih cepat jika berlari. Tenang saja, jaraknya masih sanggup ditempuh tepat waktu."

Konoe masih belum bisa memahami situasi ini sepenuhnya.

Bagaimana nasib pembicaraan soal seribu koin emas itu sebenarnya?

"──Baiklah, karena persiapannya sudah selesai, ini pembicaraan yang penting. Dengarkan baik-baik?"

Instruktur menepuk-nepuk bahu Konoe.

Lalu, wajahnya berubah menjadi sangat serius.

"Pihak akademi sudah menerima pemberitahuan. Pemberitahuan tentang pengiriman dana seribu koin emas. Pesan itu datang pagi ini dari sebuah bengkel alkimia di suatu kota."

"Bengkel alkimia?"

"Konoe, apa kau tahu tentang praktik penjualan tubuh?"

……Penjualan tubuh?

"……Tidak."

"Singkatnya, itu adalah tindakan menjual bagian tubuh. Tubuh manusia terkadang bisa menjadi katalis bagi alkimia atau sihir. Misalnya, rambut adalah contoh yang paling umum."

"……"

"Rambut, darah, dan terkadang, jaringan tubuh itu sendiri. Jika dianggap memiliki kegunaan yang sangat tinggi, hal itu diizinkan. ……Ah, tenang saja. Tidak akan ada yang mati atau cacat permanen. Begini, kalau ada sihir penyembuh tingkat tinggi, satu atau dua lengan dan kaki bisa ditumbuhkan kembali, kan?"

…………Jangan-jangan.

Berbanding terbalik dengan nada bicara instruktur yang santai, firasat buruk merayapi tulang belakang Konoe. Ia mulai bisa menebak kelanjutan dari kata-kata instrukturnya.

Namun, sang instruktur melanjutkan bahwa orang-orang yang putus asa terkadang melakukannya.

Sebab itu adalah cara bagi siapa pun untuk mencari uang hanya dengan modal tubuh sendiri, katanya. Pada dasarnya tidak ada efek samping yang tersisa, dan bayarannya cukup besar, tambahnya.

──Namun.

"Tapi, ada satu kerugiannya."

"……Apa itu?"

"Rasanya sakit. Sakitnya sampai seperti mau mati. Menyiksa. Mengingat adanya penolakan dari mana yang berbeda dan demi penggunaan setelahnya, tidak boleh ada sihir tidur maupun penghilang rasa sakit yang digunakan. Obat bius pun tidak boleh. Karena itu, selama prosedur berlangsung, pasien harus terus menahan rasa sakit itu. ……Karena rasa sakit yang teramat sangat itu, terkadang sebagian otaknya bisa terganggu. Kepribadiannya pun bisa berubah."

"──"

"Dan…… jika jumlah utangnya sangat tinggi, prosedur itu diulang berkali-kali. Seribu koin emas tidak bisa didapatkan dengan mudah. Tidak cukup hanya sekali. Tubuh dibelah hidup-hidup, hampir mati, lalu dihidupkan kembali, begitu seterusnya berulang-ulang. Berhari-hari. Terus menderita di ambang hidup dan mati."

Begitulah, misalnya…… jika sekali prosedur dihargai tiga puluh koin emas, kata sang instruktur.

Maka dalam kasus itu, orang tersebut harus terus menderita selama lebih dari tiga puluh hari, lanjutnya.

"──Nah, dari penjelasan sejauh ini, ada pertanyaan?"

"……"

"Jika tidak ada, tinggal satu hal lagi yang ingin kusampaikan padamu."

Instruktur menatap tajam ke mata Konoe──.

"──Jantung Elf berdarah murni, adalah katalis bagi Penghalang Penutup."


5

──Pada saat itu, sang naga menyadari bahwa waktunya telah tiba.

Oleh karena itu, ia mengarahkan wajahnya ke arah tersebut dan melesat dengan kecepatan penuh.

◆◇◆

"──Kenapa!!"

──Ia melesat. Terus melesat, dan melesat.

Konoe menghambur keluar dari akademi, menginjak udara dan mulai berlari.

Ia memutar mana miliknya dengan kekuatan penuh.

Mana itu meningkat, melampaui ambang batas, dan kilat putih memercik di angkasa.

Dalam sekejap mata kecepatannya bertambah, menembus dinding udara.

Demi mengurangi hambatan udara, ia membubung ke ketinggian maksimal dalam satu tarikan napas dan berakselerasi ke arah yang ditunjukkan alat sihirnya.

"Kenapa!?"

Konoe berteriak. Ia tidak bisa mengerti.

Kata-kata instruktur tadi. Apa yang akan terjadi pada Telnerica setelah ini.

Jantung? Penghalang Penutup?

Tanpa bius, dan dilakukan saat masih hidup? Mana mungkin──.

"──Karena rasa sakit yang teramat sangat itu, terkadang sebagian otaknya bisa terganggu. Kepribadiannya pun bisa berubah."

"Kenapa kamu melakukan hal seperti itu!?"

Ia berteriak di tengah rasa bimbang.

Seharusnya itu tidak perlu.

Tidak perlu membuat gadis itu melakukan hal semacam itu.

Senyum Telnerica terlintas di benak Konoe.

Gadis Elf itu.

Gadis yang terus melangkah dengan tubuh yang digerogoti penyakit mematikan demi melindungi kotanya.

Gadis yang menanggung penderitaan yang sanggup membuat orang dewasa gila, namun tetap tidak menyerah.

Ia kehilangan keluarganya dan ditinggalkan sebatang kara.

Ia dititipi sebuah kota, kehilangan harta benda dan perlindungan, namun tetap terus tersenyum.

Ia bertarung demi kota itu.

Ia terus berdiri di barisan depan orang-orang, bermandikan lumpur demi mencari Bunga Suci.

Mengapa Telnerica yang seperti itu harus menderita lebih dari ini.

"Kenapa kamu tidak mengatakannya!?"

Padahal kalau dia bilang tidak punya uang, itu sudah cukup.

Bukan berarti aku akan luntung-lantung di jalanan hanya karena tidak dibayar.

Sekarang setelah menjadi Adept, aku bisa menghasilkan uang sebanyak apa pun.

Tidak mungkin uang bisa menggantikan nilai seorang Telnerica.

"Kenapa!?"

◆◇◆

Konoe tidak mengerti. Ia tidak mengerti apa-apa.

Baik perasaan Telnerica, maupun nilai dari tindakan yang telah ia lakukan sendiri.

Karena Konoe meragukan segalanya dan membenci dirinya sendiri yang tidak bisa memercayai apa pun, ia tidak paham bagaimana orang-orang di sekitarnya memandang dirinya.

Seberapa banyak orang yang telah ia selamatkan, dan seberapa besar rasa terima kasih yang ditujukan kepadanya.

──Benar, baru beberapa jam yang lalu.

Konoe hanya melihat binar di mata penduduk kota sebagai dampak dari perbuatan keluarga Lord.

Padahal bukan begitu. Padahal penduduk kota selalu menatap punggung sang pahlawan, Konoe.

Padahal banyak orang yang berjuang keras agar tidak mempermalukan diri di depan sang pahlawan.

Mereka hanya mengatupkan gigi rapat-rapat, merasa bahwa terus berjuang tanpa menundukkan kepala adalah satu-satunya cara membalas budi kepada pahlawan tanpa pamrih yang tersenyum melihat perjuangan mereka.

Konoe selalu begitu. Ia merendahkan segala tindakannya sendiri. Ia tidak melihat nilai lebih dari sekadar pekerjaan.

Penyangkalan diri yang tidak wajar itulah yang membuat Telnerica mengambil pilihan ini.

Namun, ia pun tidak menyadari hal itu.

──Konoe tidak mengerti satu hal pun.

Tentang orang-orang di kota, maupun tentang Telnerica.

Setidaknya, andai saja dulu ia menuntut lebih banyak.

Di kota itu, Konoe tidak meminta apa pun.

Tidak makanan mewah, tidak wanita cantik, tidak barang berharga, ia tidak meminta satu pun.

Tanpa meminta, ia terus memberi.

Setiap kali Konoe bekerja dengan serius, tumpukan utang budi di dalam diri Telnerica semakin menggunung.

Karena itulah Telnerica──.

◆◇◆

"────!!"

Namun, Konoe tidak mengerti.

Tanpa mengerti, ia terus berlari dengan kekuatan penuh.

Sambil meneriakkan kata "kenapa", ia terus berlari menembus langit.

Demi sampai di sana lebih cepat dari suara, lebih awal dari matahari.

Konoe terus berlari ke arah yang ditunjukkan alat sihirnya──.

──Namun. Itu terjadi setelah ia berlari beberapa saat.

"…………Ha?"

Konoe bergumam tak percaya.

Di dalam jangkauan persepsinya, sesosok penyusup muncul.

Penyusup itu melesat di langit jauh lebih cepat daripada Konoe yang sudah melampaui kecepatan suara.

Hawa keberadaan yang familier.

Sama dengan yang ia rasakan tiga puluh hari yang lalu──.

"Naga Tingkat Rendah elemen angin!? Kenapa sekarang!?"

Naga itu membelah udara dengan kekuatannya, mendekati Konoe dengan kecepatan yang dahsyat.

Hanya dalam hitungan detik sejak terdeteksi, naga itu sudah masuk ke dalam jarak pandang Konoe.

"──Mau apa kamu datang ke sini!?"

Ia tidak mengerti.

Bukankah hari itu sudah terbukti bahwa naga itu tidak bisa menang meski melakukan serangan mendadak?

Bahkan saat bersama Hekatonkheir pun ia gagal.

Seharusnya hasilnya tidak akan berubah meski ia menantang seorang diri sekarang.

Benar, setelah kejadian itu pun, sang naga akhirnya tidak pernah menyerang sampai penghalang diperbaiki.

Karena itu, Konoe mengira naga itu sudah melarikan diri jauh-jauh sejak lama.

Konoe mendecakkan lidah karena pengganggu muncul di saat setiap detik sangat berharga.

"Baiklah, kalau memang kamu sebegitu ingin matinya."

──Akan segera kutembak jatuh.

Konoe mengubah pola pikirnya. Pola pikir seorang Adept yang telah terlatih. Tekad untuk pasti memusnahkan kejahatan.

"Manifest."

Cahaya putih berkumpul di tangan Konoe.

Cahaya itu berubah bentuk dalam sekejap mata, membentuk sebuah tombak salib berwarna putih bersih.

Tombak itu merespons rasa kesal sang pemilik, memercikkan kilat putih ke area sekitarnya.

Wibawa suci yang terpancar seolah sanggup melenyapkan monster tingkat tinggi ke bawah hanya dengan sedikit sentuhan.

Konoe mengayunkan tombaknya, lalu melemparnya ke arah sang naga──.

──Di hadapan pandangan Konoe, mulut naga itu menyeringai aneh.

"……Apa?"

──Tombaknya berbelok.

Tombak yang dilepaskan itu berubah bentuk tepat di depan sang naga. Arah geraknya berubah.

Senjata itu keluar dari lintasan menuju naga, lalu melesat pergi ke angkasa.

"……Jangan-jangan!"

◆◇◆

"Naga Tingkat Rendah elemen angin!? Kenapa sekarang!?──Mau apa kamu datang ke sini!?"

Mendengar ucapan Konoe, sang naga sedikit membelalakkan matanya.

Naga Angin itu telah hidup sangat, sangat lama. Ia telah membunuh dan memangsa banyak manusia. Ia telah berevolusi dan meningkatkan kecerdasannya. Karena itu, naga angin ini memahami bahasa manusia.

"……GU."

Maka, sang naga pun berpikir. Ia berpikir karena ia bisa memahami pertanyaan Konoe, "Mau apa kamu datang ke sini?".

Begitu ya, jadi kamu tidak tahu, batinnya sembari menarik sudut mulutnya ke atas. Ia hampir saja tertawa.

"……GUUU."

──Alasan sang naga datang ke sini.

Alasan ia mendatangi Konoe, sang Utusan Tuhan Putih.

Alasan dari tindakannya selama tiga puluh hari ini. Alasan mengapa hari itu ia melarikan diri dari Konoe, namun tetap bertahan di sekitar kota.

Alasan mengapa ia merebahkan diri di tanah dan terus mengamati kota.

Alasan mengapa ia terus bertahan tanpa bergerak sedikit pun, membiarkan sisiknya dikotori lumpur, dan membiarkan serangga serta hewan kecil melata di sekujur tubuhnya.

──Itu adalah...

"Baiklah, kalau memang kamu sebegitu ingin matinya."

Di sana, di hadapan pandangan sang naga, Konoe menciptakan sebuah tombak. Lalu ia melemparkannya.

Kilat putih yang seolah sanggup memenuhi langit melesat ke arah naga. Jika naga itu adalah naga biasa, ia akan lenyap menjadi abu tanpa bisa melakukan apa pun akibat serangan itu. Namun...

"……Apa?"

──Di depan sang naga, muncul sebuah distorsi.

Distorsi itu membelokkan lintasan tombak dan melontarkannya jauh ke atas langit.

"GLU."

Itulah kekuatan yang telah didapatkan sang naga.

Kekuatan yang lahir dari emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Sebuah otoritas untuk mengubah dunia demi egonya sendiri.

"GLUUUUU."

Nah, pikir sang naga. Tadi kamu bertanya alasannya, kan?

Mau apa aku datang ke sini? Apa alasanku berada di sini?

Itu sudah jelas──.

"GLUUUAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"

──Tentu saja karena aku sangat membencimu!!!!

"GYAAAAAAAGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"

Sang naga meraung. Raungan yang bergema hingga ke dasar bumi.

Sesuai dengan kebencian yang bergejolak di dadanya. Sesuai dengan amarah yang terus ia tahan demi menunggu kesempatan ini.

……Agar sampai kepada pasangannya yang dibunuh oleh Konoe hari itu.

Demi membalaskan dendam orang terkasih yang telah kembali ke dasar tanah.

"GAAAAAAAAAGYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!"

Benci. Benci. Benci. Benci. Benci benci benci benci benci benci benci!

Benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci!!

Benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci benci!!!!

──Aku membencimu, Konoe, yang telah membunuh cintaku!

Mereka adalah pasangan yang telah menghabiskan waktu sangat lama bersama. Mereka hidup bersama sejak masih berupa kadal yang melata di tanah.

Beratus-ratus tahun mereka berdampingan. Ada cinta yang nyata di sana. Mereka selalu tidur bersama seolah saling berbagi kehangatan.

──Tapi itu. Itu, itu, itu!!!!

──Dan kau bilang, 'Mau apa kamu datang ke sini?'. Apa kau lupa? Apakah cintaku selemah itu? Apakah kami musuh yang begitu membosankan sampai tidak tersisa dalam ingatanmu?

──Baiklah. Akan kuterima penghinaan itu.

──Pergilah menuju kematian dengan mata yang terukir oleh otoritas dan amarahku.

Di depan mata naga yang menyipit karena murka, ada Konoe di sana.

Rasa remeh telah hilang dari wajah Konoe. Tepat setelah menangkis tombak tadi, Konoe terus melesat di udara sambil mengambil kuda-kuda, matanya tak lepas dari sang naga.

──Wahai Utusan Tuhan Putih. Wahai musuh bebuyutan cintaku.

──Inilah wujud kebencian dan dendamku.

"GLUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

Inherent Magic──Cintaku Telah Tiada, Maka Jatuhlah Bersamaku Wahai Langit (Dunia Seperti Ini Hancur Saja)

Merespons kebencian sang naga, dunia mulai berderit dan terdistorsi──.


ï¼–

"──"

Gachin, suara pelatuk yang ditarik bergema di dalam benak Konoe.

Pikiran yang tadi dipenuhi rasa panik dan tanya segera beralih. Pola pikirnya sebagai Adept yang terlatih seketika berubah ke mode tempur di hadapan kejahatan yang luar biasa besar.

Pengguna Inherent Magic kelas bencana. Itu bukanlah lawan yang bisa diremehkan, bahkan oleh seorang Adept sekalipun.

Kejahatan yang mungkin hanya muncul satu ekor di seluruh dunia dalam setahun.

Satu tingkat di atas bencana biasa. Sebuah kasus malapetaka yang jika salah langkah sedikit saja, bisa menelan puluhan hingga jutaan nyawa.

"────"

Pikiran yang dingin. Aliran darah yang berakselerasi berkat mana.

Di dalam dimensi waktu yang seolah melambat ratusan kali lipat.

Ia mengamati. Mengamati, lalu menduga. Apa sebenarnya Inherent Magic milik naga ini?

Distorsi muncul di sekitar naga. Tidak, bukan hanya di sekitar naga saja.

Konoe merasakannya. Distorsi mulai muncul di seluruh area udara sekitarnya.

Jangkauan efeknya sangat luas. Konoe sudah terjebak di dalamnya.

Apakah mungkin melarikan diri dari area udara ini?

Analisis: Mustahil.

Musuhnya adalah naga angin. Lawan jauh mengungguli dalam hal kecepatan.

Jika lari pun, pasti akan terkejar.

Menunjukkan punggung berarti memberikan celah.

Kalau begitu, tidak ada pilihan selain menumbangkannya di sini.

Analisis kemampuan: Distorsi. Refraksi cahaya.

Kekuatan apa itu? Tombaknya dibelokkan.

Atau mungkin itu hanya tipuan mata?

Kemungkinan besar adalah tipe spasial (ruang).

Kemungkinan kedua adalah tipe ilusi. Perlu dipastikan.

Ia bertindak berbarengan dengan pikirannya.

Ia menciptakan pisau dari alat sihirnya.

Sambil tetap berkonsentrasi penuh pada persepsinya, ia melemparkannya ke arah distorsi di belakang.

Pisau itu terpental oleh distorsi.

Kecepatannya hilang. Jatuh ke tanah.

Konoe mengenali cara pisau itu terpental. Ini bukan ilusi.

(──Merepotkan juga.)

Tipe spasial, ya. Konoe mengerutkan dahi dengan tenang.

Selama masa pelatihannya yang panjang, Konoe telah sering bertarung melawan pengguna kekuatan tipe spasial.

Kesan jujurnya adalah, kekuatan itu sangat hebat namun boros energi.

Tidak terlalu berguna dalam pertarungan sungguhan karena mana akan segera habis.

──Namun.

"GLUUUAAAAAAAAAA!!"

Naga itu berteriak.

Seolah merespons raungan itu, distorsi di area udara sejauh puluhan kilometer pun bertambah.

Jangkauan efeknya terlalu luas.

Ditambah lagi kekuatan dahsyat yang sanggup membelokkan tombak Konoe.

Normalnya, monster yang sudah hidup ribuan tahun sekalipun, atau pahlawan terhormat mana pun, pasti akan segera kehabisan mana.

Namun, namun.

Itu hanya berlaku jika kita membicarakan sihir biasa.

"GLUUUUUUUUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"

Raungan. Distorsi semakin bertambah. Sang naga meraung seolah-olah energinya tak berdasar.

──Benar. Jika itu adalah Inherent Magic, urusannya jadi lain.

Kekuatan yang tidak digerakkan oleh mana, melainkan oleh emosi dan mengorbankan diri sendiri sebagai bahan bakarnya.

"……"

Konoe melesat di angkasa, bersiaga dengan tombak di tangannya. Posisi bertahan.

Ia tidak bisa menerjang naga yang sedang memperluas distorsinya.

Melakukan itu terhadap pengguna tipe spasial adalah tindakan bunuh diri.

Tipe spasial menciptakan wilayah kekuasaan mereka sendiri.

Jika kaki melangkah ke sana, itu berarti maut yang pasti.

Karena itu, sambil mengamati naga dengan kekuatan penuh, Konoe terus berlari demi menjaga jarak──.

"GYAAAAAAGAAAAAAAAA!!!!"

──Ia datang. Naga itu menciptakan butiran angin di sekelilingnya.

Puluhan butiran. Permukaan butiran itu diselimuti distorsi dan memantulkan cahaya secara acak.

──Lalu, tanpa suara dan tanpa peringatan, butiran itu ditembakkan.

Butiran dengan kecepatan yang jauh melampaui kecepatan suara melesat ke arah Konoe.

"──"

Konoe menginjak udara dengan sekuat tenaga.

Berakselerasi. Keluar dari lintasan tembakan.

Ia meletakkan beberapa pisau di jalur butiran tersebut, lalu menempuh jarak puluhan meter dalam waktu kurang dari seperseratus detik.

Konoe merasakannya. Butiran itu menyentuh pisau yang ia tinggalkan.

Pisau itu terkoyak dengan mudahnya.

Konfirmasi: Seperti dugaan, butiran itu memiliki kekuatan untuk mengoyak apa pun yang disentuhnya beserta ruang di sekitarnya.

……Inilah bagian yang merepotkan dari tipe spasial.

Membelokkan, menangkis──dan mengoyak. Pertahanan biasa tidak akan berguna.

Kekerasan benda tidak ada hubungannya. Kekuatan untuk memelintir dan mengoyak ruang itu sendiri.

Alasan mengapa kekuatan ini tetap diminati meskipun konsumsi energinya jauh lebih buruk daripada yang lain.

"──!"

Terlebih lagi, butiran yang menyerang Konoe ini lebih istimewa lagi.

Mereka mengejar. Butiran-butiran itu mengubah lintasan tanpa kehilangan kecepatan sedikit pun.

Puluhan butiran yang seharusnya sudah ia hindari kini berbalik mengejar Konoe.

Dalam sekejap mata, mereka sudah mendekat dari belakang──!

"────"

Konoe menyalurkan mana ke dalam tombak di tangannya. Kilat putih menyambar.

Sambil memastikan posisi butiran yang mendekat, ia menerjang maju.

Ia melompat ke samping seolah terpental.

Itu adalah tepi paling luar dari rentetan butiran yang menyerang.

Sambil menghindari butiran lainnya, Konoe berhadapan dengan salah satu dari mereka.

"──"

──Kontak. Tombak salib dan butiran angin itu berbenturan, mempertaruhkan eksistensi mereka.

──Dan hasilnya.

Kemenangan jatuh ke tangan tombak salib.

Butiran angin kehilangan kekuatannya dan melebur di udara.

Bisa dihancurkan. Konoe menyadari hal itu.

Butiran musuh memang banyak dan cepat. Namun, mereka tidak begitu keras sampai-sampai tidak bisa dihancurkan.

……Kalau begitu.

Sambil merasakan kelompok butiran yang lewat di sampingnya, Konoe mulai mengumpulkan mana ke dalam tombak salibnya.

Di dalam jeda sesaat sebelum butiran-butiran itu memutar lintasan dan menyerang kembali.

"──ugh."

──Saat itu, Konoe membelalakkan matanya. Ia mengerang pelan.

Itu karena angin mulai berpusar di sekitar naga. Ia melihat butiran baru diciptakan.

Distorsi memantulkan cahaya. Puluhan butiran kembali ditembakkan ke arah Konoe──.

◆◇◆

Sang naga berada di lokasi yang jauh dari Konoe.

Ia terbang di zona aman dengan menyelimuti dirinya menggunakan perisai distorsi, namun terus menembakkan butiran angin secara berkala, memojokkan Konoe yang berlari di udara.

Kecepatan penciptaannya sekitar puluhan butiran per detik.

Sekali butiran diciptakan, mereka akan terus mengejar Konoe sampai hancur. Pertarungan baru berjalan beberapa menit.

Namun langit seolah sudah dipenuhi oleh butiran-butiran tersebut.

"GLUUUU."

Sang naga memperhatikan.

Sambil menggeram, ia mengamati musuh bebuyutannya yang berlari ke sana kemari.

Konoe berada di tengah badai yang diciptakan butiran-butiran tersebut.

Sambil menghindar, ia mengayunkan tombak salibnya, menyapu dengan kilat putih, dan menghancurkan butiran naga.

Namun, jelas butiran yang diciptakan naga jauh lebih banyak daripada yang bisa dihancurkan Konoe.

──Setiap detik, musuh bebuyutannya itu semakin terpojok.

Butiran melesat hanya beberapa milimeter di samping sang musuh.

Sang musuh menghindar meski keseimbangannya goyah.

Namun di tempatnya menghindar, sudah ada butiran lain yang menunggu.

"──GLU."

Dia menghindar seolah-olah sedang berguling.

Menghindar dengan posisi tubuh yang dipaksakan.

Dengan sekuat tenaga.

Dengan tidak berdaya.

Persis seperti serangga yang dipermainkan oleh angin.

Cahaya kilat putih mulai meredup.

Jumlah butiran yang ditembak jatuh juga berkurang.

Sebaliknya, kepadatan butiran angin terus meningkat.

"GU?"

Melihat kondisi musuh bebuyutannya yang seperti itu, sang naga merasa heran.

Lho? Pikirnya. Ada apa? Apa dia sudah tidak bisa berkutik lagi?

Ia mengira pria itu lebih kuat. Utusan Tuhan Putih.

Musuh dari Tuhan Hitam.

Sang malaikat maut bagi monster yang telah menumbangkan banyak sekali kaumnya.

Masa hanya karena aku menggunakan Inherent Magic, dia kalah semudah ini.

Ia bertanya-tanya apa maksudnya ini.

Apakah sang musuh yang terlalu lemah?

Ataukah dirinya yang sudah menjadi terlalu kuat?

"GUU?"

Ia merasa sedikit aneh.

Tapi kalau dipikir-pikir, kekuatan ini memang memperkuat dirinya sampai batas maksimal.

Kekuatan mengendalikan ruang. Inherent Magic yang sangat kuat karena memiliki kemampuan menyerang sekaligus bertahan.

Maka, wajar saja jika hasilnya jadi begini. Begitulah pikir sang naga.

"……"

Musuh bebuyutannya menari dengan kikuk. Sosok yang sangat memalukan sampai rasanya ingin tertawa.

Melihat sosok yang menyedihkan itu, perasaan konyolpun mulai bercampur dengan kebenciannya.

Karena sangat benci, ia jadi ingin menertawakannya.

Keinginan untuk menyiksa pun terangsang.

Tarian sang lemah. Sosok yang sama dengan sampah-sampah manusia yang ia lihat selama ini.

Selagi ia berpikir begitu, sebuah butiran menembus dada sang musuh seolah menyerempetnya.

 Mantel putihnya robek dan terbang, lalu pola yang terlukis di sana tertangkap oleh mata naga.

Salib Bersayap Putih. Lambang Tuhan Putih.

Tatapan naga tersedot ke arahnya. Lambang yang sangat ia benci.

Namun sekarang lambang itu telah robek dan menunjukkan kehinaannya.

Karena hal itu, tanpa sadar naga mengalihkan kesadarannya dari Konoe──.

"──?"

──Satu detik kemudian, saat ia mengalihkan pandangannya kemba──.

"──"

──Kilat putih sudah berada di depan matanya.

◆◇◆

"──Ah."

──Kamu baru saja lengah, ya?

Pada saat itu, Konoe menyadari bahwa tatapan naga telah beralih darinya.

Mantel yang sengaja ia biarkan tertembak.

Tatapan yang tersedot ke sana.

──Karena itulah, di saat yang bersamaan, Konoe melepaskan tombak salibnya dengan kekuatan penuh.

Benar. Konoe memang sudah mengincar momen itu sedari tadi.

Sambil berpura-pura tidak berdaya dan berguling-guling, ia terus mengumpulkan mana ke dalam tombaknya.

Sejak benturan pertama dengan butiran angin, Konoe sudah mengukur garis besar kekuatan sang naga.

Pertahanan yang kokoh. Tidak mudah ditembus.

Karena itulah ia mengulur waktu demi mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menembus distorsi tersebut.

Ia mengumpulkan mana secara perlahan agar tidak ketahuan.

Ia menahan diri untuk tidak menggunakan tombak salib sesering mungkin saat menghalau serangan.

Dan ia memancing rasa lengah lawan.

Demi menciptakan celah, demi memastikan serangannya mendarat telak──.

"──"

Tombak salib menebas angkasa, mendekati sang naga.

Satu ketukan terlambat, naga itu baru menyadarinya.

Namun tombak itu sudah berada tepat di depan matanya.

Meskipun lintasannya sempat sedikit digeser, tombak itu berhasil menembus distorsi.

"GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"

──Tombak itu menyayat tubuh naga.

Separuh tubuhnya terkoyak. Lenyap diterjang tombak salib.

Kilat putih membakar bagian tubuh yang terpotong dan merasuk ke dalam. Menghancurkan tubuh naga dari dalam.

"GI──I"

◆◇◆

──Sebenarnya. Perbedaan kekuatan antara Konoe dan sang naga tidaklah sejauh itu.

Seharusnya pertarungan tidak berakhir semudah ini.

Kelas bencana yang mendapatkan Inherent Magic, apalagi tipe spasial, adalah lawan yang sangat menyulitkan bagi sebagian besar Adept.

Namun, terlepas dari itu, situasi saat ini tercipta berkat hasil tempaan Konoe selama dua puluh lima tahun.

Sebuah periode yang hampir dua kali lipat lebih lama dari rata-rata.

Selama masa itu, Konoe telah bertarung melawan lebih banyak Adept dan kandidat daripada siapa pun, serta telah menerima berbagai macam Inherent Magic.

Dan dengan kemampuan dasar yang ia tumpuk, ia telah berulang kali mematahkannya.

Karena itu, Konoe sudah terbiasa bertarung melawan Inherent Magic. Ia selalu berhadapan dengan lawan yang lebih kuat darinya.

Analisis dan pertimbangan. Secara efisien, secara pasti.

Menggunakan segala hal yang bisa dimanfaatkan, lalu mengincar celah.

Jika tidak ada celah, maka buatlah celah.

Buat lawan lengah. Konoe sudah menyadari ejekan naga sejak beberapa benturan awal.

Karena itulah ia memanfaatkannya. Itulah cara bertarung Konoe.

Sebaliknya, sang naga selama ini hidup dengan berburu mereka yang lebih lemah darinya.

Dengan memanfaatkan mobilitasnya, ia akan melarikan diri jika situasi menjadi berbahaya.

Ia selalu bergerak berdua dengan pasangannya.

Di depan sang naga, selalu ada pasangannya.

Bagi naga, pertarungan adalah tindakan di mana ia menyiksa musuhnya secara sepihak.

Karena itulah, meski ia tahu secara teori bahwa musuhnya kuat, ia akan segera lengah.

Jika musuh menunjukkan celah, ia akan memercayainya.

──Dengan kata lain, ini adalah akhir yang memang sudah seharusnya terjadi.

◆◇◆

"──GI"

Kekuatan hilang dari tubuhnya, sang naga limbung.

Demi melancarkan serangan pengejaran, Konoe menciptakan tombak baru.

"……"

Konoe mengayunkan tombaknya.

Tidak ada serangan balik. Tidak ada aliran mana.

Distorsi yang menyelimuti naga telah terbakar habis dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulih.

Tombak terlepas dari tangannya.

Lemparan itu tidak meleset sedikit pun dan meluncur lurus menuju jantung naga.

"……?"

──Namun, pada saat itu.

Konoe melihat sudut mulut naga itu tertarik ke atas.


ï¼—

──Ah, aku gagal ya.

Sang naga berpikir demikian sambil merasakan tombak yang menembus jantungnya.

Sambil merasakan nyawanya yang mulai memudar, seolah itu adalah urusan orang lain.

Separuh tubuhnya sudah tiada, ia pun tidak merasakan sakit.

Ia tidak bisa lagi mengendalikan sihir, dan setelah ini ia hanya bisa jatuh.

Kematian sang naga sudah pasti. Pertarungan dimenangkan oleh sang Utusan.

Naga itu jatuh menuju tanah. Sambil merasa sedikit menyesal karena telah meremehkan dan lengah, ia terus terjatuh.

"──"

──Ya, hanya sedikit. Naga itu hanya sedikit menyesal.

Hanya sedikit saja rasa menyesalnya. Ia tidak perlu merasa menyesal. Karena...

"GU"

Sudut mulut naga tertarik ke atas. Ia tertawa.

Benar, tujuan sang naga sudah tercapai.

Karena itulah, pertarungan tadi sebenarnya hanyalah tambahan belaka.

Sejak awal, sang naga tidak keberatan jika harus kalah.

Itulah alasan lain mengapa ia lengah.

Tidak ada rasa tegang sama sekali.

Karena sebenarnya, semuanya sudah berakhir saat ia melepaskan kekuatannya──.

"──"

Gon, sebuah suara berdentum. Bergema di angkasa.

Distorsi mulai meluas.

Di tengah pandangannya yang memudar, ia melihat sang Utusan menunjukkan ekspresi terperangah. Sang naga tertawa dalam hati.

Mulutnya sudah tidak bisa bergerak. Naga itu akan mati. Segera mati.

──Dengan kematiannya, hal itu akan aktif.

Benar, karena itulah hakikat dari Inherent Magic milik sang naga──!

◆◇◆

"──Apa-apaan ini?"

Konoe terperangah. Sebuah suara yang tiba-tiba berdentum di angkasa. Dan, meskipun naga telah dikalahkan, distorsi justru terus meluas. Perluasannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Menyadari keganjilan yang nyata ini, Konoe mengerahkan kemampuan persepsinya secara maksimal. Ia terkepung.

Distorsi berbentuk bola telah terbentuk di sekelilingnya sejauh beberapa kilometer, dan tidak ada celah sama sekali. Konoe benar-benar terpenjara di dalam bola tersebut.

"……Kenapa kekuatannya justru bertambah setelah ia dibunuh?"

Inherent Magic memang bisa tetap ada setelah kematian penggunanya, tapi ini jelas berbeda dari hal semacam itu.

Alih-alih sekadar tersisa, sihir ini justru terus berubah setelah kematiannya.

Konoe menatap naga yang sedang jatuh. Ia berpikir jangan-jangan naga itu masih hidup, lalu ia melemparkan tombaknya.

Kilat putih meluas dan melenyapkan naga tanpa sisa. Tubuh yang sudah kehilangan mana itu dengan mudah hancur menjadi arang.

……Naga itu sudah benar-benar mati.

Lalu apa maksud semua ini……

"……Jangan-jangan."

Saat Konoe mulai mencapai satu kemungkinan…… tiba-tiba, hal itu mulai bergerak.

"──?"

Dinding berbentuk bola itu mulai mendekat ke arah dalam.

Dari segala arah. Menuju bagian dalam, tepat ke arah Konoe berada, dinding itu berakselerasi. Kecepatannya terus meningkat.

"Ini..."

Distorsi berbentuk bola yang berpusat pada Konoe semakin menyusut.

Semakin mengecil. Dinding-dinding itu mendekat ke arah dalam sambil menimbulkan suara berderit.

"……Kamu berniat menghancurkanku dengan dinding-dinding ini, ya!"

Pipi Konoe berkedut.

Dinding itu berakselerasi. Jarak beberapa kilometer tadi menyusut dalam sekejap mata──.

◆◇◆

Singkatnya, inilah tujuan sang naga.

Inherent Magic. Kekuatan mengendalikan ruang itu memang hebat, tapi itu hanyalah pembuka. Inti sejatinya akan muncul dengan kematiannya sebagai pemicu.

Begitu diaktifkan, Inherent Magic naga ini akan menyebarkan distorsi di area udara sekitarnya.

Distorsi itu akan terus tertahan di langit dan tidak akan bergerak sampai pemicunya tiba.

Namun, saat waktunya tiba, mereka akan meluas secara eksplosif dan saling terhubung.

Membentuk sebuah bola. Menyelimuti area tersebut, lalu tepat saat kematian sang naga, sihir ini akan menangkap musuh di dekatnya dan menghancurkannya.

Itulah Inherent Magic sang naga. Ia sama sekali tidak berniat untuk bertahan hidup. Tidak, ini justru sihir yang diciptakan untuk menjemput maut.

──Sihir untuk mati.

Sihir untuk membunuh dirinya sendiri bersama musuh bebuyutannya.

Begitu sihir ini diaktifkan, sang naga pasti akan mati. Dan sihir ini tidak bisa digunakan kepada siapa pun selain musuh bebuyutannya, Konoe.

Kematian dan pembatasan target. Karena itulah, sihir ini menjadi lebih istimewa di antara Inherent Magic yang sudah spesial.

Ia memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada Inherent Magic biasa.

Inherent Magic──Cintaku Telah Tiada, Maka Jatuhlah Bersamaku Wahai Langit (Dunia Seperti Ini Hancur Saja)

Sesuai namanya, sihir itu adalah kekuatan untuk jatuh bersama.

Sihir untuk mati bersama dengan ruang dan musuh bebuyutannya.

Sang naga kehilangan cintanya, berputus asa pada dunia, dan menginginkan kematian.

Sejak awal ia memang berniat untuk mati. Meski menang pun, ia berniat untuk mati.

Sang naga yang kehilangan cinta sampai-sampai membangkitkan Inherent Magic ini tidak akan sanggup hidup di dunia tanpa cinta.

Selama tiga puluh hari setelah cintanya mati, naga itu terus menahan gejolak ingin matinya hanya demi momen ini.

Semuanya demi menjebak sang musuh ke dalam sihir ini, ke dalam bola distorsi ini.

Karena naga itu telah lama menunggu saat di mana Konoe membubung ke angkasa.

◆◇◆

"──Ooooooh!"

Konoe bergerak. Begitu ia menyadarinya, ia langsung bertindak.

Ia mengalirkan mana ke tombaknya. Menciptakan kilat putih, sebuah wibawa suci.

Kekuatan itu berubah bentuk menjadi bola di sekitar Konoe. Seolah melindunginya, kekuatan Tuhan yang menangkis kejahatan itu menciptakan sebuah dinding pertahanan.

Dan tepat setelah itu, dinding distorsi menabraknya──.

"──!"

──Benturan. Suara dentuman dahsyat bergema.

Kekuatan Tuhan berderit akibat guncangan tersebut──namun, ia berhasil bertahan.

Perlindungan Tuhan Putih. Kekuatan Tuhan Kehidupan.

Gadis bersayap. Tuhan tertinggi di dunia ini.

Otoritas Tuhan yang mencintai kehidupan dan mencintai manusia.

Kekuatan Tuhan yang dulunya tidak mengenal peperangan hingga kejahatan mulai menginvasi ini, menunjukkan nilai aslinya justru saat menyembuhkan dan melindungi.

"……Huu."

Konoe mengembuskan napas pendek. Ia merasa lega. Untuk saat ini ia berhasil menahannya.

Lalu, ia melihat dinding yang sudah berada tepat di depan matanya. Dinding distorsi yang keras dan tebal.

Hanya dengan sekali lihat ia paham bahwa ini tidak mudah dihancurkan.

Tidak, mungkin ini adalah dinding yang bahkan tidak bisa ia hancurkan meski mengerahkan seluruh tenaganya.

Konoe merasa intensitas keberadaan dinding ini berada di level yang sangat tinggi di antara semua yang pernah ia lihat.

Kekuatan yang sangat hebat bahkan untuk ukuran Inherent Magic.

Konoe menyadari bahwa ini adalah tipe sihir yang aktif dengan kematian sebagai tumbalnya.

Ini adalah Inherent Magic yang sangat langka.

Ia mengetahuinya sebagai pengetahuan, namun ini pertama kalinya ia bertarung melawannya.

Tentu saja. Tidak mungkin ada banyak orang yang membangkitkan sihir yang akan membunuh penggunanya sendiri.

Namun tetap saja, Konoe menggigit bibirnya karena terlambat menyadari hal itu.

"──!"

──Saat itu, perlindungan yang menjaga Konoe berderit keras.

Meskipun berderit, perisai putih itu benar-benar menahan laju dinding distorsi tersebut.

……Paling lama hanya beberapa menit lagi, ya. Aku tidak punya waktu untuk bersantai.

Konoe harus segera memutuskan tindakan yang akan diambil.

Demi melakukan itu, ia mendekati dinding dan mengamati keadaannya dengan saksama.

"……"

Sejauh yang ia lihat, Konoe berpikir bahwa menghancurkan dinding ini dari depan akan sulit.

Ketahanan dinding di hadapannya memang luar biasa tinggi, meski ia tidak berkata mustahil untuk menembusnya.

"……Risikonya terlalu tinggi."

Jika gagal menghancurkannya, kali ini Konoe benar-benar akan hancur tergilas dan mati.

Sihir naga itu memang sedahsyat itu.

Keadaannya akan berbeda jika ia bisa mendapatkan bantuan sang Tuhan.

Namun, karena sifat aslinya yang jauh dari peperangan, sosok itu tidak bisa membantu dalam pertempuran selain memberikan perlindungan.

Itulah sebabnya Konoe harus mendobrak situasi ini dengan kekuatannya sendiri.

──Namun, Konoe menyadari satu hal.

"……Memang sulit untuk menembusnya, tapi..."

Jika ia mengulur waktu, bukankah sangat mungkin untuk mengikisnya perlahan?

Itulah yang dipikirkan Konoe setelah mengamati dinding dari jarak dekat.

Dinding ini keras, namun bukan berarti tidak bisa diintervensi.

Ia bisa terus membentangkan perlindungan Tuhan berulang kali sembari mengikis dinding itu sedikit demi sedikit.

Benar, asalkan ada waktu──.

"……ugh!"

──Di sana, Konoe teringat sesuatu.

Konoe menatap matahari melalui distorsi yang masih berada di posisi tinggi. Namun.

"……Telnerica."

Pola pikirnya yang tadi beralih ke mode tempur kini kembali normal.

Ia teringat senyum gadis itu dan situasi mengerikan yang mungkin sedang dihadapi Telnerica saat ini.

Gadis yang kehilangan keluarga, status, dan perlindungan itu kini harus membayar seribu koin emas.

Meski begitu, ia tetap terus berjuang demi melindungi orang-orang.

Bengkel alkimia. Jantung Elf. Saat matahari terbenam. Katalis Penghalang Penutup.

"──Setidaknya aku pasti akan menepati janji kontrak awal kita."

Benar, saat masih hidup pun, jantungnya akan diambil.

"Tidak boleh."

Ia membenci hal itu. Konoe sangat tidak menyukainya.

Meskipun gadis itu tidak akan mati, ia tetap tidak sudi membiarkannya terjadi.

Ia tidak bisa menerima hal itu karena ia ingin Telnerica tetap memberikan senyum yang sama.

"……"

──Karena itu.

"Akan kuhancurkan."

Konoe memantapkan tekad dan mulai memasang kuda-kuda dengan tombak salibnya.

Ia harus sampai ke sisi gadis itu sebelum matahari terbenam, apa pun yang terjadi.

"……ugh!"

──Ia mengalirkan mana dengan kekuatan penuh.

Tombaknya berdenyut dan Holy Majesty meluap keluar hingga kilat putih berkelebat liar di dalam ruang sempit itu.

Akibat panas tersebut, suhu di dalam ruang tertutup itu meningkat drastis.

Pemusatan mana secara ekstrem yang mengabaikan keselamatan diri mulai melukai tangan Konoe sendiri.

Sesuatu yang ganjil terjadi pada tangan yang menggenggam tombak hingga asap mulai mengepul.

Kulitnya mulai terkelupas dan darah menyembur keluar dari tangannya.

Jalur mana di bagian dalam tubuhnya hangus terbakar, membuat rasa sakit yang hebat menyerang Konoe.

Ia terluka, namun berkat mana kehidupan miliknya, luka itu langsung pulih seketika dalam siklus yang berulang.

Namun, ia mengabaikan semua itu seolah bukan masalah besar.

Ia tidak peduli pada rasa sakit, karena baginya ada hal yang jauh lebih penting.

──Konoe terus menyalurkan mana miliknya.

Holy Majesty miliknya mulai bergetar dan menjerit akibat mana yang dituangkan tanpa batas.

Selama periode panjang di mana ia hanya menempa kemampuan dasar, mana milik Konoe telah masuk ke jajaran peringkat atas bahkan di antara para Adept.

Mana itu berkumpul ke satu titik dan kekuatannya mulai memusat.

Holy Majesty yang berkelebat di sekitar berubah bentuk dan menyelimuti tombaknya.

Lalu, ia menunggu di dalam dimensi waktu di mana satu detik terasa bagaikan satu jam.

Di pusat niat membunuh sang naga dalam dunia distorsi ini, Konoe bersiaga dengan tombak salibnya──.

"──hup!"

──Momen itu datang secara tiba-tiba.

Suara benda hancur terdengar saat perlindungan putih yang menjaga Konoe pecah.

Dinding distorsi mendapatkan kembali kebebasannya dan mulai bergerak lagi untuk menggilas Konoe.

──Menanggapi hal itu, Konoe menusukkan tombaknya dengan gerakan yang sudah ia latih jutaan kali.

Di dalam pikirannya yang terakselerasi dan diperkuat oleh mana.

Jika tidak tembus, maka mati; sebuah momen di antara hidup dan mati.

Mata tombak putih Konoe dan distorsi itu mulai memperpendek jarak──.

"──!!"

──Benturan terjadi antara tombak dan distorsi.

Keduanya saling mengikis demi menghancurkan satu sama lain.

Hasilnya adalah seimbang; tak ada yang mau mengalah sedikit pun.

Tombak Konoe tidak bisa menembus distorsi, namun distorsi pun tidak bisa mementalkan tombak Konoe.

Persaingan yang sempurna dalam penghentian waktu sesaat.

Sebuah momen di mana tak ada yang tahu ke arah mana situasi akan berpihak.

Konoe yang menggenggam erat tombaknya melawan desakan cinta sang naga yang merangsek maju.

Kilat putih memercik akibat guncangan hebat dan Konoe sedikit menyipitkan matanya──.

"……"

──Di waktu yang hanya sekejap mata tersebut.

Konoe melihat masa lalu layaknya sebuah flashback sebelum kematian.

Konoe berdiri sendirian.

Sejak kecil hingga dewasa, ia selalu berdiri sendirian tanpa siapa pun di sisinya.

Konoe yang selalu kesepian; sosok yang terisolasi dari dunia luar.

Mungkin tombak salib itulah yang memperlihatkan hal itu padanya.

Sebab, warna putih itu adalah bukti bahwa hati Konoe sebenarnya hampa.

Konoe hanya ingin mengisi lubang tersebut, karena itulah ia terus berusaha.

Ia berusaha hingga menjadi Adept, namun seberapa lama pun waktu berlalu, tombaknya tetap tidak memiliki warna.

Konoe hingga kini masih belum mengerti apa pun.

Ia tidak mengerti cinta, tidak mengerti tentang Telnerica, bahkan tidak mengerti perasaannya sendiri.

Konoe masih belum bisa memahami apa pun.

Benar, tidak ada, satu pun.

Karena itulah Konoe selalu merasa kesepian──.

"──Konoe-sama, tahukah Anda?"

──Ah, tapi pada saat itu.

Sebuah suara terdengar dari kenangan masa lalu tentang gadis berambut emas yang duduk di sampingnya.

Di atas menara pengawas yang berangin kencang, gadis yang bersandar padanya itu sedang tersenyum.

Ia menahan rambut emasnya yang tertiup angin sambil menyipitkan mata dengan raut bahagia.

"──Meski angin bertiup kencang, jika kita saling bersandar, rasanya akan hangat, lho."

Di dalam kenangannya, gadis itu berbisik lalu menyentuh Konoe.

Konoe ingat kehangatan yang tersalurkan padanya saat itu.

(──Begitu, ya.)

──Karena Konoe kini telah mengenal kehangatan cinta itu.

──Pada tombak putih bersihnya, warna emas pun mulai terukir.




Berkat cinta tersebut, sang tombak pun berevolusi. Cahaya memenuhi bagian tengah dari Cross Spear itu. Kilauannya meluap, dan Holy Majesty miliknya sedikit demi sedikit mulai mendapatkan kembali kekuatan aslinya──.

──Bishiri!

Timbangan itu pun miring. Retakan mulai menjalar di seluruh distorsi tersebut.

Warna emas kini bercampur ke dalam kilat putih yang berkelebat di sekeliling. Mata tombak mulai merangsek masuk ke dalam distorsi, menghancurkannya. Kekuatan tombak itu terus meningkat di setiap detiknya.

……Namun, cinta sang naga tidak berubah.

Sebab, naga itu sudah mati. Tidak ada masa depan bagi mereka yang telah tiada. Tidak ada yang berubah, dan memang tidak bisa diubah.

Karena itulah, jumlah retakan semakin bertambah banyak dengan cepat.

Retakan itu menyebar secara radial, semakin dalam, dan akhirnya...

"──Aaa."

Distorsi itu hancur berkeping-keping. Suara kehancuran menggema di langit, dan serpihannya jatuh berjatuhan ke tanah.

Hal itu benar-benar menyerupai nama dari Inherent Magic tersebut. Cinta sang naga jatuh menuju tempat di mana belahannya telah kembali──.

"──"

──Konoe tetap hidup. Konoe telah menang atas sang naga.


8

──Telnerica menatap matahari dari balik jendela.

Ia terus memandangi sang surya yang mulai tenggelam ke garis cakrawala, menatap batas waktu yang kian mendekat.

"……"

Waktunya sebentar lagi. Kurang dari satu jam, seorang utusan akan mendatangi kamarnya.

Begitu saat itu tiba, maka Telnerica akan...

"……ugh."

Ia menekan tangannya yang gemetar dengan tangan satunya.

Ia merasa takut. Ia sangat ketakutan. Jantungnya mulai berdegup kencang hingga ia merasa sulit untuk sekadar bernapas.

──Tapi.

"……Konoe-sama."

Telnerica memikirkan seorang pria.

Ia mengenang cinta pertamanya. Ia mengenang wajah samping dan punggung pria itu.

Dengan begitu, gemetarnya mereda. Yang tersisa di dadanya hanyalah perasaan hangat semata.

"……Benar juga, apa Konoe-sama sudah memutuskan rumah seperti apa yang ingin ia beli?"

Sembari menjaga perasaan itu, ia teringat saat mereka berdua melihat-lihat katalog beberapa hari yang lalu.

Kenangan saat mereka berdua membicarakan mana yang bagus; sebuah kenangan yang sangat menyenangkan.

"……Aku ingin dia membeli rumah yang bagus."

Begitulah pikir Telnerica. Selain itu, jika bisa, ia ingin rumah itu dijaga dengan baik.

Rumah pertama yang akan dibeli oleh Konoe yang selama ini belum memiliki tempat tinggal.

Rumah yang dibeli dengan koin emas hasil jerih payah Konoe dari pekerjaannya di Silmenia.

……Dan juga, rumah yang dibeli dengan "koin emas jantung" milik Telnerica.

"Kalau aku berharap dia menjaganya seolah-olah itu adalah diriku, sepertinya itu agak terlalu berlebihan, ya……"

Telnerica tertawa mencemooh dirinya sendiri──namun, itu adalah kejujuran yang tulus dari lubuk hatinya.

Meskipun dalam wujud apa pun, Telnerica tetap ingin berada di sisi Konoe.

"……"

Ia berpikir bahwa seharusnya Konoe sudah tiba kembali di ibu kota saat ini.

Sebenarnya, ia ingin mengucapkan salam perpisahan sekali lagi di saat-saat terakhirnya. Ia ingin menggenggam tangan pria itu sekali lagi.

Namun, tidak ada waktu untuk melakukan hal semacam itu.

Demi mengirimkan koin emas kepada Konoe hari ini, ia tidak punya pilihan selain pindah ke sini sejak dini hari.

"……Konoe-sama."

Ia memanggil nama itu. Dengan perasaan yang amat sangat banyak tersimpan di dalamnya.

Ia teringat. Kejadian hari itu, ia mengenangnya berulang kali.

──Hari itu, Telnerica sedang berada di ambang kematian tanpa alasan yang jelas.

Ia hanya bisa meringkuk tanpa bisa melakukan apa pun. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.

Rasanya sakit, menyesakkan, dan ia ingin menangis. Hatinya sudah hampir hancur sejak lama.

Sebenarnya ia ingin menyerah. Ia ingin segera melarikan diri.

Ia bahkan tidak bisa bernapas, dan matanya tidak lagi bisa melihat.

Ia ingin menyerahkan semuanya, meninggalkan segalanya, dan berteriak meminta agar hanya dirinya saja yang diselamatkan.

……Tapi Telnerica tidak bisa melakukannya.

Sebab jika ia melakukan itu, maka kematian ayah, ibu, dan kakaknya akan menjadi sia-sia.

Ayahnya adalah sosok yang kuat, hangat, dan selalu memikirkan rakyatnya.

Ibunya adalah sosok yang cantik, lembut, dan menjadi kebanggaan rakyatnya.

Kakaknya adalah sosok yang penuh bakat, ceria, dan sangat dicintai rakyatnya.

Ketiga orang itu telah tiada, dan hanya Telnerica yang tersisa.

Satu-satunya yang bisa meneruskan wasiat mereka hanyalah Telnerica.

Telnerica ingin melindungi rakyat dan kota yang dicintai oleh keluarganya.

Karena itulah ia terus berjuang. Ia berjuang mati-matian, berteriak, dan terus melangkah maju.

Ia menahan rasa sakit dan terus berjalan. Ia mengatupkan giginya kuat-kuat dan mendongakkan wajah demi menjadi sosok yang kuat.

……Tapi ia tetap tidak bisa melakukan apa-apa.

Tanpa bisa mencapai apa pun, Telnerica hampir mati di tangga itu.

Rasa tidak berdaya menyelimutinya. Penyesalan menggerogotinya. Keputusasaan melandanya.

Dan lebih dari semua itu──ia merasa sedih.

Ia merasa sangat sedih karena tidak bisa memberikan makna bagi kematian keluarga yang dicintainya.

Telnerica yang bahkan tidak bisa lagi menggerakkan mulutnya terus meminta maaf di dalam hati.

Ia meminta maaf kepada ayahnya. Ia meminta maaf kepada ibunya. Ia meminta maaf kepada kakaknya.

Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Ia hanya terus memohon ampunan.

Ia hanya bisa melakukan itu, sembari membenci dirinya sendiri.

Seharusnya Telnerica mati dengan cara seperti itu. Namun...

"──Ini mengerikan…… apakah ini penyakit mematikan?"

Ada seseorang yang menemukannya.

Orang itu menyelamatkan Telnerica. Menyelamatkan kota. Memberikan makna bagi kematian keluarga yang dicintainya.

Sebab itu, bagi Telnerica, hal itu sudah lebih dari cukup.

Karena pada hari itu, Konoe telah mengangkat tubuhnya. Karena lengan itu terasa sangat hangat.

……Sungguh, itu saja sudah cukup baginya.

Telnerica merasa tidak keberatan apa pun yang akan terjadi pada dirinya nanti. Karena itulah──.

"──"

Telnerica melihat matahari yang mulai tenggelam di garis cakrawala.

Melihat sang surya yang perlahan-lahan mulai bersembunyi──.

──Namun, pada saat itu.

"……Eh?"

Sebuah bayangan terlihat. Sesaat, ia mengira itu hanyalah sebuah titik hitam biasa.

"……Ah."

──Gashan! Sebuah suara terdengar.

Bayangan itu memecahkan jendela di samping Telnerica dan masuk ke dalam ruangan.

Pecahan kaca menari-nari di udara. Berkilauan terkena seberkas cahaya matahari terakhir.

Di tengah kilauan warna senja, bayangan itu mendongakkan wajahnya.

"──Konoe-sama."

◆◇◆

"──"

Konoe mendongakkan wajahnya sembari berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.

Itu adalah perjalanan yang sangat jauh.

Perjalanan lebih dari seribu kilometer.

Biasanya itu hal mudah, namun menempuhnya setelah bertarung melawan naga bukanlah perkara gampang.

Tenaga dan mananya telah terkuras habis. Ia sudah berada di titik nadir.

Ia merasa panik melihat matahari yang mulai tenggelam.

Ia kelelahan dan memaksa kakinya yang sudah sulit digerakkan untuk terus melangkah.

Mananya telah kering kerontang, namun ia tetap memaksanya keluar sekuat tenaga.

"……Tel, nerica."

Konoe memanggil nama Telnerica. Ia melangkah maju satu tindak.

Ia menatap gadis itu. Gadis itu benar-benar ada di sana.

"……Telnerica."

"Konoe-sama."

Telnerica mengenakan pakaian putih seperti jubah tunik.

Tidak ada tanda-tanda sihir penyembuh. Berarti prosedurnya belum dimulai.

Konoe melangkah satu tindak lagi. Ia kembali menatap seluruh tubuh Telnerica.

"……Syukurlah."

──Ia tepat waktu. Telnerica belum terluka.

"Konoe-sama…… kenapa?"

Telnerica bergumam. Ia melontarkan pertanyaan "kenapa" kepada Konoe.

Konoe tidak tahu pertanyaan itu ditujukan untuk apa.

Apakah tentang kenapa ia datang ke sini?

Atau kenapa ia bisa tahu keberadaan Telnerica?

Ataukah "kenapa" yang lainnya?

Konoe tetap tidak bisa mengerti tentang Telnerica.

Bahkan di saat seperti ini pun ia tidak mengerti.

Bahkan setelah bertarung mempertaruhkan nyawa demi dia, bahkan setelah mengalahkan naga, ia tetap tidak paham.

──Karena itu, yang bisa dilakukan Konoe hanyalah...

──Hanya menyampaikan perasaannya sendiri secara jujur.

"Telnerica, berhentilah."

"……Eh?"

"Aku tidak butuh uangnya, jadi tolong berhentilah."

Mata Telnerica membelalak lebar menatap Konoe.

Wajahnya berubah menjadi sedih, lalu ia bergumam pelan.

"Tapi, Konoe-sama. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa membalas apa pun kepadamu."

"……"

"Aku berutang budi padamu. Utang budi yang sangat besar hingga tidak akan sanggup kubalas. Karena itulah aku..."

Kata-kata Telnerica terdengar sangat tulus, seolah ia hampir menangis.

Namun, Konoe tidak bisa menerima alasan itu──.

"……Bukan. Bukan begitu. Bukan itu maksudku."

"Konoe-sama?"

──Konoe berusaha menggerakkan mulutnya yang sejak lahir jarang ia gunakan untuk berbicara secara tulus. Mulut yang sudah lama tertutup itu terasa berat, hingga ia sendiri hampir tidak tahu apa yang sedang ia katakan.

"──Aku."

Meski begitu, ia tetap berusaha mengatakannya. Apa yang sebenarnya ia pikirkan.

Benar, yang diinginkan Konoe bukanlah uang.

"Aku menyukai saat-saat berada di atas menara pengawas."

"……Eh?"

"Duduk berjajar berdua bersamamu, sembari minum teh. Aku menyukai waktu-waktu itu."

Akhirnya, ia menyadarinya. Konoe melihat hal itu di dalam kilat putih tadi.

Momen itu tidaklah sering terjadi. Mungkin bisa dihitung dengan jari.

──Namun, Konoe telah jatuh cinta pada momen singkat itu.

Rasanya hangat. Itu pertama kalinya ia merasakannya. Meski angin bertiup kencang, mereka bisa saling bersandar.

Benar. Itulah hal yang sebenarnya diinginkan Konoe. Hanya itu yang ia inginkan.

Selama ini ia selalu begitu. Mengejar impian menjadi Adept. Berjuang mati-matian selama dua puluh lima tahun. Berkali-kali berada di ambang maut.

Hal pertama yang diimpikan oleh Konoe yang seperti itu adalah...

"Aku hanya ingin kamu tetap ada di sisiku."

"……Konoe-sama."

──Itu adalah impiannya sejak ia masih berada di Jepang dulu.

Ia ingin seseorang berada di sisinya. Ia ingin seseorang menggenggam tangannya.

"……Karena itu, kumohon."

"……Iya."

"Jika kamu tidak keberatan…… itu, maksudku, jika kamu mau──"

……Ia benci rasa kesepian. Ia benci sendirian.

Karena itulah, Konoe terus berbicara dengan panik, hingga ia sendiri hampir kehilangan arah.

Namun──.

"──Tetaplah... di sisiku."



"Iya!"

Tangan Konoe tiba-tiba terbungkus oleh sesuatu yang terasa hangat.

Itu adalah telapak tangan Telnerica. Telapak tangan yang mungil.

"Jika memang itu yang Anda harapkan."

Kedua tangannya yang hangat menggenggam erat tangan Konoe.

Tanpa sadar, Konoe mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk. Di sana, tepat di depan matanya...

──Ada Telnerica yang menangis tersedu-sedu, namun tetap menunjukkan senyumannya.

"Layaknya Bunga Suci yang mekar di sisi Anda──"

──Kata-kata itu adalah kelanjutan dari janji mereka yang dulu.

Sebuah janji yang berharga, yang akan terus berlanjut selamanya mulai saat ini.

"──Meski hutan akan meredup berkali-kali pun, aku akan terus mekar selamanya di sisi Anda──"

Ruangan di kala senja itu terasa remang-remang, namun netra Telnerica yang basah tampak berkilau diterpa cahaya tipis.

Konoe terpaku pada binar itu, hingga pipinya sedikit melemas karena tersenyum. Telnerica pun ikut menyipitkan matanya.

──Dan itulah.

Momen di mana seluruh kekacauan kali ini benar-benar berakhir di tempat yang seharusnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close